This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Bahayanya Sifat Pengecut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahayanya Sifat Pengecut. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 September 2022

Bahayanya Sifat Pengecut

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam  . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:    Diantara sekian sifat tercela yang Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul-Nya cela secara spesifik adalah sifat pengecut. Para ulama mengatakan, salah satunya Fairuz Abadi menjelaskan, “Pengecut adalah lemahnya hati yang seharusnya dalam kondisi kuat”.[1] Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  kebiasaan beliau adalah berlindung kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dari sifat pengecut. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ » [أخرجه البخاري و مسلم]    “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada –Mu dari gundah hati dan kesedihan, dari rasa lemah dan malas, dari rasa kikir dan penakut dari lilitan hutang dan penguasaan orang lain“. HR Bukhari no: 6363. Muslim no: 2707.    Al-Qodhi Iyadh mengatakan, “Itulah bentuk berlindungnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berlindung dari sifat pengecut dan kikir disebabkan dalam kedua sifat tersebut terkandung beberapa keburukan, seperti tidak bisa sempurna dalam melaksanakan kewajiban dan menunaikan hak-haknya Allah Shubhanahu wa ta’alla, tidak membenci ahli maksiat, serta enggan merubah kemungkaran, dan menunaikan hak-hak harta. Yang mana dengan keberanian yang seimbang bisa mengantarkan pada mengerjakan hak, menolong orang terdhalimi, dan dengan kelapangan jiwa akan mudah untuk menunaikan haknya harta. Tanggap untuk mengeluarkan dan menolong orang miskin, serta membantu orang yang dilanda kesulitan”. [2]    Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  menjelaskan kalau sifat pengecut merupakan sifat terburuk diantara sifat-sifat jelek lainnya yang ada pada pribadi seseorang. Hal itu, seperti dijelaskan dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « شَرُّ مَا فِي رَجُلٍ شُحٌّ هَالِعٌ وَجُبْنٌ خَالِعٌ » [أخرجه أحمد]    “Sifat terjelek yang ada pada diri seseorang ialah orang yang sangat pelit dan pengecut“. HR Ahmad 13/385 no: 8010.    Pengecut juga termasuk ciri khasnya orang munafik. Sebagaimana disebutkan oleh Allah ta’ala didalam firman -Nya:    أَشِحَّةً عَلَيۡكُمۡۖ فَإِذَا جَآءَ ٱلۡخَوۡفُ رَأَيۡتَهُمۡ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ تَدُورُ أَعۡيُنُهُمۡ كَٱلَّذِي يُغۡشَىٰ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِۖ  [ الأحزاب: 19 ]    “Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik- balik seperti orang yang pingsan karena akan mati”. [al-Ahzab/33: 19]    Al-Hafidh Ibnu Katsir menerangkan, “Hal itu disebabkan karena mereka kaget dan ketakutan yang sangat. Itulah ketakutan mereka-mereka para pengecut yang takut dari peperangan, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, artinya apabila dalam kondisi aman mereka mulai mengeluarkan statemen yang pedas, tinggi lagi fasih. Dengan mengklaim bahwa merekalah orang-orang yang berada dikedudukan para pemberani dan kstaria sedangkan mereka adalah para pendusta akan hal itu”.[3]    Seorang penyair mengatakan:  Apakah jikalau aman kamu tabiatnya kasar lagi keras  Tapi dalam perang bagaikan wanita pingitan    Lihat pada panutan kita, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  adalah orang yang paling berani dan paling teguh hatinya tatkala berhadapan dengan musuh. Dijelaskan dalam sebuah hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dari al-Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, “Kami, demi Allah apabila kami dilanda ketakutan seringkali kami berlindung dibalik beliau, dan sungguh beliau adalah orang paling berani diantara kami“. HR Muslim no: 1776.    