This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Senin, 29 Agustus 2022

5 Kisah Legendaris Anak Durhaka pada Ibu

5 Kisah Legendaris Anak Durhaka pada Ibu. 1. Legenda Batu Menangis  Di sebuah desa terpencil Kalimantan Barat, tinggallah seorang gadis dan ibunya. Gadis itu cantik, tapi sayangnya ia sangat malas. Selain malas, gadis itu juga manja. Apa pun yang dimintanya harus selalu dikabulkan. Tentu saja keadaan ini membuat ibunya sangat sedih.  Suatu hari, ibunya meminta anak gadisnya menemaninya ke pasar. “Boleh saja, tapi aku tak mau berjalan bersama-sama dengan Ibu. Ibu harus berjalan di belakangku,” katanya. Walaupun sedih, ibunya mengiyakan. Maka berjalanlah mereka berdua menuruni bukit beriringan. Walaupun mereka ibu dan anak, mereka kelihatan berbeda. Seolah-olah mereka bukan berasal dari keluarga yang sama. Bagaimana tidak?  Anaknya yang cantik berpakaian sangat bagus. Sedang ibunya kelihatan tua dan berpakaian sangat sederhana. Di perjalanan, ada orang menyapa mereka. “Hai gadis cantik, apakah orang yang di belakangmu ibumu?” tanya orang itu. “Tentu saja bukan. Dia adalah pembantuku,” kata gadis itu. Betapa sedihnya ibunya mendengarnya.  Tapi dia hanya diam. Hatinya menangis. Begitulah terus-menerus. Setiap ada orang yang menyapa dan menanyakan siapa wanita tua yang bersamanya, si gadis selalu menjawab itu pembantunya.  Lama-lama sang ibu sakit hatinya. Ia pun berdoa, “Ya, Tuhan, hukumlah anak yang tak tahu berterima kasih ini,” katanya. Doa ibu itu pun didengarnya. Pelan-pelan, kaki gadis itu berubah menjadi batu. Perubahan itu terjadi dari kaki ke atas. “Ibu, ibu! Ampuni saya. Ampuni saya!” serunya panik. Gadis itu terus menangis dan menangis. Namun semuanya terlambat. Seluruh tubuhnya akhirnya menjadi batu. Walaupun begitu, orang masih bisa melihatnya menitikkan air mata. Karena itu, batu tersebut diberi nama 'Batu Menangis'.  Malin Kundang 2. Malin Kundang  Cerita ini merupakan cerita terkenal dari Sumatera Barat yang mengisahkan seorang pemuda bernama Malin Kundang yang tinggal bersama ibunya, bapaknya sudah lama merantau dan belum kembali pulang. Pada suatu hari, Malin Kundang ingin sekali merantau karena ia melihat seseorang yang telah kembali merantau menjadi orang kaya. Malin berharap dengan merantau ia akan membantu keadaan ekonomi keluarganyayang buruk.  Dengan berat hati si Ibu mengizinkan Malin pergi. Keesokan harinya Malin pergi ke kota besar dengan menggunakan sebuah kapal. Setelah beberapa tahun bekerja keras, dia berhasil di kota rantauannya. Malin sekarang menjadi orang kaya yang bahkan mempunyai banyak kapal dagang. Malin pun sudah menikah dengan anak seorang saudagar kaya juga.  Suatu hari Malin Kundang kembali ke kampung halamannya. Dia pun berangkat bersama istrinya. Kedatangan Malin disambut dengan rindu oleh ibunya, tetapi Malin malah menolak ibunya karena malu ibunya terlihat tua dan miskin. Ibu Malin menjadi murka dan mengutuk Malin yang durhaka menjadi batu. Batu Malin Kundang ini terletak di daerah Air Manis di Suatera Barat dan menjadi objek wisata bagi para turis.  Si Lancang 3. Si Lancang  Kali ini cerita ini berasal dari Negeri Melayu Riau. Pada masa dulu di daerah Kampar, tinggallah seorang pemuda bernama si Lancang. Ia tinggal bersama ibunya yang sudah tua, menempati sebuah gubuk reot. Suatu hari, si Lancang mohon izin kepada ibunya untuk pergi merantau mencari uang.  Dengan hati yang sedih, emaknya akhirnya mengizinkan si Lancang pergi merantau. Setelah merantau sekian lama, akhirnya si Lancang sukses menjadi seorang saudagar yang kaya raya. Kapal dagangnya berpuluh jumlahnya, anak buahnya cukup banyak dan istrinya pun sangat cantik. Suatu hari si Lancang mengajak istrinya untuk pergi berdagang ke tanah Andalas.  Akhirnya kapal si Lancang yang megah tersebut merapat ke kawasan Sungai Kampar, yakni kampung halaman si Lancang sendiri. Alangkah bahagianya emak si Lancang mendengar kabar kedatangan anaknya. Emak langsung menemui si Lancang dan memanggil anaknya. Namun tanpa diduga, si Lancang berkata, “Bohong! Dia bukan emakku. Usir dia dari kapalku!” teriak si Lancang. Rupanya si Lancang malu untuk mengakui kondisi ibunya yang sudah tua dan miskin tersebut.  Dengan hati yang sangat sedih, Emak pulang ke gubuknya. Emak memutar-mutar lesung dan mengipasinya dengan nyiru sambil berkata, “Ya Tuhanku, si Lancang telah aku lahirkan dan aku besarkan dengan air susuku. Namun setelah menjadi orang kaya, dia tidak mau mengakui diriku sebagai emaknya. Ya Tuhanku, tunjukkan padanya kekuasaan-Mu!”.  Tiba-tiba saja kondisi cuaca berubah dan turun hujan yang sangat lebat. Kapal si Lancang hancur berkeping-keping. Kain sutra yang dibawa si Lancang sebagai barang dagangan terbang melayang-layang kemudian jatuh berlipat-lipat dan menjadi Negeri Lipat Kain yang terletak di Kampar Kiri. Sebuah gong terlempar jauh dan jatuh di dekat gubuk Emak si Lancang di Air Tiris Kampar kemudian menjadi Sungai Ogong di Kampar Kanan.  Sebuah tembikar pecah dan melayang menjadi Pasubilah yang terletak berdekatan dengan Danau si Lancang. Di danau itulah tiang bendera kapal si Lancang tegak tersisa. Bila sekali waktu tiang bendera itu muncul ke permukaan yang menjadi pertanda bagi masyarakat Kampar akan terjadi banjir di Sungai Kampar. Banjir itulah air mata si Lancang yang menyesali perbuatannya yang durhaka kepada Emaknya.  Si Kintan 4. Si Kintan  Dahulu, di sebuah kampung hiduplah satu keluarga miskin. Keluarga itu memiliki seorang anak bernama Sikintan. Pekerjaan Sikintan mencari kayu. Pada suatu malam, Sikintan bermimpi ia didatangi seorang tua. Orang tua itu menunjukkan, di hulu sungai ada sebuah rumpun bambu besar yang berisi tongkat intan.  Keesokan harinya Sikintan pergi ke hulu sungai. Tak berapa lama, ia melihat tongkat intan. Ketika tiba di rumah, ibu Sikintan heran melihat Kintan memiliki tongkat intan. Akhirnya Sikintan menjual tongkat itu ke negeri lain. Sikintan pergi dengan perahu. Suatu hari, ia pergi ke pasar menjual tongkat intan yang dibawanya.  Ia pun menjadi kaya dan memiliki istri yang cantik. Sikintan kembali ke kampung halamannya dan malu ketika bertemu dengan ibunya. Tak berapa lama kemudian, kapal Sikintan berangkat. Ibu Kintan berdoa kepada Tuhan, sambil berkata, “Ya Allah, aku tidak diakui sebagai orang tua oleh anakku. Berilah dia hukuman yang Engkau kehendaki.“ Usai oarang tua itu berdoa, datanglah angin kencang.  Turun badai topan menenggelamkan kapal Sikintan. Beberapa minggu setelah kejadian, kapal itu tampak menjadi pulau. Di pulau itu hiduplah seekor monyet putih. Orang berkata bahwa monyet itu adalah Sikintan yang durhaka kepada orang tuanya. Beberapa bulan kemudian, monyet itu tak tampak lagi, mungkin meninggal dunia dengan seribu penyesalan. Sampai saat ini, pulau itu dinamakan Pulau Sikintan.  Batu Bangkai 5. Legenda Gunung Batu Bangkai  Zaman dahulu di suatu tempat di Kalimantan Selatan, hiduplah seorang janda tua bersama seorang anak lakinya yang bernama Andung Kuswara yang bekerja mencari kayu dan pandai mengobati penyakit. Mereka hidup rukun dan saling menyayangi. Suatu hari, Andung mendengar jeritan seseorang minta tolong seorang kakek yang kakinya terjepit pohon. Andung segera menolong si kakek. Kakek itu berterima kasih dan memberikan sebuah kalung sebagai tanda terima kasih.  Sesampai di rumah Andung bercerita kepada ibunya. Karena ingin mengubah nasibnya Andung ingin merantau saja. Dengan berat hati ibunya mengizinkan Andung merantau. Tidak lupa ibunya memberikan kalung yang diberikan oleh bapak tua. Dalam perjalanannya Andung bertemu dengan seorang petani yang penuh dengan bisul.  Andung berusaha untuk mengobati petani tersebut. Ternyata Andung berhasil. Kabar tentang kemampuan Andung dalam mengobati menyebar ke seluruh negeri. Andung diberi kesempatan untuk mengobati sang putri kerajaan Basiang yang sakit. Hati Andung tergerak untuk menggunakan hadiah kalung yang pernah di berikan oleh bapak tua di hutan. Tak berapa lama, sang putri pun terbangun. Atas jasanya, Andung dinikahkan oleh sang putri. Andung hidup mewah di kerajaan Basiang.  Ketika sang putri hamil, ia ingin makan buah kasturi yang hanya tumbuh di Pulau Kalimantan. Karena cintanya Andung pun berburu buah kasturi hingga ke Pulau Kalimantan. Di kawasan Loksado, Andung berjumpa dengan ibu kandungnya. Betapa malu Andung melihat ibunya yang sudah tua dan miskin. Ia tidak mau mengakui ibunya.  Sedihlah hati ibu Andung, dan ketika sang ibu berdoa untuk kekuatan, tiba tiba petir dan halilintar sambar menyambar membelah bumi. Andung menyadari kesalahannya, namun semua sudah terlambat. Akhirnya Andung menjadi sebuah batu berbentuk bangkai manusia.  Karena kemiripan tersebut, penduduk sekitar gunung itu menamainya dengan sebutan Gunung Batu Bangkai. Gunung Batu Bangkai dapat di jumpai di Kecamatan Loksadu, hulu sungai selatan Kalimantan Selatan.

