Sabtu, 24 September 2022

Perbuatan Zalim Pasti Dapat Balasan

Perbuatan Zalim Pasti Dapat Balasan  Sumber: https://islam.nu.or.id/ubudiyah/perbuatan-zalim-pasti-dapat-balasan-xg1o3 Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa tidak akan selalu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam berinteraksi ini tak jarang terjadi gesekan satu sama lain sehingga menimbulkan kerugian pada salah satu pihak, baik kerugian yang mengancam jiwa, harta, maupun kehormatannya.  Seringkali terjadi di masyarakat seseorang diperlakukan secara zalim oleh lainnya tanpa ia mampu membalas dan membela diri sendiri. Kondisi ini kerap membuat ia semakin tak berdaya dan hanya bisa pasrah dengan keadaan. Seorang muslim dan mukmin yang mengalami hal demikian semestinya tak perlu merasa sedemikian susah karena Allah subhânahu wa ta’âla telah menjanjikan keadilan atas setiap perilaku zalim yang dilakukan para hamba-Nya. Keimanan yang dimiliki semestinya mampu menguatkan hatinya untuk tetap tegar dengan harapan keadilan yang dijanjikan itu.  Sebaliknya seorang muslim dan mukmin semestinya tidak berlaku zalim kepada sesama makhluk Allah baik berupa tindakan ataupun ucapan, karena sekecil apa pun tindak kezaliman pasti akan terbalaskan. Di dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 42 secara tegas Allah menyatakan:  وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ  Artinya: “Dan janganlah sekali-kali engkau menyangka Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari di mana pandangan-pandangan terbelalak.”  Dari ayat tersebut jelas dinyatakan bahwa Allah akan memberikan balasan kepada setiap pelaku kezaliman kelak di hari kiamat di mana setap mata manusia akan terbelalak menyaksikan berbagai hal yang terjadi di hari kiamat. Syekh Nawawi Banten dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd menjelaskan bahwa apabila Allah tidak membalaskan bagi orang yang dizalimi atas kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya yang menzalimi, maka ada salah satu kemungkinan yang terjadi pada dzat Allah namun hal itu mustahil terjadi pada-Nya. Ketiga kemunginan itu adalah:  Syekh Nawawi Banten dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd menjelaskan bahwa apabila Allah tidak membalaskan bagi orang yang dizalimi atas kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya yang menzalimi, maka ada salah satu kemungkinan yang terjadi pada dzat Allah namun hal itu mustahil terjadi pada-Nya.   Pertama, bisa jadi Allah lalai dan lupa akan orang yang bertindak zalim tersebut. Jelas hal ini tidak mungkin terjadi pada dzat Allah. Tak mungkin Allah memiliki sifat lalai atau lupa pada apa dan siapa pun.  Kedua, bisa jadi Allah lemah tak mampu untuk melakukan pembalasan. Hal ini juga jelas mustahil terjadi pada dzat Allah. Tak mungkin Allah tidak mampu melakukan pembalasan kepada hamba-Nya sendiri.  Ketiga, Allah ridlo dengan tindak kezaliman yang dilakukan sang hamba. Ini juga tidak mungkin mengingat Allah sendiri yang mengharamkan para hamba-Nya melakukan tindak kezaliman di antara sesama hamba. Bahkan dalam berbagai ayat Allah juga menyatakan tidak akan berbuat zalim kepada para hamba-Nya. Karenanya tidak mungkin bila Allah ridlo terhadap suatu kezaliman sehingga tak melakukan pembalasan. Ketiga kemungkinan tersebut semuanya adalah hal yang tak mungkin terjadi pada dzat Allah. Karena ketiga hal itu mustahil bagi Allah maka bisa dipastikan setiap tindak kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba kelak akan dibalas oleh Allah. Hanya saja balasan tersebut tidak segera dilakukan di dunia. Allah menangguhkannya sampai kelak datangnya hari kiamat di mana setiap mata akan terbelalak menyaksikan kedahsyatan yang terjadi di sana. Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi di dalam kitab tafsirnya Ma’âlimut Tanzîl menuturkan bahwa ayat di atas merupakan pelipur bagi orang-orang yang dizalimi dan juga ancaman bagi siapa saja yang berbuat zalim.   Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi di dalam kitab tafsirnya Ma’âlimut Tanzîl menuturkan bahwa ayat di atas merupakan pelipur bagi orang-orang yang dizalimi dan juga ancaman bagi siapa saja yang berbuat zalim.  Mereka yang menerima perlakuan yang tidak semestinya tak perlu risau karena pada hari kiamat kelak Allah akan memberikan pahala berlipat baginya dan membalas pelakunya dengan balasan setimpal. Sementara setiap orang yang berlaku zalim mesti segera meminta maaf kepada yang dizaliminya karena balasan dari Allah pasti adanya.  Di era digital sekarang ini ayat ini juga menjadi alarm bagi kita untuk berhati-hati dalam berinteraksi melalui dunia maya. Menggunakan media sosial secara baik, benar dan cerdas adalah satu pilihan yang menjadkan kita bisa terhindar dari ancaman ayat tersebut.  Sebaliknya postingan yang menebar kebohongan dan kebencian, yang menjadikan pihak tertentu merasa dirugikan dan terancam baik jiwa, harta maupun kehormatannya, adalah perilaku zalim yang menjadikan pelakunya sulit menghindar dari balasan Allah yang dinyatakan pada ayat tersebut.Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa tidak akan selalu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam berinteraksi ini tak jarang terjadi gesekan satu sama lain sehingga menimbulkan kerugian pada salah satu pihak, baik kerugian yang mengancam jiwa, harta, maupun kehormatannya.  Seringkali terjadi di masyarakat seseorang diperlakukan secara zalim oleh lainnya tanpa ia mampu membalas dan membela diri sendiri. Kondisi ini kerap membuat ia semakin tak berdaya dan hanya bisa pasrah dengan keadaan. Seorang muslim dan mukmin yang mengalami hal demikian semestinya tak perlu merasa sedemikian susah karena Allah subhânahu wa ta’âla telah menjanjikan keadilan atas setiap perilaku zalim yang dilakukan para hamba-Nya. Keimanan yang dimiliki semestinya mampu menguatkan hatinya untuk tetap tegar dengan harapan keadilan yang dijanjikan itu.  Sebaliknya seorang muslim dan mukmin semestinya tidak berlaku zalim kepada sesama makhluk Allah baik berupa tindakan ataupun ucapan, karena sekecil apa pun tindak kezaliman pasti akan terbalaskan. Di dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 42 secara tegas Allah menyatakan:  وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ  Artinya: “Dan janganlah sekali-kali engkau menyangka Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari di mana pandangan-pandangan terbelalak.”  Dari ayat tersebut jelas dinyatakan bahwa Allah akan memberikan balasan kepada setiap pelaku kezaliman kelak di hari kiamat di mana setap mata manusia akan terbelalak menyaksikan berbagai hal yang terjadi di hari kiamat. Syekh Nawawi Banten dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd menjelaskan bahwa apabila Allah tidak membalaskan bagi orang yang dizalimi atas kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya yang menzalimi, maka ada salah satu kemungkinan yang terjadi pada dzat Allah namun hal itu mustahil terjadi pada-Nya. Ketiga kemunginan itu adalah:  Syekh Nawawi Banten dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd menjelaskan bahwa apabila Allah tidak membalaskan bagi orang yang dizalimi atas kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya yang menzalimi, maka ada salah satu kemungkinan yang terjadi pada dzat Allah namun hal itu mustahil terjadi pada-Nya.   Pertama, bisa jadi Allah lalai dan lupa akan orang yang bertindak zalim tersebut. Jelas hal ini tidak mungkin terjadi pada dzat Allah. Tak mungkin Allah memiliki sifat lalai atau lupa pada apa dan siapa pun.  Kedua, bisa jadi Allah lemah tak mampu untuk melakukan pembalasan. Hal ini juga jelas mustahil terjadi pada dzat Allah. Tak mungkin Allah tidak mampu melakukan pembalasan kepada hamba-Nya sendiri.  Ketiga, Allah ridlo dengan tindak kezaliman yang dilakukan sang hamba. Ini juga tidak mungkin mengingat Allah sendiri yang mengharamkan para hamba-Nya melakukan tindak kezaliman di antara sesama hamba. Bahkan dalam berbagai ayat Allah juga menyatakan tidak akan berbuat zalim kepada para hamba-Nya. Karenanya tidak mungkin bila Allah ridlo terhadap suatu kezaliman sehingga tak melakukan pembalasan. Ketiga kemungkinan tersebut semuanya adalah hal yang tak mungkin terjadi pada dzat Allah. Karena ketiga hal itu mustahil bagi Allah maka bisa dipastikan setiap tindak kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba kelak akan dibalas oleh Allah. Hanya saja balasan tersebut tidak segera dilakukan di dunia. Allah menangguhkannya sampai kelak datangnya hari kiamat di mana setiap mata akan terbelalak menyaksikan kedahsyatan yang terjadi di sana. Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi di dalam kitab tafsirnya Ma’âlimut Tanzîl menuturkan bahwa ayat di atas merupakan pelipur bagi orang-orang yang dizalimi dan juga ancaman bagi siapa saja yang berbuat zalim.   Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi di dalam kitab tafsirnya Ma’âlimut Tanzîl menuturkan bahwa ayat di atas merupakan pelipur bagi orang-orang yang dizalimi dan juga ancaman bagi siapa saja yang berbuat zalim.  Mereka yang menerima perlakuan yang tidak semestinya tak perlu risau karena pada hari kiamat kelak Allah akan memberikan pahala berlipat baginya dan membalas pelakunya dengan balasan setimpal. Sementara setiap orang yang berlaku zalim mesti segera meminta maaf kepada yang dizaliminya karena balasan dari Allah pasti adanya.  Di era digital sekarang ini ayat ini juga menjadi alarm bagi kita untuk berhati-hati dalam berinteraksi melalui dunia maya. Menggunakan media sosial secara baik, benar dan cerdas adalah satu pilihan yang menjadkan kita bisa terhindar dari ancaman ayat tersebut.  