This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Rabu, 10 Agustus 2022

Ayat-Ayat Al-Quran Tentang Musibah dan Bencana

Gambar : Gambar Ilustrasi : Ayat-Ayat Al-Quran Tentang Musibah dan Bencana

Ayat-Ayat Al-Quran Tentang Musibah dan Bencana. Kata musibah berasal dari bahasa arab asbaha yang berarti bencana atau malapetaka menurut kamus bahasa Arab al-Munawwir. Sedangkan dalam KBBI, musibah merupakan kejadian menyedihkan yang menimpa, atau malapetaka, atau bencana. 

Pada akhir-akhir ini rakyat Indonesia dicoba dengan beberapa musibah seperti Covid-19 yang tak kunjung selesai. Kemudian, bencana gempa bumi di daerah Jawa Timur. Selanjutnya, bencana banjir di beberapa daerah Indonesia. Sebagai orang yang beriman, kita harus percaya bahwa musibah (cobaan) ini adalah suatu ujian untuk menguatkan iman. Selain itu, berkat adanya musibah kita akan mengingat bahwa Allah SWT sebaik-baiknya penolong. Di dalam Q.S. Ali Imran ayat 173 Allah SWT berfirman sebagi berikut:

 اَلَّذِيۡنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدۡ جَمَعُوۡا لَـكُمۡ فَاخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ اِيۡمَانًا  ۖ وَّقَالُوۡا حَسۡبُنَا اللّٰهُ وَنِعۡمَ الۡوَكِيۡلُ 

Arab Latin: Allaziina qoola lahumun naasu innan naasa qad jama'uu lakum fakhshawhuin fazaadahum iimaannanwa wa qooluu hasbunal laahu wa ni'malwakiil Artinya: "(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, "Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka," ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, "Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung." Gus Yusuf melalui akun YouTube resminya menyebutkan, musibah adalah sebagai bentuk tanda cinta dari Tuhan. "Musibah sebagai bentuk cinta kasihnya Allah kepada kita. Kita yang sering lupa, sering lalai, dijewer oleh Allah. Itu artinya, kan, masih diperhatikan," kata Gus Yusuf. Ketika Allah mencintai satu kaum, ujarnya, Allah akan memberikan ujian-ujiannya. 

Jadi barang siapa yang sabar dan rida menerima ujian, maka Allah juga akan mengangkat derajatnya. Jika lulus ujian, maka mulia pula di sisi Allah. "Tapi kalau diberi ujian marah-marah, mencaci maki, menghujat, kesana kemari, maka Allah akan memberikan murka-Nya kepada mereka. Misalnya rida bagi orang yang sakit adalah sabar menerima bahwa ini adalah ganjaran dari Allah untuk melebur dosa Anda," jelasnya. "Jadi jangan sampai kita melawan kodratnya Allah," tukasnya.

Dalam kitab al-Mu’jam al-Mufradat fi Alfadz al-Qur’an al-Karim disebutkan bahwa ada 77 kata musibah, 33 di antaranya berbentuk kata kerja lampau (fi’il madhi), 32 berbentuk kata kerja sekarang (fi’il mudhari’), dan 12 berbentuk kata benda (isim). Ayat-ayat di dalam Al-Qur’an memiliki azbabul nuzul dan azbabul wurudnya masing-masing. Selain itu, untuk memahaminya kita harus berpedoman kepada kitab-kitab tafsir yang ditulis para ulama. Hal ini berarti bahwa makna musibah dalam Al-Qur’an memiliki arti yang bermacam-macam. Musibah dapat diartikan sebuah hikmah, azab, maupun teguran atau peringatan.

Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Musibah Berikut ayat-ayat Al-Qur’an yang di dalamnya termaktub kata musibah: 

1. Surah Al-Baqarah ayat 156

 الَّذِيۡنَ اِذَآ اَصَابَتۡهُمۡ مُّصِيۡبَةٌ  ۙ قَالُوۡٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّـآ اِلَيۡهِ رٰجِعُوۡنَؕ 

Arab Latin: Allaziina izaaa asaabathum musiibatun qooluuu innaa lillaahi wa innaaa ilaihi raaji'uun Artinya: “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata "Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un" (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” 

2. Surah Asy-Syura ayat 30

 وَمَاۤ اَصَابَكُمۡ مِّنۡ مُّصِيۡبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِيۡكُمۡ وَيَعۡفُوۡا عَنۡ كَثِيۡرٍؕ 

Arab Latin: Wa maaa asaabakum mim musiibatin fabimaa kasabat aydiikum wa ya'fuu 'an kasiir Artinya: “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” 

3. Surah At-Taghabun ayat 11

 مَاۤ اَصَابَ مِنۡ مُّصِيۡبَةٍ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰهِ‌ؕ وَمَنۡ يُّؤۡمِنۡۢ بِاللّٰهِ يَهۡدِ قَلۡبَهٗ‌ؕ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيۡمٌ 

Arab Latin: Maaa asaaba mim musii batin illaa bi-iznil laah; wa many yu'mim billaahi yahdi qalbah; wallaahu bikulli shai;in Aliim Artinya: “Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” 

4. Surah At-Taubah ayat 50

 اِنۡ تُصِبۡكَ حَسَنَةٌ تَسُؤۡهُمۡ‌ ۚ وَاِنۡ تُصِبۡكَ مُصِيۡبَةٌ يَّقُوۡلُوۡا قَدۡ اَخَذۡنَاۤ اَمۡرَنَا مِنۡ قَبۡلُ وَيَتَوَلَّوْا وَّهُمۡ فَرِحُوۡنَ 

Arab Latin: in tusibka hasanatun tasu'hum; wa in tusibka musiibatuny yaquuluu qad akhaznaaa amranaa min qablu wa yatawallaw wa hum farihuun Artinya: “Jika engkau (Muhammad) mendapat kebaikan, mereka tidak senang; tetapi jika engkau ditimpa bencana, mereka berkata, "Sungguh, sejak semula kami telah berhati-hati (tidak pergi berperang)," dan mereka berpaling dengan (perasaan) gembira.” 

5. Surah Al-Qashash ayat 47

 وَلَوۡلَاۤ اَنۡ تُصِيۡبَـهُمۡ مُّصِيۡبَةٌۢ بِمَا قَدَّمَتۡ اَيۡدِيۡهِمۡ فَيَقُوۡلُوۡا رَبَّنَا لَوۡلَاۤ اَرۡسَلۡتَ اِلَـيۡنَا رَسُوۡلًا فَنَـتَّبِعَ اٰيٰتِكَ وَنَـكُوۡنَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ 

Arab Latin: Wa law laaa an tusiibahum musiibatum bimaa qaddamat aidiihim fa yaquuluu Rabbanaa law laaa arsalta ilainaa Rasuulan fanattabi'a Aayaatika wa nakuuna minal mu'miniin Artinya: “Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan, ‘Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami, agar kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan termasuk orang mukmin.’” 

6. Surah Ali Imran ayat 165

 اَوَلَمَّاۤ اَصَابَتۡكُمۡ مُّصِيۡبَةٌ قَدۡ اَصَبۡتُمۡ مِّثۡلَيۡهَا ۙ قُلۡتُمۡ اَنّٰى هٰذَا‌ؕ قُلۡ هُوَ مِنۡ عِنۡدِ اَنۡفُسِكُمۡ ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيۡرٌ 

Arab Latin: Awa lammaaa asaabatkum musiibatun qad asabtum mislaihaa qultum annaa haazaa qul huwa min 'indi anfusikum; innal laaha 'alaa kulli shai'in Qadiir Artinya: “Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat (kepada musuh-musuhmu pada Perang Badar) kamu berkata, "Dari mana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah, "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri." Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” 

7. Surah Al Hadid ayat 22

 مَاۤ اَصَابَ مِنۡ مُّصِيۡبَةٍ فِى الۡاَرۡضِ وَلَا فِىۡۤ اَنۡفُسِكُمۡ اِلَّا فِىۡ كِتٰبٍ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ نَّبۡـرَاَهَا ؕ اِنَّ ذٰ لِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيۡرٌۚ 

Arab Latin: Maaa asaaba mim musii batin fil ardi wa laa fiii anfusikum illaa fii kitaabim min qabli an nabra ahaa; innaa zaalika 'alal laahi yasiir Artinya: ”Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.” 

