This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Sabtu, 27 Agustus 2022

Survey: Setelah Cerai, Pria Lebih Menderita

Survey: Setelah Cerai, Pria Lebih Menderita.Bercerai memang merupakan peristiwa yang sangat tidak diharapkan oleh pasangan suami istri. Bahkan karena perceraian, bisa membuat pria maupun wanita merasa frustasi. Sebuah survey  mengungkapkan, setelah perceraian, pria lebih sulit mengatasi perubahan hidup pasca perceraian dibandingkan wanita. Seperti dikutip laman Times of India, hasil survey juga menyatakan bahwa pria jauh lebih menderita dalam hal emosional dari pada wanita.  Pria bahkan akan terus membiarkan diri mereka tidak terkontrol hingga menimbulkan masalah pola makan yang buruk.  Masih menurut survey, setelah perceraian, 48 persen pria menggambarkan diri mereka dengan perasaan yang sangat kesepian, dibandingkan wanita yang 35 persen. Tidak hanya secara emosional, pria juga merasa terbebani oleh masalah materi. Pria harus menanggung beban keuangan akibat perceraian. Meski telah berpisah dengan pasangannya, pria tetap memiliki  kewajiban menganggung beban keuangan keluarga yang ditinggalkan. Jika ia menemukan pendamping hidup baru pun, tetap harus mampu membiayai rumah tangga sebelumnya dan rumah tangga barunya.  Tidak hanya secara emosional, pria juga merasa terbebani oleh masalah materi. Pria harus menanggung beban keuangan akibat perceraian. Meski telah berpisah dengan pasangannya, pria tetap memiliki  kewajiban menganggung beban keuangan keluarga yang ditinggalkan. Jika ia menemukan pendamping hidup baru pun, tetap harus mampu membiayai rumah tangga sebelumnya dan rumah tangga barunya. Sementara, wanita jauh lebih mudah untuk kembali bangkit dan meninggalkan masa lalu. Secara emosional, mereka memiliki jaringan pertemanan yang jauh lebih luas daripada pria untuk mengobati luka hatinya.  Ketua Pengacara Perceraian Bross Bennet di London, Adam Witkover, mengatakan bahwa banyak wanita cepat melupakan masalah perceraiannya. Mereka pun cepat merasakan kegembiraan lagi setelah meninggalkan suami mereka. "Wanita tampaknya lebih baik untuk mengatasi emosional setelah perceraian. Mereka memiliki jaringan lebih luas yang di dapat dari teman-temannya. Mereka  lebih mudah untuk mengungkapkan emosi mereka dari pada laki-laki. Meskipun secara finansial mereka tidak selalu lebih baik. Mereka sering menggunakan perceraian sebagai batu loncatan untuk karir baru," kata  Adam. Tidak seperti wanita, pria justru jauh lebih sulit untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan. “Pria juga merasa perceraian terasa lebih pahit. Mereka lebih sulit untuk melepaskan masa lalu," katanya.

Survey: Setelah Cerai, Pria Lebih Menderita.Bercerai memang merupakan peristiwa yang sangat tidak diharapkan oleh pasangan suami istri. Bahkan karena perceraian, bisa membuat pria maupun wanita merasa frustasi. Sebuah survey  mengungkapkan, setelah perceraian, pria lebih sulit mengatasi perubahan hidup pasca perceraian dibandingkan wanita. Seperti dikutip laman Times of India, hasil survey juga menyatakan bahwa pria jauh lebih menderita dalam hal emosional dari pada wanita.  Pria bahkan akan terus membiarkan diri mereka tidak terkontrol hingga menimbulkan masalah pola makan yang buruk.

Masih menurut survey, setelah perceraian, 48 persen pria menggambarkan diri mereka dengan perasaan yang sangat kesepian, dibandingkan wanita yang 35 persen. Tidak hanya secara emosional, pria juga merasa terbebani oleh masalah materi. Pria harus menanggung beban keuangan akibat perceraian. Meski telah berpisah dengan pasangannya, pria tetap memiliki  kewajiban menganggung beban keuangan keluarga yang ditinggalkan. Jika ia menemukan pendamping hidup baru pun, tetap harus mampu membiayai rumah tangga sebelumnya dan rumah tangga barunya.

Tidak hanya secara emosional, pria juga merasa terbebani oleh masalah materi. Pria harus menanggung beban keuangan akibat perceraian. Meski telah berpisah dengan pasangannya, pria tetap memiliki  kewajiban menganggung beban keuangan keluarga yang ditinggalkan. Jika ia menemukan pendamping hidup baru pun, tetap harus mampu membiayai rumah tangga sebelumnya dan rumah tangga barunya. Sementara, wanita jauh lebih mudah untuk kembali bangkit dan meninggalkan masa lalu. Secara emosional, mereka memiliki jaringan pertemanan yang jauh lebih luas daripada pria untuk mengobati luka hatinya.

Ketua Pengacara Perceraian Bross Bennet di London, Adam Witkover, mengatakan bahwa banyak wanita cepat melupakan masalah perceraiannya. Mereka pun cepat merasakan kegembiraan lagi setelah meninggalkan suami mereka. "Wanita tampaknya lebih baik untuk mengatasi emosional setelah perceraian. Mereka memiliki jaringan lebih luas yang di dapat dari teman-temannya. Mereka  lebih mudah untuk mengungkapkan emosi mereka dari pada laki-laki. Meskipun secara finansial mereka tidak selalu lebih baik. Mereka sering menggunakan perceraian sebagai batu loncatan untuk karir baru," kata  Adam. Tidak seperti wanita, pria justru jauh lebih sulit untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan. “Pria juga merasa perceraian terasa lebih pahit. Mereka lebih sulit untuk melepaskan masa lalu," katanya.

Dampak Buruk Perceraian secara Psikologis (Pria & Wanita)