Sebaliknya postingan yang menebar kebohongan dan kebencian, yang menjadikan pihak tertentu merasa dirugikan dan terancam baik jiwa, harta maupun kehormatannya, adalah perilaku zalim yang menjadikan pelakunya sulit menghindar dari balasan Allah yang dinyatakan pada ayat tersebut., Perbuatan Zalim Pasti Dapat Balasan  Sumber: https://islam.nu.or.id/ubudiyah/perbuatan-zalim-pasti-dapat-balasan-xg1o3 Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa tidak akan selalu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam berinteraksi ini tak jarang terjadi gesekan satu sama lain sehingga menimbulkan kerugian pada salah satu pihak, baik kerugian yang mengancam jiwa, harta, maupun kehormatannya.  Seringkali terjadi di masyarakat seseorang diperlakukan secara zalim oleh lainnya tanpa ia mampu membalas dan membela diri sendiri. Kondisi ini kerap membuat ia semakin tak berdaya dan hanya bisa pasrah dengan keadaan. Seorang muslim dan mukmin yang mengalami hal demikian semestinya tak perlu merasa sedemikian susah karena Allah subhânahu wa ta’âla telah menjanjikan keadilan atas setiap perilaku zalim yang dilakukan para hamba-Nya. Keimanan yang dimiliki semestinya mampu menguatkan hatinya untuk tetap tegar dengan harapan keadilan yang dijanjikan itu.  Sebaliknya seorang muslim dan mukmin semestinya tidak berlaku zalim kepada sesama makhluk Allah baik berupa tindakan ataupun ucapan, karena sekecil apa pun tindak kezaliman pasti akan terbalaskan. Di dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 42 secara tegas Allah menyatakan:  وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ  Artinya: “Dan janganlah sekali-kali engkau menyangka Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari di mana pandangan-pandangan terbelalak.”  Dari ayat tersebut jelas dinyatakan bahwa Allah akan memberikan balasan kepada setiap pelaku kezaliman kelak di hari kiamat di mana setap mata manusia akan terbelalak menyaksikan berbagai hal yang terjadi di hari kiamat. Syekh Nawawi Banten dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd menjelaskan bahwa apabila Allah tidak membalaskan bagi orang yang dizalimi atas kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya yang menzalimi, maka ada salah satu kemungkinan yang terjadi pada dzat Allah namun hal itu mustahil terjadi pada-Nya. Ketiga kemunginan itu adalah:  Syekh Nawawi Banten dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd menjelaskan bahwa apabila Allah tidak membalaskan bagi orang yang dizalimi atas kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya yang menzalimi, maka ada salah satu kemungkinan yang terjadi pada dzat Allah namun hal itu mustahil terjadi pada-Nya.   Pertama, bisa jadi Allah lalai dan lupa akan orang yang bertindak zalim tersebut. Jelas hal ini tidak mungkin terjadi pada dzat Allah. Tak mungkin Allah memiliki sifat lalai atau lupa pada apa dan siapa pun.  Kedua, bisa jadi Allah lemah tak mampu untuk melakukan pembalasan. Hal ini juga jelas mustahil terjadi pada dzat Allah. Tak mungkin Allah tidak mampu melakukan pembalasan kepada hamba-Nya sendiri.  Ketiga, Allah ridlo dengan tindak kezaliman yang dilakukan sang hamba. Ini juga tidak mungkin mengingat Allah sendiri yang mengharamkan para hamba-Nya melakukan tindak kezaliman di antara sesama hamba. Bahkan dalam berbagai ayat Allah juga menyatakan tidak akan berbuat zalim kepada para hamba-Nya. Karenanya tidak mungkin bila Allah ridlo terhadap suatu kezaliman sehingga tak melakukan pembalasan. Ketiga kemungkinan tersebut semuanya adalah hal yang tak mungkin terjadi pada dzat Allah. Karena ketiga hal itu mustahil bagi Allah maka bisa dipastikan setiap tindak kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba kelak akan dibalas oleh Allah. Hanya saja balasan tersebut tidak segera dilakukan di dunia. Allah menangguhkannya sampai kelak datangnya hari kiamat di mana setiap mata akan terbelalak menyaksikan kedahsyatan yang terjadi di sana. Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi di dalam kitab tafsirnya Ma’âlimut Tanzîl menuturkan bahwa ayat di atas merupakan pelipur bagi orang-orang yang dizalimi dan juga ancaman bagi siapa saja yang berbuat zalim.   Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi di dalam kitab tafsirnya Ma’âlimut Tanzîl menuturkan bahwa ayat di atas merupakan pelipur bagi orang-orang yang dizalimi dan juga ancaman bagi siapa saja yang berbuat zalim.  Mereka yang menerima perlakuan yang tidak semestinya tak perlu risau karena pada hari kiamat kelak Allah akan memberikan pahala berlipat baginya dan membalas pelakunya dengan balasan setimpal. Sementara setiap orang yang berlaku zalim mesti segera meminta maaf kepada yang dizaliminya karena balasan dari Allah pasti adanya.  Di era digital sekarang ini ayat ini juga menjadi alarm bagi kita untuk berhati-hati dalam berinteraksi melalui dunia maya. Menggunakan media sosial secara baik, benar dan cerdas adalah satu pilihan yang menjadkan kita bisa terhindar dari ancaman ayat tersebut.  Sebaliknya postingan yang menebar kebohongan dan kebencian, yang menjadikan pihak tertentu merasa dirugikan dan terancam baik jiwa, harta maupun kehormatannya, adalah perilaku zalim yang menjadikan pelakunya sulit menghindar dari balasan Allah yang dinyatakan pada ayat tersebut. Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa tidak akan selalu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam berinteraksi ini tak jarang terjadi gesekan satu sama lain sehingga menimbulkan kerugian pada salah satu pihak, baik kerugian yang mengancam jiwa, harta, maupun kehormatannya. Seringkali terjadi di masyarakat seseorang diperlakukan secara zalim oleh lainnya tanpa ia mampu membalas dan membela diri sendiri. Kondisi ini kerap membuat ia semakin tak berdaya dan hanya bisa pasrah dengan keadaan.   Seorang muslim dan mukmin yang mengalami hal demikian semestinya tak perlu merasa sedemikian susah karena Allah subhânahu wa ta’âla telah menjanjikan keadilan atas setiap perilaku zalim yang dilakukan para hamba-Nya. Keimanan yang dimiliki semestinya mampu menguatkan hatinya untuk tetap tegar dengan harapan keadilan yang dijanjikan itu.  Sebaliknya seorang muslim dan mukmin semestinya tidak berlaku zalim kepada sesama makhluk Allah baik berupa tindakan ataupun ucapan, karena sekecil apa pun tindak kezaliman pasti akan terbalaskan. Di dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 42 secara tegas Allah menyatakan:  وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ  Artinya: “Dan janganlah sekali-kali engkau menyangka Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari di mana pandangan-pandangan terbelalak.”  Dari ayat tersebut jelas dinyatakan bahwa Allah akan memberikan balasan kepada setiap pelaku kezaliman kelak di hari kiamat di mana setap mata manusia akan terbelalak menyaksikan berbagai hal yang terjadi di hari kiamat.   Syekh Nawawi Banten dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd menjelaskan bahwa apabila Allah tidak membalaskan bagi orang yang dizalimi atas kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya yang menzalimi, maka ada salah satu kemungkinan yang terjadi pada dzat Allah namun hal itu mustahil terjadi pada-Nya. Ketiga kemunginan itu adalah:  Syekh Nawawi Banten dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd menjelaskan bahwa apabila Allah tidak membalaskan bagi orang yang dizalimi atas kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya yang menzalimi, maka ada salah satu kemungkinan yang terjadi pada dzat Allah namun hal itu mustahil terjadi pada-Nya.   Pertama, bisa jadi Allah lalai dan lupa akan orang yang bertindak zalim tersebut. Jelas hal ini tidak mungkin terjadi pada dzat Allah. Tak mungkin Allah memiliki sifat lalai atau lupa pada apa dan siapa pun.  Kedua, bisa jadi Allah lemah tak mampu untuk melakukan pembalasan. Hal ini juga jelas mustahil terjadi pada dzat Allah. Tak mungkin Allah tidak mampu melakukan pembalasan kepada hamba-Nya sendiri.  Ketiga, Allah ridlo dengan tindak kezaliman yang dilakukan sang hamba. Ini juga tidak mungkin mengingat Allah sendiri yang mengharamkan para hamba-Nya melakukan tindak kezaliman di antara sesama hamba. Bahkan dalam berbagai ayat Allah juga menyatakan tidak akan berbuat zalim kepada para hamba-Nya. Karenanya tidak mungkin bila Allah ridlo terhadap suatu kezaliman sehingga tak melakukan pembalasan. Ketiga kemungkinan tersebut semuanya adalah hal yang tak mungkin terjadi pada dzat Allah. Karena ketiga hal itu mustahil bagi Allah maka bisa dipastikan setiap tindak kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba kelak akan dibalas oleh Allah. Hanya saja balasan tersebut tidak segera dilakukan di dunia.   Allah menangguhkannya sampai kelak datangnya hari kiamat di mana setiap mata akan terbelalak menyaksikan kedahsyatan yang terjadi di sana. Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi di dalam kitab tafsirnya Ma’âlimut Tanzîl menuturkan bahwa ayat di atas merupakan pelipur bagi orang-orang yang dizalimi dan juga ancaman bagi siapa saja yang berbuat zalim.   Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi di dalam kitab tafsirnya Ma’âlimut Tanzîl menuturkan bahwa ayat di atas merupakan pelipur bagi orang-orang yang dizalimi dan juga ancaman bagi siapa saja yang berbuat zalim.    Mereka yang menerima perlakuan yang tidak semestinya tak perlu risau karena pada hari kiamat kelak Allah akan memberikan pahala berlipat baginya dan membalas pelakunya dengan balasan setimpal. Sementara setiap orang yang berlaku zalim mesti segera meminta maaf kepada yang dizaliminya karena balasan dari Allah pasti adanya.  Di era digital sekarang ini ayat ini juga menjadi alarm bagi kita untuk berhati-hati dalam berinteraksi melalui dunia maya. Menggunakan media sosial secara baik, benar dan cerdas adalah satu pilihan yang menjadkan kita bisa terhindar dari ancaman ayat tersebut.    Sebaliknya postingan yang menebar kebohongan dan kebencian, yang menjadikan pihak tertentu merasa dirugikan dan terancam baik jiwa, harta maupun kehormatannya, adalah perilaku zalim yang menjadikan pelakunya sulit menghindar dari balasan Allah yang dinyatakan pada ayat tersebut., Perbuatan Zalim Pasti Dapat Balasan  Sumber: https://islam.nu.or.id/ubudiyah/perbuatan-zalim-pasti-dapat-balasan-xg1o3 Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa tidak akan selalu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam berinteraksi ini tak jarang terjadi gesekan satu sama lain sehingga menimbulkan kerugian pada salah satu pihak, baik kerugian yang mengancam jiwa, harta, maupun kehormatannya.  