This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 30 Juni 2022

Bacalah Dzikir Pendek Ini, Jika Hidup Anda Terasa Sempit, Berat dan Melelahkan


Bacalah Dzikir Pendek Ini, Jika Hidup Anda Terasa Sempit, Berat dan Melelahkan, Dalam kehidupan sehari-hari tentunya ada masa dimana manusia merasa berat dan lelah. Terkadang apa yang kita bayangkan tak seindah dengan kenyataan, mimpi yang sudah terangkai Indah seakan lenyap dalam sekejap. Mungkin selama ini kita sudah berupaya mati-matian untuk menggapai tujuan, akan tetapi seolah hidup tak pernah berpihak kepada kita, perjalanan yang panjang dan menyakitkan kadang membawa kita kepada kemurungan bahkan tangisan, kesedihan, berpaling kepada nikmat Allah Swt, berputus asa, berbuat dosa dan lain sebagianya.

Saat kita semuanya mengalami kondisi seperti ini, salah satu cara untuk menenangkan diri adalah dengan berdzikir, meminta kekuatan dan keteguhan hati kepada sang pencipta, Allah SWT yang menggemgam dan menciptakan alam semesta ini. Satu kalimat dzikir yang sangat sederhana namun syarat dengan makna dan memiliki keutamaan yang luar biasa. Diantara keutamaan mengucapkan dzikir ini setiap waktu adalah sebagai berikut ini anatar :

  • InsyaAllah diberikan kekuatan pada hati dan pikiran untuk selalu optimis dalam menghadapi pahit manisnya hidup.
  • Jalan keluar dari segala kesusahan dan kebimbangan, penawar segala macam penyakit hati dan kesedihan.
  • Menjauhkan dari malapetaka yang merugikan akibat efek dari rasa penat menghadapi kehidupan dan merupakan salah satu dzikir yang disukai Allah SWT.
  • Memudahkan menemukan pekerjaan dan memberikan keberhasilan pada setiap usaha yang kita kerjakan, menentramkan hati dan menenangkan pikiran.
  • Menjadikan kita setingkat lebih dekat kepada Allah SWT dan sebagai salah satu amalan umat muslim yang berakhlak mulia.
kalimat dzikir tersebut adalah : "Laa haula walaa quwwata illaa Billah"  Artinya : "Tiada daya dan upaya melainkan hanya dengan pertolongan Allah."

Saat mengucapkan dzikir tersebut, itu artinya kita telah menyerahkan segala urusan kita kepada Allah SWT, karena merasa sudah tidak mampu berbuat apa-apa dan tidak bisa menolak sesuatu apabila Allah sudah berkehendak.

Oleh karena itu, perbanyaklah membaca dzikir hauqallah ini saat kita sedang terhimpit kesulitan, dihantui ketakutan, mengalami kepenatan hidup, hati yang sedang gelisah dan lain sebagainya. semoga Allah memberi jalan keluar dari kesempitan hidup kita, Aamin ya rabbal alamin.

Hidup sempit berantakan rezeki sedikit


Betapa kita sering merasa sempit dalam hidup. Tak ada gairah, energi dan motivasi untuk melakukan banyak hal. Rasanya sumpek, jumud, dan membosankan. Hidup menjadi tidak bersahabat, tak ada bekas perbaikan kualitas diri, kapasitas keimanan tak jua menanjak. Hidup menjadi begitu-begitu saja dan menjadi benar-benar flat. Dunia menjadi seolah enggan menyapa.

Di sisi lain, amal-amal kebaikan menjadi sulit dilakukan. Jangankan yang sunnah, fardu pun sekedar menggugurkan kewajiban. Kondisi ini merupakan sebuah keniscayaan, sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa, “Setiap amalan ada waktu semangat dan setiap masa semangat ada putusnya. Barang siapa yang masa putusnya itu kepada sunnahku maka telah mendapatkan petunjuk dan siapa yang masa putus (lemah) nya pada selainnya maka telah binasa.” (HR ibnu Abi ‘Ashim dan Ibnu Hibban)

Dalam hadits lain: “Barangsiapa yang bangun di pagi hari namun hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah dia tidak melihat hak Allah Swt dalam dirinya, maka Allah Swt akan menanamkan 4 (empat) penyakit dalam dirinya: Kebingungan, yang tiada putusnya; Kesibukan, yang tidak ada ujungnya; Kebutuhan, yang tidak terpenuhi; dan Keinginan, yang tidak tercapai.” (HR. Ath-Thabrani)

Seringkali kita berhadapan dengan kesibukan yang tiada henti. Semakin dilakukan pekerjaan kita semakin tidak selesai. Sepertinya Allah Swt terus membuat kita tak pernah punya waktu luang. Maka kita harus hati-hati. Jangan-jangan ada hak Allah Swt yang belum ditunaikan paling tidak di pagi hari. Atau boleh jadi yang terjadi adalah ketidak-tenangan. Selalu bingung menghadapi banyak persoalan. Tak pernah thuma’ninah. Banyak hal yang awalnya hanya sebuah keinginan seolah menjadi kebutuhan, terus menerus diperbudak nafsu untuk memenuhi setiap keinginan. Maka kita harus hati-hati. Jangan-jangan segala kebingungan dan tidak tercapainya keinginan adalah bentuk teguran Allah Swt atas abainya kita terhadap hak-hak Allah Swt.

Adalah sunatullah bahwa kita akan bertemu dengan titik-titik di mana kita malas beramal, enggan beribadah. Hanya saja bagi seorang mukmin, kondisi tersebut harus segera disiasati, tidak dinikmati atau bahkan dijadikan justifikasi dari sabda Rasulullah sebagaimana di atas. Kondisi futur sebenarnya bukan kondisi yang tiba-tiba hadir. Melainkan akumulasi dari maksiat-maksiat kecil yang tidak terasa atau bahkan kita anggap sederhana. Sungguh tidak ada dosa besar kecuali akumulasi dosa kecil. Oleh karenanya, sebelum kita terjerumus ke dalam kefuturan pada level yang semakin tinggi, maka kita harus berupaya segera kembali dan bertaubat pada Allah Swt, berlindung dari segala maksiat, baik kecil maupun besar, sengaja atau tidak.

Kualitas kebaikan hubungan dengan Allah Swt merupakan kunci utama kebahagiaan hidup kita. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Thaha ayat 124: “Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka akan Aku timpakan kehidupan yang dhonka/rusak”.

Dalam ayat tersebut, secara eksplisit Allah Swt memperingatkan kita mengenai bahaya berpaling dari Allah Swt, Na’udzubillah. Saat kita mendapati kehidupan yang “dhonka”, maka kita harus melihat kembali kualitas amal kita. Mesti ada yang salah pada hubungan kita dengan Allah Swt saat kita mendapati masalah pada banyak hal dalam hidup kita. Mesti ada yang salah dengan shalat kita, saat kita tak asing lagi dengan maksiat. Mesti ada yang salah tentang cara dan intensitas interaksi kita dengan Al-Qur’an, saat kita mendapati lisan menjadi liar, sering tak terkendali. Mesti ada yang salah pada frekwensi dzikir kita, saat kita merasa dilupakan, bahkan oleh orang-orang terdekat kita. Mesti ada niat-niat yang tak lurus, saat kita mendapati lelah semata untuk setiap pekerjaan yang diamanahkan.

Hanya ada satu cara untuk mengembalikan hati pada ketenangan. Terlukisnya hidup oleh kebahagiaan. Kembali ke pelukan Yang Maha Penyayang.

Kita harus memaksa diri yang kian lemah, untuk kembali bersungguh-sungguh. Kita harus paksa bibir kita untuk melafadzkan kalimat-kalimat thoyyibah, panggil terus menerus asma Allah Swt, mencoba menghayati setiap doa yang teruntai, bacaan yang terlontar. Berusaha agar Allah Swt selalu di hati. Bukan yang lain. Bukan harta, tahta, buah hati, atau bahkan suami/istri. Mulakan kembali semuanya dengan bismillah. Menyebut asma-Nya. Berharap rahmat kasih sayang Allah Swt. 

Saat kita mendapat kehidupan yang dhonka/rusak segerakah bertobat kepada Allah Swt minta mapunan atas dosa-dosa yang kita perbuat kepada sesama manusia ataupun kepada Allah Swt. semoga tobat kita diterima Allah Swt, Aamin ya robbal alamin.

Rabu, 29 Juni 2022

Hadits tentang Silaturahmi, Keutamaan dan Larangan Memutus Persaudaraan


Hadits tentang Silaturahmi, Keutamaan dan Larangan Memutus Persaudaraan, Muslim dianjurkan untuk menjalin silaturahmi dengan sesama. Ada banyak keutamaan dalam menjalin hubungan antar sesama seperti yang termuat dalam beberapa hadits tentang silaturahmi.  Keutamaan silaturahmi di antaranya merekatkan tali persaudaraan, menambah saudara, mendatangkan keberkahan dan memperpanjang umur. Muslim juga dilarang untuk memutus hubungan silaturahmi karena ada siksa kelak di akhirat. Anjuran menjalin silaturahmi ini termaktub dalam Alquran. Allah SWT berfirman yang artinya sbb ini :

Artinya: "Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah Swt perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk". (QS. Ar Ra'du: 21).

