This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 08 September 2022

Tanda Seseorang Masih Menyimpan Luka Batin: Timbulkan Trauma Berkepanjangan

Tanda Seseorang Masih Menyimpan Luka Batin: Timbulkan Trauma Berkepanjangan Luka batin adalah luka yang terjadi pada lapisan batin yang terdalam akibat suatu tekanan yang terjadi secara luar biasa berat atau terjadi secara terus menerus. Jika luka yang terjadi pada fisik seperti luka di tubuh maka kita bisa melihat dan mudah memprediksi kapan sembuh luka tersebut.  Namun berbeda dengan luka batin, luka batin terjadi pada sebagian orang, ada yang dialami saat dirinya masih anak-anak sampai terbawa hingga dewasa. Batin yang terluka akan menimbulkan kesedihan yang mendalam, perasaan jadi tidak menentu, emosi tidak stabil, hidup tidak terarah, sesekali timbul keinginan mengakhiri hidup yang terasa pahit. Luka batin itu sendiri semacam trauma, yang dirasa amat sangat menyakitkan yang terjadi dari suatu peristiwa tidak menyenangkan yang kita alami pada masa lalu. Jika dibiarkan maka akan menjadi kerak dan berdampak pada kehidupan kita.  1. Overthinking. 2. Mati rasa, tidak perduli dengan lingkungan bahkan, perasaan sendiri.  3. Jadwal tidur yang berantakan.  4. Merasa sesat dan tidak mempunyai tujuan hidup.  5. Merasa hancur dan butuh disembuhkan.  6. Mudah menangis karena hal kecil seperti saat menonton film.  7. Kehilangan minat pada sesuatu yang disukai.  8. Mudah terganggu pada perilaku orang, sehingga menarik diri dari pergaulan.  9. Merasa tidak berharga dan putus asa.  10. Terus mengulang kenangan buruk di pikiran.. Tanda Seseorang Masih Menyimpan Luka Batin: Timbulkan Trauma Berkepanjangan
Luka batin adalah luka yang terjadi pada lapisan batin yang terdalam akibat suatu tekanan yang terjadi secara luar biasa berat atau terjadi secara terus menerus. Jika luka yang terjadi pada fisik seperti luka di tubuh maka kita bisa melihat dan mudah memprediksi kapan sembuh luka tersebut.

Namun berbeda dengan luka batin, luka batin terjadi pada sebagian orang, ada yang dialami saat dirinya masih anak-anak sampai terbawa hingga dewasa. Batin yang terluka akan menimbulkan kesedihan yang mendalam, perasaan jadi tidak menentu, emosi tidak stabil, hidup tidak terarah, sesekali timbul keinginan mengakhiri hidup yang terasa pahit. Luka batin itu sendiri semacam trauma, yang dirasa amat sangat menyakitkan yang terjadi dari suatu peristiwa tidak menyenangkan yang kita alami pada masa lalu. Jika dibiarkan maka akan menjadi kerak dan berdampak pada kehidupan kita.

1. Overthinking.

2. Mati rasa, tidak perduli dengan lingkungan bahkan, perasaan sendiri.

3. Jadwal tidur yang berantakan.

4. Merasa sesat dan tidak mempunyai tujuan hidup.

5. Merasa hancur dan butuh disembuhkan.

6. Mudah menangis karena hal kecil seperti saat menonton film.

7. Kehilangan minat pada sesuatu yang disukai.

8. Mudah terganggu pada perilaku orang, sehingga menarik diri dari pergaulan.

9. Merasa tidak berharga dan putus asa.

10. Terus mengulang kenangan buruk di pikiran.


Referensi : Tanda Seseorang Masih Menyimpan Luka Batin: Timbulkan Trauma Berkepanjangan


Telentang dan Miring, Inilah Posisi Tidur Terbaik Menurut Dokter

Seperti diet dan olahraga, tidur yang baik penting untuk kesehatan secara keseluruhan. Namun, banyak orang yang tidak bisa tidur nyenyak, apalagi karena pandemi, sehingga kurang tidur sudah menjadi hal biasa. Kualitas tidur tidak tergantung pada lamanya, tetapi bagaimana posisinya juga penting.  Senthil Kumar, Konsultan Ortopedi, Artroskopi dan Operasi Tulang Belakang di Delhi, India, mengatakan banyak orang tertidur tanpa memperhatikan posisi, mengabaikan dampak kesehatan yang mungkin timbul. "Tidur tengkurap, punggung, atau samping dapat mempengaruhi  mendengkur, gejala susah bernapas, sakit leher, dan punggung dan masalah medis lainnya," ucap Senthil.  Yogesh Kumar, konsultan senior ortopedi, menambahkan bahwa tidur dengan posisi yang salah dapat mengganggu tidur, meningkatkan ketegangan, dan menyebabkan sirkulasi yang buruk meningkat. “Kurang tidur berdampak pada sistem kekebalan, terjaga, dan metabolisme Anda.”   Jadi, apa posisi terbaik bagi Anda untuk tidur? Menurut para ahli, posisi tidur yang ideal adalah yang meratakan tulang belakang, dari pinggul hingga bagian kepala.  Sebuah penelitian yang diterbitkan di National Library of Medicine menemukan bahwa anak-anak tidur secara merata ke arah samping, punggung, dan sisi depan. Dari semuanya, posisi terbaik adalah tidur miring atau telentang, ucap Senthil.  Tidur menyamping  Berbagai penelitian menunjukkan bahwa posisi tidur yang dominan untuk orang dewasa adalah menyamping. Senthil mengatakan posisi yang paling nyaman dalam posisi ini karena tulang belakang dapat tetap terentang dan cukup netral dengan kasur. Hal ini membantu kita menghindari nyeri leher, punggung, dan bahu.  Telentang  "Tidur telentang adalah posisi tidur kedua yang paling umum," katanya, seraya menambahkan bahwa posisi ini menjaga tulang belakang pada posisi yang lebih alami. "Ini dapat membantu meredakan nyeri leher, bahu, dan punggung dari posisi lain. Mengangkat kepala di atas bantal juga dapat membantu mengurangi masalah yang terkait dengan penyumbatan asam."  Referensi : Telentang dan Miring, Inilah Posisi Tidur Terbaik Menurut Dokter
Seperti diet dan olahraga, tidur yang baik penting untuk kesehatan secara keseluruhan. Namun, banyak orang yang tidak bisa tidur nyenyak, apalagi karena pandemi, sehingga kurang tidur sudah menjadi hal biasa. Kualitas tidur tidak tergantung pada lamanya, tetapi bagaimana posisinya juga penting.

Senthil Kumar, Konsultan Ortopedi, Artroskopi dan Operasi Tulang Belakang di Delhi, India, mengatakan banyak orang tertidur tanpa memperhatikan posisi, mengabaikan dampak kesehatan yang mungkin timbul. "Tidur tengkurap, punggung, atau samping dapat mempengaruhi  mendengkur, gejala susah bernapas, sakit leher, dan punggung dan masalah medis lainnya," ucap Senthil.

Yogesh Kumar, konsultan senior ortopedi, menambahkan bahwa tidur dengan posisi yang salah dapat mengganggu tidur, meningkatkan ketegangan, dan menyebabkan sirkulasi yang buruk meningkat. “Kurang tidur berdampak pada sistem kekebalan, terjaga, dan metabolisme Anda.” 

Jadi, apa posisi terbaik bagi Anda untuk tidur? Menurut para ahli, posisi tidur yang ideal adalah yang meratakan tulang belakang, dari pinggul hingga bagian kepala.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di National Library of Medicine menemukan bahwa anak-anak tidur secara merata ke arah samping, punggung, dan sisi depan. Dari semuanya, posisi terbaik adalah tidur miring atau telentang, ucap Senthil.

Tidur menyamping

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa posisi tidur yang dominan untuk orang dewasa adalah menyamping. Senthil mengatakan posisi yang paling nyaman dalam posisi ini karena tulang belakang dapat tetap terentang dan cukup netral dengan kasur. Hal ini membantu kita menghindari nyeri leher, punggung, dan bahu.

