Rabu, 22 Juni 2022

Cara memahami Luasnya ampunan Allah SWT

Memahami luasnya ampunan Allah SWT, menjadi hal yang sangat penting untuk dikaji dan diselami. Berangkat dari beberapa fenomena yang tidak jarang kita dapati dimaayarakat kita, atau sebagian kecil dari masyarakat kita yang mulai dijangkiti penyakit yang dalam istilah Islam namanya : "al-Ya'su , al-Qanath"  Yaitu unsur berputus asa dari rahmat dan mapunan Allah SWT. Ini semua diawali ketika diantara mereka, atau sebagian kecil dari mereka terjatuh dalam kubangan lumpur dosa. 


Sisi lain diantara mereka secara fitrah nalurinya ingin kembali kepada Allah SWT. Namun tidak jarang muncul dalam hati mereka bisikan-bisikan, baik dari syaiton atau orang sekitar dia yang ingin mematahkan semangat dia untuk kembali kepada Allah SWT. Sehingga menjadi sempit pemahaman manusia dalam memahami luasnya Maghfirah dan rahmatnya Allah SWT.

Hal yang harus kita sepakati bersama sebagai hamba Allah Rabbul Izzah, sering kita mendengar istilah, "Al Insaanu mahalul al khatha' wan nisyan" Yaitu Manusia adalah tempat salah dan lupa dan salah. Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam; "Semua bani Adam sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah yang sering bertaubat." (HR. Ibnu Majah, at-Tirmidzi dan lain-lain. Hadits ini hasan, menurut syaikh al-Albani rahimahullah).

Tidak ada setiap orang diantara kita yang berani mengatakan bahwa dirinya adalah seorang hamba yang terbebas dari kesalahan dan dosa. Namun yang menjadi permasalahan adalah;

  1. Bagaimana tatkala diantara kita ingin kembali kepada Allah SWT.
  2. Timbul keraguan, saya ini sepertinya sudah terlampau jauh terjatuh dalam jurang perbuatan dosa, bahkan tidak jarang mengatakan "sudah tidak bisa dihitung berapa kesalahan saya dan dosa saya, apakah pantas saya memohon ampun/maghfiroh dan rahmat kepada Allah sementara saya masih kotor."

Inilah hal-hal yang menjadi kerancuan diantara sebagian kecil kaum muslimin, sehingga kita perlu meluruskan.  Tidak jarang para ulama sudah mengingatkan kita, konsep yang memang sudah dibangun secara permanen salam Islam. Kita itu ada ditengah-tengah, antara sikap melampaui batas dengan sikap terlalu meremehkan. Bila konsep ini sudah difahami dengan baik dan benar, maka akan bisa mengikis sebagian persepsi atau asumsi dari sebagian kecil kaum muslimin,

  1. yang pada akhirnya mereka kelompok sudah pesimistis seolah sudah tidak bisa lagi menjadi orang baik,
  2. yang satunya kelompok yang melampaui batas yang akhirnya meremehkan juga.

Para Ulama mengatakan, "Kalau seorang hamba tidak memiliki unsur Al-Khauf (rasa takut) dan Ar-Rodja (berharap) yang seimbang, justru akan mencelakakan dia, kalau seorang hamba tidak memiliki keseimbangan antara al-Khauf dan Ar-Rodja." Artinya, Rasa takut (Khauf) dan rasa harap (Rodja) itu harus balance, "Bila salah satunya itu lebih dominan bisa mencelakakan seorang hamba."

Gambaran contoh kasus : Ketika si A misalnya,  Perasaan takutnya terlalu berlebihan. Bila perasaan takutnya sudah melampaui batas dan berlebihan, kata para ulama, "Justru menyeret dia dalam jurang keputusasaan (pesimis)." Unsur pengharapannya terlalu berlebihan. Ketika pengharapannya terlalu berlebihan,"Justru akan menyeret dia semakin berani berbuat dosa." Sehingga muncullah sebuah statemen dari sebagian kecil orang-orang muslimin diantara kita mengatakan, "Ah masa iya sih kesalahan seperti ini saya akan di adzab oleh Allah SWT, padahal saya sholat, puasa, zakat, membantu kaum fuqoro dan dhuafa, membangun masjid, membantu anak2 yatim, dsb. "Islam sudah memberikan kepada kita kaidah yang begitu indah, (khairul umur ausathuha) “Sebaik-baik perkara itu adalah pertengahannya” Maksudnya : "Tidak melampaui batas dan tidak meremehkan."