Ibnu Katsir menerangkan mengenai ayat tersebut yakni perintah Allah Swt agar menjalin silaturahmi, berbuat baik kepada kaum kerabat dan sanak famili, juga kepada kaum fakir miskin, orang-orang yang memerlukan bantuan, dan mendermakan kebajikan. Mereka (orang-orang beriman) itu takut kepada Tuhannya. Yaitu dalam mengerjakan amal-amal yang harus mereka lakukan dan dalam menghindari perbuatan-perbuatan yang harus mereka tinggalkan.  Dalam hal tersebut mereka merasa di bawah pengawasan Allah Swt dan mereka merasa takut akan hisab yang buruk di hari akhirat. Karena itulah maka Allah memerintahkan mereka untuk tetap berada dalam jalan yang lurus dan istiqamah dalam semua aktivitas dan semua keadaan yang mereka alami. 

Dalam surat lain, Allah melaknat orang-orang yang suka memutus tali silaturahmi sebagaimana dalam firman-Nya. Artinya: "Kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. (Muhammad: 22) 
Yaitu kalian akan kembali kepada kejahiliahan kalian di masa silam dengan membiarkan darah mengalir dan terputusnya hubungan kekeluargaan, Karena itulah dalam firman berikutnya disebutkan:

Mereka itulah orang-orang yang dilaknati oleh Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. (Muhammad: 23) 

Larangan membuat kerusakan di muka bumi ini bersifat umum dan larangan memutuskan hubungan kekeluargaan bersifat khusus, bahkan Allah Swt memerintahkan untuk berbuat kebaikan di muka bumi dan menghubungkan tali persaudaraan, yaitu dengan berbuat baik kepada kaum kerabat melalui ucapan dan perbuatan serta bersedekah kepada mereka. 

referensi sbb ini :



Keburukan dan kejelekan akibat memutuskan hubungan tali silaturahmi


Keburukan Akibat Memutuskan Hubungan Tali Silaturahmi, Saat menjalankan ibadah di bulan ramadan, anjuran yang selalu kita dengar sejak kecil, salah satunya ialah menjaga hubungan tali silaturahmi. Hubungan tali silaturahmi yang dimaksud ialah hubungan dengan keluarga, tetangga, dan kerabat. Jangankan sebagai makhluk beragama, sebagai manusia biasa saja, kita sebaiknya tidak memutuskan hubungan tali silaturahmi dengan sesama.Hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan orang lain.

Apabila kamu berani memutuskan hubungan tali silaturahmi dengan sesama maka sebenarnya kamu termasuk dalam golongan orang yang angkuh dan sombong. Islam mengajarkan kedamaian dan kebersamaan, menyambung tali silaturahmi pasti lebih baik daripada memutuskannya. Allah SWT berfirman mengenai hubungan silaturahmi:

Allah Swt berfirman yang artinya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa ayat 1).

Melalui ayat dari Surat An-Nisa ayat 1, kita mengetahui bahwa memutuskan hubungan tali silaturahmi diharamkan dan tidak disukai oleh Allah SWT. Selain itu, juga telah merangkum 5 keburukan akibat memutuskan hubungan tali silaturhami. Simak ulasan lengkapnya berikut : 

Dilaknat Oleh Allah SWT,  Keburukan akibat memutuskan hubungan tali silaturahmi yang pertama ialah dilaknat oleh Allah SWT. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya bahwa hukum memutuskan tali silaturahmi itu haram. Perhatikan firman Allah SWT berikut ini yang artinya: “Maka apa kiranya jika kamu berkuasa akan membuat kerusakan di bumi dan memutuskan silaturahmi, Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah Swt dan ditulikan telinga mereka dan dibutakan mata mereka.” (QS. Muhammad: 22-23).

Melalui ayat tersebut kita dapat mengetahui bahwa Allah SWT melaknat orang-orang yang membuat kerusakan dan memutuskan tali silaturahmi. Hanya seorang manusia yang penuh kesombongan serta kebencian saja yang sanggup memutus tali silaturahmi.

Sekiranya ada suatu kesalahan yang menyakiti hati dari seseorang kepadamu, maka hendaknya kamu bisa memaafkannya dan menahan diri dari perilaku dengki dan dendam. Sesungguhnya Allah SWT saja Maha Pemaaf, bagaimana bisa seorang hambanya yang tidak sempurna penuh dengan amarah hingga memutuskan tali silaturahmi.

Oleh karenanya, agar tidak dilaknat Allah SWT, sambunglah tali silaturahmi dengan sesama terutama di bulan ramadan ini. Ikhlaskan dan maafkanlah kesalahan mereka yang pernah menyakitimu. Memaafkan pasti membuatmu lebih tenang dan bahagia.

Menghambat Terkabulnya Sebuah Doa, Kedua, keburukan akibat memutuskan hubungan tali silaturahmi adalah terhambatnya sebuah doa dikabulkan oleh Allah SWT. Jika kamu memanjatkan doa kepada Allah SWT namun belum juga dikabulkan, maka hendaknya kamu berintropeksi diri, kemungkinan salah satu penyebabnya karena kamu memutus hubungan tali silaturahmi dengan sesamamu.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya sbb ini :

“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi, melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: Pertama : Allah akan segera mengabulkan do’anya, 2. Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan 3. Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi lantas berkata, ”Allah Swt nanti yang memperbanyak mengabulkan doa-doa kalian” (HR. Ahmad).

Maka dari itu, merugilah mereka yang memutuskan tali silaturahmi karena doa-doanya bisa saja menjadi terhambat ketika hendak dikabulkan oleh Allah SWT. Daripada doamu tidak terkabulkan, lebih baik bertakwalah pada Allah SWT dan sambunglah tali silaturahmi.

Hukumannya Disegerakan di Dunia, Ketiga, keburukan akibat memutuskan hubungan tali silaturahmi ialah hukumannya tidak disimpan di akhirat melainkan langsung diturunkan ke dunia. Hukumannya bisa bermacam-macam bentuknya, salah satunya ialah tidak terkabulnya sebuah doa dan sulit mendapatkan rezeki. Adapun hadis yang membenarkan soal ini, Rasulullah SAW, bersabda yang artinya sbb ini: “Tidak ada satu dosa yang lebih pantas untuk disegerakan hukuman bagi pelakunya di dunia bersamaan dengan hukuman yang Allâh siapkan baginya di akhirat daripada baghyu (kezhaliman dan berbuat buruk kepada orang lain) dan memutuskan kerabat” (HR. Bukhari, Tirmidzi, Abu Dawud, al-Hakim, dan lainnya).

Jadi, apabila saat ini kamu sering mendapat musibah, coba ingat kembali, hubungan silaturahmi mana yang kamu putuskan. Bisa jadi cobaan berat yang kamu alami ini karena kamu pernah berusaha untuk memutus tali silaturahmi dengan keluarga atau kerabat.

Terputus dari Rahmat Allah SWT, Keempat, siapapun yang memutuskan tali silaturahmi akan mendapatkan keburukan berupa terputus dari kebaikan dan rahmat yang diberikan oleh Allah SWT. Sesungguhnya manusia yang hidup bahagia di dunia adalah mereka yang senantiasa berada dalam naungan dan mendapatkan rahmat dari Allah SWT.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya sbb ini :

“Sesungguhnya (kata) rahmi diambil dari (nama Allah) yaitu ar-Rahman. Allah berkata, “Barangsiapa menyambungmu (rahmi/kerabat), Aku akan menyambungnya, dan barangsiapa memutuskanmu, Aku akan memutuskannya.” (HR. Bukhari).

Sudah jelas dalam hadis tersebut bahwa Allah SWT akan mencabut rahmat dari hamba-Nya yang memutuskan tali silaturahmi. Hidup tanpa rahmat dari Allah SWT pasti akan menjadi kehidupan yang sulit dan penuh cobaan. Maka dari itu, peliharalah tali silaturahmi dengan sesama sebaik mungkin agar kamu tidak terputus dari rahmat-Nya.

Dijauhkan dari Surga, Terakhir, keburukan yang kamu dapatkan jika memutus hubungan tali silaturahmi ialah dijauhkan dari surga. Tentu akan sangat merugi bagi setiap manusia yang jalannya menuju surga dijauhkan atau disulitkan akibat memutus hubungan tali silaturahmi. Seperti yang dijelaskan hadis berikut ini :“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan (silaturahmi)” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya menyambung tali silaturahmi memiliki keutamaan dan banyak membawa manfaat untukmu, surga pun akan dekat denganmu. Oleh karenanya jauhilah permusuhan atau perkara lainnya yang menyebabkanmu berkelahi dan akhirnya memilih untuk memutus tali silaturahmi. 


Referensi sbb :






Bahaya dan dosa memutuskan tali silaturrahmi


Memutuskan silaturahim merupakan hal yang sangat tercela dalam Islam. Dampaknya sangat buruk. Dosa dan akibat memutuskan silaturahim sangat merusak amalan kita. Segala amalnya tidak berguna dan tidak berpahala. Walaupun kita telah beribadah dengan penuh keikhlasan, siang dan malam, tetapi bila kita masih memutus tali silaturahim  dan menyakiti hati orang-orang Islam yang lain, maka amalannya tidak ada artinya di sisi Allah SWT.

Terdapat lima  macam orang yang salatnya tidak berpahala, yaitu: pertama, istri yang dimurkai suami karena menjengkelkannya, Kedua, budak yang melarikan diri, ketiga,orang yang mendendam saudaranya melebihi tiga  hari, keempat, peminum khamar dan kelima, imam salat yang tidak disenangi makmumnya.

Salah satu sabda Rasulullah SAW, : Rumahnya tidak dimasuki malaikat rahmat. Sesungguhnya malaikat tidak turun kepada kaum yang didalamnya ada orang yang memutuskan silaturahim, 

Orang yang memutuskan tali silaturahim  diharamkan masuk surga. Mengutip salah satu sabda Rasulullah SAW Terdapat tiga  orang yang tidak akan masuk surga, yaitu: 1. orang yang suka minum khamar, 2. orang yang memutuskan tali silaturahim  dan 3. orang yang membenarkan perbuatan sihir.

marilah kita jalin silaturahim kepada keluarga,  kerabat dan sahabat di kantor, dirumah, dimanapun kita jaga silaturahim yang baik. 

