This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Senin, 29 Agustus 2022

Ibumu, Kemudian Ibumu, Kemudian Ibumu

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,    وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ  “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)  Ayat diatas menjelaskan akan hak ibu terhadap anaknya. Ketahuilah, bahwasanya ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari), ditambah 2 tahun menyusui anak, jadi 30 bulan. Sehingga tidak bertentangan dengan surat Luqman ayat 14 (Lihat Tafsiir ibni Katsir VII/280)  وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ  “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)  Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah. Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits,  عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ  Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)  Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalammenghadapi masa hamil, kesulitan ketikamelahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi X : 239. al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ibu memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan ayah)  Begitu pula dengan Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah, beliauberkata dalam kitabnya Al-Kabaair,  Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.  Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.  Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.  Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya.  Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.  Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.  Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.  Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.  Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.  Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.  Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.  Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.  Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.  Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.  Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.  Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.  Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.  Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.  Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.  Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin.  (Akan dikatakan kepadanya),  ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ  “Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-Hajj : 10)  (Al-Kabaair hal. 53-54, Maktabatush Shoffa, Dar Albaian)  Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung.  Yah, kita mungkin tidak punya kapasitas untuk menghitung satu demi satu hak-hak yang dimiliki seorang ibu. Islam hanya menekankan kepada kita untuk sedapat mungkin menghormati, memuliakan dan menyucikan kedudukan sang ibu dengan melakukan hal-hal terbaik yang dapat kita lakukan, demi kebahagiannya.  Contoh manusia terbaik yang berbakti kepada Ibunya Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu ‘Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang yaman itu bersenandung,  إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ – إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ  Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.  Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.  Orang itu lalu bertanya kepada Ibn Umar, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” (Adabul Mufrad no. 11;  Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)  Dalam sebuah riwayat diterangkan:  Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya seseorang mendatanginya lalu berkata: bahwasanya aku meminang wanita, tapi ia enggan menikah denganku. Dan ia dipinang orang lain lalu ia menerimanya. Maka aku cemburu kepadanya lantas aku membunuhnya. Apakah aku masih bisa bertaubat? Ibnu Abbas berkata: apakah ibumu masih hidup? Ia menjawab: tidak. Ibnu Abbas berkata: bertaubatlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan dekatkanlah dirimu kepadaNya sebisamu. Atho’ bin Yasar berkata: maka aku pergi menanyakan kepada Ibnu Abbas kenapa engkau tanyakan tentang kehidupan ibunya? Maka beliau berkata: ‘Aku tidak mengetahui amalan yang paling mendekatkan diri kepada Allah ta’ala selain berbakti kepada ibu’. (Hadits ini dikeluarkan juga oleh Al Baihaqy di Syu’abul Iman (7313), dan Syaikh Al Albany menshahihkannya, lihat As Shohihah (2799))  Pada hadits di atas dijelaskan bahwasanya berbuat baik kepada ibu adalah ibadah yang sangat agung, bahkan dengan berbakti kepada ibu diharapkan bisa membantu taubat seseorang diterima Allah ta’ala. Seperti dalam riwayat di atas, seseorang yang melakukan dosa sangat besar yaitu membunuh, ketika ia bertanya kepada Ibnu Abbas, apakah ia masih bisa bertaubat, Ibnu Abbas malah balik bertanya apakah ia mempunyai seorang ibu, karena menurut beliau berbakti atau berbuat baik kepada ibu adalah amalan paling dicintai Allah sebagaimana sebagaimana membunuh adalah termasuk dosa yang dibenci Allah.  Berbuat baik kepada ibu adalah amal sholeh yang sangat bermanfa’at untuk menghapuskan dosa-dosa. Ini artinya, berbakti kepada ibu merupakan jalan untuk masuk surga.  Jangan Mendurhakai Ibu Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,  عن المغيرة بن شعبة قال : قال النبي صلى الله عليه و سلم : إن الله حرم عليكم عقوق الأمهات ووأد البنات ومنع وهات . وكره لكم قيل وقال وكثرة السؤال وإضاعة المال  “Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan kalian berbuat durhaka kepada ibu-ibu kalian, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menolak kewajiban dan menuntut sesuatu yang bukan menjadi haknya. Allah juga membenci jika kalian menyerbarkan kabar burung (desas-desus), banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (Hadits shahih, riwayat Bukhari, no. 1407; Muslim, no. 593, Al-Maktabah Asy-Syamilah)  Ibnu Hajar memberi penjelasan sebagai berikut, “Dalam hadits ini disebutkan ‘sikap durhaka’ terhadap ibu, karena perbuatan itu lebih mudah dilakukan terhadap seorang ibu. Sebab,ibu adalah wanita yang lemah. Selain itu, hadits ini juga memberi penekanan, bahwa berbuat baik kepada itu harus lebih didahulukan daripada berbuat baik kepada seorang ayah, baik itu melalui tutur kata yang lembut, atau limpahan cinta kasih yang mendalam.” (Lihat Fathul Baari V : 68)  Sementara, Imam Nawawi menjelaskan, “Di sini, disebutkan kata ‘durhaka’ terhadap ibu, karena kemuliaan ibu yang melebihi kemuliaan seorang ayah.” (Lihat Syarah Muslim XII : 11)  Buatlah Ibu Tertawa جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : جئْتُ أبَايِعُكَ عَلَى الْهِجْرَةِ، وَتَرَكْتُ أَبَوَيَّ يَبْكِيَانِ، فَقَالَ : ((اِرْخِعْ عَلَيْهِمَا؛ فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا))  “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Aku akan berbai’at kepadamu untuk berhijrah, dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis.” Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.” (Shahih : HR. Abu Dawud (no. 2528), An-Nasa-i (VII/143), Al-Baihaqi (IX/26), dan Al-Hakim (IV/152))  Jangan Membuat Ibu Marah عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ : رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَاالْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَلَدِ.  “Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata, “Ridha Allah tergantung ridha orang tua dan murka Allah tergantung murka orang tua.“ (Adabul Mufrod no. 2. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan jika sampai pada sahabat, namun shahih jika sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)  Kandungan hadits diatas ialah kewajiban mencari keridhaan kedua orang tua sekaligus terkandung larangan melakukan segala sesuatu yang dapat memancing kemurkaan mereka.  Seandainya ada seorang anak yang durhaka kepada ibunya, kemudian ibunya tersebut mendo’akan kejelekan, maka do’a ibu tersebut akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dalam hadits yang shahih Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ، لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ.  “Ada tiga do’a yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak diragukan tentang do’a ini: (1) do’a kedua orang tua terhadap anaknya, (2) do’a musafir-orang yang sedang dalam perjalanan-, (3) do’a orang yang dizhalimin.” (Hasan : HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad (no. 32, 481/Shahiih Al-Adabil Mufrad (no. 24, 372))  Jika seorang ibu meridhai anaknya, dan do’anya mengiringi setiap langkah anaknya, niscaya rahmat, taufik dan pertolongan Allah akan senantiasa menyertainya. Sebaliknya, jika hati seorang ibu terluka, lalu ia mengadu kepada Allah, mengutuk anaknya. Cepat atau lambat, si anak pasti akan terkena do’a ibunya. Wal iyyadzubillaah..  Jangan sampai terucap dari lisan ibumu do’a melainkan kebaikan dan keridhaan untukmu. Karena Allah mendengarkan do’a seorang ibu dan mengabulkannya. Dan dekatkanlah diri kita pada sang ibu, berbaktilah.

