This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.
Senin, 22 Agustus 2022
Kata Motivasi Islam Menuju Kebenaran & Kesuksesan
Kata Motivasi Islam Tentang Kesuksesan yang Bisa Bangkitkan Semangat
Sebagai umat Muslim yang dirahmati Allah, kita harus mampu menghadapi segala permasalahan yang datang dengan penuh kebijaksanaan.
Saat sedang merasa terpuruk, Islam mengajarkan kita untuk selalu mengingat Allah SWT dan memohon pertolongan kepada-Nya. Jika Anda sedang merasa terpuruk, cobalah untuk membaca kumpulan kata-kata motivasi Islam tentang kesuksesan untuk membangkitkan semangat.
1. Yang paling besar di bumi ini bukan gunung dan lautan, melainkan hawa nafsu yang jika gagal dikendalikan maka kita akan menjadi penghuni neraka - Abu Hamid Al Ghazali.
2. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya - (Al-Baqarah: 286)
3. Ketika kamu tidak mengerti apa yang terjadi dalam hidupmu, tutup saja matamu, tarik napas dalam-dalam dan katakan, "Ya Allah, aku tahu ini adalah rencana-Mu, bantu aku melewatinya.
4. Halal adalah suatu keharusan. Tidak hanya tentang apa yang kita makan, tetapi juga apa yang kita kenakan dan apa yang kita sukai.
5. Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan - (QS Al Insyirah 5)
6. Jangan berduka, apa pun yang hilang darimu akan kembali lagi dalam wujud lain - Jalaludin Rumi.
7. Dunia ini ibarat bayangan. Kalau kau berusaha menangkapnya, ia akan lari. Tapi, kalau kau membelakanginya, ia tak punya pilihan selain mengikutimu - Ibnu Qayyim Al Jauziyyah.
8. Jangan hanya berterima kasih kepada Allah ketika semuanya berjalan baik. Terima kasih kepada-Nya bahkan ketika segala sesuatunya terasa sulit.
9. Apabila sesuatu yang kau senangi tidak terjadi, maka senangilah apa yang terjadi - Ali bin Abi Thalib.
10. Allah SWT masih mencintai dan menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang tidak menaati-Nya. Jadi, bayangkan betapa dia mencintai orang-orang yang mematuhi-Nya.
11. Orang yang paling berat cobaannya adalah nabi, kemudian orang-orang yang di bawah derajatnya dan seterusnya - HR. Tirmidzi
12. Tetapi, orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan - (QS. Asy-Syuura: 43)
13. Sesungguhnya Allah SWT menyayangi umat-Nya yang selalu sabar dalam setiap kondisi yang Tuhan berikan.
14. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri - (QS. Ar Rad: 11)
15. Kesabaran itu ada dua macam: sabar atas sesuatu yang tidak kau ingin dan sabar menahan diri dari sesuatu yang kau ingini - Ali bin Abi Thalib
Referensi : Kata Motivasi Islam Tentang Kesuksesan yang Bisa Bangkitkan Semangat
Perkara yang Tidak Akan Kembali Dalam Pandangan Islam
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al Qoshosh 77)
Orang yang mengabaikan akherat, mengabaikan berbuat baik kepada sesamanya, termasuk orang yang berbuat kerusakan. Termasuk orang yang tidak disukai Allah. Padahal Allah sudah berbuat baik kepada manusia tanpa batas.
Kebaikan Allah luar biasa. Betapa tidak. Orangorang yang menentang Allah, tetapi diberi rejeki. Tetap diberi hidup. Tetap boleh menghisap oksigen dan seterusnya. Ada tiga hal dalam hidup yang tidak bisa kembali.
Tiga hal itu adalah : WAKTU, UCAPAN DAN KESEMPATAN. TIGA hal ini jagalah jangan sampai menyesal di kemudian hari.
WAKTU.
Ada beberapa karakteristik waktu yang harus dipahami dengan baik agar bisa mengaturnya dengan baik, diantaranya adalah :
- Pertama : Waktu akan habis dan berlalu dengan cepat.
- Kedua : Waktu yang telah habis tak akan pernah kembali dan tak mungkin dapat diganti.
- Ketiga : Waktu adalah modal terbaik bagi manusia. Karena waktu adalah wadah bagi setiap amal perbuatan manusia.
- Keempat : Kita akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah atas waktu yang telah kita pergunakan.