“Dari Abdullah bin Abi Aufa r.a, beliau berkata, ketika sore hari pada hari Arafah, pada waktu kami duduk mengelilingi Rasulullah saw, tiba-tiba beliau bersabda, “Jika di majelis ini ada orang yang memutuskan silaturahmi, silahkan berdiri, jangan duduk bersama kami”

Menjaga hubungan baik diantara kerabat atau yang biasa dikenal dengan silaturahmi merupakan salah satu hal yang dianjurkan dalam agama Islam. Adapun hukum memutuskan tali silaturahim menurut islam, sama dengan memutus rejeki.

Dalam Al-Qur’an, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: "Bertakwalah kepada Allah Swt yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah Swt selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS an-Nisâ’: 1).

Mengetahui bahwa diri kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang memutuskan silaturahmi yang telah nyata tidak diakui oleh rasulullah sebagai umatnya. Berikut Ciri-ciri Orang yang memutuskan tali persaudaraan :

Gelisah Jika Ada Orang yang Berniat Untuk Menjaga Silaturahmi, Tentu orang yang memutuskan tali persaudaraan tidak akan senang dengan kehadiran orang yang telah diputus tali persaudaraannya. Bahkan sebelum datang kehadriannya (Orang yang di putuskan tali persaudaraannya) hatinya akan merasa tidak tenang, ia akan merasa gelisah ketika didengarkan nama orang yang ia putuskan silaturahmi.

Berusaha Menghindari Sesama Muslim dengan Alasan Kebaikan/Agama,  pemahaman yang kurang begitu memadai tentang suatu permasalah bisa menjadi pemicu problem tambahan dalam suatu kasus. Hal ini seringkali terjadi kepada orang yang tengah memutuskan silaturahmi, dengan argument yang tidak begitu akurat dan faktual dengan referensi yang ada, membuatnya lebih jauh terhanyut akan jebakan setan/iblis laknaktullah.

Tidak Peduli dengan Apa yang Terjadi Pada Sesama Muslim, Diantara penyebab orang memutuskan tali persaudaraan adalah adanya sengketa pemahaman/problem yang membuatnya terjatuh akan lembah kehinaan, jika dibiarkan maka hal ini akan semakin berbahaya, tidak hanya untuk dirinya sendiri namun bisa berdampak kepada orang disekitarnya.

Merasa Paling Benar dengan Apa yang Dilakukan, Orang yang memutuskan tali persaudaraan biasanya dirinya dikuasai nafsu yang bersarang didalam hatinya, maka pada saat itu segala macam penyakit hati akan semakin bertumpuk berdatangan dan bersarang didalamnya termasuk Merasa Paling benar, dan sungguh sangat membahayakan bagi dirinya juga orang (Jika lemah pemahaman) disekitarnya.

Dalam surah lain, Allah melaknat orang-orang yang suka memutus tali silaturahmi sebagaimana dalam firman-Nya: Artinya: “Kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan." (Muhammad: 22)

Yaitu kalian akan kembali kepada kejahiliahan kalian di masa silam dengan membiarkan darah mengalir dan terputusnya hubungan kekeluargaan. Karena itulah dalam firman berikutnya disebutkan:

Mereka itulah orang-orang yang dilaknati oleh Allah Swt dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. (Muhammad: 23)

Larangan membuat kerusakan di muka bumi ini bersifat umum dan larangan memutuskan hubungan kekeluargaan bersifat khusus, bahkan Allah Swt memerintahkan untuk berbuat kebaikan di muka bumi dan menghubungkan tali persaudaraan, yaitu dengan berbuat baik kepada kaum kerabat melalui ucapan dan perbuatan serta bersedekah kepada mereka. Para ulama berbeda pendapat mengenai batasan seseorang dianggap memutus tali silaturahmi. Salah satu yang menarik adalah pandangan Imam Ibnu Hajar al-Haitami.

Beliau berpendapat bahwa memutus tali silaturahmi adalah dengan memutus kebiasaan baik yang terbiasa dilakukan sebelumnya dengan para kerabat tapa adanya uzur halangan yang bisa dimaklumi. Misalkan sebuah keluarga terbiasa bersilaturahmi dengan saling mengunjungi beberapa kerabatnya tatkala hari raya Idul Fitri.

Jika hal tersebut tidak dilakukan lagi pada hari raya Idul Fitri berikutnya dan tahun-tahun selanjutnya, maka perbuatan tersebut tergolong memutus tali silaturahmi yang terlarang. Berikut berbagai perbedaan pandangan para ulama mengenai batasan memutus tali silaturahmi: Sebagian dari maksiat adalah memutus tali silaturahmi. Para ulama berbeda pendapat mengenai makna yang dikehendaki dari ‘memutus tali silaturahmi ini. Menurut sebagian pendapat, memutus tali silaturahmi sebaiknya dikhususkan pada bentuk perbuatan buruk pada kerabat.

Pendapat lain menyangkal pandangan tersebut, sebaiknya memutus tali silaturahmi bertumpu pada tidak berbuat baik (pada kerabat), sebab dalam beberapa hadits menganjurkan untuk menyambung tali silaturahmi dan melarang memutus tali silaturahmi, dan tidak ada perantara makna diantara keduanya. Keutamaan menyambung tali silaturahmi berarti menyambungkan suatu kebaikan, sedangkan memutus tali silaturahmi adalah kebalikannya, yakni tidak melakukan kebaikan.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab az-Zawajir berpandangan bahwa yang dimaksud dengan memutus tali silaturahmi adalah memutus kebiasaan kerabat tanpa adanya uzur syar’i, sebab memutus hal tersebut akan mendatangkan pada kegersahan hati dan terasingnya hati. Tidak ada perbedaan apakah kebaikan yang dibiasakan itu berupa (pemberian) harta, saling menitip salam, berkirim surat, berkunjung, atau hal yang lainnya.

Sesungguhnya memutus segala hal di atas tanpa adanya uzur setelah terbiasa melakukannya tergolong dosa besar” (Habib Abdullah bin Husain).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa memutus tali silaturahmi merupakan hal yang terlarang. Sedangkan perbuatan memutus tali silaturahmi menurut sebagian ulama diartikan dengan melakukan perbuatan buruk pada kerabat, misalnya seperti mencela atau menyakiti mereka. Pendapat lain mengartikan memutus tali silaturahmi dengan tidak berbuat baik pada kerabat. Dan pendapat terakhir menengah-nengahi bahwa memutus tali silaturahmi adalah tidak melakukan perbuatan baik yang sebelumnya terbiasa dilakukan pada kerabat.

Referensi sebagi berikut ini : 




Ayat Al-Qur'an Tentang Rahmat Allah SWT untuk para pendosa


Ayat Al-Qur'an Tentang Rahmat Allah SWT untuk Pendosa,  Allah SWT tetap mencurahkan rahmat-Nya untuk pendosa. terkumpulnya dosa-dosa perlahan membuat jiwa sakit. Jika tak kunjung menadapat obat, ia lama-kelamaan akan sekarat. Tak ada yang lagi berguna jika kemudian ia berujung kematian. Ini sebuah pengingat besar, jangan-jangan kita sudah menganggap sebuah dosa menjadi biasa. Meninggalkan shalat seolah dianggap sebuah rutinitas, biasa saja. Membantah orang tua seperti pekerjaan harian. Tak ada sesal, mungkin justru terbersit bangga. Berbuat zina kadung dianggap tanda cinta. 

Kita hidup di dunia yang mulai menganggap dosa sebagai sebuah hal yang biasa. Dianggap biasa karena mungkin tidak ada lagi terminologi dosa dalam kehidupan. Semua hal yang dilakukan sudah bebas nilai. Tak boleh terkekang aturan-aturan agama. Apakah hal seperti ini yang ingin kita perjuangkan. Apa jadinya jika manusia hidup tanpa aturan,  Kerusakan akan merajalela. Bukankah ini yang memang menjadi kekhawatiran para malaikat saat makhluk lemah bernama manusia ditunjuk menjadi pemimpin. Fitrah jiwa ingin berada dalam ketentraman. Bagaimana jadinya jika merampas, merampok, memperkosa dibiarkan dengan alasan bebas. Tunggu saja kerusakan besar yang akan segera menyapa.

manusia tidak lepas dari dosa-dosa atau  berbuat salah, zalim karena sesungguhny amanusia itu tempatnya salah dan dosa. Hanya Rasulullah SAW manusia yang terjaga dari kesalahan. Allah SWT menyiapkan ujian dan tentu saja menyiapkan ganjaran. Allah SWT juga menyiapkan mekanisme agar kita bisa mencuci segudang kesalahan yang kita lakukan di masa silam. Mari kita simak bagaimanakah kasih sayangnya Allah Swt terhadap hambanya yang serius ingin memperbaiki diri.

Allah SWT berfirman, "Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dialah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka, kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datangnya azab kemudian kalian tidak dapat lagi mendapatkan pertolongan." (QS az-Zumar 53-54).

Lihatlah bagaimana Allah SWT justru mengundang orang-orang yang berbuat dosa untuk datang kepada-Nya. Allah SWT membuka pintu maaf seluas-luasnya bagi orang yang ingin kembali. Hal ini berbeda 180 derajat jika kita berbuat kesalahan kepada manusia. Bertemu dengan orang tersebut saja kita merasa malu. Tapi, apa jadinya jika kita berbuat kesalahan, tapi justru disambut dengan hangat oleh orang tersebut.

