This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Senin, 22 Agustus 2022

Andai Waktu Bisa Kuputar Kembali

Ilustrasi : Andai Waktu Bisa Kuputar Kembali

Nikmat terbesar yang Allah berikan dan karuniakan untuk manusia adalah waktu, karena sesungguhnya waktu manusia itulah kehidupannya. Barangsiapa yang menyia-nyiakan waktunya berarti telah menyia-nyiakan hidupnya dan barangsiapa menyia-nyiakan hidupnya maka dia telah merugi untuk selama-lamanya. Dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengabarkan kepada kita betapa menyesalnya orang-orang yang tidak dapat mempergunakan kesempatan hidupnya untuk taat dan beribadah kepada Allah Ta’ala. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

﴿ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ ﴾

“Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin” (QS. As-Sajadah: 12)

Nabi kita Muhammad Shallallahu `alaihi wa Sallam juga telah mengingatkan melalui haditsnya bahwa dua nikmat yang kebanyakan manusia melupakannya dan tidak menyadarinya bahwa keduanya adalah nikmat terbesar, Rasul Shallallahu `alaihi wa Sallam besabda,

” نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ “

“Dua kenikmatan yg sering dilupakan banyak orang, kesehatan dan kelowongan/kesempatan waktu.” (Shahih Bukhari)

Kesehatan dan kesempatan adalah dua nikmat yang sangat besar bagi manusia tapi sayang banyak di antara kita yang peduli dan tidak memanfaatkannya, padahal dengan keduanya banyak hal yang dapat kita lakukan. Bukankah sejarah manusia dan peradabannya terbentuk karena dua hal tersebut?. Bukankah karya-karya besar anak manusia tercipta karena dua hal tersebut ? Bahkan Islam tersebar dan berkembang ke penjuru dunia karena dua nikmat tersebut?

Sesungguhnya setiap detik dari waktu adalah sangat berharga, setiap detiknya dapat menentukan masa depan kita, menjadi manusia yang bahagia, sukses baik dunia ataupun akhirat. Dalam Al-Qur’an orang kafir di akhirat nanti bahkan hanya meminta beberapa detik untuk beramal agar menjadi orang yang sukses akan tetapi semua telah terlambat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

﴿ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚكَلَّا ۚإِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖوَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ ﴾

“Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al- Mukminun: 99-100)

Begitulah kondisi orang mati, mereka telah melihat akhirat dengan mata kepala mereka. Mereka tahu pasti apa yang telah mereka perbuat dan apa yang mereka terima. Dahulu mereka demikian mudah menyia-nyiakan waktu yang amat berharga untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bagi akhirat mereka. Kini mereka sadar bahwa detik-detik dan menit-menit yang hilang tersebut sungguh tidak ternilai harganya.

Dahulu, kesempatan itu ada di depan mata, namun tidak mereka manfaatkan. Sekarang, mereka siap menebus kesempatan itu berapapun harganya! Sungguh tak terbayang alangkah ruginya dan alangkah besarnya penyesalan mereka..

Memang, saat manusia paling lalai terhadap nikmat Allah ialah ketika ia bergelimang di dalamnya. Ia tidak menyadari betapa besarnya kenikmatan tersebut, kecuali setelah kenikmatan itu tercabut darinya. Sebab itu, kita yang masih hidup sungguh berada dalam kenikmatan yang besar. Karenanya, jangan kita biarkan semenit pun berlalu tanpa ibadah walau sekedar mengucapkan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil.

Allah juga telahmengabarkan kisah anak manusia yang tidak tersadar kecuali ketika Malaikat maut telah menjemputnya, ia tersadar terbangun dari mimpi panjangnya, ia baru sadar bahwa waktu begitu berharga setiap detiknya, ia mengatakan;

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴾

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?. Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS.Al-Munafiqun 9-11)

Berkata Imam Asy_Syafi’I Rahimahullah berkata dalam Diwan-nya,

الوَقْتُ كَالسَّيْفِ إِذَا لَـمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ

“Waktu bagaikan pedang, jika kamu tidak memotongnya maka dia akan memotongmu”.

Dikatakan dalam sebuah Syair Arab,

الوَقْتُ أَثْمَنُ مِنَ الذَّهَب

“Waktu itu lebih berharga daripada emas”.

Sebegitu pentingnya kita diperintahkan untuk menghargai waktu hingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakannya berkali-kali, termasuk dalam surat, 

“Demi Massa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan saling menasihati dalam kebenaran serta saling menasehati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr:1-3)

Berkata penghulunya para Tabi’in Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah, “Wahai anak Adam engkau adalah hari-hari, apabila telah pergi harimu berarti telah hilang sebagian hidupmu.”

“Aku telah menjumpai suatu kaum (Sahabat Radhiallahu ‘anhum) yang mereka menjaga waktu-waktunya lebih keras daripada penjagaan kalian terhadap emas dan perak kalian.”

Berkata Imam Asy-Syafi’i  Rahimahullah, “Waktu adalah pedang, jika engkau tidak gunakan untuk memotong maka engkau akan terpotong.”

“Dirimu kalau tidak kau gunakan untuk kebaikkan maka engkau akan disibukkan pada kebathilan.”

Berkata Al-Wazir Ash-Shalih Yahya bin Hubairah Rahimahullah, “Waktu itu sesuatu yang paling berharga yang harus dijaga dan Aku melihatnya (waktu) itu adalah perkara yang paling mudah engkau sia-siakan.”

Berkata seorang sahabat yang merupakan gurunya para Alim Ulama, Beliau adalah Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhuma,

“Aku tidak pernah menyesal melebihi penyesalanku ketika matahari telah terbenam dan ajalku telah berkurang (telah berkurang waktu hidupku) sedang amal baikku tidak bertambah” (sumber: Harga waktu bagi Ulama)

Karena itulah Rasul Shallallahu `alaihi wa Sallam bersabda,

” إِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَا بَكَ قَبْلَ هَرَ مِكَ ، وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَ غِنَا كَ قَبْلَ فَقْرِ كَ ، وَ فَرَا غَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَ حَيَا تَكَ قَبْلَ مَوْ تِكَ “

“Gunakanlah yang lima sebelum datang yang lima: Masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa kosongmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim; sanad-nya shahih)

Tahun 1435 H. hampir meninggalkan kita dan sebentar lagi kita akan memasuki tahun 1436 H. Pertanyaannya adalah “Sudahkah kita menggunakan waktu kita dengan sebaik-baiknya?.” Jawabnya ada pada diri kita masing-masing.