8. Surah An-Nisa ayat 62

 فَكَيۡفَ اِذَاۤ اَصَابَتۡهُمۡ مُّصِيۡبَةٌ ۢ بِمَا قَدَّمَتۡ اَيۡدِيۡهِمۡ ثُمَّ جَآءُوۡكَ يَحۡلِفُوۡنَ‌ۖ بِاللّٰهِ اِنۡ اَرَدۡنَاۤ اِلَّاۤ اِحۡسَانًـا وَّتَوۡفِيۡقًا 

Arab Latin: Fakaifa izaaa asaabathum musiibatum summa jaaa'uuka yahlifuuna billaahi in aradnaaa illaaa ihsaananw wa tawfiiqoo Artinya: “Maka bagaimana halnya apabila (kelak) musibah menimpa mereka (orang munafik) disebabkan perbuatan tangannya sendiri, kemudian mereka datang kepadamu (Muhammad) sambil bersumpah, Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain kebaikan dan kedamaian.” 9. Surah An-Nisa ayat 72

 وَاِنَّ مِنۡكُمۡ لَمَنۡ لَّيُبَطِّئَنَّ‌ۚ فَاِنۡ اَصَابَتۡكُمۡ مُّصِيۡبَةٌ قَالَ قَدۡ اَنۡعَمَ اللّٰهُ عَلَىَّ اِذۡ لَمۡ اَكُنۡ مَّعَهُمۡ شَهِيۡدًا 

Arab Latin: Wa inna minkum lamal la yubatti'anna fa in asaabatkum musiibatun qoola qad an'amal laahu 'alaiya iz lam akum ma'ahum shahiida Artinya: Dan sesungguhnya di antara kamu pasti ada orang yang sangat enggan (ke medan pertempuran). Lalu jika kamu ditimpa musibah dia berkata, "Sungguh, Allah telah memberikan nikmat kepadaku karena aku tidak ikut berperang bersama mereka." 

10. Surah Al-Maidah ayat 106

 يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا شَهَادَةُ بَيۡنِكُمۡ اِذَا حَضَرَ اَحَدَكُمُ الۡمَوۡتُ حِيۡنَ الۡوَصِيَّةِ اثۡـنٰنِ ذَوَا عَدۡلٍ مِّنۡكُمۡ اَوۡ اٰخَرَانِ مِنۡ غَيۡـرِكُمۡ اِنۡ اَنۡـتُمۡ ضَرَبۡتُمۡ فِى الۡاَرۡضِ فَاَصَابَتۡكُمۡ مُّصِيۡبَةُ الۡمَوۡتِ‌ ؕ تَحۡبِسُوۡنَهُمَا مِنۡۢ بَعۡدِ الصَّلٰوةِ فَيُقۡسِمٰنِ بِاللّٰهِ اِنِ ارۡتَبۡتُمۡ لَا نَشۡتَرِىۡ بِهٖ ثَمَنًا وَّلَوۡ كَانَ ذَا قُرۡبٰى‌ ۙ وَلَا نَـكۡتُمُ شَهَادَةَ ۙ اللّٰهِ اِنَّاۤ اِذًا لَّمِنَ الۡاٰثِمِيۡنَ‏ 

Arab Latin: Yaaa aiyuhal laziina aamanuu shahaadatu bainikum izaa hadara ahadakumul mawtu hiinal wasiyyatis naani zawaa 'adlim minkum aw aakharaani min ghairikum in antum darabtum fil ardi fa asaabatkum musiibatul mawt; tahbi suunahumaa mim ba'dis Salaati fa yuqsimaa Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila salah seorang (di antara) kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan (agama) dengan kamu. Jika kamu dalam perjalanan di bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian, hendaklah kamu tahan kedua saksi itu setelah shalat, agar keduanya bersumpah dengan nama Allah jika kamu ragu-ragu, Demi Allah kami tidak akan mengambil keuntungan dengan sumpah ini, walaupun dia karib kerabat, dan kami tidak menyembunyikan kesaksian Allah; sesungguhnya jika demikian tentu kami termasuk orang-orang yang berdosa.”

Referensi : Ayat-Ayat Al-Quran Tentang Musibah dan Bencana











Bagaimana Al Quran dan Al Hadits Menyebut Bencana (Bag.2)

Ilustrasi Ceramah : Bagaimana Al Quran dan Al Hadits Menyebut Bencana

Bagaimana Al Quran dan Al Hadits Menyebut Bencana. Dalam bagian sebelumnya dijelaskan tentang istilah musibah, bala’ dan fitnah dalam Al Qur’an untuk menyebut bencana. Dalam bagian ini akan dijelaskan istilah azab, fasad dan halak dalam Al Qur’an yang juga dapat bermakna bencana. Perbedaan dengan bagian sebelumnya ada pada konotasi dari istilah ini yang cenderung kepada peristiwa yang merusak dan menyakitkan bagi manusia sebagai balasan bagi manusia.

4. Azab

Azab berasal dari kata azaba yang memiliki arti yang sangat bervariasi sesuai dengan konteksnya, seringkali ia bermakna sesuatu yang menyiksa atau siksaan. Seperti dalam hadist berikut :

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “safar adalah bagian dari siksa (azab). (ketika safar) salah seorang dari kalian akan terhalang (sulit) makan, minum, dan tidur. Maka, jika urusanya telah selesai bersegeralah kembali kepada keluarganya”. [HR Bukhari]

Peristiwa yang dilabeli azab berupa peristiwa yang terjadi disekitar manusia, seperti kejadian alam gempa bumi, tsunami, dll atau kejadian sosial seperti peperangan. Azab ditimpakan kepada manusia karena melanggar ketetapan Allah, semisal kezaliman manusia dalam beribadah seperti kekafiran dan kemusyrikan ataupun juga kesalahan manusia dalam berinteraksi dengan sesama manusia, lingkungan serta makhluk lainya seperti perusakan alam dan lalai dalam memperhitungkan faktor siklus alam.

Azab berfungsi sebagai balasan atas kesalahan manusia tersebut.  Hal ini dapat dilihat di QS Ad-Dukhan (44) ayat 15-16 :

إِنَّا كَاشِفُوا العَذَابِ قَلِيْلاً إِنَّكُم عَائِدُونَ (15) يَوْمَ نَبْطِشُ الْبَطْشَةَ الكُبْرَى إِنّاَ مُنْتَقِمُونَ

Artinya : “Sesungguhnya (kalau) kami akan melenyapkan siksaan (azab) agak sedikit sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar). (ingatlah) hari ketika kami menghantam mereka dengan hantaman keras. Sesungguhnya kami adalah pemberi balasan.”

5. Fasad

Fasad berasal dari kata fasada yang berati sesuatu jelek, buruk, sengketa dan rusak. Dalam Al Qur’an banyak digunakan kata fasad untuk menggambarkan sikap buruk manusia yang berakibat kerusakan di bumi baik alam maupun sosial. Salah satu contoh kata fasad untuk menggambarkan kerusakan akibat ulah manusia terdapat dalah QS Ar Rum(41) ayat 30 :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فيِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: telah nampak kerusakan (fasad) di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan akibat dari perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

6.Halak

Halak secara harfiyah berarti mati, binasa dan musnah. Dalam Al Qur’an beberapa kali digunakan kata halak untuk menggambarkan bencana yang memusnahkan. Berbeda dengan istilah sebelumnya yang mana sebuah peristiwa bencana masih berkaitan dengan perbuatan manusia sebagai sebab nyata, halak merupakan peristiwa yang langsung dari Allah dengan tujuan membinasakan suatu kaum atau individu yang tidak taat kepada-Nya.

Kata halak dapat ditemui antaranya dalam surat Al-Qasas (28) ayat 78 :

قَالَ إِنّمَا أُوْتِيْتُهُ عَلَى عِلمٍ عِنْدِي أَوَلَم يَعْلَمْ أَنَّ اللهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعاً وَلَا يُسْأَلُ عَن ذُنُبِهِمُ المُجْرِمِينَ.

Artinya: “Qarun berkata, sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.”

Serta dalam hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam  :

“Sesungguhnya telah dibinasakan umat sebelum kalian, ketika diantara orang-orang terpandang mencuri, mereka dibiarkan, namun keika orang lemah mencuri mereka menjatuhkan hukuman atasnya. Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri, maka Aku sendirilah yang akan memotong tangannya”. [HR Bukhari dan Muslim].

Referensi : Bagaimana Al Quran dan Al Hadits Menyebut Bencana







Bagaimana Al Quran dan Al Hadits Menyebut Bencana (Bag.1)

Ilustrasi Ceramah : Bagaimana Al Quran dan Al Hadits Menyebut Bencana (Bag.1)

Bagaimana Al Quran dan Al Hadits Menyebut Bencana. Sikap manusia terhadap bencana tergambar dari cara pandang manusia terhadapnya dan cara pandang dapat terlihat dari bagaimana manusia mengitilahkan peristiwa bencana. Menurut KBBI bencana memiliki arti sesuatu yang menyebabkan kesusahan, kerugian, atau penderitaan. Tentu saja kesusahan, kerugian, atau penderitaan ini adalah bagi manusia, jika tidak ada manusia maka bencana bukanlah bencana. Cara pandang terhadap bencana menentukan apa yang akan dilakukan manusia dalam rangka menanggapinya.

Al Qur’an sebagai pedoman hidup manusia yang lengkap dan pasti kebenaranya memiliki banyak istilah untuk menyebut bencana. Dari banyak istilah ini kemudian manusia dapat belajar memaknai dan menanggapi kejadian becana secara arif dan bijaksana. Beberapa istilah yang digunakan Al Qur’an adalah

Sikap manusia terhadap bencana tergambar dari cara pandang manusia terhadapnya dan cara pandang dapat terlihat dari bagaimana manusia mengitilahkan peristiwa bencana. Menurut KBBI bencana memiliki arti sesuatu yang menyebabkan kesusahan, kerugian, atau penderitaan. Tentu saja kesusahan, kerugian, atau penderitaan ini adalah bagi manusia, jika tidak ada manusia maka bencana bukanlah bencana. Cara pandang terhadap bencana menentukan apa yang akan dilakukan manusia dalam rangka menanggapinya.