Begitulah Allah SWT memperlakukan hamba-Nya.Tak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Toh, setiap kita yang tampak alim sekali pun pasti tak luput dari setiap dosa-dosa yang terus mengintai. Datanglah kepada Allah Swt dan pasti Allah Swt akan menerima tobat kita. "Dan, barang siapa yang bertobat dan beramal saleh maka sesungguhnya Allah akan menerima tobatnya." (QS al-Furqaan 25: 71).



Antara Ujian atau adzab


Banyak yang masih kurang memahami dalam membedakan kata ujian dan adzab, yang ditinjau dari sudut pandang musibah atau cobaan secara umum. Kedua kata tersebut sebenarnya memiliki arti yang jauh berbeda, dan menimpa orang yang berbeda pula, meskipun sama-sama terkena musibah atau cobaan. Yang terkadang manusia sering mengeluh ketika ditimpa musibah atau cobaan. Ada yang bilang, “Allah tak adil, yang kaya makin kaya, yang miskin tetap saja miskin selamanya”. Ungkapan ini sering dilontarkan sebagai bentuk kekesalan atas kekurangan yang ada pada diri manusia, terutama segala hal yang berkaitan dengan ekonomi ataupun yang lainnya.

Sebenarnya, manusia akan naik pangkat dan derajat ketaqwaannya di hadapan Allah Swt bila mereka kuat dalam menghadapi segala musibah, ujian dan cobaan dalam kehidupan ini. Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Allah Swt akan menguji hamba-hamba-Nya dengan berbagai macam ujian berat,  juga mencatat segala usaha sebagai bentuk ibadah dan mengujinya dengan berbagai macam cobaan. Tujuannya adalah agar manusia tak memiliki hati yang sombong, selalu rendah hati, juga sebagai kunci mendapatkankan anugerahnya dan membuka pintu pengampunan-Nya.

Bila manusia memahami segala cobaan hidup yang ia rasakan merupakan proses pendewasaan diri agar selalu menjadi pribadi yang lebih baik maka ia akan selalu berusaha dan berdo’a serta selalu berpikiran positif kepada-Nya. Ketika seorang hamba bisa memahami antara kedua kata tersebut, sebenarnya manusia itu bisa memahami, mereka itu sedang di uji atau diberikan adzab.

Ujian, Ujian merupakan musibah yang menimpa orang-orang yang beriman dan rajin beribadah. Dengan tujuan untuk menguji ke istiqomahanmu dan menguatkan keyakinannya. Dalam Al-Quran, Allah berfirman bahwa kita jangan mengaku dulu beriman sebelum kita diberikan ujian yang berat, seperti sakit, kurangnya harta, takut akan kelaparan, fitnahan, cacian, makian dan sebagainya. Allah SWT dalam surah Al Anbiya' ayat ke 35 sebagai berikut ini yang artinya : 

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”(QS. Al-Anbiya: 35)

Duniaini adalah medan perjuangan seorang mukmin untuk menjadikan manusia sebaik-baik hamba, yang dinilai dari amalnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala, berfirman.

“Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 1-2).

Syarat agar lulus dalam ujian yang diberikan Allah Swt,  kita harus ikhlas menerimanya dan sabar serta tawakal dalam menjalani semua ujian yang diterimakan. Meskipun sangat berat, tapi kita tidak meninggalkan ibadah, amal sholeh dan justru kita semakin giat lagi beribadahnya. Kita juga tidak boleh kesal ketika menerima ujian dan seharusnya bersyukur karena Allah Swt  masih menganggap kita sebagai hamba-Nya dengan cara diberikan ujian. Tapi jika sebaliknya, ketika kita tidak beribadah dan ingkar ketika mendapatkan ujian, berarti kita gagal.
 
Adzab, Adzab adalah cobaan yang menimpa orang-orang yang selalu melalaikan kewajibannya dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tujuannya yaitu sebagai peringatan agar kita mau bertobat dan kembali lagi beribadah kepada-Nya, serta menyesali segala perbuatannya.

Sebagai seorang muslim, tentu kita yakin dengan adzab dan nikmat di kubur. Hukum asalnya adzab dan nikmat kubur ini adalah perkara yang ghaib, meskipun hal ini adalah perkara ghaib, kita sebagai orang yang beriman tetap meyakini dan membenarkan adzab dan nikmat kubur. Allah Subhanahu wa Ta'alaberfirman dalam Al-Qur’an Surat Al Mu’min : 45-46.

“Dan Fir’aun beserta pengikutnya dikepung oleh adzab yang sangat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (dikatakan kepada mereka): “Masukkan Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.”

Jadi ketika kamu sedang rajin-rajinnya maksiat, tidak beribadah, lalu datang musibah, jangan sebut itu ujian, tapi itu adalah adzab sekaligus peringatan buat kamu. Masih untung kalau kamu diberi kesempatan hidup karena masih ada waktu untuk memperbaiki diri, tapi jika sudah tidak diberi kesempatan lagi, bagaimana nasib kita kelak di akhirat nanti.

Namun ada kesamaan antara adzab dan ujian, yaitu dua hal ini sama-sama bentuk kasih sayang Allah Swt kepada kita agar selalu senantiasa beribadah dan beramal sholeh kepada-Nyam jangan pernah melupakanNya dan hobi untuk berbuat kebaikan, baik terhadap dirinya sendiri, orang lain maupun Allah Swt.

Allah Swt memberikan kamu peringatan dengan memberikan musibah, cobaan dan ujian agar kamu bertobat dan kembali ke jalan-Nya. Apakah itu bukan bentuk kasih sayang Allah?, kepada kita karena kita sudah diingatkan, dan sebenarnya peringatan yang disampaikan Allah Swt kepada hambanya sudah sangat banyak, namun terkadang manusia enggan untuk memahami dan menyadarinya. Allah Swt mengingatkan kita dalam firman-Nya.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".(Qs. Ibrahim : 7).



Tanda Diterimanya Tobat Seorang Hamba


Tanda Diterimanya Tobat Seorang Hamba, 
Manusia tidak pernah lepas dari salah dan khilaf. Namun Islam adalah agama yang penuh pengampunan terhadap kesalahan dan khilaf yang dilakukan dalam kehidupan sehari-harinya. Untuk itulah adanya taubat yang diberikan sebagai bentuk kesempatan dari Allah Swt Subhanahu wa Ta’ala  untuk umat manusia yang benar-benar menyadari kesalahan dan ingin memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih beriman dan bertakwa di jalan Allah Swt. 

Dalam hati seorang yang bertobat lahir kesadaran bahwa dirinya tidak terpelihara dari dosa. Ini berarti, kapan pun dirinya bisa terjerumus lagi ke dalam perbuatan dosa, baik dosa yang telah ditobati maupun dosa yang berbeda. Atas dasar itu, dia selalu berhati-hati menghadapi hal-hal yang sekiranya bisa mengantarkan dirinya jatuh lagi pada kubangan yang sama dan kembali berbuat nista.  

mendapati hatinya sedikit gembira, dan banyak bersedih. Bagaimana hatinya bisa bergembira karena senantiasa mempersiapkan dan memikirkan masa depan akhiratnya yang belum mendapat jaminan apa-apa. Apakah hidupnya berakhir dengan membawa iman? Itulah yang selalu direnungkan seorang yang bertobat, sehingga tak berani meluapkan kegembiraannya secara berlebihan, sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW yang artinya, “Siapa saja yang banyak mengingat kematian akan sedikit gembiranya dan sedikit rasa hasudnya,” (HR. Ibnu al-Mubarak).

Hati Lebih Tentram Dan Tenang, Di antara tanda-tanda taubat seseorang yang diterima oleh Allah Subhana Hua Ta’ala salah satunya adalah kondisi hati yang terasa lebih tentram dan tenang. Hal ini dikarenakan ia lebih banyak beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhana Hua Ta’ala sehinga hal tersebut sangat mempengaruhi keadaan jiwa seseorang. Seseorang yang selalu bermaksiat dan berlumur dosa, akan senantiasa merasa gelisah walaupun hidupnya bergelimang kenikmatan duniawi karena kenikmatan tersebut hanyalah fana yang tercipta dari bisikan-bisikan setan. (Baca juga: Hikmah Sedekah dalam Islam)

Lebih Suka Berkumpul Dengan Orang-Orang Sholeh / Sholehah, Kemudian tanda taubat seseorang diterima oleh Allah Swt adalah mulai banyaknya teman-teman yang sholeh dan sholehah di sekitarnya, artinya ia sudah tidak lagi nyaman untuk berteman dengan teman-temannya yang dahulu saat ia melakukan banyak dosa dan maksiat. Dengan jauhnya ia dari teman-teman yang banyak dosa dan maksiat, maka akan semakin jauh juga ia dari perbuatan terkutuk tersebut. 

Keempat, melihat perkara dunia yang sedikit sebagai sesuatu yang banyak di hadapannya. Sedangkan melihat perkara akhirat yang banyak sebagai sesuatu yang sedikit. Sang hamba yang bertobat ingat bahwa sesedikit apa pun kekayaan dunia, yang halalnya akan dihisab dan dipertanggungjawabkan, sedangkan yang haramnya akan disiksa. 

Keenam, selalu menjaga lisan. Hal ini lahir dari kesadaran bahwa banyak membicarakan perkara yang tidak berguna.

Lebih Menyibukkan Diri Dengan Kewajiban Dan Ibadah Terhadap Allah SWT, Ketika taubat seseorang diterima oleh Allah maka Allah akan terus menggerakkan hatinya untuk selalu beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Ia akan meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat karena sudah lebih nyaman dengan kegiatan ibadah yang bisa mendekatkan ia dengan Allah Swt.

