This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Talak dalam Keadaan Marah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Talak dalam Keadaan Marah. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Agustus 2022

Talak Dalam Keadaan Marah (Bagian 1)

Talak dalam keadaan marah  Dalam risalah Ibnu al-Qayyim disebutkan, keadaan orang marah terdiri tiga pembagian, yaitu :  Ada padanya mabadi marah (permulaan marah), dalam marahnya tidak menyebabkan berubah akalnya dan dia mengetahui dan mengqashad apa yang dia katakan. Ini tidak ada musykil (jatuh talaq). Marah yang sampai pada puncaknya, sehingga tidak diketahui apa yang dikatakan dan juga perkataannya itu tidak diqashadnya lagi. Ini tidak diragukan tidak berlaku apapun dari perkataannya. Pertengahan antara dua kelompok marah di atas. Orang marah kelompok ini tidak seperti orang gila. Dalil-dalil menunjukkan tidak berlaku juga perkataannya.  Sebagaimana penjelasan diatas, para ulama sepakat jatuh talaq dalam kasus marah biasa, yakni marah katagori pertama dalam pengelompokan di atas dan tidak jatuh talaq pada katagori kedua, yakni marah yang sudah sampai puncaknya yang dapat menghilangkan akalnya, sehingga tidak diketahui lagi apa yang dikatakan serta perkataannya itu tidak diqashadnya lagi. Terjadi perbedaan pendapat hanya pada marah katagori ketiga, yakni marah pertengahan antara dua katagori di atas. Ibnu  Abidin setelah mengutip pengelompokan marah yang disebut oleh Ibnu al-Qayyim di atas, beliau  mengatakan :  لَكِنْ أَشَارَ فِي الْغَايَةِ إلَى مُخَالَفَتِهِ فِي الثَّالِثِ حَيْثُ قَالَ: وَيَقَعُ الطَّلَاقُ مِنْ غَضَبٍ خِلَافًا لِابْنِ الْقَيِّمِ  Akan tetapi pengarang al-Ghayah (ulama pengikut mazhab Hambali) mengisyaratkan berbeda dengan pendapat Ibnu al-Qayyim. Pengarang al-Ghayah mengatakan, jatuh talaq dari orang marah, berbeda dengan pendapat Ibnu al-Qayyim.   Abdurrahman al-Jaziri menggambarkan katagori ketiga ini dengan perkataan beliau sebagai berikut :  الثالث: أن يكون الغضب وسطاً بين الحالتين، بأن يشتد ويخرج عن عادته ولكنه لا يكون كالمجنون الذي لا يقصد ما يقول ولا يعلمه،  Katagori ketiga adalah keadaan marah di antara dua hal di atas, yakni sangat marah, sehingga keluar seseorang dari prilaku kebiasaannya, namun tidak menjadikannya seperti orang gila yang tidak mengqashad dan tidak mengetahui apa yang dikatakannya.[3]  Kemudian al-Jaziri mengatakan, bahwa pendapat Ibnu al-Qayyim yang mengatakan tidak jatuh talaq marah katagori ketiga ini tidak diakui sebagai mazhab Hambali.[4]  Dengan demikian yang menjadi pendapat mu’tamad dalam mazhab Hambali adalah jatuh talaq yang terjadi pada orang marah katagori ketiga. Ini juga sesuai dengan penjelasan Abu al-Naja al-Hajawi al-Maqdisi dalam kitab al-Iqna’ fi Fiqh al-Imam Ahmad bin Hambal berikut :  والغضبان مكلف في حال غضبه بما يصدر منه من كفر وقتل نفس وأخذ مال بغير حق وطلاق وغير ذلك قال ابن رجب في شرح النواوية ما يقع من الغضبان من طلاق وعتاق أو يمين فإنه يؤاخذ بذلك كله بغير خلاف واستدل لذلك بأدلة صحيحة وأنكر على من يقول بخلاف ذلك  Orang marah adalah mukallaf pada ketika marahnya dengan apa yang terjadi darinya, baik kufur, bunuh diri, ambil harta orang lain tanpa haq, talaq dan yang lainnya. Dalam Syarah al-Nawawiyah, Ibnu Rajab mengatakan hal-hal yang terjadi karena marah, baik talaq, memerdekakan atau sumpah, maka diperhitungkan semua itu tanpa khilaf dan beliau juga mengemukakan dalil-dalil yang shahih serta mengingkari orang yang berpendapat sebaliknya.  Mazhab Maliki juga berpendapat jatuh talaq yang terjadi pada orang marah katagori ketiga ini. Hal ini tergambar dari penjelasan ulama mazhab Maliki, al-Dusuqi sebagai berikut :  يَلْزَمُ طَلَاقُ الْغَضْبَانِ وَلَوْ اشْتَدَّ غَضَبُهُ خِلَافًا لِبَعْضِهِمْ كَذَا ذَكَرَ السَّيِّدُ الْبُلَيْدِيُّ فِي حَاشِيَتِهِ  Mengakibatkan jatuh talaq orang sedang marah, meskipun marahnya kuat. Pendapat ini berbeda dengan sebagian ulama. Seperti ini al-Bulaidy menyebutnya dalam Hasyiahnya.[6]  Termasuk yang berpendapat jatuh talaq yang terjadi pada orang marah adalah mazhab Syafi’i. Kesimpulan ini terlihat dalam nash-nash ulama-ulama Syafi’iyah berikut ini :  1.  Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan :  .