Al Qur’an sebagai pedoman hidup manusia yang lengkap dan pasti kebenaranya memiliki banyak istilah untuk menyebut bencana. Dari banyak istilah ini kemudian manusia dapat belajar memaknai dan menanggapi kejadian becana secara arif dan bijaksana. Beberapa istilah yang digunakan Al Qur’an adalah.

1.Musibah

Musibah berasal dari bahasa Arab (ashoba-yusibu) yang berati sesuatu yang menimpa. Dalam Al Qur’an kata musibah secara umum bersifat netral, tidak dikonotasikan baik positif ataupun negatif. Meskipun setelah diserap dalam bahasa Indonesia musibah selalu dikonotasikan sebagai peristiwa negatif yang menyengsarakan atau tidak enak. Dalam Al Qur’an tidak demikian, apa-apa yang menimpa manusia baik kejadian positif maupun negatif, dalam peristiwa alam maupu sosial pernah disebut dengan kata musibah. Contoh kata musibah dengan konteks positif dan negatif ini terdapat dalam Al Qur’an surat Al-Hadid  ayat 22-23:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي أَنْفُسِكُم إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِّنْ قَبْلِ أَنْ نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ  (22) لِّكَيْلَا تَاْسَوا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلاَ تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُم وَالله لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23)

Artinya : “Tiada suatu musibah yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuz) sebelum kami menciptakanya, Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(kami menjelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu, Allah tidak suka orang yang sombong lagi membanggakan diri”.

Musibah berasal dari bahasa Arab (ashoba-yusibu) yang berati sesuatu yang menimpa. Dalam Al Qur’an kata musibah secara umum bersifat netral, tidak dikonotasikan baik positif ataupun negatif. Meskipun setelah diserap dalam bahasa Indonesia musibah selalu dikonotasikan sebagai peristiwa negatif yang menyengsarakan atau tidak enak. Dalam Al Qur’an tidak demikian, apa-apa yang menimpa manusia baik kejadian positif maupun negatif, dalam peristiwa alam maupu sosial pernah disebut dengan kata musibah. Contoh kata musibah dengan konteks positif dan negatif ini terdapat dalam Al Qur’an surat Al-Hadid  ayat 22-23:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي أَنْفُسِكُم إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِّنْ قَبْلِ أَنْ نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ  (22) لِّكَيْلَا تَاْسَوا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلاَ تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُم وَالله لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23)

Artinya : “Tiada suatu musibah yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuz) sebelum kami menciptakanya, Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(kami menjelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu, Allah tidak suka orang yang sombong lagi membanggakan diri”.

Kemudian penggunaan kata serupa ditemukan pula dalam hadits:

Dari Shuhaib, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “sungguh menakjubkkan perihal kaum mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah (bernilai) kebaikan, dan itu tidak akan terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika ia ditimpa (dikaruniai) nikmat , ia bersyukur dan itu baik baginya. jika ia ditimpa bencana ia bersabar dan itu juga baik baginya” [HR Muslim].

Kata musibah digunakan juga untuk mengajarkan manusia bahwa musibah yang berupa kebaikan itu berasal dari Allah dan musibah yang berupa bencana karena hasil perbuatan manusia itu sendiri. Hal ini dikatakan dalam surat An-Nisa (4) ayat 79 :

مَا أصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَا أَصَابَ ِمِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلَنَاكَ لِلنَّاسِ رِسُولاً وَكَفَى بِالله شَهِيداً

Artinya: apa saja nikmat (musibah) yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana (musibah) yang menimpamu adalah dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu mejadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.

Kemudian kata musibah juga digunakan Allah untuk mengajari manusia untuk mengembalikan esensi dari sebuah musibah kepada Allah untuk bersyukur maupun bersabar. Dengan demikian, manusia harus menyadari sepenuhnya bahwa dirinya adalah “pelaku dan penerima” cobaan Allah. Hal ini dapat dilihat pada surat Al-Baqarah (2) ayat 156 :

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنّ للهِ وَإِنَا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Artinya : (yaitu) orang-orang yang jika tertimpa (musibah), mereka mengucapkan “inna lillahi wa inna ilahi raji’un” (sesungguhnya ‘musibah’ dari Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kita kembali)

2. Bala’

Kata Bala’ memiliki makna berati ujian, baik berupa kebaikan dan juga keburukan. Kata bala’ juga diserap kedalam bahasa Indonesia untuk menyebut bencana dan hal-hal buruk, oleh karenanya dikenal istilah “tolak bala” yang berati menolak kejadian buruk. Namun dalam Al Qur’an kata bala menunjukkan peristiwa netral yang berati dapat berupa nikmat maupun bencana dan memiliki dimensi pengajaran kepada manusia atau ujian. Ujian ini dimaksudkan untuk menguji keimanan dan memperteguh keimanan. Hal ini terdapat dalam surat Al-A’raf (7) ayat 168 :

وَ قَطَّعْنَا هُمْ فِي الأَرْض أُمَماً مِنْهُمُ الصَّلِحُون وَمِنْهُم دُونَ ذَلِكَ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُم يَرْجِعُون

Artinya : Dan kami bagi-bagi mereka di duia ini menjadi beberapa golongan ; diantaranya ada orang salah dam yang tidak. Dan kami uji mereka (bala) dengan nikmat (yang baik-baik) dan bencana (yang buruk-buruk), agar mereka kembali (kepada kebenaran).

Bala’ merupakan ujian diberikan kepada manusia baik yang salih maupun yang tidak, melalui kebaikan/nikmat (al-hasanat) dan keburukan/bencana (as-sayy’iat). Penilaian baik buruk peristiwa adalah dari manusia, karena apa yang ditimpakan Allah sejatinya selalu baik. Hal ini dikarenakan fungsi dari bala’ yang mengembalikan keimanan atau menguatkan keimanan dari orang yang terkena bala’ tersebut. Manusia dapat menyikapi bala’ dengan syukur dan sabar tergantung pada peristiwa yang terjadi. Seseorang yang lulus dalam menyikapi bala’ maka ia menjadi hamba terkasih Allah dan yang belum maka akan diuji lebih banyak lagi. Hal ini didasari pada hadits :

Dari Anas radhiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “;..Sesungguhnya besarnya pahala adalah karena ujian. Sungguh jika Allah mencintai suatu kaum maka Ia akan menimpakan ujian (bala’) kepada mereka. Barang siapa ridha terhadapnya maka ia yang akan meraih ridha Allah. Barang siapa yang tidak maka Allah akan murka”. [HR Tirmidzi]. 

3. Fitnah

Kata fitnah berasal dari kata fatana-yuftinu yang berarti cobaan (ibtila’) atau ujian (imtihan) (ikhtibar). Dalam Al Qur’an fitnah mengandung beberapa makna seperti kemusyrikan [QS Al-Baqarah (2): 191,193 dan 217], cobaan atau ujian [QS Taha (20):40 dan Al-‘Ankabut (29):3], kebinasaan/kematian [QS An-Anisa’ (4):101], siksa atau azab [QS Yunus (10):83] dan arti lainya.

Kata fitnah berubah makna saat diserap kedalam bahasa Indonesia yang kemudian menjadi bermakna tuduhan. Berbeda dengan istilah sebelumnya, fitnah menggambarkan hanya peristiwa sosial saja. Yang dapat diartikan fitnah adalah kejadian yang berasal dari hubungan antar manusia, seperti disebutkan pada hadits berikut :

Dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : seorang laki-laki datang dengan membawa dua unta yang baru saja diberinya minum saat malam sudah gelap gulita. Laki-laki itu kemudian tinggalkan untanya dan ikut sholat bersama Muadz. dalam sholatnya, Muadz membaca surat Al-Baqarah atau surat An-Nisa sehingga laki-laki tersebut meninggalkanya. Maka sampailah kepadanya berita bahwa Muadz mengecam tindakan laki-laki tersebut. Akhirnya laki-laki tersebut mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan mengadukan persoalan ini kepada Beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam lalu bersabda “wahai Muadz apakah kamu sedang terfitnah (terperdaya) ?”. [HR Bukhari]

Meski sesuatu yang dilabeli fitnah seringkali bermakna buruk, akan tetapi fitnah juga dapat berupa ujian dari hal yang dianggap baik seperti anak dan istri. Hal ini dapat dilihat di Al Qur’an surat At-Taghabun (64) ayat 15

إِنَّمَا أَمْوَالَكُمْ وَأَوْلاَدُكُم فِتْنَةٌ وَالله عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيم

Artinya: “sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu, dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”

Referensi : Bagaimana Al Quran dan Al Hadits Menyebut Bencana





Hadis Tentang Sabar dan Keutamaannya

Ilustrasi : Hadis Tentang Sabar dan Keutamaannya

Meskipun tidak mudah dan selalu saja ada ujiannya, sabar merupakan salah satu sifat mulia yang dicintai Allah SWT. Tahukah kamu, kalau Allah SWT menjanjikan pahala dan berkah yang banyak kepada hamba-Nya yang sabar dalam menjalani kehidupan. Terutama ketika mendapat musibah atau sedang dalam masa-masa yang sulit.

Perihal sabar telah tertulis dalam Alquran dan hadis. Ini berarti bersikap sabar adalah sifat yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT. 

