This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Sabtu, 27 Agustus 2022

Masalah Kesehatan yang Bisa Terjadi Akibat Perceraian

Masalah Kesehatan yang Bisa Terjadi Akibat Perceraian. Dampak perceraian tidak hanya berupa kesedihan. Hal tersebut juga bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Bercerai bukanlah tujuan dari sebuah pernikahan. Namun, sebagian pasangan suami istri memilih untuk bercerai dengan alasan demi kebaikan bersama. Namun, apapun alasannya, dampak perceraian tetap akan dirasakan oleh kedua belah pihak.  Perceraian akan memunculkan emosi-emosi negatif, seperti kesedihan, rasa cemas, kekhawatiran, dan merasa tak mampu bertahan hidup. Semua perasaan ini memberikan stres terhadap tubuh.  Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan, terjadi peningkatan tekanan darah, penurunan sistem kekebalan tubuh, dan reaksi peradangan yang berlebihan. Kombinasi dari semuanya ini akan memicu berbagai gangguan kesehatan.  Dampak Perceraian Terhadap Kesehatan Berikut ini adalah beberapa dampak bercerai terhadap kesehatan:  Gangguan Cemas dan Depresi Perceraian sering membuat seseorang merasa gagal dalam kehidupan rumah tangganya. Orang tersebut juga merasa tidak “aman” karena kehilangan dukungan ekonomi, pekerjaan, atau karena harus pindah ke lingkungan baru.  Kondisi yang demikian bisa memicu stres dan trauma jangka panjang, yang berujung pada gangguan cemas dan depresi.  Insomnia Insomnia umum terjadi pada orang yang mengalami depresi, termasuk depresi akibat perceraian. Gangguan tidur ini muncul tanpa disadari, akibat tubuh dan pikiran tidak tenang dengan ketidakhadiran pasangan.  Stres secara langsung meningkatkan kadar hormon kortisol. Akibatnya, seseorang sulit untuk tidur atau mempertahankan tidur. Kondisi tersebut pun akhirnya membuat stres semakin bertambah parah.  Infeksi Stres yang terjadi sebagai dampak perceraian dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh secara langsung. Hal ini membuat tubuh lebih rentan mengalami infeksi.  Beberapa penyakit infeksi yang rentan terjadi pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh rendah, misalnya flu, batuk, dan pilek.  Gangguan Pencernaan Stres dapat secara spontan meningkatkan asam lambung. Tidak heran, orang-orang yang sering stres cenderung mengalami gangguan saluran pencernaan secara berulang.  Pada orang-orang yang sedari awal sudah memiliki masalah pada pencernaan, stres juga bisa membuat kondisi tersebut semakin buruk. Bahkan, risiko terjadinya komplikasi juga akan meningkat tinggi.  Berat Badan Berubah Drastis Sebagian orang yang sedang stres cenderung mengonsumsi makanan yang tinggi lemak, gula, dan garam.  Ini karena jenis makanan tersebut  dapat membantu memperbaiki mood dan emosi untuk sementara waktu.  Di sisi lain, makanan tinggi lemak, gula, dan garam juga dapat menyebabkan terjadinya obesitas, penyakit diabetes, tekanan darah tinggi, hingga penyakit jantung dan stroke.  Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Sebuah studi menunjukkan, risiko serangan jantung pada wanita yang telah bercerai lebih tinggi 24% daripada yang tidak bercerai.  Risiko ini bahkan akan melonjak hingga 77% pada wanita yang telah bercerai lebih dari satu kali.  Mengapa wanita lebih berisiko? Pada wanita, stres yang terjadi sebagai dampak perceraian menimbulkan respons peradangan yang lebih hebat dan lebih lama.  Ini sejalan dengan beban emosional dan beban sosial yang diterima wanita, misalnya dengan adanya melekatnya stigma janda pada dirinya.    Penyakit Kronik dan Gangguan Mobilitas Sebuah studi dalam Journal of Health and Social Behavior menemukan, orang yang telah bercerai memiliki kemungkinan 20% lebih tinggi untuk mengalami penyakit kronis, seperti penyakit jantung, diabetes, dan kanker.  Orang-orang tersebut juga cenderung memiliki gangguan mobilitas alias keterbatasan gerak, seperti tidak mampu berjalan jauh atau naik tangga.  Ketergantungan Zat Tertentu Sebagian orang yang bercerai dapat mengalami ketergantungan terhadap rokok, alkohol, dan obat-obatan terlarang untuk mengatasi kesendirian, rasa cemas, atau depresi yang dialaminya.   The Journal of Men’s Health pada tahun 2012 bahkan menyebutkan, angka ketergantungan terhadap zat-zat tertentu, angka kematian, dan depresi pada pria yang bercerai jauh lebih tinggi daripada pria yang menikah.  Memang, dampak dari perceraian seperti yang telah disebutkan tidak akan dialami oleh semua orang.  Namun, harus diakui bahwa perceraian merupakan pengalaman menyakitkan, yang sedikit banyak akan memengaruhi kondisi psikis dan fisik Anda.   Oleh karena itu, pikiran dengan matang sebelum memutuskan untuk benar-benar bercerai dengan pasangan.  Referensi : Masalah Kesehatan yang Bisa Terjadi Akibat Perceraian