1. Legenda Batu Menangis

Di sebuah desa terpencil Kalimantan Barat, tinggallah seorang gadis dan ibunya. Gadis itu cantik, tapi sayangnya ia sangat malas. Selain malas, gadis itu juga manja. Apa pun yang dimintanya harus selalu dikabulkan. Tentu saja keadaan ini membuat ibunya sangat sedih.

Suatu hari, ibunya meminta anak gadisnya menemaninya ke pasar. “Boleh saja, tapi aku tak mau berjalan bersama-sama dengan Ibu. Ibu harus berjalan di belakangku,” katanya. Walaupun sedih, ibunya mengiyakan. Maka berjalanlah mereka berdua menuruni bukit beriringan. Walaupun mereka ibu dan anak, mereka kelihatan berbeda. Seolah-olah mereka bukan berasal dari keluarga yang sama. Bagaimana tidak?

Anaknya yang cantik berpakaian sangat bagus. Sedang ibunya kelihatan tua dan berpakaian sangat sederhana. Di perjalanan, ada orang menyapa mereka. “Hai gadis cantik, apakah orang yang di belakangmu ibumu?” tanya orang itu. “Tentu saja bukan. Dia adalah pembantuku,” kata gadis itu. Betapa sedihnya ibunya mendengarnya.

Tapi dia hanya diam. Hatinya menangis. Begitulah terus-menerus. Setiap ada orang yang menyapa dan menanyakan siapa wanita tua yang bersamanya, si gadis selalu menjawab itu pembantunya.

Lama-lama sang ibu sakit hatinya. Ia pun berdoa, “Ya, Tuhan, hukumlah anak yang tak tahu berterima kasih ini,” katanya. Doa ibu itu pun didengarnya. Pelan-pelan, kaki gadis itu berubah menjadi batu. Perubahan itu terjadi dari kaki ke atas. “Ibu, ibu! Ampuni saya. Ampuni saya!” serunya panik. Gadis itu terus menangis dan menangis. Namun semuanya terlambat. Seluruh tubuhnya akhirnya menjadi batu. Walaupun begitu, orang masih bisa melihatnya menitikkan air mata. Karena itu, batu tersebut diberi nama 'Batu Menangis'.

Malin Kundang

2. Malin Kundang

Cerita ini merupakan cerita terkenal dari Sumatera Barat yang mengisahkan seorang pemuda bernama Malin Kundang yang tinggal bersama ibunya, bapaknya sudah lama merantau dan belum kembali pulang. Pada suatu hari, Malin Kundang ingin sekali merantau karena ia melihat seseorang yang telah kembali merantau menjadi orang kaya. Malin berharap dengan merantau ia akan membantu keadaan ekonomi keluarganyayang buruk.

Dengan berat hati si Ibu mengizinkan Malin pergi. Keesokan harinya Malin pergi ke kota besar dengan menggunakan sebuah kapal. Setelah beberapa tahun bekerja keras, dia berhasil di kota rantauannya. Malin sekarang menjadi orang kaya yang bahkan mempunyai banyak kapal dagang. Malin pun sudah menikah dengan anak seorang saudagar kaya juga.

Suatu hari Malin Kundang kembali ke kampung halamannya. Dia pun berangkat bersama istrinya. Kedatangan Malin disambut dengan rindu oleh ibunya, tetapi Malin malah menolak ibunya karena malu ibunya terlihat tua dan miskin. Ibu Malin menjadi murka dan mengutuk Malin yang durhaka menjadi batu. Batu Malin Kundang ini terletak di daerah Air Manis di Suatera Barat dan menjadi objek wisata bagi para turis.

Si Lancang

3. Si Lancang

Kali ini cerita ini berasal dari Negeri Melayu Riau. Pada masa dulu di daerah Kampar, tinggallah seorang pemuda bernama si Lancang. Ia tinggal bersama ibunya yang sudah tua, menempati sebuah gubuk reot. Suatu hari, si Lancang mohon izin kepada ibunya untuk pergi merantau mencari uang.

Dengan hati yang sedih, emaknya akhirnya mengizinkan si Lancang pergi merantau. Setelah merantau sekian lama, akhirnya si Lancang sukses menjadi seorang saudagar yang kaya raya. Kapal dagangnya berpuluh jumlahnya, anak buahnya cukup banyak dan istrinya pun sangat cantik. Suatu hari si Lancang mengajak istrinya untuk pergi berdagang ke tanah Andalas.

Akhirnya kapal si Lancang yang megah tersebut merapat ke kawasan Sungai Kampar, yakni kampung halaman si Lancang sendiri. Alangkah bahagianya emak si Lancang mendengar kabar kedatangan anaknya. Emak langsung menemui si Lancang dan memanggil anaknya. Namun tanpa diduga, si Lancang berkata, “Bohong! Dia bukan emakku. Usir dia dari kapalku!” teriak si Lancang. Rupanya si Lancang malu untuk mengakui kondisi ibunya yang sudah tua dan miskin tersebut.

Dengan hati yang sangat sedih, Emak pulang ke gubuknya. Emak memutar-mutar lesung dan mengipasinya dengan nyiru sambil berkata, “Ya Tuhanku, si Lancang telah aku lahirkan dan aku besarkan dengan air susuku. Namun setelah menjadi orang kaya, dia tidak mau mengakui diriku sebagai emaknya. Ya Tuhanku, tunjukkan padanya kekuasaan-Mu!”.

Tiba-tiba saja kondisi cuaca berubah dan turun hujan yang sangat lebat. Kapal si Lancang hancur berkeping-keping. Kain sutra yang dibawa si Lancang sebagai barang dagangan terbang melayang-layang kemudian jatuh berlipat-lipat dan menjadi Negeri Lipat Kain yang terletak di Kampar Kiri. Sebuah gong terlempar jauh dan jatuh di dekat gubuk Emak si Lancang di Air Tiris Kampar kemudian menjadi Sungai Ogong di Kampar Kanan.

Sebuah tembikar pecah dan melayang menjadi Pasubilah yang terletak berdekatan dengan Danau si Lancang. Di danau itulah tiang bendera kapal si Lancang tegak tersisa. Bila sekali waktu tiang bendera itu muncul ke permukaan yang menjadi pertanda bagi masyarakat Kampar akan terjadi banjir di Sungai Kampar. Banjir itulah air mata si Lancang yang menyesali perbuatannya yang durhaka kepada Emaknya.

Si Kintan

4. Si Kintan

Dahulu, di sebuah kampung hiduplah satu keluarga miskin. Keluarga itu memiliki seorang anak bernama Sikintan. Pekerjaan Sikintan mencari kayu. Pada suatu malam, Sikintan bermimpi ia didatangi seorang tua. Orang tua itu menunjukkan, di hulu sungai ada sebuah rumpun bambu besar yang berisi tongkat intan.

