This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 08 September 2022

Kata-Kata Cinta Islami Bikin Hati Tentram

Perasaan cinta dan sayang menjadi naluri alamiah manusia dengan beragam kisah asmara mereka. Untuk mengungkapkan rasa sayang tersebut lewat sebuah kata-kata cinta bisa dilakukan secara sederhana dan mudah. Terlebih terdapat beragam jenis kata cinta yang bisa dipilih salah satunya kata-kata cinta islami.  Dalam agama Islam, perasaan cinta tak hanya ditunjukkan untuk pasangan melainkan juga kepada seluruh makhluk hidup lainnya baik itu hewan ataupun tumbuhan. Cinta digambarkan sebagai bentuk rasa sayang dan naluri alamiah yang dimiliki manusia serta diberikan kepada makhluk hidup lain. Cinta tersebut menjadi dasar dari sebuah hubungan antar insan manusia dengan lainnya yang dipenuhi rasa kasih sayang.  Makna cinta dalam Al Quran dan hadis telah banyak disebutkan dengan ungkapan yang begitu mendalam. Seringkali makna cinta dalam islam tersebut juga menjadi motivasi, inspirasi setiap muslim menjalin hubungan dengan makhluk hidup lainnya.  Cukup banyak cara mengungkapkan rasa cinta terhadap orang lain dengan ekspresi yang beragam. Misalnya saja lewat sebuah kata-kata cinta islami yang bisa bikin hati tentram, menyejukkan, serta paling menyentuh. Kata-kata cinta islami ini tak hanya bisa diucapkan kepada pasangan melainkan juga bisa diberikan kepada teman, sahabat, ataupun keluarga.  Kata-kata cinta islami ini mengandung makna yang begitu mendalam dan bisa menyentuh hati penerimanya. Tak heran apabila kata-kata cinta islami seperti terdapat dalam beberapa poin di bawah ini bisa dijadikan referensi. Berikut kata-kata cinta islami yang bisa kalian jadikan inspirasi untuk diucapkan kepada orang terkasih.  1. "Cinta bukan hanya sekedar ucapan, namun harus dibarengi dengan pengorbanan. Mencintai dan dicintai itu adalah anugerah terindah dari Allah subhanahu wata'ala."  2. "Ku titipkan cinta ini hanya pada-Mu, jagalah hatiku dan hatinya dari rasa kecewa, hingga waktu itu tiba. Persatukanlah kami dalam restu dan ridho-Mu."  3. "Jika kamu merasa punya allah, lantas mengapa bersedih terlalu lama hanya karena urusan cinta."  4. "Jangan pernah berhenti dalam berharap, karena allah itu lebih tau kapan waktu yang tepat untuk mengabulkan permintaanmu."  5. "Cinta kepada Allah adalah puncaknya cinta. Lembahnya adalah cinta kepada sesama." - Nabi Muhammad SAW  6. "Kalau sayang cukuplah do'akan dunia dan akhirat untuknya, kalau cinta bimbinglah ia ke jalan yang benar. Bukan malah diajak kencan bareng."  7. 'Tetap saling menjaga satu sama lain untuk selalu dekat dengan Allah. Semoga kelak bersama-sama masuk surga."  8. Aku akan memohon kepada Allah untuk berjumpa denganmu dua kali, sekali di dunia ini dan sekali lagi di surga.  9. 'Siapa pun bisa jatuh cinta, tapi hanya orang yang kuat yang akan menjaga cinta itu tetap halal."  10. "Cinta sejati berarti saling membantu untuk menggapai surga, bukan saling berpegangan tangan dan berjalan menuju api neraka."  11. "Cinta sejati tidak berakhir dengan kematian. Jika Allah SWT menghendaki, cinta itu akan berlanjut sampai ke surga."  12. "Pasangan paling bahagia di dunia ini tidak pernah memiliki sifat yang sama. Mereka hanya saling memahami dengan baik tentang perbedaan yang mereka miliki."  13. "Lebih baik kehilangan cinta seseorang karena Allah. Dari pada kehilangan Allah hanya karena cinta seseorang."  14. "Kalau aku mencintai karena Allah, cintamu tak akan pernah mati."  15. Jangan buat seseorang mencintaimu jika kamu tak siap tuk berikan hatimu. Cinta tak berbalas itu menyakitkan.  16. "Cinta kita adalah yang terbaik karena imanku bertambah. Kau membantuku di dunia, dan karena itu aku ingin kembali bertemu denganmu di surga."  17. "Aku mencintaimu itu bukan tanpa alasan, tapi karena kesederhanaanmu yang tiada kutemukan pada orang selain dirimu."  18. "Cobalah saja ucapkan namaku dengan embel-embel nama bapak ku di belakangnya dan diucapkan di depan penghulu beserta saksi kalau memang benar-benar sayang dan cinta."  19. "Jangan pernah mati-matian hanya untuk mengejar sesuatu yang tidak bisa dibawa mati." - Emha Ainun Najib  20. "Kekayaan yang sebenarnya bukan terukur dari banyaknya harta melainkan dari kekayaan hati yang dimiliki oleh setiap insan."  21. "Bila hijrah yang kamu lakukan murni karena Alah SWT, maka kamu akan tetap melangkah meskipun dalam keadaan lelah."  22. "Dipilih karena fisik dan rupa mungkin akan sedikit membanggakan tetapi dipilih karena pondasi agama akan lebih mengagumkan."  23. "Sebenarnya cinta ialah suatu keadaan di mana kebahagiaan orang lain lebih penting dari kebahagiaan diri sendiri."  24. "Bila ingin mendapatkan sesuatu, belajarlah dengan memberi sesuatu."  "25. Hidup bersama siapa adalah suatu pilihan, tetapi hidup untuk Allah adalah suatu keharusan."  26. "Ingatlah Allah saat hidup tak berjalan sesuai keinginanmu. Allah pasti punya jalan yang lebih baik untukmu."  27. "Jangan hanya berterima kasih kepada Allah ketika semuanya berjalan baik, terima kasih kepada-Nya bahkan ketika segala sesuatunya terasa sulit."  28. "Apabila sesuatu yang kau senangi tidak terjadi maka senangilah apa yang terjadi." - Ali bin Abi Thalib  29. "Allah tahu apa yang terbaik buat kamu dan kapan waktu yang tepat untuk kamu memilikinya."  30. "Jangan biarkan cintamu menjadi keterikatan atau kebencianmu menjadi kehancuran." - Umar bin Khattab  31. "Jika kau mencintai seseorang, biarkan ia pergi. Kalau ia kembali, ia adalah milikmu. Bila tidak, ia memang tidak pernah jadi milikmu." - Khalil Gibran  32. "Allah menguji kita dengan sesuatu yang kita cintai, maka janganlah berlebihan mencintainya, agar saat sedih tidak berlebihan."  33. "Orang kuat bukan berarti ia tidak pernah menangis tetapi orang yang terus istikamah dalam menghadapi setiap ujian dan godaan."  34. "Tak pernah terlupa, selalu ku sebut namanya dalam setiap do'aku. Ya Allah jagalah hatinya hanya untukku, meski ada jarak yang memisahkan kita."  35. "Cinta kepada Allah adalah puncaknya cinta. Lembahnya adalah cinta kepada sesama." - Nabi Muhammad SAW  36. "Cinta pada Allah sama seperti cahaya terang. Tanpanya, kamu bagaikan terombang-ambing di lautan kegelapan." - Ibnu Qayyim  37. "Temukan pasangan hidup yang bisa membimbingmu, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat."  38. "Dalam diam, aku memperjuangkan cintamu dalam doaku."  39. "Lelaki yang baik tidak akan bermain-main dengan cinta, sebab dia tahu kata cinta menuntut tanggung jawab."  40. "Mencintai Allah adalah setinggi-tingginya cinta. Sempurnakan cintamu pada Allah sebelum engkau melabuhkan cintamu pada makhluk-Nya."  41. "Orang kuat bukan berarti ia tidak pernah menangis tetapi orang yang terus istikamah dalam menghadapi setiap ujian dan godaan."  42. "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu "padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. - QS. Al Baqarah ayat 216  43. "Tugasmu bukan sekadar mencari cinta, tapi mencari semua penghalang dalam diri yang kau bangun untuk melawannya."  44. "Kalau aku mencintai karena Allah, cintamu tak akan pernah mati."  45. "Seseorang di tanya apa itu cinta? Cinta itu di kala akhir hayat Rasulullah memohon ampun untuk meringankan rasa sakit sakaratul maut yang dirasakan umatnya."  46. "Seperti halnya kamu menginginkan untuk bisa melihat mutiara yang berharga maka kamu harus diam saat kamu tidak mengetahui tanpa mengucapkan sepatah kata yang tidak berarti."  47. "Memang benar cinta tidak akan membuat dunia berputar tetapi cinta yang berputar di dunia bisa membuat perjalanan di dunia sangat berharga."  48. "Bila hijrahmu karena Allah, kamu akan terus melangkah walaupun sudah lelah."  49. "Belajarlah untuk memaafkan, dirimu yang pertama dan kemudian yang lain.  50. "Cinta kepada Allah adalah puncaknya cinta. Lembahnya adalah cinta kepada sesama."  51. "Ayah adalah cinta pertama anak perempuannya."  52. "Hal terindah di dunia ini adalah ketika melihat kedua orangtua tersenyum dan mengetahui bahwa kamu adalah alasan di balik senyuman itu."  53. "Uang bisa dicari, ilmu bisa digali, tapi kesempatan untuk mengasihi orangtua takkan terulang kembali."  54. "Cinta seorang ibu itu menenangkan, cinta seorang ayah itu menguatkan."  55. "Walaupun kamu dapat memberikan bulan dan bintang , dunia dan seluruh isinya, namun itu semua belum cukup untuk membalas kasih sayang, cinta dan pengorbanan seorang ibu."  56. "Hal terindah ketika engkau jatuh cinta, akan tetapi lebih indah jika orang yang kau cintai menyadari cintamu."  57. "Kalaulah aku kumpulkan semua saat-saat gembira dalam hidupku, semuanya tidak akan dapat menyamai indahnya waktu yang aku habiskan bersamamu."  58. "Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamamu." - - HR. Trimidzi, Ahmad dan hakim  59. "Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah itu benar." - Q.S Ar-Rum: 60  60. "Cukup Allah menjadi pendengar setiamu, ketika tidak ada satupun yang percaya dengan apa yang kamu ucapkan."  61. "Jadilah yang terbaik di mata Allah, jadilah yang terburuk di mata diri sendiri, jadilah sederhana di antara manusia."  62. "Dan sesungguhnya DIA lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis." - (QS. 53 : 43)  64. "Cinta itu antara menghalalkan dan meninggalkan karena tuhan, atau tetap bertahan dalam sebuah kemaksiatan."  65. "Terkadang hati dan lisan kita tidak sejalan. Lisan kita meminta yang terbaik, tetapi hati kita meminta yang kita inginkan."  66. "Temukanlah kedamaian dalam diri sendiri dan kamu akan menemukan hubungan sejati dengan orang lain."  67. "Bahkan dalam keadaan gelap, kebahagiaan akan bisa ditemukan. Asal, tidak pernah lupa untuk menyalakan lampu."  68. "Bersabaralah karena Allah SWT mencintai golongan orang-orang yang bersabar."  69. "Jangan terlalu bersedih karena pertolongan akan selalu datang bersama dengan kesabaran." - HR. Ahmad  70. "Jangan pernah menyerah ketika doa doamu belum terjawab karena untuk orang-orang yang bersabar, Allah SWT bahkan akan memberikan yang lebih."  71. "Berdoalah, Allah mendengarmu. Bersabarlah karena Allah akan menjawab doamu pada waktu yang tepat."  72. "Allah selalu menjawab doamu dengan 3 cara. Pertama, langsung mengabulkannya. Kedua, menundanya. Ketiga, menggantinya dengan yang lebih baik untukmu."  73. "Semua manusia tentu tak mau dirinya berlumuran dosa, namun seolah buta ketika dosa itu berwujud cinta."  74. "Saat aku kehilanganmu, maka aku tidak akan jauh-jauh mencarimu. Tapi cukuplah aku mencarimu di dalam lubuk hatiku yang engkau selalu berada di sana."  75. "Aku selalu menghawatirkanmu dari setiap kesedihan yang akan mencuri senyummu."  76. "Aku mencintaimu sepanjang waktu dalam hidupku."  77. "Tidak ada wanita di belakang seorang pria hebat. Wanita itu ada di sampingnya. Ia ada bersamanya, bukan di belakangnya." - Tariq Ramadan  78. "Ketika seorang suami dan istri saling berpandangan dengan penuh cinta, Allah melihat mereka dengan belas kasih." - HR. Bukhari  79. "Tidak ada solusi yang lebih baik bagi dua insan yang saling mencintai dibanding pernikahan." - HR. Ibnu Majah  80. "Jangan berhenti berdoa untuk yang terbaik bagi orang yang kau cintai." - Ali bin Abi Thalib.  Referensi : Kata-Kata Cinta Islami Bikin Hati Tentram
Perasaan cinta dan sayang menjadi naluri alamiah manusia dengan beragam kisah asmara mereka. Untuk mengungkapkan rasa sayang tersebut lewat sebuah kata-kata cinta bisa dilakukan secara sederhana dan mudah. Terlebih terdapat beragam jenis kata cinta yang bisa dipilih salah satunya kata-kata cinta islami.