Lebih Banyak Bersyukur, Bersyukur adalah kunci utama dari kebahagiaan serta ketakwaan seseorang. Oleh karena itu semakin Allah menerima taubat yang dilakukan manusia maka akan semakin besar kesadaran diri akan kebesaran Allah dan akan semakin besar pula rasa syukur atas nikmat-nikmat yang senantiasa Allah Swt berikan kepadanya.

Akhlaknya lebih baik, Seseorang yang bertaubat pastinya bera berupaya untuk memperbaiki akhlaknya dan Allah Swt akan senantiasa meringankan hati hamba-Nya yang bertakwa sehingga akhlaknya terus-menerus menjadi lebih baik di setiap waktunya.

Senang Bersedekah, Sedekah adalah amal wajib yang terkadang sangat sulit dilakukan oleh manusia karena sifat alami manusia yang selalu merasa kurang dan sayang untuk membagikan hal-hal yang ia miliki kepada orang lain walaupun ia sendiri menyadari bahwa apa yang ia miliki bukanlah milik dirinya sendiri akan tetapi juga sebagiannya adalah miliki orang lain yang membutuhkan.

Menjaga Penampilan / Aurat, Bentuk taubat yang paling mudah terlihat secara kasat mata adalah dari penampilannya, baik dari hal aurat dan dari kesesuaian penampilan yang telah di atur oleh syariat Islam.

Menjaga Sikap Dan Ucapannya, Sikap dan ucapan seseorang yang telah bertaubat tentu akan berbeda dengan seseorang yang belum menempuh taubat. Seseorang yang telah bertaubat akan senantiasa menjaga sikap dan ucapannya menjadi lebih santun dan lembut agar tidak menyakiti perasaan orang lain. Berbeda dengan orang yang masih belum menempuh taubat, cara komunikasinya akan lebih kasar dan semaunya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain.

Masih Merasa Penuh Dosa Dan Terus Berupaya Memperbaiki Diri, Syarat utama untuk bertaubat adalah menyadari dan menyesali dosa dan kesalahan yang telah diperbuat. Kemudian setelah ia memperbaiki diri dan terus bertaubat ia tidak akan pernah merasa cukup akan ibadah yang telah ia lakukan seakan dosanya masih terus ada, entah itu adalah dosa yang telah lalu ataupun dosa yang baru dilakukan. Oleh karenanya ia akan terus berupaya meningkatkan keimanan diri untuk menebus dosa-dosa yang melekat dalam dirinya.

Demikianlah pembahasan mengenai tanda-tanda taubat yang telah diterima Allah SWT. Pada dasarnya hanya Allah Swt  lah yang berhak menyatakan untuk menerima atau menolak dosa yang telah dilakukan oleh hamba-Nya. Kita sebagai manusia hanya bisa berupaya, berusaha dan berdoa semoga amal dan taubat yang kita lakukan dapat diterima oleh Allah Swt karena Allah Swt Maha pemurah lagi maha  penyayang akan melihat usaha yang telah kita upayakan. dan selalu berbuat baik kepada sesama makhuk, sesama manusia, dan lain sebagainya. Artikel tersebut pasatilan banyak kekurangan dan kesalahan dalam mengetik atau membuat artiket tersebut diatas, maka kesalahan itupun dari saya pribadi, jika ada benarnya dari Allah Swt, Aamin. 

2 Taubat yang Terlambat


2 Taubat yang Terlambat Yaitu : Pertama : Sebelum matahari terbit dari barat, yang kedua : Sebelum nyawa sampai tenggorokan/kerongkongan. Allah Swt Maha Pengampun. Allah Swt Maha Penerima taubat. Sebesar apapun dosa dan kesalahan yang dilakukan seorang hamba ,selagi ia mau bertaubat dengan sungguh-sungguh, menyesali dosa dan kesalahanya, berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatanya, niscaya Allah akan mengampuni semua dosa yang pernah dilakukan. 

Dari Anas ra.ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Allah SWT  berfirman, ‘Wahai anak Adam (manusia), selama engkau masih mau berdo’a dan mengharapkan ampunan-Ku, pasti aku akan mengampuni dosa yang telah engkau perbuat dan Aku tidak menghiraukan sedikit banyaknya dosamu. Wahai anak Adam, sekiranya dosa kau setinggi langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, tentu Aku akan mengampuni dosa-dosamu. Wahai anak Adam, sekiranya engkau datang membawa dosa seisi bumi kepada-Ku, kemudian engkau mohon ampun kepada-Ku dan tidak menyekutukan Aku dengan apapun, pasti Aku memberi ampunan sebanyak itu pula’,” (HR.Tirmidzi ia berkata Hadits hasan shahih).

Begitulah besarnya kasih sayang Allah Swt terhadap hamba hamba-Nya. Pintu taubat selalu dibuka bagi hamba-Nya yang ingin menyucikan diri dengan mengharap ampunan-Nya.

Namun ada waktu dimana pintu taubat itu ditutup. Ada saat, dimana ampunan sudah tidak diberikan. Iman dan amal seseorang tak lagi berguna. Saat itu manusia benar benar dalam kerugian yang besar.

Pertama; ketika matahari telah terbit dari arah terbenamnya. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat sehingga matahari terbit dari tempat terbenamnya, apabila ia telah terbit dari barat dan semua manusia melihat hal itu maka semua akan beriman, dan itulah waktu yang tidak ada gunanya iman seseorang yang belum pernah beriman sebelumnya itu,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Musa Abdullah bin Qois Al-Asy’ari dari Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT senantiasa membentangkan Tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat kejahatan di siang hari bertaubat dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat kejahatan dimalam hari bertaubat; sampai saat matahari terbit dari tempat tenggelamnya,” (HR. Muslim).

Ketika matahari telah terbit dari arah tenggelamnya (arah barat), ini merupakan di antara tanda atau isyarat akan segera terjadinya kiamat. Yakni hancurnya dunia serta berakhirnya seluruh kehidupan. Maka, mulai pada saat itu pintu taubat ditutup, iman dan amal seseorang (yang belum beriman dan beramal sebelumnya) tidak lagi berguna.

Allah SWT berfirman, dalam surah Al An'am ayat ke 158 sbb : “Pada hari datangnya sebagian ayat Tuhanmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu,atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imanya” ( Al-An’am (6) : 158 )

Kedua; Ketika sakaratul maut.( nyawa sudah sampai kerongkongan) Allah SWT berfirman dalam surah An Nisa' ayat ke 18 yang artinya sebagai berikut, “Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang diantara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku bertaubat sekarang’” ( An-Nisa’ 4 : 18 ).

Dari Abu Abdurrahman Abdullah Ibn Umar Ibn Al-Khattab dari Nabi Sholallahu alaihi Wasalam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai pada kerongkonganya,” (HR. At-Tirmidzi dan ia betkata: Hadits hasan).

Dalam Al-Qur’an juga diceritakan bagaimana Allah Swt menolak taubatnya Fir’aun saat sakaratul maut. “Dan kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia; ‘Saya percaya bahwa tidak ada ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh bani Israil, dan saya termasuk orang orang yang berserah diri (kepada Allah Swt).’ Apakah sekarang (baru kamu percaya) padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan,” (QS. Yunus(10) : 90-91).


Referensi sebagai berikut ini :






Menangis Karena Allah Swt Bukti Iman Yang Tidak Bisa Direkayasa


Menangis karena Allah Swt adalah salah satu tanda dan bukti keimanan karena tangisan ini tidak bisa direkayasa dan anda tidak bisa ingin dan mengatur tangisan ini. Ia muncul dari mata air lubuk hati yang paling dalam, rasa takut kepada Allah Swt dan mengharap ampun serta ridha-Nya.

Tidak Pernah seumur hidup menangis karena Allah Swt, maka adalah musibah besar yang banyak orang tidak tahu, pura-pura lupa bahkan tidak peduli. Ini menunjukkan hatinya keras, tidak bisa tersentuh oleh kebaikan dan hanifnya iman. Ini karena banyaknya maksiat sehingga perlu segera berobat ke dokter hati yaitu ulama, dibawa ke pekuburan, mengelus rambut kepala anak yatim agar hatinya lembut.

Cukuplah hadits Rasulullah sebagai pengingat, Nabi Muhammad SAW bersabda, yanga rtinya sbb ini : 

“Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak melihat kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, kamu benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis”.

Anas bin Malik radhiyallâhu’anhu perawi hadits ini- mengatakan,“Tidaklah ada satu hari pun yang lebih berat bagi para Sahabat selain hari itu. Mereka menutupi kepala mereka sambil menangis sesenggukan.”

Menangis Karena Allah Swt, Bukti Iman Yang Tidak Bisa Direkayasa Bagaimana kita bisa bangga menisbatkan diri sebagai muslim yang beriman, tetapi kita tidak pernah merasa takut kepada Allah Swt, air mata mengering, seolah-olah merasa aman dengan maksiat dan dosa yang ia lakukan. Beginilah ciri seorang yang beriman (mukmin) sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, adalah sbb ini : “Sesungguhnya seorang Mukmin itu melihat dosa-dosanya seolah-olah dia berada di kaki sebuah gunung, dia khawatir gunung itu akan menimpanya. Sebaliknya, orang yang durhaka melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya, dia mengusirnya dengan tangannya –begini–, maka lalat itu terbang”

ernahkah anda seumur hidup menangis karena Allah? Menangisi dosa-dosa kita? Menangisi kelemahan kita di hadapan Allah? Kita tidak bisa tiba-tiba menangis karena Allah begitu saja, kita tidak bisa merencanakan tangisan ini, kita tidak bisa menangis sesuai keinginan kita. Akan tetapi tangisan ini, timbul karena takut kepada Allah, bergetar hatinya karena nama Allah disebut dan berguncang jiwanya ketika mengingat maksiat dan dosa yang ia lakukan, oleh karena itu inilah tangisan keimanan, tangisan kebahagiaan dan tangisan hanifnya jiwa.