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)

Ayat diatas menjelaskan akan hak ibu terhadap anaknya. Ketahuilah, bahwasanya ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari), ditambah 2 tahun menyusui anak, jadi 30 bulan. Sehingga tidak bertentangan dengan surat Luqman ayat 14 (Lihat Tafsiir ibni Katsir VII/280)

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah. Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalammenghadapi masa hamil, kesulitan ketikamelahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi X : 239. al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ibu memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan ayah)

Begitu pula dengan Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah, beliauberkata dalam kitabnya Al-Kabaair,

Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.

Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.

Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.

Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya.

Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.

Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.

Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.

Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.

Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.

Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.

Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.

Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.

Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.

Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.

Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.

Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.

Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.

Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin.

(Akan dikatakan kepadanya),

ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

“Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-Hajj : 10)

(Al-Kabaair hal. 53-54, Maktabatush Shoffa, Dar Albaian)

Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung.

Yah, kita mungkin tidak punya kapasitas untuk menghitung satu demi satu hak-hak yang dimiliki seorang ibu. Islam hanya menekankan kepada kita untuk sedapat mungkin menghormati, memuliakan dan menyucikan kedudukan sang ibu dengan melakukan hal-hal terbaik yang dapat kita lakukan, demi kebahagiannya.

Contoh manusia terbaik yang berbakti kepada Ibunya

Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu ‘Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang yaman itu bersenandung,

إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ – إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ

Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.

Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

Orang itu lalu bertanya kepada Ibn Umar, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” (Adabul Mufrad no. 11;  Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dalam sebuah riwayat diterangkan:

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya seseorang mendatanginya lalu berkata: bahwasanya aku meminang wanita, tapi ia enggan menikah denganku. Dan ia dipinang orang lain lalu ia menerimanya. Maka aku cemburu kepadanya lantas aku membunuhnya. Apakah aku masih bisa bertaubat? Ibnu Abbas berkata: apakah ibumu masih hidup? Ia menjawab: tidak. Ibnu Abbas berkata: bertaubatlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan dekatkanlah dirimu kepadaNya sebisamu. Atho’ bin Yasar berkata: maka aku pergi menanyakan kepada Ibnu Abbas kenapa engkau tanyakan tentang kehidupan ibunya? Maka beliau berkata: ‘Aku tidak mengetahui amalan yang paling mendekatkan diri kepada Allah ta’ala selain berbakti kepada ibu’. (Hadits ini dikeluarkan juga oleh Al Baihaqy di Syu’abul Iman (7313), dan Syaikh Al Albany menshahihkannya, lihat As Shohihah (2799))

Pada hadits di atas dijelaskan bahwasanya berbuat baik kepada ibu adalah ibadah yang sangat agung, bahkan dengan berbakti kepada ibu diharapkan bisa membantu taubat seseorang diterima Allah ta’ala. Seperti dalam riwayat di atas, seseorang yang melakukan dosa sangat besar yaitu membunuh, ketika ia bertanya kepada Ibnu Abbas, apakah ia masih bisa bertaubat, Ibnu Abbas malah balik bertanya apakah ia mempunyai seorang ibu, karena menurut beliau berbakti atau berbuat baik kepada ibu adalah amalan paling dicintai Allah sebagaimana sebagaimana membunuh adalah termasuk dosa yang dibenci Allah.

Berbuat baik kepada ibu adalah amal sholeh yang sangat bermanfa’at untuk menghapuskan dosa-dosa. Ini artinya, berbakti kepada ibu merupakan jalan untuk masuk surga.

Jangan Mendurhakai Ibu

Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عن المغيرة بن شعبة قال : قال النبي صلى الله عليه و سلم : إن الله حرم عليكم عقوق الأمهات ووأد البنات ومنع وهات . وكره لكم قيل وقال وكثرة السؤال وإضاعة المال

“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan kalian berbuat durhaka kepada ibu-ibu kalian, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menolak kewajiban dan menuntut sesuatu yang bukan menjadi haknya. Allah juga membenci jika kalian menyerbarkan kabar burung (desas-desus), banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (Hadits shahih, riwayat Bukhari, no. 1407; Muslim, no. 593, Al-Maktabah Asy-Syamilah)

Ibnu Hajar memberi penjelasan sebagai berikut, “Dalam hadits ini disebutkan ‘sikap durhaka’ terhadap ibu, karena perbuatan itu lebih mudah dilakukan terhadap seorang ibu. Sebab,ibu adalah wanita yang lemah. Selain itu, hadits ini juga memberi penekanan, bahwa berbuat baik kepada itu harus lebih didahulukan daripada berbuat baik kepada seorang ayah, baik itu melalui tutur kata yang lembut, atau limpahan cinta kasih yang mendalam.” (Lihat Fathul Baari V : 68)

Sementara, Imam Nawawi menjelaskan, “Di sini, disebutkan kata ‘durhaka’ terhadap ibu, karena kemuliaan ibu yang melebihi kemuliaan seorang ayah.” (Lihat Syarah Muslim XII : 11)

Buatlah Ibu Tertawa

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : جئْتُ أبَايِعُكَ عَلَى الْهِجْرَةِ، وَتَرَكْتُ أَبَوَيَّ يَبْكِيَانِ، فَقَالَ : ((اِرْخِعْ عَلَيْهِمَا؛ فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا))

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Aku akan berbai’at kepadamu untuk berhijrah, dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis.” Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.” (Shahih : HR. Abu Dawud (no. 2528), An-Nasa-i (VII/143), Al-Baihaqi (IX/26), dan Al-Hakim (IV/152))

Jangan Membuat Ibu Marah

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ : رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَاالْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَلَدِ.

“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata, “Ridha Allah tergantung ridha orang tua dan murka Allah tergantung murka orang tua. (Adabul Mufrod no. 2. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan jika sampai pada sahabat, namun shahih jika sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Kandungan hadits diatas ialah kewajiban mencari keridhaan kedua orang tua sekaligus terkandung larangan melakukan segala sesuatu yang dapat memancing kemurkaan mereka.

Seandainya ada seorang anak yang durhaka kepada ibunya, kemudian ibunya tersebut mendo’akan kejelekan, maka do’a ibu tersebut akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dalam hadits yang shahih Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ، لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ.

“Ada tiga do’a yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak diragukan tentang do’a ini: (1) do’a kedua orang tua terhadap anaknya, (2) do’a musafir-orang yang sedang dalam perjalanan-, (3) do’a orang yang dizhalimin.” (Hasan : HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad (no. 32, 481/Shahiih Al-Adabil Mufrad (no. 24, 372))

Jika seorang ibu meridhai anaknya, dan do’anya mengiringi setiap langkah anaknya, niscaya rahmat, taufik dan pertolongan Allah akan senantiasa menyertainya. Sebaliknya, jika hati seorang ibu terluka, lalu ia mengadu kepada Allah, mengutuk anaknya. Cepat atau lambat, si anak pasti akan terkena do’a ibunya. Wal iyyadzubillaah..

Jangan sampai terucap dari lisan ibumu do’a melainkan kebaikan dan keridhaan untukmu. Karena Allah mendengarkan do’a seorang ibu dan mengabulkannya. Dan dekatkanlah diri kita pada sang ibu, berbaktilah.

Bagaimana Cara Meminta Maaf Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal?