Ucapan adalah cermin pikiran seseorang. Pikiran jernih akan memantulkan ucapan yang jernih. Pikiran kotor akan memantulkan kata dan ucapan kotor. Karena itu setiap kata yang dikeluarkan dari mulut menggambarkan bagaimana kepribadian dan pikiran seseorang.
Orang barat mengatakan “Time is Money“, “Waktu adalah Uang”. Sebuah semboyan yang setidaknya benar-benar menggambarkan pola pikir mereka yang individualis, materialistis, dan kapitalis dalam menyikapi arti sebuah waktu.
Yang setidaknya hal ini juga tercermin didalam pola bermuamalah yang mereka terapkan. Semboyan dan ikon bagi seorang mukmin adalah “Time is doing” waktu adalah tindakan amal.
Sedangkan orang arab mengatakan di dalam pepatahnya : Waktu diibaratkan pedang, jika engkau tidak memotongnya maka waktulah yang akan memotongmu,
Dan jika engkau tidak menyibukkan dirimu dengan sesuatu yang halal, maka dia akan menyibukkanmu dengan sesuatu yang haram serta perbuatan-perbuatan dosa”, tentunya sebuah semboyan yang sangat indah serta menyentuh jiwa.
Islam menjadikan waktu sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia, sebagaimana telah diisyaratkan oleh Allah yang telah bersumpah dengan nama waktu di dalam banyak ayat, diantaranya dalam firmanNya :
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian” (QS. Al-`Ashr: 1-2 )
Dan tidaklah Allah bersumpah di beberapa ayat dengan nama waktu, melainkan hal tersebut menunjukkan atas kemuliaan serta keagungan hal tersebut, yaitu dalam hal ini adalah waktu. Islam mendorong seseorang untuk menggunakan waktu dengan baik, agar orang tersebut bisa mengambil pelajaran dan bersyukur atas nikmat waktu yang Allah anugerahkan kepadanya Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur” (QS. Al-Furqan : 62 )
Yaitu dengan perputaran waktu, maka manusia dapat mengambil pelajaran yang sangat penting mengenai tujuan penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah serta menjalankan Syariat-Nya, mengingat ajal yang pasti akan menjemputnya, dan mempersiapkan bekal bagi kehidupan di akhiratnya yang kekal dan abadi.
Islam telah memberikan pujiannya serta mensifati orang-orang yang mengisi waktunya dengan berfikir dan menjalankan ketaatan di jalan Allah dengan sebutan Ulil Albab (Orang yang berakal).
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal ” (QS. Ali Imran : 190)
Berdasarkan ayat diatas, maka orang-orang yang tidak bisa mensyukuri serta mengisi waktunya dengan berfikir dan menjalankan ketaatan dijalan Allah maka tidaklah pantas untuk dikatakan sebagai manusia yang berakal, wal `iyadzu billah.
Waktu adalah nikmat & karunia Allah yang terlupakan oleh kebanyakan manusia. Rasululloh Shallallahu›alaihi wa sallam pernah bersabda :
Dua nikmat yang kebanyakan manusia rugi di dalamnya : Kesehatan dan Waktu Luang ” (HR. Bukhari)
Akan tetapi, sangat disayangkan sekali, banyak sekali manusia yang lalai akan kedua nikmat ini. Dan merekapun baru menyadari akan besarnya nikmat ini setelah mereka kehilangan.
Kehilangan kesehatan yang telah berganti dengan sakit menahun berkepanjangan tidak diketahui ujungnya, dan kehilangan Waktu luang yang telah berganti dengan kegiatan dan kesibukan.
Kesibukan yang tiada henti dan datang secara bertubi-tubi, wal `iyadzu billah. Kita akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah akan waktu yang telah kita pergunakan.
Rasululloh Shallallahu›alaihi wa sallam pernah menjelaskan hal ini didalam sabdanya :
Tidak tergelincir kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga Allah menanyakan empat hal: Umurnya; dihabiskan untuk apa, Waktu mudanya; digunakan untuk apa, Ilmunya; apakah diamalkan atau tidak, Hartanya; darimana dia mendapatkan dan untuk apa saja dihabiskannya” (HR.Tirmidzi )
Umat manusia benar-benar berada di dalam kerugian yang nyata apabila tidak memanfaatkan waktu pemberian Allah seoptimal mungkin untuk berjalan diatas ketaatanNya.
“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al-`Ashr: 1-3).
UCAPAN.