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq kepada kita agar dapat mempergunakan waktu sehingga kita tidak termasuk orang yang merugi kelak.

Referensi : Andai Waktu Bisa Kuputar Kembali



Sabtu, 20 Agustus 2022

Hikayat dan Hikmah Penyembelihan Ismail

Hikayat dan Hikmah Penyembelihan Ismail

Hikayat dan Hikmah Penyembelihan Ismail. Terdapat sebuah hadis bernada pilu yang konon diucapkan Nabi Ismail kepada ayahnya Nabi Ibrahim sewaktu ia akan disembelih, “Wahai ayahku, kuatkanlah ikatanku agar aku tidak dapat bergerak, angkatlah pakaianmu agar tidak terpercik darah sehingga ibuku melihatnya dan bersedih, gesekkanlah pisau dileherku dengan kuat agar aku tidak tersiksa, palingkahlah mukaku dan jangan memandang sehingga kamu merasa kasihan, dan agar aku tidak melihat pisaumu yang bisa membuat kamu takut, kalau bertemu ibuku sampaikanlah salamku.” 

Saat Ibrahim mulai menggesekkan pisau di leher Ismail, Allah menjadikan lehernya seperti dilapisi tembaga. Dia kemudian mencoba memotong lehernya dengan pisau itu, namun pisau itu tidak berfungsi. (Tafsir al-Qurtubi)

Perbincangan hangat antara seorang anak shalih bernama Ismail dengan ayahnya Ibrahim juga dapat ditemukan di al-Qur’an (as-Saffat:102). Kisah keduanya adalah contoh terbaik yang digambarakan al-Qur’an terkait triangle atau “Segitiga Cinta” antara Tuhan dan kedua hambanya. Ketiganya saling mencintai, tetapi Tuhan yang paling berkuasa, dan berhak menguji seberapa dalam cinta kedua hambanya.

Alhasil, karena ketundukan Ibrahim dan Ismail terbukti, Allah mengganti sembelihannya dengan domba, dan pada akhirnya peristiwa bersejarah ini menjadi “monumen peringatan” bagi umat muslim sedunia yang selalu ingin diambil ibrahnya saat Idul Adha tiba.

Dari kisah “Segitiga Cinta” di atas, kita juga diminta belajar bagaimana mewujudkan hubungan saling percaya antara anak dan bapak, begitu juga bagaimana puncak tertinggi keimanan seorang hamba kepada Allah, yaitu melaksanakan perintahnya—walau terkadang terasa sangat berat—dan menyerahkan segala yang kita punya kepada-Nya. Ini hanya bisa terwujud kalau kita memahami bahwa hakikatnya manusia tidak memiliki apa-apa. 

Siapa Sebenarnya yang Disembelih?

Bila kita membaca berbagai riwayat dalam literatur tafsir, kita akan mengetahui bahwa terdapat perbedaan pandangan ulama salaf, bahkan para sahabat, dalam memahami siapa sebenarnya yang akan disembelih, apakah Ismail ataukah Ishaq?

Ibnu Abbas, Ka’b al-Ahbar, Sa’ad bin Jubair, dan lainnya mengatakan bahwa yang akan disembelih adalah Ishaq. Pendapat ini sesuai dengan apa yang diyakini kelompok Yahudi dan Nasrani.

Pandangan kedua mengatakan bahwa yang akan disembelih atau dijadikan kurban adalah Ismail. Di antara mereka ada Abu Hurairah, Abu at-Tufail, Mujahid, dan lainnya. (Lihat Tafsir al-Qurthubi dalam tafsir surat as-Saffat: 102)

Persoalan tentang siapa yang sebenarnya disembelih tidak masuk dalam persoalan agama yang bersifat qat’i atau pasti. Karena itu, kata az-Zujjaj:

اللَّهُ أَعْلَمُ أَيُّهُمَا الذَّبِيحُ.

“Allah yang lebih tahu siapa yang sebenarnya disembelih.”

Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-Adzim dengan tegas menolak pendapat pertama, dan dia meyakini cerita itu muncul dari Ahli Kitab lalu diterima sebagian muslim tanpa dalil yang kuat. 

Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, ulama dalam bidang ilmu al-Qur’an dan hadis di al-Azhar dan Ummul Qura, menambahkan bahwa cerita penyembelihan Ishaq adalah imbas dari menyebarnya cerita Israiliyat yang bersumber dari kitab Taurat. Sedangkan Taurat mereka telah diubah. Ini sebagaimana kata Allah: 

يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِن بَعْدِ مَوَاضِعِهِ

“Mereka mengubah kata-kata (Taurat) dari makna yang sebenarnya.”

Karena itu, kata Muhammad Abu Syahbah, cerita Israiliyat model ini termasuk yang ditolak. Sebagaimana kata Imam Malik terkait hadis Nabi kepada para sahabatnya: 

حَدّثوا عَن بني إسرائيل ولا حَرج 

Maksudnya, boleh menyampaikan cerita baik yang dibawa oleh Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), adapun cerita yang telah diketahui kebohongannya, maka jangan diikuti atau tolaklah. (Muhammad Abu Syahbah, al-Israiliyyat wa al-Maudu’at).

Referensi : Hikayat dan Hikmah Penyembelihan Ismail




Kisah Umar bin Khattab RA Ketika Menghadapi Kritik Rakyat

Ilustrasi : Kisah Umar bin Khattab RA Ketika Menghadapi Kritik Rakyat

Kisah Umar bin Khattab RA Ketika Menghadapi Kritik Rakyat. Rakyat ketika menilai pemerintah melakukan kesalahan, seringkali mereka melakukan aksi demo dalam rangka memberikan kritik dan nasihat. Aksi-aksi teatrikal yang menggambarkan perilaku penyimpangan pemerintah sering kali ditampilkan dengan baik oleh pendemo, khususnya para aktivis dan mahasiswa. 

