This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Senin, 29 Agustus 2022

Durhaka kepada Orangtua dan Ingin Bertaubat Tapi Mereka Sudah Meninggal Dunia

Durhaka kepada Orangtua dan Ingin Bertaubat Tapi Mereka Sudah Meninggal Dunia. Berbuat durhaka kepada orangtua merupakan salah satu dosa besar yang mengundang murkanya Allah. "Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak." (an-Nisa:36).  "Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak." (an-Nisa:36).  Jadi sangatlah penting untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua orangtua, bahkan melebihi jihad di jalan Allah.    Namun terkadang masih ada saja seorang anak yang berbuat durhaka kepada orangtuanya, bahkan suka menelantarkannya ketika ia sudah tua renta. Durhaka kepada kedua orang tua termasuk dosa yang paling besar yang menyamai perbuatan syirik. Yang termasuk durhaka kepada kedua orangtua itu seperti suka melawan perintah orangtua, membentak dan menyakiti hatinya, berkata yang membuat orangtua bersedih dan juga bermuka masam kepada mereka. Lalu bagaimana jika sudah berbuat durhaka kepada kedua orangtua dan menyesalinya dan ingin bertaubat.     Bingung bagaimana cara ingin bertaubat setelah berbuat durhaka kepada kedua orangtua sedangkan mereka sudah meninggal dunia. Walaupun berbuat durhaka kepada orangtua sampai mereka meninggal dunia, kita masih punya kesempatan untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah.     Karena sebesar apapun dosa yang kita perbuat, Allah yang Maha Pengampun akan menerima taubat seorang hamba jika ia benar-benar ingin bertaubat.    Seperti firman Allah berikut:  "Dialah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Qs. As-Syura: 25).  Ada dua hal yang perlu diperhatikan sebelum kita bertaubat setelah berbuat durhaka kepada kedua orangtua yang sudah meninggal.    1. Mampu memenuhi syarat taubat itu sendiri    Syarat taubat itu ada 4 perkara yaitu:  a. Menyesali perbuatan jahatnya itu dengan hati yang jujur.  b. Berjanji di dalam hati tidak akan mengulangi perbuatan jahat tersebut  c. meninggalkan segala hal yang berkaitan dengan perbuatan maksiat yang dilakukan  d. Membuang segala peralatan yang mengandung maksiat tersebut.    2. Tetap berbakti kepada kedua orangtua walaupun mereka sudah meninggal dunia    Bentuk berbakti kepada orangtua walaupun mereka sudah meninggal dunia itu seperti:  a. memperbanyak amal soleh dan dan mendoakan mereka  b. meminta ampun kepada Allah untuk kedua orangtua  c. memperbanyak sedekah atasnama kedua orangtua  d. memenuhi keinginan orangtua sebelum meninggal dunia yang belum tercapai  e. memulyakan teman dekat serta menjalin silaturahmi dengan keluarga dekat kedua orangtua.    Demikianlah cara bertaubat setelah berbuat durhaka kepada kedua orangtua yang sudah meninggal dunia. Semoga kita termasuk hamba Allah yang senantiasa bertaubat diterima taubatnya.    Karena firman Allah Ta'ala:     Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53).

Durhaka kepada Orangtua dan Ingin Bertaubat Tapi Mereka Sudah Meninggal Dunia. Berbuat durhaka kepada orangtua merupakan salah satu dosa besar yang mengundang murkanya Allah. "Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak." (an-Nisa:36).

"Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak." (an-Nisa:36).

Jadi sangatlah penting untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua orangtua, bahkan melebihi jihad di jalan Allah.


Namun terkadang masih ada saja seorang anak yang berbuat durhaka kepada orangtuanya, bahkan suka menelantarkannya ketika ia sudah tua renta. Durhaka kepada kedua orang tua termasuk dosa yang paling besar yang menyamai perbuatan syirik. Yang termasuk durhaka kepada kedua orangtua itu seperti suka melawan perintah orangtua, membentak dan menyakiti hatinya, berkata yang membuat orangtua bersedih dan juga bermuka masam kepada mereka. Lalu bagaimana jika sudah berbuat durhaka kepada kedua orangtua dan menyesalinya dan ingin bertaubat. 


Bingung bagaimana cara ingin bertaubat setelah berbuat durhaka kepada kedua orangtua sedangkan mereka sudah meninggal dunia. Walaupun berbuat durhaka kepada orangtua sampai mereka meninggal dunia, kita masih punya kesempatan untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. 


Karena sebesar apapun dosa yang kita perbuat, Allah yang Maha Pengampun akan menerima taubat seorang hamba jika ia benar-benar ingin bertaubat.


Seperti firman Allah berikut:

"Dialah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Qs. As-Syura: 25).

Ada dua hal yang perlu diperhatikan sebelum kita bertaubat setelah berbuat durhaka kepada kedua orangtua yang sudah meninggal.


1. Mampu memenuhi syarat taubat itu sendiri


Syarat taubat itu ada 4 perkara yaitu:

a. Menyesali perbuatan jahatnya itu dengan hati yang jujur.

b. Berjanji di dalam hati tidak akan mengulangi perbuatan jahat tersebut

c. meninggalkan segala hal yang berkaitan dengan perbuatan maksiat yang dilakukan

d. Membuang segala peralatan yang mengandung maksiat tersebut.


2. Tetap berbakti kepada kedua orangtua walaupun mereka sudah meninggal dunia


Bentuk berbakti kepada orangtua walaupun mereka sudah meninggal dunia itu seperti:

a. memperbanyak amal soleh dan dan mendoakan mereka

b. meminta ampun kepada Allah untuk kedua orangtua

c. memperbanyak sedekah atasnama kedua orangtua

d. memenuhi keinginan orangtua sebelum meninggal dunia yang belum tercapai

e. memulyakan teman dekat serta menjalin silaturahmi dengan keluarga dekat kedua orangtua.


Demikianlah cara bertaubat setelah berbuat durhaka kepada kedua orangtua yang sudah meninggal dunia. Semoga kita termasuk hamba Allah yang senantiasa bertaubat diterima taubatnya.


Karena firman Allah Ta'ala: 


Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53).