Dalam agama Islam, perasaan cinta tak hanya ditunjukkan untuk pasangan melainkan juga kepada seluruh makhluk hidup lainnya baik itu hewan ataupun tumbuhan. Cinta digambarkan sebagai bentuk rasa sayang dan naluri alamiah yang dimiliki manusia serta diberikan kepada makhluk hidup lain. Cinta tersebut menjadi dasar dari sebuah hubungan antar insan manusia dengan lainnya yang dipenuhi rasa kasih sayang.

Makna cinta dalam Al Quran dan hadis telah banyak disebutkan dengan ungkapan yang begitu mendalam. Seringkali makna cinta dalam islam tersebut juga menjadi motivasi, inspirasi setiap muslim menjalin hubungan dengan makhluk hidup lainnya.

Cukup banyak cara mengungkapkan rasa cinta terhadap orang lain dengan ekspresi yang beragam. Misalnya saja lewat sebuah kata-kata cinta islami yang bisa bikin hati tentram, menyejukkan, serta paling menyentuh. Kata-kata cinta islami ini tak hanya bisa diucapkan kepada pasangan melainkan juga bisa diberikan kepada teman, sahabat, ataupun keluarga.

Kata-kata cinta islami ini mengandung makna yang begitu mendalam dan bisa menyentuh hati penerimanya. Tak heran apabila kata-kata cinta islami seperti terdapat dalam beberapa poin di bawah ini bisa dijadikan referensi. Berikut kata-kata cinta islami yang bisa kalian jadikan inspirasi untuk diucapkan kepada orang terkasih.

1. "Cinta bukan hanya sekedar ucapan, namun harus dibarengi dengan pengorbanan. Mencintai dan dicintai itu adalah anugerah terindah dari Allah subhanahu wata'ala."

2. "Ku titipkan cinta ini hanya pada-Mu, jagalah hatiku dan hatinya dari rasa kecewa, hingga waktu itu tiba. Persatukanlah kami dalam restu dan ridho-Mu."

3. "Jika kamu merasa punya allah, lantas mengapa bersedih terlalu lama hanya karena urusan cinta."

4. "Jangan pernah berhenti dalam berharap, karena allah itu lebih tau kapan waktu yang tepat untuk mengabulkan permintaanmu."

5. "Cinta kepada Allah adalah puncaknya cinta. Lembahnya adalah cinta kepada sesama." - Nabi Muhammad SAW

6. "Kalau sayang cukuplah do'akan dunia dan akhirat untuknya, kalau cinta bimbinglah ia ke jalan yang benar. Bukan malah diajak kencan bareng."

7. 'Tetap saling menjaga satu sama lain untuk selalu dekat dengan Allah. Semoga kelak bersama-sama masuk surga."

8. Aku akan memohon kepada Allah untuk berjumpa denganmu dua kali, sekali di dunia ini dan sekali lagi di surga.

9. 'Siapa pun bisa jatuh cinta, tapi hanya orang yang kuat yang akan menjaga cinta itu tetap halal."

10. "Cinta sejati berarti saling membantu untuk menggapai surga, bukan saling berpegangan tangan dan berjalan menuju api neraka."

11. "Cinta sejati tidak berakhir dengan kematian. Jika Allah SWT menghendaki, cinta itu akan berlanjut sampai ke surga."

12. "Pasangan paling bahagia di dunia ini tidak pernah memiliki sifat yang sama. Mereka hanya saling memahami dengan baik tentang perbedaan yang mereka miliki."

13. "Lebih baik kehilangan cinta seseorang karena Allah. Dari pada kehilangan Allah hanya karena cinta seseorang."

14. "Kalau aku mencintai karena Allah, cintamu tak akan pernah mati."

15. Jangan buat seseorang mencintaimu jika kamu tak siap tuk berikan hatimu. Cinta tak berbalas itu menyakitkan.

16. "Cinta kita adalah yang terbaik karena imanku bertambah. Kau membantuku di dunia, dan karena itu aku ingin kembali bertemu denganmu di surga."

17. "Aku mencintaimu itu bukan tanpa alasan, tapi karena kesederhanaanmu yang tiada kutemukan pada orang selain dirimu."

18. "Cobalah saja ucapkan namaku dengan embel-embel nama bapak ku di belakangnya dan diucapkan di depan penghulu beserta saksi kalau memang benar-benar sayang dan cinta."

19. "Jangan pernah mati-matian hanya untuk mengejar sesuatu yang tidak bisa dibawa mati." - Emha Ainun Najib

20. "Kekayaan yang sebenarnya bukan terukur dari banyaknya harta melainkan dari kekayaan hati yang dimiliki oleh setiap insan."

21. "Bila hijrah yang kamu lakukan murni karena Alah SWT, maka kamu akan tetap melangkah meskipun dalam keadaan lelah."