Masalah Kesehatan yang Bisa Terjadi Akibat Perceraian. Masalah Kesehatan yang Bisa Terjadi Akibat Perceraian. Dampak perceraian tidak hanya berupa kesedihan. Hal tersebut juga bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Bercerai bukanlah tujuan dari sebuah pernikahan. Namun, sebagian pasangan suami istri memilih untuk bercerai dengan alasan demi kebaikan bersama. Namun, apapun alasannya, dampak perceraian tetap akan dirasakan oleh kedua belah pihak.

Perceraian akan memunculkan emosi-emosi negatif, seperti kesedihan, rasa cemas, kekhawatiran, dan merasa tak mampu bertahan hidup. Semua perasaan ini memberikan stres terhadap tubuh.

Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan, terjadi peningkatan tekanan darah, penurunan sistem kekebalan tubuh, dan reaksi peradangan yang berlebihan. Kombinasi dari semuanya ini akan memicu berbagai gangguan kesehatan.

Dampak Perceraian Terhadap Kesehatan

Berikut ini adalah beberapa dampak bercerai terhadap kesehatan:

  • Gangguan Cemas dan Depresi

Perceraian sering membuat seseorang merasa gagal dalam kehidupan rumah tangganya. Orang tersebut juga merasa tidak “aman” karena kehilangan dukungan ekonomi, pekerjaan, atau karena harus pindah ke lingkungan baru.

Kondisi yang demikian bisa memicu stres dan trauma jangka panjang, yang berujung pada gangguan cemas dan depresi.

  • Insomnia

Insomnia umum terjadi pada orang yang mengalami depresi, termasuk depresi akibat perceraian. Gangguan tidur ini muncul tanpa disadari, akibat tubuh dan pikiran tidak tenang dengan ketidakhadiran pasangan.

Stres secara langsung meningkatkan kadar hormon kortisol. Akibatnya, seseorang sulit untuk tidur atau mempertahankan tidur. Kondisi tersebut pun akhirnya membuat stres semakin bertambah parah.

  • Infeksi

Stres yang terjadi sebagai dampak perceraian dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh secara langsung. Hal ini membuat tubuh lebih rentan mengalami infeksi.

Beberapa penyakit infeksi yang rentan terjadi pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh rendah, misalnya flu, batuk, dan pilek.

  • Gangguan Pencernaan

Stres dapat secara spontan meningkatkan asam lambung. Tidak heran, orang-orang yang sering stres cenderung mengalami gangguan saluran pencernaan secara berulang.

