This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 11 Agustus 2022

Beranjaklah dari Kegelapan yang Menyengsarakan

Ilustrasi : Beranjaklah dari Kegelapan yang Menyengsarakan

Beranjaklah dari Kegelapan yang Menyengsarakan. Kadang nih, kita sadar apa yang kita lakukan itu salah. Tapi, masih suka santai-santai dengan itu dan bahkan kesanya jadi “menikmati dosa”, Astaghfirullah :'(

Memang benar, kita tidak terlepas dari dosa dan kesalahan. Tidak jarang kita tergelincir dan salah jalan. Tapi, bukankah kita semua menginginkan untuk menjadi orang yang bertakwa? Bukankah orang yang bertakwa itu adalah orang yang ketika berdosa, segera mengingat Allah dan segera memohon ampunanNya :'( ?

Memang ya, menuruti hawa nafsu menimbulkan kesan semu yang ‘menyenangkan’. Sedangkan, ketika menoleh ke jalan kebenaran kelihatanya susah ya? Lelah, sulit, terkekang. Memang benar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”(HR. Muslim)¹

Padahal, kesan ‘menyenangkan’ itu hanya semu, hanya sebentar, hanya di dunia. Sedangkan, balasanya di akhirat nanti amat mengerikan dan menyengsarakan.

Sebaliknya, perasaan lelah dalam taatmu itu membawa kebahagiaan dunia akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang kehidupan akhirat menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah akan meletakkan rasa cukup di dalam hatinya dan menghimpun semua urusan untuknya serta datanglah dunia kepadanya dengan hina. Tapi barangsiapa yang kehidupan dunia menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah meletakkan kefakiran di hadapan kedua matanya dan mencerai-beraikan urusannya dan dunia tidak bakal datang kepadanya, kecuali sekedar yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. Tirmidzi)².

Jadi? Yuk Bismillah mulai melangkah. Gapapa, pelan-pelan saja, asal jangan berhenti atau bahkan berbalik arah. Niatnya dijaga ya,.. ingat! Mengejar dunia dapat dunia, mengejar akhirat dapat keduanya. Semoga Allah senantiasa memberi hidayah.

Referensi : Beranjaklah dari Kegelapan yang Menyengsarakan






Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik

Ilustrasi : Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik

Api perlu diingat bahwa, tidak ada kebaikan yang muncul dari keburukan dibalas dengan keburukan. Tidak ada kebenaran yang muncul dari kesalahan dibalas dengan kesalahan. Tidak ada perbaikan yang muncul dari kerusakan dibalas kerusakan.

Mungkin kepuasan sementara akan kita dapatkan dengan ‘membalas’. Mungkin pembalasan ini akan memberi makan ego kita, dan membuat gengsi kita tetap kokoh bertengger di atas sana. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa pembalasan ini adalah sebuah kekeliruan?

Jika aku bersalah padamu kawan, jika aku berdosa padamu, jika aku menyakiti hatimu. Tidak perlu membalas keburukanku hanya karena kau ingin menunjukkan betapa buruknya aku memperlakukanmu.

Jadilah lebih mulia dariku, jadilah yang berbeda kawan, jadilah yang berbeda. Balaslah keburukan dengan salam hangatmu, balaslah dengan senyumanmu yang manis itu. Karena aku tahu, kebaikan dan kemuliaan itu ada di sana. Ya, ada di dalam dirimu.

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS. Fushilat : 34)

Referensi : Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik







Hijriah

Ilustrasi : Hijriah

Terkait dengan memasuki tahun baru ini, ada baiknya kita perhatikan hadis Nabi yang mengandung pesan indah bagi kita semua. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’id bahwasannya suatu ketika malaikat Jibril AS pernah datang kepada Rasulullah SAW kemudian ia berkata: “Ya Muhammad, hiduplah sesukamu tapi sesungguhnya engkau akan mati, dan cintailah siapapun yang engkau mau tapi engkau akan berpisah dengannya, dan berbuatlah sesukamu tapi sesungguhnya engkau akan mendapatkan balasannya.”

Dari hadis di atas ada tiga nasihat agung yang perlu kita renungkan, yaitu: pertama hiduplah sesukamu tapi sesungguhnya engkau akan mati. Sebagian ulama’ berkata bahwasannya kalimat ini merupakan sebuah ancaman dan peringatan, yang menegaskan bahwa  kita semua akan mati, dan hal ini sudah ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya yang berbunyi: “Setiap yang bernyawa pasti akan mati” (QS. Al-Ankabut: 57). Dengan mengingat kematian, diharapkan setiap mukmin menghilangkan ketergantungan dan ketamakan hati terhadap dunia dan kesenangan-kesenangannya. Dengan mengingat kematian, sudah seharusnya manusia memendekkan angan-angan untuk dunia dan hanya mengharapkan kehidupan di negeri akhirat yang kekal. Allah SWT berfirman, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Q.S. Al-‘Ankabut: 64) Dengan demikian, hendaklah setiap hamba mempersiapkan diri untuk menyambut tujuan akhirnya yaitu kematian, dengan cara menyiapkan diri untuk sesuatu setelahnya (akhirat).

Pertanyaannya adalah sudah siapkah kita untuk menghadapi kematian? sudah siapkah kita untuk menghadapi Dzat yang Maha kuasa? Bekal apa yang telah kita persiapkan untuk menghadapi persidangan-Nya? Apakah bekal harta, pangkat dan kekuasaan, anak-anak kita yang sukses, isteri kita yang cantik, atau gelar kesarjanaan yang menempel di nama kita, apakah  itu yang kita persiapkan untuk menghadapi persidangan Dzat yang Maha adil?  Sungguh kita akan rugi besar jika hanya itu yang kita persiapkan untuk menghadapi pengadilan-Nya, bahkan kita akan celaka karenanya. Karena sesungguhnya bekal terbaik bagi manusia untuk menghadapi persidangan Allah SWT ialah hanya taqwa. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam surat Al-Baqarah: 197. “Berbekallah kamu karena sebaik-baik bekal adalah taqwa.”

Selanjutnya pesan kedua adalah cintailah siapapun yang engkau mau karena sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya. Makna pesan kedua ini adalah kita boleh mencintai siapapun yang kita mau, apakah itu mencintai isteri kita, mencintai anak kita,  mencintai orangtua kita, mencintai sahabat kita, mencintai saudara mara kita, bahkan mencintai harta benda kita sekalipun, namun perlu kita ingat bahwa suatu saat nanti kita akan berpisah dengannya. Dan perpisahan itu terbagi menjadi dua, pertama perpisahan yang bersifat selamanya yaitu berupa kematian, apatah itu perpisahan kita dengan orangtua kita, anak istri kita, keluarga saudara kita, tetangga kita dan lain sebagainya. Perpisahan kedua adalah  perpisahan bersifat sementara, misalnya perpisahan kita dengan rekan sekerja yang mendapat tugas di tempat lain dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kita sebagai hamba Allah yang beriman kepada-Nya, hendaknya di dalam setiap  mencintai siapapun dan apapun itu, Cintailah sewajarnya saja. Jangan sampai kecintaan kita melebihi kecintaan kita kepada Allah SWT, karena salah satu ciri orang yang beriman adalah dia sangat mencintai Allah SWT melebihi kecintaan dia kepada istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya dan yang lainnya.

