This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Tanda Pernikahan Toxic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanda Pernikahan Toxic. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 September 2022

Tanda Pernikahan Toxic

Pertengkaran dan perbedaan adalah hal yang lumrah ketika hidup dan tinggal bersama pasangan. Dua sifat dan karakter manusia yang berbeda dan harus membaur dalam satu atap yang sama tentu kerap menimbulkan perselisihan.  Meski begitu, perselisihan antara pasangan suami istri dinilai wajar ketika ada solusi, pengertian, dan komunikasi yang baik dalam hubungan. Di sisi lain, Moms juga harus tahu seperti apa tanda pernikahan toxic.  Pertikaian bukan lagi menjadi sesuatu yang wajar apabila berubah menjadi saling menyalahkan, Moms merasa tidak bahagia, meragukan diri sendiri hingga pasangan berubah menjadi posesif.  Jika demikian, maka Moms perlu waspada, karena bisa jadi itu adalah tanda pernikahan toxic.  Apa Itu Pernikahan Toxic? Mengutip TIME, Dr. Lillian Glass, seorang ahli komunikasi dan psikologi yang berbasis di California sekaligus penulis buku 'Toxic People' mendefinisikan pernikahan toxic sebagai hubungan antar pasangan yang tidak saling mendukung.  Selain itu, ketika ada konflik, salah satu pasangan berusaha merusak kebahagiaan pasangan lainnya.  Selain itu, terdapat persaingan, rasa saling tidak menghormati, dan kurangnya kekompakkan dalam pernikahan.  Sementara itu, jurnal penelitian yang dilakukan oleh Nazaria Solferino dan M.Elisabetta Tessitore berjudul Human Networks and Toxic Relationships, dijelaskan bahwa toxic relationship termasuk tanda pernikahan toxic ditandai dengan perasaan tidak aman, egois, dominasi, dan suka mengontrol.  Apa Saja Tanda Pernikahan Toxic? Banyak dari pasangan yang tidak menyadari bahwa pernikahan yang sedang mereka jalani adalah hubungan toxic. Namun, bukan berarti Moms tidak bisa membedakan atau melihat tanda-tanda pernikahan toxic.  Mengutip Women's Health Magazine, Seth Meyers, PsyD, seorang psikolog klinis berlisensi dan penulis Overcome Relationship Repetition Syndrome and Find the Love You Deserve, menjelaskan bahwa tak sedikit pasangan yang sering lupa tujuan pernikahan adalah untuk memberikan rasa aman dan dukungan emosional.  Namun jika suatu ketika salah satu atau kedua pasangan memilih berhenti untuk saling mendukung, maka kesehatan mental dan emosional diri sendiri lebih berharga ketimbang mempertahankan pernikahan.  Berikut ini tanda bahwa Moms terjebak dalam pernikahan toxic.  1. Masalah Emosional Menurut Joel Block, seorang psikolog sekaligus penulis The 15-Minute Relationship Fix menjelaskan bahwa hal ini mengarah pada perasaan kebencian, merasa terasingkan secara emosional, dan masalah rumah tangga terasa menyesakkan bahkan mengganggu keintiman hubungan.  Menahan emosi bukanlah hal baik, begitu pun dengan saling tidak menghargai percakapan antara pasangan ketika sedang mengutarakan isi hatinya. Moms perlu tahu tanda pernikahan toxic ini.  Misalnya, pasangan mengatakan bahwa ia tak suka ketika Moms marah lalu merendahkannya di hadapan keluarga besar.  Alih-alih tak menghiraukan, biarkan pasangan mengungkapkan hal-hal yang membuatnya sedih dan sakit hati atas perilaku yang Moms perbuat, kemudian cari solusi atau jalan tengah yang bisa mengantarkan kebahagiaan pada Moms dan Dads.  2. Pasangan Suka Mengkritik Berlebihan Jika pasangan kerap mengkritik berlebihan, bisa jadi itu pertanda bahwa ia merasa kurang percaya diri dengan penampilannya sendiri atau hal-hal lain dalam kehidupannya. Perilaku semacam ini akan menimbulkan kebencian dan kekhawatiran dalam pernikahan. Ini juga menjadi tanda pernikahan toxic yang lainnya.  