Senin, 29 Agustus 2022

Taubat Anak Durhaka Setelah Orang Tua Meninggal

Ada orang yang sebelumnya durhaka kepada orang tuanya. Dia suka menyakiti hati keduanya. Lalu dia pergi dari rumah. Ketika pulang, dia dapat kabar, bapaknya telah meninggal. Dia sekarang sangat menyesalinya. Apa yang harus dia lakukan?Pertanyaan dari seorang jamaah itu dijawab Ustadz Ammi Nur Baits sbb:  Pertama, durhaka kepada orang tua adalah dosa sangat besar.Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan kusampaikan kepada kalian dosa yang paling besar.”  Lalu beliau menyebutkan,الْإِشْرَاكُبِاللَّهِ،وَعُقُوقُالْوَالِدَيْنِ  “Syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua. (HR. Bukhari 5976 & Muslim 87)  Dalam hadis lain, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,  الْكَبَائِرُ: الإِشْرَاكُبِاللَّهِ،وَعُقُوقُالْوَالِدَيْنِ،وَقَتْلُالنَّفْسِ،وَالْيَمِينُالْغَمُوسُ  “Daftar dosa besar: menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa, dan sumpah palsu. (HR. Bukhari 6675).  Kedua, bagian dari aqidah yang perlu ditanamkan dalam diri setiap muslim, bahwa dosa sebesar apapun, sehebat apapun, memungkinkan untuk ditaubati.  Allah berfirman,  قُلْيَاعِبَادِيَالَّذِينَأَسْرَفُواعَلَىأَنفُسِهِمْلَاتَقْنَطُوامِنرَّحْمَةِاللَّهِإِنَّاللَّهَيَغْفِرُالذُّنُوبَجَمِيعًاإِنَّهُهُوَالْغَفُورُالرَّحِيمُ  “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Az-Zumar: 53)  Sampaipun dosa durhaka kepada kedua orang tuanya, dia punya kesempatan untuk segera bertaubat dan memohon ampun kepada Allah.  وَهُوَالَّذِييَقْبَلُالتَّوْبَةَعَنْعِبَادِهِوَيَعْفُوعَنِالسَّيِّئَاتِوَيَعْلَمُمَاتَفْعَلُونَ  “Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. As-Syura: 25).  Ketiga, taubat tidak hanya permohonan maaf. Taubat butuh bukti, dan kejujuran, agar dianggap sebagai taubat yang sah.  An-Nawawi menyebutkan beberapa syarat diterimanya taubat,  -    Meninggalkan maksiat yang telah dikerjakan  -    Menyesalinya dengan jujur  -    Bertekad tidak akan mengulanginya  -    Dan jika dosa itu terkait sesama manusia, maka harus meminta maaf kepadanya. (Riyadhus Sholihin, hlm. 14).  Ketika orang tua telah meninggal, berarti kesempatan keempat telah tiada.  Lalu apa yang bisa dia lakukan?Dalam keadaan ini, ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, dia harus memeuhi syarat taubat yang mampu dia lakukan. Karena itu batas tanggung jawabnya. Sementara yang tidak memungkinkan dilakukan, di luar tanggung jawabnya.  Dan inti dari taubat adalah penyesalan dengan sungguh-sungguh. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,النَّدَمُتَوْبَةٌ  “Menyesal, itulah inti taubat. (HR. Ahmad 3568, Ibnu Majah 4252, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).  Ibnul Qoyim mengatakan,  فإذاتحققندمهعلىالذنب،ولومهنفسهعليه،فهذهتوبة. وكيفيصحأنتسلبالتوبةعنه،معشدةندمهعلىالذنب،ولومهنفسهعليه؟  “Jika dia benar-benar telah menyesali dosanya, sedih memikirkan dosanya, itulah taubat. Bagaimana taubatnya tidak dinilai sementara dia sangat menyesali dosanya, dan sedih dengan dirinya? (Madarij as-Salikin, 1/285)  Kedua, berbakti kepada orang tua setelah mereka meninggal. Bagian dari kasih sayang syariat, Allah abadikan hubungan antara anak muslim dengan orang tua muslim. Pahala berbakti tidak putus hanya sampai meninggalnya orang tua. Ada kesempatan bagi anda untuk melanjutkan kebaktiannya. Diantaranya adalah banyak beramal soleh dan mendoakan mereka. Taubat Anak Durhaka Setelah Orang Tua Meninggal