Bagaimana Cara Meminta Maaf Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal?. Menyakiti orang tua semasa hidupnya baik dengan perkataan atau perbuatan- termasuk dosa besar. Allah sangat murka kepada anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, sampaipun keduanya non muslim. Kecuali ketika menolak perintah keduanya untuk berbuat syirik atau maksiat sehingga keduanya marah kepada anaknya.  Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah mengabarkan tentang dosa besar yang terbesar,  “Menyekutukan Allah (berbuat syirik) dan durhaka kepada orang tua.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)  Dari Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasalla, beliau bersabda,  “Dosa-dosa besar: menyekutukan Allah, mendurhakai kedua orang tua, membunuh orang, dan sumpah palsu.” (HR. Al-Bukhari)  Jika seorang anak terlanjur menyakiti keduanya maka ia wajib bertaubat kepada Allah dan meminta keridhaan keduanya. Jika keduanya masih hidup, bisa langsung meminta maaf dan meminta keridhaannya. Lalu bagaimana kalau kedua sudah tiada?  Pertama, kesempatan taubat bagi anak yang pernah durhaka ke orang tuanya masih terbuka; walau orang tuanya sudah meninggal dunia. Karena sebesar apapun dosa yang pernah diperbuat hamba, jika ia bertaubat maka Allah akan menerima taubatnya.  Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman,  "Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Zumar: 53)  Hendaknya ia segera bertaubat kepada Allah –karena durhaka kepada orang tua itu menyalahi perintah Allah- dan yakin Allah akan akan menerima taubat orang yang bertaubat kepada-Nya.  Kedua, agar taubat diterima maka harus terpenuhi 3 syaratnya; menyesali perbuatannya, meninggalkan perbuatan tersebut, dan bertekad tidak akan mengulanginya di masa akan datang.  Adapun kesalahan kepada orang tua yang sudah wafat maka menyesali kesalahan kepada keduanya sudah mencukupkannya.  Ketiga, tunaikan kewajiban anak kepada orang tua; yaitu berbuat ihsan (kebaikan) kepada keduanya. Ini bisa dengan beberapa langkah berikut ini.   Memohonkan ampunan dan mendoakan kebaikan untuk keduanya. Istighfar dan doa baik (meminta rahmat untuk keduanya) dari orang yang masih hidup –apalagi keturunannya- adalah perkara yang paling dibutuhkan si mayit. Apalagi istighfar dan doa itu dipanjatkan oleh anak yang shalih yang telah bertaubat dari dosa-dosanya, maka akan lebih diterima Allah Subahanahu wa Ta'ala. Menunaikan janji keduanya yang belum tertunaikan; termasuk melaksanakan wasiat keduanya. Memuliakan teman-teman keduanya; termasuk kawan karibnya, rekan kerjanya, dan kerabatnya keduanya. Menyambung silaturahim (hubungan kekerabatan) keduanya, yaitu berbuat baik kepada paman dan bibi dari jalur ayah maupun ibu, kerabat-kerabat mereka. Berbuat baik kepada mereka dan menyambung kekerabatan mereka termasuk memuliakan orang tua.

Bagaimana Cara Meminta Maaf Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal?. Menyakiti orang tua semasa hidupnya baik dengan perkataan atau perbuatan- termasuk dosa besar. Allah sangat murka kepada anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, sampaipun keduanya non muslim. Kecuali ketika menolak perintah keduanya untuk berbuat syirik atau maksiat sehingga keduanya marah kepada anaknya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah mengabarkan tentang dosa besar yang terbesar,

“Menyekutukan Allah (berbuat syirik) dan durhaka kepada orang tua.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasalla, beliau bersabda,

“Dosa-dosa besar: menyekutukan Allah, mendurhakai kedua orang tua, membunuh orang, dan sumpah palsu.” (HR. Al-Bukhari)

Jika seorang anak terlanjur menyakiti keduanya maka ia wajib bertaubat kepada Allah dan meminta keridhaan keduanya. Jika keduanya masih hidup, bisa langsung meminta maaf dan meminta keridhaannya. Lalu bagaimana kalau kedua sudah tiada?

Pertama, kesempatan taubat bagi anak yang pernah durhaka ke orang tuanya masih terbuka; walau orang tuanya sudah meninggal dunia. Karena sebesar apapun dosa yang pernah diperbuat hamba, jika ia bertaubat maka Allah akan menerima taubatnya.

Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman,

"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Zumar: 53)

Hendaknya ia segera bertaubat kepada Allah –karena durhaka kepada orang tua itu menyalahi perintah Allah- dan yakin Allah akan akan menerima taubat orang yang bertaubat kepada-Nya.

Kedua, agar taubat diterima maka harus terpenuhi 3 syaratnya; menyesali perbuatannya, meninggalkan perbuatan tersebut, dan bertekad tidak akan mengulanginya di masa akan datang.

Adapun kesalahan kepada orang tua yang sudah wafat maka menyesali kesalahan kepada keduanya sudah mencukupkannya.

Ketiga, tunaikan kewajiban anak kepada orang tua; yaitu berbuat ihsan (kebaikan) kepada keduanya. Ini bisa dengan beberapa langkah berikut ini.

  1. Memohonkan ampunan dan mendoakan kebaikan untuk keduanya. Istighfar dan doa baik (meminta rahmat untuk keduanya) dari orang yang masih hidup –apalagi keturunannya- adalah perkara yang paling dibutuhkan si mayit. Apalagi istighfar dan doa itu dipanjatkan oleh anak yang shalih yang telah bertaubat dari dosa-dosanya, maka akan lebih diterima Allah Subahanahu wa Ta'ala.
  2. Menunaikan janji keduanya yang belum tertunaikan; termasuk melaksanakan wasiat keduanya.
  3. Memuliakan teman-teman keduanya; termasuk kawan karibnya, rekan kerjanya, dan kerabatnya keduanya.
  4. Menyambung silaturahim (hubungan kekerabatan) keduanya, yaitu berbuat baik kepada paman dan bibi dari jalur ayah maupun ibu, kerabat-kerabat mereka. Berbuat baik kepada mereka dan menyambung kekerabatan mereka termasuk memuliakan orang tua. 