Seringkali terjadi di masyarakat seseorang diperlakukan secara zalim oleh lainnya tanpa ia mampu membalas dan membela diri sendiri. Kondisi ini kerap membuat ia semakin tak berdaya dan hanya bisa pasrah dengan keadaan. Seorang muslim dan mukmin yang mengalami hal demikian semestinya tak perlu merasa sedemikian susah karena Allah subhânahu wa ta’âla telah menjanjikan keadilan atas setiap perilaku zalim yang dilakukan para hamba-Nya. Keimanan yang dimiliki semestinya mampu menguatkan hatinya untuk tetap tegar dengan harapan keadilan yang dijanjikan itu.  Sebaliknya seorang muslim dan mukmin semestinya tidak berlaku zalim kepada sesama makhluk Allah baik berupa tindakan ataupun ucapan, karena sekecil apa pun tindak kezaliman pasti akan terbalaskan. Di dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 42 secara tegas Allah menyatakan:  وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ  Artinya: “Dan janganlah sekali-kali engkau menyangka Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari di mana pandangan-pandangan terbelalak.”  Dari ayat tersebut jelas dinyatakan bahwa Allah akan memberikan balasan kepada setiap pelaku kezaliman kelak di hari kiamat di mana setap mata manusia akan terbelalak menyaksikan berbagai hal yang terjadi di hari kiamat. Syekh Nawawi Banten dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd menjelaskan bahwa apabila Allah tidak membalaskan bagi orang yang dizalimi atas kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya yang menzalimi, maka ada salah satu kemungkinan yang terjadi pada dzat Allah namun hal itu mustahil terjadi pada-Nya. Ketiga kemunginan itu adalah:  Syekh Nawawi Banten dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd menjelaskan bahwa apabila Allah tidak membalaskan bagi orang yang dizalimi atas kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya yang menzalimi, maka ada salah satu kemungkinan yang terjadi pada dzat Allah namun hal itu mustahil terjadi pada-Nya.   Pertama, bisa jadi Allah lalai dan lupa akan orang yang bertindak zalim tersebut. Jelas hal ini tidak mungkin terjadi pada dzat Allah. Tak mungkin Allah memiliki sifat lalai atau lupa pada apa dan siapa pun.  Kedua, bisa jadi Allah lemah tak mampu untuk melakukan pembalasan. Hal ini juga jelas mustahil terjadi pada dzat Allah. Tak mungkin Allah tidak mampu melakukan pembalasan kepada hamba-Nya sendiri.  Ketiga, Allah ridlo dengan tindak kezaliman yang dilakukan sang hamba. Ini juga tidak mungkin mengingat Allah sendiri yang mengharamkan para hamba-Nya melakukan tindak kezaliman di antara sesama hamba. Bahkan dalam berbagai ayat Allah juga menyatakan tidak akan berbuat zalim kepada para hamba-Nya. Karenanya tidak mungkin bila Allah ridlo terhadap suatu kezaliman sehingga tak melakukan pembalasan. Ketiga kemungkinan tersebut semuanya adalah hal yang tak mungkin terjadi pada dzat Allah. Karena ketiga hal itu mustahil bagi Allah maka bisa dipastikan setiap tindak kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba kelak akan dibalas oleh Allah. Hanya saja balasan tersebut tidak segera dilakukan di dunia. Allah menangguhkannya sampai kelak datangnya hari kiamat di mana setiap mata akan terbelalak menyaksikan kedahsyatan yang terjadi di sana. Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi di dalam kitab tafsirnya Ma’âlimut Tanzîl menuturkan bahwa ayat di atas merupakan pelipur bagi orang-orang yang dizalimi dan juga ancaman bagi siapa saja yang berbuat zalim.   Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi di dalam kitab tafsirnya Ma’âlimut Tanzîl menuturkan bahwa ayat di atas merupakan pelipur bagi orang-orang yang dizalimi dan juga ancaman bagi siapa saja yang berbuat zalim.  Mereka yang menerima perlakuan yang tidak semestinya tak perlu risau karena pada hari kiamat kelak Allah akan memberikan pahala berlipat baginya dan membalas pelakunya dengan balasan setimpal. Sementara setiap orang yang berlaku zalim mesti segera meminta maaf kepada yang dizaliminya karena balasan dari Allah pasti adanya.  Di era digital sekarang ini ayat ini juga menjadi alarm bagi kita untuk berhati-hati dalam berinteraksi melalui dunia maya. Menggunakan media sosial secara baik, benar dan cerdas adalah satu pilihan yang menjadkan kita bisa terhindar dari ancaman ayat tersebut.  Sebaliknya postingan yang menebar kebohongan dan kebencian, yang menjadikan pihak tertentu merasa dirugikan dan terancam baik jiwa, harta maupun kehormatannya, adalah perilaku zalim yang menjadikan pelakunya sulit menghindar dari balasan Allah yang dinyatakan pada ayat tersebut.Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa tidak akan selalu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam berinteraksi ini tak jarang terjadi gesekan satu sama lain sehingga menimbulkan kerugian pada salah satu pihak, baik kerugian yang mengancam jiwa, harta, maupun kehormatannya.  