مع الخبر الصحيح أيضا لا طلاق في إغلاق وفسره كثيرون بالإكراه كأنه أغلق عليه الباب أو انغلق عليه رأيه ومنعوا تفسيره بالغضب للاتفاق على وقوع طلاق الغضبان قال البيهقي، وأفتى به جمع من الصحابة ولا مخالف لهم منهم  Serta ada hadits shahih pula, “Tidak ada thalaq dalam keadaan ighlaq”. Kebanyakan ulama menafsirkannya dengan paksaan, seolah-olah dikunci pintu atasnya atau terkunci pikirannya. Mereka mencegah menafsirkannya dengan marah, karena ada kesepakatan jatuh talaq sedang marah. Al-Baihaqi mengatakan, satu jama’ah sahabat telah mengifta’ jatuh talaq sedang marah dan tidak ada yang menyelisihnya.  Seterusnya menjelaskan maksud perkataan al-Tuhfah di atas, al-Syarwani mengatakan :  (قوله: وأفتى به) أي بوقوع طلاق الغضبان وقوله: ولا مخالف إلخ أي فكان إجماعا سكوتيا  Perkataan pengarang : telah mengifta’nya, artinya ifta’ jatuh talaq sedang marah. Dan perkataan pengarang : tidak ada yang menyelisihnya dan seterusnya.., maka ini adalah ijma’ sukuti.  2.Zainuddin al-Malibari mengatakan :  واتفقوا على وقوع طلاق الغضبان وإن ادعى زوال شعوره بالغضب  Para ulama sepakat atas jatuh thalaq sedang marah, meskipun didakwa hilang kesadarannya dengan sebab marah.  Dalam mengomentari pernyataan di atas, Abu Bakar al-Syatha mengatakan :  (قوله واتفقوا على وقوع طلاق الغضبان ) في ترغيب المشتاق سئل الشمس الرملي عن الحلف بالطلاق حال الغضب الشديد المخرج عن الاشعار هل يقع الطلاق أم لا وهل يفرق بين التعليق والتنجيز أم لا وهل يصدق الحالف في دعواه شدة الغضب وعدم الإشعار فأجاب بأنه لا اعتبار بالغضب فيها نعم إن كان زائل العقل عذر اهـ  Perkataan pengarang : Para ulama sepakat atas jatuh thalaq sedang marah. Dalam kitab Targhib al-Musytaq, Imam al-Ramli ditanya tentang sumpah thalaq sedang sangat marah yang mengeluarkannya dari kesadaran, apakah jatuh talaq atau tidak? Apakah dibedakan antara ta’liq dan tanjiz atau tidak? Apakah dibenarkan dakwa orang bersumpah bahwa dia sedang sangat marah dan tidak ada kesadaran? Imam al-Ramli menjawab bahwa tidak ada i’tibar marah padanya , namun demikian, seandainya dia hilang akal, maka dihukum ‘uzur.  Pendapat yang berbeda dengan di atas dikemukakan oleh golongan ulama Hanafiyah. Golongan ini berpendapat talaq dalam keadaan marah tidak jatuh talaqnya. Ini sebagaimana disebut dalam kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazhab al-Arba’ah, yakni :  والتحقيق عند الحنفية أن الغضبان الذي يخرجه غضبه عن طبيعته وعادته بحيث يغلب الهذيان على أقواله وأفعاله فإن طلاقه لا يقع، وإن كان يعلم ما يقول ويقصده لأنه يكون في حالة يتغير فيها إدراكه، فلا يكون قصده مبنياً على إدراك صحيح، فيكون كالمجنون،  Yang tahqiq di sisi Hanafiyah orang marah yang marahnya mengeluarkan seseorang dari tabiat dan kebiasaannya, dalam arti kekacauan pikiran menguasai perkataan dan perbuatannya, maka talaqnya tidak jatuh, meskipun dia mengetahui dan mengqashad apa yang dikatakannya. Karena orang marah berada dalam keadaan berubah-ubah pemikirannya. Karena itu, keadaan qashadnya tidak dibangun atas pemikiran yang shahih, maka ketika itu seperti orang gila.  Pendapat golongan Hanafiyah ini merupakan pendapat yang menyalahi dengan jumhur ulama.  Dali-dalil jumhur ulama yang berpendapat jatuh talaq yang terjadi dalam keadaan marah  1.    Dikisahkan dalam kitab Shahih Ibnu Hibban seorang perempuan bernama Khuwailah binti Tha’labah isteri Aus bin al-Shamit. Khuwailah ini menceritakan bahwa suaminya itu seorang yang sudah tua dan prilakunya buruk. Suatu ketika Khuwailah meminta sesuatu kepada suaminya, lalu suaminya marah, kemudian dengan serta melakukan zhihar kepadanya. Kemudian Khuwailah mengadu kepada Rasulullah SAW. Maka ketika itu Rasulullah SAW mengatakan kepada Khuwailah :  مُرِيهِ فَلْيُعْتِقْ رَقَبَةً قَالَتْ: وَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا عِنْدَهُ مَا يَعْتِقُ، قَالَ: فَلْيَصُمْ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ شَيْخٌ كَبِيرٌ، مَا بِهِ مِنْ صِيَامٍ، قَالَ: فَلْيُطْعِمْ سِتِّينَ مِسْكِينًا وَسْقًا مِنْ تَمْرٍ  “Perintahlah suamimu memerdekakan hamba sahaya !”. “Ya Rasulullah tidak ada di sisinya sesuatupun untuk dimerdekakannya, Jawab Khuwailah. Kemudian Rasulullah mengatakan : “Kalau begitu, berpuasalah dua bulan berturut-turut”. Khuwailahpun menjawab : “Ya Rasulullah sesungguhnya suamiku seorang yang sudah tua, dia tidak sanggup lagi berpuasa.” Lalu Rasulullah SAW berkata : “Berikan makanlah satu ausuq kurma untuk enam puluh orang miskin.”(H.R. Ibnu Hibban [13] dan al-Baihaqi[14])

