Senin, 29 Agustus 2022

Kisah Azab Pedih dari Putri yang Durhaka

Meniru Cara Menasehati Anak Berdasarkan Al-Qur'an Surat Luqman  Artikel ini telah diterbitkan di halaman SINDOnews.com pada Sabtu, 20 November 2021 - 09:16 WIB oleh Widaningsih dengan judul "Meniru Cara Menasehati Anak Berdasarkan Al-Qur'an Surat Luqman". Untuk selengkapnya kunjungi: https://kalam.sindonews.com/read/604869/72/meniru-cara-menasehati-anak-berdasarkan-al-quran-surat-luqman-1637374288  Untuk membaca berita lebih mudah, nyaman, dan tanpa banyak iklan, silahkan download aplikasi SINDOnews. - Android: https://sin.do/u/android - iOS: https://sin.do/u/ios

Kisah Azab Pedih dari Putri yang Durhaka. llah berkali-kali memerintahkan hamba-Nya untuk selalu berbakti dan menghormati kedua orangtua, dan anak yang durhaka Allah telah menyiapkan azab yang amat pedih. Allah berkali-kali memerintahkan hamba-Nya untuk selalu berbakti dan menghormati kedua orangtua. Sementara bagi mereka yang berbuat durhaka , Allah telah menyiapkan azab yang amat pedih.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, 

 وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعۡبُدُوۡۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِالۡوَالِدَيۡنِ اِحۡسَانًا‌ ؕ اِمَّا يَـبۡلُغَنَّ عِنۡدَكَ الۡكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوۡ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوۡلًا كَرِيۡمًا‏ 

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." (QS. Al Isra: 23).

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." (QS. Al Isra: 23).

Dari kitab ‘Uyun al-Hikayat min Qashash ash-Shalihin wa Nawadir az-Zahidin karya Ibnu al-Jauzi, Abdullah bin Muslim bin Qutaibah menulis sebuah kisah tentang kejamnya siksaan seorang anak yang telah durhaka kepada ayahnya. Dahulu kala, tersebutlah Ardasyir. Ia adalah seorang Kaisar bangsa Ajam yang berhasil mendirikan pemerintahan Sasaniyah sejak tahun 226 M. Ardasyir juga mampu mempersatukan bangsa Persia dan mengusai orang-orang Arab yang tinggi di daerah kekuasaannya.

Suatu ketika, Kaisar Ardasyir hendak menaklukkan Raja Suryani dengan melancarkan beberapa serangan blokade . Sementara Raja Suryani dan pasukannya tengah berlindung dan tertahan di sebuah kota. Usaha Ardasyir ini sempat kandas hingga pada suatu hari, putri Raja Suryani tengah bermain di sekitar kastilnya. Ia naik ke atas bentang dan tak sengaja melihat paras Kaisar Ardasyir. Rupanya putri Raja Suryani jatuh hati pada ketampanan sang Kaisar.

Bak orang yang dimabuk asmara, sang putri nekat hingga memutuskan untuk turun. Ia lantas menulis surat dan menembakkanya dengan anak panah ke arah sang Kaisar. Surat tersebut berisikan sebuah ganjaran jikalau sang Kaisar mau menikahinya. “Jika engkau berjanji mau menikahiku. Maka aku akan menunjukkan kepadamu sebuah lokasi yang bisa engkau jadikan jalan untuk menaklukan kota dengan cara yang paling mudah dan ongkos yang paling ringan,” tulis isi surat tersebut.

Sungguh siapa yang tak tergoda dengan tawaran sang putri? Terlebih lagi, tujuan utamanya untuk mengalahkan Raja Suryani. Maka dengan senyum merekah, Kaisar Ardasyir menulis surat balasan untuk sang putri yang isinya menyetujui usulan sang putri. Ia pun mengirim suratnya sama seperti cara sang putri, yakni dengan menembakkannya bersama anak panah. Maka dalam waktu singkat, keduanya saling berbalas pesan. Pada surat terakhirnya, sang putri memberitahu letak lokasi yang paling mudah untuk menaklukkan kota yang Kaisar Ardasyir inginkan. Lokasi tersebut mudah digapai, namun paling minim penjagaannya. Dari kota inilah, nanti para pasukan Kaisar dapat melancarkan aksinya.

Sementara itu, penduduk kota tengah lengah. Tak ada yang menyangka bahwa pasukan Kaisar menyerang mereka sehingga sedikit sekali persiapan mereka. Maka dengan mudah pasukan Kaisar menaklukan kota tersebut. Usai berhasil menduduki kota tersebut, sang Kaisar menepati janjinya untuk menikahi sang putri.

Di malam pengantin, keduanya tengah bercumbu di atas ranjang. Namun sang putri merasa tidak nyaman di atas ranjang tersebut hingga membuatnya terjaga sepanjang malam. Rupanya sang Kaisar menyadari kegelisahan sang putri dan bertanya, “Ada Apa? Sepertinya kau tidak nyaman ada di sisiku.” “Aku merasa tidak nyaman saja tidur di ranjang ini,” jawab sang putri jujur Jawaban putri tadi langsung direspon sang Kaisar dengan meminta para pengawalnya memeriksa ranjang yang mereka tempati. Rupanya bahan ranjang tersebut terlalu kasar bagi kulit sang putri yang amat lembut dan halus.

Saking lembutnya kulit sang putri membuat Kaisar terheran-heran, ia lantas bertanya, “Memangnya selama ini ayahmu memberi makan apa?” “Kami lebih sering diberi makan madu, otak, keju, dan mentega,” jawab sang putri. Mendengar hal tersebut, sang Kaisar merenung sejenak. Lantas ia berkata, “Tidak ada satu orang pun yang begitu menyayangi, memuliakan dan memanjakan anaknya seperti yang dilakukan ayahmu kepadamu. Besarnya kasih sayang, perhatian dan kebaikan ayahmu kepadamu, serta besarnya hak seorang ayah atas anaknya, rupanya begitu mudah engkau balas dengan pengkhianatan. Air susu yang selama ini diberikan oleh ayahmu kepadamu, dengan mudahnya engkau balas dengan air tuba. Jika terhadap ayahmu yang begitu baik saja engkau tega melakukan hal itu. Aku yakin engkau juga akan begitu mudah melakukan hal yang sama kepadaku.”

Ternyata sang kaisar sangat mengagumi perhatian dan perlakuan sang Raja pada putrinya tersebut. Sayangnya sang putri justru harus membalas seluruh kebaikan dan kasih sayang ayahnya dengan mengkhianatinya. Bukannya makin cinta, justru sang Kaisar marah dan jengkel sehingga memutuskan untuk mengeksekusi istrinya tersebut dengan cara yang amat kejam. Tubuhnya diikatkan pada kuda yang berlari kencang dan dikoyak hingga rusak. Sungguh gambaran sebuah balasan yang amat kejam bagi seorang putri yang durhaka pada ayahnya. Apalagi sang putri telah dirawat dengan kasih sayang berlimpah.

Referensi : Kisah Azab Pedih dari Putri yang Durhaka