Keesokan harinya Sikintan pergi ke hulu sungai. Tak berapa lama, ia melihat tongkat intan. Ketika tiba di rumah, ibu Sikintan heran melihat Kintan memiliki tongkat intan. Akhirnya Sikintan menjual tongkat itu ke negeri lain. Sikintan pergi dengan perahu. Suatu hari, ia pergi ke pasar menjual tongkat intan yang dibawanya.

Ia pun menjadi kaya dan memiliki istri yang cantik. Sikintan kembali ke kampung halamannya dan malu ketika bertemu dengan ibunya. Tak berapa lama kemudian, kapal Sikintan berangkat. Ibu Kintan berdoa kepada Tuhan, sambil berkata, “Ya Allah, aku tidak diakui sebagai orang tua oleh anakku. Berilah dia hukuman yang Engkau kehendaki.“ Usai oarang tua itu berdoa, datanglah angin kencang.

Turun badai topan menenggelamkan kapal Sikintan. Beberapa minggu setelah kejadian, kapal itu tampak menjadi pulau. Di pulau itu hiduplah seekor monyet putih. Orang berkata bahwa monyet itu adalah Sikintan yang durhaka kepada orang tuanya. Beberapa bulan kemudian, monyet itu tak tampak lagi, mungkin meninggal dunia dengan seribu penyesalan. Sampai saat ini, pulau itu dinamakan Pulau Sikintan.

Batu Bangkai

5. Legenda Gunung Batu Bangkai

Zaman dahulu di suatu tempat di Kalimantan Selatan, hiduplah seorang janda tua bersama seorang anak lakinya yang bernama Andung Kuswara yang bekerja mencari kayu dan pandai mengobati penyakit. Mereka hidup rukun dan saling menyayangi. Suatu hari, Andung mendengar jeritan seseorang minta tolong seorang kakek yang kakinya terjepit pohon. Andung segera menolong si kakek. Kakek itu berterima kasih dan memberikan sebuah kalung sebagai tanda terima kasih.

Sesampai di rumah Andung bercerita kepada ibunya. Karena ingin mengubah nasibnya Andung ingin merantau saja. Dengan berat hati ibunya mengizinkan Andung merantau. Tidak lupa ibunya memberikan kalung yang diberikan oleh bapak tua. Dalam perjalanannya Andung bertemu dengan seorang petani yang penuh dengan bisul.

Andung berusaha untuk mengobati petani tersebut. Ternyata Andung berhasil. Kabar tentang kemampuan Andung dalam mengobati menyebar ke seluruh negeri. Andung diberi kesempatan untuk mengobati sang putri kerajaan Basiang yang sakit. Hati Andung tergerak untuk menggunakan hadiah kalung yang pernah di berikan oleh bapak tua di hutan. Tak berapa lama, sang putri pun terbangun. Atas jasanya, Andung dinikahkan oleh sang putri. Andung hidup mewah di kerajaan Basiang.

Ketika sang putri hamil, ia ingin makan buah kasturi yang hanya tumbuh di Pulau Kalimantan. Karena cintanya Andung pun berburu buah kasturi hingga ke Pulau Kalimantan. Di kawasan Loksado, Andung berjumpa dengan ibu kandungnya. Betapa malu Andung melihat ibunya yang sudah tua dan miskin. Ia tidak mau mengakui ibunya.

Sedihlah hati ibu Andung, dan ketika sang ibu berdoa untuk kekuatan, tiba tiba petir dan halilintar sambar menyambar membelah bumi. Andung menyadari kesalahannya, namun semua sudah terlambat. Akhirnya Andung menjadi sebuah batu berbentuk bangkai manusia.

Karena kemiripan tersebut, penduduk sekitar gunung itu menamainya dengan sebutan Gunung Batu Bangkai. Gunung Batu Bangkai dapat di jumpai di Kecamatan Loksadu, hulu sungai selatan Kalimantan Selatan.

Referensi : 5 Kisah Legendaris Anak Durhaka pada Ibu



Fenomena Unik Penyebab Taubatnya Anak Di rea tahun 1990-an

Fenomena Unik Penyebab Taubatnya Anak Di rea tahun 1990-an. Zaman 90-an dan 2000-an awal tentunya teknologi yang berkembang saat itu belum secanggih sekarang. Jadi nggak heran jika ada cerita-cerita viral yang bikin heoboh tapi belum terbukti keasliannya. Salah satunya adalah serangkaian cerita anak durhaka yang dikutuk hingga azab kubur yang bikin merinding. Meski sebenarnya kejadian-kejadian semacam itu memang ada, tapi gambar-gambar yang beredar kala itu nggak bisa dibuktikan kebenarannya.  Karena wujudnya yang distrubing, maka nggak heran jika gambar-gambar ini sukses membuat anak 90-an bertaubat. Walaupun gambar dan cerita tersebut ada yang merupakan info-info sesat belaka, namun kalau dilihat masih bikin merinding. Ada yang masih ingat nggak nih?  1. Anak yang dikutuk menjadi tikus jadi-jadian karena telah durhaka yang banting Al-Qur’an Foto yang disebarkan sebagai bahan informasi nggak jelas ini sebenarnya adalah sebuah karya patung “Leather Landscape” oleh seniman seni rupa, Patricia Piccinini pada tahun 2003. Kabar burung ini berawal dari koran atau situs berbahasa Arab yang menyebarkan narasi bahwa tikus jadi-jadian tersebut adalah perempuan yang durhaka dan melempar Al-Qur’an.  Berita mengenai kutukan ini sangat melegenda hingga sampai ke Indonesia, fotonya pun tersebar banyak di internet. Sisi positifnya, anak-anak pada kala itu menjadi takut durhaka serta lebih menghargai kitab suci.  2. Seorang perempuan dikutuk menjadi ikan pari karena perbuatannya yang tidak baik, mentang-mentang wajahnya mirip Bagi yang sekolah pada tahun 2000-an pastinya nggak asing dengan azab ikan pari karena durhaka pada orang tua. Cerita itu disampaikan melalui salah satu akun YouTube dan menjadi viral dikalangan anak-anak pada kala itu.  Karena wujud ikan pari yang kebetulan memang mirip wajah manusia maka banyak orang yang percaya terhadap cerita tersebut. Namun setelah diteliti lebih lanjut hewan itu merupakan Shovelnose Guitarfish yakni salah satu jenis pari yang memiliki bagian bawah layaknya wajah manusia.   3. Kutukannya semakin kreatif, kini gantian anak yang berubah menjadi ular berkepala anjing dari Sumatera Utara Kejadian ini dikisahkan berlokasi di Kecamatan Torgamba di Sumatera Utara. Di sana warga heboh karena beredarnya video pendek ular berkepala anjing. Menurut cerita yang beredar, ular tersebut adalah gadis yang masih duduk di bangku SMP yang dikutuk karena menendang ibunya yang sedang salat. Kabarnya ia marah karena sang ibu menolak membelikannya motor Mio.  Banyak orang yang percaya terhadap video yang beredar pada tahun 2009 ini. Namun, Kapolsek Torgamba yang saat itu masih dijabat oleh AKP Tampubolon mengklarifikasi bahwa video serta kisah tersebut adalah nggak benar adanya.  4. Masih seputaran anak durhaka, seperti halnya anak yang dikutuk menjadi hewan berkepala manusia Karena gambarnya yang tidak jelas maka banyak muncul versi hewan mulai dari singa, buaya hingga rubah berkepala manusia. Menurut kominfo.go.id hal ini merupakan info sesat semata karena maluk yang ditampilkan memang manusia.  Video itu merupakan cuplikan dari video lawas dokumentasi salah satu atraksi reguler Mumtaz Begum di Kebun Binatang Karachi di Pakistan.  Wanita tersebut memang dimodifikasi sedemikan rupa untuk memerankan Mumtaz Begum yakni mahluk mitos rubah berkepala manusia di Pakistan. Atraksi ini sudah berjalan puluhan tahun dan kerap berganti-ganti pemeran.  5. Sering diputar di kelas oleh guru agama, sehabis lihat Azab Kubur ini langsung auto taubat Kalau ini sih penggambaran azab kubur yang sering diputar oleh guru agama di sekolah. Isinya mengenai siksa kubur yang pastinya sanggup buat kamu ketakutan dan langsung bertaubat. Nggak perlu anak kecil, kalau video yang satu ini sih pastinya masih sanggup bikin merinding semua orang.  Nah itu tadi beberapa kisah dan gambar menakutkan yang mewarnai masa kecil anak 90-an. Walaupun sebagian besar merupakan karangan belaka dengan tujuan tertentu, namun positifnya hal itu sanggup membuat kita bertaubat dan menjadi seseorang yang lebih baik. Unik juga kenangan generasi 90-an ini. . Ilustrasi Gambar : Kalau ini sih penggambaran azab kubur yang sering diputar oleh guru agama di sekolah. Isinya mengenai siksa kubur yang pastinya sanggup buat kamu ketakutan dan langsung bertaubat. Nggak perlu anak kecil, kalau video yang satu ini sih pastinya masih sanggup bikin merinding semua orang.  Nah itu tadi beberapa kisah dan gambar menakutkan yang mewarnai masa kecil anak 90-an. Walaupun sebagian besar merupakan karangan belaka dengan tujuan tertentu, namun positifnya hal itu sanggup membuat kita bertaubat dan menjadi seseorang yang lebih baik. Unik juga kenangan generasi 90-an ini.