Talak dalam keadaan marah

Dalam risalah Ibnu al-Qayyim disebutkan, keadaan orang marah terdiri tiga pembagian, yaitu :

  1. Ada padanya mabadi marah (permulaan marah), dalam marahnya tidak menyebabkan berubah akalnya dan dia mengetahui dan mengqashad apa yang dia katakan. Ini tidak ada musykil (jatuh talaq).
  2. Marah yang sampai pada puncaknya, sehingga tidak diketahui apa yang dikatakan dan juga perkataannya itu tidak diqashadnya lagi. Ini tidak diragukan tidak berlaku apapun dari perkataannya.
  3. Pertengahan antara dua kelompok marah di atas. Orang marah kelompok ini tidak seperti orang gila. Dalil-dalil menunjukkan tidak berlaku juga perkataannya.

Sebagaimana penjelasan diatas, para ulama sepakat jatuh talaq dalam kasus marah biasa, yakni marah katagori pertama dalam pengelompokan di atas dan tidak jatuh talaq pada katagori kedua, yakni marah yang sudah sampai puncaknya yang dapat menghilangkan akalnya, sehingga tidak diketahui lagi apa yang dikatakan serta perkataannya itu tidak diqashadnya lagi. Terjadi perbedaan pendapat hanya pada marah katagori ketiga, yakni marah pertengahan antara dua katagori di atas. Ibnu  Abidin setelah mengutip pengelompokan marah yang disebut oleh Ibnu al-Qayyim di atas, beliau  mengatakan :

لَكِنْ أَشَارَ فِي الْغَايَةِ إلَى مُخَالَفَتِهِ فِي الثَّالِثِ حَيْثُ قَالَ: وَيَقَعُ الطَّلَاقُ مِنْ غَضَبٍ خِلَافًا لِابْنِ الْقَيِّمِ

Akan tetapi pengarang al-Ghayah (ulama pengikut mazhab Hambali) mengisyaratkan berbeda dengan pendapat Ibnu al-Qayyim. Pengarang al-Ghayah mengatakan, jatuh talaq dari orang marah, berbeda dengan pendapat Ibnu al-Qayyim. 

Abdurrahman al-Jaziri menggambarkan katagori ketiga ini dengan perkataan beliau sebagai berikut :

الثالث: أن يكون الغضب وسطاً بين الحالتين، بأن يشتد ويخرج عن عادته ولكنه لا يكون كالمجنون الذي لا يقصد ما يقول ولا يعلمه،

Katagori ketiga adalah keadaan marah di antara dua hal di atas, yakni sangat marah, sehingga keluar seseorang dari prilaku kebiasaannya, namun tidak menjadikannya seperti orang gila yang tidak mengqashad dan tidak mengetahui apa yang dikatakannya.[3]

Kemudian al-Jaziri mengatakan, bahwa pendapat Ibnu al-Qayyim yang mengatakan tidak jatuh talaq marah katagori ketiga ini tidak diakui sebagai mazhab Hambali.[4]  Dengan demikian yang menjadi pendapat mu’tamad dalam mazhab Hambali adalah jatuh talaq yang terjadi pada orang marah katagori ketiga. Ini juga sesuai dengan penjelasan Abu al-Naja al-Hajawi al-Maqdisi dalam kitab al-Iqna’ fi Fiqh al-Imam Ahmad bin Hambal berikut :

والغضبان مكلف في حال غضبه بما يصدر منه من كفر وقتل نفس وأخذ مال بغير حق وطلاق وغير ذلك قال ابن رجب في شرح النواوية ما يقع من الغضبان من طلاق وعتاق أو يمين فإنه يؤاخذ بذلك كله بغير خلاف واستدل لذلك بأدلة صحيحة وأنكر على من يقول بخلاف ذلك

Orang marah adalah mukallaf pada ketika marahnya dengan apa yang terjadi darinya, baik kufur, bunuh diri, ambil harta orang lain tanpa haq, talaq dan yang lainnya. Dalam Syarah al-Nawawiyah, Ibnu Rajab mengatakan hal-hal yang terjadi karena marah, baik talaq, memerdekakan atau sumpah, maka diperhitungkan semua itu tanpa khilaf dan beliau juga mengemukakan dalil-dalil yang shahih serta mengingkari orang yang berpendapat sebaliknya.