Pada orang-orang yang sedari awal sudah memiliki masalah pada pencernaan, stres juga bisa membuat kondisi tersebut semakin buruk. Bahkan, risiko terjadinya komplikasi juga akan meningkat tinggi.

  • Berat Badan Berubah Drastis

Sebagian orang yang sedang stres cenderung mengonsumsi makanan yang tinggi lemak, gula, dan garam.

Ini karena jenis makanan tersebut  dapat membantu memperbaiki mood dan emosi untuk sementara waktu.

Di sisi lain, makanan tinggi lemak, gula, dan garam juga dapat menyebabkan terjadinya obesitas, penyakit diabetes, tekanan darah tinggi, hingga penyakit jantung dan stroke.

  • Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah

Sebuah studi menunjukkan, risiko serangan jantung pada wanita yang telah bercerai lebih tinggi 24% daripada yang tidak bercerai.

Risiko ini bahkan akan melonjak hingga 77% pada wanita yang telah bercerai lebih dari satu kali.

Mengapa wanita lebih berisiko? Pada wanita, stres yang terjadi sebagai dampak perceraian menimbulkan respons peradangan yang lebih hebat dan lebih lama.

Ini sejalan dengan beban emosional dan beban sosial yang diterima wanita, misalnya dengan adanya melekatnya stigma janda pada dirinya.


  • Penyakit Kronik dan Gangguan Mobilitas

Sebuah studi dalam Journal of Health and Social Behavior menemukan, orang yang telah bercerai memiliki kemungkinan 20% lebih tinggi untuk mengalami penyakit kronis, seperti penyakit jantung, diabetes, dan kanker.

Orang-orang tersebut juga cenderung memiliki gangguan mobilitas alias keterbatasan gerak, seperti tidak mampu berjalan jauh atau naik tangga.

  • Ketergantungan Zat Tertentu

Sebagian orang yang bercerai dapat mengalami ketergantungan terhadap rokok, alkohol, dan obat-obatan terlarang untuk mengatasi kesendirian, rasa cemas, atau depresi yang dialaminya. 

The Journal of Men’s Health pada tahun 2012 bahkan menyebutkan, angka ketergantungan terhadap zat-zat tertentu, angka kematian, dan depresi pada pria yang bercerai jauh lebih tinggi daripada pria yang menikah.

Memang, dampak dari perceraian seperti yang telah disebutkan tidak akan dialami oleh semua orang.

Namun, harus diakui bahwa perceraian merupakan pengalaman menyakitkan, yang sedikit banyak akan memengaruhi kondisi psikis dan fisik Anda. 

Oleh karena itu, pikiran dengan matang sebelum memutuskan untuk benar-benar bercerai dengan pasangan.

Referensi : Masalah Kesehatan yang Bisa Terjadi Akibat Perceraian



Dampak Negatif Perceraian terhadap Finansial (Wasapdalah)

Dampak Negatif Perceraian terhadap Finansial (Wasapdalah)
Penyanyi bernama asli Gisella Anastia memang diketahui menjual Mini Cooper-nya. Ini terlihat dari unggahan story Instagram di akunnya. Dia menjual mobil tersebut lewat pihak ketiga.  Tak pelak lagi, macam-macam opini soal pemasukan yang tipis akibat perceraian beredar di mana-mana. Apalagi netizen di era milenial ini bisa dengan mudahnya menyebar segala informasi meski belum diketahui kebenarannya.

Untungnya tak lama kemudian Gisel memberikan klarifikasi. Dia menjual mobil mewah hadiah dari suaminya karena ingin ganti yang baru. Sebab, mobil itu sudah tak nyaman dikendarai. Kondisi yang mirip-mirip proses perceraiannya dengan Gading, ya.

Tapi itulah klarifikasinya. Namun ternyata klarifikasi itu tak menghentikan rumor yang terlanjur beredar bahwa Gisel bangkrut akibat perceraian.

