This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Senin, 29 Agustus 2022

Menebus Dosa & Minta Maaf Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal

Soal:  Assalamu ‘Alaikum Ust,, kalau ada orang tua sudah meninggal dunia; bagaimana caranya kita meminta maaf / menebus dosa yang pernah kita lakukan kepadanya?    Jawab:  Wa’alaikumus Salam Warahmatullah,, Al-Hamdulullah. Shalawat dan salam atas Rasulillah dan keluarganya.  Saudara penanya yang dimuliakan Allah,, menyakiti orang tua semasa hidupnya –baik dengan perkataan atau perbuatan- termasuk dosa besar. Allah sangat murka kepada anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, sampaipun keduanya non muslim. Kecuali ketika menolak perintah keduanya untuk berbuat syirik atau maksiat sehingga keduanya marah kepada anaknya.  Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah mengabarkan tentang dosa besar yang terbesar,  الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ  “Menyekutukan Allah (berbuat syirik) dan durhaka kepada orang tua.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)  Dari Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasalla,  beliau bersabda,  الْكَبَائِرُ: الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ ، وَالْيَمِينُ الْغَمُوسُ  “Dosa-dosa besar: menyekutukan Allah, mendurhakai kedua orang tua, membunuh orang, dan sumpah palsu.” (HR. Al-Bukhari)  Jika seorang anak terlanjur menyakiti keduanya maka ia wajib bertaubat kepada Allah dan meminta keridhaan keduanya. Jika keduanya masih hidup, bisa langsung meminta maaf dan meminta keridhaannya. Lalu bagaimana kalau kedua sudah tiada?  Pertama, kesempatan taubat bagi anak yang pernah durhaka ke orang tuanya masih terbuka; walau orang tuanya sudah meninggal dunia. Karena sebesar apapun dosa yang pernah diperbuat hamba, jika ia bertaubat maka Allah akan menerima taubatnya.  Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman,  قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ  "Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.  Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.  Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Zumar: 53)  Hendaknya ia segera bertaubat kepada Allah –karena durhaka kepada orang tua itu menyalahi perintah Allah- dan yakin Allah akan akan menerima taubat orang yang bertaubat kepada-Nya.  Kedua, agar taubat diterima maka harus terpenuhi 3 syaratnya; menyesali perbuatannya, meninggalkan perbuatan tersebut, dan bertekad tidak akan mengulanginya di masa akan datang.  Adapun kesalahan kepada orang tua yang sudah wafat maka menyesali kesalahan kepada keduanya sudah mencukupkannya.  Ketiga, tunaikan kewajiban anak kepada orang tua; yaitu berbuat ihsan (kebaikan) kepada keduanya. Ini bisa dengan beberapa langkah berikut ini.  1. Memohonkan ampunan  dan mendoakan kebaikan untuk keduanya. Istighfar  dan doa baik (meminta rahmat untuk keduanya) dari orang yang masih hidup –apalagi keturunannya- adalah perkara yang paling dibutuhkan si mayit. Apalagi istighfar dan doa itu dipanjatkan oleh anak yang shalih yang telah bertaubat dari dosa-dosanya, maka akan lebih diterima Allah Subahanahu wa Ta'ala.  2. Menunaikan janji keduanya yang belum tertunaikan; termasuk melaksanakan wasiat keduanya.  3. Memuliakan teman-teman keduanya; termasuk kawan karibnya, rekan kerjanya, dan kerabatnya keduanya.  4. Menyambung silaturahim (hubungan kekerabatan) keduanya, yaitu berbuat baik kepada paman dan bibi dari jalur ayah maupun ibu, kerabat-kerabat mereka. Berbuat baik kepada mereka dan menyambung kekerabatan mereka termasuk memuliakan orang tua.


Soal:

Assalamu ‘Alaikum Ust,, kalau ada orang tua sudah meninggal dunia; bagaimana caranya kita meminta maaf / menebus dosa yang pernah kita lakukan kepadanya?


Jawab:

Wa’alaikumus Salam Warahmatullah,, Al-Hamdulullah. Shalawat dan salam atas Rasulillah dan keluarganya.

Saudara penanya yang dimuliakan Allah,, menyakiti orang tua semasa hidupnya –baik dengan perkataan atau perbuatan- termasuk dosa besar. Allah sangat murka kepada anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, sampaipun keduanya non muslim. Kecuali ketika menolak perintah keduanya untuk berbuat syirik atau maksiat sehingga keduanya marah kepada anaknya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah mengabarkan tentang dosa besar yang terbesar,

الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ

Menyekutukan Allah (berbuat syirik) dan durhaka kepada orang tua.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasalla,  beliau bersabda,

الْكَبَائِرُ: الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ ، وَالْيَمِينُ الْغَمُوسُ

Dosa-dosa besar: menyekutukan Allah, mendurhakai kedua orang tua, membunuh orang, dan sumpah palsu.” (HR. Al-Bukhari)

Jika seorang anak terlanjur menyakiti keduanya maka ia wajib bertaubat kepada Allah dan meminta keridhaan keduanya. Jika keduanya masih hidup, bisa langsung meminta maaf dan meminta keridhaannya. Lalu bagaimana kalau kedua sudah tiada?

Pertama, kesempatan taubat bagi anak yang pernah durhaka ke orang tuanya masih terbuka; walau orang tuanya sudah meninggal dunia. Karena sebesar apapun dosa yang pernah diperbuat hamba, jika ia bertaubat maka Allah akan menerima taubatnya.

Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.  Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.  Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Zumar: 53)

Hendaknya ia segera bertaubat kepada Allah –karena durhaka kepada orang tua itu menyalahi perintah Allah- dan yakin Allah akan akan menerima taubat orang yang bertaubat kepada-Nya.

Kedua, agar taubat diterima maka harus terpenuhi 3 syaratnya; menyesali perbuatannya, meninggalkan perbuatan tersebut, dan bertekad tidak akan mengulanginya di masa akan datang.

Adapun kesalahan kepada orang tua yang sudah wafat maka menyesali kesalahan kepada keduanya sudah mencukupkannya.

Ketiga, tunaikan kewajiban anak kepada orang tua; yaitu berbuat ihsan (kebaikan) kepada keduanya. Ini bisa dengan beberapa langkah berikut ini.

1. Memohonkan ampunan  dan mendoakan kebaikan untuk keduanya. Istighfar  dan doa baik (meminta rahmat untuk keduanya) dari orang yang masih hidup –apalagi keturunannya- adalah perkara yang paling dibutuhkan si mayit. Apalagi istighfar dan doa itu dipanjatkan oleh anak yang shalih yang telah bertaubat dari dosa-dosanya, maka akan lebih diterima Allah Subahanahu wa Ta'ala.

2. Menunaikan janji keduanya yang belum tertunaikan; termasuk melaksanakan wasiat keduanya.

3. Memuliakan teman-teman keduanya; termasuk kawan karibnya, rekan kerjanya, dan kerabatnya keduanya.

4. Menyambung silaturahim (hubungan kekerabatan) keduanya, yaitu berbuat baik kepada paman dan bibi dari jalur ayah maupun ibu, kerabat-kerabat mereka. Berbuat baik kepada mereka dan menyambung kekerabatan mereka termasuk memuliakan orang tua.