22. "Dipilih karena fisik dan rupa mungkin akan sedikit membanggakan tetapi dipilih karena pondasi agama akan lebih mengagumkan."

23. "Sebenarnya cinta ialah suatu keadaan di mana kebahagiaan orang lain lebih penting dari kebahagiaan diri sendiri."

24. "Bila ingin mendapatkan sesuatu, belajarlah dengan memberi sesuatu."

"25. Hidup bersama siapa adalah suatu pilihan, tetapi hidup untuk Allah adalah suatu keharusan."

26. "Ingatlah Allah saat hidup tak berjalan sesuai keinginanmu. Allah pasti punya jalan yang lebih baik untukmu."

27. "Jangan hanya berterima kasih kepada Allah ketika semuanya berjalan baik, terima kasih kepada-Nya bahkan ketika segala sesuatunya terasa sulit."

28. "Apabila sesuatu yang kau senangi tidak terjadi maka senangilah apa yang terjadi." - Ali bin Abi Thalib

29. "Allah tahu apa yang terbaik buat kamu dan kapan waktu yang tepat untuk kamu memilikinya."

30. "Jangan biarkan cintamu menjadi keterikatan atau kebencianmu menjadi kehancuran." - Umar bin Khattab

31. "Jika kau mencintai seseorang, biarkan ia pergi. Kalau ia kembali, ia adalah milikmu. Bila tidak, ia memang tidak pernah jadi milikmu." - Khalil Gibran

32. "Allah menguji kita dengan sesuatu yang kita cintai, maka janganlah berlebihan mencintainya, agar saat sedih tidak berlebihan."

33. "Orang kuat bukan berarti ia tidak pernah menangis tetapi orang yang terus istikamah dalam menghadapi setiap ujian dan godaan."

34. "Tak pernah terlupa, selalu ku sebut namanya dalam setiap do'aku. Ya Allah jagalah hatinya hanya untukku, meski ada jarak yang memisahkan kita."

35. "Cinta kepada Allah adalah puncaknya cinta. Lembahnya adalah cinta kepada sesama." - Nabi Muhammad SAW

36. "Cinta pada Allah sama seperti cahaya terang. Tanpanya, kamu bagaikan terombang-ambing di lautan kegelapan." - Ibnu Qayyim

37. "Temukan pasangan hidup yang bisa membimbingmu, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat."

38. "Dalam diam, aku memperjuangkan cintamu dalam doaku."

39. "Lelaki yang baik tidak akan bermain-main dengan cinta, sebab dia tahu kata cinta menuntut tanggung jawab."

40. "Mencintai Allah adalah setinggi-tingginya cinta. Sempurnakan cintamu pada Allah sebelum engkau melabuhkan cintamu pada makhluk-Nya."

41. "Orang kuat bukan berarti ia tidak pernah menangis tetapi orang yang terus istikamah dalam menghadapi setiap ujian dan godaan."

42. "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu "padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. - QS. Al Baqarah ayat 216

43. "Tugasmu bukan sekadar mencari cinta, tapi mencari semua penghalang dalam diri yang kau bangun untuk melawannya."

44. "Kalau aku mencintai karena Allah, cintamu tak akan pernah mati."

45. "Seseorang di tanya apa itu cinta? Cinta itu di kala akhir hayat Rasulullah memohon ampun untuk meringankan rasa sakit sakaratul maut yang dirasakan umatnya."

46. "Seperti halnya kamu menginginkan untuk bisa melihat mutiara yang berharga maka kamu harus diam saat kamu tidak mengetahui tanpa mengucapkan sepatah kata yang tidak berarti."

47. "Memang benar cinta tidak akan membuat dunia berputar tetapi cinta yang berputar di dunia bisa membuat perjalanan di dunia sangat berharga."

48. "Bila hijrahmu karena Allah, kamu akan terus melangkah walaupun sudah lelah."

49. "Belajarlah untuk memaafkan, dirimu yang pertama dan kemudian yang lain.

50. "Cinta kepada Allah adalah puncaknya cinta. Lembahnya adalah cinta kepada sesama."

51. "Ayah adalah cinta pertama anak perempuannya."

52. "Hal terindah di dunia ini adalah ketika melihat kedua orangtua tersenyum dan mengetahui bahwa kamu adalah alasan di balik senyuman itu."

53. "Uang bisa dicari, ilmu bisa digali, tapi kesempatan untuk mengasihi orangtua takkan terulang kembali."

54. "Cinta seorang ibu itu menenangkan, cinta seorang ayah itu menguatkan."

55. "Walaupun kamu dapat memberikan bulan dan bintang , dunia dan seluruh isinya, namun itu semua belum cukup untuk membalas kasih sayang, cinta dan pengorbanan seorang ibu."

56. "Hal terindah ketika engkau jatuh cinta, akan tetapi lebih indah jika orang yang kau cintai menyadari cintamu."

57. "Kalaulah aku kumpulkan semua saat-saat gembira dalam hidupku, semuanya tidak akan dapat menyamai indahnya waktu yang aku habiskan bersamamu."

58. "Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamamu." - - HR. Trimidzi, Ahmad dan hakim

59. "Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah itu benar." - Q.S Ar-Rum: 60

60. "Cukup Allah menjadi pendengar setiamu, ketika tidak ada satupun yang percaya dengan apa yang kamu ucapkan."

61. "Jadilah yang terbaik di mata Allah, jadilah yang terburuk di mata diri sendiri, jadilah sederhana di antara manusia."

62. "Dan sesungguhnya DIA lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis." - (QS. 53 : 43)

64. "Cinta itu antara menghalalkan dan meninggalkan karena tuhan, atau tetap bertahan dalam sebuah kemaksiatan."

65. "Terkadang hati dan lisan kita tidak sejalan. Lisan kita meminta yang terbaik, tetapi hati kita meminta yang kita inginkan."

66. "Temukanlah kedamaian dalam diri sendiri dan kamu akan menemukan hubungan sejati dengan orang lain."

67. "Bahkan dalam keadaan gelap, kebahagiaan akan bisa ditemukan. Asal, tidak pernah lupa untuk menyalakan lampu."

68. "Bersabaralah karena Allah SWT mencintai golongan orang-orang yang bersabar."

69. "Jangan terlalu bersedih karena pertolongan akan selalu datang bersama dengan kesabaran." - HR. Ahmad

70. "Jangan pernah menyerah ketika doa doamu belum terjawab karena untuk orang-orang yang bersabar, Allah SWT bahkan akan memberikan yang lebih."

71. "Berdoalah, Allah mendengarmu. Bersabarlah karena Allah akan menjawab doamu pada waktu yang tepat."

72. "Allah selalu menjawab doamu dengan 3 cara. Pertama, langsung mengabulkannya. Kedua, menundanya. Ketiga, menggantinya dengan yang lebih baik untukmu."

73. "Semua manusia tentu tak mau dirinya berlumuran dosa, namun seolah buta ketika dosa itu berwujud cinta."

74. "Saat aku kehilanganmu, maka aku tidak akan jauh-jauh mencarimu. Tapi cukuplah aku mencarimu di dalam lubuk hatiku yang engkau selalu berada di sana."

75. "Aku selalu menghawatirkanmu dari setiap kesedihan yang akan mencuri senyummu."

76. "Aku mencintaimu sepanjang waktu dalam hidupku."

77. "Tidak ada wanita di belakang seorang pria hebat. Wanita itu ada di sampingnya. Ia ada bersamanya, bukan di belakangnya." - Tariq Ramadan

78. "Ketika seorang suami dan istri saling berpandangan dengan penuh cinta, Allah melihat mereka dengan belas kasih." - HR. Bukhari

79. "Tidak ada solusi yang lebih baik bagi dua insan yang saling mencintai dibanding pernikahan." - HR. Ibnu Majah

80. "Jangan berhenti berdoa untuk yang terbaik bagi orang yang kau cintai." - Ali bin Abi Thalib.

