This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Penyebab Su’ul Khotimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyebab Su’ul Khotimah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juni 2022

Penyebab Su’ul Khotimah


Sebagian orang yang menampakkan dirinya sebagai seorang muslim dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam, ternyata dapat mengalami su’ul khotimah. Su’ul khotimah memiliki sebab-sebab yang harus selalu diwaspadai oleh setiap mukmin. 

1. Akidah yang sudah rusak : 

Meskipun memiliki sifat zuhud dan keshalihan yang sempurna, namun akidah rusak maka tidak akan ada artinya. Jika seseorang memiliki akidah yang rusak dan ia sangat meyakininya, bahkan tidak menunyadari bahwa dirinya telah berada dalam kekeliruan akidah, maka hal tersebut akan tersingkap ketika dirinya sakaratul maut. Jadi, seseorang yang wafat dalam keadaan sebelum kembali ke dalam keimanan atau ajaran yang benar, maka ia akan mendapatkan su’ul khotimah dan meninggal dalam keadaan tanpa iman. Hal ini seperti firman Allah dalam QS. Az-Zumar: 47 yang artinya: Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah SWT yang belum pernah mereka perkirakan.

Begitu pula dalam firman-Nya yang lain, “Katakanlah Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan ini, padahal mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104) 

Maka hendaklah setiap orang selalu memperbaiki akidahnya. Dimana akidah yang benar adalah bersumber dari Al-Qur’an dan as-Sunnah sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah dalam dakwahnya di era awal kebangkitan Islam pada masanya. “Jika ia tidak bisa membedakan antara akidah yang benar dengan buruk maka hal itu bisa menjadikan hilangnya akidah itu secara total, seperti orang yang tidak punya akidah atau orang kafir,”

2. Banyaknya yang berbuat maksiat

Apapun yang sering dilakukan seseorang dalam kehidupannya maka kebiasaan itu akan melekat dalam hatinya, begitu pula kemaksiatan. Semakin banyak maksiat yang diperbuat, maka akan muncul dan terulang pula memori itu saat ia meninggal. Sebaliknya, jika seseorang selama hidup di dunia cenderung melakukan ketaatan dan hal-hal baik, maka hal yang paling banyak hadir saat dirinya sakaratul maut adalah memori ketaatan.

Seseorang sering membaca Al-Qur’an, hadir dalam kajian, mengerjakan shalat wajib dan sunah, rajin berpuasa, bersedekah, dan amalan lainnya, maka kecondongannya itu akan terbayang atau terlihat ketika ia sudah meninggal. Bahkan ketika maut hendak menjelang namun dirinya belum bertaubat, maka syahwat dan maksiat akan menguasainya hingga hatinya terikat padanya.

Kedua hal tersebut akan menghalangi dirinya dengan Rabbnya dan akan menyebabkan kesengsaraan di akhir hayatnya. “Orang sakit parah biasanya bertaubat, namun jika waktu sehat ia condong ke maksiat maka dirinya tidak kepikiran taubat melainkan maksiat yang biasanya dilakukan,” ungkapnya.

Adapun orang yang tidak maksiat atau hendak maksiat namun segera taubat maka dirinya akan dijauhi dari kondisi su’ul khotimah, melainkan Insya Allah diberikan husnul khotimah. Hal ini merupakan pertolongan dari Allah Swt. Maka hendaklah kita terus melakukan ajaran-Nya dan meninggalkan segala bentuk larangan-Nya. Dalam pergaulan seseorang juga harus diperhatikan, sebab saat meninggal akan ditampilkan orang-orang yang biasa bergaul dengannya. Seperti dalam ilustrasi dimana semasa hidupnya seseorang sering bermain catur, saat sekarat ia tidak mampu mengucapkan “Laa Ilaha Illallah” meskipun sudah dibimbing atau ditakklin oleh seseorang sebelum nyawa di kerongkongan.

3. Berpaling atau tidak Istiqamah dalam menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan Allah STW.

Semula seseorang istiqamah dalam kebaikan lalu berubah menjadi menyimpang jauh menuju keburukan, maka hal ini dapat menjadi sebab orang mengalami su’ul khotimah. Seperti contoh dimana iblis semula merupakan makhluk paling taat kepada Allah bahkan menjadi pemimpin para malaikat. Namun, ketika dirinya diperintahkan Allah untuk sujud kepada Adam, iblis menolaknya karena merasa paling hebat. Sebab kesombongannya, iblis dikutuk menjadi makhluk yang tergolong kafir. Sehingga jika ada seseorang mengikuti ajaran iblis, maka dirinya termasuk orang kafir dan akan mengalami su’ul khotimah. “Di sini jadi catatan dimana iblis guru malaikat malah masuk neraka, sedangkan muridnya malaikat masuk surga. Maka kita harus terus berdoa dan memohon kepada Allah untuk diselamatkan,”

Istiqamah memang tidaklah mudah sebab banyak hal yang menjadi penghalang. Agar dapat meningkatkan amal dapat dilakukan dengan banyak mencari ilmu, berdoa, dan berdekatan dengan orang yang baik. Keluarnya seseorang dari keistiqamah akan ketaatannya, maka harus segera disadarkan dan diluruskan agar tidak termasuk ke dalam orang yang mendapatkan su’ul khotimah.

4. Lemahnya Iman seseorang

Banyaknya dosa yang menggelapkan hatinya menyebabkan cahaya iman di hati memadam. Sehingga ketika sakaratul maut datang, ia akan dibayangkan kebingungan dan rasa khawatir dalam dirinya bahwa Allah SWT akan murka dan tidak cinta padanya. Dalam kondisi seperti ini, ia akan mendapatkan su’ul khotimah dan sengsara selamanya. “Sebab orang mendapatkan su’ul khotimah adalah cinta dan kecondongannya akan dunia sehingga lemahlah iman dan berimbas pada penyiksaan,

Semoga kita selalu bertobat kepada Allah SWT selam nyawa masih dikandung badan kita dan belum sampai kerongkongan maka Allah menerima tobat hambanya.