Cara Menebus Dosa Istri Kepada Suami

Cara Menebus Dosa Istri Kepada Suami. Bahtera rumah tangga adalah kehidupan antara sepasang manusia yang saling mencintai. Yang mana dalam perjalanannya tentu akan mengalami berbagai macam goncangan dan tantangan yang silih berganti. Dalam goncangan tersebut, kadang kala sang istri berbuat durhaka kepada suami. Tentu durhakanya istri kepada suami adalah dosa di sisi Allah. Karena dosa, maka tentu isti harus meminta ampun kepada Allah. Timbul pertanyaan, lantas bagaimana cara menebus dosa istri kepada suami.   Durhaka Kepada Suami, Sebesar Apa Dosanya? Di dalam islam, suami dan istri memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Suami berkewajiban untuk memberikan nafkah kepada anak dan istrinya. Ia harus sekuat tenaga membanting tulang demi keberlangsungan hidup kehidupan rumah tangga. Adapun istri, ia berkewajiban untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang mengatur segala tetek bengek urusan rumah. Ia juga diwajibkan untuk melayani suami, baik secara lahir maupun batin.  Seorang istri juga dituntut untuk mentaati segala sesuatu yang diperintahkan suami terhadapnya. Selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan hukum Allah, maka tidak ada alasan bagi istri untuk mengacuhkan perintah suaminya. Bahkan, saking pentingnya taat kepada suami, Rasulullah SAW hampir memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya. Hal ini sebagaimana sebuah riwayat yang menyebut:  “Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata, Aku pernah pergi ke Syam. Lalu aku lihat mereka sujud kepada para pendeta dan ulama mereka. Maka engkau wahai Rasulullah SAW lebih pantas kami sujud kepadamu. Beliau berkata, Sekiranya aku memerintahkan seseorang sujud kepada seseorang, niscaya aku perintahkan wanita sujud kepada suaminya karena besarnya hak suami atas dirinya.” (HR Tirmidzi)  Karena itulah, Jika seorang istri durhaka kepada suaminya, maka azab Allah akan berlaku baginya. Rasulullah SAW bersabda: “Lihatlah bagaimana keberadaanmu dalam bergaulmu dengan suami, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad).  Hadits di atas menunjukkan dengan jelas, bahwa surga dan neraka seorang istri terletak pada diri seorang suami. Jika seorang istri berlaku buruk dan sering menentang suaminya sehingga sang suami tidak ridlo kepadanya, maka azab neraka akan menantinya. Sebaliknya, jika seorang istri memenuhi hak suami dan belaku baik kepadanya, sehingga suami ridlo kepadanya, maka surga adalah tempat kembali yang kekal bagi seorang istri.  Kemudian, istri yang tidak nurut dengan suami juga akan dilaknat oleh para malaikat. Yang mana tentu ini menggambarkan betapa besarnya dosa tersebut. Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW yang artinya: “Apabila seorang suami mengajak istrinya (berjimak) ke tempat tidur, lalu sang istri enggan dan suami bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka para malaikat akan melaknat sang istri sampai pagi.” (HR. Bukhari dan Muslim).  Bahkan, saking besarnya dosa istri yang durhaka, maka amal ibadahnya menjadi sia-sia dan tidak berguna. Seberapa besarnya amalan tersebut termasuk shalat yang didirikan, maka tidak akan berguna disisi Allah. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Dua golongan yang salatnya tidak bermanfaat bagi dirinya, yaitu hamba yang melarikan diri dari rumah tuannya sampai dia pulang dan istri- istri yang melarikan diri dari rumah suaminya sampai dia kembali.” (HR Al Hakim)  So, dari berbagai dalil yang sudah diulas, maka bisa dipastikan bahwa durhaka kepada suami merupakan salah satu dari beberapa dosa besar yang dibenci Allah. Lantas, apakah dosa tersebut dapat ditebus?  Cara Menebus Dosa Istri Kepada Suami Berikut ini beberapa langkah atau cara yang dapat dilakukan seorang istri untuk menebus dosanya terhadap sang suami:  Menyesal Atas Dosanya Langkah pertama adalah dengan melakukan penyesalan atas segala dosa yang pernah dibuat terhadap sang suami. Seorang istri harus merenungi segala kesalahannya dan meminta ampunan kepada Allah. Hanya saja penyesalannya ini tidak boleh hanya sekedar diungkapkan dengan lisan, melainkan harus berasal dari lubuk hati yang paling dalam. Karena jika hanya sekedar di lisan, maka kemungkinan untuk berbuat durhaka lagi kepada sang suami akan terbuka lebar.  Bertaubat dengan Taubatan Nasuha Seorang istri yang telah menyesal berbuat durhaka kepada suami, maka ia harus bertaubat kepada Allah dengan taubatan nasuha. Taubat nasuha adalah tobat yang sebenar-benarnya. Ia merupakan jenis taubat yang insya Allah akan diampuni oleh-Nya. Sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (taubat yang sebenar-benarnya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukanmu ke dalam jannah…” (TQS At Tahrim:8)  Taubat sendiri secara lughowi bermakna permohonan maaf seorang hamba kepada Allah atas segala dosa yang telah diperbuat. Dalam konteks ini, tentu yang dimaksud adalah meminta maaf kepada Allah atas dosa durhaka terhadap suami.  Meminta Maaf Kepada Suami dengan Tulus Setelah bertaubat kepada Allah, tentu step berikutnya adalah langsung menyampaikan permohonan maaf kepada sang suami tercinta. Ungkapkanlah rasa bersalah dan penyesalan atas segala kedurhakaan yang telah diperbuat. Sampaikanlah dengan tulus dan penuh dengan kecintaan agar suami berkenan untuk memaafkan. Bahkan, jika perlu bawakan ia hadiah ataupun barang yang menjadi kesukaannya. Buatlah suami merasa terkesan dan bahagia, sehingga ia berkenan untuk memberikan maaf atas kealfaan yang telah diperbuat.  Berjanji Untuk Tidak Mengulang Kesalahan Yang Sama Tidak cukup dengan meminta maaf, seorang istri juga harus berjanji kepada suaminya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ikrarkanlah janji dengan tulus dan penuh dengan rasa tanggung jawab dihadapan suami. Sampaikanlah kepadanya bahwasanya Anda tidak akan lagi melanggar setiap perintah suami. Dengan melakukan hal tersebut, insya Allah sang suami akan mudah untuk percaya dan memaafkan kesalahan Anda.  Berusaha Untuk Belajar Menjadi Istri yang Shalihah Langkah terakhir adalah dengan senantisa mengupgrade diri dengan belajar untuk menjadi istri yang shalihah. Langkah ini nampaknya sangat berguna agar seorang istrik tidak lagi terjerumus ke dalam kesalahan yang sama. Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, istri dapat belajar dari berbagai referensi terpercaya yang ada di internet. Atau jika memiliki waktu luang, seorang istri juga dapat belajar langsung secara offline dengan mencari berbagai komunitas kajian khusus wanita.  Demikianlah beberapa cara atau langkah yang dapat dilakukan untuk menebus dosa seorang istri terhadap suaminya. Semoga Allah senantiasa memberikan taufiq, rahmat, dan ampunan-Nya bagi setiap hamba yang berupaya berubah menuju ke arah yang lebih baik dengan menjalankan hukum-hukum islam.

Cara Menebus Dosa Istri Kepada Suami. Bahtera rumah tangga adalah kehidupan antara sepasang manusia yang saling mencintai. Yang mana dalam perjalanannya tentu akan mengalami berbagai macam goncangan dan tantangan yang silih berganti. Dalam goncangan tersebut, kadang kala sang istri berbuat durhaka kepada suami. Tentu durhakanya istri kepada suami adalah dosa di sisi Allah. Karena dosa, maka tentu isti harus meminta ampun kepada Allah. Timbul pertanyaan, lantas bagaimana cara menebus dosa istri kepada suami. 

Durhaka Kepada Suami, Sebesar Apa Dosanya?

Di dalam islam, suami dan istri memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Suami berkewajiban untuk memberikan nafkah kepada anak dan istrinya. Ia harus sekuat tenaga membanting tulang demi keberlangsungan hidup kehidupan rumah tangga. Adapun istri, ia berkewajiban untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang mengatur segala tetek bengek urusan rumah. Ia juga diwajibkan untuk melayani suami, baik secara lahir maupun batin.

