This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Senin, 29 Agustus 2022

Disumpahi Durhaka Orang Tua hingga Jadi Kenyataan (Bagaimana Caranya Taubat? Buya Yahya Jawab Begini)

Disumpahi Durhaka Orang Tua hingga Jadi Kenyataan (Bagaimana Caranya Taubat? Buya Yahya Jawab Begini). Diantara kewajiban anak kepada kedua orang tua adalah berbakti. Menunjukkan sikap bakti kepada orang tua bisa diwujudkan dengan berbagai cara. Sebaliknya, sikap buruk terhadap kedua orang tua harus dihindari oleh seorang anak karena hal tersebut bisa menjadikannya durhaka. Dalam ajaran agama Islam, durhaka terhadap orang tua termasuk dosa besar dan pelakunya akan mendapat hukuman di dunia dan akhirat jika tidak segera taubat.  Adapun taubat merupakan upaya kembali kepada jalan yang diridhai Allah SWT. Arti taubat menurut istilah para ulama, ialah membersihkan hati dari segala dosa. Lantas dapatkah dosa durhaka kepada orang tua diampuni? Bagaimana cara taubat dari perbuatan tersebut? Simak penjelasan Buya Yahya berikut ini.  Dalam suatu majlis, Buya Yahya mengungkapkan bahwa seseorang akan sengsara jika tidak menyadari perbuatan durhakanya kepada orang tua. “Tangkal kutukan atau doa yang jelek dengan pengadianmu,” ungkapnya, Menurut Buya Yahya, menunjukkan ketulusan kepada orang tua merupakan satu-satunya jalan untuk menangkal keburukan tersebut.  Buya Yahya berpesan anak yang pernah berbuat salah agar jangan menjadi putus asa seperti iblis. Iblis enggan melakukan kebaikan karena merasa dirinya sudah dikutuk. “Kalau anda menyadari pernah durhaka kepada orang tua maka saat inilah anda tangkal durhaka anda dengan mengabdi dan berbuat baik,” ujarnya. Lebih lanjut Buya Yahya mengingatkan, kelak seorang anak akan lebih berilmu daripada orang tuanya. Namun ia harus senantiasa berhati-hati. Pasalnya, anak bisa saja kesal kepada orang tuanya lantas merasa lebih alim dan berilmu sedangkan orang tuanya awam. Hal ini bisa jadi pemicu durhaka.     Referensi ; Disumpahi Durhaka Orang Tua hingga Jadi Kenyataan (Bagaimana Caranya Taubat? Buya Yahya Jawab Begini)

Disumpahi Durhaka Orang Tua hingga Jadi Kenyataan (Bagaimana Caranya Taubat? Buya Yahya Jawab Begini). Diantara kewajiban anak kepada kedua orang tua adalah berbakti. Menunjukkan sikap bakti kepada orang tua bisa diwujudkan dengan berbagai cara. Sebaliknya, sikap buruk terhadap kedua orang tua harus dihindari oleh seorang anak karena hal tersebut bisa menjadikannya durhakaDalam ajaran agama Islam, durhaka terhadap orang tua termasuk dosa besar dan pelakunya akan mendapat hukuman di dunia dan akhirat jika tidak segera taubat.

Adapun taubat merupakan upaya kembali kepada jalan yang diridhai Allah SWT. Arti taubat menurut istilah para ulama, ialah membersihkan hati dari segala dosa. Lantas dapatkah dosa durhaka kepada orang tua diampuni? Bagaimana cara taubat dari perbuatan tersebut? Simak penjelasan Buya Yahya berikut ini.

Dalam suatu majlis, Buya Yahya mengungkapkan bahwa seseorang akan sengsara jika tidak menyadari perbuatan durhakanya kepada orang tua. “Tangkal kutukan atau doa yang jelek dengan pengadianmu,” ungkapnya, Menurut Buya Yahya, menunjukkan ketulusan kepada orang tua merupakan satu-satunya jalan untuk menangkal keburukan tersebut.

Buya Yahya berpesan anak yang pernah berbuat salah agar jangan menjadi putus asa seperti iblis. Iblis enggan melakukan kebaikan karena merasa dirinya sudah dikutuk. “Kalau anda menyadari pernah durhaka kepada orang tua maka saat inilah anda tangkal durhaka anda dengan mengabdi dan berbuat baik,” ujarnya. Lebih lanjut Buya Yahya mengingatkan, kelak seorang anak akan lebih berilmu daripada orang tuanya. Namun ia harus senantiasa berhati-hati. Pasalnya, anak bisa saja kesal kepada orang tuanya lantas merasa lebih alim dan berilmu sedangkan orang tuanya awam. Hal ini bisa jadi pemicu durhaka. 


Referensi ; Disumpahi Durhaka Orang Tua hingga Jadi Kenyataan (Bagaimana Caranya Taubat? Buya Yahya Jawab Begini)



Pernah Terjadi di Zaman Rasulullah, Begini Cara Anak Durhaka Berbakti Kepada Orang Tuanya yang Sudah Meninggal

Pernah Terjadi di Zaman Rasulullah, Begini Cara Anak Durhaka Berbakti Kepada Orang Tuanya yang Sudah Meninggal. Sejak zaman dahulu hingga sekarang banyak sekali anak yang durhaka kepada orang tuanya. Meski sudah dirawat dengan sepenuh hati sejak lahir hingga dewasa, tetap saja ada anak yang durhaka pada orang tua yang telah melahirkannya. Meski demikian, ada juga beberapa anak durhaka yang bertaubat ketika telah menyadari kesalahannya. Cuma sayangnya, kadangkala taubat yang dilakukan oleh seorang anak durhaka seringkali terlambat.  Sebab, baru bertaubat ketika orang tuanya sudah meninggal dunia. Sehingga, sulit bagi anak durhaka tersebut untuk bisa berbakti dan menebus dosa-dosanya terhadap orang tuanya. Lantas, apakah sudah tidak ada jalan sama sekali bagi anak durhaka untuk berbakti kepada orang tuanya yang sudah meninggal?  Ustadz Abdul Somad mengungkapkan, ada cara berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal yang bisa dilakukan oleh anak durhaka. Cara tersebut bahkan pernah dilakukan pada zaman dahulu ketika Rasulullah SAW masih hidup. Diceritakan datang seorang anak durhaka yang telah bertaubat. Kemudian bertanya kepada Nabi apa yang bisa ia lakukan agar bisa berbakti kepada orang tuanya yang sudah meninggal dunia. Kemudian, Nabi menyuruh anak durhaka tersebut untuk bersedekah.  Jadi, orang yang pernah durhaka kepada orang tuanya bisa berbakti dengan cara bersedekah. Bisa bersedekah kepada anak yatim piatu, di panti asuhan, panti jompo dan pesantren. Jika uangnya tidak cukup sedekah kepada diri endiri anak dan istri yang menjadi tamguan wajib bagi  keluarganya sendiri. . Pernah Terjadi di Zaman Rasulullah, Begini Cara Anak Durhaka Berbakti Kepada Orang Tuanya yang Sudah Meninggal

Pernah Terjadi di Zaman Rasulullah, Begini Cara Anak Durhaka Berbakti Kepada Orang Tuanya yang Sudah Meninggal. Sejak zaman dahulu hingga sekarang banyak sekali anak yang durhaka kepada orang tuanya. Meski sudah dirawat dengan sepenuh hati sejak lahir hingga dewasa, tetap saja ada anak yang durhaka pada orang tua yang telah melahirkannya. Meski demikian, ada juga beberapa anak durhaka yang bertaubat ketika telah menyadari kesalahannya. Cuma sayangnya, kadangkala taubat yang dilakukan oleh seorang anak durhaka seringkali terlambat.

Sebab, baru bertaubat ketika orang tuanya sudah meninggal dunia. Sehingga, sulit bagi anak durhaka tersebut untuk bisa berbakti dan menebus dosa-dosanya terhadap orang tuanya. Lantas, apakah sudah tidak ada jalan sama sekali bagi anak durhaka untuk berbakti kepada orang tuanya yang sudah meninggal?