Mazhab Maliki juga berpendapat jatuh talaq yang terjadi pada orang marah katagori ketiga ini. Hal ini tergambar dari penjelasan ulama mazhab Maliki, al-Dusuqi sebagai berikut :

يَلْزَمُ طَلَاقُ الْغَضْبَانِ وَلَوْ اشْتَدَّ غَضَبُهُ خِلَافًا لِبَعْضِهِمْ كَذَا ذَكَرَ السَّيِّدُ الْبُلَيْدِيُّ فِي حَاشِيَتِهِ

Mengakibatkan jatuh talaq orang sedang marah, meskipun marahnya kuat. Pendapat ini berbeda dengan sebagian ulama. Seperti ini al-Bulaidy menyebutnya dalam Hasyiahnya.[6]

Termasuk yang berpendapat jatuh talaq yang terjadi pada orang marah adalah mazhab Syafi’i. Kesimpulan ini terlihat dalam nash-nash ulama-ulama Syafi’iyah berikut ini :

1.  Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan :

.مع الخبر الصحيح أيضا لا طلاق في إغلاق وفسره كثيرون بالإكراه كأنه أغلق عليه الباب أو انغلق عليه رأيه ومنعوا تفسيره بالغضب للاتفاق على وقوع طلاق الغضبان قال البيهقي، وأفتى به جمع من الصحابة ولا مخالف لهم منهم

Serta ada hadits shahih pula, “Tidak ada thalaq dalam keadaan ighlaq”. Kebanyakan ulama menafsirkannya dengan paksaan, seolah-olah dikunci pintu atasnya atau terkunci pikirannya. Mereka mencegah menafsirkannya dengan marah, karena ada kesepakatan jatuh talaq sedang marah. Al-Baihaqi mengatakan, satu jama’ah sahabat telah mengifta’ jatuh talaq sedang marah dan tidak ada yang menyelisihnya.

Seterusnya menjelaskan maksud perkataan al-Tuhfah di atas, al-Syarwani mengatakan :

(قوله: وأفتى به) أي بوقوع طلاق الغضبان وقوله: ولا مخالف إلخ أي فكان إجماعا سكوتيا

Perkataan pengarang : telah mengifta’nya, artinya ifta’ jatuh talaq sedang marah. Dan perkataan pengarang : tidak ada yang menyelisihnya dan seterusnya.., maka ini adalah ijma’ sukuti.

2.Zainuddin al-Malibari mengatakan :

واتفقوا على وقوع طلاق الغضبان وإن ادعى زوال شعوره بالغضب

Para ulama sepakat atas jatuh thalaq sedang marah, meskipun didakwa hilang kesadarannya dengan sebab marah.

Dalam mengomentari pernyataan di atas, Abu Bakar al-Syatha mengatakan :

(قوله واتفقوا على وقوع طلاق الغضبان ) في ترغيب المشتاق سئل الشمس الرملي عن الحلف بالطلاق حال الغضب الشديد المخرج عن الاشعار هل يقع الطلاق أم لا وهل يفرق بين التعليق والتنجيز أم لا وهل يصدق الحالف في دعواه شدة الغضب وعدم الإشعار فأجاب بأنه لا اعتبار بالغضب فيها نعم إن كان زائل العقل عذر اهـ

Perkataan pengarang : Para ulama sepakat atas jatuh thalaq sedang marah. Dalam kitab Targhib al-Musytaq, Imam al-Ramli ditanya tentang sumpah thalaq sedang sangat marah yang mengeluarkannya dari kesadaran, apakah jatuh talaq atau tidak? Apakah dibedakan antara ta’liq dan tanjiz atau tidak? Apakah dibenarkan dakwa orang bersumpah bahwa dia sedang sangat marah dan tidak ada kesadaran? Imam al-Ramli menjawab bahwa tidak ada i’tibar marah padanya , namun demikian, seandainya dia hilang akal, maka dihukum ‘uzur.