Seorang istri juga dituntut untuk mentaati segala sesuatu yang diperintahkan suami terhadapnya. Selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan hukum Allah, maka tidak ada alasan bagi istri untuk mengacuhkan perintah suaminya. Bahkan, saking pentingnya taat kepada suami, Rasulullah SAW hampir memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya. Hal ini sebagaimana sebuah riwayat yang menyebut:

“Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata, Aku pernah pergi ke Syam. Lalu aku lihat mereka sujud kepada para pendeta dan ulama mereka. Maka engkau wahai Rasulullah SAW lebih pantas kami sujud kepadamu. Beliau berkata, Sekiranya aku memerintahkan seseorang sujud kepada seseorang, niscaya aku perintahkan wanita sujud kepada suaminya karena besarnya hak suami atas dirinya.” (HR Tirmidzi)

Karena itulah, Jika seorang istri durhaka kepada suaminya, maka azab Allah akan berlaku baginya. Rasulullah SAW bersabda: “Lihatlah bagaimana keberadaanmu dalam bergaulmu dengan suami, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad).

Hadits di atas menunjukkan dengan jelas, bahwa surga dan neraka seorang istri terletak pada diri seorang suami. Jika seorang istri berlaku buruk dan sering menentang suaminya sehingga sang suami tidak ridlo kepadanya, maka azab neraka akan menantinya. Sebaliknya, jika seorang istri memenuhi hak suami dan belaku baik kepadanya, sehingga suami ridlo kepadanya, maka surga adalah tempat kembali yang kekal bagi seorang istri.

Kemudian, istri yang tidak nurut dengan suami juga akan dilaknat oleh para malaikat. Yang mana tentu ini menggambarkan betapa besarnya dosa tersebut. Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW yang artinya: “Apabila seorang suami mengajak istrinya (berjimak) ke tempat tidur, lalu sang istri enggan dan suami bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka para malaikat akan melaknat sang istri sampai pagi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bahkan, saking besarnya dosa istri yang durhaka, maka amal ibadahnya menjadi sia-sia dan tidak berguna. Seberapa besarnya amalan tersebut termasuk shalat yang didirikan, maka tidak akan berguna disisi Allah. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Dua golongan yang salatnya tidak bermanfaat bagi dirinya, yaitu hamba yang melarikan diri dari rumah tuannya sampai dia pulang dan istri- istri yang melarikan diri dari rumah suaminya sampai dia kembali.” (HR Al Hakim)

So, dari berbagai dalil yang sudah diulas, maka bisa dipastikan bahwa durhaka kepada suami merupakan salah satu dari beberapa dosa besar yang dibenci Allah. Lantas, apakah dosa tersebut dapat ditebus?

Cara Menebus Dosa Istri Kepada Suami

Berikut ini beberapa langkah atau cara yang dapat dilakukan seorang istri untuk menebus dosanya terhadap sang suami:

Menyesal Atas Dosanya

Langkah pertama adalah dengan melakukan penyesalan atas segala dosa yang pernah dibuat terhadap sang suami. Seorang istri harus merenungi segala kesalahannya dan meminta ampunan kepada Allah. Hanya saja penyesalannya ini tidak boleh hanya sekedar diungkapkan dengan lisan, melainkan harus berasal dari lubuk hati yang paling dalam. Karena jika hanya sekedar di lisan, maka kemungkinan untuk berbuat durhaka lagi kepada sang suami akan terbuka lebar.

Bertaubat dengan Taubatan Nasuha

Seorang istri yang telah menyesal berbuat durhaka kepada suami, maka ia harus bertaubat kepada Allah dengan taubatan nasuha. Taubat nasuha adalah tobat yang sebenar-benarnya. Ia merupakan jenis taubat yang insya Allah akan diampuni oleh-Nya. Sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (taubat yang sebenar-benarnya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukanmu ke dalam jannah…” (TQS At Tahrim:8)

Taubat sendiri secara lughowi bermakna permohonan maaf seorang hamba kepada Allah atas segala dosa yang telah diperbuat. Dalam konteks ini, tentu yang dimaksud adalah meminta maaf kepada Allah atas dosa durhaka terhadap suami.

Meminta Maaf Kepada Suami dengan Tulus

Setelah bertaubat kepada Allah, tentu step berikutnya adalah langsung menyampaikan permohonan maaf kepada sang suami tercinta. Ungkapkanlah rasa bersalah dan penyesalan atas segala kedurhakaan yang telah diperbuat. Sampaikanlah dengan tulus dan penuh dengan kecintaan agar suami berkenan untuk memaafkan. Bahkan, jika perlu bawakan ia hadiah ataupun barang yang menjadi kesukaannya. Buatlah suami merasa terkesan dan bahagia, sehingga ia berkenan untuk memberikan maaf atas kealfaan yang telah diperbuat.

Berjanji Untuk Tidak Mengulang Kesalahan Yang Sama

Tidak cukup dengan meminta maaf, seorang istri juga harus berjanji kepada suaminya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ikrarkanlah janji dengan tulus dan penuh dengan rasa tanggung jawab dihadapan suami. Sampaikanlah kepadanya bahwasanya Anda tidak akan lagi melanggar setiap perintah suami. Dengan melakukan hal tersebut, insya Allah sang suami akan mudah untuk percaya dan memaafkan kesalahan Anda.

Berusaha Untuk Belajar Menjadi Istri yang Shalihah

Langkah terakhir adalah dengan senantisa mengupgrade diri dengan belajar untuk menjadi istri yang shalihah. Langkah ini nampaknya sangat berguna agar seorang istrik tidak lagi terjerumus ke dalam kesalahan yang sama. Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, istri dapat belajar dari berbagai referensi terpercaya yang ada di internet. Atau jika memiliki waktu luang, seorang istri juga dapat belajar langsung secara offline dengan mencari berbagai komunitas kajian khusus wanita.

Demikianlah beberapa cara atau langkah yang dapat dilakukan untuk menebus dosa seorang istri terhadap suaminya. Semoga Allah senantiasa memberikan taufiq, rahmat, dan ampunan-Nya bagi setiap hamba yang berupaya berubah menuju ke arah yang lebih baik dengan menjalankan hukum-hukum islam