Ustadz Abdul Somad mengungkapkan, ada cara berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal yang bisa dilakukan oleh anak durhaka. Cara tersebut bahkan pernah dilakukan pada zaman dahulu ketika Rasulullah SAW masih hidup. Diceritakan datang seorang anak durhaka yang telah bertaubat. Kemudian bertanya kepada Nabi apa yang bisa ia lakukan agar bisa berbakti kepada orang tuanya yang sudah meninggal dunia. Kemudian, Nabi menyuruh anak durhaka tersebut untuk bersedekah.

Jadi, orang yang pernah durhaka kepada orang tuanya bisa berbakti dengan cara bersedekah. Bisa bersedekah kepada anak yatim piatu, di panti asuhan, panti jompo dan pesantren. Jika uangnya tidak cukup sedekah kepada diri endiri anak dan istri yang menjadi tamguan wajib bagi  keluarganya sendiri. 

Referensi : Pernah Terjadi di Zaman Rasulullah, Begini Cara Anak Durhaka Berbakti Kepada Orang Tuanya yang Sudah Meninggal



Inilah 4 Perkara yang Mewajibkan Kaum Muslimah harus Mandi Wajib

Inilah 4 Perkara yang Mewajibkan Kaum Muslimah harus Mandi Wajib. Ada beberapa kondisi yang mewajibkan seorang muslimah harus melakukan mandi wajib (besar), salah satunya karena adanya kematian.  Kaum muslimah wajib mengetahui kondisi atau perkara-perkara yang mewajibankan mereka melakukan mandi wajib (besar). Kewajiban mandi besar itu antara lain dilandasi dalil dari Al Qur'an dan hadis Nabi Muhammad Shallallahu alihi wa sallam. Sebagaimana firman Allah berikut ini: وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا  "Dan jika kalian junub maka mandilah." (QS Al-Maidah: 6). Juga ayat :   وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا   "Janganlah menghampiri masih sedang kalian dalam keadaan junub terkecuali sekadar berlalu saja, sehingga kalian mandi." (QS An-Nisa: 43).  Sdangkan hadis yang mewajibkan mandi junub sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim berikut,"Apabila dua kemaluan saling bersentuhan, maka telah diwajibkan atas keduanya untuk mandi, baik keluar sperma ataupun tidak." Dinukil dari kitab 'Fiqih Wanita', yang ditulis Syekh Kamil Muhammad Uwaidah dijelaskan bahwa mandi di sini adalah membasahi seluruh tubuh dengan air. Menetapkan niat dalam mandi ini merupakan hal yang wajib bagi laki-laki maupun wanita. Syekh Kamil juga menjelaskan, ada empat hal yang mewajibkan wanita mandi, yakni sebagai berikut:  1. Keluarnya mani karena syahwat, baik dalam tidur maupun tidak   Menurut Syekh Kamil Muhammad Uwaidah, hendaklah wanita muslimah mengetahui bahwa keluarnya mani yang disertai perasaan nikmat mewajibkan untuk mandi, baik yaitu dalam keadaan tidur maupun tidak. Ini merupakan pendapat para fuqaha secara umum dan tidak ada perdebatan pendapat dalam masalah tersebut. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa Ummu Sulaim pernah bertanya. "Wahai Rasulullah Sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran, maka aku pun tidak malu untuk bertanya apakah wanita wajib mandi bila bermimpi? Rasulullah menjawab "Ya apabila ia melihat air mani setelah ia bangun."  2. Apabila seorang istri dicumbu selain pada kemaluan   Apabila seorang istri dicumbu selain pada kemaluan, lalu air mani sang suami keluar mengenai kemaluan istrinya, kemudian sang istri pun merasakan hal yang sama, maka sang istri juga berkewajiban mandi. Sedangkan apabila seorang suami mencumbui istrinya, lalu air maninya keluar mengenai kemaluan istrinya, kemudian sang istri mandi dan setelah itu ia sang istri baru mendapatkan sesuatu yang menyerupai mani keluar dari kemaluannya, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat: Pertama tidak ada kewajiban baginya untuk mandi lagi. Ini adalah pendapat Qatadah, dan Ishaq. Kedua, dia berkewajiban mandi, karena air yang menyerupai mani itu telah keluar dari kemaluannya, di mana ini merupakan pendapat Al Hasan.   Mengenai masalah yang terakhir ini Syekh Kamil Muhammad Uwaidah berpendapat yang lebih tepat adalah pendapat pertama. Juga apabila seorang suami telah memasukan kemaluannya ke dalam kemaluan istrinya, meskipun tidak mengeluarkan mani maka berkewajiban untuk mandi.  3. Mengislamkan wanita kafir Hal ketiga apabila Anda mengislamkan wanita kafir, maka wanita tersebut berkewajiban untuk mandi. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA,:  Bahwa Tsumama al-Hanafi pernah ditawan kaum Muslimin, lalu Nabi mendatanginya pada pagi hari, seraya bertanya apa yang kamu Tsumamah? Ia menjawab: jika engkau hendak membunuhku berarti engkau membunuh orang yang berdarah dan jika engkau bebaskan aku, berarti engkau telah membebaskan orang yang tahu berterima kasih. Sedangkan apabila engkau menghendaki harta, kami akan berikan sebanyak yang kau kehendaki. Para sahabat pada saat itu lebih menginginkan tebusan atas dirinya serta berkata: Apa perlunya kita membunuh orang ini? kemudian Rasulullah pun membiarkannya dan ia setelah kejadian itu masuk Islam. Lalu Rasulullah membebaskan dan membawanya ke kebun milik Abu Thalhah seraya memerintahkan kepadanya untuk mandi. Maka ia pun mandi dan mengerjakan sholat dua rakaat. Selanjutnya Nabi bersabda: ‘’Telah baik Islam saudara kalian ini”. (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).  4. Karena kematian. Menurut ijma ulama, wanita muslimah yang meninggal dunia wajib untuk dimandikan titik Hal ini sesuai dengan perintah Rasulullah untuk memandikan putrinya, Zainab pada saat meninggal dunia.

Inilah 4 Perkara yang Mewajibkan Kaum Muslimah harus Mandi Wajib. Ada beberapa kondisi yang mewajibkan seorang muslimah harus melakukan mandi wajib (besar), salah satunya karena adanya kematian.

Kaum muslimah wajib mengetahui kondisi atau perkara-perkara yang mewajibankan mereka melakukan mandi wajib (besar). Kewajiban mandi besar itu antara lain dilandasi dalil dari Al Qur'an dan hadis Nabi Muhammad Shallallahu alihi wa sallam. Sebagaimana firman Allah berikut ini:
وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

"Dan jika kalian junub maka mandilah." (QS Al-Maidah: 6). Juga ayat :

 وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا 

"Janganlah menghampiri masih sedang kalian dalam keadaan junub terkecuali sekadar berlalu saja, sehingga kalian mandi." (QS An-Nisa: 43).

Sdangkan hadis yang mewajibkan mandi junub sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim berikut,"Apabila dua kemaluan saling bersentuhan, maka telah diwajibkan atas keduanya untuk mandi, baik keluar sperma ataupun tidak." Dinukil dari kitab 'Fiqih Wanita', yang ditulis Syekh Kamil Muhammad Uwaidah dijelaskan bahwa mandi di sini adalah membasahi seluruh tubuh dengan air. Menetapkan niat dalam mandi ini merupakan hal yang wajib bagi laki-laki maupun wanita. Syekh Kamil juga menjelaskan, ada empat hal yang mewajibkan wanita mandi, yakni sebagai berikut:

1. Keluarnya mani karena syahwat, baik dalam tidur maupun tidak 

Menurut Syekh Kamil Muhammad Uwaidah, hendaklah wanita muslimah mengetahui bahwa keluarnya mani yang disertai perasaan nikmat mewajibkan untuk mandi, baik yaitu dalam keadaan tidur maupun tidak. Ini merupakan pendapat para fuqaha secara umum dan tidak ada perdebatan pendapat dalam masalah tersebut. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa Ummu Sulaim pernah bertanya. "Wahai Rasulullah Sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran, maka aku pun tidak malu untuk bertanya apakah wanita wajib mandi bila bermimpi? Rasulullah menjawab "Ya apabila ia melihat air mani setelah ia bangun."