Sejatinya, hal itu wajar. Memang sudah menjadi pengetahuan umum bahwa perceraian bisa mengakibatkan kebangkrutan.

Di luar negeri, yang lebih terbuka, sederet artis dan pesohor diketahui jatuh miskin setelah bercerai. Di antaranya Emmanuel Eboue yang pernah menjadi pemain bintang klub sepak bola Arsenal, Inggris, serta Mel B, bekas anggota girlband Spice Girls.

Dampak Finansial Perceraian

Perceraian memang membawa dampak yang sangat besar terhadap kondisi finansial kedua belah pihak yang bercerai. Dampak itu lebih dirasakan pihak yang sebelumnya tidak berperan sebagai pencari nafkah.

Di Indonesia, dan mungkin di banyak negara lain, peran itu lebih sering dijalani para istri. Hal ini yang kemungkinan besar mempengaruhi hasil penelitian Stephen Jenkins kenapa pihak perempuan yang lebih berisiko jatuh miskin setelah bercerai ketimbang suami.

Namun suami bukan berarti lepas dari ancaman bangkrut akibat perceraian. Dalam pernikahan, suami dan istri sama-sama memiliki peran penting sebagai penyokong keuangan. Keduanya bekerja sama agar bangunan yang disangga tetap berdiri.

Maka, ketika keduanya terpisah, fondasi finansial itu pun terancam runtuh. Setiap pihak harus segera mencari cara untuk menyokong pilar di depannya yang telah beralih. 

Karena itu, bercerai adalah keputusan yang harus diambil dengan matang. Tak bisa dilandasi emosi semata. Berikut ini contoh masalah keuangan yang mungkin terjadi akibat perceraian.

1. Pemasukan berkurang, bahkan hilang

Bila pihak istri dan suami sama-sama bekerja dan punya tabungan bersama, perceraian bisa membuat satu sumber pemasukan berkurang. Ini akan lebih berbahaya jika hanya salah satu yang bekerja, dan itu bukan dirimu.

Misalnya kamu sebagai suami sedang tidak bekerja karena sebelumnya mengalami pemutusan hubungan kerja, sementara istri bekerja. Saat bercerai, kamu akan dilanda krisis finansial karena tak ada pemasukan. Berbeda dengan istri, yang masih bisa bertahan karena punya gaji bulanan. 

Demikian juga jika ada usaha bersama. Karena bercerai, tidak mustahil usaha itu ikut kolaps. Artinya, tak ada lagi pemasukan buat kedua belah pihak.

2. Aset menipis

Jika dalam keluarga menerapkan harta bersama, aset yang sebelumnya dimiliki bersama akan berkurang akibat perceraian. Akan ada pembagian harta gono-gini sesuai dengan aturan yang berlaku.

Masalah lebih runyam apabila ada perjanjian pra-pernikahan yang mengatur pemisahan harta. Perjanjian ini dilakukan sebelum kedua pihak menikah untuk mengatur urusan harta dan utang.

Dalam perjanjian, harta dan utang salah satu pihak sebelum pernikahan menjadi urusan pihak tersebut. Pihak lain tak boleh dan tak bisa ikut campur.

Misalnya kamu punya rumah sebelum menikah dan hendak melakukan perjanjian pra-pernikahan. Jika nantinya bercerai, rumah itu tidak akan dibagi-bagi dengan pihak istri atau suami. 

Bila kamu yang menjadi pihak lawan atau tidak punya aset, berarti kelak ketika bercerai tak memegang aset. Makin dekat saja ke jurang kebangkrutan.

3. Pendidikan anak terancam

Ini bisa dikatakan sebagai dampak lanjutan akibat perceraian. Bagi yang sudah punya anak, keputusan untuk bercerai seharusnya lebih sulit diambil.

Lantaran pemasukan atau aset berkurang, bahkan hilang, pendidikan anak terancam. Sebab, biaya pendidikan mereka tergantung kondisi finansial orangtua.

