This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Senin, 22 Agustus 2022

Manajemen Waktu Menurut Islam

Ilustrasi : Manajemen Waktu Menurut Islam

Yang dimaksud dengan “manejemen waktu” dalam pengertian sederhana adalah “mengatur waktu”. Manajemen pada prinsipnya adalah mengatur, mengorganisasikan, atau memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk aktivitas dan tujuan yang bermanfaat.   Memang, jika kita mengacu kepada istilah “menajemen” dalam pengertian sesungguhnya, tentu ada yang disebut: perencanaan, pelaksanaan, kontrol, dan evaluasi. Dalam memanage waktu, memang seharusnya unsur-unsur itu diterapkan, namun kita bisa menyebutnya di sini secara lebih longgar sebagai “seni mengatur waktu” dalam pengertian bahwa meski ada unsur-unsur pokok yang harus dipenuhi seperti itu, akan tetapi mengatur waktu tidak boleh juga terlalu ketat. Oleh karena itu, kita menyebutnya sebagai seni mengatur waktu, dan kita mencoba di sini untuk menghadirkannya dari tinjauan ajaran Islam.

Pertama yang harus kita garis bawahi adalah bahwa Islam sangat menghargai waktu, karena waktu adalah sangat bernilai. Dalam al-Qur`an, Allah swt pernah bersumpah dengan waktu, misalnya, dalam Q.s. al-‘Ashr (103/13): 3 disebutkan:
  1. Wal ‘ashr, inna al-insân la fî khusr,
  2. illallazîna âmanû
  3. wa ‘amilû al-shâlihât
  4. wa tawâshau bi al-haqq
  5. wa tawâshau bi al-shabr
Demi masa (waktu), sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman, Beramal saleh (mengerjakan kebajikan), Saling berwasiat dengan kebenaran, Dan saling berwasiat dengan kesabaran.

Dalam surah ini, Allah bersumpah dengan media “waktu” atau “masa”.  Di sini, kita bisa menyimpulkan bahwa waktu begitu berharga, karena tidak mungkin Tuhan menggunakannya sebagai sarana/ media sumpah jika tidak bernilai, atau tidak penting. Waktu adalah sesuatu yang berharga, bernilai, dan penting. Seorang penafsir modern, Muhammad Asad, dalam karyanya, The Message of the Qur`an (h. 974), menerjemahkan kata al-‘ashr yang menjadi nama surah ini dengan “the flight of time” (berlalunya waktu), bukan dengan sekadar “waktu/ masa”. Tuhan mengingatkan kita akan waktu (al-‘ashr) yang telah berlalu, tidak akan pernah bisa dikembalikan lagi. Istilah al-‘ashr adalah waktu yang terukur yang terdiri dari bagian-bagian periode, bukan seperti al-dahr yang juga digunakan oleh al-Qur`an yang bermakna waktu yang tak terbatas tanpa permulaan dan akhir.

Kata al-‘ashr semula bermakna memeras, yaitu menekan sesuatu sehingga isinya keluar. Para ulama sepakat mengartikannya dalam konteks ayat ini dengan “waktu”. Namun, bukan sekadar “waktu” yang ingin ditekankan maknanya di sini, melainkan konsekuensi masa lalu yang berakibat ke masa berikutnya (masa sekarang hingga masa akan datang). Hal ini terlihat dari penggunaan dalam beberapa istilah terkait. Misalnya, kata al-‘ashr juga digunakan untuk menyebut berlalu perjalanan matahari melampaui pertengahan, hingga menjelang terbenamnya, yang biasa kita sebut dengan “sore”. Bisa kita katakan bahwa “sore” adalah akhir atau titik-jenuh perjalanan keseharian, yang nantinya akan ditutup dengan malam. Kata lain yang juga seakar dengan al-‘ashr adalah al-mu’shirât, yaitu awan yang mengandung butir-butir hujan, sehingga karena beratnya, akhirnya menurunkan hujan. Jadi, al-‘ashr meski merupakan waktu yang terukur, ada fase-fase yang bisa kita sadari dan kenali, namun berjalan, lalu berkonsekuensi ke masa berikut. Orang-orang banyak tidak sadar akan fase-fase itu, dan begitu berharga dan penting bagi dirinya, lalu ia terlena dibawa oleh waktu, kini potret dirinya sekarang terukir oleh masa lalu itu yang tak pernah kembali lagi. Untung kalau ia bisa menggunakan fase-fase masa lalu itu secara baik dan untuk kebaikan, sehingga ia kini memetik buah manisnya sekarang. 
Tapi, begitu banyak orang yang cuma melongok menyaksikan berlalunya fase-fase itu, berpangku-tangan, berfoya-foya, menghamburkan uang dan tenaga secara tidak bermanfaat, atau menyiakan masa muda dengan mabuk-mabukan, malas-malasan, tidak memanfaatkan waktunya dengan baik, kini….orang-orang tersebut tertunduk malu, menyesali diri, dan melamun dengan pikiran kosong, dengan tatapan kosong, lalu mencaci masa lalu sebagai “waktu sial”. Padahal, waktu tidak pernah sial. Waktu hanya adalah fase-fase yang kita lalu, tidak pernah menentukan untung-sialnya kita. Justeru kita lah yang menentukan.Waktu sifatnya netral, tidak pernah memihak. Hanya saja, kita menggunakannya secara keliru. Fenomena ini biasa kita temukan dalam kehidupan kita sekarang.