Pendapat yang berbeda dengan di atas dikemukakan oleh golongan ulama Hanafiyah. Golongan ini berpendapat talaq dalam keadaan marah tidak jatuh talaqnya. Ini sebagaimana disebut dalam kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazhab al-Arba’ah, yakni :

والتحقيق عند الحنفية أن الغضبان الذي يخرجه غضبه عن طبيعته وعادته بحيث يغلب الهذيان على أقواله وأفعاله فإن طلاقه لا يقع، وإن كان يعلم ما يقول ويقصده لأنه يكون في حالة يتغير فيها إدراكه، فلا يكون قصده مبنياً على إدراك صحيح، فيكون كالمجنون،

Yang tahqiq di sisi Hanafiyah orang marah yang marahnya mengeluarkan seseorang dari tabiat dan kebiasaannya, dalam arti kekacauan pikiran menguasai perkataan dan perbuatannya, maka talaqnya tidak jatuh, meskipun dia mengetahui dan mengqashad apa yang dikatakannya. Karena orang marah berada dalam keadaan berubah-ubah pemikirannya. Karena itu, keadaan qashadnya tidak dibangun atas pemikiran yang shahih, maka ketika itu seperti orang gila.

Pendapat golongan Hanafiyah ini merupakan pendapat yang menyalahi dengan jumhur ulama.

Dali-dalil jumhur ulama yang berpendapat jatuh talaq yang terjadi dalam keadaan marah

1.    Dikisahkan dalam kitab Shahih Ibnu Hibban seorang perempuan bernama Khuwailah binti Tha’labah isteri Aus bin al-Shamit. Khuwailah ini menceritakan bahwa suaminya itu seorang yang sudah tua dan prilakunya buruk. Suatu ketika Khuwailah meminta sesuatu kepada suaminya, lalu suaminya marah, kemudian dengan serta melakukan zhihar kepadanya. Kemudian Khuwailah mengadu kepada Rasulullah SAW. Maka ketika itu Rasulullah SAW mengatakan kepada Khuwailah :

مُرِيهِ فَلْيُعْتِقْ رَقَبَةً قَالَتْ: وَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا عِنْدَهُ مَا يَعْتِقُ، قَالَ: فَلْيَصُمْ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ شَيْخٌ كَبِيرٌ، مَا بِهِ مِنْ صِيَامٍ، قَالَ: فَلْيُطْعِمْ سِتِّينَ مِسْكِينًا وَسْقًا مِنْ تَمْرٍ

“Perintahlah suamimu memerdekakan hamba sahaya !”. “Ya Rasulullah tidak ada di sisinya sesuatupun untuk dimerdekakannya, Jawab Khuwailah. Kemudian Rasulullah mengatakan : “Kalau begitu, berpuasalah dua bulan berturut-turut”. Khuwailahpun menjawab : “Ya Rasulullah sesungguhnya suamiku seorang yang sudah tua, dia tidak sanggup lagi berpuasa.” Lalu Rasulullah SAW berkata : “Berikan makanlah satu ausuq kurma untuk enam puluh orang miskin.”(H.R. Ibnu Hibban [13] dan al-Baihaqi[14])        

Referensi : 

[1] Ibnu ‘Abidin, Radd al-Mukhtar ala Dar al-Mukhtar, Maktabah Syamilah, Juz.. III, Hal. 244

[2] Ibnu ‘Abidin, Radd al-Mukhtar ala Dar al-Mukhtar, Maktabah Syamilah, Juz.. III, Hal. 244

[3] Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala al-Mazhab al-Arba’ah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. IV, Hal. 262.

[4] [4] Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala al-Mazhab al-Arba’ah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. IV, Hal. 262.

[5] Abu al-Naja al-Hajawi al-Maqdisi, al-Iqna’ fi Fiqh al-Imam Ahmad bin Hambal, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal.4

[6] Al-Dusuqi, Hasyiah al-Dusuqi ‘ala Syarah al-Kabir, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 366

[7] Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, (dicetak pada hamisy Hasyiah al-Syarwani ‘ala al-Tuhfah), Mathba’ah Mushthafa Muhammad, Mesir, Juz. VIII, Hal. 32

[8] Al-Syarwani, Hasyiah al-Syarwani ‘ala al-Tuhfah, Mathba’ah Mushthafa Muhammad, Mesir, Juz. VIII, Hal. 32

[9] Zainuddin al-Malibari, Fathul Muin, (dicetak pada hamisy I’anah al-Thalibin), Thaha Putra, Semarang, Juz. IV, Hal. 5

[10]Abu Bakar al-Syatha,  I’anah al-Thalibi, Thaha Putra, Semarang, Juz. IV, Hal. 5

[11] Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala al-Mazhab al-Arba’ah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. IV, Hal. 262.

[12] Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala al-Mazhab al-Arba’ah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. IV, Hal. 262.

[13] Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, Maktabah Syamilah, Juz. X, Hal. 107, No. 4279

[14]. Al-Baihaqi, Sunan al-Baihaqi, Maktabah Syamilah, Juz. VII, Hal. 639, No. 15274

[15] Ibnu al-Mullaqqin, Badrul Munir, Maktabah Syamilah, Juz. VIII, Hal. 148

[16] Al-Haitsami, Majma’ al-Zawaid, Maktabah Syamilah, Juz. VIII, Hal. 69, No 12987

[17] Ibnu Rajab, Jami’ul Ulum wal Hakam, Dar Ibn Katsir, Beirut, Hal. 358

[18] Al-Suyuuthi, al-Asybah wan Nadhair, al-Haramain, Singapura, Hal. 44

[19] Mulla ‘Ali al-Qary, Mirqah al-Mafatih, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut,  Juz VI, Hal. 391-392

