Senin, 29 Agustus 2022

Hukum Orang Tua Menyakiti Anak dan Dalil-dalilnya

Bagaimana hukum orang tua menyakiti anaknya dalam Islam? Adakah dalil-dalilnya tentang hal ini? Tentang anak durhaka pada orang tua, mungkin sudah biasa kita dengar bahkan banyak kisah yang menceritakannya. Sebaliknya, di zaman sekarang ternyata banyak juga orang tua durhaka pada anaknya. Beragam kasus menyeruak ke permukaan tentang perbuatan buruk orang tua pada anak ini di masyarakat kita saat ini. Sebut saja kasus ibu membuang anaknya, orang tua yang tega menyiksa anak, menelantarkan, hingga kasus berat memperkosa anak. Kasus-kasus seperti itu, bahkan semakin marak.  Tentang hukum orang tua menyakiti anak ini, ada sebuah riwayat di zaman Khulafaur Rasyidin yang bisa kita ambil hikmahnya. Alkisah, ada seseorang yang menemui Umar bin Khatthab untuk menceritakan sikap anak durhaka yang dilakukan anaknya sendiri. kemudian sang khalifah memanggil anak durhaka tersebut kemudian menegur apa yang sudah dilakukan anak tersebut. Anak itu kemudian bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak memiliki hak atas orangtuanya?” dan Umar membenarkan perkataan anak tersebut sembari menjelaskan jika haknya adalah memilihkan calon ibu yang baik untuknya, memberi nama baik dan mengajari tentang Al Quran. Kemudian anak tersebut berkata, “Wahai Amirul Mukminin, ayahku tidak melakukan satu pun dari apa yang tuan sebutkan itu. Ibuku wanita berkulit hitam bekas budak beragama Majusi. Ia menamakanku Ju’lan (tikus atau curut), dan dia tidak mengajariku satu huruf pun dari Al-Qur'an.  1. Bertaubat kepada Allah   Bertaubatlah kepada Allah Ta’ala dengan sebenar-benarnya taubat, kita sebagai anak kerap kali juga berbuat salah kepada orangtua baik disengaja atau pun tidak, sebagaimana orang tua juga berbuat salah baik di mata kita maupun menurut syariat . Bagaimanapun, anak tetaplah anak, orang tua punya jasa besar terhadap anaknya yang ditetapkan dan diakui oleh syariat kita yang mulia, banyak sekali ayat dan hadits yang menjelaskan akan hal ini, satu di antaranya: Berkata-kata dengan sopan dan penuh kelembutan, dan jauhi perkataan yang menyakiti hati kedua orang tua adalah bagian dari syariat Islam yang mulia.   Umar lalu memandangi orangtua tersebut sembari berkata, “Engkau datang mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu.” Orangtua yang menyakiti hati anak ditambah dengan menelantarkan anaknya tersebut mengartikan jika orangtua baik ayah atau ibu sudah berdosa pada anak anaknya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Seseorang dikatakan telah cukup berbuat dosa bilamana menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Daud dan Nasa’i).  Allah Ta’ala berfirman,   وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا   “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS. Al Isra: 23).   2. Doakan ampunan dan kebaikan untuk mereka Allah Ta’ala berfirman,   وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا  Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sendiri telah menunjukkan kepada kita betapa lemah lembutnya beliau bersikap pada anak-anaknya. Tentang sikap Rasulullah ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:   لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا   “Dan sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah dan mengingat Allah dengan banyak”. [QS Al Ahzab : 21]. Dari shahabat Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu sebagaimana diceritakan dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat, dan ketika beliau sujud, Al-Hasan (cucu beliau yang merupakan anak dari ‘Ali, pen.) melompat-lompat di atas punggung dan tengkuk beliau. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepalanya dengan pelan agar tidak mengejutkannya. Beliau melakukan ini tidak hanya sekali.   Ketika shalat telah usai, para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami melihat sesuatu yang Engkau lakukan kepada Al-Hasan yang sebelumnya belum pernah kami lihat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesugguhnya dia adalah penyejuk hatiku di dunia. Sesungguhnya cucuku ini merupakan seorang pemimpin (negarawan, pen.). Aku berharap kepada Allah Ta’ala agar memperbaiki dua kubu kaum muslimin melaluinya.” (HR. Ahmad no. 20535.   Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadis ini shahih.) Sifat Tercela Orangtua Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam mencontohkan pada para orangtua untuk mengajarkan ilmu agama dan kebaikan pada anak-anaknya. Beliau melarang keras orangtua berbuat kasar pada anak. Hal ini karena baik buruknya anak sangat bergantung pada pola asuh orangtua. Dirangkum dari berbagai sumber berikut ini sifat orangtua yang tidak disukai oleh Rasulullah: 1. Bersikap kasar dan memaki anak Sebagai orangtua yang baik, tidak boleh memaki anak karena perilaku nakalnya.   Jika anak nakal, nasehatilah dengan lembut dan tetap penuh kasih sayang, bukan malah memaki anaknya atau bahkan menyumpahi anak. Rasulullah SAW sangat menekankan agar kita memberi nama yang baik kepada anak-anak kita. Abu Darda’ meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama ayah kalian, maka perbaikilah nama kalian." (HR. Abu Dawud).   Jadi, memaki anak dengan sebutan yang tidak pantas dan bermakna menghinakan anaknya merupakan sebuah bentuk kejahatan. 2. Orangtua yang pilih kasih Nu'man bin Basyir bercerita, "Ayahku menginfakkan sebagian hartanya untukku. Ibuku Amrah binti Rawahah kemudian berkata, "Saya tidak suka engkau melakukan hal itu sehingga menemui Rasulullah." Ayahku kemudian berangkat menemui Rasulullah SAW. sebagai saksi atas sedekah yang diberikan kepadaku.  Rasulullah saw. berkata kepadanya, "Apakah engkau melakukan hal ini kepada seluruh anak-anakmu?" Ia berkata, "Tidak." Rasulullah saw. berkata, "Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu." Ayahku kemudian kembali dan menarik lagi sedekah itu." (HR. Muslim).   Orangtua yang memiliki anak lebih dari satu, dilarang untuk pilih kasih kepada anak-anaknya. Memberi lebih kepada anak kesayangan dan mengabaikan anak yang lain adalah bentuk kejahatan orangtua kepada anaknya, karena sikap pilih kasih adalah salah satu faktor pemicu putusnya hubungan silaturrahmi anak kepada orangtuanya dan pangkal dari permusuhan antar saudara.  3. Tidak memberikan pendidikan kepada anak   Bentuk perhatian yang tertinggi orangtua kepada anaknya adalah memberikan pendidikan yang baik. Tidak memberikan pendidikan yang baik dan maksimal adalah sikap orangtua yang sangat buruk.  Rerferensi : Hukum Orang Tua Menyakiti Anak dan Dalil-dalilnya. Hukum Orang Tua Menyakiti Anak dan Dalil-dalilnya