Berikut ini terdapat hadis tentang kesabaran dan keutamaannya

Dalil Alquran tentang sabar

Hadis Tentang Sabar dan Keutamaannya, Umat Islam Wajib Tahu!Pexels.com/Faseeh Fawaz

Sebelum masuk ke pembahasan hadits mengenai sabar, sabar sudah lebih dulu dibahas di dalam Alquran. Ada beberapa ayat yang membahas mengenai sabar. Ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut.

Surat Al-Baqarah Ayat 45

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ 

"Wasta'īnụ biṣ-ṣabri waṣ-ṣalāh, wa innahā lakabīratun illā 'alal-khāsyi'īn."

Artinya: "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'."

Surat Al-Baqarah Ayat 153

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

"Yā ayyuhallażīna āmanusta'īnụ biṣ-ṣabri waṣ-ṣalāh, innallāha ma'aṣ-ṣābirīn."

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."

Surat Al-Baqarah Ayat 155

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

"Wa lanabluwannakum bisyai`im minal-khaufi wal-jụ'i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt, wa basysyiriṣ-ṣābirīn."

Artinya: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."

Surat Al-Anfal Ayat 46

وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُوا۟ فَتَفْشَلُوا۟ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَٱصْبِرُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

"Wa aṭī'ullāha wa rasụlahụ wa lā tanāza'ụ fa tafsyalụ wa taż-haba rīḥukum waṣbirụ, innallāha ma'aṣ-ṣābirīn."

Artinya: "Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."

Hadist tentang sabar dan keutamaannya

Tidak ada kerugian bagi mereka yang bersifat sabar dalam menghadapi segala macam cobaan dan ujian hidup dari Allah SWT. Sebaliknya, Allah SWT telah menjanjikan beragam hal bagi mereka yang mampu sabar menghadapi kesulitan hidup.

Berikut ini hadits dan keutamaannya jika kita bersikap sabar di situasi apa pun.

1. Sabar membuat kita dapat bertemu dengan Nabi Muhammad SAW

عَنْ أُسَيْدِ بْنِ حُضَيْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي كَمَا اسْتَعْمَلْتَ فُلَانًا قَالَ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي أُثْرَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ 

Artinya: "Dari Usaid bin Hudlair radliallahu anhum; ada seseorang dari kalangan Anshar yang berkata; 'Wahai Rasulullah, tidakkah sepatutnya baginda mempekerjakanku sebagaimana baginda telah mempekerjakan si fulan?'. Beliau menjawab: 'Sepeninggalku nanti, akan kalian jumpai sikap-sikap utsrah (individualis, egoism, orang yang mementingkan dirinya sendiri). Maka itu bersabarlah kalian hingga kalian berjumpa denganku di telaga al-Haudl (di surga).'" ( HR. Bukhari ) [ No. 3792 Fathul Bari] Shahih.

2. Bersikap sabar dapat mendapat ganjaran surga

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى مَا لِعَبْدِي الْمُؤْمِنِ عِنْدِي جَزَاءٌ إِذَا قَبَضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ثُمَّ احْتَسَبَهُ إِلَّا الْجَنَّةُ

Artinya: "Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: 'Allah Ta'ala berfirman: Tidak ada balasan yang sesuai di sisi-Ku bagi hamba-Ku yang beriman, jika aku mencabut nyawa orang yang dicintainya di dunia, kemudian ia rela dan bersabar kecuali surga.'" (HR. Bukhari) [ No. 6424 Fathul Bari] Shahih.

3. Sifat sabar mencegah kita dari kemungkaran

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا لَمَّا نَزَلَتْ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ فَكُتِبَ عَلَيْهِمْ أَنْ لَا يَفِرَّ وَاحِدٌ مِنْ عَشَرَةٍ فَقَالَ سُفْيَانُ غَيْرَ مَرَّةٍ أَنْ لَا يَفِرَّ عِشْرُونَ مِنْ مِائَتَيْنِ ثُمَّ نَزَلَتْ الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ الْآيَةَ فَكَتَبَ أَنْ لَا يَفِرَّ مِائَةٌ مِنْ مِائَتَيْنِ وَزَادَ سُفْيَانُ مَرَّةً نَزَلَتْ حَرِّضْ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ قَالَ سُفْيَانُ وَقَالَ ابْنُ شُبْرُمَةَ وَأُرَى الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنْ الْمُنْكَرِ مِثْلَ هَذَا 

Artinya: "Dari Ibnu Abbas radliallahu anhuma tatkala turun ayat: 'Jika ada dua puluh orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir…' (Surat Al Anfal: 65). Maka diwajibkan kepada mereka tidak ada seorang pun yang lari dari sepuluh orang. 

Abu Sufyan berkali-kali mengatakan: 'Jangan sampai ada yang lari dua puluh orang dari dua ratus orang.' Kemudian turunlah ayat: 'Sekarang Allah telah meringankan kepadamu.' (Al Anfal: 66). Maka diwajibkan jangan sampai ada yang lari sebanyak seratus orang dari dua ratus orang. Sufyan menambahkan juga; telah turun ayat; 'Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antaramu...' (Al Anfal: 65). Sufyan berkata; dan Ibnu Syubrumah berkata; 'Aku melihat seperti inilah menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran.'" (HR. Bukhari) [No. 4652 Fathul Bari] Shahih.

4. Allah SWT menjanjikan ganjaran kebaikan bagi hamba-Nya yang sabar

وقال عليه الصلاة والسلام: {إذَا حَدثَ عَلى عَبْدٍ مُصِيبَةٌ في بَدَنِهِ أوْ مَالِهِ أو وَلَدِهِ فاسْتَقْبَلَ ذٰلِكَ بِصَبْرٍ جَمِيلٍ اسْتَحْيَا الله يَوْمَ القِيَامَةِ أَنْ يَنْصِبَ لَهُ مِيزانا أوْ يَنْشُرَ لَهُ دِيوانا 

Artinya: Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: 'Ketika terjadi musibah pada seorang hamba, baik pada badannya, hartanya atau anaknya kemudian dia menghadapinya dengan kesabaran yang baik, maka pada hari kiamat Allah malu untuk memasang timbangan baginya dan malu untuk membentangkan buku catatan amalannya.'"

5. Mendapat taufiq dari Allah SWT

وقال عليه الصلاة والسلام: {الصَّبْرُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ: صَبْرٌ عَلَى الفَرَائِضِ، وصَبْرٌ عَلَى المُصِيبَةِ، وَصَبْرٌ عَلَى أذَى النَّاسِ، وصَبْرٌ عَلَى الفَقْرِ. فَالصَّبْرُ عَلَى الفَرائِضِ تَوْفِيقٌ، وَالصَّبْرُ عَلَى المُصِيبَةِ مَثُوبَةٌ، وَالصَّبْرُ عَلَى أذَى النَّاسِ مَحَبَّةٌ، والصَّبْرُ عَلَى الفَقْرِ رِضَا الله تَعَالى}.

Artinya: "Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: 'Sabar itu ada empat: sabar dalam menjalankan fardhu, sabar dalam menghadapi musibah, sabar menghadapi gangguan manusia dan sabar dalam kefakiran. Sabar dalam menjalankan kewajiban adalah taufiq, sabar dalam menghadapi musibah berpahala, sabar dalam menghadapi gangguan manusia adalah cinta dan sabar dalam kefakiran adalah ridho Allah ta'ala.''

6. Dengan sabar, kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari seisi dunia

وقال عليه الصلاة والسلام: {صَبْرُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيها}.

Artinya: "Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: 'Sabar sesaat itu lebih baik dari dunia seisinya.'"

7. Mendapat pahala sebesar 70 derajat

وقال عليه الصلاة والسلام: {الصَّبْرُ عِنْدَ المُصِيبَةِ بِتِسْعمَائة دَرَجَةٍ}.

Artinya: "Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: 'Sabar ketika mendapat musibah itu memperoleh tujuh ratus derajat.'"

8. Sabar adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT

وقال صلى الله عليه وسلم: {أَوْحَى الله تَعَالى إلى مُوسَى بنِ عمْرَانِ عَلَيْهِمَا السَّلامُ يَا مُوسَى مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِي وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بلائي وَلَمْ يَشْكُرْ نَعمائي فَلْيَخْرُجْ مِنْ بَيْنِ أَرضي وَسَمَائِي وَلْيَطْلُبْ لَهُ رَبّا سِوائِي}

Artinya: "Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: 'Allah ta'ala mewahyukan kepada Musa bin Imran -alaihimas salaam-: 'Hai Musa, barang siapa tidak ridho dengan takdir-Ku, tidak bersabar atas cobaan-Ku, tidak bersyukur atas nikmat-Ku, maka keluarlah dari antara bumi dan langit-Ku, dan carilah Tuhan selain-Ku.'"

9. Sabar akan membawa kita pada keselamatan

وقال عليه الصلاة والسلام: {الصَّبْر وَصِيَّةٌ مِنْ وَصَايَا الله تَعَالى في أَرْضَهِ، مَنْ حَفِظَهَا نَجَا، وَمَنْ ضَيَّعَهَا هَلَكَ}.