Dampak Buruk Perceraian secara Psikologis (Pria & Wanita). Perceraian mampu membuat seorang wanita merasa tidak bahagia dan kesepian. Para wanita yang sudah bercerai mungkin memiliki kekhawatiran dalam segi mencari pasangan yang tepat untuknya di masa depan. Emosi lain yang dapat dirasakan oleh wanita yang bercerai adalah rasa bersalah.  Dampak perceraian baik untuk pria dan wanita akan sangat besar dalam psikologis, salah satunya membuka potensi untuk mengalami depresi. Pernikahan menjadi hubungan yang sangat sakral untuk pria dan wanita. Namun, tidak semua pasangan bisa mempertahankan hubungan pernikahan hingga akhirnya menggugat cerai. Dampak perceraian bisa sangat berbahaya bagi psikologis dan mental seseorang.  Karena bukan masalah yang sepele, Anda harus bijaksana dalam memandang sebuah perceraian. Pasalnya, dampak perceraian akan terbawa sampai kapan pun dan bisa menimbulkan trauma pada seseorang.  Dampak perceraian secara psikologis  Perceraian mengakibatkan banyak perubahan dalam hidup seseorang. Dampak perceraian yang dirasakan oleh pria dan wanita sebenarnya sama aja. Keduanya dapat merasa marah, cemas, depresi, dan cemburu.  Rasa marah  Rasa marah bisa saja muncul setelah proses perceraian ketika masalah-masalah yang sebelumnya diabaikan muncul dan dibahas kembali.  Rasa cemas Rasa cemas karena perubahan-perubahan yang dialami seusai perceraian adalah hal yang wajar terjadi. Setelah mengambil keputusan yang besar, seperti perceraian, wanita maupun pria akan merasa takut dengan ketidakpastian setelah perceraian. Bahkan pergantian rutinitas bisa menjadi salah satu pemicu dari rasa cemas setelah proses perceraian.  Depresi Depresi dapat timbul karena rasa bersalah ataupun hilangnya ambisi setelah perceraian. Dampak perceraian yang satu ini mampu menghilangkan kesenangan atau ketertarikan kedua belah pihak terhadap hal-hal yang senang dilakukan.  Rasa cemburu Meskipun sudah tidak tinggal seatap dan tidak lagi terikat sebagai suami istri, tetapi mengetahui mantan suami atau istri sedang berpacaran atau dekat dengan orang lain tentunya mampu memicu perasaan cemburu terhadap kehidupan pihak lainnya.  Cara pria dan wanita menyikapi dampak perceraian Seperti yang telah disebutkan, baik pria maupun wanita sebenarnya merasakan dampak perceraian secara psikologis. Namun, penelitian menunjukkan bahwa dampak perceraian di tahun-tahun pertama lebih parah pada pria ketimbang pada wanita.  Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa pada tahun pertama perceraian, pria lebih merasakan dampak perceraian terhadap kepuasaan hidup dan keluarga, sementara wanita lebih merasakan dampak perceraian terhadap ekonomi rumah tangga.  Meskipun demikian, pada tahun-tahun berikutnya, pria dan wanita tidak memiliki perbedaan dampak perceraian yang menonjol.   Dampak perceraian pada pria Dampak perceraian bisa jadi lebih besar pada pria karena pria cenderung tidak tertarik mencari dukungan secara emosional dari orang-orang sekitarnya.   Selain itu, seusai perceraian, pria lebih berisiko mengalami depresi, kekurangan dukungan sosial, dan menyalahgunakan zat-zat tertentu.   Pria yang lebih senang mengungkapkan perasaannya melalui tindakan akan lebih condong untuk mengungkapkan perasaannya terhadap perceraian yang dialami dalam bentuk menghindari tempat tinggal mereka, bekerja jauh lebih keras di kantor, dan sebagainya.  Penelitian lain mendapati bahwa pria lebih berisiko untuk melakukan tindakan bunuh diri daripada wanita selama proses perceraian berlangsung.  Dampak perceraian pada wanita Sebuah riset menelusuri dampak perceraian secara psikologis pada wanita dan menemukan bahwa wanita yang bercerai memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibanding wanita yang menikah. Hal ini berpotensi menimbulkan depresi.  Perceraian mampu membuat seorang wanita merasa tidak bahagia dan kesepian. Para wanita yang sudah bercerai mungkin memiliki kekhawatiran dalam segi mencari pasangan yang tepat untuknya di masa depan.  Emosi lain yang dapat dirasakan oleh wanita yang bercerai adalah rasa bersalah. Perasaan bersalah tersebut bisa terlahir dari pemikiran bahwa sang wanita belum berusaha maksimal dalam mempertahankan pernikahannya. Namun, dibalik dampak perceraian yang negatif secara psikologis pada wanita, terdapat juga dampak perceraian yang positif untuk para wanita. Beberapa wanita yang bercerai menganggap perceraian sebagai periode untuk mengembangkan diri dan menjadi mandiri, serta mampu mengambil keputusan sendiri.  Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mencari bantuan atau dukungan sosial dan emosional dari orang-orang sekitar. Menjadi lebih terbuka dengan menceritakan apa yang dirasakan dan dipikirkan dapat membantu Anda untuk tidak merasa kesepian.  Anda juga bisa berkonsultasi dengan psikolog, konselor, ataupun psikiater jika Anda merasa perceraian yang dilalui mengganggu kehidupan sehari-hari. Bila Anda atau kerabat mengalami depresi atau memiliki keinginan untuk bunuh diri selama proses perceraian, segeralah kunjungi psikolog, konselor, atau psikiater.  Tetap menjaga komunikasi yang baik dengan pasangan akan menjaga keharmonisan rumah tangga. Untuk mencegah niat cerai, Anda juga perlu tahu dampak perceraian untuk psikologis pasangan dan anak nantinya. Mintalah pertolongan jika memang tetap harus menjalani proses perceraian.
Dampak Buruk Perceraian secara Psikologis (Pria & Wanita). Perceraian mampu membuat seorang wanita merasa tidak bahagia dan kesepian. Para wanita yang sudah bercerai mungkin memiliki kekhawatiran dalam segi mencari pasangan yang tepat untuknya di masa depan. Emosi lain yang dapat dirasakan oleh wanita yang bercerai adalah rasa bersalah.
Rasa cemas
Depresi
Rasa cemburu
Cara pria dan wanita menyikapi dampak perceraian
Dampak perceraian pada pria
Dampak perceraian pada wanita
x

Dampak perceraian baik untuk pria dan wanita akan sangat besar dalam psikologis, salah satunya membuka potensi untuk mengalami depresi. Pernikahan menjadi hubungan yang sangat sakral untuk pria dan wanita. Namun, tidak semua pasangan bisa mempertahankan hubungan pernikahan hingga akhirnya menggugat cerai. Dampak perceraian bisa sangat berbahaya bagi psikologis dan mental seseorang.

Karena bukan masalah yang sepele, Anda harus bijaksana dalam memandang sebuah perceraian. Pasalnya, dampak perceraian akan terbawa sampai kapan pun dan bisa menimbulkan trauma pada seseorang.

Dampak perceraian secara psikologis

Perceraian mengakibatkan banyak perubahan dalam hidup seseorang. Dampak perceraian yang dirasakan oleh pria dan wanita sebenarnya sama aja. Keduanya dapat merasa marah, cemas, depresi, dan cemburu.

Rasa marah

Rasa marah bisa saja muncul setelah proses perceraian ketika masalah-masalah yang sebelumnya diabaikan muncul dan dibahas kembali.

Rasa cemas karena perubahan-perubahan yang dialami seusai perceraian adalah hal yang wajar terjadi. Setelah mengambil keputusan yang besar, seperti perceraian, wanita maupun pria akan merasa takut dengan ketidakpastian setelah perceraian. Bahkan pergantian rutinitas bisa menjadi salah satu pemicu dari rasa cemas setelah proses perceraian.

