This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Rabu, 31 Agustus 2022

Penyesalan Bani Umayyah karena Terlambat Masuk Islam

Penyesalan Bani Umayyah karena Terlambat Masuk Islam  Penyesalan Bani Umayyah karena Terlambat Masuk Islam.Alangkah beruntungnya mereka yang masuk Islam lebih dulu dibanding mereka yang masuk belakangan. Bani Umayyah, dikisahkan menyesali sikap mereka yang angkuh dan menolak dengan getol dakwah Rasulullah, hingga akhirnya mereka menyesali keterlambatannya masuk Islam. Bani Umayah merupakan salah satu bagian dari klan Quraisy di Makkah. Mereka terhitung sebagai salah satu kelompok penting di kota itu karena memiliki banyak tokoh-tokoh terkemuka dan kekayaan harta yang berlimpah. Muawiyah bin Abu Sufyan sebagai pendiri sekaligus khalifah pertama dari dinasti ini.  Dalam catatan sejarah dakwah Nabi Muhammad, Bani Umayah merupakan kelompok yang terlambat masuk Islam. Sebab, mereka baru mau berbondong-bondong memeluk agama yang dibawa oleh Rasulullah itu setelah peristiwa Fathu Makkah (Penaklukan Kota Makkah) yang terjadi pada 20 Ramadhan tahun 8 H. Sejak agama Islam mulai disebarkan oleh Rasulullah, Bani Umayah memandang ajaran ini sebagai ancaman yang harus terus dilawan. Mereka beranggapan jika Islam dibiarkan besar dan berjaya di Makkah, khawatir akan mengancam posisi mereka baik secara sosial maupun ekonomi. Berbagai upaya yang dilakukan mereka untuk melemahkan dakwah Islam pun dilakukan secara masif.  Belakangan, ketika mulai menyadari kebenaran agama Islam, mereka berbondong memeluk agama ini. Mereka menyesali keterlambatan ini. Andaikan tahu sejak awal bahwa Islam datang bukan untuk mengusik eksistensi Bani Umayah di Makkah, tetapi untuk menyelamatkan dari kesesatan agama jahiliyah, pasti mereka sudah dari dulu menjadi Muslim. Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah mencatat surat Abu Sufyan (tokoh Bani Umayah) kepada Muawiyah (putranya) setelah diangkat sebagai amir (gubernur jenderal) negeri Syam menggantikan kakaknya, Yazid bin Abu Sufyan. Surat tersebut di antaranya berisi penyesalan Abu Sufyan karena Bani Umayah terlambat masuk Islam.  Berikut isi suratnya:   يَا بُنَيَّ إِنَّ هَؤُلَاءِ الرَّهْطَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ سبقونا وتأخرنا فرفعهم سبقهم وقدمهم عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ رسوله، وقصر بنا تأخيرنا فصاروا قادة وسادة. وَصِرْنَا أَتْبَاعًا، وَقَدْ وَلَّوْكَ جَسِيمًا مِنْ أُمُورِهِمْ فَلَا تُخَالِفْهُمْ.   Artinya: “Wahai putraku, sekelompok kaum Muhajirin telah mendahului kita, sementara kita terlambat. Mereka memiliki kedudukan yang tinggi dan utama di  hadapan Allah dan Rasul-Nya karena mereka yang pertama-tama dan dahulu masuk Islam. Sedangkan kedudukan kita rendah karena terlambat.  masuk Islam.”  “Dengan begitu, mereka menjadi pemimpin dan penguasa, sedangkan kita hanya menjadi pengikut. Mereka telah mengangkatmu dalam urusan mereka yang sangat besar, karena itu jangan salahi perintah mereka.” (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah).  Pernyataan salah satu tokoh besar Bani Umayah itu jelas sebuah penyesalan yang mendalam. Sebab, kelompok yang lebih dahulu masuk Islam akan memperoleh posisi penting di tengah umat Islam, dan dipercayai untuk menempati posisi-posisi penting di pemerintahan. Secara periodik, golongan as-sabiqunal awwalun adalah umat Muslim yang beriman sebelum terjadi peritiswa Fathu Makkah (Penaklukan Kota Makkah).   Keutamaan mereka dijelaskan dalam firman Allah swt dalam Al-Qur’an surat al-Hadid berikut:  لَا يَسۡتَوِي مِنكُم مَّنۡ أَنفَقَ مِن قَبۡلِ ٱلۡفَتۡحِ وَقَٰتَلَۚ أُوْلَٰٓئِكَ أَعۡظَمُ دَرَجَةٗ مِّنَ ٱلَّذِينَ أَنفَقُواْ مِنۢ بَعۡدُ وَقَٰتَلُواْۚ وَكُلّٗا وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ     Artinya: “Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik.   Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Menafsiri ayat di atas, Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan, sejumlah ulama ahli teologi (tauhid) menjadikan ayat ini sebagai bukti keutamaan orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam, menginfakkan harta di jalan Allah, dan ikut berjihad menegakkan agama Islam. (Fakhruddin ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [Beirut: Darul Fikr, 1981], juz 29, h. 220)  Kegigihan Bani Umayah Kendati Bani Umayah masuk Islam terlambat sehingga tidak termasuk dalam predikat as-sabiqunal awwalun, keberpihakan mereka kepada ajaran Islam berubah drastis setelah menyatakan memeluk agama ini. Seolah mereka ingin ‘membayar’ kesalahan-kesalahan mereka sebelum menjadi Muslim dulu. Kesungguhan mereka di antaranya dibuktikan dalam keikutsertaan di berbagai medan jihad melawan tentara musuh.   Berkat kegigihan mereka, Rasulullah mengapresiasi betul apa yang telah mereka perbuat demi tegaknya dakwah Islam. Terbukti, Rasulullah memberikan posisi penting bagi Umayyah di pemerintahan agar mereka bisa lebih mengoptimalkan potensi yang dimiliki.   Terkait Abu Sufyan, Rasulullah sendiri pernah bersabda, “Barangsiapa memasuki rumah Abu Sufyan, ia akan aman.” Ini merupakan keistimewaan yang tidak Nabi berikan kepada orang lain. Kepercayaan Rasulullah kepada Bani Umayah juga terlihat ketika beliau mengabulkan permohonan Abu Sufyan untuk mengangkatnya menjadi wali kota Najran. Selain itu, beliau juga mengangkat Attab bin Usaid bin Abdul Aish bin Umayah bin Abdusy Syams (salah satu tokoh Bani Umayah) sebagai wali kota pertama di Makkah.   Kemudian, Rasulullah juga mengangkat Amr bin Sa’id bin Umayyah sebagai kepala desa Khaibar, Wadil Qura, Taima’, dan Tabuk; mengangkat Khalid bin Sa’id bin Ash sebagai wali kota Shan’a; mengangkat Aban bin Sa’id bin Ash sebagai amir (gubernur jenderal) Bahrain. Selain itu, Aban dan Khalid (kedua putra Sa’id bin Ash), Muawiyah bin Abu Sufyan, dan Utsman bin Affan juga diangkat sebagai sekretaris Rasulullah. (Abdusyafi Muhammad, Al-‘Alamul Islami fil ‘Ashril Umawi Dirasah Siyasiyyah, [Kairo: Darusalam, 2008], h. 23) Sikap Rasulullah kepada sejumlah tokoh Bani Umayah menunjukkan bahwa mereka memiliki kontribusi besar dan sebab itu mendapat kepercayaan dari beliau. Andai mereka tidak memiliki kompetensi itu, tidak mungkin Rasulullah menyerahkan amanat-amanat penting itu kepada mereka.

Penyesalan Bani Umayyah karena Terlambat Masuk Islam.Alangkah beruntungnya mereka yang masuk Islam lebih dulu dibanding mereka yang masuk belakangan. Bani Umayyah, dikisahkan menyesali sikap mereka yang angkuh dan menolak dengan getol dakwah Rasulullah, hingga akhirnya mereka menyesali keterlambatannya masuk Islam. Bani Umayah merupakan salah satu bagian dari klan Quraisy di Makkah. Mereka terhitung sebagai salah satu kelompok penting di kota itu karena memiliki banyak tokoh-tokoh terkemuka dan kekayaan harta yang berlimpah. Muawiyah bin Abu Sufyan sebagai pendiri sekaligus khalifah pertama dari dinasti ini.

