This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Senin, 22 Agustus 2022

Ya Allah, Hamba Ingin Kembali ke Masa Lalu

Ilustrasi : Ya Allah, Hamba Ingin Kembali ke Masa Lalu

Ya Allah Hamba Ingin Kembali ke Masa Lalu. Waktu atau masa adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Selama berlangsungnya suatu proses, perbuatan, atau keadaan hidup dalam diri seorang manusia, banyak yang tidak menyadari bahwa waktu begitu cepat berlalu. Pada zaman ini, tidak jarang banyak manusia yang melalaikan waktu dan bersikap masa bodoh terhadap waktu. Mereka menyia-nyiakan waktu yang telah Allah Ta’ala takdirkan pada dirinya. Seolah hidup ini hanya untuk kesenangan dan hura-hura belaka.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

إضاعة الوقت أشد من الموت ، لأن إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة ،والموت يقطعك عن الدنيا وأهلها

“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya daripada kematian, karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya” (Al-Fawaid, hal 44).

Apabila waktu secara terus-menerus disia-siakan oleh seorang manusia, maka untuk apa ia hidup di dunia? Waktunya tidak berguna bagi dirinya ataupun bagi orang lain. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain? Bukankah tujuan Allah Ta’ala menciptakan manusia untuk beribadah kepadanya? Lalu apa prinsip hidup di dunia bagi orang yang menyia-nyiakan waktu? Sebenarnya tujuan hidup mereka hidup di dunia untuk apa?

Apakah Manusia Dapat Kembali ke Masa Lalu?

Belakangan ini, banyak sekali manusia terutama seorang muslim usia remaja hingga lanjut usia yang merasa menyesal terhadap perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia. Mereka merasa takut dan risau akan azab Allah Ta’ala kepada manusia yang ingkar terhadap aturan-Nya, sehingga mereka bersikeras memohon kepada Allah Ta’ala untuk dapat kembali ke masa lalu agar dapat memperbaiki sejarah hidupnya. Ya Allah, hamba ingin kembali ke masa lalu. Namun, Apakah manusia dapat kembali ke masa lalu? Allah Ta’ala berfirman,

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

“[1] Demi masa. [2] Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. [3] Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih dan nasehat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Dijelaskan dalam surat Al-‘Ashr bahwa manusia akan menyesal karena waktu. Maksudnya adalah manusia akan menyesal dengan apa yang telah terjadi dan tidak dijelaskan bahwa manusia bisa mengulang waktu. Ayat ke-3 hanya menjelaskan siapa saja yang tidak menyesal. Maka dari itu, manusia tidak bisa kembali ke masa lalu untuk mengubah sejarah hidup yang telah dilaluinya.

Waktu yang telah dilalui memang tidak dapat terulang lagi. Dalam hati dan jiwa seorang muslim pasti selalu ada saja sesuatu yang terlintas dalam pikiran akan dosa dan maksiat yang pernah dilakukan dalam sejarah hidupnya. Rasanya setiap hari yang dilalui, bayangan akan maksiat masa lalu selalu terbayang dan hal ini apabila dipikirkan secara berlarut-larut dapat menjatuhkan iman dalam diri seorang muslim. Na’udzubillahi min dzalik. Namun, apakah dengan memikirkan maksiat masa lalu secara berlarut-larut akan dapat mengubah sejarah hidup yang telah diukirnya? Jawabannya adalah tidak. Penyesalan yang tiada gunalah yang hanya tertinggal dalam bekas jejak sejarah selama hidup di dunia.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِندَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

“Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata), ‘Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal shalih. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin’.”  (QS. As-Sajdah: 12).

Tidaklah berguna suatu penyesalan bagi diri seorang manusia. Penyesalan tersebut tidak dapat membuat kita kembali ke masa lalu untuk memperbaiki segala dosa dan maksiat yang telah diperbuat selama hidup di dunia dan tidak dapat pula menyelamatkan diri dari azab Allah Ta’ala. Oleh karena itu, betapa pentingnya waktu bagi umat Islam. Manfaatkan waktu untuk hal-hal yang positif dan senantiasa selalu melibatkan Allah Ta’ala dalam setiap langkah hidup kita di dunia.

Dampak Buruk bagi Orang-orang yang Menyia-nyiakan Waktu

Menyia-nyiakan waktu adalah suatu hal yang buruk karena dengan hal itu akan ada banyak waktu yang terbuang percuma tanpa mendatangkan pahala dan manfaat. Sebagai seorang muslim, sudah sepantasnya kita menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya karena dengan memaksimalkan waktu untuk hal yang positif, maka insyaallah rida Allah Ta’ala akan diraih dan tujuan hidup seorang muslim untuk meraih surga Allah Ta’ala akan tercapai. Namun, untuk mencapai itu semua tidaklah mudah, banyak manusia yang terperangkap dalam lubang kemaksiatan. Menyia-nyiakan waktu adalah suatu hal yang buruk dan banyak mendatangkan dampak negatif. Salah satu dampak yang paling terasa adalah kehilangan kesempatan.

Ja’far bin Sulaiman berkata bahwa dia mendengar Rabi’ah menasehati Sufyan Ats-Tsauri tentang hukum membuang waktu dalam Islam. Rabi’ah mengatakan, “Sesungguhnya Engkau bagaikan hari yang dapat dihitung. Jika satu hari berlalu, maka sebagian darimu juga akan pergi. Bahkan hampir sebagian harimu berlalu, namun Engkau merasa seluruh yang ada padamu ikut pergi. Oleh karena itu, beramallah.” (Shifatush Shofwah, 1: 405).

Dalam tiap detik kehidupan yang dilalui oleh manusia, pasti terdapat suatu kesempatan baik yang menanti. Kesempatan tersebut akan datang kala kita memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Bagi orang yang menyia-nyiakan waktu, kesempatan tersebut akan hilang karena pada dasarnya kesempatan akan muncul ketika terdapat aksi yang sedang kita lakukan. Jika kesempatan itu adalah kesempatan emas yang dapat mengubah kehidupan seorang muslim menjadi lebih baik, maka merugilah orang yang selalu menyia-nyiakan waktu. Mereka akan tertinggal sangat jauh dari pada orang-orang yang produktif dan hidup mereka tidak akan ada perubahan ke arah lebih baik. Na’udzubillahi min dzalik.