Masalah pendidikan bisa jadi lebih ringan jika hak asuh anak jatuh ke pihak yang lebih kokoh secara finansial. Misalnya sudah punya aset sendiri dengan penghasilan tinggi.

Buat pihak sebaliknya, pekerjaan rumah ini bakal lebih berat. Harus putar otak untuk menjaga anak terus bisa menempuh pendidikan. Meski begitu, masa depan anak adalah tanggung jawab orangtua meski keduanya sudah bercerai. 

Karena itu, masalah biaya pendidikan seyogianya diatasi bersama. Kecuali memang ada kasus yang memisahkan keduanya, misalnya salah satu pihak melakukan kekerasan dalam rumah tangga sehingga dilarang dekat-dekat dengan anak atau bahkan masuk penjara.

4. Berpikir sendiri, bekerja sendiri

Dengan tidak adanya pihak yang bisa diajak bekerja sama dalam urusan finansial, otomatis kamu mesti berpikir dan bekerja sendiri untuk mencari nafkah. Ini termasuk memikirkan pengaturan keuangan saat ini dan masa depan, baik jangka pendek, menengah, maupun panjang.

Pengaturan keuangan bukanlah tugas yang mudah buat sebagian orang. Dibutuhkan kecermatan, ketelitian, kesabaran, dan kejelian untuk mengatur keuangan agar aman demi masa depan.

Itu artinya bukan hanya keahlian mencari uang yang dibutuhkan, tapi juga kemampuan mengatur keuangan. Ketika masih bersama, dua peran itu bisa dipisahkan dan dikolaborasikan menurut keahlian masing-masing.

Risiko pengaturan keuangan yang berantakan tidak main-main. Tak peduli seberapa besar penghasilanmu, kebangkrutan menanti jika tak ada pengaturan keuangan yang apik. 

Bersiap Hadapi Perceraian

Sederet akibat perceraian di atas harus menjadi pertimbangan sebelum memastikan perpisahan. Pertimbangan itu termasuk persiapan untuk menghadapi kondisi pasca-perceraian yang mengganggu kondisi finansial tersebut.

Misalnya ada pembicaraan soal biaya pendidikan anak kelak. Mungkin nantinya biaya itu dibagi rata 50 persen : 50 persen buat ayah dan ibu. Atau bisa jadi persentase lebih besar buat yang penghasilannya juga lebih besar.

Biasanya, pihak suami diminta menafkahi pihak istri setelah bercerai. Hitung berapa nafkah yang diperlukan agar dapur terus bisa mengepul.

Bila tak ada perjanjian pra-nikah, menurut Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, harus ada pembagian harta gono-gini. Harta itu termasuk harta bawaan yang sudah dimiliki kedua pihak sebelum menikah dan harta perolehan atau harta milik suami ataupun istri setelah menikah yang didapatkan dari hibah, wasiat, atau warisan. 

Pembagian ini harus dilakukan secara adil agar nantinya harta yang menjadi bagiannya bisa dimanfaatkan untuk terus memutar roda kehidupan. Tekan seminimal mungkin konflik yang bisa berujung pada sengketa, terlebih jika sudah memiliki anak yang menjadi tanggung jawab kedua pihak.

Pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Semestinya tidak mudah menuntut cerai, kecuali ada masalah pelik berujung kriminal. Tentu tidak ada orang yang menikah hanya untuk bercerai. Sebab, akibat perceraian bisa membuat orang jatuh dalam kebangkrutan.