Ibumu, Kemudian Ibumu, Kemudian Ibumu

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,    وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ  “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)  Ayat diatas menjelaskan akan hak ibu terhadap anaknya. Ketahuilah, bahwasanya ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari), ditambah 2 tahun menyusui anak, jadi 30 bulan. Sehingga tidak bertentangan dengan surat Luqman ayat 14 (Lihat Tafsiir ibni Katsir VII/280)  وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ  “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)  Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah. Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits,  عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ  Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)  Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalammenghadapi masa hamil, kesulitan ketikamelahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi X : 239. al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ibu memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan ayah)  Begitu pula dengan Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah, beliauberkata dalam kitabnya Al-Kabaair,  Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.  Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.  Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.  Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya.  Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.  Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.  Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.  Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.  Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.  Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.  Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.  Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.  Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.  Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.  Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.  Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.  Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.  Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.  Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.  Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin.  (Akan dikatakan kepadanya),  ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ  “Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-Hajj : 10)  (Al-Kabaair hal. 53-54, Maktabatush Shoffa, Dar Albaian)  Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung.  Yah, kita mungkin tidak punya kapasitas untuk menghitung satu demi satu hak-hak yang dimiliki seorang ibu. Islam hanya menekankan kepada kita untuk sedapat mungkin menghormati, memuliakan dan menyucikan kedudukan sang ibu dengan melakukan hal-hal terbaik yang dapat kita lakukan, demi kebahagiannya.  Contoh manusia terbaik yang berbakti kepada Ibunya Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu ‘Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang yaman itu bersenandung,  إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ – إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ  Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.  Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.  Orang itu lalu bertanya kepada Ibn Umar, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” (Adabul Mufrad no. 11;  Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)  Dalam sebuah riwayat diterangkan:  Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya seseorang mendatanginya lalu berkata: bahwasanya aku meminang wanita, tapi ia enggan menikah denganku. Dan ia dipinang orang lain lalu ia menerimanya. Maka aku cemburu kepadanya lantas aku membunuhnya. Apakah aku masih bisa bertaubat? Ibnu Abbas berkata: apakah ibumu masih hidup? Ia menjawab: tidak. Ibnu Abbas berkata: bertaubatlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan dekatkanlah dirimu kepadaNya sebisamu. Atho’ bin Yasar berkata: maka aku pergi menanyakan kepada Ibnu Abbas kenapa engkau tanyakan tentang kehidupan ibunya? Maka beliau berkata: ‘Aku tidak mengetahui amalan yang paling mendekatkan diri kepada Allah ta’ala selain berbakti kepada ibu’. (Hadits ini dikeluarkan juga oleh Al Baihaqy di Syu’abul Iman (7313), dan Syaikh Al Albany menshahihkannya, lihat As Shohihah (2799))  Pada hadits di atas dijelaskan bahwasanya berbuat baik kepada ibu adalah ibadah yang sangat agung, bahkan dengan berbakti kepada ibu diharapkan bisa membantu taubat seseorang diterima Allah ta’ala. Seperti dalam riwayat di atas, seseorang yang melakukan dosa sangat besar yaitu membunuh, ketika ia bertanya kepada Ibnu Abbas, apakah ia masih bisa bertaubat, Ibnu Abbas malah balik bertanya apakah ia mempunyai seorang ibu, karena menurut beliau berbakti atau berbuat baik kepada ibu adalah amalan paling dicintai Allah sebagaimana sebagaimana membunuh adalah termasuk dosa yang dibenci Allah.  Berbuat baik kepada ibu adalah amal sholeh yang sangat bermanfa’at untuk menghapuskan dosa-dosa. Ini artinya, berbakti kepada ibu merupakan jalan untuk masuk surga.  Jangan Mendurhakai Ibu Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,  عن المغيرة بن شعبة قال : قال النبي صلى الله عليه و سلم : إن الله حرم عليكم عقوق الأمهات ووأد البنات ومنع وهات . وكره لكم قيل وقال وكثرة السؤال وإضاعة المال  “Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan kalian berbuat durhaka kepada ibu-ibu kalian, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menolak kewajiban dan menuntut sesuatu yang bukan menjadi haknya. Allah juga membenci jika kalian menyerbarkan kabar burung (desas-desus), banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (Hadits shahih, riwayat Bukhari, no. 1407; Muslim, no. 593, Al-Maktabah Asy-Syamilah)  Ibnu Hajar memberi penjelasan sebagai berikut, “Dalam hadits ini disebutkan ‘sikap durhaka’ terhadap ibu, karena perbuatan itu lebih mudah dilakukan terhadap seorang ibu. Sebab,ibu adalah wanita yang lemah. Selain itu, hadits ini juga memberi penekanan, bahwa berbuat baik kepada itu harus lebih didahulukan daripada berbuat baik kepada seorang ayah, baik itu melalui tutur kata yang lembut, atau limpahan cinta kasih yang mendalam.” (Lihat Fathul Baari V : 68)  Sementara, Imam Nawawi menjelaskan, “Di sini, disebutkan kata ‘durhaka’ terhadap ibu, karena kemuliaan ibu yang melebihi kemuliaan seorang ayah.” (Lihat Syarah Muslim XII : 11)  Buatlah Ibu Tertawa جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : جئْتُ أبَايِعُكَ عَلَى الْهِجْرَةِ، وَتَرَكْتُ أَبَوَيَّ يَبْكِيَانِ، فَقَالَ : ((اِرْخِعْ عَلَيْهِمَا؛ فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا))  “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Aku akan berbai’at kepadamu untuk berhijrah, dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis.” Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.” (Shahih : HR. Abu Dawud (no. 2528), An-Nasa-i (VII/143), Al-Baihaqi (IX/26), dan Al-Hakim (IV/152))  Jangan Membuat Ibu Marah عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ : رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَاالْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَلَدِ.  “Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata, “Ridha Allah tergantung ridha orang tua dan murka Allah tergantung murka orang tua.“ (Adabul Mufrod no. 2. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan jika sampai pada sahabat, namun shahih jika sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)  Kandungan hadits diatas ialah kewajiban mencari keridhaan kedua orang tua sekaligus terkandung larangan melakukan segala sesuatu yang dapat memancing kemurkaan mereka.  Seandainya ada seorang anak yang durhaka kepada ibunya, kemudian ibunya tersebut mendo’akan kejelekan, maka do’a ibu tersebut akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dalam hadits yang shahih Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ، لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ.  “Ada tiga do’a yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak diragukan tentang do’a ini: (1) do’a kedua orang tua terhadap anaknya, (2) do’a musafir-orang yang sedang dalam perjalanan-, (3) do’a orang yang dizhalimin.” (Hasan : HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad (no. 32, 481/Shahiih Al-Adabil Mufrad (no. 24, 372))  Jika seorang ibu meridhai anaknya, dan do’anya mengiringi setiap langkah anaknya, niscaya rahmat, taufik dan pertolongan Allah akan senantiasa menyertainya. Sebaliknya, jika hati seorang ibu terluka, lalu ia mengadu kepada Allah, mengutuk anaknya. Cepat atau lambat, si anak pasti akan terkena do’a ibunya. Wal iyyadzubillaah..  Jangan sampai terucap dari lisan ibumu do’a melainkan kebaikan dan keridhaan untukmu. Karena Allah mendengarkan do’a seorang ibu dan mengabulkannya. Dan dekatkanlah diri kita pada sang ibu, berbaktilah.

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)

Ayat diatas menjelaskan akan hak ibu terhadap anaknya. Ketahuilah, bahwasanya ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari), ditambah 2 tahun menyusui anak, jadi 30 bulan. Sehingga tidak bertentangan dengan surat Luqman ayat 14 (Lihat Tafsiir ibni Katsir VII/280)

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah. Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalammenghadapi masa hamil, kesulitan ketikamelahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi X : 239. al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ibu memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan ayah)

Begitu pula dengan Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah, beliauberkata dalam kitabnya Al-Kabaair,

Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.

Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.

Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.

Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya.

Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.

Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.

Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.

Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.

Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.

Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.

Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.

Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.

Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.

Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.

Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.

Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.

Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.

Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin.

(Akan dikatakan kepadanya),

ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

“Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-Hajj : 10)

(Al-Kabaair hal. 53-54, Maktabatush Shoffa, Dar Albaian)

Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung.

Yah, kita mungkin tidak punya kapasitas untuk menghitung satu demi satu hak-hak yang dimiliki seorang ibu. Islam hanya menekankan kepada kita untuk sedapat mungkin menghormati, memuliakan dan menyucikan kedudukan sang ibu dengan melakukan hal-hal terbaik yang dapat kita lakukan, demi kebahagiannya.

Contoh manusia terbaik yang berbakti kepada Ibunya

Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu ‘Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang yaman itu bersenandung,

إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ – إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ

Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.

Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

Orang itu lalu bertanya kepada Ibn Umar, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” (Adabul Mufrad no. 11;  Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dalam sebuah riwayat diterangkan:

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya seseorang mendatanginya lalu berkata: bahwasanya aku meminang wanita, tapi ia enggan menikah denganku. Dan ia dipinang orang lain lalu ia menerimanya. Maka aku cemburu kepadanya lantas aku membunuhnya. Apakah aku masih bisa bertaubat? Ibnu Abbas berkata: apakah ibumu masih hidup? Ia menjawab: tidak. Ibnu Abbas berkata: bertaubatlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan dekatkanlah dirimu kepadaNya sebisamu. Atho’ bin Yasar berkata: maka aku pergi menanyakan kepada Ibnu Abbas kenapa engkau tanyakan tentang kehidupan ibunya? Maka beliau berkata: ‘Aku tidak mengetahui amalan yang paling mendekatkan diri kepada Allah ta’ala selain berbakti kepada ibu’. (Hadits ini dikeluarkan juga oleh Al Baihaqy di Syu’abul Iman (7313), dan Syaikh Al Albany menshahihkannya, lihat As Shohihah (2799))

Pada hadits di atas dijelaskan bahwasanya berbuat baik kepada ibu adalah ibadah yang sangat agung, bahkan dengan berbakti kepada ibu diharapkan bisa membantu taubat seseorang diterima Allah ta’ala. Seperti dalam riwayat di atas, seseorang yang melakukan dosa sangat besar yaitu membunuh, ketika ia bertanya kepada Ibnu Abbas, apakah ia masih bisa bertaubat, Ibnu Abbas malah balik bertanya apakah ia mempunyai seorang ibu, karena menurut beliau berbakti atau berbuat baik kepada ibu adalah amalan paling dicintai Allah sebagaimana sebagaimana membunuh adalah termasuk dosa yang dibenci Allah.

Berbuat baik kepada ibu adalah amal sholeh yang sangat bermanfa’at untuk menghapuskan dosa-dosa. Ini artinya, berbakti kepada ibu merupakan jalan untuk masuk surga.

Jangan Mendurhakai Ibu

Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عن المغيرة بن شعبة قال : قال النبي صلى الله عليه و سلم : إن الله حرم عليكم عقوق الأمهات ووأد البنات ومنع وهات . وكره لكم قيل وقال وكثرة السؤال وإضاعة المال

“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan kalian berbuat durhaka kepada ibu-ibu kalian, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menolak kewajiban dan menuntut sesuatu yang bukan menjadi haknya. Allah juga membenci jika kalian menyerbarkan kabar burung (desas-desus), banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (Hadits shahih, riwayat Bukhari, no. 1407; Muslim, no. 593, Al-Maktabah Asy-Syamilah)

Ibnu Hajar memberi penjelasan sebagai berikut, “Dalam hadits ini disebutkan ‘sikap durhaka’ terhadap ibu, karena perbuatan itu lebih mudah dilakukan terhadap seorang ibu. Sebab,ibu adalah wanita yang lemah. Selain itu, hadits ini juga memberi penekanan, bahwa berbuat baik kepada itu harus lebih didahulukan daripada berbuat baik kepada seorang ayah, baik itu melalui tutur kata yang lembut, atau limpahan cinta kasih yang mendalam.” (Lihat Fathul Baari V : 68)

Sementara, Imam Nawawi menjelaskan, “Di sini, disebutkan kata ‘durhaka’ terhadap ibu, karena kemuliaan ibu yang melebihi kemuliaan seorang ayah.” (Lihat Syarah Muslim XII : 11)

Buatlah Ibu Tertawa

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : جئْتُ أبَايِعُكَ عَلَى الْهِجْرَةِ، وَتَرَكْتُ أَبَوَيَّ يَبْكِيَانِ، فَقَالَ : ((اِرْخِعْ عَلَيْهِمَا؛ فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا))

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Aku akan berbai’at kepadamu untuk berhijrah, dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis.” Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.” (Shahih : HR. Abu Dawud (no. 2528), An-Nasa-i (VII/143), Al-Baihaqi (IX/26), dan Al-Hakim (IV/152))

Jangan Membuat Ibu Marah

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ : رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَاالْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَلَدِ.

“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata, “Ridha Allah tergantung ridha orang tua dan murka Allah tergantung murka orang tua. (Adabul Mufrod no. 2. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan jika sampai pada sahabat, namun shahih jika sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Kandungan hadits diatas ialah kewajiban mencari keridhaan kedua orang tua sekaligus terkandung larangan melakukan segala sesuatu yang dapat memancing kemurkaan mereka.

Seandainya ada seorang anak yang durhaka kepada ibunya, kemudian ibunya tersebut mendo’akan kejelekan, maka do’a ibu tersebut akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dalam hadits yang shahih Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ، لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ.

“Ada tiga do’a yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak diragukan tentang do’a ini: (1) do’a kedua orang tua terhadap anaknya, (2) do’a musafir-orang yang sedang dalam perjalanan-, (3) do’a orang yang dizhalimin.” (Hasan : HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad (no. 32, 481/Shahiih Al-Adabil Mufrad (no. 24, 372))

Jika seorang ibu meridhai anaknya, dan do’anya mengiringi setiap langkah anaknya, niscaya rahmat, taufik dan pertolongan Allah akan senantiasa menyertainya. Sebaliknya, jika hati seorang ibu terluka, lalu ia mengadu kepada Allah, mengutuk anaknya. Cepat atau lambat, si anak pasti akan terkena do’a ibunya. Wal iyyadzubillaah..

