Jumat, 12 Agustus 2022

Nasehat Indah dalam menyikapi Takdir

Ilustrasi : Nasehat Indah dalam menyikapi Takdir

Nasehat Indah dalam menyikapi Takdir. Tidak jarang kita merasa kehilangan sesuatu yang kita damba-dambakan. Padahal segala usaha dan doa telah ditempuh dengan bersungguh-sungguh. Meskipun demikian, hasil yang dicapai tidak sesuai dengan yang diinginkan bahkan terkadang malah berbalik arah dari yang diharapkan. Betapa sakit hati rasanya menghadapi itu. Tetapi itulah takdir Allah, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, seorang hamba harus menghadapinya. Karena semua itu adalah kehendak Allah Ta’ala.

Yang jadi masalah adalah ketika seseorang tidak bisa menerima ketentuan yang telah Allah tetapkan. Tak sedikit dari kita ketika menghadapi takdir yang tidak sesuai dengan keinginginan kita, dengan spontan kita langsung menyalahkan pihak lain, bahkan terkadang Allah Rabb yang mengetahui apa-apa yang terbaik bagi hambanya pun tak luput untuk disalahkan. Sungguh tercela perbuatan ini. Sesungguhnya orang seperti ini sebenarnya adalah orang yang sangat menderita dalam kehidupannya. Mengapa kita kata katakan sangat menderita, sebab orang seperti ini mengalami dua penderitaan.

  1. Penderitaan karena kesusahan dan letih memikirkan bagaimana cara berhindar dari takdir Allah tersebut,
  2. Penderitaan karena harus menjalani takdir tersebut. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, dia pasti akan menghadapi takdir tersebut.

1. Hendaklah melihat dengan pandangan tauhid.

Yang dimaksud yaitu dengan iman. Seseorang harus meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi pasti Allah lah yang menghendakinya, baik peristiwa tersebut sebuah kebaikan ataupun keburukan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah menulis seluruh takdir seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653)

2. Kemudian melihat dengan pandangan keadilan.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا أَنَا بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

“Aku tidak menzalimi hamba-hambaku.” (QS. Qaf : 29)

Pada ayat lain Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

“Dan sekali-kali tidaklah Rabbmu melakukan kezaliman terhadap hamba-hambanya.” (QS. Fushilat : 46)

Pada dua Ayat di atas Allah menjelaskan bahwa Allah itu tidak akan melakukan kezaliman bagi hamba-hambanya, bahkan Allah mengharamkan kezaliman pada diri-Nya. Sebagaimana dalam hadist qudsi Allah Ta’ala berfirman:

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

“Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku telah menetapkan haramnya kezaliman itu di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim no. 2577)

Dalil-dalil di atas menunjukan bahwa Allah itu Maha Adil dalam menghendaki sesuatu terhadap hamba-hambanya. Allah menghendaki sesuatu sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya dan ilmu-Nya. Maka semua yang terjadi apapun itu, meskipun itu terlihat buruk di mata kita, maka ingatlah Allah itu Maha Adil. Apapun yang Allah takdirkan kepada hambaNya, maka itulah yang terbaik baginya.

1. Hendaklah melihat dengan pandangan tauhid.

Yang dimaksud yaitu dengan iman. Seseorang harus meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi pasti Allah lah yang menghendakinya, baik peristiwa tersebut sebuah kebaikan ataupun keburukan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah menulis seluruh takdir seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653)

2. Kemudian melihat dengan pandangan keadilan.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا أَنَا بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

“Aku tidak menzalimi hamba-hambaku.” (QS. Qaf : 29)

Pada ayat lain Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

“Dan sekali-kali tidaklah Rabbmu melakukan kezaliman terhadap hamba-hambanya.” (QS. Fushilat : 46)

Pada dua Ayat di atas Allah menjelaskan bahwa Allah itu tidak akan melakukan kezaliman bagi hamba-hambanya, bahkan Allah mengharamkan kezaliman pada diri-Nya. Sebagaimana dalam hadist qudsi Allah Ta’ala berfirman:

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

“Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku telah menetapkan haramnya kezaliman itu di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim no. 2577)

Dalil-dalil di atas menunjukan bahwa Allah itu Maha Adil dalam menghendaki sesuatu terhadap hamba-hambanya. Allah menghendaki sesuatu sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya dan ilmu-Nya. Maka semua yang terjadi apapun itu, meskipun itu terlihat buruk di mata kita, maka ingatlah Allah itu Maha Adil. Apapun yang Allah takdirkan kepada hambaNya, maka itulah yang terbaik baginya.

3. Melihat dengan pandangan rahmat.

Diantara nama-nama Allah yaitu Ar-Rahman yang artinya Maha Pengasih dan Ar-Rahim yang artinya yaitu Maha Penyayang. Berdasarkan nama-nama Allah ini maka seorang mukmin seharusnya dapat memahami tidaklah Allah menakdirkan kepada seorang mukmin sebuah peristiwa buruk melainkan karena didasari kasih sayang Allah kepadanya.
Allah Ta’ala berfirman:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’raf : 156)
Allah juga berfirman:

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab : 43)
Jadi sebenarnya Allah itu sayang kepada kita, hanya saja kita tidak mengetahui apa hikmah di balik terjadinya keburukan yang menimpa kita.

4. Melihat dengan pandangan hikmah.
Semua takdir Allah pasti ada hikmahnya. Namun sebagaimana penjelasan di atas bahwa tidak setiap hikmah itu tampak di mata manusia, terkadang terlihat dan kadang tidak terlihat. Dengan ketidaknampakan hikmah dari suatu peristiwa buruk, maka seorang mukmin tetap harus berperasangka baik terhadap Allah Ta’ala, bahwa pasti ada hikmah dibalik peristiwa buruk tersebut. Bukankah kita mengetahui bahwa diantara nama-nama Allah adalah Al–Hakim yaitu Maha Bijaksana.

5. Melihat dengan pandangan pujian.
Maksudnya yaitu Allah Ta’ala Maha Sempurna dari segala sisi. Termasuk sempurna dari Allah Ta’ala yaitu takdir-Nya yang di kehendaki kepada setiap hamba-nya walaupun terkadang itu terlihat pahit di mata manusia. Namun sebagai seorang mukmin, dia harus tetap memuji Allah Ta’ala ketika mendapati suatu takdir yang pahit. Karena dia tahu semua itu berdasarkan ilmu Allah dan tuntutan hikmah-Nya.

6. Terakhir, yaitu melihat dengan pandangan penghambaan dan peribadatan.

Seseorang harus sadar bahwa ia adalah milik Allah Ta’ala. Maka dengan kesadaran ini ia akan paham bahwa Allah berhak melakukan apa saja terhadapnya. Tugas ia hanya melakukan peribadatan sesuai dengan keadaan yang Allah Ta’ala takdirkan kepadanya. Jika mendapatkan kesenangan, maka ibadah yang ia lakukan adalah bersyukur. Dan sebaliknya jika mendapatkan musibah, maka ibadah yang ia lakukan adalah bersabar atas musibah tersebut.

Oleh karenanya, dengan datangnya takdir buruk, maka seorang mukmin harus bersabar. Dan sabar itu bagian dari ibadah. Ketahuilah sangat besar ganjaran dari Allah bagi orang-orang yang mau bersabar, diantaranya firman Allah Ta’ala:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar : 10). 

Demikian nasehat yang disampaikan Al Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam menyikapi takdir buruk. Semoga kita dimudahkan untuk mengamalkan semua ini.

Referensi : Nasehat Indah dalam menyikapi Takdir