Telentang

"Tidur telentang adalah posisi tidur kedua yang paling umum," katanya, seraya menambahkan bahwa posisi ini menjaga tulang belakang pada posisi yang lebih alami. "Ini dapat membantu meredakan nyeri leher, bahu, dan punggung dari posisi lain. Mengangkat kepala di atas bantal juga dapat membantu mengurangi masalah yang terkait dengan penyumbatan asam."

Referensi : Telentang dan Miring, Inilah Posisi Tidur Terbaik Menurut Dokter



Pintar Atur Emosi Sembuhkan Luka Batin dengan 7 Cara Self Healing

Pintar Atur Emosi Sembuhkan Luka Batin dengan 7 Cara Self Healing Mungkin kita pernah merasa sedih atau trauma karena gagal dalam suatu hal atau masalah lainnya. Hal tersebut bisa menimbulkan trauma atau luka batin bagi kita jika kita tidak pintar atur emosi. Kita bisa menyembuhkan luka batin itu dengan melakukan self healing. Mungkin beberapa dari kita sudah sering mendengar istilah self healing itu. Namun, bagi yang belum tahu, sebenarnya apa itu self healing? self healing adalah cara penyembuhan yang biasanya terjadi karena gangguan psikologis, seperti trauma dan semacamnya.  Gangguan psikologis itu disebabkan karena adanya luka batin masa lalu yang disebabkan oleh diri sendiri atau orang lain. Self healing ini dilakukan hanya dengan melibatkan diri sendiri untuk bangkit dari penderitaan yang pernah dialami. Taat sudah berhasil melakukan self healing, maka kita bisa menjadi orang yang lebih tegar dalam menghadapi kesulitan dan trauma di masa lalu.  1. Menerima diri sendiri  Selama ini, mungkin kita tidak bisa menerima diri sendiri apa adanya, dan ingin menjadi orang lain. Hal itu bisa membuat semuanya menjadi lebih buruk karena kita terlalu fokus pada situasi yang tidak nyata. Pada akhirnya, hal tersebut bisa mempengaruhi masa depan. Oleh sebab itu, cobalah untuk menerima diri sendiri apa adanya, baik sisi buruk maupun sisi baik kita, apapun kegagalan dan kesalahan masa lalu kita. Dengan melakukannya, kita bisa menjadi diri sendiri dan bisa lebih baik, bahkan dapat menerima segala kekurangan yang dimiliki.  2. Jangan menyerah pada mimpi  Untuk mewujudkan mimpi besar tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tapi, impian itu pasti bisa jadi nyata jika kita ttap termotivasi dan terus berusaha. Namun, seringkali kita menyerah sebelum impan menjadi nyata. Alhasil, kita pun menjadi kecewa pada diri sendiri dan penuh dengan penyesalan. Oleh karena itu, penting untuk melakukan self healing agar dapat menghargai tujuan, impian, dan hasrat kita. Pergunakan waktu dan energi yang dimiliki untuk meraihnya.  3. Memaafkan diri sendiri  Hidup dengan rasa bersalah terus-menerus hanya akan merugikan diri sendiri. Perlahan, cobalah untuk memaafkan diri sendiri ketika melakukan kesalahan. Jangan bawa perasaan bersalah itu di masa depan karena bisa mencegah kita hidup bahagia. Dengan memaafkan diri sndiri, bisa membuat kita menerima kesempatan untuk melakukan hal-hal luar biasa di dalam hidup. Selain memaafkan diri sendiri, cobalah juga untuk memaafkan orang lain. Dengan begitu, kita bisa melepaskan apa yang telah terjadi dan melanjutkan hidup tanpa beban masa lalu.  4. Buat daftar what-to-do Membuat daftar hal-hal yang ingin dilakukan bisa membuat kita merasa lebih baik secara emosional. Hal itu pada akhirnya akan memiliki efek positif terhadap tubuh. Sahabat NOVA bisa menuliskan 3 target yang bisa dilakukan. Misalnya berjalan 10 ribu langkah setiap hari, makan 5 porsi sayur dan buah, dan bermeditasi setiap malam. Tuliskan di kertas secara rinci tentang kemajuan yang sudah kamu lakukan. Cara ini tidak hanya akan membantu tetap termotivasi, tetapi juga memberi dorongan positif.  5. Lakukan hal yang positif  Saring hal-hal yang bisa membuat stres. Kita bisa menghindari menonton berita atau mengakses media sosial untuk sesuatu yang tidak perlu. Sebaliknya, lakukan kegiatan positif seperti membaca buku, mendengar musi, membicarakan hal lucu dengan teman, dan sebagainya. Lakukan hal positif itu secara rutin karena secara tidak langsung otak akan mengirim pesan positif yang dapat meningkatkan mood dan mendukung proses self healing.  6. Rutin olahraga  Olahraga juga bisa membantu proses pemulihan dari luka batin. Walaupun sulit untuk berolahraga karena merasa tidak mood, usahakanlah untuk tetap berolahraga. Pasalnya, berolahraga setiap hari dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh dan memperbaiki suasana hati.  7. Cukup tidur  Tidur menjadi pertahanan alami tubuh terhadap infeksi. Sehingga, sangat penting untuk tidur yang cukup, yaitu 7-9 jam setiap malam ketika melakukan self healing. Tidur di waktu yang sama setiap malam dapat membuat kita tertidur lebih cepat dan memperbaiki suasana hati karena tubuh terbiasa dengan rutinitas tidur yang baik.. Pintar Atur Emosi Sembuhkan Luka Batin dengan 7 Cara Self Healing
Mungkin kita pernah merasa sedih atau trauma karena gagal dalam suatu hal atau masalah lainnya. Hal tersebut bisa menimbulkan trauma atau luka batin bagi kita jika kita tidak pintar atur emosi. Kita bisa menyembuhkan luka batin itu dengan melakukan self healing. Mungkin beberapa dari kita sudah sering mendengar istilah self healing itu. Namun, bagi yang belum tahu, sebenarnya apa itu self healing? self healing adalah cara penyembuhan yang biasanya terjadi karena gangguan psikologis, seperti trauma dan semacamnya.

Gangguan psikologis itu disebabkan karena adanya luka batin masa lalu yang disebabkan oleh diri sendiri atau orang lain. Self healing ini dilakukan hanya dengan melibatkan diri sendiri untuk bangkit dari penderitaan yang pernah dialami. Taat sudah berhasil melakukan self healing, maka kita bisa menjadi orang yang lebih tegar dalam menghadapi kesulitan dan trauma di masa lalu.

1. Menerima diri sendiri

Selama ini, mungkin kita tidak bisa menerima diri sendiri apa adanya, dan ingin menjadi orang lain. Hal itu bisa membuat semuanya menjadi lebih buruk karena kita terlalu fokus pada situasi yang tidak nyata. Pada akhirnya, hal tersebut bisa mempengaruhi masa depan. Oleh sebab itu, cobalah untuk menerima diri sendiri apa adanya, baik sisi buruk maupun sisi baik kita, apapun kegagalan dan kesalahan masa lalu kita. Dengan melakukannya, kita bisa menjadi diri sendiri dan bisa lebih baik, bahkan dapat menerima segala kekurangan yang dimiliki.

2. Jangan menyerah pada mimpi

Untuk mewujudkan mimpi besar tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tapi, impian itu pasti bisa jadi nyata jika kita ttap termotivasi dan terus berusaha. Namun, seringkali kita menyerah sebelum impan menjadi nyata. Alhasil, kita pun menjadi kecewa pada diri sendiri dan penuh dengan penyesalan. Oleh karena itu, penting untuk melakukan self healing agar dapat menghargai tujuan, impian, dan hasrat kita. Pergunakan waktu dan energi yang dimiliki untuk meraihnya.