Adapun sumber-sumber dosa yang menghampiri kita, berawal dari suatu titik dalam diri, baik itu berkaitan dengan dengan aspek lahiriyah (anggota tubuh) dan aspek bathin (pikiran dan hati). Jika melalui pintu fisik, berarti dosa itu dimulai dari anggota tubuh seperti : MULUT, MATA, TELINGA, KULIT dan bahkan KELAMIN. Jika ia melalui pintu bathin berarti dosa itu dimulai dari PIKIRAN dan HATI. MULUT bisa MENDATANGKAN PAHALA, tetapi JUGA MENJADI PINTU DOSA, sama dengan mata / pikiran.
Ucapan buruk mencela orang, memaki, menerangkan keburukan-keburukan orang lain, menyinggung perasaan seseorang, dan sebagainya merupakan salah satu pintu dosa yang amat rawan (dosa yang berawal dari mulut).
Banyak orang yang bisa mengendalikan hawa nafsu dan syahwatnya. ATAU bisa mengendalikan massa, memimpin/mengendalikan orang lain, tetapi tidak bisa mengendalikan lidah dan ucapan.
Maksudnya ucapan kotor. Allah SWT tidak menyukai dan membenci hamba-hambaNya yang suka mengucapkan kata-kata kotor sesuai dengan FirmanNya dalam Al Qur’an sbb :
“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. An Nisaa: 148)
“(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu” (QS. An Nahl: 25)
“Sama saja (bagi Tuhan), siapa diantaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari” (QS. Ar Ra’d: 10)
Seseorang yang lupa kepada Allah dan dalam keadaan marah, cenderung untuk mengeluarkan kata-kata kotor, jelek, dusta, mencaci maki, mengungkit-ungkit kejelekan lawan bicara, menyanjung-nyanjung dirinya dan mengeluarkan kalimat yang mengandung kekufuran atau lainnya.
Hal ini terjadi karena ia dirasuki dan dikuasai oleh syaitan. Masalah kekufuran / hal-hal yang tidak baik (sampah) di dalam tubuh manusia, maka itulah yang akan dikeluarkan. Apa yang keluar, itulah yang berada di dalam.
Seseorang menuangkan cairan dari sebuah ceret. Cairan yang tumpah ke tanah adalah teh manis. Kesimpulannya, berarti cairan yang berada dalam ceret adalah teh manis. Mulutmu, harimaumu. Ada pesan tersisrat dalam ungkapan ini.
Yakni bahwa mulut seseorang ibarat harimau. Gambaran hewan buas. Siap menerkam setiap saat. Mulut yang digambarkan sebagai harimau, membahayakan. Berbahaya. Maka hati-hatilah dengan mulut. Sebab sewaktu-waktu dapat menerkam. Senjata makan tuan. Celaka karena tidak dapat menjaga mulutnya.
Dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi, seseorang terpaksa berurusan dengan pihak berwajib karena penghinaan. Karena melakukan pencemaran nama baik. Karena kepleset lidahnya dalam berbicara.
Inilah mengapa dikatakan “Mulutmu, harimaumu”. Adalah arif dan bijaksana jika berhati-hati dalam berkalam. Hati-hati dalam berkalam adalah langkah terbaik. Mencegah lebih mudah dan murah diibanding mengatasi masalah yang telah terlanjur muncul.
Allah berfirman dalam QS Qoof 18.
Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.
Seorang mukmin yang ingin menjaga agama dan hatinya, akan berusaha irit bicara. Puasa bicara. Sebab bukan tidak mungkin sebuah ucapan yang barangkali tidak sengaja, dapat mendatangkan murka Allah.
Dari Abu Hurairah RA,sesungguhnya ia mendengar Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba (kadang) berbicara dengan pembicaraan yang tidak ia sadari bisa menggelincirkan ke neraka sejauh antara timur dan barat”. (HR Bukhari, Muslim dan Nasai). “Sesungguhnya Allah murka kepada orang yang berperangai jahat dan berlidah kotor.” (HR. Tirmidzi)
KESEMPATAN.
Kesempatan tidak terulang. Misalnya Ahad 7 Agustus tidak hadir di kajian Ahad Pagi. Maka kesempatan hadir di kajian Ahad Pagi hilang. Tidak dapat diulang, ditarik lagi. Kesempatannya tersedia pada Ahad yang berbeda.