Referensi : Kata-Kata Cinta Islami Bikin Hati Tentram



Saat Umurku Bertambah, Berkurang Pula Jatah Hidupku di Dunia

Tapi apakah kita sadar bahwa sebenarnya jatah hidup kita di dunia berarti berkurang dan lembaran-lembaran kertas putih itu lama kelamaan akan habis hingga menemukan jilid terakhirnya. Tanda bahwa kita sudah saat nya menutup buku catatan kita selama hidup di dunia dan buku catatan itu lah yang akan jadi saksi perjalanan hidup kita untuk di pertanggung jawabkan di akhirat kelak.  Coba Jika kita ingat kebelakang  apakah kita banyak melakukan yang Allah SWT perintahkan?  Atau bahkan kita justru melupakan tanggung jawab kita di dunia?  Kamu lupa? Komitmen bersama Allah SWT sebelum Ia mengijinkan kamu untuk hidup di dunia? Dia menghadirkan kamu ke dunia bukan tanpa alasan dan perjanjian mu bersama-Nya adalah untuk menyembah-Nya, untuk mencari bekal di dunia agar kelak bisa hidup di syurga nya ALLAH SWT.  Yah, mungkin hanya orang-orang tertentu saja yang ingat akan dosa-dosanya atau bahkan mereka ingat akan dosa nya tapi tidak mau menebusnya dengan alasan nanti, nanti dan nanti.  malaikat tidak kenal kata nanti bukan untuk mencabut nyawamu, apakah kamu sadar bahwa umurmu akan terus bertambah, tapi jatah hidup mu akan terus berkurang jadi kamu masih mau mengulur waktu untuk menebus dosamu?  Kamu tidak pernah tahu kapan waktu mu itu akan berakhir, bisa saja 1 tahun lagi, 1 bulan lagi, 1 minggu lagi, 1 hari lagi, atau bahkan 1 jam lagi. Kamu tidak pernah tau itu bukan? Jadi mengapa masih menunggu nanti, jika sekarang mampu menyicil untuk menghapus dosa dosa mu yang telah lalu, setidaknya tebuslah dosamu dari yang paling kecil.  Kamu tau tidak bahwa apa yang kita kerjakan itu ada sangsinya, ada balasannya, atau sering disebut juga ada karmanya.  Pernah dengar sebuah pepatah?  "Apa yang kau tanam, itulah yang akan kau tuai"  Yah, itu memang pepatah lama tapi pepatah itu seakan melekat di hidup kita, jika kita tanam kebaikan maka Allah swt berjanji akan membalas pula dengan kebaikan, begitupun sebaliknya, jika kita berbuat jahat kepada orang lain maka ALLAH SWT lah yang akan membalasnya pula.  Seperti firman Allah swt di bawah ini:  “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Az Zalzalah: 7-8).  Jadi seberapa banyak bekalmu untuk di akhirat kelak kawan?
Tapi apakah kita sadar bahwa sebenarnya jatah hidup kita di dunia berarti berkurang dan lembaran-lembaran kertas putih itu lama kelamaan akan habis hingga menemukan jilid terakhirnya. Tanda bahwa kita sudah saat nya menutup buku catatan kita selama hidup di dunia dan buku catatan itu lah yang akan jadi saksi perjalanan hidup kita untuk di pertanggung jawabkan di akhirat kelak.

Coba Jika kita ingat kebelakang

apakah kita banyak melakukan yang Allah SWT perintahkan?

Atau bahkan kita justru melupakan tanggung jawab kita di dunia?

Kamu lupa? Komitmen bersama Allah SWT sebelum Ia mengijinkan kamu untuk hidup di dunia? Dia menghadirkan kamu ke dunia bukan tanpa alasan dan perjanjian mu bersama-Nya adalah untuk menyembah-Nya, untuk mencari bekal di dunia agar kelak bisa hidup di syurga nya ALLAH SWT.

Yah, mungkin hanya orang-orang tertentu saja yang ingat akan dosa-dosanya atau bahkan mereka ingat akan dosa nya tapi tidak mau menebusnya dengan alasan nanti, nanti dan nanti.

malaikat tidak kenal kata nanti bukan untuk mencabut nyawamu, apakah kamu sadar bahwa umurmu akan terus bertambah, tapi jatah hidup mu akan terus berkurang jadi kamu masih mau mengulur waktu untuk menebus dosamu?

Kamu tidak pernah tahu kapan waktu mu itu akan berakhir, bisa saja 1 tahun lagi, 1 bulan lagi, 1 minggu lagi, 1 hari lagi, atau bahkan 1 jam lagi. Kamu tidak pernah tau itu bukan? Jadi mengapa masih menunggu nanti, jika sekarang mampu menyicil untuk menghapus dosa dosa mu yang telah lalu, setidaknya tebuslah dosamu dari yang paling kecil.

Kamu tau tidak bahwa apa yang kita kerjakan itu ada sangsinya, ada balasannya, atau sering disebut juga ada karmanya.

Pernah dengar sebuah pepatah?

"Apa yang kau tanam, itulah yang akan kau tuai"

Yah, itu memang pepatah lama tapi pepatah itu seakan melekat di hidup kita, jika kita tanam kebaikan maka Allah swt berjanji akan membalas pula dengan kebaikan, begitupun sebaliknya, jika kita berbuat jahat kepada orang lain maka ALLAH SWT lah yang akan membalasnya pula.

Seperti firman Allah swt di bawah ini:

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Az Zalzalah: 7-8).