Dari sini para Ulama ingin mengajak kepada kita, yang seharusnya ketika setiap orang diantara kita memang tidak kita pungkiri berpotensi berbuat salah dan dosa. Ketika unsur keimanannya tidak dipupuk sejak dini dan tidak dikuatkan dengan ilmu agama yang benar. Justru akan menyengsarakan dan menyiksa pelakunya. Sehingga tidak jarang diantara sebagian kaum muslimin, ketika merasa sudah banyak dosa yang dilakukan, dia memilih jalan pintas dengan mengatakan, "sudah kepalang basah ya sudah lanjutkan."

Allah SWT berfirman, "dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." (QS. Al-A'raf : 156). Pekerjaan Rumah (PR) yang harus kita kerjakan bersama, bagaimana bisa menempatkan kaidah ataupun norma dan aturan, keseimbangan antara Al-Khauf dan Ar-Rodja. Unsur rasa takut dan unsur rasa harap kepada Allah SWT. Ingatkan kepada setiap orang diantara kita, bahwasanya Allah SWT itu Maha Pengampun, tapi ditambahkan lagi bahwasanya Allah SWT juga Maha menyiksa.

Agar setiap orang diantara kita menyelami dua ayat dalam Alquran. Allah SWT berfirman dalam Quran Surat Al-Hijr ayat 49-50 yang artinya sbb:  "Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Akulah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang,". "Dan sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih."(QS. Al-Hijr : 49-50)

Allah Maha Pengampun, mengampuni semua dosa-dosa hambanya tanpa kecuali. Bahkan ketika seorang hamba terjatuh dalam jurang perbiatan dosa besar sekalipun, syirik misalnya. Dan dia bertobat kepada Allah SWT, Allah akan mengampuni dia, apalagi selain syirik. Sehingga mereka yang tidak rela teman-temannya kembali kepada kebaikan harus kita patahkan.

Allah SWT ingin menenangkan hamba-hamba Nya, sebanyak apapun dosa yang kamu lakukan selama engkau kembali dan beryobat kepada Allah, maka Allah SWT akan menerima taubatnya. Dalam Hadits Qudsi, Allah SWT menegaskan kepada hamba-hambanya, "Sesungguhnya rahmat Ku mengalahkan murka Ku".(HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Allah lebih mengedepankan rahmat Nya kepada hamba-hambanya, terlebih kepada para hamba yang mereka mau kembali kepada Allah SWT. Ketika hamba itu ingin kembali pada Nya maka Allah SWT sangat senang. Nabi shalallahu'alaihi wasallam mengatakan, "Allah SWT lebih berbahagia dan sangat senang ketika ada diantara hamba-hamba Nya yang mereka kembali dan bertobat kepada Allah SWT."

Bagaimana Allah Rabbul Izzah ingin mengiingatkan hamba-hamba Nya, agar hamba-hamba Nya yang detik ini atau kemarin sempat terjebak dalam jurang perbuatan dosa, agar mereka tidak berputus asa. Karena memang potensi setiap orang diantara kita untuk berputus asa itu besar peluangnya. Terlebih ketika teman-teman disekitar dia tidak memberikan dukungan secara moril, apalagi bila diantara mereka ada yang mengatakan "sok alim sok suci", sehingga merasa malu.