3. Memaafkan diri sendiri

Hidup dengan rasa bersalah terus-menerus hanya akan merugikan diri sendiri. Perlahan, cobalah untuk memaafkan diri sendiri ketika melakukan kesalahan. Jangan bawa perasaan bersalah itu di masa depan karena bisa mencegah kita hidup bahagia. Dengan memaafkan diri sndiri, bisa membuat kita menerima kesempatan untuk melakukan hal-hal luar biasa di dalam hidup. Selain memaafkan diri sendiri, cobalah juga untuk memaafkan orang lain. Dengan begitu, kita bisa melepaskan apa yang telah terjadi dan melanjutkan hidup tanpa beban masa lalu.

4. Buat daftar what-to-do

Membuat daftar hal-hal yang ingin dilakukan bisa membuat kita merasa lebih baik secara emosional. Hal itu pada akhirnya akan memiliki efek positif terhadap tubuh. Sahabat NOVA bisa menuliskan 3 target yang bisa dilakukan. Misalnya berjalan 10 ribu langkah setiap hari, makan 5 porsi sayur dan buah, dan bermeditasi setiap malam. Tuliskan di kertas secara rinci tentang kemajuan yang sudah kamu lakukan. Cara ini tidak hanya akan membantu tetap termotivasi, tetapi juga memberi dorongan positif.

5. Lakukan hal yang positif

Saring hal-hal yang bisa membuat stres. Kita bisa menghindari menonton berita atau mengakses media sosial untuk sesuatu yang tidak perlu. Sebaliknya, lakukan kegiatan positif seperti membaca buku, mendengar musi, membicarakan hal lucu dengan teman, dan sebagainya. Lakukan hal positif itu secara rutin karena secara tidak langsung otak akan mengirim pesan positif yang dapat meningkatkan mood dan mendukung proses self healing.

6. Rutin olahraga

Olahraga juga bisa membantu proses pemulihan dari luka batin. Walaupun sulit untuk berolahraga karena merasa tidak mood, usahakanlah untuk tetap berolahraga. Pasalnya, berolahraga setiap hari dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh dan memperbaiki suasana hati.

7. Cukup tidur

Tidur menjadi pertahanan alami tubuh terhadap infeksi. Sehingga, sangat penting untuk tidur yang cukup, yaitu 7-9 jam setiap malam ketika melakukan self healing. Tidur di waktu yang sama setiap malam dapat membuat kita tertidur lebih cepat dan memperbaiki suasana hati karena tubuh terbiasa dengan rutinitas tidur yang baik.


Referensi : Pintar Atur Emosi Sembuhkan Luka Batin dengan 7 Cara Self Healing



Bagaimana Diri Mengobati Luka

Selama ini otak hanya digunakan untuk problem solving, mempelajari pengetahuan atau berhitung. Sementara, yang terkait dengan perasaan, emosi, feeling semuanya ada di hati. Ternyata itu salah besar.  Semua yang dirasakan di dada dalam bentuk emosi yang campur aduk, perasaan marah, benci bahkan cinta ternyata adalah produk dari otak. Semua itu adalah produk dari sebuah proses berpikir. Ya. Semua itu adalah bukti bahwa pikiran dan tubuh adalah satu kesatuan. Karena, pikiran dan tubuh adalah satu kesatuan, maka banyak pula penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh pikiran. Maag, asam urat, diabetes, kolesterol, stroke, jantung semua adalah akibat dari beban pikiran yang terakumulasi sehingga mengganggu fungsi kerja organ tubuh. Meskipun ada juga penyakit yang disebabkan oleh virus atau bakteri dari luar tubuh, ternyata lemahnya sistem imunitas dalam melawan segala parasit dari luar ternyata juga diakibatkan oleh pikiran.  Ketika lelah dan stres, sistem imunitas melemah. Ketika bahagia, sistem imunitas meningkat. Itu adalah bukti bahwa pikiran dan tubuh adalah satu kesatuan.  Fakta bahwa pikiran dan tubuh adalah satu kesatuan, maka kita dapat menggunakan pikiran kita untuk melakukan proses penyembuhan secara mandiri (self-healing). Tentu saja dengan memikirkan hal-hal yang positif, sugestif dan bermanfaat untuk membuat tubuh lebih sehat dan lebih imun terhadap segala jenis penyakit.  Keyakinan (belief) mengenai dirilah yang justru membuat seseorang menjadi berhasil atau tidak. Darimana keyakinan mengenai diri itu terbentuk? Dari semua pengalaman yang kita alami yang akhirnya diberi makna dan disederhanakan menjadi sebuah definisi diri.  Belief terbentuk dari pengalaman masa lalu, hal-hal yang kita alami baik atau buruk, keyakinan yang ditanamkan oleh orang tua, orang yang lebih berpengaruh atau budaya masyarakat dan bahkan agama. Belief merupakan sebuah persepsi mengenai sesuatu yang dengan sengaja dipilih sebagai kebenaran.  Karena belief terbentuk dari persepsi atas pengalaman, maka setiap orang bisa mempunyai belief yang berbeda meskipun mengalami hal yang sama. Lalu, apa kaitan belief dengan penyembuhan diri sendiri (self healing)?  Pertama, bisa atau tidaknya melakukan self healing tergantung dari seberapa yakin Anda bisa melakukannya. Kedua, bisa atau tidaknya Anda membantu orang lain untuk melakukan self healing tergantung dari seberapa yakin Anda bisa melakukannya, dan seberapa yakin orang itu terhadap kemampuan Anda. Ketiga, efektif atau tidaknya self healing yang dilakukan, tergantung dari seberapa yakin Anda terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang telah menciptakan seluruh dunia beserta isinya.  Tujuan dari self healing sendiri adalah untuk memahami diri sendiri, menerima ketidaksempurnaan, dan membentuk pikiran positif dari apa yang telah terjadi. Ketika berhasil melakukan self healing, maka kita akan menjadi pribadi yang lebih tegar dalam menghadapi kesulitan, kegagalan, dan trauma di masa lalu.  Bagaimana melakukan self healing?  1. Self  acceptance atau menerima diri sendiri  Permasalahan yang sering terjadi adalah kita tidak bisa menerima diri sendiri apa adanya. Justru kita ingin menjadi orang lain. Luangkan waktu sejenak untuk menerima diri sendiri apa adanya, dengan sisi baik dan buruk kita, dengan kegagalan dan kesalahan masa lalu kita. Hal seperti itulah yang dibutuhkan untuk melakukan self healing.   2. Maafkan diri sendiri  Memaafkan orang lain atas apa pun yang telah mereka lakukan memang sulit, tetapi dengan cara ini, kita bisa melepaskan apa yang telah terjadi dan melanjutkan hidup tanpa beban masa lalu. Hal yang sama berlaku untuk diri sendiri ketika melakukan kesalahan. Jangan membawa beban emosional itu di masa depan karena tidak ada gunanya. Itu hanya akan mencegah kita untuk hidup bahagia.  3. Melakukan kegiatan yang positif  Ketika mulai melakukan self healing, penting untuk menyaring hal-hal negatif yang dapat menyebabkan stres. Dibutuhkan upaya nyata untuk memerangi hal tersebut. Hindari menonton berita, membaca koran, atau mengakses sosial media untuk sesuatu yang tidak perlu. Cobalah untuk melakukan kegiatan positif, seperti baca buku atau mendengarkan musik yang ceria secara rutin karena secara tidak langsung otak akan mengirim pesan positif yang dapat meningkatkan mood dan mendukung proses self healing.    Referensi : Bagaimana Diri Mengobati Luka
Selama ini otak hanya digunakan untuk problem solving, mempelajari pengetahuan atau berhitung. Sementara, yang terkait dengan perasaan, emosi, feeling semuanya ada di hati. Ternyata itu salah besar.

