Rabu, 28 September 2022

Kisah Taubatnya Malik bin Dinar Manusia Zalim yang Berubah Menjadi Ahli Hadis Shahih

Kisah  taubatnya Malik bin Dinar sangat penting diketahui semua orang. Banyak pelajaran penting dan inspirasi di baliknya. Ia adalah putra seorang budak berbangsa Persia dari Sijistan (Kabul) dan menjadi murid ulama Tabiin Hasan Al Bashri.  Malik bin Dinar termasuk ahli hadis shahih dan merawikan hadis dari tokoh-tokoh ulama di masa lampau seperti Anas bin Malik dan Ibnu Sirin. Malik bin Dinar juga dikenal sebagai seorang pembuat kaligrafi Alquran. Ia wafat sekira tahun 130 Hijriah atau 748 Masehi.  Dikutip dari darunnajah.ac.id, kehidupan Malik bin Dinar dimulai dengan kesia-siaan, mabuk-mabukan, maksiat, berbuat zalim kepada sesama manusia, memakan hak manusia, memakan riba, hingga memukuli manusia.  Ia melakukan segala kezaliman. Tidak ada satu maksiat melainkan semua telah dilakukannya. Sungguh sangat jahat hingga manusia tidak menghargainya karena kebejatan yang dilakukan.  Malik bin Dinar menuturkan, "Pada suatu hari aku merindukan pernikahan dan memiliki anak. Maka kemudian aku menikah dan dikaruniai seorang putri yang kuberi nama Fathimah. Aku sangat mencintai Fathimah."  Setiap kali putrinya bertambah besar, bertambah pula keimanan di dalam hati Malik bin Dinar dan makin sedikit maksiat di dalam hatinya.  Setiap kali Fathimah bertambah besar, makin bertambah pula keimanan di dalam hati Malik bin Dinar. Setiap kali ia mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala selangkah saja, maka setiap kali itu pula dirinya menjauhi maksiat sedikit demi sedikit.  Hingga usia Fathimah genap 3 tahun, saat itulah Fathimah meninggal dunia. Maka Malik bin Dinar pun berubah menjadi orang yang lebih buruk dari sebelumnya. Dia belum memiliki sikap sabar yang ada pada diri seorang mukmin yang dapat menguatkanku di atas cobaan musibah. Kembalilah Malik bin Dinar menjadi lebih buruk dari sebelumnya.  Setan pun mempermainkan dirinya, hingga datang suatu hari, setan berkata kepadanya: "Sungguh hari ini engkau akan mabuk-mabukan dengan mabuk yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya." Maka Malik bertekad mabuk dan meminum khamr sepanjang malam. Ia minum, minum, dan minum. Maka Malik melihat dirinya telah terlempar di alam mimpi.  Di alam mimpi tersebut Malik melihat hari kiamat. Matahari telah gelap, lautan telah berubah menjadi api, dan bumi pun telah bergoncang. Manusia berkumpul pada hari kiamat. Manusia dalam keadaan berkelompok-kelompok. Sementara Malik berada di antara manusia, mendengar seorang penyeru memanggil: "Fulan ibn Fulan, kemari! Mari menghadap Al-Jabbar." Malik melihat si Fulan tersebut berubah wajahnya menjadi sangat hitam karena sangat ketakutan. Sampai mendengar seorang penyeru menyeru namanya: "Mari menghadap Al-Jabbar!"  Kemudian hilanglah seluruh manusia dari sekitar Malik seakan-akan tidak ada seorang pun di Padang Mahsyar. Kemudian ia melihat seekor ulat besar yang ganas lagi kuat merayap mengejar ke arahnya dengan membuka mulutnya. Ia pun lari karena sangat ketakutan. Lalu Malik mendapati seorang laki-laki tua yang lemah. Malik pun berkata: "Hai, selamatkanlah aku dari ular ini!" Dia menjawab: "Wahai anakku, aku lemah, aku tak mampu, akan tetapi larilah ke arah ini mudah-mudahan engkau selamat!"  Malik pun berlari ke arah yang ditunjukkannya, sementara ular tersebut berada di belakangnya. Tiba-tiba Malik mendapati api ada di hadapannya. Ia pun berkata: "Apakah aku melarikan diri dari seekor ular untuk menjatuhkan diri ke dalam api?"
Kisah  taubatnya Malik bin Dinar sangat penting diketahui semua orang. Banyak pelajaran penting dan inspirasi di baliknya. Ia adalah putra seorang budak berbangsa Persia dari Sijistan (Kabul) dan menjadi murid ulama Tabiin Hasan Al Bashri.