Pesan yang terkandung di sini jangan membuang kesempatan, jangan menunda waktu, menunda pekerjaan dan sebagainya. Manfaat peluang yang ada, dimanfaatkan sebaik mungkin. Waktu, ucapan dan kesempatan adalah tiga perkara yang tidak akan kembali. Jagalah sebaik-baiknya agar tidak menyesal. Tulisan ini Insya Allah akan dilanjutkan TIGA kedua, TIGA ketiga dan seterusnya.
Referensi : Perkara yang Tidak Akan Kembali
Kata Bijak Islami agar Kamu Tidak Lagi Menyia-nyiakan Waktu
Kata Bijak Islami agar Kamu Tidak Lagi Menyia-nyiakan Waktu Kata Bijak Islami agar Kamu Tidak Lagi Menyia-nyiakan Waktu. Setiap orang memiliki waktu yang sama. Sama-sama 24 jam dalam sehari semalam. Akan tetapi, hanya sebagian saja yang bisa menggunakannya dengan baik. Maka tak heran, jika ada orang yang sukses ada yang tidak. Bisa jadi karena mereka berbeda dalam menggunakan waktu. Ada yang menggunakannya dengan baik, ada yang malah menyia-nyiakannya.
Jagalah Waktu
Memang, setiap kita tidak mudah menyadari keberadaan waktu. Bahkan, kala tidur pun, waktu senantiasa mengiringi. Tetap saja, kita tidak menyadarinya. Berlalu dan menimbulkan penyesalan di akhir.
Apakah ada di antara kita ada yang merasa tidak memiliki cukup waktu? Apakah sepertinya di antara kita tidak pernah bisa menyelesaikan semua pekerjaan, atau bisa jadi kesulitan mencari waktu yang cukup untuk keluarga kita. Apalagi berolahraga dan tidur cukup untuk kita tetap sehat? Apakah di antara kita merasa bahwa waktu adalah musuh kita?
Waktu adalah satu-satunya sumber daya yang dapat habis. Kita dapat menambah kekayaan, kesuksesan, karyawan rekan kerja, atau teman-teman tetapi kita tidak dapat menambah waktu. Kita hanya memiliki 24 jam dalam sehari, dan hanya satu kesempatan seumur hidup. Waktu adalah sesuatu yang terbatas dan tidak ada satu orangpun yang menyukai batas, wajar jika di antara kita merasa dikejar-kejar oleh waktu.
Tetapi itu bukanlah hal yang benar. Kita perlu mengubah sikap ini dan mulai melihat tuntutan waktu kita sebagai hal yang baik dalam hidup kita. Inilah cara-cara yang dapat kita lakukan untuk bersahabat dengan waktu:
- Bersyukur apabila kita dihimpit oleh waktu.
- Imbangi aktifitas kita untuk dunia dan akhirat.
- Hilangkanlah kata “tetapi”.
- Seimbangkan waktu kita.
- Bekerjalah sesuai dengan ritme kinerja kita.
- Terima kenyataan
Semoga kita semua dapat memanfaatkan waktu yang sangat berharga ini dengan baik.
Referensi : Jagalah Waktu
3 Hal yang Tidak Bisa Kembali, 3 Hal Pula yang Tidak Pernah Kita Ketahui
3 Hal yang Tidak Bisa Kembali, 3 Hal Pula yang Tidak Pernah Kita Ketahui. Bila diibaratkan, umur manusia itu bagai es batu. Digunakan atau tidak digunakan, es batu lama kelamaan akan mencair. Begitu pun dengan umur manusia, dimanfaatkan atau dibiarkan, pada waktunya akan berkurang. Selagi masih diberi jatah hidup oleh Allah SWT, ada baiknya umat Muslim mengisinya dengan amal kebaikan. Dengan rajin beribadah, memperbanyak amal, maka saat ajal menjemput, umat Muslim bisa tenang. Dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya ada tiga hal yang perlu diingat.
1. Ada 3 hal dalam hidup yang tidak bisa kembali :
- Waktu, Ucapan, dan Kesempatan.
Jagalah itu, jangan sampai kau menyesal karenanya.
2. Ada 3 hal yang dapat menghancurkan hidup seseorang:
- Amarah, Keangkuhan, dan Dendam.
Hindarilah perilaku itu agar selamat dunia akhirat.
3. Ada 3 hal yang tidak boleh hilang:
- Harapan, Keikhlasan, dan Kejujuran.
Peliharalah ketiganya agar dapat ketenangan.
4. Ada 3 hal yang paling berharga:
- Kasih Sayang, Cinta, dan Kebaikan.
Pupuklah itu semua agar dapat kebahagiaan.