7 Cara Taubat Istri Durhaka Agar Diterima

7 Cara Taubat Istri Durhaka Agar Diterima. Manusia memang tak pernah luput dari dosa. Terhadap sesama manusia, rasanya kita juga tidak pantas untuk menghujat kesalahan dan dosa yang diperbuat orang lain dan menganggap diri kita sendiri lebih baik daripada orang lain. Banyak hal dan perbuatan yang menjerumuskan kita dalam dosa bahkan kadang tak kita sadari.  Salah satu dari dosa yang sulit terhindarkan adalah dosa durhaka kepada suami. Dimana hal-hal kecil dan emosi yang membuat hilang kesabaran bisa menjadi penyebab istri durhaka pada suami yang terjadi tanpa disadari. Durhaka pada suami juga menjadi penyebab perceraian suami istri yang cukup banyak terjadi. Beruntunglah jika kita bisa segera menyadari dosa-dosa kita kepada suami sehingga kita bisa segera bertaubat dan terhindar dari ancaman bagi istri yang durhaka berani pada suaminya.  Bagaimana cara taubat istri durhaka kepada suaminya? Hal inilah yang perlu kita ketahui agar dosa-dosa kita yang selama ini menumpuk bisa terhapuskan. Taubat juga merupakan jalan untuk memulai menjadi istri sholehah. Berikut cara bertaubat seorang istri yang telah durhaka kepada suaminya sendiri.  1. Menyesallah karena telah menjadi istri yang durhaka  Hal pertama agar diterimanya taubat seseorang adalah ia harus menyesali dosa-dosanya. Seornag istri yang ingin bertaubat harus menyesali perbuatannya yang durhaka kepada suami selama ini. Merenungi setiap kesalahan yang telah dilakukan kepada suami dan memohon ampun kepada Allah SWT.  2. Berhenti menjadi istri durhaka  Hal kedua yang harus dilakukan agar taubat diterima adalah dengan tidak lagi menjadi istri durhaka. Tinggalkan semua hal dan perbuatan yang membuat kita masuk dalam golongan istri durhaka. Jika masih saja melakukannya, itu artinya bertaubat hanya dimulut saja dan tidak dari hati. Jelas saja taubat yang seperti ini tidak akan diterima dan tidak bisa menghapus dosa dan mendapatkan ampunan dari Allah SWT.  3. Berniat dan berjanji tidak mengulanginya lagi  Ketiga, agar taubat diterima adalah dengan memasang niat, bersungguh-sungguh dan berjanji kepada Yang Maha Kuasa untuk tidak lagi melakukan dan mengulangi dosa yang sama. Terlebih jika melakukannya dengan penuh kesadaran. Tidak hanya sekedar niatan saja, tapi memang harus benar-benar berhenti untuk melakukannya.  4. Meminta maaf kepada suami dengan tulus  Berikutnya, cara taubat istri durhaka agar diterima oleh Allah SWT adalah dengan meminta maaf kepada suami dengan tulus dan sepenuh hati. Akan lebih bagus lagi jika suami bisa memaafkannya sehingga dengan ridho suami, taubat kita pun juga di ridhoi oleh Allah SWT. Sampaikan penyesalan atas kesalahan yang selama ini dilakukan dan mulailah menjalani kehidupan sebagai istri yang baik dan taat pada suami.  5. Lakukan shalat sunnah taubat  Semakin bagus jika cara taubat istri durhaka ini disempurnakan dengan shalat sunnah taubat, yakni shalat sunat yang dilakukan kita seseorang ingin bertaubat. Pelajarilah tata cara shalat sunnah taubat ini beserta niatnya dan memohon ampunlah kepada Allah SWT. Berniatlah untuk melakukan taubat nasuha, yakni berjanji tidak akan mengulangi kesalahan dan dosa yang sama di masa depan.  6. Perbaiki diri dan banyak beribadah  Selanjutnya, cara taubat istri durhaka adalah dengan memperbaiki diri, sikap dan perbuatan menjadi lebih baik. Terutama kepada suami, jangan lagi melakukan perbuatan yang tergolong durhaka kepada suami, seperti membantah suami, tidak mentaatinya, berbohong, mengabaikannya, bersikap keras padanya, dan segala perbuatan yang masuk pada dosa istri terhadap suami.  7. Belajarlah menjadi istri solehah  Setelah bertaubat mulailah berlajar dan menggali ilmu lebih banyak tentang bagaimana cara menjadi istri solehah. Perdalam ilmu agama dan gali lebih dalam lagi tentang rumah tangga dan pernikahan dalam islam. Mulai dari cara berumah tangga yang benar dalam islam hingga perbuatan yang tidak baik dilakukan oleh seorang istri. Juga, cara berbakti pada suami dan jauhilah sifat istri penghambat rezeki suami.

7 Cara Taubat Istri Durhaka Agar Diterima. Manusia memang tak pernah luput dari dosa. Terhadap sesama manusia, rasanya kita juga tidak pantas untuk menghujat kesalahan dan dosa yang diperbuat orang lain dan menganggap diri kita sendiri lebih baik daripada orang lain. Banyak hal dan perbuatan yang menjerumuskan kita dalam dosa bahkan kadang tak kita sadari.

Salah satu dari dosa yang sulit terhindarkan adalah dosa durhaka kepada suami. Dimana hal-hal kecil dan emosi yang membuat hilang kesabaran bisa menjadi penyebab istri durhaka pada suami yang terjadi tanpa disadari. Durhaka pada suami juga menjadi penyebab perceraian suami istri yang cukup banyak terjadi. Beruntunglah jika kita bisa segera menyadari dosa-dosa kita kepada suami sehingga kita bisa segera bertaubat dan terhindar dari ancaman bagi istri yang durhaka berani pada suaminya.

Bagaimana cara taubat istri durhaka kepada suaminya? Hal inilah yang perlu kita ketahui agar dosa-dosa kita yang selama ini menumpuk bisa terhapuskan. Taubat juga merupakan jalan untuk memulai menjadi istri sholehah. Berikut cara bertaubat seorang istri yang telah durhaka kepada suaminya sendiri.

1. Menyesallah karena telah menjadi istri yang durhaka

Hal pertama agar diterimanya taubat seseorang adalah ia harus menyesali dosa-dosanya. Seornag istri yang ingin bertaubat harus menyesali perbuatannya yang durhaka kepada suami selama ini. Merenungi setiap kesalahan yang telah dilakukan kepada suami dan memohon ampun kepada Allah SWT.

2. Berhenti menjadi istri durhaka

Hal kedua yang harus dilakukan agar taubat diterima adalah dengan tidak lagi menjadi istri durhaka. Tinggalkan semua hal dan perbuatan yang membuat kita masuk dalam golongan istri durhaka. Jika masih saja melakukannya, itu artinya bertaubat hanya dimulut saja dan tidak dari hati. Jelas saja taubat yang seperti ini tidak akan diterima dan tidak bisa menghapus dosa dan mendapatkan ampunan dari Allah SWT.

3. Berniat dan berjanji tidak mengulanginya lagi

Ketiga, agar taubat diterima adalah dengan memasang niat, bersungguh-sungguh dan berjanji kepada Yang Maha Kuasa untuk tidak lagi melakukan dan mengulangi dosa yang sama. Terlebih jika melakukannya dengan penuh kesadaran. Tidak hanya sekedar niatan saja, tapi memang harus benar-benar berhenti untuk melakukannya.

4. Meminta maaf kepada suami dengan tulus

Berikutnya, cara taubat istri durhaka agar diterima oleh Allah SWT adalah dengan meminta maaf kepada suami dengan tulus dan sepenuh hati. Akan lebih bagus lagi jika suami bisa memaafkannya sehingga dengan ridho suami, taubat kita pun juga di ridhoi oleh Allah SWT. Sampaikan penyesalan atas kesalahan yang selama ini dilakukan dan mulailah menjalani kehidupan sebagai istri yang baik dan taat pada suami.

5. Lakukan shalat sunnah taubat

Semakin bagus jika cara taubat istri durhaka ini disempurnakan dengan shalat sunnah taubat, yakni shalat sunat yang dilakukan kita seseorang ingin bertaubat. Pelajarilah tata cara shalat sunnah taubat ini beserta niatnya dan memohon ampunlah kepada Allah SWT. Berniatlah untuk melakukan taubat nasuha, yakni berjanji tidak akan mengulangi kesalahan dan dosa yang sama di masa depan.

6. Perbaiki diri dan banyak beribadah

Selanjutnya, cara taubat istri durhaka adalah dengan memperbaiki diri, sikap dan perbuatan menjadi lebih baik. Terutama kepada suami, jangan lagi melakukan perbuatan yang tergolong durhaka kepada suami, seperti membantah suami, tidak mentaatinya, berbohong, mengabaikannya, bersikap keras padanya, dan segala perbuatan yang masuk pada dosa istri terhadap suami.

