This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Senin, 29 Agustus 2022

Jangan Coba-Coba Durhaka Pada Ibu, Ini Balasan dari Allah Swt

Jangan Coba-Coba Durhaka Pada Ibu, Ini Balasan dari Allah Swt. Allah perintahkan kepada manusia untuk berakhlak yang baik kepada ibunya.  Durhaka kepada orang tua adalah salah satu dosa besar. " Durhaka kepada orang tua adalah salah satu dosa besar. Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa Allah SWT melaknat siapapun yang menyakiti hati orang tuanya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) durhaka adalah ingkar terhadap perintah (Tuhan, orang tua, dan sebagainya). Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua terutama ibu. Ibulah yang sudah mengandung dan merawatnya hingga besar, sebagaimana dalam firman-Nya pada Q.S Al-Ahqaf ayat 15:  Artinya: "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri."  Kedudukan ibu yang lebih mulia di atas bapak juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.  Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, lalu bertanya: "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perbuatan kebaikanku?" Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, "Ibumu,"" lelaki itu bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, "Ibumu," Lelaki itu bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, "Ibumu," Lelaki itu bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Bapakmu." (HR. Bukhari dan Muslim).  Bahkan Allah SWT juga telah memerintahkan untuk memperlakukan kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dia juga melarang seorang anak menolak bahkan membentak ketika dimintai tolong orang tuanya terlebih saat mereka sudah berusia lanjut.  Dalam Q.S Al-Isra ayat 23-34 disebutkan bahwa seorang anak hendaklah merendahkan diri terhadap kedua orang tuanya dan mengatakan perkataan yang mulia di hadapannya.  Artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra: 23).  Artinya: "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (QS. Al-Isra: 24).  Diriwayatkan oleh Al-Hakim, "Ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat yakni anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki dan kepala rumah tangga yang membiarkan adanya kejelekan (zina) dalam rumah tangganya."  Durhaka kepada Orang Tua Termasuk Dosa Besar  Menurut hadis nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, sebesar-besarnya dosa adalah menyekutukan Allah SWT, durhaka kepada orangtua, menjadi saksi palsu, dan berkata bohong.  "Maukah aku beritahukan kepadamu sebesar-besar dosa yang paling besar, tiga kali (beliau ulangi). Sahabat berkata, 'Baiklah, ya Rasulullah', bersabda Nabi: "Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua, serta camkanlah, dan saksi palsu, dan perkataan bohong. Maka Nabi selalu mengulangi, "Dan persaksian palsu, sehingga kami berkata, "Semoga Nabi diam." (HR. Bukhari dan Muslim).  Balasan Orang yang Durhaka Pada Ibu  Dijelaskan pada buku Dahsyatnya Do’a Ibu oleh Ustaz Syamsuddin Noor, ada lima dampak buruk jika seseorang durhaka kepada sang ibu, seperti dikutip dari Republika.co.id.  1. Sia-sia amalnya  Tsauban r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Tiga macam dosa yang akan menyia-nyiakan segala amal-amal lainnya, yaitu syirik atau mempersekutukan Allah, durhaka kepada ayah ibu, dan lari dari medan perang,” (HR At-Tabrabi).  Dari hadis tersebut terlihat amal ibadah seseorang tidak ada artinya apabila orang tersebut melakukan tiga hal yang disebutkan, salah satunya durhaka kepada ayah dan ibu.  Abu Umamah berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Allah tidak akan menerima amal tiga golongan manusia yang bersifat sharfan (taubat atau hal yang sunah) dan ‘adlan (fidyah atau tebusan), yaitu anak yang durhaka kepada kedua orang tua, orang yang suka memberi namun mengharapkan balasan yang lebih, dan orang yang tidak percaya dengan takdir,” (HR Imam Ibnu Ashim).  2. Disegerakan balasannya di dunia  Allah bisa berkehendak untuk menunda azab akibat dosa-dosa hamba-Nya sampai hari kiamat kecuali azab akibat dosa anak yang durhaka kepada orang tuanya. Allah akan mempercepat azab-Nya di alam dunia sebelum ia meninggal.  “Ada dua pintu petaka yang disegerakan akibatnya di dunia, yaitu orang yang zalim dan durhaka kepada orang tua,” (HR Al-Hakim).  Al-Hakim dan Al-Ashbahani meriwayatkan semua dosa akan ditunda oleh Allah hukumannya sampai hari kiamat nanti. Terkecuali mereka yang durhaka kepada ayah atau ibu. Maka, Allah akan segera memberi hukumannya di dunia sebelum mereka meninggal.  Aisyah r.a. berkata Rasulullah SAW bersabda: “Amal kebajikan yang disegerakan balasannya di dunia adalah berbakti kepada kedua orang tua dan menyambung tali silaturrahmi. Sedangkan kejahatan yang disegerakan siksaannya adalah berzina, durhaka kepada kedua orang tua, dan memutus silaturahim,” (HR Imam Turmudzi dan Ibnu Majah).  3. Menghilangkan cahaya kesalehan  Dari kesempurnaan birrul walidaini adalah berbuat baik dan berbakti kepada orang tua ketika keduanya masih hidup dan ketika salah satunya atau keduanya sudah tiada. Jika orang tua sudah tiada, maka kewajiban anak untuk memelihara hubungan dengan orang-orang yang dekat dan dicintai oleh orang tua.  Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang ingin menyambung hubungan dengan orang tuanya di alam kubur, maka sambunglah silaturrahmi dengan sahabat-sahabatnya setelah ia meninggal dunia,” (HR Abu Ya’la dari Ibnu Umar).  Sementara dari Abdillah bin Umar r.a. berkata Rasulullah SAW bersabda: “Peliharalah hubungan dengan teman-teman yang dicintai kedua orang tuamu, jangan kamu memutuskannya. Sebab apabila hubungan itu terputus, Allah akan memadamkan nur cahayamu,” (HR Bukhari).  Dari kedua hadis tersebut, dijelaskan hubungan persahabatan orang tua yang terjalin dengan baik, apabila tidak diteruskan oleh anak-anaknya tentu akan hilang jika hubungan tersebut masih kerabat atau keluarga.  4. Terhalang masuk surga  Ibnu Umar r.a. berkata Rasulullah SAW bersabda: “Tiga macam dosa yang diharamkan Allah bagi yang melakukannya untuk masuk surga, yaitu 1) orang yang selalu mabuk-mabukan (minum khamar), 2) orang yang mendurhakai ibu dan ayahnya, dan 3) germo (orang yang membiarkan istrinya melacur atau orang yang sengaja memelihara pelacur),” (HR Ahmad, An-Nasai dan Al-Hakim).  Abu Hurairah berkata Rasulullah SAW bersabda : “Empat macam orang yang selayaknya Allah tidak memasukkan mereka ke surga dan tidak akan memberi pada mereka nikmat surga, yaitu orang yang selalu meminum khamar, pemakan harta riba, pemakan harta anak yatim tanpa hak, dan orang yang durhaka kepada ayah atau ibunya,” (HR Al-Hakim dan Al-Baihaqqi).  Jadi jika seseorang itu taat beragama apabila durhaka kepada orang tua sekecil apa pun kesalahannya, maka ia akan terhalang masuk surga.  5. Mendapat kutukan Allah  Salah satu perbuatan terkutuk atau dilaknat oleh Allah adalah mendurhakai ayah atau ibu. Sebagaimana tercantum dalam hadis dari Abu Hurairah r.a. berkata Rasulullah SAW bersabda: “Allah telah melaknat tujuh golongan dari atas tujuh lapis langit dan kutukan itu diulang-ulang sampai tiga kali untuk masing-masing. Padahal satu kutukan saja sudah cukup membinasakan, yaitu: 1) terkutuklah orang yang berbuat liwath (laki-laki bercinta dengan laki-laki), 2) terkutuklah orang yang menyembelih tidak karena Allah, 3) terkutuklah orang yang bersetubuh dengan binatang, 4) terkutuklah orang yang durhaka kepada ibu bapaknya, 5) terkutuklah orang yang kawin dengan wanita yang dirangkap dengan putrinya (ibunya dikawini dan anaknya dikawini pula), 6) terkutuklah orang yang merusak tanda-tanda atau batas kepemilikan di bumi, 7) terkutuklah orang yang mengaku hubungan maula (majikan) kepada orang yang bukan maula yang memerdekakannya,” (HR At-Thabrani).  Dapat diketahui barangsiapa yang durhaka kepada ibu atau ayahnya sesungguhnya orang tersebut telah melakukan perbuatan yang dikutuk Allah. Kutukan itu akan segara didatangkan oleh Allah di dunia sebelum ajal tiba.