Urgensi Waktu Dalam Islam

Hal yang sangat berharga bagi seorang manusia terutama seorang muslim adalah waktu. Waktu menjadi sangat penting karena dengan waktu kepribadian manusia dapat berubah. Perubahan tersebut dapat ke arah yang lebih baik ataupun ke arah yang lebih buruk. Akan tetapi, banyak manusia yang terperangkap dalam lubang kemaksiatan dalam menjalani hari-harinya. Salah satu faktor yang dapat memicu hal itu terjadi adalah tidak bisanya dalam memanfaatkan waktu, sehingga tidak jarang banyak orang yang meminta kepada Allah Ta’ala untuk memutar balikkan waktu ke masa lalu.

Abu Bakar ash-Shiddîq radhiyallahu ‘anhu berkata,

أن لله حقا بالليل لا يقبله بالنهار ، وحقا بالنهار لا يقبله بالليل

“Sesungguhnya Allah memiliki hak pada waktu malam, Dia tidak akan menerimanya di waktu siang. Dan Allah juga memiliki hak pada waktu siang, Dia tidak akan menerimanya di waktu malam” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, no. 37056).

Hendaknya sebagai seorang muslim sejati kita dapat memanfaatkan waktu, agar penyesalan tidak menghampiri kita dan tidak akan pernah keluar kalimat dari dalam mulut kita yang mengatakan bahwa “Ya Allah, hamba ingin kembali ke masa lalu.”

Referensi : Ya Allah, Hamba Ingin Kembali ke Masa Lalu



Kata-Kata Andai Bisa Memutar Waktu Kembali

Ilustrasi : Kata-Kata Andai Bisa Memutar Waktu Kembali

Kebanyakan dari kita kadang menganggap remeh apa yang sedang kita lakukan saat ini, menganggap sesuatu hal terjadi tidak akan memberi manfaat sama sekali, padahal bisa jadi sesuatu yang kita lakukan sekarang akan memberi dampak di kemudian hari, baik untuk diri sendiri, maupun untuk orang lain. Bukan hanya masalah kebaikan saja yang bisa memberi dampak, tapi masalah keburukan juga.

Kita yang saat ini sering melakukan kesalahan bisa jadi di masa depan kita akan merasakan penyesalan yang mendalam, menyesal mengapa dulu kita melakukan hal tersebut, menyesal kenapa kita dulu tidak berpikir panjang sebelum bertindak.

Ketika dalam kondisi penyesalan tersebut, kadang kita berharap seandainya waktu bisa diputar, andai bisa memutar waktu kembali ke masa lalu, kita ingin memperbaiki semua kesalahan di masa itu, agar hal ini sesuatu yang tidak kita inginkan di masa ini tidak pernah terjadi.

Namun kenyataan tidak bisa dirubah, kita tak bisa mengubah takdir dengan kembali ke masa lalu. Seperti pepatah mengatakan “nasi sudah menjadi bubur”. Yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah menerima semua kenyataan dengan rasa syukur.

Selain itu, kita cuma bisa memperbaiki masa depan dengan cara memperbaiki diri sendiri saat ini. Lupakan lah masa lalu karena kamu tidak hidup di masa lalu. Hidupmu adalah tentang masa depan. Selagi kita terus memperbaiki diri, maka tidak ada yang perlu disesalkan.

  1. Aku harap mesin waktu benar-benar ada. Agar aku bisa kembali ke masa lalu untuk menghapus semua penyesalanku.
  2. Andai dapat ku putar waktu, dimana aku sama sekali tak mengenali dirimu, ataupun mencintai dirimu dengan terlalu.
  3. Jika aku bisa memutar waktu, aku ingin menyadari kehadiranmu lebih cepat.
  4. Seseorang yang selalu berduka adalah seseorang yang menghabiskan waktu.
  5. Jika kamu berharap agar dapat memutar waktu, mengapa tidak berdoa agar waktu menjadi baik.
  6. Bagaimanapun keadaan kita, mau sedih, bahagia, waktu tidak pernah berhenti menunggu. Waktu tetap berjalan.
  7. Andai boleh aku memilih ke mana akan kembali memutar waktu, aku akan tetap memilih ke bagian di mana aku menemukanmu.
  8. Seandainya jika Tuhan memperkenankan aku memutar kembali waktu. Aku berharap dapat kembali ke masa dimana kita masih baik-baik saja.
  9. Kebahagiaan akan memudar jika kita ingin cepat-cepat memutar waktu ke masa depan.
  10. Dan waktu hanya menjadi pengingat bisu: merekam, tanpa mampu memutar ulang.
  11. Meskipun ingin rasanya memutar waktu disaat kita pertama bertemu. jika bisa, aku lebih memilih untuk tidak mengenalmu.
  12. Seandainya bisa memutar waktu, aku ingin kembali ke masa lalu. Masa dimana kita bersama.
  13. Aku mulai melupakanmu, tidak akan lagi berusaha memutar balik waktu, sesederhana itu masa lalu.
  14. Jika aku bisa memutar kembali waktu. Aku tidak akan memutarnya. Karena aku tau, kamu sudah bahagia, dan beginilah seharusnya.
  15. Andai aku bisa memutar waktu ke beberapa tahun belakang, aku pasti akan memutarnya karna bahagiaku saat ini tak seindah saat kebahagiaanku saat itu.
  16. Walau tak ada yang dapat memutar waktu untuk membuat awal yang baru, setiap orang dapat memulainya dari sekarang.
  17. Tuhan kenapa kau menciptakan waktu hanya 1 arah, sehingga aku tak bisa memutar waktu kembali untuk memperbaiki masalalu.
  18. Tak ada orang yang boleh memutar waktu, dan kembali ke titik awal. tapi kita selalu ada sekarang, untuk kembali membuat keputusan.
  19. Suatu hari kamu akan berharap untuk bisa memutar kembali waktu yang telah berlalu. Daripada memikirkan itu, lebih baik jangan buang waktumu
  20. Jika kata “seandainya” bisa memutar balikkan waktu, mungkin tidak ada kata “penyesalan”
  21. Menyalahkan diri sendiri tidak akan mampu memutar balikkan waktu.
  22. Hiduplah dengan baik sehingga Kamu tidak perlu berharap untuk bisa memutar kembali waktu yang telah berlalu.
  23. Kamu tak bisa memutar waktu, kamu hanya bisa menggunakan waktu yang ada dengan melakukan yang terbaik.
  24. Mengapa perlu memutar kembali waktu sedangkan kamu mampu memperbaiki masa depanmu. takdir bukan untuk disesali.
  25. Sama seperti kita yang tak bisa memutar kembali waktu, kita juga tidak bisa mengubah apa yang sudah menjadi takdir.
  26. Jika pun aku mampu memutar waktu, aku takkan meminta untuk kembali ke masa lalu. Karna baik buruknya aku dimasa lalu adalah sebuah anugrah.
  27. Syukuri setiap saat dalam hidupmu. Dalam hidup, kita takkan bisa memutar balik waktu, hanya bisa memutar balik kenangan.
  28. Memutar waktu itu memang tidak mungkin. Tapi memperbaiki hidup yang lebih baik dari sekarang, tidak ada kata tidak mungkin.
  29. Kita tidak bisa mengulang atau memutar waktu untuk awal yang baru, tapi kita bisa merencanakan untuk akhir yang lebih baik.
  30. Jangan lagi berandai-andai untuk kembalu ke masa lalu dan berharap bisa mengubah keadaan. Kita tak lagi hidup disana. Baiknya, nikmatilah waktu dan cerita pada lembaran baru.