Depresi dapat timbul karena rasa bersalah ataupun hilangnya ambisi setelah perceraian. Dampak perceraian yang satu ini mampu menghilangkan kesenangan atau ketertarikan kedua belah pihak terhadap hal-hal yang senang dilakukan.

Meskipun sudah tidak tinggal seatap dan tidak lagi terikat sebagai suami istri, tetapi mengetahui mantan suami atau istri sedang berpacaran atau dekat dengan orang lain tentunya mampu memicu perasaan cemburu terhadap kehidupan pihak lainnya.

Seperti yang telah disebutkan, baik pria maupun wanita sebenarnya merasakan dampak perceraian secara psikologis. Namun, penelitian menunjukkan bahwa dampak perceraian di tahun-tahun pertama lebih parah pada pria ketimbang pada wanita.

Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa pada tahun pertama perceraian, pria lebih merasakan dampak perceraian terhadap kepuasaan hidup dan keluarga, sementara wanita lebih merasakan dampak perceraian terhadap ekonomi rumah tangga.

Meskipun demikian, pada tahun-tahun berikutnya, pria dan wanita tidak memiliki perbedaan dampak perceraian yang menonjol. 

Dampak perceraian bisa jadi lebih besar pada pria karena pria cenderung tidak tertarik mencari dukungan secara emosional dari orang-orang sekitarnya. 

Selain itu, seusai perceraian, pria lebih berisiko mengalami depresi, kekurangan dukungan sosial, dan menyalahgunakan zat-zat tertentu. 

Pria yang lebih senang mengungkapkan perasaannya melalui tindakan akan lebih condong untuk mengungkapkan perasaannya terhadap perceraian yang dialami dalam bentuk menghindari tempat tinggal mereka, bekerja jauh lebih keras di kantor, dan sebagainya.

Penelitian lain mendapati bahwa pria lebih berisiko untuk melakukan tindakan bunuh diri daripada wanita selama proses perceraian berlangsung.

Sebuah riset menelusuri dampak perceraian secara psikologis pada wanita dan menemukan bahwa wanita yang bercerai memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibanding wanita yang menikah. Hal ini berpotensi menimbulkan depresi.

Perceraian mampu membuat seorang wanita merasa tidak bahagia dan kesepian. Para wanita yang sudah bercerai mungkin memiliki kekhawatiran dalam segi mencari pasangan yang tepat untuknya di masa depan.

Emosi lain yang dapat dirasakan oleh wanita yang bercerai adalah rasa bersalah. Perasaan bersalah tersebut bisa terlahir dari pemikiran bahwa sang wanita belum berusaha maksimal dalam mempertahankan pernikahannya. Namun, dibalik dampak perceraian yang negatif secara psikologis pada wanita, terdapat juga dampak perceraian yang positif untuk para wanita. Beberapa wanita yang bercerai menganggap perceraian sebagai periode untuk mengembangkan diri dan menjadi mandiri, serta mampu mengambil keputusan sendiri.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mencari bantuan atau dukungan sosial dan emosional dari orang-orang sekitar. Menjadi lebih terbuka dengan menceritakan apa yang dirasakan dan dipikirkan dapat membantu Anda untuk tidak merasa kesepian.

Anda juga bisa berkonsultasi dengan psikolog, konselor, ataupun psikiater jika Anda merasa perceraian yang dilalui mengganggu kehidupan sehari-hari. Bila Anda atau kerabat mengalami depresi atau memiliki keinginan untuk bunuh diri selama proses perceraian, segeralah kunjungi psikolog, konselor, atau psikiater.

Tetap menjaga komunikasi yang baik dengan pasangan akan menjaga keharmonisan rumah tangga. Untuk mencegah niat cerai, Anda juga perlu tahu dampak perceraian untuk psikologis pasangan dan anak nantinya. Mintalah pertolongan jika memang tetap harus menjalani proses perceraian.

Pengakuan Pria Hadapi Perceraian

Pengakuan Pria Hadapi Perceraian, Wanita umumnya merasa tersakiti dengan adanya perceraian. Sebagian wanita merasa trauma setelah bercerai. Lalu, bagaimana dengan pria? Apakah mereka merasakan hal yang sama? 1. Setelah proses selesai, ini terasa melegakan  "Saya berharap saya tahu betapa sulitnya melewati proses ini. Saya pikir setelah meminta cerai dan akhirnya menyelesaikan perceraian, akan sangat melegakan bagi saya dan mantan istri saya. Begitu akhirnya selesai, ini agak melegakan, tapi untuk melewati prosesnya sangatlah sulit. Saya bahkan tidak ingin memikirkan betapa buruknya hal itu," ucap Pat.  2. Saya tidak yakin jika perasaan saya pernah hilang  "Saya tidak benar-benar yakin perasaan saya pernah hilang. Saya tiga tahun menghilang, tapi dia tetap setia. Saya sadar pernikahan kami tidak bahagia, tapi membayangkan dia dengan orang lain nantinya tetap saja membuat saya merasa sakit," ucap Mitchell W.  3. Saya tidak yakin perceraian merupakan jalan terbaik  "Sebenarnya saya tidak benar-benar yakin perceraian adalah jalan keluar terbaik. Namun, setelah bercerai, untungnya kami merasa lebih bahagia. Sekarang kami seperti teman," ungkap Tyler B.  4. Saya berharap anak-anak akan baik-baik saja  "Saya berharap anak-anak baik-baik saja saat kami mengatakan akan bercerai. Setelah melewatinya, saya menyesal mereka melihat kami berkelahi dan merasakan kondisi tidak bahagia sehingga menyisakan rasa sakit. Namun, saya yakin perceraian bukan akhir dari segalanya, bagi saya maupun mantan istri dan anak-anak," ucap Bryce.  5. Saya merasa tidak ingin menjalin hubungan lagi  "Saya merasa betapa sulitnya memulai kencan lagi dan secara khusus membuka diri kepada wanita lain. Saya telah berhubungan dengan mantan istri sejak SMA dan saya tidak pernah bersama orang lain. Saya tidak tahu bagaimana memulai kencan, bahkan menggunakan aplikasi sekali pun. Saya merasa melewati hal sulit. Saya tidak ingin terluka lagi, jadi sulit bagi saya untuk memulai sebuah hubungan lagi," kata Jonathan.  Referensi : Pengakuan Pria Hadapi PerceraianPerceraian mampu membuat seorang wanita merasa tidak bahagia dan kesepian. Para wanita yang sudah bercerai mungkin memiliki kekhawatiran dalam segi mencari pasangan yang tepat untuknya di masa depan. Emosi lain yang dapat dirasakan oleh wanita yang bercerai adalah rasa bersalah.