Dampak Perceraian Kepada Anak

Dampak Perceraian Kepada Anak. Anak-anak tentunya ingin hidup bersama orang tua yang lengkap. Namun keinginan terkadang tidak sejalan dengan kenyataan. Perceraian orang tua membuat anak tidak lagi bisa tinggal bersama-sama dengan ayah dan ibunya. Meski perceraian adalah suatu hal yang menyesakkan, namun ada sisi positif yang bisa diambil.  "Di dalam perceraian, yang berakhir adalah hubungan suami istri, bukan hubungan orang tua dan anak. Misalnya dalam suatu kasus, sebuah perceraian terjadi karena adanya kekerasan di dalam rumah tangga, dan kekerasan ini berlangsung setiap hari. Secara otomatis, dengan bercerai maka kekerasan akan berhenti," ucap psikolog Alzena Masykouri menyebutkan hal positif yang bisa diambil dari kasus perceraian orang tua.  "Secara otomatis, dengan bercerai maka kekerasan akan berhenti dan anak tidak harus menanggung beban lagi ketika melihat kekerasan tersebut. Perceraian dalam kasus tersebut tidak membawa dampak negatif bagi anak. Anak dapat hidup dengan tenang dan nyaman," lanjut perempuan yang akrab disapa Zena.   Hal positif lainnya adalah anak bisa lebih mandiri. Anak akan lebih tergerak melakukan segala sesuatu sendiri, misalnya berangkat sekolah sendiri, menyiapkan sarapan sendiri, dan sebagainya.  Ketika perceraian terjadi, menurut Zena, orang tua tidak sepenuhnya bersalah. Sebab tidak semua orang bisa berkompromi dengan ketidakcocokan pasangan. Namun demikian, rasa bersalah terhadap anak pasti dimiliki oleh orang tua yang bercerai.  "Untuk itu, sebaiknya orang tua mencurahkan banyak waktunya untuk memperhatikan dan mengurus tumbuh kembang anak. Anak juga tidak pantas disebut sebagai korban karena anak tetaplah seorang anak, yang berakhir bukan hubungan keluarga melainkan hanya hubungan suami istri," terang Zena.

Dampak Perceraian Kepada Anak. Anak-anak tentunya ingin hidup bersama orang tua yang lengkap. Namun keinginan terkadang tidak sejalan dengan kenyataan. Perceraian orang tua membuat anak tidak lagi bisa tinggal bersama-sama dengan ayah dan ibunya. Meski perceraian adalah suatu hal yang menyesakkan, namun ada sisi positif yang bisa diambil.

"Di dalam perceraian, yang berakhir adalah hubungan suami istri, bukan hubungan orang tua dan anak. Misalnya dalam suatu kasus, sebuah perceraian terjadi karena adanya kekerasan di dalam rumah tangga, dan kekerasan ini berlangsung setiap hari. Secara otomatis, dengan bercerai maka kekerasan akan berhenti," ucap psikolog Alzena Masykouri menyebutkan hal positif yang bisa diambil dari kasus perceraian orang tua.

Dampak Perceraian Kepada Anak

"Secara otomatis, dengan bercerai maka kekerasan akan berhenti dan anak tidak harus menanggung beban lagi ketika melihat kekerasan tersebut. Perceraian dalam kasus tersebut tidak membawa dampak negatif bagi anak. Anak dapat hidup dengan tenang dan nyaman," lanjut perempuan yang akrab disapa Zena. 

Hal positif lainnya adalah anak bisa lebih mandiri. Anak akan lebih tergerak melakukan segala sesuatu sendiri, misalnya berangkat sekolah sendiri, menyiapkan sarapan sendiri, dan sebagainya.

Ketika perceraian terjadi, menurut Zena, orang tua tidak sepenuhnya bersalah. Sebab tidak semua orang bisa berkompromi dengan ketidakcocokan pasangan. Namun demikian, rasa bersalah terhadap anak pasti dimiliki oleh orang tua yang bercerai.

"Untuk itu, sebaiknya orang tua mencurahkan banyak waktunya untuk memperhatikan dan mengurus tumbuh kembang anak. Anak juga tidak pantas disebut sebagai korban karena anak tetaplah seorang anak, yang berakhir bukan hubungan keluarga melainkan hanya hubungan suami istri," terang Zena.