Malik bin Dinar termasuk ahli hadis shahih dan merawikan hadis dari tokoh-tokoh ulama di masa lampau seperti Anas bin Malik dan Ibnu Sirin. Malik bin Dinar juga dikenal sebagai seorang pembuat kaligrafi Alquran. Ia wafat sekira tahun 130 Hijriah atau 748 Masehi.

Dikutip dari darunnajah.ac.id, kehidupan Malik bin Dinar dimulai dengan kesia-siaan, mabuk-mabukan, maksiat, berbuat zalim kepada sesama manusia, memakan hak manusia, memakan riba, hingga memukuli manusia.

Ia melakukan segala kezaliman. Tidak ada satu maksiat melainkan semua telah dilakukannya. Sungguh sangat jahat hingga manusia tidak menghargainya karena kebejatan yang dilakukan.

Malik bin Dinar menuturkan, "Pada suatu hari aku merindukan pernikahan dan memiliki anak. Maka kemudian aku menikah dan dikaruniai seorang putri yang kuberi nama Fathimah. Aku sangat mencintai Fathimah."

Setiap kali putrinya bertambah besar, bertambah pula keimanan di dalam hati Malik bin Dinar dan makin sedikit maksiat di dalam hatinya.

Setiap kali Fathimah bertambah besar, makin bertambah pula keimanan di dalam hati Malik bin Dinar. Setiap kali ia mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala selangkah saja, maka setiap kali itu pula dirinya menjauhi maksiat sedikit demi sedikit.

Hingga usia Fathimah genap 3 tahun, saat itulah Fathimah meninggal dunia. Maka Malik bin Dinar pun berubah menjadi orang yang lebih buruk dari sebelumnya. Dia belum memiliki sikap sabar yang ada pada diri seorang mukmin yang dapat menguatkanku di atas cobaan musibah. Kembalilah Malik bin Dinar menjadi lebih buruk dari sebelumnya.

Setan pun mempermainkan dirinya, hingga datang suatu hari, setan berkata kepadanya: "Sungguh hari ini engkau akan mabuk-mabukan dengan mabuk yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya." Maka Malik bertekad mabuk dan meminum khamr sepanjang malam. Ia minum, minum, dan minum. Maka Malik melihat dirinya telah terlempar di alam mimpi.

Di alam mimpi tersebut Malik melihat hari kiamat. Matahari telah gelap, lautan telah berubah menjadi api, dan bumi pun telah bergoncang. Manusia berkumpul pada hari kiamat. Manusia dalam keadaan berkelompok-kelompok. Sementara Malik berada di antara manusia, mendengar seorang penyeru memanggil: "Fulan ibn Fulan, kemari! Mari menghadap Al-Jabbar." Malik melihat si Fulan tersebut berubah wajahnya menjadi sangat hitam karena sangat ketakutan. Sampai mendengar seorang penyeru menyeru namanya: "Mari menghadap Al-Jabbar!"

Kemudian hilanglah seluruh manusia dari sekitar Malik seakan-akan tidak ada seorang pun di Padang Mahsyar. Kemudian ia melihat seekor ulat besar yang ganas lagi kuat merayap mengejar ke arahnya dengan membuka mulutnya. Ia pun lari karena sangat ketakutan. Lalu Malik mendapati seorang laki-laki tua yang lemah. Malik pun berkata: "Hai, selamatkanlah aku dari ular ini!" Dia menjawab: "Wahai anakku, aku lemah, aku tak mampu, akan tetapi larilah ke arah ini mudah-mudahan engkau selamat!"

Malik pun berlari ke arah yang ditunjukkannya, sementara ular tersebut berada di belakangnya. Tiba-tiba Malik mendapati api ada di hadapannya. Ia pun berkata: "Apakah aku melarikan diri dari seekor ular untuk menjatuhkan diri ke dalam api?"