Bangsa Arab ketika masa turunnya al-Qur`an juga sering mencaci waktu, bahwa masa lalunya adalah waktu sial. Dengan latar belakang sosial masyarakat Arab ketika itulah, lalu Allah swt melalui ayat ini membantah anggapan keliru mereka. Jika mereka gagal, itu bukan karena waktu, melainkan karena kesalahan merek sendiri. Lalu, dalam ayat ini, Allah swt membimbing bahwa agar manusia tidak “rugi”, ada 3 faktor yang bisa menjadikan manusia tidak akan “dilindas” oleh zaman, karena 3 faktor ini adalah faktor-faktor keberuntungan manusia, yaitu:
  • Iman dan amal saleh, sebenarnya dua hal yang telah menjadi satu kesatuan yang saling terkait. Iman tanpa amal saleh menjadi kosong, karena iman ibaratkan wadah yang harus diisi, atau kata ulama, imannya hanya kadar rendah/ kurang, sedangkan amal saleh yang tanpa disertai iman, di mata al-Qur`an, tidak akan berarti secara teologis (ketuhanan) dan eskatologis (tidak dibalas di akherat nanti) seperti imannya orang kafir (habithat a’mâluhum)
  • Saling mengingatkan dengan kebenaran. Al-haqq bisa berarti Yang Mahabenar (Tuhan, Allah swt). Jadi, manusia harus saling mengingatkan akan wujud Tuhan yang Maha Esa, Maha Kuasa, dsb. Kesadaran akan adanya Tuhan di setiap napas kehidupan adalah kesadaran spiritual manusia yang menjadikannya bertahan dari gerusan zaman. Arus materialisme, hedonisme, konsumerisme, dan pandangan-pandangan lain yang hanya menekankan kelezatan duniawi hanya akan menjadikan manusia “merugi”. Muhammad Asad menafsirkan kerugian manusia dalam surah ini dalam pengertian “manusia mudah sekali terpleset jatuh hingga membinasakan dirinya” (man is bound to lose himself). Kebinasaan diri bukanlah berarti sekadar hidup secara material (makan, minum, dan berreproduksi), melainkan jika ia juga kehilangan dimensi spiritual yang merupakan hakikat dirinya, yaitu kesadaran akan adanya Tuhan yang selalu “hadir” dalam setiap napas kehidupannya, ketika kerja, berpergian, berinteraksi dengan sesama, dan ketika menatap ciptaan-Nya. Kata al-haqq di sini juga berarti kebanaran. Itu artinya bahwa seseorang tidak akan rugi terlindas oleh zaman jika ia mau mendengar kebenaran dari orang lain, dari mana pun sumbernya. Bahkan, yang dinamakan dengan “kearifan” (hikmah) adalah kebenaran juga. Nabi konon pernah bersabda: “Ungkapan kearifan adalah barang yang hilang milik orang yang berimana. Di mana pun ia menemukannya kembali, ia lebih berhak untuk mengambilnya lagi”. Dikatakan juga dalam hadits bahwa “hikmah adalah mendapatkan kebenaran di luar kenabian” (al-ishâbah fî ghayr al-nubuwwah). Kebenaran, selain kebenaran teologis yang terkait dengan keyakinan, bisa saja lahir dari siapa pun.
  • Saling mengingatkan akan kesabaran. Apa sebenarnya kesabaran itu. Al-Râghib al-Ashfihânî dalam kamus al-Qur`an-nya, Mu’jam Alfâzh al-Qur`an (al-Mufardât fî Gharîb al-Qur`ân) h. 277, yang dimaksud dengan sabar adalah “menahan diri agar tetap sesuai dengan tuntutan pertimbangan akal dan syara’ (agama)” (habs al-nafs ‘alâ mâ yaqtadhîh al-‘aql wa al-syar’). Semula sabar secara kebahasaan berarti “bertahan dalam kesempitan”. Asal makna shabr dalam bahasa Arab memiliki 3 makna pokok, yaitu menahan, bagian yang tinggi dari sesuatu, dan sejenis batu (keras). Mengapa sabar diperlukan dalam kehidupan ini? Karena hidup ini tidak selalu berjalan mulus, melainkan selalu diwarnai oleh kesulitan, hambatan, atau cobaan hidup. Hidup tidak selalu dihiasi dengan kemudahan, melainkan diselingi juga dengan kesulitan. Mungkin kita bisa mengatakan bahwa kesulitan adalah bagian ritme atau irama kehidupan. Tidak pernah ada hidup tanpa masalah sama sekali, entah kecil atau besar. Dalam ungkapan al-Qur`an: “karena sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan” (fa inna ma’a al-‘usr yusran, inna ma’a al-‘usr yusran). Ada tips al-Qur`an untuk mengurangi kesedihan kita dalam menghadapi cobaan itu, yaitu dengan kerja. Oleh karena itu, dalam ayat selanjutnya disebutkan “jika kamu selesai (dari suatu aktivitas), maka tegaklah/ bersiaplah (untuk melakukan hal lain)” (fa idzâ faraghta fanshab), lalu sandarkan semuanya kepada Tuhan karena dalam ayat terakhir disebutkan “dan kepada Tuhanmu lah, berharaplah” (wa ilâ rabbika farghab). Dalam ayat ini, kerja adalah suatu keniscayaan, bukan semata untuk kepentingan material, yaitu menghasilkan uang, melainkan secara psikologis, dengan kesibukan kita dalam kerja, sebagian persoalan yang kita hadapi bisa teratasi. Di ayat terakhir, ketika Allah swt menyuruh kita untuk berharap hanya kepada-Nya, itu artinya bahwa tidak hanya kerja sebagai upaya “humanisasi” (pemanusiaan), dalam pengertian kerja sebagai upaya rasional untuk menghidupi kehidupan, melainkan kerja bukan sebagai tujuan. Diperlukan upaya menyandarkan segala upaya, yaitu setelah kita lebur dalam kerja, kepada Tuhan sebagai upaya yang disebut orang sebagai “transendensi”.

Kita kembali ke persoalan sabar. Jadi, sabar atas segala cobaan bisa diatasi dengan kerja. Itu juga sekaligus artinya bahwa sabar tidak identik dengan berdiam diri (fatalis). Ingat bahwa ayat “wa in tshbirû wa tattaqû, fa inna dzâlika min ‘azm al-umûr” yang turun setelah perang Uhud mengisyaratkan kepada kita bahwa kekalahan kaum Muslimin dalam perang itu adalah karena mereka tidak bersabar dalam pengertian bahwa seharusnya pasukan berpanah bertahan di atas bukit di posnya, bukan turun untuk merebut rampasan perang yang menyebabkan kaum Musyrikin berbalik dan menyerang kembali, sehingga keadaan menjadi terbalik, di mana kaum muslimin yang sudah mendekati kemenangan menjadi kalah. Sabar dalam konteks itu adalah konsisten dengan petunjuk Nabi dan bertahan adalah sebuah strategi perang, bukan berdiam diri.
Dengan demikian, waktu adalah sangat penting dan berharga. Oleh karena itu, Islam memerintahkan umatnya agar menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Dalam ayat yang dikutip di atas, “fa idzâ faraghta fanshab” terkandung makna bahwa setelah selesai dari suatu aktivitas, hendaklah “tegak” (fanshab). “Tegak” memiliki pengertian bersiap untuk melakukan aktivitas lain. Istirahat juga bisa dilihat sebagai persiapan untuk melanjut aktivitas yang telah dilakukan, atau melakukan aktivitas lain. Istirahat sebenarnya adalah persiapan menuju aktivitas lain. Bahkan, waktu senggang atau waktu rehat bisa dimanfaatkan untuk aktivitas ringan. Kita telah mengetahui bahwa beberapa penemuan penting di dunia ini oleh para ilmuwan justeru dihasilkan di waktu senggang, seperti hukum gravitasi Newton. Konon, shalat bagi Nabi adalah sebuah bentuk istirahat. Kata tarâwîh pada shalat tarâwîh yang biasa kita laksanakan pada malam bulan Ramadhan juga berkonotasi istirahat, karena dilakukan dengan penuh khusyû’ dan khidmat, sehingga mendatang efek relaksasi terhadap jiwa kita.