7. Belajarlah menjadi istri solehah

Setelah bertaubat mulailah berlajar dan menggali ilmu lebih banyak tentang bagaimana cara menjadi istri solehah. Perdalam ilmu agama dan gali lebih dalam lagi tentang rumah tangga dan pernikahan dalam islam. Mulai dari cara berumah tangga yang benar dalam islam hingga perbuatan yang tidak baik dilakukan oleh seorang istri. Juga, cara berbakti pada suami dan jauhilah sifat istri penghambat rezeki suami.

Cara Bertaubat dari Dosa Durhaka Jika Orang Tua Sudah Meninggal (Menurut Ustadz Abdul Somad)

Cara Bertaubat dari Dosa Durhaka Jika Orang Tua Sudah Meninggal (Menurut Ustadz Abdul Somad)

Cara Bertaubat dari Dosa Durhaka Jika Orang Tua Sudah Meninggal (Menurut Ustadz Abdul Somad). Ada cara menebus dosa durhaka pada orang tua saat orang tua sudah meninggal menurut Ustadz Abdul Somad. Durhaka pada orang tua tergolong perbuatan dosa yang besar. Jika orang tua masih hidup, anak wajib meminta ampun pada orang tua untuk mengampuni dosa-dosanya tersebut. Namun, bagaimana jika orang tua sudah meninggal dunia anak baru bertaubat?. Apakah tiada ampunan baginya atau ada amalan tertentu yang bisa menghapuskan dosanya? Ustadz Abdul Somad mengatakan bahwa ada cara bertaubat bagi anak yang durhaka pada orang tua

"Kalau anak sudah durhaka meninggal orang.  tuanya, setelah itu dia bertaubat, bagaimana minta ampunnya?" tanya Ustadz Abdul Somad. "Maka dia bersodakoh," jawab Ustadz Abdul Somad sendiri. Ia mengisahkan dalam riwayat hadist seorang sahabat datang menjumpai Nabi Muhammad SAW. Sahabat itu berkata, 'Ibu saya sudah meninggal, kalau saya berswdekah apakah pahalanya sampai kepada almarhumah ibu saya?'. Nabi menjawab, 'Bersedekahlah,'. "Maka wahai anak-anak durhaka, yang sudah mati ibu dan bapakmu, maka datang kau habis pengajian ini langsung ke tempat anak yatim," kata Ustadz Abdul Somad.

"Panti jompo, sekolah-sekolah, pondok pesantren. Tanya pak kyai apa yang kurang di pesantren," lanjutnya.Maka yang kurang dari tempat-tempat  tersebut dapat menjadi peluang untuk bersedekah bagi orang tua yang sudah meninggal. 

Namun, dari banyaknya sedekah untuk orang tua yang sudah meninggal ada sedekah yang paling afdol. "Apa sedekah yang paling afdol?" Tanya Ustadz Abdul Somad"Memberi air minum," jawabnya sendiri. "Jangan sedekah teh botol, nanti kena diabetes, air putih bagus. Mengalir. Sedekah sumur bor," kata dia. 

"Begitu cara berbakti kepada orangtua dengan cara sodakoh. Tapi, pak ustadz saya jangankan sodakoh, makan saya pun senin-kamis pak ustadz," kata Ustadz Abdul Somad kemudian.  "Doa, allahummagfirlahu warhamhu wa afihi wa'fuanhu," sarannya. Atau melakukan amalan lain berikut ini; "Bangun tengah malam, (berdoa) rabbigfirli waliwa lidaiya warhamhumma kama rabbayani saghira," kata Ustadz Abdul Somad.

Cara Tobat Anak Durhaka Setelah Orang Tua Tiada

Cara Tobat Anak Durhaka Setelah Orang Tua Tiada. Kisah anak durhaka identik dengan cerita Malin Kundang. Terlepas dari benar atau tidak kisah itu, pastinya cerita Malin Kundang sangat mempengaruhi pikiran anak supaya tidak melawan orang tuanya. Kalau ada anak nakal, biasanya dikatakan, “Kamu mau kayak Malin Kundang?” Sontak si anak diam dan takut. Namun pada zaman modern ini, kisah Malin Kundang tampaknya tidak sakti lagi. Malah yang terjadi, munculnya Malin Kundang baru yang diperankan oleh aktor yang berbeda-beda. Bahkan kelakuan sebagian anak sekarang, lebih parah dari Malin Kundang. Bila Malin Kundang hanya tidak mengakui orang tuanya di depan kekasihnya, anak sekarang tega membunuh orang tuanya sendiri. Ini tidak terjadi satu-dua kali, tetapi berulang kali.  Durhaka kepada orang tua termasuk kategori dosa besar. Durhaka dosa besar kedua setelah syirik. Saking murka-Nya, Allah SWT tidak hanya menyiksa anak durhaka di akhirat, tetapi juga di dunia. Dalam Al-Mustadrak karya Al-Hakim, Abu Bakrah mendengar Rasulullah SAW berkata:   كل الذنوب يؤخر الله ما شاء منها إلى يوم القيامة إلا عقوق الوالدين فإن الله تعالى يعجل لصاحبه في الحياة قبل الممات  Artinya, “Allah SWT akan mengakhirkan balasan setiap dosa hingga hari kiamat kelak, kecuali dosa durhaka kepada orang tua. Dia mempercepat balasannya pada waktu masih hidup atau sebelum meninggal,” (HR Al-Baihaqi).  Makna durhaka di sini lebih umum. Apapun bentuk perbuatan yang menyakiti orang tua dapat dikategorikan sifat durhaka. Taqiyuddin As-Subki, seperti dikutip Badruddin Al-‘Ayni dalam ‘Umdatul Qari, mengatakan, “Yang dimaksud durhaka ialah segala tindakan yang menyakiti hati orang tua, baik sedikit maupun banyak”. Karenanya, jagalah hati orang tua dan ikuti nasihatnya. Jangan sampai tindakan yang kita lakukan membuat dia marah dan tersakiti. Andaikan pernah membuat hati orang tua tersakiti, segeralah minta maaf dan memohon ampun kepada Allah SWT. Akan tetapi persoalannya, bagaimana bila kedua orang tua sudah meninggal. Semisal anak yang membunuh orang tuanya, apakah diterima tobatnya? Apalagi orang tuanya meninggal dalam keadaan marah atau tidak ridha dengan yang dilakukan anaknya.  Al-Nawawi dalam kumpulan fatwanya, Fatawa al-Nawawi, berpendapat:   أما مطالبتهما له في الآخرة فلا طريق إلى إبطالها، ولكن ينبغي له بعد الندم على ذلك، أن يكثر من استغفار لهما والدعاء، وأن يتصدق عنهما إن أمكن، وأن يكرم من كانا يحبان إكرامه: من صديق لهما ونحوه، وأن يصل رحمهما، وأن يقضي دينهما، أو ما تيسر له من ذلك  Artinya, “Tuntutan kedua orang tua kepada anak durhaka di akhirat, tidak ada jalan untuk membatalkannya. Tapi sebaiknya, anak durhaka yang sudah tobat dan menyesal, memperbanyak istighfar (minta ampun) dan berdo’a untuk kedua orang tuanya. Kalau mampu, perbanyak sedekah atas nama orang tua, mengormati orang yang dihormati oleh kedua orang tua semasa beliau masih hidup, seperti temannya. Menyambung tali silaturahmi (dengan saudara atau teman orang tua), membayar hutangnya, atau melakukan apapun yang mudah baginya.” Kesempatan bertobat dibuka lebar bagi siapapun, termasuk anak durhaka. Rasul SAW mengatakan, “Orang yang benar-benar bertobat seperti orang yang tidak berdosa,” (HR Ibnu Majah). Selain meminta ampun atas kedurhakaannya kepada Allah SWT, ia juga dianjurkan untuk berbuat baik kepada orang tuanya meskipun sudah meninggal. Cara berbuat baik kepada orang meninggal ialah dengan cara melakukan amalan, semisal bayar hutang, sedekah, silaturahmi, dan lain-lain, sembari menghadiahkan pahalanya untuk mereka.  Seseorang dari Bani Salamah pernah menanyakan hal ini kepada Nabi Muhammad SAW. Ia bertanya, “Apakah mungkin saya melakukan kebaikan untuk kedua orang tua, sementara mereka sudah meninggal?” Rasulullah SAW menyarankan kepadanya agar memperbanyak istighfar dan do’a untuk mereka, menunaikan janji dan menyambung tali silaturahmi yang belum terpenuhi pada waktu mereka masih hidup, serta menghormati teman-teman mereka, (HR Abu Dawud). Maka dari itu, selagi orang tua masih hidup, perbanyaklah berbuat baik kepada mereka. Apabila keduanya sudah meninggal, seorang anak masih dimungkinkan berbuat baik kepada mereka sebagaimana yang dikatakan Rasulullah SAW. Terlebih lagi bagi orang yang pernah menyakiti hati kedua orang tuanya semasa keduanya hidup.