Kemudian nasihat Malaikat Jibril yang terakhir yang ketiga adalah berbuatlah sesukamu, sesungguhnya engkau akan dibalas dengannya. Pesan terakhir malaikat Jibril kepada Rasulullah ini merupakan sebuah pesan dan peringatan yang besar tentunya bagi kita selaku umatnya Rasulullah SAW, bahwasannya kita sebagai manusia pasti akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT atas segala apa yang telah kita lakukan di dunia ini. Sekecil apapun kebaikanmu Allah akan membalasnya dan sekerdil apapun keburukanmu Allah pun melihatnya. Setiap kebaikan ataupun keburukan amal kita, semua akan dipertanggung jawabkan, Allah akan membalasnya baik secara langsung ataupun tidak langsung. Oleh karenanya perlu diingat bahwasanya tidak ada perbuatan yang sia-sia dimuka bumi ini. Semua akan ada perhitungan atas apa yang kita lakukan. Dengan demikian seyogyanya kita merefleksikan diri ketika kita ingin melakukan sesuatu, terutama ketika memasuki tahun baru Hijriah seperti saat ini.

Referensi : Hijriah





Jangan Menyakiti Hati Orang Lain Jika Tak Bisa Membalas kebaikannya

Ilustrasi ; Jangan Menyakiti Hati Orang Lain Jika Tak Bisa Membalas kebaikannya

Jangan Menyakiti Hati Orang Lain Jika Tak Bisa Membalas kebaikannya. Manusia di manapun selalu membutuhkan orang lain. Sedari dalam kandungan hingga kematian, manusia sangat bergantung pada orang lain. Makhluk sosial, begitu sebutannya. Saling membutuhkan pada diri manusia sehingga mau tak mau harus bisa saling memberi dan saling menerima. Memberi bukan berarti berupa kebendaan namun juga bantuan moril.  Yang perlu ditekankan, ketika memberikan bantuan maka tak perlu memikirkan imbalan apapun. Ikhlas. Istilahnya ketika tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu. Tak perlu juga diumumkan atau diceritakan bantuan itu kepada orang lain.

Di lain pihak, orang yang diberikan bantuan maka tak perlu berpikir untuk membalas hingga pikiran pusing. Ketika orang lain membutuhkan bantuan, cukup dibantu semampunya saja. Meski tak perlu memberi imbalan, bukan berarti orang yang telah diberi bantuan seenaknya saja dalam berbuat. Jika telah dibantu maka harus memiliki rasa terimakasih dan menghargai bantuan orang lain, sekecil apapun.

Jangan malah menyakiti atau melakukan sesuatu yang menunjukkan rasa tak tahu terimakasih. Jangan sampai air susu dibalas air tuba. Bagaimanapun orang lain sangat berjasa pada kita. Sekalipun kemungkinan ada sesuatu hal yang membuat kita jengkel atau marah. Kalau dihadapkan pada situasi seperti itu maka jangan keluarkan kata- kata yang bisa menyakiti orang yang telah berjasa pada kita.

Sungguh tak manusiawi jika gara- gara sebuah kesalahan akhirnya menghilangkan seluruh kebaikan yang telah dilakukan orang lain. Jika tak mampu membalas kebaikan dari orang lain setidaknya kita tak menyakiti orang itu. Kita ingat saja, bahwa manusia itu tak sempurna. Banyak kesalahan. Bahkan kita sendiri bisa saja malah lebih banyak celanya dibandingkan orang lain. Lebih baik berkaca pada diri sendiri, sudah baikkah kita.  Jangan hanya meneropong kesalahan orang lain, jangan seperti dalam pepatah gajah di depan mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak.

Referensi : Jangan Menyakiti Hati Orang Lain Jika Tak Bisa Membalas kebaikannya





Kebaikan dan Keburukan Sekecil Apa Pun Dibalas Allah Swt

Ilustrasi Gambar : Kebaikan dan Keburukan Sekecil Apa Pun Dibalas Allah Swt

Kebaikan dan Keburukan Sekecil Apa Pun Dibalas Allah Swt. 

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ5

Artinya: "Barangsiapa berbuat kebaikan sebesar zaroh pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan sebasar zaroh pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula." Zaroh adalah bagian terkecil dari sesuatu, yang di dalam Ilmu Fisika disebut atom. Allah SWT menegaskan bahwa tak satu pun perbuatan manusia, meski sekecil atom, lepas dari perhatian dan pengawasan Allah SWT. Perbuatan baik, betapapun kecilnya, pasti akan mendapat balasan. Demikian juga perbuatan jelek pasti akan mendapat balasan. Balasan bisa diterima di dunia ini, dan bisa pula di akhirat kelak. Bahkan tidak menutup kemungkinan ada balasan yang tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa lepas dari pergaulan sesama manusia. Dalam pergaulan itu, disadari atau tidak, kita sering melakukan sesuatu yang jelek, seperti bicara ceplas ceplos tak terkendali dan menyakiti orang lain. Orang-orang yang memiliki masalah ADHD, misalnya, biasanya berperilaku impulsif Perilaku impulsif ditandai dengan ketidakmampuan atau kegagalan mengendalikan gejolak hati. Apa kata hati selalu dituruti, padahal dorongan hati tidak selalu baik. 

Orang-orang impulsif biasanya sangat emosional. Emosinya seringkali mengalahkan pikirannya meskipun mereka mungkin orang-orang yang sangat cerdas. Jika kita termasuk orang seperti ini, kita harus belajar bagaimana mengendalikan ucapan-ucapan yang tidak baik dan menyakiti orang lain. Kita harus bicara yang baik karena segala sesuatu yang baik merupakan sedekah sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah RA sebagai berikut:  كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَ قَةٌ  Artinya: “Setiap kabaikan adalah sedekah.”

Oleh karena perkataan yang baik termasuk sedekah, maka perkataan itu pasti akan mendapatkan balasan yang baik dari Allah SWT. Untuk itu, orang-orang emosional atau pemarah harus belajar mengendalikan lisannya agar tidak bicara seenaknya yang dapat merusak hubungan antar personal. Orang-orang seperti ini biasanya memiliki konflik dengan orang lain. Di dalam keluarga mereka berkonflik dengan anggota keluarga lainnya, seperti dengan isteri atau suami, dengan anak atau orang tua, dan dengan kakak atau adik. Di lingkungan tetangga, mereka juga sering menjadi masalah. Di tempat bekerja, mereka juga sering cekcok dengan teman-teman sendiri. Di tempat-tempat ibadah, mereka juga sering membuat ketidak nyamanan orang lain. 

Silaturrahim bisa terganggu disebabkan oleh perkataan-perkataan yang menyakitkan dari orang-orang emosional. Orang-orang yang sering kita sakiti baik dengan sikap maupun ucapan yang emosional pasti mengalami kesulitan untuk bersaksi bahwa kita orang baik. Padahal kita membutuhkan kesaksian seperti itu ketika kita telah meninggal dunia, misalnya pada saat dibacakan mahasinul mayyit kita dalam upacara takziyah atau layatan. Biasanya, kiai atau ustadz menanyakan kepada pelayat apakah si mayit orang baik. Bagaimana mungkin mereka yang sering kita sakiti akan bersaksi tanpa hambatan bahwa kita orang baik kalau setiap hari di masa hidup kita, kita sering melukai hati mereka? Kalau tokh mereka menjawab bahwa kita orang baik, mungkin mereka mengatakan hal itu hanya di lisan saja karena etika memang menuntut demikian. Padahal di dalam hati, mungkin mereka mengatakan yang sebaliknya.

Rasulullah SAW bersabda:

 مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِا للهِ وَ اْليَوْمِ اْلاخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْلِيَصْمُتْ 

Artinya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” ( HR Muslim) Jadi bicara yang baik itu sangat perlu dan kita harus bisa. Jika tidak, sebaiknya kita memilih diam. Mengapa demikian? Sebab setiap amal baik, sekecil apa pun, pasti akan di balas Allah SWT. Perkataan yang baik tidak saja mendapat pahala dari Allah SWT, tetapi juga secara sosial menciptakan suasana kondusif yang memungkinkan masyarakat untuk hidup bersama dengan damai dan tentram. Orang-orang tua kita sering berpesan, “podho-podho sing ngomong, mbok ngomongo sing apik.” 