Pengakuan Pria Hadapi Perceraian, Wanita umumnya merasa tersakiti dengan adanya perceraian. Sebagian wanita merasa trauma setelah bercerai. Lalu, bagaimana dengan pria? Apakah mereka merasakan hal yang sama?

1. Setelah proses selesai, ini terasa melegakan

"Saya berharap saya tahu betapa sulitnya melewati proses ini. Saya pikir setelah meminta cerai dan akhirnya menyelesaikan perceraian, akan sangat melegakan bagi saya dan mantan istri saya. Begitu akhirnya selesai, ini agak melegakan, tapi untuk melewati prosesnya sangatlah sulit. Saya bahkan tidak ingin memikirkan betapa buruknya hal itu," ucap Pat.

2. Saya tidak yakin jika perasaan saya pernah hilang

"Saya tidak benar-benar yakin perasaan saya pernah hilang. Saya tiga tahun menghilang, tapi dia tetap setia. Saya sadar pernikahan kami tidak bahagia, tapi membayangkan dia dengan orang lain nantinya tetap saja membuat saya merasa sakit," ucap Mitchell W.

3. Saya tidak yakin perceraian merupakan jalan terbaik

"Sebenarnya saya tidak benar-benar yakin perceraian adalah jalan keluar terbaik. Namun, setelah bercerai, untungnya kami merasa lebih bahagia. Sekarang kami seperti teman," ungkap Tyler B.

4. Saya berharap anak-anak akan baik-baik saja

"Saya berharap anak-anak baik-baik saja saat kami mengatakan akan bercerai. Setelah melewatinya, saya menyesal mereka melihat kami berkelahi dan merasakan kondisi tidak bahagia sehingga menyisakan rasa sakit. Namun, saya yakin perceraian bukan akhir dari segalanya, bagi saya maupun mantan istri dan anak-anak," ucap Bryce.

5. Saya merasa tidak ingin menjalin hubungan lagi

"Saya merasa betapa sulitnya memulai kencan lagi dan secara khusus membuka diri kepada wanita lain. Saya telah berhubungan dengan mantan istri sejak SMA dan saya tidak pernah bersama orang lain. Saya tidak tahu bagaimana memulai kencan, bahkan menggunakan aplikasi sekali pun. Saya merasa melewati hal sulit. Saya tidak ingin terluka lagi, jadi sulit bagi saya untuk memulai sebuah hubungan lagi," kata Jonathan.

Referensi : Pengakuan Pria Hadapi Perceraian

Sikap Buruk Istri yang Bisa Meningkatkan Risiko Perceraian

Sikap Buruk Istri yang Bisa Meningkatkan Risiko Perceraian

Sikap Buruk Istri yang Bisa Meningkatkan Risiko Perceraian. Perceraian bisa terjadi tentu bukan tanpa sebab. Pasti ada hal-hal yang melatari sehingga rumah tangga yang awalnya penuh harapan tidak bisa berjalan sesuai dengan ekspektasi. Di antara penyebab hubungan rumah tangga jadi rusak sehingga mendorong terjadinya perceraian, adalah sikap buruk yang dilakukan oleh pasangan. Dalam artikel kali ini akan dibahas sikap buruk apa saja yang umum dilakukan istri dan hal tersebut dapat meningkatkan risiko cerai.

1. Membandingkan suami dengan orang lain

Sikap buruk pertama yang bisa membuat hubungan pernikahan terancam perceraian, yakni kebiasaan istri yang membanding-bandingkan suami dengan orang lain. Apalagi jika dibandingkan dengan mantan, wah itu fatal banget!

Sikap membanding-bandingkan seperti ini biasanya disebabkan ketidaksesuaian antara ekspektasi dengan realitas. Ekspektasi sudah terlanjur tinggi terhadap pasangan, ternyata kenyataannya gak seperti itu.

2. Cemburu buta pada suami

Hal selanjutnya yang bisa bikin suami jadi gak nyaman berumah tangga, adalah sikap cemburu buta yang kerap kamu lakukan. Ketika melihat suami sedang ngobrol dengan teman wanitanya langsung muncul pemikiran negatif.

Padahal, kalau mau berpikir dengan jernih, sikap suami terhadap temannya tersebut biasa aja. Gak ada sinyal kalau dia tertarik. Hanya saja karena sudah terlanjur curiga, kamu jadi gak bisa berpikir logis.

3. Kurang bersyukur

Sikap buruk lainnya yang dapat merusak pernikahan sehingga berujung cerai, adalah kurang bersyukur. Kurang bersyukur ini bisa membuat kamu gak pernah merasa puas dengan apa yang dilakukan suami.

Akibatnya, suami jadi gak merasa diapresiasi terhadap segala hal yang sudah dilakukan untukmu. Hal inilah yang bisa membuat rasa cinta suami jadi semakin terkikis.

4. Gak pede

Hati-hati, lho, rendah diri juga bisa merusak pernikahan. Kok, bisa? Istri yang rendah diri umumnya akan mudah didera rasa cemburu berlebihan atau berprasangka buruk terhadap suami. Hal ini berakar dari rasa tidak yakin bahwa kamu layak mendapat suami seperti dirinya. Rasa tidak yakin ini akan memicu ketakutan nanti bakal ditinggalkan.

Sayangnya, dengan membanding-bandingkan suami malah bikin rumah tangga bisa hancur berantakan, Karena siapa pun bakal terluka apabila selalu dibanding-bandingkan.

Ciri Mantan Suami yang Masih Sayang mantan Istrinya

Ciri Mantan Suami yang Masih Sayang mantan Istrinya

Ciri Mantan Suami yang Masih Sayang mantan Istrinya. Move on dari perceraian memang tidak mudah. Sebab, perceraian merupakan salah satu peristiwa hidup yang memilukan, terlebih jika Mama benar-benar menyayangi mantan suami. Perceraian tentu memiliki alasan yang beragam, mulai dari perselingkuhan, perbedaan visi misi, dan kekerasan dalam rumah tangga. Apa pun alasannya, hubungan rumah tangga yang sudah hancur akan sulit dipersatukan kembali. 

Ketika Mama sudah siap membuka lembaran baru, mantan suami justru sering menghubungimu untuk alasan yang tidak terlalu penting. Apakah hal tersebut menandakan mantan suami masih sayang kepadamu?

1. Sering menghubungi untuk alasan yang tidak penting

2. Menanyakan kabar lewat teman atau kerabat

3. Mencari cara untuk bertemu

4. Mantan suami bersikap seperti saat kencan pertama

5. Mantan suami berusaha membuatmu merasa cemburu

6. Menjadi orang pertama yang memberi pertolongan

7. Sering muncul di hadapanmu

8. Ketika tak sengaja bertemu, mantan suami akan membuka obrolan

9. Mengaku menyesal berpisah denganmu

10. Menyimpan foto kebersamaan denganmu

berusaha keras untuk melupakan mantan suami dan segala kenangan tentang pernikahan. Namun, mantan suami justru sering menghubungi mama untuk alasan yang tidak penting. 