Bahkan, karena saking marahnya, kadang kritik rakyat yang ditunjukkan pendemo tampak sangat keras baik secara lisan maupun tulisan. Lantas bagaimana seharusnya etika pemerintah ketika menghadapi kritik rakyat? Apakah layak pemerintah melakukan somasi terhadap rakyatnya yang melakukan kritik.

Hal ini penting untuk diketahui agar kelak kalau kita menduduki jabatan di pemerintahan bisa mengingat dan mengaplikasikannya. Untuk menjawab hal tersebut, bisa diambil pelajaran kisah tentang Amirul Mukminin Umar bin Khattab ketika menghadapi kritik rakyat sebagaimana dimuat dalam kitab Fiqhul Islamy Wa Adillatuhu karya Prof. Wahbah Zuhaily. Beliau dikritik oleh seorang pemuda,


قَالَ رَجُلٌ لِعُمَرَ اِتَّقِ الله ياَ عُمَرُ فَقَالَ آخَرُ أَلِمِثْلِ أَمِيْرِ اْلمُؤْمِنِيْنَ يُقَالُ مِثْلُ هَذَا اْلكَلاَمِ فَأَجَابَ عُمَرُ لاَ خَيْرَ فِيْكُمْ إِنْ لَمْ تَقُوْلُوْهَا وَلاَ خَيْرَ فِيَّ إِنْ لَمْ أَسْمَعْهَ


“Seorang laki-laki berkata pada Umar ra.: “Bertaqwalah! Wahai Umar. “Lalu pemuda lain menyahut: “Layakkah ungkapan itu ditujukan pada seorang Amirul Mukminin (Pemerintah)?. Dengan bijak Umar menjawab: “Tidak ada kebaikan pada diri kalian apabila kalian tidak mengatakannya (kalimat taqwa) dan tidak pula ada kebaikan dalam diriku apabila aku tidak mau mendengarnya (dari kalian).”

Melihat penggalan cerita Umar bin Khattab ra. di atas, pejabat pemerintah hendaknya harus dengan lapang dada mendengarkan kritik rakyat. Pemerintah jangan hanya mau didengar, tapi juga harus mau mendengar. Pemerintah jangan hanya mau dijadikan cerminan bagi rakyatnya tetapi juga harus memberikan teladan yang baik.

Ketika mendapatkan kritik rakyat, pemerintah harus ikhlas dan sabar bukan malah tersinggung lalu marah-marah, apalagi mengancam rakyatnya dan melakukan somasi. Namun juga harus menjadi catatan bahwa kritik rakyat haruslah santun, faktual dan bukan merupakan fitnah atau tuduhan-tuduhan tanpa bukti yang kuat.

Perlu diingat bahwa rakyat itu lemah. Tidak memiliki kekuatan seperti pemerintah. Secara psikologis, kalau memang pemerintah merasa benar tak mungkin marah-marah. Ketika ada kritik dari rakyat, berikanlah bukti dan yakinkanlah rakyat jika memang pemerintah tidak salah.

Untuk itu, pemerintah harus sesering mungkin introspeksi diri. Utamanya, ketika pemimpin mulai memanen kritikan dari rakyatnya. Kalau perlu, ketika teguran rakyat itu benar adanya, hendaknya dia mengakui kesalahan-kesalahannya. Karena mungkin dengan begitu rakyat akan bisa memaafkan dan lebih percaya pada pemimpin. Itulah etika pemerintah yang harus dilakukan ketika menghadapi kritikan rakyatnya.

Dalam era keterbukaan informasi seperti saat ini, memang sebaiknya harus lebih bijak dalam menyebarkan informasi. Rakyat memiliki hak untuk mengkritik pemerintah yang melakukan kesalahan. Pemerintah juga punya hak untuk membantah kritikan rakyat apabila tidak benar. Dalam aturan hukum di Indonesia seseorang tidak boleh sembarangan menyebarkan informasi-informasi  yang mengandung kebohongan, mengandung Sara dan lain sebagainya.

Oleh karena itulah ketika akan menyampaikan kritik atau informasi berkaitan dengan perbuatan pemerintah atau pejabat, maka wajib disertai bukti-bukti yang kuat agar tidak berujung menjadi fitnah atau informasi bohong. Pemerintah juga harus lebih bijak dalam menghadapi rakyatnya. Apabila rakyatnya melakukan kesalahan, barangkali tidak harus selalu penjara yang menjadi penyelesaiannya. Musyawarah dan perdamaian sebenarnya bisa menjadi opsi utama dalam menyelesaikan permasalahan rakyat dan pemerintah.


Referensi : Kisah Umar bin Khattab RA Ketika Menghadapi Kritik Rakyat



Memaafkan untuk Kebahagiaan Kita

Ilustrasi ; Memaafkan untuk Kebahagiaan Kita

Memaafkan tidak semudah mengatakannya. Ketika orang lain menyakiti kita dengan perkataan atau perbuatannya, luka dalam hati kita tidak dapat sembuh begitu saja. Semakin dalam luka yang ditimbulkannya, semakin sulit memaafkan orang yang menyebabkannya.

Namun tahukah Anda bahwa memaafkan adalah pintu kebahagiaan kita?

Saat kita menyimpan kemarahan terhadap orang lain, disadari atau tidak, rasa marah itu sedikit demi sedikit menggerogoti hati kita, memperdalam luka dan membebani kita dengan perasaan negatif terus-menerus. Padahal, orang yang menyakiti kita belum tentu mengingat kesalahan yang telah ia perbuat kepada kita atau merasakan penderitaan yang sama.

Menurut Dr. Frederic Luskin dalam bukunya “Forgive for Good”, memaafkan memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran, seperti percaya diri dan harapan serta mengurangi beban kemarahan, stres, dan penderitaan yang disebabkan olehnya. Secara fisik, kemarahan yang terpendam lama juga menyebabkan suhu tubuh meningkat dan mempersulit kita berpikir jernih. Belum lagi gangguan-gangguan kesehatan seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke dan lain sebagainya.