Artinya, sama-sama mengeluarkan energi, yakni berbicara, bicaralah yang baik. Maka haruslah kita hindari ucapan-ucapan kotor seperti misuh-misuh, ucapan-ucapan kasar seperti menghujat atau menghardik sebab kesemuanya itu bisa menimbulkan ketidak nyamanan bagi orang lain. Ucapan-ucapan seperti itu pasti akan dicatat malaikat dan kita harus mempertanggung jawabkannya kelak. Pasti akan ada balasan, yakni siksa dari Allah SWT, sebagaimana ditegaskan dalam ayat yang di awal telah disampaikan, yakni:

 وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًا يَرَهُ 

Artinya: “Dan barangsiapa mengerjakan keburukan sebasar zaroh, atau sekecil apa pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula.”  Hidup di dunia ini hanyalah sebentar. Maka hendaknya hidup yang sangat singkat ini kita manfaatkan sebesar-besarnya untuk menyiapkan bekal yang sebanyak-banyaknya untuk hidup abadi di akhirat nanti. Barangsiapa yang bekal akhiratnya sangat banyak, pasti akan hidup bahagia di surga bersama orang-orang saleh yang di ridhai Allah SWT. 

Barangsiapa yang bekal akhiratnya sedikit atau bahkan kurang, pasti akan sengsara di akhirat. Mereka akan menjadi geladangan yang mondar-mandir kesana kemari meminta pertolongan. Maka sisa hidup ini marilah kita isi dengan amal-amal saleh sekecil apa pun kesalehan itu agar kita selamat di dunia dan akhirat.

Referensi : Kebaikan dan Keburukan Sekecil Apa Pun Dibalas Allah Swt







Cara Memotivasi Diri Sendiri Agar Bangkit Setelah Terjatuh

Cara Memotivasi Diri Sendiri Agar Bangkit Setelah Terjatuh

Cara Memotivasi Diri Sendiri Agar Bangkit Setelah Terjatuh. Terpuruk setelah terjatuh boleh-boleh saja. Namun, cobalah untuk membangun motivasi untuk diri sendiri agar kamu bisa segera bangkit.

Setiap orang pasti pernah berada di posisi paling bawah karena terjatuh. Yang menjadi permasalahan adalah bisakah kita bangkit setelah terjatuh? Motivasi untuk diri sendiri sangat penting agar kita bisa segera bangkit dari keterpurukan. Namun, tidak semua orang bisa memotivasi diri sendiri untuk bangkit setelah terjatuh.

Buat kamu yang ingin segera bangkit pasca keterpurukan yang menimpamu, berikut adalah cara membangkitkan motivasi untuk diri sendiri yang bisa kamu contoh:

1.Menyadari Realitas

Tak masalah jika kamu pernah terjatuh dan mengalami keterpurukan. Namun, kamu tidak bisa berlarut-larut tenggelam dalam keterpurukan tersebut. Coba bangkitkan motivasi untuk diri sendiri dengan cara menyadari realitas yang terjadi. Lihatlah pada kenyataan yang ada bahwa jika kamu tidak bergerak dari keterpurukan, maka tak akan ada yang bisa menyelamatkanmu.

2.Tidak Merasa Malu

Ketika berada di posisi paling bawah setelah terjatuh, perasaan malu pasti akan menyeruak. Kamu jadi memikirkan pandangan orang lain terhadapmu sehingga pada akhirnya kamu merasa malu dan minder.

Kunci agar kamu bisa segera bangkit adalah tidak mudah merasa malu. Percayalah bahwa setiap orang pasti pernah terjatuh dan jangan biarkan rasa malumu itu menghambatmu untuk segera bangkit dan survive kembali.

3.Istirahat Sebentar dari Rutinitas

Saatnya ambil waktu sejenak untuk memotivasi diri sendiri. Mungkin kamu perlu banyak waktu untuk merenung dan introspeksi diri. Jadi, tak ada salahnya jika beristirahat sebentar dari rutinitas sehari-hari.

Rutinitas terkadang membuat batin dan fisik menjadi lelah sehingga kamu tidak sempat untuk memperbaiki mental diri sendiri. Cobalah untuk istirahat sejenak agar kamu dapat membangkitkan perasaan yang sempat down dan bangkit kembali melanjutkan hidup.

4.Berlibur ke Tempat yang Menyenangkan

Motivasi untuk diri sendiri tidak harus dilakukan dengan menyepi dan merenung. Terkadang kamu juga butuh refreshing untuk menyegarkan pikiran dan perasaan yang sempat terjatuh dalam keterpurukan.

Rencanakan liburan ke tempat yang menyenangkan bagimu. Kamu butuh waktu untuk berganti suasana agar mood menjadi lebih baik. Nah, selama berlibur kamu pun dapat memanfaatkan waktu untuk mengintrospeksi diri dan menyemangati diri sendiri agar segera melawan perasaan down dan terpuruk.

5.Menyusun Kembali Rencana Selanjutnya

Rencana adalah suatu hal yang sangat penting untuk dibuat. Tanpa adanya rencana kamu tidak bakal memiliki pencapaian. Padahal, pencapaian merupakan sebuah harapan agar kamu bisa segera bangkit setelah terjatuh.

Luangkan waktu untuk menyusun kembali rencana selanjutnya. Percayalah bahwa semua yang bersifat baik pasti akan berjalan dengan lancar. Jadi, kamu tak perlu cemas akan kegagalan rencana yang sudah kamu buat ini. Jika memang suatu saat gagal, jangan takut untuk mencobanya lagi.

6.Selalu Bersyukur

Tanpa disadari orang lebih sulit untuk bersyukur dan lebih mudah mengeluh. Padahal dengan bersyukur kamu jadi bisa belajar cara motivasi untuk diri sendiri. Saat kamu sedang berada di posisi paling bawah, lihatlah di sekelilingmu karena masih banyak orang tidak lebih beruntung dari kamu.

7.Jadikan Kegagalan Sebagai Pembelajaran

Kegagalan merupakan hal yang biasa. Bahkan, ketika kamu terjatuh sekali, buatlah pengalamanmu tersebut menjadi pembelajaran yang berharga agar tidak terulang kembali di kemudian hari. Sudah saatnya untuk bangkit dan mencari cara untuk motivasi diri sendiri. Ingat, terus menerus terpuruk justru tidak akan membuatmu bahagia dan berguna bagi orang-orang di sekitarmu.

Referensi : Cara Memotivasi Diri Sendiri Agar Bangkit Setelah Terjatuh




Tanda-Tanda Membenci Diri Sendiri dan Cara Menghentikannya

Ilustrasi : Tanda-Tanda Membenci Diri Sendiri dan Cara Menghentikannya


Tanda-Tanda Membenci Diri Sendiri dan Cara Menghentikannya. Rasa benci tidak hanya bisa tertuju pada orang lain, tetapi juga pada diri sendiri. Hati-hati, membenci diri sendiri dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental dan kehidupan sosial, Oleh karena itu, kenali apa saja tanda membenci diri sendiri dan cara menghentikannya.

Membenci diri sendiri (self-hatred atau self-loathing) bisa disebabkan oleh banyak hal, mulai dari sifat perfeksionis atau memiliki harapan terlalu tinggi, tidak percaya diri atau memiliki self-esteem yang rendah, hingga gangguan mental tertentu, misalnya depresi dan gangguan bipolar.