Waktu merupakan hal yang sangat berharga. Orang Arab mengenal pepatah berikut:
Al-waqtu kassaif, fa in lam taqtha’hu qatha’aka
(Waktu adalah seperti pedang, maka jika kamu tidak menebaskannya, ia yang akan menebasmu)
Pepatah ini lebih merupakan perumpamaan tentang betapa pentingnya waktu, karena waktu selalu berjalan tanpa kompromi, dan waktu yang telah berlalu tak pernah akan kembali. Jika kita tidak menggunakan waktu, dalam pengertian berbagai kesempatan, seperti peluang untuk sukses dan berprestasi, bisa jadi kesempatan itu tak akan kunjung lagi. Waktu seperti “deterministik” dalam pengertian menentukan nasib manusia tanpa kompromi. Tinggal manusia yang memanfaatkan waktu, atau jika tidak, waktu yang akan melindas manusia. Yang dimaksud dengan “terlindas waktu atau zaman” adalah kita dikendalikan oleh waktu. Dalam istilah Mahmud Thâhâ, seorang pemikir Sudan, waktu memiliki hukum yang disebut dengan “hukum waktu” (hukm al-waqt) atau determinisme zaman. Misalnya, ketika pemerintah menerapkan pendidikan 9 tahun dan kebijakan itu merata, serta hajat hidup manusia akan taraf pendidikan semakin meningkat, orang yang tidak mengikutinya akan tertinggal.

Dr. A’idh al-Qarnî dalam bukunya, Lâ Tahzan (h. 15), mengumpamakan waktu yang kosong tak ubahnya dengan siksaan halus ala penjara China. Di penjara itu, narapidana ditempatkan di bawah pipa air yang hanya dapat meneteskan air setetes setiap menit selama bertahun-tahun. Dalam masa penantian yang panjang itulah, biasanya seorang napi akan menjadi stress dan gila.
Waktu sebaiknya dimanage dengan baik. Pertama, perencanaan (planning). Segala pekerjaan kita harus terencana dengan terbaik, tersusun, terjadual, disertai dengan target dan cara mencapainya. Dalam al-Qur`an dinyatakan,
Ya ayyuhalladzîna âmanûttaqû Allâh, wal tanzhur nafsun mâ qaddamat li ghadd  (Q.S. al-Hasyr/59: 18).

(Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaknya setiap jiwa/ orang merenungi apa yang telah dilakukan untuk hari esok) Ayat sekaligus mengandung dua hal sekaligus, yaitu perencanan dan evaluasi. Menggunakan masa lalu sebagai cermin untuk masa depan mengandung pengertian mengevaluasi apa yang telah dilakukan, sekaligus untuk perencanaan masa depan. “Hari esok” mengandung pengertian hari esok yang merupakan jangka panjang, yaitu akherat, atau jangka pendek, yaitu kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama hidup di dunia.

Dalam Islam, kita mungkin bisa menyebutkan niat sebagai perencanaan, bahkan mendekati pelaksanaan, karena yang disebut niat bukanlah apa yang  terlintas di pikiran (hâdits nafs) atau angan-angan kosong (amal jamaknya âmâl, bukan ‘amal yang jamaknya a’mâl: perbuatan), melainkan tekad kuat (‘azm). Mungkin setiap memiliki cita-cita, tapi belum tentu menuangkan cita-cita itu dalam bentuk rencana yang tersusun baik.

Yang tidak kurang pentingnya dibandingkan perencanaan adalah pelaksanaan, perorganisasian, pengawasan, hingga evaluasi. Dalam Islam, misalnya, suatu kewajiban harus dilaksanakan sesuai dengan standar waktu yang ditentukan. Misalnya: Inna al-shalât kânat ‘alâ al-mu`minîn kitâban mawqûtan (Q.S. al-Baqarah/2: 103)

(Sesungguhnya salahat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya)
Oleh karena itu, kewajiban yang dilaksanakan di luar waktu tidak sah, seperti haji, atau minimal berkurang nilai, seperti sahalat yang dikerjakan di luar waktunya (di-qadhâ`).

Dalam memanage waktu, Islam mengajarkan adanya skala prioritas (fiqh al-awlawiyyah). Misalnya, harus mendahulukan kewajiban daripada yang sunnat. Dalam waktu yang sempit, misalnya, sebaiknya tidak mengerjakan pekerjaan sunat yang menyebabkan habisnya waktu untuk mengerjakan yang wajib. Kata kunci dalam memanage segalanya, tidak hanya soal ibadah, mungkin juga kuliah atau pekerjaan adalah “prioritas” (awlawiyyah). 

Jika studi/ kuliah merupakan prioritas pertama, maka waktu harus diberikan sebagian besarnya untuk studi/ kuliah pula, sehingga kegiatan-kegiatan lain yang sifat sekunder berada di bawahnya dalam skala prioritas. Mungkin banyak orang yang sudah berujar bahwa keberhasilan bukanlah semata persoalan kecerdasan, sekalipun itu sangat menentukan, melainkan juha persoalan memanage waktu.

Dalam memanage waktu, menarik sekali bahwa ternyata Nabi mengajar pembagian waktu selama 24 jam menjadi 1/3 (8 jam), yaitu 1/3 untuk kerja, 1/3 untuk beribadah, dan 1/3 untuk istirahat. Pertama, 8 jam kerja (katakanlah: masuk kerja jam 8, pulang jam 4 sore) adalah waktu yang ideal dan sebanding dengan kekuatan tenaga manusia dan proporsional dikaitkan dengan hak waktu untuk kegiatan lain. Kedua, istirahat dalam pengertian di atas (tidak melulu tidur) selama 8 jam juga pembagian waktu yang ideal (katakanlah: tidur jam 21.00 [9 malam], bangun jam 05.00 [subuh]). Ketiga, beribadah selama 8 jam adalah proporsi ideal yang selama ini kurang kita perhatikan. Memang, harus dicatat bahwa pembagian ini tidak ketat, dan begitu juga setiap kegiatan tidak monoton, seperti ketika kerja bisa diselingi dengan istirahat dan shalat. Di samping itu, dalam Islam, memang kerja juga dipandang sebagai ibadah selama didasarkan atas niat ibadah, bukan semata mengejar kebutuhan materi. Tapi, memang proporsi waktu untuk ibadah selama ini terasa kurang, padahal kalau kita memperhatikan dengan seksama pernyataan ayat berikut tampak bahwa proporsi antara aktivitas duniawi bukanlah fifty-fifty (50%:50%), melainkan untuk akherat lebih banyak dibandingkan untuk dunia: “dan carilah pada apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagian) negeri akherat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” (Q.S. al-Qashash (28): 77).
Referensi : Ilustrasi : Manajemen Waktu Menurut Islam



Inilah 3 Perkara yang Tidak Akan Kembali

Ilustrasi : Inilah 3 Perkara yang Tidak Akan Kembali

Di dalam kehidupan ini, terdapat 3 perkara yang perlu kita perhatikan. Ketiga perkara ini harus diketahui dan dimanfaattkan dengan sebaik mungkin di jalan Allah SWT agar di kemudian hari tidak kita selali. Ketiga perkara tersebut yaitu waktu, ucapan, dan kesempatan.