Artinya: "Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: 'Sabar itu salah satu wasiat dari beberapa wasiat Allah Ta'ala di bumi, barang siapa menjaganya, maka dia selamat dan barang siapa menyia-nyiakannya maka dia celaka.'"

10. Mendapatkan ridho dari Allah SWT

وقال عليه الصلاة والسلام: {مَا تَجَّرَعَ عَبْدٌ جُرْعَةً أَفْضَلُ عِنْدَ الله مِنْ جُرْعَةِ غَيْظٍ كَظَمها ابْتَغَاء وَجْهِ الله تَعَالى}.

Artinya: "Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: 'Tidaklah seorang hamba menahan sesuatu yang lebih utama di sisi Allah selain menahan kemarahan karena mengharapkan ridho Allah Ta'ala.'"

11. Dicintai Allah SWT

وقال عليه الصلاة والسلام: {إذَا أَحَبَّ الله عَبْدا ابْتَلاَهُ بِبَلاءٍ لاَ دَوَاءَ لَهُ، فإنْ صَبَرَ اجْتَبَاهُ، وإنْ رَضِيَ اصْطَفَاه}. 

Artinya: "Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: 'Jika Allah mencintai seorang hamba, maka dia akan mencobanya dengan cobaan yang tidak ada obatnya. Jika dia sabar, maka Allah memilihnya dan jika dia ridho, maka Allah menjadikannya pilihan.'"

12. Mendapatkan pahala terbaik dibandingkan dengan apa yang telah kita kerjakan sebelumnya

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ بَاقٍ ۗ وَلَنَجْزِيَنَّ ٱلَّذِينَ صَبَرُوٓا۟ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

"Mā 'indakum yanfadu wa mā 'indallāhi bāq, wa lanajziyannallażīna ṣabarū ajrahum bi`aḥsani mā kānụ ya'malụn."

Artinya: "Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (An-Nahl ayat 96).

13. Mendapatkan pahala yang tiada batasnya

قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ 

"Qul yā 'ibādillażīna āmanuttaqụ rabbakum, lillażīna aḥsanụ fī hāżihid-dun-yā ḥasanah, wa arḍullāhi wāsi'ah, innamā yuwaffaṣ-ṣābirụna ajrahum bigairi ḥisāb."

Artinya: "Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu'. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (Az-Zumar ayat 10).

14. Perbuatan yang mulia

وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ 

"Wa laman ṣabara wa gafara inna żālika lamin 'azmil-umụr." 

Artinya: "Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan."

Itulah tadi hadis tentang sabar beserta keutamaannya. Semoga kita menjadi salah satu hamba Allah yang selalu sabar dalam menghadapi setiap cobaan dan ujian dalam hidup.

Referensi : Hadis Tentang Sabar dan Keutamaannya








Bencana, Ujian ataukah Azab?

Referensi : Bencana, Ujian ataukah Azab?

Bencana, Ujian ataukah Azab?. bencana dan hal-hal yang sering dikaitkan dengannya, yakni ujian dan azab. Sebagian orang menganggap bencana sebagai azab, sebagian lain menilainya sebagai ujian. Pada titik ini, perlu dijernihkan bahwa kategori itu masing-masing menimpa dua kelompok yang berbeda: orang-orang saleh dan orang-orang bermaksiat. Para pendengar khutbah Jumat diingatkan agar tak gampang menuduh bencana yang menimpa orang lain sebagai azab, juga tak kelewat percaya diri bahwa bencana yang menimpa dirinya sebagai ujian.   Berikut teks khutbah Jumat tentang "Raih Surga dengan Akhlak Mulia"

Sederet bencana yang menimpa rakyat Indonesia di awal tahun ini memunculkan sebuah pertanyaan: apakah bencana itu ujian ataukah azab yang Allah timpakan kepada bangsa Indonesia?   Hadirin rahimakumullah, Bencana atau musibah adakalanya ujian dan adakalanya merupakan azab yang disegerakan di dunia. Dari mana kita mengetahui bahwa sebuah bencana dan musibah adalah ujian ataukah azab? Apabila musibah itu ditimpakan kepada orang-orang shalih yang taat kepada Allah ta’ala maka ia adalah ujian yang meninggikan derajat mereka dan melipatgandakan pahala mereka di akhirat. Musibah yang berupa ujian ini ditimpakan oleh Allah kepada orang-orang yang dikehendaki kebaikan pada dirinya, seperti para nabi, para wali, para ulama yang mengamalkan ilmunya dan orang-orang shalih lainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

  مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ)   

Maknanya: “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya” (HR al-Bukhari).   

Dari hadits ini dapat dipahami bahwa seseorang yang dikehendaki kebaikan dan derajat yang tinggi pada dirinya maka Allah melindunginya dari musibah agama dan menimpakan berbagai musibah dunia pada dirinya, anaknya, hartanya atau orang yang ia cintai. Musibah agama adalah seperti meninggalkan shalat limat waktu, berjudi, berzina, mencuri, dan lain sebagainya. Sedangkan musibah dunia sangat banyak bentuknya. Di antaranya kemiskinan, sakit, ditinggal mati orang yang dicintai, diperlakukan buruk orang lain, dan lain sebagainya.  

Semakin taat seseorang dan semakin banyak ia melakukan kebaikan maka semakin besar dan berat ujian yang Allah timpakan kepadanya. Sebagaiman kita tahu, manusia yang paling taat adalah para nabi. Musibah yang menimpa mereka tentu lebih banyak dan lebih berat dibandingkan dengan manusia pada umumnya.   

Nabi Nuh diuji dengan anak dan istrinya yang tidak mau beriman. Beliau juga dicaci dan seringkali dipukuli sampai pingsan ketika menyampaikan dakwah kepada umatnya. Nabi Ibrahim diuji dengan dilemparkan ke api yang berkobar-kobar dan tidak dikarunia anak sampai usia lanjut. Nabi Zakariyya meninggal digergaji. Nabi Yahya kepalanya dipenggal. Banyak nabi di kalangan Bani Israil yang mati dibunuh sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 87 dan surat al ‘Imran ayat 181. Nabi Ayyub diuji dengan sakit selama 18 tahun dan dimatikan seluruh anaknya dan dilenyapkan seluruh hartanya.   

Nabi Muhammad diuji dengan cacian dari kaumnya, dijatuhkan kotoran dan jeroan unta pada kepala dan badannya saat sujud, dilempari batu sampai berdarah, ditinggal mati oleh istri tercintanya, ditinggal mati oleh putranya saat masih bayi, meninggalkan kampung halaman yang sangat beliau cintai, mengalami demam tinggi dua kali lipat dari demam paling tinggi yang dialami manusia pada umumnya dan lain sebainya.

Oleh karena itu semua, Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  

 أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ (رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَأَحْمَدُ وَغَيْرُهُمَا)   

Maknanya: “Manusia yang paling berat musibahnya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang di bawah derajat mereka, kemudian orang-orang yang di bawah derajat mereka. Seseorang diuji berdasarkan sekuat apa ia pegangteguh agamanya” (HR at-Tirmidzi, Ahmad, dan lainnya)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:  

 إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ (رَوَاهُ التِّرْمِذِيّ)   

Maknanya: “Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui musibah yang besar pula. Apabila Allah ta’ala mencintai suatu kaum maka Allah akan menimpakan musibah kepada mereka. Barangsiapa yang ridha maka Allah meridhainya. Dan barangsiapa yang tidak ridha maka Allah murka kepadanya (HR at-Tirmidzi).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Sedangkan bencana dan musibah yang merupakan azab adalah yang ditimpakan kepada para pelaku dosa dan maksiat.   Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

   وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (الشورى: ٣٠)   

Maknanya: “Dan musibah apa pun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan dosa kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahan kalian)” (QS asy-syura: 30).   Imam at-Thabari menafsirkan ayat ini dengan mengatakan:

   وَمَا يُصِيْبُكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ مِنْ مُصِيْبَةٍ فِي الدُّنْيَا فِي أَنْفُسِكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ (فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ) يَقُوْلُ: فَإِنَّمَا يُصِيْبُكُمْ ذلِكّ عُقُوْبَةً مِنَ اللهِ لَكُمْ بِمَا اجْتَرَمْتُمْ مِنَ الْآثَامِ فِيْمَا بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ رَبِّكُمْ وَيَعْفُوْ لَكُمْ رَبُّكُمْ عَنْ كَثِيْرٍ مِنْ إِجْرَامِكُمْ، فَلَا يُعَاقِبُكُمْ بِهَا.   

“Bencana dan musibah yang menimpa kalian di dunia wahai manusia, pada diri, keluarga dan harta kalian tiada lain adalah azab dari Allah kepada kalian yang disebabkan dosa-dosa yang kalian lakukan kepada sesama kalian dan dosa yang kalian perbuat kepada Allah. Dan Allah mengampuni banyak dosa kalian yang lain sehingga tidak menurunkan azab (yang lain) kepada kalian.”   Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  

 إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ العُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ (رَوَاهُ التِّرْمِذِيّ).  

