This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Ini Saran Psikolog agar Anak Tak Jadi Korban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ini Saran Psikolog agar Anak Tak Jadi Korban. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Agustus 2022

Orang Tua Bercerai, Ini Saran Psikolog agar Anak Tak Jadi Korban

Orang Tua Bercerai, Ini Saran Psikolog agar Anak Tak Jadi Korban

Orang Tua Bercerai, Ini Saran Psikolog agar Anak Tak Jadi Korban. Anak sering kali menjadi korban perceraian orang tua.  Di tengah konflik antara kedua orang tua itu, psikologis anak menjadi terganggu. Namun, hal itu tak selalu terjadi jika kedua orang tua mampu mengelola konflik. Gisella Tani Pratiwi, psikolog anak dari Yayasan Pulih mengatakan orang tua yang mampu mengelola konflik dapat mendukung kesehatan mental anggota keluarga, terutama anak-anaknya. 

Ketika pasangan suami istri memutuskan untuk berpisah, sebaiknya mereka menceritakan keputusan dan permasalahan yang terjadi kepada dalam porsi yang secukupnya saja, sehingga anak tidak perlu terpapar konflik yang belum dipahami pada usianya. Kedua orang tua juga harus menghindari aksi komunikasi yang menambah konflik batin bagi anak, misalnya meminta anak memilih antara ayah dan ibu ketika akan ada perceraian.

Orang tua sebaiknya memahami perkembangan, pemahaman, dan kebutuhan tumbuh kembang anak-anaknya sehingga bisa memberikan gaya komunikasi yang tepat. "Sensitiflah dengan kondisi emosi anak, bantulah mengenali emosinya dan terimalah apa pun kondisi emosinya, cobalah berempati dengan menerima emosinya maka membantu anak lebih stabil," ujarnya kepada Bisnis beberapa waktu lalu. 

Diskusi juga menjadi hal penting dalam membangun pola komunikasi dengan anak. Diskusi tentang permasalahan dengan cara yang memusatkan pada solusi dan memperhitungkan kondisi masing-masing pihak yang terlibat, mungkin menjadi hal yang tepat. "Intinya biasakan untuk menjalin komunikasi yang terbuka dan hangat," katanya. Sementara itu, bagi para orang tua yang memutuskan bercerai, sebaiknya tetap menjalin komunikasi, tentu yang tidak menyudutkan satu sama lain. Mereka perlu saling mendengarkan pendapat dan terbuka untuk memahami pihak lain, seperti saling menerima jika memang ada ketidaksetujuan dalam hal mengurus anak.  Tindakan kekerasan baik psikis maupun fisik juga perlu dihindari. Walaupun sudah bercerai, anak ingin melihat ayah ibunya tetap harmonis.

Referensi : Orang Tua Bercerai, Ini Saran Psikolog agar Anak Tak Jadi Korban