Fenomena Unik Penyebab Taubatnya Anak Di rea tahun 1990-an. Zaman 90-an dan 2000-an awal tentunya teknologi yang berkembang saat itu belum secanggih sekarang. Jadi nggak heran jika ada cerita-cerita viral yang bikin heoboh tapi belum terbukti keasliannya. Salah satunya adalah serangkaian cerita anak durhaka yang dikutuk hingga azab kubur yang bikin merinding. Meski sebenarnya kejadian-kejadian semacam itu memang ada, tapi gambar-gambar yang beredar kala itu nggak bisa dibuktikan kebenarannya.

Karena wujudnya yang distrubing, maka nggak heran jika gambar-gambar ini sukses membuat anak 90-an bertaubat. Walaupun gambar dan cerita tersebut ada yang merupakan info-info sesat belaka, namun kalau dilihat masih bikin merinding. Ada yang masih ingat nggak nih?

1. Anak yang dikutuk menjadi tikus jadi-jadian karena telah durhaka yang banting Al-Qur’an

Foto yang disebarkan sebagai bahan informasi nggak jelas ini sebenarnya adalah sebuah karya patung “Leather Landscape” oleh seniman seni rupa, Patricia Piccinini pada tahun 2003. Kabar burung ini berawal dari koran atau situs berbahasa Arab yang menyebarkan narasi bahwa tikus jadi-jadian tersebut adalah perempuan yang durhaka dan melempar Al-Qur’an.

Berita mengenai kutukan ini sangat melegenda hingga sampai ke Indonesia, fotonya pun tersebar banyak di internet. Sisi positifnya, anak-anak pada kala itu menjadi takut durhaka serta lebih menghargai kitab suci.

2. Seorang perempuan dikutuk menjadi ikan pari karena perbuatannya yang tidak baik, mentang-mentang wajahnya mirip

Bagi yang sekolah pada tahun 2000-an pastinya nggak asing dengan azab ikan pari karena durhaka pada orang tua. Cerita itu disampaikan melalui salah satu akun YouTube dan menjadi viral dikalangan anak-anak pada kala itu.

Karena wujud ikan pari yang kebetulan memang mirip wajah manusia maka banyak orang yang percaya terhadap cerita tersebut. Namun setelah diteliti lebih lanjut hewan itu merupakan Shovelnose Guitarfish yakni salah satu jenis pari yang memiliki bagian bawah layaknya wajah manusia. 

3. Kutukannya semakin kreatif, kini gantian anak yang berubah menjadi ular berkepala anjing dari Sumatera Utara

Kejadian ini dikisahkan berlokasi di Kecamatan Torgamba di Sumatera Utara. Di sana warga heboh karena beredarnya video pendek ular berkepala anjing. Menurut cerita yang beredar, ular tersebut adalah gadis yang masih duduk di bangku SMP yang dikutuk karena menendang ibunya yang sedang salat. Kabarnya ia marah karena sang ibu menolak membelikannya motor Mio.

Banyak orang yang percaya terhadap video yang beredar pada tahun 2009 ini. Namun, Kapolsek Torgamba yang saat itu masih dijabat oleh AKP Tampubolon mengklarifikasi bahwa video serta kisah tersebut adalah nggak benar adanya.

4. Masih seputaran anak durhaka, seperti halnya anak yang dikutuk menjadi hewan berkepala manusia

Karena gambarnya yang tidak jelas maka banyak muncul versi hewan mulai dari singa, buaya hingga rubah berkepala manusia. Menurut kominfo.go.id hal ini merupakan info sesat semata karena maluk yang ditampilkan memang manusia.  Video itu merupakan cuplikan dari video lawas dokumentasi salah satu atraksi reguler Mumtaz Begum di Kebun Binatang Karachi di Pakistan.

Wanita tersebut memang dimodifikasi sedemikan rupa untuk memerankan Mumtaz Begum yakni mahluk mitos rubah berkepala manusia di Pakistan. Atraksi ini sudah berjalan puluhan tahun dan kerap berganti-ganti pemeran.

5. Sering diputar di kelas oleh guru agama, sehabis lihat Azab Kubur ini langsung auto taubat

Kalau ini sih penggambaran azab kubur yang sering diputar oleh guru agama di sekolah. Isinya mengenai siksa kubur yang pastinya sanggup buat kamu ketakutan dan langsung bertaubat. Nggak perlu anak kecil, kalau video yang satu ini sih pastinya masih sanggup bikin merinding semua orang.

Nah itu tadi beberapa kisah dan gambar menakutkan yang mewarnai masa kecil anak 90-an. Walaupun sebagian besar merupakan karangan belaka dengan tujuan tertentu, namun positifnya hal itu sanggup membuat kita bertaubat dan menjadi seseorang yang lebih baik. Unik juga kenangan generasi 90-an ini. 

Ini Cara Tobat Anak Durhaka Setelah Orang Tua

Ini Cara Tobat Anak Durhaka Setelah Orang TuaKisah anak durhaka identik dengan cerita Malin Kundang. Terlepas dari benar atau tidak kisah itu, pastinya cerita Malin Kundang sangat mempengaruhi pikiran anak supaya tidak melawan orang tuanya. Kalau ada anak nakal, biasanya dikatakan, “Kamu mau kayak Malin Kundang?” Sontak si anak diam dan takut. Namun pada zaman modern ini, kisah Malin Kundang tampaknya tidak sakti lagi. Malah yang terjadi, munculnya Malin Kundang baru yang diperankan oleh aktor yang berbeda-beda. Bahkan kelakuan sebagian anak sekarang, lebih parah dari Malin Kundang. Bila Malin Kundang hanya tidak mengakui orang tuanya di depan kekasihnya, anak sekarang tega membunuh orang tuanya sendiri. Ini tidak terjadi satu-dua kali, tetapi berulang kali.  Durhaka kepada orang tua termasuk kategori dosa besar. Durhaka dosa besar kedua setelah syirik. Saking murka-Nya, Allah SWT tidak hanya menyiksa anak durhaka di akhirat, tetapi juga di dunia. Dalam Al-Mustadrak karya Al-Hakim, Abu Bakrah mendengar Rasulullah SAW berkata:   كل الذنوب يؤخر الله ما شاء منها إلى يوم القيامة إلا عقوق الوالدين فإن الله تعالى يعجل لصاحبه في الحياة قبل الممات  Artinya, “Allah SWT akan mengakhirkan balasan setiap dosa hingga hari kiamat kelak, kecuali dosa durhaka kepada orang tua. Dia mempercepat balasannya pada waktu masih hidup atau sebelum meninggal,” (HR Al-Baihaqi).  Makna durhaka di sini lebih umum. Apapun bentuk perbuatan yang menyakiti orang tua dapat dikategorikan sifat durhaka. Taqiyuddin As-Subki, seperti dikutip Badruddin Al-‘Ayni dalam ‘Umdatul Qari, mengatakan, “Yang dimaksud durhaka ialah segala tindakan yang menyakiti hati orang tua, baik sedikit maupun banyak”. Karenanya, jagalah hati orang tua dan ikuti nasihatnya. Jangan sampai tindakan yang kita lakukan membuat dia marah dan tersakiti. Andaikan pernah membuat hati orang tua tersakiti, segeralah minta maaf dan memohon ampun kepada Allah SWT. Akan tetapi persoalannya, bagaimana bila kedua orang tua sudah meninggal. Semisal anak yang membunuh orang tuanya, apakah diterima tobatnya? Apalagi orang tuanya meninggal dalam keadaan marah atau tidak ridha dengan yang dilakukan anaknya.  Al-Nawawi dalam kumpulan fatwanya, Fatawa al-Nawawi, berpendapat:   أما مطالبتهما له في الآخرة فلا طريق إلى إبطالها، ولكن ينبغي له بعد الندم على ذلك، أن يكثر من استغفار لهما والدعاء، وأن يتصدق عنهما إن أمكن، وأن يكرم من كانا يحبان إكرامه: من صديق لهما ونحوه، وأن يصل رحمهما، وأن يقضي دينهما، أو ما تيسر له من   ذلك Artinya, “Tuntutan kedua orang tua kepada anak durhaka di akhirat, tidak ada jalan untuk membatalkannya. Tapi sebaiknya, anak durhaka yang sudah tobat dan menyesal, memperbanyak istighfar (minta ampun) dan berdo’a untuk kedua orang tuanya. Kalau mampu, perbanyak sedekah atas nama orang tua, mengormati orang yang dihormati oleh kedua orang tua semasa beliau masih hidup, seperti temannya. Menyambung tali silaturahmi (dengan saudara atau teman orang tua), membayar hutangnya, atau melakukan apapun yang mudah baginya.”  Kesempatan bertobat dibuka lebar bagi siapapun, termasuk anak durhaka. Rasul SAW mengatakan, “Orang yang benar-benar bertobat seperti orang yang tidak berdosa,” (HR Ibnu Majah). Selain meminta ampun atas kedurhakaannya kepada Allah SWT, ia juga dianjurkan untuk berbuat baik kepada orang tuanya meskipun sudah meninggal. Cara berbuat baik kepada orang meninggal ialah dengan cara melakukan amalan, semisal bayar hutang, sedekah, silaturahmi, dan lain-lain, sembari menghadiahkan pahalanya untuk mereka. Seseorang dari Bani Salamah pernah menanyakan hal ini kepada Nabi Muhammad SAW. Ia bertanya, “Apakah mungkin saya melakukan kebaikan untuk kedua orang tua, sementara mereka sudah meninggal?” Rasulullah SAW menyarankan kepadanya agar memperbanyak istighfar dan do’a untuk mereka, menunaikan janji dan menyambung tali silaturahmi yang belum terpenuhi pada waktu mereka masih hidup, serta menghormati teman-teman mereka, (HR Abu Dawud).  Maka dari itu, selagi orang tua masih hidup, perbanyaklah berbuat baik kepada mereka. Apabila keduanya sudah meninggal, seorang anak masih dimungkinkan berbuat baik kepada mereka sebagaimana yang dikatakan Rasulullah SAW. Terlebih lagi bagi orang yang pernah menyakiti hati kedua orang tuanya semasa keduanya hidup.  Referensi : Ini Cara Tobat Anak Durhaka Setelah Orang Tua