1. Waktu

Waktu adalah salah satu perkara yang tidak akan pernah diulang kembali. Waktu yang telah terlewati tidak dapat diulang dan diganti. Waktu menjadi wadah bagi manusia untuk melakukan perbuatan yang baik. Nantinya, segala perbuatan akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah SWT atas waktu yang telah kita pergunakan.

Islam menjadikan waktu sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia, sebagaimana firman Allah:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian” (QS. Al-`Ashr: 1-2 )

Dan tidaklah Allah bersumpah di beberapa ayat dengan nama waktu, melainkan hal tersebut menunjukkan atas kemuliaan serta keagungan hal tersebut, yaitu dalam hal ini adalah waktu. Islam mendorong seseorang untuk menggunakan waktu dengan baik, agar orang tersebut bisa mengambil pelajaran dan bersyukur atas nikmat waktu yang Allah anugerahkan kepadanya Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur” (QS. Al-Furqan : 62 )

Dari waktu, manusia harus dapat memahami tujuannya diciptakan, yaitu untuk melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Manusia harus memanfaatkan waktu diberikan Allah SWT kepadanya di dunia untuk mempersiapkan bekal bagi kehidupan di akhiratnya yang kekal dan abadi. Islam telah memberikan pujiannya serta memberikan sifat orang-orang yang mengisi waktunya dengan berfikir dan menjalankan ketaatan di jalan Allah dengan sebutan Ulil Albab (orang yang berakal).

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran : 190)

Umat manusia benar-benar berada di dalam kerugian yang nyata apabila tidak memanfaatkan waktu pemberian Allah seoptimal mungkin untuk berjalan diatas ketaatanNya.

“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-`Ashr: 1-3).

2. Ucapan

Ucapan buruk mencela orang, memaki, menerangkan keburukan-keburukan orang lain, menyinggung perasaan seseorang, dan sebagainya merupakan salah satu pintu dosa yang amat rawan (dosa yang berawal dari mulut).

Banyak orang yang bisa mengendalikan hawa nafsu dan syahwatnya, namun hanya beberapa yang dapat mengendalikan lidah dan ucapan. Padahal, Allah SWT tidak menyukai dan membenci hamba-hambaNya yang suka mengucapkan kata-kata kotor sesuai dengan FirmanNya dalam Al Quran:

“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nisaa: 148)

“(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.” (QS. An Nahl: 25)

“Sama saja (bagi Tuhan), siapa diantaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang har.i” (QS. Ar Ra’d: 10)

Hendaklah sebagai umat muslim, kita dapat mengontrol apa yang akan kita ucapkan. Seorang mukmin yang ingin menjaga agama dan hatinya, akan berusaha sedikit bicara. Hal ini dikarenakan bukan tidak mungkin sebuah ucapan yang barangkali tidak sengaja, dapat mendatangkan murka Allah.

Dari Abu Hurairah RA,sesungguhnya ia mendengar Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba (kadang) berbicara dengan pembicaraan yang tidak ia sadari bisa menggelincirkan ke neraka sejauh antara timur dan barat”. (HR Bukhari, Muslim dan Nasai). “Sesungguhnya Allah murka kepada orang yang berperangai jahat dan berlidah kotor.” (HR. Tirmidzi)

3. Kesempatan

Sama seperti waktu dan ucapan, kesempatan juga tidak terulang. Oelh karena itu, janganlah kita sebagai umat muslim menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan Allah SWT untuk melakukan apa yang menjadi larangan-Nya. Kita harus dapat bersyukur dengan menjalankan segala perintah Allah SWT. Jangan sampai menunda waktu ataupun menunda pekerjaan yang ada.

Referensi : Inilah 3 Perkara yang Tidak Akan Kembali






Keberadaan Mesin Waktu Berdasarkan Islam dan Akibatnya

Keberadaan Mesin Waktu Berdasarkan Islam dan Akibatnya

Keberadaan Mesin Waktu Berdasarkan Islam dan Akibatnya. Pernah mendengar kata – kata “coba waktu bisa diulang” atau “coba gue bisa balik lagi ke waktu dulu”?. Yang berikut ini adalah dua kata penyesalan terhadap apa yang telah dilakukan dan berakhir dengan kesalahan atau penyesalan.

 Sehingga dari penyesalan yang disertai kata berikut muncullah khayalan tingkat tinggi tentang adanya mesin waktu. Yang mana dengan mesin waktu itu orang yang menyesal itu bisa mengulang waktunya di masa lalu untuk mengubah apa yang terjadi dimasa sekarangnya. Yang demikian itu tidak mungkin ada. Kenapa? . karena jelas jika ada mesin waktu banyak sejarah akan berubah. 

Bahkan banyak manusia akan mati. Contohnya jika pasukan Rusia sudah menonton film “samurai commando” mereka dari masa sekarang akan membawa nuklir mereka ke masa lalu untuk menghabisi Amerika Serikat di masa Amerika baru merdeka (tidak memiliki nuklir). 

Otomatis sejarah yang berubah adalah seluruh orang Amerika yang di masa sekarang akan menhilang tiba – tiba karena kakek dan nenek mereka di masa lalu telah terbunuh karena bom nuklir rusia dari masa depan. Bayangkan saja jika kakek anda terbunuh dimasa lalu, mungkinkah akan lahir ayah dan ibu anda yang akan melahirkan anda? It is impossible. 

Dan sejarah lainnya adalah tidak akan pernah ada yang namya Rusia. Karena tidak kalah perang dari Amerika. Sehingga mereka utuh menjadi Uni Soviet. Atau mereka menjadi Rusia tapi tidak ada negara yang melakukan pemisahan diri dari Uni Soviet yang hancur akibat ulah agen CIA. 

Alasan kedua adalah bagaimana mungkin alat secanggih mesin waktu ada. Sehingga orang bisa seenaknya mengendalikan waktu. Dan alat canggih itu harus ada contohnya. Misal, sempoa, calculator ,  mainframe, komputer, laptop. 

Semua itu ada alat pengolah angka dan tulisan. Tapi alat pengolah waktu apa mungkin ada? Yang ada alat menunjukkan waktu. Yaitu jam yang terinspirasi dari bayangan matahari dan alat penunggu pasir. Yang demikian ini sudah dijelaskan dari al qur’an tidak akan bisa seseorang itu pergi ke masa lalu atau masa depan. Dan penyesalan manusia terhadap masa (waktu) lalunya itu juga telah dijelaskan dalam surat al ‘ashr ayat 1 – 2. 