Maknanya: “Jika Allah menghendaki kebaikan pada hambanya maka Allah menyegerakan baginya azab di dunia. Dan jika Allah menghendaki keburukan pada hambanya maka Allah menahan azab kepadanya di dunia meski ia terus berbuat dosa sehingga azab itu akan ditimpakan kepadanya pada hari kiamat” (HR at-Tirmidzi)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Kemudian yang penting sekali untuk diperhatikan bahwa ada sebuah hadits yang berbunyi:

   إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الْمُنْكَرَ فَلَمْ يُغَيِّرُوهُ يُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ)   

Maknanya: “Sesungguhnya manusia apabila mengetahui kemungkaran lalu mereka tidak mau mengubahnya maka hampir saja (tunggulah saatnya) Allah akan mengazab mereka seluruhnya” (HR Ibnu Hibban).   

Hadits ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa jika di suatu daerah terdapat kemungkaran yang merajalela dilakukan, tapi tidak ada satu pun yang mengubahnya dengan amar makruf dan nahi mungkar maka azab Allah akan menimpa mereka semua. 

Azab Allah tidak hanya dikenakan kepada mereka yang berbuat kemungkaran, tapi juga ditimpakan kepada orang-orang shalih yang enggan beramar makruf dan bernahi mungkar dengan mencegah kemungkaran tersebut. Kemungkaran adalah seperti paham-paham yang menyimpang dari ajaran para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, zina, judi, meminum minuman keras, korupsi, mengganggu kerukunan masyarakat, berbuat kekacauan, dan lain sebagainya.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan beberapa hal:   Pertama, bagi seorang Mukmin, musibah yang menimpanya, baik musibah itu ujian ataupun azab, adalah kebaikan baginya apabila dihadapi dengan sabar dan ridha. Jika berupa ujian maka musibah itu akan meninggikan derajatnya dan melipatgandakan pahalanya di akhirat. 

Dan jika berupa azab maka azab di dunia itu akan menggugurkan azab baginya di akhirat kelak. Dan hal itu lebih baik baginya. Karena azab di akhirat jauh lebih berat dan lebih pedih dibandingkan azab dunia.   Kedua, sedangkan bagi orang kafir, bencana dan musibah apa pun yang menimpanya di dunia tidaklah bermanfaat sama sekali baginya di akhirat.   

Ketiga, jika seseorang mulai berbuat taat dan mulai meninggalkan hal-hal yang diharamkan lalu ditimpa berbagai musibah maka itu adalah ujian baginya. Apakah ia akan terus melanjutkan ketaatan ataukah ia kendor semangat lalu meninggalkan ketaatan itu.

Keempat, jika seseorang ditimpa musibah dan bencana setelah ia berbuat maksiat dan dosa maka yang semestinya dia lakukan adalah menyegerakan tobat dengan sungguh-sungguh dari semua dosa yang pernah ia lakukan. Baginda Nabi bersabda:  

 التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ (رَوَاهُ ابْنُ مَاجَه وَالطَّبَرَانِيُّ وَغَيْرُهُمَا)  

Maknanya: “Seseorang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak punya dosa” (HR Ibnu Majah, ath-Thabarani dan lain-lain).

Kelima, kemungkaran jika sudah merajalela dan tidak ada satu pun yang berupaya mencegahnya maka tunggulah saatnya Allah akan menurunkan azab kepada semuanya. Yang shalih maupun yang fasik, semuanya terkena azab.

Referensi ; Bencana, Ujian ataukah Azab?










Menunaikan Zakat Ciri Orang yang Bertakwa

Ilustrasi : Menunaikan Zakat Ciri Orang yang Bertakwa

Ciri Orang yang Bertakwa. Tanpa terasa bulan Ramadhan yang sangat mulia akan segera masuk pada fase terakhir yaitu itqun minan nar (pembebasan dari api neraka). Ini bermakna bahwa bulan Ramadhan secara perlahan akan segera berakhir, untuk itu sudah selayaknya kita segera mengintropeksi diri apakah pada dua fase yang telah lalu fase rahmah dan fase maghfirah (ampunan) kita telah beribadah dengan baik dan maksimal, jika terasa belum, maka tidak ada salahnya agar disisa bulan Ramadhan ini dapat beribadah dengan maksimal sehingga cita-cita dalam menjalani puasa yaitu Taqwa dapat kita peroleh sebagaimana terdapat di dalam surat al Baqarah ayat 183, yang artinya Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Taqwa berasal dari kata  ittaqa-yattaqi, yang artinya berhati-hati, waspada, dan takut. Artinya jika orang Bertaqwa akan selalu waspada dan takut terjerumus dalam maksiat. Menurut Thalq Bin Habib Al’anazi dalam bukunya Siyar A’lamin Nubala, menyebukan “Taqwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah”.

Selanjutnya, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di  dalam tafsirnya yang berjudul Tafsir Kariimir Rahman, berkaitan dengan keterkaitan antara puasa dengan ketaqwaan adalah “Puasa itu salah satu sebab terbesar menuju ketaqwaan. Karena orang yang berpuasa telah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Disamping itu, lebih luas lagi keterkaitan antara puasa dan ketaqwaan adalah salah satunya adalah orang kaya merasakan perihnya rasa lapar. Sehingga ia akan lebih peduli kepada orang-orang faqir miskin yang kekurangan. Ini juga merupakan karakter orang yang bertaqwa”.

Dari penjelasan tersebut kiranya dapat dipahami bahwa antara puasa dengan kepedulian sosial tidak dapat dipisahkan. Hal serupa juga tidak jauh berbeda dengan kewajiban shalat, sangat banyak di dalam al Qur’an yang bersandingan antara shalat dengan zakat. Hal ini dapat dipahami bahwa setelah beribadah kepada Allah SWT dalam bentuk shalat dan puasa maka selanjutnya adalah merasa peduli untuk saling berbagi kepada sesama yang kurang beruntung salah satunya adalah dengan menjadi muzakki.  

Muzakki Ciri Orang Bertaqwa

Muzakki adalah orang yang menunaikan zakat. Untuk kesempurnaan dalam menjalankan puasa, menjelang akhir bulan Ramadhan kita diwajibkan untuk menunaikan zakat, atau yang lebih dikenal dengan zakat fitrah sebagaimana terdapat di dalam hadits: Dari Ibnu Umar berkata Ra. ia berkata, ”Rasulullah SAW. Mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu Sho’ (2,5 kg) kurma atau gandum atas setiap hamba atau orang merdeka, laki laki atau perempuan, kecil atau besar dari orang Islam. Beliau menyuruh melaksanakannya sebelum orang-orang pergi shalat (Idul Fitri)”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Tujuan zakat fitrah ialah untuk mensucikan diri dan jiwa, sementara untuk mensucikan harta adalah dengan menunaikan zakat mal (zakat harta), yang jika kedua-duanya ditunaikan di bulan Ramadhan tentunya semakin menambah kesempurnaan ibadah puasa yang dijalankan.

Disamping itu, beberapa hikmah menjadi muzakki diantaranya adalah : 1). Sebagai perwujudan dari keimanan kepada Allah SWT dan keyakinan akan kebenaran ajaran-Nya. (QS. 9:5, QS. 9:11), 2).Perwujudan syukur nikmat, terutama nikmat benda. (QS. 93:11, QS. 14:7), 3). Meminimalisir sifat kikir, materialistik, egoistik dan hanya mementingkan diri sendiri. Sifat bakhil adalah sifat yang tercela yang akan menjauhkan manusia dari rahmat Allah SWT. (QS. 4:37). Selanjut hadits Nabi Muhammad SAW, yang berbunyi : “Rasulullah Saw. bersabda: “Orang yang pemurah itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekah dengan syurga, dan jauh dari neraka. Dan orang yang bakhil itu jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari syurga, dan dekat dengan neraka. Orang yang jahil (bodoh) tapi pemurah, itu lebih dicintai Allah daripada ahli ibadah tapi bakhil”. (HR. Turmudzi), 

4). Membersihkan, mensucikan dan membuat ketenangan jiwa Muzakki (Q.S. 70 : 19-25).  Hadits “Rasulullah Saw. bersabda: “Bertaqwalah kalian kepada Allah, kerjakanlah shalat lima waktu, berpuasalah di bulan Ramadhan, dan keluarkanlah zakat pada harta bendamu, untuk kebaikan bagi dirimu dan ikutilah perintah pemimpinmu (yang membawa kepada kebaikan) niscaya Allah SWT akan memasukkan kamu ke dalam syurga-Nya”.(HR. Hakim dari Abi Umamah). 5). Harta Muzakki akan berkembang dan memberikan keberkahan kepada pemiliknya. Pintu rizki akan selalu dibuka oleh Allah SWT. (Q.S. 2 : 261, Q.S. 30 : 39, Q.S. 35 : 29-30). Dan hadits: “Rasulullah Saw. bersabda: “Sikap rendah hati itu hanya akan menambah seseorang makin menjadi mulia, maka dari itu berlaku rendah hatilah kalian, niscaya Allah SWT akan memuliakanmu. Sikap pemaaf hanya akan menambah seseorang makin mulia, oleh karena itu banyak maaflah kalian, niscaya Allah SWT akan memuliakanmu. Dan amal sedekah itu hanyalah akan menambah seseorang makin banyak hartanya, maka bersedekahlah kalian, niscaya Allah SWT akan melimpahkan rahmat-Nya kepada kalian”. (HR. Ibnu Abu Dunya).