Semua yang dirasakan di dada dalam bentuk emosi yang campur aduk, perasaan marah, benci bahkan cinta ternyata adalah produk dari otak. Semua itu adalah produk dari sebuah proses berpikir. Ya. Semua itu adalah bukti bahwa pikiran dan tubuh adalah satu kesatuan. Karena, pikiran dan tubuh adalah satu kesatuan, maka banyak pula penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh pikiran. Maag, asam urat, diabetes, kolesterol, stroke, jantung semua adalah akibat dari beban pikiran yang terakumulasi sehingga mengganggu fungsi kerja organ tubuh. Meskipun ada juga penyakit yang disebabkan oleh virus atau bakteri dari luar tubuh, ternyata lemahnya sistem imunitas dalam melawan segala parasit dari luar ternyata juga diakibatkan oleh pikiran.

Ketika lelah dan stres, sistem imunitas melemah. Ketika bahagia, sistem imunitas meningkat. Itu adalah bukti bahwa pikiran dan tubuh adalah satu kesatuan.

Fakta bahwa pikiran dan tubuh adalah satu kesatuan, maka kita dapat menggunakan pikiran kita untuk melakukan proses penyembuhan secara mandiri (self-healing). Tentu saja dengan memikirkan hal-hal yang positif, sugestif dan bermanfaat untuk membuat tubuh lebih sehat dan lebih imun terhadap segala jenis penyakit.

Keyakinan (belief) mengenai dirilah yang justru membuat seseorang menjadi berhasil atau tidak. Darimana keyakinan mengenai diri itu terbentuk? Dari semua pengalaman yang kita alami yang akhirnya diberi makna dan disederhanakan menjadi sebuah definisi diri.

Belief terbentuk dari pengalaman masa lalu, hal-hal yang kita alami baik atau buruk, keyakinan yang ditanamkan oleh orang tua, orang yang lebih berpengaruh atau budaya masyarakat dan bahkan agama. Belief merupakan sebuah persepsi mengenai sesuatu yang dengan sengaja dipilih sebagai kebenaran.

Karena belief terbentuk dari persepsi atas pengalaman, maka setiap orang bisa mempunyai belief yang berbeda meskipun mengalami hal yang sama. Lalu, apa kaitan belief dengan penyembuhan diri sendiri (self healing)?

Pertama, bisa atau tidaknya melakukan self healing tergantung dari seberapa yakin Anda bisa melakukannya. Kedua, bisa atau tidaknya Anda membantu orang lain untuk melakukan self healing tergantung dari seberapa yakin Anda bisa melakukannya, dan seberapa yakin orang itu terhadap kemampuan Anda. Ketiga, efektif atau tidaknya self healing yang dilakukan, tergantung dari seberapa yakin Anda terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang telah menciptakan seluruh dunia beserta isinya.

Tujuan dari self healing sendiri adalah untuk memahami diri sendiri, menerima ketidaksempurnaan, dan membentuk pikiran positif dari apa yang telah terjadi. Ketika berhasil melakukan self healing, maka kita akan menjadi pribadi yang lebih tegar dalam menghadapi kesulitan, kegagalan, dan trauma di masa lalu.

Bagaimana melakukan self healing?

1. Self  acceptance atau menerima diri sendiri

Permasalahan yang sering terjadi adalah kita tidak bisa menerima diri sendiri apa adanya. Justru kita ingin menjadi orang lain. Luangkan waktu sejenak untuk menerima diri sendiri apa adanya, dengan sisi baik dan buruk kita, dengan kegagalan dan kesalahan masa lalu kita. Hal seperti itulah yang dibutuhkan untuk melakukan self healing.

2. Maafkan diri sendiri

Memaafkan orang lain atas apa pun yang telah mereka lakukan memang sulit, tetapi dengan cara ini, kita bisa melepaskan apa yang telah terjadi dan melanjutkan hidup tanpa beban masa lalu. Hal yang sama berlaku untuk diri sendiri ketika melakukan kesalahan. Jangan membawa beban emosional itu di masa depan karena tidak ada gunanya. Itu hanya akan mencegah kita untuk hidup bahagia.

3. Melakukan kegiatan yang positif

Ketika mulai melakukan self healing, penting untuk menyaring hal-hal negatif yang dapat menyebabkan stres. Dibutuhkan upaya nyata untuk memerangi hal tersebut. Hindari menonton berita, membaca koran, atau mengakses sosial media untuk sesuatu yang tidak perlu. Cobalah untuk melakukan kegiatan positif, seperti baca buku atau mendengarkan musik yang ceria secara rutin karena secara tidak langsung otak akan mengirim pesan positif yang dapat meningkatkan mood dan mendukung proses self healing.