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Sesungguhnya semua orang memuji orang yang punya sifat pemberani dan penderma, sampai kiranya kebanyakan pujian yang dibawakan oleh para penyair dalam bait syairnya adalah tentang keberanian ini. Begitu pula banyak orang yang mencela sifat kikir dan pengecut.  Kemudian beliau melanjutkan, “Manakala kebaikan anak cucu Adam tidak mungkin bisa sempurna dalam agamanya melainkan dengan keberanian dan dermawan maka Allah azza wa jalla menjelaskan bahwa orang yang diserahi tugas untuk memikul jihad, namun meninggalkannya maka -Dia akan ganti orang tersebut dengan orang lain yang mau menegakan syi’ar jihad tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam firman -Nya:    فَمِنكُم مَّن يَبۡخَلُۖ وَمَن يَبۡخَلۡ فَإِنَّمَا يَبۡخَلُ عَن نَّفۡسِهِۦۚ وَٱللَّهُ ٱلۡغَنِيُّ وَأَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُۚ وَإِن تَتَوَلَّوۡاْ يَسۡتَبۡدِلۡ قَوۡمًا غَيۡرَكُمۡ ثُمَّ لَا يَكُونُوٓاْ أَمۡثَٰلَكُم [محمد: 38]    “Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. dan Allah -lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada -Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini”. [Muhammad/47: 38].[4]    Dan diantara perkara yang menunjukan sifat pengecut ini termasuk menafikan budi pekerti yang luhur ialah sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Tatkala aku sedang bersama Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat lainnya seusai peperangan Hunain. Datang orang-orang Arab Badui berdesak-desakan mengerumuni beliau untuk meminta bagian sehingga beliau terdesak ke suatu pohon yang menyebabkan jubahnya terlepas. Lalu beliau berkata:    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَعْطُونِي رِدَائِي لَوْ كَانَ لِي عَدَدُ هَذِهِ الْعِضَاهِ نَعَمًا لَقَسَمْتُهُ بَيْنَكُمْ ثُمَّ لَا تَجِدُونِي بَخِيلًا وَلَا كَذُوبًا وَلَا جَبَانًا » [أخرجه البخاري]    “Kembalikan jubahku. Demi Allah, jika saja aku memiliki ternak sebanyak pohon besar niscaya aku akan bagi-bagikan juga kepada kalian, sehingga dengan begitu tidak ada yang menganggapku sebagai orang yang kikir, dusta dan pengecut“. HR Bukhari no: 3148.    Al-Hafidh Ibnu Hajar menerangkan, “Didalam hadits ini sebagai dalil tercelanya sifat-sifat yang disebutkan tadi, yakni kikir, dusta, dan pengecut. Dan tidak sepantasnya bagi seorang pemimpin kaum muslimin yang mempunyai cabang-cabang sifat tersebut”.[5] Seorang ulama yang bernama Abu Zinad mengatakan, “Tatkala Khalid bin Walid dalam kondisi kritis beliau menangis. Kemudian beliau berkata, “Sungguh aku telah mengikuti (peperangan) ini dan itu, sehingga tidak menyisakan sedikitpun dari tubuhku ini melainkan ada bekas sabetan pedang, tusukan tombak atau lemparan panah. Dan sekarang aku akan meninggal diatas tempat tidur tergeletak seperti matinya seekor onta, maka tidaklah tertidur matanya para pengecut”.[6]    Umar bin Khatab mengatakan, “Sesungguhnya keberanian dan pengecut adalah sifat dasar yang Allah Shubhanahu wa ta’alla berikan pada hamba yang dikendaki -Nya. Maka bisa dijumpai ada seseorang yang berperang dengan tidak mempedulikan bisa kembali kepada keluarganya atau tidak. Ada juga seseorang yang lari dari ayah dan ibunya (tidak membelanya). Ada pula yang berperang demi mencari wajah Allah Shubhanahu wa ta’alla, maka itulah yang dinamakan syahid”.    Seorang penyair mengatakan:  Para pengecut suatu kaum akan lari membela anak ibunya  Sedang pemberani rela membela orang yang tidak memiliki kedekatan    Diantara kisah-kisah para pemberani yang disebutkan dalam bukuh sejarah ialah kejadian yang ada dalam peperang Badr. Kisahnya Mu’adz bin Amr radhiyallahu ‘anhu disaat perang berkecamuk. Beliau berkata, “Aku mempunyai target pada perang Badr untuk membunuh Abu Jahal. Maka, manakala peluang datang akupun menyerangnya. Aku layangkan satu pukulan yang mengenai sekitar kakinya pada pertengahan betisnya. Lalu anaknya Ikrimah menyabet pundakku, maka lenganku pun terlepas dan menempel pada kulit sampingku namun peperangan menjauhkan posisiku darinya. Sungguh, aku telah berperang seharian dan menyeret lenganku ke belakang. Maka, tatkala ia semakin membuatku tersiksa, maka aku menginjakkan kakiku ke atasnya kemudian lama aku melakukan hal itu hingga akhirnya berhasil membuangnya”.    