This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Penyesalan yang terlambat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyesalan yang terlambat. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Agustus 2022

Penyesalan yang terlambat

Penyesalan yang terlambat

Saya pernah membaca tulisan ustadz Rosyid Shobari dalam bukunya Menata Hati Muliakan Diri. Pada salah satu artikelnya, yang berjudul “Andaikan aku hanyalah seonggok tanah.” Pada tulisannya, ia menjelaskan tentang gambaran tentang betapa banyaknya orang-orang kafir, yang melakukan penyelasan kelak di yaumul akhir.
“Duhai, andaikan aku dahulu hanyalah tanah,” begitulah kalimat yang keluar dari orang-orang kafir. Penyesalan karena mereka akan mendapatkan azab yang sangat dahsyat akibat kekufuran mereka. Penyesalan orang-orang kafir ini merupakan kepastian yang dikabarkan oleh Allah di akhir surat An Naba’ ayat 40.
Sungguh, telah banyak firman Tuhan yang telah menegaskan kepada kita tentang kepastian kehidupan akhirat. Tentang dahsyatnya kenikmatan surga dan pedihnya siksa api neraka. Kita pun telah tahu dan cukup mengerti tentang hal itu sebab firman Allah dalam Alquran telah menjelaskannya. Sungguh, firman Tuhan adalah kebenaran. Sesuatu yang semestinya kita yakini, tanpa keraguan sedikitpun.
Betapa pedih siksa Allah. Betapa dahsyat bara api neraka. Kesengsaraan hidup, yang sungguh teramat sangat. Kehinaan tempat kembali, yang sungguh tak berarti. Ya Rabb, lindungi kami dari siksa api neraka.

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam Neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An Nisa: 56).

Merenungkan kembali firman Allah di akhir surat An Naba, ’“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (orang kafir) azab yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya, seandainya dahulu aku jadi tanah.” Memunculkan rasa gelisah yang sangat dahsyat. Jangan-jangan, meskipun tidak separah orang-orang kafir, namun aku merasa terlalu banyak berbuat kemaksiatan selama ini.

Aku merasa masih jauh dari rajin beribadah. Hatiku masih jauh dari tautan ke masjid. Panggilan suara azan, tak lantas membuatku bergegas ke masjid. Jangankan aktif shalat berjamaah lima waktu. Shalat sendiri saja, terkadang tak tepat waktu. Aku bisa berjam-jam meluangkan waktu untuk sekedar bermain HP dan khusuk memainkannya. Namun sangat berbeda, jika harus berlama-lama membaca Alquran. Aku merasa sedekahku sangat kurang, terlalu banyak pertimbangan, jika harus mengeluarkan uang untuk berzakat. Tentu saja, sangat berbeda, jika uang itu, aku keluarkan untuk pergi ke mall, membeli baju, buku dan berbagai keperluan hidup lainnya. Sungguh, serasa mudah, lancar dan tanpa pertimbangan sedikitpun.

Ya Rabb, hambamu ini telah banyak berbuat dosa. Betapa banyak mulut ini berucap yang terkadang sering menyakitkan orang tua, menyakitkan anak, saudara, tetangga, istri dan orang-orang lainnya. Mata ini, terlalu mudah tuk berbuat maksiat. Melihat yang haram, yang tak halal bagiku. Telinga ini, kerap sangat suka mendengarkan lantunan musik, daripada lantunan ayat suci Alquran.

Ngobrol kesana kemari, sungguh mengasyikkan. Namun ngobrol urusan Alquran sungguh menjemukan. Membicarakan aib orang lain, kerap kulakukan. Padahal kualitas diri, penuh keterbatasan. Berprasangka buruk tentang orang lain, sering tak terelakkan. Bahkan suudhon terhadap-Mu, terkadang pula sering aku lakukan.

Sungguh banyak nikmat yang telah kurasakan, namun sedikit sekali lisan ini gemar bertutur syukur. Lisan ini lebih suka mengaduh, mengeluh, dan berharap lebih dari apa yang telah kumiliki. Selalu saja, merasa kurang saat melihat teman hidup serba kecukupan. Selalu saja, iri hati, saat melihat orang lain bertabur kenikmatan, padahal diri sudah cukup bertabur kenikmatan. Ya Allah, hamba macam apa diriku ini. Tak pernah merasa puas atas apa yang sudah Engkau beri.

Sejenak kuterhenyak, ketika membaca kisah tentang Umar Al Faruq. Beliau yang telah mendapatkan jaminan surga dari Rasulullah saja, suatu hari masih bisa berkata, “Seandainya aku dahulu sehelai rambut di dada Abu Bakar, seandainya ibu Umar tidak melahirkan Umar.” Umar yang sedemikian besar jasanya terhadap Islam, bahkan masih begitu takut dan sangat terguncang akan ancaman pedihnya siksa akhirat.

Lantas, bagaimana dengan diriku, yang masih kotor berlumur dosa ini?. Seorang hamba, yang tak punya jasa sedikitpun terhadap Islam, bahkan sering bermaksiat, terlalu cinta dunia hingga menyepelekan shalat. Bukankan aku yang seharusnya, lebih pantas berkata, “Ya Rabb, seandainya saja, dahulu aku tidak terlahirkan ke dunia ini?”

Ya Allah, Sang pemilik jagat raya. Ayat terakhir surat An Naba’ itu, sungguh sangat menakutkan. Jangan-jangan aku pun akan menghadap-Mu dengan penuh penyesalan. Menyesal sebab ibadah yang masih kurang, menyesal sebab shalat yang tak pernah khusuk, menyesal sebab sedekah yang masih kurang dan angin-anginan, menyesal sebab puasa sunnah yang sering terabaikan, menyesal sebab sering menyakiti hati orang tua, menyesal sebab sering lalai menepati janji, menyesal sebab tak gemar bangun tengah malam, menyesal sebab suka berbohong dan ribuan sebab-sebab penyesalan yang lainnya yang mungkin Engkau tanyakan kepadaku kelak di padang mahsyar. Masyaallah, 

Sungguh diri ini keras kepala. Sungguh diri ini, tak mudah menerima hidayah. Bukankan peringatan dan nasehat telah banyak Engkau berikan agar diri ini kembali ke jalan lurus-Mu. Bukankan nasehat kematian sudah sering aku lihat pada kawan, keluarga, handai taulan yang masih sangat muda usianya. Namun Allah telah memanggilnya. Bukankah kematian, tak mengenal usia, waktu, kapan dan sedang apa kita.

Mungkin saja, hari ini adalah waktu terakhir kita menghirup udara. Mungkin saja, malaikat Izroil telah bersiap-siap beberapa menit lagi untuk mengambil nyawa kita meski kita sehat, dan muda sekalipun. Ingatlah, sesungguhnya kematian adalah kepastian dan bisa datang menjemput kita.

Referensi : Penyesalan yang terlambat