Rabu, 28 September 2022

Al-Walâ’ wal Barâ’ ((kecintaan, kedekatan, pembelaan) itu adalah untuk Allâh, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin)

Al-Walâ’ wal Barâ’ ((kecintaan, kedekatan, pembelaan) itu adalah untuk Allâh, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin). Al-Walâ’ (kecintaan, kedekatan, pembelaan) itu adalah untuk Allâh, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin. Sedangkan nasehat (yang bermakna ketulusan) diberikan kepada Allâh, kitab-Nya, Rasul-Nya, para imam (pemimpin) kaum Muslimin, dan orang-orang awam mereka.    Allâh Azza wa Jalla berfirman :    وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ    Dan barangsiapa mengambil Allâh, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allâh itulah yang pasti menang. [al-Mâidah/5:56]    Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :    الدِّينُ النَّصِيحَةُ . قُلْنَا لِمَنْ قَالَ : لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ    “Agama adalah nasehat (ketulusan)” Kami (para shahabat) bertanya, ‘Untuk Siapa ?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Untuk Allâh, kitab-Nya, Rasul-Nya, para imam (pemimpin) kaum Muslimin, dan orang-orang awam mereka.[HR. Muslim, no. 55]    Sedangka barâ’ itu adalah (sikap berlepas diri) dari para musuh Allâh, Rasul-Nya dan agama-Nya, (yang terdiri dari) orang-orang yang menyekutukan Allâh Azza wa Jalla dalam peribadatan mereka kepada-Nya, apapun nisbat dan syi’ar (slogan) mereka.    Allâh Azza wa Jalla berfirman :    قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ    Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allâh. Kami ingkari (kekafiran)mu, dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allâh saja”.[al-Mumtahanah/60:4]    SEBAB WALA DANA BARA’  Fokus wala’ adalah memadukan antara :  1. Kebenaran atau kelurusan ‘aqidah (yaitu secara khusus dengan mengesakan Allâh Azza wa Jalla dalam ibadah kepada-Nya, dan secara umum dengan mengesakan Allâh dalam rububiyah-Nya)    2. Dengan kebaikan amalan (yaitu dengan mengikuti Sunnah).  Perpaduan dua hal ini menjadi sumber seluruh kebaikan. Allâh Azza wa Jalla telah menggabungkan kata iman dan amal shalih dalam 50 ayat lebih (dalam al-Qur’an), dan yang semakna dengan ini tidak terbatas jumlahnya :    الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ    Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh.[al-Mâidah/5:93]    Sedangkan sebab bara’ adalah :  1. Syirik dalam ‘aqidah (yaitu dengan berdoa kepada selain Allâh untuk mendekatkan diri kepada Allâh dengannya, atau untuk meminta syafa’at (perantara) kepada Allâh dengannya)    Baca Juga  Definisi Tawakkal  2. Dan melakukan bid’ah dalam amalan (yaitu beribadah kepada Allâh dengan cara yang tidak diidzinkan oleh Allâh).    Allâh Azza wa Jalla berfirman :    وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ ﴿٥﴾ وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ    Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada sembahan-sembahan selain Allâh yang tiada dapat mengabulkan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka ? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari ibadah mereka. [al-Ahqâf/46: 5-6]    Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :    وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ    Dan orang-orang yang mengambil pelindung (yakni tuhan) selain Allâh (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allâh dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allâh akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allâh tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.[az-Zumar/39:3]    Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :    وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ    Dan mereka menyembah selain Allâh apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allâh”.[Yunus/10: 18]    Termasuk inti wala’ yang syar’i (yang dituntunkan agama) adalah mencintai Sunnah yang shahih, mendakwahkannya, dan mencintai para pengikut Sunnah, yaitu orang-orang yang berusaha mengembalikan semua orang yang berselisih tentang perkara agama menuju al-Kitab (al-Qur’an) dan as-Sunnah dengan pemahaman Salaf (para pendahulu) umat ini.    Dan termasuk inti bara’ syar’i (yang dituntunkan agama) adalah membenci perbuatan bid’ah dalam agama, bersemangat merubah kemungkaran ini, memperingatkan umat dari perbuatan bid’ah, dari para penyerunya, dan dari orang-orang yang terus menerus melakukannya, walaupun mereka menisbatkan diri kepada Islam, atau pemeluk Islam, menisbatkan diri kepada dakwah atau aktivis dakwah.    PERKARA YANG TIDAK BERTENTANGAN DENGAN WALA’ DAN BARA’  Aqidah (keyakinan) wala’ dan barâ’ tidak bertentangan dengan bermu’amalah (berinteraksi) dengan orang-orang kafir, atau yang di bawah mereka, yaitu ahli bid’ah, dengan melakukan jual-beli, perburuhan, kerja sama mengolah tanah, mengunjungi, memberi hadiah, dan berakhlak mulia. Apalagi mendahwahi mereka dan mendoakan mereka agar Allâh Azza wa Jalla memberikan hidayah kepada mereka, sebagaimana hal itu dilakukan oleh para utusan Allâh dengan perintah-Nya.    Baca Juga  Empat Dosa Besar Yang Dilaknat Pelakunya Oleh Allah Azza Wa Jalla  Ini adalah Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam mu’amalah (interaksi) dengan mereka. Semua itu berdasarkan riwayat shahih dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Termasuk meminjam senjata orang musyrik, mengupah orang musyrik sebagai petunjuk jalan beliau di dalam hijrah (kejadian yang paling penting yang memisahkan pemeluk agam Islam dengan para penyembah berhala).    Di antaranya menjadikan orang musyrik sebagai mata-mata beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bekerja sama mengolah perkebunan dengan orang-orang Yahudi, padahal setelah nampak permusuhan mereka, dan perbuatan mereka yang membatalkan perjanjian. Bahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kota Makkah dengan perlidungan al-Muth’im bin ‘Adi, padahal dia seorang musyrik.    Aqidah (keyakinan) wala’ dan barâ’ juga tidak bertentangan dengan mengambil manfaat dengan ilmu-ilmu dunia yang dimiliki oleh orang-orang kafir dan yang di bawah mereka (keburukannya), yaitu orang-orang Islam yang bermaksiat. Memanfaatkan hasil karya dan pekerjaan mereka. Dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memakai pakaian buatan orang-orang Nashara Syam, dan burdah (selimut) buatan orang-orang musyrik Yaman. Allâh Azza wa Jalla berfirman :    يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ    Mereka (orang-orang kafir itu) hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.[ar-Rûm/30:7]    Namun tidak boleh mengambil faedah dari pemikiran mereka dan agama mereka dalam memahami syari’at dan wahyu Allâh. Sebagian kaum Muslimin dahulu telah terjerumus dalam kesesatan yang nyata dengan sebab berusaha mengambil faedah dari filsafat Yunani dalam menjelaskan iman kepada Allâh. Mengambil tashawwuf orang-orang hindu dan persia dalam beribadah. Dan sekarang, (sebagian kaum Muslimin terjerumus dalam kesesatan yang nyata) dengan sebab menghubungkan wahyu dengan pemikiran, menghubungkan keyakinan dan persangkaan.  Referensi : Al-Walâ’ wal Barâ’
Al-Walâ’ wal Barâ’ ((kecintaan, kedekatan, pembelaan) itu adalah untuk Allâh, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin). Al-Walâ’ (kecintaan, kedekatan, pembelaan) itu adalah untuk Allâh, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin. Sedangkan nasehat (yang bermakna ketulusan) diberikan kepada Allâh, kitab-Nya, Rasul-Nya, para imam (pemimpin) kaum Muslimin, dan orang-orang awam mereka.