Ini Cara Tobat Anak Durhaka Setelah Orang TuaKisah anak durhaka identik dengan cerita Malin Kundang. Terlepas dari benar atau tidak kisah itu, pastinya cerita Malin Kundang sangat mempengaruhi pikiran anak supaya tidak melawan orang tuanya. Kalau ada anak nakal, biasanya dikatakan, “Kamu mau kayak Malin Kundang?” Sontak si anak diam dan takut. Namun pada zaman modern ini, kisah Malin Kundang tampaknya tidak sakti lagi. Malah yang terjadi, munculnya Malin Kundang baru yang diperankan oleh aktor yang berbeda-beda. Bahkan kelakuan sebagian anak sekarang, lebih parah dari Malin Kundang. Bila Malin Kundang hanya tidak mengakui orang tuanya di depan kekasihnya, anak sekarang tega membunuh orang tuanya sendiri. Ini tidak terjadi satu-dua kali, tetapi berulang kali.

Durhaka kepada orang tua termasuk kategori dosa besar. Durhaka dosa besar kedua setelah syirik. Saking murka-Nya, Allah SWT tidak hanya menyiksa anak durhaka di akhirat, tetapi juga di dunia. Dalam Al-Mustadrak karya Al-Hakim, Abu Bakrah mendengar Rasulullah SAW berkata: 

كل الذنوب يؤخر الله ما شاء منها إلى يوم القيامة إلا عقوق الوالدين فإن الله تعالى يعجل لصاحبه في الحياة قبل الممات

Artinya, “Allah SWT akan mengakhirkan balasan setiap dosa hingga hari kiamat kelak, kecuali dosa durhaka kepada orang tua. Dia mempercepat balasannya pada waktu masih hidup atau sebelum meninggal,” (HR Al-Baihaqi).

Makna durhaka di sini lebih umum. Apapun bentuk perbuatan yang menyakiti orang tua dapat dikategorikan sifat durhaka. Taqiyuddin As-Subki, seperti dikutip Badruddin Al-‘Ayni dalam ‘Umdatul Qari, mengatakan, “Yang dimaksud durhaka ialah segala tindakan yang menyakiti hati orang tua, baik sedikit maupun banyak”. Karenanya, jagalah hati orang tua dan ikuti nasihatnya. Jangan sampai tindakan yang kita lakukan membuat dia marah dan tersakiti. Andaikan pernah membuat hati orang tua tersakiti, segeralah minta maaf dan memohon ampun kepada Allah SWT. Akan tetapi persoalannya, bagaimana bila kedua orang tua sudah meninggal. Semisal anak yang membunuh orang tuanya, apakah diterima tobatnya? Apalagi orang tuanya meninggal dalam keadaan marah atau tidak ridha dengan yang dilakukan anaknya.

Al-Nawawi dalam kumpulan fatwanya, Fatawa al-Nawawi, berpendapat:

 أما مطالبتهما له في الآخرة فلا طريق إلى إبطالها، ولكن ينبغي له بعد الندم على ذلك، أن يكثر من استغفار لهما والدعاء، وأن يتصدق عنهما إن أمكن، وأن يكرم من كانا يحبان إكرامه: من صديق لهما ونحوه، وأن يصل رحمهما، وأن يقضي دينهما، أو ما تيسر له من

 ذلك Artinya, “Tuntutan kedua orang tua kepada anak durhaka di akhirat, tidak ada jalan untuk membatalkannya. Tapi sebaiknya, anak durhaka yang sudah tobat dan menyesal, memperbanyak istighfar (minta ampun) dan berdo’a untuk kedua orang tuanya. Kalau mampu, perbanyak sedekah atas nama orang tua, mengormati orang yang dihormati oleh kedua orang tua semasa beliau masih hidup, seperti temannya. Menyambung tali silaturahmi (dengan saudara atau teman orang tua), membayar hutangnya, atau melakukan apapun yang mudah baginya.”

Kesempatan bertobat dibuka lebar bagi siapapun, termasuk anak durhaka. Rasul SAW mengatakan, “Orang yang benar-benar bertobat seperti orang yang tidak berdosa,” (HR Ibnu Majah). Selain meminta ampun atas kedurhakaannya kepada Allah SWT, ia juga dianjurkan untuk berbuat baik kepada orang tuanya meskipun sudah meninggal. Cara berbuat baik kepada orang meninggal ialah dengan cara melakukan amalan, semisal bayar hutang, sedekah, silaturahmi, dan lain-lain, sembari menghadiahkan pahalanya untuk mereka. Seseorang dari Bani Salamah pernah menanyakan hal ini kepada Nabi Muhammad SAW. Ia bertanya, “Apakah mungkin saya melakukan kebaikan untuk kedua orang tua, sementara mereka sudah meninggal?” Rasulullah SAW menyarankan kepadanya agar memperbanyak istighfar dan do’a untuk mereka, menunaikan janji dan menyambung tali silaturahmi yang belum terpenuhi pada waktu mereka masih hidup, serta menghormati teman-teman mereka, (HR Abu Dawud).

Maka dari itu, selagi orang tua masih hidup, perbanyaklah berbuat baik kepada mereka. Apabila keduanya sudah meninggal, seorang anak masih dimungkinkan berbuat baik kepada mereka sebagaimana yang dikatakan Rasulullah SAW. Terlebih lagi bagi orang yang pernah menyakiti hati kedua orang tuanya semasa keduanya hidup.