Dijelaskan dalam surat berikut bahwa manusia akan menyesal karena waktu. Maksudnya ada lah manusia akan menyesal dengan apa yang telah terjadi . dan tidak dijelaskan bahwa manusia bisa mengulang waktu. Dan ayat ke  3 hanya menjelaskan siapa saja yang tidak menyesal.

 Maka dari itu manusia tidak bisa kembali ke masa lalu. Untuk merubah sejarah. Tapi bagai mana dengan pergi ke masa depan untuk melihat apa yang akan terjadi. Ada yang berpendapat demikian. Tapi menurut saya tidak mungkin. Kenapa? . karena kegiatan seperti ini sama seperti membaca lauhul mahfuzh. Dan lauhul mahfuz itu adalah hal ghaib. Dan hal ghaib itu tidak diketahui yang namanya makhluk. Hanya Allah yang bisa mengetahuinya. Seperti dalam surat al an’am ayat 59 :

 وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ 

“Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri” Tapi ada pendapat yang bilang bahwa bisa menembus masa depan lewat black hole. 

black hole memiliki gravitasi yang berat sehingga memungkinkan untuk yang melewatinya merasakan waktu itu sebentar saja. Dan jika keluar lagi dari black hole maka bumi akan menjadi masa depan.


Referensi : Keberadaan Mesin Waktu Berdasarkan Islam dan Akibatnya






Maksimalkan Sisa Waktu Dengan Pahala

Ilustrasi : Maksimalkan Sisa Waktu Dengan Pahala

Allah SWT telah menganugerahi waktu 24 jam sehari bagi setiap orang untuk beraktivitas dan beribadah. Namun, apakah kita sudah memanfaatkan waktu kita? Sesungguhnya waktu yang telah berlalu, meskipun satu detik, tidak akan dapat terulang lagi. Begitu pun dengan berbagai kesempatan yang kita miliki. Malam berganti pagi dan siang berganti sore, merupakan tanda bahwa waktu terus berjalan. Tanpa kita sadari, hari demi hari kita lewati dalam kehidupan ini. Semua seolah berlalu begitu cepat. Masih teringat dalam bayangan kita saat masih kecil, hingga tanpa terasa kita sudah menjadi dewasa. Dan saat kita mulai merayakan ulang tahun, pernahkah terpikir bahwa umur kita semakin pendek. 

Pada hakikatnya, waktu merupakan salah satu karunia Allah SWT bagi manusia, karena waktu merupakan hal yang paling berharga yang dimiliki anak Adam. Allah SWT telah menganugerahi waktu 24 jam sehari bagi setiap orang untuk beraktivitas dan beribadah. Namun, apakah kita sudah memanfaatkan waktu kita?

Sesungguhnya waktu yang telah berlalu, meskipun satu detik, tidak akan dapat terulang lagi. Begitu pun dengan berbagai kesempatan yang kita miliki. Jika kesempatan ada di pagi hari sudah lewat, maka hilang sudah momentum yang bisa diambil, karena tidak ada yang tahu apakah kita bisa berjumpa lagi esok pagi.

Alangkah beruntungnya orang-orang yang dapat memanfaatkan waktunya dalam kehidupan ini. Sehingga waktunya bernilai menjadi pahala dan kebaikan. Sedangkan orang-orang yang lalai, maka akan menghabiskan waktunya tanpa arti dan manfaat. Dengan waktu yang telah dimiliki, manusia dapat menjadi beruntung atau rugi.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-‘Ashr, “Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal kebajikan, dan saling berwasiat pada kebenaran dan pada kesabaran.”(Q.S. Al-‘Ashr :1-3).

Berdasarkan ayat di atas, maka nilai waktu seseorang tergantung dari setiap individu menggunakannya pada jalan yang ridhai Allah SWT. Selain itu, Allah SWT juga telah bersumpah dengan waktu dalam banyak ayat dalam Al-Qur’an. Hal tersebut menunjukkan bahwa betapa tinggi nilai sebuah waktu.

Abu Barzah al-Aslami meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Pada hari kiamat nanti, dua kaki seorang hamba tidak akan bisa melangkah sebelum ia ditanya tentang empat perkara: Digunakan untuk apa umurnya? Dihabiskan untuk apa waktu mudanya? Dari mana ia mendapatkan hartanya? Digunakan untuk apa hartanya tersebut?” (HR. Tirmidzi dan ad-Darmi).

Hadist diatas telah mengingatkan kita bahwa setiap orang akan diminta pertanggungjawabannya terhadap waktu yang telah digunakan. Bagi seorang muslim, waktu dapat bernilai kebaikan jika digunakan untuk beribadah, sehingga menghasilkan pahala. Begitu juga sebaliknya, satu jam dapat menjadi keburukan jika waktu digunakan untuk berbuat hal yang tidak baik, seperti ghibah, mencuri dan sikap tercela lainnya.

Jangan sampai timbul rasa penyesalan pada kita, karena telah melewatkan waktu dan kesempatan yang berharga, disebabkan lalai dalam memanfaatkan waktu yang ada. Maka, berusahalah dengan sekuat tenaga untuk selalu melakukan hal-hal yang dapat memberikan manfaat, baik didunia maupun diakhirat. Karena jika ada waktu yang telah terlewat, maka waktu itu tidak akan pernah kembali selama-lamanya.

Manfaatkan Waktu Luang
Tak dapat dipungkiri, waktu memegang peranan penting dalam kehidupan kita. Namun pada kenyataannya, banyak kita temui orang yang begitu santai dan menunda pekerjaannya. Padahal, tanpa disadari waktu tersebut akan pergi dan tak dapat diulang kembali.

Contohlah Rasulullah SAW yang selalu memanfaatkan waktu dalam kehidupannya. Siang hari, Rasulullah SAW bekerja menjadi pedagang, pendakwah sekaligus kepala pemerintahan yang sangat amanah. Saat malam hari, Rasulullah SAW tidak terlalu banyak tidur, karena beliau selalu melaksanakan Qiyamul Lail hingga kakinya bengkak. Sungguh, begitu banyak pekerjaan yang dilakukan Rasulullah SAW selama hidupnya, membangun peradaban Islam, berperang dan menolong orang-orang yang lemah hingga namanya dikenang sepanjang masa.

Dalam sebuah hadist riwayat Bukhari, Rasulullah pernah bersabda agar kita berhati-hati menghadapi kenikmatan. "Ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya, yakni nikmat sehat dan waktu senggang." (HR al-Bukhari)

Para cendekiawan muslim sangat menyadari makna hadist tersebut dengan memanfaatkan waktu luangnya dengan baik. Sebutlah Imam An-Nawawi yang wafat diusia 45 tahun, namun karyanya sangat banyak dan masih dijadikan sumber rujukan oleh umat muslim saat ini.