2. Apabila seorang istri dicumbu selain pada kemaluan 

Apabila seorang istri dicumbu selain pada kemaluan, lalu air mani sang suami keluar mengenai kemaluan istrinya, kemudian sang istri pun merasakan hal yang sama, maka sang istri juga berkewajiban mandi. Sedangkan apabila seorang suami mencumbui istrinya, lalu air maninya keluar mengenai kemaluan istrinya, kemudian sang istri mandi dan setelah itu ia sang istri baru mendapatkan sesuatu yang menyerupai mani keluar dari kemaluannya, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat: Pertama tidak ada kewajiban baginya untuk mandi lagi. Ini adalah pendapat Qatadah, dan Ishaq. Kedua, dia berkewajiban mandi, karena air yang menyerupai mani itu telah keluar dari kemaluannya, di mana ini merupakan pendapat Al Hasan. 

Mengenai masalah yang terakhir ini Syekh Kamil Muhammad Uwaidah berpendapat yang lebih tepat adalah pendapat pertama. Juga apabila seorang suami telah memasukan kemaluannya ke dalam kemaluan istrinya, meskipun tidak mengeluarkan mani maka berkewajiban untuk mandi.

3. Mengislamkan wanita kafir Hal ketiga apabila Anda mengislamkan wanita kafir, maka wanita tersebut berkewajiban untuk mandi. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA,:

Bahwa Tsumama al-Hanafi pernah ditawan kaum Muslimin, lalu Nabi mendatanginya pada pagi hari, seraya bertanya apa yang kamu Tsumamah? Ia menjawab: jika engkau hendak membunuhku berarti engkau membunuh orang yang berdarah dan jika engkau bebaskan aku, berarti engkau telah membebaskan orang yang tahu berterima kasih. Sedangkan apabila engkau menghendaki harta, kami akan berikan sebanyak yang kau kehendaki. Para sahabat pada saat itu lebih menginginkan tebusan atas dirinya serta berkata: Apa perlunya kita membunuh orang ini? kemudian Rasulullah pun membiarkannya dan ia setelah kejadian itu masuk Islam. Lalu Rasulullah membebaskan dan membawanya ke kebun milik Abu Thalhah seraya memerintahkan kepadanya untuk mandi. Maka ia pun mandi dan mengerjakan sholat dua rakaat. Selanjutnya Nabi bersabda: ‘’Telah baik Islam saudara kalian ini”. (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

4. Karena kematian. Menurut ijma ulama, wanita muslimah yang meninggal dunia wajib untuk dimandikan titik Hal ini sesuai dengan perintah Rasulullah untuk memandikan putrinya, Zainab pada saat meninggal dunia.

Nasehat Penting untuk Kaum Muslimah agar Selamat Dunia Akhirat

Nasehat Penting untuk Kaum Muslimah agar Selamat Dunia Akhirat. Sebagai muslimah , kita tidak boleh lalai menelaah ancaman dan fitnah dunia kepada kaum wanita melalui untaian nasihat untuk mengingatkan setiap wanita muslimah yang menginginkan keselamatan. Karena itu, kaum Hawa ini harus terus memperoleh bimbingan dan arahan sepanjang perjalanan kehidupannya. Upaya ulama terdahulu dan juga saat ini, tidak pernah lelah untuk memberikan nasihat bagi kaum muslimah ini. Salah satunya Syaikh Muhammad Bin Sholeh Al-Utsaimin.  Dalam kitabnya 'At-Tahdzir min Tawassu’in Nisa’ fit Tabarruj', Syaik Al-Utsaimin menuliskan sebelas wasiat untuk kaum perempuan muslimah. Ia berharap bahwa setiap perempuan muslimah memegang teguh wasiatnya ini, agar selamat dunia dan akhirat. Berikut wasiatnya:  Beribadah kepada Allah sesuai dengan syariat yang telah digariskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.  Menghindari perbuatan syirik, baik syirik dalam aqidah maupun ibadah. Karena syirik dapat menghapuskan amal kebaikan dan mendatangkan kerugian yang sangat besar.  Menghindari perbuatan bid’ah (perbuatan yang diada-adakan, tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam), karena perbuatan bid’ah sangat menyesatkan.  Memelihara waktu sholat dengan sempurna. Karena orang yang memelihara waktu salatnya dengan baik dan disiplin, maka ia juga akan melaksanakan kewajibannya dengan baik dan disiplin pula. Sebagaimana yang kita ketahui, apabila rusak salat seseorang, maka rusaklah seluruh amalannya.  Mematuhi perintah suami.  Memelihara kehormatan diri dan kehormatan suami. Baik ketika suami ada di rumah, maupun jika ia tidak sedang ada di rumah. Begitu pula dengan hartanya.  Berbuat baik terhadap tetangga, dengan memelihara perbuatan dan lisan. Sebab dengan demikian, hal tersebut dapat menghindarkan kita dari perbuatan dan perkataan jahat mereka.  Lebih mengutamakan untuk tinggal di rumah. Tidaklah baik apabila seorang perempuan muslimah terlalu banyak berada di luar rumah. Karena sebaik-baik tempat bagi seorang perempuan muslimah adalah rumahnya. Jika pun ada keperluan yang mendesak, maka seorang wanita wajib menggunakan jilbabnya.  Berbakti kepada kedua orangtua dan mematuhinya dalam syariat. Tidak layak seorang perempuan muslimah memperlakukan orangtuanya dengan semena-mena dan mendurhakainya. Mendidik anak-anak dengan sebaik-baiknya, serta menanamkan nilai-nilai akhlak yang baik dan terpuji. Sesungguhnya seorang perempuan muslimah adalah guru yang utama dan pertama bagi anak-anaknya.  Memperbanyak zikir dan sedekah.  Sepanjang suami tidak melanggar syariat Allah dan Rasul-Nya, maka suami memiliki hak untuk ditaati. Tidak boleh seorang perempuan muslimah bersikap durhaka dan semena-mena terhadap suaminya, apalagi terlalu banyak menuntut.  Demikianlah muslimah, Islam adalah agama yang menjunjung dan memuliakan kaum perempuan. Memberikan ruang untuk para perempuan menjadi berarti dalam hidupnya. Diberinya lahan luas untuk berkarya, dengan berkiprah menjadi seorang istri, menjadi seorang ibu untuk anak-anaknya, menjadi pendakwah bagi sesamanya. Bahkan berkarya dengan keterampilan yang dimilikinya untuk memberi manfaat bagi orang banyak. Oleh karena itu, para muslimah hendaknya bersyukur karena dipilih oleh Allah hidup dalam Islam . Baginya sekecil apapun yang ia perbuat menjadi berarti bagi bekal kehidupan. Ungkapan rasa syukur ini harus terefleksi dalam bukti nyata, berupa taatnya dia kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak cukup hanya menjadi muslimah, namun ia juga harus mukminah.  Referensi : Nasehat Penting untuk Kaum Muslimah agar Selamat Dunia Akhirat. Nasehat Penting untuk Kaum Muslimah agar Selamat Dunia Akhirat

Nasehat Penting untuk Kaum Muslimah agar Selamat Dunia Akhirat. Sebagai muslimah , kita tidak boleh lalai menelaah ancaman dan fitnah dunia kepada kaum wanita melalui untaian nasihat untuk mengingatkan setiap wanita muslimah yang menginginkan keselamatan. Karena itu, kaum Hawa ini harus terus memperoleh bimbingan dan arahan sepanjang perjalanan kehidupannya. Upaya ulama terdahulu dan juga saat ini, tidak pernah lelah untuk memberikan nasihat bagi kaum muslimah ini. Salah satunya Syaikh Muhammad Bin Sholeh Al-Utsaimin.