Doa orang yang terzalimi dekat dengan dikabulkan oleh Allah. Kita pun memiliki hak untuk membalas orang yang menzalimi kita sesuai apa yang dilakukannya terhadap kita. Namun, sesungguhnya lebih banyak ketenangan dan kemuliaan bagi kita ketika kita mau memaafkan. Memaafkan dengan tulus, lebih dari sekedar kata-kata, memang seringkali terasa sangat berat, tapi kalau kita berhasil melakukannya, ia akan menyembuhkan kita, secara fisik dan jiwa. Hati kita akan terasa lebih ringan dan bahagia. Kita tidak lagi membawa-bawa perasaan negatif atau membiarkan kezaliman orang lain merusak kebahagiaan kita. Allah pun akan melimpahkan rahmat dan cinta-Nya serta mengangkat derajat kita.

Dalam Al-Qur’an dan hadis disebutkan:

Dan jika kamu melakukan pembalasan, balaslah seperti yang mereka lakukan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, maka kesabaranmu itu lebih baik bagimu. Dan hendaklah kamu tabahkan hatimu, dan hendaklah ketabahan hatimu itu karena berpegang kepada Allah. Jangan pula kamu bersedih hati terhadap perbuatan mereka. Jangan pula kamu bersesak dada terhadap apa yang mereka rencanakan. (QS An Nahl : 126-127).

Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa. (QS. An-Nisa: 149).

Rasulullah saw. bersabda, “Maukah aku ceritakan kepadamu tentang sesuatu yang menyebabkan Allah memuliakan bangunan dan meninggikan derajatmu?” Para sahabat menjawab, “Tentu.” Rasul bersabda, “Kamu bersikap sabar (hilm) kepada orang yang membencimu, memaafkan orang yang berbuat zalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu, dan menghubungi orang yang telah memutuskan silaturrahim denganmu.” (HR. Thabrani).

Bersabda Rasulullah saw.: “Ada tiga hal yang jika dimiliki seseorang, ia akan mendapatkan pemeliharaan dari Allah, akan dipenuhi dengan rahmat-Nya, dan Allah akan senantiasa memasukkannya dalam lingkungan hamba yang mendapatkan cinta-Nya, yaitu (1) seseorang yang selalu bersyukur manakala mendapat nikmat dari-Nya, (2) seseorang yang mampu meluapkan amarahnya tetapi mampu memberi maaf atas kesalahan orang, (3) seseorang yang apabila sedang marah, dia menghentikan marahnya.” (HR. Hakim).

Memaafkan tidak harus berarti melupakan, mengabaikan, atau membenarkan perbuatan orang lain yang menzalimi kita. Hanya saja, kita melepaskan perasaan negatif berkaitan dengan perbuatan tersebut, sehingga perbuatan itu tidak lagi melukai kita ketika kita mengingatnya. Allah swt. Maha Adil, segala kezaliman yang menimpa diri kita pasti akan mendapat balasan tanpa luput sedikit pun. Menyimpan dendam dan amarah hanya merugikan diri kita sendiri. Biarkan orang itu bertanggung jawab atas perbuatannya, baik di dunia maupun di akhirat, tanpa menyedot kebahagiaan kita atau merendahkan diri kita menjadi setara dengannya.

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. Ash-Shura: 40).

Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut hari-hari Allah, karena Dia akan membalas sesuatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan. (QS. Al-Jatsiyah: 14-15).

Referensi :  Memaafkan untuk Kebahagiaan Kita


Maafkanlah orang yang telah menyakiti kita

Maafkanlah orang yang telah menyakiti kita

Maafkanlah orang yang telah menyakiti kita. Ketika ada seseorang yang dengan sengaja mengkhianati kita di masa lalu.  Ketika dia datang kembali untuk meminta maaf.  Maka tak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkannya.  Berhentilah memikirkan orang-orang yang telah mengecewakan kita.  Berhentilah berharap kepada orang-orang yang telah dengan sengaja menyakiti kita.  Karena itu hanya akan membuat banyak waktu kita terbuang percuma.

Tak perlu bersusah payah untuk membalas dendam, cukup maafkan setiap kesalahan karena memaafkan adalah pembalasan yang terbaik.   Allah pasti punya alasan kenapa dia tidak berada bersama kita di masa sekarang. Allah pasti punya rencana kenapa dia tidak berada bersama kita di masa depan.   Akan ada waktunya kapan Allah akan memberi pengganti untuk kita. Seseorang yang lebih baik dibandingkan dia yang telah hilang dari genggaman kita.

Hilangkan semua pikiran buruk di pikiranmu, Sebenarnya orang yang membuat sakita hati, tampangnya sangat terlihat menyebalkan bahkan nyolot, itu adalah skenario yang ada dipikiranmu semata. Orang menyebalkan yang menyakitimu itu pada dasarnya hanya ada dipikiranmu. Dan pastinya dia didunia nyata terkadang tidak sesuai dengan dipikiranmu. Ketika kita dibuat sakit hati orang, maka yang terbesit di pikiran hanya ada kesalahan dan muka mereka menyebalkan. Maka hal yang harus kamu hindari adalah mencoba berfikir negatif dengan orang yang memebuat sakit hatimu. 

Yakinkan dirimu bahwa mereka memiliki masa lalu yang buruk, Kamu harus tahu bahwa seseorang yang menyakitimu mungkin memiliki trauma dengan masa lalu. Dimana ada pengalaman hidupnya yang belum mereka maafkan. Coba deh ajak mereka ngobrol dan cari tahu masa lalunya. Jika memang ada kesalahan dimasa lalunya besar kemungkinan ini yang menjadi alasan perilakunya yang sekarang. Bisa jadi meraka juga korban dimasa lalunya. Lantas kita seharusnya bisa memakluminya yang mungkin dimasa lalu menjadi korban. Dan yakinkan dirimu bahwa ketika kamu membalas menyakitinya, maka tidak ada bedanya dirimu dengan mereka. 