[20] Mulla ‘Ali al-Qary, Mirqah al-Mafatih, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut,  Juz VI, Hal. 392

[21] Al-Thabari, Tafsir al-Thabari, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 438

[22] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Barry, Maktabah Syamilah, Juz. XI, Hal. 548

[23] Ibnu Rajab, Jami’ul Ulum wal Hakam, Dar Ibn Katsir, Beirut, Hal. 358

[24] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. IX, Hal. 65,



Talak dalam Keadaan Marah

Talak dalam Keadaan Marah. Suami yang memegang hak talak harus benar-benar berhati-hati jika akan mentalak istrinya atau mengucapkan kata-kata talak. Karena besarnya urusan talak, ini tidak boleh dibuat menjadi permainan dan candaan. Talak akan jatuh atau terhitung talak walaupun diucapkan dengan maksud bercanda atau sekedar main-main  Misalnya ada yang berkata dengan maksud bermain-main atau bercanda  A: “Di mana istri anda” B: “Ada di rumah mertua, sudah saya talak” (maksudnya bercanda)  Dalam kasus ini, maka terhitung jatuh talak satu dalam syariat. Ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:  ﺛَﻠَﺎﺙٌ ﺟِﺪُّﻫُﻦَّ ﺟِﺪٌّ ، ﻭَﻫَﺰْﻟُﻬُﻦَّ ﺟِﺪٌّ ، ﺍﻟﻨِّﻜَﺎﺡُ ، ﻭَﺍﻟﻄَّﻠَﺎﻕُ ، ﻭَﺍﻟﺮَّﺟْﻌَﺔُ  “Tiga hal yang seriusnya dianggap serius, dan bercandanya dianggap serius: nikah, talak, dan rujuk” (HR. Abu Daud, Hasan).  Saat Talak Terucap dalam Keadaan Marah Bagaimana jika suami dalam keadaan marah? Sering kali talak ini muncul dari mulut suami dalam kedaan marah semisal jengkel atau bertengkar hebat dengan istrinya. Perlu diketahui bahwa talak tidak terhitung jika diucapkan dalam keadaan akal tertutup seperti gila, tidak sadar atau dalam keadaan mabuk.  Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,   ﻻَ ﻃَﻼَﻕَ ﻭَﻻَ ﻋِﺘَﺎﻕَ ﻓِﻲْ ﺇِﻏْﻼَﻕٍ  “Tidak ada Talak dan membebaskan budak dalam keadaan (hati/akal) tertutup” (HR Abu Dawud, Hasan Irwa ul-ghalil 7/114).  Ibnul Qayyim menjelaskan maksud hadits “tertutup akal” salah satu maknanya adalah ketika marah. Beliau berkata,  ﺃﺣﻤﺪ ﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﺣﻨﺒﻞ : ﻫﻮ ﺍﻟﻐﻀﺐ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻓﺴﺮﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ، ﻭﻫﻮ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺑﻦ ﺇﺳﺤﺎﻕ ﺃﺣﺪ ﺃﺋﻤﺔ ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ ﻭﻣﻘﺪﻡ ﻓﻘﻬﺎﺀ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﺮﺍﻕ ﻣﻨﻬﻢ ،  “Maksud hadits ini sebagaimana perkataan imam Ahmad pada riwayay Hambal yaitu marah. Ini juga merupakan tafsir dari Abu Dawud, Qadhi Ismail bin Ishaq salah satu imam mazhab Maliki dan pendapat ulama Iraq” (I’lamul Muwaqqi’in 3/47).  Tertutupnya Akal Disaat Marah Marah memang terkadang bisa membuat akal seseorang tertutup dan tidak bisa berpikir jernih. Karenanya hakim/qadhi tidak boleh memutuskan sesuatu ketika sedang marah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  ﻻَ ﻳَﻘْﻀِﻴَﻦَّ ﺣَﻜَﻢٌ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﺛْﻨَﻴْﻦِ ﻭَﻫُﻮَ ﻏَﻀْﺒَﺎﻥُ  “Seorang hakim tidak boleh memutuskan perkara di antara dua orang dalam keadaan marah” (HR. Bukhari & Muslim).  Talak dalam kedaaan marah yang sangat dan menutup akal suami, maka ini tidak terhitung talak dan tidak jatuh talak Syaikh Abdul Aziz Bin Baz menjelaskan,  ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻄﻼﻕ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ﻭﻗﻊ ﻣﻨﻚ ﻓﻲ ﺣﺎﻟﺔ ﺷﺪﺓ ﺍﻟﻐﻀﺐ ﻭﻏﻴﺒﺔ ﺍﻟﺸﻌﻮﺭ ، ﻭﺃﻧﻚ ﻟﻢ ﺗﺪﺭﻙ ﻧﻔﺴﻚ،.. ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﻘﻊ ﺍﻟﻄﻼﻕ  “Apabila talak sebagaimana yang terjadi pada engkau yaitu dalam keadaan puncak kemarahan, hilangnya kesadaran sampai ia tidak mengenali dirinya, maka tidak jatuh talak” (Fatawa At-Talaq hal. 19).  Ibnul Qayyim merinci tingkatan keadaan ketika marah dan kaitannya dengan talak. Beliau berkata  ﻭﺍﻟﻐﻀﺐ ﻋﻠﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻗﺴﺎﻡ :  ﺃﺣﺪﻫﺎ : ﻣﺎ ﻳﺰﻳﻞ ﺍﻟﻌﻘﻞ ، ﻓﻼ ﻳﺸﻌﺮ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﺑﻤﺎ ﻗﺎﻝ ، ﻭﻫﺬﺍ ﻻ ﻳﻘﻊ ﻃﻼﻗﻪ ﺑﻼ ﻧﺰﺍﻉ .  ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﻣﺒﺎﺩﻳﻪ ، ﺑﺤﻴﺚ ﻻ ﻳﻤﻨﻊ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﻣﻦ ﺗﺼﻮﺭ ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻝ ﻭﻗﺼﺪﻩ ، ﻓﻬﺬﺍ ﻳﻘﻊ ﻃﻼﻗﻪ . ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ : ﺃﻥ ﻳﺴﺘﺤﻜﻢ ﻭﻳﺸﺘﺪ ﺑﻪ، ﻓﻼ ﻳﺰﻳﻞ ﻋﻘﻠﻪ ﺑﺎﻟﻜﻠﻴﺔ ، ﻭﻟﻜﻦ ﻳﺤﻮﻝ ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻦ ﻧﻴﺘﻪ ، ﺑﺤﻴﺚ ﻳﻨﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻓﺮﻁ ﻣﻨﻪ ﺇﺫﺍ ﺯﺍﻝ ، ﻓﻬﺬﺍ ﻣﺤﻞ ﻧﻈﺮ، ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻟﻮﻗﻮﻉ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺤﺎﻟﺔ ﻗﻮﻱ ﻣﺘﺠﻪ “  Marah ada 3 macam: Bisa menghilangkan akal dan pelakunya tidak sadar. Ini tidak jatuh talak tanpa ada perselisihan/perbedaan pendapat Marah di awal-awal yang tidak mencegah pelakunya untuk bisa berpikir jernih/membayangkan maksud dan tujuan. Ini terhitung jatuh talak Kemarahan yang besar dan memuncak akan tetapi tidak sampai menutupi akal seseorang secara total meskipun kemarahan tersebut menghalangi niatnya (tujuannya), yang mana setelah kemarahan tersebut hilang dia akan menyesali kelalaiannya tersebut, maka dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat, dan (pendapat yang mengatakan) tidak jatuhnya talak yang dilakukan dalam keadaan ini adalah (pendapat yang) kuat dan tepat” (Zaadul Ma’ad 5/195).