Jangan Coba-Coba Durhaka Pada Ibu, Ini Balasan dari Allah Swt. Allah perintahkan kepada manusia untuk berakhlak yang baik kepada ibunya.  Durhaka kepada orang tua adalah salah satu dosa besar. " Durhaka kepada orang tua adalah salah satu dosa besar. Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa Allah SWT melaknat siapapun yang menyakiti hati orang tuanya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) durhaka adalah ingkar terhadap perintah (Tuhan, orang tua, dan sebagainya). Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua terutama ibu. Ibulah yang sudah mengandung dan merawatnya hingga besar, sebagaimana dalam firman-Nya pada Q.S Al-Ahqaf ayat 15:

Artinya: "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri."

Kedudukan ibu yang lebih mulia di atas bapak juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, lalu bertanya: "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perbuatan kebaikanku?" Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, "Ibumu,"" lelaki itu bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, "Ibumu," Lelaki itu bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, "Ibumu," Lelaki itu bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Bapakmu." (HR. Bukhari dan Muslim).

Bahkan Allah SWT juga telah memerintahkan untuk memperlakukan kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dia juga melarang seorang anak menolak bahkan membentak ketika dimintai tolong orang tuanya terlebih saat mereka sudah berusia lanjut.

Dalam Q.S Al-Isra ayat 23-34 disebutkan bahwa seorang anak hendaklah merendahkan diri terhadap kedua orang tuanya dan mengatakan perkataan yang mulia di hadapannya.

Artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra: 23).

Artinya: "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (QS. Al-Isra: 24).

Diriwayatkan oleh Al-Hakim, "Ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat yakni anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki dan kepala rumah tangga yang membiarkan adanya kejelekan (zina) dalam rumah tangganya."

Durhaka kepada Orang Tua Termasuk Dosa Besar

Menurut hadis nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, sebesar-besarnya dosa adalah menyekutukan Allah SWT, durhaka kepada orangtua, menjadi saksi palsu, dan berkata bohong.

"Maukah aku beritahukan kepadamu sebesar-besar dosa yang paling besar, tiga kali (beliau ulangi). Sahabat berkata, 'Baiklah, ya Rasulullah', bersabda Nabi: "Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua, serta camkanlah, dan saksi palsu, dan perkataan bohong. Maka Nabi selalu mengulangi, "Dan persaksian palsu, sehingga kami berkata, "Semoga Nabi diam." (HR. Bukhari dan Muslim).

Balasan Orang yang Durhaka Pada Ibu

Dijelaskan pada buku Dahsyatnya Do’a Ibu oleh Ustaz Syamsuddin Noor, ada lima dampak buruk jika seseorang durhaka kepada sang ibu, seperti dikutip dari Republika.co.id.

1. Sia-sia amalnya

Tsauban r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Tiga macam dosa yang akan menyia-nyiakan segala amal-amal lainnya, yaitu syirik atau mempersekutukan Allah, durhaka kepada ayah ibu, dan lari dari medan perang,” (HR At-Tabrabi).

Dari hadis tersebut terlihat amal ibadah seseorang tidak ada artinya apabila orang tersebut melakukan tiga hal yang disebutkan, salah satunya durhaka kepada ayah dan ibu.

Abu Umamah berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Allah tidak akan menerima amal tiga golongan manusia yang bersifat sharfan (taubat atau hal yang sunah) dan ‘adlan (fidyah atau tebusan), yaitu anak yang durhaka kepada kedua orang tua, orang yang suka memberi namun mengharapkan balasan yang lebih, dan orang yang tidak percaya dengan takdir,” (HR Imam Ibnu Ashim).

2. Disegerakan balasannya di dunia

Allah bisa berkehendak untuk menunda azab akibat dosa-dosa hamba-Nya sampai hari kiamat kecuali azab akibat dosa anak yang durhaka kepada orang tuanya. Allah akan mempercepat azab-Nya di alam dunia sebelum ia meninggal.

“Ada dua pintu petaka yang disegerakan akibatnya di dunia, yaitu orang yang zalim dan durhaka kepada orang tua,” (HR Al-Hakim).

Al-Hakim dan Al-Ashbahani meriwayatkan semua dosa akan ditunda oleh Allah hukumannya sampai hari kiamat nanti. Terkecuali mereka yang durhaka kepada ayah atau ibu. Maka, Allah akan segera memberi hukumannya di dunia sebelum mereka meninggal.

Aisyah r.a. berkata Rasulullah SAW bersabda: “Amal kebajikan yang disegerakan balasannya di dunia adalah berbakti kepada kedua orang tua dan menyambung tali silaturrahmi. Sedangkan kejahatan yang disegerakan siksaannya adalah berzina, durhaka kepada kedua orang tua, dan memutus silaturahim,” (HR Imam Turmudzi dan Ibnu Majah).

3. Menghilangkan cahaya kesalehan

Dari kesempurnaan birrul walidaini adalah berbuat baik dan berbakti kepada orang tua ketika keduanya masih hidup dan ketika salah satunya atau keduanya sudah tiada. Jika orang tua sudah tiada, maka kewajiban anak untuk memelihara hubungan dengan orang-orang yang dekat dan dicintai oleh orang tua.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang ingin menyambung hubungan dengan orang tuanya di alam kubur, maka sambunglah silaturrahmi dengan sahabat-sahabatnya setelah ia meninggal dunia,” (HR Abu Ya’la dari Ibnu Umar).

Sementara dari Abdillah bin Umar r.a. berkata Rasulullah SAW bersabda: “Peliharalah hubungan dengan teman-teman yang dicintai kedua orang tuamu, jangan kamu memutuskannya. Sebab apabila hubungan itu terputus, Allah akan memadamkan nur cahayamu,” (HR Bukhari).

Dari kedua hadis tersebut, dijelaskan hubungan persahabatan orang tua yang terjalin dengan baik, apabila tidak diteruskan oleh anak-anaknya tentu akan hilang jika hubungan tersebut masih kerabat atau keluarga.

4. Terhalang masuk surga

Ibnu Umar r.a. berkata Rasulullah SAW bersabda: “Tiga macam dosa yang diharamkan Allah bagi yang melakukannya untuk masuk surga, yaitu 1) orang yang selalu mabuk-mabukan (minum khamar), 2) orang yang mendurhakai ibu dan ayahnya, dan 3) germo (orang yang membiarkan istrinya melacur atau orang yang sengaja memelihara pelacur),” (HR Ahmad, An-Nasai dan Al-Hakim).

Abu Hurairah berkata Rasulullah SAW bersabda : “Empat macam orang yang selayaknya Allah tidak memasukkan mereka ke surga dan tidak akan memberi pada mereka nikmat surga, yaitu orang yang selalu meminum khamar, pemakan harta riba, pemakan harta anak yatim tanpa hak, dan orang yang durhaka kepada ayah atau ibunya,” (HR Al-Hakim dan Al-Baihaqqi).

Jadi jika seseorang itu taat beragama apabila durhaka kepada orang tua sekecil apa pun kesalahannya, maka ia akan terhalang masuk surga.

5. Mendapat kutukan Allah

Salah satu perbuatan terkutuk atau dilaknat oleh Allah adalah mendurhakai ayah atau ibu. Sebagaimana tercantum dalam hadis dari Abu Hurairah r.a. berkata Rasulullah SAW bersabda: “Allah telah melaknat tujuh golongan dari atas tujuh lapis langit dan kutukan itu diulang-ulang sampai tiga kali untuk masing-masing. Padahal satu kutukan saja sudah cukup membinasakan, yaitu: 1) terkutuklah orang yang berbuat liwath (laki-laki bercinta dengan laki-laki), 2) terkutuklah orang yang menyembelih tidak karena Allah, 3) terkutuklah orang yang bersetubuh dengan binatang, 4) terkutuklah orang yang durhaka kepada ibu bapaknya, 5) terkutuklah orang yang kawin dengan wanita yang dirangkap dengan putrinya (ibunya dikawini dan anaknya dikawini pula), 6) terkutuklah orang yang merusak tanda-tanda atau batas kepemilikan di bumi, 7) terkutuklah orang yang mengaku hubungan maula (majikan) kepada orang yang bukan maula yang memerdekakannya,” (HR At-Thabrani).