Allah SWT berfirman dalam Quran Surat Az-Zumar ayat 53 yang artinya sbb : 

"Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah SWT mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar : 53)

Jangan sekali-kali terjebak dalam jurang keputus asaan dari Rahmat Allah Rabbul Izzah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Bila apa yang Allah SWT sampaikan ini kepada kita dapat difahami dengan baik oleh orang-orang diantara kita, maka akan bisa menepis segala bentuk keraguan setiap orang diantara kita untuk kembali meraih rahmatnya Allah SWT, karena :

  1. Yang menawarkan Allah
  2. Yang menyampaikan Allah
  3. Yang menjanjikan Allah

Namun ayat ini terkadang tidak jarang disalah tafsirkan oleh sebagian kecil dari saudara-saudara kita. Kata mereka, "Berarti Allah SWT akan mengampuni dosa kita, kalau gitu saya gak mau tobat sekarang deh nanti saja." Ada syubhat diantara mereka sebagian kecil kaum muslimin, orang yang memiliki hati yang lemah dan mudah goyah. Bukan berarti ayat ini kita permainkan. Setiap orang diantara kita haruslah bersegera untuk bertobat kepada Allah SWT. Dan Allah SWT akan sangat gembira dan menyambut bila ada hamba Nya yang mau kembali pada Nya. "Dan Rahmat Ku melampaui segala sesuatu."

Pentingnya bagi kita untuk saling mengingatkan. Caranya untuk mengingatkan, "Bila saat ini diantara kita terjebak dalam kubangan dosa segera bertobat kepada Allah SWT, sebelum ajal menjemput kita." Sering kita katakan bahwasanya kematian itu tidak hanya menimpa orang yang berusia tua renta, tidak hanya harus orang yang sering sakit-sakitan.

Tidak ada Nash dari Alquran maupun Hadits, maupun dari para ulama salaf yang menunjukkan bahwa orang akan mati harus tua dulu. Tapi Nash dalam Alquran mengatakan, Allah SWT berfirman dalam Quran Surat Al-Ankabut Ayat 57; "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan." QS. Al-Ankabut : 57

Maka kita semestinya kita harus waspada agar jangan sampai kita terburu dijemput malaikat maut sebelum kita bertobat. Sehingga setiap kita memiliki konsep bahwa Allah SWT akan menerima taubat seorang hamba ketika taubat itu betul-betul tulus dari hati yang paling dalam,

  1. Meninggalkan dan menanggalkan dosa
  2. Menyesali apa yang diperbuat.
  3. Tekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa.

Sadari bahwasanya peluang kita untuk bertaubat itu sangat besar, dan ini bukti cinta Allah SWT kepada hamba-hamba Nya. Nabi shalallahu'alaihi wasallam mengatakan kepada kita, "Orang yang bertaubat dari dosa seolah-olah ia tidak berdosa." (Shahih : HR. Ibnu Majah no. 4250, dari Ibnu Mas’ud)

Ini bukti, apalagi Allah sudah menegaskan kepada kita dalam hadits Qudsi, "Rahmat Ku mendahului kemurkaan Ku." Allah SWT sangat sayang dan sangat mencintai hamba-hamba Nya. Kalau Allah SWT mengedepankan kemarahan dan kemurkaan Nya, tidak ada diantara kita yang bertahan lama dimuka bumi ini. Sehingga Allah SWTsenantiasa memberikan peluang besar kepada hamba-hamba Nya. Allah SWT berfirman dalam Quran Surat Thaha ayat 82; "Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar."(QS. Thaha : 82)

Inilah janji Allah SWT,

  1. Tatkala kita bertaubat
  2. Kembali beriman kepada Allah SWT
  3. Diiringi dengan amal sholeh 
  4. Istiqomah (ini yang berat).

Ini membuktikan bahwasanya Allah SWT sangat menyayangi hamba Nya. Bersyukurlah kita bahwasanya Allah SWT itu, bahkan lebih banyak memberikan peluang kepada kita dan tidak menyegerakan siksa dan adzab kepada hamba-hamba Nya, ketika hamba ini mau kembali kepada Allah SWT.