Referensi : Bagaimana Diri Mengobati Luka



Saran Pakar Menyembuhkan Hati Luka karena Putus Cinta Saat Pandemi

Saran Pakar Menyembuhkan Hati Luka karena Putus Cinta Saat PandemiProses Penyembuhan Luka Batin yang Wajib Diketahui, Cegah Depresi Putus cinta sulit dinavigasi dalam situasi terbaik, tetapi perpisahan selama pandemi, di mana ketegangan sudah memuncak dengan orang-orang merasa terjebak, takut, dan kesepian, bahkan lebih sulit untuk ditangani. “Putus cinta tidak pernah mudah, tetapi putus cinta selama pandemi menambah keterasingan dan kesedihan yang sudah dirasakan banyak orang,”.  Jika saat ini Anda sedang mengalami putus cinta (atau mengantisipasinya dalam waktu dekat) selama pandemi ini, percayalah bahwa Anda tidak sendirian dan akan mengatasinya. Untuk membantu Anda melakukannya, berikut adalah tujuh tips tentang cara menyembuhkan sakit hati Anda di tengah masa yang penuh tantangan ini.  1. Buat jarak dari mantan Anda Langkah pertama meyembuhkan luka putus cinta saat pandemi adalah memastikan Anda tidak jatuh ke perangkap kembali ke mantan karena Anda takut akan kesepian dalam hidup yang terkunci. “Setelah putus, penting untuk memutuskan semua komunikasi dengan mantan Anda — setidaknya untuk sementara,” kata Wood. "Terus berkomunikasi mengaburkan garis sementara emosi masih sangat rapuh."  Untuk menjaga agar garis-garis itu jelas, tetapkan batasan yang masuk akal untuk ditegakkan mengingat spesifikasi situasi Anda. Mungkin itu berarti memblokir nomor mereka atau berhenti mengikuti mereka di media sosial sampai pemberitahuan lebih lanjut, atau mungkin itu berarti sesuatu yang lain. Batasan yang Anda tetapkan harus meningkatkan jarak virtual dan fisik dan memungkinkan Anda memulai proses penyembuhan.  2. Singkirkan pengingat materi tentang mantan Anda Terutama jika Anda dikarantina atau tinggal dengan pasangan Anda, Anda pasti ingin membersihkan rumah Anda dari apa pun dari hubungan yang dapat menghalangi Anda untuk sembuh. Menurut Wood, ini adalah langkah kunci kedua karena "lingkungan Anda dapat berdampak signifikan pada emosi Anda." Untuk menjernihkan pikiran dan ruang Anda, dia menyarankan untuk menghapus barang mantan Anda dari ruang, dan menyingkirkan barang lain yang mengingatkan Anda tentang mereka. 3. Atasi perasaan Anda Tidak peduli apa yang terjadi antara Anda dan mantan, biarkan diri Anda memproses situasinya daripada menekannya. "Anda diizinkan untuk terluka, sedih, tidak yakin, marah atau kesal," kata Wood. "Beri diri Anda waktu untuk mendukakan hubungan dan rahmat untuk tertawa, menangis, dan menunjukkan berbagai emosi yang Anda rasakan." Setelah memproses perpisahan, usahakan untuk mencapai tujuan penerimaan. “Terima apa dulu dan apa adanya,” kata Wood. “Tidak ada kemarahan atau harapan yang bisa mengubah masa lalu. Satu-satunya hal yang Anda ubah adalah cara Anda melihat situasinya dan bagaimana Anda akan bergerak maju. " Dari sana, Anda bisa berusaha memaafkan diri sendiri, mantan, dan faktor lain apa pun yang mungkin menyebabkan putusnya hubungan. “Memaafkan adalah pernyataan pada diri sendiri bahwa Anda tidak akan membiarkan situasi atau mantan Anda mendikte keputusan Anda dan bagaimana Anda akan bergerak [pada],” Wood menambahkan.  4. Jaga dirimu Latikukan self-care sebaik mungkin. “Buat daftar keterampilan perawatan diri dan bertujuan untuk melakukannya setidaknya sekali sehari,” kata psikoterapis yang berbasis di Boston, Angela Ficken, LICSW. Dia merekomendasikan membuat jurnal, mandi, mengulangi mantra penyembuhan, atau membuat daftar putar musik untuk membantu Anda mengatasi emosi apa pun yang Anda rasakan saat itu. “Langkah-langkah kecil ini bisa sangat bermanfaat jika hati Anda berat,” katanya. Jangan lupakan kesehatan fisik Anda juga. “Sistem saraf kita pada dasarnya mengalami penarikan diri dari tidak lagi terikat secara fisiologis dengan mantan-tidak peduli seberapa sehat atau tidak sehatnya hubungan itu,” kata terapis pernikahan dan keluarga berlisensi Indigo Stray Conger, LMFT. “Pastikan Anda menumbuhkan rutinitas sinar matahari, olahraga sedang, dan pola makan yang bergizi dan konsisten. Ketika tubuh Anda diurus, hati dan jiwa Anda akan mengikuti.  Banyak dari aktivitas pra-pandemi favorit kami mungkin tidak aman untuk dilakukan saat ini, jadi cobalah mencari pengganti yang aman dan berjarak secara sosial. Jika Anda sulit menemukan motivasi untuk berolahraga di tengah sakit hati, dia menyarankan untuk merekrut seorang teman yang dapat Anda ajak berjalan-jalan atau mendaki gunung yang jauh secara sosial. Sedangkan untuk sinar matahari, Anda dapat membeli lampu bahagia untuk membantu melindungi Anda dari gejala gangguan afektif musiman selama bulan-bulan gelap.  5. Berhubungan kembali dengan orang yang dicintai “Pasangan kita bisa menjadi sahabat kita, dan putus cinta bisa mengguncang kepercayaan kita pada diri kita sendiri dan orang lain,” kata Wood. “Gabungkan semua itu dengan pandemi, dan mudah untuk merasa sendirian dan kehilangan kepercayaan dalam banyak hal.” Bergerak maju dalam penyembuhan dengan berhubungan kembali dengan teman, keluarga, dan orang lain yang Anda tahu dapat Anda andalkan saat Anda membutuhkannya. "Melibatkan orang yang mencintai Anda dalam proses penyembuhan Anda, bahkan dari kejauhan atau melalui Zoom, bisa sangat membantu dalam mengurangi pikiran dan kesedihan yang tidak rasional," kata Conger. Ini juga dapat membantu memperkuat hubungan Anda yang lain yang mungkin telah membara sebelum Anda putus.  6. Jangkau dukungan  “Karena kita sudah lebih terisolasi selama pandemi, dengan kebanyakan dari kita menerima kontak langsung dan sentuhan fisik yang jauh lebih sedikit, berurusan dengan perpisahan membuat Anda lebih rentan terhadap depresi dan isolasi,” kata Conger. “Beri tahu teman dan keluarga Anda bagaimana mereka dapat membantu, baik dengan membongkar urusan praktis atau menelepon tengah malam untuk mendapatkan dukungan emosional. Orang yang Anda cintai ingin membantu Anda, dan sangat penting bahwa Anda tidak sendirian selama masa kesedihan ini. "  Tidak ingin curhat ke teman Anda? Pertimbangkan untuk mengatasi perpisahan Anda selama pandemi dengan bantuan ahli kesehatan mental. "Mulailah menemui terapis," kata Ficken, "atau, jika Anda sudah memiliki terapis, pertimbangkan untuk meningkatkan jumlah sesi yang Anda lakukan selama jangka waktu tertentu untuk membantu meredam suasana hati Anda."  7. Renungkan pengalaman Pelajaran apa yang dapat Anda ambil dari perpisahan ini? Apakah Anda melompat terlalu cepat ke dalam hubungan karena takut mengalami pandemi sendirian? Apakah Anda lebih suka menemukan orang lain yang lebih cocok dengan Anda? "Belajar dari perpisahan dengan melihat situasi secara objektif dan jujur pada diri sendiri," kata Wood. "Gunakan perpisahan sebagai kesempatan untuk memeriksa kebutuhan Anda dan memahami motivasi Anda." Dia menyarankan melakukannya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut untuk diri Anda sendiri: Apakah ada tanda atau perasaan yang Anda lihat tapi diabaikan? Apa yang Anda pelajari tentang diri Anda sebagai individu dan sebagai mitra? Akibatnya, apa yang akan Anda lakukan secara berbeda dalam hubungan Anda selanjutnya?  Apa yang Anda toleransi dalam hubungan ini sehingga Anda tidak akan maju? Wawasan yang Anda kumpulkan dari menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantu Anda lebih memahami situasinya dan membawa Anda ke hubungan yang lebih sehat setelah Anda akhirnya siap untuk kembali keluar dan mulai berkencan lagi. Ketika saatnya tiba, semoga ada banyak orang yang sama siapnya untuk menemukan hubungan yang otentik dan bermakna seperti Anda selama masa yang menantang ini.   