Cara Tobat Anak Durhaka Setelah Orang Tua Tiada. Kisah anak durhaka identik dengan cerita Malin Kundang. Terlepas dari benar atau tidak kisah itu, pastinya cerita Malin Kundang sangat mempengaruhi pikiran anak supaya tidak melawan orang tuanya. Kalau ada anak nakal, biasanya dikatakan, “Kamu mau kayak Malin Kundang?” Sontak si anak diam dan takut. Namun pada zaman modern ini, kisah Malin Kundang tampaknya tidak sakti lagi. Malah yang terjadi, munculnya Malin Kundang baru yang diperankan oleh aktor yang berbeda-beda. Bahkan kelakuan sebagian anak sekarang, lebih parah dari Malin Kundang. Bila Malin Kundang hanya tidak mengakui orang tuanya di depan kekasihnya, anak sekarang tega membunuh orang tuanya sendiri. Ini tidak terjadi satu-dua kali, tetapi berulang kali.

Durhaka kepada orang tua termasuk kategori dosa besar. Durhaka dosa besar kedua setelah syirik. Saking murka-Nya, Allah SWT tidak hanya menyiksa anak durhaka di akhirat, tetapi juga di dunia. Dalam Al-Mustadrak karya Al-Hakim, Abu Bakrah mendengar Rasulullah SAW berkata: 

كل الذنوب يؤخر الله ما شاء منها إلى يوم القيامة إلا عقوق الوالدين فإن الله تعالى يعجل لصاحبه في الحياة قبل الممات

Artinya, “Allah SWT akan mengakhirkan balasan setiap dosa hingga hari kiamat kelak, kecuali dosa durhaka kepada orang tua. Dia mempercepat balasannya pada waktu masih hidup atau sebelum meninggal,” (HR Al-Baihaqi).

Makna durhaka di sini lebih umum. Apapun bentuk perbuatan yang menyakiti orang tua dapat dikategorikan sifat durhaka. Taqiyuddin As-Subki, seperti dikutip Badruddin Al-‘Ayni dalam ‘Umdatul Qari, mengatakan, “Yang dimaksud durhaka ialah segala tindakan yang menyakiti hati orang tua, baik sedikit maupun banyak”. Karenanya, jagalah hati orang tua dan ikuti nasihatnya. Jangan sampai tindakan yang kita lakukan membuat dia marah dan tersakiti. Andaikan pernah membuat hati orang tua tersakiti, segeralah minta maaf dan memohon ampun kepada Allah SWT. Akan tetapi persoalannya, bagaimana bila kedua orang tua sudah meninggal. Semisal anak yang membunuh orang tuanya, apakah diterima tobatnya? Apalagi orang tuanya meninggal dalam keadaan marah atau tidak ridha dengan yang dilakukan anaknya.

Al-Nawawi dalam kumpulan fatwanya, Fatawa al-Nawawi, berpendapat:

 أما مطالبتهما له في الآخرة فلا طريق إلى إبطالها، ولكن ينبغي له بعد الندم على ذلك، أن يكثر من استغفار لهما والدعاء، وأن يتصدق عنهما إن أمكن، وأن يكرم من كانا يحبان إكرامه: من صديق لهما ونحوه، وأن يصل رحمهما، وأن يقضي دينهما، أو ما تيسر له من ذلك

Artinya, “Tuntutan kedua orang tua kepada anak durhaka di akhirat, tidak ada jalan untuk membatalkannya. Tapi sebaiknya, anak durhaka yang sudah tobat dan menyesal, memperbanyak istighfar (minta ampun) dan berdo’a untuk kedua orang tuanya. Kalau mampu, perbanyak sedekah atas nama orang tua, mengormati orang yang dihormati oleh kedua orang tua semasa beliau masih hidup, seperti temannya. Menyambung tali silaturahmi (dengan saudara atau teman orang tua), membayar hutangnya, atau melakukan apapun yang mudah baginya.” Kesempatan bertobat dibuka lebar bagi siapapun, termasuk anak durhaka. Rasul SAW mengatakan, “Orang yang benar-benar bertobat seperti orang yang tidak berdosa,” (HR Ibnu Majah). Selain meminta ampun atas kedurhakaannya kepada Allah SWT, ia juga dianjurkan untuk berbuat baik kepada orang tuanya meskipun sudah meninggal. Cara berbuat baik kepada orang meninggal ialah dengan cara melakukan amalan, semisal bayar hutang, sedekah, silaturahmi, dan lain-lain, sembari menghadiahkan pahalanya untuk mereka.

Seseorang dari Bani Salamah pernah menanyakan hal ini kepada Nabi Muhammad SAW. Ia bertanya, “Apakah mungkin saya melakukan kebaikan untuk kedua orang tua, sementara mereka sudah meninggal?” Rasulullah SAW menyarankan kepadanya agar memperbanyak istighfar dan do’a untuk mereka, menunaikan janji dan menyambung tali silaturahmi yang belum terpenuhi pada waktu mereka masih hidup, serta menghormati teman-teman mereka, (HR Abu Dawud). Maka dari itu, selagi orang tua masih hidup, perbanyaklah berbuat baik kepada mereka. Apabila keduanya sudah meninggal, seorang anak masih dimungkinkan berbuat baik kepada mereka sebagaimana yang dikatakan Rasulullah SAW. Terlebih lagi bagi orang yang pernah menyakiti hati kedua orang tuanya semasa keduanya hidup.

Referensi : Cara Tobat Anak Durhaka Setelah Orang Tua Tiada