Tidak hanya itu, orang yang memiliki sifat membenci diri sendiri juga mungkin pernah mengalami peristiwa traumatis, seperti pelecehan fisik, seksual, atau emosional.

Munculnya perasaan marah, malu, kecewa, membenci diri sendiri, atau perasaan negatif lainnya ketika mengalami kegagalan adalah hal yang normal terjadi. Namun, emosi tersebut seharusnya hanya muncul dalam waktu singkat.

Jika berlarut-larut dan sulit diubah menjadi pikiran yang positif, rasa membenci diri sendiri bisa berbahaya atau menjadi toxic.

Ini Tanda-Tanda Membenci Diri Sendiri

Orang yang membenci dirinya sendiri sering kali akan menyalahkan diri atas semua hal yang terjadi di kehidupannya. Meskipun kesalahan yang dibuat tidak disengaja, ia akan tetap merasa bahwa kesalahan yang dibuat telah menghancurkan segalanya.

Di samping itu, ada beberapa tanda-tanda lain yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki perasaan benci terhadap diri sendiri yang berlebihan, yaitu:

Terlalu fokus pada hal yang negatif atau pesimistis berlebihan (Meski sedang mengalami hal yang baik, pikirannya akan tertuju pada kemungkinan buruk yang bisa terjadi)

Sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan cenderung rendah diri

Tidak percaya diri

Sulit menerima pujian dari orang lain dan berpikir bahwa hal itu hanyalah sikap manipulatif atau tidak tulus

Selalu merasa seperti orang asing yang tengah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar dan merasa bahwa orang lain tidak menyukai dirinya

Sulit menerima kritikan atau pendapat orang lain dan menganggapnya sebagai hinaan atau serangan yang bersifat pribadi

  • Sering merasa cemburu terhadap orang lain
  • Berpikir bahwa setiap hubungan ia dengan orang lain akan berakhir buruk
  • Enggan untuk memiliki impian karena takut akan kegagalan
  • Cara Berhenti untuk Membenci Diri Sendiri

Sikap membenci diri sendiri yang berlebihan bisa membuat seseorang sulit berkembang. Karena emosi negatif yang terus terpendam ini, ia juga mungkin akan merasa sulit menjalin hubungan dengan orang lain, baik itu teman, pasangan, atau rekan kerja.

Di samping itu, sikap ini juga dapat meningkatkan risiko seseorang untuk melakukan perilaku yang merusak diri, seperti makan berlebihan, mengasingkan diri, merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, atau menggunakan obat-obatan terlarang. Orang yang terlalu membenci dirinya sendiri juga rentan merasa ingin bunuh diri.

Agar kamu bisa menghentikan sikap membenci diri sendiri dan terhindar dari bahayanya, lakukanlah hal-hal berikut ini:

1. Lawan pola pikir negatif

Rasa benci pada diri sendiri akan terus muncul ketika kamu selalu menggunakan pola pikir negatif. Saat pikiran-pikiran negatif muncul, cobalah untuk tidak terlalu mengikutinya karena hal tersebut belum tentu benar.

Daripada terus menyalahkan diri sendiri, cobalah untuk berpikir lebih terbuka dan mencari solusi agar penyebab munculnya perasaan tersebut bisa teratasi.

2. Coba untuk memaafkan

Belajarlah untuk bisa berdamai dan memaafkan diri sendiri. Pahami bahwa kesalahan yang terjadi bukan merupakan tanda bahwa kamu gagal atau tidak memiliki kemampuan untuk sukses.

Ingatlah, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, termasuk dirimu. Perasaan benci diri sendiri yang dibiarkan bisa membuatmu sulit untuk berkembang, lho.

Daripada terpaku pada kegagalan hidup, cobalah untuk move on dan belajar dari kesalahan tersebut, agar kamu tidak mengulanginya lagi di kemudian hari.

3. Belajar mencintai diri sendiri

Alih-alih terus membenci dan menghakimi dirimu sendiri, yuk, mulai belajar untuk mencintai diri sendiri, misalnya dengan menanamkan nilai body positivity. Ketika rasa cinta pada diri sudah tumbuh, kamu akan bisa lebih bersyukur dengan segala hal yang dimiliki, menikmati proses hidup yang dijalani, dan merasa lebih bahagia.

Biasakan diri juga untuk melakukan positive self-talk guna melatih diri agar terbiasa melihat suatu hal dalam sudut pandang yang positif.

5. Belajar menerima pujian

Ketika mendapatkan pujian, jangan langsung menolaknya atau merasa kamu tidak pantas untuk mendapatkannya. Ucapkanlah terima kasih pada orang yang melontarkan pujian itu lalu bersyukur akan hal baik yang telah kamu lakukan. Ini bisa menjadi cara yang baik untuk menghargai dan memotivasi dirimu.

5. Tulis buku harian

Cobalah untuk menulis dalam buku harian tentang emosi yang dirasakan dan penyebabnya. Dari sini, kamu mungkin dapat mengidentifikasi kesalahan-kesalahanmu dan mencari cara atau strategi yang tepat untuk memperbaiknya. Dengan ini, kamu juga bisa terlatih untuk membentuk pola pikir yang lebih baik.

6. Habiskan waktu bersama orang-orang yang membuatmu bahagia

Terkungkung dalam pergaulan yang tidak sehat dapat terus menumbuhkan pemikiran negatif. Daripada mengandalkan orang yang tidak bisa menumbuhkan hal positif di hidupmu, cobalah untuk mencari lingkungan baru dan bergaul dengan orang-orang yang bisa menghargai satu sama lain.

Terhubung dengan orang-orang yang positif akan membantu kamu untuk merasa lebih baik dan rasa membenci diri sendiri lambat laun bisa menghilang. Ini juga bisa dilakukan sebagai salah satu bentuk support system yang baik untuk kesehatan mentalmu.

Kebencian pada diri sendiri dapat memengaruhi banyak aspek kehidupan sehari-hari. Jadi, daripada terus membebani dirimu dengan perasaan itu, cobalah lakukan cara-cara di atas agar kamu bisa mulai berhenti membenci diri dan lebih mencintai diri sendiri.

Pastikan juga untuk selalu menerapkan pola hidup sehat, agar kesehatan fisik dan mentalmu senantiasa terjaga.

Keluar dari kondisi ini memang membutuhkan waktu dan kesabaran. Namun, jangan menyerah, ya. Bila kamu merasa kesulitan dan butuh bantuan untuk mengatasi rasa membenci diri sendiri, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog.

Referensi : Tanda-Tanda Membenci Diri Sendiri dan Cara Menghentikannya











Perperangan melawan hawa nafsu yang ada dalam diri sendiri

Ilustrasi : Perperangan melawan hawa nafsu yang ada dalam diri sendiri

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, ketika pasukan kaum Muslim pulang dari Perang Uhud, Rasulullah SAW berpesan, "Kita baru pulang dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu."  Sekalipun banyak muhaddist (pakar ilmu hadis) mempertanyakan kesahihan riwayat hadis tersebut, secara maknawi hadis ini sangatlah sesuai dengan realitas. Faktanya, memang melawan hawa nafsu lebih berat daripada melawan musuh.

Berjihad mengangkat senjata seluruhnya adalah kebaikan. Jika kalah dan terbunuh, akan mendapatkan syahid yang tentunya masuk surga. Jika menang, kemuliaan, mendapatkan rampasan perang, serta ganjaran besar siap menanti. Tiada kerugian bagi mereka yang berperang melawan musuh.

Namun, perperangan melawan hawa nafsu yang ada dalam diri sendiri ternyata tidaklah segampang itu. Jika kalah, akan mendapatkan neraka. Jika menang, akan diuji dengan godaan yang lebih berat lagi. Senantiasa akan terus seperti itu sampai akhirnya ajal menjemput. Pertempuran melawan hawa nafsu dan diri sendiri ternyata sangatlah berisiko.