Jangan sampai terucap dari lisan ibumu do’a melainkan kebaikan dan keridhaan untukmu. Karena Allah mendengarkan do’a seorang ibu dan mengabulkannya. Dan dekatkanlah diri kita pada sang ibu, berbaktilah.

Bagaimana Cara Meminta Maaf Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal?

Bagaimana Cara Meminta Maaf Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal?. Menyakiti orang tua semasa hidupnya baik dengan perkataan atau perbuatan- termasuk dosa besar. Allah sangat murka kepada anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, sampaipun keduanya non muslim. Kecuali ketika menolak perintah keduanya untuk berbuat syirik atau maksiat sehingga keduanya marah kepada anaknya.  Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah mengabarkan tentang dosa besar yang terbesar,  “Menyekutukan Allah (berbuat syirik) dan durhaka kepada orang tua.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)  Dari Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasalla, beliau bersabda,  “Dosa-dosa besar: menyekutukan Allah, mendurhakai kedua orang tua, membunuh orang, dan sumpah palsu.” (HR. Al-Bukhari)  Jika seorang anak terlanjur menyakiti keduanya maka ia wajib bertaubat kepada Allah dan meminta keridhaan keduanya. Jika keduanya masih hidup, bisa langsung meminta maaf dan meminta keridhaannya. Lalu bagaimana kalau kedua sudah tiada?  Pertama, kesempatan taubat bagi anak yang pernah durhaka ke orang tuanya masih terbuka; walau orang tuanya sudah meninggal dunia. Karena sebesar apapun dosa yang pernah diperbuat hamba, jika ia bertaubat maka Allah akan menerima taubatnya.  Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman,  "Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Zumar: 53)  Hendaknya ia segera bertaubat kepada Allah –karena durhaka kepada orang tua itu menyalahi perintah Allah- dan yakin Allah akan akan menerima taubat orang yang bertaubat kepada-Nya.  Kedua, agar taubat diterima maka harus terpenuhi 3 syaratnya; menyesali perbuatannya, meninggalkan perbuatan tersebut, dan bertekad tidak akan mengulanginya di masa akan datang.  Adapun kesalahan kepada orang tua yang sudah wafat maka menyesali kesalahan kepada keduanya sudah mencukupkannya.  Ketiga, tunaikan kewajiban anak kepada orang tua; yaitu berbuat ihsan (kebaikan) kepada keduanya. Ini bisa dengan beberapa langkah berikut ini.   Memohonkan ampunan dan mendoakan kebaikan untuk keduanya. Istighfar dan doa baik (meminta rahmat untuk keduanya) dari orang yang masih hidup –apalagi keturunannya- adalah perkara yang paling dibutuhkan si mayit. Apalagi istighfar dan doa itu dipanjatkan oleh anak yang shalih yang telah bertaubat dari dosa-dosanya, maka akan lebih diterima Allah Subahanahu wa Ta'ala. Menunaikan janji keduanya yang belum tertunaikan; termasuk melaksanakan wasiat keduanya. Memuliakan teman-teman keduanya; termasuk kawan karibnya, rekan kerjanya, dan kerabatnya keduanya. Menyambung silaturahim (hubungan kekerabatan) keduanya, yaitu berbuat baik kepada paman dan bibi dari jalur ayah maupun ibu, kerabat-kerabat mereka. Berbuat baik kepada mereka dan menyambung kekerabatan mereka termasuk memuliakan orang tua.

Bagaimana Cara Meminta Maaf Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal?. Menyakiti orang tua semasa hidupnya baik dengan perkataan atau perbuatan- termasuk dosa besar. Allah sangat murka kepada anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, sampaipun keduanya non muslim. Kecuali ketika menolak perintah keduanya untuk berbuat syirik atau maksiat sehingga keduanya marah kepada anaknya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah mengabarkan tentang dosa besar yang terbesar,

“Menyekutukan Allah (berbuat syirik) dan durhaka kepada orang tua.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasalla, beliau bersabda,

“Dosa-dosa besar: menyekutukan Allah, mendurhakai kedua orang tua, membunuh orang, dan sumpah palsu.” (HR. Al-Bukhari)

Jika seorang anak terlanjur menyakiti keduanya maka ia wajib bertaubat kepada Allah dan meminta keridhaan keduanya. Jika keduanya masih hidup, bisa langsung meminta maaf dan meminta keridhaannya. Lalu bagaimana kalau kedua sudah tiada?

Pertama, kesempatan taubat bagi anak yang pernah durhaka ke orang tuanya masih terbuka; walau orang tuanya sudah meninggal dunia. Karena sebesar apapun dosa yang pernah diperbuat hamba, jika ia bertaubat maka Allah akan menerima taubatnya.

Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman,

"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Zumar: 53)

Hendaknya ia segera bertaubat kepada Allah –karena durhaka kepada orang tua itu menyalahi perintah Allah- dan yakin Allah akan akan menerima taubat orang yang bertaubat kepada-Nya.

Kedua, agar taubat diterima maka harus terpenuhi 3 syaratnya; menyesali perbuatannya, meninggalkan perbuatan tersebut, dan bertekad tidak akan mengulanginya di masa akan datang.