Untuk mengatasinya, Dr. Tony Ortega, PsyD, seorang penulis buku #AreYouHereYet: How to STFU And Show Up for Yourself menyarankan Moms untuk mengidentifikasi apa yang membuat pasangan merasa insecure dalam hubungan.  Bicarakan hal ini dengan Dads, jadikan diskusi tersebut sebagai upaya untuk merekatkan kembali hubungan pernikahan.  3. Membatasi Pergaulan Selama menjalani rumah tangga bersama pasangan, apakah Moms merasa memiliki kebebasan untuk bertemu keluarga dan teman-teman? Ataukah pasangan malah melarangnya? Jika ya, maka itu adalah tanda pernikahan toxic.  Tidak akur dengan mertua atau tidak menemukan kecocokan dengan sahabat adalah hal bisa dimengerti apabila pasangan terkadang enggan untuk bertemu dengan keluarga maupun sahabat.  Namun, yang menjadi tidak wajar ialah ketika pasangan membatasi waktu dan pergaulan Moms untuk bertemu keluarga maupun sahabat. Membatasi pergaulan juga menjadi tanda pernikahan toxic.  Keinginan dan perasaan melindungi maupun memiliki secara berlebihan bisa menyebabkan pasangan jadi posesif dan membuat hubungan renggang.  Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rodger Pinto dan James G. Hollandsworth, JR berjudul A Measure of Possessiveness in Intimate Relationships, dijelaskan bahwa posesif mengacu pada kumpulan sikap, perasaan, dan perilaku mengendalikan dan kontrol berlebihan atas tindakan orang lain dalam sebuah hubungan.  Moms perlu menjelaskan kepada pasangan bahwa orang tua dan sahabat adalah orang-orang terpenting dalam hidup Moms, dan sudah sewajarnya pasangan mendukung pertemanan dan hubungan keluarga yang sehat, terlebih ketika tahu bahwa hal itu penting untuk Moms.  4. Kerap Bertengkar Hebat  Banyak yang beranggapan perdebataan maupun pertengkaran adalah 'bumbu' cinta dalam rumah tangga. Tapi, jika pertengkaran diwarnai dengan kekerasan, kata-kata makian, dan perilaku kasar tentu itu bukan hal yang sehat.  Melansir Bustle, jika pasangan kerap memotong pembicaraan, tidak mau mengalah, hingga melakukan tindakan kekerasan maka Moms perlu waspada. Sebab, ini adalah salah satu tanda pernikahan toxic.  Moms dan Dads harus ingat, bahwa mungkin sebagian orang bisa berlapang dada untuk memaafkan, tapi mereka tak bisa melupakan. Terlebih ketika peristiwa itu menyakitkan atau menimbulkan trauma  Moms dan Dads pun perlu sadar bahwa, adalah hal yang wajar jika muncul perasaan marah dan frustasi saat bertengkar hebat.  Namun, tidak ada hak yang memperbolehkan pasangan atau Moms untuk menggunakan cara-cara kasar saat bertengkar. Apalagi hingga mengeluarkan ancaman untuk bercerai.  5. Tidak Merasa Bahagia dalam Pernikahan Tanda pernikahan toxic ini diketahui dengan Moms yang tidak ingat kapan terakhir kali merasa begitu bahagia setelah menikah.  Selain itu, perasaan tidak bahagia ini terus muncul meskipun hubungan dengan pasangan baik-baik saja dan pasangan masih menjadi suami yang selalu ada saat dibutuhkan.  Keinginan untuk melukai pasangan atau mempertimbangkan kembali pernikahan ini selalu muncul dalam hati maupun pikiran Moms.  Itu dia tanda pernikahan toxic, apakah Moms mengalami tanda-tanda di atas? Jika ya, mungkin Moms perlu membicarakan hal ini dengan pasangan, utarakan hal-hal yang mengganggu pikiran.  Namun, jika tidak berhasil, Moms tak perlu takut atau ragu untuk mendatangi pakar hubungan hingga psikolog untuk mencari solusi terbaik bagi hubungan rumah tangga Moms dan Dads.