Referensi : Saran Pakar Menyembuhkan Hati Luka karena Putus Cinta Saat PandemiProses Penyembuhan Luka Batin yang Wajib Diketahui, Cegah Depresi Putus cinta sulit dinavigasi dalam situasi terbaik, tetapi perpisahan selama pandemi, di mana ketegangan sudah memuncak dengan orang-orang merasa terjebak, takut, dan kesepian, bahkan lebih sulit untuk ditangani. “Putus cinta tidak pernah mudah, tetapi putus cinta selama pandemi menambah keterasingan dan kesedihan yang sudah dirasakan banyak orang,”. Jika saat ini Anda sedang mengalami putus cinta (atau mengantisipasinya dalam waktu dekat) selama pandemi ini, percayalah bahwa Anda tidak sendirian dan akan mengatasinya. Untuk membantu Anda melakukannya, berikut adalah tujuh tips tentang cara menyembuhkan sakit hati Anda di tengah masa yang penuh tantangan ini.  1. Buat jarak dari mantan Anda Langkah pertama meyembuhkan luka putus cinta saat pandemi adalah memastikan Anda tidak jatuh ke perangkap kembali ke mantan karena Anda takut akan kesepian dalam hidup yang terkunci. “Setelah putus, penting untuk memutuskan semua komunikasi dengan mantan Anda. Setidaknya untuk sementara,” kata Wood. "Terus berkomunikasi mengaburkan garis sementara emosi masih sangat rapuh."  Untuk menjaga agar garis-garis itu jelas, tetapkan batasan yang masuk akal untuk ditegakkan mengingat spesifikasi situasi Anda. Mungkin itu berarti memblokir nomor mereka atau berhenti mengikuti mereka di media sosial sampai pemberitahuan lebih lanjut, atau mungkin itu berarti sesuatu yang lain. Batasan yang Anda tetapkan harus meningkatkan jarak virtual dan fisik dan memungkinkan Anda memulai proses penyembuhan.  2. Singkirkan pengingat materi tentang mantan Anda Terutama jika Anda dikarantina atau tinggal dengan pasangan Anda, Anda pasti ingin membersihkan rumah Anda dari apa pun dari hubungan yang dapat menghalangi Anda untuk sembuh. Menurut Wood, ini adalah langkah kunci kedua karena "lingkungan Anda dapat berdampak signifikan pada emosi Anda." Untuk menjernihkan pikiran dan ruang Anda, dia menyarankan untuk menghapus barang mantan Anda dari ruang, dan menyingkirkan barang lain yang mengingatkan Anda tentang mereka. 3. Atasi perasaan Anda Tidak peduli apa yang terjadi antara Anda dan mantan, biarkan diri Anda memproses situasinya daripada menekannya. "Anda diizinkan untuk terluka, sedih, tidak yakin, marah atau kesal," kata Wood. "Beri diri Anda waktu untuk mendukakan hubungan dan rahmat untuk tertawa, menangis, dan menunjukkan berbagai emosi yang Anda rasakan." Setelah memproses perpisahan, usahakan untuk mencapai tujuan penerimaan. “Terima apa dulu dan apa adanya,” kata Wood. “Tidak ada kemarahan atau harapan yang bisa mengubah masa lalu. Satu-satunya hal yang Anda ubah adalah cara Anda melihat situasinya dan bagaimana Anda akan bergerak maju. " Dari sana, Anda bisa berusaha memaafkan diri sendiri, mantan, dan faktor lain apa pun yang mungkin menyebabkan putusnya hubungan. “Memaafkan adalah pernyataan pada diri sendiri bahwa Anda tidak akan membiarkan situasi atau mantan Anda mendikte keputusan Anda dan bagaimana Anda akan bergerak [pada],” Wood menambahkan.  4. Jaga dirimu Latikukan self-care sebaik mungkin. “Buat daftar keterampilan perawatan diri dan bertujuan untuk melakukannya setidaknya sekali sehari,” kata psikoterapis yang berbasis di Boston, Angela Ficken, LICSW. Dia merekomendasikan membuat jurnal, mandi, mengulangi mantra penyembuhan, atau membuat daftar putar musik untuk membantu Anda mengatasi emosi apa pun yang Anda rasakan saat itu. “Langkah-langkah kecil ini bisa sangat bermanfaat jika hati Anda berat,” katanya. Jangan lupakan kesehatan fisik Anda juga. “Sistem saraf kita pada dasarnya mengalami penarikan diri dari tidak lagi terikat secara fisiologis dengan mantan-tidak peduli seberapa sehat atau tidak sehatnya hubungan itu,” kata terapis pernikahan dan keluarga berlisensi Indigo Stray Conger, LMFT. “Pastikan Anda menumbuhkan rutinitas sinar matahari, olahraga sedang, dan pola makan yang bergizi dan konsisten. Ketika tubuh Anda diurus, hati dan jiwa Anda akan mengikuti.  Banyak dari aktivitas pra-pandemi favorit kami mungkin tidak aman untuk dilakukan saat ini, jadi cobalah mencari pengganti yang aman dan berjarak secara sosial. Jika Anda sulit menemukan motivasi untuk berolahraga di tengah sakit hati, dia menyarankan untuk merekrut seorang teman yang dapat Anda ajak berjalan-jalan atau mendaki gunung yang jauh secara sosial. Sedangkan untuk sinar matahari, Anda dapat membeli lampu bahagia untuk membantu melindungi Anda dari gejala gangguan afektif musiman selama bulan-bulan gelap.  5. Berhubungan kembali dengan orang yang dicintai “Pasangan kita bisa menjadi sahabat kita, dan putus cinta bisa mengguncang kepercayaan kita pada diri kita sendiri dan orang lain,” kata Wood. “Gabungkan semua itu dengan pandemi, dan mudah untuk merasa sendirian dan kehilangan kepercayaan dalam banyak hal.” Bergerak maju dalam penyembuhan dengan berhubungan kembali dengan teman, keluarga, dan orang lain yang Anda tahu dapat Anda andalkan saat Anda membutuhkannya. "Melibatkan orang yang mencintai Anda dalam proses penyembuhan Anda, bahkan dari kejauhan atau melalui Zoom, bisa sangat membantu dalam mengurangi pikiran dan kesedihan yang tidak rasional," kata Conger. Ini juga dapat membantu memperkuat hubungan Anda yang lain yang mungkin telah membara sebelum Anda putus.  6. Jangkau dukungan  “Karena kita sudah lebih terisolasi selama pandemi, dengan kebanyakan dari kita menerima kontak langsung dan sentuhan fisik yang jauh lebih sedikit, berurusan dengan perpisahan membuat Anda lebih rentan terhadap depresi dan isolasi,” kata Conger. “Beri tahu teman dan keluarga Anda bagaimana mereka dapat membantu, baik dengan membongkar urusan praktis atau menelepon tengah malam untuk mendapatkan dukungan emosional. Orang yang Anda cintai ingin membantu Anda, dan sangat penting bahwa Anda tidak sendirian selama masa kesedihan ini. "  Tidak ingin curhat ke teman Anda? Pertimbangkan untuk mengatasi perpisahan Anda selama pandemi dengan bantuan ahli kesehatan mental. "Mulailah menemui terapis," kata Ficken, "atau, jika Anda sudah memiliki terapis, pertimbangkan untuk meningkatkan jumlah sesi yang Anda lakukan selama jangka waktu tertentu untuk membantu meredam suasana hati Anda."  7. Renungkan pengalaman Pelajaran apa yang dapat Anda ambil dari perpisahan ini? Apakah Anda melompat terlalu cepat ke dalam hubungan karena takut mengalami pandemi sendirian? Apakah Anda lebih suka menemukan orang lain yang lebih cocok dengan Anda? "Belajar dari perpisahan dengan melihat situasi secara objektif dan jujur pada diri sendiri," kata Wood. "Gunakan perpisahan sebagai kesempatan untuk memeriksa kebutuhan Anda dan memahami motivasi Anda." Dia menyarankan melakukannya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut untuk diri Anda sendiri: Apakah ada tanda atau perasaan yang Anda lihat tapi diabaikan? Apa yang Anda pelajari tentang diri Anda sebagai individu dan sebagai mitra? Akibatnya, apa yang akan Anda lakukan secara berbeda dalam hubungan Anda selanjutnya?  Apa yang Anda toleransi dalam hubungan ini sehingga Anda tidak akan maju? Wawasan yang Anda kumpulkan dari menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantu Anda lebih memahami situasinya dan membawa Anda ke hubungan yang lebih sehat setelah Anda akhirnya siap untuk kembali keluar dan mulai berkencan lagi. Ketika saatnya tiba, semoga ada banyak orang yang sama siapnya untuk menemukan hubungan yang otentik dan bermakna seperti Anda selama masa yang menantang ini.   Referensi : Saran Pakar Menyembuhkan Hati Luka karena Putus Cinta Saat Pandemi. Saran Pakar Menyembuhkan Hati Luka karena Putus Cinta Saat PandemiProses Penyembuhan Luka Batin yang Wajib Diketahui, Cegah Depresi Putus cinta sulit dinavigasi dalam situasi terbaik, tetapi perpisahan selama pandemi, di mana ketegangan sudah memuncak dengan orang-orang merasa terjebak, takut, dan kesepian, bahkan lebih sulit untuk ditangani. “Putus cinta tidak pernah mudah, tetapi putus cinta selama pandemi menambah keterasingan dan kesedihan yang sudah dirasakan banyak orang,”.  