Dapat diketahui barangsiapa yang durhaka kepada ibu atau ayahnya sesungguhnya orang tersebut telah melakukan perbuatan yang dikutuk Allah. Kutukan itu akan segara didatangkan oleh Allah di dunia sebelum ajal tiba. 


Referensi ; Durhaka kepada Orang Tua Termasuk Dosa Besar



4 Cara Taubat Jika Durhaka kepada Orang Tua

4 Cara Taubat Jika Durhaka kepada Orang Tua. Jika kamu sudah terlanjur durhaka kepada orang tua, ada empat cara yang bisa kamu lakukan untuk bertaubat dengan snungguh-sungguh.  Durhaka kepada orang tua disebut sebagai tiga dosa besar menurut Rasulullah SAW. Namun Allah SWT yang Mahapengampun tentu memberikan ampunan kepada hamba-Nya yang melakukan kesalahan atau dosa.  Hanya saja, sebagai dosa besar, bagaimana cara bertobat dari durhaka kepada orang tua sesuai tuntunan Islam?  Dikutip dari Elbalad, durhaka kepada orang tua memang merupakan dosa besar dalam Islam. Berbuat baik dan memperlakukan mereka dengan perlakuan yang terbaik bahkan diperintahkan Allah SWT dalam Alquran. Allah SWT berfirman:  وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا  Artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS Al Isra ayat 23). Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW menyebutkan bahwa durhaka kepada orang tua tergolong sebagai tiga dosa besar.  ألا أنبئكم بأكبر الكبائر ثلاثا ؟ قلنا بلى يا رسول الله قال الإشراك بالله وعقوق الوالدين ، وكان متكئا فجلس فقال : ألا وقول الزور وشهادة الزور ، فما زال يكررها حتى قلنا ليته سكت  Artinya: "Maukah aku ceritakan kepada kalian dosa besar yang paling besar, yaitu tiga perkara? Kami menjawab, Ya, Rasulullah. Rasulullah berkata: Menyekutukan Allah, dan mendurhakai dua orang tua. Rasulullah sedang bersandar lalu duduk, maka berkata Rasulullah: Tidak mengatakan kebohongan dan kesaksian palsu. Beliau terus mengulanginya sampai kami berkata semoga beliau berhenti." (HR Bukhari dan Muslim). Cara Taubat dari Dosa Durhaka kepada Orang Tua  Adapun cara bertaubat dari dosa durhaka kepada kedua orang tua adalah sebagai berikut yaitu pertama menghentikan kedurhakaannya. Seorang yang ingin bertaubat dari durhaka kepada orang tua harus bertekad untuk berhenti melakukannya.  Kedua, menyesali dosa yang diperbuat. Seseorang harus benar-benar dengan rasa penyesalan bertaubat atas dosa durhaka yang dilakukan. Dia harus benar-benar mengerti kalau perbuatannya itu salah.  Ketiga, bertekad untuk tidak mengulanginya. Setelah berhenti melakukan dosa durhaka dan menyesali perbuatannya, seseorang yang durhaka harus bertekad untuk tidak melakukannya lagi di masa depan. Keempat, beramal saleh. Dalam Islam, amal saleh dapat menghapus dosa-dosa. Jadi, seseorang yang merasa telah berdosa karena durhaka kepada orang tua harus menyertai taubatnya dengan amal soleh yang akan menghapus kesalahan-kesalahannya.  Demikian informasi tentang cara taubat jika durhaka kepada orang tua di rumah. Semoga informasi ini bermanfaat bagi Anda.   Referensi : 4 Cara Taubat Jika Durhaka kepada Orang Tua

4 Cara Taubat Jika Durhaka kepada Orang Tua. Jika kamu sudah terlanjur durhaka kepada orang tua, ada empat cara yang bisa kamu lakukan untuk bertaubat dengan snungguh-sungguh.

Durhaka kepada orang tua disebut sebagai tiga dosa besar menurut Rasulullah SAW. Namun Allah SWT yang Mahapengampun tentu memberikan ampunan kepada hamba-Nya yang melakukan kesalahan atau dosa.

Hanya saja, sebagai dosa besar, bagaimana cara bertobat dari durhaka kepada orang tua sesuai tuntunan Islam?

Dikutip dari Elbalad, durhaka kepada orang tua memang merupakan dosa besar dalam Islam. Berbuat baik dan memperlakukan mereka dengan perlakuan yang terbaik bahkan diperintahkan Allah SWT dalam Alquran. Allah SWT berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS Al Isra ayat 23).
Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW menyebutkan bahwa durhaka kepada orang tua tergolong sebagai tiga dosa besar.

ألا أنبئكم بأكبر الكبائر ثلاثا ؟ قلنا بلى يا رسول الله قال الإشراك بالله وعقوق الوالدين ، وكان متكئا فجلس فقال : ألا وقول الزور وشهادة الزور ، فما زال يكررها حتى قلنا ليته سكت

Artinya: "Maukah aku ceritakan kepada kalian dosa besar yang paling besar, yaitu tiga perkara? Kami menjawab, Ya, Rasulullah. Rasulullah berkata: Menyekutukan Allah, dan mendurhakai dua orang tua. Rasulullah sedang bersandar lalu duduk, maka berkata Rasulullah: Tidak mengatakan kebohongan dan kesaksian palsu. Beliau terus mengulanginya sampai kami berkata semoga beliau berhenti." (HR Bukhari dan Muslim).
Cara Taubat dari Dosa Durhaka kepada Orang Tua

Adapun cara bertaubat dari dosa durhaka kepada kedua orang tua adalah sebagai berikut yaitu pertama menghentikan kedurhakaannya. Seorang yang ingin bertaubat dari durhaka kepada orang tua harus bertekad untuk berhenti melakukannya.

Kedua, menyesali dosa yang diperbuat. Seseorang harus benar-benar dengan rasa penyesalan bertaubat atas dosa durhaka yang dilakukan. Dia harus benar-benar mengerti kalau perbuatannya itu salah.

Ketiga, bertekad untuk tidak mengulanginya. Setelah berhenti melakukan dosa durhaka dan menyesali perbuatannya, seseorang yang durhaka harus bertekad untuk tidak melakukannya lagi di masa depan.
Keempat, beramal saleh. Dalam Islam, amal saleh dapat menghapus dosa-dosa. Jadi, seseorang yang merasa telah berdosa karena durhaka kepada orang tua harus menyertai taubatnya dengan amal soleh yang akan menghapus kesalahan-kesalahannya.

Demikian informasi tentang cara taubat jika durhaka kepada orang tua di rumah. Semoga informasi ini bermanfaat bagi Anda. 