Sadari bila hari ini diantara kita semapt berbuat dosa dan sampai detik ini masih diberikan nikmat bernafas, mendengarkan kajian, shilat Isya, ini berarti Allah SWT masih sayang kepada kita dan Allah SWT cinta kepada kita. Bukti Allah SWT cinta kepada hamba yang beriman, Allah SWT berikan peluang seluas-luasnya kepada hamba Nya untuk beramal sholeh. Allah SWT berfirman dalam Quran Surat Al-Furqon ayat 70 yang artinya,  "Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah SWT maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(QS. AL-Furqon : 70)

Fenomena yang menimpa sebagian kecil kaum muslimin, ketika memahami ini adalah ayat hiburan bagi mereka orang-orang yang terjebak dalam jurang keputus asaan. Yang mereka mengatakan, "Kalau gitu taubatnya nanti aja deh jangan sekarang." Jangan karena ini ucapan yang berbahaya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya :

“Sesungguhnya apabila seorang yang beriman berbuat satu kesalahan (dosa), maka akan ditulis titik hitam di hatinya. Tetapi jika ia menahan dirinya dari perbuatan maksiat, meminta ampun kepada Allah SWT dan bertaubat, maka hatinyapun akan bersih kembali, dan jika ia berbuat kesalahan lagi, maka akan ditambah titik hitam tersebut di hatinya, sehingga titik-titik itu memenuhi hatinya. Dan itulah ‘raan’ yang difirmankan Allah SWT “Sekali kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”(QS. Mutofifin : 14) (Hadits hasan shahih diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no.3334, Ahmad dan Abu Daud, Al-Hakim II/517, Ibnu Majah no.4244 dan Ibnu Hibban dalam At-Ta’liiqaatul Hisaan, no.926 dan 2776)

Dalam Hadits tersebut Nabi mengatakan kalau ada tiga indikator atau tiga hal yang dia lakukan,

  1. Jika dia segera bertaubat,
  2. Meninggalkan perbuatan dosa,
  3. Beristighfar kepada Allah SWT.

Maka hatinya akan bersih kembali dari noktah hitam. Inilah indahnya Islam, Islam itu balance,

  1. Ada perintah ada larangan
  2. Ada kabar gembira ada peringatan.

Maka bagi orang-orang yang mereka terjebak dalam jurang yang melampaui batas dalam Unsur Rodja (Harap), tidak punya Rasa Al-Khauf (Rasa Takut) sama sekali, akan menyeret dia untuk berani berbuat dosa. Kalau kita meyakini Allah SWT Maha Pengampun, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Kita juga harus meyakini bahwa Allah Maha Menyiksa, mampu mengadzab siapa saja yang Allah SWT kehendaki.

Inilah indahnya Islam balance, tidak ingin menjadikan setiap penganut Islam ini mereka terjatuh kedalam kelompok yang ekstrem, berlebihan dalam hal rasa takut sehingga putus asa dan pesimis. Demikian pula dalam hal Rodja/harapannya, membuat dia nekat berbuat dosa.

Inilah seorang mukmin harus berjalan dengan dua sayap, sayap Al-Khauf dan sayap Ar-Rodja yang balance. Karena dampak seorang hamba yang menunda-nunda untuk meraih Maghfirah/ampunan Allah, akan membahayakan hidup dia, sehingga al maut menjemputnya sebelum dia bertaubat dimanapun dia berada.

Abdullah bin Umar pernah mengatakan, "Kami pernah dalam satu majelis menghitung taubatnya Nabi, memohon ampun kepada Allah 100 kali."

“ALLOHUMMAGHFIR-LII WA TUB ‘ALAYYA, INNAKA ANTAT TAWWABUR ROHIIM. yang artinya, sbb :

"Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang) sampai beliau membacanya seratus kali." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 619. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih.)

Islam mengajarkan kepada kita, agar kita ini memiliki sifat yang baik.

  1. Berhusnudzon kepada Allah SWT, bahwasanya Allah SWT mengampuni semua dosa-dosa hambanya, sehingga ini memicu kita untuk senantiasa kembali kepada Allah SWT dengan Taubat kepada Nya.
  2. Konsep baku yang diajarkan oleh para ulama kepada kita, agar kita menyeimbangkan antara unsur Al-Khauf (rasa Takut) dan Rodja (rasa Harap).
  3. Artinya kalau seorang mukmin itu berjalan maka dengan dua sayap yang seimbang, tidak boleh timpang salah satunya.
  4. Bila salah satunya lebih dominan maka berbahaya, bahayanya sbb :

"Ketika seorang hamba memiliki rasa takut yang berlebihan maka akan menyeret dia kedalam jurang keputus asaan dan pesimis. 

