This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Hidup Setelah Bercerai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidup Setelah Bercerai. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 September 2022

Hidup Setelah Bercerai

Menurut psikolog A. Kasandra Putranto, banyak pertimbangan yang memberatkan pasangan untuk memilih  bercerai. Selain memikirkan repotnya mengurus perceraian,muncul ketakutan mengecewakan anak-anak  dan keluarga besar, ditambah dengan pandangan miring dari lingkungan sekitar. 'Sudah tua kok mau cerai? Nggak malu sama anak-cucu?' Komentar semacam ini yang kerap memaksa pasangan usia matang tetap mempertahankan perkawinan yang tidak bahagia, dan menunggu sampai maut memisahkan.  Padahal, kehidupan tak lantas berhenti setelah perceraian. Memang, ada yang merasa sulit menerima realita bahwa perkawinannya telah berakhir, terutama bagi pihak wanita yang digugat cerai. Apalagi bila merasa bukan di pihak yang bersalah, ia tentu merasa terpukul dan sakit hati.      Supaya sanggup bangkit dan menjalani kehidupan paska perceraian, yang pertama harus dilakukan menurut Kasandra adalah menetralisir hati dan menerima kondisi tersebut dengan ikhlas. “Buang jauh-jauh rasa dendam. Buat apa disimpan? Toh tidak akan mengubah keadaan. Sebaliknya malah membuat penyakit hati menggerogoti fisik,” saran Kasandra. Paska perceraian sepatutnya menjadi pribadi yang lebih bahagia, apalagi bila bertahun-tahun lalu ia sempat menyimpan emosi negatif akibat  kecewa terhadap pasangan.      Kasandra mengingatkan pula bahwa  komentar miring terhadap perceraian yang terjadi di usia  matang seringkali terdengar lebih ‘kencang’ dibandingkan usia muda. Untuk itu persiapkan mental menghadapi omongan yang kurang enak didengar. Kadangkala, pihak luar termasuk keluarga, bukannya mendukung keputusan tersebut, tapi malah menyalahkan dan memperburuk keadaan.      Daripada membiarkan diri berlarut-larut pada kesedihan, alangkah lebih baik mengalihkan pikiran dan energi dengan melakukan kegiatan positif. Fokuslah pada kegiatan yang menyenangkan yang selama ini belum sempat dilakukan, seperti ikut kelompok pencinta hobi atau berpetualang menjelajah kota-kota yang sama sekali belum pernah Anda datangi.  Siapa tahu, Anda akan bertemu jodoh lagi, dan menikah lagi. Menurut psikolog A. Kasandra Putranto, banyak pertimbangan yang memberatkan pasangan untuk memilih  bercerai. Selain memikirkan repotnya mengurus perceraian,muncul ketakutan mengecewakan anak-anak  dan keluarga besar, ditambah dengan pandangan miring dari lingkungan sekitar. 'Sudah tua kok mau cerai? Nggak malu sama anak-cucu?' Komentar semacam ini yang kerap memaksa pasangan usia matang tetap mempertahankan perkawinan yang tidak bahagia, dan menunggu sampai maut memisahkan.  Padahal, kehidupan tak lantas berhenti setelah perceraian. Memang, ada yang merasa sulit menerima realita bahwa perkawinannya telah berakhir, terutama bagi pihak wanita yang digugat cerai. Apalagi bila merasa bukan di pihak yang bersalah, ia tentu merasa terpukul dan sakit hati.      Supaya sanggup bangkit dan menjalani kehidupan paska perceraian, yang pertama harus dilakukan menurut Kasandra adalah menetralisir hati dan menerima kondisi tersebut dengan ikhlas. “Buang jauh-jauh rasa dendam. Buat apa disimpan? Toh tidak akan mengubah keadaan. Sebaliknya malah membuat penyakit hati menggerogoti fisik,” saran Kasandra. Paska perceraian sepatutnya menjadi pribadi yang lebih bahagia, apalagi bila bertahun-tahun lalu ia sempat menyimpan emosi negatif akibat  kecewa terhadap pasangan.      Kasandra mengingatkan pula bahwa  komentar miring terhadap perceraian yang terjadi di usia  matang seringkali terdengar lebih ‘kencang’ dibandingkan usia muda. Untuk itu persiapkan mental menghadapi omongan yang kurang enak didengar. Kadangkala, pihak luar termasuk keluarga, bukannya mendukung keputusan tersebut, tapi malah menyalahkan dan memperburuk keadaan.      Daripada membiarkan diri berlarut-larut pada kesedihan, alangkah lebih baik mengalihkan pikiran dan energi dengan melakukan kegiatan positif. Fokuslah pada kegiatan yang menyenangkan yang selama ini belum sempat dilakukan, seperti ikut kelompok pencinta hobi atau berpetualang menjelajah kota-kota yang sama sekali belum pernah Anda datangi.  Siapa tahu, Anda akan bertemu jodoh lagi, dan menikah lagi.    Referensi : Hidup Setelah Bercerai/Menurut psikolog A. Kasandra Putranto, banyak pertimbangan yang memberatkan pasangan untuk memilih  bercerai. Selain memikirkan repotnya mengurus perceraian,muncul ketakutan mengecewakan anak-anak  dan keluarga besar, ditambah dengan pandangan miring dari lingkungan sekitar. 'Sudah tua kok mau cerai? Nggak malu sama anak-cucu?' Komentar semacam ini yang kerap memaksa pasangan usia matang tetap mempertahankan perkawinan yang tidak bahagia, dan menunggu sampai maut memisahkan.  Padahal, kehidupan tak lantas berhenti setelah perceraian. Memang, ada yang merasa sulit menerima realita bahwa perkawinannya telah berakhir, terutama bagi pihak wanita yang digugat cerai. Apalagi bila merasa bukan di pihak yang bersalah, ia tentu merasa terpukul dan sakit hati.      Supaya sanggup bangkit dan menjalani kehidupan paska perceraian, yang pertama harus dilakukan menurut Kasandra adalah menetralisir hati dan menerima kondisi tersebut dengan ikhlas. “Buang jauh-jauh rasa dendam. Buat apa disimpan? Toh tidak akan mengubah keadaan. Sebaliknya malah membuat penyakit hati menggerogoti fisik,” saran Kasandra. Paska perceraian sepatutnya menjadi pribadi yang lebih bahagia, apalagi bila bertahun-tahun lalu ia sempat menyimpan emosi negatif akibat  kecewa terhadap pasangan.      Kasandra mengingatkan pula bahwa  komentar miring terhadap perceraian yang terjadi di usia  matang seringkali terdengar lebih ‘kencang’ dibandingkan usia muda. Untuk itu persiapkan mental menghadapi omongan yang kurang enak didengar. Kadangkala, pihak luar termasuk keluarga, bukannya mendukung keputusan tersebut, tapi malah menyalahkan dan memperburuk keadaan.      Daripada membiarkan diri berlarut-larut pada kesedihan, alangkah lebih baik mengalihkan pikiran dan energi dengan melakukan kegiatan positif. Fokuslah pada kegiatan yang menyenangkan yang selama ini belum sempat dilakukan, seperti ikut kelompok pencinta hobi atau berpetualang menjelajah kota-kota yang sama sekali belum pernah Anda datangi.  Siapa tahu, Anda akan bertemu jodoh lagi, dan menikah lagi.