Referensi : Saat Umurku Bertambah, Berkurang Pula Jatah Hidupku di Dunia



Janganlah Engkau Sakiti Kedua Orangtuamu

Segala puji bagi Rabb alam semesta, shalawat dan salam atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta.  Saudariku muslimah… Pernahkah engkau memperhatikan seorang anak kecil yang tengah bersama orang tuanya? Atau, ingatlah masa kecilmu dulu sampai masa sekarang.  Ingatlah betapa besar kasih sayang kedua orang tuamu kepadamu. Ingatlah betapa besar perhatian mereka akan tempat tinggalmu, makan dan minummu, pendidikanmu, serta penjagaan mereka pada waktu malam dan siang. Ingatlah betapa besar kekhawatiran mereka ketika engkau sakit hingga pekerjaan yang lain pun mereka tinggalkan demi merawatmu. Uang yang mereka cari dengan susah payah rela mereka keluarkan tanpa pikir panjang demi kesembuhanmu. Ingatlah kerja keras siang malam yang mereka lakukan demi menafkahimu. Niscaya engkau akan mengetahui kadar penderitaan kedua orang tuamu pada waktu mereka membimbing dirimu hingga beranjak dewasa.  Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan di dalam Al qur’an, agar manusia berbakti kepada kedua orang tuanya.  “Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia, dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah mereka keduanya, sebagaimana keduanya telah menyayangi aku waktu kecil.'” (Al Israa’: 23-24)  Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman dalam surat An Nisaa’ ayat 36, “Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, kepada kaum kerabat, kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, kepada tetangga yang dekat, tetangga yang jauh teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan dirinya.” (An Nisaa’: 36)  Jika kita perhatikan, berbuat baik kepada kedua orang tua seperti yang tercantum pada ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua menduduki peringkat kedua setelah mentauhidkan (mengesakan) Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beribadah. Karena itu bisa kita pahami bahwa tidak boleh terjadi bagi seorang yang mengaku bertauhid kepada Allah tetapi ia durhaka kepada kedua orang tuanya, wal iyadzubillah nas alullaha salamah wal ‘afiyah.  Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Menciptakan dan Allah yang Memberikan rizki, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah yang berhak diibadahi. Sedangkan orang tua adalah sebab adanya anak, maka keduanya berhak untuk diperlakukan dengan baik. Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi seorang anak untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian diiringi dengan berbakti kepada kedua orang tuanya.  Saudariku, marilah kita belajar dari mulianya akhlaq para salaf dalam berbakti kepada kedua orang tuanya. Sesungguhnya dari kisah mereka kita dapat mengambil pelajaran yang baik. Dari Ibnu Aun diriwayatkan bahwa ia menceritakan, Seorang lelaki ada yang pernah menemui Muhammad bin Sirin di rumah ibunya. Ia bertanya, “Ada apa dengan Muhammad? Apakah ia sakit?” (karena Muhammad bin Sirin suaranya lirih hampir tak terdengar bila berada di hadapan ibunya. red). Orang-orang di situ menjawab, “Tidak. Cuma demikianlah kondisinya bila berada di rumah ibunya.”  Dari Hisyam bin Hissan, dari Hafshah binti Sirin diriwayatkan bahwa ia menceritakan, “Muhammad, apabila menemui ibunya, tidak pernah berbicara dengannya dengan suara keras demi menghormati ibunya tersebut.”  Dari Ibnu Aun diriwayatkan bahwa ia menceritakan, “Suatu hari ibunya memanggil beliau, namun beliau menyambut panggilan itu dengan suara yang lebih keras dari suara ibunya. Maka beliau segera membebaskan dua orang budak.”  Dari Muhammad bin sirin diriwayatkan bahwa ia menceritakan, pada masa pemerintahan Ustman bin Affan, harga pokok kurma mencapai seribu dirham. Maka Usamah bin Zaid bin Haritsah mengambil dan menebang sebatang pokok kurma dan mencabut umbutnya (yakni bagian di ujung pokok kurma berwarna putih, berlemak berbentuk seperti punuk unta, biasa dimakan bersama madu), lalu diberikan kepada ibunya untuk dimakan. Orang-orang bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau melakukan hal itu, padahal engkau tahu bahwa pokok kurma kini harganya mencapai seribu dirham?” Beliau menjawab, “Ibuku menhendakinya. Setiap ibuku menginginkan sesuatu yang mampu kudapatkan, aku pasti memberikannya.”  Saudariku, andaikan (kelak) kita menjadi orang tua, tidakkah kita akan kecewa dan bersedih hati bila anak kita berkata kasar kepada kita, orang tuanya yang telah membesarkannya. Lalu, apakah kita akan tega melakukannya terhadap orang tua kita saat ini? Mereka yang selalu berusaha meredakan tangis kita ketika kecil. Ingatlah duhai saudariku, doa orang tua terutama ibu adalah doa yang mustajab. Maka janganlah sekali-kali engkau menyakiti hati mereka meskipun engkau dalam pihak yang benar.  Cermatilah kisah berikut ini saudariku…  Dari Abdurrahman bin Ahmad, meriwayatkan dari ayahnya bahwa ada seorang wanita yang datang menemui Baqi’ dan mengatakan, “Sesungguhnya anakku ditawan, dan saya tidak memilki jalan keluar. Bisakah anda menunjukkan orang yang dapat menebusnya; saya sungguh sedih sekali.” Beliau menjawab, “Bisa. Pergilah dahulu, biar aku cermati persoalannya.” Kemudian beliau menundukkan kepalanya dan berkomat-kamit. Tak berapa lama berselang, wanita itu telah datang dengan anak lelakinya tersebut. Si anak bercerita, “Tadi aku masih berada dalam tawanan raja. Ketika saya sedang bekerja paksa, tiba-tiba rantai di tanganku terputus.” Ia menyebutkan hari dan jam di mana kejadian itu terjadi. Ternyata tepat pada waktu Syaih Baqi’ sedang mendoakannya. Anak itu melanjutkan kisahnya, “Maka petugas di penjara segera berteriak. Lalu melihatku dan kebingungan. Kemudian mereka memanggil tukang besi dan kembali merantaiku. Selesai ia merantaiku, akupun berjalan, tiba-tiba rantaiku sudah putus lagi. Mereka pun terbungkam. Mereka lalu memanggil para pendeta mereka. Para pendeta itu bertanya, ‘Apakah engkau memilki ibu?’ Aku menjawab, ‘Iya.’ Mereka pun berujar, ‘mungkin doa ibunya, sehingga terkabul’.”  Kejadian itu diceritakan kembali oleh al Hafizh Hamzah as Sahmi, dari Abul Fath Nashr bin Ahmad bin Abdul Malik. Ia menceritakan, aku pernah mendengar Abdurrahman bin Ahmad menceritakannya pada ayahku, lalu ia menuturkan kisahnya. Namun dalam kisahnya disebutkan, bahwa mereka berkata, “Allah telah membebaskan kamu, maka tidak mungkin lagi bagi kami menawanmu.” Mereka lalu memberiku bekal dan mengantarkan aku pulang.  Saudariku muslimah…  Maukah engkau kuberitahu amalan utama yang dapat membuatmu dicintai Allah? Tidakkah engkau ingin dicintai Allah, saudariku? maka sambutlah hadist berikut ini.  “Dari Abdullah bin Mas’ud katanya: ‘Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal-amal paling utama dan dicintai Allah,’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Pertama shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktu), kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah.'” (HR. Bukhari I/134, Muslim No.85, Fathul Baari 2/9)  Saudariku muslimah…  Tidakkah engkau ingin selalu dalam keridhaan Allah? Maka, jadikanlah kedua orang tuamu ridha kepadamu, sebab keridhaan Allah berada dalam keridhaan kedua orang tuamu. Dan kemurkaan Allah berada dalam kemurkaan kedua orang tuamu. Seandainya ada seorang hamba datang di hari kiamat dengan membawa amal perbuatan seribu orang shiddiq, namun dia durhaka kepada kedua orang tuanya, maka Allah Tabaaraka wa Ta’ala tidak akan melihat amalannya yang begitu banyak walau sedikit pun. Sedangkan tempat kembali orang seperti ini tidak lain adalah neraka. Dan tidak ada seorang hamba laki-laki atau perempuan yang membuat wajah kedua orang tua atau salah satu dari mereka tertawa, kecuali Allah akan mengampuni semua kesalahan dan dosanya. Dan tempat kembali orang seperti ini adalah surga. Tidakkah kita menginginkan surga, saudariku?  Saudariku muslimah…  Sesungguhnya hak-hak kedua orang tuamu atas dirimu lebih besar dan berlipat ganda banyaknya sehingga apapun yang engkau lakukan dan sebesar penderitaan yang engkau rasakan ketika kamu membantu bapak dan ibumu, maka hal itu tidak akan dapat membalas kedua jasanya. Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu melihat seseorang menggendong ibunya untuk thawaf di Ka’bah dan ke mana saja ‘si ibu’ menginginkan, orang tersebut bertanya, “Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku?” Jawab Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu, “Belum, setetes pun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu.” (Shahih Al adabul Mufrad no. 9)  Saudariku muslimah…  Tidakkah engkau ingin diluaskan rizkimu dan dipanjangkan umurmu oleh Allah? Maka perhatikanlah dengan baik sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim.” (HR. Bukhari 7/72, Muslim 2557, Abu dawud 1693)  Saudariku, betapa besar semangat dan bahagianya hati kita ketika silaturrahim kepada teman-teman kita. Perjalanan jauh pun tidak kita anggap sulit. Ketika sudah bersama mereka, waktu seakan berjalan dengan cepat. Lalu, manakah waktu untuk silaturrahim kepada kedua orang tua kita? Beribu alasan pun telah kita siapkan.  Tahukah engkau saudariku, bukankah orang tua adalah keluarga terdekat kita. Maka merekalah yang haknya lebih besar untuk kita dahulukan dalam masalah silaturrahim. Ingatlah pula bahwa merekalah yang selalu berada di sisi kita baik ketika bahagia maupun duka, berkorban dan selalu menolong kita lebih dari teman-teman kita. Lalu, masih enggankah kita membalas segala pengorbanan mereka?  Saudariku muslimah…  Berbuat baik kepada kedua orang tua merupakan sebuah keharusan, bahkan hal ini harus didahulukan daripada fardlu kifayah serta amalan-amalan sunnah lainnya. Didahulukan pula daripada jihad (yang hukumnya fadlu kifayah) dan hijrah di jalan Allah. Pun harus didahulukan daripada berbuat baik kepada istri dan anak-anak. Meski tentu saja hal ini bukan berarti kemudian melalaikan kewajiban terhadap istri dan anak-anak.  Saudariku, taatilah kedua orang tuamu dan janganlah engkau menentang keduanya sedikit pun. Kecuali apabila keduanya memerintahkan padamu berbuat maksiat kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak ada ketaatan bagi makhluk apabila pada saat yang sama bermaksiat kepada Sang Pencipta.” (HR. Ahmad)  “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah tempat kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuannya tentang itu, maka janganlah kamu menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Luqman 14-15)  Sering kali, ketika rasa kecewa telah memenuhi hati kita, kekecewaan yang muncul akibat orang tua yang tidak tahu dan tidak paham akan kebenaran Islam yang sudah kita ketahui, bahkan ketika mereka justru menjadi penghalang bagi kita dalam tafaquh fiddin, kita jadi seakan-akan mempunyai alasan untuk tidak mempergauli mereka dengan baik.  Saudariku, ingatlah bahwa sejelek apapun orang tua kita, kita tetap tidak akan bisa membalas semua jasa-jasanya. Ingatlah, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pun tetap memerintahkan kita untuk mempergauli mereka dengan baik, meskipun mereka telah menyuruh kita berbuat kesyirikan. Ya, yang perlu kita lakukan hanyalah tidak mentaati mereka ketika mereka menyuruh kita untuk bermaksiat kepada Allah dan tetap berlaku baik pada mereka. Lebih dari itu, tidakkah kita ingin agar bisa mereguk kebenaran dan keindahan Islam bersama mereka, saudariku? Tidakkah kita menginginkan kebaikan dan keselamatan bagi mereka sebagaimana mereka yang selalu menginginkan kebaikan dan keselamatan bagi kita? Tidakkah kita ingin agar Allah mempertemukan kita di Jannah-Nya? Karena itu, bersabarlah saudariku. Bersabarlah dalam membimbing dan berdakwah pada mereka sebagaimana mereka selalu sabar dalam membimbing dan mengajari kita dahulu. Jangan pernah putus asa saudariku, batu yang keras sekalipun bisa berlubang karena ditetesi air terus menerus.  Tahukah engkau saudariku, salah satu doa yang mustajab? Yaitu doa dari seorang anak yang shalih untuk orang tuanya. Sambutlah kembali hadiah nabawiyah ini, saudariku.  Dalam hadist Abu Hurairoh radhiyallahu anhu disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila manusia mati, putuslah amalnya kecuali tiga perkara: sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim)  Dari Abu Hurairoh radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah pasti mengangkat derajat bagi hamba-Nya yang shalih ke surga, maka ia bertanya, ‘Ya Allah, bagaimana itu bisa terjadi?’ Allah menjawab, ‘Berkat istigfar anakmu untukmu.'” (HR. Ahmad)  Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kelak akan datang kepada kamu sekalian seseorang bernama Uwais bin ‘Amir, anak muda yang belum tumbuh janggutnya, keturunan Yaman dari kabilah Qarn. Pada tubuhnya terkena penyakit kusta, namun penyakit itu sembuh daripadanya, kecuali tersisa seukuran uang dirham. Dia mempunyai ibu yang ia sangat berbakti kepadanya. Apabila ia berdoa kepada Allah niscaya dikabulkan, maka jika engkau bertemu dengannya dan memungkinkan minta padanya memohonkan ampun untukmu maka lakukanlah.” (HR. Muslim dan Ahmad)  Nah, saudariku. Janganlah engkau enggan untuk berdoa demi kebaikan orang tuamu. Sekeras apapun usaha yang engkau lakukan, bila Allah tidak berkehendak, niscaya tidak akan pernah terwujud. Hanya Allahlah yang mampu Memberi petunjuk dan membukakan pintu hati kedua orang tuamu. Mintalah pada-Nya, karena tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Memohonlah terus pada-Nya dan jangan pernah bosan meski kita tidak tahu kapankah doa kita akan dikabulkan. Pun seandainya Allah tidak berkehendak untuk memberi mereka petunjuk hingga ajal menjemput mereka, ingatlah bahwa Allah tidak pernah mendzalimi hamba-Nya. Janganlah berhenti berdoa saudariku, karena tentu engkau sudah tahu bahwa doa seorang anak shalih untuk orang tuanya tidaklah terputus amalannya meski kedua orang tuanya sudah meninggal.  Sesungguhnya perkataan yang paling jujur adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi kita sholallahu ‘alaihi wassalam, dan seburuk-buruk perkara adalah yang baru dan diada-adakan dan setiap yang baru itu bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan adalah di neraka.  Allahummaghfilana wa li waalidainaa warham huma kamaa robbayanaa shighoro  – Selesai ditulis pada 26 Sya’ban pukul 08.12 di bumi Allah  Untuk bapak ibu, yang telah merawat dan memberikan kasih sayang berlimpah padaku. Tiada yang kuinginkan bagi kalian selain kebaikan dan keselamatan dunia akhirat. Semoga Allah menyelamatkan kita dan keluarga kita dari api neraka yang bahan bakarnya dari batu dan manusia, serta mengumpulkan kita di dalam Jannah-Nya.    Referensi : Janganlah Engkau Sakiti Kedua Orangtuamu
Segala puji bagi Rabb alam semesta, shalawat dan salam atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta.