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya sbb : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2)

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,: “Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bacakanlah al-Qur’an kepadaku.” Maka kukatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah saya bacakan al-Qur’an kepada anda sementara al-Qur’an itu diturunkan kepada anda?”. Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya aku senang mendengarnya dibaca oleh selain diriku.” Maka akupun mulai membacakan kepadanya surat an-Nisaa’. Sampai akhirnya ketika aku telah sampai ayat ini (yang artinya), “Lalu bagaimanakah ketika Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas mereka.” (QS. an-Nisaa’ : 40). Maka beliau berkata, “Cukup, sampai di sini saja.” Lalu aku pun menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata beliau mengalirkan air mata.”


Dari Haani’ Maula Ustman radhiallahu ‘anhu berkata, "Utsman jika berada di suatu kuburan, ia menangis sampai membasahi jenggotnya. Dikatakan kepadanya, “disebutkan surga dan neraka engkau tidak menangis, tetapi engkau menangis karena ini?”. Beliau berkata, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “sesungguhnya kubur adalah tempat persinggahan pertama dari beberapa persingggahan di akhirat, jika ia selamat maka ia dimudahkan, jika tidak selamat maka tidaklah datang setelahnya kecuali lebih berat.”

Ibnu Abi Jamrah rahimahullah menjelaskan hadits, “Sebabnya adalah, karena hati seorang Mukmin itu diberi cahaya. Apabila dia melihat pada dirinya ada sesuatu yang menyelisihi hatinya yang diberi cahaya, maka hal itu menjadi berat baginya. Hikmah perumpamaan dengan gunung yaitu apabila musibah yang menimpa manusia itu selain runtuhnya gunung, maka masih ada kemungkinan mereka selamat dari musibah-musibah itu. Lain halnya dengan gunung, jika gunung runtuh dan menimpa seseorang, umumnya dia tidak akan selamat"

Bukan Sering Menampakkan Wajah Sedih, akan tetapi seorang muslim tidaklah sering menampakkan kesedihan dan tangisannya di depan manusia kemudian dihiasi dengan wajah pucat-pasi (sebagaimana salah paham disangka inilah tawaddu). Seorang muslim ketika menyendiri ia berlinang air mata menikmati bermunajat dengan Allah Swt dan ketika bertemu dengan manusia berwajah gembira dan ceria.

Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya sbb ini  “Janganlah engkau remehkan suatu kebajikan sedikitpun, walaupun engkau bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang ceria/bermanis muka”.

Para Nabi Dan Orang Shalih Menangis Karena Allah Swt, para nabi dan orang-orang shalih menangis karena Allah Swt, Allah  Swt berfirman yang artinya sbb ini : 

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Maryam: 58).

Jika Masih Saja Sulit Menangis Karena Allah, Maka tangisilah diri kita, tangisilah hati kita yang mungkin sudah mati dan tangisilah jiwa kita yang tidak bisa menampung sedikit saja tetesan keimanan, serta tangisilah mayat badan kita yang kita seret  berjalan merajalela di muka bumi karena ia hakikatnya telah mati. Semoga dengan menangisi diri kita, Allah berkenan membuka sedikit hidayah kemudian menancapkannya dan bertengger direlung hati hamba yang berjiwa hanif.

Sebagaimana seruan sebuah ayat yang membuat seorang ulama besar Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah bertaubat, yang dulunya beliau adalah kepala perampok yang sangat ditakuti dijazirah Arab, ayat tersebut adalah,

“Belumkah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka dengan mengingat Allah dan kebenaran yang diturunkan. Dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang sebelumnya yang telah diberikan Al Kitab, masa yang panjang mereka lalui (dengan kelalaian) sehingga hati mereka pun mengeras, dan banyak sekali di antara mereka yang menjadi orang-orang fasik.” (Al Hadid: 16)

Semoga bermanfaat bagi saya pribadi dan bagi semuanya, ambil baiknya dan hikmahnya, jika banyak kesalahan itu dari saya pribadi dalam mengetik atau menyampaikanya, semoga dapat menjadikan kita semakin takwa kepada Allah Swt, Amin. 

Referensi dibawah ini : 





Sebab-sebab tidak boleh menunda Bertobat Kepada Allah Swt

Sebab-sebab tidak boleh  menunda Bertobat Kepada Allah Swt, Seorang Muslim tentu tidak lepas dari perbuatan dosa. Maka sudah sepatutnya bagi kita untuk senantiasa menyegerakan melakukan pertobatan kepada Allah SWT agar mendapat ampunan dari-Nya. Mengapa demikian? Berikut ini adalah enam alasan mengapa diutamakan untuk segera bertobat. 


Pertama, tobat adalah alasan untuk mencapai cinta Allah SWT. Keutamaan ini cukup untuk suatu kehormatan dalam mencapai pertobatan. Allah SWT berfirman: 

"Sesunguhnya Allah Swt menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS Al-Baqarah: 222).

Kedua, tobat adalah faktor datangnya cahaya di hati dan menghapus jejak dosa. Dari Abu Hurairah RA, dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Jika seorang Mukmin melakukan dosa, maka ada noda hitam di hatinya. Jika dia bertobat dan memohon ampunan, maka dengan itulah hatinya dibersihkan."

Ketiga, tobat menjadi alasan untuk menggapai pertolongan Allah SWT sekaligus untuk meningkatkan kekuatan hati. Allah SWT berfirman yang artinya dalam surah Al Hud ayat 52 sbb : 

"Dan (dia berkata), 'Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." (QS Hud: 52).

Keempat, tobat membuat orang yang berdosa menjadi orang yang tidak berdosa. Dari Abu Said Al-Ansari, Rasulullah SAW bersabda yang artinya sbb ini :  "Penyesalan adalah pertobatan, dan pertobatan dari dosa adalah seperti orang yang tidak memiliki dosa." (HR Al-Tabrani,)

Kelima, tobat menunjukkan kualitas orang yang beriman. Allah SWT berfirman dalam surah taubat sbb ini ayang artinya : "Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah Swt. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu." (QS  Taubat: 112)

Keenam, Allah Swt menyukai hambanya yang bertobat. Dalam sebuah riwayat hadits disebutkan: "Allah SWT begitu bergembira dengan tobat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas." (muttafaqun 'alaih)

Ketujuh, Allah Swt menunda datangnya kebaikan dan kemakmuran kecuali dengan bertobat. Maka, tidak ada cara untuk mencapai kebaikan di dunia dan akhirat tanpa bertobat. Allah SWT berfirman artinya dalam surah An Nur ayat ke 13 sbb ini: 

"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (QS An-Nur: 31).







Tobat yang tertolak jika nyawa sudah di kerongkongan

Secara garis besar, semua bentuk pelanggaran tersebut akan diampuni oleh Allah SWT selama memenuhi tiga persyaratan, yaitu berhenti dari perbuatan jahat, menyesali sungguh-sungguh perbuatan yang dilakuka, dan tidak akan mengulanginya pada masa yang akan datang.


Allah SWT adalah Tuhan yang Mahapenyayang, sehingga menerima tobat orang-orang yang melakukan perbuatan keji (QS. An-Nisa': 17); kejahatan (QS. An-Nisa': 18); membunuh (QS. An-Nisa': 92); berbuat kesalahan (QS. Asy-Syura: 25); dan pelanggaran terhadap larangan-Nya.

Di dalam Surah An-Nisa, Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya bertobat kepada Allah itu hanya (pantas) bagi mereka yang melakukan kejahatan, kemudian segera bertobat. Tobat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Mahamengetahui, Mahabijaksana.”

“Dan tobat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang melakukan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) dia mengatakan, "Saya benar-benar bertobat sekarang." Dan tidak (pula diterima tobat) dari orang-orang yang meninggal sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan azab yang pedih." (QS. An-Nisa': 18-19).

Ayat di atas paling tidak mengandung tiga perkara. Satu perkara berkaitan dengan diterimanya tobat dan dua perkara lainnya berkaitan dengan tobat yang ditolak. Pertama, mereka yang diterima tobatnya adalah yang melakukan kejahatan, lalu menyadari kejahatannya dan segera bertobat.

Mayoritas para ahli tafsir menegaskan bahwa arti segera di dalam kalimat tersebut berarti secepatnya bertobat setelah melakukan kejahatan sebab orang yang cerdas adalah mereka yang segera bertobat setelah melakukan kejahatan, tidak mengakhirkannya karena dapat menyebabkan hatinya bertambah keruh, jiwa menjadi lemah, dan dipermainkan hawa nafsu, disamping setiap orang tidak mengetahui kapan ajalnya tiba.

Kedua, Allah SWT tidak menerima tobat seorang hamba yang dilakukan menjelang ajal tiba. Mereka yang terbiasa bergelimang dosa tanpa penyesalan dan kemauan bertobat selama hidupnya memanfaatkan kesempatan (bertobat) dalam kesempitan (datangnya ajal), namun Allah SWT menolaknya dengan alasan tobatnya dilakukan dalam kondisi darurat, bukan dalam kondisi normal dan banyak pilihan.