Taubat Anak Durhaka Setelah Orang Tua Meninggal

Ada orang yang sebelumnya durhaka kepada orang tuanya. Dia suka menyakiti hati keduanya. Lalu dia pergi dari rumah. Ketika pulang, dia dapat kabar, bapaknya telah meninggal. Dia sekarang sangat menyesalinya. Apa yang harus dia lakukan?Pertanyaan dari seorang jamaah itu dijawab Ustadz Ammi Nur Baits sbb:  Pertama, durhaka kepada orang tua adalah dosa sangat besar.Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan kusampaikan kepada kalian dosa yang paling besar.”  Lalu beliau menyebutkan,الْإِشْرَاكُبِاللَّهِ،وَعُقُوقُالْوَالِدَيْنِ  “Syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua. (HR. Bukhari 5976 & Muslim 87)  Dalam hadis lain, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,  الْكَبَائِرُ: الإِشْرَاكُبِاللَّهِ،وَعُقُوقُالْوَالِدَيْنِ،وَقَتْلُالنَّفْسِ،وَالْيَمِينُالْغَمُوسُ  “Daftar dosa besar: menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa, dan sumpah palsu. (HR. Bukhari 6675).  Kedua, bagian dari aqidah yang perlu ditanamkan dalam diri setiap muslim, bahwa dosa sebesar apapun, sehebat apapun, memungkinkan untuk ditaubati.  Allah berfirman,  قُلْيَاعِبَادِيَالَّذِينَأَسْرَفُواعَلَىأَنفُسِهِمْلَاتَقْنَطُوامِنرَّحْمَةِاللَّهِإِنَّاللَّهَيَغْفِرُالذُّنُوبَجَمِيعًاإِنَّهُهُوَالْغَفُورُالرَّحِيمُ  “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Az-Zumar: 53)  Sampaipun dosa durhaka kepada kedua orang tuanya, dia punya kesempatan untuk segera bertaubat dan memohon ampun kepada Allah.  وَهُوَالَّذِييَقْبَلُالتَّوْبَةَعَنْعِبَادِهِوَيَعْفُوعَنِالسَّيِّئَاتِوَيَعْلَمُمَاتَفْعَلُونَ  “Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. As-Syura: 25).  Ketiga, taubat tidak hanya permohonan maaf. Taubat butuh bukti, dan kejujuran, agar dianggap sebagai taubat yang sah.  An-Nawawi menyebutkan beberapa syarat diterimanya taubat,  -    Meninggalkan maksiat yang telah dikerjakan  -    Menyesalinya dengan jujur  -    Bertekad tidak akan mengulanginya  -    Dan jika dosa itu terkait sesama manusia, maka harus meminta maaf kepadanya. (Riyadhus Sholihin, hlm. 14).  Ketika orang tua telah meninggal, berarti kesempatan keempat telah tiada.  Lalu apa yang bisa dia lakukan?Dalam keadaan ini, ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, dia harus memeuhi syarat taubat yang mampu dia lakukan. Karena itu batas tanggung jawabnya. Sementara yang tidak memungkinkan dilakukan, di luar tanggung jawabnya.  Dan inti dari taubat adalah penyesalan dengan sungguh-sungguh. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,النَّدَمُتَوْبَةٌ  “Menyesal, itulah inti taubat. (HR. Ahmad 3568, Ibnu Majah 4252, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).  Ibnul Qoyim mengatakan,  فإذاتحققندمهعلىالذنب،ولومهنفسهعليه،فهذهتوبة. وكيفيصحأنتسلبالتوبةعنه،معشدةندمهعلىالذنب،ولومهنفسهعليه؟  “Jika dia benar-benar telah menyesali dosanya, sedih memikirkan dosanya, itulah taubat. Bagaimana taubatnya tidak dinilai sementara dia sangat menyesali dosanya, dan sedih dengan dirinya? (Madarij as-Salikin, 1/285)  Kedua, berbakti kepada orang tua setelah mereka meninggal. Bagian dari kasih sayang syariat, Allah abadikan hubungan antara anak muslim dengan orang tua muslim. Pahala berbakti tidak putus hanya sampai meninggalnya orang tua. Ada kesempatan bagi anda untuk melanjutkan kebaktiannya. Diantaranya adalah banyak beramal soleh dan mendoakan mereka. Taubat Anak Durhaka Setelah Orang Tua Meninggal

Ada orang yang sebelumnya durhaka kepada orang tuanya. Dia suka menyakiti hati keduanya. Lalu dia pergi dari rumah. Ketika pulang, dia dapat kabar, bapaknya telah meninggal. Dia sekarang sangat menyesalinya. Apa yang harus dia lakukan?Pertanyaan dari seorang jamaah itu dijawab Ustadz Ammi Nur Baits sbb:

Pertama, durhaka kepada orang tua adalah dosa sangat besar.Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan kusampaikan kepada kalian dosa yang paling besar.”

Lalu beliau menyebutkan,الْإِشْرَاكُبِاللَّهِ،وَعُقُوقُالْوَالِدَيْنِ

“Syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua. (HR. Bukhari 5976 & Muslim 87)

Dalam hadis lain, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,  الْكَبَائِرُ: الإِشْرَاكُبِاللَّهِ،وَعُقُوقُالْوَالِدَيْنِ،وَقَتْلُالنَّفْسِ،وَالْيَمِينُالْغَمُوسُ

“Daftar dosa besar: menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa, dan sumpah palsu. (HR. Bukhari 6675).

Kedua, bagian dari aqidah yang perlu ditanamkan dalam diri setiap muslim, bahwa dosa sebesar apapun, sehebat apapun, memungkinkan untuk ditaubati.

Allah berfirman,

قُلْيَاعِبَادِيَالَّذِينَأَسْرَفُواعَلَىأَنفُسِهِمْلَاتَقْنَطُوامِنرَّحْمَةِاللَّهِإِنَّاللَّهَيَغْفِرُالذُّنُوبَجَمِيعًاإِنَّهُهُوَالْغَفُورُالرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Az-Zumar: 53)

Sampaipun dosa durhaka kepada kedua orang tuanya, dia punya kesempatan untuk segera bertaubat dan memohon ampun kepada Allah.

وَهُوَالَّذِييَقْبَلُالتَّوْبَةَعَنْعِبَادِهِوَيَعْفُوعَنِالسَّيِّئَاتِوَيَعْلَمُمَاتَفْعَلُونَ

“Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. As-Syura: 25).

Ketiga, taubat tidak hanya permohonan maaf. Taubat butuh bukti, dan kejujuran, agar dianggap sebagai taubat yang sah.

An-Nawawi menyebutkan beberapa syarat diterimanya taubat,

  • Meninggalkan maksiat yang telah dikerjakan
  • Menyesalinya dengan jujur
  • Bertekad tidak akan mengulanginya
  • Dan jika dosa itu terkait sesama manusia, maka harus meminta maaf kepadanya. (Riyadhus Sholihin, hlm. 14).

Ketika orang tua telah meninggal, berarti kesempatan keempat telah tiada.

Lalu apa yang bisa dia lakukan?Dalam keadaan ini, ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, dia harus memeuhi syarat taubat yang mampu dia lakukan. Karena itu batas tanggung jawabnya. Sementara yang tidak memungkinkan dilakukan, di luar tanggung jawabnya.

Dan inti dari taubat adalah penyesalan dengan sungguh-sungguh. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,النَّدَمُتَوْبَةٌ

“Menyesal, itulah inti taubat. (HR. Ahmad 3568, Ibnu Majah 4252, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Ibnul Qoyim mengatakan,

فإذاتحققندمهعلىالذنب،ولومهنفسهعليه،فهذهتوبة. وكيفيصحأنتسلبالتوبةعنه،معشدةندمهعلىالذنب،ولومهنفسهعليه؟

“Jika dia benar-benar telah menyesali dosanya, sedih memikirkan dosanya, itulah taubat. Bagaimana taubatnya tidak dinilai sementara dia sangat menyesali dosanya, dan sedih dengan dirinya? (Madarij as-Salikin, 1/285)

Kedua, berbakti kepada orang tua setelah mereka meninggal. Bagian dari kasih sayang syariat, Allah abadikan hubungan antara anak muslim dengan orang tua muslim. Pahala berbakti tidak putus hanya sampai meninggalnya orang tua. Ada kesempatan bagi anda untuk melanjutkan kebaktiannya. Diantaranya adalah banyak beramal soleh dan mendoakan mereka.

Talak Dalam Keadaan Marah (Bagian 2)