Berlapang dada memaafkan perilaku mereka, Seperti ulasan sebelumnya, orang yang meyakiti kamu sebenarnya juga mungkin menjadi korban. Bisa saja orang yang menyakiti dan mengecewakan kita karena mereka sendiri adalah korban. Mereka tidak sadar bahwa mereka aneh dan perilakunya itu menyakiti orang lain. Ini dikarenakan mereka pun terbentuk atas segala sesuatu diluar kesadaran mereka.
Berlapang dada memaafkan kesalahan mereka dan yakinkan dirimu bahwa orang yang menyakiti kita itu tanpa kamu sadari juga dipengaruhi oleh lingkungannya. Lingkungan kita membentuk kita menjadi kita yang sekarang. 

Mendoakan yang terbaik, Salahsatu cara menghadapi orang yang membuat sakit hati yaitu dengan cara mendoakannya. Kita doakan saja mereka supaya mereka kembali ke jalan yang benar. Hal ini memang sukar untuk dilakukan apalagi jika kepada orang yang kita tidak sukai. Kalau kamu tahu mereka adalah korban maka doamu bisa jadi kenyataan lho. Tidak ada alasan kita untuk menghakimi oranglain. Yang berhak menghakimi adalah Tuhan dan orang-orang yang diberi hak untuk menghakimi. 

valuasi untuk menjadikan diri lebih baik, Hal yang sering tejadi ketika kamu dibuat sakit hati, mungkin hatimu bahkan jiwamu tidak akan terima. Marah dan melampiskannya kepada oranglain menjadi hal yang tak seharusnya kau lakukan. Daripada melampiskan hal negatif alangkah baiknya jika dirimu mengevaluasi dan mengintropeksi dirimu sendiri. Ketika kamu tahu rasanya dibuat sakit hati maka besar kemungkinan kamu tidak akan menyakiti oranglain. 

Referensi : Maafkanlah orang yang telah menyakiti kita

Jangan Balas Orang yang Menyakiti

Jangan Balas Orang yang Menyakiti

Biasanya, akan sulit bagi kita tetap bersikap baik kepada orang yang telah menyakiti. Yang rata-rata terjadi adalah, orang membalas perlakuan menyakitkan yang diterimanya.

Perbuatan membalas dendam bukanlah pilihan baik. Tak peduli berapa dalam sakit yang Anda rasakan, jangan pernah berusaha membalas. Mengapa? Karena dengan membalas, itu menunjukkan diri Anda sama buruknya dengan dia. Perbuatan membalas pun akan menimbulkan perasaan bersalah dan memunculkan masalah baru.

Henry James, "Tiga hal penting dalam hidup: jadilah orang baik, jadilah orang baik, dan jadilah orang baik."

1. Menunjukkan Anda orang yang baik
Tanpa perlu bersusah payah show off di depan publik, hanya dengan tidak membalas orang yang telah menyakiti, itu membuktikan Anda pribadi yang baik dan cerdas. Orang di sekitar akan menilai Anda sosok cerdas dan kuat yang dapat menghadapi situasi sulit. Tetaplah bersikap baik kepada mereka yang berkali-kali menyakiti hati Anda dan biarkan sikap Anda ini menginspirasi orang lain.
 
2. Melembutkan sikap
Alasan lain untuk lebih ramah terhadap orang yang menyakiti Anda adalah karena dapat melunakkan sikap Anda terhadap mereka. Tentu, Anda dapat merespons buruk terhadap mereka, tapi ini hanya akan membuat situasi semakin buruk. Bersikap ramah adalah cara cerdas untuk menanggapi mereka. Dengan cara ini, Anda akan mengurangi kebencian terhadap mereka. Sebenarnya, kasihan lho orang yang menyakiti Anda karena mereka sengsara akibat hatinya penuh kebencian.
 
3. Terhindar dari rasa bersalah
Jika Anda bersikap baik kepada orang-orang yang telah menyakiti, Anda tidak akan sengsara karena memendam perasaan bersalah. Berlaku kasar terhadap mereka akan menimbulkan dua hal, sengsara karena mereka telah menyakiti Anda dan Anda merasa bersalah karena bersikap kasar kepada mereka. Cara terbaik untuk menanggapi mereka adalah dengan tersenyum dan bersikap baik.
 
4. Merasa diri Anda orang baik
Saat Anda ramah terhadap mereka yang telah menyakiti, Anda akan merasa diri Anda orang baik, sekaligus menyadari bahwa Anda lebih baik daripada orang itu. Ingat, perilaku kasar tidak akan membuat perasaan Anda lebih baik. Beri contoh kepada orang lain dengan bersikap ramah terhadap orang-orang yang telah menyakiti Anda, dan lihatlah semua orang akan menghargai Anda.
 
5. "Bunuh" mereka dengan kebaikan Anda
Rasanya puas jika bisa membalas perlakuan orang yang telah menyakiti. Tapi ada cara yang lebih manjur untuk "membunuh" orang yang pernah menyakiti Anda, yaitu dengan menebar kebaikan daripada balik menyakiti mereka. Bukan tak mungkin, kebaikan Anda akan membuat mereka mengakui kesalahan dan meminta maaf. Bahkan jika mereka tidak mengakui kesalahan, kebaikan Anda akan membuat mereka "gila" dan mereka akan meninggalkan Anda karena malu. Hindari berkomunikasi dengan mereka. Kelilingi diri Anda dengan orang baik dan positif yang membuat Anda bahagia.
 
6. Mengubah perilaku kasar mereka terhadap Anda
Bersikap ramah terhadap orang-orang yang telah menyakiti Anda bisa mengubah perilaku kasar mereka terhadap Anda. Kebaikan Anda mungkin membuat mereka mempertimbangkan kembali tindakan mereka. Sulit untuk mengubah perilaku seseorang terhadap Anda, tetapi Anda perlu setidaknya mencoba.
 
7. Anda akan menerima pujian
Ketika seseorang menyakiti Anda di depan orang lain, bersikap baik kepada mereka tidak akan membuat Anda tampak lemah. Ini akan membuat orang lain mengetahui bahwa Anda adalah pribadi yang baik dan cerdas. Mereka pasti akan melihat ciri kepribadian ini dan mereka akan menghormati Anda, lebih dari sebelumnya. Selain itu, orang yang pernah menyakiti Anda akan melihat kebaikan Anda juga.
 