Menurut psikolog A. Kasandra Putranto, banyak pertimbangan yang memberatkan pasangan untuk memilih  bercerai. Selain memikirkan repotnya mengurus perceraian,muncul ketakutan mengecewakan anak-anak  dan keluarga besar, ditambah dengan pandangan miring dari lingkungan sekitar. 'Sudah tua kok mau cerai? Nggak malu sama anak-cucu?' Komentar semacam ini yang kerap memaksa pasangan usia matang tetap mempertahankan perkawinan yang tidak bahagia, dan menunggu sampai maut memisahkan.

Padahal, kehidupan tak lantas berhenti setelah perceraian. Memang, ada yang merasa sulit menerima realita bahwa perkawinannya telah berakhir, terutama bagi pihak wanita yang digugat cerai. Apalagi bila merasa bukan di pihak yang bersalah, ia tentu merasa terpukul dan sakit hati.
    
Supaya sanggup bangkit dan menjalani kehidupan paska perceraian, yang pertama harus dilakukan menurut Kasandra adalah menetralisir hati dan menerima kondisi tersebut dengan ikhlas. “Buang jauh-jauh rasa dendam. Buat apa disimpan? Toh tidak akan mengubah keadaan. Sebaliknya malah membuat penyakit hati menggerogoti fisik,” saran Kasandra. Paska perceraian sepatutnya menjadi pribadi yang lebih bahagia, apalagi bila bertahun-tahun lalu ia sempat menyimpan emosi negatif akibat  kecewa terhadap pasangan.
    
Kasandra mengingatkan pula bahwa  komentar miring terhadap perceraian yang terjadi di usia  matang seringkali terdengar lebih ‘kencang’ dibandingkan usia muda. Untuk itu persiapkan mental menghadapi omongan yang kurang enak didengar. Kadangkala, pihak luar termasuk keluarga, bukannya mendukung keputusan tersebut, tapi malah menyalahkan dan memperburuk keadaan.
    
Daripada membiarkan diri berlarut-larut pada kesedihan, alangkah lebih baik mengalihkan pikiran dan energi dengan melakukan kegiatan positif. Fokuslah pada kegiatan yang menyenangkan yang selama ini belum sempat dilakukan, seperti ikut kelompok pencinta hobi atau berpetualang menjelajah kota-kota yang sama sekali belum pernah Anda datangi.  Siapa tahu, Anda akan bertemu jodoh lagi, dan menikah lagi.  

Referensi : Hidup Setelah Bercerai