Saudariku muslimah…
Pernahkah engkau memperhatikan seorang anak kecil yang tengah bersama orang tuanya? Atau, ingatlah masa kecilmu dulu sampai masa sekarang.

Ingatlah betapa besar kasih sayang kedua orang tuamu kepadamu. Ingatlah betapa besar perhatian mereka akan tempat tinggalmu, makan dan minummu, pendidikanmu, serta penjagaan mereka pada waktu malam dan siang. Ingatlah betapa besar kekhawatiran mereka ketika engkau sakit hingga pekerjaan yang lain pun mereka tinggalkan demi merawatmu. Uang yang mereka cari dengan susah payah rela mereka keluarkan tanpa pikir panjang demi kesembuhanmu. Ingatlah kerja keras siang malam yang mereka lakukan demi menafkahimu. Niscaya engkau akan mengetahui kadar penderitaan kedua orang tuamu pada waktu mereka membimbing dirimu hingga beranjak dewasa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan di dalam Al qur’an, agar manusia berbakti kepada kedua orang tuanya.

“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia, dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah mereka keduanya, sebagaimana keduanya telah menyayangi aku waktu kecil.'” (Al Israa’: 23-24)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman dalam surat An Nisaa’ ayat 36, “Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, kepada kaum kerabat, kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, kepada tetangga yang dekat, tetangga yang jauh teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan dirinya.” (An Nisaa’: 36)

Jika kita perhatikan, berbuat baik kepada kedua orang tua seperti yang tercantum pada ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua menduduki peringkat kedua setelah mentauhidkan (mengesakan) Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beribadah. Karena itu bisa kita pahami bahwa tidak boleh terjadi bagi seorang yang mengaku bertauhid kepada Allah tetapi ia durhaka kepada kedua orang tuanya, wal iyadzubillah nas alullaha salamah wal ‘afiyah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Menciptakan dan Allah yang Memberikan rizki, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah yang berhak diibadahi. Sedangkan orang tua adalah sebab adanya anak, maka keduanya berhak untuk diperlakukan dengan baik. Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi seorang anak untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian diiringi dengan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Saudariku, marilah kita belajar dari mulianya akhlaq para salaf dalam berbakti kepada kedua orang tuanya. Sesungguhnya dari kisah mereka kita dapat mengambil pelajaran yang baik. Dari Ibnu Aun diriwayatkan bahwa ia menceritakan, Seorang lelaki ada yang pernah menemui Muhammad bin Sirin di rumah ibunya. Ia bertanya, “Ada apa dengan Muhammad? Apakah ia sakit?” (karena Muhammad bin Sirin suaranya lirih hampir tak terdengar bila berada di hadapan ibunya. red). Orang-orang di situ menjawab, “Tidak. Cuma demikianlah kondisinya bila berada di rumah ibunya.”

Dari Hisyam bin Hissan, dari Hafshah binti Sirin diriwayatkan bahwa ia menceritakan, “Muhammad, apabila menemui ibunya, tidak pernah berbicara dengannya dengan suara keras demi menghormati ibunya tersebut.”

Dari Ibnu Aun diriwayatkan bahwa ia menceritakan, “Suatu hari ibunya memanggil beliau, namun beliau menyambut panggilan itu dengan suara yang lebih keras dari suara ibunya. Maka beliau segera membebaskan dua orang budak.”

Dari Muhammad bin sirin diriwayatkan bahwa ia menceritakan, pada masa pemerintahan Ustman bin Affan, harga pokok kurma mencapai seribu dirham. Maka Usamah bin Zaid bin Haritsah mengambil dan menebang sebatang pokok kurma dan mencabut umbutnya (yakni bagian di ujung pokok kurma berwarna putih, berlemak berbentuk seperti punuk unta, biasa dimakan bersama madu), lalu diberikan kepada ibunya untuk dimakan. Orang-orang bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau melakukan hal itu, padahal engkau tahu bahwa pokok kurma kini harganya mencapai seribu dirham?” Beliau menjawab, “Ibuku menhendakinya. Setiap ibuku menginginkan sesuatu yang mampu kudapatkan, aku pasti memberikannya.”

Saudariku, andaikan (kelak) kita menjadi orang tua, tidakkah kita akan kecewa dan bersedih hati bila anak kita berkata kasar kepada kita, orang tuanya yang telah membesarkannya. Lalu, apakah kita akan tega melakukannya terhadap orang tua kita saat ini? Mereka yang selalu berusaha meredakan tangis kita ketika kecil. Ingatlah duhai saudariku, doa orang tua terutama ibu adalah doa yang mustajab. Maka janganlah sekali-kali engkau menyakiti hati mereka meskipun engkau dalam pihak yang benar.

Cermatilah kisah berikut ini saudariku…

Dari Abdurrahman bin Ahmad, meriwayatkan dari ayahnya bahwa ada seorang wanita yang datang menemui Baqi’ dan mengatakan, “Sesungguhnya anakku ditawan, dan saya tidak memilki jalan keluar. Bisakah anda menunjukkan orang yang dapat menebusnya; saya sungguh sedih sekali.” Beliau menjawab, “Bisa. Pergilah dahulu, biar aku cermati persoalannya.” Kemudian beliau menundukkan kepalanya dan berkomat-kamit. Tak berapa lama berselang, wanita itu telah datang dengan anak lelakinya tersebut. Si anak bercerita, “Tadi aku masih berada dalam tawanan raja. Ketika saya sedang bekerja paksa, tiba-tiba rantai di tanganku terputus.” Ia menyebutkan hari dan jam di mana kejadian itu terjadi. Ternyata tepat pada waktu Syaih Baqi’ sedang mendoakannya. Anak itu melanjutkan kisahnya, “Maka petugas di penjara segera berteriak. Lalu melihatku dan kebingungan. Kemudian mereka memanggil tukang besi dan kembali merantaiku. Selesai ia merantaiku, akupun berjalan, tiba-tiba rantaiku sudah putus lagi. Mereka pun terbungkam. Mereka lalu memanggil para pendeta mereka. Para pendeta itu bertanya, ‘Apakah engkau memilki ibu?’ Aku menjawab, ‘Iya.’ Mereka pun berujar, ‘mungkin doa ibunya, sehingga terkabul’.”

Kejadian itu diceritakan kembali oleh al Hafizh Hamzah as Sahmi, dari Abul Fath Nashr bin Ahmad bin Abdul Malik. Ia menceritakan, aku pernah mendengar Abdurrahman bin Ahmad menceritakannya pada ayahku, lalu ia menuturkan kisahnya. Namun dalam kisahnya disebutkan, bahwa mereka berkata, “Allah telah membebaskan kamu, maka tidak mungkin lagi bagi kami menawanmu.” Mereka lalu memberiku bekal dan mengantarkan aku pulang.

Saudariku muslimah…

Maukah engkau kuberitahu amalan utama yang dapat membuatmu dicintai Allah? Tidakkah engkau ingin dicintai Allah, saudariku? maka sambutlah hadist berikut ini.