Dalam catatan sejarah dakwah Nabi Muhammad, Bani Umayah merupakan kelompok yang terlambat masuk Islam. Sebab, mereka baru mau berbondong-bondong memeluk agama yang dibawa oleh Rasulullah itu setelah peristiwa Fathu Makkah (Penaklukan Kota Makkah) yang terjadi pada 20 Ramadhan tahun 8 H. Sejak agama Islam mulai disebarkan oleh Rasulullah, Bani Umayah memandang ajaran ini sebagai ancaman yang harus terus dilawan. Mereka beranggapan jika Islam dibiarkan besar dan berjaya di Makkah, khawatir akan mengancam posisi mereka baik secara sosial maupun ekonomi. Berbagai upaya yang dilakukan mereka untuk melemahkan dakwah Islam pun dilakukan secara masif.

Belakangan, ketika mulai menyadari kebenaran agama Islam, mereka berbondong memeluk agama ini. Mereka menyesali keterlambatan ini. Andaikan tahu sejak awal bahwa Islam datang bukan untuk mengusik eksistensi Bani Umayah di Makkah, tetapi untuk menyelamatkan dari kesesatan agama jahiliyah, pasti mereka sudah dari dulu menjadi Muslim. Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah mencatat surat Abu Sufyan (tokoh Bani Umayah) kepada Muawiyah (putranya) setelah diangkat sebagai amir (gubernur jenderal) negeri Syam menggantikan kakaknya, Yazid bin Abu Sufyan. Surat tersebut di antaranya berisi penyesalan Abu Sufyan karena Bani Umayah terlambat masuk Islam.

Berikut isi suratnya:

 يَا بُنَيَّ إِنَّ هَؤُلَاءِ الرَّهْطَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ سبقونا وتأخرنا فرفعهم سبقهم وقدمهم عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ رسوله، وقصر بنا تأخيرنا فصاروا قادة وسادة. وَصِرْنَا أَتْبَاعًا، وَقَدْ وَلَّوْكَ جَسِيمًا مِنْ أُمُورِهِمْ فَلَا تُخَالِفْهُمْ. 

Artinya: “Wahai putraku, sekelompok kaum Muhajirin telah mendahului kita, sementara kita terlambat. Mereka memiliki kedudukan yang tinggi dan utama di  hadapan Allah dan Rasul-Nya karena mereka yang pertama-tama dan dahulu masuk Islam. Sedangkan kedudukan kita rendah karena terlambat.
 masuk Islam.”

“Dengan begitu, mereka menjadi pemimpin dan penguasa, sedangkan kita hanya menjadi pengikut. Mereka telah mengangkatmu dalam urusan mereka yang sangat besar, karena itu jangan salahi perintah mereka.” (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah).

Pernyataan salah satu tokoh besar Bani Umayah itu jelas sebuah penyesalan yang mendalam. Sebab, kelompok yang lebih dahulu masuk Islam akan memperoleh posisi penting di tengah umat Islam, dan dipercayai untuk menempati posisi-posisi penting di pemerintahan. Secara periodik, golongan as-sabiqunal awwalun adalah umat Muslim yang beriman sebelum terjadi peritiswa Fathu Makkah (Penaklukan Kota Makkah). 

Keutamaan mereka dijelaskan dalam firman Allah swt dalam Al-Qur’an surat al-Hadid berikut:
 لَا يَسۡتَوِي مِنكُم مَّنۡ أَنفَقَ مِن قَبۡلِ ٱلۡفَتۡحِ وَقَٰتَلَۚ أُوْلَٰٓئِكَ أَعۡظَمُ دَرَجَةٗ مِّنَ ٱلَّذِينَ أَنفَقُواْ مِنۢ بَعۡدُ وَقَٰتَلُواْۚ وَكُلّٗا وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ   

Artinya: “Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. 

Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Menafsiri ayat di atas, Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan, sejumlah ulama ahli teologi (tauhid) menjadikan ayat ini sebagai bukti keutamaan orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam, menginfakkan harta di jalan Allah, dan ikut berjihad menegakkan agama Islam. (Fakhruddin ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [Beirut: Darul Fikr, 1981], juz 29, h. 220)

Kegigihan Bani Umayah Kendati Bani Umayah masuk Islam terlambat sehingga tidak termasuk dalam predikat as-sabiqunal awwalun, keberpihakan mereka kepada ajaran Islam berubah drastis setelah menyatakan memeluk agama ini. Seolah mereka ingin ‘membayar’ kesalahan-kesalahan mereka sebelum menjadi Muslim dulu. Kesungguhan mereka di antaranya dibuktikan dalam keikutsertaan di berbagai medan jihad melawan tentara musuh. 

Berkat kegigihan mereka, Rasulullah mengapresiasi betul apa yang telah mereka perbuat demi tegaknya dakwah Islam. Terbukti, Rasulullah memberikan posisi penting bagi Umayyah di pemerintahan agar mereka bisa lebih mengoptimalkan potensi yang dimiliki.   Terkait Abu Sufyan, Rasulullah sendiri pernah bersabda, “Barangsiapa memasuki rumah Abu Sufyan, ia akan aman.” Ini merupakan keistimewaan yang tidak Nabi berikan kepada orang lain. Kepercayaan Rasulullah kepada Bani Umayah juga terlihat ketika beliau mengabulkan permohonan Abu Sufyan untuk mengangkatnya menjadi wali kota Najran. Selain itu, beliau juga mengangkat Attab bin Usaid bin Abdul Aish bin Umayah bin Abdusy Syams (salah satu tokoh Bani Umayah) sebagai wali kota pertama di Makkah. 

Kemudian, Rasulullah juga mengangkat Amr bin Sa’id bin Umayyah sebagai kepala desa Khaibar, Wadil Qura, Taima’, dan Tabuk; mengangkat Khalid bin Sa’id bin Ash sebagai wali kota Shan’a; mengangkat Aban bin Sa’id bin Ash sebagai amir (gubernur jenderal) Bahrain. Selain itu, Aban dan Khalid (kedua putra Sa’id bin Ash), Muawiyah bin Abu Sufyan, dan Utsman bin Affan juga diangkat sebagai sekretaris Rasulullah. (Abdusyafi Muhammad, Al-‘Alamul Islami fil ‘Ashril Umawi Dirasah Siyasiyyah, [Kairo: Darusalam, 2008], h. 23) Sikap Rasulullah kepada sejumlah tokoh Bani Umayah menunjukkan bahwa mereka memiliki kontribusi besar dan sebab itu mendapat kepercayaan dari beliau. Andai mereka tidak memiliki kompetensi itu, tidak mungkin Rasulullah menyerahkan amanat-amanat penting itu kepada mereka.

Referensi :  Penyesalan Bani Umayyah karena Terlambat Masuk Islam

Renungan Malam, Tiga Waktu Penyesalan yang Terlambat untuk Manusia Sesali

Ilustrasi : Renungan Malam, Tiga Waktu Penyesalan yang Terlambat untuk Manusia Sesali  Renungan Malam, Tiga Waktu Penyesalan yang Terlambat untuk Manusia Sesali. Tiga waktu penyesalan yang terlambat akan membuat manusia benar-benar menyesalinya. Maka gunakan hidup untuk beramal saleh, gunakan hidup untuk berbuat kebaikan dan gunakan hidup menjauhi maksiat. Jangan sampai datang tiga waktu penyesalan, maka semuanya tidak akan berarti lagi.  Tiga waktu penyesalan yang terlambat itu sungguh-sungguh manusia akan menyesalinya. Ustaz Sofyan Ruray menjelaskan tiga waktu itu yakni;  1. Ketika Datang Kematian   Allah 'azza wa jalla berfirman,   حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ، لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ  "Hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata: 'Wahai Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku beramal shalih pada apa yang telah aku tinggalkan'. Sekali-kali tidak, sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan­nya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan." [QS. Al-Mukminun: 99-100]   يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ، وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ، وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ  "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.  Dan sedekahkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: 'Wahai Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang bermalal shalih'.  Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." [QS. Al-Munafiqun: 9-10]  2. Saat Melihat Neraka  Allah 'azza wa jalla berfirman,   وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ  "Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Rabb kami, serta menjadi orang-orang yang beriman." [QS Al-An'am: 27]  3. Saat di Neraka  Allah 'azza wa jalla berfirman,   وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ  "Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: 'Wahai Rabb kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal yang shalih berlainan dengan yang telah kami kerjakan'. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umur kalian dengan masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kalian pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun." [QS. Fathir: 37]

Renungan Malam, Tiga Waktu Penyesalan yang Terlambat untuk Manusia Sesali. Tiga waktu penyesalan yang terlambat akan membuat manusia benar-benar menyesalinya. Maka gunakan hidup untuk beramal saleh, gunakan hidup untuk berbuat kebaikan dan gunakan hidup menjauhi maksiat. Jangan sampai datang tiga waktu penyesalan, maka semuanya tidak akan berarti lagi.