Hadits ini juga telah diriwayat oleh Abu Daud. Beliau mengatakan :  هَذَا أَصَحُّ الْحَدِيثين[15]  Jalan pendalilian dengan hadits ini adalah apabila berdasarkan hadits ini tindakan zhihar sah dalam keadaan marah berdasarkan kandungan hadits ini, maka thalaq sah juga karena qiyas kepada zhihar.  2.    Ijmak sukuti dari sahabat Nabi sebagaimana dikemukakan al-Syarwani di atas.  3.    Seorang yang sedang marah masih dianggap mukallaf. Buktinya dia masih mengetahui dan mengqashad apa yang dikatakannya dan ini juga sesuai dengan hadits Nabi SAW berbunyi :  عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَوْصِنِي. قَالَ لَا تَغْضَبْ  Dari seorang sahabat Nabi SAW berkata : “Seorang mengatakan , “Ya Rasulullah !, wasiatkan untukku.” Rasulullah bersabda : “ Jangan marah”.(H.R. Ahmad. Rijalnya rijal shahih)[16]  Larangan marah tersebut dalam hadits di atas menunjukan bahwa seseorang yang sedang marah berarti dia sedang dalam keadaan melanggar perintah syara’. Dengan demikian dia sedang dalam keadaan bersifat mukallaf. Seandainya seseorang yang sedang marah bukan mukallaf, maka tentu tidak ada makna melarang seseorang marah, karena saat itu dia tidak dalam keadaan mukallaf.  4.    Riwayat mujahid dari Ibnu Abbas menceritakan :  أنَّ رجلاً قال له: إني طلقت امرأتي ثلاثاً وأنا غضبان، فقال: إنَّ ابنَ عباس لا يستطيع أنْ يُحِلَّ لك ما حرَّم الله عليك، عصيتَ ربَّك وحرمت عليك امرأتك  Sesungguuhnya seorang laki-laki berkata kepada Ibnu Abbas : “Sungguh aku telah mentalaq tiga isteriku dalam keadaan marah.” Lantas Ibnu Abbas mengatakan, “Sesunggunya Ibnu Abbas tidak mampu menghalal bagimu apa yang telah diharamkan oleh Allah atasmu, kamu maksiat tuhanmu dan kamu haramkan isterimu atasmu.(hadits telah dikeluarkan oleh al-Jauzujani, al-Darulquthni, Abu Daud, dan al-Thabrani dengan isnad syarat Muslim)[17]    Laki-laki dalam kasus di atas yang mentalaq isterinya dalam keadaan marah, diputuskan oleh Ibnu Abbas telah haram atasnya isterinya tersebut. Artinya telah jatuh talaq.  5.    Qaidah Fiqh berbunyi :  أن الأصل في الأبضاع التحريم  Sesungguhnya asal pada masalah kemaluan perempuan adalah haram.[18]  Menfatwakan kepada suatu hukum yang mengakibatkan haram kemaluan perempuan lebih diutamakan, karena untuk lebih hati-hati (ihtiyath) terhadap yang berkenaan dengan kemaluan perempuan. Sedangakan fatwa jatuh talaq mengakibatkan haram kemaluan perempuan atas suaminya.  Adapun dalil-dalil yang dikemukakan kelompok yang berpendapat tidak jatuh talaq dalam keadaan marah adalah sebagai berikut :  1.    Hadits dari Aisyah r.a berbunyi :  أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لا طلاق ولا عتاق في إغلاق  Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Tidak ada talaq dan memerdekakan hamba sahaya dalam keadaan marah.(H.R. Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dan al-Hakim)[19]  Abu Daud salah seorang perawi hadits ini mengatakan, aku menduga makna ghilaq adalah marah.[20]  Jawaban Jumhur  Makna asal dari ighlaq adalah mengunci. Kemudian maknanya dalam hadits ini dapat bermakna marah sebagaimana dikemukakan oleh Abu Daud, karena bila seseorang sedang marah, maka akalnya seolah-olah terkunci dengan kemarahannya tersebut, sehingga akalnya tidak berfungsi secara normal. Namun ighlaq dengan makna asalnya mengunci ini juga bisa bermakna dipaksa dalam hadits ini. Karena orang yang dipaksa melakukan suatu perbuatan, akalnya seolah-olah terkunci karena tidak ada pilihan baginya dalam bertindak. Memaknai ighlaq dalam hadits ini dengan makna marah bertentangan dengan ijmak ulama sebagaimana dikemukan oleh al-Syarwani di atas. Dengan demikian, maknanya yang lebih tepat di sini adalah dipaksa. Berdasarkan ini, maka hadits ini tidak tepat menjadi dalil jatuh talaq dalam keadaan marah.  2.    Firman Allah Ta’ala berbunyi :  لا يؤاخذكم الله باللغو في أيمانكم  Allah tidak menghukummu dengan sebab lagha dalam sumpahmu (Q.S. al-Baqarah : 225)  Ibnu Abbas mengatakan : “Lagha sumpah adalah kamu bersumpah, sedangkan kamu dalam keadaan marah.”[21]            Berdasakan tafsir dari Ibnu Abbas ini, maka sumpah dalam keadaan marah tidak ada akibat hukumnya. Dengan mengqiyaskan talaq kepada sumpah, maka talaq dalam keadaan marah juga tidak ada akibat hukumnya, alias tidak jatuh talaq.  Jawaban Jumhur  Ibnu Hajar al-Asqalani menolak riwayat ini. Dalam mengomentari riwayat ini beliau mengatakan :  وَهَذَا يُعَارضهُ الْخَبَر الثَّابِت عَن ابن عَبَّاسٍ كَمَا تَقَدَّمَ فِي مَوْضِعِهِ أَنَّهُ تَجِبُ فِيهِ كَفَّارَةُ يَمِينٍ  Riwayat ini bertentangan dengan hadits yang shahih dari Ibnu Abbas sebagaimana disebut sebelumnya, sesungguhnya sumpah orang marah wajib atasnya kifarat  Selanjutnya beliau menegaskan juga :  وَمَنْ قَالَ إِنَّهَا يَمِينُ الْغَضَبِ يَرُدُّهُ مَا ثَبَتَ فِي الْأَحَادِيثِ يَعْنِي مِمَّا ذُكِرَ فِي الْبَابِ وَغَيْرِهَا  Barangsiapa yang berpendapat bahwa lagha tersebut bermakna sumpah dalam keadaan marah, maka ini ditolak oleh hadit-hadits shahih yang telah disebut dalam babnya dan lainnya.[22]    Ibnu Rajab mengatakan :  وقد صحَّ عن غير  واحد من الصحابة أنَّهم أفْتَوا أنَّ يمينَ الغضبان منعقدة وفيها الكفارةُ ، وما روي عن ابن عباسٍ مما يُخالِفُ ذلك فلا يصحُّ إسنادُه  Telah shahih dari bukan seorang sahabat Nabi saja mereka berfatwa sumpah orang dalam keadaan marah terakad dan wajib kifarat. Adapun riwayat dari Ibnu Abbas yang menyalahinya, maka tidak shahih isnadnya.[23]  Dengan riwayat ini dhaif, tidak dapat menjadi hujjah.  3.    Sabda Nabi SAW berbunyi :  لاَ يَقْضِيَنَّ حَكَمٌ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غَضْبَانُ  Tidak memutuskan hukum seorang hakim di antara dua orang ang berselisih, sedangkan dia dalam keadaan marah.(H.R. Bukhari).[24]  Berdasarkan hadits ini, tidak dalam keadaan marah merupakan salah satu syarat seorang hakim dalam memutuskan perkara, karena marah menyebabkan seseorang tidak bisa berpikir normal dalam menentukan suatu tindakan. Maka dengan demikian, seorang yang mentalaq isterinya dalam keadaan marah juga akan berlaku hal yang sama.  Jawaban Jumhur              Kandungan hadits ini kurang tepat diberlakukan pada kasus seorang suami yang mentalaq isterinya. Karena disyaratkan tidak marah pada hakim, sebabnya ada tuntutan kehati-hatian dalam memutus perkara yang berhubungan dengan sengketa anggota masyarakat. Buktinya ada persyaratan khusus untuk hakim yang tidak berlaku pada individu lain, seperti hakim tidak dalam keadaan sangat lapar, hakim harus bersifat adil, hakim tidak boleh seorang perempuan menurut jumhur ulama dan lain-lain. Dengan demikian, maka mengqiyaskan kasus seorang suami mentalaq isteri kepada syarat seoorang hakim adalah tidak tepat.              Dari sisi lain, hadits ini justeru mendukung pendapat jumhur yang berpendapat orang sedang marah adalah mukallaf, sehingga talaqnya dihukum sah. Hal ini karena  Nabi SAW melarang memutuskan suatu perkara dalam keadaan marah. Ini menunjukan orang sedang marah juga adalah mukallaf, seandainya tidak mukallaf maka tidak ada makna larangan tersebut. Karena orang yang tidak mukallaf tidak dibebankan suatu hukum.  4.    Qiyas kepada orang mabuk dengan sebab mubah. Orang mabuk dengan sebab mubah tidak jatuh talaqnya.  Jawaban Jumhur              Qiyas ini juga tidak tepat, karena yang menjadi khilafiyah di sini adalah masalah marah yang tidak sampai tidak diketahui dan tidak diqashad apa yang diucapkannya. Adapun mabuk dapat menyebabkan seseorang tidak mengetahui dan tidak memngqashadkan apa yang diucapkannya. Buktinya firman Allah Ta’ala berbunyi :  يا ايها الذين آمنوا لا تقربوا الصلاة وأنتم سكارى حتى تعلموا ما تقولون  Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mendekati shalat, sedangkan kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu ketahui apa yang kamu katakan.(Q.S. al-Nisa’ : 43).    Referensi ; Talak Dalam Keadaan Marah (Bagian 2)

Hadits ini juga telah diriwayat oleh Abu Daud. Beliau mengatakan :

هَذَا أَصَحُّ الْحَدِيثين[15]

Jalan pendalilian dengan hadits ini adalah apabila berdasarkan hadits ini tindakan zhihar sah dalam keadaan marah berdasarkan kandungan hadits ini, maka thalaq sah juga karena qiyas kepada zhihar.