Ada orang yang sebelumnya durhaka kepada orang tuanya. Dia suka menyakiti hati keduanya. Lalu dia pergi dari rumah. Ketika pulang, dia dapat kabar, bapaknya telah meninggal. Dia sekarang sangat menyesalinya. Apa yang harus dia lakukan?Pertanyaan dari seorang jamaah itu dijawab Ustadz Ammi Nur Baits sbb:

Pertama, durhaka kepada orang tua adalah dosa sangat besar.Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan kusampaikan kepada kalian dosa yang paling besar.”

Lalu beliau menyebutkan,الْإِشْرَاكُبِاللَّهِ،وَعُقُوقُالْوَالِدَيْنِ

“Syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua. (HR. Bukhari 5976 & Muslim 87)

Dalam hadis lain, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,  الْكَبَائِرُ: الإِشْرَاكُبِاللَّهِ،وَعُقُوقُالْوَالِدَيْنِ،وَقَتْلُالنَّفْسِ،وَالْيَمِينُالْغَمُوسُ

“Daftar dosa besar: menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa, dan sumpah palsu. (HR. Bukhari 6675).

Kedua, bagian dari aqidah yang perlu ditanamkan dalam diri setiap muslim, bahwa dosa sebesar apapun, sehebat apapun, memungkinkan untuk ditaubati.

Allah berfirman,

قُلْيَاعِبَادِيَالَّذِينَأَسْرَفُواعَلَىأَنفُسِهِمْلَاتَقْنَطُوامِنرَّحْمَةِاللَّهِإِنَّاللَّهَيَغْفِرُالذُّنُوبَجَمِيعًاإِنَّهُهُوَالْغَفُورُالرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Az-Zumar: 53)

Sampaipun dosa durhaka kepada kedua orang tuanya, dia punya kesempatan untuk segera bertaubat dan memohon ampun kepada Allah.

وَهُوَالَّذِييَقْبَلُالتَّوْبَةَعَنْعِبَادِهِوَيَعْفُوعَنِالسَّيِّئَاتِوَيَعْلَمُمَاتَفْعَلُونَ

“Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. As-Syura: 25).

Ketiga, taubat tidak hanya permohonan maaf. Taubat butuh bukti, dan kejujuran, agar dianggap sebagai taubat yang sah.

An-Nawawi menyebutkan beberapa syarat diterimanya taubat,

  • Meninggalkan maksiat yang telah dikerjakan
  • Menyesalinya dengan jujur
  • Bertekad tidak akan mengulanginya
  • Dan jika dosa itu terkait sesama manusia, maka harus meminta maaf kepadanya. (Riyadhus Sholihin, hlm. 14).

Ketika orang tua telah meninggal, berarti kesempatan keempat telah tiada.

Lalu apa yang bisa dia lakukan?Dalam keadaan ini, ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, dia harus memeuhi syarat taubat yang mampu dia lakukan. Karena itu batas tanggung jawabnya. Sementara yang tidak memungkinkan dilakukan, di luar tanggung jawabnya.

Dan inti dari taubat adalah penyesalan dengan sungguh-sungguh. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,النَّدَمُتَوْبَةٌ

“Menyesal, itulah inti taubat. (HR. Ahmad 3568, Ibnu Majah 4252, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Ibnul Qoyim mengatakan,

فإذاتحققندمهعلىالذنب،ولومهنفسهعليه،فهذهتوبة. وكيفيصحأنتسلبالتوبةعنه،معشدةندمهعلىالذنب،ولومهنفسهعليه؟

“Jika dia benar-benar telah menyesali dosanya, sedih memikirkan dosanya, itulah taubat. Bagaimana taubatnya tidak dinilai sementara dia sangat menyesali dosanya, dan sedih dengan dirinya? (Madarij as-Salikin, 1/285)

Kedua, berbakti kepada orang tua setelah mereka meninggal. Bagian dari kasih sayang syariat, Allah abadikan hubungan antara anak muslim dengan orang tua muslim. Pahala berbakti tidak putus hanya sampai meninggalnya orang tua. Ada kesempatan bagi anda untuk melanjutkan kebaktiannya. Diantaranya adalah banyak beramal soleh dan mendoakan mereka.