- Kekayaan, Kejayaan, dan Mimpi.
Jangan terobsesi hal itu karena bisa membawa kehancuran.
6. Ada 3 hal yang dapat membentuk watak seseorang:
Komitmen, Ketulusan, dan Kerja Keras.
Upayakanlah sekuatnya agar terwujud.
8. Ada 3 hal yang tidak pernah kita tahu:
- Rezeki, Umur, dan Jodoh.
Mintalah pada Allah SWT agar bermanfaat.
9. Ada 3 hal dalam hidup yang PASTI:
- Tua, Sakit, dan Kematian.
5. Ada 3 hal dalam hidup yang tidak pernah pasti:
7. Ada 3 hal yang membuat kita sukses:
-Tekad, Kemauan, dan Fokus.
Usahakan hal itu dengan sungguh-sungguh.
Berdoalah aga kita siap menghadapinya.
Referensi : Hal yang Tidak Bisa Kembali 3 Hal Pula yang Tidak Pernah Kita Ketahui
Renungan Tentang Mengelola Waktu Dalam Islam
Allâh Ta’ala telah bersumpah dengan menyebut masa dalam firman-Nya:
وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. [al-‘Ashr/103:1-3].
Di dalam surat yang mulia ini Allâh Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan masa, dan ini menunjukkan pentingnya masa. Sesungguhnya di dalam masa terdapat keajaiban-keajaiban. Di dalam masa terjadi kesenangan dan kesusahan, sehat dan sakit, kekayaan dan kemiskinan. Jika seseorang menyian-nyiakan umurnya, seratus tahun berbuat sia-sia, bahkan kemaksiatan belaka, kemudian ia bertaubat di akhir hayatnya, dengan taubat yang diterima, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan sempurna sebagai balasannya, berada di dalam surga selama-lamanya. Dia betul-betul mengetahui bahwa waktu hidupnya yang paling berharga adalah sedikit masa taubatnya itu. Sesungguhnya masa merupakan anugerah Allâh Ta’ala, tidak ada cela padanya, manusia-lah yang tercela ketika tidak memanfaatkannya.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan pentingnya memanfaatkan waktu, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. [HR Bukhari, no. 5933].
Hadits yang mulia ini memberitakan bahwa waktu luang adalah nikmat yang besar dari Allâh Ta’ala, tetapi banyak manusia tertipu dan mendapatkan kerugian terhadap nikmat ini.
Di antara bentuk kerugian ini adalah:
- Seseorang tidak mengisi waktu luangnya dengan bentuk yang paling sempurna. Seperti menyibukkan waktu luangnya dengan amalan yang kurang utama, padahal ia bisa mengisinya dengan amalan yang lebih utama.
- Dia tidak mengisi waktu luangnya dengan amalan-amalan yang utama, yang memiliki manfaat bagi agama atau dunianya. Namun kesibukkannya adalah dengan perkara-perkara mubah yang tidak berpahala.
- Dia mengisinya dengan perkara yang haram, ini adalah orang yang paling tertipu dan rugi. Karena ia menyia-nyiakan kesempatan memanfaatkan waktu dengan perkara yang bermanfaat. Tidak hanya itu, bahkan ia menyibukkan waktunya dengan perkara yang akan menggiringnya kepada hukuman Allâh di dunia dan di akhirat.
Urgensi waktu dan kewajiban menjaganya merupakan perkara yang disepakati oleh orang-orang yang berakal. Berikut adalah diantara point-point yang menunjukkan urgensi waktu.
1. Waktu Adalah Modal Manusia.
Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:
اِبْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ
Wahai Ibnu Adam (manusia), kamu itu hanyalah (kumpulan) hari-hari, tiap-tiap satu hari berlalu, hilang sebagian dirimu.
Diriwayatkan bahwa ‘Umar bin Abdul-‘Aziz rahimahullah berkata:
إِنَّ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ يَعْمَلَانِ فِيْكَ فَاعْمَلْ فِيْهِمَا
Sesungguhnya malam dan siang bekerja terhadapmu, maka beramalah pada malam dan siang itu.[2]
2. Waktu Sangat Cepat Berlalu.
Seseorang berkata kepada ‘Âmir bin Abdul-Qais rahimahullah, salah seorang tabi’i: “Berbicaralah kepadaku!” Dia menjawab: “Tahanlah jalannya matahari!”
Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Aku tidak menyerupakan masa muda kecuali dengan sesuatu yang menempel di lengan bajuku, lalu jatuh”.