2.    Ijmak sukuti dari sahabat Nabi sebagaimana dikemukakan al-Syarwani di atas.

3.    Seorang yang sedang marah masih dianggap mukallaf. Buktinya dia masih mengetahui dan mengqashad apa yang dikatakannya dan ini juga sesuai dengan hadits Nabi SAW berbunyi :

عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَوْصِنِي. قَالَ لَا تَغْضَبْ

Dari seorang sahabat Nabi SAW berkata : “Seorang mengatakan , “Ya Rasulullah !, wasiatkan untukku.” Rasulullah bersabda : “ Jangan marah”.(H.R. Ahmad. Rijalnya rijal shahih)[16]

Larangan marah tersebut dalam hadits di atas menunjukan bahwa seseorang yang sedang marah berarti dia sedang dalam keadaan melanggar perintah syara’. Dengan demikian dia sedang dalam keadaan bersifat mukallaf. Seandainya seseorang yang sedang marah bukan mukallaf, maka tentu tidak ada makna melarang seseorang marah, karena saat itu dia tidak dalam keadaan mukallaf.

4.    Riwayat mujahid dari Ibnu Abbas menceritakan :

أنَّ رجلاً قال له: إني طلقت امرأتي ثلاثاً وأنا غضبان، فقال: إنَّ ابنَ عباس لا يستطيع أنْ يُحِلَّ لك ما حرَّم الله عليك، عصيتَ ربَّك وحرمت عليك امرأتك

Sesungguuhnya seorang laki-laki berkata kepada Ibnu Abbas : “Sungguh aku telah mentalaq tiga isteriku dalam keadaan marah.” Lantas Ibnu Abbas mengatakan, “Sesunggunya Ibnu Abbas tidak mampu menghalal bagimu apa yang telah diharamkan oleh Allah atasmu, kamu maksiat tuhanmu dan kamu haramkan isterimu atasmu.(hadits telah dikeluarkan oleh al-Jauzujani, al-Darulquthni, Abu Daud, dan al-Thabrani dengan isnad syarat Muslim)[17]


Laki-laki dalam kasus di atas yang mentalaq isterinya dalam keadaan marah, diputuskan oleh Ibnu Abbas telah haram atasnya isterinya tersebut. Artinya telah jatuh talaq.

5.    Qaidah Fiqh berbunyi :

أن الأصل في الأبضاع التحريم

Sesungguhnya asal pada masalah kemaluan perempuan adalah haram.[18]

Menfatwakan kepada suatu hukum yang mengakibatkan haram kemaluan perempuan lebih diutamakan, karena untuk lebih hati-hati (ihtiyath) terhadap yang berkenaan dengan kemaluan perempuan. Sedangakan fatwa jatuh talaq mengakibatkan haram kemaluan perempuan atas suaminya.

Adapun dalil-dalil yang dikemukakan kelompok yang berpendapat tidak jatuh talaq dalam keadaan marah adalah sebagai berikut :

1.    Hadits dari Aisyah r.a berbunyi :

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لا طلاق ولا عتاق في إغلاق

Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Tidak ada talaq dan memerdekakan hamba sahaya dalam keadaan marah.(H.R. Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dan al-Hakim)[19]

Abu Daud salah seorang perawi hadits ini mengatakan, aku menduga makna ghilaq adalah marah.[20]

Jawaban Jumhur

Makna asal dari ighlaq adalah mengunci. Kemudian maknanya dalam hadits ini dapat bermakna marah sebagaimana dikemukakan oleh Abu Daud, karena bila seseorang sedang marah, maka akalnya seolah-olah terkunci dengan kemarahannya tersebut, sehingga akalnya tidak berfungsi secara normal. Namun ighlaq dengan makna asalnya mengunci ini juga bisa bermakna dipaksa dalam hadits ini. Karena orang yang dipaksa melakukan suatu perbuatan, akalnya seolah-olah terkunci karena tidak ada pilihan baginya dalam bertindak. Memaknai ighlaq dalam hadits ini dengan makna marah bertentangan dengan ijmak ulama sebagaimana dikemukan oleh al-Syarwani di atas. Dengan demikian, maknanya yang lebih tepat di sini adalah dipaksa. Berdasarkan ini, maka hadits ini tidak tepat menjadi dalil jatuh talaq dalam keadaan marah.

2.    Firman Allah Ta’ala berbunyi :

لا يؤاخذكم الله باللغو في أيمانكم

Allah tidak menghukummu dengan sebab lagha dalam sumpahmu (Q.S. al-Baqarah : 225)

Ibnu Abbas mengatakan : “Lagha sumpah adalah kamu bersumpah, sedangkan kamu dalam keadaan marah.”[21]

          Berdasakan tafsir dari Ibnu Abbas ini, maka sumpah dalam keadaan marah tidak ada akibat hukumnya. Dengan mengqiyaskan talaq kepada sumpah, maka talaq dalam keadaan marah juga tidak ada akibat hukumnya, alias tidak jatuh talaq.

Jawaban Jumhur

Ibnu Hajar al-Asqalani menolak riwayat ini. Dalam mengomentari riwayat ini beliau mengatakan :

وَهَذَا يُعَارضهُ الْخَبَر الثَّابِت عَن ابن عَبَّاسٍ كَمَا تَقَدَّمَ فِي مَوْضِعِهِ أَنَّهُ تَجِبُ فِيهِ كَفَّارَةُ يَمِينٍ

Riwayat ini bertentangan dengan hadits yang shahih dari Ibnu Abbas sebagaimana disebut sebelumnya, sesungguhnya sumpah orang marah wajib atasnya kifarat

Selanjutnya beliau menegaskan juga :

وَمَنْ قَالَ إِنَّهَا يَمِينُ الْغَضَبِ يَرُدُّهُ مَا ثَبَتَ فِي الْأَحَادِيثِ يَعْنِي مِمَّا ذُكِرَ فِي الْبَابِ وَغَيْرِهَا

Barangsiapa yang berpendapat bahwa lagha tersebut bermakna sumpah dalam keadaan marah, maka ini ditolak oleh hadit-hadits shahih yang telah disebut dalam babnya dan lainnya.[22]


Ibnu Rajab mengatakan :

وقد صحَّ عن غير  واحد من الصحابة أنَّهم أفْتَوا أنَّ يمينَ الغضبان منعقدة وفيها الكفارةُ ، وما روي عن ابن عباسٍ مما يُخالِفُ ذلك فلا يصحُّ إسنادُه

Telah shahih dari bukan seorang sahabat Nabi saja mereka berfatwa sumpah orang dalam keadaan marah terakad dan wajib kifarat. Adapun riwayat dari Ibnu Abbas yang menyalahinya, maka tidak shahih isnadnya.[23]

Dengan riwayat ini dhaif, tidak dapat menjadi hujjah.

3.    Sabda Nabi SAW berbunyi :

لاَ يَقْضِيَنَّ حَكَمٌ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غَضْبَانُ

Tidak memutuskan hukum seorang hakim di antara dua orang ang berselisih, sedangkan dia dalam keadaan marah.(H.R. Bukhari).[24]

Berdasarkan hadits ini, tidak dalam keadaan marah merupakan salah satu syarat seorang hakim dalam memutuskan perkara, karena marah menyebabkan seseorang tidak bisa berpikir normal dalam menentukan suatu tindakan. Maka dengan demikian, seorang yang mentalaq isterinya dalam keadaan marah juga akan berlaku hal yang sama.

Jawaban Jumhur

            Kandungan hadits ini kurang tepat diberlakukan pada kasus seorang suami yang mentalaq isterinya. Karena disyaratkan tidak marah pada hakim, sebabnya ada tuntutan kehati-hatian dalam memutus perkara yang berhubungan dengan sengketa anggota masyarakat. Buktinya ada persyaratan khusus untuk hakim yang tidak berlaku pada individu lain, seperti hakim tidak dalam keadaan sangat lapar, hakim harus bersifat adil, hakim tidak boleh seorang perempuan menurut jumhur ulama dan lain-lain. Dengan demikian, maka mengqiyaskan kasus seorang suami mentalaq isteri kepada syarat seoorang hakim adalah tidak tepat.