Tiga waktu penyesalan yang terlambat itu sungguh-sungguh manusia akan menyesalinya. Ustaz Sofyan Ruray menjelaskan tiga waktu itu yakni;

1. Ketika Datang Kematian

 Allah 'azza wa jalla berfirman, 

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ، لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

"Hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata: 'Wahai Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku beramal shalih pada apa yang telah aku tinggalkan'. Sekali-kali tidak, sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan­nya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan." [QS. Al-Mukminun: 99-100] 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ، وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ، وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.

Dan sedekahkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: 'Wahai Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang bermalal shalih'.

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." [QS. Al-Munafiqun: 9-10]

2. Saat Melihat Neraka

Allah 'azza wa jalla berfirman, 

وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

"Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Rabb kami, serta menjadi orang-orang yang beriman." [QS Al-An'am: 27]

3. Saat di Neraka

Allah 'azza wa jalla berfirman, 

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

"Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: 'Wahai Rabb kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal yang shalih berlainan dengan yang telah kami kerjakan'. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umur kalian dengan masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kalian pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun." [QS. Fathir: 37]

Penyesalan Orang Kafir (QS. Al Hijr)

Hidup di dunia hanya sekali dan waktunya sangat sebentar, karena itu jangan sampai ada penyesalan yang terjadi di akhirat kelak. Untuk itu, sebagai muslim pergunakan kesempatan di dunia untuk ibadah dan melakukan aktivitas yang berfaedah. Tentang penyesalan ini, Allah Ta'ala telah memberikan peringatan, bahkan Allah juga telah memberikan potret penyesalan di akhirat melalui firman-firman-Nya.  Apa saja potret penyesalan itu? Dinukil dari berbagai sumber, ada beberapa potret penyesalan yang Allah terangkan dalam Al-Qur'an, antara lain:  1. Penyesalan orang kafir kenapa dahulu tidak menjadi muslim  Di akhirat kelak, orang-orang yang selama di dunai ia kafir, maka ia akan menyesal sejadi-jadinya. Mereka berandai-andai sekiranya Ketika di dunia mereka menjadi seorang muslim.  Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,  رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْ كَانُوْا مُسْلِمِيْنَ  “Orang kafir itu kadang-kadang (nanti di akhirat) menginginkan, sekiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang Muslim.” (QS. Al-Hijr: 2)  Allah subhanahu wa ta’ala kembali menegaskan,  وَلَوْ تَرٰٓى اِذْ وُقِفُوْا عَلَى النَّارِ فَقَالُوْا يٰلَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِاٰيٰتِ رَبِّنَا وَنَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ  “Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, “Seandainya kami dikembalikan (ke dunia), tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Rabb kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-An’ām: 27)  Maka berbahagialah kita yang telah menjadi seorang muslim. Pegang teguh agama ini sampai maut menjemput kita.  إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلْإِسْلَٰمُ ۗ  “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.” (QS. Āli ’Imrān: 19)  وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ  “Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (QS. Āli ’Imrān: 85)  2. Penyesalan orang kafir kenapa dahulu tidak menjadi tanah  Allah subhanahu wa ta’ala pernah mengabarkan berita ini dalam firmanNya,  اِنَّآ اَنْذَرْنٰكُمْ عَذَابًا قَرِيْبًا ەۙ يَّوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُوْلُ الْكٰفِرُ يٰلَيْتَنِيْ كُنْتُ تُرَابًا  “Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (orang kafir) azab yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah.” (QS. An-Naba’: 40

Hidup di dunia hanya sekali dan waktunya sangat sebentar, karena itu jangan sampai ada penyesalan yang terjadi di akhirat kelak. Untuk itu, sebagai muslim pergunakan kesempatan di dunia untuk ibadah dan melakukan aktivitas yang berfaedah. Tentang penyesalan ini, Allah Ta'ala telah memberikan peringatan, bahkan Allah juga telah memberikan potret penyesalan di akhirat melalui firman-firman-Nya.

Apa saja potret penyesalan itu? Dinukil dari berbagai sumber, ada beberapa potret penyesalan yang Allah terangkan dalam Al-Qur'an, antara lain:

1. Penyesalan orang kafir kenapa dahulu tidak menjadi muslim

Di akhirat kelak, orang-orang yang selama di dunai ia kafir, maka ia akan menyesal sejadi-jadinya. Mereka berandai-andai sekiranya Ketika di dunia mereka menjadi seorang muslim.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْ كَانُوْا مُسْلِمِيْنَ

“Orang kafir itu kadang-kadang (nanti di akhirat) menginginkan, sekiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang Muslim.” (QS. Al-Hijr: 2)

Allah subhanahu wa ta’ala kembali menegaskan,

وَلَوْ تَرٰٓى اِذْ وُقِفُوْا عَلَى النَّارِ فَقَالُوْا يٰلَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِاٰيٰتِ رَبِّنَا وَنَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, “Seandainya kami dikembalikan (ke dunia), tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Rabb kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-An’ām: 27)

Maka berbahagialah kita yang telah menjadi seorang muslim. Pegang teguh agama ini sampai maut menjemput kita.

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلْإِسْلَٰمُ ۗ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.” (QS. Āli ’Imrān: 19)

وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (QS. Āli ’Imrān: 85)

2. Penyesalan orang kafir kenapa dahulu tidak menjadi tanah

Allah subhanahu wa ta’ala pernah mengabarkan berita ini dalam firmanNya,

اِنَّآ اَنْذَرْنٰكُمْ عَذَابًا قَرِيْبًا ەۙ يَّوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُوْلُ الْكٰفِرُ يٰلَيْتَنِيْ كُنْتُ تُرَابًا

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (orang kafir) azab yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah.” (QS. An-Naba’: 40).

