This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Senin, 22 Agustus 2022

Renungan Tentang Mengelola Waktu Dalam Islam

Ilustrasi : Renungan Tentang Mengelola Waktu Dalam Islam

Renungan Tentang Mengelola Waktu Dalam Islam. Waktu adalah salah satu nikmat yang agung dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia. Sudah sepantasnya manusia memanfaatkannya secara baik, efektif dan semaksimal mungkin untuk amal shalih.

Allâh Ta’ala telah bersumpah dengan menyebut masa dalam firman-Nya:

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. [al-‘Ashr/103:1-3].

Di dalam surat yang mulia ini Allâh Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan masa, dan ini menunjukkan pentingnya masa. Sesungguhnya di dalam masa terdapat keajaiban-keajaiban. Di dalam masa terjadi kesenangan dan kesusahan, sehat dan sakit, kekayaan dan kemiskinan. Jika seseorang menyian-nyiakan umurnya, seratus tahun berbuat sia-sia, bahkan kemaksiatan belaka, kemudian ia bertaubat di akhir hayatnya, dengan taubat yang diterima, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan sempurna sebagai balasannya, berada di dalam surga selama-lamanya. Dia betul-betul mengetahui bahwa waktu hidupnya yang paling berharga adalah sedikit masa taubatnya itu. Sesungguhnya masa merupakan anugerah Allâh Ta’ala, tidak ada cela padanya, manusia-lah yang tercela ketika tidak memanfaatkannya.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan pentingnya memanfaatkan waktu, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. [HR Bukhari, no. 5933].

Hadits yang mulia ini memberitakan bahwa waktu luang adalah nikmat yang besar dari Allâh Ta’ala, tetapi banyak manusia tertipu dan mendapatkan kerugian terhadap nikmat ini.

Di antara bentuk kerugian ini adalah:

  1. Seseorang tidak mengisi waktu luangnya dengan bentuk yang paling sempurna. Seperti menyibukkan waktu luangnya dengan amalan yang kurang utama, padahal ia bisa mengisinya dengan amalan yang lebih utama.
  2. Dia tidak mengisi waktu luangnya dengan amalan-amalan yang utama, yang memiliki manfaat bagi agama atau dunianya. Namun kesibukkannya adalah dengan perkara-perkara mubah yang tidak berpahala.
  3. Dia mengisinya dengan perkara yang haram, ini adalah orang yang paling tertipu dan rugi. Karena ia menyia-nyiakan kesempatan memanfaatkan waktu dengan perkara yang bermanfaat. Tidak hanya itu, bahkan ia menyibukkan waktunya dengan perkara yang akan menggiringnya kepada hukuman Allâh di dunia dan di akhirat.

Urgensi waktu dan kewajiban menjaganya merupakan perkara yang disepakati oleh orang-orang yang berakal. Berikut adalah diantara point-point yang menunjukkan urgensi waktu.

1. Waktu Adalah Modal Manusia.

Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

اِبْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

Wahai Ibnu Adam (manusia), kamu itu hanyalah (kumpulan) hari-hari, tiap-tiap satu hari berlalu, hilang sebagian dirimu.

Diriwayatkan bahwa ‘Umar bin Abdul-‘Aziz rahimahullah berkata:

إِنَّ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ يَعْمَلَانِ فِيْكَ فَاعْمَلْ فِيْهِمَا

Sesungguhnya malam dan siang bekerja terhadapmu, maka beramalah pada malam dan siang itu.[2]

2. Waktu Sangat Cepat Berlalu.

Seseorang berkata kepada ‘Âmir bin Abdul-Qais rahimahullah, salah seorang tabi’i: “Berbicaralah kepadaku!” Dia menjawab: “Tahanlah jalannya matahari!”

Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Aku tidak menyerupakan masa muda kecuali dengan sesuatu yang menempel di lengan bajuku, lalu jatuh”.

Abul-Walid al-Bâji rahimahullah berkata: “Jika aku telah mengetahui dengan sangat yakin, bahwa seluruh hidupku di dunia ini seperti satu jam di akhirat, maka mengapa aku tidak bakhil dengan waktu hidupku (untuk melakukan perkara yang sia-sia, Pen.), dan hanya kujadikan hidupku di dalam kebaikan dan ketaatan”.

Baca Juga  Cara Meraih Cinta Allâh : Mendahulukan Kecintaan-Nya Daripada Kecintaanmu Saat Hawa Nafsu Mendominasi, Dan Mendaki Menuju Kecintaan

3. Waktu Yang Berlalu Tidak Pernah Kembali.

Abu Bakar ash-Shiddîq Radhiyallahu anhu berkata:

إِنَّ لِلَّهِ حَقًّا بِالنَّهَارِ لَا يَقْبَلُهُ بِاللَّيْلِ، وَلِلَّهِ حَقٌّ بِاللَّيْلِ لَا يَقْبَلُهُ بِالنَّهَارِ

Sesungguhnya Allâh memiliki hak pada waktu siang, Dia tidak akan menerimanya di waktu malam. Dan Allâh juga memiliki hak pada waktu malam, Dia tidak akan menerimanya di waktu siang. [Riwayat Ibnu Abi Syaibah, no. 37056].

Dengan demikian seharusnya seseorang bersegera melaksanakan tugasnya pada waktunya, dan tidak menumpuk tugas dan mengundurkannya sehingga akan memberatkan dirinya sendiri. Oleh karena itu waktu di sisi Salaf lebih mahal dari pada uang. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

أَدْرَكْتُ أَقْوَامًا كَانَ أَحَدُهُمْ أَشَحَّ عَلَى عُمْرِهِ مِنْهُ عَلَى دَرَاهِمِهِ وَدَنَانِيْرِهِ

Aku telah menemui orang-orang yang sangat bakhil terhadap umurnya daripada terhadap dirham dan dinarnya.Sebagian penyair berkata:

وَالْوَقْتُ أَنْفَسُ مَا عَنَيْتَ بِحِفْظِهِ … وَأَرَاهُ أَسْهَلَ مَا عَلَيْكَ يُضَيَّعُ

Waktu adalah perkara paling mahal yang perlu engkau perhatikan untuk dijaga, tetapi aku melihatnya paling mudah engkau menyia-nyiakannya.

4. Manusia tidak mengetahui kapan berakhirnya waktu yang diberikan untuknya.

Oleh karena itu Allâh Ta’ala banyak memerintahkan untuk bersegera dan berlomba dalam ketaatan. Demikian juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar bersegera melaksanakan amal-amal shalih. Para ulama telah memperingatkan agar seseorang tidak menunda-nunda amalan. Al-Hasan berkata:

اِبْنَ آدَمَ إِيَّاكَ وَالتَّسْوِيْفَ فَإِنَّكَ بِيَوْمِكَ وَلَسْتَ بِغَدٍّ فَإِنْ يَكُنْ غَدٌّ لَكَ فَكُنْ فِي غَدٍّ كَمَا كُنْتَ فِيْ الْيَوْمَ وَإِلَّا يَكُنْ لَكَ لَمْ تَنْدَمْ عَلَى مَا فَرَّطْتَ فِيْ الْيَوْمِ

Wahai anak Adam, janganlah engkau menunda-nunda (amalan-amalan), karena engkau memiliki kesempatan pada hari ini, adapun besok pagi belum tentu engkau memilikinya. Jika engkau bertemu besok hari, maka lakukanlah pada esok hari itu sebagaimana engkau lakukan pada hari ini. Jika engkau tidak bertemu esok hari, engkau tidak akan menyesali sikapmu yang menyia-nyiakan hari ini.