            Dari sisi lain, hadits ini justeru mendukung pendapat jumhur yang berpendapat orang sedang marah adalah mukallaf, sehingga talaqnya dihukum sah. Hal ini karena  Nabi SAW melarang memutuskan suatu perkara dalam keadaan marah. Ini menunjukan orang sedang marah juga adalah mukallaf, seandainya tidak mukallaf maka tidak ada makna larangan tersebut. Karena orang yang tidak mukallaf tidak dibebankan suatu hukum.

4.    Qiyas kepada orang mabuk dengan sebab mubah. Orang mabuk dengan sebab mubah tidak jatuh talaqnya.

Jawaban Jumhur

            Qiyas ini juga tidak tepat, karena yang menjadi khilafiyah di sini adalah masalah marah yang tidak sampai tidak diketahui dan tidak diqashad apa yang diucapkannya. Adapun mabuk dapat menyebabkan seseorang tidak mengetahui dan tidak memngqashadkan apa yang diucapkannya. Buktinya firman Allah Ta’ala berbunyi :

يا ايها الذين آمنوا لا تقربوا الصلاة وأنتم سكارى حتى تعلموا ما تقولون

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mendekati shalat, sedangkan kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu ketahui apa yang kamu katakan.(Q.S. al-Nisa’ : 43).


Referensi ; Talak Dalam Keadaan Marah (Bagian 2)

Referensi : 

[1] Ibnu ‘Abidin, Radd al-Mukhtar ala Dar al-Mukhtar, Maktabah Syamilah, Juz.. III, Hal. 244

[2] Ibnu ‘Abidin, Radd al-Mukhtar ala Dar al-Mukhtar, Maktabah Syamilah, Juz.. III, Hal. 244

[3] Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala al-Mazhab al-Arba’ah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. IV, Hal. 262.

[4] [4] Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala al-Mazhab al-Arba’ah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. IV, Hal. 262.

[5] Abu al-Naja al-Hajawi al-Maqdisi, al-Iqna’ fi Fiqh al-Imam Ahmad bin Hambal, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal.4

[6] Al-Dusuqi, Hasyiah al-Dusuqi ‘ala Syarah al-Kabir, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 366

[7] Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, (dicetak pada hamisy Hasyiah al-Syarwani ‘ala al-Tuhfah), Mathba’ah Mushthafa Muhammad, Mesir, Juz. VIII, Hal. 32

[8] Al-Syarwani, Hasyiah al-Syarwani ‘ala al-Tuhfah, Mathba’ah Mushthafa Muhammad, Mesir, Juz. VIII, Hal. 32

[9] Zainuddin al-Malibari, Fathul Muin, (dicetak pada hamisy I’anah al-Thalibin), Thaha Putra, Semarang, Juz. IV, Hal. 5

[10]Abu Bakar al-Syatha,  I’anah al-Thalibi, Thaha Putra, Semarang, Juz. IV, Hal. 5

[11] Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala al-Mazhab al-Arba’ah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. IV, Hal. 262.

[12] Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala al-Mazhab al-Arba’ah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. IV, Hal. 262.

[13] Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, Maktabah Syamilah, Juz. X, Hal. 107, No. 4279

[14]. Al-Baihaqi, Sunan al-Baihaqi, Maktabah Syamilah, Juz. VII, Hal. 639, No. 15274

[15] Ibnu al-Mullaqqin, Badrul Munir, Maktabah Syamilah, Juz. VIII, Hal. 148

[16] Al-Haitsami, Majma’ al-Zawaid, Maktabah Syamilah, Juz. VIII, Hal. 69, No 12987

[17] Ibnu Rajab, Jami’ul Ulum wal Hakam, Dar Ibn Katsir, Beirut, Hal. 358

[18] Al-Suyuuthi, al-Asybah wan Nadhair, al-Haramain, Singapura, Hal. 44

[19] Mulla ‘Ali al-Qary, Mirqah al-Mafatih, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut,  Juz VI, Hal. 391-392

[20] Mulla ‘Ali al-Qary, Mirqah al-Mafatih, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut,  Juz VI, Hal. 392

[21] Al-Thabari, Tafsir al-Thabari, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 438

[22] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Barry, Maktabah Syamilah, Juz. XI, Hal. 548

[23] Ibnu Rajab, Jami’ul Ulum wal Hakam, Dar Ibn Katsir, Beirut, Hal. 358

[24] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. IX, Hal. 65,



Talak Dalam Keadaan Marah (Bagian 1)