Perang melawan diri sendiri mengisyaratkan perang yang terberat daripada perang melawan musuh Islam. Dalam Alquran ditekankan, untuk melawan sesuatu yang datang dari dalam diri jauh lebih berat daripada melawan musuh dari luar.

Dalam surah an-Naas disampaikan, "Katakanlah, aku berlindung dengan Rabb manusia. Penguasa manusia. Sembahan manusia. Dari waswas (bisikan) setan yang bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. (Yang berasal) dari jin dan manusia." (QS an-Naas [114]: 1-6).

Dalam surat ini, manusia diperintahkan untuk berlindung kepada Allah sebanyak tiga kali. Seorang Muslim disuruh berlindung kepada Allah sebagai Rabb, Penguasa, dan Sembahan manusia. Semua itu hanya untuk menghadapi rasa waswas yang datang dari dalam dirinya.

Berbeda dengan surah al-Falaaq yang mengatakan, "Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya. Dan, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan, dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang mengembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki." (QS al-Falaaq [113]: 1-5). Dalam surah ini, perintah untuk berlindung kepada Allah hanya satu kali. Padahal, kejahatan yang menyerangnya datang dari beraneka ragam, yakni kejahatan malam, wanita tukang sihir, dan para pendengki.

Dari surah an-Naas dan surah al-Falaaq disimpulkan, melawan sesuatu yang datang dari diri sendiri jauh lebih berat ketimbang melawan musuh dari luar. Untuk itulah, seseorang diseru untuk berlindung tiga kali lebih banyak ketika menghadapi dirinya sendiri.

Seseorang yang dapat mengangkat beban yang sangat berat terkadang tidak mampu mengangkat selimutnya untuk menunaikan shalat Subuh atau shalat Tahajud. Seorang yang melakukan perjalan sangat jauh terkadang tak mampu berjalan ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah.

Hal ini membuktikan, melawan godaan yang datang dari diri sendiri lebih berat ketimbang melawan sesuatu yang nyata dari luar. Menaklukkan hawa nafsu dan melawan godaan-godaan setan ternyata lebih berat daripada melawan musuh Islam.

Dalam surah an-Naas juga diisyaratkan, betapa hebatnya rasa waswas dan galau yang diciptakan setan bagi manusia. Waswas adalah usaha setan mengganggu seseorang Muslim agar tidak memiliki keikhlasan dalam ibadahnya. Waswas juga membuyarkan sesuatu yang sudah jelas dalam ajaran agama.

Rasa waswas yang diciptakan setan juga bisa menjadikan seseorang seperti orang gila. Terkadang, ia bisa mengulang-ngulang perbuatan yang sama. Seperti ragu, apakah ia lepas angin atau tidak. Hal ini seperti ditegaskan Rasulullah SAW dalam sabdanya, "Apabila ada di antara kalian ketika shalat merasakan ada yang bergerak dalam duburnya seperti berhadas atau tidak dan dia ragu, maka janganlah dibatalkan shalatnya sehingga mendengarkan suaranya atau mencium baunya." (HR Abu Daud, Ahmad, dan Baihaqi).

Hal ini juga dikuatkan dalam sebuah kaidah fikih, "Suatu keyakinan itu tidak bisa dihilangkan dengan sebuah keraguan." Kesimpulannya, sesuatu yang hanya berdasar pada perasaan atau keraguan tidak bisa dijadikan pedoman untuk memutuskan bahwa wudhu atau shalat kita itu batal. Tentu saja, keraguan lebih tidak bisa lagi untuk memutuskan perkara yang lebih besar dari sekadar wudhu.

Demikian juga rasa waswas dan galau yang menjangkiti generasi muda umat Islam. Dengan galau yang meliputi hati, menjadikan generasi muda tidak lagi produktif dan bermanfaat. Padahal, banyak kreativitas dan prestasi yang bisa diraih ketika usia masih muda.

Surah an-Naas menegaskan, seseorang tidak bisa menganggap enteng bisikan-bisikan negatif yang datang dari dalam dirinya. Berlindunglah kepada Allah tiga kali lebih banyak untuk menaklukkan diri sendiri. Banyak orang hebat ditumbangkan karena tak mampu melawan godaan dari dalam dirinya. Banyak pejabat hebat yang terjatuh karena tak mampu melawan bisikan korupsi dari dalam dirinya. Semoga kita bisa menjinakkan nafsu yang membara dalam diri menuju pada ridha Allah SWT.


Referensi : perperangan melawan hawa nafsu yang ada dalam diri sendiri










Fokus Berbenah dan Memperbaiki Diri

Ilustrasi : Fokus Berbenah dan Memperbaiki Diri. Kadangkita selalu merasa lebih baik dari orang lain dan sibuk menilai kekurangan dan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain, sifat ini kadang membuat kita lalaidari muhasabah dan introspeksi diri sebab kita selalu fokus menilai danmengomentari kehidupan orang lain dan meminta orang lain untuk membenahihidupnya seolah kehidupan kita sudah baik, lalu terlintas dalam pikiransepertinya kita perduli dengan orang lain dan kitapun menyarankan agar hiduporang lain menjadi lebih baik tapi kita lupa untuk membenahi hidup kita sendiri  Yah begitulah hidup, kita pasti akan merasa terganggu ketika ada orang yangtiba-tiba datang tanpa diundang lalu mengomentari apa yang kita lakukan.Berhentilah menjadi pahlawan kesiangan seolah-olah kita peduli padahal kitacuma penasaran kita sibuk mencampuri urusan orang lain dan selalu ingin tahukehidupan orang lain karena didasari rasa iri dan parahnya ketika dalam hatikita merasa senang kalau melihat orang lain mendapat kesusahan dan susahmelihat orang lain senang, semoga kita tidak termasuk golongan tersebut yangsusah melihat orang lain senang dan senang melihat orang lain susah, hanya kitasendiri yang dapat menjawabnya.  Kendalikan hati dan kurangi mengurusi urusan orang lain mending fokus mengurusi kebaikan diri, hidup ini mudah kalau kita bisa menjalani hidup kita sendiri, yang susahdan berat jika kita sibuk mengurusi hidup orang lain, kita kadang lupa karenasering dan sibuk dengan urusan orang lain sampai hidup kita sendiri berantakankarena mengurusi urusan orang lain yang sebenarnya bukan tanggung jawab kita  Kalau diminta ikut campur silahkan memberikan solusi, tapi klau tidak diminta berartiitu bukan urusan kita, hidup kita belum tentu benar maka tidak usah membenarkanhidup orang lain, jangan sia-siakan waktu kita untuk mengurusi urusan oranglain, manfaatkan waktu kita untuk menjadi pribadi yang lebih berguna danbermanfaat untuk orang lain. Sibuk dengan masalah dan urusan orang lain adalahtanda bahwa memang kita tidak memiliki kerjaan. Hidup ini hanya sementara,setiap hati, pikiran, penglihatan, pendengaran kita semua akan dimintaipertanggung jawaban  Jangan sibukkan diri dengan hal yang tidak bermanfaat, karena jika diri hanya sibuk menilai kekurangan dan kesalahan orang lain, bisa jadi kita akan kehabisanwaktu untuk memperbaiki diri, sekali lagi kendalikanlah hati untuk tidak merasabahwa diri telah lebih baik dari siapapun, sungguh jika sifat demikian terusdibiarkan dan bersemayam di hati, maka pada akhirnya sifat iri dan dengki akanbersemayam di dalam hati dan akan sulit untuk kita hilangkan.  Ketika muncul rasa kepo pada diri kita maka mulailah muhasabah bahwa seharusnya diri pribadi yang lebih awal kita perbaiki sebelum menilai orang lain sebabdiakhirat nanti, masing-masing diri akan mempertanggungjawabkan  hasil perbuatan kita, setiap ucapan,penglihatan dan pendengaran akan dimintai pertanggung jawabannya selama didunia. Sebagaimana hadits "Koreksilah diri kalian sebelum kalian dihisabdan berhiaslah (dengan amal shalih) untuk pagelaran agung (pada hari kiamatkelak)” (HR. Tirmidzi)  Tundukkanlah hati dari merasa lebih baik dari orang lain, jangan pernah menganggap kita lebih baik dan sempurna dari orang lain. Jangan sampai semakin memperbaiki dirisemakin merasa telah baik dan suci, selalu dahulukan persangkaan baik dan jauhipersangkaan buruk karena belum tentu apa yang kita lihat itu sesuai dengan yangterjadi, maka selalulah berbenah dengan introspeksi diri dengan mendahulukan persangkaanbaik kita kepada siapapun karena kitapun belum tentu lepas dari yang namanyakesalahan dan kekhilafan.  Maka dari itu, jika telah berhasil sibuk memperbaiki diri, upayakanlah hati jugaterjaga dengan baik dan benar. Jangan sampai sibuk berupaya baik, namun tetapseenaknya menilai orang lain yang juga belum baik, berupaya menyibukkan dirimengurusi kekurangan diri sendiri maka tentu tak ada waktu untuk mengurusikekurangan orang lain.  Sebaik apapun diri kita bila bandingkan dengan orang lain tetap saja, dihadapan Allah Subhanahu wa ta’ala kita memiliki derajat yang sama yang membedakan adalahketakwaan kita kepada Allah, Semoga kita menjadi pribadi yang selalu berbenahdan fokus pada perbaikan diri sebab terangkatnya musibah dan diringankannya hisabdi hari kiamat adalah ketika seorang senantiasa bermuhasabah. Umar radhiallahuanhu mengatakan, “Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanyabagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia” (HR. Tirmidzi)  Semoga hari kita selalu lebih baik dari hari kemarin dan kita selalu memperbaiki dan meluruskan niat kita karena Allah, selalu mendahulukan persangkaan baik kepadasiapapun dan menjadi pribadi yang selalu bermanfaat bagi orang lain. Perbanyak do’a diwaktu mustajab ini, semoga Allah subhana wa ta’ala memberikan kita umuryang panjang dan berberkah dan mengabulkan tiap baris dari do’a-do’a kita.  Referensi : Fokus Berbenah dan Memperbaiki Diri