Seringkali terjadi di masyarakat seseorang diperlakukan secara zalim oleh lainnya tanpa ia mampu membalas dan membela diri sendiri. Kondisi ini kerap membuat ia semakin tak berdaya dan hanya bisa pasrah dengan keadaan. Seorang muslim dan mukmin yang mengalami hal demikian semestinya tak perlu merasa sedemikian susah karena Allah subhânahu wa ta’âla telah menjanjikan keadilan atas setiap perilaku zalim yang dilakukan para hamba-Nya. Keimanan yang dimiliki semestinya mampu menguatkan hatinya untuk tetap tegar dengan harapan keadilan yang dijanjikan itu.  Sebaliknya seorang muslim dan mukmin semestinya tidak berlaku zalim kepada sesama makhluk Allah baik berupa tindakan ataupun ucapan, karena sekecil apa pun tindak kezaliman pasti akan terbalaskan. Di dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 42 secara tegas Allah menyatakan:  وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ  Artinya: “Dan janganlah sekali-kali engkau menyangka Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari di mana pandangan-pandangan terbelalak.”  Dari ayat tersebut jelas dinyatakan bahwa Allah akan memberikan balasan kepada setiap pelaku kezaliman kelak di hari kiamat di mana setap mata manusia akan terbelalak menyaksikan berbagai hal yang terjadi di hari kiamat. Syekh Nawawi Banten dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd menjelaskan bahwa apabila Allah tidak membalaskan bagi orang yang dizalimi atas kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya yang menzalimi, maka ada salah satu kemungkinan yang terjadi pada dzat Allah namun hal itu mustahil terjadi pada-Nya. Ketiga kemunginan itu adalah:  Syekh Nawawi Banten dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd menjelaskan bahwa apabila Allah tidak membalaskan bagi orang yang dizalimi atas kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya yang menzalimi, maka ada salah satu kemungkinan yang terjadi pada dzat Allah namun hal itu mustahil terjadi pada-Nya.   Pertama, bisa jadi Allah lalai dan lupa akan orang yang bertindak zalim tersebut. Jelas hal ini tidak mungkin terjadi pada dzat Allah. Tak mungkin Allah memiliki sifat lalai atau lupa pada apa dan siapa pun.  Kedua, bisa jadi Allah lemah tak mampu untuk melakukan pembalasan. Hal ini juga jelas mustahil terjadi pada dzat Allah. Tak mungkin Allah tidak mampu melakukan pembalasan kepada hamba-Nya sendiri.  Ketiga, Allah ridlo dengan tindak kezaliman yang dilakukan sang hamba. Ini juga tidak mungkin mengingat Allah sendiri yang mengharamkan para hamba-Nya melakukan tindak kezaliman di antara sesama hamba. Bahkan dalam berbagai ayat Allah juga menyatakan tidak akan berbuat zalim kepada para hamba-Nya. Karenanya tidak mungkin bila Allah ridlo terhadap suatu kezaliman sehingga tak melakukan pembalasan. Ketiga kemungkinan tersebut semuanya adalah hal yang tak mungkin terjadi pada dzat Allah. Karena ketiga hal itu mustahil bagi Allah maka bisa dipastikan setiap tindak kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba kelak akan dibalas oleh Allah. Hanya saja balasan tersebut tidak segera dilakukan di dunia. Allah menangguhkannya sampai kelak datangnya hari kiamat di mana setiap mata akan terbelalak menyaksikan kedahsyatan yang terjadi di sana. Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi di dalam kitab tafsirnya Ma’âlimut Tanzîl menuturkan bahwa ayat di atas merupakan pelipur bagi orang-orang yang dizalimi dan juga ancaman bagi siapa saja yang berbuat zalim.   Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi di dalam kitab tafsirnya Ma’âlimut Tanzîl menuturkan bahwa ayat di atas merupakan pelipur bagi orang-orang yang dizalimi dan juga ancaman bagi siapa saja yang berbuat zalim.  Mereka yang menerima perlakuan yang tidak semestinya tak perlu risau karena pada hari kiamat kelak Allah akan memberikan pahala berlipat baginya dan membalas pelakunya dengan balasan setimpal. Sementara setiap orang yang berlaku zalim mesti segera meminta maaf kepada yang dizaliminya karena balasan dari Allah pasti adanya.  Di era digital sekarang ini ayat ini juga menjadi alarm bagi kita untuk berhati-hati dalam berinteraksi melalui dunia maya. Menggunakan media sosial secara baik, benar dan cerdas adalah satu pilihan yang menjadkan kita bisa terhindar dari ancaman ayat tersebut.  Sebaliknya postingan yang menebar kebohongan dan kebencian, yang menjadikan pihak tertentu merasa dirugikan dan terancam baik jiwa, harta maupun kehormatannya, adalah perilaku zalim yang menjadikan pelakunya sulit menghindar dari balasan Allah yang dinyatakan pada ayat tersebut., Perbuatan Zalim Pasti Dapat Balasan  Sumber: https://islam.nu.or.id/ubudiyah/perbuatan-zalim-pasti-dapat-balasan-xg1o3 Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa tidak akan selalu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam berinteraksi ini tak jarang terjadi gesekan satu sama lain sehingga menimbulkan kerugian pada salah satu pihak, baik kerugian yang mengancam jiwa, harta, maupun kehormatannya.  