Terkadang kenyataan tidak sesuai dengan yang diharapkan

Ilustrasi Ceramah : Terkadang kenyataan tidak sesuai dengan yang diharapkan

Anda pasti pernah mengalami kondisi dimana kenyataan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kondisi ini adalah hal yang umum dan pasti pernah dialami oleh setiap orang. Pada saat seperti ini, kadang kala memang memunculkan perasaan sedih atau bahkan kecewa. Tak jarang juga muncul pikiran seandainya melakukan hal ini atau itu, apakah hasilnya akan berbeda?

Akan tetapi, ternyata pengandaian seperti itu adalah hal yang tidak boleh dilakukan dalam Islam. Ada beberapa alasan mengapa seorang muslim tidak boleh berandai – andai tentang hal yang sudah berlalu dan tidak bisa diubah. Berikut ini adalah beberapa alasannya:

1. Segala hal yang terjadi adalah bagian dari takdir yang telah digariskan
2. Semangat adalah kebahagiaan dan juga ibadah
3. Menghindari celah bisikan syaitan
4. Macam – macam bentuk pengandaian

Seorang muslim sudah semestinya memiliki keimanan terhadap takdir. Karena hal ini juga merupakan salah satu bagian dari rukun iman. Menyadari apa yang sudah ada di masa lalu merupakan salah satu bagian dari takdir yang dialami oleh manusia.

Dan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari takdir tidak bisa diubah lagi. Meskipun mungkin orang tersebut mendapat kesempatan untuk kembali ke masa lalu – yang tidak akan mungkin terjadi. Karena itu, daripada menyesali yang sudah terjadi, memahami bahwa hal tersebut adalah bagian dari takdir akan memberikan ketentraman pada hati.

Dengan hati yang tentram, seorang hamba bisa lebih berfokus kepada apa yang dijalaninya saat ini. Juga berusaha untuk beramal dengan sebaik – baiknya. Sehingga apabila sebuah musibah terjadi, maka seorang hamba bisa merasa ridha dan sabar atas musibah yang dialami.

Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah mengatakan bahwa letak kebahagiaan manusia berada dalam semangatnya dalam meraih hal – hal yang bermanfaat. Baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Selain itu, Imam Ibnu Qoyyim juga mengatakan bahwa potensi kesempurnaan dalam diri seseorang akan muncul ketika orang tersebut memiliki semangat yang menyala dan menggunakan semangat tersebut untuk sesuatu yang bermanfaat.

Semangat dalam melakukan hal yang baik baru akan lahir jika seseorang sudah ridha terhadap apa yang terjadi di masa lalu. Apalagi, semangat melakukan kebaikan merupakan salah satu bentuk ibadah dan bentuk sesungguhnya dari definisi meminta pertolongan Allah. Karena itu, bersemangat juga bisa dianggap sebagai sebuah ibadah.

Setiap orang pasti pernah merasakan kondisi dimana apa yang diusahakan tidak memberikan hasil sesuai yang diharapkan. Namun, setiap orang juga memiliki hak untuk memilih. Apakah ingin menjadi orang yang lemah atau orang yang tabah.

Akan tetapi, perasaan lemah akan menimbulkan celaan, protes, kemarahan, dan sedih di dalam diri. Dimana hal tersebut merupakan bagian dari cara syaitan menggoda manusia. Selain itu, perasaan lemah dan negatif ini bisa dibuka dengan pengandaian – pengandaian atau perkataan “Seandainya begini maka begini” dan perkataan semacam itu.

Mengeluh atau berandai – andai juga merupakan sikap yang kontra produktif. Karena meskipun seseorang melakukan pengandaian begini dan begitu, hal yang sudah terjadi tidak akan pernah bisa diubah. Bahkan banyak ulama sepakat bahwa pengandaian merupakan sesuatu yang haram. Karena pengandaian dekat dengan penyesalan, kesedihan, dan kesan tidak mau menerima kenyataan.

Bentuk pengandaian yang dilarang bukan hanya sebatas yang telah disebutkan saja. Ada beberapa bentuk pengandaian lain yang juga dilarang, yaitu pengandaian yang menentang hukum syariat, pengandaian yang menentang takdir, pengandaian yang menjadi alasan untuk melegalkan kemaksiatan, dan pengandaian untuk angan – angan yang tercela.

Selain pengandaian yang dilarang, ada juga pengandaian yang dibolehkan. Yaitu pengandaian untuk sesuatu yang baik dan pengandaian untuk mengabarkan keadaan. Misalnya dengan mengatakan, “Seandainya saya memiliki harta, maka saya akan bersedekah” atau mengatakan “Kalau kamu tadi datang, kamu bisa mendapatkan ilmu yang berharga.”

Pada dasarnya, larangan untuk berandai – andai adalah sesuatu yang baik untuk seorang hamba. Karena ajaran Islam menghendaki kebaikan bagi seluruh umatnya. Selain itu, berhenti berandai – andai adalah sesuatu yang bisa dilakukan dan bahkan dibiasakan. Sehingga, lama kelamaan hati akan menjadi lebih tenang.