Berikut adalah beberapa keadaan manusia dalam menyikapi waktu.

  1. Orang-orang yang amalan shalih mereka lebih banyak daripada waktu mereka. Diriwayatkan bahwa Syaikh Jamaluddin al-Qâshimi rahimahullah melewati warung kopi. Dia melihat orang-orang yang mengunjungi warung kopi tenggelam dalam permainan kartu dan dadu, meminum berbagai minuman, mereka menghabiskan waktu yang lama. Maka Syaikh berkata, “Seandainya waktu bisa dibeli, sungguh pasti aku beli waktu mereka!”
  2. Orang-orang yang menghabiskan waktu mereka dalam mengejar perkara yang tidak berfaidah, baik berupa ilmu yang tidak bermanfaat, atau urusan-urusan dunia lainnya. Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah menyebutkan seorang laki-laki yang menghabiskan umurnya untuk mengumpulkan dan menumpuk harta. Ketika kematian mendatanginya, dikatakan kepadanya, “Katakanlah lâ ilâha illa Allâh,” namun ia tidak mengucapkannya, bahkan ia mulai mengucapkan, “Satu kain harganya 5 dirham, satu kain harganya 10 dirham, ini kain bagus”. Dia selalu dalam keadaan demikian sampai ruhnya keluar.
  3. Orang-orang yang tidak mengetahui apa yang harus mereka lakukan terhadap waktu.

Seorang ulama zaman dahulu berkata:

Aku telah melihat kebanyakan orang menghabiskan waktu dengan cara yang aneh. Jika malam panjang, mereka habiskan untuk pembicaraan yang tidak bermanfaat, atau membaca buku percintaan dan begadang. Jika waktu siang panjang, mereka habiskan untuk tidur. Sedangkan pada waktu pagi dan sore, mereka di pinggir sungai Dajlah, atau di pasar-pasar. Aku ibaratkan mereka itu dengan orang-orang yang berbincang-bincang di atas kapal, kapal itu terus berjalan membawa mereka dan berita mereka. Aku telah melihat banyak orang yang tidak memahami arti kehidupan.

Di antara mereka, ada orang yang telah diberi kecukupan oleh Allâh Azza wa Jalla , ia tidak butuh bekerja karena hartanya yang sudah banyak, namun kebanyakan waktunya padai siang hari ia habiskan dengan nongkrong di pasar (kalau zaman sekarang di mall dan sebagainya, Pen.) melihat orang-orang (yang lewat). Alangkah banyaknya keburukan dan kemungkaran yang melewatinya.

Di antara mereka ada yang menyendiri bermain catur. Di antara mereka ada yang menghabiskan waktu dengan kisah-kisah kejadian tentang raja-raja, tentang harga yang melonjak dan turun, dan lainnya.

Maka aku mengetahui bahwa Allâh tidak memperlihatkan urgensi umur dan kadar waktu kesehatan kecuali kepada orang-orang yang Allâh berikan taufiq dan bimbingan untuk memanfaatkannya. Allâh berfirman:

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. [Fushilat/41:35].

Adapun yang menjadi penyebab perbedaan keadaan manusia dalam menyikapi waktu, kembali kepada tiga perkara berikut.

1. Sebab pertama, tidak menetapkan tujuan hidup. Oleh karena itu, seorang muslim wajib mengetahui bahwa tujuan Allâh menciptakannya adalah untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

an Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. [adz-Dzariyat/51:56].

Dia harus mengetahui bahwa dunia ini adalah tempat beramal, bukan tempat santai dan main-main, sebagaimana firman-Nya:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? [al-Mukminun/23:115].

Dunia adalah sawah ladang akhirat. Jika engkau menanam kebaikan di dunia ini, maka engkau akan memetik kenikmatan abadi di akhirat nanti. Jika engkau menanam keburukan di dunia ini, maka engkau akan memetik siksaan pedih di akhirat nanti.

Namun demikian, ini bukan berarti manusia tidak boleh bersenang-senang dengan perkara yang Allâh ijinkan di dunia ini, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Demi Allâh, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa di antara kamu kepada Allâh, tetapi aku berpuasa dan berbuka, shalat (malam) dan tidur, dan aku menikahi wanita-wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, maka ia bukan dariku. [HR al-Bukhari, no. 4776; Muslim, no. 1401]

2. Sebab kedua, bodoh terhadap nilai dan urgensi waktu.

3. Sebab ketiga, lemahnya kehendak dan tekad.

Banyak orang mengetahui nilai dan urgensi waktu, dan mengetahui perkara-perkara bermanfaat yang seharusnya dilakukan untuk mengisi waktu, tetapi karena lemahnya kehendak dan tekad, mereka tidak melakukannya. Maka seorang muslim wajib mengobati perkara ini dan bersegera serta berlomba melaksanakan amalan-amalan shalih, serta memohon pertolongan kepada Allâh Ta’ala, kemudian bergabung dengan kawan-kawan yang shalih.

Jika kita benar-benar mengerti tujuan hidup, dan kita benar-benar memahami nilai waktu, maka seharusnya kita isi waktu kita dengan perkara yang akan menjadikan ridha Penguasa kita, Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Semoga Allâh selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus.

Referensi : Renungan Tentang Mengelola Waktu Dalam Islam




Bolehkah Mengulang Sholat Karena Tidak Khusyuk

Bolehkah Mengulang Sholat Karena Tidak Khusyuk

Begitu pun ketika seseorang yang menjadi makmum mendapati bacaan imamnya tidak baik karena kondisi tertentu, maka menurut ustaz Adi makmum itu diperkenankan mengulang kembali sholatnya. 

"Tidak ada masalah, kita sholat merasa kurang khusyuk kurang baik, setelah itu kita mencoba mengulangi, tidak ada masalah. Silakan, tidak ada larangan untuk mengulangi itu," kata ustaz Adi dalam tanya jawab singkat dalam kajian daring yang disiarkan di laman resmi YouTubenya beberapa waktu lalu. 

Namun demikian menurut ustaz Adi seseorang tidak boleh membiarkan kondisi tersebut berlarut-larut. Artinya membiarkan sholatnya terus menerus tidak bisa khusyuk. Maka dari itu seorang Muslim harus mempelajari fiqih yang dapat mendorong diri agar bisa khusyuk dalam sholat. 