Dalam kitabnya 'At-Tahdzir min Tawassu’in Nisa’ fit Tabarruj', Syaik Al-Utsaimin menuliskan sebelas wasiat untuk kaum perempuan muslimah. Ia berharap bahwa setiap perempuan muslimah memegang teguh wasiatnya ini, agar selamat dunia dan akhirat. Berikut wasiatnya:

  1. Beribadah kepada Allah sesuai dengan syariat yang telah digariskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. 
  2. Menghindari perbuatan syirik, baik syirik dalam aqidah maupun ibadah. Karena syirik dapat menghapuskan amal kebaikan dan mendatangkan kerugian yang sangat besar. 
  3. Menghindari perbuatan bid’ah (perbuatan yang diada-adakan, tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam), karena perbuatan bid’ah sangat menyesatkan. 
  4. Memelihara waktu sholat dengan sempurna. Karena orang yang memelihara waktu salatnya dengan baik dan disiplin, maka ia juga akan melaksanakan kewajibannya dengan baik dan disiplin pula. Sebagaimana yang kita ketahui, apabila rusak salat seseorang, maka rusaklah seluruh amalannya. 
  5. Mematuhi perintah suami. 
  6. Memelihara kehormatan diri dan kehormatan suami. Baik ketika suami ada di rumah, maupun jika ia tidak sedang ada di rumah. Begitu pula dengan hartanya. 
  7. Berbuat baik terhadap tetangga, dengan memelihara perbuatan dan lisan. Sebab dengan demikian, hal tersebut dapat menghindarkan kita dari perbuatan dan perkataan jahat mereka. 
  8. Lebih mengutamakan untuk tinggal di rumah. Tidaklah baik apabila seorang perempuan muslimah terlalu banyak berada di luar rumah. Karena sebaik-baik tempat bagi seorang perempuan muslimah adalah rumahnya. Jika pun ada keperluan yang mendesak, maka seorang wanita wajib menggunakan jilbabnya. 
  9. Berbakti kepada kedua orangtua dan mematuhinya dalam syariat. Tidak layak seorang perempuan muslimah memperlakukan orangtuanya dengan semena-mena dan mendurhakainya.
  10. Mendidik anak-anak dengan sebaik-baiknya, serta menanamkan nilai-nilai akhlak yang baik dan terpuji. Sesungguhnya seorang perempuan muslimah adalah guru yang utama dan pertama bagi anak-anaknya. 
  11. Memperbanyak zikir dan sedekah. 

Sepanjang suami tidak melanggar syariat Allah dan Rasul-Nya, maka suami memiliki hak untuk ditaati. Tidak boleh seorang perempuan muslimah bersikap durhaka dan semena-mena terhadap suaminya, apalagi terlalu banyak menuntut.

Demikianlah muslimah, Islam adalah agama yang menjunjung dan memuliakan kaum perempuan. Memberikan ruang untuk para perempuan menjadi berarti dalam hidupnya. Diberinya lahan luas untuk berkarya, dengan berkiprah menjadi seorang istri, menjadi seorang ibu untuk anak-anaknya, menjadi pendakwah bagi sesamanya. Bahkan berkarya dengan keterampilan yang dimilikinya untuk memberi manfaat bagi orang banyak. Oleh karena itu, para muslimah hendaknya bersyukur karena dipilih oleh Allah hidup dalam Islam . Baginya sekecil apapun yang ia perbuat menjadi berarti bagi bekal kehidupan. Ungkapan rasa syukur ini harus terefleksi dalam bukti nyata, berupa taatnya dia kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak cukup hanya menjadi muslimah, namun ia juga harus mukminah.

Referensi : Nasehat Penting untuk Kaum Muslimah agar Selamat Dunia Akhirat



Meniru Cara Menasehati Anak Berdasarkan Al-Qur'an Surat Luqman

Meniru Cara Menasehati Anak Berdasarkan Al-Qur'an Surat Luqman. Al-Qur'an surat Luqman merupakan salah satu surat yang berisi nilai-nilai pelajaran untuk orang tua maupun anak. Dalam surat ini, terpetik pelajaran berharga tentang wasiat yang disampaikan oleh Luqman kepada anaknya. Dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan dialog antara Luqman dan putranya. Allah Ta'ala berfirman:  وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ…  “Dan ingatlah ketika Luqman berkata ketika ia memberikan pelajaran kepada anaknya…” (QS. Luqman: 13)  Menurut Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam kajian pembahasan 'Mencetak Generasi Rabbani' di kanal Rodja baru-baru ini, pesan dari ayat di atas adalah salah satu metode orang-orang shalih sebelum kita dan juga oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang memberikan nasihat secara khusus kepada anak-anak. Dimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan kepada Ibnu Abbas:  إِنّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ   “Aku akan mengajarkan beberapa pelajaran.”  Dai yang rutin mengisi kajian parenting islami tentang anak ini menjelaskan, ketika berdialog dengan anak-anak, kita memang mengkhususkan satu pembicaraan itu sebagai sebuah nasihat dari orang tua kepada anak. Diperlukan perhatian dari orang tua kepada anaknya. Dan kata-kata ataupun kalimat yang memancing perhatiannya. Mengawali pembicaraan dengan sapaan atau seruan ini berfungsi untuk menarik perhatian ataupun meminta supaya memperhatikan apa yang dikatakan. Sehingga ayah berbicara dan anak mendengar/menyimak, tidak saling berbalas kata-kata. Luqman berkata:  يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ  “Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah.” (QS. Luqman: 13).  Semua perkara dalam agama itu penting, tapi dari yang penting itu ada yang lebih penting. Sehingga kita harus bisa menentukan skala prioritas di dalam memberikan pelajaran kepada anak. Perkara yang terpenting di sini adalah perkara yang berkaitan dengan akidah tauhid. Karena ini merupakan sebab manusia itu diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan sebagaimana kita sebutkan sebelumnya bahwa tugas terpenting orang tua adalah mengawal tauhid anaknya. Karena dia lahir dengan segel tauhid yang melekat pada dirinya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:  كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ   “Setiap bayi lahir dengan membawa fitrahnya (tauhid).” (HR. Bukhari dan Muslim) Maka, di sini Luqman berpesan agar jangan melakukan syirik, baik itu syirik kecil apalagi syirik besar.  Luqman berkata: إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya kesyirikan adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS. Luqman: 13)  Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary menjelaskan, terkadang dalam memberikan pelajaran kepada anak, tidak hanya perkara-perkara pokok tanpa menjelaskan alasan. Tapi kita perlu menjelaskan alasan. Misalnya mengapa dia harus sholat, mengapa tidak boleh berbohong, dan seterusnya. Seperti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika melarang Al-Hasan kurma zakat, maka Nabi menjelaskan kepada Al-Hasan kenapa ia dilarang tidak boleh memakan kurma zakat. Yaitu karena beliau adalah cucu Nabi, maka tidak halal memakan harta zakat. Kadang-kadang orang tua bisa menyuruh, bisa memerintah, dan bisa melarang, tapi tidak bisa menjelaskan alasan. Maka dari itu orang tua tentunya harus membekali diri juga dengan pengetahuan.  Perintah atau larangan yang tidak disertai dengan alasan membuat anak justru penasaran. Akhirnya dia tetap melakukan itu hingga dia tahu kenapa dia diperintah atau dilarang. Banyak perintah dan larangan di dalam Al-Qur’an maupun hadis. Allah menjelaskan alasan kenapa manusia perlu sholat, Allah jelaskan keutamaan-keutamaan sholat.   إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ  “Sholat yang kamu kerjakan itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45) Allah menjelaskan alasan dibalik perintah dan larangan. Karena syariat ini penuh hikmah. Hingga kita tahu mengapa kita harus sholat, mengapa tidak boleh bohong, buruknya khianat, buruknya dosa dan maksiat.. Meniru Cara Menasehati Anak Berdasarkan Al-Qur'an Surat Luqman