Referensi : Terkadang kenyataan tidak sesuai dengan yang diharapkan



Andai Waktu Bisa Kuputar Kembali

Ilustrasi : Andai Waktu Bisa Kuputar Kembali

Nikmat terbesar yang Allah berikan dan karuniakan untuk manusia adalah waktu, karena sesungguhnya waktu manusia itulah kehidupannya. Barangsiapa yang menyia-nyiakan waktunya berarti telah menyia-nyiakan hidupnya dan barangsiapa menyia-nyiakan hidupnya maka dia telah merugi untuk selama-lamanya. Dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengabarkan kepada kita betapa menyesalnya orang-orang yang tidak dapat mempergunakan kesempatan hidupnya untuk taat dan beribadah kepada Allah Ta’ala. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

﴿ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ ﴾

“Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin” (QS. As-Sajadah: 12)

Nabi kita Muhammad Shallallahu `alaihi wa Sallam juga telah mengingatkan melalui haditsnya bahwa dua nikmat yang kebanyakan manusia melupakannya dan tidak menyadarinya bahwa keduanya adalah nikmat terbesar, Rasul Shallallahu `alaihi wa Sallam besabda,

” نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ “

“Dua kenikmatan yg sering dilupakan banyak orang, kesehatan dan kelowongan/kesempatan waktu.” (Shahih Bukhari)

Kesehatan dan kesempatan adalah dua nikmat yang sangat besar bagi manusia tapi sayang banyak di antara kita yang peduli dan tidak memanfaatkannya, padahal dengan keduanya banyak hal yang dapat kita lakukan. Bukankah sejarah manusia dan peradabannya terbentuk karena dua hal tersebut?. Bukankah karya-karya besar anak manusia tercipta karena dua hal tersebut ? Bahkan Islam tersebar dan berkembang ke penjuru dunia karena dua nikmat tersebut?

Sesungguhnya setiap detik dari waktu adalah sangat berharga, setiap detiknya dapat menentukan masa depan kita, menjadi manusia yang bahagia, sukses baik dunia ataupun akhirat. Dalam Al-Qur’an orang kafir di akhirat nanti bahkan hanya meminta beberapa detik untuk beramal agar menjadi orang yang sukses akan tetapi semua telah terlambat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

﴿ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚكَلَّا ۚإِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖوَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ ﴾

“Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al- Mukminun: 99-100)

Begitulah kondisi orang mati, mereka telah melihat akhirat dengan mata kepala mereka. Mereka tahu pasti apa yang telah mereka perbuat dan apa yang mereka terima. Dahulu mereka demikian mudah menyia-nyiakan waktu yang amat berharga untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bagi akhirat mereka. Kini mereka sadar bahwa detik-detik dan menit-menit yang hilang tersebut sungguh tidak ternilai harganya.

Dahulu, kesempatan itu ada di depan mata, namun tidak mereka manfaatkan. Sekarang, mereka siap menebus kesempatan itu berapapun harganya! Sungguh tak terbayang alangkah ruginya dan alangkah besarnya penyesalan mereka..

Memang, saat manusia paling lalai terhadap nikmat Allah ialah ketika ia bergelimang di dalamnya. Ia tidak menyadari betapa besarnya kenikmatan tersebut, kecuali setelah kenikmatan itu tercabut darinya. Sebab itu, kita yang masih hidup sungguh berada dalam kenikmatan yang besar. Karenanya, jangan kita biarkan semenit pun berlalu tanpa ibadah walau sekedar mengucapkan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil.

Allah juga telahmengabarkan kisah anak manusia yang tidak tersadar kecuali ketika Malaikat maut telah menjemputnya, ia tersadar terbangun dari mimpi panjangnya, ia baru sadar bahwa waktu begitu berharga setiap detiknya, ia mengatakan;

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴾

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?. Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS.Al-Munafiqun 9-11)

Berkata Imam Asy_Syafi’I Rahimahullah berkata dalam Diwan-nya,

الوَقْتُ كَالسَّيْفِ إِذَا لَـمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ

“Waktu bagaikan pedang, jika kamu tidak memotongnya maka dia akan memotongmu”.

Dikatakan dalam sebuah Syair Arab,

الوَقْتُ أَثْمَنُ مِنَ الذَّهَب

“Waktu itu lebih berharga daripada emas”.

Sebegitu pentingnya kita diperintahkan untuk menghargai waktu hingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakannya berkali-kali, termasuk dalam surat, 

“Demi Massa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan saling menasihati dalam kebenaran serta saling menasehati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr:1-3)

Berkata penghulunya para Tabi’in Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah, “Wahai anak Adam engkau adalah hari-hari, apabila telah pergi harimu berarti telah hilang sebagian hidupmu.”

“Aku telah menjumpai suatu kaum (Sahabat Radhiallahu ‘anhum) yang mereka menjaga waktu-waktunya lebih keras daripada penjagaan kalian terhadap emas dan perak kalian.”

Berkata Imam Asy-Syafi’i  Rahimahullah, “Waktu adalah pedang, jika engkau tidak gunakan untuk memotong maka engkau akan terpotong.”

“Dirimu kalau tidak kau gunakan untuk kebaikkan maka engkau akan disibukkan pada kebathilan.”

Berkata Al-Wazir Ash-Shalih Yahya bin Hubairah Rahimahullah, “Waktu itu sesuatu yang paling berharga yang harus dijaga dan Aku melihatnya (waktu) itu adalah perkara yang paling mudah engkau sia-siakan.”

Berkata seorang sahabat yang merupakan gurunya para Alim Ulama, Beliau adalah Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhuma,

“Aku tidak pernah menyesal melebihi penyesalanku ketika matahari telah terbenam dan ajalku telah berkurang (telah berkurang waktu hidupku) sedang amal baikku tidak bertambah” (sumber: Harga waktu bagi Ulama)

Karena itulah Rasul Shallallahu `alaihi wa Sallam bersabda,

” إِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَا بَكَ قَبْلَ هَرَ مِكَ ، وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَ غِنَا كَ قَبْلَ فَقْرِ كَ ، وَ فَرَا غَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَ حَيَا تَكَ قَبْلَ مَوْ تِكَ “

“Gunakanlah yang lima sebelum datang yang lima: Masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa kosongmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim; sanad-nya shahih)

Tahun 1435 H. hampir meninggalkan kita dan sebentar lagi kita akan memasuki tahun 1436 H. Pertanyaannya adalah “Sudahkah kita menggunakan waktu kita dengan sebaik-baiknya?.” Jawabnya ada pada diri kita masing-masing.