Referensi : Ini Cara Tobat Anak Durhaka Setelah Orang Tua



Cerita Taubat dan Suksesnya Seorang anak yang Pernah durhaka kepada orang tuanya

Cerita Taubat dan Suksesnya Seorang anak yang Pernah durhaka kepada orang tuanya. Pernah kita dengar betapa sulitnya sakaratul maut seseorang yang durhaka, entah durhaka kepada Allah maupun kepada orang tua. Nah, oleh sebab itu kita sebagai hamba Allah harus selalu taat kepada kepadanya dan juga kepada orang tua kita.  Diceritakan dalam suatu kisah, ada seorang pemuda yang bernama Ilaham, dia adalah seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya. Pemuda ini kerjanya hanya bermaksiat. Dalam kehidupannya dia hanya tinggal berdua saja dengan Ayahnya yang sudah tua renta, ibunya sudah meninggal lebih dulu ketika melahirkan dia. Ayahnya bekerja sebagai tukang kebun disuatu desa. Setiap hari, pagi sampai sore dia bekerja demi menghidupi keluarganya. Tetapi sayang sekali nasibnya yang kurang beruntung, dia harus mendapatkan karunia seorang anak yang durhaka.  Suatu hari ketika Ilham sedang berjudi diwarung pinggir jalan, ayahnya baru saja pulang dari pekerjaannya, ayahnya melihat Ilham sedang bermain judi ditempat tersebut. Seketika ayahnya mendatangi dia, “nak apa yang kamu lakukan disini?”(tanya ayahnya). “bro itu itu bapa lu?”(tanya teman Ilham). “bukan, itu cuma orang tua yang sok kenal sama gua”(jawab Abra). “astagfirullah, nak ini ayahmu”(kata ayahnya). “apa sih lo, pergi sana, orang tua gua itu udah meninggal semuanya”(bentak Ilham). Akhirnya ayah Abra pun pulang ke rumah dengan perasaan sedih. Sesampainya di rumah, ayah Abra langsung melaksanakan sholat ashar. Setelah selesai sholat, ia mendo’akan anaknya yang begitu durhaka kepadanya, “ya Allah, berikanlah hidayah kepada anak saya, yang telah menyakiti hati saya, berikanlah pintu taubat kepadanya”(permohonan ayahnya).   Setelah selesai berdoa, tak lama kemudian Ilham datang. “woy pak tua, gua lapar, mana makanan buat gua?”(teriak Ilham). “ada apa nak, teriak-teriak?”(tanya ayahnya). “gua lapar, mana makanannya?”(bentak Ilham). “kalo kamu mau makan, kamu harus kerja dulu”(perintah ayahnya). “apa?, gua harus kerja dulu, gak salah denger gua?”(tanya Ilham). “tidak, kamu tidak salah dengar, kalau kamu tidak mau mengikuti apa yang bapak perintahkan, lebih baik kamu pergi dari rumah ini!”(bentak ayah). “oh, jadi lu mau ngusir gua? Oke, gua bakal pergi dari rumah ini, percuma gua ada disini juga, bye”(jawab Ilham dengan kesal). Setelah diusir, Ilham tidak mempunyai tempat tinggal, dia lebih sering tidur di emperan ruko. Suatu malam, tanpa disadari, ia didatangi seorang kakek-kakek yang mengenakan pakaian serba putih dan membawa tongkat. Kakek-kakek itu berbicara kepada Ilham, “nak, hidupmu ini tidak akan berguna, apabila kamu tidak segera bertaubat”(ucap si kakek). “maksudnya apa?”(tanya Ilham). “kamu harus segera bertaubat, carilah tempat yang bisa membuat kamu menjadi orang yang lebih baik lagi”(jawab kakek tersebut). “tapi dimana saya harus mencari tempat itu?”(tanya Ilham). Tak disangka kakek tersebut langsung menghilang. Ilham pun bingung dengan perkataan kata itu, “apakah aku harus mengikuti ucapan kakek yang tadi?, tapi dimana aku harus mencari tempat tersebut?”(dengan bingung).   Kemudian keesokkan harinya Ilham menanyakan ke setiap orang-orang. “permisi pak, saya mau bertanya, dimana ya tempat saya untuk menimba ilmu agama?”(tanya Ilham). “oh, kalau anda minat, ke pondo pesantren Al-Mubarokah saja”(jawab seorang warga). “kira-kira dimana ya tempatnya?”(tanya Ilham). “tidak jauh dari sini, anda cukup lurus, kemudian belok kanan”(jawab warga tersebut). “terima kasih pak”(ucap Ilham). “iya, sama-sama”(jawab warga tersebut).   Kemudian Ilham mencari alamat tersebut. Setelah sampai di Ponpes Al-Mubarokah, Ilham menemui pengurus ponpes tersebut, “permisi, boleh saya bertemu dengan pengurus ponpes ini”(tanya Ilham). “mari ikut saya”(ajak seorang santri). Kemudian Ilham bertemu kyai pengurus ponpes tersebut. “permisi, bapak pengurus ponpes ini?”(tanya Ilham). “ya, saya sendiri, ada perlu apa ya?”(jawab kyai). “saya ingin mondok disini, tetapi saya tidak mempunyai uang”(ucap Ilham). “kamu ingin mondok disini?, jika kamu serius untuk mencari ilmu disini, kamu tidak perlu membayar”(kata kyai). “benarkah kyai?, saya boleh mondok disini dengan gratis?”(tanya Ilham dengan perasaan gembira). “iya”(jawab kyai). Kemudian keesokkan harinya, Ilham mulai belajar ilmu agama dengan tekun dan sungguh-sungguh. Setelah 7 tahun Ilham mondok, mulailah kesibukkan menghampirinya. Panggilan untuk mengisi pengajian.  Suatu ketika, pada bulan Rabiul Awwal, diperingati sebagai Maulid Nabi (hari kelahiran nabi muhammad saw). Ilham dipanggil untuk mengisi acara di sebuah masjid, masjid itu bernama masjid At-Taqwa, didaerah tempat Ilham tinggal dulu. Ketika selesai menyampaikan ceramah, keesokkan harinya Ilham berniat untuk mengunjungi ayahnya.  Sayang sekali setelah 7 tahun ia pergi dari rumah, ayah sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Kemudian Ilham bertanya kepada tetangganya dimana makam ayahnya. Setelah sampai di makam. Ia langsung meneteskan air mata, “pak, maafkan Ilham, ketika bapak masih hidup Ilham selalu berbuat durhaka kepada bapak, Ilham menyesal”(sambil menangis). Dengan kepergian ayahnya, Ilham baru merasakan penyesalan yang begitu mendalam. Ketika ayahnya masih hidup, ia sering berbuat dosa kepada ayahnya.. Cerita Taubat dan Suksesnya Seorang anak yang Pernah durhaka kepada orang tuanya

Cerita Taubat dan Suksesnya Seorang anak yang Pernah durhaka kepada orang tuanya. Pernah kita dengar betapa sulitnya sakaratul maut seseorang yang durhaka, entah durhaka kepada Allah maupun kepada orang tua. Nah, oleh sebab itu kita sebagai hamba Allah harus selalu taat kepada kepadanya dan juga kepada orang tua kita.

Diceritakan dalam suatu kisah, ada seorang pemuda yang bernama Ilaham, dia adalah seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya. Pemuda ini kerjanya hanya bermaksiat. Dalam kehidupannya dia hanya tinggal berdua saja dengan Ayahnya yang sudah tua renta, ibunya sudah meninggal lebih dulu ketika melahirkan dia. Ayahnya bekerja sebagai tukang kebun disuatu desa. Setiap hari, pagi sampai sore dia bekerja demi menghidupi keluarganya. Tetapi sayang sekali nasibnya yang kurang beruntung, dia harus mendapatkan karunia seorang anak yang durhaka.

Suatu hari ketika Ilham sedang berjudi diwarung pinggir jalan, ayahnya baru saja pulang dari pekerjaannya, ayahnya melihat Ilham sedang bermain judi ditempat tersebut. Seketika ayahnya mendatangi dia, “nak apa yang kamu lakukan disini?”(tanya ayahnya). “bro itu itu bapa lu?”(tanya teman Ilham). “bukan, itu cuma orang tua yang sok kenal sama gua”(jawab Abra). “astagfirullah, nak ini ayahmu”(kata ayahnya). “apa sih lo, pergi sana, orang tua gua itu udah meninggal semuanya”(bentak Ilham). Akhirnya ayah Abra pun pulang ke rumah dengan perasaan sedih. Sesampainya di rumah, ayah Abra langsung melaksanakan sholat ashar. Setelah selesai sholat, ia mendo’akan anaknya yang begitu durhaka kepadanya, “ya Allah, berikanlah hidayah kepada anak saya, yang telah menyakiti hati saya, berikanlah pintu taubat kepadanya”(permohonan ayahnya). 

Setelah selesai berdoa, tak lama kemudian Ilham datang. “woy pak tua, gua lapar, mana makanan buat gua?”(teriak Ilham). “ada apa nak, teriak-teriak?”(tanya ayahnya). “gua lapar, mana makanannya?”(bentak Ilham). “kalo kamu mau makan, kamu harus kerja dulu”(perintah ayahnya). “apa?, gua harus kerja dulu, gak salah denger gua?”(tanya Ilham). “tidak, kamu tidak salah dengar, kalau kamu tidak mau mengikuti apa yang bapak perintahkan, lebih baik kamu pergi dari rumah ini!”(bentak ayah). “oh, jadi lu mau ngusir gua? Oke, gua bakal pergi dari rumah ini, percuma gua ada disini juga, bye”(jawab Ilham dengan kesal). Setelah diusir, Ilham tidak mempunyai tempat tinggal, dia lebih sering tidur di emperan ruko. Suatu malam, tanpa disadari, ia didatangi seorang kakek-kakek yang mengenakan pakaian serba putih dan membawa tongkat. Kakek-kakek itu berbicara kepada Ilham, “nak, hidupmu ini tidak akan berguna, apabila kamu tidak segera bertaubat”(ucap si kakek). “maksudnya apa?”(tanya Ilham). “kamu harus segera bertaubat, carilah tempat yang bisa membuat kamu menjadi orang yang lebih baik lagi”(jawab kakek tersebut). “tapi dimana saya harus mencari tempat itu?”(tanya Ilham). Tak disangka kakek tersebut langsung menghilang. Ilham pun bingung dengan perkataan kata itu, “apakah aku harus mengikuti ucapan kakek yang tadi?, tapi dimana aku harus mencari tempat tersebut?”(dengan bingung). 