Fokus Berbenah dan Memperbaiki Diri. Kadangkita selalu merasa lebih baik dari orang lain dan sibuk menilai kekurangan dan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain, sifat ini kadang membuat kita lalaidari muhasabah dan introspeksi diri sebab kita selalu fokus menilai danmengomentari kehidupan orang lain dan meminta orang lain untuk membenahihidupnya seolah kehidupan kita sudah baik, lalu terlintas dalam pikiransepertinya kita perduli dengan orang lain dan kitapun menyarankan agar hiduporang lain menjadi lebih baik tapi kita lupa untuk membenahi hidup kita sendiri

Yah begitulah hidup, kita pasti akan merasa terganggu ketika ada orang yangtiba-tiba datang tanpa diundang lalu mengomentari apa yang kita lakukan.Berhentilah menjadi pahlawan kesiangan seolah-olah kita peduli padahal kitacuma penasaran kita sibuk mencampuri urusan orang lain dan selalu ingin tahukehidupan orang lain karena didasari rasa iri dan parahnya ketika dalam hatikita merasa senang kalau melihat orang lain mendapat kesusahan dan susahmelihat orang lain senang, semoga kita tidak termasuk golongan tersebut yangsusah melihat orang lain senang dan senang melihat orang lain susah, hanya kitasendiri yang dapat menjawabnya.

Kendalikan hati dan kurangi mengurusi urusan orang lain mending fokus mengurusi kebaikan diri, hidup ini mudah kalau kita bisa menjalani hidup kita sendiri, yang susahdan berat jika kita sibuk mengurusi hidup orang lain, kita kadang lupa karenasering dan sibuk dengan urusan orang lain sampai hidup kita sendiri berantakankarena mengurusi urusan orang lain yang sebenarnya bukan tanggung jawab kita

Kalau diminta ikut campur silahkan memberikan solusi, tapi klau tidak diminta berartiitu bukan urusan kita, hidup kita belum tentu benar maka tidak usah membenarkanhidup orang lain, jangan sia-siakan waktu kita untuk mengurusi urusan oranglain, manfaatkan waktu kita untuk menjadi pribadi yang lebih berguna danbermanfaat untuk orang lain. Sibuk dengan masalah dan urusan orang lain adalahtanda bahwa memang kita tidak memiliki kerjaan. Hidup ini hanya sementara,setiap hati, pikiran, penglihatan, pendengaran kita semua akan dimintaipertanggung jawaban

Jangan sibukkan diri dengan hal yang tidak bermanfaat, karena jika diri hanya sibuk menilai kekurangan dan kesalahan orang lain, bisa jadi kita akan kehabisanwaktu untuk memperbaiki diri, sekali lagi kendalikanlah hati untuk tidak merasabahwa diri telah lebih baik dari siapapun, sungguh jika sifat demikian terusdibiarkan dan bersemayam di hati, maka pada akhirnya sifat iri dan dengki akanbersemayam di dalam hati dan akan sulit untuk kita hilangkan.

Ketika muncul rasa kepo pada diri kita maka mulailah muhasabah bahwa seharusnya diri pribadi yang lebih awal kita perbaiki sebelum menilai orang lain sebabdiakhirat nanti, masing-masing diri akan mempertanggungjawabkan  hasil perbuatan kita, setiap ucapan,penglihatan dan pendengaran akan dimintai pertanggung jawabannya selama didunia. Sebagaimana hadits "Koreksilah diri kalian sebelum kalian dihisabdan berhiaslah (dengan amal shalih) untuk pagelaran agung (pada hari kiamatkelak)” (HR. Tirmidzi)

Tundukkanlah hati dari merasa lebih baik dari orang lain, jangan pernah menganggap kita lebih baik dan sempurna dari orang lain. Jangan sampai semakin memperbaiki dirisemakin merasa telah baik dan suci, selalu dahulukan persangkaan baik dan jauhipersangkaan buruk karena belum tentu apa yang kita lihat itu sesuai dengan yangterjadi, maka selalulah berbenah dengan introspeksi diri dengan mendahulukan persangkaanbaik kita kepada siapapun karena kitapun belum tentu lepas dari yang namanyakesalahan dan kekhilafan.

Maka dari itu, jika telah berhasil sibuk memperbaiki diri, upayakanlah hati jugaterjaga dengan baik dan benar. Jangan sampai sibuk berupaya baik, namun tetapseenaknya menilai orang lain yang juga belum baik, berupaya menyibukkan dirimengurusi kekurangan diri sendiri maka tentu tak ada waktu untuk mengurusikekurangan orang lain.