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq kepada kita agar dapat mempergunakan waktu sehingga kita tidak termasuk orang yang merugi kelak.

Referensi : Andai Waktu Bisa Kuputar Kembali



Sabtu, 20 Agustus 2022

Hikayat dan Hikmah Penyembelihan Ismail

Hikayat dan Hikmah Penyembelihan Ismail

Hikayat dan Hikmah Penyembelihan Ismail. Terdapat sebuah hadis bernada pilu yang konon diucapkan Nabi Ismail kepada ayahnya Nabi Ibrahim sewaktu ia akan disembelih, “Wahai ayahku, kuatkanlah ikatanku agar aku tidak dapat bergerak, angkatlah pakaianmu agar tidak terpercik darah sehingga ibuku melihatnya dan bersedih, gesekkanlah pisau dileherku dengan kuat agar aku tidak tersiksa, palingkahlah mukaku dan jangan memandang sehingga kamu merasa kasihan, dan agar aku tidak melihat pisaumu yang bisa membuat kamu takut, kalau bertemu ibuku sampaikanlah salamku.” 

Saat Ibrahim mulai menggesekkan pisau di leher Ismail, Allah menjadikan lehernya seperti dilapisi tembaga. Dia kemudian mencoba memotong lehernya dengan pisau itu, namun pisau itu tidak berfungsi. (Tafsir al-Qurtubi)

Perbincangan hangat antara seorang anak shalih bernama Ismail dengan ayahnya Ibrahim juga dapat ditemukan di al-Qur’an (as-Saffat:102). Kisah keduanya adalah contoh terbaik yang digambarakan al-Qur’an terkait triangle atau “Segitiga Cinta” antara Tuhan dan kedua hambanya. Ketiganya saling mencintai, tetapi Tuhan yang paling berkuasa, dan berhak menguji seberapa dalam cinta kedua hambanya.

Alhasil, karena ketundukan Ibrahim dan Ismail terbukti, Allah mengganti sembelihannya dengan domba, dan pada akhirnya peristiwa bersejarah ini menjadi “monumen peringatan” bagi umat muslim sedunia yang selalu ingin diambil ibrahnya saat Idul Adha tiba.

Dari kisah “Segitiga Cinta” di atas, kita juga diminta belajar bagaimana mewujudkan hubungan saling percaya antara anak dan bapak, begitu juga bagaimana puncak tertinggi keimanan seorang hamba kepada Allah, yaitu melaksanakan perintahnya—walau terkadang terasa sangat berat—dan menyerahkan segala yang kita punya kepada-Nya. Ini hanya bisa terwujud kalau kita memahami bahwa hakikatnya manusia tidak memiliki apa-apa. 

Siapa Sebenarnya yang Disembelih?

Bila kita membaca berbagai riwayat dalam literatur tafsir, kita akan mengetahui bahwa terdapat perbedaan pandangan ulama salaf, bahkan para sahabat, dalam memahami siapa sebenarnya yang akan disembelih, apakah Ismail ataukah Ishaq?

Ibnu Abbas, Ka’b al-Ahbar, Sa’ad bin Jubair, dan lainnya mengatakan bahwa yang akan disembelih adalah Ishaq. Pendapat ini sesuai dengan apa yang diyakini kelompok Yahudi dan Nasrani.

Pandangan kedua mengatakan bahwa yang akan disembelih atau dijadikan kurban adalah Ismail. Di antara mereka ada Abu Hurairah, Abu at-Tufail, Mujahid, dan lainnya. (Lihat Tafsir al-Qurthubi dalam tafsir surat as-Saffat: 102)

Persoalan tentang siapa yang sebenarnya disembelih tidak masuk dalam persoalan agama yang bersifat qat’i atau pasti. Karena itu, kata az-Zujjaj:

اللَّهُ أَعْلَمُ أَيُّهُمَا الذَّبِيحُ.

“Allah yang lebih tahu siapa yang sebenarnya disembelih.”

Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-Adzim dengan tegas menolak pendapat pertama, dan dia meyakini cerita itu muncul dari Ahli Kitab lalu diterima sebagian muslim tanpa dalil yang kuat. 

Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, ulama dalam bidang ilmu al-Qur’an dan hadis di al-Azhar dan Ummul Qura, menambahkan bahwa cerita penyembelihan Ishaq adalah imbas dari menyebarnya cerita Israiliyat yang bersumber dari kitab Taurat. Sedangkan Taurat mereka telah diubah. Ini sebagaimana kata Allah: 

يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِن بَعْدِ مَوَاضِعِهِ

“Mereka mengubah kata-kata (Taurat) dari makna yang sebenarnya.”

Karena itu, kata Muhammad Abu Syahbah, cerita Israiliyat model ini termasuk yang ditolak. Sebagaimana kata Imam Malik terkait hadis Nabi kepada para sahabatnya: 

حَدّثوا عَن بني إسرائيل ولا حَرج 

Maksudnya, boleh menyampaikan cerita baik yang dibawa oleh Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), adapun cerita yang telah diketahui kebohongannya, maka jangan diikuti atau tolaklah. (Muhammad Abu Syahbah, al-Israiliyyat wa al-Maudu’at).

Referensi : Hikayat dan Hikmah Penyembelihan Ismail




Kisah Umar bin Khattab RA Ketika Menghadapi Kritik Rakyat

Ilustrasi : Kisah Umar bin Khattab RA Ketika Menghadapi Kritik Rakyat

Kisah Umar bin Khattab RA Ketika Menghadapi Kritik Rakyat. Rakyat ketika menilai pemerintah melakukan kesalahan, seringkali mereka melakukan aksi demo dalam rangka memberikan kritik dan nasihat. Aksi-aksi teatrikal yang menggambarkan perilaku penyimpangan pemerintah sering kali ditampilkan dengan baik oleh pendemo, khususnya para aktivis dan mahasiswa. 