Bagaimana hukum orang tua menyakiti anaknya dalam Islam? Adakah dalil-dalilnya tentang hal ini? Tentang anak durhaka pada orang tua, mungkin sudah biasa kita dengar bahkan banyak kisah yang menceritakannya. Sebaliknya, di zaman sekarang ternyata banyak juga orang tua durhaka pada anaknya. Beragam kasus menyeruak ke permukaan tentang perbuatan buruk orang tua pada anak ini di masyarakat kita saat ini. Sebut saja kasus ibu membuang anaknya, orang tua yang tega menyiksa anak, menelantarkan, hingga kasus berat memperkosa anak. Kasus-kasus seperti itu, bahkan semakin marak.

Tentang hukum orang tua menyakiti anak ini, ada sebuah riwayat di zaman Khulafaur Rasyidin yang bisa kita ambil hikmahnya. Alkisah, ada seseorang yang menemui Umar bin Khatthab untuk menceritakan sikap anak durhaka yang dilakukan anaknya sendiri. kemudian sang khalifah memanggil anak durhaka tersebut kemudian menegur apa yang sudah dilakukan anak tersebut. Anak itu kemudian bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak memiliki hak atas orangtuanya?” dan Umar membenarkan perkataan anak tersebut sembari menjelaskan jika haknya adalah memilihkan calon ibu yang baik untuknya, memberi nama baik dan mengajari tentang Al Quran. Kemudian anak tersebut berkata, “Wahai Amirul Mukminin, ayahku tidak melakukan satu pun dari apa yang tuan sebutkan itu. Ibuku wanita berkulit hitam bekas budak beragama Majusi. Ia menamakanku Ju’lan (tikus atau curut), dan dia tidak mengajariku satu huruf pun dari Al-Qur'an.

1. Bertaubat kepada Allah 

Bertaubatlah kepada Allah Ta’ala dengan sebenar-benarnya taubat, kita sebagai anak kerap kali juga berbuat salah kepada orangtua baik disengaja atau pun tidak, sebagaimana orang tua juga berbuat salah baik di mata kita maupun menurut syariat . Bagaimanapun, anak tetaplah anak, orang tua punya jasa besar terhadap anaknya yang ditetapkan dan diakui oleh syariat kita yang mulia, banyak sekali ayat dan hadits yang menjelaskan akan hal ini, satu di antaranya: Berkata-kata dengan sopan dan penuh kelembutan, dan jauhi perkataan yang menyakiti hati kedua orang tua adalah bagian dari syariat Islam yang mulia.