Adapun kesalahan kepada orang tua yang sudah wafat maka menyesali kesalahan kepada keduanya sudah mencukupkannya.

Ketiga, tunaikan kewajiban anak kepada orang tua; yaitu berbuat ihsan (kebaikan) kepada keduanya. Ini bisa dengan beberapa langkah berikut ini.

  1. Memohonkan ampunan dan mendoakan kebaikan untuk keduanya. Istighfar dan doa baik (meminta rahmat untuk keduanya) dari orang yang masih hidup –apalagi keturunannya- adalah perkara yang paling dibutuhkan si mayit. Apalagi istighfar dan doa itu dipanjatkan oleh anak yang shalih yang telah bertaubat dari dosa-dosanya, maka akan lebih diterima Allah Subahanahu wa Ta'ala.
  2. Menunaikan janji keduanya yang belum tertunaikan; termasuk melaksanakan wasiat keduanya.
  3. Memuliakan teman-teman keduanya; termasuk kawan karibnya, rekan kerjanya, dan kerabatnya keduanya.
  4. Menyambung silaturahim (hubungan kekerabatan) keduanya, yaitu berbuat baik kepada paman dan bibi dari jalur ayah maupun ibu, kerabat-kerabat mereka. Berbuat baik kepada mereka dan menyambung kekerabatan mereka termasuk memuliakan orang tua. 

Cara Menebus Dosa Istri Kepada Suami

Cara Menebus Dosa Istri Kepada Suami. Bahtera rumah tangga adalah kehidupan antara sepasang manusia yang saling mencintai. Yang mana dalam perjalanannya tentu akan mengalami berbagai macam goncangan dan tantangan yang silih berganti. Dalam goncangan tersebut, kadang kala sang istri berbuat durhaka kepada suami. Tentu durhakanya istri kepada suami adalah dosa di sisi Allah. Karena dosa, maka tentu isti harus meminta ampun kepada Allah. Timbul pertanyaan, lantas bagaimana cara menebus dosa istri kepada suami.   Durhaka Kepada Suami, Sebesar Apa Dosanya? Di dalam islam, suami dan istri memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Suami berkewajiban untuk memberikan nafkah kepada anak dan istrinya. Ia harus sekuat tenaga membanting tulang demi keberlangsungan hidup kehidupan rumah tangga. Adapun istri, ia berkewajiban untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang mengatur segala tetek bengek urusan rumah. Ia juga diwajibkan untuk melayani suami, baik secara lahir maupun batin.  Seorang istri juga dituntut untuk mentaati segala sesuatu yang diperintahkan suami terhadapnya. Selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan hukum Allah, maka tidak ada alasan bagi istri untuk mengacuhkan perintah suaminya. Bahkan, saking pentingnya taat kepada suami, Rasulullah SAW hampir memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya. Hal ini sebagaimana sebuah riwayat yang menyebut:  “Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata, Aku pernah pergi ke Syam. Lalu aku lihat mereka sujud kepada para pendeta dan ulama mereka. Maka engkau wahai Rasulullah SAW lebih pantas kami sujud kepadamu. Beliau berkata, Sekiranya aku memerintahkan seseorang sujud kepada seseorang, niscaya aku perintahkan wanita sujud kepada suaminya karena besarnya hak suami atas dirinya.” (HR Tirmidzi)  Karena itulah, Jika seorang istri durhaka kepada suaminya, maka azab Allah akan berlaku baginya. Rasulullah SAW bersabda: “Lihatlah bagaimana keberadaanmu dalam bergaulmu dengan suami, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad).  Hadits di atas menunjukkan dengan jelas, bahwa surga dan neraka seorang istri terletak pada diri seorang suami. Jika seorang istri berlaku buruk dan sering menentang suaminya sehingga sang suami tidak ridlo kepadanya, maka azab neraka akan menantinya. Sebaliknya, jika seorang istri memenuhi hak suami dan belaku baik kepadanya, sehingga suami ridlo kepadanya, maka surga adalah tempat kembali yang kekal bagi seorang istri.  Kemudian, istri yang tidak nurut dengan suami juga akan dilaknat oleh para malaikat. Yang mana tentu ini menggambarkan betapa besarnya dosa tersebut. Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW yang artinya: “Apabila seorang suami mengajak istrinya (berjimak) ke tempat tidur, lalu sang istri enggan dan suami bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka para malaikat akan melaknat sang istri sampai pagi.” (HR. Bukhari dan Muslim).  Bahkan, saking besarnya dosa istri yang durhaka, maka amal ibadahnya menjadi sia-sia dan tidak berguna. Seberapa besarnya amalan tersebut termasuk shalat yang didirikan, maka tidak akan berguna disisi Allah. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Dua golongan yang salatnya tidak bermanfaat bagi dirinya, yaitu hamba yang melarikan diri dari rumah tuannya sampai dia pulang dan istri- istri yang melarikan diri dari rumah suaminya sampai dia kembali.” (HR Al Hakim)  So, dari berbagai dalil yang sudah diulas, maka bisa dipastikan bahwa durhaka kepada suami merupakan salah satu dari beberapa dosa besar yang dibenci Allah. Lantas, apakah dosa tersebut dapat ditebus?  Cara Menebus Dosa Istri Kepada Suami Berikut ini beberapa langkah atau cara yang dapat dilakukan seorang istri untuk menebus dosanya terhadap sang suami:  Menyesal Atas Dosanya Langkah pertama adalah dengan melakukan penyesalan atas segala dosa yang pernah dibuat terhadap sang suami. Seorang istri harus merenungi segala kesalahannya dan meminta ampunan kepada Allah. Hanya saja penyesalannya ini tidak boleh hanya sekedar diungkapkan dengan lisan, melainkan harus berasal dari lubuk hati yang paling dalam. Karena jika hanya sekedar di lisan, maka kemungkinan untuk berbuat durhaka lagi kepada sang suami akan terbuka lebar.  Bertaubat dengan Taubatan Nasuha Seorang istri yang telah menyesal berbuat durhaka kepada suami, maka ia harus bertaubat kepada Allah dengan taubatan nasuha. Taubat nasuha adalah tobat yang sebenar-benarnya. Ia merupakan jenis taubat yang insya Allah akan diampuni oleh-Nya. Sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (taubat yang sebenar-benarnya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukanmu ke dalam jannah…” (TQS At Tahrim:8)  Taubat sendiri secara lughowi bermakna permohonan maaf seorang hamba kepada Allah atas segala dosa yang telah diperbuat. Dalam konteks ini, tentu yang dimaksud adalah meminta maaf kepada Allah atas dosa durhaka terhadap suami.  Meminta Maaf Kepada Suami dengan Tulus Setelah bertaubat kepada Allah, tentu step berikutnya adalah langsung menyampaikan permohonan maaf kepada sang suami tercinta. Ungkapkanlah rasa bersalah dan penyesalan atas segala kedurhakaan yang telah diperbuat. Sampaikanlah dengan tulus dan penuh dengan kecintaan agar suami berkenan untuk memaafkan. Bahkan, jika perlu bawakan ia hadiah ataupun barang yang menjadi kesukaannya. Buatlah suami merasa terkesan dan bahagia, sehingga ia berkenan untuk memberikan maaf atas kealfaan yang telah diperbuat.  Berjanji Untuk Tidak Mengulang Kesalahan Yang Sama Tidak cukup dengan meminta maaf, seorang istri juga harus berjanji kepada suaminya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ikrarkanlah janji dengan tulus dan penuh dengan rasa tanggung jawab dihadapan suami. Sampaikanlah kepadanya bahwasanya Anda tidak akan lagi melanggar setiap perintah suami. Dengan melakukan hal tersebut, insya Allah sang suami akan mudah untuk percaya dan memaafkan kesalahan Anda.  Berusaha Untuk Belajar Menjadi Istri yang Shalihah Langkah terakhir adalah dengan senantisa mengupgrade diri dengan belajar untuk menjadi istri yang shalihah. Langkah ini nampaknya sangat berguna agar seorang istrik tidak lagi terjerumus ke dalam kesalahan yang sama. Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, istri dapat belajar dari berbagai referensi terpercaya yang ada di internet. Atau jika memiliki waktu luang, seorang istri juga dapat belajar langsung secara offline dengan mencari berbagai komunitas kajian khusus wanita.  Demikianlah beberapa cara atau langkah yang dapat dilakukan untuk menebus dosa seorang istri terhadap suaminya. Semoga Allah senantiasa memberikan taufiq, rahmat, dan ampunan-Nya bagi setiap hamba yang berupaya berubah menuju ke arah yang lebih baik dengan menjalankan hukum-hukum islam.