Sehingga seseorang dapat mengetahui apa-apa yang menjadi bagian ketidak khusyukan dalam shalat. Atau tidak khusyuk itu  merupakan was-was setan agar selalu gelisah dan selalu mengulang sholatnya. Sebab menurut ustadz Adi ada setan yang sudah menggoda seorang hamba yang akan mengerjakan shalat sejak hamba tersebut selesai berwudhu bernama walhan, dan setan yang menggoda ketika sholat bermana khinzib. Keduanya membisikan was-was kepada hamba sehingga merasa tidak khusyuk, padahal sholatnya sudah baik. 

Ustaz Adi menjelaskan bahwa di antara makna khusykuk adalah khudu yaini merendah, yang digambarkan dalam sujud. Ketika seseorang telah khudu dalam shalatnya maka menurut para ulama telah disebut khusyuk. Lebih lanjut ustaz Adi menjelaskan  kondisi seorang hamba bersujud membuat setan akan histeris. Maka dari itu seseorang yang melaksanakan shalat saja, terdapat ulama yang mengatakan bahwa orang tersebut telah khusyuk. 

Meskipun tingkatan khusyuknya paling rendah atau praktikal, menunaikan sholat untuk bersujud kepada Allah. Ada juga khusyuk tingkatan sukun yakni khusyuk secara maknawi di mana sholat mendatangkan ketenangan, tuma'ninah, dan berdampak pada perubahan diri menjadi lebih baik.

Untuk mencapai khusyuk seseorang dapat memulainya dengan mempersiapkan pakaian yang baik untuk sholat, kemudian menghadirkan suasana akan menghadap Allah dengan menyempurnakan wudhu sebagaimana dijelaskan dalam Alquran surat Al Maidah ayat 6. Seseorang juga dapat menggapai kekhusyukan dengan merasakan seolah itu merupakan sholat terakhir yang ditunaikan sebagaimana dijelaskan dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 45-46. 

"Maka dalam kondisi tersebut kita pelajari supaya kita tidak dijebak dalam was was setan . Jad setiap sholat diulang-ulang, kalau ada perasaan seperti itu, itu setan yang sedang bermain. Kalau kondisinya was-was cepat ambil yang yakin. Lalu pelajari penjelasan tentang fiqih sholat supaya tidak larut dalam godaan setan," katanya. 

Referensi : Bolehkah Mengulang Sholat Karena Tidak Khusyuk




3 Hadis Ini Bikin Kamu Tak Berani Menyepelekan Waktu

3 Hadis Ini Bikin Kamu Tak Berani Menyepelekan Waktu

3 Hadis Ini Bikin Kamu Tak Berani Menyepelekan Waktu. Waktu adalah salah satu nikmat pokok. Tanpa waktu, semua yang kita miliki tidak akan berarti. Saking pentingnya waktu, Allah Swt pun bersumpah atas nama waktu pada beberapa ayat yang tertera dalam Al-Qur’an.

Hasan Al-Bashri pernah mengatakan;

Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.

Pada hakikatnya, waktu bagi manusia adalah umurnya sendiri. Apabila waktu berlalu, maka usianya pun semakin berkurang. 

Rasulullah Muhammad Saw seringkali memperingatkan umatnya tentang waktu, di antaranya:


Jangan tertipu dengan waktu luang

Nabi Muhammad bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ

 

"Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang." (HR. Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Abdul Fattah bin Muhammad dalam Qimatuz Zaman ‘Indal ‘Ulama menjelaskan, kata "tertipu" dalam hadis ini bermakna merugi.

Banyak manusia yang merugi karena nikmat sehat dan waktu luang. Ada orang yang sehat fisiknya, namun ia seakan tak punya waktu untuk persiapan akhirat karena terlalu sibuk dengan kehidupan dunia.

Ada pula orang yang punya cukup waktu untuk mempersiapkan akhirat, namun fisiknya sedang tidak sehat. Padahal, apabila memiliki keduanya, manusia dapat memanfaatkan waktunya untuk beribadah dan beramal saleh.

Oleh karena itu, apabila diberikan nikmat sehat dan waktu luang, perbanyaklah ketaatan kepada Allah Swt. Sebab, masa sehat akan disusul sakit, dan waktu luang akan disusul kesibukan.

 

Jagalah 5 perkara sebelum 5 perkara

Rasulullah Saw pernah bersabda kepada seorang laki-laki dan menasihatinya;


اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

 

"Jagalah lima perkara sebelum (datang) lima perkara (lainnya). Mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu dan hidupmu sebelum matimu." (HR Nasai dan Baihaqi).

Usia muda adalah masa emas dalam hidup, namun ia akan berlalu dan berganti tua. Sehat adalah nikmat terbesar, sebab saat sakit kita akan kesulitan beraktivitas.

Begitu pula dengan kaya dan waktu luang, berapa banyak orang yang mengharapkan keduanya. Lebih parah lagi, keempat perkara ini bisa hilang begitu saja dengan dicabutnya ruh dari badan.

Lima perkara pertama ini harus dimanfaatkan, sebab, Allah Swt akan menanyakannya di akhirat kelak.

 

Rasulullah Saw bersabda:

“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya, hingga dia ditanya tentang lima perkara, tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya." (HR Tirmidzi).

 

Usia umat Nabi Muhammad antara 60 sampai 70

Rasulullah Saw wafat dalam usia 63 tahun. Begitu pula dengan umatnya, beliau bersabda:

أَعْمَارُ أُمَّتِى مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

 

"Usia umatku (Muslim) antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit sekali dari mereka yang melewatinya." (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Hanya sedikit saja orang yang melewati batas usia ini. Sekalipun diberi umur lebih panjang, Allah Swt sedikit demi sedikit mengambil nikmatNya dari manusia.

Jika sudah seperti itu, tubuh akan mudah terserang penyakit, kekuatan fisik semakin berkurang, penglihatan mulai buram, kulit kian mengendur, rambut memutih, dan ingatan tak lagi tajam. Oleh karena itu, jangan sia-siakan waktu, sebab semua yang telah berlalu tak dapat kembali.  


Referensi : 3 Hadis Ini Bikin Kamu Tak Berani Menyepelekan Waktu





Waktu Tak Akan Pernah Kembali

Waktu Tak Akan Pernah Kembali

Waktu Tak Akan Pernah Kembali. "Tidak akan pernah kembali hari-hari (waktu) yang telah berlalu." [Maqalah] Ini adalah peringatan bagi siapa saja untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Waktu terus mengalir, umur terus berkurang. Melewatinya secara sia-sia tak akan dapat terlunasi selamanya. Hari Senin barangkali akan datang lagi pada minggu-minggu berikutnya, namun Senin hari ini dan yang sudah lewat tak akan pernah terulang kembali. Itulah mengapa waktu diibaratkan seperti pedang; bila tak pandai menggunakannya ia akan melukai pemiliknya.