Allâh Azza wa Jalla berfirman :


وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ


Dan barangsiapa mengambil Allâh, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allâh itulah yang pasti menang. [al-Mâidah/5:56]


Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


الدِّينُ النَّصِيحَةُ . قُلْنَا لِمَنْ قَالَ : لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ


“Agama adalah nasehat (ketulusan)” Kami (para shahabat) bertanya, ‘Untuk Siapa ?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Untuk Allâh, kitab-Nya, Rasul-Nya, para imam (pemimpin) kaum Muslimin, dan orang-orang awam mereka.[HR. Muslim, no. 55]


Sedangka barâ’ itu adalah (sikap berlepas diri) dari para musuh Allâh, Rasul-Nya dan agama-Nya, (yang terdiri dari) orang-orang yang menyekutukan Allâh Azza wa Jalla dalam peribadatan mereka kepada-Nya, apapun nisbat dan syi’ar (slogan) mereka.


Allâh Azza wa Jalla berfirman :


قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ


Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allâh. Kami ingkari (kekafiran)mu, dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allâh saja”.[al-Mumtahanah/60:4]


SEBAB WALA DANA BARA’

Fokus wala’ adalah memadukan antara :

1. Kebenaran atau kelurusan ‘aqidah (yaitu secara khusus dengan mengesakan Allâh Azza wa Jalla dalam ibadah kepada-Nya, dan secara umum dengan mengesakan Allâh dalam rububiyah-Nya)


2. Dengan kebaikan amalan (yaitu dengan mengikuti Sunnah).

Perpaduan dua hal ini menjadi sumber seluruh kebaikan. Allâh Azza wa Jalla telah menggabungkan kata iman dan amal shalih dalam 50 ayat lebih (dalam al-Qur’an), dan yang semakna dengan ini tidak terbatas jumlahnya :


الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ


Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh.[al-Mâidah/5:93]