Imam Dzahabi mengomentari kisah ini dengan mengatakan, “Ini demi Allah, inilah yang dinamakan pemberani sejati. Bukan seperti orang hanya tergores anak panah lalu nyalinya menciut dan menyembelih ketegarannya”.[7] Pernah ditanyakan kepada Abdul Malik, “Siapakah orang Arab yang paling berani dalam bait syairnya? Beliau menjawab, “Abas bin Murdas tatkala mengatakan:  Kondisi terberat ialah ketika menghadapi pasukan yang bersenjata lengkap  Namun, ku tak peduli apakah aku mati disitu ataukah selamat darinya     Inilah lantunan bait syair yang paling berani yang diucapkan oleh orang Arab. Adapun bait syair kepada para pengecut adalah seperti perkataan seorang penyair:  Aku mengira ketika lari dari peperang menyebabkan panjang umur  Tapi aku tidak menjumpai seperti ketika maju kemedan pertempuran  Bukanlah kesudahan perang yang menyebabkan berdarah  Namun, kaki kami yang berdarah karena lari tunggang langgang    Penyair lain mengatakan:  Kondisi terberat yang aku alami disaat perang adalah telapak kaki  Lari terpacu dari genderang perang tatkala diumumkan  Mengapa tidak seperti kijang betina yang pemberani  Itu karena hatimu menciut berada disayap burung    Kisah seorang wanita muda al-Khariji yang dikatakan oleh Ibnu Katsir, “Dirinya adalah seorang wanita kuat yang turut serta dalam perang yang sedang berkecamuk, yang barangkali tidak bisa disetarai oleh para pemberani laki-laki. Sampai kiranya Hajaj takut sekali dari sepak terjangnya. Sehingga diungkapkan oleh sebagian penyair tentang kejadian tersebut”. Lalu beliau menyebutkan dua bait syair tersebut.[8]    Dampak Buruk Sifat Pengecut:  Pertama: Pengecut termasuk sifatnya para munafik yang seharusnya dihilangkan dari dalam diri orang beriman.    Kedua: Sifat pengecut tidak bisa menjadikan ajal semakin menjauh, tidak pula mendekatkan rizki dan manfaat. Allah Shubhanahu wa ta’ala berfirman tentang orang-orang munafik:     يَقُولُونَ لَوۡ كَانَ لَنَا مِنَ ٱلۡأَمۡرِ شَيۡءٞ مَّا قُتِلۡنَا هَٰهُنَاۗ قُل لَّوۡ كُنتُمۡ فِي بُيُوتِكُمۡ لَبَرَزَ ٱلَّذِينَ كُتِبَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقَتۡلُ إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمۡۖ  [ آل عمران: 154]    “Mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh“. [al-Imran/3: 154].    Ketiga: Orang yang memiliki sifat pengecut menunjukan akan lemah imannya. Rasa tawakalnya kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala. sebagaimana dijelaskan oleh Allah Shubhanahu wa ta’ala dalam firman -Nya:    قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ  [ التوبة: 51 ]    “Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. [atTaubah/9: 51].    Keempat: Pengecut akan mengantarkan pada kealpaan dalam menunaikan kewajiban. Menunaikan hak-hak Allah Shubhanahu wa ta’ala, dan yang terburuk dari itu semua ialah tidak berani memerangi ahli bathil dan merubah kemungkaran.    Kelima: Pengecut mewariskan kehinaan dan sempitnya hati. Imam Ibnu Qoyim mengatakan, “Sesungguhnya keberanian menjadikan lapang dada dan hati menjadi tentram adapun pengecut maka dijumpai dia adalah manusia yang paling sempit dadanya, hatinya tertawan tidak ada tawa dan kebahagian. Tidak ada kelezatan hidup melainkan seperti yang dirasakan oleh binatang ternak, sedang kebahagian jiwa, kelezatan, kenikmatan, serta berkobarnya maka semua itu terhalang bagi para pengecut sebagaimana terlarang pula bagi orang yang kikir”.[9]    Keenam: Pengecut menyebabkan terjajahnya sebuah negeri, terampasnya harta benda serta pelanggaran kehormatan lainnya.    Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.    [Disalin dari ذم الجبن Penulis Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqaw, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam  . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:


Diantara sekian sifat tercela yang Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul-Nya cela secara spesifik adalah sifat pengecut. Para ulama mengatakan, salah satunya Fairuz Abadi menjelaskan, “Pengecut adalah lemahnya hati yang seharusnya dalam kondisi kuat”.[1] Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  kebiasaan beliau adalah berlindung kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dari sifat pengecut. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ » [أخرجه البخاري و مسلم]


“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada –Mu dari gundah hati dan kesedihan, dari rasa lemah dan malas, dari rasa kikir dan penakut dari lilitan hutang dan penguasaan orang lain“. HR Bukhari no: 6363. Muslim no: 2707.


Al-Qodhi Iyadh mengatakan, “Itulah bentuk berlindungnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berlindung dari sifat pengecut dan kikir disebabkan dalam kedua sifat tersebut terkandung beberapa keburukan, seperti tidak bisa sempurna dalam melaksanakan kewajiban dan menunaikan hak-haknya Allah Shubhanahu wa ta’alla, tidak membenci ahli maksiat, serta enggan merubah kemungkaran, dan menunaikan hak-hak harta. Yang mana dengan keberanian yang seimbang bisa mengantarkan pada mengerjakan hak, menolong orang terdhalimi, dan dengan kelapangan jiwa akan mudah untuk menunaikan haknya harta. Tanggap untuk mengeluarkan dan menolong orang miskin, serta membantu orang yang dilanda kesulitan”. [2]


Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  menjelaskan kalau sifat pengecut merupakan sifat terburuk diantara sifat-sifat jelek lainnya yang ada pada pribadi seseorang. Hal itu, seperti dijelaskan dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « شَرُّ مَا فِي رَجُلٍ شُحٌّ هَالِعٌ وَجُبْنٌ خَالِعٌ » [أخرجه أحمد]


“Sifat terjelek yang ada pada diri seseorang ialah orang yang sangat pelit dan pengecut“. HR Ahmad 13/385 no: 8010.


Pengecut juga termasuk ciri khasnya orang munafik. Sebagaimana disebutkan oleh Allah ta’ala didalam firman -Nya:


أَشِحَّةً عَلَيۡكُمۡۖ فَإِذَا جَآءَ ٱلۡخَوۡفُ رَأَيۡتَهُمۡ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ تَدُورُ أَعۡيُنُهُمۡ كَٱلَّذِي يُغۡشَىٰ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِۖ  [ الأحزاب: 19 ]


“Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik- balik seperti orang yang pingsan karena akan mati”. [al-Ahzab/33: 19]


Al-Hafidh Ibnu Katsir menerangkan, “Hal itu disebabkan karena mereka kaget dan ketakutan yang sangat. Itulah ketakutan mereka-mereka para pengecut yang takut dari peperangan, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, artinya apabila dalam kondisi aman mereka mulai mengeluarkan statemen yang pedas, tinggi lagi fasih. Dengan mengklaim bahwa merekalah orang-orang yang berada dikedudukan para pemberani dan kstaria sedangkan mereka adalah para pendusta akan hal itu”.[3]


Seorang penyair mengatakan:

Apakah jikalau aman kamu tabiatnya kasar lagi keras

Tapi dalam perang bagaikan wanita pingitan


Lihat pada panutan kita, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  adalah orang yang paling berani dan paling teguh hatinya tatkala berhadapan dengan musuh. Dijelaskan dalam sebuah hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dari al-Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, “Kami, demi Allah apabila kami dilanda ketakutan seringkali kami berlindung dibalik beliau, dan sungguh beliau adalah orang paling berani diantara kami“. HR Muslim no: 1776.