Jika saat ini Anda sedang mengalami putus cinta (atau mengantisipasinya dalam waktu dekat) selama pandemi ini, percayalah bahwa Anda tidak sendirian dan akan mengatasinya. Untuk membantu Anda melakukannya, berikut adalah tujuh tips tentang cara menyembuhkan sakit hati Anda di tengah masa yang penuh tantangan ini.  1. Buat jarak dari mantan Anda Langkah pertama meyembuhkan luka putus cinta saat pandemi adalah memastikan Anda tidak jatuh ke perangkap kembali ke mantan karena Anda takut akan kesepian dalam hidup yang terkunci. “Setelah putus, penting untuk memutuskan semua komunikasi dengan mantan Anda — setidaknya untuk sementara,” kata Wood. "Terus berkomunikasi mengaburkan garis sementara emosi masih sangat rapuh."  Untuk menjaga agar garis-garis itu jelas, tetapkan batasan yang masuk akal untuk ditegakkan mengingat spesifikasi situasi Anda. Mungkin itu berarti memblokir nomor mereka atau berhenti mengikuti mereka di media sosial sampai pemberitahuan lebih lanjut, atau mungkin itu berarti sesuatu yang lain. Batasan yang Anda tetapkan harus meningkatkan jarak virtual dan fisik dan memungkinkan Anda memulai proses penyembuhan.  2. Singkirkan pengingat materi tentang mantan Anda Terutama jika Anda dikarantina atau tinggal dengan pasangan Anda, Anda pasti ingin membersihkan rumah Anda dari apa pun dari hubungan yang dapat menghalangi Anda untuk sembuh. Menurut Wood, ini adalah langkah kunci kedua karena "lingkungan Anda dapat berdampak signifikan pada emosi Anda." Untuk menjernihkan pikiran dan ruang Anda, dia menyarankan untuk menghapus barang mantan Anda dari ruang, dan menyingkirkan barang lain yang mengingatkan Anda tentang mereka. 3. Atasi perasaan Anda Tidak peduli apa yang terjadi antara Anda dan mantan, biarkan diri Anda memproses situasinya daripada menekannya. "Anda diizinkan untuk terluka, sedih, tidak yakin, marah atau kesal," kata Wood. "Beri diri Anda waktu untuk mendukakan hubungan dan rahmat untuk tertawa, menangis, dan menunjukkan berbagai emosi yang Anda rasakan." Setelah memproses perpisahan, usahakan untuk mencapai tujuan penerimaan. “Terima apa dulu dan apa adanya,” kata Wood. “Tidak ada kemarahan atau harapan yang bisa mengubah masa lalu. Satu-satunya hal yang Anda ubah adalah cara Anda melihat situasinya dan bagaimana Anda akan bergerak maju. " Dari sana, Anda bisa berusaha memaafkan diri sendiri, mantan, dan faktor lain apa pun yang mungkin menyebabkan putusnya hubungan. “Memaafkan adalah pernyataan pada diri sendiri bahwa Anda tidak akan membiarkan situasi atau mantan Anda mendikte keputusan Anda dan bagaimana Anda akan bergerak [pada],” Wood menambahkan.  4. Jaga dirimu Latikukan self-care sebaik mungkin. “Buat daftar keterampilan perawatan diri dan bertujuan untuk melakukannya setidaknya sekali sehari,” kata psikoterapis yang berbasis di Boston, Angela Ficken, LICSW. Dia merekomendasikan membuat jurnal, mandi, mengulangi mantra penyembuhan, atau membuat daftar putar musik untuk membantu Anda mengatasi emosi apa pun yang Anda rasakan saat itu. “Langkah-langkah kecil ini bisa sangat bermanfaat jika hati Anda berat,” katanya. Jangan lupakan kesehatan fisik Anda juga. “Sistem saraf kita pada dasarnya mengalami penarikan diri dari tidak lagi terikat secara fisiologis dengan mantan-tidak peduli seberapa sehat atau tidak sehatnya hubungan itu,” kata terapis pernikahan dan keluarga berlisensi Indigo Stray Conger, LMFT. “Pastikan Anda menumbuhkan rutinitas sinar matahari, olahraga sedang, dan pola makan yang bergizi dan konsisten. Ketika tubuh Anda diurus, hati dan jiwa Anda akan mengikuti.  Banyak dari aktivitas pra-pandemi favorit kami mungkin tidak aman untuk dilakukan saat ini, jadi cobalah mencari pengganti yang aman dan berjarak secara sosial. Jika Anda sulit menemukan motivasi untuk berolahraga di tengah sakit hati, dia menyarankan untuk merekrut seorang teman yang dapat Anda ajak berjalan-jalan atau mendaki gunung yang jauh secara sosial. Sedangkan untuk sinar matahari, Anda dapat membeli lampu bahagia untuk membantu melindungi Anda dari gejala gangguan afektif musiman selama bulan-bulan gelap.  5. Berhubungan kembali dengan orang yang dicintai “Pasangan kita bisa menjadi sahabat kita, dan putus cinta bisa mengguncang kepercayaan kita pada diri kita sendiri dan orang lain,” kata Wood. “Gabungkan semua itu dengan pandemi, dan mudah untuk merasa sendirian dan kehilangan kepercayaan dalam banyak hal.” Bergerak maju dalam penyembuhan dengan berhubungan kembali dengan teman, keluarga, dan orang lain yang Anda tahu dapat Anda andalkan saat Anda membutuhkannya. "Melibatkan orang yang mencintai Anda dalam proses penyembuhan Anda, bahkan dari kejauhan atau melalui Zoom, bisa sangat membantu dalam mengurangi pikiran dan kesedihan yang tidak rasional," kata Conger. Ini juga dapat membantu memperkuat hubungan Anda yang lain yang mungkin telah membara sebelum Anda putus.  6. Jangkau dukungan  “Karena kita sudah lebih terisolasi selama pandemi, dengan kebanyakan dari kita menerima kontak langsung dan sentuhan fisik yang jauh lebih sedikit, berurusan dengan perpisahan membuat Anda lebih rentan terhadap depresi dan isolasi,” kata Conger. “Beri tahu teman dan keluarga Anda bagaimana mereka dapat membantu, baik dengan membongkar urusan praktis atau menelepon tengah malam untuk mendapatkan dukungan emosional. Orang yang Anda cintai ingin membantu Anda, dan sangat penting bahwa Anda tidak sendirian selama masa kesedihan ini. "  Tidak ingin curhat ke teman Anda? Pertimbangkan untuk mengatasi perpisahan Anda selama pandemi dengan bantuan ahli kesehatan mental. "Mulailah menemui terapis," kata Ficken, "atau, jika Anda sudah memiliki terapis, pertimbangkan untuk meningkatkan jumlah sesi yang Anda lakukan selama jangka waktu tertentu untuk membantu meredam suasana hati Anda."  7. Renungkan pengalaman Pelajaran apa yang dapat Anda ambil dari perpisahan ini? Apakah Anda melompat terlalu cepat ke dalam hubungan karena takut mengalami pandemi sendirian? Apakah Anda lebih suka menemukan orang lain yang lebih cocok dengan Anda? "Belajar dari perpisahan dengan melihat situasi secara objektif dan jujur pada diri sendiri," kata Wood. "Gunakan perpisahan sebagai kesempatan untuk memeriksa kebutuhan Anda dan memahami motivasi Anda." Dia menyarankan melakukannya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut untuk diri Anda sendiri: Apakah ada tanda atau perasaan yang Anda lihat tapi diabaikan? Apa yang Anda pelajari tentang diri Anda sebagai individu dan sebagai mitra? Akibatnya, apa yang akan Anda lakukan secara berbeda dalam hubungan Anda selanjutnya?  Apa yang Anda toleransi dalam hubungan ini sehingga Anda tidak akan maju? Wawasan yang Anda kumpulkan dari menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantu Anda lebih memahami situasinya dan membawa Anda ke hubungan yang lebih sehat setelah Anda akhirnya siap untuk kembali keluar dan mulai berkencan lagi. Ketika saatnya tiba, semoga ada banyak orang yang sama siapnya untuk menemukan hubungan yang otentik dan bermakna seperti Anda selama masa yang menantang ini.   Referensi : Saran Pakar Menyembuhkan Hati Luka karena Putus Cinta Saat PandemiProses Penyembuhan Luka Batin yang Wajib Diketahui, Cegah Depresi
Putus cinta sulit dinavigasi dalam situasi terbaik, tetapi perpisahan selama pandemi, di mana ketegangan sudah memuncak dengan orang-orang merasa terjebak, takut, dan kesepian, bahkan lebih sulit untuk ditangani. “Putus cinta tidak pernah mudah, tetapi putus cinta selama pandemi menambah keterasingan dan kesedihan yang sudah dirasakan banyak orang,”.