6). Muzakki merupakan perwujudan kecintaan dan kasih sayang kepada sesama ummat manusia. Kecintaan Muzakki akan menghilangkan rasa dengki dan iri hati dari kalangan Mustahik.  dan hadits “Rasulullah Saw. bersabda: “Dengki itu bisa menghabiskan kebaikan, sebagaimana api membakar kayu; sedekah itu dapat menghapuskan kesalahan, sebagaimana air dapat memadamkan api; shalat itu adalah cahaya orang yang beriman, dan puasa adalah perisai dari siksa api neraka”. (HR. Ibnu Majah). 7). Muzakki dapat membantu sumber dana pembangunan sarana dan prasarana yang dimiliki ummat Islam, seperti sarana pendidikan, kesehatan, institusi ekonomi, dan sebagainya (Q.S. 9 : 71). 8). Muzakki dapat memasyarakatkan etika bisnis yang benar, sebab zakat bukanlah membersihkan harta yang kotor, melainkan membersihkan harta yang didapat dengan cara yang bersih dan benar, dari harta orang lain (Q.S. 51 : 19).

Dari uraian di atas, kiranya dapat menjadi motivasi kita dalam mengoptimalkan ibadah disisa bulan Ramadhan dan semakin bersemangat untuk menjadi muzakki, sehingga cita-cita untuk menjadi taqwa dapat terwujud.

Referensi : Menunaikan Zakat Ciri Orang yang Bertakwa










Pentingnya Memahami Apa Hikmah Dibalik Musibah yang Diberikan Allah SWT

Ilustrasi : Pentingnya Memahami Apa Hikmah Dibalik Musibah yang Diberikan Allah SWT

Pentingnya Memahami Apa Hikmah Dibalik Musibah yang Diberikan Allah SWT. Setiap manusia pasti pernah merasakan yang namanya ujian, cobaan hingga musibah yang semua itu tentunya datang dari Allah SWT. Manusia hidup itu memang ada masanya akan mengalami berbagai kesusahan dan penderitaan hidup. Lalu apa hikmah dibalik musibah yang diberikan Allah SWT. Setiap manusia akan dihadapkan pada ujian-ujian hidup yang sulit untuk menolaknya dan itu adalah satu ketetapan dan hukum Allah SWT yang bersifat pasti dan tetap, berlaku kepada siapa pun, kapan pun, dan di mana pun manusia berada. Ujian dan cobaan hidup dari Allah SWT di dunia itu tidak hanya berupa musibah atau kesengsaraan. Namun ada kalanya berupa kelapangan dan kenikmatan. Bisa berupa sehat maupun kondisi sakit, bisa juga berupa kekayaan maupun kemiskinan.

Dalam beberapa surat di Al-Quran juga disebutkan tentang ujian yang datangnya dari Allah SWT, baik kondisi senang dan kondisi sulit. Allah SWT berfirman:

"Ahasiban naasu anyu yutrakuuu any yaquuluuu aamannaa wa hum la yuftanuun".  Artinya: "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman," dan mereka tidak diuji lagi?", (QS Al-Ankabut: 2).

Dari ayat tersebut kita bisa mengambil hikmah dibalik musibah bahwa Allah SWT akan menguji hamba-Nya yang beriman sesuai dengan tingkat keimanan mereka. Apakah manusia berpikir bahwa Allah SWT akan membiarkan mereka ketika dikatakan “Kami beriman" tanpa menguji kebenaran perkataan mereka itu dengan ujian melalui harta dan diri mereka? Tentu tidaklah demikian, karena Allah SWT pasti akan menguji manusia agar menjadi jelas tingkat kebenaran dan keteguhannya.

 Ustadz Syafiq Riza Basalamah menjelaskan tentang hikmah dibalik musibah yang menarik untuk kita simak bersama. 

"Allah menciptakan langit ini dalam beberapa periode. Dan ketika Allah memberikan cobaan kepada hamba-Nya, petaka untuk hamba-Nya, terkadang petaka itu baik untuk kebaikan hamba-Nya", Ustadz Syafiq Riza Basalamah menyampaikan. 

" Kenapa tidak Allah selesaikan secara langsung, banyak orang yang jika Allah selesaikan secara langsung mungkin tidak bersyukur kepada Allah. Jadi hikmahnya besar sekali", Ustadz Syafiq Riza Basalamah menambahkan. 

Ia menambahkan, "Musibah-musibah itu Allah turunkan agar mereka kembali kepada Allah. Agar mereka datang bermunajat kepada Allah". Perlu dipahami, bahwa meskipun Allah SWT memberikan kita ujian, cobaan, dan musibah, tapi ingatlah bahwa Allah SWT sangat menyayangi hamba-Nya, karena semua ujian yang didapatkan itu diberikan sesuai dengan kesanggupan kita. Dalam surah Al-Baqarah ayat 286 disebutkan:

"Laa yukalliful-laahu nafsan illaa wus'ahaa; lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maktasabat".  Artinya: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya", (QS Al Baqarah:286).  Seperti itulah pentingnya memahami apa hikmah dibalik musibah yang diberikan Allah SWT. Jika kalian sedang ditimpa musibah selalulah ber-husnudzon kepada Allah.

Referensi : Pentingnya Memahami Apa Hikmah Dibalik Musibah yang Diberikan Allah SWT












Musibah Membawa Berkah

Musibah Membawa Berkah. Bumi diguncang. Gunung-gunung menghamburkan isinya. Angin bertiup teramat kencang, memorak-porandakan hunian manusia. Gelombang air laut menggunung, menggulung apa yang ada di daratan. Bencana menerpa. Mengguncang kehidupan umat manusia. Tiada yang mampu menerka, kapan bencana itu tiba, kapan pula mereda. Tiada pula yang mampu menerka, berapa kerugian yang bakal ada. Sungguh, kala itu manusia tiada daya. Hanya tangis yang terdengar telinga. Ratapan demi ratapan menggugah rasa. Seakan tipis asa untuk memperbaiki kehidupan yang senyatanya fana.

“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (an-Nisa: 28)

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah.” (al-Ma’arij: 19—20)

Allah l yang mencipta alam semesta, Allah l pula yang mengaturnya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Ali Imran: 189)

“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia naik di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang. (Masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” (al-A’raf: 54)

“Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia naik di atas ‘Arsy, serta menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Rabbmu.” (ar-Ra’d: 2)

Namun, ada di antara manusia yang memahami berbagai bencana semata-mata dari akalnya. Jelajah akalnya yang sangat terbatas dipaksa untuk memutus keterkaitan berbagai fenomena alam dengan kehendak Allah l. Tak ada bahasa keimanan yang mencuat dari dirinya. Berbagai kejadian yang menimpa kehidupan manusia dianggap semata-mata karena hukum alam. Seakan-akan semua terlepas dari kekuasaan Allah l. Lepas, tak terkait takdir yang telah ditetapkan oleh Allah l. Padahal, beragam fenomena yang terjadi di alam ini adalah atas izin Allah l. Allah l berfirman:

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (al-A’raf: 57—58)

“Dan apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah). Maka, apakah mereka tidak mendengarkan (memerhatikan)? Dan apakah mereka tidak memerhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang darinya (dapat) makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memerhatikan?” (as-Sajdah: 26—27)

Perhatikanlah, beragam bencana (musibah) yang menimpa umat manusia dan terjadi di muka bumi ini adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah l. Semuanya telah tercatat dalam Lauhul Mahfuzh. Allah l berfirman:

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (al-Hadid: 22—23)

Allah l menyebutkan pula, betapa musibah (bencana) yang menimpa seseorang adalah atas perkenan-Nya. Firman Allah l:

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (at-Taghabun: 11)

Dengan memahami dan merenungi ayat-ayat di atas, apakah pantas jika manusia angkuh dengan mengatakan bahwa bencana yang terjadi hanya lantaran hukum alam? Hanya sebuah fenomena yang berasal dari alam itu sendiri tanpa izin Allah l? Dengan bahasa yang seakan-akan ilmiah, mereka mengatakan bahwa gempa bumi terjadi lantaran pergerakan lempeng bumi, tanpa mengaitkan itu semua dengan kehendak Allah l. Atau, mereka mengatakan bahwa gempa bumi terjadi lantaran pergerakan magma di gunung berapi, tanpa menghubungkan bahwa semua fenomena alam itu adalah atas ketentuan dari Allah l. Terlalu angkuh dan lancang jika manusia berani berbuat hal itu. Dirinya terlampau mengedepankan akal, sementara dia tidak memiliki kecerdasan dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dirinya jahil sehingga tidak mampu membersitkan bahasa keimanan dari lubuk hatinya. Yang dia mampu hanya membahasakan hal-hal yang bersifat materi. Adapun hal-hal gaib tidak mampu dicerna. Betapa banyak manusia terjebak pemikiran akalnya semata dalam melihat fenomena di muka bumi ini. Kala musibah (bencana) mencuat lantaran disulut pergolakan politik, ekonomi, atau sosial, hingga manusia hidup penuh ketidakpastian, diliputi rasa takut yang mencekam, tak sedikit manusia yang hanya melihat dari sisi materi (tidak dikaitkan dengan sebab-sebab syar’i).