Pertengkaran dan perbedaan adalah hal yang lumrah ketika hidup dan tinggal bersama pasangan. Dua sifat dan karakter manusia yang berbeda dan harus membaur dalam satu atap yang sama tentu kerap menimbulkan perselisihan.

Meski begitu, perselisihan antara pasangan suami istri dinilai wajar ketika ada solusi, pengertian, dan komunikasi yang baik dalam hubungan. Di sisi lain, Moms juga harus tahu seperti apa tanda pernikahan toxic.

Pertikaian bukan lagi menjadi sesuatu yang wajar apabila berubah menjadi saling menyalahkan, Moms merasa tidak bahagia, meragukan diri sendiri hingga pasangan berubah menjadi posesif.

Jika demikian, maka Moms perlu waspada, karena bisa jadi itu adalah tanda pernikahan toxic.

Apa Itu Pernikahan Toxic?

Mengutip TIME, Dr. Lillian Glass, seorang ahli komunikasi dan psikologi yang berbasis di California sekaligus penulis buku 'Toxic People' mendefinisikan pernikahan toxic sebagai hubungan antar pasangan yang tidak saling mendukung.

Selain itu, ketika ada konflik, salah satu pasangan berusaha merusak kebahagiaan pasangan lainnya.

Selain itu, terdapat persaingan, rasa saling tidak menghormati, dan kurangnya kekompakkan dalam pernikahan.

Sementara itu, jurnal penelitian yang dilakukan oleh Nazaria Solferino dan M.Elisabetta Tessitore berjudul Human Networks and Toxic Relationships, dijelaskan bahwa toxic relationship termasuk tanda pernikahan toxic ditandai dengan perasaan tidak aman, egois, dominasi, dan suka mengontrol.

Apa Saja Tanda Pernikahan Toxic?

Banyak dari pasangan yang tidak menyadari bahwa pernikahan yang sedang mereka jalani adalah hubungan toxic. Namun, bukan berarti Moms tidak bisa membedakan atau melihat tanda-tanda pernikahan toxic.

Mengutip Women's Health Magazine, Seth Meyers, PsyD, seorang psikolog klinis berlisensi dan penulis Overcome Relationship Repetition Syndrome and Find the Love You Deserve, menjelaskan bahwa tak sedikit pasangan yang sering lupa tujuan pernikahan adalah untuk memberikan rasa aman dan dukungan emosional.

Namun jika suatu ketika salah satu atau kedua pasangan memilih berhenti untuk saling mendukung, maka kesehatan mental dan emosional diri sendiri lebih berharga ketimbang mempertahankan pernikahan.

Berikut ini tanda bahwa Moms terjebak dalam pernikahan toxic.

1. Masalah Emosional

Menurut Joel Block, seorang psikolog sekaligus penulis The 15-Minute Relationship Fix menjelaskan bahwa hal ini mengarah pada perasaan kebencian, merasa terasingkan secara emosional, dan masalah rumah tangga terasa menyesakkan bahkan mengganggu keintiman hubungan.

Menahan emosi bukanlah hal baik, begitu pun dengan saling tidak menghargai percakapan antara pasangan ketika sedang mengutarakan isi hatinya. Moms perlu tahu tanda pernikahan toxic ini.

Misalnya, pasangan mengatakan bahwa ia tak suka ketika Moms marah lalu merendahkannya di hadapan keluarga besar.

Alih-alih tak menghiraukan, biarkan pasangan mengungkapkan hal-hal yang membuatnya sedih dan sakit hati atas perilaku yang Moms perbuat, kemudian cari solusi atau jalan tengah yang bisa mengantarkan kebahagiaan pada Moms dan Dads.

2. Pasangan Suka Mengkritik Berlebihan

Jika pasangan kerap mengkritik berlebihan, bisa jadi itu pertanda bahwa ia merasa kurang percaya diri dengan penampilannya sendiri atau hal-hal lain dalam kehidupannya.

Perilaku semacam ini akan menimbulkan kebencian dan kekhawatiran dalam pernikahan. Ini juga menjadi tanda pernikahan toxic yang lainnya.