Jika saat ini Anda sedang mengalami putus cinta (atau mengantisipasinya dalam waktu dekat) selama pandemi ini, percayalah bahwa Anda tidak sendirian dan akan mengatasinya. Untuk membantu Anda melakukannya, berikut adalah tujuh tips tentang cara menyembuhkan sakit hati Anda di tengah masa yang penuh tantangan ini.

1. Buat jarak dari mantan Anda

Langkah pertama meyembuhkan luka putus cinta saat pandemi adalah memastikan Anda tidak jatuh ke perangkap kembali ke mantan karena Anda takut akan kesepian dalam hidup yang terkunci. “Setelah putus, penting untuk memutuskan semua komunikasi dengan mantan Anda. Setidaknya untuk sementara,” kata Wood. "Terus berkomunikasi mengaburkan garis sementara emosi masih sangat rapuh."

Untuk menjaga agar garis-garis itu jelas, tetapkan batasan yang masuk akal untuk ditegakkan mengingat spesifikasi situasi Anda. Mungkin itu berarti memblokir nomor mereka atau berhenti mengikuti mereka di media sosial sampai pemberitahuan lebih lanjut, atau mungkin itu berarti sesuatu yang lain. Batasan yang Anda tetapkan harus meningkatkan jarak virtual dan fisik dan memungkinkan Anda memulai proses penyembuhan.

2. Singkirkan pengingat materi tentang mantan Anda
Terutama jika Anda dikarantina atau tinggal dengan pasangan Anda, Anda pasti ingin membersihkan rumah Anda dari apa pun dari hubungan yang dapat menghalangi Anda untuk sembuh. Menurut Wood, ini adalah langkah kunci kedua karena "lingkungan Anda dapat berdampak signifikan pada emosi Anda." Untuk menjernihkan pikiran dan ruang Anda, dia menyarankan untuk menghapus barang mantan Anda dari ruang, dan menyingkirkan barang lain yang mengingatkan Anda tentang mereka.

3. Atasi perasaan Anda
Tidak peduli apa yang terjadi antara Anda dan mantan, biarkan diri Anda memproses situasinya daripada menekannya. "Anda diizinkan untuk terluka, sedih, tidak yakin, marah atau kesal," kata Wood. "Beri diri Anda waktu untuk mendukakan hubungan dan rahmat untuk tertawa, menangis, dan menunjukkan berbagai emosi yang Anda rasakan."

Setelah memproses perpisahan, usahakan untuk mencapai tujuan penerimaan. “Terima apa dulu dan apa adanya,” kata Wood. “Tidak ada kemarahan atau harapan yang bisa mengubah masa lalu. Satu-satunya hal yang Anda ubah adalah cara Anda melihat situasinya dan bagaimana Anda akan bergerak maju. " Dari sana, Anda bisa berusaha memaafkan diri sendiri, mantan, dan faktor lain apa pun yang mungkin menyebabkan putusnya hubungan. “Memaafkan adalah pernyataan pada diri sendiri bahwa Anda tidak akan membiarkan situasi atau mantan Anda mendikte keputusan Anda dan bagaimana Anda akan bergerak [pada],” Wood menambahkan.

4. Jaga dirimu
Latikukan self-care sebaik mungkin. “Buat daftar keterampilan perawatan diri dan bertujuan untuk melakukannya setidaknya sekali sehari,” kata psikoterapis yang berbasis di Boston, Angela Ficken, LICSW. Dia merekomendasikan membuat jurnal, mandi, mengulangi mantra penyembuhan, atau membuat daftar putar musik untuk membantu Anda mengatasi emosi apa pun yang Anda rasakan saat itu. “Langkah-langkah kecil ini bisa sangat bermanfaat jika hati Anda berat,” katanya.

Jangan lupakan kesehatan fisik Anda juga. “Sistem saraf kita pada dasarnya mengalami penarikan diri dari tidak lagi terikat secara fisiologis dengan mantan-tidak peduli seberapa sehat atau tidak sehatnya hubungan itu,” kata terapis pernikahan dan keluarga berlisensi Indigo Stray Conger, LMFT. “Pastikan Anda menumbuhkan rutinitas sinar matahari, olahraga sedang, dan pola makan yang bergizi dan konsisten. Ketika tubuh Anda diurus, hati dan jiwa Anda akan mengikuti.

Banyak dari aktivitas pra-pandemi favorit kami mungkin tidak aman untuk dilakukan saat ini, jadi cobalah mencari pengganti yang aman dan berjarak secara sosial. Jika Anda sulit menemukan motivasi untuk berolahraga di tengah sakit hati, dia menyarankan untuk merekrut seorang teman yang dapat Anda ajak berjalan-jalan atau mendaki gunung yang jauh secara sosial. Sedangkan untuk sinar matahari, Anda dapat membeli lampu bahagia untuk membantu melindungi Anda dari gejala gangguan afektif musiman selama bulan-bulan gelap.

5. Berhubungan kembali dengan orang yang dicintai
“Pasangan kita bisa menjadi sahabat kita, dan putus cinta bisa mengguncang kepercayaan kita pada diri kita sendiri dan orang lain,” kata Wood. “Gabungkan semua itu dengan pandemi, dan mudah untuk merasa sendirian dan kehilangan kepercayaan dalam banyak hal.”

Bergerak maju dalam penyembuhan dengan berhubungan kembali dengan teman, keluarga, dan orang lain yang Anda tahu dapat Anda andalkan saat Anda membutuhkannya. "Melibatkan orang yang mencintai Anda dalam proses penyembuhan Anda, bahkan dari kejauhan atau melalui Zoom, bisa sangat membantu dalam mengurangi pikiran dan kesedihan yang tidak rasional," kata Conger. Ini juga dapat membantu memperkuat hubungan Anda yang lain yang mungkin telah membara sebelum Anda putus.

6. Jangkau dukungan

“Karena kita sudah lebih terisolasi selama pandemi, dengan kebanyakan dari kita menerima kontak langsung dan sentuhan fisik yang jauh lebih sedikit, berurusan dengan perpisahan membuat Anda lebih rentan terhadap depresi dan isolasi,” kata Conger. “Beri tahu teman dan keluarga Anda bagaimana mereka dapat membantu, baik dengan membongkar urusan praktis atau menelepon tengah malam untuk mendapatkan dukungan emosional. Orang yang Anda cintai ingin membantu Anda, dan sangat penting bahwa Anda tidak sendirian selama masa kesedihan ini. "

Tidak ingin curhat ke teman Anda? Pertimbangkan untuk mengatasi perpisahan Anda selama pandemi dengan bantuan ahli kesehatan mental. "Mulailah menemui terapis," kata Ficken, "atau, jika Anda sudah memiliki terapis, pertimbangkan untuk meningkatkan jumlah sesi yang Anda lakukan selama jangka waktu tertentu untuk membantu meredam suasana hati Anda."

7. Renungkan pengalaman
Pelajaran apa yang dapat Anda ambil dari perpisahan ini? Apakah Anda melompat terlalu cepat ke dalam hubungan karena takut mengalami pandemi sendirian? Apakah Anda lebih suka menemukan orang lain yang lebih cocok dengan Anda? "Belajar dari perpisahan dengan melihat situasi secara objektif dan jujur pada diri sendiri," kata Wood. "Gunakan perpisahan sebagai kesempatan untuk memeriksa kebutuhan Anda dan memahami motivasi Anda." Dia menyarankan melakukannya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut untuk diri Anda sendiri:

Apakah ada tanda atau perasaan yang Anda lihat tapi diabaikan?
Apa yang Anda pelajari tentang diri Anda sebagai individu dan sebagai mitra?
Akibatnya, apa yang akan Anda lakukan secara berbeda dalam hubungan Anda selanjutnya?


Apa yang Anda toleransi dalam hubungan ini sehingga Anda tidak akan maju?
Wawasan yang Anda kumpulkan dari menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantu Anda lebih memahami situasinya dan membawa Anda ke hubungan yang lebih sehat setelah Anda akhirnya siap untuk kembali keluar dan mulai berkencan lagi. Ketika saatnya tiba, semoga ada banyak orang yang sama siapnya untuk menemukan hubungan yang otentik dan bermakna seperti Anda selama masa yang menantang ini.


Referensi : Saran Pakar Menyembuhkan Hati Luka karena Putus Cinta Saat Pandemi