Menyibak Tabir Penyesalan Manusia

Ilustrasi : Menyibak Tabir Penyesalan Manusia  Menyibak Tabir Penyesalan Manusia. Dalam Al-Qur'an ada surat al-Waqi'ah (hari kiamat) yang telah banyak menginformasikan peristiwa masa depan yang akan dialami sekelompok manusia di akhirat kelak, berupa penyesalan atas rekaman jejak hidupnya yang jauh dari nilai islam di dunia.  Ungkapan penyesalan ini diabadikan dengan ungkapan ya laitanii, Penyesalan hanya terucap namun tidak terwujud, karena waktu sudah terlambat. Lalu apa sajakah penyesalan-penyesalan yang akan di alami sekelompok manusia itu adalah :  1. Penyesalan saat-saat Sakaratul Maut. Al Qur'an menerangkan bahwa ''Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35).  Sekarat bisa juga diartikan sebagai mabuk akal atau hilang segala-galanya, Nabi berpesan, ''Perbanyaklah ingat kepada yang memutuskan kelezatan dunia, yakni kematian''. Sakaratul maut pasti benar adanya ia akan menghampiri setiap manusia.  Banyak sebab terjadinya kematian namun cuma satu yang pasti yakni Sakaratul maut. Saat peristiwa ini bertautanlah kedua betis pelakunya karena meregang nyawa akan dahsyatnya sakaratul maut.  Maka di saat sakaratul maut tiba terekamlah seluruh jejak perbuatan manusia sebelumnya yakni perbuatan baik dan buruk, dan bila yang muncul ialah rekaman kebaikan maka pelaku tidak akan takut bahkan malah akan menyambut bahagia karena telah tiba perjumpaan yang di rindukan dengan sang kekasih sejatinya Allah dan juga akan mendapatkan pahala.  Namun sebaliknya bila yang muncul adalah rekaman keburukan baginya di hadapkan dengan kesengsaraan yang mengerikan ia pun akan menyesal dan berkata (Ya Tuhan kembalikan nyawaku sekali lagi agar supaya aku bisa beramal soleh dan bersedekah serta berbuat kebajikan) Namun sayang penyesalan ini tiada gunanya, Ajal tidak bisa di tunda dan di majukan karena itulah akhir dari segala yang hidup yaitu mati.   2. Penyesalan saat melihat kawan dekatnya mendapat siksa di Neraka. Sebagai makhluk sosial seseorang tidak akan lepas dengan orang lain. bahkan karakter dan kepribadian seseorang tergantung dari teman/lingkungan di mana ia berada.  Menyibak Tabir Penyesalan Manusia. Untuk itu di njurkan untuk berhati-hati saat mencari teman, Agama seseorang akan mengikuti Agama teman dekatnya, baik buruknya pertemanan di dunia akan terekam jelas di akhirat kelak, pertemanan yang didasari ketaatan dan ketaqwaan akan memberikan bantuan/pertolongan satu sama lain.  Namun sebaliknya pertemanan yang dijalin atas dasar kedurhakaan akan menjadikan permusuhan, satu sama lain akan saling menuding sebagai penyebab masuknya ke neraka. Kelompok manusia ini akan menyesal dan berkata (ampunilah dosa-dosa kami ya Rabb) dalam Qs. Az-zuhruf : 67 Allah menerangkan : Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali mereka yang bertaqwa.  Ada banyak kalimat-kalimat penyesalan yang diabadikan di dalam Al-Qur'an di antaranya adalah:  1. Surah al-Furqan ayat 27: "Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul.”  Kalimat penyesalan ini diucapkan oleh orang-orang zalim yang menyesali perbuatannya. Mereka menyesali karena semasa hidupnya ia tidak mengambil jalan bersama Rasul, tidak menuruti dan menjauhi ajaran Rasul. Sehingga pada hari kiamat mereka merasa sangat menyesal.  2. Surah al-Furqan ayat 28: "Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku).”  Kalimat penyesalan ini diucapkan oleh orang-orang yang tidak menjadikan seseorang sebagai temannya. Orang tersebut adalah orang-orang yang shaleh dan suka melakukan kebaikan serta senantiasa menjauhi dirinya dari hal-hal yang dibenci Allah SWT.  Sehingga apabila mereka dahulu berteman dengan orang-orang seperti itu, tentunya mereka juga akan mengikuti perangai temannya itu yang selalu berbuat kebaikan. Namun nyatanya mereka justru menjauhi orang tersebut, sehingga akhirnya kini mereka menyesali perbuatannya tersebut.  3. Surah al-Haaqqah ayat 25: "Dan adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, “Alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku.”  Ini adalah kalimat penyesalan yang diucapkan oleh orang-orang yang menerima catatan amalnya di tangan kiri. Oleh karenanya mereka mengatakan bahwa lebih baik catatan tersebut tidak diberikan kepadanya.  Sebab bila diberikan ditangan kiri, hal tersebut merupakan pertanda bahwa ia termasuk dalam golongan orang-orang celaka yang akan menerima azab dari Allah SWT. Alangkah lebih baik apabila catatan tersebut tidak diberikan kepadanya, sehingga ia tidak akan mengetahui apakah ia termasuk dalam golongan orang yang beruntung atau orang yang celaka.  4. Surah an-Naba ayat 40: "Sesungguhnya Kami telah Memperingatkan kepadamu (orang kafir) azab yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah.”  Kalimat ini diucapkan oleh orang-orang kafir saat Allah SWT memperlihatkan kepadanya apa yang telah diperbuat oleh tangannya. Sehingga ia merasa lebih baik bila dulu ia dijadikan tanah. Dengan demikian ia tidak akan mungkin melakukan hal-hal buruk seperti yang dilakukannya saat itu. ????  5. Surah al-Fajr ayat 24: "Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.”  Kalimat ini diucapkan oleh orang-orang yang semasa hidupnya suka berbuat keburukan. Ia menghabiskan waktunya dengan melakukan hal yang sia-sia. Sehingga di akhirat saat diperlihatkan perbuatannya, ia merasa menyesal mengapa dahulu semasa hidup tidak mengerjakan kebaikan.  Referensi : Menyibak Tabir Penyesalan Manusia. Menyibak Tabir Penyesalan Manusia

Menyibak Tabir Penyesalan Manusia. Dalam Al-Qur'an ada surat al-Waqi'ah (hari kiamat) yang telah banyak menginformasikan peristiwa masa depan yang akan dialami sekelompok manusia di akhirat kelak, berupa penyesalan atas rekaman jejak hidupnya yang jauh dari nilai islam di dunia.

Ungkapan penyesalan ini diabadikan dengan ungkapan ya laitanii, Penyesalan hanya terucap namun tidak terwujud, karena waktu sudah terlambat. Lalu apa sajakah penyesalan-penyesalan yang akan di alami sekelompok manusia itu adalah :

1. Penyesalan saat-saat Sakaratul Maut. Al Qur'an menerangkan bahwa ''Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35).

Sekarat bisa juga diartikan sebagai mabuk akal atau hilang segala-galanya, Nabi berpesan, ''Perbanyaklah ingat kepada yang memutuskan kelezatan dunia, yakni kematian''. Sakaratul maut pasti benar adanya ia akan menghampiri setiap manusia.

Banyak sebab terjadinya kematian namun cuma satu yang pasti yakni Sakaratul maut. Saat peristiwa ini bertautanlah kedua betis pelakunya karena meregang nyawa akan dahsyatnya sakaratul maut.

Maka di saat sakaratul maut tiba terekamlah seluruh jejak perbuatan manusia sebelumnya yakni perbuatan baik dan buruk, dan bila yang muncul ialah rekaman kebaikan maka pelaku tidak akan takut bahkan malah akan menyambut bahagia karena telah tiba perjumpaan yang di rindukan dengan sang kekasih sejatinya Allah dan juga akan mendapatkan pahala.

Namun sebaliknya bila yang muncul adalah rekaman keburukan baginya di hadapkan dengan kesengsaraan yang mengerikan ia pun akan menyesal dan berkata (Ya Tuhan kembalikan nyawaku sekali lagi agar supaya aku bisa beramal soleh dan bersedekah serta berbuat kebajikan) Namun sayang penyesalan ini tiada gunanya, Ajal tidak bisa di tunda dan di majukan karena itulah akhir dari segala yang hidup yaitu mati.


2. Penyesalan saat melihat kawan dekatnya mendapat siksa di Neraka. Sebagai makhluk sosial seseorang tidak akan lepas dengan orang lain. bahkan karakter dan kepribadian seseorang tergantung dari teman/lingkungan di mana ia berada.

Menyibak Tabir Penyesalan Manusia. Untuk itu di njurkan untuk berhati-hati saat mencari teman, Agama seseorang akan mengikuti Agama teman dekatnya, baik buruknya pertemanan di dunia akan terekam jelas di akhirat kelak, pertemanan yang didasari ketaatan dan ketaqwaan akan memberikan bantuan/pertolongan satu sama lain.

Namun sebaliknya pertemanan yang dijalin atas dasar kedurhakaan akan menjadikan permusuhan, satu sama lain akan saling menuding sebagai penyebab masuknya ke neraka. Kelompok manusia ini akan menyesal dan berkata (ampunilah dosa-dosa kami ya Rabb) dalam Qs. Az-zuhruf : 67 Allah menerangkan : Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali mereka yang bertaqwa.

Ada banyak kalimat-kalimat penyesalan yang diabadikan di dalam Al-Qur'an di antaranya adalah:

1. Surah al-Furqan ayat 27: "Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul.”

Kalimat penyesalan ini diucapkan oleh orang-orang zalim yang menyesali perbuatannya. Mereka menyesali karena semasa hidupnya ia tidak mengambil jalan bersama Rasul, tidak menuruti dan menjauhi ajaran Rasul. Sehingga pada hari kiamat mereka merasa sangat menyesal.