Referensi : Waktu Tak Akan Pernah Kembali 




Manajemen Waktu Menurut Islam

Ilustrasi : Manajemen Waktu Menurut Islam

Yang dimaksud dengan “manejemen waktu” dalam pengertian sederhana adalah “mengatur waktu”. Manajemen pada prinsipnya adalah mengatur, mengorganisasikan, atau memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk aktivitas dan tujuan yang bermanfaat.   Memang, jika kita mengacu kepada istilah “menajemen” dalam pengertian sesungguhnya, tentu ada yang disebut: perencanaan, pelaksanaan, kontrol, dan evaluasi. Dalam memanage waktu, memang seharusnya unsur-unsur itu diterapkan, namun kita bisa menyebutnya di sini secara lebih longgar sebagai “seni mengatur waktu” dalam pengertian bahwa meski ada unsur-unsur pokok yang harus dipenuhi seperti itu, akan tetapi mengatur waktu tidak boleh juga terlalu ketat. Oleh karena itu, kita menyebutnya sebagai seni mengatur waktu, dan kita mencoba di sini untuk menghadirkannya dari tinjauan ajaran Islam.

Pertama yang harus kita garis bawahi adalah bahwa Islam sangat menghargai waktu, karena waktu adalah sangat bernilai. Dalam al-Qur`an, Allah swt pernah bersumpah dengan waktu, misalnya, dalam Q.s. al-‘Ashr (103/13): 3 disebutkan:
  1. Wal ‘ashr, inna al-insân la fî khusr,
  2. illallazîna âmanû
  3. wa ‘amilû al-shâlihât
  4. wa tawâshau bi al-haqq
  5. wa tawâshau bi al-shabr
Demi masa (waktu), sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman, Beramal saleh (mengerjakan kebajikan), Saling berwasiat dengan kebenaran, Dan saling berwasiat dengan kesabaran.

Dalam surah ini, Allah bersumpah dengan media “waktu” atau “masa”.  Di sini, kita bisa menyimpulkan bahwa waktu begitu berharga, karena tidak mungkin Tuhan menggunakannya sebagai sarana/ media sumpah jika tidak bernilai, atau tidak penting. Waktu adalah sesuatu yang berharga, bernilai, dan penting. Seorang penafsir modern, Muhammad Asad, dalam karyanya, The Message of the Qur`an (h. 974), menerjemahkan kata al-‘ashr yang menjadi nama surah ini dengan “the flight of time” (berlalunya waktu), bukan dengan sekadar “waktu/ masa”. Tuhan mengingatkan kita akan waktu (al-‘ashr) yang telah berlalu, tidak akan pernah bisa dikembalikan lagi. Istilah al-‘ashr adalah waktu yang terukur yang terdiri dari bagian-bagian periode, bukan seperti al-dahr yang juga digunakan oleh al-Qur`an yang bermakna waktu yang tak terbatas tanpa permulaan dan akhir.

Kata al-‘ashr semula bermakna memeras, yaitu menekan sesuatu sehingga isinya keluar. Para ulama sepakat mengartikannya dalam konteks ayat ini dengan “waktu”. Namun, bukan sekadar “waktu” yang ingin ditekankan maknanya di sini, melainkan konsekuensi masa lalu yang berakibat ke masa berikutnya (masa sekarang hingga masa akan datang). Hal ini terlihat dari penggunaan dalam beberapa istilah terkait. Misalnya, kata al-‘ashr juga digunakan untuk menyebut berlalu perjalanan matahari melampaui pertengahan, hingga menjelang terbenamnya, yang biasa kita sebut dengan “sore”. Bisa kita katakan bahwa “sore” adalah akhir atau titik-jenuh perjalanan keseharian, yang nantinya akan ditutup dengan malam. Kata lain yang juga seakar dengan al-‘ashr adalah al-mu’shirât, yaitu awan yang mengandung butir-butir hujan, sehingga karena beratnya, akhirnya menurunkan hujan. Jadi, al-‘ashr meski merupakan waktu yang terukur, ada fase-fase yang bisa kita sadari dan kenali, namun berjalan, lalu berkonsekuensi ke masa berikut. Orang-orang banyak tidak sadar akan fase-fase itu, dan begitu berharga dan penting bagi dirinya, lalu ia terlena dibawa oleh waktu, kini potret dirinya sekarang terukir oleh masa lalu itu yang tak pernah kembali lagi. Untung kalau ia bisa menggunakan fase-fase masa lalu itu secara baik dan untuk kebaikan, sehingga ia kini memetik buah manisnya sekarang. 
Tapi, begitu banyak orang yang cuma melongok menyaksikan berlalunya fase-fase itu, berpangku-tangan, berfoya-foya, menghamburkan uang dan tenaga secara tidak bermanfaat, atau menyiakan masa muda dengan mabuk-mabukan, malas-malasan, tidak memanfaatkan waktunya dengan baik, kini….orang-orang tersebut tertunduk malu, menyesali diri, dan melamun dengan pikiran kosong, dengan tatapan kosong, lalu mencaci masa lalu sebagai “waktu sial”. Padahal, waktu tidak pernah sial. Waktu hanya adalah fase-fase yang kita lalu, tidak pernah menentukan untung-sialnya kita. Justeru kita lah yang menentukan.Waktu sifatnya netral, tidak pernah memihak. Hanya saja, kita menggunakannya secara keliru. Fenomena ini biasa kita temukan dalam kehidupan kita sekarang.