Bahkan, karena saking marahnya, kadang kritik rakyat yang ditunjukkan pendemo tampak sangat keras baik secara lisan maupun tulisan. Lantas bagaimana seharusnya etika pemerintah ketika menghadapi kritik rakyat? Apakah layak pemerintah melakukan somasi terhadap rakyatnya yang melakukan kritik.

Hal ini penting untuk diketahui agar kelak kalau kita menduduki jabatan di pemerintahan bisa mengingat dan mengaplikasikannya. Untuk menjawab hal tersebut, bisa diambil pelajaran kisah tentang Amirul Mukminin Umar bin Khattab ketika menghadapi kritik rakyat sebagaimana dimuat dalam kitab Fiqhul Islamy Wa Adillatuhu karya Prof. Wahbah Zuhaily. Beliau dikritik oleh seorang pemuda,


قَالَ رَجُلٌ لِعُمَرَ اِتَّقِ الله ياَ عُمَرُ فَقَالَ آخَرُ أَلِمِثْلِ أَمِيْرِ اْلمُؤْمِنِيْنَ يُقَالُ مِثْلُ هَذَا اْلكَلاَمِ فَأَجَابَ عُمَرُ لاَ خَيْرَ فِيْكُمْ إِنْ لَمْ تَقُوْلُوْهَا وَلاَ خَيْرَ فِيَّ إِنْ لَمْ أَسْمَعْهَ


“Seorang laki-laki berkata pada Umar ra.: “Bertaqwalah! Wahai Umar. “Lalu pemuda lain menyahut: “Layakkah ungkapan itu ditujukan pada seorang Amirul Mukminin (Pemerintah)?. Dengan bijak Umar menjawab: “Tidak ada kebaikan pada diri kalian apabila kalian tidak mengatakannya (kalimat taqwa) dan tidak pula ada kebaikan dalam diriku apabila aku tidak mau mendengarnya (dari kalian).”

Melihat penggalan cerita Umar bin Khattab ra. di atas, pejabat pemerintah hendaknya harus dengan lapang dada mendengarkan kritik rakyat. Pemerintah jangan hanya mau didengar, tapi juga harus mau mendengar. Pemerintah jangan hanya mau dijadikan cerminan bagi rakyatnya tetapi juga harus memberikan teladan yang baik.

Ketika mendapatkan kritik rakyat, pemerintah harus ikhlas dan sabar bukan malah tersinggung lalu marah-marah, apalagi mengancam rakyatnya dan melakukan somasi. Namun juga harus menjadi catatan bahwa kritik rakyat haruslah santun, faktual dan bukan merupakan fitnah atau tuduhan-tuduhan tanpa bukti yang kuat.

Perlu diingat bahwa rakyat itu lemah. Tidak memiliki kekuatan seperti pemerintah. Secara psikologis, kalau memang pemerintah merasa benar tak mungkin marah-marah. Ketika ada kritik dari rakyat, berikanlah bukti dan yakinkanlah rakyat jika memang pemerintah tidak salah.

Untuk itu, pemerintah harus sesering mungkin introspeksi diri. Utamanya, ketika pemimpin mulai memanen kritikan dari rakyatnya. Kalau perlu, ketika teguran rakyat itu benar adanya, hendaknya dia mengakui kesalahan-kesalahannya. Karena mungkin dengan begitu rakyat akan bisa memaafkan dan lebih percaya pada pemimpin. Itulah etika pemerintah yang harus dilakukan ketika menghadapi kritikan rakyatnya.

Dalam era keterbukaan informasi seperti saat ini, memang sebaiknya harus lebih bijak dalam menyebarkan informasi. Rakyat memiliki hak untuk mengkritik pemerintah yang melakukan kesalahan. Pemerintah juga punya hak untuk membantah kritikan rakyat apabila tidak benar. Dalam aturan hukum di Indonesia seseorang tidak boleh sembarangan menyebarkan informasi-informasi  yang mengandung kebohongan, mengandung Sara dan lain sebagainya.

Oleh karena itulah ketika akan menyampaikan kritik atau informasi berkaitan dengan perbuatan pemerintah atau pejabat, maka wajib disertai bukti-bukti yang kuat agar tidak berujung menjadi fitnah atau informasi bohong. Pemerintah juga harus lebih bijak dalam menghadapi rakyatnya. Apabila rakyatnya melakukan kesalahan, barangkali tidak harus selalu penjara yang menjadi penyelesaiannya. Musyawarah dan perdamaian sebenarnya bisa menjadi opsi utama dalam menyelesaikan permasalahan rakyat dan pemerintah.


Referensi : Kisah Umar bin Khattab RA Ketika Menghadapi Kritik Rakyat



Memaafkan untuk Kebahagiaan Kita

Ilustrasi ; Memaafkan untuk Kebahagiaan Kita

Memaafkan tidak semudah mengatakannya. Ketika orang lain menyakiti kita dengan perkataan atau perbuatannya, luka dalam hati kita tidak dapat sembuh begitu saja. Semakin dalam luka yang ditimbulkannya, semakin sulit memaafkan orang yang menyebabkannya.

Namun tahukah Anda bahwa memaafkan adalah pintu kebahagiaan kita?

Saat kita menyimpan kemarahan terhadap orang lain, disadari atau tidak, rasa marah itu sedikit demi sedikit menggerogoti hati kita, memperdalam luka dan membebani kita dengan perasaan negatif terus-menerus. Padahal, orang yang menyakiti kita belum tentu mengingat kesalahan yang telah ia perbuat kepada kita atau merasakan penderitaan yang sama.

Menurut Dr. Frederic Luskin dalam bukunya “Forgive for Good”, memaafkan memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran, seperti percaya diri dan harapan serta mengurangi beban kemarahan, stres, dan penderitaan yang disebabkan olehnya. Secara fisik, kemarahan yang terpendam lama juga menyebabkan suhu tubuh meningkat dan mempersulit kita berpikir jernih. Belum lagi gangguan-gangguan kesehatan seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke dan lain sebagainya.