2. Surah al-Furqan ayat 28: "Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku).”

Kalimat penyesalan ini diucapkan oleh orang-orang yang tidak menjadikan seseorang sebagai temannya. Orang tersebut adalah orang-orang yang shaleh dan suka melakukan kebaikan serta senantiasa menjauhi dirinya dari hal-hal yang dibenci Allah SWT.

Sehingga apabila mereka dahulu berteman dengan orang-orang seperti itu, tentunya mereka juga akan mengikuti perangai temannya itu yang selalu berbuat kebaikan. Namun nyatanya mereka justru menjauhi orang tersebut, sehingga akhirnya kini mereka menyesali perbuatannya tersebut.

3. Surah al-Haaqqah ayat 25: "Dan adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, “Alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku.”

Ini adalah kalimat penyesalan yang diucapkan oleh orang-orang yang menerima catatan amalnya di tangan kiri. Oleh karenanya mereka mengatakan bahwa lebih baik catatan tersebut tidak diberikan kepadanya.

Sebab bila diberikan ditangan kiri, hal tersebut merupakan pertanda bahwa ia termasuk dalam golongan orang-orang celaka yang akan menerima azab dari Allah SWT. Alangkah lebih baik apabila catatan tersebut tidak diberikan kepadanya, sehingga ia tidak akan mengetahui apakah ia termasuk dalam golongan orang yang beruntung atau orang yang celaka.

4. Surah an-Naba ayat 40: "Sesungguhnya Kami telah Memperingatkan kepadamu (orang kafir) azab yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah.”

Kalimat ini diucapkan oleh orang-orang kafir saat Allah SWT memperlihatkan kepadanya apa yang telah diperbuat oleh tangannya. Sehingga ia merasa lebih baik bila dulu ia dijadikan tanah. Dengan demikian ia tidak akan mungkin melakukan hal-hal buruk seperti yang dilakukannya saat itu. ????

5. Surah al-Fajr ayat 24: "Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.”

Kalimat ini diucapkan oleh orang-orang yang semasa hidupnya suka berbuat keburukan. Ia menghabiskan waktunya dengan melakukan hal yang sia-sia. Sehingga di akhirat saat diperlihatkan perbuatannya, ia merasa menyesal mengapa dahulu semasa hidup tidak mengerjakan kebaikan.

Referensi : Menyibak Tabir Penyesalan Manusia


Mengapa Penyesalan Selalu Datang Di Akhir

Mengapa Penyesalan Selalu Datang Di Akhir  Mengapa Penyesalan Selalu Datang Di Akhir. mengapa penyesalan selalu datang terakhir? penyesalan memang akan tetap terjadi selama kita di perhadapkan dengan pilihan atau semacamnya. kenapa datangnya selalu belakangan, karena itu memang merupakan suatu hukum sebab akibat. jika kita mau untuk menyadarinya secara jujur setiap kali kita melakukan sesuatu, ada kemungkinan kita akan menyesal tetapi permasalahannya seberapa besar kita menganggap dan mengatakan bahwa apa yang telah kita lakukan sebenarnya masih ada kesalahan dan merupakan suatu penyesalan serta menganggap hal itu bisa dianggap penyesalan atau diabaikan. secra umum penyesalan terjadi ketika merasa pilihan yang kita buat tidak seperti yang kita harapkan apalagi setelah kita menyadari salah satu pilihan yang tidak kita pilih sebelumnya ternyata lebih baik.. Mengapa Penyesalan Selalu Datang Di Akhir

Mengapa Penyesalan Selalu Datang Di Akhir. mengapa penyesalan selalu datang terakhir? penyesalan memang akan tetap terjadi selama kita di perhadapkan dengan pilihan atau semacamnya. kenapa datangnya selalu belakangan, karena itu memang merupakan suatu hukum sebab akibat. jika kita mau untuk menyadarinya secara jujur setiap kali kita melakukan sesuatu, ada kemungkinan kita akan menyesal tetapi permasalahannya seberapa besar kita menganggap dan mengatakan bahwa apa yang telah kita lakukan sebenarnya masih ada kesalahan dan merupakan suatu penyesalan serta menganggap hal itu bisa dianggap penyesalan atau diabaikan. secra umum penyesalan terjadi ketika merasa pilihan yang kita buat tidak seperti yang kita harapkan apalagi setelah kita menyadari salah satu pilihan yang tidak kita pilih sebelumnya ternyata lebih baik.

Referensi : Mengapa Penyesalan Selalu Datang Di Akhir


Penyesalan Datang Terlambat

Ilustrasi : Penyesalan Datang Terlambat Dalam hidup ini, terkadang kita diberikan dua pilihan yang harus kita putuskan. Keputusan yang mungkin akan mempengaruhi tindakan dan juga keadaan kita di masa depan.  Namun tak peduli apapun keputusan kita, ada sebuah pertanyaan tentang apakah keputusan kita itu adalah keputusan yang tepat atau keputusan yang salah. Jika memang tepat dan baik, mungkin itu memang takdir kita. Namun bagaimana jika salah? Mungkin penyesalan yang akan kita rasakan.  “Penyesalan selalu datangnya belakangan” Kata kata itu menunjukkan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dan yang kita ucapkan, memiliki peluang untuk kita menyesal.  “Mengapa kita melakukan itu? Andai saja kita melakukan ini” dan kata-kata penyesalan lainnya.  Penyesalan adalah kesadaran yang kadaluwarsa, artinya kita terlambat untuk menyadari sesuatu yang baik. Namun meskipun begitu, bukan berarti kita tidak dapat memperbaiki kesalahan kita.  Tidak ada yang perlu disesali. Walaupun nasi sudah menjadi bubur, bukan berarti kita tidak bisa memakan nasi bubur tersebut. Kita masih bisa memakannya, misalnya dengan menambahkan cita rasanya agar enak untuk di makan.  Begitu juga dengan penyesalan hidup, kita bisa memperbaiki kesalahan yang membuat kita menyesal. Kita juga bisa menjadikan penyesalan itu sebagai pelajaran hidup agar di masa depan kita lebih berhati-hati dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.  Sama seperti kata kata penyesalan berikut ini. Kalimat dan kutipan bijak dibawah ini bisa kita jadikan caption, quotes, dan ucapan motivasi agar kita paham bahwa penyesalan itu selalu datangnya terlambat. Berikut adalah kata kata tentang penyesalan datang di akhir    Ketakutan itu hanya sementara. Penyesalan itu selamanya. Penyesalan tidak dapat mengubah masa lalu, begitu pula kekhawatiran tidak dapat mengubah masa depan. Mulailah apa-apa yang sudah kamu rencanakan. Terlalu banyak pertimbangan akan membawamu pada penyesalan. Penyesalan tanpa adanya tindakan hanya akan membuatmu bertambah menyesal. Jangan marah, karena akhir dari kemarahan adalah penyesalan. Berlarut dalam penyesalan serupa dengan memperhatikan bumi yang tidak memiliki ujung. Terkadang, seseorang yang memilih pergi lupa dengan alasan mengapa dulu ia meninggalkan, lalu meminta kembali tanpa ada penyesalan. Apa pun yang dimulai dengan kebohongan, akan berujung pada penyesalan. Begitu banyak kata ANDAI untuk mengawali setiap penyesalan. Begitu Anda mulai menyesal, itu sudah terlambat. Akan selalu ada penyesalan, setelah kehilangan sesuatu yang selama ini Anda sia-siakan. Adanya penyesalan adalah untuk menyadarkan bahwa waktu yang telah berlalu tidak dapat diulang. Keraguan datang dalam permulaaan, dan biasanya diakhiri dengan rasa penyesalan. Berpikir sebelum bertindak dapat menjagamu dari penyesalan. Penyesalan itu selalu datang diakhir, kalo diawal itu pendaftaran. Pada akhirnya kita hanya menyesali peluang yang tidak kita ambil. Katakan apa yang seharusnya kamu katakan. Karena jika hanya diam, hanya penyesalan yang akan kamu dapatkan. Di dalam kehati-hatian terdapat keselamatan, dan di dalam ketergesa-gesaan terdapat penyesalan. Penyesalan selalu datang terlambat. jika penyesalan datang awal, maka tidak akan ada orang yang membuat kesalahan. Menunggu itu sulit, tapi lebih sulit menghadapi penyesalan. Tiada penyesalan untuk sesuatu yang telah dipersiapkan dengan baik. Berpikir ke depan itu mudah, tetapi penyesalan itu sulit. Masa lalu hanya ada untuk diambil hikmah dan pelajarannya, bukan untuk menjadi penyesalan dan menghalangi masa depan. Penyesalan akan terjadi jika hidup gegabah tanpa rencana dan pemikiran yang matang. Membuat perubahan besar dalam hidup terkadang cukup menakutkan. Tapi tahukah Anda apa yang lebih menakutkan? Penyesalan. Penyesalan adalah awal dari terbentuknya puing-puing kesadaran yang terlambat! Aku ingin menggenggam sedikit waktu saja yang sempat ku buang. Waktu yang kukira luang kini menghujamku pada titik penyesalan. Penundaan hanya akan berujung penyesalan. Biasanya yang hilang tanpa alasan akan kembali dengan segudang penyesalan. Hati yang tidak memaafkan mati dalam penyesalan. Hargailah apa yang kamu miliki saat ini sebelum itu menjadi apa yang kamu sesali. Penyesalan atas waktu yang terbuang menyebabkan lebih banyak waktu yang terbuang. Tidak ada yang harus dibanggakan, tidak ada yang perlu menjadi penyesalan. Tidak ada penyesalan. Jika itu baik, itu luar biasa. Jika itu buruk, itu pengalaman. Jangan merusak awal yang baru dengan menaburkan penyesalan! Satu-satunya hal dalam hidup yang kamu sesali adalah risiko yang tidak kamu ambil. Orang bodoh menyesali perkataan mereka, orang cerdas menyesali sikap diam mereka. Buatlah mereka menyesal, karena bintang akan bersinar pada waktunya. Penyesalan adalah kesempatan yang kedaluwarsa. Terimalah masa lalu tanpa penyesalan, atasi masa kini dengan percaya diri, dan hadapi masa depan tanpa rasa takut. Mempertahankan sesuatu yang tidak membuatmu nyaman hanya akan memperpanjang penyesalan. Jangan pernah berlebihan dalam segala hal. Supaya terhindar dari penyesalan dan kekecewaan yang mendalam. Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba. Jangan biarkan penyesalan datang karena kamu selangkah lagi untuk menang. Kemarahan adalah kondisi dimana lidah bekerja lebih cepat dari pada pikiran, dan kata-kata yang terlanjur terucap hanya jadi penyesalan. Aku ingin sibuk sesibuk-sibuknya untuk sukses sesukses-suksesnya. Agar kau percaya penyesalan bisa datang bersamaan dengan perpisahan. Penyesalan yang paling pahit itu saat tahu penyesalan itu keterlambatan. Banyak hal yang sulit dimengerti. Dan mungkin, disaat kamu menyadarinya, sesuatu itu telah berubah menjadi penyesalan, sehingga akan sulit membuatnya kembali utuh. Jika penyesalan adalah sebuah pengalaman, maka hikmah yang amat besar terkandung di dalamnya. Ribuan penyesalan tidak dapat mengubah apapun, tapi satu penyesalan yang diikuti dengan niat memperbaiki dapat mengubah banyak hal. Manusia diberikan kemampuan untuk memilih. Tentukan pilihan dengan hati dan logika, kemudian jalani tanpa penyesalan.