Talak dalam keadaan marah  Dalam risalah Ibnu al-Qayyim disebutkan, keadaan orang marah terdiri tiga pembagian, yaitu :  Ada padanya mabadi marah (permulaan marah), dalam marahnya tidak menyebabkan berubah akalnya dan dia mengetahui dan mengqashad apa yang dia katakan. Ini tidak ada musykil (jatuh talaq). Marah yang sampai pada puncaknya, sehingga tidak diketahui apa yang dikatakan dan juga perkataannya itu tidak diqashadnya lagi. Ini tidak diragukan tidak berlaku apapun dari perkataannya. Pertengahan antara dua kelompok marah di atas. Orang marah kelompok ini tidak seperti orang gila. Dalil-dalil menunjukkan tidak berlaku juga perkataannya.  Sebagaimana penjelasan diatas, para ulama sepakat jatuh talaq dalam kasus marah biasa, yakni marah katagori pertama dalam pengelompokan di atas dan tidak jatuh talaq pada katagori kedua, yakni marah yang sudah sampai puncaknya yang dapat menghilangkan akalnya, sehingga tidak diketahui lagi apa yang dikatakan serta perkataannya itu tidak diqashadnya lagi. Terjadi perbedaan pendapat hanya pada marah katagori ketiga, yakni marah pertengahan antara dua katagori di atas. Ibnu  Abidin setelah mengutip pengelompokan marah yang disebut oleh Ibnu al-Qayyim di atas, beliau  mengatakan :  لَكِنْ أَشَارَ فِي الْغَايَةِ إلَى مُخَالَفَتِهِ فِي الثَّالِثِ حَيْثُ قَالَ: وَيَقَعُ الطَّلَاقُ مِنْ غَضَبٍ خِلَافًا لِابْنِ الْقَيِّمِ  Akan tetapi pengarang al-Ghayah (ulama pengikut mazhab Hambali) mengisyaratkan berbeda dengan pendapat Ibnu al-Qayyim. Pengarang al-Ghayah mengatakan, jatuh talaq dari orang marah, berbeda dengan pendapat Ibnu al-Qayyim.   Abdurrahman al-Jaziri menggambarkan katagori ketiga ini dengan perkataan beliau sebagai berikut :  الثالث: أن يكون الغضب وسطاً بين الحالتين، بأن يشتد ويخرج عن عادته ولكنه لا يكون كالمجنون الذي لا يقصد ما يقول ولا يعلمه،  Katagori ketiga adalah keadaan marah di antara dua hal di atas, yakni sangat marah, sehingga keluar seseorang dari prilaku kebiasaannya, namun tidak menjadikannya seperti orang gila yang tidak mengqashad dan tidak mengetahui apa yang dikatakannya.[3]  Kemudian al-Jaziri mengatakan, bahwa pendapat Ibnu al-Qayyim yang mengatakan tidak jatuh talaq marah katagori ketiga ini tidak diakui sebagai mazhab Hambali.[4]  Dengan demikian yang menjadi pendapat mu’tamad dalam mazhab Hambali adalah jatuh talaq yang terjadi pada orang marah katagori ketiga. Ini juga sesuai dengan penjelasan Abu al-Naja al-Hajawi al-Maqdisi dalam kitab al-Iqna’ fi Fiqh al-Imam Ahmad bin Hambal berikut :  والغضبان مكلف في حال غضبه بما يصدر منه من كفر وقتل نفس وأخذ مال بغير حق وطلاق وغير ذلك قال ابن رجب في شرح النواوية ما يقع من الغضبان من طلاق وعتاق أو يمين فإنه يؤاخذ بذلك كله بغير خلاف واستدل لذلك بأدلة صحيحة وأنكر على من يقول بخلاف ذلك  Orang marah adalah mukallaf pada ketika marahnya dengan apa yang terjadi darinya, baik kufur, bunuh diri, ambil harta orang lain tanpa haq, talaq dan yang lainnya. Dalam Syarah al-Nawawiyah, Ibnu Rajab mengatakan hal-hal yang terjadi karena marah, baik talaq, memerdekakan atau sumpah, maka diperhitungkan semua itu tanpa khilaf dan beliau juga mengemukakan dalil-dalil yang shahih serta mengingkari orang yang berpendapat sebaliknya.  Mazhab Maliki juga berpendapat jatuh talaq yang terjadi pada orang marah katagori ketiga ini. Hal ini tergambar dari penjelasan ulama mazhab Maliki, al-Dusuqi sebagai berikut :  يَلْزَمُ طَلَاقُ الْغَضْبَانِ وَلَوْ اشْتَدَّ غَضَبُهُ خِلَافًا لِبَعْضِهِمْ كَذَا ذَكَرَ السَّيِّدُ الْبُلَيْدِيُّ فِي حَاشِيَتِهِ  Mengakibatkan jatuh talaq orang sedang marah, meskipun marahnya kuat. Pendapat ini berbeda dengan sebagian ulama. Seperti ini al-Bulaidy menyebutnya dalam Hasyiahnya.[6]  Termasuk yang berpendapat jatuh talaq yang terjadi pada orang marah adalah mazhab Syafi’i. Kesimpulan ini terlihat dalam nash-nash ulama-ulama Syafi’iyah berikut ini :  1.  Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan :  .مع الخبر الصحيح أيضا لا طلاق في إغلاق وفسره كثيرون بالإكراه كأنه أغلق عليه الباب أو انغلق عليه رأيه ومنعوا تفسيره بالغضب للاتفاق على وقوع طلاق الغضبان قال البيهقي، وأفتى به جمع من الصحابة ولا مخالف لهم منهم  Serta ada hadits shahih pula, “Tidak ada thalaq dalam keadaan ighlaq”. Kebanyakan ulama menafsirkannya dengan paksaan, seolah-olah dikunci pintu atasnya atau terkunci pikirannya. Mereka mencegah menafsirkannya dengan marah, karena ada kesepakatan jatuh talaq sedang marah. Al-Baihaqi mengatakan, satu jama’ah sahabat telah mengifta’ jatuh talaq sedang marah dan tidak ada yang menyelisihnya.  Seterusnya menjelaskan maksud perkataan al-Tuhfah di atas, al-Syarwani mengatakan :  (قوله: وأفتى به) أي بوقوع طلاق الغضبان وقوله: ولا مخالف إلخ أي فكان إجماعا سكوتيا  Perkataan pengarang : telah mengifta’nya, artinya ifta’ jatuh talaq sedang marah. Dan perkataan pengarang : tidak ada yang menyelisihnya dan seterusnya.., maka ini adalah ijma’ sukuti.  2.Zainuddin al-Malibari mengatakan :  واتفقوا على وقوع طلاق الغضبان وإن ادعى زوال شعوره بالغضب  Para ulama sepakat atas jatuh thalaq sedang marah, meskipun didakwa hilang kesadarannya dengan sebab marah.  Dalam mengomentari pernyataan di atas, Abu Bakar al-Syatha mengatakan :  (قوله واتفقوا على وقوع طلاق الغضبان ) في ترغيب المشتاق سئل الشمس الرملي عن الحلف بالطلاق حال الغضب الشديد المخرج عن الاشعار هل يقع الطلاق أم لا وهل يفرق بين التعليق والتنجيز أم لا وهل يصدق الحالف في دعواه شدة الغضب وعدم الإشعار فأجاب بأنه لا اعتبار بالغضب فيها نعم إن كان زائل العقل عذر اهـ  Perkataan pengarang : Para ulama sepakat atas jatuh thalaq sedang marah. Dalam kitab Targhib al-Musytaq, Imam al-Ramli ditanya tentang sumpah thalaq sedang sangat marah yang mengeluarkannya dari kesadaran, apakah jatuh talaq atau tidak? Apakah dibedakan antara ta’liq dan tanjiz atau tidak? Apakah dibenarkan dakwa orang bersumpah bahwa dia sedang sangat marah dan tidak ada kesadaran? Imam al-Ramli menjawab bahwa tidak ada i’tibar marah padanya , namun demikian, seandainya dia hilang akal, maka dihukum ‘uzur.  Pendapat yang berbeda dengan di atas dikemukakan oleh golongan ulama Hanafiyah. Golongan ini berpendapat talaq dalam keadaan marah tidak jatuh talaqnya. Ini sebagaimana disebut dalam kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazhab al-Arba’ah, yakni :  والتحقيق عند الحنفية أن الغضبان الذي يخرجه غضبه عن طبيعته وعادته بحيث يغلب الهذيان على أقواله وأفعاله فإن طلاقه لا يقع، وإن كان يعلم ما يقول ويقصده لأنه يكون في حالة يتغير فيها إدراكه، فلا يكون قصده مبنياً على إدراك صحيح، فيكون كالمجنون،  Yang tahqiq di sisi Hanafiyah orang marah yang marahnya mengeluarkan seseorang dari tabiat dan kebiasaannya, dalam arti kekacauan pikiran menguasai perkataan dan perbuatannya, maka talaqnya tidak jatuh, meskipun dia mengetahui dan mengqashad apa yang dikatakannya. Karena orang marah berada dalam keadaan berubah-ubah pemikirannya. Karena itu, keadaan qashadnya tidak dibangun atas pemikiran yang shahih, maka ketika itu seperti orang gila.  Pendapat golongan Hanafiyah ini merupakan pendapat yang menyalahi dengan jumhur ulama.  Dali-dalil jumhur ulama yang berpendapat jatuh talaq yang terjadi dalam keadaan marah  1.    Dikisahkan dalam kitab Shahih Ibnu Hibban seorang perempuan bernama Khuwailah binti Tha’labah isteri Aus bin al-Shamit. Khuwailah ini menceritakan bahwa suaminya itu seorang yang sudah tua dan prilakunya buruk. Suatu ketika Khuwailah meminta sesuatu kepada suaminya, lalu suaminya marah, kemudian dengan serta melakukan zhihar kepadanya. Kemudian Khuwailah mengadu kepada Rasulullah SAW. Maka ketika itu Rasulullah SAW mengatakan kepada Khuwailah :  مُرِيهِ فَلْيُعْتِقْ رَقَبَةً قَالَتْ: وَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا عِنْدَهُ مَا يَعْتِقُ، قَالَ: فَلْيَصُمْ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ شَيْخٌ كَبِيرٌ، مَا بِهِ مِنْ صِيَامٍ، قَالَ: فَلْيُطْعِمْ سِتِّينَ مِسْكِينًا وَسْقًا مِنْ تَمْرٍ  “Perintahlah suamimu memerdekakan hamba sahaya !”. “Ya Rasulullah tidak ada di sisinya sesuatupun untuk dimerdekakannya, Jawab Khuwailah. Kemudian Rasulullah mengatakan : “Kalau begitu, berpuasalah dua bulan berturut-turut”. Khuwailahpun menjawab : “Ya Rasulullah sesungguhnya suamiku seorang yang sudah tua, dia tidak sanggup lagi berpuasa.” Lalu Rasulullah SAW berkata : “Berikan makanlah satu ausuq kurma untuk enam puluh orang miskin.”(H.R. Ibnu Hibban [13] dan al-Baihaqi[14])

Talak dalam keadaan marah

Dalam risalah Ibnu al-Qayyim disebutkan, keadaan orang marah terdiri tiga pembagian, yaitu :

  1. Ada padanya mabadi marah (permulaan marah), dalam marahnya tidak menyebabkan berubah akalnya dan dia mengetahui dan mengqashad apa yang dia katakan. Ini tidak ada musykil (jatuh talaq).
  2. Marah yang sampai pada puncaknya, sehingga tidak diketahui apa yang dikatakan dan juga perkataannya itu tidak diqashadnya lagi. Ini tidak diragukan tidak berlaku apapun dari perkataannya.
  3. Pertengahan antara dua kelompok marah di atas. Orang marah kelompok ini tidak seperti orang gila. Dalil-dalil menunjukkan tidak berlaku juga perkataannya.