Pertanyaan seputar kabar anak-anak masih bisa dimaklumi. Tetapi apabila pertanyaan seputar kehidupan pribadi atau soal kesibukanmu dalam sepekan terakhir, maka ini menandakan bahwa mantan suami masih sayang dan ingin tahu segala hal tentangmu. 

Oleh karena itu, Mama jangan sampai terjebak perhatian-perhatian kecil yang bisa menghambat proses move on. Mama perlu memberi batasan agar mantan suami bisa memahami bahwa hubungan pernikahan sudah berakhir. 

Apabila mantan suami merasa malu atau canggung untuk menanyakan kabar Mama secara langsung, dia biasanya akan mencari tahu lewat teman atau kerabat. Mantan suami akan bertanya tentang Mama berulang kali. 

Pertanyaannya pun terkesan sepele, mulai dari kesibukanmu hingga ke mana kamu pergi. Namun, mantan suami justru tidak pernah menanyakan kabar anak-anak.

Pertanyaan-pertanyaan yang berulang itu menandakan mantan suami belum sepenuhnya move on dari perceraian. 

Mantan suami yang masih sayang biasanya akan mencari banyak cara untuk bertemu denganmu. Dia kerap menggunakan anak-anak sebagai cara utama untuk bisa bertemu sesering mungkin. 

Padahal Mama menyadari bahwa mantan suami terlihat canggung setiap kali bertemu. Namun, ia tetap berusaha memperbaiki hubungan dan mencairkan kecanggungan agar bisa berinteraksi denganmu secara langsung. 

Kencan pertama memang menjadi salah satu momen terindah dalam sebuah hubungan. Seorang laki-laki akan menunjukkan segala perhatiannya untuk memikat hati perempuan pada saat kencan pertama. Segala hal yang dilewati saat kencan pertama pun terasa indah. 

Ketika mantan suami masih menyimpan perasaan pada Mama, dia akan bersikap seperti di awal hubungan lagi. Dia akan menunjukkan perhatian-perhatian yang dulunya ditunjukkan saat kencan pertama.

Hal itu bertujuan untuk memikat hatimu lagi dan memperbaiki hubungan pernikahan yang sudah berakhir. 

Apabila perhatian kecil tidak membuat hati mama luluh, maka mantan suami akan berusaha membuatmu merasa cemburu. Dia akan lebih aktif di media sosial dengan menunjukkan keakrabannya dengan teman perempuan. 

Tak hanya itu, dia juga meminta teman atau kerabat untuk menyampaikan proses pendekatannya dengan seorang perempuan kepadamu.

Apa tujuannya dia melakukan hal sepele seperti itu? Jawabannya pun sederhana. Mantan suami masih sayang sama Mama, namun terlalu gengsi untuk mengungkapkannya. 

Saat Mama tertimpa musibah, mantan suami akan sikap untuk menjadi orang pertama yang memberikan pertolongan.

Padahal Mama masih bisa mendapatkan pertolongan dari keluarga atau sahabat terdekat. Namun, mantan suami berusaha untuk menunjukkan bahwa dia adalah orang pertama yang peduli terhadap kehidupan mama. 

Mantan suami pun tak malu untuk datang ke rumah atau menghubungimu berulang kali. Dia beralasan mendengar musibah yang menimpamu dari teman terdekat. 

Apabila perhatian kecil belum bisa menaklukkan hati mama, maka mantan suami akan berusaha menunjukkan keberadaannya. Dia bisa tiba-tiba muncul di hadapanmu tanpa alasan yang jelas. 

Mama jadi sering berpapasan dengan mantan suami di tempat-tempat tertentu. Padahal sebelumnya Mama tahu bahwa mantan suami jarang ke tempat itu. Itu menandakan mantan suami hanya pergi ke tempat itu untuk bertemu denganmu. 

Ketika Mama tidak sengaja bertemu dengan mantan suami, dia justru tidak langsung pergi.

Dia akan menyapa Mama dan membuka obrolan dengan sedikit basa-basi. Kadang ada pula mantan suami yang pura-pura tidak melihat keberadaan Mama, namun menanyakan kabar ke teman terdekat. 

Apabila mantan suami berinisiatif untuk membuka obrolan, dia akan berusaha untuk tetap berada di samping Mama. Dia akan membahas hal-hal yang tak jauh dari nostalgia atau menanyakan kabar Mama.

Tujuannya hanya satu, yakni tetap mengobrol dengan Mama meski bertemu secara tidak sengaja. 

Entah disampaikan secara langsung atau tersirat melalui media sosial, mantan suami yang masih sayang biasanya akan memberi tahu banyak orang bahwa dia menyesal berpisah denganmu. 

Dia mengakui bahwa dia melakukan kesalahan terbesar dengan membiarkan perceraian terjadi. Dia menyadari bahwa perceraian merupakan keputusan yang diambil secara tergesa-gesa. 

Mantan suami akan menunjukkan bahwa dia bisa berubah menjadi lebih baik sehingga mendapatkan kesempatan untuk bisa rujuk kembali. Namun, Mama jangan sampai terjebak hal itu.

Apabila Mama memutuskan move on, maka Mama harus menepati komitmen yang dibuat dengan diri sendiri. 

Terakhir, mantan suami yang masih sayang sama Mama akan selalu menyimpan segala hal yang berkaitan denganmu. Dia bisa ketahuan masih menyimpan foto mama, baik di ponsel maupun di rumah. 

Tidak hanya foto, mantan suami juga menyimpan barang-barang yang pernah diberikan oleh Mama. Hal itu benar-benar menunjukkan bahwa mantan suami belum bisa move on dari perceraian.  Itulah ciri-ciri mantan suami yang masih sayang sama kamu. Tetapi perasaan sayang itu bukan berarti dia mau kembali berhubungan dengan Mama atau menandakan Mama harus berhenti move on.  Hubungan pernikahan yang telah berakhir memang sulit untuk dipersatukan lagi. Apabila Mama telah berkomitmen untuk move on, maka tepati komitmen tersebut meski mantan suami terus menunjukkan perasaan sayangnya. 