Bangsa Arab ketika masa turunnya al-Qur`an juga sering mencaci waktu, bahwa masa lalunya adalah waktu sial. Dengan latar belakang sosial masyarakat Arab ketika itulah, lalu Allah swt melalui ayat ini membantah anggapan keliru mereka. Jika mereka gagal, itu bukan karena waktu, melainkan karena kesalahan merek sendiri. Lalu, dalam ayat ini, Allah swt membimbing bahwa agar manusia tidak “rugi”, ada 3 faktor yang bisa menjadikan manusia tidak akan “dilindas” oleh zaman, karena 3 faktor ini adalah faktor-faktor keberuntungan manusia, yaitu:
  • Iman dan amal saleh, sebenarnya dua hal yang telah menjadi satu kesatuan yang saling terkait. Iman tanpa amal saleh menjadi kosong, karena iman ibaratkan wadah yang harus diisi, atau kata ulama, imannya hanya kadar rendah/ kurang, sedangkan amal saleh yang tanpa disertai iman, di mata al-Qur`an, tidak akan berarti secara teologis (ketuhanan) dan eskatologis (tidak dibalas di akherat nanti) seperti imannya orang kafir (habithat a’mâluhum)
  • Saling mengingatkan dengan kebenaran. Al-haqq bisa berarti Yang Mahabenar (Tuhan, Allah swt). Jadi, manusia harus saling mengingatkan akan wujud Tuhan yang Maha Esa, Maha Kuasa, dsb. Kesadaran akan adanya Tuhan di setiap napas kehidupan adalah kesadaran spiritual manusia yang menjadikannya bertahan dari gerusan zaman. Arus materialisme, hedonisme, konsumerisme, dan pandangan-pandangan lain yang hanya menekankan kelezatan duniawi hanya akan menjadikan manusia “merugi”. Muhammad Asad menafsirkan kerugian manusia dalam surah ini dalam pengertian “manusia mudah sekali terpleset jatuh hingga membinasakan dirinya” (man is bound to lose himself). Kebinasaan diri bukanlah berarti sekadar hidup secara material (makan, minum, dan berreproduksi), melainkan jika ia juga kehilangan dimensi spiritual yang merupakan hakikat dirinya, yaitu kesadaran akan adanya Tuhan yang selalu “hadir” dalam setiap napas kehidupannya, ketika kerja, berpergian, berinteraksi dengan sesama, dan ketika menatap ciptaan-Nya. Kata al-haqq di sini juga berarti kebanaran. Itu artinya bahwa seseorang tidak akan rugi terlindas oleh zaman jika ia mau mendengar kebenaran dari orang lain, dari mana pun sumbernya. Bahkan, yang dinamakan dengan “kearifan” (hikmah) adalah kebenaran juga. Nabi konon pernah bersabda: “Ungkapan kearifan adalah barang yang hilang milik orang yang berimana. Di mana pun ia menemukannya kembali, ia lebih berhak untuk mengambilnya lagi”. Dikatakan juga dalam hadits bahwa “hikmah adalah mendapatkan kebenaran di luar kenabian” (al-ishâbah fî ghayr al-nubuwwah). Kebenaran, selain kebenaran teologis yang terkait dengan keyakinan, bisa saja lahir dari siapa pun.
  • Saling mengingatkan akan kesabaran. Apa sebenarnya kesabaran itu. Al-Râghib al-Ashfihânî dalam kamus al-Qur`an-nya, Mu’jam Alfâzh al-Qur`an (al-Mufardât fî Gharîb al-Qur`ân) h. 277, yang dimaksud dengan sabar adalah “menahan diri agar tetap sesuai dengan tuntutan pertimbangan akal dan syara’ (agama)” (habs al-nafs ‘alâ mâ yaqtadhîh al-‘aql wa al-syar’). Semula sabar secara kebahasaan berarti “bertahan dalam kesempitan”. Asal makna shabr dalam bahasa Arab memiliki 3 makna pokok, yaitu menahan, bagian yang tinggi dari sesuatu, dan sejenis batu (keras). Mengapa sabar diperlukan dalam kehidupan ini? Karena hidup ini tidak selalu berjalan mulus, melainkan selalu diwarnai oleh kesulitan, hambatan, atau cobaan hidup. Hidup tidak selalu dihiasi dengan kemudahan, melainkan diselingi juga dengan kesulitan. Mungkin kita bisa mengatakan bahwa kesulitan adalah bagian ritme atau irama kehidupan. Tidak pernah ada hidup tanpa masalah sama sekali, entah kecil atau besar. Dalam ungkapan al-Qur`an: “karena sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan” (fa inna ma’a al-‘usr yusran, inna ma’a al-‘usr yusran). Ada tips al-Qur`an untuk mengurangi kesedihan kita dalam menghadapi cobaan itu, yaitu dengan kerja. Oleh karena itu, dalam ayat selanjutnya disebutkan “jika kamu selesai (dari suatu aktivitas), maka tegaklah/ bersiaplah (untuk melakukan hal lain)” (fa idzâ faraghta fanshab), lalu sandarkan semuanya kepada Tuhan karena dalam ayat terakhir disebutkan “dan kepada Tuhanmu lah, berharaplah” (wa ilâ rabbika farghab). Dalam ayat ini, kerja adalah suatu keniscayaan, bukan semata untuk kepentingan material, yaitu menghasilkan uang, melainkan secara psikologis, dengan kesibukan kita dalam kerja, sebagian persoalan yang kita hadapi bisa teratasi. Di ayat terakhir, ketika Allah swt menyuruh kita untuk berharap hanya kepada-Nya, itu artinya bahwa tidak hanya kerja sebagai upaya “humanisasi” (pemanusiaan), dalam pengertian kerja sebagai upaya rasional untuk menghidupi kehidupan, melainkan kerja bukan sebagai tujuan. Diperlukan upaya menyandarkan segala upaya, yaitu setelah kita lebur dalam kerja, kepada Tuhan sebagai upaya yang disebut orang sebagai “transendensi”.

Kita kembali ke persoalan sabar. Jadi, sabar atas segala cobaan bisa diatasi dengan kerja. Itu juga sekaligus artinya bahwa sabar tidak identik dengan berdiam diri (fatalis). Ingat bahwa ayat “wa in tshbirû wa tattaqû, fa inna dzâlika min ‘azm al-umûr” yang turun setelah perang Uhud mengisyaratkan kepada kita bahwa kekalahan kaum Muslimin dalam perang itu adalah karena mereka tidak bersabar dalam pengertian bahwa seharusnya pasukan berpanah bertahan di atas bukit di posnya, bukan turun untuk merebut rampasan perang yang menyebabkan kaum Musyrikin berbalik dan menyerang kembali, sehingga keadaan menjadi terbalik, di mana kaum muslimin yang sudah mendekati kemenangan menjadi kalah. Sabar dalam konteks itu adalah konsisten dengan petunjuk Nabi dan bertahan adalah sebuah strategi perang, bukan berdiam diri.
Dengan demikian, waktu adalah sangat penting dan berharga. Oleh karena itu, Islam memerintahkan umatnya agar menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Dalam ayat yang dikutip di atas, “fa idzâ faraghta fanshab” terkandung makna bahwa setelah selesai dari suatu aktivitas, hendaklah “tegak” (fanshab). “Tegak” memiliki pengertian bersiap untuk melakukan aktivitas lain. Istirahat juga bisa dilihat sebagai persiapan untuk melanjut aktivitas yang telah dilakukan, atau melakukan aktivitas lain. Istirahat sebenarnya adalah persiapan menuju aktivitas lain. Bahkan, waktu senggang atau waktu rehat bisa dimanfaatkan untuk aktivitas ringan. Kita telah mengetahui bahwa beberapa penemuan penting di dunia ini oleh para ilmuwan justeru dihasilkan di waktu senggang, seperti hukum gravitasi Newton. Konon, shalat bagi Nabi adalah sebuah bentuk istirahat. Kata tarâwîh pada shalat tarâwîh yang biasa kita laksanakan pada malam bulan Ramadhan juga berkonotasi istirahat, karena dilakukan dengan penuh khusyû’ dan khidmat, sehingga mendatang efek relaksasi terhadap jiwa kita.

Waktu merupakan hal yang sangat berharga. Orang Arab mengenal pepatah berikut:
Al-waqtu kassaif, fa in lam taqtha’hu qatha’aka
(Waktu adalah seperti pedang, maka jika kamu tidak menebaskannya, ia yang akan menebasmu)
Pepatah ini lebih merupakan perumpamaan tentang betapa pentingnya waktu, karena waktu selalu berjalan tanpa kompromi, dan waktu yang telah berlalu tak pernah akan kembali. Jika kita tidak menggunakan waktu, dalam pengertian berbagai kesempatan, seperti peluang untuk sukses dan berprestasi, bisa jadi kesempatan itu tak akan kunjung lagi. Waktu seperti “deterministik” dalam pengertian menentukan nasib manusia tanpa kompromi. Tinggal manusia yang memanfaatkan waktu, atau jika tidak, waktu yang akan melindas manusia. Yang dimaksud dengan “terlindas waktu atau zaman” adalah kita dikendalikan oleh waktu. Dalam istilah Mahmud Thâhâ, seorang pemikir Sudan, waktu memiliki hukum yang disebut dengan “hukum waktu” (hukm al-waqt) atau determinisme zaman. Misalnya, ketika pemerintah menerapkan pendidikan 9 tahun dan kebijakan itu merata, serta hajat hidup manusia akan taraf pendidikan semakin meningkat, orang yang tidak mengikutinya akan tertinggal.