Sedangkan sebab bara’ adalah :

1. Syirik dalam ‘aqidah (yaitu dengan berdoa kepada selain Allâh untuk mendekatkan diri kepada Allâh dengannya, atau untuk meminta syafa’at (perantara) kepada Allâh dengannya)


Baca Juga  Definisi Tawakkal

2. Dan melakukan bid’ah dalam amalan (yaitu beribadah kepada Allâh dengan cara yang tidak diidzinkan oleh Allâh).


Allâh Azza wa Jalla berfirman :


وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ ﴿٥﴾ وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ


Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada sembahan-sembahan selain Allâh yang tiada dapat mengabulkan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka ? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari ibadah mereka. [al-Ahqâf/46: 5-6]


Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :


وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ


Dan orang-orang yang mengambil pelindung (yakni tuhan) selain Allâh (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allâh dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allâh akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allâh tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.[az-Zumar/39:3]


Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :


وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ


Dan mereka menyembah selain Allâh apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allâh”.[Yunus/10: 18]


Termasuk inti wala’ yang syar’i (yang dituntunkan agama) adalah mencintai Sunnah yang shahih, mendakwahkannya, dan mencintai para pengikut Sunnah, yaitu orang-orang yang berusaha mengembalikan semua orang yang berselisih tentang perkara agama menuju al-Kitab (al-Qur’an) dan as-Sunnah dengan pemahaman Salaf (para pendahulu) umat ini.


Dan termasuk inti bara’ syar’i (yang dituntunkan agama) adalah membenci perbuatan bid’ah dalam agama, bersemangat merubah kemungkaran ini, memperingatkan umat dari perbuatan bid’ah, dari para penyerunya, dan dari orang-orang yang terus menerus melakukannya, walaupun mereka menisbatkan diri kepada Islam, atau pemeluk Islam, menisbatkan diri kepada dakwah atau aktivis dakwah.


PERKARA YANG TIDAK BERTENTANGAN DENGAN WALA’ DAN BARA’

Aqidah (keyakinan) wala’ dan barâ’ tidak bertentangan dengan bermu’amalah (berinteraksi) dengan orang-orang kafir, atau yang di bawah mereka, yaitu ahli bid’ah, dengan melakukan jual-beli, perburuhan, kerja sama mengolah tanah, mengunjungi, memberi hadiah, dan berakhlak mulia. Apalagi mendahwahi mereka dan mendoakan mereka agar Allâh Azza wa Jalla memberikan hidayah kepada mereka, sebagaimana hal itu dilakukan oleh para utusan Allâh dengan perintah-Nya.


Baca Juga  Empat Dosa Besar Yang Dilaknat Pelakunya Oleh Allah Azza Wa Jalla

Ini adalah Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam mu’amalah (interaksi) dengan mereka. Semua itu berdasarkan riwayat shahih dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Termasuk meminjam senjata orang musyrik, mengupah orang musyrik sebagai petunjuk jalan beliau di dalam hijrah (kejadian yang paling penting yang memisahkan pemeluk agam Islam dengan para penyembah berhala).


Di antaranya menjadikan orang musyrik sebagai mata-mata beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bekerja sama mengolah perkebunan dengan orang-orang Yahudi, padahal setelah nampak permusuhan mereka, dan perbuatan mereka yang membatalkan perjanjian. Bahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kota Makkah dengan perlidungan al-Muth’im bin ‘Adi, padahal dia seorang musyrik.


Aqidah (keyakinan) wala’ dan barâ’ juga tidak bertentangan dengan mengambil manfaat dengan ilmu-ilmu dunia yang dimiliki oleh orang-orang kafir dan yang di bawah mereka (keburukannya), yaitu orang-orang Islam yang bermaksiat. Memanfaatkan hasil karya dan pekerjaan mereka. Dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memakai pakaian buatan orang-orang Nashara Syam, dan burdah (selimut) buatan orang-orang musyrik Yaman. Allâh Azza wa Jalla berfirman :


يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ


Mereka (orang-orang kafir itu) hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.[ar-Rûm/30:7]


Namun tidak boleh mengambil faedah dari pemikiran mereka dan agama mereka dalam memahami syari’at dan wahyu Allâh. Sebagian kaum Muslimin dahulu telah terjerumus dalam kesesatan yang nyata dengan sebab berusaha mengambil faedah dari filsafat Yunani dalam menjelaskan iman kepada Allâh. Mengambil tashawwuf orang-orang hindu dan persia dalam beribadah. Dan sekarang, (sebagian kaum Muslimin terjerumus dalam kesesatan yang nyata) dengan sebab menghubungkan wahyu dengan pemikiran, menghubungkan keyakinan dan persangkaan.

Referensi : Al-Walâ’ wal Barâ’