Seringkali terjadi di masyarakat seseorang diperlakukan secara zalim oleh lainnya tanpa ia mampu membalas dan membela diri sendiri. Kondisi ini kerap membuat ia semakin tak berdaya dan hanya bisa pasrah dengan keadaan. Seorang muslim dan mukmin yang mengalami hal demikian semestinya tak perlu merasa sedemikian susah karena Allah subhânahu wa ta’âla telah menjanjikan keadilan atas setiap perilaku zalim yang dilakukan para hamba-Nya. Keimanan yang dimiliki semestinya mampu menguatkan hatinya untuk tetap tegar dengan harapan keadilan yang dijanjikan itu.  Sebaliknya seorang muslim dan mukmin semestinya tidak berlaku zalim kepada sesama makhluk Allah baik berupa tindakan ataupun ucapan, karena sekecil apa pun tindak kezaliman pasti akan terbalaskan. Di dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 42 secara tegas Allah menyatakan:  وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ  Artinya: “Dan janganlah sekali-kali engkau menyangka Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari di mana pandangan-pandangan terbelalak.”  Dari ayat tersebut jelas dinyatakan bahwa Allah akan memberikan balasan kepada setiap pelaku kezaliman kelak di hari kiamat di mana setap mata manusia akan terbelalak menyaksikan berbagai hal yang terjadi di hari kiamat. Syekh Nawawi Banten dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd menjelaskan bahwa apabila Allah tidak membalaskan bagi orang yang dizalimi atas kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya yang menzalimi, maka ada salah satu kemungkinan yang terjadi pada dzat Allah namun hal itu mustahil terjadi pada-Nya. Ketiga kemunginan itu adalah:  Syekh Nawawi Banten dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd menjelaskan bahwa apabila Allah tidak membalaskan bagi orang yang dizalimi atas kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya yang menzalimi, maka ada salah satu kemungkinan yang terjadi pada dzat Allah namun hal itu mustahil terjadi pada-Nya.   Pertama, bisa jadi Allah lalai dan lupa akan orang yang bertindak zalim tersebut. Jelas hal ini tidak mungkin terjadi pada dzat Allah. Tak mungkin Allah memiliki sifat lalai atau lupa pada apa dan siapa pun.  Kedua, bisa jadi Allah lemah tak mampu untuk melakukan pembalasan. Hal ini juga jelas mustahil terjadi pada dzat Allah. Tak mungkin Allah tidak mampu melakukan pembalasan kepada hamba-Nya sendiri.  Ketiga, Allah ridlo dengan tindak kezaliman yang dilakukan sang hamba. Ini juga tidak mungkin mengingat Allah sendiri yang mengharamkan para hamba-Nya melakukan tindak kezaliman di antara sesama hamba. Bahkan dalam berbagai ayat Allah juga menyatakan tidak akan berbuat zalim kepada para hamba-Nya. Karenanya tidak mungkin bila Allah ridlo terhadap suatu kezaliman sehingga tak melakukan pembalasan. Ketiga kemungkinan tersebut semuanya adalah hal yang tak mungkin terjadi pada dzat Allah. Karena ketiga hal itu mustahil bagi Allah maka bisa dipastikan setiap tindak kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba kelak akan dibalas oleh Allah. Hanya saja balasan tersebut tidak segera dilakukan di dunia. Allah menangguhkannya sampai kelak datangnya hari kiamat di mana setiap mata akan terbelalak menyaksikan kedahsyatan yang terjadi di sana. Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi di dalam kitab tafsirnya Ma’âlimut Tanzîl menuturkan bahwa ayat di atas merupakan pelipur bagi orang-orang yang dizalimi dan juga ancaman bagi siapa saja yang berbuat zalim.   Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi di dalam kitab tafsirnya Ma’âlimut Tanzîl menuturkan bahwa ayat di atas merupakan pelipur bagi orang-orang yang dizalimi dan juga ancaman bagi siapa saja yang berbuat zalim.  Mereka yang menerima perlakuan yang tidak semestinya tak perlu risau karena pada hari kiamat kelak Allah akan memberikan pahala berlipat baginya dan membalas pelakunya dengan balasan setimpal. Sementara setiap orang yang berlaku zalim mesti segera meminta maaf kepada yang dizaliminya karena balasan dari Allah pasti adanya.  Di era digital sekarang ini ayat ini juga menjadi alarm bagi kita untuk berhati-hati dalam berinteraksi melalui dunia maya. Menggunakan media sosial secara baik, benar dan cerdas adalah satu pilihan yang menjadkan kita bisa terhindar dari ancaman ayat tersebut.  Sebaliknya postingan yang menebar kebohongan dan kebencian, yang menjadikan pihak tertentu merasa dirugikan dan terancam baik jiwa, harta maupun kehormatannya, adalah perilaku zalim yang menjadikan pelakunya sulit menghindar dari balasan Allah yang dinyatakan pada ayat tersebut.
Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa tidak akan selalu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam berinteraksi ini tak jarang terjadi gesekan satu sama lain sehingga menimbulkan kerugian pada salah satu pihak, baik kerugian yang mengancam jiwa, harta, maupun kehormatannya.