Doa orang yang terzalimi dekat dengan dikabulkan oleh Allah. Kita pun memiliki hak untuk membalas orang yang menzalimi kita sesuai apa yang dilakukannya terhadap kita. Namun, sesungguhnya lebih banyak ketenangan dan kemuliaan bagi kita ketika kita mau memaafkan. Memaafkan dengan tulus, lebih dari sekedar kata-kata, memang seringkali terasa sangat berat, tapi kalau kita berhasil melakukannya, ia akan menyembuhkan kita, secara fisik dan jiwa. Hati kita akan terasa lebih ringan dan bahagia. Kita tidak lagi membawa-bawa perasaan negatif atau membiarkan kezaliman orang lain merusak kebahagiaan kita. Allah pun akan melimpahkan rahmat dan cinta-Nya serta mengangkat derajat kita.

Dalam Al-Qur’an dan hadis disebutkan:

Dan jika kamu melakukan pembalasan, balaslah seperti yang mereka lakukan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, maka kesabaranmu itu lebih baik bagimu. Dan hendaklah kamu tabahkan hatimu, dan hendaklah ketabahan hatimu itu karena berpegang kepada Allah. Jangan pula kamu bersedih hati terhadap perbuatan mereka. Jangan pula kamu bersesak dada terhadap apa yang mereka rencanakan. (QS An Nahl : 126-127).

Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa. (QS. An-Nisa: 149).

Rasulullah saw. bersabda, “Maukah aku ceritakan kepadamu tentang sesuatu yang menyebabkan Allah memuliakan bangunan dan meninggikan derajatmu?” Para sahabat menjawab, “Tentu.” Rasul bersabda, “Kamu bersikap sabar (hilm) kepada orang yang membencimu, memaafkan orang yang berbuat zalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu, dan menghubungi orang yang telah memutuskan silaturrahim denganmu.” (HR. Thabrani).

Bersabda Rasulullah saw.: “Ada tiga hal yang jika dimiliki seseorang, ia akan mendapatkan pemeliharaan dari Allah, akan dipenuhi dengan rahmat-Nya, dan Allah akan senantiasa memasukkannya dalam lingkungan hamba yang mendapatkan cinta-Nya, yaitu (1) seseorang yang selalu bersyukur manakala mendapat nikmat dari-Nya, (2) seseorang yang mampu meluapkan amarahnya tetapi mampu memberi maaf atas kesalahan orang, (3) seseorang yang apabila sedang marah, dia menghentikan marahnya.” (HR. Hakim).

Memaafkan tidak harus berarti melupakan, mengabaikan, atau membenarkan perbuatan orang lain yang menzalimi kita. Hanya saja, kita melepaskan perasaan negatif berkaitan dengan perbuatan tersebut, sehingga perbuatan itu tidak lagi melukai kita ketika kita mengingatnya. Allah swt. Maha Adil, segala kezaliman yang menimpa diri kita pasti akan mendapat balasan tanpa luput sedikit pun. Menyimpan dendam dan amarah hanya merugikan diri kita sendiri. Biarkan orang itu bertanggung jawab atas perbuatannya, baik di dunia maupun di akhirat, tanpa menyedot kebahagiaan kita atau merendahkan diri kita menjadi setara dengannya.

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. Ash-Shura: 40).

Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut hari-hari Allah, karena Dia akan membalas sesuatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan. (QS. Al-Jatsiyah: 14-15).

Referensi :  Memaafkan untuk Kebahagiaan Kita


Maafkanlah orang yang telah menyakiti kita

Maafkanlah orang yang telah menyakiti kita

Maafkanlah orang yang telah menyakiti kita. Ketika ada seseorang yang dengan sengaja mengkhianati kita di masa lalu.  Ketika dia datang kembali untuk meminta maaf.  Maka tak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkannya.  Berhentilah memikirkan orang-orang yang telah mengecewakan kita.  Berhentilah berharap kepada orang-orang yang telah dengan sengaja menyakiti kita.  Karena itu hanya akan membuat banyak waktu kita terbuang percuma.

Tak perlu bersusah payah untuk membalas dendam, cukup maafkan setiap kesalahan karena memaafkan adalah pembalasan yang terbaik.   Allah pasti punya alasan kenapa dia tidak berada bersama kita di masa sekarang. Allah pasti punya rencana kenapa dia tidak berada bersama kita di masa depan.   Akan ada waktunya kapan Allah akan memberi pengganti untuk kita. Seseorang yang lebih baik dibandingkan dia yang telah hilang dari genggaman kita.

Hilangkan semua pikiran buruk di pikiranmu, Sebenarnya orang yang membuat sakita hati, tampangnya sangat terlihat menyebalkan bahkan nyolot, itu adalah skenario yang ada dipikiranmu semata. Orang menyebalkan yang menyakitimu itu pada dasarnya hanya ada dipikiranmu. Dan pastinya dia didunia nyata terkadang tidak sesuai dengan dipikiranmu. Ketika kita dibuat sakit hati orang, maka yang terbesit di pikiran hanya ada kesalahan dan muka mereka menyebalkan. Maka hal yang harus kamu hindari adalah mencoba berfikir negatif dengan orang yang memebuat sakit hatimu. 

Yakinkan dirimu bahwa mereka memiliki masa lalu yang buruk, Kamu harus tahu bahwa seseorang yang menyakitimu mungkin memiliki trauma dengan masa lalu. Dimana ada pengalaman hidupnya yang belum mereka maafkan. Coba deh ajak mereka ngobrol dan cari tahu masa lalunya. Jika memang ada kesalahan dimasa lalunya besar kemungkinan ini yang menjadi alasan perilakunya yang sekarang. Bisa jadi meraka juga korban dimasa lalunya. Lantas kita seharusnya bisa memakluminya yang mungkin dimasa lalu menjadi korban. Dan yakinkan dirimu bahwa ketika kamu membalas menyakitinya, maka tidak ada bedanya dirimu dengan mereka. 

Berlapang dada memaafkan perilaku mereka, Seperti ulasan sebelumnya, orang yang meyakiti kamu sebenarnya juga mungkin menjadi korban. Bisa saja orang yang menyakiti dan mengecewakan kita karena mereka sendiri adalah korban. Mereka tidak sadar bahwa mereka aneh dan perilakunya itu menyakiti orang lain. Ini dikarenakan mereka pun terbentuk atas segala sesuatu diluar kesadaran mereka.
Berlapang dada memaafkan kesalahan mereka dan yakinkan dirimu bahwa orang yang menyakiti kita itu tanpa kamu sadari juga dipengaruhi oleh lingkungannya. Lingkungan kita membentuk kita menjadi kita yang sekarang. 