“Dari Abdullah bin Mas’ud katanya: ‘Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal-amal paling utama dan dicintai Allah,’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Pertama shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktu), kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah.'” (HR. Bukhari I/134, Muslim No.85, Fathul Baari 2/9)

Saudariku muslimah…

Tidakkah engkau ingin selalu dalam keridhaan Allah? Maka, jadikanlah kedua orang tuamu ridha kepadamu, sebab keridhaan Allah berada dalam keridhaan kedua orang tuamu. Dan kemurkaan Allah berada dalam kemurkaan kedua orang tuamu. Seandainya ada seorang hamba datang di hari kiamat dengan membawa amal perbuatan seribu orang shiddiq, namun dia durhaka kepada kedua orang tuanya, maka Allah Tabaaraka wa Ta’ala tidak akan melihat amalannya yang begitu banyak walau sedikit pun. Sedangkan tempat kembali orang seperti ini tidak lain adalah neraka. Dan tidak ada seorang hamba laki-laki atau perempuan yang membuat wajah kedua orang tua atau salah satu dari mereka tertawa, kecuali Allah akan mengampuni semua kesalahan dan dosanya. Dan tempat kembali orang seperti ini adalah surga. Tidakkah kita menginginkan surga, saudariku?

Saudariku muslimah…

Sesungguhnya hak-hak kedua orang tuamu atas dirimu lebih besar dan berlipat ganda banyaknya sehingga apapun yang engkau lakukan dan sebesar penderitaan yang engkau rasakan ketika kamu membantu bapak dan ibumu, maka hal itu tidak akan dapat membalas kedua jasanya. Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu melihat seseorang menggendong ibunya untuk thawaf di Ka’bah dan ke mana saja ‘si ibu’ menginginkan, orang tersebut bertanya, “Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku?” Jawab Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu, “Belum, setetes pun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu.” (Shahih Al adabul Mufrad no. 9)

Saudariku muslimah…

Tidakkah engkau ingin diluaskan rizkimu dan dipanjangkan umurmu oleh Allah? Maka perhatikanlah dengan baik sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam“Barang siapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim.” (HR. Bukhari 7/72, Muslim 2557, Abu dawud 1693)

Saudariku, betapa besar semangat dan bahagianya hati kita ketika silaturrahim kepada teman-teman kita. Perjalanan jauh pun tidak kita anggap sulit. Ketika sudah bersama mereka, waktu seakan berjalan dengan cepat. Lalu, manakah waktu untuk silaturrahim kepada kedua orang tua kita? Beribu alasan pun telah kita siapkan.

Tahukah engkau saudariku, bukankah orang tua adalah keluarga terdekat kita. Maka merekalah yang haknya lebih besar untuk kita dahulukan dalam masalah silaturrahim. Ingatlah pula bahwa merekalah yang selalu berada di sisi kita baik ketika bahagia maupun duka, berkorban dan selalu menolong kita lebih dari teman-teman kita. Lalu, masih enggankah kita membalas segala pengorbanan mereka?

Saudariku muslimah…

Berbuat baik kepada kedua orang tua merupakan sebuah keharusan, bahkan hal ini harus didahulukan daripada fardlu kifayah serta amalan-amalan sunnah lainnya. Didahulukan pula daripada jihad (yang hukumnya fadlu kifayah) dan hijrah di jalan Allah. Pun harus didahulukan daripada berbuat baik kepada istri dan anak-anak. Meski tentu saja hal ini bukan berarti kemudian melalaikan kewajiban terhadap istri dan anak-anak.

Saudariku, taatilah kedua orang tuamu dan janganlah engkau menentang keduanya sedikit pun. Kecuali apabila keduanya memerintahkan padamu berbuat maksiat kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak ada ketaatan bagi makhluk apabila pada saat yang sama bermaksiat kepada Sang Pencipta.” (HR. Ahmad)

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah tempat kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuannya tentang itu, maka janganlah kamu menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Luqman 14-15)

Sering kali, ketika rasa kecewa telah memenuhi hati kita, kekecewaan yang muncul akibat orang tua yang tidak tahu dan tidak paham akan kebenaran Islam yang sudah kita ketahui, bahkan ketika mereka justru menjadi penghalang bagi kita dalam tafaquh fiddin, kita jadi seakan-akan mempunyai alasan untuk tidak mempergauli mereka dengan baik.

Saudariku, ingatlah bahwa sejelek apapun orang tua kita, kita tetap tidak akan bisa membalas semua jasa-jasanya. Ingatlah, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pun tetap memerintahkan kita untuk mempergauli mereka dengan baik, meskipun mereka telah menyuruh kita berbuat kesyirikan. Ya, yang perlu kita lakukan hanyalah tidak mentaati mereka ketika mereka menyuruh kita untuk bermaksiat kepada Allah dan tetap berlaku baik pada mereka. Lebih dari itu, tidakkah kita ingin agar bisa mereguk kebenaran dan keindahan Islam bersama mereka, saudariku? Tidakkah kita menginginkan kebaikan dan keselamatan bagi mereka sebagaimana mereka yang selalu menginginkan kebaikan dan keselamatan bagi kita? Tidakkah kita ingin agar Allah mempertemukan kita di Jannah-Nya? Karena itu, bersabarlah saudariku. Bersabarlah dalam membimbing dan berdakwah pada mereka sebagaimana mereka selalu sabar dalam membimbing dan mengajari kita dahulu. Jangan pernah putus asa saudariku, batu yang keras sekalipun bisa berlubang karena ditetesi air terus menerus.

Tahukah engkau saudariku, salah satu doa yang mustajab? Yaitu doa dari seorang anak yang shalih untuk orang tuanya. Sambutlah kembali hadiah nabawiyah ini, saudariku.

Dalam hadist Abu Hurairoh radhiyallahu anhu disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila manusia mati, putuslah amalnya kecuali tiga perkara: sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairoh radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah pasti mengangkat derajat bagi hamba-Nya yang shalih ke surga, maka ia bertanya, ‘Ya Allah, bagaimana itu bisa terjadi?’ Allah menjawab, ‘Berkat istigfar anakmu untukmu.'” (HR. Ahmad)

Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kelak akan datang kepada kamu sekalian seseorang bernama Uwais bin ‘Amir, anak muda yang belum tumbuh janggutnya, keturunan Yaman dari kabilah Qarn. Pada tubuhnya terkena penyakit kusta, namun penyakit itu sembuh daripadanya, kecuali tersisa seukuran uang dirham. Dia mempunyai ibu yang ia sangat berbakti kepadanya. Apabila ia berdoa kepada Allah niscaya dikabulkan, maka jika engkau bertemu dengannya dan memungkinkan minta padanya memohonkan ampun untukmu maka lakukanlah.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Nah, saudariku. Janganlah engkau enggan untuk berdoa demi kebaikan orang tuamu. Sekeras apapun usaha yang engkau lakukan, bila Allah tidak berkehendak, niscaya tidak akan pernah terwujud. Hanya Allahlah yang mampu Memberi petunjuk dan membukakan pintu hati kedua orang tuamu. Mintalah pada-Nya, karena tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Memohonlah terus pada-Nya dan jangan pernah bosan meski kita tidak tahu kapankah doa kita akan dikabulkan. Pun seandainya Allah tidak berkehendak untuk memberi mereka petunjuk hingga ajal menjemput mereka, ingatlah bahwa Allah tidak pernah mendzalimi hamba-Nya. Janganlah berhenti berdoa saudariku, karena tentu engkau sudah tahu bahwa doa seorang anak shalih untuk orang tuanya tidaklah terputus amalannya meski kedua orang tuanya sudah meninggal.

Sesungguhnya perkataan yang paling jujur adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi kita sholallahu ‘alaihi wassalam, dan seburuk-buruk perkara adalah yang baru dan diada-adakan dan setiap yang baru itu bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan adalah di neraka.

Allahummaghfilana wa li waalidainaa warham huma kamaa robbayanaa shighoro

– Selesai ditulis pada 26 Sya’ban pukul 08.12 di bumi Allah

Untuk bapak ibu, yang telah merawat dan memberikan kasih sayang berlimpah padaku. Tiada yang kuinginkan bagi kalian selain kebaikan dan keselamatan dunia akhirat. Semoga Allah menyelamatkan kita dan keluarga kita dari api neraka yang bahan bakarnya dari batu dan manusia, serta mengumpulkan kita di dalam Jannah-Nya.