Abul-Walid al-Bâji rahimahullah berkata: “Jika aku telah mengetahui dengan sangat yakin, bahwa seluruh hidupku di dunia ini seperti satu jam di akhirat, maka mengapa aku tidak bakhil dengan waktu hidupku (untuk melakukan perkara yang sia-sia, Pen.), dan hanya kujadikan hidupku di dalam kebaikan dan ketaatan”.
Baca Juga Cara Meraih Cinta Allâh : Mendahulukan Kecintaan-Nya Daripada Kecintaanmu Saat Hawa Nafsu Mendominasi, Dan Mendaki Menuju Kecintaan
3. Waktu Yang Berlalu Tidak Pernah Kembali.
Abu Bakar ash-Shiddîq Radhiyallahu anhu berkata:
إِنَّ لِلَّهِ حَقًّا بِالنَّهَارِ لَا يَقْبَلُهُ بِاللَّيْلِ، وَلِلَّهِ حَقٌّ بِاللَّيْلِ لَا يَقْبَلُهُ بِالنَّهَارِ
Sesungguhnya Allâh memiliki hak pada waktu siang, Dia tidak akan menerimanya di waktu malam. Dan Allâh juga memiliki hak pada waktu malam, Dia tidak akan menerimanya di waktu siang. [Riwayat Ibnu Abi Syaibah, no. 37056].
Dengan demikian seharusnya seseorang bersegera melaksanakan tugasnya pada waktunya, dan tidak menumpuk tugas dan mengundurkannya sehingga akan memberatkan dirinya sendiri. Oleh karena itu waktu di sisi Salaf lebih mahal dari pada uang. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:
أَدْرَكْتُ أَقْوَامًا كَانَ أَحَدُهُمْ أَشَحَّ عَلَى عُمْرِهِ مِنْهُ عَلَى دَرَاهِمِهِ وَدَنَانِيْرِهِ
Aku telah menemui orang-orang yang sangat bakhil terhadap umurnya daripada terhadap dirham dan dinarnya.Sebagian penyair berkata:
وَالْوَقْتُ أَنْفَسُ مَا عَنَيْتَ بِحِفْظِهِ … وَأَرَاهُ أَسْهَلَ مَا عَلَيْكَ يُضَيَّعُ
Waktu adalah perkara paling mahal yang perlu engkau perhatikan untuk dijaga, tetapi aku melihatnya paling mudah engkau menyia-nyiakannya.
4. Manusia tidak mengetahui kapan berakhirnya waktu yang diberikan untuknya.
Oleh karena itu Allâh Ta’ala banyak memerintahkan untuk bersegera dan berlomba dalam ketaatan. Demikian juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar bersegera melaksanakan amal-amal shalih. Para ulama telah memperingatkan agar seseorang tidak menunda-nunda amalan. Al-Hasan berkata:
اِبْنَ آدَمَ إِيَّاكَ وَالتَّسْوِيْفَ فَإِنَّكَ بِيَوْمِكَ وَلَسْتَ بِغَدٍّ فَإِنْ يَكُنْ غَدٌّ لَكَ فَكُنْ فِي غَدٍّ كَمَا كُنْتَ فِيْ الْيَوْمَ وَإِلَّا يَكُنْ لَكَ لَمْ تَنْدَمْ عَلَى مَا فَرَّطْتَ فِيْ الْيَوْمِ
Wahai anak Adam, janganlah engkau menunda-nunda (amalan-amalan), karena engkau memiliki kesempatan pada hari ini, adapun besok pagi belum tentu engkau memilikinya. Jika engkau bertemu besok hari, maka lakukanlah pada esok hari itu sebagaimana engkau lakukan pada hari ini. Jika engkau tidak bertemu esok hari, engkau tidak akan menyesali sikapmu yang menyia-nyiakan hari ini.
Berikut adalah beberapa keadaan manusia dalam menyikapi waktu.
- Orang-orang yang amalan shalih mereka lebih banyak daripada waktu mereka. Diriwayatkan bahwa Syaikh Jamaluddin al-Qâshimi rahimahullah melewati warung kopi. Dia melihat orang-orang yang mengunjungi warung kopi tenggelam dalam permainan kartu dan dadu, meminum berbagai minuman, mereka menghabiskan waktu yang lama. Maka Syaikh berkata, “Seandainya waktu bisa dibeli, sungguh pasti aku beli waktu mereka!”