Dr. A’idh al-Qarnî dalam bukunya, Lâ Tahzan (h. 15), mengumpamakan waktu yang kosong tak ubahnya dengan siksaan halus ala penjara China. Di penjara itu, narapidana ditempatkan di bawah pipa air yang hanya dapat meneteskan air setetes setiap menit selama bertahun-tahun. Dalam masa penantian yang panjang itulah, biasanya seorang napi akan menjadi stress dan gila.
Waktu sebaiknya dimanage dengan baik. Pertama, perencanaan (planning). Segala pekerjaan kita harus terencana dengan terbaik, tersusun, terjadual, disertai dengan target dan cara mencapainya. Dalam al-Qur`an dinyatakan,
Ya ayyuhalladzîna âmanûttaqû Allâh, wal tanzhur nafsun mâ qaddamat li ghadd  (Q.S. al-Hasyr/59: 18).

(Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaknya setiap jiwa/ orang merenungi apa yang telah dilakukan untuk hari esok) Ayat sekaligus mengandung dua hal sekaligus, yaitu perencanan dan evaluasi. Menggunakan masa lalu sebagai cermin untuk masa depan mengandung pengertian mengevaluasi apa yang telah dilakukan, sekaligus untuk perencanaan masa depan. “Hari esok” mengandung pengertian hari esok yang merupakan jangka panjang, yaitu akherat, atau jangka pendek, yaitu kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama hidup di dunia.

Dalam Islam, kita mungkin bisa menyebutkan niat sebagai perencanaan, bahkan mendekati pelaksanaan, karena yang disebut niat bukanlah apa yang  terlintas di pikiran (hâdits nafs) atau angan-angan kosong (amal jamaknya âmâl, bukan ‘amal yang jamaknya a’mâl: perbuatan), melainkan tekad kuat (‘azm). Mungkin setiap memiliki cita-cita, tapi belum tentu menuangkan cita-cita itu dalam bentuk rencana yang tersusun baik.

Yang tidak kurang pentingnya dibandingkan perencanaan adalah pelaksanaan, perorganisasian, pengawasan, hingga evaluasi. Dalam Islam, misalnya, suatu kewajiban harus dilaksanakan sesuai dengan standar waktu yang ditentukan. Misalnya: Inna al-shalât kânat ‘alâ al-mu`minîn kitâban mawqûtan (Q.S. al-Baqarah/2: 103)

(Sesungguhnya salahat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya)
Oleh karena itu, kewajiban yang dilaksanakan di luar waktu tidak sah, seperti haji, atau minimal berkurang nilai, seperti sahalat yang dikerjakan di luar waktunya (di-qadhâ`).

Dalam memanage waktu, Islam mengajarkan adanya skala prioritas (fiqh al-awlawiyyah). Misalnya, harus mendahulukan kewajiban daripada yang sunnat. Dalam waktu yang sempit, misalnya, sebaiknya tidak mengerjakan pekerjaan sunat yang menyebabkan habisnya waktu untuk mengerjakan yang wajib. Kata kunci dalam memanage segalanya, tidak hanya soal ibadah, mungkin juga kuliah atau pekerjaan adalah “prioritas” (awlawiyyah). 

Jika studi/ kuliah merupakan prioritas pertama, maka waktu harus diberikan sebagian besarnya untuk studi/ kuliah pula, sehingga kegiatan-kegiatan lain yang sifat sekunder berada di bawahnya dalam skala prioritas. Mungkin banyak orang yang sudah berujar bahwa keberhasilan bukanlah semata persoalan kecerdasan, sekalipun itu sangat menentukan, melainkan juha persoalan memanage waktu.

Dalam memanage waktu, menarik sekali bahwa ternyata Nabi mengajar pembagian waktu selama 24 jam menjadi 1/3 (8 jam), yaitu 1/3 untuk kerja, 1/3 untuk beribadah, dan 1/3 untuk istirahat. Pertama, 8 jam kerja (katakanlah: masuk kerja jam 8, pulang jam 4 sore) adalah waktu yang ideal dan sebanding dengan kekuatan tenaga manusia dan proporsional dikaitkan dengan hak waktu untuk kegiatan lain. Kedua, istirahat dalam pengertian di atas (tidak melulu tidur) selama 8 jam juga pembagian waktu yang ideal (katakanlah: tidur jam 21.00 [9 malam], bangun jam 05.00 [subuh]). Ketiga, beribadah selama 8 jam adalah proporsi ideal yang selama ini kurang kita perhatikan. Memang, harus dicatat bahwa pembagian ini tidak ketat, dan begitu juga setiap kegiatan tidak monoton, seperti ketika kerja bisa diselingi dengan istirahat dan shalat. Di samping itu, dalam Islam, memang kerja juga dipandang sebagai ibadah selama didasarkan atas niat ibadah, bukan semata mengejar kebutuhan materi. Tapi, memang proporsi waktu untuk ibadah selama ini terasa kurang, padahal kalau kita memperhatikan dengan seksama pernyataan ayat berikut tampak bahwa proporsi antara aktivitas duniawi bukanlah fifty-fifty (50%:50%), melainkan untuk akherat lebih banyak dibandingkan untuk dunia: “dan carilah pada apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagian) negeri akherat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” (Q.S. al-Qashash (28): 77).
Referensi : Ilustrasi : Manajemen Waktu Menurut Islam



Inilah 3 Perkara yang Tidak Akan Kembali

Ilustrasi : Inilah 3 Perkara yang Tidak Akan Kembali

Di dalam kehidupan ini, terdapat 3 perkara yang perlu kita perhatikan. Ketiga perkara ini harus diketahui dan dimanfaattkan dengan sebaik mungkin di jalan Allah SWT agar di kemudian hari tidak kita selali. Ketiga perkara tersebut yaitu waktu, ucapan, dan kesempatan.

1. Waktu

Waktu adalah salah satu perkara yang tidak akan pernah diulang kembali. Waktu yang telah terlewati tidak dapat diulang dan diganti. Waktu menjadi wadah bagi manusia untuk melakukan perbuatan yang baik. Nantinya, segala perbuatan akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah SWT atas waktu yang telah kita pergunakan.