Sebagaimana penjelasan diatas, para ulama sepakat jatuh talaq dalam kasus marah biasa, yakni marah katagori pertama dalam pengelompokan di atas dan tidak jatuh talaq pada katagori kedua, yakni marah yang sudah sampai puncaknya yang dapat menghilangkan akalnya, sehingga tidak diketahui lagi apa yang dikatakan serta perkataannya itu tidak diqashadnya lagi. Terjadi perbedaan pendapat hanya pada marah katagori ketiga, yakni marah pertengahan antara dua katagori di atas. Ibnu  Abidin setelah mengutip pengelompokan marah yang disebut oleh Ibnu al-Qayyim di atas, beliau  mengatakan :

لَكِنْ أَشَارَ فِي الْغَايَةِ إلَى مُخَالَفَتِهِ فِي الثَّالِثِ حَيْثُ قَالَ: وَيَقَعُ الطَّلَاقُ مِنْ غَضَبٍ خِلَافًا لِابْنِ الْقَيِّمِ

Akan tetapi pengarang al-Ghayah (ulama pengikut mazhab Hambali) mengisyaratkan berbeda dengan pendapat Ibnu al-Qayyim. Pengarang al-Ghayah mengatakan, jatuh talaq dari orang marah, berbeda dengan pendapat Ibnu al-Qayyim. 

Abdurrahman al-Jaziri menggambarkan katagori ketiga ini dengan perkataan beliau sebagai berikut :

الثالث: أن يكون الغضب وسطاً بين الحالتين، بأن يشتد ويخرج عن عادته ولكنه لا يكون كالمجنون الذي لا يقصد ما يقول ولا يعلمه،

Katagori ketiga adalah keadaan marah di antara dua hal di atas, yakni sangat marah, sehingga keluar seseorang dari prilaku kebiasaannya, namun tidak menjadikannya seperti orang gila yang tidak mengqashad dan tidak mengetahui apa yang dikatakannya.[3]

Kemudian al-Jaziri mengatakan, bahwa pendapat Ibnu al-Qayyim yang mengatakan tidak jatuh talaq marah katagori ketiga ini tidak diakui sebagai mazhab Hambali.[4]  Dengan demikian yang menjadi pendapat mu’tamad dalam mazhab Hambali adalah jatuh talaq yang terjadi pada orang marah katagori ketiga. Ini juga sesuai dengan penjelasan Abu al-Naja al-Hajawi al-Maqdisi dalam kitab al-Iqna’ fi Fiqh al-Imam Ahmad bin Hambal berikut :

والغضبان مكلف في حال غضبه بما يصدر منه من كفر وقتل نفس وأخذ مال بغير حق وطلاق وغير ذلك قال ابن رجب في شرح النواوية ما يقع من الغضبان من طلاق وعتاق أو يمين فإنه يؤاخذ بذلك كله بغير خلاف واستدل لذلك بأدلة صحيحة وأنكر على من يقول بخلاف ذلك

Orang marah adalah mukallaf pada ketika marahnya dengan apa yang terjadi darinya, baik kufur, bunuh diri, ambil harta orang lain tanpa haq, talaq dan yang lainnya. Dalam Syarah al-Nawawiyah, Ibnu Rajab mengatakan hal-hal yang terjadi karena marah, baik talaq, memerdekakan atau sumpah, maka diperhitungkan semua itu tanpa khilaf dan beliau juga mengemukakan dalil-dalil yang shahih serta mengingkari orang yang berpendapat sebaliknya.

Mazhab Maliki juga berpendapat jatuh talaq yang terjadi pada orang marah katagori ketiga ini. Hal ini tergambar dari penjelasan ulama mazhab Maliki, al-Dusuqi sebagai berikut :

يَلْزَمُ طَلَاقُ الْغَضْبَانِ وَلَوْ اشْتَدَّ غَضَبُهُ خِلَافًا لِبَعْضِهِمْ كَذَا ذَكَرَ السَّيِّدُ الْبُلَيْدِيُّ فِي حَاشِيَتِهِ

Mengakibatkan jatuh talaq orang sedang marah, meskipun marahnya kuat. Pendapat ini berbeda dengan sebagian ulama. Seperti ini al-Bulaidy menyebutnya dalam Hasyiahnya.[6]

Termasuk yang berpendapat jatuh talaq yang terjadi pada orang marah adalah mazhab Syafi’i. Kesimpulan ini terlihat dalam nash-nash ulama-ulama Syafi’iyah berikut ini :

1.  Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan :

.مع الخبر الصحيح أيضا لا طلاق في إغلاق وفسره كثيرون بالإكراه كأنه أغلق عليه الباب أو انغلق عليه رأيه ومنعوا تفسيره بالغضب للاتفاق على وقوع طلاق الغضبان قال البيهقي، وأفتى به جمع من الصحابة ولا مخالف لهم منهم

Serta ada hadits shahih pula, “Tidak ada thalaq dalam keadaan ighlaq”. Kebanyakan ulama menafsirkannya dengan paksaan, seolah-olah dikunci pintu atasnya atau terkunci pikirannya. Mereka mencegah menafsirkannya dengan marah, karena ada kesepakatan jatuh talaq sedang marah. Al-Baihaqi mengatakan, satu jama’ah sahabat telah mengifta’ jatuh talaq sedang marah dan tidak ada yang menyelisihnya.

Seterusnya menjelaskan maksud perkataan al-Tuhfah di atas, al-Syarwani mengatakan :

(قوله: وأفتى به) أي بوقوع طلاق الغضبان وقوله: ولا مخالف إلخ أي فكان إجماعا سكوتيا

Perkataan pengarang : telah mengifta’nya, artinya ifta’ jatuh talaq sedang marah. Dan perkataan pengarang : tidak ada yang menyelisihnya dan seterusnya.., maka ini adalah ijma’ sukuti.

2.Zainuddin al-Malibari mengatakan :

واتفقوا على وقوع طلاق الغضبان وإن ادعى زوال شعوره بالغضب

Para ulama sepakat atas jatuh thalaq sedang marah, meskipun didakwa hilang kesadarannya dengan sebab marah.

Dalam mengomentari pernyataan di atas, Abu Bakar al-Syatha mengatakan :

(قوله واتفقوا على وقوع طلاق الغضبان ) في ترغيب المشتاق سئل الشمس الرملي عن الحلف بالطلاق حال الغضب الشديد المخرج عن الاشعار هل يقع الطلاق أم لا وهل يفرق بين التعليق والتنجيز أم لا وهل يصدق الحالف في دعواه شدة الغضب وعدم الإشعار فأجاب بأنه لا اعتبار بالغضب فيها نعم إن كان زائل العقل عذر اهـ

Perkataan pengarang : Para ulama sepakat atas jatuh thalaq sedang marah. Dalam kitab Targhib al-Musytaq, Imam al-Ramli ditanya tentang sumpah thalaq sedang sangat marah yang mengeluarkannya dari kesadaran, apakah jatuh talaq atau tidak? Apakah dibedakan antara ta’liq dan tanjiz atau tidak? Apakah dibenarkan dakwa orang bersumpah bahwa dia sedang sangat marah dan tidak ada kesadaran? Imam al-Ramli menjawab bahwa tidak ada i’tibar marah padanya , namun demikian, seandainya dia hilang akal, maka dihukum ‘uzur.

Pendapat yang berbeda dengan di atas dikemukakan oleh golongan ulama Hanafiyah. Golongan ini berpendapat talaq dalam keadaan marah tidak jatuh talaqnya. Ini sebagaimana disebut dalam kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazhab al-Arba’ah, yakni :

والتحقيق عند الحنفية أن الغضبان الذي يخرجه غضبه عن طبيعته وعادته بحيث يغلب الهذيان على أقواله وأفعاله فإن طلاقه لا يقع، وإن كان يعلم ما يقول ويقصده لأنه يكون في حالة يتغير فيها إدراكه، فلا يكون قصده مبنياً على إدراك صحيح، فيكون كالمجنون،

Yang tahqiq di sisi Hanafiyah orang marah yang marahnya mengeluarkan seseorang dari tabiat dan kebiasaannya, dalam arti kekacauan pikiran menguasai perkataan dan perbuatannya, maka talaqnya tidak jatuh, meskipun dia mengetahui dan mengqashad apa yang dikatakannya. Karena orang marah berada dalam keadaan berubah-ubah pemikirannya. Karena itu, keadaan qashadnya tidak dibangun atas pemikiran yang shahih, maka ketika itu seperti orang gila.