- Orang-orang yang menghabiskan waktu mereka dalam mengejar perkara yang tidak berfaidah, baik berupa ilmu yang tidak bermanfaat, atau urusan-urusan dunia lainnya. Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah menyebutkan seorang laki-laki yang menghabiskan umurnya untuk mengumpulkan dan menumpuk harta. Ketika kematian mendatanginya, dikatakan kepadanya, “Katakanlah lâ ilâha illa Allâh,” namun ia tidak mengucapkannya, bahkan ia mulai mengucapkan, “Satu kain harganya 5 dirham, satu kain harganya 10 dirham, ini kain bagus”. Dia selalu dalam keadaan demikian sampai ruhnya keluar.
- Orang-orang yang tidak mengetahui apa yang harus mereka lakukan terhadap waktu.
Seorang ulama zaman dahulu berkata:
Aku telah melihat kebanyakan orang menghabiskan waktu dengan cara yang aneh. Jika malam panjang, mereka habiskan untuk pembicaraan yang tidak bermanfaat, atau membaca buku percintaan dan begadang. Jika waktu siang panjang, mereka habiskan untuk tidur. Sedangkan pada waktu pagi dan sore, mereka di pinggir sungai Dajlah, atau di pasar-pasar. Aku ibaratkan mereka itu dengan orang-orang yang berbincang-bincang di atas kapal, kapal itu terus berjalan membawa mereka dan berita mereka. Aku telah melihat banyak orang yang tidak memahami arti kehidupan.
Di antara mereka, ada orang yang telah diberi kecukupan oleh Allâh Azza wa Jalla , ia tidak butuh bekerja karena hartanya yang sudah banyak, namun kebanyakan waktunya padai siang hari ia habiskan dengan nongkrong di pasar (kalau zaman sekarang di mall dan sebagainya, Pen.) melihat orang-orang (yang lewat). Alangkah banyaknya keburukan dan kemungkaran yang melewatinya.
Di antara mereka ada yang menyendiri bermain catur. Di antara mereka ada yang menghabiskan waktu dengan kisah-kisah kejadian tentang raja-raja, tentang harga yang melonjak dan turun, dan lainnya.
Maka aku mengetahui bahwa Allâh tidak memperlihatkan urgensi umur dan kadar waktu kesehatan kecuali kepada orang-orang yang Allâh berikan taufiq dan bimbingan untuk memanfaatkannya. Allâh berfirman:
وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. [Fushilat/41:35].
Adapun yang menjadi penyebab perbedaan keadaan manusia dalam menyikapi waktu, kembali kepada tiga perkara berikut.
1. Sebab pertama, tidak menetapkan tujuan hidup. Oleh karena itu, seorang muslim wajib mengetahui bahwa tujuan Allâh menciptakannya adalah untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
an Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. [adz-Dzariyat/51:56].
Dia harus mengetahui bahwa dunia ini adalah tempat beramal, bukan tempat santai dan main-main, sebagaimana firman-Nya:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? [al-Mukminun/23:115].
Dunia adalah sawah ladang akhirat. Jika engkau menanam kebaikan di dunia ini, maka engkau akan memetik kenikmatan abadi di akhirat nanti. Jika engkau menanam keburukan di dunia ini, maka engkau akan memetik siksaan pedih di akhirat nanti.
Namun demikian, ini bukan berarti manusia tidak boleh bersenang-senang dengan perkara yang Allâh ijinkan di dunia ini, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
Demi Allâh, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa di antara kamu kepada Allâh, tetapi aku berpuasa dan berbuka, shalat (malam) dan tidur, dan aku menikahi wanita-wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, maka ia bukan dariku. [HR al-Bukhari, no. 4776; Muslim, no. 1401]
2. Sebab kedua, bodoh terhadap nilai dan urgensi waktu.
3. Sebab ketiga, lemahnya kehendak dan tekad.
Banyak orang mengetahui nilai dan urgensi waktu, dan mengetahui perkara-perkara bermanfaat yang seharusnya dilakukan untuk mengisi waktu, tetapi karena lemahnya kehendak dan tekad, mereka tidak melakukannya. Maka seorang muslim wajib mengobati perkara ini dan bersegera serta berlomba melaksanakan amalan-amalan shalih, serta memohon pertolongan kepada Allâh Ta’ala, kemudian bergabung dengan kawan-kawan yang shalih.
Jika kita benar-benar mengerti tujuan hidup, dan kita benar-benar memahami nilai waktu, maka seharusnya kita isi waktu kita dengan perkara yang akan menjadikan ridha Penguasa kita, Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Semoga Allâh selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus.