Meniru Cara Menasehati Anak Berdasarkan Al-Qur'an Surat Luqman. Al-Qur'an surat Luqman merupakan salah satu surat yang berisi nilai-nilai pelajaran untuk orang tua maupun anak. Dalam surat ini, terpetik pelajaran berharga tentang wasiat yang disampaikan oleh Luqman kepada anaknya. Dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan dialog antara Luqman dan putranya. Allah Ta'ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ…

“Dan ingatlah ketika Luqman berkata ketika ia memberikan pelajaran kepada anaknya…” (QS. Luqman: 13)

Menurut Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam kajian pembahasan 'Mencetak Generasi Rabbani' di kanal Rodja baru-baru ini, pesan dari ayat di atas adalah salah satu metode orang-orang shalih sebelum kita dan juga oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang memberikan nasihat secara khusus kepada anak-anak. Dimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan kepada Ibnu Abbas:

إِنّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ 

“Aku akan mengajarkan beberapa pelajaran.”

Dai yang rutin mengisi kajian parenting islami tentang anak ini menjelaskan, ketika berdialog dengan anak-anak, kita memang mengkhususkan satu pembicaraan itu sebagai sebuah nasihat dari orang tua kepada anak. Diperlukan perhatian dari orang tua kepada anaknya. Dan kata-kata ataupun kalimat yang memancing perhatiannya. Mengawali pembicaraan dengan sapaan atau seruan ini berfungsi untuk menarik perhatian ataupun meminta supaya memperhatikan apa yang dikatakan. Sehingga ayah berbicara dan anak mendengar/menyimak, tidak saling berbalas kata-kata. Luqman berkata:

يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ

“Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah.” (QS. Luqman: 13).

Semua perkara dalam agama itu penting, tapi dari yang penting itu ada yang lebih penting. Sehingga kita harus bisa menentukan skala prioritas di dalam memberikan pelajaran kepada anak. Perkara yang terpenting di sini adalah perkara yang berkaitan dengan akidah tauhid. Karena ini merupakan sebab manusia itu diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan sebagaimana kita sebutkan sebelumnya bahwa tugas terpenting orang tua adalah mengawal tauhid anaknya. Karena dia lahir dengan segel tauhid yang melekat pada dirinya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ 

“Setiap bayi lahir dengan membawa fitrahnya (tauhid).” (HR. Bukhari dan Muslim) Maka, di sini Luqman berpesan agar jangan melakukan syirik, baik itu syirik kecil apalagi syirik besar.

Luqman berkata: إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya kesyirikan adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS. Luqman: 13)

Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary menjelaskan, terkadang dalam memberikan pelajaran kepada anak, tidak hanya perkara-perkara pokok tanpa menjelaskan alasan. Tapi kita perlu menjelaskan alasan. Misalnya mengapa dia harus sholat, mengapa tidak boleh berbohong, dan seterusnya. Seperti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika melarang Al-Hasan kurma zakat, maka Nabi menjelaskan kepada Al-Hasan kenapa ia dilarang tidak boleh memakan kurma zakat. Yaitu karena beliau adalah cucu Nabi, maka tidak halal memakan harta zakat. Kadang-kadang orang tua bisa menyuruh, bisa memerintah, dan bisa melarang, tapi tidak bisa menjelaskan alasan. Maka dari itu orang tua tentunya harus membekali diri juga dengan pengetahuan.

Perintah atau larangan yang tidak disertai dengan alasan membuat anak justru penasaran. Akhirnya dia tetap melakukan itu hingga dia tahu kenapa dia diperintah atau dilarang. Banyak perintah dan larangan di dalam Al-Qur’an maupun hadis. Allah menjelaskan alasan kenapa manusia perlu sholat, Allah jelaskan keutamaan-keutamaan sholat. 

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

“Sholat yang kamu kerjakan itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)
Allah menjelaskan alasan dibalik perintah dan larangan. Karena syariat ini penuh hikmah. Hingga kita tahu mengapa kita harus sholat, mengapa tidak boleh bohong, buruknya khianat, buruknya dosa dan maksiat.

Referensi ; Meniru Cara Menasehati Anak Berdasarkan Al-Qur'an Surat Luqman

Kisah Azab Pedih dari Putri yang Durhaka

Meniru Cara Menasehati Anak Berdasarkan Al-Qur'an Surat Luqman  Artikel ini telah diterbitkan di halaman SINDOnews.com pada Sabtu, 20 November 2021 - 09:16 WIB oleh Widaningsih dengan judul "Meniru Cara Menasehati Anak Berdasarkan Al-Qur'an Surat Luqman". Untuk selengkapnya kunjungi: https://kalam.sindonews.com/read/604869/72/meniru-cara-menasehati-anak-berdasarkan-al-quran-surat-luqman-1637374288  Untuk membaca berita lebih mudah, nyaman, dan tanpa banyak iklan, silahkan download aplikasi SINDOnews. - Android: https://sin.do/u/android - iOS: https://sin.do/u/ios

Kisah Azab Pedih dari Putri yang Durhaka. llah berkali-kali memerintahkan hamba-Nya untuk selalu berbakti dan menghormati kedua orangtua, dan anak yang durhaka Allah telah menyiapkan azab yang amat pedih. Allah berkali-kali memerintahkan hamba-Nya untuk selalu berbakti dan menghormati kedua orangtua. Sementara bagi mereka yang berbuat durhaka , Allah telah menyiapkan azab yang amat pedih.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, 

 وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعۡبُدُوۡۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِالۡوَالِدَيۡنِ اِحۡسَانًا‌ ؕ اِمَّا يَـبۡلُغَنَّ عِنۡدَكَ الۡكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوۡ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوۡلًا كَرِيۡمًا‏ 

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." (QS. Al Isra: 23).

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." (QS. Al Isra: 23).

Dari kitab ‘Uyun al-Hikayat min Qashash ash-Shalihin wa Nawadir az-Zahidin karya Ibnu al-Jauzi, Abdullah bin Muslim bin Qutaibah menulis sebuah kisah tentang kejamnya siksaan seorang anak yang telah durhaka kepada ayahnya. Dahulu kala, tersebutlah Ardasyir. Ia adalah seorang Kaisar bangsa Ajam yang berhasil mendirikan pemerintahan Sasaniyah sejak tahun 226 M. Ardasyir juga mampu mempersatukan bangsa Persia dan mengusai orang-orang Arab yang tinggi di daerah kekuasaannya.

Suatu ketika, Kaisar Ardasyir hendak menaklukkan Raja Suryani dengan melancarkan beberapa serangan blokade . Sementara Raja Suryani dan pasukannya tengah berlindung dan tertahan di sebuah kota. Usaha Ardasyir ini sempat kandas hingga pada suatu hari, putri Raja Suryani tengah bermain di sekitar kastilnya. Ia naik ke atas bentang dan tak sengaja melihat paras Kaisar Ardasyir. Rupanya putri Raja Suryani jatuh hati pada ketampanan sang Kaisar.

Bak orang yang dimabuk asmara, sang putri nekat hingga memutuskan untuk turun. Ia lantas menulis surat dan menembakkanya dengan anak panah ke arah sang Kaisar. Surat tersebut berisikan sebuah ganjaran jikalau sang Kaisar mau menikahinya. “Jika engkau berjanji mau menikahiku. Maka aku akan menunjukkan kepadamu sebuah lokasi yang bisa engkau jadikan jalan untuk menaklukan kota dengan cara yang paling mudah dan ongkos yang paling ringan,” tulis isi surat tersebut.