  • Begitu juga sebaliknya ketika dia memiliki rasa harap yang berlebihan, merasa percaya diri dia susah sholat, sudah puasa, rajin baca Quran, rajin kemesjid, sekian kali berhaji dan umroh. Ini berbahaya karena meremehkan perbuatan dosa.
  • Dan sebagian kita yang mulai berputus asa dari rahmat Allah, Allah telah menghibur kita memberi kita ultimatum,

Allah Ta'ala berfirman yang artinya : 

"Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah SWT. Sesungguhnya Allah SWT mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS.Az-Zumar : 53)

Dahulu saya pernah berbuat dzolim, takut dan selalu was-was akan ibadah tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena bisa jadi rumah yang kita tempati tercampur dengan harta haram, bagaimana cara taubatnya agar gelisah ini hilang.?

Jawab : Dahulu pernah berbuat dzolim, artinya kita harus faham dulu bahwa dzolim itu adalah, "Berbuat hal yang melampaui batas, tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya." Bisa jadi karena perkataan atau perbuatan kita, atau kita merampas harta orang lain. Sekarang ingin tobat, tapi terjangkiti penyakit keraguan, takutnya rumah yang saya pakai tercampur dengan harta haram. Seperti halnya ketika Allah SWTmengisahkan kepada kita tentang haramnya riba. Allah SWT memberikan kita toleransi yang lalu sudah Allah SWT maafkan ketika kita tidak tahu.

Sekarang perbaharui niat kita, perbaharui amal kita, dan banyak kembali kepada Allah SWT. Kalau toh pada akhirnya Allah SWT beri kita kemampuan dan kita tidak tahu dulu berapa yang pernah saya ambil. Maka Islam tidak memberatkan dan memberikan beban kepada hambanya diluar kemampuannya. Sehingga Allah SWTmenegaskan kepada kita; "Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu" (QS. At-Taghabun : 16)

Silahkan kita bersedekah dengan nominal yang kita miliki dan tidak dipaksakan, seingat kita.  Jangan sampai penyakit was-was itu pada akhirnya menggoyahkan kita. Ingat iblis itu bisikannya sangat-sangat dahsyat. Iblis itu itu awal bisikan kepada kita adalah mengatakan; "Siapa yang menciptakanmu.?" Nanti puncaknya akan membuat ragu aqidah kita dengan mengatakan, "Siapakah yang meciptkan Tuhanmu.?"

Kata Rasulullah, "kalau ini mulai terbetik dihati dan fikiran kita, maka diam, tinggalkan dan baca istiadzah." Kembali lagi dikatakan, silahkan kita kira-kira berapa dulu yang diambil. Kalau masih ingat, Alhamdulillah. Tapi kalau tidak ingat maka semampu kita. Maka kita katakan, “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Dan Nabi shalallahu'alaihi wasallam juga mengatakan yang artinya sbb :“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku ketika ia tidak sengaja, lupa, dan dipaksa.”  (Hadits hasan, HR. Ibnu Majah no. 2045, Al-Baihaqi VII/356)

Jadi kembali kepada konsep semampu kita untuk kita kembalikan kepada orang yang kita ambil haknya, seingat kita. Yang lalu sudah Allah SWT ampuni termasuk dosa Riba. Sekarang buka lembaran baru, kembali kepada Allah SWT.Nabi shalallahu'alaihi wasallam pernah bersabda yang artinya sbb : “iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena dapat menghapusnya.” (Riwayat Tirmidzi, dia berkata, "haditsnya hasan)

Setiap kali berbuat kesalahan dan dosa, hapus dengan amal kebjikan sebagai penghapus amal keburukan tadi. Semoga kita selalu kembali dan minta mpunan kepada Allah SWT, dan semoga kita di ampuni oleh Allah SWT. Semoga Bermanfat.