Referensi : Renungan Tentang Mengelola Waktu Dalam Islam
Bolehkah Mengulang Sholat Karena Tidak Khusyuk
Begitu pun ketika seseorang yang menjadi makmum mendapati bacaan imamnya tidak baik karena kondisi tertentu, maka menurut ustaz Adi makmum itu diperkenankan mengulang kembali sholatnya.
3 Hadis Ini Bikin Kamu Tak Berani Menyepelekan Waktu
Hasan Al-Bashri pernah mengatakan;
Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.
Pada hakikatnya, waktu bagi manusia adalah umurnya sendiri. Apabila waktu berlalu, maka usianya pun semakin berkurang.
Rasulullah Muhammad Saw seringkali memperingatkan umatnya tentang waktu, di antaranya:
Nabi Muhammad bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ
"Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang." (HR. Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Abdul Fattah bin Muhammad dalam Qimatuz Zaman ‘Indal ‘Ulama menjelaskan, kata "tertipu" dalam hadis ini bermakna merugi.
Banyak manusia yang merugi karena nikmat sehat dan waktu luang. Ada orang yang sehat fisiknya, namun ia seakan tak punya waktu untuk persiapan akhirat karena terlalu sibuk dengan kehidupan dunia.
Ada pula orang yang punya cukup waktu untuk mempersiapkan akhirat, namun fisiknya sedang tidak sehat. Padahal, apabila memiliki keduanya, manusia dapat memanfaatkan waktunya untuk beribadah dan beramal saleh.
Oleh karena itu, apabila diberikan nikmat sehat dan waktu luang, perbanyaklah ketaatan kepada Allah Swt. Sebab, masa sehat akan disusul sakit, dan waktu luang akan disusul kesibukan.
Jagalah 5 perkara sebelum 5 perkara
Rasulullah Saw pernah bersabda kepada seorang laki-laki dan menasihatinya;
"Jagalah lima perkara sebelum (datang) lima perkara (lainnya). Mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu dan hidupmu sebelum matimu." (HR Nasai dan Baihaqi).
Usia muda adalah masa emas dalam hidup, namun ia akan berlalu dan berganti tua. Sehat adalah nikmat terbesar, sebab saat sakit kita akan kesulitan beraktivitas.
Begitu pula dengan kaya dan waktu luang, berapa banyak orang yang mengharapkan keduanya. Lebih parah lagi, keempat perkara ini bisa hilang begitu saja dengan dicabutnya ruh dari badan.
Lima perkara pertama ini harus dimanfaatkan, sebab, Allah Swt akan menanyakannya di akhirat kelak.
Rasulullah Saw bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya, hingga dia ditanya tentang lima perkara, tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya." (HR Tirmidzi).
Usia umat Nabi Muhammad antara 60 sampai 70
Rasulullah Saw wafat dalam usia 63 tahun. Begitu pula dengan umatnya, beliau bersabda:
أَعْمَارُ أُمَّتِى مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ
"Usia umatku (Muslim) antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit sekali dari mereka yang melewatinya." (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi).
Hanya sedikit saja orang yang melewati batas usia ini. Sekalipun diberi umur lebih panjang, Allah Swt sedikit demi sedikit mengambil nikmatNya dari manusia.
Jika sudah seperti itu, tubuh akan mudah terserang penyakit, kekuatan fisik semakin berkurang, penglihatan mulai buram, kulit kian mengendur, rambut memutih, dan ingatan tak lagi tajam. Oleh karena itu, jangan sia-siakan waktu, sebab semua yang telah berlalu tak dapat kembali.
Referensi : 3 Hadis Ini Bikin Kamu Tak Berani Menyepelekan Waktu
Waktu Tak Akan Pernah Kembali
Waktu Tak Akan Pernah Kembali. "Tidak akan pernah kembali hari-hari (waktu) yang telah berlalu." [Maqalah] Ini adalah peringatan bagi siapa saja untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Waktu terus mengalir, umur terus berkurang. Melewatinya secara sia-sia tak akan dapat terlunasi selamanya. Hari Senin barangkali akan datang lagi pada minggu-minggu berikutnya, namun Senin hari ini dan yang sudah lewat tak akan pernah terulang kembali. Itulah mengapa waktu diibaratkan seperti pedang; bila tak pandai menggunakannya ia akan melukai pemiliknya.




