Dalam hidup ini, terkadang kita diberikan dua pilihan yang harus kita putuskan. Keputusan yang mungkin akan mempengaruhi tindakan dan juga keadaan kita di masa depan.

Namun tak peduli apapun keputusan kita, ada sebuah pertanyaan tentang apakah keputusan kita itu adalah keputusan yang tepat atau keputusan yang salah. Jika memang tepat dan baik, mungkin itu memang takdir kita. Namun bagaimana jika salah? Mungkin penyesalan yang akan kita rasakan.

“Penyesalan selalu datangnya belakangan” Kata kata itu menunjukkan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dan yang kita ucapkan, memiliki peluang untuk kita menyesal.

“Mengapa kita melakukan itu? Andai saja kita melakukan ini” dan kata-kata penyesalan lainnya.

Penyesalan adalah kesadaran yang kadaluwarsa, artinya kita terlambat untuk menyadari sesuatu yang baik. Namun meskipun begitu, bukan berarti kita tidak dapat memperbaiki kesalahan kita.

Tidak ada yang perlu disesali. Walaupun nasi sudah menjadi bubur, bukan berarti kita tidak bisa memakan nasi bubur tersebut. Kita masih bisa memakannya, misalnya dengan menambahkan cita rasanya agar enak untuk di makan.

Begitu juga dengan penyesalan hidup, kita bisa memperbaiki kesalahan yang membuat kita menyesal. Kita juga bisa menjadikan penyesalan itu sebagai pelajaran hidup agar di masa depan kita lebih berhati-hati dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Sama seperti kata kata penyesalan berikut ini. Kalimat dan kutipan bijak dibawah ini bisa kita jadikan caption, quotes, dan ucapan motivasi agar kita paham bahwa penyesalan itu selalu datangnya terlambat. Berikut adalah kata kata tentang penyesalan datang di akhir


  1. Ketakutan itu hanya sementara. Penyesalan itu selamanya.
  2. Penyesalan tidak dapat mengubah masa lalu, begitu pula kekhawatiran tidak dapat mengubah masa depan.
  3. Mulailah apa-apa yang sudah kamu rencanakan. Terlalu banyak pertimbangan akan membawamu pada penyesalan.
  4. Penyesalan tanpa adanya tindakan hanya akan membuatmu bertambah menyesal.
  5. Jangan marah, karena akhir dari kemarahan adalah penyesalan.
  6. Berlarut dalam penyesalan serupa dengan memperhatikan bumi yang tidak memiliki ujung.
  7. Terkadang, seseorang yang memilih pergi lupa dengan alasan mengapa dulu ia meninggalkan, lalu meminta kembali tanpa ada penyesalan.
  8. Apa pun yang dimulai dengan kebohongan, akan berujung pada penyesalan.
  9. Begitu banyak kata ANDAI untuk mengawali setiap penyesalan.
  10. Begitu Anda mulai menyesal, itu sudah terlambat.
  11. Akan selalu ada penyesalan, setelah kehilangan sesuatu yang selama ini Anda sia-siakan.
  12. Adanya penyesalan adalah untuk menyadarkan bahwa waktu yang telah berlalu tidak dapat diulang.
  13. Keraguan datang dalam permulaaan, dan biasanya diakhiri dengan rasa penyesalan.
  14. Berpikir sebelum bertindak dapat menjagamu dari penyesalan.
  15. Penyesalan itu selalu datang diakhir, kalo diawal itu pendaftaran.
  16. Pada akhirnya kita hanya menyesali peluang yang tidak kita ambil.
  17. Katakan apa yang seharusnya kamu katakan. Karena jika hanya diam, hanya penyesalan yang akan kamu dapatkan.
  18. Di dalam kehati-hatian terdapat keselamatan, dan di dalam ketergesa-gesaan terdapat penyesalan.
  19. Penyesalan selalu datang terlambat. jika penyesalan datang awal, maka tidak akan ada orang yang membuat kesalahan.
  20. Menunggu itu sulit, tapi lebih sulit menghadapi penyesalan.
  21. Tiada penyesalan untuk sesuatu yang telah dipersiapkan dengan baik.
  22. Berpikir ke depan itu mudah, tetapi penyesalan itu sulit.
  23. Masa lalu hanya ada untuk diambil hikmah dan pelajarannya, bukan untuk menjadi penyesalan dan menghalangi masa depan.
  24. Penyesalan akan terjadi jika hidup gegabah tanpa rencana dan pemikiran yang matang.
  25. Membuat perubahan besar dalam hidup terkadang cukup menakutkan. Tapi tahukah Anda apa yang lebih menakutkan? Penyesalan.
  26. Penyesalan adalah awal dari terbentuknya puing-puing kesadaran yang terlambat!
  27. Aku ingin menggenggam sedikit waktu saja yang sempat ku buang. Waktu yang kukira luang kini menghujamku pada titik penyesalan.
  28. Penundaan hanya akan berujung penyesalan.
  29. Biasanya yang hilang tanpa alasan akan kembali dengan segudang penyesalan.
  30. Hati yang tidak memaafkan mati dalam penyesalan.
  31. Hargailah apa yang kamu miliki saat ini sebelum itu menjadi apa yang kamu sesali.
  32. Penyesalan atas waktu yang terbuang menyebabkan lebih banyak waktu yang terbuang.
  33. Tidak ada yang harus dibanggakan, tidak ada yang perlu menjadi penyesalan.
  34. Tidak ada penyesalan. Jika itu baik, itu luar biasa. Jika itu buruk, itu pengalaman.
  35. Jangan merusak awal yang baru dengan menaburkan penyesalan!
  36. Satu-satunya hal dalam hidup yang kamu sesali adalah risiko yang tidak kamu ambil.
  37. Orang bodoh menyesali perkataan mereka, orang cerdas menyesali sikap diam mereka.
  38. Buatlah mereka menyesal, karena bintang akan bersinar pada waktunya.
  39. Penyesalan adalah kesempatan yang kedaluwarsa.
  40. Terimalah masa lalu tanpa penyesalan, atasi masa kini dengan percaya diri, dan hadapi masa depan tanpa rasa takut.
  41. Mempertahankan sesuatu yang tidak membuatmu nyaman hanya akan memperpanjang penyesalan.
  42. Jangan pernah berlebihan dalam segala hal. Supaya terhindar dari penyesalan dan kekecewaan yang mendalam.
  43. Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba. Jangan biarkan penyesalan datang karena kamu selangkah lagi untuk menang.
  44. Kemarahan adalah kondisi dimana lidah bekerja lebih cepat dari pada pikiran, dan kata-kata yang terlanjur terucap hanya jadi penyesalan.
  45. Aku ingin sibuk sesibuk-sibuknya untuk sukses sesukses-suksesnya. Agar kau percaya penyesalan bisa datang bersamaan dengan perpisahan.
  46. Penyesalan yang paling pahit itu saat tahu penyesalan itu keterlambatan.
  47. Banyak hal yang sulit dimengerti. Dan mungkin, disaat kamu menyadarinya, sesuatu itu telah berubah menjadi penyesalan, sehingga akan sulit membuatnya kembali utuh.
  48. Jika penyesalan adalah sebuah pengalaman, maka hikmah yang amat besar terkandung di dalamnya.
  49. Ribuan penyesalan tidak dapat mengubah apapun, tapi satu penyesalan yang diikuti dengan niat memperbaiki dapat mengubah banyak hal.
  50. Manusia diberikan kemampuan untuk memilih. Tentukan pilihan dengan hati dan logika, kemudian jalani tanpa penyesalan.