Referensi : 4 Cara Taubat Jika Durhaka kepada Orang Tua


Pendosa Yang Dipanggil Tuhan dengan Sapaan Mesra

Pendosa Yang Dipanggil Tuhan dengan Sapaan Mesra. Dalam taman kehidupan kita berharap dan terus akan berharap agar kita mampu memberikan yang terbaik untuk kepentingan dan kemanfaatan diri kita terhadap keluarga maupun untuk kehidupan sosial kemasyarakatan. Nabi Muhammad SAW berkata orang baik hidupnya adalah orang yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Bahkan dalam hadist yang lain Rasulullah SAW bersabda “almuslimu, man salimal muslimuuna min lisaanihii wa yadihii”, Seorang muslim adalah orang yang bisa menjaga lidah dan tangannya terhadap orang muslim lainnya. Kita selalu ingin mengaktualisasikan diri kita dalam kebaikan sebagai wujud akan keimanan dan ketaqwaan kita. Kita hiasi hari demi hari dengan ibadah dan bekerja, kita lewati malam demi malam dengan melakukan ruku dan sujud, kita isi jam demi jam dengan menggumamkan Asma Allah dan membaca al-Qur’an. Maka, beruntunglah bagi orang-orang yang beribadah, berbahagialah bagi orang-orang yang puasa dan shalat malam, serta selamat sejahteralah bagi orang-orang yang ikhlas dalam bekerja dan beramal.  Namun, walaupun kita telah mengisi hari-hari dengan amal-amal kita, kita tahu banyak sekali kekurangan kita, kemalasan kita lebih banyak dari ibadah kita, keserakahan kita lebih besar dari dzikir-dzikir kita, lidah-lidah kita lebih banyak menggunjing, memaki, dan mengeluarkan kata-kata canda ketimbang membaca al-Quran dan menyebut asma Allah. Kaki-kaki kita ternyata lebih kuat untuk melakukan permainan dan hiburan ketimbang berdiri lama dihadapan kebesaran Tuhan. Tangan-tangan kita lebih cekatan untuk menerima ketimbang memberi. Seluruh anggota badan kita lebih cepat menerima perintah hawa nafsu daripada menjemput panggilan Tuhan.  Perbuatan yang tidak baik tersebut menyebabkan kita berdosa dan karena dosa, maka dampaknya akan kita rasakan. Karena dosa maka kita akan terus menerus dirundung musibah, kegelisahan lama bersambung dengan kegelisahan baru, kecemasan kita bertambah setiap hari, kita kejar kebahagian tetapi kita selalu berjumpa dengan kemalangan. Kita tidak bisa hidup dalam ketentraman dan kedamaian. Dalam al-Qur’an surat Asy Syuura: 30, Allah SWT berfirman :”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Karamallohu Wajhah berkata : “Tidaklah urat terkilir, batu terantuk, kaki tergelincir, tongkat tertusuk, kecuali karena dosa. Dan apa yang diampuni Allah sungguh banyak. Barangsiapa yang Allah dahulukan siksanya atas dosa-dosanya di dunia ini, maka sesungguhnya Allah terlalu mulia dan terlalu agung untuk mengulangi siksanya lagi pada hari akhirat.” (Ushul al-Kafi, 2:445).  Jadi apapun yang menimpa kita, itu adalah karena dosa-dosa yang kita lakukan. Tubuh yang sakit, rezeki yang sempit, bencana yang menimpa, hati yang terluka semuanya adalah akibat dosa-dosa kita. Tetapi Allah SWT yang Maha Penyayang tidak selalu menghukum dosa-dosa kita. Dengan sabar Allah SWT membiarkan kita dan menunggu kita untuk kembali kepada-Nya, Dia yang memberi tempo kepada iblis dahulu, makluknya yang sangat terkutuk juga menangguhkan siksa-Nya kepada kita.  Jauh lebih pengasih dari seorang ibu kepada anaknya, Allah SWT selalu menanti hamba-hambanya yang ingin melabuhkan perahunya dalam tepian kasih sayang-Nya. Allah SWT berfirman :“Dan kalau Sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya (dosa-dosa yang dilakukannya), niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melata pun, akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang ditertentukan; Maka apabila datang ajal mereka, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya”.(QS. Fathir: 45).  Allah SWT masih memberikan tempo kepada kita untuk bertaubat, bersihkan dosa-dosa kita dengan menanggalkan dosa-dosa itu sekarang juga. Datanglah kepada Allah SWT dengan penuh penyesalan, akui segala kemaksiatan dan kesalahan kita. Segera setelah yang maha kasih menerima taubat kita, semua akibat buruk dosa kita akan dihilangkan. Bukan itu aja, Allah SWT juga akan mengganti seluruh keburukan kita dengan kebaikan, Allah akan mengganti ketakutan kita dengan rasa damai, kefakiran kita dengan kecukupan, kebodohan kita dengan pengetahuan, kesesatan kita dengan petunjuk. “Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu, kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Furqon: 70).  Bagaimana perasaan kalian kata Rasulullah SAW kepada para sahabatnya jika kalian kehilangan unta di padang pasir, kalian mencarinya kesana kemari dan tidak menemukannya, lalu kalian beristirahat. Tiba-tiba dari jauh kalian melihat unta kalian yang hilang itu datang lagi lengkap dengan perbekalan kalian?  Para sahabat menjawab kami tentu sangat bahagia ya Rasulullah. Rasulullah SAW bersabda Tuhan kalian lebih bahagia lagi melihat hambanya yang telah tersesat kembali kepadanya lebih bahagia ketimbang pemilik unta yang melihat untanya kembali. Dalam al-Qur’an surat Az-Zumar: 53-54 Allah SWT memanggil hamba-hamba yang berdosa dan melampau batas dengan safaan mesra. “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari Rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.Dan Kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)”.  Dalam ayat tersebut Allah SWT tidak memanggil Yaa ‘ibadiyalladzina aqomu sholat, hai hamba-hambaku yang mendirikan shalat. juga tidak memanggil Ya ibadiyalladzina syaumu, hai hamba-hambaku yang berpuasa. Atau Allah SWT tidak memanggil Ya ibadiyalladzina ‘amilu sholihat, hai hamba-hambaku yang mengerjakan amal sholeh. Yang dipanggil Allah SWT dengan perkataan yang mesra untuk kembali kepangkuannya adalah Ya ibadiyalladzina asrofuu ala anfusihim……hai, hamba-hambaku yang telah melampaui batas dalam berbuat dosa.  Yang dipanggil Allah SWT adalah kita semua yang sudah menghabiskan usia kita dalam kemaksiatan. Yang disapa Allah SWT dengan penuh kasih sayang adalah kita semua yang sudah membebani punggung kita dengan kedurhakaan. Yaak menggapng diminta Allah SWT tidak banyak, janganlah berputus asa. Dosa-dosa kita besar, tapi lebih besar lagi ampunan Allah SWT. Kita tidak layai kasih sayang Allah SWT, tapi kasih sayang Allah sangat layak mencapai kita, karena kasih sayang Allah SWT meliputi langit dan bumi. Inna Rohmatallahi wa syiat kulla syaii.  Rasulullah SAW bersabda : ada tiga dosa yang akan disegerakan siksanya di dunia ini juga dan tidak akan ditangguhkan sampai akhirat, yaitu : durhaka kepada orang tua, berbuat zalim kepada orang lain, dan tidak berterima kasih pada kebaikan orang lain.  Jika kita kurang merasa berkhidmat kepada orang tua kita, jika selama ini kita mengabaikan mereka, jika kita tidak segan-segan menyakiti hati mereka. Segeralah datang kepadanya, bersimpuhlah dikaki mereka, cium tangan mereka dan basahi tangan yang pernah menimang kita itu dengan air mata kita. Mintakan maaf atas kekurangan pengkhidmatan kita atas mereka. Jika, orang tua sudah meninggal dunia, kirimkan do’a yang tulus dengan diiringi amal shaleh dan hadiahkan amal shaleh tersebut kepada mereka, jiarahi kuburannya lalu bertaubatlah kepada Allah. Mohonkan rahmatnya agar Allah SWT tidak menurunkan azabnya. Mohonkan, agar Allah mengasihi kedua orang tua kita sebagaimana mereka memelihara kita waktu kecil.  Jika kita pernah merampas haq orang lain, mempergunjingkan dan memfitnah mereka. Atau memeras tenaga mereka untuk keuntungan kita sendiri. Atau menyakiti hati mereka dengan penghinaan atau makian. Atau mendengki mereka dan berusaha menjatuhkan mereka dengan tuduhan keji. Atau menyiksa mereka dengan lisan dan tindakan. Atau kita mengabaikan mereka ketika mereka meminta pertolongan. Atau kita tidak memaafkan ketika mereka meminta maaf. Sesungguhnya kita telah berbuat zalim kepada mereka, kita telah mengundang azab Allah di dunia ini juga. Kembalikan segera hak mereka yang kita rampas, muliakan kehormatan mereka yang telah kita rendahkan, berbuat baiklah kepada mereka setelah kita berbuat tidak baik kepada mereka. Mintalah maaf dengan tulus, jika mereka sudah meninggal dunia, kirimkan do’a yang tulus dengan diiringi amal shaleh dan hadiahkan amal shaleh tersebut kepada mereka, lalu bertaubatlah kepada Allah. Mohonkan rahmatnya agar Allah SWT tidak menurunkan azabnya.  Jika kita pernah menerima kebaikan dari makhluk Allah Ta’ala yang lewat mereka Allah Ta’ala mengalirkan nikmatnya kepada kita. Lalu kita tidak membalas kebaikan itu dengan kebaikan atau kita tidak sedikitpun menunjukkan terima kasih kita kepada mereka. Kita telah mengundang azab Allah di dunia ini juga. Mereka yang pernah berbuat baik kepada kita itu tidak terhitung jumlahnya, disitu ada orang tua yang membesarkan kita, guru dan dosen yang mengajarkan ilmu kepada kita, kawan yang pernah menolong kita, istri yang berkhidmat kepada kita, pegawai yang melaksanakan perintah kita, atau orang-orang kecil yang secara tidak langsung membesarkan kita. Berbuat baiklah sekarang juga, ungkapkan terima kasih kita, paling tidak dengan penghormatan yang anda berikan kepadanya. Berbuat baiklah kepada mereka setelah kita berbuat jahat kepada mereka. Mintalah maaf dengan tulus, jika mereka sudah meninggal dunia, kirimkan do’a yang tulus dengan diiringi amal shaleh dan hadiahkan amal shaleh tersebut kepada mereka, lalu bertaubatlah kepada Allah. Mohonkan rahmatnya agar Allah SWT tidak menurunkan azabnya.