Sungguh siapa yang tak tergoda dengan tawaran sang putri? Terlebih lagi, tujuan utamanya untuk mengalahkan Raja Suryani. Maka dengan senyum merekah, Kaisar Ardasyir menulis surat balasan untuk sang putri yang isinya menyetujui usulan sang putri. Ia pun mengirim suratnya sama seperti cara sang putri, yakni dengan menembakkannya bersama anak panah. Maka dalam waktu singkat, keduanya saling berbalas pesan. Pada surat terakhirnya, sang putri memberitahu letak lokasi yang paling mudah untuk menaklukkan kota yang Kaisar Ardasyir inginkan. Lokasi tersebut mudah digapai, namun paling minim penjagaannya. Dari kota inilah, nanti para pasukan Kaisar dapat melancarkan aksinya.

Sementara itu, penduduk kota tengah lengah. Tak ada yang menyangka bahwa pasukan Kaisar menyerang mereka sehingga sedikit sekali persiapan mereka. Maka dengan mudah pasukan Kaisar menaklukan kota tersebut. Usai berhasil menduduki kota tersebut, sang Kaisar menepati janjinya untuk menikahi sang putri.

Di malam pengantin, keduanya tengah bercumbu di atas ranjang. Namun sang putri merasa tidak nyaman di atas ranjang tersebut hingga membuatnya terjaga sepanjang malam. Rupanya sang Kaisar menyadari kegelisahan sang putri dan bertanya, “Ada Apa? Sepertinya kau tidak nyaman ada di sisiku.” “Aku merasa tidak nyaman saja tidur di ranjang ini,” jawab sang putri jujur Jawaban putri tadi langsung direspon sang Kaisar dengan meminta para pengawalnya memeriksa ranjang yang mereka tempati. Rupanya bahan ranjang tersebut terlalu kasar bagi kulit sang putri yang amat lembut dan halus.

Saking lembutnya kulit sang putri membuat Kaisar terheran-heran, ia lantas bertanya, “Memangnya selama ini ayahmu memberi makan apa?” “Kami lebih sering diberi makan madu, otak, keju, dan mentega,” jawab sang putri. Mendengar hal tersebut, sang Kaisar merenung sejenak. Lantas ia berkata, “Tidak ada satu orang pun yang begitu menyayangi, memuliakan dan memanjakan anaknya seperti yang dilakukan ayahmu kepadamu. Besarnya kasih sayang, perhatian dan kebaikan ayahmu kepadamu, serta besarnya hak seorang ayah atas anaknya, rupanya begitu mudah engkau balas dengan pengkhianatan. Air susu yang selama ini diberikan oleh ayahmu kepadamu, dengan mudahnya engkau balas dengan air tuba. Jika terhadap ayahmu yang begitu baik saja engkau tega melakukan hal itu. Aku yakin engkau juga akan begitu mudah melakukan hal yang sama kepadaku.”

Ternyata sang kaisar sangat mengagumi perhatian dan perlakuan sang Raja pada putrinya tersebut. Sayangnya sang putri justru harus membalas seluruh kebaikan dan kasih sayang ayahnya dengan mengkhianatinya. Bukannya makin cinta, justru sang Kaisar marah dan jengkel sehingga memutuskan untuk mengeksekusi istrinya tersebut dengan cara yang amat kejam. Tubuhnya diikatkan pada kuda yang berlari kencang dan dikoyak hingga rusak. Sungguh gambaran sebuah balasan yang amat kejam bagi seorang putri yang durhaka pada ayahnya. Apalagi sang putri telah dirawat dengan kasih sayang berlimpah.