Selain itu, Abu Bakar Al-Anbari yang setiap pekan membaca sebanyak 10.000 lembar. Ada pula Ibnu Aqil yang menulis kitab paling spektakuler, yaitu Kitab Al-Funun. Kitab yang memuat beragam ilmu hingga Ibnu Rajab, dan sebagian orang mengatakan bahwa kitab tersebut mencapai 800 jilid. Dan masih banyak lagi contoh luar biasa lainnya yang dapat memanfaatkan waktu luang.

Terus Berbuat Baik
Jika bercermin pada generasi salafus salih dan cendekiawan muslim yang dapat menghasilkan karya-karya besar, maka mengapa tidak semua orang dapat menghasilkan karya sama seperti mereka? Padahal semua manusia memiliki waktu yang sama, yaitu 24 jam dalam sehari. Namun, hasil tiap individu per hari dapat berbeda. Hal tersebut dikarenakan tergantung dari tiap orang memanfaatkan waktunya.

Sesungguhnya kehidupan didunia ini sangatlah singkat, hingga sebagai seorang Hamba Allah SWT, kita harus mempersiapkan bekal untuk diakhirat. Maka, sudah sepantasnya seorang muslim memaksimalkan waktu yang mereka miliki dengan terus berbuat kebaikan, agar tak ada penyesalan dalam hidup ini. Dengan demikian, jika seorang muslim mengisi waktunya dengan ibadah dan perbuatan baik, maka pahala pun akan senantiasa mengalir dalam hidupnya. 

Referensi : Maksimalkan Sisa Waktu Dengan Pahala



Ya Allah, Hamba Ingin Kembali ke Masa Lalu

Ilustrasi : Ya Allah, Hamba Ingin Kembali ke Masa Lalu

Ya Allah Hamba Ingin Kembali ke Masa Lalu. Waktu atau masa adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Selama berlangsungnya suatu proses, perbuatan, atau keadaan hidup dalam diri seorang manusia, banyak yang tidak menyadari bahwa waktu begitu cepat berlalu. Pada zaman ini, tidak jarang banyak manusia yang melalaikan waktu dan bersikap masa bodoh terhadap waktu. Mereka menyia-nyiakan waktu yang telah Allah Ta’ala takdirkan pada dirinya. Seolah hidup ini hanya untuk kesenangan dan hura-hura belaka.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

إضاعة الوقت أشد من الموت ، لأن إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة ،والموت يقطعك عن الدنيا وأهلها

“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya daripada kematian, karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya” (Al-Fawaid, hal 44).

Apabila waktu secara terus-menerus disia-siakan oleh seorang manusia, maka untuk apa ia hidup di dunia? Waktunya tidak berguna bagi dirinya ataupun bagi orang lain. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain? Bukankah tujuan Allah Ta’ala menciptakan manusia untuk beribadah kepadanya? Lalu apa prinsip hidup di dunia bagi orang yang menyia-nyiakan waktu? Sebenarnya tujuan hidup mereka hidup di dunia untuk apa?

Apakah Manusia Dapat Kembali ke Masa Lalu?

Belakangan ini, banyak sekali manusia terutama seorang muslim usia remaja hingga lanjut usia yang merasa menyesal terhadap perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia. Mereka merasa takut dan risau akan azab Allah Ta’ala kepada manusia yang ingkar terhadap aturan-Nya, sehingga mereka bersikeras memohon kepada Allah Ta’ala untuk dapat kembali ke masa lalu agar dapat memperbaiki sejarah hidupnya. Ya Allah, hamba ingin kembali ke masa lalu. Namun, Apakah manusia dapat kembali ke masa lalu? Allah Ta’ala berfirman,

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

“[1] Demi masa. [2] Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. [3] Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih dan nasehat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Dijelaskan dalam surat Al-‘Ashr bahwa manusia akan menyesal karena waktu. Maksudnya adalah manusia akan menyesal dengan apa yang telah terjadi dan tidak dijelaskan bahwa manusia bisa mengulang waktu. Ayat ke-3 hanya menjelaskan siapa saja yang tidak menyesal. Maka dari itu, manusia tidak bisa kembali ke masa lalu untuk mengubah sejarah hidup yang telah dilaluinya.

Waktu yang telah dilalui memang tidak dapat terulang lagi. Dalam hati dan jiwa seorang muslim pasti selalu ada saja sesuatu yang terlintas dalam pikiran akan dosa dan maksiat yang pernah dilakukan dalam sejarah hidupnya. Rasanya setiap hari yang dilalui, bayangan akan maksiat masa lalu selalu terbayang dan hal ini apabila dipikirkan secara berlarut-larut dapat menjatuhkan iman dalam diri seorang muslim. Na’udzubillahi min dzalik. Namun, apakah dengan memikirkan maksiat masa lalu secara berlarut-larut akan dapat mengubah sejarah hidup yang telah diukirnya? Jawabannya adalah tidak. Penyesalan yang tiada gunalah yang hanya tertinggal dalam bekas jejak sejarah selama hidup di dunia.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِندَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

“Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata), ‘Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal shalih. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin’.”  (QS. As-Sajdah: 12).

Tidaklah berguna suatu penyesalan bagi diri seorang manusia. Penyesalan tersebut tidak dapat membuat kita kembali ke masa lalu untuk memperbaiki segala dosa dan maksiat yang telah diperbuat selama hidup di dunia dan tidak dapat pula menyelamatkan diri dari azab Allah Ta’ala. Oleh karena itu, betapa pentingnya waktu bagi umat Islam. Manfaatkan waktu untuk hal-hal yang positif dan senantiasa selalu melibatkan Allah Ta’ala dalam setiap langkah hidup kita di dunia.

Dampak Buruk bagi Orang-orang yang Menyia-nyiakan Waktu

Menyia-nyiakan waktu adalah suatu hal yang buruk karena dengan hal itu akan ada banyak waktu yang terbuang percuma tanpa mendatangkan pahala dan manfaat. Sebagai seorang muslim, sudah sepantasnya kita menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya karena dengan memaksimalkan waktu untuk hal yang positif, maka insyaallah rida Allah Ta’ala akan diraih dan tujuan hidup seorang muslim untuk meraih surga Allah Ta’ala akan tercapai. Namun, untuk mencapai itu semua tidaklah mudah, banyak manusia yang terperangkap dalam lubang kemaksiatan. Menyia-nyiakan waktu adalah suatu hal yang buruk dan banyak mendatangkan dampak negatif. Salah satu dampak yang paling terasa adalah kehilangan kesempatan.

Ja’far bin Sulaiman berkata bahwa dia mendengar Rabi’ah menasehati Sufyan Ats-Tsauri tentang hukum membuang waktu dalam Islam. Rabi’ah mengatakan, “Sesungguhnya Engkau bagaikan hari yang dapat dihitung. Jika satu hari berlalu, maka sebagian darimu juga akan pergi. Bahkan hampir sebagian harimu berlalu, namun Engkau merasa seluruh yang ada padamu ikut pergi. Oleh karena itu, beramallah.” (Shifatush Shofwah, 1: 405).