Seringkali terjadi di masyarakat seseorang diperlakukan secara zalim oleh lainnya tanpa ia mampu membalas dan membela diri sendiri. Kondisi ini kerap membuat ia semakin tak berdaya dan hanya bisa pasrah dengan keadaan. 

Seorang muslim dan mukmin yang mengalami hal demikian semestinya tak perlu merasa sedemikian susah karena Allah subhânahu wa ta’âla telah menjanjikan keadilan atas setiap perilaku zalim yang dilakukan para hamba-Nya. Keimanan yang dimiliki semestinya mampu menguatkan hatinya untuk tetap tegar dengan harapan keadilan yang dijanjikan itu.

Sebaliknya seorang muslim dan mukmin semestinya tidak berlaku zalim kepada sesama makhluk Allah baik berupa tindakan ataupun ucapan, karena sekecil apa pun tindak kezaliman pasti akan terbalaskan. Di dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 42 secara tegas Allah menyatakan:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

Artinya: “Dan janganlah sekali-kali engkau menyangka Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari di mana pandangan-pandangan terbelalak.”

Dari ayat tersebut jelas dinyatakan bahwa Allah akan memberikan balasan kepada setiap pelaku kezaliman kelak di hari kiamat di mana setap mata manusia akan terbelalak menyaksikan berbagai hal yang terjadi di hari kiamat. 

Syekh Nawawi Banten dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd menjelaskan bahwa apabila Allah tidak membalaskan bagi orang yang dizalimi atas kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya yang menzalimi, maka ada salah satu kemungkinan yang terjadi pada dzat Allah namun hal itu mustahil terjadi pada-Nya. Ketiga kemunginan itu adalah:

Syekh Nawawi Banten dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd menjelaskan bahwa apabila Allah tidak membalaskan bagi orang yang dizalimi atas kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya yang menzalimi, maka ada salah satu kemungkinan yang terjadi pada dzat Allah namun hal itu mustahil terjadi pada-Nya. 

  1. Pertama, bisa jadi Allah lalai dan lupa akan orang yang bertindak zalim tersebut. Jelas hal ini tidak mungkin terjadi pada dzat Allah. Tak mungkin Allah memiliki sifat lalai atau lupa pada apa dan siapa pun. 
  2. Kedua, bisa jadi Allah lemah tak mampu untuk melakukan pembalasan. Hal ini juga jelas mustahil terjadi pada dzat Allah. Tak mungkin Allah tidak mampu melakukan pembalasan kepada hamba-Nya sendiri. 
  3. Ketiga, Allah ridlo dengan tindak kezaliman yang dilakukan sang hamba. Ini juga tidak mungkin mengingat Allah sendiri yang mengharamkan para hamba-Nya melakukan tindak kezaliman di antara sesama hamba. Bahkan dalam berbagai ayat Allah juga menyatakan tidak akan berbuat zalim kepada para hamba-Nya. Karenanya tidak mungkin bila Allah ridlo terhadap suatu kezaliman sehingga tak melakukan pembalasan.
Ketiga kemungkinan tersebut semuanya adalah hal yang tak mungkin terjadi pada dzat Allah. Karena ketiga hal itu mustahil bagi Allah maka bisa dipastikan setiap tindak kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba kelak akan dibalas oleh Allah. Hanya saja balasan tersebut tidak segera dilakukan di dunia. 

Allah menangguhkannya sampai kelak datangnya hari kiamat di mana setiap mata akan terbelalak menyaksikan kedahsyatan yang terjadi di sana. Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi di dalam kitab tafsirnya Ma’âlimut Tanzîl menuturkan bahwa ayat di atas merupakan pelipur bagi orang-orang yang dizalimi dan juga ancaman bagi siapa saja yang berbuat zalim. 

Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi di dalam kitab tafsirnya Ma’âlimut Tanzîl menuturkan bahwa ayat di atas merupakan pelipur bagi orang-orang yang dizalimi dan juga ancaman bagi siapa saja yang berbuat zalim.  

Mereka yang menerima perlakuan yang tidak semestinya tak perlu risau karena pada hari kiamat kelak Allah akan memberikan pahala berlipat baginya dan membalas pelakunya dengan balasan setimpal. Sementara setiap orang yang berlaku zalim mesti segera meminta maaf kepada yang dizaliminya karena balasan dari Allah pasti adanya.

Di era digital sekarang ini ayat ini juga menjadi alarm bagi kita untuk berhati-hati dalam berinteraksi melalui dunia maya. Menggunakan media sosial secara baik, benar dan cerdas adalah satu pilihan yang menjadkan kita bisa terhindar dari ancaman ayat tersebut.  

Sebaliknya postingan yang menebar kebohongan dan kebencian, yang menjadikan pihak tertentu merasa dirugikan dan terancam baik jiwa, harta maupun kehormatannya, adalah perilaku zalim yang menjadikan pelakunya sulit menghindar dari balasan Allah yang dinyatakan pada ayat tersebut.