Sebaik apapun diri kita bila bandingkan dengan orang lain tetap saja, dihadapan Allah Subhanahu wa ta’ala kita memiliki derajat yang sama yang membedakan adalahketakwaan kita kepada Allah, Semoga kita menjadi pribadi yang selalu berbenahdan fokus pada perbaikan diri sebab terangkatnya musibah dan diringankannya hisabdi hari kiamat adalah ketika seorang senantiasa bermuhasabah. Umar radhiallahuanhu mengatakan, “Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanyabagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia” (HR. Tirmidzi)

Semoga hari kita selalu lebih baik dari hari kemarin dan kita selalu memperbaiki dan meluruskan niat kita karena Allah, selalu mendahulukan persangkaan baik kepadasiapapun dan menjadi pribadi yang selalu bermanfaat bagi orang lain. Perbanyak do’a diwaktu mustajab ini, semoga Allah subhana wa ta’ala memberikan kita umuryang panjang dan berberkah dan mengabulkan tiap baris dari do’a-do’a kita.

Referensi : Fokus Berbenah dan Memperbaiki Diri








7 Cara Memperbaiki Diri dalam Islam

Ilustrasi : 7 Cara Memperbaiki Diri dalam Islam

7 Cara Memperbaiki Diri dalam Islam. Seorang muslim wajib tahu bagaimana cara memperbaiki diri dalam Islam. Meski pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna, namun tekad untuk selalu memperbaiki diri menjadi lebih baik harus ditanamkan di dalam hati.  Sebelum mengatahui cara memperbaiki diri dalam Islam, sebaiknya kita terlebih dahulu tahu apa saja kekurangan yang ada di dalam diri. Lalu bagaimana cara mengetahui kekurangan diri?

Ulama Senior Al-Azhar Mesir, Syekh Ali Jumah, memberi beberapa tips untuk mengetahui kekurangan yang ada di dalam diri. Setidaknya, menurut beliau, ada lima cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui kekurangan diri mengacu pendapat Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, di antaranya:

Pendapat guru

Cara pertama untuk mengetahui kekurangan diri adalah meminta pendapat dari guru. Duduklah bersama guru dan minta pendapatnya tentang diri kita. Duduklah bersama guru yang alim dan sering membimbing kita. Guru adalah penasihat yang jujur dan akan memberi masukan saat dibutuhkan

Pendapat sahabat

Cara kedua untuk mengetahui kekurangan diri adalah meminta pendapat dari sahabat dekat. Dalam bahasa arab, kata teman disebut dengan “sodiq”, karena teman adalah orang yang berbicara jujur kepadamu seberapa pahit pun rasanya

Kata shadiq atau teman ini sesuai dengan pepatah Arab yang menyebut, “temanmu adalah yang berkata benar kepadamu, bukan yang membenar-benarkan kamu.”

Muhasabah diri

Cara ketiga untuk mengetahui kekurangan diri dengan metode perenungan atau muhasabah. Dengan berpikir secara mendalam tentang diri, seseorang akan menyadari apa saja kekurangan yang dimilikinya.

Pendapat musuh

Cara keempat untuk mengetahui kekurangan diri adalah dengan mendengarkan pendapat musuh tentang diri kita. Harus kita akui, musuh adalah orang yang selalu mencari kesalahan lawannya. Maka pendapat dia bisa jadi hal yang benar namun kita tidak menyadarinya.

Melihat lingkungannya

Cara kelima untuk mengetahui kekurangan diri adalah dengan melihat lingkungan masyarakat atau komunitas yang diempati. Nabi menyebut orang mukmin bagaikan cermin bagi mukmin lainnya. Sehingga baik atau buruknya seseorang bisa dilihat dari lingkungan yang orang-orang ini jalani.

Setidaknya ada 7 cara memperbaiki diri dalam Islam yang bisa menjadi panduan bagi seorang muslim. Berikut penjelasannya:

Untuk memperbaiki diri perlu adanya niat dan tekad yang kuat. Tanpa adanya niatan untuk kearah yang lebih baik, seseorang tidak akan pernah bisa memperbaiki dirinya. Dan niat tersebut yang akan membuat seseorang istiqomah dalam melakukan perubahan dan memperbaiki dirinya.

Mendekatkan diri kepada Allah akan sangat membantu kita dalam memperbaiki diri. Orang yang senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah akan merasa malu dan takut untuk melakukan perbuatan buruk dan dosa. Mendekatkan diri kepada Allah juga merupakan salah satu cara diri menjadi lebih baik menurut Islam. Kita memperbaiki diri semata-mata hanya untuk mendapat ridha dari-Nya, jadi mulailah untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya melalui shalat, dzikir, dan ibadah yang lainnya. Insya’allah Allah akan senantiasa menyertai langkah hamba-hambanya yang taat.

Dengan rajin menunaikan shalat lima waktu kita akan semakin mendekatkan diri kepada Allah, dan ibadah seperti shalat merupakan salah satu cara untuk memperbaiki diri. Karena ibadah seperti shalat dapat mencegah kita untuk melakukan kemunkaran dan mencegah kita dari perbuatan buruk.

Memperbaiki diri berarti menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya, dan hal tersebut perlu untuk meninggalkan kebiasaan buruk yang sebelumnya sering dilakukan. Kebiasaan buruk memang tidak dapat dihilangkan dan ditinggalkan sekaligus, namun kita bisa memulainya secara bertahap.

Sebagai muslim yang baik, tentu kita tahu apa manfaat Alquran dalam hidup kita. Dan sebagai seorang muslim sudah sepatutnya kita rajin membaca salah satu sumber syariat Islam bagi umat muslim serta mengamalkan kandungan isinya.

Alquran bukan hanya sekedar untuk dibaca, namun juga perlu di amalkan dan diingat. Dan cara agar tetap istiqomah adalah dengan lebih banyak mempelajari Alquran dan isinya.

Lingkungan dan orang sekitar terkadang juga dapat mempengaruhi perilaku dan akhlak kita, oleh karena itu pandai-pandailah dalam memilih teman, namun tidak lantas menilai orang yang berakhlak kurang baik tidak pantas untuk dijadikan teman.

Berteman dengan orang shalih maksudnya adalah untuk melakukan perubahan dan memperbaiki diri, kita pasti membutuhkan saran dan seseorang untuk mengingatkan kekhilafan kita, dan untuk itu bertemanlah dengan orang yang shalih yang mampu mendukung kita dalam memperbaiki diri.

Dalam memperbaiki diri, perlu adanya evaluasi diri untuk melihat sudah sejauh manakah perubahan yang kita lakukan. Dan mengevaluasi hal-hal apa saja dalam diri kita yang masih perlu untuk diperbaiki.

Setelah mengevaluasi diri kita harus tetap istiqomah dalam melakukan perubahan atau dalam memperbaiki diri, jangan sampai kita merasa lelah dan bahkan tidak ingin lagi memperbaiki diri menjadi lebih baik. Setelah mengetahui cara memperbaiki diri dalam Islam di atas, semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi di hadapan Allah SWT.

Referensi : 7 Cara Memperbaiki Diri dalam Islam



Berdakwah Terlebih Dahulu Kepada Diri Sendiri

Ilustrasi : Berdakwah Terlebih Dahulu Kepada Diri Sendiri

Sebagaimana dipahami oleh banyak orang, berdakwah ditujukan kepada orang lain. Juru dakwah sebagaimana dipahami selama ini adalah bertugas mendakwahi siapa saja. Sementara itu dirinya sendiri sudah diangap cukup, dan kemudian tugasnya adalah mengajak orang lain. Pemahaman yang demikian itu, tentu tidak keliru, hanya sebenarnya seseorang boleh mengajak orang lain, sepanjang dirinya sendiri telah menjalankannya.

Seseorang, lebih-lebih juru dakwah, hendaknya sehari-hari menjalankan sesuatu yang dipandang baik dan kemudian baru orang lain diajaknya. Meniru jejak para nabi dan para rasul adalah demikian itu. Mereka menjalankan kebaikan, dan kemudian orang lain diajaknya serta. Namun pada kenyataannya, seseorang berdakwah justru kepada orang lain. Sementara dirinya sendiri belum tentu menjalankannya.