Cara Menebus Dosa Istri Kepada Suami. Bahtera rumah tangga adalah kehidupan antara sepasang manusia yang saling mencintai. Yang mana dalam perjalanannya tentu akan mengalami berbagai macam goncangan dan tantangan yang silih berganti. Dalam goncangan tersebut, kadang kala sang istri berbuat durhaka kepada suami. Tentu durhakanya istri kepada suami adalah dosa di sisi Allah. Karena dosa, maka tentu isti harus meminta ampun kepada Allah. Timbul pertanyaan, lantas bagaimana cara menebus dosa istri kepada suami. 

Durhaka Kepada Suami, Sebesar Apa Dosanya?

Di dalam islam, suami dan istri memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Suami berkewajiban untuk memberikan nafkah kepada anak dan istrinya. Ia harus sekuat tenaga membanting tulang demi keberlangsungan hidup kehidupan rumah tangga. Adapun istri, ia berkewajiban untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang mengatur segala tetek bengek urusan rumah. Ia juga diwajibkan untuk melayani suami, baik secara lahir maupun batin.

Seorang istri juga dituntut untuk mentaati segala sesuatu yang diperintahkan suami terhadapnya. Selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan hukum Allah, maka tidak ada alasan bagi istri untuk mengacuhkan perintah suaminya. Bahkan, saking pentingnya taat kepada suami, Rasulullah SAW hampir memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya. Hal ini sebagaimana sebuah riwayat yang menyebut:

“Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata, Aku pernah pergi ke Syam. Lalu aku lihat mereka sujud kepada para pendeta dan ulama mereka. Maka engkau wahai Rasulullah SAW lebih pantas kami sujud kepadamu. Beliau berkata, Sekiranya aku memerintahkan seseorang sujud kepada seseorang, niscaya aku perintahkan wanita sujud kepada suaminya karena besarnya hak suami atas dirinya.” (HR Tirmidzi)

Karena itulah, Jika seorang istri durhaka kepada suaminya, maka azab Allah akan berlaku baginya. Rasulullah SAW bersabda: “Lihatlah bagaimana keberadaanmu dalam bergaulmu dengan suami, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad).