Pendosa Yang Dipanggil Tuhan dengan Sapaan Mesra. Dalam taman kehidupan kita berharap dan terus akan berharap agar kita mampu memberikan yang terbaik untuk kepentingan dan kemanfaatan diri kita terhadap keluarga maupun untuk kehidupan sosial kemasyarakatan. Nabi Muhammad SAW berkata orang baik hidupnya adalah orang yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Bahkan dalam hadist yang lain Rasulullah SAW bersabda “almuslimu, man salimal muslimuuna min lisaanihii wa yadihii”, Seorang muslim adalah orang yang bisa menjaga lidah dan tangannya terhadap orang muslim lainnya. Kita selalu ingin mengaktualisasikan diri kita dalam kebaikan sebagai wujud akan keimanan dan ketaqwaan kita. Kita hiasi hari demi hari dengan ibadah dan bekerja, kita lewati malam demi malam dengan melakukan ruku dan sujud, kita isi jam demi jam dengan menggumamkan Asma Allah dan membaca al-Qur’an. Maka, beruntunglah bagi orang-orang yang beribadah, berbahagialah bagi orang-orang yang puasa dan shalat malam, serta selamat sejahteralah bagi orang-orang yang ikhlas dalam bekerja dan beramal.

Namun, walaupun kita telah mengisi hari-hari dengan amal-amal kita, kita tahu banyak sekali kekurangan kita, kemalasan kita lebih banyak dari ibadah kita, keserakahan kita lebih besar dari dzikir-dzikir kita, lidah-lidah kita lebih banyak menggunjing, memaki, dan mengeluarkan kata-kata canda ketimbang membaca al-Quran dan menyebut asma Allah. Kaki-kaki kita ternyata lebih kuat untuk melakukan permainan dan hiburan ketimbang berdiri lama dihadapan kebesaran Tuhan. Tangan-tangan kita lebih cekatan untuk menerima ketimbang memberi. Seluruh anggota badan kita lebih cepat menerima perintah hawa nafsu daripada menjemput panggilan Tuhan.

Perbuatan yang tidak baik tersebut menyebabkan kita berdosa dan karena dosa, maka dampaknya akan kita rasakan. Karena dosa maka kita akan terus menerus dirundung musibah, kegelisahan lama bersambung dengan kegelisahan baru, kecemasan kita bertambah setiap hari, kita kejar kebahagian tetapi kita selalu berjumpa dengan kemalangan. Kita tidak bisa hidup dalam ketentraman dan kedamaian. Dalam al-Qur’an surat Asy Syuura: 30, Allah SWT berfirman :”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Karamallohu Wajhah berkata : “Tidaklah urat terkilir, batu terantuk, kaki tergelincir, tongkat tertusuk, kecuali karena dosa. Dan apa yang diampuni Allah sungguh banyak. Barangsiapa yang Allah dahulukan siksanya atas dosa-dosanya di dunia ini, maka sesungguhnya Allah terlalu mulia dan terlalu agung untuk mengulangi siksanya lagi pada hari akhirat.” (Ushul al-Kafi, 2:445).

Jadi apapun yang menimpa kita, itu adalah karena dosa-dosa yang kita lakukan. Tubuh yang sakit, rezeki yang sempit, bencana yang menimpa, hati yang terluka semuanya adalah akibat dosa-dosa kita. Tetapi Allah SWT yang Maha Penyayang tidak selalu menghukum dosa-dosa kita. Dengan sabar Allah SWT membiarkan kita dan menunggu kita untuk kembali kepada-Nya, Dia yang memberi tempo kepada iblis dahulu, makluknya yang sangat terkutuk juga menangguhkan siksa-Nya kepada kita.

Jauh lebih pengasih dari seorang ibu kepada anaknya, Allah SWT selalu menanti hamba-hambanya yang ingin melabuhkan perahunya dalam tepian kasih sayang-Nya. Allah SWT berfirman :“Dan kalau Sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya (dosa-dosa yang dilakukannya), niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melata pun, akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang ditertentukan; Maka apabila datang ajal mereka, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya”.(QS. Fathir: 45).

Allah SWT masih memberikan tempo kepada kita untuk bertaubat, bersihkan dosa-dosa kita dengan menanggalkan dosa-dosa itu sekarang juga. Datanglah kepada Allah SWT dengan penuh penyesalan, akui segala kemaksiatan dan kesalahan kita. Segera setelah yang maha kasih menerima taubat kita, semua akibat buruk dosa kita akan dihilangkan. Bukan itu aja, Allah SWT juga akan mengganti seluruh keburukan kita dengan kebaikan, Allah akan mengganti ketakutan kita dengan rasa damai, kefakiran kita dengan kecukupan, kebodohan kita dengan pengetahuan, kesesatan kita dengan petunjuk. “Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu, kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Furqon: 70).

Bagaimana perasaan kalian kata Rasulullah SAW kepada para sahabatnya jika kalian kehilangan unta di padang pasir, kalian mencarinya kesana kemari dan tidak menemukannya, lalu kalian beristirahat. Tiba-tiba dari jauh kalian melihat unta kalian yang hilang itu datang lagi lengkap dengan perbekalan kalian?

Para sahabat menjawab kami tentu sangat bahagia ya Rasulullah. Rasulullah SAW bersabda Tuhan kalian lebih bahagia lagi melihat hambanya yang telah tersesat kembali kepadanya lebih bahagia ketimbang pemilik unta yang melihat untanya kembali. Dalam al-Qur’an surat Az-Zumar: 53-54 Allah SWT memanggil hamba-hamba yang berdosa dan melampau batas dengan safaan mesra. “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari Rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.Dan Kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)”.

Dalam ayat tersebut Allah SWT tidak memanggil Yaa ‘ibadiyalladzina aqomu sholat, hai hamba-hambaku yang mendirikan shalat. juga tidak memanggil Ya ibadiyalladzina syaumu, hai hamba-hambaku yang berpuasa. Atau Allah SWT tidak memanggil Ya ibadiyalladzina ‘amilu sholihat, hai hamba-hambaku yang mengerjakan amal sholeh. Yang dipanggil Allah SWT dengan perkataan yang mesra untuk kembali kepangkuannya adalah Ya ibadiyalladzina asrofuu ala anfusihim, hai, hamba-hambaku yang telah melampaui batas dalam berbuat dosa.

Yang dipanggil Allah SWT adalah kita semua yang sudah menghabiskan usia kita dalam kemaksiatan. Yang disapa Allah SWT dengan penuh kasih sayang adalah kita semua yang sudah membebani punggung kita dengan kedurhakaan. Yaak menggapng diminta Allah SWT tidak banyak, janganlah berputus asa. Dosa-dosa kita besar, tapi lebih besar lagi ampunan Allah SWT. Kita tidak layai kasih sayang Allah SWT, tapi kasih sayang Allah sangat layak mencapai kita, karena kasih sayang Allah SWT meliputi langit dan bumi. Inna Rohmatallahi wa syiat kulla syaii.

Rasulullah SAW bersabda : ada tiga dosa yang akan disegerakan siksanya di dunia ini juga dan tidak akan ditangguhkan sampai akhirat, yaitu : durhaka kepada orang tua, berbuat zalim kepada orang lain, dan tidak berterima kasih pada kebaikan orang lain.

Jika kita kurang merasa berkhidmat kepada orang tua kita, jika selama ini kita mengabaikan mereka, jika kita tidak segan-segan menyakiti hati mereka. Segeralah datang kepadanya, bersimpuhlah dikaki mereka, cium tangan mereka dan basahi tangan yang pernah menimang kita itu dengan air mata kita. Mintakan maaf atas kekurangan pengkhidmatan kita atas mereka. Jika, orang tua sudah meninggal dunia, kirimkan do’a yang tulus dengan diiringi amal shaleh dan hadiahkan amal shaleh tersebut kepada mereka, jiarahi kuburannya lalu bertaubatlah kepada Allah. Mohonkan rahmatnya agar Allah SWT tidak menurunkan azabnya. Mohonkan, agar Allah mengasihi kedua orang tua kita sebagaimana mereka memelihara kita waktu kecil.