Allah SWT mengulang beberapa kali firman-Nya dalam kasus tersebut, salah satunya berkaitan dengan Fir'aun, "... ketika Fir'aun hampir tenggelam dia berkata, "Aku percaya bahwa tidak ada tuhan selain Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang muslim (berserah diri)." (QS. Yunus: 90).

Ketiga, mereka yang tidak diterima tobatnya adalah orang-orang yang telah mati dalam kekafiran atau tidak membawa keimanan. Hal tersebut karena kematian berarti penutupan pintu harapan perbaikan disamping kekafiran berarti peniadaan eksistensi Tuhan.

Dalam ayat tentang kekafiran (kemusyrikan), Allah SWT berfirman, "Sungguh, Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki... " (QS. An-Nisa': 116).

Maka senyampang Allah SWT masih memberikan umur dan kesehatan, hendaknya seorang mukmin menyegerakan diri menuju ampunan Allah Swt dengan bertobat dan meminta maaf kepada sesama sebelum pintu tobat benar-benar tertutup baginya. Hal tersebut karena mensegerakan tobat merupakan salah satu karakter orang-orang yang bertakwa.

"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali Imran: 133). Dan tiadalah orang yang bertakwa, kecuali Allah Swt akan membalasnya dengan surga.

Penyebab manusia Sulit Tobat dan Berubah/Tobat kepada Allah Swt


Penyebab manusia Sulit Tobat dan Berubah/Tobat kepada Allah Swt esombongan dalam hati yang tidak disadari. Namanya manusia, terkadang ada saat di mana menyadari dan menyesali perbuatan buruk yang telah dilakukan. Namun di satu sisi, bisa jadi seseorang merasa hal itu tidak perlu disesali berlarut-larut. Ketika ada pikiran tersebut, mungkin akibat godaan setan, kaum Muslimin pun harus berhati-hati. Jangan sampai itu adalah bentuk kesombongan dalam hati yang tidak disadari.

Pertama, Orang sombong tentu akan sulit bertaubat dan sulit berubah. Perasaan sombong akan membuat seseorang tidak akan mengakui kesalahannya, bahkan yang terparah ia akan selalu mencari-cari pembenaran atas suatu tindakannya yang padahal jelas-jelas salah tersebut. Selain itu, orang sombong juga tidak akan pernah bisa menangisi kesalahannya dan bertaubat, karena ia merasa bahwa ia telah melakukan yang terbaik dalam hidupnya. Naudzubillah.

Kedua, Senantiasa merasa diri sebagai korban, Selanjutnya selain kesombongan, penyebab orang sulit bertobat dan berubah adalah karena selalu memosisikan dirinya sebagai korban atas suatu tindak kejahatan, padahal ia ada andil di dalam tindakan tersebut. Istilah kekinian bagi orang-orang yang demikian adalah playing victim. Orang yang senantiasa playing victim akan merasa dan berpikir mengenai keburukan orang lain saja, tanpa mau melakukan muhasabah atau instrospeksi terhadap dirinya sendiri.

Menjadi orang yang bertobat tidaklah mudah. Orang yang bertobat laksana orang yang terjatuh dari suatu tanjakan yang terjal dan ia harus mendaki untuk sampai pada tempat atau jalan semula, yakni jalan Allah SWT. Banyak rintangan yang harus dihadapi oleh orang yang hendak bertobat. Rintangan tidak hanya datang dari diri sendiri, tetapi juga dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Lebih dari itu, ia harus menghadapi rintangan yang dibuat oleh setan.

Kemaksiatan itu ibarat candu. Tidak mudah bagi orang yang telah terbiasa bermaksiat untuk berlepas diri darinya. Terlebih pada zaman sekarang ini, kemaksiatan begitu kentara hadir di depan mata kita. Jika kita tidak kuat menahan hawa nafsu, godaan maksiat yang ada di hadapan kita bisa menarik kita kembali kepada kemaksiatan yang pernah kita lakukan.

Tidak hanya itu, saat kita berupaya untuk tobat, ada saja orang yang mencemooh dan tidak menerima kehadiran kita, terutama bila kita berulang kali terjatuh pada maksiat yang sama. Padahal, kita sudah menyesal dan berupaya untuk tidak mengulanginya. Hal ini terkadang membuat orang yang mau bertobat merasa putus asa dan malu untuk melakukan kebaikan.

Di sisi lain, ketika seseorang ingin bertobat, terkadang ada ancaman yang mengancam keselamatan jiwanya. Seperti yang dialami oleh orang-orang yang keluar dari komplotan narkoba ataupun komplotan kejahatan. Bagi sebagian orang, hal ini membuatnya berpikir dua kali untuk bertobat kepada Allah SWT.

Selain itu, setan tidak akan membiarkan kita untuk kembali kepada jalan Allah SWT. Setan akan berusaha dengan tipu dayanya untuk menarik orang yang hendak bertobat untuk kembali kepada kemaksiatan yang telah dilakukannya. Meski demikian, terjalnya tanjakan tobat jangan sampai membuat kita berputus asa. "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS az-Zumar (39- 53).

Selain itu, yakinilah bahwa Allah SWT tidak akan membiarkan orang-orang yang bertobat berjalan sendiri. Ia akan menolongnya, menyambutnya dengan "kegembiraan", dan menyiapkan surga baginya. Untuk itu, bila kita sulit berlepas diri dari candu maksiat, penuhilah hati kita dengan iman dan selalu melakukan ketaatan dan bergaul dengan orang-orang yang taat.

Bila terjatuh kembali kepada kemaksiatan, bersegeralah untuk kembali bertobat kepada Allah Swt Ali bin Abi Thalib RA berkata, "Sebaik-baik kalian adalah setiap orang yang diuji (dengan dosa) lagi bertobat.' Ditanyakan, 'Jika ia mengulangi lagi?' Ia menjawab, 'Ia beristighfar kepada Allah dan bertobat.' Ditanyakan, 'Jika ia kembali berbuat dosa?' Ia menjawab, 'Ia beristighfar kepada Allah dan bertobat.' Ditanyakan, 'Sampai kapan?' Dia menjawab, 'Sampai setan berputus asa'."

Selain itu, bila ada orang yang mencemooh dan tidak menerima kita, maafkanlah mereka. Mudah-mudahan dengan hal itu dosa-dosa kita pun diampuni oleh Allah SWT. Dan, jika ada orang yang mengancam kita karena kita bertobat, serahkan kepada Allah. Yakinilah orang yang bertobat akan mendapatkan pertolongan dan perlindungan Allah SWT.

Kalaupun kita mati, kita mati dalam keadaan tobat dan surga adalah balasannya. Semoga kita menyayangi orangorang yang bertobat dengan penerimaan dan nasihat yang menyejukkan lagi bijaksana. Amin. Wallahu a'lam.

Semoga kita semua dapat dijauhkan dari sifat yang sombong, Iblis di laknat karena sifat sombongnya tersebut. Semoga kita dapat bertobat dija melakukan dosa/kesalahan, dan semoga tobat kita di terima Allah Swt, Amin

Referensi sbb ini :



4 Karekater manusia sudah di jelaskan dalam Al Qur'an


Allah Swt telah menggambarkan proses penciptaan manusia secara rinci dalam QS Al-Mukminun ayat 12-14, yang dijelaskan pula dalam ilmu sains. Dalam sains, manusia adalah makhluk yang tubuhnya terdiri dari sel-sel, yakni bagian terkecil dari makhluk hidup. Jaringan sekumpulan sel-sel yang serupa bentuk, besar dan pekerjaannya yang terikat menjadi satu disebut organ.

Tubuh manusia pun terdiri dari sistem, yakni sistem otot (muskularis), sistem syaraf (neruosa), sistem kelenjar (endokrin), sistem pencernaan (digestivus), sistem metabolisme, sistem cairan tubuh dan darah, sistem jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler), sistem pernafasan (respiratorius), sistem perkemihan (urinarius), sistem reproduksi, sistem kulit (integument) dan sistem pengindraan.

Tiap-tiap jenis sel secara khusus beradaptasi untuk melakukan fungsi tertentu. Misalnya, sel darah merah berjumlah 25 triliun mentransfer oksigen dari paru-paru ke jaringan. Terdapat 50 triliun sel yang lain dan jumlah sel dalam tubuh diperkirakan 75 triliun. Umur kehidupan sel berbeda-beda misalnya leukosit granular yang dapat hidup selama manusia hidup. Sedangkan eritrosit hanya mampu hidup sampai 14 hari.

Disamping kedahsyatan penciptaan manusia dan struktur yang ada dalam tubuhnya, manusia juga “dianugerahi” beberapa karakter buruk yang jika tidak diobati, maka akan merugikan manusia itu sendiri.

Beberapa karakter buruk manusia yang disebut dalam Alquran adalah: Pertama, mengeluh dan kikir. "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir." (QS. Al-Ma’arij: 19). Disadari maupun tidak, mengeluh adalah sifat dasar manusia yang timbul saat ia tertimpa masalah atau dalam kesempitan.

Sedangkan kikir yang dalam bahasa Arab disebut bakhil, secara detail Allah Swt uraikan dalam QS. Al-Israa’: 100. “Dan adalah manusia itu sangat kikir.”

Oleh sebab itu, Rasulullah SAW menganjurkan agar kita selalu berdoa, “Allahumma inni a’udzubika minal bukhli (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir).”

 

Kedua, lemah. Dalam Alquran, Allah Swt mendeskripsikan dua kelemahan manusia, yaitu lemah secara fisik dan lemah (dalam melawan) hawa nafsu buruk. “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah.” (QS. Ar-Rum: 54).

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisaa’ayat ke 28).dalam Surah An-Nisaa’ itu adalah lemah dalam melawan hawa nafsu.
 