50% Pelaku Perceraian Menyesali Keputusan Mereka

50% Pelaku Perceraian Menyesali Keputusan Mereka. Keputusan untuk bercerai selalu sulit diambil. Bagi banyak orang, ada banyak alasan untuk mengakhiri sebuah pernikahan. Namun, berdasarkan sebuah penelitian, sebesar 50 persen pelaku perceraian menyesal telah mengakhiri pernikahan mereka. Studi ini menunjukkan 54 persen pelaku perceraian merenungkan kembali apakah mereka telah membuat keputusan yang tepat. Banyak di antara mereka yang masih merindukan atau mencintai mantan pasangannya. Bagi sebagian lainnya, penyesalan tersebut sangat besar sehingga 42 persen dari mereka berpikir untuk mencoba rujuk kembali. Sebagian besar di antaranya benar-benar mengupayakan hal tersebut. Bahkan, 21 persen dari jumlah itu masih hidup bersama hingga sekarang. Hampir separuh dari mereka mengaku lebih bahagia atau lebih kuat dalam hubungan mereka dibandingkan dengan saat sebelum bercerai. Juru bicara dari penelitian yang melibatkan 2.000 pria dan wanita di Inggris yang telah bercerai atau pisah ranjang setelah bersama setelah lebih dari lima tahun mengungkapkan, “Bercerai adalah langkah besar dalam setiap hubungan. Terkadang, kata-kata 'saya ingin bercerai’ bisa terlontar di tengah pertengkaran yang sengit. “Tapi, begitu kita tenang dan benar-benar memikirkannya, banyak yang menyadari bahwa bercerai adalah hal terakhir yang mereka inginkan. Namun kemudian, kita merasa terlalu terlambat untuk mencabut kembali ucapan itu.” Penelitian ini juga menunjukkan bahwa satu dari lima pelaku perceraian mengaku langsung menyesal sesaat seusai terjadi perceraian itu, sedangkan 19 persen lainnya baru menyesal sepekan kemudian. Referensi : 50% Pelaku Perceraian Menyesali Keputusan Mereka

50% Pelaku Perceraian Menyesali Keputusan Mereka. Keputusan untuk bercerai selalu sulit diambil. Bagi banyak orang, ada banyak alasan untuk mengakhiri sebuah pernikahan. 
Namun, berdasarkan sebuah penelitian, sebesar 50 persen pelaku perceraian menyesal telah mengakhiri pernikahan mereka. Studi ini menunjukkan 54 persen pelaku perceraian merenungkan kembali apakah mereka telah membuat keputusan yang tepat. Banyak di antara mereka yang masih merindukan atau mencintai mantan pasangannya.
Bagi sebagian lainnya, penyesalan tersebut sangat besar sehingga 42 persen dari mereka berpikir untuk mencoba rujuk kembali. Sebagian besar di antaranya benar-benar mengupayakan hal tersebut. Bahkan, 21 persen dari jumlah itu masih hidup bersama hingga sekarang.
Hampir separuh dari mereka mengaku lebih bahagia atau lebih kuat dalam hubungan mereka dibandingkan dengan saat sebelum bercerai.
Juru bicara dari penelitian yang melibatkan 2.000 pria dan wanita di Inggris yang telah bercerai atau pisah ranjang setelah bersama setelah lebih dari lima tahun mengungkapkan, “Bercerai adalah langkah besar dalam setiap hubungan. Terkadang, kata-kata 'saya ingin bercerai’ bisa terlontar di tengah pertengkaran yang sengit.
“Tapi, begitu kita tenang dan benar-benar memikirkannya, banyak yang menyadari bahwa bercerai adalah hal terakhir yang mereka inginkan. Namun kemudian, kita merasa terlalu terlambat untuk mencabut kembali ucapan itu.”
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa satu dari lima pelaku perceraian mengaku langsung menyesal sesaat seusai terjadi perceraian itu, sedangkan 19 persen lainnya baru menyesal sepekan kemudian.
Referensi : 50% Pelaku Perceraian Menyesali Keputusan Mereka  




Jangan katakan 7 hal pada wanita yang bercerai

Jangan katakan 7 hal ini pada wanita yang bercerai. Perceraian adalah hal yang tak diinginkan semua pasangan. Tentu, semua berharap kisah pernikahan mereka berakhir bahagia untuk selamanya. Namun terkadang perceraian tak terelakkan. Orang yang bercerai tentu masih sensitif jika hal-hal mengenai pernikahan mereka dibahas.  1. "Aku tahu sejak awal bahwa dia bukan orang baik" Wow, Anda merasa sangat pintar karena sudah mengetahui keburukan pasangannya bahkan sebelum dia sendiri menyadarinya? LAlu apa gunanya mengatakannya sekarang? Kenapa tidak dari dulu saja ketika teman Anda belum menikah dengannya.  2. "Aku ikut menyesal" Ya, terkadang wanita memang menyesal telah bercerai. Namun tolong lihat konteksnya sebelum mengatakan ini. Bisa saja teman Anda bercerai karena masalah KDRT. Tentu perceraian adalah hal yang baik untuknya. Jadi ketika Anda mengatakan ini dan dia menjawab "Oh, jangan. Ini jalan terbaik." jangan membantahnya.  3. "Untunglah kau tidak punya anak" Kalimat ini aneh untuk diucapkan. Wanita tersebut akan menyadari bahwa sekarang dia tak hanya kehilangan suami, tetapi juga tidak memiliki anak. Anak memang bisa terombang-ambing ketika perceraian terjadi, namun kalimat ini tidak baik untuk diucapkan. Terutama jika alasan perceraian mereka adalah mengenai keturunan.  4. "Kau akan menemukan orang lain secepatnya" Ya, kalimat ini mungkin baik dan Anda ucapkan untuk menyemangatinya, serta membuatnya move on. Tapi percayalah, di dalam benak orang yang baru saja bercerai, bisa jadi pasangan baru ada di urutan terakhir.  5. "Tenang saja, kau akan segera melupakannya" melupakan mantan suaminya adalah haknya. Jadi jangan sok tahu apakah dia akan segera melupakan mantan suaminya atau hal lainnya. Lagipula bukan Anda yang menentukan kapan dia harus melupakan mantan suaminya dan mulai move on. Biarkan dia menenangkan dirinya sendiri, terutama jika dia baru-baru saja bercerai.  6. "Aku bisa mengerti kenapa kalian bercerai. Kalian memang sudah tak cocok sejak awal" Apa tidak ada kalimat lain untuk diucapkan? Pernikahan mereka mungkin berakhir pahit, namun tentu ada kenangan indah yang mereka jalani bersama selama pernikahan. Jadi bagaimana bisa Anda mengatakan bahwa mereka tak cocok sejak awal. Dengan mengatakan kalimat ini Anda sudah merusak semua kenangan indah yang dimilikinya.  7. "Tak bisakah kau menunggu sampai waktu tertentu?" Biasanya kalimat ini diikuti berbagai alasan misalkan "Tak bisakah kau menunggu sampai anakmu besar, sampai dia masuk universitas, sampai kau menemukan tempat tinggal baru," dan lainnya. Perceraian tak bisa menunggu. Lagipula perceraiannya bukan urusan Anda dan bukan bergantung pada Anda. jadi biarkan dia sendiri yang memutuskan kapan dia bercerai. Dia dan mantan suaminya adalah yang paling tahu mengenai keadaan mereka.  Jadi, ketika bertemu dengan teman Anda yang baru bercerai, jangan katakan kalimat di atas. Anda bisa mengatakan kalimat lain seperti "Apa ada yang bisa kubantu?" "Bertahanlah" atau "Kau ingin membicarakannya denganku?" Selain itu Anda juga bisa membantunya dengan mengajaknya melakukan kegiatan untuk mengalihkan perhatiannya sementara.