Pendapat golongan Hanafiyah ini merupakan pendapat yang menyalahi dengan jumhur ulama.

Dali-dalil jumhur ulama yang berpendapat jatuh talaq yang terjadi dalam keadaan marah

1.    Dikisahkan dalam kitab Shahih Ibnu Hibban seorang perempuan bernama Khuwailah binti Tha’labah isteri Aus bin al-Shamit. Khuwailah ini menceritakan bahwa suaminya itu seorang yang sudah tua dan prilakunya buruk. Suatu ketika Khuwailah meminta sesuatu kepada suaminya, lalu suaminya marah, kemudian dengan serta melakukan zhihar kepadanya. Kemudian Khuwailah mengadu kepada Rasulullah SAW. Maka ketika itu Rasulullah SAW mengatakan kepada Khuwailah :

مُرِيهِ فَلْيُعْتِقْ رَقَبَةً قَالَتْ: وَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا عِنْدَهُ مَا يَعْتِقُ، قَالَ: فَلْيَصُمْ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ شَيْخٌ كَبِيرٌ، مَا بِهِ مِنْ صِيَامٍ، قَالَ: فَلْيُطْعِمْ سِتِّينَ مِسْكِينًا وَسْقًا مِنْ تَمْرٍ

“Perintahlah suamimu memerdekakan hamba sahaya !”. “Ya Rasulullah tidak ada di sisinya sesuatupun untuk dimerdekakannya, Jawab Khuwailah. Kemudian Rasulullah mengatakan : “Kalau begitu, berpuasalah dua bulan berturut-turut”. Khuwailahpun menjawab : “Ya Rasulullah sesungguhnya suamiku seorang yang sudah tua, dia tidak sanggup lagi berpuasa.” Lalu Rasulullah SAW berkata : “Berikan makanlah satu ausuq kurma untuk enam puluh orang miskin.”(H.R. Ibnu Hibban [13] dan al-Baihaqi[14])        

Referensi : 

[1] Ibnu ‘Abidin, Radd al-Mukhtar ala Dar al-Mukhtar, Maktabah Syamilah, Juz.. III, Hal. 244

[2] Ibnu ‘Abidin, Radd al-Mukhtar ala Dar al-Mukhtar, Maktabah Syamilah, Juz.. III, Hal. 244

[3] Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala al-Mazhab al-Arba’ah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. IV, Hal. 262.

[4] [4] Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala al-Mazhab al-Arba’ah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. IV, Hal. 262.

[5] Abu al-Naja al-Hajawi al-Maqdisi, al-Iqna’ fi Fiqh al-Imam Ahmad bin Hambal, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal.4

[6] Al-Dusuqi, Hasyiah al-Dusuqi ‘ala Syarah al-Kabir, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 366

[7] Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, (dicetak pada hamisy Hasyiah al-Syarwani ‘ala al-Tuhfah), Mathba’ah Mushthafa Muhammad, Mesir, Juz. VIII, Hal. 32

[8] Al-Syarwani, Hasyiah al-Syarwani ‘ala al-Tuhfah, Mathba’ah Mushthafa Muhammad, Mesir, Juz. VIII, Hal. 32

[9] Zainuddin al-Malibari, Fathul Muin, (dicetak pada hamisy I’anah al-Thalibin), Thaha Putra, Semarang, Juz. IV, Hal. 5

[10]Abu Bakar al-Syatha,  I’anah al-Thalibi, Thaha Putra, Semarang, Juz. IV, Hal. 5

[11] Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala al-Mazhab al-Arba’ah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. IV, Hal. 262.

[12] Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala al-Mazhab al-Arba’ah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. IV, Hal. 262.

[13] Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, Maktabah Syamilah, Juz. X, Hal. 107, No. 4279

[14]. Al-Baihaqi, Sunan al-Baihaqi, Maktabah Syamilah, Juz. VII, Hal. 639, No. 15274

[15] Ibnu al-Mullaqqin, Badrul Munir, Maktabah Syamilah, Juz. VIII, Hal. 148

[16] Al-Haitsami, Majma’ al-Zawaid, Maktabah Syamilah, Juz. VIII, Hal. 69, No 12987

[17] Ibnu Rajab, Jami’ul Ulum wal Hakam, Dar Ibn Katsir, Beirut, Hal. 358

[18] Al-Suyuuthi, al-Asybah wan Nadhair, al-Haramain, Singapura, Hal. 44

[19] Mulla ‘Ali al-Qary, Mirqah al-Mafatih, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut,  Juz VI, Hal. 391-392

[20] Mulla ‘Ali al-Qary, Mirqah al-Mafatih, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut,  Juz VI, Hal. 392

[21] Al-Thabari, Tafsir al-Thabari, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 438

[22] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Barry, Maktabah Syamilah, Juz. XI, Hal. 548

[23] Ibnu Rajab, Jami’ul Ulum wal Hakam, Dar Ibn Katsir, Beirut, Hal. 358

[24] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. IX, Hal. 65,



Konsekuensi Hukum Dari Li‘an Dalam Hukum Islam

Konsekuensi Hukum Dari Li‘an Dalam Hukum Islam. Perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara pria dan wanita untuk membentuk keluarga zakinah, mawaddah, warahmah dan untuk melanjutkan keturunan. Perkawinan di ibaratkan mitsaqan ghalidan (ikatan yang kokoh), oleh karena itu, Allah melarang untuk melepaskannya, namun dalam kenyataan kehidupan masyarakat ada saja hal-hal menjadi pemicu konflik rumah tangga seperti qadhaf, perbuatan menuduh seseorang berbuat zina atau pengingkaran anak, penuduhan bisa dari suami atau orang lain.   Adanya penuduhan dalam hukum Islam melahirkan konsekuensi hukum bagi si penuduh yaitu didera 80 kali apabila ia tidak dapat membuktikan tuduhannya dengan menghadirkan empat orang saksi dan tertuduh kena hukum rajam atau dera 100 kali jika tuduhan ini terbukti. Jika yang menuduh ini adalah suami dan tidak dapat menghadirkan empat orang saksi, sebagai bukti atas kebenaran tuduhannya, ia harus bersumpah empat kali dan kelima kalinya ia menyatakan menerima kutukan Allah jika tuduhannya dusta, perbuatan inilah disebut li’an, Tuduhan ini bisa diingkari isteri dengan sumpah li’an juga, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. An-Nur ayat 6-9.   Li’an ada 2 macam yaitu menuduh istri berbuat zina dan mengingkari anak yang ada dalam kandungan. Dalam UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam bahwa li’an menyebabkan putusnya perkawinan selama-lamanya dan hanya sah apabila dilakukan di hadapan Pengadilan Agama.

Konsekuensi Hukum Dari Li‘an Dalam Hukum Islam. Perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara pria dan wanita untuk membentuk keluarga zakinah, mawaddah, warahmah dan untuk melanjutkan keturunan. Perkawinan di ibaratkan mitsaqan ghalidan (ikatan yang kokoh), oleh karena itu, Allah melarang untuk melepaskannya, namun dalam kenyataan kehidupan masyarakat ada saja hal-hal menjadi pemicu konflik rumah tangga seperti qadhaf, perbuatan menuduh seseorang berbuat zina atau pengingkaran anak, penuduhan bisa dari suami atau orang lain. 

Adanya penuduhan dalam hukum Islam melahirkan konsekuensi hukum bagi si penuduh yaitu didera 80 kali apabila ia tidak dapat membuktikan tuduhannya dengan menghadirkan empat orang saksi dan tertuduh kena hukum rajam atau dera 100 kali jika tuduhan ini terbukti. Jika yang menuduh ini adalah suami dan tidak dapat menghadirkan empat orang saksi, sebagai bukti atas kebenaran tuduhannya, ia harus bersumpah empat kali dan kelima kalinya ia menyatakan menerima kutukan Allah jika tuduhannya dusta, perbuatan inilah disebut li’an, Tuduhan ini bisa diingkari isteri dengan sumpah li’an juga, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. An-Nur ayat 6-9. 

Li’an ada 2 macam yaitu menuduh istri berbuat zina dan mengingkari anak yang ada dalam kandungan. Dalam UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam bahwa li’an menyebabkan putusnya perkawinan selama-lamanya dan hanya sah apabila dilakukan di hadapan Pengadilan Agama.