Referensi : Janganlah Engkau Sakiti Kedua Orangtuamu



Dosa Sebelum Beroleh Hidayah

Saya tadinya seorang jahiliah yang tidak mengerti Islam, kemudian Allah l memberi anugerah kepada saya berupa hidayah Islam. Padahal sebelumnya saya telah melakukan banyak kesalahan/dosa (kezaliman). Sementara itu, Rasulullah n bersabda, “Siapa yang memiliki kezaliman terhadap saudaranya baik berupa pelanggaran terhadap kehormatannya maupun yang lain, hendaklah pada hari ini ia meminta kehalalan dari saudaranya tersebut sebelum datang suatu hari yang tidak bermanfaat lagi dinar (mata uang emas) dan tidak pula dirham (perak).”  Apa yang Anda nasihatkan kepada saya terkait kondisi saya ini?Jawab: Allah l telah mensyariatkan kepada hamba-hamba-Nya untuk bertaubat. Dia berfirman: “Bertaubatlah kalian seluruhnya kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, mudah-mudahan kalian beruntung.” (an-Nur: 31)  Allah l berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat nashuha.” (at-Tahrim: 8). Dia Yang Mahamulia lagi Mahatinggi menyatakan: “Sungguh, Aku Maha Pengampun terhadap orang yang mau bertaubat dan beriman lagi beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (Thaha: 82) Rasulullah n bersabda:  التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ  “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” Siapa yang mengakui suatu maksiat, hendaklah ia segera bertaubat, menyesal, mencabut diri, berhati-hati (sehingga tidak jatuh lagi ke dalam dosa tersebut), dan berazam/berketetapan hati untuk tidak melakukannya kembali. Allah l memberi taubat, menerimanya dari hamba-hamba-Nya yang bertaubat.  Ketika seorang jujur taubatnya, dengan menyesali dosa-dosanya yang telah lewat dan berazam (berketetapan hati) untuk tidak kembali mengulangi, ia menarik dirinya dari perbuatan maksiat tersebut dalam rangka pengagungan terhadap Allah l dan takut kepada Allah l, maka Allah l akan menerima taubatnya. Allah l akan menghapuskan dosa-dosanya yang telah lewat sebagai keutamaan dari-Nya dan kebaikan-Nya kepada si hamba.  Akan tetapi, jika maksiat itu berupa kezaliman kepada hamba-hamba Allah l, hal itu butuh kepada pengembalian hak para hamba yang dizalimi tersebut atau meminta kehalalan dari orang yang punya hak, disertai rasa penyesalan, mencabut diri dari maksiat tersebut, dan berazam untuk tidak mengulang lagi. Misalnya, ia berkata kepada orang yang dizaliminya, “Maafkan saya, wahai saudaraku,” atau ucapan semisalnya, atau ia memberi hak saudaranya tersebut. Hal ini berdasar hadits yang disebutkan oleh penanya dan hadits-hadits lain serta ayat-ayat al-Qur’an.  Rasulullah n bersabda:  مَنْ كَانَ عِنْدَهُ لِأَخِيْهِ مَظْلَمَةٌ فَلْيَتَحَلَّلْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُوْنَ دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا. إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْ حَسَناَتِهِ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٍ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ  “Siapa yang memiliki kezaliman terhadap saudaranya, hendaklah ia meminta kehalalan saudaranya tersebut pada hari ini, sebelum datang suatu hari saat tidak berlaku lagi dinar dan tidak pula dirham. Jika ia memiliki amal saleh, akan diambil dari kebaikannya sesuai dengan kadar kezaliman yang diperbuatnya lalu diserahkan kepada orang yang dizaliminya. Apabila ia tidak memiliki kebaikan, akan diambil kejelekan saudaranya yang dizaliminya lalu dibebankan kepadanya.” (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya)  Sepantasnya, seorang muslim bersemangat untuk berlepas diri dan selamat dari melanggar hak saudaranya. Apabila hal ini sampai terjadi (dan ia mau bertaubat) hendaklah ia mengembalikan hak yang diambilnya atau ia minta kehalalan dari saudaranya.  Apabila yang dilanggarnya tersebut adalah kehormatan orang lain, ia harus meminta kehalalan orang tersebut jika ia mampu. Jika tidak mampu atau ia khawatir keterusterangannya di hadapan orang tersebut justru menimbulkan kejelekan yang lebih besar, cukup ia memintakan ampun untuk orang tersebut, mendoakan kebaikan untuknya, serta menyebut-nyebutnya di hadapan orang lain dengan kebaikan-kebaikan yang diketahuinya ada pada orang tersebut sebagai pengganti ucapan buruk yang diucapkannya sebelumnya.  Intinya, ia wajib mencuci kejelekan sebelumnya dengan kebaikan-kebaikan yang belakangan. Maka dari itu, ia menyebut orang itu dengan kebaikan yang diketahuinya. Ia juga menyebarkan kebaikannya sebagai lawan dari kejelekan yang sebelumnya ia sebarkan. Ia memohonkan ampun dan mendoakan kebaikan pula untuknya. Dengan ini, selesailah permasalahan.  Referensi : Dosa Sebelum Beroleh Hidayah
Saya tadinya seorang jahiliah yang tidak mengerti Islam, kemudian Allah l memberi anugerah kepada saya berupa hidayah Islam. Padahal sebelumnya saya telah melakukan banyak kesalahan/dosa (kezaliman). Sementara itu, Rasulullah n bersabda, “Siapa yang memiliki kezaliman terhadap saudaranya baik berupa pelanggaran terhadap kehormatannya maupun yang lain, hendaklah pada hari ini ia meminta kehalalan dari saudaranya tersebut sebelum datang suatu hari yang tidak bermanfaat lagi dinar (mata uang emas) dan tidak pula dirham (perak).”

Apa yang Anda nasihatkan kepada saya terkait kondisi saya ini?Jawab: Allah l telah mensyariatkan kepada hamba-hamba-Nya untuk bertaubat. Dia berfirman: “Bertaubatlah kalian seluruhnya kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, mudah-mudahan kalian beruntung.” (an-Nur: 31)

Allah l berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat nashuha.” (at-Tahrim: 8). Dia Yang Mahamulia lagi Mahatinggi menyatakan:
“Sungguh, Aku Maha Pengampun terhadap orang yang mau bertaubat dan beriman lagi beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (Thaha: 82)
Rasulullah n bersabda:

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ

“Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” Siapa yang mengakui suatu maksiat, hendaklah ia segera bertaubat, menyesal, mencabut diri, berhati-hati (sehingga tidak jatuh lagi ke dalam dosa tersebut), dan berazam/berketetapan hati untuk tidak melakukannya kembali. Allah l memberi taubat, menerimanya dari hamba-hamba-Nya yang bertaubat.

Ketika seorang jujur taubatnya, dengan menyesali dosa-dosanya yang telah lewat dan berazam (berketetapan hati) untuk tidak kembali mengulangi, ia menarik dirinya dari perbuatan maksiat tersebut dalam rangka pengagungan terhadap Allah l dan takut kepada Allah l, maka Allah l akan menerima taubatnya. Allah l akan menghapuskan dosa-dosanya yang telah lewat sebagai keutamaan dari-Nya dan kebaikan-Nya kepada si hamba.

Akan tetapi, jika maksiat itu berupa kezaliman kepada hamba-hamba Allah l, hal itu butuh kepada pengembalian hak para hamba yang dizalimi tersebut atau meminta kehalalan dari orang yang punya hak, disertai rasa penyesalan, mencabut diri dari maksiat tersebut, dan berazam untuk tidak mengulang lagi. Misalnya, ia berkata kepada orang yang dizaliminya, “Maafkan saya, wahai saudaraku,” atau ucapan semisalnya, atau ia memberi hak saudaranya tersebut. Hal ini berdasar hadits yang disebutkan oleh penanya dan hadits-hadits lain serta ayat-ayat al-Qur’an.

Rasulullah n bersabda:

مَنْ كَانَ عِنْدَهُ لِأَخِيْهِ مَظْلَمَةٌ فَلْيَتَحَلَّلْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُوْنَ دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا. إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْ حَسَناَتِهِ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٍ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Siapa yang memiliki kezaliman terhadap saudaranya, hendaklah ia meminta kehalalan saudaranya tersebut pada hari ini, sebelum datang suatu hari saat tidak berlaku lagi dinar dan tidak pula dirham. Jika ia memiliki amal saleh, akan diambil dari kebaikannya sesuai dengan kadar kezaliman yang diperbuatnya lalu diserahkan kepada orang yang dizaliminya. Apabila ia tidak memiliki kebaikan, akan diambil kejelekan saudaranya yang dizaliminya lalu dibebankan kepadanya.” (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya)

Sepantasnya, seorang muslim bersemangat untuk berlepas diri dan selamat dari melanggar hak saudaranya. Apabila hal ini sampai terjadi (dan ia mau bertaubat) hendaklah ia mengembalikan hak yang diambilnya atau ia minta kehalalan dari saudaranya.

Apabila yang dilanggarnya tersebut adalah kehormatan orang lain, ia harus meminta kehalalan orang tersebut jika ia mampu. Jika tidak mampu atau ia khawatir keterusterangannya di hadapan orang tersebut justru menimbulkan kejelekan yang lebih besar, cukup ia memintakan ampun untuk orang tersebut, mendoakan kebaikan untuknya, serta menyebut-nyebutnya di hadapan orang lain dengan kebaikan-kebaikan yang diketahuinya ada pada orang tersebut sebagai pengganti ucapan buruk yang diucapkannya sebelumnya.

Intinya, ia wajib mencuci kejelekan sebelumnya dengan kebaikan-kebaikan yang belakangan. Maka dari itu, ia menyebut orang itu dengan kebaikan yang diketahuinya. Ia juga menyebarkan kebaikannya sebagai lawan dari kejelekan yang sebelumnya ia sebarkan. Ia memohonkan ampun dan mendoakan kebaikan pula untuknya. Dengan ini, selesailah permasalahan.

Referensi : Dosa Sebelum Beroleh Hidayah