Umar lalu memandangi orangtua tersebut sembari berkata, “Engkau datang mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu.” Orangtua yang menyakiti hati anak ditambah dengan menelantarkan anaknya tersebut mengartikan jika orangtua baik ayah atau ibu sudah berdosa pada anak anaknya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Seseorang dikatakan telah cukup berbuat dosa bilamana menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Daud dan Nasa’i).

Allah Ta’ala berfirman,

 وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا 

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS. Al Isra: 23).

2. Doakan ampunan dan kebaikan untuk mereka Allah Ta’ala berfirman,

 وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sendiri telah menunjukkan kepada kita betapa lemah lembutnya beliau bersikap pada anak-anaknya. Tentang sikap Rasulullah ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا 

“Dan sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah dan mengingat Allah dengan banyak”. [QS Al Ahzab : 21].
Dari shahabat Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu sebagaimana diceritakan dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat, dan ketika beliau sujud, Al-Hasan (cucu beliau yang merupakan anak dari ‘Ali, pen.) melompat-lompat di atas punggung dan tengkuk beliau. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepalanya dengan pelan agar tidak mengejutkannya. Beliau melakukan ini tidak hanya sekali. 

Ketika shalat telah usai, para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami melihat sesuatu yang Engkau lakukan kepada Al-Hasan yang sebelumnya belum pernah kami lihat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesugguhnya dia adalah penyejuk hatiku di dunia. Sesungguhnya cucuku ini merupakan seorang pemimpin (negarawan, pen.). Aku berharap kepada Allah Ta’ala agar memperbaiki dua kubu kaum muslimin melaluinya.” (HR. Ahmad no. 20535. 

Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadis ini shahih.) Sifat Tercela Orangtua Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam mencontohkan pada para orangtua untuk mengajarkan ilmu agama dan kebaikan pada anak-anaknya. Beliau melarang keras orangtua berbuat kasar pada anak. Hal ini karena baik buruknya anak sangat bergantung pada pola asuh orangtua. Dirangkum dari berbagai sumber berikut ini sifat orangtua yang tidak disukai oleh Rasulullah: 1. Bersikap kasar dan memaki anak Sebagai orangtua yang baik, tidak boleh memaki anak karena perilaku nakalnya. 

Jika anak nakal, nasehatilah dengan lembut dan tetap penuh kasih sayang, bukan malah memaki anaknya atau bahkan menyumpahi anak. Rasulullah SAW sangat menekankan agar kita memberi nama yang baik kepada anak-anak kita. Abu Darda’ meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama ayah kalian, maka perbaikilah nama kalian." (HR. Abu Dawud). 

Jadi, memaki anak dengan sebutan yang tidak pantas dan bermakna menghinakan anaknya merupakan sebuah bentuk kejahatan. 2. Orangtua yang pilih kasih Nu'man bin Basyir bercerita, "Ayahku menginfakkan sebagian hartanya untukku. Ibuku Amrah binti Rawahah kemudian berkata, "Saya tidak suka engkau melakukan hal itu sehingga menemui Rasulullah." Ayahku kemudian berangkat menemui Rasulullah SAW. sebagai saksi atas sedekah yang diberikan kepadaku.

Rasulullah saw. berkata kepadanya, "Apakah engkau melakukan hal ini kepada seluruh anak-anakmu?" Ia berkata, "Tidak." Rasulullah saw. berkata, "Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu." Ayahku kemudian kembali dan menarik lagi sedekah itu." (HR. Muslim). 

Orangtua yang memiliki anak lebih dari satu, dilarang untuk pilih kasih kepada anak-anaknya. Memberi lebih kepada anak kesayangan dan mengabaikan anak yang lain adalah bentuk kejahatan orangtua kepada anaknya, karena sikap pilih kasih adalah salah satu faktor pemicu putusnya hubungan silaturrahmi anak kepada orangtuanya dan pangkal dari permusuhan antar saudara.

3. Tidak memberikan pendidikan kepada anak 

Bentuk perhatian yang tertinggi orangtua kepada anaknya adalah memberikan pendidikan yang baik. Tidak memberikan pendidikan yang baik dan maksimal adalah sikap orangtua yang sangat buruk.

Rerferensi : Hukum Orang Tua Menyakiti Anak dan Dalil-dalilnya