Referensi : Kisah Azab Pedih dari Putri yang Durhaka


Yang Tak Kan Terulang

Yang Tak Kan Terulang. Menjadi orang tua adalah kontrak seumur hidup, 24 jam sehari dan 7 hari dalam sepekan. Tak ada cutinya. Sejak mereka dalam kandungan hingga terlahir dan dapat mendengar, melihat atau memikirkan dan merasakan..... dan selamanya sampai ajal menjemput. Mereka belajar cepat setiap harinya, mencerna dan menyimpulkan. Oleh karenanya jangan lewatkan satu hari saja, atau bahkan satu jam saja dengan mengabaikan anak kita. Apalah lagi memberi contoh buruk, memberinya beban di luar kesanggupannya... Godaan era gadget sekarang bukan hanya anak tersisihkan oleh pekerjaan orang tua, tapi juga sosialita orang tuanya. “Mamah pilih aku apa Facebook?” “Papah pilih aku apa HP?” Kira-kira itu pertanyaan anak sekarang. Segera letakkan gadget Anda, peluk dan cium dia. Temani bermain dan belajar, sebelum Anda menyesal 10 atau 15 tahun lagi.  Belum lama kami terkaget-kaget dengan beberapa peristiwa tentang ‘anak yang belum sebagaimana yang diharapkan’.  Eh apaan sih?  Iyah, ini penting buat Anda yang baru menapaki kehidupan rumah tangga, baru punya anak kecil-kecil atau bahkan Anda yang baru merencanakan berumah tangga.  Lah, buat orang tua yang anaknya sudah gede apa enggak penting?  Ya penting juga, cuma sudah agak telat.  Ceritanya ini adalah curhatan beberapa bunda yang anaknya telah menapaki jenjang SMA dan perguruan tinggi. Beberapa bunda mengeluhkan anak pertama yang terasa agak ‘jauh’ dengan keluarga. Baik secara kejiwaan maupun ideologis.  Orang tuanya menjalani kehidupan yang cukup religius dan si anak mengambil jarak untuk memiliki pandangan sendiri tentang keyakinan hidup. Hmm.  Tentu saja yang demikian berdampak pada cara hidup dan takaran yang berbeda. Misal ibunya sejak kecil membiasakan berjilbab, dan setelah si anak jauh dari orang tua, membuka jilbabnya.  Kasus lain, orang tua melarang pacaran, dan si anak justru memilih pergaulan bebas.  Ada lagi anak yang ‘bersembunyi’ dari jati diri orang tuanya karena ia merasa tak ‘sesolih’ bapak ibunya.  Yang lebih ekstrem adalah anak yang memilih murtad karena bujukan pacarnya. Ia memilih kawin lari meninggalkan keluarganya.  Ada lagi anak yang stres dan harus mendapat perawatan medis dan psikis untuk memulihkan. Ada yang kecanduan game, rokok dan narkoba... duuh!  Ternyata tidak mudah ya membersamai anak kita, membesarkan, mendidik dan mengarahkan.   Duuh saya tidak sedang menakuti, jadi jangan takut punya anak.  Curhatan dan diskusi para bunda ini berujung pada mengenang masa lalu. Masing-masing mencoba memutar ulang bagaimana dulu si anak yang dianggap ‘bermasalah’ ini terlahir, tumbuh dan berkembang dalam keluarganya. Sampailah kami pada beberapa kesimpulan yang mirip.  Para bunda mengakui betapa sibuknya mereka dulu ketika anak-anak ini memasuki masa emas, 0-7 tahun. Anak-anak ini ‘disambi’ beraktivitas, berorganisasi, bekerja dan ada pula yang berdakwah. Terkadang mereka harus dititipkan kepada nenek, pembantu atau tetangga. Terkadang anak-anak  ini ‘terlantar’ di sekolah dan telat menjemputnya.  Sebagian dari mereka bahkan telah diberi ‘beban’ menjaga adik pada usia mereka yang sangat muda.  Mungkin saat itu tak pernah ditanya, apa yang mereka rasakan. Apa yang mereka pikirkan tentang ‘kesibukan orang tuanya’. Atau kosakata mereka belum sampai pada satu kata: terabaikan.  Yah, mungkin mereka belum bisa mengenali perasaan terabaikan atau tersisihkan.  Setelah mereka besar, mereka baru bisa berkata:  “Orang tuaku lebih mementingkan pekerjaan daripada aku”  “Orang tuaku lebih mementingkan teman-temannya daripada aku”  “Orang tuaku lebih mementingkan organisasi dan kegiatannya daripada aku”  Lalu mereka mungkin mengatakan:  “Aku tak ingin menjadi seperti orang tuaku”  “Aku mau kebebasanku untuk menjadi diriku sendiri”  “Tak masalah aku berbeda dengan orang tuaku”  Terbentanglah jarak psikologis, jarak ideologis dan jarak-jarak yang lain, sekalipun mereka tetap satu rumah.  Para orang tua ini butuh energi besar untuk mengarungi jarak tersebut. Mereka bahkan harus rela banyak ‘mengalah' untuk meraih kembali masa-masa yang tak dapat diputar ulang.  Memang hidayah milik Allah. Memang sejarah anak kita belum selesai. Demikian pula sejarah kita. Jadi semoga masih ada harapan.  Bersyukur jika ada orang tua yang mau memulai ulang menuliskan sejarah baru bersama anaknya.  Bukan sekadar  blaming dengan mengatakan:  “Saya sudah berusaha, namun anaknya memang susah diatur...”  “Memang anakku wataknya keras begitu..”  “Itu terpengaruh teman-temannya...”  Orang tua hanyalah manusia biasa. Bukan nabi ataupun rasul. Mungkin dalam sikap kondisionalnya ada salah, khilaf dan ketidaksengajaan, serta juga ketidaktahuan. Namun tak ada kata terlambat untuki memperbaiki.  Saya selalu mengajak diri sendiri untuk memulai dengan taubat. Saat seseorang merasa punya masalah dengan anak atau suami atau orang lain, mulai saja dengan taubat.  Mohon ampun pada Allah dan meminta maaf pada si anak. Itu yang disebut restart, memulai dari nol.  Mohon ampun pada Allah disertai muhasabah, apakah kita telah sempurnakan kewajiban ibadah kepada Allah dengan sepenuhnya? Terus tambah taqarrub dengan ibadah wajib dan raih cinta Allah dengan ibadah sunah. Hiasi dengan kemuliaan akhlak.  Lalu kepada anak, mulailah dengan meminta maaf.  “Maafkan bunda ya nak. Sebagai manusia pastilah bunda punya salah padamu. Bahkan mungkin banyak. Bunda ingin memulai dengan benar. Memulai lagi menjadi sahabatmu. Maafkan bunda untuk semua keterlanjuran...”  Permintaan maaf yang disertai perubahan sikap kita.  Biarlah anak heran dan mencerna. Mungkin butuh beberapa waktu baginya untuk menyambut itu. Tapi bersabarlah untuk terus mendekat meraih hatinya.  Sebagian orang mungkin punya pendapat sebaliknya:  "Mengapa aku yang harus minta maaf? Bukankah aku telah berusaha menjadi orang tua yang baik. Dan kini kenyataannnya anakku yang banyak berbuat salah dan menyakiti hatiku...?"  Huff.  Kalau pernah dengar istilah orang tua yang durhaka kepada anak, ya kira-kira inilah contohnya.  Mengubah orang lain haruslah dimulai dengan mengubah diri kita menjadi lebih baik. Mustahil memaksa anak menjadi lebih baik jika orang tua tak merusaha menginsyafi dirinya.  Duuh panjang banget, apa hubungannya dengan judul di atas?  Mengingatkan saja, bahwa menjadi orang tua adalah kontrak seumur hidup, 24 jam sehari dan 7 hari dalam sepekan. Tak ada cutinya. Sejak mereka dalam kandungan hingga terlahir dan dapat mendengar, melihat atau memikirkan dan merasakan..... dan selamanya sampai ajal menjemput.  Mereka belajar cepat setiap harinya, mencerna dan menyimpulkan.  Oleh karenanya jangan lewatkan satu hari saja, atau bahkan satu jam saja dengan mengabaikan anak kita. Apalah lagi memberi contoh buruk, memberinya beban di luar kesanggupannya...  Godaan era gadget sekarang bukan hanya anak tersisihkan oleh pekerjaan orang tua, tapi juga sosialita orang tuanya.  “Mamah pilih aku apa Facebook?”  “Papah pilih aku apa HP?”  Kira-kira itu pertanyaan anak sekarang.  Segera letakkan gadget Anda, peluk dan cium dia. Temani bermain dan belajar, sebelum Anda menyesal 10 atau 15 tahun lagi.  Referensi : Yang Tak Kan Terulang

Menjadi orang tua adalah kontrak seumur hidup, 24 jam sehari dan 7 hari dalam sepekan. Tak ada cutinya. Sejak mereka dalam kandungan hingga terlahir dan dapat mendengar, melihat atau memikirkan dan merasakan..... dan selamanya sampai ajal menjemput. Mereka belajar cepat setiap harinya, mencerna dan menyimpulkan. Oleh karenanya jangan lewatkan satu hari saja, atau bahkan satu jam saja dengan mengabaikan anak kita. Apalah lagi memberi contoh buruk, memberinya beban di luar kesanggupannya... Godaan era gadget sekarang bukan hanya anak tersisihkan oleh pekerjaan orang tua, tapi juga sosialita orang tuanya. “Mamah pilih aku apa Facebook?” “Papah pilih aku apa HP?” Kira-kira itu pertanyaan anak sekarang. Segera letakkan gadget Anda, peluk dan cium dia. Temani bermain dan belajar, sebelum Anda menyesal 10 atau 15 tahun lagi.

Belum lama kami terkaget-kaget dengan beberapa peristiwa tentang ‘anak yang belum sebagaimana yang diharapkan’.

Eh apaan sih?

Iyah, ini penting buat Anda yang baru menapaki kehidupan rumah tangga, baru punya anak kecil-kecil atau bahkan Anda yang baru merencanakan berumah tangga.

Lah, buat orang tua yang anaknya sudah gede apa enggak penting?

Ya penting juga, cuma sudah agak telat.

Ceritanya ini adalah curhatan beberapa bunda yang anaknya telah menapaki jenjang SMA dan perguruan tinggi. Beberapa bunda mengeluhkan anak pertama yang terasa agak ‘jauh’ dengan keluarga. Baik secara kejiwaan maupun ideologis.

Orang tuanya menjalani kehidupan yang cukup religius dan si anak mengambil jarak untuk memiliki pandangan sendiri tentang keyakinan hidup. Hmm.

Tentu saja yang demikian berdampak pada cara hidup dan takaran yang berbeda. Misal ibunya sejak kecil membiasakan berjilbab, dan setelah si anak jauh dari orang tua, membuka jilbabnya.

Kasus lain, orang tua melarang pacaran, dan si anak justru memilih pergaulan bebas.

Ada lagi anak yang ‘bersembunyi’ dari jati diri orang tuanya karena ia merasa tak ‘sesolih’ bapak ibunya.

Yang lebih ekstrem adalah anak yang memilih murtad karena bujukan pacarnya. Ia memilih kawin lari meninggalkan keluarganya.

Ada lagi anak yang stres dan harus mendapat perawatan medis dan psikis untuk memulihkan. Ada yang kecanduan game, rokok dan narkoba... duuh!

Ternyata tidak mudah ya membersamai anak kita, membesarkan, mendidik dan mengarahkan. 

Duuh saya tidak sedang menakuti, jadi jangan takut punya anak.

Curhatan dan diskusi para bunda ini berujung pada mengenang masa lalu. Masing-masing mencoba memutar ulang bagaimana dulu si anak yang dianggap ‘bermasalah’ ini terlahir, tumbuh dan berkembang dalam keluarganya. Sampailah kami pada beberapa kesimpulan yang mirip.

Para bunda mengakui betapa sibuknya mereka dulu ketika anak-anak ini memasuki masa emas, 0-7 tahun. Anak-anak ini ‘disambi’ beraktivitas, berorganisasi, bekerja dan ada pula yang berdakwah. Terkadang mereka harus dititipkan kepada nenek, pembantu atau tetangga. Terkadang anak-anak  ini ‘terlantar’ di sekolah dan telat menjemputnya.