Jangan katakan 7 hal ini pada wanita yang bercerai. Perceraian adalah hal yang tak diinginkan semua pasangan. Tentu, semua berharap kisah pernikahan mereka berakhir bahagia untuk selamanya. Namun terkadang perceraian tak terelakkan. Orang yang bercerai tentu masih sensitif jika hal-hal mengenai pernikahan mereka dibahas.

1. "Aku tahu sejak awal bahwa dia bukan orang baik"
Wow, Anda merasa sangat pintar karena sudah mengetahui keburukan pasangannya bahkan sebelum dia sendiri menyadarinya? LAlu apa gunanya mengatakannya sekarang? Kenapa tidak dari dulu saja ketika teman Anda belum menikah dengannya.

2. "Aku ikut menyesal"
Ya, terkadang wanita memang menyesal telah bercerai. Namun tolong lihat konteksnya sebelum mengatakan ini. Bisa saja teman Anda bercerai karena masalah KDRT. Tentu perceraian adalah hal yang baik untuknya. Jadi ketika Anda mengatakan ini dan dia menjawab "Oh, jangan. Ini jalan terbaik." jangan membantahnya.

3. "Untunglah kau tidak punya anak"
Kalimat ini aneh untuk diucapkan. Wanita tersebut akan menyadari bahwa sekarang dia tak hanya kehilangan suami, tetapi juga tidak memiliki anak. Anak memang bisa terombang-ambing ketika perceraian terjadi, namun kalimat ini tidak baik untuk diucapkan. Terutama jika alasan perceraian mereka adalah mengenai keturunan.

4. "Kau akan menemukan orang lain secepatnya"
Ya, kalimat ini mungkin baik dan Anda ucapkan untuk menyemangatinya, serta membuatnya move on. Tapi percayalah, di dalam benak orang yang baru saja bercerai, bisa jadi pasangan baru ada di urutan terakhir.

5. "Tenang saja, kau akan segera melupakannya"
melupakan mantan suaminya adalah haknya. Jadi jangan sok tahu apakah dia akan segera melupakan mantan suaminya atau hal lainnya. Lagipula bukan Anda yang menentukan kapan dia harus melupakan mantan suaminya dan mulai move on. Biarkan dia menenangkan dirinya sendiri, terutama jika dia baru-baru saja bercerai.

6. "Aku bisa mengerti kenapa kalian bercerai. Kalian memang sudah tak cocok sejak awal"
Apa tidak ada kalimat lain untuk diucapkan? Pernikahan mereka mungkin berakhir pahit, namun tentu ada kenangan indah yang mereka jalani bersama selama pernikahan. Jadi bagaimana bisa Anda mengatakan bahwa mereka tak cocok sejak awal. Dengan mengatakan kalimat ini Anda sudah merusak semua kenangan indah yang dimilikinya.

7. "Tak bisakah kau menunggu sampai waktu tertentu?"
Biasanya kalimat ini diikuti berbagai alasan misalkan "Tak bisakah kau menunggu sampai anakmu besar, sampai dia masuk universitas, sampai kau menemukan tempat tinggal baru," dan lainnya. Perceraian tak bisa menunggu. Lagipula perceraiannya bukan urusan Anda dan bukan bergantung pada Anda. jadi biarkan dia sendiri yang memutuskan kapan dia bercerai. Dia dan mantan suaminya adalah yang paling tahu mengenai keadaan mereka.

Jadi, ketika bertemu dengan teman Anda yang baru bercerai, jangan katakan kalimat di atas. Anda bisa mengatakan kalimat lain seperti "Apa ada yang bisa kubantu?" "Bertahanlah" atau "Kau ingin membicarakannya denganku?" Selain itu Anda juga bisa membantunya dengan mengajaknya melakukan kegiatan untuk mengalihkan perhatiannya sementara.

Studi Sebutkan, Penyesalan Kerap Datang Setelah Bercerai

Studi Sebutkan, Penyesalan Kerap Datang Setelah Bercerai Setiap pasangan suami istri (pasutri) tentu mengalami pasang surut rumah tangga. Dan, masalah yang dihadapi akan lebih kompleks dibandingkan saat masih berpacaran. Namun sebagian pasutri terpaksa harus mengakhiri biduk rumah tangga mereka, karena berbagai penyebab. Nah, Menurut sebuah penelitian di Inggris, sebanyak 50 persen pasutri yang bercerai dihantui rasa menyesal. Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa 54 persen orang mempertanyakan kembali keputusan cerai mereka, yakni “Apakah keputusanku ini untuk bercerai sudah tepat?”  Studi ini, melansir kelascinta, dilakukan sebagai bagian dari promosi film ‘The Punch Love’. Peneliti melibatkan 2.000 responden, merupakan pria dan wanita yang bercerai atau sedang ‘break’ dalam hubungan pernikahan yang terjalin lebih dari lima tahun. Survei tersebut juga menemukan banyak istri yang sudah bercerai baru menyadari kalau mereka masih cinta atau merindukan mantan suami.  Disebutkan, sebanyak 42 persen responden pernah berpikir untuk kembali pada pasangannya. Di antara responden yang mengharapkan pernikahannya terjalin kembali, sekira 24 persen melakukan aksi nyata agar bisa rujuk kembali dengan suami atau istri mereka, dan 21 persen responden bahkan masih hidup bersama setelah resmi bercerai.  Dari 50 persen pasangan yang bercerai, setengah dari mereka merasa lebih bahagia dan tegar menghadapi rintangan sebelum bercerai. Peneliti juga menemukan, satu dari lima orang langsung merasa menyesal setelah mengucapkan kata ‘cerai’, sedangkan 19 persen responden baru merasakan penyesalan seminggu setelah bercerai.  Ada responden yang mengaku berharap dapat mengulang kembali waktu saat perceraian resmi secara hukum. Penyesalan dari perceraian terutama datang saat mereka harus mengurus masalah harta dan memberitahu orang lain kalau dia dan pasangan telah berpisah.  Survei juga menemukan hal lain. Sebanyak 95 persen orang percaya kalau dengan hidup terpisah dengan suami atau istri dalam sementara waktu, sebelum memutuskan untuk benar-benar berpisah, dapat membantu menyelamatkan hubungan pernikahan

Studi Sebutkan, Penyesalan Kerap Datang Setelah Bercerai Setiap pasangan suami istri (pasutri) tentu mengalami pasang surut rumah tangga. Dan, masalah yang dihadapi akan lebih kompleks dibandingkan saat masih berpacaran. Namun sebagian pasutri terpaksa harus mengakhiri biduk rumah tangga mereka, karena berbagai penyebab. Nah, Menurut sebuah penelitian di Inggris, sebanyak 50 persen pasutri yang bercerai dihantui rasa menyesal. Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa 54 persen orang mempertanyakan kembali keputusan cerai mereka, yakni “Apakah keputusanku ini untuk bercerai sudah tepat?”