Hukum Menceraikan Istri dalam Keadaan Marah?

Ilustrasi gambar : Menurut para ulama, cerai yang dijatuhkan oleh orang yang sedang marah dianggap tidak terjadi cerai atau belum jatuh talak. Sebab, orang itu dianggap dalam keadaan tidak sadar.  Ini didasarkan pada sabda Nabi Muhammad saw dari Aisyah RA, "Tidak ada cerai dan tidak ada pembebasan budak dalam keadaan tidak sadar (ighlaq)" (HR Ahmad, Abu Daud, dan Hakim).  Ighlaq dapat dipahami sebagai marah (ghadhab), dipaksa (mukrah), dan gila (junun). Menurut Ibn Taimiyah, ighlaq adalah kondisi tidak sadar sehingga tanpa sengaja keluar kata-kata atau sesuatu yang tidak diketahui.  Menurutnya, termasuk dalam kelompok ini ialah cerai yang dilakukan orang yang dipaksa, orang gila, dan orang yang hilang kesadaran lantaran mabuk atau marah.     Tiga level marah  Namun, kita pun perlu mengetahui tingkat-tingkat marah. Menurut Saayyid Sabiq, ada tiga tingkatan marah.  Pertama, marah yang menghilangkan kesadaran sehingga seseorang tidak mengerti apa yang diucapkannya. Tidak terjadi cerai dalam kondisi ini, tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.  Kedua, marah dalam batas-batas yang masih terkendali. Seseorang masih mengerti apa yang diucapkan. Cerai dalam keadaan ini dianggap efektif alias terjadi cerai.  Ketiga, marah yang sangat besar, tetapi secara umum orang itu masih sadar. Namun, marah seperti ini cenderung lepas kontrol. Ini mengundang perdebatan di kalangan ulama ihwal hukumnya. Namun, peluang tidak terjadi cerai cenderung lebih kuat.     Cerai main-main?  Kini, tentang cerai dari orang yang main-main atau tidak secara sungguh-sungguh bermaksud menceraikan.  Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini. Menurut jumhur ulama, terjadi cerai dalam kasus ini.  Pendapat itu didasarkan pada hadis Nabi SAW, "Tiga hal yang sungguh-sungguhnya jadi sungguhan, dan main-mainnya pun jadi sungguhan pula. Tiga hal itu adalah nikah, talak, dan rujuk" (HR Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah, Tirmidzi, dan Hakim dari Abu Hurairah).  Menurut sebagian ulama yang lain, seperti Al-Baqir dan Jakfar Al-Shadiq, begitu pula Imam Ahmad dan Malik, tidak terjadi cerai dalam kasus ini.  Mereka menetapkan beberapa syarat untuk terjadinya cerai. Misalnya, adanya pernyataan cerai (tanpa ada paksaan dari siapapun), mengerti makna pernyataan itu, dan ada kehendak atau niat untuk menceraikan.  Bila tidak ada niat untuk menceraikan, maka pernyataan cerai dianggap hanya main-main belaka. Jadi, dalam hal ini, tidak terjadi cerai. Pendapat ini didasarkan pada firman Allah: "Dan jika mereka berketetapan hati untuk cerai, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (al-Baqarah: 227).  Berdasarkan ayat di atas, para ulama itu berpendapat, cerai memerlukan niat atau kesengajaan yang mantap untuk menceraikan. Adapun orang yang main-main, tentu tidak ada niat dan tidak ada kehendak yang sungguh-sungguh untuk menceraikan.  Oleh karena itu, menurut mereka, pernyataan cerai dari orang yang main-main dipandang tidak terjadi cerai atau belum jatuh talak.  Di atas itu semua, tentunya kata cerai tak boleh sembarangan diucapkan. Jangan karena suatu kesalahan yang kecil saja, seorang suami mengancam istri dengan kata cerai. Hukum Menceraikan Istri dalam Keadaan Marah. Dalam kajian fikih, setidaknya terdapat dua pembahasan tentang hukum cerai yang disampaikan dalam kondisi psikis marah.   Pertama, kasus ketika orang yang menyatakan cerai dalam keadaan marah atau emosi (Thalaq al-Ghadhban). Kedua, saat suami menyatakan cerai, tetapi tidak sungguh-sungguh bermaksud menceraikan istrinya (Thalaq al-Hazil).  Menurut para ulama, cerai yang dijatuhkan oleh orang yang sedang marah dianggap tidak terjadi cerai atau belum jatuh talak. Sebab, orang itu dianggap dalam keadaan tidak sadar.  Ini didasarkan pada sabda Nabi Muhammad saw dari Aisyah RA, "Tidak ada cerai dan tidak ada pembebasan budak dalam keadaan tidak sadar (ighlaq)" (HR Ahmad, Abu Daud, dan Hakim).  Ighlaq dapat dipahami sebagai marah (ghadhab), dipaksa (mukrah), dan gila (junun). Menurut Ibn Taimiyah, ighlaq adalah kondisi tidak sadar sehingga tanpa sengaja keluar kata-kata atau sesuatu yang tidak diketahui.  Menurutnya, termasuk dalam kelompok ini ialah cerai yang dilakukan orang yang dipaksa, orang gila, dan orang yang hilang kesadaran lantaran mabuk atau marah.     Tiga level marah  Namun, kita pun perlu mengetahui tingkat-tingkat marah. Menurut Saayyid Sabiq, ada tiga tingkatan marah.  Pertama, marah yang menghilangkan kesadaran sehingga seseorang tidak mengerti apa yang diucapkannya. Tidak terjadi cerai dalam kondisi ini, tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.  Kedua, marah dalam batas-batas yang masih terkendali. Seseorang masih mengerti apa yang diucapkan. Cerai dalam keadaan ini dianggap efektif alias terjadi cerai.  Ketiga, marah yang sangat besar, tetapi secara umum orang itu masih sadar. Namun, marah seperti ini cenderung lepas kontrol. Ini mengundang perdebatan di kalangan ulama ihwal hukumnya. Namun, peluang tidak terjadi cerai cenderung lebih kuat.     Cerai main-main?  Kini, tentang cerai dari orang yang main-main atau tidak secara sungguh-sungguh bermaksud menceraikan.  Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini. Menurut jumhur ulama, terjadi cerai dalam kasus ini.  Pendapat itu didasarkan pada hadis Nabi SAW, "Tiga hal yang sungguh-sungguhnya jadi sungguhan, dan main-mainnya pun jadi sungguhan pula. Tiga hal itu adalah nikah, talak, dan rujuk" (HR Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah, Tirmidzi, dan Hakim dari Abu Hurairah).  Menurut sebagian ulama yang lain, seperti Al-Baqir dan Jakfar Al-Shadiq, begitu pula Imam Ahmad dan Malik, tidak terjadi cerai dalam kasus ini.  Mereka menetapkan beberapa syarat untuk terjadinya cerai. Misalnya, adanya pernyataan cerai (tanpa ada paksaan dari siapapun), mengerti makna pernyataan itu, dan ada kehendak atau niat untuk menceraikan.  Bila tidak ada niat untuk menceraikan, maka pernyataan cerai dianggap hanya main-main belaka. Jadi, dalam hal ini, tidak terjadi cerai. Pendapat ini didasarkan pada firman Allah: "Dan jika mereka berketetapan hati untuk cerai, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (al-Baqarah: 227).  Berdasarkan ayat di atas, para ulama itu berpendapat, cerai memerlukan niat atau kesengajaan yang mantap untuk menceraikan. Adapun orang yang main-main, tentu tidak ada niat dan tidak ada kehendak yang sungguh-sungguh untuk menceraikan.  Oleh karena itu, menurut mereka, pernyataan cerai dari orang yang main-main dipandang tidak terjadi cerai atau belum jatuh talak.  Di atas itu semua, tentunya kata cerai tak boleh sembarangan diucapkan. Jangan karena suatu kesalahan yang kecil saja, seorang suami mengancam istri dengan kata cerai.