Kemudian keesokkan harinya Ilham menanyakan ke setiap orang-orang. “permisi pak, saya mau bertanya, dimana ya tempat saya untuk menimba ilmu agama?”(tanya Ilham). “oh, kalau anda minat, ke pondo pesantren Al-Mubarokah saja”(jawab seorang warga). “kira-kira dimana ya tempatnya?”(tanya Ilham). “tidak jauh dari sini, anda cukup lurus, kemudian belok kanan”(jawab warga tersebut). “terima kasih pak”(ucap Ilham). “iya, sama-sama”(jawab warga tersebut). 

Kemudian Ilham mencari alamat tersebut. Setelah sampai di Ponpes Al-Mubarokah, Ilham menemui pengurus ponpes tersebut, “permisi, boleh saya bertemu dengan pengurus ponpes ini”(tanya Ilham). “mari ikut saya”(ajak seorang santri). Kemudian Ilham bertemu kyai pengurus ponpes tersebut. “permisi, bapak pengurus ponpes ini?”(tanya Ilham). “ya, saya sendiri, ada perlu apa ya?”(jawab kyai). “saya ingin mondok disini, tetapi saya tidak mempunyai uang”(ucap Ilham). “kamu ingin mondok disini?, jika kamu serius untuk mencari ilmu disini, kamu tidak perlu membayar”(kata kyai). “benarkah kyai?, saya boleh mondok disini dengan gratis?”(tanya Ilham dengan perasaan gembira). “iya”(jawab kyai). Kemudian keesokkan harinya, Ilham mulai belajar ilmu agama dengan tekun dan sungguh-sungguh. Setelah 7 tahun Ilham mondok, mulailah kesibukkan menghampirinya. Panggilan untuk mengisi pengajian.

Suatu ketika, pada bulan Rabiul Awwal, diperingati sebagai Maulid Nabi (hari kelahiran nabi muhammad saw). Ilham dipanggil untuk mengisi acara di sebuah masjid, masjid itu bernama masjid At-Taqwa, didaerah tempat Ilham tinggal dulu. Ketika selesai menyampaikan ceramah, keesokkan harinya Ilham berniat untuk mengunjungi ayahnya.

 Sayang sekali setelah 7 tahun ia pergi dari rumah, ayah sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Kemudian Ilham bertanya kepada tetangganya dimana makam ayahnya. Setelah sampai di makam. Ia langsung meneteskan air mata, “pak, maafkan Ilham, ketika bapak masih hidup Ilham selalu berbuat durhaka kepada bapak, Ilham menyesal”(sambil menangis). Dengan kepergian ayahnya, Ilham baru merasakan penyesalan yang begitu mendalam. Ketika ayahnya masih hidup, ia sering berbuat dosa kepada ayahnya.

Referensi : Cerita Taubat dan Suksesnya Seorang anak yang Pernah durhaka kepada orang tuanya


Kisah Mengerikan Anak Durhaka yang Rajin Ibadah

Kisah Mengerikan Anak Durhaka yang Rajin Ibadah

Terdapat sebuah kisah menyedihkan tentang uququl walidain. Kisah seorang pria yang menjadi cacat hanya karena pergi tanpa mendapat izin dari ibunda. Kisah ini diambil dari buku “Dahsyatnya Ridha Orang Tua” karya Syamsul Rijal Hamid. Berikut kisah nahas si anak durhaka. Di suatu masa, hidup seorang pria yang dikenal saleh lagi rajin beribadah. Ia memiliki keinginan pergi ke Makkah untuk melakukan thawaf di sana. Namun berkali-kali ia meminta izin kepada ibunda, berkali-kali pula izinnya ditolak. Sang ibu melarang anaknya pergi jauh dari sisinya.

Si pria alim itu pun kesal karena keinginannya tak kunjung terpenuhi. Hingga di suatu malam, ketika ibunya tidur, ia memutuskan untuk pergi. Ia pergi diam-diam tanpa pamit kepada sang ibu.

Saat pagi tiba, si ibu tak mendapati anaknya di rumah. Ia mencarinya ke mana-mana, namun anaknya tak ditemukan. Ia tahu, anaknya telah pergi tanpa izinnya. Kekhawatirannya pun berubah menjadi sakit hati. Menengadahkan tangan, si ibu berdoa,

“Ya Allah, anakku telah pergi tanpa izinku. Sakit rasanya hati ini. Karena itu, timpakanlah musibah kepadanya.”

Allahu akbar! Doa ibu selalu terijabah, meski di dalamnya terkandung perkara buruk sekalipun. Musibah jelek benar-benar menimpa si pria alim dengan segera.

Di perjalanan, si pria alim singgah di suatu masjid untuk beribadah. Tiba-tiba seorang pencuri masuk ke dalam rumah dekat masjid tersebut. Warga berteriak maling hingga masyarakat berkumpul mengejar maling tersebut.

Tak disangka-sangka, maling itu berhasil kabur dan meninggalkan jejak di sekitar masjid. Warga pun serta merta menuduh si pria alim yang telah melakukan pencurian. Pria itu pun diseret keluar masjid dengan paksa. Masyarakat tersulut emosi hingga main hakim sendiri.

Mereka lalu memotong kedua tangan si pria alim karena menganggapnya pencuri. Tak hanya itu, seorang warga lain pun mencongkel kedua mata si pria alim. Peristiwa mengerikan itu terjadi dengan cepat. Pengeroyokan dilakukan secara massal dengan kejam.

Kondisi si pria alim begitu mengenaskan. Ia menjadi cacat tanpa tangan lagi buta. Darah mengalir di mana-mana. Si pria alim hanya merintih kesakitan. Ia menyesali kepergiannya yang tak mendapat ridha ibunda.

Beberapa saat kemudian, para warga mendapati bahwa si pria alim bukanlah pencuri. Namun eksekusi telah terjadi. Mereka pun kemudian menyesalinya lalu merawat dan mengembalikan si pria alim ke rumahnya.

Di antar lah si pria alim pulang, sampai di depan rumahnya. Namun pria itu tak mampu melihat dan tak punya tangan. Ia ragu bahwa rumah yang diinjaknya adalah rumah ibunya yang ia tinggal pergi begitu saja. Si pria alim pun tak segera masuk ataupun memanggil ibunya. Ia memilih berpura-pura sebagai fakir.

Ia mengucapkan salam seraya berkata, “Wahai ibu yang menghuni rumah ini. Saya adalah musafir yang kelaparan. Berilah saya makanan sekedarnya.”

Suara wanita tua pun terdengar dari dalam, “Ulurkan tangan ke dalam pintu. aku akan memberikan makanan.”

“Saya tidak punya tangan,” ujar pria cacat itu.

“Lalu bagaimana cara saya memberikan makanan kepadamu?” tanya si wanita yang bukan lain adalah ibu si pria alim.

“Jika saya keluar rumah, maka haram hukumnya kita saling memandang yang bukan mahram,” tambahnya. “Tak perlu risau bu, saya tak punya mata untuk melihat.”

Jawaban itu pun membuat ibunda keluar. Si pria alim pun segera berlabuh ke hadapan ibunya.

“Ibu... saya adalah anak ibu yang pergi tanpa pamit. Saya adalah anak durhaka.”

Betapa terkejutnya sang ibu. Ia pun mengamati pria di hadapannya yang tak punya tangan dan mata. Ia pun makin terkejut ketika berhasil mengenalinya.

Air mata bercucuran dari pelupuk mata ibunda. Ia begitu berduka melihat kondisi putranya. Meski anaknya telah membuatnya kesal, si ibu tetap mencintai dan menyayangi putranya.

Begitu berdukanya si ibu hingga lisannya terlepas bicara memanjatkan doa, “Ya Allah, jika begini kondisinya, lebih baik cabutlah nyawa kami berdua agar tak ada orang yang melihat aib di wajah kami.”

Begitu mengerikan balasan dari uququl walidain atau durhaka kepada kedua orang tua. Kisah di atas mengajarkan bahwasanya ridha Allah ada pada ridha orang tua.

Si pria alim tak mendapat ridha ibunya hingga Allah pun tak meridhainya. Padahal alasannya durhaka sangatlah sederhana dan nampak baik, yakni ia ingin pergi ke kota Makkah untuk ibadah. Si pria alim merasa keinginannya benar hingga mengabaikan larangan ibunda. Namun jika orang tua tidak meridhainya, maka hal ibadah dapat menjadi dosa dan musibah.