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Sesungguhnya semua orang memuji orang yang punya sifat pemberani dan penderma, sampai kiranya kebanyakan pujian yang dibawakan oleh para penyair dalam bait syairnya adalah tentang keberanian ini. Begitu pula banyak orang yang mencela sifat kikir dan pengecut.  Kemudian beliau melanjutkan, “Manakala kebaikan anak cucu Adam tidak mungkin bisa sempurna dalam agamanya melainkan dengan keberanian dan dermawan maka Allah azza wa jalla menjelaskan bahwa orang yang diserahi tugas untuk memikul jihad, namun meninggalkannya maka -Dia akan ganti orang tersebut dengan orang lain yang mau menegakan syi’ar jihad tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam firman -Nya:


فَمِنكُم مَّن يَبۡخَلُۖ وَمَن يَبۡخَلۡ فَإِنَّمَا يَبۡخَلُ عَن نَّفۡسِهِۦۚ وَٱللَّهُ ٱلۡغَنِيُّ وَأَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُۚ وَإِن تَتَوَلَّوۡاْ يَسۡتَبۡدِلۡ قَوۡمًا غَيۡرَكُمۡ ثُمَّ لَا يَكُونُوٓاْ أَمۡثَٰلَكُم [محمد: 38]


“Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. dan Allah -lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada -Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini”. [Muhammad/47: 38].[4]


Dan diantara perkara yang menunjukan sifat pengecut ini termasuk menafikan budi pekerti yang luhur ialah sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Tatkala aku sedang bersama Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat lainnya seusai peperangan Hunain. Datang orang-orang Arab Badui berdesak-desakan mengerumuni beliau untuk meminta bagian sehingga beliau terdesak ke suatu pohon yang menyebabkan jubahnya terlepas. Lalu beliau berkata:


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَعْطُونِي رِدَائِي لَوْ كَانَ لِي عَدَدُ هَذِهِ الْعِضَاهِ نَعَمًا لَقَسَمْتُهُ بَيْنَكُمْ ثُمَّ لَا تَجِدُونِي بَخِيلًا وَلَا كَذُوبًا وَلَا جَبَانًا » [أخرجه البخاري]


“Kembalikan jubahku. Demi Allah, jika saja aku memiliki ternak sebanyak pohon besar niscaya aku akan bagi-bagikan juga kepada kalian, sehingga dengan begitu tidak ada yang menganggapku sebagai orang yang kikir, dusta dan pengecut“. HR Bukhari no: 3148.


Al-Hafidh Ibnu Hajar menerangkan, “Didalam hadits ini sebagai dalil tercelanya sifat-sifat yang disebutkan tadi, yakni kikir, dusta, dan pengecut. Dan tidak sepantasnya bagi seorang pemimpin kaum muslimin yang mempunyai cabang-cabang sifat tersebut”.[5] Seorang ulama yang bernama Abu Zinad mengatakan, “Tatkala Khalid bin Walid dalam kondisi kritis beliau menangis. Kemudian beliau berkata, “Sungguh aku telah mengikuti (peperangan) ini dan itu, sehingga tidak menyisakan sedikitpun dari tubuhku ini melainkan ada bekas sabetan pedang, tusukan tombak atau lemparan panah. Dan sekarang aku akan meninggal diatas tempat tidur tergeletak seperti matinya seekor onta, maka tidaklah tertidur matanya para pengecut”.[6]


Umar bin Khatab mengatakan, “Sesungguhnya keberanian dan pengecut adalah sifat dasar yang Allah Shubhanahu wa ta’alla berikan pada hamba yang dikendaki -Nya. Maka bisa dijumpai ada seseorang yang berperang dengan tidak mempedulikan bisa kembali kepada keluarganya atau tidak. Ada juga seseorang yang lari dari ayah dan ibunya (tidak membelanya). Ada pula yang berperang demi mencari wajah Allah Shubhanahu wa ta’alla, maka itulah yang dinamakan syahid”.


Seorang penyair mengatakan:

Para pengecut suatu kaum akan lari membela anak ibunya

Sedang pemberani rela membela orang yang tidak memiliki kedekatan


Diantara kisah-kisah para pemberani yang disebutkan dalam bukuh sejarah ialah kejadian yang ada dalam peperang Badr. Kisahnya Mu’adz bin Amr radhiyallahu ‘anhu disaat perang berkecamuk. Beliau berkata, “Aku mempunyai target pada perang Badr untuk membunuh Abu Jahal. Maka, manakala peluang datang akupun menyerangnya. Aku layangkan satu pukulan yang mengenai sekitar kakinya pada pertengahan betisnya. Lalu anaknya Ikrimah menyabet pundakku, maka lenganku pun terlepas dan menempel pada kulit sampingku namun peperangan menjauhkan posisiku darinya. Sungguh, aku telah berperang seharian dan menyeret lenganku ke belakang. Maka, tatkala ia semakin membuatku tersiksa, maka aku menginjakkan kakiku ke atasnya kemudian lama aku melakukan hal itu hingga akhirnya berhasil membuangnya”.