Suami yang memegang hak talak harus benar-benar berhati-hati jika akan mentalak istrinya atau mengucapkan kata-kata talak. Karena besarnya urusan talak, ini tidak boleh dibuat menjadi permainan dan candaan. Talak akan jatuh atau terhitung talak walaupun diucapkan dengan maksud bercanda atau sekedar main-main

Misalnya ada yang berkata dengan maksud bermain-main atau bercanda

A: “Di mana istri anda”
B: “Ada di rumah mertua, sudah saya talak” (maksudnya bercanda)

Dalam kasus ini, maka terhitung jatuh talak satu dalam syariat. Ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

ﺛَﻠَﺎﺙٌ ﺟِﺪُّﻫُﻦَّ ﺟِﺪٌّ ، ﻭَﻫَﺰْﻟُﻬُﻦَّ ﺟِﺪٌّ ، ﺍﻟﻨِّﻜَﺎﺡُ ، ﻭَﺍﻟﻄَّﻠَﺎﻕُ ، ﻭَﺍﻟﺮَّﺟْﻌَﺔُ

“Tiga hal yang seriusnya dianggap serius, dan bercandanya dianggap serius: nikah, talak, dan rujuk” (HR. Abu Daud, Hasan).

Saat Talak Terucap dalam Keadaan Marah

Bagaimana jika suami dalam keadaan marah? Sering kali talak ini muncul dari mulut suami dalam kedaan marah semisal jengkel atau bertengkar hebat dengan istrinya. Perlu diketahui bahwa talak tidak terhitung jika diucapkan dalam keadaan akal tertutup seperti gila, tidak sadar atau dalam keadaan mabuk.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

 ﻻَ ﻃَﻼَﻕَ ﻭَﻻَ ﻋِﺘَﺎﻕَ ﻓِﻲْ ﺇِﻏْﻼَﻕٍ

Tidak ada Talak dan membebaskan budak dalam keadaan (hati/akal) tertutup” (HR Abu Dawud, Hasan Irwa ul-ghalil 7/114).