Berdakwah kepada orang lain, sementara itu dirinya sendiri belum menjalankannya maka sebenarnya ditegur keras oleh Allah. Disebutkan di dalam al Qur'an (2:44) : 'mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab. Maka tidaklah kamu berpikir? Teguran lainnya : (61: 2-3) Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?

Ajaran Islam ditujukan kepada semua orang. Di hadapan Allah dan Rasulnya, semua orang berposisi sama. Para mubaligh bukan dipandang lebih tinggi dibanding orang lain, kecuali dalam ketaqwaannya. Yaitu orang-orang yang telah menjalankan kebaikan atau mampu memelihara dirinya sendiri. Orang yang belum mampu memelihara dirinya sendiri tidak seharusnya mengajak orang lain. Itulah sebabnya terdapat perintah di dalam al Qur'an agar seseorang menjaga diri sendiri dan keluarga dari ancaman api neraka.

Jam'iyyatul Islamiyah sebagai sebuah organisasi dakwah di dalamnya terhimpun orang-orang yang berusaha memperbaiki dirinya sendiri sebelum mengajak orang lain. Menganggap bahwa dirinya sendiri belum baik. Sementara itu, menjadikan semakin baik dirasakan bukan perkara mudah. Agar seseorang tidak menyalahkan orang lain, tidak tinggi hati atau tidak sombong, tidak bakhil, terjauh dari penyakit iri hati, dengki, hasut, permusuhan, menganggap orang lain rendah, dan seterusnya, adalah semuanya pasti tidak mudah

Sudah menjadi kenyataan bahwa melawan berbagai jenis penyakit hati dimaksud bukan perkara mudah. Seseorang pasti tidak mau dirinya disalahkan, berkekurangan, dikalahkan, dan kelintasan orang lain. Manakala hal itu terjadi maka segera marah. Mengatasinya tidak mudah dan tidak akan mungkin dapat meminta pertolongan orang lain. Penyakit yang mencelakakan itu selalu berada pada dirinya sendiri. Oleh karena itu yang bersangkutan sendiri yang seharusnya melawannya. Bahkan orang lain tidak mengetahui bahwa seseorang sedang dilanda penyakit hati itu, kecuali tampak dari gejalanya saja.

Maka menjadi tepat, bahwa setiap orang seharusnya sibuk memperbaiki dirinya sendiri dan bukan disibukkan untuk memperbaiki orang lain. Berdakwah seharusnya ditujukan kepada dirinya sendiri terlebih dahulu, sebelum ditujukan kepada orang lain. Orang-orang yang terhimpun pada organisasi Jam'iyyatul Islamiyah berkeyakinan sebagaimana digambarkan itu, yaitu berusaha melihat dan memperbaiki apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri.

Di dalam Islam, seseorang dianjurkan agar lebih menyibukkan diri untuk bermuhasabah atau berinstropeksi dibanding menghitung kekeliruan atau kesalahan orang lain. Bersibuk memperbaiki atau mengubah diri sendiri lebih diutamakan dibanding mengubah orang lain. Seseorang sebenarnya tidak memiliki kekuatan apapun untuk mengubah orang lain. Mereka hanya sebatas bisa diajak bermusyawarah dan tidak mungkin dipaksa untuk diubahnya. 

Referensi : Berdakwah Terlebih Dahulu Kepada Diri Sendiri




















Tidak ada yang abadi dalam kehidupan selain perubahan

Ilustrasi : Tidak ada yang abadi dalam kehidupan selain perubahan

Tidak ada yang abadi dalam kehidupan selain perubahan. Tidak ada yang abadi dalam kehidupan selain perubahan. Orang yang tak berubah dari buruk menjadi baik atau dari baik menjadi lebih baik diibaratkan seperti orang yang jatuh ke lubang yang sama dua kali. Orang beriman tidak akan seperti itu. Rasulullah mengatakan dalam hadisnya, "Orang beriman tidak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Orang beriman tak akan melakukan kesalahan yang sama seperti sebelumnya. Ia justru akan belajar darinya, menyesalinya, lalu memperbaiki diri dengan sungguhsungguh, berubah menjadi baik. Bila kesalahan itu berkaitan dengan Allah, ia akan segera bertobat.

Tobat artinya kembali, yakni kembali kepada Allah setelah berbuat salah, dosa, atau maksiat, lalu bertekad tidak mengulanginya lagi. Ibnu Athaillah as- Sakandari dalam kitabnya, al-Hikam, mengatakan, "Jika engkau merasa berat untuk taat dan beribadah serta tak menemukan kenikmatan dalam hati, sementara engkau merasa ringan bermaksiat dan menemukan kenikmatan di dalamnya, ketahuilah bahwa engkau belum jujur dalam tobatmu."

Bila kesalahan itu berkaitan dengan sesama manusia, misalnya berbuat jahat, menyakiti, atau mengambil hak-haknya secara tidak sah, ia segera menyesali perbuatannya, lalu meminta maaf dan mengembalikan apa yang dia ambil itu kepada yang berhak.

Dalam hadis dikatakan, di akhirat kelak ada orang yang tertahan masuk surga karena pernah mengambil hak sesamanya secara zalim atau semena-mena ketika di dunia. Ia baru diperkenankan masuk surga setelah semua urusannya dengan orang yang ia zalimi, jahati, atau ambil haknya tersebut selesai (HR al-Bukhari).

Allah mengaruniakan akal, pikiran, dan hati nurani kepada manusia di samping kemampuan dan kekuatan fisik. Semua ini dimaksudkan agar ia bisa belajar dari banyak hal di sekitarnya, termasuk dari kesalahannya, kemudian meningkatkan kemampuan dan kapasitasnya agar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Manusia jangan menyerah atau putus asa dengan keadaan yang ia anggap sulit dan berat.

Dalam Alquran disebutkan, di akhirat nanti malaikat bertanya kepada orang-orang yang tak mau mengubah kondisinya di dunia dengan berbagai alasan, padahal ada banyak kesempatan dan kemampuan untuk berubah.

Allah berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, kepada mereka malaikat bertanya, 'Dalam keadaan bagaimana kamu ini?' Mereka menjawab, 'Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri kami.' Para malaikat berkata, 'Bukankah bumi Allah itu luas, mengapa kamu tidak berhijrah di situ?'" (QS an-Nisa' [4]: 97)

Orang yang berhijrah, kata Nabi, adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah (HR al- Bukhari dan Muslim). Allah melarang kita untuk berbuat maksiat kepada- Nya serta berbuat jahat atau buruk terhadap sesama kita, apa pun bentuknya. Ketika kita meninggalkan itu semua, berarti kita sejatinya tengah berhijrah, sedang berubah dari hal buruk kepada hal baik, atau dari hal baik kepada hal yang lebih baik lagi. Kehidupan di dunia adalah kesempatan yang perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk berubah.

Seiring bergulirnya waktu, kita juga seyogianya terus berubah menuju hal-hal yang baik, positif, dan bermanfaat, baik bagi diri kita maupun orang lain. Nabi mengatakan, "Sebagian tanda keislaman seseorang adalah ia meninggalkan sesuatu yang tak bermanfaat baginya." (HR at-Tirmidzi)

Allah sangat mencintai orang beriman yang selalu berusaha untuk berubah menjadi lebih baik sematamata karena memang ia menyukai kebaikan itu sehingga terus-menerus meningkatkannya tanpa pernah merasa lemah. Nabi menegaskan, "Seorang mukmin yang kuat dalam segala kebaikan lebih utama dan lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah dalam segala kebaikan." (HR Muslim).

Referensi : Tidak ada yang abadi dalam kehidupan selain perubahan