Jika kita pernah merampas haq orang lain, mempergunjingkan dan memfitnah mereka. Atau memeras tenaga mereka untuk keuntungan kita sendiri. Atau menyakiti hati mereka dengan penghinaan atau makian. Atau mendengki mereka dan berusaha menjatuhkan mereka dengan tuduhan keji. Atau menyiksa mereka dengan lisan dan tindakan. Atau kita mengabaikan mereka ketika mereka meminta pertolongan. Atau kita tidak memaafkan ketika mereka meminta maaf. Sesungguhnya kita telah berbuat zalim kepada mereka, kita telah mengundang azab Allah di dunia ini juga. Kembalikan segera hak mereka yang kita rampas, muliakan kehormatan mereka yang telah kita rendahkan, berbuat baiklah kepada mereka setelah kita berbuat tidak baik kepada mereka. Mintalah maaf dengan tulus, jika mereka sudah meninggal dunia, kirimkan do’a yang tulus dengan diiringi amal shaleh dan hadiahkan amal shaleh tersebut kepada mereka, lalu bertaubatlah kepada Allah. Mohonkan rahmatnya agar Allah SWT tidak menurunkan azabnya.

Jika kita pernah menerima kebaikan dari makhluk Allah Ta’ala yang lewat mereka Allah Ta’ala mengalirkan nikmatnya kepada kita. Lalu kita tidak membalas kebaikan itu dengan kebaikan atau kita tidak sedikitpun menunjukkan terima kasih kita kepada mereka. Kita telah mengundang azab Allah di dunia ini juga. Mereka yang pernah berbuat baik kepada kita itu tidak terhitung jumlahnya, disitu ada orang tua yang membesarkan kita, guru dan dosen yang mengajarkan ilmu kepada kita, kawan yang pernah menolong kita, istri yang berkhidmat kepada kita, pegawai yang melaksanakan perintah kita, atau orang-orang kecil yang secara tidak langsung membesarkan kita. Berbuat baiklah sekarang juga, ungkapkan terima kasih kita, paling tidak dengan penghormatan yang anda berikan kepadanya. Berbuat baiklah kepada mereka setelah kita berbuat jahat kepada mereka. Mintalah maaf dengan tulus, jika mereka sudah meninggal dunia, kirimkan do’a yang tulus dengan diiringi amal shaleh dan hadiahkan amal shaleh tersebut kepada mereka, lalu bertaubatlah kepada Allah. Mohonkan rahmatnya agar Allah SWT tidak menurunkan azabnya.

Referensi : Pendosa Yang Dipanggil Tuhan dengan Sapaan Mesra


Menguak Peluang Kita Masuk Surga

Menguak Peluang Kita Masuk Surga. Alhamdulillah. Allahumma shali 'ala muhammad. Wa 'ala alihi wosohbihi ajmaiin. Peluang kita masuk surga tetap tinggi tetapi kita mesti besermin dari bapak moyang kita yang diusir daro surga karena 1 kesalahan. Adam adalah penduduk surga pertama dari golongan manusia. Lalu karena kesepian Allah ciptakan istri yakni Siti Hawa. Sayang keduanya tidak tahan bujuan syaitah sehingga mereka memakan buah larangan yakni buah kholdi. Jadilah Adam dan istrinya terusir dari surga.  Memakan Buah Kholdi  Entah bagaimana bisa salah dan keliru. Allah sendiri yang berfirman kepada nabi Adam dan istrinya tentang apa yang holeh apa yang tidak boleh dilakukan di dalam surga. Tetapi sejak diberi istri oleh Allah swt, Adam sering tak hadir pada majlis para malaikat. Adam juga banyak menghabiskan waktu bersama istrinya. Di sinilah pintu masuk bagi syaithan untuk menggoda Adam. Hanya saja dalam kenyataan Adam begitu susah untuk digoda. Tiba gilirannya Iblis yang lebih pandai itu menggoda istri Adam yakni Siti Hawa untuk tidak mendekati pohon Kholdi.  Oblis memainkan kelicikannya agar Adam dan Hawa tidak memakan buah kholdi karena siapa yang memakan buah kholdi akan kekal di dalam surga.   Adam bertaubat 40 tahun  Bukan waktu yang sebentar bagi seorang nabi Adam untuk diterima taubatnya. Ia perlu 40 tahun berzikir dan berdoa yang Allah ajarkan kepadanya. Inilah zikir taubat nabi Adam as.  'Rabbana zalamna anfusana wailamtaghfirlana watarhamna lakunnanaminal khasiriin".  Di sini Allah mau melihat kesungguhan Nabi Adam dalam menyesali kesalahannya dan betul-betul bertaubat. Bukti yang paling nyata adalah banyak sungai terbentuk di bumi sebagai bukti penyesalan nabi Adam. Dalam 40 tahun pertaubatan itu nabi Adam tak berani menengadakan muka dan telapak tangannya ke arah langit. Penyesalan nabi Adam bertambah panjang ketika dia dipisahkan dengan istrinya. Adam diturunkan di India sekarang, sedangkan Siti Hawa diturunkan di Jeddah Arab Saudi Sekarang. Penyesalan nabi Adam yang juga terjadi dipicu oleh kenyataan bahwa di bumi dia harus kerja keras untuk memperpanjang hidup karena semua bersifat manual alias mesti usaha. Beda dwngan kehidupan di surga - semua keinginannya bersifat otomatis.  Taubat nabi Adam diterima pada 10 muharram  Menguak Peluang Kita Masuk Surga. Nabi Adam diterima taubatnya setelah 40 tahun menyesali kesalahannya memakan buah larangan di surga yakni buah kholdi. Nabi Adam diterima taubatnya pada tanggal 10 muharram pada tahub ke 40. Sungguh penantiannya yang panjang. Di sini kita belajar bahwa taubat mesti sungguh-sungguh dan sabar dalam menjalaninya. Saking banyaknya air mata taubat nabi Adam maka banyak sekali sungai terbentuk di bumi karena saking banyaknya air mata penyesalan nabi Adam as. Tetapi pelajaran di sini adalah pertaubatan menghasilkan keberkahan bagi anak cucunya. Tidak salah jika kitapun bertaubat dengan sungguh-sungguh akan memberikan keberkahan bagi kehidupan anak cucu kita.  Peluang kita masuk surga  Bagaimana peluang kita sebagai anak cucu Adam tentu tidak perlu dilihat dari penderitaan yang dialami nabi Adam ketika bertaubat karena satu kesalahan yang dilakukannya. Alquran memberi tahu kita bahwa peluang anak cucu Adam untuk memasuki surga sangat besar asalkan mereka menjaga iman dan amal soleh selama hidupnya. Yang paling penting adalah anak cucu Adam mestu menjalani taubatan nasuha. Yakni taubat yang sungguh-sungguh. Umur anak cucu Adam yang pendek-pendek tidak membatasi mereka untuk memperoleh rahmat dan hidayah Allah sehingga mereka menjaga iman dan amal soleh mereka. Lagi pula umat nabi Muhammad saw memperoleh keistimewaan karena mereka memperoleh kehormatan untuk melakukan dakwah lailaha illallah. Karena kerja dakwah mengajak mentaatii Allah ini menjadikanmumat nabi Muhammad jadi lebih mulia dibanding ymat rerdahulu karena walau mereka berumur pendek tetapi mereka mengemban tugas para nabi yakni "amar makruf nahi mungkar".  Selain untuk umat nabi Muhammad dimuliakan walau berumur pendek karena mereka merupakan umat dari nabi yang paling mulia yakni nabi akhir zaman. Uniknya nur Nuhammad, Allah  ciptakan sebagai bahan dasar pembuatan langit dan bumi termasuk seluruh manusia dan makhluk lainnya. Kemuliaan nabi Muhammad ini menyebabkan kemuliaan bagi umatnya. Tetapi sebaliknya siapa yang hadir pada saat nabi Nuhammad sudah diutus lalu mereka tidak mengikutinya maka mereka akan memperoleh azab yang lebih pedih dibanding umat terdahulu yang mendurhakai para nabi.

Alhamdulillah. Allahumma shali 'ala muhammad. Wa 'ala alihi wosohbihi ajmaiin. Peluang kita masuk surga tetap tinggi tetapi kita mesti besermin dari bapak moyang kita yang diusir daro surga karena 1 kesalahan. Adam adalah penduduk surga pertama dari golongan manusia. Lalu karena kesepian Allah ciptakan istri yakni Siti Hawa. Sayang keduanya tidak tahan bujuan syaitah sehingga mereka memakan buah larangan yakni buah kholdi. Jadilah Adam dan istrinya terusir dari surga.