Imam Dzahabi mengomentari kisah ini dengan mengatakan, “Ini demi Allah, inilah yang dinamakan pemberani sejati. Bukan seperti orang hanya tergores anak panah lalu nyalinya menciut dan menyembelih ketegarannya”.[7] Pernah ditanyakan kepada Abdul Malik, “Siapakah orang Arab yang paling berani dalam bait syairnya? Beliau menjawab, “Abas bin Murdas tatkala mengatakan:

Kondisi terberat ialah ketika menghadapi pasukan yang bersenjata lengkap

Namun, ku tak peduli apakah aku mati disitu ataukah selamat darinya 


Inilah lantunan bait syair yang paling berani yang diucapkan oleh orang Arab. Adapun bait syair kepada para pengecut adalah seperti perkataan seorang penyair:

Aku mengira ketika lari dari peperang menyebabkan panjang umur

Tapi aku tidak menjumpai seperti ketika maju kemedan pertempuran

Bukanlah kesudahan perang yang menyebabkan berdarah

Namun, kaki kami yang berdarah karena lari tunggang langgang


Penyair lain mengatakan:

Kondisi terberat yang aku alami disaat perang adalah telapak kaki

Lari terpacu dari genderang perang tatkala diumumkan

Mengapa tidak seperti kijang betina yang pemberani

Itu karena hatimu menciut berada disayap burung


Kisah seorang wanita muda al-Khariji yang dikatakan oleh Ibnu Katsir, “Dirinya adalah seorang wanita kuat yang turut serta dalam perang yang sedang berkecamuk, yang barangkali tidak bisa disetarai oleh para pemberani laki-laki. Sampai kiranya Hajaj takut sekali dari sepak terjangnya. Sehingga diungkapkan oleh sebagian penyair tentang kejadian tersebut”. Lalu beliau menyebutkan dua bait syair tersebut.[8]


Dampak Buruk Sifat Pengecut:

Pertama: Pengecut termasuk sifatnya para munafik yang seharusnya dihilangkan dari dalam diri orang beriman.


Kedua: Sifat pengecut tidak bisa menjadikan ajal semakin menjauh, tidak pula mendekatkan rizki dan manfaat. Allah Shubhanahu wa ta’ala berfirman tentang orang-orang munafik:


 يَقُولُونَ لَوۡ كَانَ لَنَا مِنَ ٱلۡأَمۡرِ شَيۡءٞ مَّا قُتِلۡنَا هَٰهُنَاۗ قُل لَّوۡ كُنتُمۡ فِي بُيُوتِكُمۡ لَبَرَزَ ٱلَّذِينَ كُتِبَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقَتۡلُ إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمۡۖ  [ آل عمران: 154]


“Mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh“. [al-Imran/3: 154].


Ketiga: Orang yang memiliki sifat pengecut menunjukan akan lemah imannya. Rasa tawakalnya kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala. sebagaimana dijelaskan oleh Allah Shubhanahu wa ta’ala dalam firman -Nya:


قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ  [ التوبة: 51 ]


“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. [atTaubah/9: 51].


Keempat: Pengecut akan mengantarkan pada kealpaan dalam menunaikan kewajiban. Menunaikan hak-hak Allah Shubhanahu wa ta’ala, dan yang terburuk dari itu semua ialah tidak berani memerangi ahli bathil dan merubah kemungkaran.


Kelima: Pengecut mewariskan kehinaan dan sempitnya hati. Imam Ibnu Qoyim mengatakan, “Sesungguhnya keberanian menjadikan lapang dada dan hati menjadi tentram adapun pengecut maka dijumpai dia adalah manusia yang paling sempit dadanya, hatinya tertawan tidak ada tawa dan kebahagian. Tidak ada kelezatan hidup melainkan seperti yang dirasakan oleh binatang ternak, sedang kebahagian jiwa, kelezatan, kenikmatan, serta berkobarnya maka semua itu terhalang bagi para pengecut sebagaimana terlarang pula bagi orang yang kikir”.[9]


Keenam: Pengecut menyebabkan terjajahnya sebuah negeri, terampasnya harta benda serta pelanggaran kehormatan lainnya.


Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.


[Disalin dari ذم الجبن Penulis Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqaw, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]