This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Tahap Psikologis Pasca Perceraian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tahap Psikologis Pasca Perceraian. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 September 2022

Tahap Psikologis Pasca Perceraian

Ketika menikah, tak seorang pun berpikir untuk bercerai. Tapi ketika perkawinan tidak dapat dipertahankan lagi dan perceraian menjadi pilihan, pastikan Anda siap menghadapinya.   Bagaimana gejolak emosi pasca bercerai, tentu berbeda pada setiap orang. “Perceraian berkaitan dengan grieving, yaitu rasa kehilangan suatu relasi yang tadinya diharapkan menjadi sebuah relasi jangka panjang dan selamanya, tetapi kenyataannya, relasi tersebut harus diputus,” jelas Evi Sukmaningrum, M.Si, psikolog. Seseorang menghayati perceraiannya dengan gejolak emosi yang berbeda-beda. Dan mengutip hasil riset Deborah Carr, wanita ternyata lebih depresif, cemas, dan tertekan setelah bercerai.   Ada tahapan-tahapan yang biasanya dialami oleh seseorang pasca bercerai. Namun, menurut Evi, tidak semua tahap itu pasti dialami.     Tahap menyangkal  Merasa seolah-olah tidak terjadi apa pun, hidupnya normal dan biasa saja. Ia sering menolak untuk mengakui bahwa perceraian itu terjadi. “Saya baik-baik saja,” atau “Perceraian ini memang sudah seharusnya terjadi.”   Tahap marah Perasaan campur aduk antara takut dan luka yang diekspresikan dengan cara marah. Marah kepada diri sendiri karena merasa gagal, marah kepada mantan suami karena tidak mampu mempertahankan perkawinan, marah kepada anak, mertua, dan lain-lain.   Tahap tawar-menawar Muncul rasa penyesalan karena sudah bercerai dan merasa bersalah karena membiarkan perceraian itu terjadi. Beberapa orang perlu mengekspresikannya dengan meminta kesempatan kedua atau rujuk kepada mantan pasangan.   Tahap depresi Muncul dalam berbagai gejala, seperti sulit tidur, merasa sedih berkepanjangan, merasa tidak berharga, kehilangan selera makan, sangat sensitif terhadap masukan dari orang lain, atau memandang hidup dengan pesimistis.   Tahap penerimaan Sejalan dengan tahapan-tahapan yang dilalui, orang akan melakukan refleksi mendalam terhadap perceraian yang sudah terjadi. Pada satu titik dia akan tiba pada tahap penerimaan sepenuhnya bahwa dia sudah bercerai dan menerima perceraian sebagai bagian dari masa lalunya. Pada tahap ini biasanya muncul keberanian untuk memulai lagi hidupnya dengan lembaran baru, mampu melihat masa depan dengan lebih bersemangat, dan memiliki energi untuk move on.

Ketika menikah, tak seorang pun berpikir untuk bercerai. Tapi ketika perkawinan tidak dapat dipertahankan lagi dan perceraian menjadi pilihan, pastikan Anda siap menghadapinya.
 
Bagaimana gejolak emosi pasca bercerai, tentu berbeda pada setiap orang. “Perceraian berkaitan dengan grieving, yaitu rasa kehilangan suatu relasi yang tadinya diharapkan menjadi sebuah relasi jangka panjang dan selamanya, tetapi kenyataannya, relasi tersebut harus diputus,” jelas Evi Sukmaningrum, M.Si, psikolog. Seseorang menghayati perceraiannya dengan gejolak emosi yang berbeda-beda. Dan mengutip hasil riset Deborah Carr, wanita ternyata lebih depresif, cemas, dan tertekan setelah bercerai.
 
Ada tahapan-tahapan yang biasanya dialami oleh seseorang pasca bercerai. Namun, menurut Evi, tidak semua tahap itu pasti dialami.  
 
Tahap menyangkal 
Merasa seolah-olah tidak terjadi apa pun, hidupnya normal dan biasa saja. Ia sering menolak untuk mengakui bahwa perceraian itu terjadi. “Saya baik-baik saja,” atau “Perceraian ini memang sudah seharusnya terjadi.”
 
Tahap marah
Perasaan campur aduk antara takut dan luka yang diekspresikan dengan cara marah. Marah kepada diri sendiri karena merasa gagal, marah kepada mantan suami karena tidak mampu mempertahankan perkawinan, marah kepada anak, mertua, dan lain-lain.
 
Tahap tawar-menawar
Muncul rasa penyesalan karena sudah bercerai dan merasa bersalah karena membiarkan perceraian itu terjadi. Beberapa orang perlu mengekspresikannya dengan meminta kesempatan kedua atau rujuk kepada mantan pasangan.
 
Tahap depresi
Muncul dalam berbagai gejala, seperti sulit tidur, merasa sedih berkepanjangan, merasa tidak berharga, kehilangan selera makan, sangat sensitif terhadap masukan dari orang lain, atau memandang hidup dengan pesimistis.
 
Tahap penerimaan
Sejalan dengan tahapan-tahapan yang dilalui, orang akan melakukan refleksi mendalam terhadap perceraian yang sudah terjadi. Pada satu titik dia akan tiba pada tahap penerimaan sepenuhnya bahwa dia sudah bercerai dan menerima perceraian sebagai bagian dari masa lalunya. Pada tahap ini biasanya muncul keberanian untuk memulai lagi hidupnya dengan lembaran baru, mampu melihat masa depan dengan lebih bersemangat, dan memiliki energi untuk move on.