Memakan Buah Kholdi

Entah bagaimana bisa salah dan keliru. Allah sendiri yang berfirman kepada nabi Adam dan istrinya tentang apa yang holeh apa yang tidak boleh dilakukan di dalam surga. Tetapi sejak diberi istri oleh Allah swt, Adam sering tak hadir pada majlis para malaikat. Adam juga banyak menghabiskan waktu bersama istrinya. Di sinilah pintu masuk bagi syaithan untuk menggoda Adam. Hanya saja dalam kenyataan Adam begitu susah untuk digoda. Tiba gilirannya Iblis yang lebih pandai itu menggoda istri Adam yakni Siti Hawa untuk tidak mendekati pohon Kholdi.

Oblis memainkan kelicikannya agar Adam dan Hawa tidak memakan buah kholdi karena siapa yang memakan buah kholdi akan kekal di dalam surga. 

Adam bertaubat 40 tahun

Bukan waktu yang sebentar bagi seorang nabi Adam untuk diterima taubatnya. Ia perlu 40 tahun berzikir dan berdoa yang Allah ajarkan kepadanya. Inilah zikir taubat nabi Adam as.

'Rabbana zalamna anfusana wailamtaghfirlana watarhamna lakunnanaminal khasiriin".

Di sini Allah mau melihat kesungguhan Nabi Adam dalam menyesali kesalahannya dan betul-betul bertaubat. Bukti yang paling nyata adalah banyak sungai terbentuk di bumi sebagai bukti penyesalan nabi Adam. Dalam 40 tahun pertaubatan itu nabi Adam tak berani menengadakan muka dan telapak tangannya ke arah langit. Penyesalan nabi Adam bertambah panjang ketika dia dipisahkan dengan istrinya. Adam diturunkan di India sekarang, sedangkan Siti Hawa diturunkan di Jeddah Arab Saudi Sekarang. Penyesalan nabi Adam yang juga terjadi dipicu oleh kenyataan bahwa di bumi dia harus kerja keras untuk memperpanjang hidup karena semua bersifat manual alias mesti usaha. Beda dwngan kehidupan di surga - semua keinginannya bersifat otomatis.

Taubat nabi Adam diterima pada 10 muharram

Menguak Peluang Kita Masuk Surga. Nabi Adam diterima taubatnya setelah 40 tahun menyesali kesalahannya memakan buah larangan di surga yakni buah kholdi. Nabi Adam diterima taubatnya pada tanggal 10 muharram pada tahub ke 40. Sungguh penantiannya yang panjang. Di sini kita belajar bahwa taubat mesti sungguh-sungguh dan sabar dalam menjalaninya. Saking banyaknya air mata taubat nabi Adam maka banyak sekali sungai terbentuk di bumi karena saking banyaknya air mata penyesalan nabi Adam as. Tetapi pelajaran di sini adalah pertaubatan menghasilkan keberkahan bagi anak cucunya. Tidak salah jika kitapun bertaubat dengan sungguh-sungguh akan memberikan keberkahan bagi kehidupan anak cucu kita.

Peluang kita masuk surga

Bagaimana peluang kita sebagai anak cucu Adam tentu tidak perlu dilihat dari penderitaan yang dialami nabi Adam ketika bertaubat karena satu kesalahan yang dilakukannya. Alquran memberi tahu kita bahwa peluang anak cucu Adam untuk memasuki surga sangat besar asalkan mereka menjaga iman dan amal soleh selama hidupnya. Yang paling penting adalah anak cucu Adam mestu menjalani taubatan nasuha. Yakni taubat yang sungguh-sungguh. Umur anak cucu Adam yang pendek-pendek tidak membatasi mereka untuk memperoleh rahmat dan hidayah Allah sehingga mereka menjaga iman dan amal soleh mereka. Lagi pula umat nabi Muhammad saw memperoleh keistimewaan karena mereka memperoleh kehormatan untuk melakukan dakwah lailaha illallah. Karena kerja dakwah mengajak mentaatii Allah ini menjadikanmumat nabi Muhammad jadi lebih mulia dibanding ymat rerdahulu karena walau mereka berumur pendek tetapi mereka mengemban tugas para nabi yakni "amar makruf nahi mungkar".

Selain untuk umat nabi Muhammad dimuliakan walau berumur pendek karena mereka merupakan umat dari nabi yang paling mulia yakni nabi akhir zaman. Uniknya nur Nuhammad, Allah  ciptakan sebagai bahan dasar pembuatan langit dan bumi termasuk seluruh manusia dan makhluk lainnya. Kemuliaan nabi Muhammad ini menyebabkan kemuliaan bagi umatnya. Tetapi sebaliknya siapa yang hadir pada saat nabi Nuhammad sudah diutus lalu mereka tidak mengikutinya maka mereka akan memperoleh azab yang lebih pedih dibanding umat terdahulu yang mendurhakai para nabi. 

Referensi : Menguak Peluang Kita Masuk Surga



Durhaka Orangtua kepada Anak Menurut Syekh Ali Jaber

Alm. Syekh Ali Jaber pernah mengatakan setiap orangtua memberikan pendidikan yang berbeda-beda terhadap anaknya. Namun, tidak semua paham dan kerap ada perlakuan serta ucapan yang membuat orangtua durhaka kepada anaknya.  Syekh Ali Jaber mengingatkan bahwa agama Islam memang sangat memerhatikan pendidikan, dan ini salah satu hal yang diutamakan dalam kehidupan. "Islam sangat memerhatikan sistem pendidikan anak kita, perhatian kepada anak kita, karena semuanya ini berat. Ucapan kita, perlakuan kita di hadapan anak kita," ujar Syekh Ali Jaber,  10 sikap dan ucapan yang justru membuat orangtua menjadi durhaka kepada anaknya, sebagaimana pernah diungkapkan Syekh Ali Jaber.   1. Suka mencaci maki anak   Pertama adalah mencaci maki anak. Syekh Ali Jaber mengatakan hal ini sangat berbahaya terhadap psikologis anak dan emosinya. Jadi jika sedang marah atau tersulut emosi, lebih baik menghindari anak dan diam. Jangan sampai anak menjadi korban akibat ego dari orangtuanya.  "Saya heran ada kata-kata yang saya malu ucapkan," kata Syekh Ali Jaber.  2. Menghina anak   Kemudian menghina anak juga termasuk perbuatan yang bisa membuat orangtua menjadi durhaka. Terlebih lagi menghina di depan teman-temannya.  "Kalau dia sedang bersama kawan-kawannya di dalam kelas, atau di dalam sekolah, kita jemput atau kita antar, kemudian menghina di hadapan mereka," tuturnya.  Lebih lanjut yang perlu dilakukan adalah nasihah yaitu mengingatkan, bukan fadhihah atau membuka aib.  3. Selalu membandingkan dengan orang lain   Hal tersebut juga bahaya. Ini mengakibatkan kecil hati, menimbulkan rasa benci kepada sesuatu, dan membuat anak menjadi tidak percaya diri karena selalu dibandingkan.  "Mohon maaf, kita yang dewasa saja dibandingkan dengan orang lain kita tersinggung, apalagi anak kita," terang Syekh Ali Jaber.  4. Cinta dengan syarat   Selanjutnya adalah mencintai anak dengan syarat. Misalnya, orangtua akan sayang apabila sang buah hati juara kelas atau rajin beribadah. Hal ini akan membuat anak menjadi tersinggung.  "Kalau mau cinta ya cinta, enggak perlu syarat. Dia lama-lama melarikan diri kepada orang lain," jelas Syekh Ali Jaber.  5. Menyampaikan informasi yang salah   Durhaka orangtua kepada anak termasuk memberikan informasi yang salah. Seolah-olah apa yang diucapkan orangtuanya sesuatu yang benar dan nyata.  "Maksudnya apa yang salah? 'Hei laki-laki enggak boleh nangis.' Siapa bilang? Biarin dia nangis," ujarnya.  Hal itu, kata Syekh Ali Jaber, akan mengakibatkan sakit jiwa. Setiap dia akan menangis, dia menahan karena info-info yang salah.  6. Selalu memberikan ancaman   "Ayo makan habiskan, nanti datang hantu."  Perkataan tersebut dapat mengakibatkan hal yang tidak baik terhadap anak. Kemudian karena dari sisi psikologis dan akal anak, dari usia 2-6 tahun dia mampu menguasai tujuh bahasa. Seorang psikolog pun membuktikan anak usia 2-7 tahun apabila diberikan perhatian sepenuhnya dia mampu menguasai tujuh bahasa.  "Tapi kenapa kita sia-siakan ini kesempatan yang luar biasa," tutur Syekh Ali Jaber.  7. Melarang tanpa sebab   Selalu melarang anak sesuatu tanpa sebab atau penjelasan. Ini merupakan didikan yang kurang tepat.  "Jadi kita suka larang tidak boleh, tidak ada, tidak bisa tapi tanpa menjelaskan sebabnya. Kalau Anda mau larang, Jelaskan sebabnya," katanya.