Islam menjadikan waktu sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia, sebagaimana firman Allah:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian” (QS. Al-`Ashr: 1-2 )

Dan tidaklah Allah bersumpah di beberapa ayat dengan nama waktu, melainkan hal tersebut menunjukkan atas kemuliaan serta keagungan hal tersebut, yaitu dalam hal ini adalah waktu. Islam mendorong seseorang untuk menggunakan waktu dengan baik, agar orang tersebut bisa mengambil pelajaran dan bersyukur atas nikmat waktu yang Allah anugerahkan kepadanya Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur” (QS. Al-Furqan : 62 )

Dari waktu, manusia harus dapat memahami tujuannya diciptakan, yaitu untuk melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Manusia harus memanfaatkan waktu diberikan Allah SWT kepadanya di dunia untuk mempersiapkan bekal bagi kehidupan di akhiratnya yang kekal dan abadi. Islam telah memberikan pujiannya serta memberikan sifat orang-orang yang mengisi waktunya dengan berfikir dan menjalankan ketaatan di jalan Allah dengan sebutan Ulil Albab (orang yang berakal).

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran : 190)

Umat manusia benar-benar berada di dalam kerugian yang nyata apabila tidak memanfaatkan waktu pemberian Allah seoptimal mungkin untuk berjalan diatas ketaatanNya.

“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-`Ashr: 1-3).

2. Ucapan

Ucapan buruk mencela orang, memaki, menerangkan keburukan-keburukan orang lain, menyinggung perasaan seseorang, dan sebagainya merupakan salah satu pintu dosa yang amat rawan (dosa yang berawal dari mulut).

Banyak orang yang bisa mengendalikan hawa nafsu dan syahwatnya, namun hanya beberapa yang dapat mengendalikan lidah dan ucapan. Padahal, Allah SWT tidak menyukai dan membenci hamba-hambaNya yang suka mengucapkan kata-kata kotor sesuai dengan FirmanNya dalam Al Quran:

“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nisaa: 148)

“(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.” (QS. An Nahl: 25)

“Sama saja (bagi Tuhan), siapa diantaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang har.i” (QS. Ar Ra’d: 10)

Hendaklah sebagai umat muslim, kita dapat mengontrol apa yang akan kita ucapkan. Seorang mukmin yang ingin menjaga agama dan hatinya, akan berusaha sedikit bicara. Hal ini dikarenakan bukan tidak mungkin sebuah ucapan yang barangkali tidak sengaja, dapat mendatangkan murka Allah.

Dari Abu Hurairah RA,sesungguhnya ia mendengar Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba (kadang) berbicara dengan pembicaraan yang tidak ia sadari bisa menggelincirkan ke neraka sejauh antara timur dan barat”. (HR Bukhari, Muslim dan Nasai). “Sesungguhnya Allah murka kepada orang yang berperangai jahat dan berlidah kotor.” (HR. Tirmidzi)

3. Kesempatan

Sama seperti waktu dan ucapan, kesempatan juga tidak terulang. Oelh karena itu, janganlah kita sebagai umat muslim menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan Allah SWT untuk melakukan apa yang menjadi larangan-Nya. Kita harus dapat bersyukur dengan menjalankan segala perintah Allah SWT. Jangan sampai menunda waktu ataupun menunda pekerjaan yang ada.

Referensi : Inilah 3 Perkara yang Tidak Akan Kembali






Keberadaan Mesin Waktu Berdasarkan Islam dan Akibatnya

Keberadaan Mesin Waktu Berdasarkan Islam dan Akibatnya

Keberadaan Mesin Waktu Berdasarkan Islam dan Akibatnya. Pernah mendengar kata – kata “coba waktu bisa diulang” atau “coba gue bisa balik lagi ke waktu dulu”?. Yang berikut ini adalah dua kata penyesalan terhadap apa yang telah dilakukan dan berakhir dengan kesalahan atau penyesalan.

 Sehingga dari penyesalan yang disertai kata berikut muncullah khayalan tingkat tinggi tentang adanya mesin waktu. Yang mana dengan mesin waktu itu orang yang menyesal itu bisa mengulang waktunya di masa lalu untuk mengubah apa yang terjadi dimasa sekarangnya. Yang demikian itu tidak mungkin ada. Kenapa? . karena jelas jika ada mesin waktu banyak sejarah akan berubah. 

Bahkan banyak manusia akan mati. Contohnya jika pasukan Rusia sudah menonton film “samurai commando” mereka dari masa sekarang akan membawa nuklir mereka ke masa lalu untuk menghabisi Amerika Serikat di masa Amerika baru merdeka (tidak memiliki nuklir). 

Otomatis sejarah yang berubah adalah seluruh orang Amerika yang di masa sekarang akan menhilang tiba – tiba karena kakek dan nenek mereka di masa lalu telah terbunuh karena bom nuklir rusia dari masa depan. Bayangkan saja jika kakek anda terbunuh dimasa lalu, mungkinkah akan lahir ayah dan ibu anda yang akan melahirkan anda? It is impossible. 

Dan sejarah lainnya adalah tidak akan pernah ada yang namya Rusia. Karena tidak kalah perang dari Amerika. Sehingga mereka utuh menjadi Uni Soviet. Atau mereka menjadi Rusia tapi tidak ada negara yang melakukan pemisahan diri dari Uni Soviet yang hancur akibat ulah agen CIA. 

Alasan kedua adalah bagaimana mungkin alat secanggih mesin waktu ada. Sehingga orang bisa seenaknya mengendalikan waktu. Dan alat canggih itu harus ada contohnya. Misal, sempoa, calculator ,  mainframe, komputer, laptop. 

Semua itu ada alat pengolah angka dan tulisan. Tapi alat pengolah waktu apa mungkin ada? Yang ada alat menunjukkan waktu. Yaitu jam yang terinspirasi dari bayangan matahari dan alat penunggu pasir. Yang demikian ini sudah dijelaskan dari al qur’an tidak akan bisa seseorang itu pergi ke masa lalu atau masa depan. Dan penyesalan manusia terhadap masa (waktu) lalunya itu juga telah dijelaskan dalam surat al ‘ashr ayat 1 – 2. 

Dijelaskan dalam surat berikut bahwa manusia akan menyesal karena waktu. Maksudnya ada lah manusia akan menyesal dengan apa yang telah terjadi . dan tidak dijelaskan bahwa manusia bisa mengulang waktu. Dan ayat ke  3 hanya menjelaskan siapa saja yang tidak menyesal.

 Maka dari itu manusia tidak bisa kembali ke masa lalu. Untuk merubah sejarah. Tapi bagai mana dengan pergi ke masa depan untuk melihat apa yang akan terjadi. Ada yang berpendapat demikian. Tapi menurut saya tidak mungkin. Kenapa? . karena kegiatan seperti ini sama seperti membaca lauhul mahfuzh. Dan lauhul mahfuz itu adalah hal ghaib. Dan hal ghaib itu tidak diketahui yang namanya makhluk. Hanya Allah yang bisa mengetahuinya. Seperti dalam surat al an’am ayat 59 :

 وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ 

“Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri” Tapi ada pendapat yang bilang bahwa bisa menembus masa depan lewat black hole. 

black hole memiliki gravitasi yang berat sehingga memungkinkan untuk yang melewatinya merasakan waktu itu sebentar saja. Dan jika keluar lagi dari black hole maka bumi akan menjadi masa depan.


