This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2022

Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah

Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).  Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).       Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda;  "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.      Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.   Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda; "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.     Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.

Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19). 

Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).       Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda;  "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.      Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.


Menguatkan karakter keimanan

Allah Swt berfirman;

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)

Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar. 

Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda;

"Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)

Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).  Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).       Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda;  "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.      Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.   Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda; "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.     Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir. Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).  Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).       Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda;  "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.      Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.   Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda; "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)    Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.     Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.


Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.

Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.


Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.

Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;
Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).  Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).       Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda;  "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.      Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.   Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda; "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.     Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir. Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).  Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).       Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda;  "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.      Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.   Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda; "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)    Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.     Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.

"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)


Mengangkat derajat dan menghapus dosa

Allah Swt berfirman;

"Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)

Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan. Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.
Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).  Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).       Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda;  "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.      Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.   Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda; "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.     Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir. Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).  Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).       Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda;  "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.      Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.   Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda; "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)    Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.     Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.
Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya. 

Rasulullah Saw bersabda;

"Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)

Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;

"Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)
Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).  Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).       Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda;  "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.      Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.   Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda; "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.     Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir. Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).  Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).       Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda;  "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.      Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.   Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda; "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)    Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.     Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.
Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)


Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt

Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;

"Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).

Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)

Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih. 
Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).  Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).       Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda;  "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.      Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.   Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda; "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.     Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir. Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).  Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).       Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda;  "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.      Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.   Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda; "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)    Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.     Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.

Rasulullah Saw bersabda;

"Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)

Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk. 

Setara syahid

Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;
 
"Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)

Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.

Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).  Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).       Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda;  "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.      Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.   Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda; "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.     Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir. Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).  Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).       Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda;  "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.      Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.   Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda; "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)    Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.     Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.

Pahala tanpa batas

Allah Swt berfirman;

"... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan. 

 

Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).  Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).       Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda;  "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.      Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.   Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda; "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.     Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir. Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).  Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah. ak ada perkara yang dicipta dengan nihil makna. Sudah pasti, di balik semuanya, Allah Swt telah menyisipkan serangkaian hikmah yang bisa dipelajari. Pun seperti sekarang, setidaknya ada lima hikmah yang bisa diambil di balik datangnya ujian berupa ancaman dan musibah korona (Covid-19).       Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda;  "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)  Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.      Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.   Menguatkan karakter keimanan  Allah Swt berfirman;  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)  Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan menjelaskan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar.   Dari Shuhaib, Rasulullah Saw bersabda; "Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Dan Itu pun baik baginya." (HR. Bukhari Muslim)    Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang beriman.  Dua sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Keajaiban sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, lalu ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, maka Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.   Begitu pun ketika ditimpa musibah lantas ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang bersabar.  Pintu kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan istirja, alias kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar melengkapinya sebagai doa sebagaimana yang pernah diucapkan Rasulullah Saw;  "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." (HR Muslim)   Mengangkat derajat dan menghapus dosa  Allah Swt berfirman;  "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al Anbiya': 83-84)  Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengisahkan, bahwa pada mulanya Nabi Ayub merupakan seorang yang kaya raya, memiliki anak-anak, dan istri yang sangat dicintainya. Nabi Ayub, sama sekali tak memiliki kesulitan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah Swt karena serba berkecukupan.  Kemudian, Allah Swt menguji Nabi Ayub berupa penyakit hingga ia ditinggalkan para pengikutnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Tak hanya itu, kekayaan Nabi Ayub pun habis tiada bersisa.  Akan tetapi, Nabi Ayub tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan dengan ketakwaan yang kian meningkat. Kemudian Allah pun mengembalikan seluruh kekayaan Nabi Ayub dengan berlipat ganda, dan anak-anak yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.   Rasulullah Saw bersabda;  "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. At-Tirmidzi)  Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;  "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” (HR. Muslim)  Ada pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)   Tanda cinta dan kebaikan Allah Swt  Musibah atau ujian juga bisa menjadi penanda atas cinta dan kebaikan Allah Swt kepada makhluk-Nya. Nabi Saw bersabda;  "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmizi).  Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah)  Apabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan musibah. Allah menjadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih.   Rasulullah Saw bersabda;  "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)  Dalam Faidh Al-Qadir, Al-Munawi menegaskan, hal itu juga bisa menunjukkan sebaliknya. Allah Swt akan mengakhirkan siksa yang berlibat di akhirat kelak, kepada siapa saja yang tidak dicintai-Nya dan siapa saja yang dikehendakinya buruk.   Setara syahid  Anjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya;   "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)  Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.   Pahala tanpa batas  Allah Swt berfirman;  "... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)  Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan.     Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.

Sumber: Disarikan dari beberapa hadis dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibn Majah, serta penjelasan dari Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Qur'an yang disusun Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari, Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami Al-Shaghir karya Zainuddin Muhammad Abdurrauf bin Tajul Arifin Al-Munawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi Al-Abraar atau Al-Adzkaar An-Nawawiyah karya Imam Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Al-Hasan Ar-Razi, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari karya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Atsqalani, dan Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir.

Referensi : Hikmah ketika Kamu Tabah Menghadapi Wabah