Sebagaimana diungkapkan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t, “Sungguh, banyak manusia pada masa sekarang mengaitkan berbagai macam musibah yang menimpa mereka, baik musibah dalam hal ekonomi, keamanan, maupun politik. Semuanya hanya dianggap sebab yang bersifat materialistis. Sebab ini dikaitkan pada sebab-sebab perubahan politik, ekonomi, atau hukum. Tak diragukan lagi bahwa hal ini adalah kedangkalan pemahaman dan kelemahan iman mereka. Mereka lalai dari memahami dan merenungi Kitabullah serta Sunnah Rasulullah n. Di balik sebab tersebut, ada sebab syar’i. Justru sebab syar’i inilah yang paling kuat dan besar pengaruhnya dibandingkan dengan sebab yang bersifat materialistis. Akan tetapi, terkadang beberapa penyebab yang bersifat materialistis menjadi perantara terjadinya sebab-sebab yang bersifat syar’i. Allah l berfirman:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Rum: 41) (Atsaru adz-Dzunub wa Ma’ashi ‘ala al-Fardi wa al-Mujtama’, hlm. 9. Lihat al-‘Adzabu al-Adna Haqiqatuhu Anwa’uhu, Asbabuhu, Dr. Muhammad bin Abdullah bin Shalih as-Suhaim, hlm. 10)

Selisiklah, melalui ayat-ayat berikut, betapa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Allah l mampu menimpakan angin yang teramat kencang, membenamkan apa yang ada di permukaan bumi, atau mendatangkan air bah yang dahsyat, yang semuanya merupakan fenomena alam, kejadian-kejadian yang bisa dilihat secara kasatmata. Semua fenomena tersebut akan menampakkan bencana (musibah) sebagai ujian bagi orang-orang yang beriman agar mereka bersabar dan bertawakal. Namun, bisa juga sebagai bentuk azab bagi orang-orang yang kafir kepada Allah l.

Allah l telah menimpakan angin kepada kaum ‘Ad, yakni kaum Nabi Hud q, selama tujuh malam delapan hari terus-menerus. Mereka akhirnya mati bergelimpangan. Allah l mengisahkan hal ini sebagai pelajaran bagi hamba-hamba-Nya, khususnya orang-orang yang beriman. Firman-Nya:

“Adapun kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus. Maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (al-Haqqah: 6—7)

Lihat pula apa yang terjadi dengan kaum Saba’ di negeri Yaman. Mereka enggan bersyukur dan sangat kufur atas anugerah rezeki yang dilimpahkan oleh Allah l. Mereka berpaling dan kufur. Saat mereka dalam keadaan yang demikian, Allah l mendatangkan air bah yang dahsyat. Banjir besar melanda kaum Saba’. Al-Qur’an mengisahkan hal ini agar diambil pelajaran darinya. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun.’ Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsl dan sedikit dari pohon sidr. Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun’.” (Saba’: 15—17)

Petiklah pelajaran dari kisah Qarun. Wujud manusia materialistis yang membanggakan harta kekayaan, mengedepankan kehidupan dunia. Angkuh dengan apa yang telah dimilikinya hingga dia mengatakan, sebagaimana dalam firman Allah:

“Sesungguhnya aku diberi harta itu hanyalah karena ilmu yang ada padaku.” (al-Qashash: 78)

Lantas Allah l membenamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Tiada baginya seorang penolong pun atas balasan Allah l yang ditimpakan kepadanya.

“Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya dari azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (al-Qashash: 81)

Salah satu pelajaran yang bisa diambil dari kisah-kisah di atas, fenomena alam yang berupa angin kencang, banjir besar, dan pembenaman ke dasar bumi tidak semata-mata terjadi lantaran hukum alam. Lebih dari itu, semua fenomena alam tersebut ada yang mengatur, menggerakkan, dan melakukan. Tidak terjadi dengan sendirinya. Tetapi semua itu atas kehendak Allah l.

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Ali ‘Imran: 189)

Sisi lain, saat musibah (bencana) melanda, ada sebagian umat manusia yang menyikapi peristiwa tersebut sebagai peristiwa metaempiris yang didasari mitos dan kepercayaan terhadap roh-roh halus. Bencana yang terjadi merupakan bentuk kemurkaan roh para leluhur dan makhluk halus. Contoh kasus ini adalah hal yang diyakini sebagian masyarakat terkait dengan erupsi Gunung Merapi. Guna menghadapi hal yang tidak diinginkan, sebagian masyarakat terutama penduduk sekitar Merapi mengadakan upacara ritual dengan menyuguhkan sesaji. Tujuannya adalah memberi sedekah kepada para roh leluhur dan para makhluk halus agar memberi keselamatan dan kesejahteraan lahir dan batin. (Merapi dan Orang-Orang Jawa, Persepsi dan Kepercayaannya, L. Sasongko Triyoga, hlm. 156—157)

Mitos dan kepercayaan semacam ini tentu saja menggiring sebagian manusia kepada sikap irasional dan tidak ilmiah. Sarana untuk menjauhkan manusia dari Yang Maha Mencipta dan Maha Mengatur alam semesta ini, Allah l. Mereka terjatuh pada pelanggaran syariat yang telah ditetapkan Allah l. Di antara pelanggaran itu, munculnya keyakinan yang salah dalam peribadahan. Mereka melakukan perbuatan syirik, meminta bantuan atau pertolongan kepada selain Allah l. Padahal Allah l berfirman:

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (al-Fatihah: 5)

Dengan ritual yang mereka lakukan, senyatanya mereka melakukan penyembahan kepada jin. Sebagaimana diketahui bahwa sebagian masyarakat Merapi meyakini bahwa Merapi dihuni makhluk halus, dengan segala macam nama seperti roh leluhur, lelembut, banaspati, wewe, genderuwo, peri, jrangkong, wedhon, buto, thethekan, atau gundul pringis. (Merapi dan Orang-Orang Jawa, hlm. 72—75)

Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa ada di antara manusia yang melakukan penyembahan terhadap jin. Firman Allah l:

Malaikat-malaikat itu menjawab, “Mahasuci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka. Bahkan mereka telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.” (Saba: 41)

“Bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (al-Jin: 6)

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t mengungkapkan bahwa kadang Allah l melakukan hal itu (memberikan musibah/bencana) disebabkan oleh kemaksiatan dan dosa. Maka, (jadilah musibah tersebut) sebagai hukuman yang disegerakan. Allah l terangkan pada firman-Nya:

“Musibah apa saja yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (asy-Syura: 30)

Pada umumnya, manusia bersikap meremehkan dan tidak mau menunaikan kewajibannya. Karenanya, tidak akan terjadi musibah itu melainkan disebabkan oleh dosa-dosa dan sikap meremehkan perintah Allah l.

Selanjutnya beliau t menyatakan, “Apabila musibah tersebut menimpa hamba-hamba-Nya yang saleh, dalam bentuk diberi penyakit dan selainnya, yang seperti ini merupakan jenis ujian yang menimpa para nabi dan rasul. Ujian (musibah) semacam ini bisa menaikkan derajat dan sebagai sarana untuk mendapat pahala yang agung, sebagaimana telah ditetapkan oleh Allah l pada para nabi dan sebagian orang pilihan-Nya.

Musibah kadang diberikan sebagai kaffarah (penghapus) dosa dari kesalahan yang telah lalu. Allah l berfirman:

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (an-Nisa: 123)

Nabi n bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tiadalah seorang muslim yang ditimpa musibah dalam bentuk kelelahan, sakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, dan kecemasan, melainkan Allah menghapuskan darinya segala kesalahan dan dosa, hingga duri yang menusuknya juga sebagai penghapus dosa.” (HR. al-Bukhari, no. 5318)

Nabi n juga bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Barangsiapa yang Allah l kehendaki pada dirinya kebaikan, niscaya dia akan ditimpakan musibah.” (HR. al-Bukhari, no. 5321)

Kadang, terjadinya hukuman (dari Allah l) yang disegerakan (di dunia) adalah disebabkan perbuatan maksiat, tidak adanya kemauan untuk segera bertobat sebagaimana disebutkan hadits Nabi n. Sesungguhnya beliau n bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Apabila Allah l menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, disegerakanlah hukuman baginya di dunia. Jika Allah l menghendaki kejelekan pada hamba-Nya, Allah l akan menahan dia lantaran dosa-dosanya hingga (dibalas) secara sempurna kelak pada hari kiamat.” (HR. at-Tirmidzi, no. 2396) (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, 2/478—488. Dinukil dari al-‘Adzabu al-Adna, hlm. 20—21)

Bencana yang terus menerpa, kini hendaknya menjadi cermin untuk introspeksi diri. Sejauh manakah manusia mau tunduk kepada Allah l, memurnikan peribadahan, merujuk pada syariat, dan mengikis setiap maksiat. Ketika kebebasan berzina dibiarkan, pornografi dikembangpesatkan, beragam kemungkaran lepas tiada kendali, maka bencana pun akan tiba atas kehendak Allah l. Sudah saatnya manusia kembali ke jalan-Nya yang lurus. Mempelajari, memahami, dan mengamalkan syariat-Nya. Mudah-mudahan dengan itu semua, Allah l mencurahkan kebaikan. Kalaupun Allah l menimpakan musibah, kita berharap musibah itu membawa berkah.

Referensi : Musibah Membawa Berkah