Hukum Menceraikan Istri dalam Keadaan Marah. Dalam kajian fikih, setidaknya terdapat dua pembahasan tentang hukum cerai yang disampaikan dalam kondisi psikis marah. 

Pertama, kasus ketika orang yang menyatakan cerai dalam keadaan marah atau emosi (Thalaq al-Ghadhban). Kedua, saat suami menyatakan cerai, tetapi tidak sungguh-sungguh bermaksud menceraikan istrinya (Thalaq al-Hazil).

Menurut para ulama, cerai yang dijatuhkan oleh orang yang sedang marah dianggap tidak terjadi cerai atau belum jatuh talak. Sebab, orang itu dianggap dalam keadaan tidak sadar.

Ini didasarkan pada sabda Nabi Muhammad saw dari Aisyah RA, "Tidak ada cerai dan tidak ada pembebasan budak dalam keadaan tidak sadar (ighlaq)" (HR Ahmad, Abu Daud, dan Hakim).

Ighlaq dapat dipahami sebagai marah (ghadhab), dipaksa (mukrah), dan gila (junun). Menurut Ibn Taimiyah, ighlaq adalah kondisi tidak sadar sehingga tanpa sengaja keluar kata-kata atau sesuatu yang tidak diketahui.

Menurutnya, termasuk dalam kelompok ini ialah cerai yang dilakukan orang yang dipaksa, orang gila, dan orang yang hilang kesadaran lantaran mabuk atau marah.

 

Tiga level marah

Namun, kita pun perlu mengetahui tingkat-tingkat marah. Menurut Saayyid Sabiq, ada tiga tingkatan marah.

Pertama, marah yang menghilangkan kesadaran sehingga seseorang tidak mengerti apa yang diucapkannya. Tidak terjadi cerai dalam kondisi ini, tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Kedua, marah dalam batas-batas yang masih terkendali. Seseorang masih mengerti apa yang diucapkan. Cerai dalam keadaan ini dianggap efektif alias terjadi cerai.

Ketiga, marah yang sangat besar, tetapi secara umum orang itu masih sadar. Namun, marah seperti ini cenderung lepas kontrol. Ini mengundang perdebatan di kalangan ulama ihwal hukumnya. Namun, peluang tidak terjadi cerai cenderung lebih kuat.

Dalam hidup ini, terkadang kita diberikan dua pilihan yang harus kita putuskan. Keputusan yang mungkin akan mempengaruhi tindakan dan juga keadaan kita di masa depan.

Namun tak peduli apapun keputusan kita, ada sebuah pertanyaan tentang apakah keputusan kita itu adalah keputusan yang tepat atau keputusan yang salah. Jika memang tepat dan baik, mungkin itu memang takdir kita. Namun bagaimana jika salah? Mungkin penyesalan yang akan kita rasakan.

“Penyesalan selalu datangnya belakangan” Kata kata itu menunjukkan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dan yang kita ucapkan, memiliki peluang untuk kita menyesal.

“Mengapa kita melakukan itu? Andai saja kita melakukan ini” dan kata-kata penyesalan lainnya.

Penyesalan adalah kesadaran yang kadaluwarsa, artinya kita terlambat untuk menyadari sesuatu yang baik. Namun meskipun begitu, bukan berarti kita tidak dapat memperbaiki kesalahan kita.

Tidak ada yang perlu disesali. Walaupun nasi sudah menjadi bubur, bukan berarti kita tidak bisa memakan nasi bubur tersebut. Kita masih bisa memakannya, misalnya dengan menambahkan cita rasanya agar enak untuk di makan.

Begitu juga dengan penyesalan hidup, kita bisa memperbaiki kesalahan yang membuat kita menyesal. Kita juga bisa menjadikan penyesalan itu sebagai pelajaran hidup agar di masa depan kita lebih berhati-hati dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Sama seperti kata kata penyesalan berikut ini. Kalimat dan kutipan bijak dibawah ini bisa kita jadikan caption, quotes, dan ucapan motivasi agar kita paham bahwa penyesalan itu selalu datangnya terlambat. Berikut adalah kata kata tentang penyesalan datang di akhi

Cerai main-main?

Kini, tentang cerai dari orang yang main-main atau tidak secara sungguh-sungguh bermaksud menceraikan.

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini. Menurut jumhur ulama, terjadi cerai dalam kasus ini.

Pendapat itu didasarkan pada hadis Nabi SAW, "Tiga hal yang sungguh-sungguhnya jadi sungguhan, dan main-mainnya pun jadi sungguhan pula. Tiga hal itu adalah nikah, talak, dan rujuk" (HR Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah, Tirmidzi, dan Hakim dari Abu Hurairah).

Menurut sebagian ulama yang lain, seperti Al-Baqir dan Jakfar Al-Shadiq, begitu pula Imam Ahmad dan Malik, tidak terjadi cerai dalam kasus ini.

Mereka menetapkan beberapa syarat untuk terjadinya cerai. Misalnya, adanya pernyataan cerai (tanpa ada paksaan dari siapapun), mengerti makna pernyataan itu, dan ada kehendak atau niat untuk menceraikan.

Bila tidak ada niat untuk menceraikan, maka pernyataan cerai dianggap hanya main-main belaka. Jadi, dalam hal ini, tidak terjadi cerai. Pendapat ini didasarkan pada firman Allah: "Dan jika mereka berketetapan hati untuk cerai, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (al-Baqarah: 227).

Berdasarkan ayat di atas, para ulama itu berpendapat, cerai memerlukan niat atau kesengajaan yang mantap untuk menceraikan. Adapun orang yang main-main, tentu tidak ada niat dan tidak ada kehendak yang sungguh-sungguh untuk menceraikan.

Oleh karena itu, menurut mereka, pernyataan cerai dari orang yang main-main dipandang tidak terjadi cerai atau belum jatuh talak.

Di atas itu semua, tentunya kata cerai tak boleh sembarangan diucapkan. Jangan karena suatu kesalahan yang kecil saja, seorang suami mengancam istri dengan kata cerai.


Referensi : Hukum Menceraikan Istri dalam Keadaan Marah