Ibnul Qayyim menjelaskan maksud hadits “tertutup akal” salah satu maknanya adalah ketika marah. Beliau berkata,

ﺃﺣﻤﺪ ﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﺣﻨﺒﻞ : ﻫﻮ ﺍﻟﻐﻀﺐ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻓﺴﺮﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ، ﻭﻫﻮ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺑﻦ ﺇﺳﺤﺎﻕ ﺃﺣﺪ ﺃﺋﻤﺔ ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ ﻭﻣﻘﺪﻡ ﻓﻘﻬﺎﺀ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﺮﺍﻕ ﻣﻨﻬﻢ ،

“Maksud hadits ini sebagaimana perkataan imam Ahmad pada riwayay Hambal yaitu marah. Ini juga merupakan tafsir dari Abu Dawud, Qadhi Ismail bin Ishaq salah satu imam mazhab Maliki dan pendapat ulama Iraq” (I’lamul Muwaqqi’in 3/47).

Tertutupnya Akal Disaat Marah

Marah memang terkadang bisa membuat akal seseorang tertutup dan tidak bisa berpikir jernih. Karenanya hakim/qadhi tidak boleh memutuskan sesuatu ketika sedang marah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻻَ ﻳَﻘْﻀِﻴَﻦَّ ﺣَﻜَﻢٌ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﺛْﻨَﻴْﻦِ ﻭَﻫُﻮَ ﻏَﻀْﺒَﺎﻥُ

“Seorang hakim tidak boleh memutuskan perkara di antara dua orang dalam keadaan marah” (HR. Bukhari & Muslim).

Talak dalam kedaaan marah yang sangat dan menutup akal suami, maka ini tidak terhitung talak dan tidak jatuh talak

Syaikh Abdul Aziz Bin Baz menjelaskan,

ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻄﻼﻕ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ﻭﻗﻊ ﻣﻨﻚ ﻓﻲ ﺣﺎﻟﺔ ﺷﺪﺓ ﺍﻟﻐﻀﺐ ﻭﻏﻴﺒﺔ ﺍﻟﺸﻌﻮﺭ ، ﻭﺃﻧﻚ ﻟﻢ ﺗﺪﺭﻙ ﻧﻔﺴﻚ،.. ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﻘﻊ ﺍﻟﻄﻼﻕ

“Apabila talak sebagaimana yang terjadi pada engkau yaitu dalam keadaan puncak kemarahan, hilangnya kesadaran sampai ia tidak mengenali dirinya, maka tidak jatuh talak” (Fatawa At-Talaq hal. 19).

Ibnul Qayyim merinci tingkatan keadaan ketika marah dan kaitannya dengan talak. Beliau berkata

ﻭﺍﻟﻐﻀﺐ ﻋﻠﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻗﺴﺎﻡ :

ﺃﺣﺪﻫﺎ : ﻣﺎ ﻳﺰﻳﻞ ﺍﻟﻌﻘﻞ ، ﻓﻼ ﻳﺸﻌﺮ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﺑﻤﺎ ﻗﺎﻝ ، ﻭﻫﺬﺍ ﻻ ﻳﻘﻊ ﻃﻼﻗﻪ ﺑﻼ ﻧﺰﺍﻉ .

ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﻣﺒﺎﺩﻳﻪ ، ﺑﺤﻴﺚ ﻻ ﻳﻤﻨﻊ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﻣﻦ ﺗﺼﻮﺭ ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻝ ﻭﻗﺼﺪﻩ ، ﻓﻬﺬﺍ ﻳﻘﻊ ﻃﻼﻗﻪ . ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ : ﺃﻥ ﻳﺴﺘﺤﻜﻢ ﻭﻳﺸﺘﺪ ﺑﻪ، ﻓﻼ ﻳﺰﻳﻞ ﻋﻘﻠﻪ ﺑﺎﻟﻜﻠﻴﺔ ، ﻭﻟﻜﻦ ﻳﺤﻮﻝ ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻦ ﻧﻴﺘﻪ ، ﺑﺤﻴﺚ ﻳﻨﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻓﺮﻁ ﻣﻨﻪ ﺇﺫﺍ ﺯﺍﻝ ، ﻓﻬﺬﺍ ﻣﺤﻞ ﻧﻈﺮ، ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻟﻮﻗﻮﻉ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺤﺎﻟﺔ ﻗﻮﻱ ﻣﺘﺠﻪ “

Marah ada 3 macam :

  1. Bisa menghilangkan akal dan pelakunya tidak sadar. Ini tidak jatuh talak tanpa ada perselisihan/perbedaan pendapat
  2. Marah di awal-awal yang tidak mencegah pelakunya untuk bisa berpikir jernih/membayangkan maksud dan tujuan. Ini terhitung jatuh talak
  3. Kemarahan yang besar dan memuncak akan tetapi tidak sampai menutupi akal seseorang secara total meskipun kemarahan tersebut menghalangi niatnya (tujuannya), yang mana setelah kemarahan tersebut hilang dia akan menyesali kelalaiannya tersebut, maka dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat, dan (pendapat yang mengatakan) tidak jatuhnya talak yang dilakukan dalam keadaan ini adalah (pendapat yang) kuat dan tepat” (Zaadul Ma’ad 5/195).