Hadits di atas menunjukkan dengan jelas, bahwa surga dan neraka seorang istri terletak pada diri seorang suami. Jika seorang istri berlaku buruk dan sering menentang suaminya sehingga sang suami tidak ridlo kepadanya, maka azab neraka akan menantinya. Sebaliknya, jika seorang istri memenuhi hak suami dan belaku baik kepadanya, sehingga suami ridlo kepadanya, maka surga adalah tempat kembali yang kekal bagi seorang istri.

Kemudian, istri yang tidak nurut dengan suami juga akan dilaknat oleh para malaikat. Yang mana tentu ini menggambarkan betapa besarnya dosa tersebut. Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW yang artinya: “Apabila seorang suami mengajak istrinya (berjimak) ke tempat tidur, lalu sang istri enggan dan suami bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka para malaikat akan melaknat sang istri sampai pagi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bahkan, saking besarnya dosa istri yang durhaka, maka amal ibadahnya menjadi sia-sia dan tidak berguna. Seberapa besarnya amalan tersebut termasuk shalat yang didirikan, maka tidak akan berguna disisi Allah. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Dua golongan yang salatnya tidak bermanfaat bagi dirinya, yaitu hamba yang melarikan diri dari rumah tuannya sampai dia pulang dan istri- istri yang melarikan diri dari rumah suaminya sampai dia kembali.” (HR Al Hakim)

So, dari berbagai dalil yang sudah diulas, maka bisa dipastikan bahwa durhaka kepada suami merupakan salah satu dari beberapa dosa besar yang dibenci Allah. Lantas, apakah dosa tersebut dapat ditebus?

Cara Menebus Dosa Istri Kepada Suami

Berikut ini beberapa langkah atau cara yang dapat dilakukan seorang istri untuk menebus dosanya terhadap sang suami:

Menyesal Atas Dosanya

Langkah pertama adalah dengan melakukan penyesalan atas segala dosa yang pernah dibuat terhadap sang suami. Seorang istri harus merenungi segala kesalahannya dan meminta ampunan kepada Allah. Hanya saja penyesalannya ini tidak boleh hanya sekedar diungkapkan dengan lisan, melainkan harus berasal dari lubuk hati yang paling dalam. Karena jika hanya sekedar di lisan, maka kemungkinan untuk berbuat durhaka lagi kepada sang suami akan terbuka lebar.

Bertaubat dengan Taubatan Nasuha

Seorang istri yang telah menyesal berbuat durhaka kepada suami, maka ia harus bertaubat kepada Allah dengan taubatan nasuha. Taubat nasuha adalah tobat yang sebenar-benarnya. Ia merupakan jenis taubat yang insya Allah akan diampuni oleh-Nya. Sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (taubat yang sebenar-benarnya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukanmu ke dalam jannah…” (TQS At Tahrim:8)

Taubat sendiri secara lughowi bermakna permohonan maaf seorang hamba kepada Allah atas segala dosa yang telah diperbuat. Dalam konteks ini, tentu yang dimaksud adalah meminta maaf kepada Allah atas dosa durhaka terhadap suami.

Meminta Maaf Kepada Suami dengan Tulus

Setelah bertaubat kepada Allah, tentu step berikutnya adalah langsung menyampaikan permohonan maaf kepada sang suami tercinta. Ungkapkanlah rasa bersalah dan penyesalan atas segala kedurhakaan yang telah diperbuat. Sampaikanlah dengan tulus dan penuh dengan kecintaan agar suami berkenan untuk memaafkan. Bahkan, jika perlu bawakan ia hadiah ataupun barang yang menjadi kesukaannya. Buatlah suami merasa terkesan dan bahagia, sehingga ia berkenan untuk memberikan maaf atas kealfaan yang telah diperbuat.

Berjanji Untuk Tidak Mengulang Kesalahan Yang Sama

Tidak cukup dengan meminta maaf, seorang istri juga harus berjanji kepada suaminya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ikrarkanlah janji dengan tulus dan penuh dengan rasa tanggung jawab dihadapan suami. Sampaikanlah kepadanya bahwasanya Anda tidak akan lagi melanggar setiap perintah suami. Dengan melakukan hal tersebut, insya Allah sang suami akan mudah untuk percaya dan memaafkan kesalahan Anda.

Berusaha Untuk Belajar Menjadi Istri yang Shalihah

Langkah terakhir adalah dengan senantisa mengupgrade diri dengan belajar untuk menjadi istri yang shalihah. Langkah ini nampaknya sangat berguna agar seorang istrik tidak lagi terjerumus ke dalam kesalahan yang sama. Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, istri dapat belajar dari berbagai referensi terpercaya yang ada di internet. Atau jika memiliki waktu luang, seorang istri juga dapat belajar langsung secara offline dengan mencari berbagai komunitas kajian khusus wanita.

Demikianlah beberapa cara atau langkah yang dapat dilakukan untuk menebus dosa seorang istri terhadap suaminya. Semoga Allah senantiasa memberikan taufiq, rahmat, dan ampunan-Nya bagi setiap hamba yang berupaya berubah menuju ke arah yang lebih baik dengan menjalankan hukum-hukum islam