Mendoakan yang terbaik, Salahsatu cara menghadapi orang yang membuat sakit hati yaitu dengan cara mendoakannya. Kita doakan saja mereka supaya mereka kembali ke jalan yang benar. Hal ini memang sukar untuk dilakukan apalagi jika kepada orang yang kita tidak sukai. Kalau kamu tahu mereka adalah korban maka doamu bisa jadi kenyataan lho. Tidak ada alasan kita untuk menghakimi oranglain. Yang berhak menghakimi adalah Tuhan dan orang-orang yang diberi hak untuk menghakimi. 

valuasi untuk menjadikan diri lebih baik, Hal yang sering tejadi ketika kamu dibuat sakit hati, mungkin hatimu bahkan jiwamu tidak akan terima. Marah dan melampiskannya kepada oranglain menjadi hal yang tak seharusnya kau lakukan. Daripada melampiskan hal negatif alangkah baiknya jika dirimu mengevaluasi dan mengintropeksi dirimu sendiri. Ketika kamu tahu rasanya dibuat sakit hati maka besar kemungkinan kamu tidak akan menyakiti oranglain. 

Referensi : Maafkanlah orang yang telah menyakiti kita

Jangan Balas Orang yang Menyakiti

Jangan Balas Orang yang Menyakiti

Biasanya, akan sulit bagi kita tetap bersikap baik kepada orang yang telah menyakiti. Yang rata-rata terjadi adalah, orang membalas perlakuan menyakitkan yang diterimanya.

Perbuatan membalas dendam bukanlah pilihan baik. Tak peduli berapa dalam sakit yang Anda rasakan, jangan pernah berusaha membalas. Mengapa? Karena dengan membalas, itu menunjukkan diri Anda sama buruknya dengan dia. Perbuatan membalas pun akan menimbulkan perasaan bersalah dan memunculkan masalah baru.

Henry James, "Tiga hal penting dalam hidup: jadilah orang baik, jadilah orang baik, dan jadilah orang baik."

1. Menunjukkan Anda orang yang baik
Tanpa perlu bersusah payah show off di depan publik, hanya dengan tidak membalas orang yang telah menyakiti, itu membuktikan Anda pribadi yang baik dan cerdas. Orang di sekitar akan menilai Anda sosok cerdas dan kuat yang dapat menghadapi situasi sulit. Tetaplah bersikap baik kepada mereka yang berkali-kali menyakiti hati Anda dan biarkan sikap Anda ini menginspirasi orang lain.
 
2. Melembutkan sikap
Alasan lain untuk lebih ramah terhadap orang yang menyakiti Anda adalah karena dapat melunakkan sikap Anda terhadap mereka. Tentu, Anda dapat merespons buruk terhadap mereka, tapi ini hanya akan membuat situasi semakin buruk. Bersikap ramah adalah cara cerdas untuk menanggapi mereka. Dengan cara ini, Anda akan mengurangi kebencian terhadap mereka. Sebenarnya, kasihan lho orang yang menyakiti Anda karena mereka sengsara akibat hatinya penuh kebencian.
 
3. Terhindar dari rasa bersalah
Jika Anda bersikap baik kepada orang-orang yang telah menyakiti, Anda tidak akan sengsara karena memendam perasaan bersalah. Berlaku kasar terhadap mereka akan menimbulkan dua hal, sengsara karena mereka telah menyakiti Anda dan Anda merasa bersalah karena bersikap kasar kepada mereka. Cara terbaik untuk menanggapi mereka adalah dengan tersenyum dan bersikap baik.
 
4. Merasa diri Anda orang baik
Saat Anda ramah terhadap mereka yang telah menyakiti, Anda akan merasa diri Anda orang baik, sekaligus menyadari bahwa Anda lebih baik daripada orang itu. Ingat, perilaku kasar tidak akan membuat perasaan Anda lebih baik. Beri contoh kepada orang lain dengan bersikap ramah terhadap orang-orang yang telah menyakiti Anda, dan lihatlah semua orang akan menghargai Anda.
 
5. "Bunuh" mereka dengan kebaikan Anda
Rasanya puas jika bisa membalas perlakuan orang yang telah menyakiti. Tapi ada cara yang lebih manjur untuk "membunuh" orang yang pernah menyakiti Anda, yaitu dengan menebar kebaikan daripada balik menyakiti mereka. Bukan tak mungkin, kebaikan Anda akan membuat mereka mengakui kesalahan dan meminta maaf. Bahkan jika mereka tidak mengakui kesalahan, kebaikan Anda akan membuat mereka "gila" dan mereka akan meninggalkan Anda karena malu. Hindari berkomunikasi dengan mereka. Kelilingi diri Anda dengan orang baik dan positif yang membuat Anda bahagia.
 
6. Mengubah perilaku kasar mereka terhadap Anda
Bersikap ramah terhadap orang-orang yang telah menyakiti Anda bisa mengubah perilaku kasar mereka terhadap Anda. Kebaikan Anda mungkin membuat mereka mempertimbangkan kembali tindakan mereka. Sulit untuk mengubah perilaku seseorang terhadap Anda, tetapi Anda perlu setidaknya mencoba.
 
7. Anda akan menerima pujian
Ketika seseorang menyakiti Anda di depan orang lain, bersikap baik kepada mereka tidak akan membuat Anda tampak lemah. Ini akan membuat orang lain mengetahui bahwa Anda adalah pribadi yang baik dan cerdas. Mereka pasti akan melihat ciri kepribadian ini dan mereka akan menghormati Anda, lebih dari sebelumnya. Selain itu, orang yang pernah menyakiti Anda akan melihat kebaikan Anda juga.
 
Memang, tak mudah bersikap baik dan ramah terhadap orang-orang yang pernah menyakiti. Butuh kebesaran jiwa dan lapang dada. Ini adalah tugas yang menantang, tapi cobalah untuk tidak menyakiti siapa pun sebagai bentuk balas dendam. Banyak orang berpikir bahwa kebaikan adalah tanda kelemahan, tapi itu tidak benar. Kahlil Gibran mengatakan, "Kelembutan dan kebaikan bukanlah tanda-tanda kelemahan dan putus asa, tetapi manifestasi dari kekuatan dan resolusi."

Referensi : Jangan Balas Orang yang Menyakiti