Memang, tak mudah bersikap baik dan ramah terhadap orang-orang yang pernah menyakiti. Butuh kebesaran jiwa dan lapang dada. Ini adalah tugas yang menantang, tapi cobalah untuk tidak menyakiti siapa pun sebagai bentuk balas dendam. Banyak orang berpikir bahwa kebaikan adalah tanda kelemahan, tapi itu tidak benar. Kahlil Gibran mengatakan, "Kelembutan dan kebaikan bukanlah tanda-tanda kelemahan dan putus asa, tetapi manifestasi dari kekuatan dan resolusi."

Referensi : Jangan Balas Orang yang Menyakiti


Pahala Yang Didapat Bagi Orang yang Dihina dan Dicaci

Pahala Yang Didapat Bagi Orang yang Dihina dan Dicaci

Menghina orang adalah sebuah perbuatan tercela, dan Allah tidak menyukai hal tersebut. Karena biasanya, orang yang suka menghina dan mencaci maki orang lain adalah mereka yang bersikap sombong.  Selain itu, menghina adalah perbuatan yang dapat menyakiti hati orang lain. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang menyakiti orang lain, terlebih adalah orang yang menyakiti seorang muslim.

Rasulullah SAW bersabda,

"Mencaci orang Islam (Muslim) adalah perbuatan fasiq dan membunuhnya adalah perbuatan kufur." [HR. Muslim]

Namun sekarang ini banyak orang yang saling menghina satu sama lain, padahal hal tersebut adalah perbuatan dosa. Dan dosa besar tengah menantinya untuk membawanya ke neraka. Sebaiknya, orang yang mendapat hinaan atau cacian sebaiknya tidak melakukan balasan mencela orang yang menghina dirinya itu. Karena, saat ada orang yang menghina kita justru kita akan mendapatkan pahala.

Untuk itu, kita tidak boleh bersedih apabila ada seseorang yang dengan sengaja menghina dan merendahkan kita. Karena, sebenarnya orang tersebut sedang memberikan hadiah kepada kita, yaitu:

Ia sedang memberikan kebaikannya (pahalanya) kepada kita. Allah menghapus dosa-dosa kita dari celaan yang kita dapatkan. Dengan kata lain, apabila kita sedang dihina atau direndahkan orang lain, maka Allah akan memberikan kita pahala apabila kita bersabar. Seorang salaf pernah berkata: "Jika aku

boleh berghibah, maka kedua orangtuakulah yang paling berhak aku ghibahi. Karena hanya mereka berdua yang paling berhak aku serahi kebaikanku". Salah seorang salaf juga berkata: "Apabila sampai kepadamu perkataan dari saudaramu (berupa celaan) yang menyakitimu, maka janganlah engkau risau. Seandainya perkataan itu benar, maka itu adalah hukuman bagimu yang disegerakan (daripada mendapat hukuman di akhirat). Dan seandainya perkataan itu tidak benar, maka itu akan menjadi pahala bagimu tanpa harus berbuat baik."

Sedangkan bagi orang yang menghina tersebut, maka Allah sudah menyiapkan neraka dan siksa baginya. Karena mencela adalah sebuah perbuatan yang dzalim, Allah berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." [QS. Al-Hujarat ayat 11]

Dan orang yang mencela itu adalah orang yang sedang memikul kebohongan dan dosa yang sangat besar, Allah telah menegaskannya:

"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." [QS. Al-Ahzab ayat 58]

Untuk itu, jangan suka mencela orang lain. Karena Allah tidak menyukainya dan mereka yang berbuat demikian akan mendapatkan dosa yang begitu besar. Semoga kita selalu dalam perlindungan Allah Swt.

referensi : Pahala Yang Didapat Bagi Orang yang Dihina dan Dicaci



Bacalah Amalan Doa Ini Jika Ada Orang yang Telah Menyakiti Hati, Inilah Cara Balas Dendam Terbaik

Bacalah Amalan Doa Ini Jika Ada Orang yang Telah Menyakiti Hati, Inilah Cara Balas Dendam Terbaik

Bacalah Amalan Doa Ini Jika Ada Orang yang Telah Menyakiti Hati (Inilah Cara Balas Dendam Terbaik). Dalam kehidupan kadang disakiti dan menyakiti adalah hal yang biasa terjadi, dan hal itu bisa dilakukan oleh siapa saja kepada siapa saja.

Disakiti oleh orang lain merupakan hal yang paling diinginkan oleh seseorang, terlebih hal tersebut sudah masuk ke dalam hati, pastinya orang yang tersakiti ingin melakukan balas dendam. 

Namun ternyata ada satu cara balas dendam terbaik yaitu dengan membacakan amalan doa agar diberi kekuatan dan orang menyakiti segera disadarkan.  ‘Doa Untuk Orang Yang Telah Menyakiti Hati Kita, Apabila ada orang yang menyakiti baik dari perbuatan dan perkataan, maka cepat-cepatlah berdoa kepada Allah dengan bacaan ini.

حَسْبِيَ اللهُ لِدِيْنِيْ حَسْبِيَ اللهُ لِدُنْيَايَ حَسْبِيَ اللهُ
لِمَا اَهَمَّنِيْ حَسْبِيَ اللهُ لِمَنْ بَغَاعَلَيَّ حَسْبِيَ اللهُ
لِمَنْ كَادَنِيْ بِسُوْءٍ وَلَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ اِلَّابِاللهِ

Tulisan latinnya
“Hasbiyallahu lidiinii, Hasbiyallahu lidunya, Hasbiyallahu liman Ahammanii, Hasbiyallahu liman baghaa ‘alayaa, Hasbiyallahu liman kaada nii bisuu-in waalaa haula walaa quwawata illa billahi.”

Yang artinya:

“Cukuplah Allah(penolong) bagi agamaku, cukuplah Allah (penolong) bagi duniaku, cukuplah Allah (penolong)-ku terhadap sesuatu yang menyusahkanku, cukuplah Allah (penolong)-ku terhadap orang yang mengniayaku, cukuplah Allah (penolong)-ku terhadap orang yang ingin berbuat jahat kepadaky, tak ada daya dan kekuatan selain dengan pertolongan Allah.”