Studi ini, melansir kelascinta, dilakukan sebagai bagian dari promosi film ‘The Punch Love’. Peneliti melibatkan 2.000 responden, merupakan pria dan wanita yang bercerai atau sedang ‘break’ dalam hubungan pernikahan yang terjalin lebih dari lima tahun. Survei tersebut juga menemukan banyak istri yang sudah bercerai baru menyadari kalau mereka masih cinta atau merindukan mantan suami.

Disebutkan, sebanyak 42 persen responden pernah berpikir untuk kembali pada pasangannya. Di antara responden yang mengharapkan pernikahannya terjalin kembali, sekira 24 persen melakukan aksi nyata agar bisa rujuk kembali dengan suami atau istri mereka, dan 21 persen responden bahkan masih hidup bersama setelah resmi bercerai.

Dari 50 persen pasangan yang bercerai, setengah dari mereka merasa lebih bahagia dan tegar menghadapi rintangan sebelum bercerai. Peneliti juga menemukan, satu dari lima orang langsung merasa menyesal setelah mengucapkan kata ‘cerai’, sedangkan 19 persen responden baru merasakan penyesalan seminggu setelah bercerai.

Ada responden yang mengaku berharap dapat mengulang kembali waktu saat perceraian resmi secara hukum. Penyesalan dari perceraian terutama datang saat mereka harus mengurus masalah harta dan memberitahu orang lain kalau dia dan pasangan telah berpisah.

Survei juga menemukan hal lain. Sebanyak 95 persen orang percaya kalau dengan hidup terpisah dengan suami atau istri dalam sementara waktu, sebelum memutuskan untuk benar-benar berpisah, dapat membantu menyelamatkan hubungan pernikahan.

Referensi : Penyesalan Kerap Datang Setelah Bercerai






50% Pasangan yang Bercerai Dihantui Rasa Menyesal

50% Pasangan yang Bercerai Dihantui Rasa Menyesal

50% Pasangan yang Bercerai Dihantui Rasa Menyesal. Mengucap kata 'cerai' sebaiknya tidak dilakukan sembarangan, setiap kali suami istri bertengkar hebat atau ada konflik. Sebagian pasangan menganggap perceraian adalah solusi terakhir dari permasalahan rumah tangga tanpa berpikir panjang. Ketika akhirnya perceraian terjadi, bukan tidak mungkin penyesalan yang datang kemudian.


Menurut sebuah studi di Inggris, 50 persen pasangan yang bercerai dihantui rasa menyesal. Survei yang dilakukan terhadap 2000 pria dan wanita Inggris tersebut juga mengungkap, 54 persen orang merasa apakah keputusan mereka untuk bercerai sudah tepat. Banyak juga di antara responden yang baru menyadari kalau dia merindukan atau masih mencintai mantan suami pasca bercerai.

Lebih disayangkan lagi, 42 persen responden pernah berpikir untuk rujuk dengan pasangannya. Di antara responden yang menginginkan pernikahannya terjalin kembali, 24 persen benar-benar melakukan tindakan nyata agar bisa kembali lagi dengan suami/istri, dan 21 persen bahkan masih hidup bersama setelah berpisah secara hukum.

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Dari 50 persen pasangan yang bercerai, setengahnya merasa lebih bahagia dan tegar menghadapi cobaan saat sebelum mereka bercerai. Penelitian yang respondennya merupakan pria dan wanita yang telah bercerai atau sedang 'break' dalam hubungan yang terjalin lebih dari lima tahun tersebut juga menemukan, satu dari lima orang langsung merasa menyesal setelah mengucap kata 'cerai'. Sementara 19 persen baru merasa menyesal usai seminggu bercerai.

Responden lainnya bahkan mengaku, berharap bisa mengulang kembali waktu, saat perceraian akhirnya benar-benar diresmikan lewat ketok palu hakim. Penyesalan terutama datang ketika mereka harus mengurus harta gono-gini, atau saat harus memberitahu orang lain bahwa mereka telah berpisah.

Survei yang diadakan sebagai bagian dari promo rilisnya film 'The Love Punch' versi DVD itu juga mengungkap, 95 persen orang percaya dengan hidup terpisah sementara waktu sebelum benar-benar memutuskan berpisah bisa membantu menyelamatkan rumah tangga mereka.

The Love Punch merupakan film yang dirilis pertamakali pada 12 September 2013. Komedi romantis yang dibintangi Pierce Brosnan dan Emma Thompson ini bercerita tentang mantan suami istri yang merasa bahwa hubungan dan rasa cinta mereka terhadap satu sama lain belum sepenuhnya hilang.

Referensi : 50% Pasangan yang Bercerai Dihantui Rasa Menyesal


Minimalkan Stres Akibat Perceraian dengan Cara Berikut

Ilustrasi : Minimalkan Stres Akibat Perceraian dengan Cara Berikut

Minimalkan Stres Akibat Perceraian dengan Cara Berikut. Jika pada akhirnya harus bercerai, Anda mesti mempersiapkan diri untuk menanggung konsekuensinya. Anda pun mesti mampu untuk melepaskan diri dari belenggu stres, yang mungkin menghampiri usai perceraian dilakukan. Langkah pertama yang perlu dilakukan agar tidak stres setelah bercerai adalah dengan mencari dukungan moral dan sosial melalui keluarga ataupun sahabat dekat.

Perhatikan gaya hidup Anda. Usahakan konsumsi makanan sehat yang bergizi, cukup tidur, dan luangkan waktu untuk berolahraga. Aktivitas seperti yoga dan meditasi juga sangat baik untuk menurunkan stres yang sedang dialami. Belajar menerima perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan akan jauh lebih baik daripada menekan atau mengabaikannya.

Ini penting untuk mengurangi dampak psikologis dan gangguan kesehatan akibat perceraian. Perceraian memang bisa menjadi ‘solusi’ bagi pasangan suami istri yang sudah tidak sejalan. Akan tetapi, Anda mesti tahu bahwa perceraian juga bisa memberikan dampak negatif bagi kesehatan.

Referensi : Minimalkan Stres Akibat Perceraian dengan Cara Ini