Dalam tiap detik kehidupan yang dilalui oleh manusia, pasti terdapat suatu kesempatan baik yang menanti. Kesempatan tersebut akan datang kala kita memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Bagi orang yang menyia-nyiakan waktu, kesempatan tersebut akan hilang karena pada dasarnya kesempatan akan muncul ketika terdapat aksi yang sedang kita lakukan. Jika kesempatan itu adalah kesempatan emas yang dapat mengubah kehidupan seorang muslim menjadi lebih baik, maka merugilah orang yang selalu menyia-nyiakan waktu. Mereka akan tertinggal sangat jauh dari pada orang-orang yang produktif dan hidup mereka tidak akan ada perubahan ke arah lebih baik. Na’udzubillahi min dzalik.

Urgensi Waktu Dalam Islam

Hal yang sangat berharga bagi seorang manusia terutama seorang muslim adalah waktu. Waktu menjadi sangat penting karena dengan waktu kepribadian manusia dapat berubah. Perubahan tersebut dapat ke arah yang lebih baik ataupun ke arah yang lebih buruk. Akan tetapi, banyak manusia yang terperangkap dalam lubang kemaksiatan dalam menjalani hari-harinya. Salah satu faktor yang dapat memicu hal itu terjadi adalah tidak bisanya dalam memanfaatkan waktu, sehingga tidak jarang banyak orang yang meminta kepada Allah Ta’ala untuk memutar balikkan waktu ke masa lalu.

Abu Bakar ash-Shiddîq radhiyallahu ‘anhu berkata,

أن لله حقا بالليل لا يقبله بالنهار ، وحقا بالنهار لا يقبله بالليل

“Sesungguhnya Allah memiliki hak pada waktu malam, Dia tidak akan menerimanya di waktu siang. Dan Allah juga memiliki hak pada waktu siang, Dia tidak akan menerimanya di waktu malam” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, no. 37056).

Hendaknya sebagai seorang muslim sejati kita dapat memanfaatkan waktu, agar penyesalan tidak menghampiri kita dan tidak akan pernah keluar kalimat dari dalam mulut kita yang mengatakan bahwa “Ya Allah, hamba ingin kembali ke masa lalu.”

Referensi : Ya Allah, Hamba Ingin Kembali ke Masa Lalu



Kata-Kata Andai Bisa Memutar Waktu Kembali

Ilustrasi : Kata-Kata Andai Bisa Memutar Waktu Kembali

Kebanyakan dari kita kadang menganggap remeh apa yang sedang kita lakukan saat ini, menganggap sesuatu hal terjadi tidak akan memberi manfaat sama sekali, padahal bisa jadi sesuatu yang kita lakukan sekarang akan memberi dampak di kemudian hari, baik untuk diri sendiri, maupun untuk orang lain. Bukan hanya masalah kebaikan saja yang bisa memberi dampak, tapi masalah keburukan juga.

Kita yang saat ini sering melakukan kesalahan bisa jadi di masa depan kita akan merasakan penyesalan yang mendalam, menyesal mengapa dulu kita melakukan hal tersebut, menyesal kenapa kita dulu tidak berpikir panjang sebelum bertindak.

Ketika dalam kondisi penyesalan tersebut, kadang kita berharap seandainya waktu bisa diputar, andai bisa memutar waktu kembali ke masa lalu, kita ingin memperbaiki semua kesalahan di masa itu, agar hal ini sesuatu yang tidak kita inginkan di masa ini tidak pernah terjadi.

Namun kenyataan tidak bisa dirubah, kita tak bisa mengubah takdir dengan kembali ke masa lalu. Seperti pepatah mengatakan “nasi sudah menjadi bubur”. Yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah menerima semua kenyataan dengan rasa syukur.

Selain itu, kita cuma bisa memperbaiki masa depan dengan cara memperbaiki diri sendiri saat ini. Lupakan lah masa lalu karena kamu tidak hidup di masa lalu. Hidupmu adalah tentang masa depan. Selagi kita terus memperbaiki diri, maka tidak ada yang perlu disesalkan.

  1. Aku harap mesin waktu benar-benar ada. Agar aku bisa kembali ke masa lalu untuk menghapus semua penyesalanku.
  2. Andai dapat ku putar waktu, dimana aku sama sekali tak mengenali dirimu, ataupun mencintai dirimu dengan terlalu.
  3. Jika aku bisa memutar waktu, aku ingin menyadari kehadiranmu lebih cepat.
  4. Seseorang yang selalu berduka adalah seseorang yang menghabiskan waktu.
  5. Jika kamu berharap agar dapat memutar waktu, mengapa tidak berdoa agar waktu menjadi baik.
  6. Bagaimanapun keadaan kita, mau sedih, bahagia, waktu tidak pernah berhenti menunggu. Waktu tetap berjalan.
  7. Andai boleh aku memilih ke mana akan kembali memutar waktu, aku akan tetap memilih ke bagian di mana aku menemukanmu.
  8. Seandainya jika Tuhan memperkenankan aku memutar kembali waktu. Aku berharap dapat kembali ke masa dimana kita masih baik-baik saja.
  9. Kebahagiaan akan memudar jika kita ingin cepat-cepat memutar waktu ke masa depan.
  10. Dan waktu hanya menjadi pengingat bisu: merekam, tanpa mampu memutar ulang.
  11. Meskipun ingin rasanya memutar waktu disaat kita pertama bertemu. jika bisa, aku lebih memilih untuk tidak mengenalmu.
  12. Seandainya bisa memutar waktu, aku ingin kembali ke masa lalu. Masa dimana kita bersama.
  13. Aku mulai melupakanmu, tidak akan lagi berusaha memutar balik waktu, sesederhana itu masa lalu.
  14. Jika aku bisa memutar kembali waktu. Aku tidak akan memutarnya. Karena aku tau, kamu sudah bahagia, dan beginilah seharusnya.
  15. Andai aku bisa memutar waktu ke beberapa tahun belakang, aku pasti akan memutarnya karna bahagiaku saat ini tak seindah saat kebahagiaanku saat itu.
  16. Walau tak ada yang dapat memutar waktu untuk membuat awal yang baru, setiap orang dapat memulainya dari sekarang.
  17. Tuhan kenapa kau menciptakan waktu hanya 1 arah, sehingga aku tak bisa memutar waktu kembali untuk memperbaiki masalalu.
  18. Tak ada orang yang boleh memutar waktu, dan kembali ke titik awal. tapi kita selalu ada sekarang, untuk kembali membuat keputusan.
  19. Suatu hari kamu akan berharap untuk bisa memutar kembali waktu yang telah berlalu. Daripada memikirkan itu, lebih baik jangan buang waktumu
  20. Jika kata “seandainya” bisa memutar balikkan waktu, mungkin tidak ada kata “penyesalan”
  21. Menyalahkan diri sendiri tidak akan mampu memutar balikkan waktu.
  22. Hiduplah dengan baik sehingga Kamu tidak perlu berharap untuk bisa memutar kembali waktu yang telah berlalu.
  23. Kamu tak bisa memutar waktu, kamu hanya bisa menggunakan waktu yang ada dengan melakukan yang terbaik.
  24. Mengapa perlu memutar kembali waktu sedangkan kamu mampu memperbaiki masa depanmu. takdir bukan untuk disesali.
  25. Sama seperti kita yang tak bisa memutar kembali waktu, kita juga tidak bisa mengubah apa yang sudah menjadi takdir.
  26. Jika pun aku mampu memutar waktu, aku takkan meminta untuk kembali ke masa lalu. Karna baik buruknya aku dimasa lalu adalah sebuah anugrah.
  27. Syukuri setiap saat dalam hidupmu. Dalam hidup, kita takkan bisa memutar balik waktu, hanya bisa memutar balik kenangan.
  28. Memutar waktu itu memang tidak mungkin. Tapi memperbaiki hidup yang lebih baik dari sekarang, tidak ada kata tidak mungkin.
  29. Kita tidak bisa mengulang atau memutar waktu untuk awal yang baru, tapi kita bisa merencanakan untuk akhir yang lebih baik.
  30. Jangan lagi berandai-andai untuk kembalu ke masa lalu dan berharap bisa mengubah keadaan. Kita tak lagi hidup disana. Baiknya, nikmatilah waktu dan cerita pada lembaran baru.


