Kamis, 11 Agustus 2022

Dampak Perceraian Orangtua dengan Kesehatan Mental Anak


Dampak Perceraian Orangtua dengan Kesehatan Mental Anak. Perceraian tidak hanya menjadi keputusan terberat dan menguras emosi bagi orangtua yang menjalaninya, tapi anak-anak pun juga bisa terkena imbasnya. Perceraian orangtua ternyata dapat memberi dampak besar pada anak, terutama bagi kesehatan mentalnya.

Anak-anak pastinya ingin memiliki orangtua yang lengkap, saling menyayangi, dan selalu ada untuk mendukungnya. Namun sayangnya, perceraian kadang-kadang tidak bisa dihindari sebagai satu-satunya solusi atas permasalahan rumah tangga yang dialami orangtua. Namun, sebelum memutuskan untuk bercerai, ada baiknya orangtua mempertimbangkan perasaan anak. Sebab, perceraian dapat memengaruhi psikologis anak, bahkan tidak jarang menyebabkan gangguan mental pada anak. 

Dampak Perceraian Orangtua pada Kesehatan Mental Anak

Dilansir dari laman Verywell Family, penelitian menemukan bahwa anak-anak mengalami kesulitan paling berat dalam satu atau dua tahun pertama setelah perceraian orangtuanya. Mereka cenderung merasa tertekan, marah, cemas, dan tidak percaya. 

Perceraian juga meningkatkan risiko masalah kesehatan pada anak-anak dan remaja. Terlepas dari usia, jenis kelamin, dan budaya, anak-anak yang orangtuanya bercerai mengalami peningkatan masalah psikologis. Namun, penelitian juga menemukan tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi pada anak-anak dari orangtua yang bercerai.

Banyak anak dapat bangkit kembali setelah mengalami kesedihan yang mendalam atas perceraian orangtuanya. Mereka dapat menyesuaikan diri dengan perubahan dalam rutinitas harian mereka dan merasa nyaman dengan keadaan yang baru.

Pada beberapa anak lainnya, mereka mungkin tidak akan pernah benar-benar kembali pulih setelah menghadapi perceraian orangtua mereka. Hal itu karena dampak perceraian pada tiap anak bisa berbeda-beda.

Sebuah penelitian menemukan bahwa dampak perceraian orangtua pada kondisi mental anak ternyata juga ditentukan oleh usia. Perceraian orangtua nampaknya berdampak lebih besar pada anak yang berusia setidaknya 7 tahun ketika hal itu terjadi.

Anak-anak yang berada di antara usia 7 hingga 14 tahun saat orangtua berpisah, berisiko 16 persen lebih tinggi mengembangkan masalah emosional, seperti kecemasan dan gejala depresi, serta berisiko 8 persen lebih tinggi dalam mengembangkan gangguan perilaku.

Sebaliknya, perceraian yang terjadi saat anak masih berada di bawah usia 7 tahun dinilai tidak terlalu berdampak pada kondisi mental anak. Anak-anak yang orangtuanya berpisah saat mereka masih berada di usia antara 3 hingga 7 tahun lebih kecil kemungkinannya untuk mengembangkan masalah emosional tersebut.  

Dampak perceraian dirasakan lebih besar oleh anak-anak yang berusia di antara 7 hingga 14 tahun, karena pada usia tersebut, mereka sudah mulai mengenal pola hubungan manusia. Mereka sudah bisa mengerti bahwa perceraian membuat mereka harus kehilangan sosok orangtua, dan hal itu bisa memengaruhi jiwanya. Selain itu, kesehatan mental anak juga bisa terganggu bila anak menjadi sasaran emosi orangtua, terutama selama proses perceraian berlangsung.

Ada banyak hal dari perceraian yang memengaruhi anak secara psikologis. Berkurangnya kedekatan dengan salah satu orangtua dan berkurangnya kasih sayang dari orangtua setelah perceraian adalah beberapa di antaranya. Namun, bagi beberapa anak perpisahan dengan orangtua bukan bagian tersulit. Hal-hal yang menyertainya itu yang membuat perceraian menjadi paling sulit, seperti harus pindah sekolah, pindah ke rumah baru, dan tinggal dengan orangtua tunggal yang juga merasa lelah dan stres.  dampak perceraian orangtua pada kesehatan mental anak yang perlu diketahui. Bila Si Kecil mengalami masalah kesehatan, baik secara fisik ataupun mental. 

Referensi : Dampak Perceraian Orangtua dengan Kesehatan Mental Anak