Alm. Syekh Ali Jaber pernah mengatakan setiap orangtua memberikan pendidikan yang berbeda-beda terhadap anaknya. Namun, tidak semua paham dan kerap ada perlakuan serta ucapan yang membuat orangtua durhaka kepada anaknya.

Syekh Ali Jaber mengingatkan bahwa agama Islam memang sangat memerhatikan pendidikan, dan ini salah satu hal yang diutamakan dalam kehidupan. "Islam sangat memerhatikan sistem pendidikan anak kita, perhatian kepada anak kita, karena semuanya ini berat. Ucapan kita, perlakuan kita di hadapan anak kita," ujar Syekh Ali Jaber,

10 sikap dan ucapan yang justru membuat orangtua menjadi durhaka kepada anaknya, sebagaimana pernah diungkapkan Syekh Ali Jaber. 

1. Suka mencaci maki anak

Pertama adalah mencaci maki anak. Syekh Ali Jaber mengatakan hal ini sangat berbahaya terhadap psikologis anak dan emosinya. Jadi jika sedang marah atau tersulut emosi, lebih baik menghindari anak dan diam. Jangan sampai anak menjadi korban akibat ego dari orangtuanya.

"Saya heran ada kata-kata yang saya malu ucapkan," kata Syekh Ali Jaber.

2. Menghina anak

Kemudian menghina anak juga termasuk perbuatan yang bisa membuat orangtua menjadi durhaka. Terlebih lagi menghina di depan teman-temannya.

"Kalau dia sedang bersama kawan-kawannya di dalam kelas, atau di dalam sekolah, kita jemput atau kita antar, kemudian menghina di hadapan mereka," tuturnya.

Lebih lanjut yang perlu dilakukan adalah nasihah yaitu mengingatkan, bukan fadhihah atau membuka aib.

3. Selalu membandingkan dengan orang lain

Hal tersebut juga bahaya. Ini mengakibatkan kecil hati, menimbulkan rasa benci kepada sesuatu, dan membuat anak menjadi tidak percaya diri karena selalu dibandingkan.

"Mohon maaf, kita yang dewasa saja dibandingkan dengan orang lain kita tersinggung, apalagi anak kita," terang Syekh Ali Jaber.

4. Cinta dengan syarat

Selanjutnya adalah mencintai anak dengan syarat. Misalnya, orangtua akan sayang apabila sang buah hati juara kelas atau rajin beribadah. Hal ini akan membuat anak menjadi tersinggung.

"Kalau mau cinta ya cinta, enggak perlu syarat. Dia lama-lama melarikan diri kepada orang lain," jelas Syekh Ali Jaber.

5. Menyampaikan informasi yang salah

Durhaka orangtua kepada anak termasuk memberikan informasi yang salah. Seolah-olah apa yang diucapkan orangtuanya sesuatu yang benar dan nyata.

"Maksudnya apa yang salah? 'Hei laki-laki enggak boleh nangis.' Siapa bilang? Biarin dia nangis," ujarnya.

Hal itu, kata Syekh Ali Jaber, akan mengakibatkan sakit jiwa. Setiap dia akan menangis, dia menahan karena info-info yang salah.

6. Selalu memberikan ancaman

"Ayo makan habiskan, nanti datang hantu."

Perkataan tersebut dapat mengakibatkan hal yang tidak baik terhadap anak. Kemudian karena dari sisi psikologis dan akal anak, dari usia 2-6 tahun dia mampu menguasai tujuh bahasa. Seorang psikolog pun membuktikan anak usia 2-7 tahun apabila diberikan perhatian sepenuhnya dia mampu menguasai tujuh bahasa.

"Tapi kenapa kita sia-siakan ini kesempatan yang luar biasa," tutur Syekh Ali Jaber.

7. Melarang tanpa sebab

Selalu melarang anak sesuatu tanpa sebab atau penjelasan. Ini merupakan didikan yang kurang tepat.

"Jadi kita suka larang tidak boleh, tidak ada, tidak bisa tapi tanpa menjelaskan sebabnya. Kalau Anda mau larang, Jelaskan sebabnya," katanya.

Referensi : Durhaka Orangtua kepada Anak Menurut Syekh Ali Jaber



Pernah Berzina Sebelum Menikah, Taubatnya Bagaimana?

Pernah Berzina Sebelum Menikah, Taubatnya Bagaimana?. YANG pertama harus ditegaskan adalah Zina merupakan dosa besar. Allah Ta'ala menyebutkannya dalam Alquran.  Dalil yang menyatakan zina termasuk dosa besar adalah yang disebutkan dalam ayat surah Al-Furqan. Dalam ayat disebutkan,  وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71)  “Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 68-70)  Lihatlah Allah mengancam orang yang berbuat syirik, yang membunuh jiwa tanpa jalan yang benar, dan yang berzina. Siksanya adalah siksa berlipat ganda pada hari kiamat karena besarnya dosa dan jeleknya perbuatan zina. Siapa yang terlanjur dalam dosa-dosa yang disebutkan dalam ayat di atas punya kewajiban untuk bertaubat. Lihat fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 60269.  Cara Bertaubat  Cara taubat yang benar adalah dengan taubat nasuha, taubat yang tulus. Maka cara taubat dari zina adalah dengan memenuhi syarat taubat secara umum.  Allah Ta’ala perintahkan untuk melakukan taubatan nasuha,  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا  “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim: 8)  Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan mengenai taubat nasuha sebagaimana diutarakan oleh para ulama, “Taubat nasuha yaitu dengan menghindari dosa untuk saat ini, menyesali dosa yang telah lalu, bertekad tidak mengulangi dosa itu lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya atau mengembalikannya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:323)  Berikut ini Tujuh cara taubat dari zina menurut Ustaz Muhammad Abduh Tuasikal:  Ikhlas karena Allah Bersegera bertaubat, tidak menunda-nunda Menyesal Kembali taat dan tinggalkan maksiat Bertekad tidak mau mengulangi lagi Kumpul bersama orang-orang saleh, tinggalkan teman yang rusak Terus menambah kebaikan agar menghapus dosa-dosa

Pernah Berzina Sebelum Menikah, Taubatnya Bagaimana?. YANG pertama harus ditegaskan adalah Zina merupakan dosa besar. Allah Ta'ala menyebutkannya dalam Alquran.

Dalil yang menyatakan zina termasuk dosa besar adalah yang disebutkan dalam ayat surah Al-Furqan. Dalam ayat disebutkan,

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71)

“Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 68-70)

Lihatlah Allah mengancam orang yang berbuat syirik, yang membunuh jiwa tanpa jalan yang benar, dan yang berzina. Siksanya adalah siksa berlipat ganda pada hari kiamat karena besarnya dosa dan jeleknya perbuatan zina. Siapa yang terlanjur dalam dosa-dosa yang disebutkan dalam ayat di atas punya kewajiban untuk bertaubat. Lihat fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 60269.

Cara Bertaubat

Cara taubat yang benar adalah dengan taubat nasuha, taubat yang tulus. Maka cara taubat dari zina adalah dengan memenuhi syarat taubat secara umum.

Allah Ta’ala perintahkan untuk melakukan taubatan nasuha,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim: 8)

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan mengenai taubat nasuha sebagaimana diutarakan oleh para ulama, “Taubat nasuha yaitu dengan menghindari dosa untuk saat ini, menyesali dosa yang telah lalu, bertekad tidak mengulangi dosa itu lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya atau mengembalikannya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:323)

Berikut ini Tujuh cara taubat dari zina menurut Ustaz Muhammad Abduh Tuasikal:

  1. Ikhlas karena Allah
  2. Bersegera bertaubat, tidak menunda-nunda
  3. Menyesal
  4. Kembali taat dan tinggalkan maksiat
  5. Bertekad tidak mau mengulangi lagi
  6. Kumpul bersama orang-orang saleh, tinggalkan teman yang rusak
  7. Terus menambah kebaikan agar menghapus dosa-dosa