Lafalkan doa tersebut jika merasa teraniaya atau tersakiti dengan tindakan atau perkataan seseorang.

Tidak perlu membalas dendam, tapi cukup panjatkan doa baik untuk diri sendiri agar diberikan kekuatan oleh Allah, juga untuk orang yang telah menyakiti agar diberikan kesadaran.

Dengan begitu, kita akan dimuliakan Allah sedangkan untuk balas dendam serahkan segalanya pada Yang Maha Kuasa.

Referensi : Bacalah Amalan Doa Ini Jika Ada Orang yang Telah Menyakiti Hati, Inilah Cara Balas Dendam Terbaik



Jangan Balas Dendam, Baca Doa Ini Ketika Hati Tersakiti

Jangan Balas Dendam, Baca Doa Ini Ketika Hati Tersakiti

Jangan Balas Dendam Baca Doa Ini Ketika Hati Tersakiti. Dalam hidup ini tentu kita tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Ada saja kejadian yang membuat kita kecewa dan berujung sakit hati. Ketika sakit hati, kita dapat merasa sangat merana.


Apalagi bila yang menyakiti hati kita adalah orang terdekat, mungkin semakin tidak karuan rasanya. Alih-alih berusaha menyembuhkan, kita malah cenderung menyimpan rasa  dendam. Namun ingat, kita harus berteguh diri untuk tidak menjadi seseorang yang memberikan orang lain kesulitan. Balas dendam bukan solusi yang tepat.

Selain itu kita juga bisa mengingat sabda Rasulullah mengenai tiga golongan manusia yang doanya cepat dijabah.

"Ada tiga golongan manusia yang doa mereka tidak akan ditolak: Orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doanya orang yang dizalimi. Allah akan mengangkat doanya sampai di atas awan dan dibukakan pintu-pintu langit untuknya, dan Allah berfirman : Demi keagungan-Ku, Aku benar-benar akan menolongmu meskipun tidak serta merta."(HR. Tirmidzi dan yang lainnya, hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Jadi bila kita sedang disakiti, memintalah kepada Allah SWT untuk diberikan kekuatan agar bisa memaafkan. Mendapatkan hikmah agar kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Serta limpahan pahala atas kesabaran menghadapi rasa sakit hati, tanpa membalasnya.

Allahuma ajurni fi mushibati wa akhlifli khaira minha. Artinya: "Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan berilah ganti yang lebih baik daripadanya."

Bagaimanapun, dalam Islam tidak disarankan untuk membalas dendam. Memaafkan adalah sifat mulia, dan menghapus rasa sakit hati adalah ikhlas.

Berat mengobati sakit hati, tapi kita harus melaluinya dengan cara yang diajarkan Rasulullah. Ini semua dilakukan agar hati kita menjadi lapang, memiliki keselamatan di dunia dan di akhirat.

Rasulullah bersabda, “Tidaklah seseorang memaafkan kedzaliman (terhadap dirinya) kecuali Allah akan menambah kemuliaannya,” (HR. Ahmad, Muslim dan Tirmidzi).

Referensi : Jangan Balas Dendam, Baca Doa Ini Ketika Hati Tersakiti




Balasan Menyakiti Hati Orang Lain Dalam Islam

Balasan Menyakiti Hati Orang Lain Dalam Islam

Seperti yang kita semua ketahui jika manusia tidak bisa lepas dari membuat kesalahan dan salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah menyakiti hati orang lain. Namun, untuk kita umat muslim, sudah seharusnya kita untuk menyadari semua perbuatan dan kesalahan tersebut dan berusaha dengan keras untuk menjauhi perbuatan dosa tersebut. Mengapa demikian?, sebab ada balasan yang akan diterima apabila seseorang sudah menyakit hati orang lain yang akan diberikan Allah SWT.

Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (Surat Al-ahzab ayat 58).

Dalam ayat diatas, Allah SWT sudah menjelaskan tentang keburukan dari dosa dan juga balasan yang akan diterima saat menyakiti orang mukmin dan Allah SWT sudah mengancamnya dengan hukuman yang sangat keras yaitu memikul kebohongan dan juga dosa secara nyata. Untuk lebih lengkapnya, berikut ini akan kami ulas secara tuntas mengenai apa saja hukum menyakiti hati orang lain dalam Islam yang harus diwaspadai.

Allah SWT Akan Membuka Aibnya

Balasan bagi orang yang suka menyakiti hati orang lain adalah Allah SWT sendiri yang akan membuka aib orang tersebut. Mungkin kita tidak pernah menyadari jika Allah SWT sebenarnya sudah menutup aib kita. Allah SWT sudah menutup aib yang kita miliki dengan sangat rapat hingga nanti di hari perhitungan. Namun, karena sudah berdosa dengan cara menyakiti hati orang lain, maka hukum karma dalam Islam akan berlaku yakni Allah SWT membuka aib orang tersebut karena sudah menyakiti saudaranya.

“Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim,” [QS. Al A’raaf : 41]

Memperoleh Balasan Dunia Akhirat

Balasan yang akan diterima seseorang yang menyakiti hati orang lain tidak hanya bisa dirasakan saat di akhirat saja, akan tetapi juga akan diterima saat masih hidup di dunia.

“Sesungguhnya dosa besar itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih“. [QS Asy Syura: 42].

Memperoleh Balasan di Neraka

Balasan menyakiti hati orang lain dengan cara melontarkan caci maki juga akan mendapat balasan saat di neraka nanti. Sebab, perbuatan dosa yakni menyakiti hati orang lain memang sudah selayaknya memperoleh balasan di neraka jahanam.

“Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.” [HR Muslim].

Tidur Dengan Tikar dan Selimut Api Neraka

Seorang zalim yang sering menyakiti hati orang lain juga akan mendapat balasan berupa tidur dengan alas tikar yang terbuat dari api neraka sekaligus memakai selimut yang terbuat dari api neraka.

“Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka) . Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim,” [QS. Al A’raaf 7: 41]

Merasakan Kutukan Allah SWT

Tidak hanya mendapat balasan di dunia maupun akhirat, namun sering menyakiti hati seseorang juga akan mendapat balasan yang diberikan langsung oleh Allah SWT sebab Allah sangat benci dengan perbuatan semacam itu terutama jika dilakukan antar sesama muslim.

“Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada Penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): “Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?” Mereka (penduduk neraka) menjawab: “Betul.” Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: “Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim” [QS : Al A’raaf 7 : 44]

Sama Seperti Memakan Bangkai Saudara

Allah SWT juga bersabda jika umat muslim harus menjauhi sikap saling menyakiti hati, mencari kesalahan orang lain dan juga menggunjing. Allah menggambarkan jika seseorang yang menyakiti hati orang lain, maka diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri.

Sesungguhnya orang-orang yang senang menyebarkan kejelekan dalam kalangan orang beriman bagi mereka siksa yang pedih di dunia dan akhirat, dan Allah mengetahui sedangkan kalian tidak tahu. [Hadist Termizi No. 1827 Abwabu Birri wa Shillah].

Amal Tidak Berbuah Pahala

Setiap amal sebenarnya akan membuahkan pahala, akan tetapi jika amal yang dilakukan oleh seseorang yang suka menyakiti hati orang lain, maka hal tersebut tidaklah lagi berguna. Semua amal yang sudah dilakukan hanya menjadi hal yang sia sia belaka dan tidak membuahkan pahala.

Amal Shalat Tidak Membuahkan Pahala

Balasan berikutnya adalah semua amalan sholat yang sudah dilakukan tidak akan membuahkan pahala apapun juga sehebat atau serajin apapun ia melakukan sholat dan ini termasuk dalam hal hal yang menghapus amal ibadah.

Rasulullah SAW bersabda, “Terdapat 5 macam orang yang salatnya tidak berpahala, yaitu Istri yang dimurkai suami karena menjengkelkannya, budak yang melarikan diri, orang yang mendendam saudaranya melebihi 3 hari, peminum khamar dan imam shalat yang tidak disenangi makmumnya.”

Allah SWT Mengincar Kekurangan Orang Tersebut

Seseorang yang sudah menyakiti hati orang lain apalagi ditambah fitnah dalah Islam yang dilakukan dengan cara membuka aib orang tersebut, maka Allah SWT juga akan mencari sekaligus terus mengincar kekurangan orang yang berbuat lalim tersebut yang kemudian akan diungkapkan juga meski orang tersebut berada di rumahnya.

Tidak Mungkin Masuk Surga

Menyakiti hati orang lain juga akan berbuah balasan yang juga sangat kejam sebab merupakan salah satu dosa besar dalam Islam yakni tidak akan mungkin bisa masuk ke dalam surga. Ini terjadi karena orang tersebut sudah berbuat hal yang tidak menyenangkan sehingga mengganggu kenyamanan orang lain.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak masuk surga seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya”.

Memperoleh Balasan Sama

Menyakiti hati orang lain yang merupakan salah satu perbuatan dosa juga tentunya akan membuahkan balasan yang setimpal dengan apa yang sudah dilakukan. Balasan ini juga akan diberikan langsung oleh Allah SWT pada orang yang membuat hal tersebut.

“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang dzalim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada dosa atas mereka. Sesungguhnya doa itu atas orang-orang yang berbuat dzalim kepada manusia dan melampaui batas dimuka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya perbuatan demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.’ [QS. Asy-Syuura’ 39-43].”

Menjadi Orang Bangkrut Saat Kiamat

Seseorang yang sangat senang menyakiti hati sesamanya meskipun orang tersebut sudah melakukan ibadah wajib, maka sesuai dengan apa yang sudah tertulis dalam Al Quran, maka orang tersebut akan menjadi salah satu orang yang bangkrut pada hari kiamat dalam Islam nanti. Hal ini bisa terjadi sebab Allah SWT tidak akan pernah bisa tertipu dengan seseorang yang sangat ahli dalam beribadah namun memiliki sikap yang sangat buruk.

“Itulah orang yang bangkrut di hari kiamat, yaitu oang yang rajin beribadah tetapi dia tidak memiliki akhlak yang baik. Dia merampas hak orang lain dan menyakiti mereka” [HR. Muslim no 6522, At-Tirmidzi, Ahmad dan lainnya].

Menanggung Dosa

Perbuatan menyakiti hati orang lain yang merupakan dosa tak terampuni ini tentunya juga merupakan perbuatan dosa sehingga orang tersebut sudah bisa dipastikan akan menanggung dosa. Orang tersebut sudah menjadi orang yang sangat merugi, sebab tanpa sadar ia sudah melakukan hal buruk tersebut.

Menanggung Dosa dan Fitnah

Seseorang yang selalu menyakiti hati orang lain juga akan memiliki beban berupa dosa dan fitnah dalam Islam yang bisa terjadi karena perbuatan yang sudah dilakukannya sendiri.

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” [QS Al Ahzab : 58]

Mendapatkan Laknat

Laknat yang dipanjatkan oleh seseorang yang tersakiti yang ditujukan pada seseorang yang sudah menyakiti hatinya, maka doa orang teraniaya dalam Islam dan laknat tersebut akan dikabulkan dan akan dirasakan pelaku tersebut semasa ia masih hidup di dunia.

Tidak Mendapat Taufik

Seseorang yang seringkali berbuat buruk seperti menyakiti hati orang lain, maka akan mendapat balasan berupa terhalang dari petunjuk atau hidayah taufik. Allah SWT tidak akan memberi petunjuk mengenai segala hal yang baik pada orang tersebut.

Tidak Punya Pemberi Syafaat

Orang yang selalu menyakiti hati orang lain juga akan mendapat balasan berupa tidak mempunyai penolong, teman dekat bahkan pemberi syafaat dan ini sudah menjadi firman Allah SWT secara langsung.

Sudah sepantasnya bagi kita sesama umat muslim untuk selalu menjaga hubungan dengan sangat baik dan menjauhi sikap saling menyakiti hati orang lain. Sebab, perbuatan demikian tidak akan memberi keuntungan apapun juga namun hanya membuahkan dosa dan keburukan yang akan diterima baik di dunia maupun akhirat.

Referensi : Balasan Menyakiti Hati Orang Lain Dalam Islam