Terkadang kenyataan tidak sesuai dengan yang diharapkan

Ilustrasi Ceramah : Terkadang kenyataan tidak sesuai dengan yang diharapkan

Anda pasti pernah mengalami kondisi dimana kenyataan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kondisi ini adalah hal yang umum dan pasti pernah dialami oleh setiap orang. Pada saat seperti ini, kadang kala memang memunculkan perasaan sedih atau bahkan kecewa. Tak jarang juga muncul pikiran seandainya melakukan hal ini atau itu, apakah hasilnya akan berbeda?

Akan tetapi, ternyata pengandaian seperti itu adalah hal yang tidak boleh dilakukan dalam Islam. Ada beberapa alasan mengapa seorang muslim tidak boleh berandai – andai tentang hal yang sudah berlalu dan tidak bisa diubah. Berikut ini adalah beberapa alasannya:

1. Segala hal yang terjadi adalah bagian dari takdir yang telah digariskan
2. Semangat adalah kebahagiaan dan juga ibadah
3. Menghindari celah bisikan syaitan
4. Macam – macam bentuk pengandaian

Seorang muslim sudah semestinya memiliki keimanan terhadap takdir. Karena hal ini juga merupakan salah satu bagian dari rukun iman. Menyadari apa yang sudah ada di masa lalu merupakan salah satu bagian dari takdir yang dialami oleh manusia.

Dan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari takdir tidak bisa diubah lagi. Meskipun mungkin orang tersebut mendapat kesempatan untuk kembali ke masa lalu – yang tidak akan mungkin terjadi. Karena itu, daripada menyesali yang sudah terjadi, memahami bahwa hal tersebut adalah bagian dari takdir akan memberikan ketentraman pada hati.

Dengan hati yang tentram, seorang hamba bisa lebih berfokus kepada apa yang dijalaninya saat ini. Juga berusaha untuk beramal dengan sebaik – baiknya. Sehingga apabila sebuah musibah terjadi, maka seorang hamba bisa merasa ridha dan sabar atas musibah yang dialami.

Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah mengatakan bahwa letak kebahagiaan manusia berada dalam semangatnya dalam meraih hal – hal yang bermanfaat. Baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Selain itu, Imam Ibnu Qoyyim juga mengatakan bahwa potensi kesempurnaan dalam diri seseorang akan muncul ketika orang tersebut memiliki semangat yang menyala dan menggunakan semangat tersebut untuk sesuatu yang bermanfaat.

Semangat dalam melakukan hal yang baik baru akan lahir jika seseorang sudah ridha terhadap apa yang terjadi di masa lalu. Apalagi, semangat melakukan kebaikan merupakan salah satu bentuk ibadah dan bentuk sesungguhnya dari definisi meminta pertolongan Allah. Karena itu, bersemangat juga bisa dianggap sebagai sebuah ibadah.

Setiap orang pasti pernah merasakan kondisi dimana apa yang diusahakan tidak memberikan hasil sesuai yang diharapkan. Namun, setiap orang juga memiliki hak untuk memilih. Apakah ingin menjadi orang yang lemah atau orang yang tabah.

Akan tetapi, perasaan lemah akan menimbulkan celaan, protes, kemarahan, dan sedih di dalam diri. Dimana hal tersebut merupakan bagian dari cara syaitan menggoda manusia. Selain itu, perasaan lemah dan negatif ini bisa dibuka dengan pengandaian – pengandaian atau perkataan “Seandainya begini maka begini” dan perkataan semacam itu.

Mengeluh atau berandai – andai juga merupakan sikap yang kontra produktif. Karena meskipun seseorang melakukan pengandaian begini dan begitu, hal yang sudah terjadi tidak akan pernah bisa diubah. Bahkan banyak ulama sepakat bahwa pengandaian merupakan sesuatu yang haram. Karena pengandaian dekat dengan penyesalan, kesedihan, dan kesan tidak mau menerima kenyataan.

Bentuk pengandaian yang dilarang bukan hanya sebatas yang telah disebutkan saja. Ada beberapa bentuk pengandaian lain yang juga dilarang, yaitu pengandaian yang menentang hukum syariat, pengandaian yang menentang takdir, pengandaian yang menjadi alasan untuk melegalkan kemaksiatan, dan pengandaian untuk angan – angan yang tercela.

Selain pengandaian yang dilarang, ada juga pengandaian yang dibolehkan. Yaitu pengandaian untuk sesuatu yang baik dan pengandaian untuk mengabarkan keadaan. Misalnya dengan mengatakan, “Seandainya saya memiliki harta, maka saya akan bersedekah” atau mengatakan “Kalau kamu tadi datang, kamu bisa mendapatkan ilmu yang berharga.”

Pada dasarnya, larangan untuk berandai – andai adalah sesuatu yang baik untuk seorang hamba. Karena ajaran Islam menghendaki kebaikan bagi seluruh umatnya. Selain itu, berhenti berandai – andai adalah sesuatu yang bisa dilakukan dan bahkan dibiasakan. Sehingga, lama kelamaan hati akan menjadi lebih tenang.


Referensi : Terkadang kenyataan tidak sesuai dengan yang diharapkan