Kisah Nyata Fina Maryana, Si Anak Durhaka

Ilustrasi Gambar : Kisah Nyata Fina Maryana, Si Anak Durhaka

Sebagai seorang anak, ketika orangtua sakit maka menjaga dan merawat adalah tugas yang harus dilakukan. Namun peran ini ternyata tidak dijalankan Fina Maryana. Dibandingkan berada di rumah menemani ayah yang sakit parah, ia justru lebih memilih bersenang-senang dengan teman-temannya.

Narkoba dan minuman keras pun menjadi santapan dirinya jika sedang berada di klub malam. Kebebasan pribadi adalah yang dicari Fina.

“Waktu saya pake narkoba, parah… Karena tidak satu jenis narkoba yang saya pake. Saya pake ekstasi, pake shabu-shabu, belum lagi minum minuman beralkohol. Jadi bisa melupakan masalah yang ada di rumah, masalah pribadi. Pokoknya yang saya rasakan waktu itu happy” ujarnya.

Bila sudah bersama-sama teman-teman maka tidak ada satu pun yang boleh mengganggu Fina. Deringan telepon dari sang adik bahkan diabaikannya.  

“Adik saya sempat nelpon ‘kamu dimana kak, bisa balik ke Jakarta gak?’”

“Gak bisa, gak bisa balik lagi, saya lagi ada acara sama teman-teman”. “Apa yang saya lakukan ini kepada ayah sebenarnya adalah karena kebencian saya kepada beliau yang sewaktu kecil mendidik saya dengan kejam.”

Sejak kanak-kanak, Fina tidak diperbolehkan berteman sama siapa pun. Kegiatan les sekolah pun tidak dibolehkan karena menurut sang ayah dirinya bakal bermain-main.

Tindakan ayah tersebut membuat Fina sakit hati dan itu terus diingatnya sampai ia beranjak dewasa.

Walau ayah sudah jatuh sakit keras, tetapi ia tidak menemukan kebahagiaan di rumah. Hanya narkoba yang benar-benar bisa membuatnya ceria. “Saya bisa mengkhayal yang indah-indah. Walaupun dia terus-terus nelepon, kasih tahu, terserah bapak mati-mati disitu, biarin aja. Saya lagi pergi sama teman saya. Jadi, saya gak bisa lepas momen-momen bahagia saya sama teman-teman hanya untuk masalah-masalah seperti itu.”

Keesokan pagi seusai dugem, Fina pergi ke rumah sakit dimana ayahnya dirawat. Dengan pakaian tadi malam, ia berangkat menuju lokasi.

Sampai di rumah sakit, Fina terkejut karena ternyata sang ayah telah meninggal dunia. “Lihat sosok papa itu waktu terakhir saya lihat, sosoknya boleh dibilang sosok ayah yang beda gitu. yang gak bisa marah, gak bisa apa-apa. Disitulah saya benar-benar terpukul. Jadi penyesalan buat saya itu luar biasa banget.”

“Saya merasa diri saya berlumur dosa. Dosa yang benar-benar besar sekali buat saya, mungkin gak bisa diampunin lah karena saya menjadi anak yang durhaka.”

Di dalam kesedihan sangat karena baru saja kehilangan ayah, sebuah komitmen untuk berubah dibuat oleh Fina. “Saya mau berubah. Saya mau hidup saya jadi lebih baik dan lebih layak.”

Masuk Penjara

Pasca ditinggal ayah dan memutuskan untuk mengubah diri menjadi lebih baik, mantan pacar menelepon Fina. Dengan penuh persahabatan, mantan pacar menelepon meminta untuk bertemu kembali dengannya.

Ajakan tersebut diterima oleh wanita cantik ini karena ia diimingi-imingi akan dikenalkan oleh sejumlah orang yang bisa memberinya pekerjaan lebih baik. “Tapi di tengah perjalanan itu, mantan saya ngajak saya untuk membeli narkoba.”

Tidak memiliki firasat buruk apa-apa, Fina mengikuti saja kemana mantan pacar membawanya. Seusai transaksi beli narkoba selesai, mereka pun melanjutkan perjalanan ke lokasi dimana teman-teman mantan pacar berkumpul.  

“Saya disuruh turun di Lobby, ternyata ada orang, laki-laki berpakaian preman….Saya gak tahu kalau di dalam rokok yang dia suruh pegang itu adalah narkoba. Pada saat itu saya dijebak. Mantan pacar saya itu dendam sama saya karena dia tidak terima saya putusin.”

“Saya nangis, merasa dendam sama Tuhan Yesus. Saya benci sama Tuhan. Saya merasa Tuhan gak adil sama saya. ‘Kenapa sih Tuhan mempersulit jalan-jalan saya untuk menjadi lebih baik saat itu’”.

Di sel penjara, Fina menyaksikan banyak tahanan yang dijenguk oleh ibu dan anak-anaknya ataupun sanak keluarga mereka. Sementara hingga berminggu-minggu, baik ibu maupun adik tak kunjung juga menengoknya. “Sakit ya, udah terkurung, terus gak dipedulikan lagi ya. Rasanya kok begini banget. Perasaan saya waktu itu boleh dibilang kosong, saya gak punya siapa-siapa, ya sudahlah saya terima seperti ini.”

Kesepian merasuk ke dalam diri Fina yang sedang dipenjara. Jika dulu, ia selalu meninggalkan mereka. Setelah berada di balik jeruji, ia baru merasakan bahwa ia butuh ibu dan adik-adiknya.

Bertobat Total

Di penjara, Fina berkenalan dengan seorang narapidana wanita. Narapidana wanita inilah yang akhirnya membuka matanya untuk kembali kepada Tuhan. “Dia bilang Tuhan itu baik. Tuhan itu gak seperti yang kamu bayangkan bahwa Tuhan itu jahat.”

“Mungkin bisa aja Tuhan pecut kamu atau Tuhan tegur kamu dengan cara kamu overdosis, kamu meninggal, kamu belum sempat bertobat sama Tuhan, belum sempat memberi yang terbaik sama keluarga. Saya berpikir, ‘iya ya, mungkin ini satu jalan untuk Tuhan tuh bentuk saya’.

Tindakan pertobatan total pun diambil Fina saat itu.

Berjumpa Ibu

Suatu hari, peristiwa yang tidak disangka-disangka terjadi dalam kehidupan Fina. Ibu yang dianggap membuang dirinya ternyata datang menjenguk ke penjara. “Hati saya tuh senang banget.”

Dalam obrolan, sang ibu memberitahu alasan mengapa ia dan adik-adiknya tak menjenguk dirinya beberapa waktu lamanya. “Ternyata saya baru tahu mereka sedang diporakpondakan di luar sana. Yang warungnya digusur, terus adik saya, itu putus sekolah. Mereka ngamen.”

“Jadi saya gak bisa ngebayangin, saat itu sosok adik saya tuh udah kehilangan sosok ayah, kehilangan sosok kakak. Ternyata selama empat bulan itu mereka memperdulikan saya walau mereka ada di luar”

Hati Fina hancur mendengarkan penjelasan sang ibu. Air matanya turun karena dirinya menyesal telah berpikir yang negatif kepada keluarganya selama ini.

Keluar Penjara

Setelah 2 tahun lamanya, Fina pun akhirnya bebas dan sejak hari itu perubahan demi perubahan dirasakan keluarga. Ibunya bahkan mengaku sangat merasakan cinta kasih dari putri sulungnya. “Sama mamanya sayang. Kalau mamanya sakit aja, dia mulai sibuk. Sayang dia sama adik-adiknya”

Walau harus menjalani sesuatu yang tidak menyenangkan di masa lalu, Fina menyadari ini adalah proses yang Yesus buat di dalam hidupnya. Jika bukan karena dipenjara, ia tidak akan pernah bisa melihat cinta dari ibu dan adik-adiknya. “Yesus itu benar-benar membentuk hati saya yang tadinya punya kebencian, ya masa bodo, saat itu Yesus melakukan suatu perubahan. Saya diproses oleh Yesus. Saya bisa mengasihi keluarga saya lagi”

Membangun Rumah Tangga Sendiri

Melalui pelajaran yang dipetik kini Fina mencoba menerapkan kasih Yesus untuk membangun keluarganya. “Saya percaya bahwa sebenarnya orangtua atau pun keluarga ketika mendidik kita sebenarnya tidak ada yang salah. Mereka mengasihi kita, menyayangi kita, cuma mungkin caranya aja yang salah.”

“Ya dari kisah yang saya alami saat ini, saya banyak belajar untuk bisa mengasihi seperti kasih Yesus terhadap saya dan keluarga saya sehingga nanti saya bisa menerapkan ini buat anak-anak saya nanti, saya bisa mengasihi anak-anak saya, mendidik anak-anak saya dengan kasih seperti kasih terhadap saya dan keluarga,” pungkasnya.