Ketiga, zalim dan bodoh. “Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72). Kezaliman dan kebodohan manusia dalam ayat di atas disebabkan karena rusak dan kotornya bumi, karena pertumpahan darah dan ulah manusia itu sendiri yang tidak merawat bumi dan seisinya sesuai dengan ketentuan Allah Swt.
 
Keempat, tidak adil. Berlaku adil adalah tindakan yang terkadang kurang mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kaum Madyan yang tidak berlaku adil, akhirnya diazab oleh Allah Swt, seperti dalam firman-Nya, “Dan Syu'aib berkata, ‘Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (QS. Hud: 85).

Betapa pun sulitnya menghindari tabiat yang sudah Allah Swt lekatkan dalam diri manusia, dengan bertobat dan terus berdoa kepada-Nya, niscaya Allah Swt meminimalkan karakter buruk tersebut dari dalam diri kita. Serta memenuhi hati kita dengan cahaya iman dan hidayah untuk semangat dalam beribadah. Amin.

Manusia sifatnya lalai dan bodoh


Manusia sifatnya lalai, khilaf dan bodoh, sudah diterangkan sudah di jelaskan dalam kitap-kitap suci, bahkan sering membaca, namun kenapa sering lalai dan sulit bertobat kepada Allah Swt. Misalnya sudah dijelaskan dalam Al Qur'an surah  Al-Ahzab ayat 72 yang artinya sbb ini :

"Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh,"

Ringkasan Tafsir kemenag RI sbb ini : Setelah meminta orang-orang beriman untuk menjaga ketakwaan, Allah lalu menjelaskan bahwa salah satu wujud takwa adalah menjaga amanah. Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat, yakni tugas-tugas keagamaan, kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul tanggung jawab amanat itu dan mereka khawatir tidak akan mampu melaksanakannya, lalu Kami menawarkan amanat itu kepada manusia, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim karena menyatakan sanggup memikul amanat tetapi secara sengaja menyia-nyiakannya, dan sangat bodoh karena menerima amanat tetapi sering lengah dan lupa menjalankan atau memenuhinya. “Amanat” kalau diartikan secara sempit adalah kewajiban-kewajiban agama. Namun, secara luas ia bisa dipahami sebagai segala sesuatu yang diserahkan kepada seseorang untuk dipelihara dan ditunaikan dengan sebaik-baiknya serta berusaha maksimal untuk tidak menyia-nyiakannya. Apa pun bentuk amanat itu, ia harus dipertanggungjawabkan oleh penerima kepada pemberi amanat.


Seseungguhnya terdapat tiga hal ini merupakan sebab terbesar dari sebab-sebab berkurangnya iman. Barangsiapa yang terjangkit kelalaian, disibukkan oleh kelupaan, sehingga ia pun berpaling karenanya, maka keimanannya akan berkurang dan melemah sesuai keberadaan ketiga perkara tersebut padanya atau juga sebagian dari ketiganya. Hal tersebut juga memberikan dampak baginya berupa sakitnya hati, atau bahkan matinya hati tersebut karena bercokolnya syahwat dan syubhat atas dirinya.

Ada pun lalai, maka Allah Swt telah mencela di dalam kitab-Nya, dan menggambarkan bahwa lalai adalah akhlak tercela yang merupakan salah satu akhlak orang-orang kafir dan munafik. Allah Swt pun memperingatkan tentang kelalaian dengan peringatan yang keras, sebagaimana Allah Swt berfirman,

“Dan sesungguhnya, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’raf: 179)

Ada pun berpaling, maka Allah Swt telah menggambarkan di dalam Al-Qur’an bahwa sifat tersebut memiliki banyak pengaruh yang buruk, dengan akibat dan hasil yang jelek. Allah menyifati orang yang berpaling sebagai tiada seorang pun yang lebih zalim darinya dan ia termasuk golongan orang-orang pendosa. Hal ini sebagaimana firman Allah,

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian dia berpaling darinya? Sungguh, Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berdosa.” (QS. As-Sajdah: 22).

Orang yang berpaling akan Allah Swt jadikan hatinya tertutup dan terkunci, sehingga ia tidak memahami dan tidak mendapat petunjuk untuk selama-lamanya. Sebagaimana di dalam firman-Nya,

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sungguh, Kami telah menjadikan hati mereka tertutup, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka. Kendati pun engkau (Muhammad) menyuru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk untuk selama-lamanya.” (QS. Al-Kahfi: 57).

“Dan barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadikan teman karibnya.” (QS. Az-Zukhruf; 36)

Orang yang berpaling akan memikul dosanya kelak di hari Kiamat, dan akan dimasukkan ke dalam azab yang sangat berat. Hal ini sebagaimana Allah swt berfirman,

“Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah yang telah lalu, dan sungguh, telah Kami berikan kepadamu suatu peringatan (Al-Qur’an) dari sisi Kami. Barangsiapa berpaling dari (Al-Qur’an), maka sesungguhnya dia akan memikul beban yang berat (dosa) pada hari Kiamat.” (QS. Thaha: 99-100).

Juga ayat-ayat lainnya yang Allah Swt menggambarkan di dalamnya tentang bahaya keberpalingan (dari mengingat Allah). Di antara bahaya dan keburukannya yaitu, keberpalingan merupakan penghalang dari keimanan dan menjadi penghalang lain bagi orang yang belum beriman, dan dapat melemahkan dan meredupkan iman orang yang telah beriman. Berdasarkan keberpalingan seseorang itulah ia akan mendapatkan bagian dari bahaya dan akibat buruknya ini.

Ada pun lupa, yaitu seseorang meninggalkan aturan yang diamanatkan untuk dijaga. Boleh jadi karena kelelahan hatinya, atau karena kelalaian. Boleh jadi juga karena memang bermaksud seperti itu, hingga dzikirnya diangkat dari hati, maka hal ini memiliki dampak yang luar biasa terhadap iman. Ini merupakan salah satu sebab dari sekian banyak sebab yang dapat melemahkan iman. Ketaatan akan menjadi sedikit, sementara kemaksiatan akan menjadi banyak dan mendominasi.

Lupa sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an terbagi menjadi dua macam:

  1. Lupa pada seseorang yang tidak memiliki udzur padanya, yaitu lupa yang berasal dari kesengajaannya, sebagaimana firman Allah Swt , “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19)
  2. Lupa seseorang yang memiliki udzur padanya, yaitu apa saja yang sebabnya bukan berasal dari dirinya. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari kebajikan yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Seorang muslim dituntut untuk berjihad melawan nafsunya, dan menjauhkan dirinya dari terjerumus dalam kelupaan, sehingga tidak membahayakan bagi agama dan imannya. Jika sudah terjadi dosa yang sangat besar minta ampunan lah kepada Allah Swt yang maha pengampun lagi maha penyayang, agar diberikan petunjuk Allah Swt dan di tuntun ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhanya (Allah Swt), semoga tobat kita diterima Allah Swt, Amin.

Ada 3 bentuk kezaliman


Berbuat Zalim berarti melampaui batas dan menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Zalim memiliki banyak macam dan bentuk. Namun secara umum  jenis zalim dibagi tiga hal anatara lain adalah sebagai berikut ini :

  1. Zalim kepada diri sendiri,
  2. Zalim kepada Allah Swt,
  3. Zalim Kepada sesama manusia.

Pertama,  Zalim seorang manusia terhadap dirinya dengan menyekutukan Allah Swt (zalim yang tidak akan diampuni dosanya sama sekali). Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.) (Surah Al Lukman ayat 13).

Kedua, Zalim seorang manusia kepada dirinya dengan berbuat maksiat kepada Allah Swt (zalim yang sama sekali tidak menjadi beban bagi Allah Swt).

Dianggap zalim, karena hak Allah SWT atas hambaNya adalah mereka wajib menyembahNya, mengesakan Nya  menaati dan tidak berbuat maksiat kepadaNya  bersyukur kepadaNya dan tidak mengkufuriNya. Jika mereka melanggarnya, maka mereka termasuk orang-orang yang zalim. 

Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 229, 
Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan dengan baik atau melepaskan dengan baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali keduanya (suami dan istri) khawatir tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah Swt, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh istri) untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah Swt, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa melanggar hukum-hukum Allah Swt, mereka itulah orang-orang zalim.

Ketiga, Zalim seorang manusia kepada sesama manusia (zalim yang tak akan dibiarkan Allah Swt).

Bagian ketiga inilah yang merupakan kezaliman yang paling dikenal dan paling banyak terjadi. Kezaliman ini merupakan jenis kezaliman yang lebih berat dari sebelumnya, paling banyak dosanya, serta memiliki akibat yang paling buruk . 

Seseorang takkan bisa lari darinya dan tak bisa terhindar dari bahaya dan dosanya dengan hanya sekedar berhenti dan menyesali kezaliman yang biasa diperbuatnya. Agar terhindar dari bahaya dan dosa kezaliman seperti ini, dia mesti meminta keikhlasan orang yang dizalimi dan segera mengembalikan haknya. 

Namun tak ada yang menjamin orang yang dizalimi akan membiarkan dan mengikhlaskan orang yang menzalimi jika dia meminta maaf dan keridhaannya. Oleh karena itu, kita memohon kepada Allah SWT agar dijauhkan dari perilaku zalim terhadap sesama dan tidak menjadikan kita sebagai orang-orang yang zalim.

Sufyan Tsauri r.a. berkata, "Bertemu Allah Swt dengan membawa 70 dosa yang engkau lakukan atas Allah Swt, akan lebih ringan daripada bertemu denganNya dengan membawa satu dosa yang engkau lakukan atas orang lain".