Untuk mengatasinya, Dr. Tony Ortega, PsyD, seorang penulis buku #AreYouHereYet: How to STFU And Show Up for Yourself menyarankan Moms untuk mengidentifikasi apa yang membuat pasangan merasa insecure dalam hubungan.

Bicarakan hal ini dengan Dads, jadikan diskusi tersebut sebagai upaya untuk merekatkan kembali hubungan pernikahan.

3. Membatasi Pergaulan

Selama menjalani rumah tangga bersama pasangan, apakah Moms merasa memiliki kebebasan untuk bertemu keluarga dan teman-teman? Ataukah pasangan malah melarangnya? Jika ya, maka itu adalah tanda pernikahan toxic.

Tidak akur dengan mertua atau tidak menemukan kecocokan dengan sahabat adalah hal bisa dimengerti apabila pasangan terkadang enggan untuk bertemu dengan keluarga maupun sahabat.

Namun, yang menjadi tidak wajar ialah ketika pasangan membatasi waktu dan pergaulan Moms untuk bertemu keluarga maupun sahabat. Membatasi pergaulan juga menjadi tanda pernikahan toxic.

Keinginan dan perasaan melindungi maupun memiliki secara berlebihan bisa menyebabkan pasangan jadi posesif dan membuat hubungan renggang.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rodger Pinto dan James G. Hollandsworth, JR berjudul A Measure of Possessiveness in Intimate Relationships, dijelaskan bahwa posesif mengacu pada kumpulan sikap, perasaan, dan perilaku mengendalikan dan kontrol berlebihan atas tindakan orang lain dalam sebuah hubungan.

Moms perlu menjelaskan kepada pasangan bahwa orang tua dan sahabat adalah orang-orang terpenting dalam hidup Moms, dan sudah sewajarnya pasangan mendukung pertemanan dan hubungan keluarga yang sehat, terlebih ketika tahu bahwa hal itu penting untuk Moms.

4. Kerap Bertengkar Hebat

Banyak yang beranggapan perdebataan maupun pertengkaran adalah 'bumbu' cinta dalam rumah tangga. Tapi, jika pertengkaran diwarnai dengan kekerasan, kata-kata makian, dan perilaku kasar tentu itu bukan hal yang sehat.

Melansir Bustle, jika pasangan kerap memotong pembicaraan, tidak mau mengalah, hingga melakukan tindakan kekerasan maka Moms perlu waspada. Sebab, ini adalah salah satu tanda pernikahan toxic.

Moms dan Dads harus ingat, bahwa mungkin sebagian orang bisa berlapang dada untuk memaafkan, tapi mereka tak bisa melupakan. Terlebih ketika peristiwa itu menyakitkan atau menimbulkan trauma

Moms dan Dads pun perlu sadar bahwa, adalah hal yang wajar jika muncul perasaan marah dan frustasi saat bertengkar hebat.

Namun, tidak ada hak yang memperbolehkan pasangan atau Moms untuk menggunakan cara-cara kasar saat bertengkar. Apalagi hingga mengeluarkan ancaman untuk bercerai.

5. Tidak Merasa Bahagia dalam Pernikahan

Tanda pernikahan toxic ini diketahui dengan Moms yang tidak ingat kapan terakhir kali merasa begitu bahagia setelah menikah.

Selain itu, perasaan tidak bahagia ini terus muncul meskipun hubungan dengan pasangan baik-baik saja dan pasangan masih menjadi suami yang selalu ada saat dibutuhkan.

Keinginan untuk melukai pasangan atau mempertimbangkan kembali pernikahan ini selalu muncul dalam hati maupun pikiran Moms.

Itu dia tanda pernikahan toxic, apakah Moms mengalami tanda-tanda di atas? Jika ya, mungkin Moms perlu membicarakan hal ini dengan pasangan, utarakan hal-hal yang mengganggu pikiran.

Namun, jika tidak berhasil, Moms tak perlu takut atau ragu untuk mendatangi pakar hubungan hingga psikolog untuk mencari solusi terbaik bagi hubungan rumah tangga Moms dan Dads.