Referensi : Keberadaan Mesin Waktu Berdasarkan Islam dan Akibatnya






Maksimalkan Sisa Waktu Dengan Pahala

Ilustrasi : Maksimalkan Sisa Waktu Dengan Pahala

Allah SWT telah menganugerahi waktu 24 jam sehari bagi setiap orang untuk beraktivitas dan beribadah. Namun, apakah kita sudah memanfaatkan waktu kita? Sesungguhnya waktu yang telah berlalu, meskipun satu detik, tidak akan dapat terulang lagi. Begitu pun dengan berbagai kesempatan yang kita miliki. Malam berganti pagi dan siang berganti sore, merupakan tanda bahwa waktu terus berjalan. Tanpa kita sadari, hari demi hari kita lewati dalam kehidupan ini. Semua seolah berlalu begitu cepat. Masih teringat dalam bayangan kita saat masih kecil, hingga tanpa terasa kita sudah menjadi dewasa. Dan saat kita mulai merayakan ulang tahun, pernahkah terpikir bahwa umur kita semakin pendek. 

Pada hakikatnya, waktu merupakan salah satu karunia Allah SWT bagi manusia, karena waktu merupakan hal yang paling berharga yang dimiliki anak Adam. Allah SWT telah menganugerahi waktu 24 jam sehari bagi setiap orang untuk beraktivitas dan beribadah. Namun, apakah kita sudah memanfaatkan waktu kita?

Sesungguhnya waktu yang telah berlalu, meskipun satu detik, tidak akan dapat terulang lagi. Begitu pun dengan berbagai kesempatan yang kita miliki. Jika kesempatan ada di pagi hari sudah lewat, maka hilang sudah momentum yang bisa diambil, karena tidak ada yang tahu apakah kita bisa berjumpa lagi esok pagi.

Alangkah beruntungnya orang-orang yang dapat memanfaatkan waktunya dalam kehidupan ini. Sehingga waktunya bernilai menjadi pahala dan kebaikan. Sedangkan orang-orang yang lalai, maka akan menghabiskan waktunya tanpa arti dan manfaat. Dengan waktu yang telah dimiliki, manusia dapat menjadi beruntung atau rugi.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-‘Ashr, “Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal kebajikan, dan saling berwasiat pada kebenaran dan pada kesabaran.”(Q.S. Al-‘Ashr :1-3).

Berdasarkan ayat di atas, maka nilai waktu seseorang tergantung dari setiap individu menggunakannya pada jalan yang ridhai Allah SWT. Selain itu, Allah SWT juga telah bersumpah dengan waktu dalam banyak ayat dalam Al-Qur’an. Hal tersebut menunjukkan bahwa betapa tinggi nilai sebuah waktu.

Abu Barzah al-Aslami meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Pada hari kiamat nanti, dua kaki seorang hamba tidak akan bisa melangkah sebelum ia ditanya tentang empat perkara: Digunakan untuk apa umurnya? Dihabiskan untuk apa waktu mudanya? Dari mana ia mendapatkan hartanya? Digunakan untuk apa hartanya tersebut?” (HR. Tirmidzi dan ad-Darmi).

Hadist diatas telah mengingatkan kita bahwa setiap orang akan diminta pertanggungjawabannya terhadap waktu yang telah digunakan. Bagi seorang muslim, waktu dapat bernilai kebaikan jika digunakan untuk beribadah, sehingga menghasilkan pahala. Begitu juga sebaliknya, satu jam dapat menjadi keburukan jika waktu digunakan untuk berbuat hal yang tidak baik, seperti ghibah, mencuri dan sikap tercela lainnya.

Jangan sampai timbul rasa penyesalan pada kita, karena telah melewatkan waktu dan kesempatan yang berharga, disebabkan lalai dalam memanfaatkan waktu yang ada. Maka, berusahalah dengan sekuat tenaga untuk selalu melakukan hal-hal yang dapat memberikan manfaat, baik didunia maupun diakhirat. Karena jika ada waktu yang telah terlewat, maka waktu itu tidak akan pernah kembali selama-lamanya.

Manfaatkan Waktu Luang
Tak dapat dipungkiri, waktu memegang peranan penting dalam kehidupan kita. Namun pada kenyataannya, banyak kita temui orang yang begitu santai dan menunda pekerjaannya. Padahal, tanpa disadari waktu tersebut akan pergi dan tak dapat diulang kembali.

Contohlah Rasulullah SAW yang selalu memanfaatkan waktu dalam kehidupannya. Siang hari, Rasulullah SAW bekerja menjadi pedagang, pendakwah sekaligus kepala pemerintahan yang sangat amanah. Saat malam hari, Rasulullah SAW tidak terlalu banyak tidur, karena beliau selalu melaksanakan Qiyamul Lail hingga kakinya bengkak. Sungguh, begitu banyak pekerjaan yang dilakukan Rasulullah SAW selama hidupnya, membangun peradaban Islam, berperang dan menolong orang-orang yang lemah hingga namanya dikenang sepanjang masa.

Dalam sebuah hadist riwayat Bukhari, Rasulullah pernah bersabda agar kita berhati-hati menghadapi kenikmatan. "Ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya, yakni nikmat sehat dan waktu senggang." (HR al-Bukhari)

Para cendekiawan muslim sangat menyadari makna hadist tersebut dengan memanfaatkan waktu luangnya dengan baik. Sebutlah Imam An-Nawawi yang wafat diusia 45 tahun, namun karyanya sangat banyak dan masih dijadikan sumber rujukan oleh umat muslim saat ini.

Selain itu, Abu Bakar Al-Anbari yang setiap pekan membaca sebanyak 10.000 lembar. Ada pula Ibnu Aqil yang menulis kitab paling spektakuler, yaitu Kitab Al-Funun. Kitab yang memuat beragam ilmu hingga Ibnu Rajab, dan sebagian orang mengatakan bahwa kitab tersebut mencapai 800 jilid. Dan masih banyak lagi contoh luar biasa lainnya yang dapat memanfaatkan waktu luang.

Terus Berbuat Baik
Jika bercermin pada generasi salafus salih dan cendekiawan muslim yang dapat menghasilkan karya-karya besar, maka mengapa tidak semua orang dapat menghasilkan karya sama seperti mereka? Padahal semua manusia memiliki waktu yang sama, yaitu 24 jam dalam sehari. Namun, hasil tiap individu per hari dapat berbeda. Hal tersebut dikarenakan tergantung dari tiap orang memanfaatkan waktunya.

Sesungguhnya kehidupan didunia ini sangatlah singkat, hingga sebagai seorang Hamba Allah SWT, kita harus mempersiapkan bekal untuk diakhirat. Maka, sudah sepantasnya seorang muslim memaksimalkan waktu yang mereka miliki dengan terus berbuat kebaikan, agar tak ada penyesalan dalam hidup ini. Dengan demikian, jika seorang muslim mengisi waktunya dengan ibadah dan perbuatan baik, maka pahala pun akan senantiasa mengalir dalam hidupnya. 

Referensi : Maksimalkan Sisa Waktu Dengan Pahala