Sebagian dari mereka bahkan telah diberi ‘beban’ menjaga adik pada usia mereka yang sangat muda.

Mungkin saat itu tak pernah ditanya, apa yang mereka rasakan. Apa yang mereka pikirkan tentang ‘kesibukan orang tuanya’. Atau kosakata mereka belum sampai pada satu kata: terabaikan.

Yah, mungkin mereka belum bisa mengenali perasaan terabaikan atau tersisihkan.

Setelah mereka besar, mereka baru bisa berkata:

“Orang tuaku lebih mementingkan pekerjaan daripada aku”

“Orang tuaku lebih mementingkan teman-temannya daripada aku”

“Orang tuaku lebih mementingkan organisasi dan kegiatannya daripada aku”

Lalu mereka mungkin mengatakan:

“Aku tak ingin menjadi seperti orang tuaku”

“Aku mau kebebasanku untuk menjadi diriku sendiri”

“Tak masalah aku berbeda dengan orang tuaku”

Terbentanglah jarak psikologis, jarak ideologis dan jarak-jarak yang lain, sekalipun mereka tetap satu rumah.

Para orang tua ini butuh energi besar untuk mengarungi jarak tersebut. Mereka bahkan harus rela banyak ‘mengalah' untuk meraih kembali masa-masa yang tak dapat diputar ulang.

Memang hidayah milik Allah. Memang sejarah anak kita belum selesai. Demikian pula sejarah kita. Jadi semoga masih ada harapan.

Bersyukur jika ada orang tua yang mau memulai ulang menuliskan sejarah baru bersama anaknya.

Bukan sekadar

blaming dengan mengatakan:

“Saya sudah berusaha, namun anaknya memang susah diatur...”

“Memang anakku wataknya keras begitu..”

“Itu terpengaruh teman-temannya...”

Orang tua hanyalah manusia biasa. Bukan nabi ataupun rasul. Mungkin dalam sikap kondisionalnya ada salah, khilaf dan ketidaksengajaan, serta juga ketidaktahuan. Namun tak ada kata terlambat untuki memperbaiki.

Saya selalu mengajak diri sendiri untuk memulai dengan taubat. Saat seseorang merasa punya masalah dengan anak atau suami atau orang lain, mulai saja dengan taubat.

Mohon ampun pada Allah dan meminta maaf pada si anak. Itu yang disebut restart, memulai dari nol.

Mohon ampun pada Allah disertai muhasabah, apakah kita telah sempurnakan kewajiban ibadah kepada Allah dengan sepenuhnya? Terus tambah taqarrub dengan ibadah wajib dan raih cinta Allah dengan ibadah sunah. Hiasi dengan kemuliaan akhlak.

Lalu kepada anak, mulailah dengan meminta maaf.

“Maafkan bunda ya nak. Sebagai manusia pastilah bunda punya salah padamu. Bahkan mungkin banyak. Bunda ingin memulai dengan benar. Memulai lagi menjadi sahabatmu. Maafkan bunda untuk semua keterlanjuran...”

Permintaan maaf yang disertai perubahan sikap kita.

Biarlah anak heran dan mencerna. Mungkin butuh beberapa waktu baginya untuk menyambut itu. Tapi bersabarlah untuk terus mendekat meraih hatinya.

Sebagian orang mungkin punya pendapat sebaliknya:

"Mengapa aku yang harus minta maaf? Bukankah aku telah berusaha menjadi orang tua yang baik. Dan kini kenyataannnya anakku yang banyak berbuat salah dan menyakiti hatiku...?"

Huff.

Kalau pernah dengar istilah orang tua yang durhaka kepada anak, ya kira-kira inilah contohnya.

Mengubah orang lain haruslah dimulai dengan mengubah diri kita menjadi lebih baik. Mustahil memaksa anak menjadi lebih baik jika orang tua tak merusaha menginsyafi dirinya.

Duuh panjang banget, apa hubungannya dengan judul di atas?

Mengingatkan saja, bahwa menjadi orang tua adalah kontrak seumur hidup, 24 jam sehari dan 7 hari dalam sepekan. Tak ada cutinya. Sejak mereka dalam kandungan hingga terlahir dan dapat mendengar, melihat atau memikirkan dan merasakan..... dan selamanya sampai ajal menjemput.

Mereka belajar cepat setiap harinya, mencerna dan menyimpulkan.

Oleh karenanya jangan lewatkan satu hari saja, atau bahkan satu jam saja dengan mengabaikan anak kita. Apalah lagi memberi contoh buruk, memberinya beban di luar kesanggupannya...

Godaan era gadget sekarang bukan hanya anak tersisihkan oleh pekerjaan orang tua, tapi juga sosialita orang tuanya.

“Mamah pilih aku apa Facebook?”

“Papah pilih aku apa HP?”

Kira-kira itu pertanyaan anak sekarang.

Segera letakkan gadget Anda, peluk dan cium dia. Temani bermain dan belajar, sebelum Anda menyesal 10 atau 15 tahun lagi.

Referensi : Yang Tak Kan Terulang



Cara Taubat dan Minta Maaf pada Orang Tua yang Meninggal Dunia

Cara Taubat dan Minta Maaf pada Orang Tua yang Meninggal Dunia

Cara Taubat dan Minta Maaf pada Orang Tua yang Meninggal Dunia. Berikut ini cara taubat dan minta maaf pada orang tua yang meninggal dunia berdasarkan penjelasan Ustadz Dasad LatifBerbakti kepada orang tua merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan. Jika seorang anak menyakiti perasaan orang tuanya maka wajib untuk meminta maaf dan bertaubat kepada Allah SWT untuk tidak melakukannya lagi.

Sebagaimana Allah SWT telah berfirman dalam Al-Quran Surat Al-Isra ayat 23 yang berbunyi sebagai berikut. 

“Wa qadaa Rabbuka allaa ta'buduuu illaaa iyyaahu wa bilwaalidaini ihsaanaa; immaa yablughanna 'indakal kibara ahaduhumaaa aw kilaahumaa falaa taqul lahumaaa uffinw wa laa tanharhumaa wa qullahumaa qawlan kariimaa”.

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra: 23)

Jika orang tua sudah meninggal, amalan taubat dan meminta maaf masih dapat dilakukan dengan cara mendoakannya.  Ustadz Dasad Latif yang diunggah pada 10 Oktober 2021 menjelaskan tentang bagaimana cara taubat dan minta maaf pada orang tua yang meninggal dunia.

“Yang pertama doakan almarhum, doakan ibu bapakmu yang sudah meninggal dengan 4 yang kita minta. Ampuni dosa orang tuaku, terima amal ibadahnya, lipatgandakan segala kebaikannya, dan lapangkan alam kuburnya jadikan kuburnya menjadi taman-taman surga”, terang Ustadz Das’ad Latif.

Ustadz Dasad Latif juga menjelakan bagaimana cara berbuat baik kepada orang tua yang sudah meninggal dengan cara bersedekah atas nama orang tua dan menjalin silaturahim dengan kerabat orang tua.  

Dengan seorang anak mengunjungi kerabat dan sanak suadara maka hal itu turut menjadi bentuk kebanggan oleh orang tua meski telah meninggal. Tak hanya mengunjungi, seorang anak harus berbuat baik kepadanya untuk menjaga nama baik keluarga khususnya orang tua yang telah meninggal.

Demikian cara taubat dan minta maaf pada orang tua yang meninggal dunia yang dikutip oleh ceramah Ustadz Das’ad Latif. Semoga informasi berikut ini dapat bermanfaat dan semoga Allah SWT senantiasa mengampuni segala dosa dan perbuatan yang telah kita lakukan di masa lalu.

Referensi : Cara Taubat dan Minta Maaf pada Orang Tua yang Meninggal Dunia