Referensi : Dampak Perceraian Kepada Anak

Ini Dampak Positif dan Negatif Perceraian ke Anak

Ini Dampak Positif dan Negatif Perceraian ke Anak

Perceraian bisa memengaruhi perkembangan anak-anak. Tapi, di samping efek negatifnya ada pula dampak positif yang dirasakan anak-anak korban perceraian orangtua. Namun, perceraian dilihat dari kacamata psikologi tetap tak ada untungnya.


Menurutnya, ketika orangtua bercerai, salah satu figur orangtua akan hilang. Jika si anak kehilangan figur ibu, anak-anak akan melihat dunia mengancam dan tidak nyaman.
"Karena tak ada yang melindungi dan memberikan kenyamanan, dia merasa dunia tidak menyenangkan. Biasanya tumbuh menjadi pribadi yang melihat dunia dengan rasa yang rendah," kata Heri.


Ia menjelaskan, tidak aman yang dimaksud bukan hanya anak menjadi ketakutan. Tapi bisa dari berbagai perilaku.
Berikut dampak negatif menurut Heri:

  1. Tak ada figur ibu anak bisa menjadi pribadi yang waswas
  2. Minder dan tak percaya diri
  3. Kehilangan figur ayah bisa membuat anak berperilaku nakal karena peran superego tidak ada
  4. Anak menjadi tidak terkendali
  5. Anak suka memberikan pilihan yang tak terduga
Sementara dampak positif bercerai:
  1. Anak jadi lebih mandiri
  2. Anak mempunyai kemampuan bertahan (survive) karena terlatih untuk mendapatkan sesuatu dalam hidup bukan hal yang mudah
  3. Beberapa anak jadi lebih kuat dan bangkit

Demikian disampaikan Psikolog Klinis dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Heri Widodo, M.Psi

"Yang biasanya banyak dibicarakan itu dampak negatifnya. Tapi tergantung usia anak ketika orangtuanya bercerai," kata Heri.

"Tapi tidak semua orang seperti itu, karena setiap individu berbeda," ujar Heri.

Perceraian juga meninggalkan dampak bagi semua anggota keluarga baik terhadap pasangan yang bercerai maupun anak seperti perasaan kecewa, kesedihan, stress, marah, trauma, menurunnya prestasi, menyalahkan diri sendiri dan orang tua, dan putusnya tali silaturahmi diantara keluarga kedua belah pihak. 

Perceraian Pengaruhi Prestasi Anak

Perceraian Pengaruhi Prestasi Anak

Perceraian Pengaruhi Prestasi Anak. Perceraian yang dilakukan para orang tua ternyata berdampak besar pada prestasi para anak mereka. Bahkan hanya sedikit sekali anak yang bisa berprestasi dari keluarga yang bercerai tersebut.

Hal ini tercermin dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Sumarso, Guru Bimbingan Konseling di SMA Negeri 1 Asembagus, Situbondo, Jawa Timur dalam desertasinya untuk memperoleh gelar doktor psikologi Islam di Porgram Pasca-Sarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Perceraian Pengaruhi Prestasi Anak. Perceraian yang dilakukan para orang tua ternyata berdampak besar pada prestasi para anak mereka. Bahkan hanya sedikit sekali anak yang bisa berprestasi dari keluarga yang bercerai tersebut. Hal ini tercermin dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Sumarso, Guru Bimbingan Konseling di SMA Negeri 1 Asembagus, Situbondo, Jawa Timur dalam desertasinya untuk memperoleh gelar doktor psikologi Islam di Porgram Pasca-Sarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.      Sumarso melakukan penelitian terhadap 20 siswa dari SMAN I  Asembagus, Situbondo, jawa Timur. Para siswa ini berasal dari keluarga yang bercerai. Dari hasil penelitian tersebut terlihat hanya tiga siswa yang lulus sekolah tersebut dan diterima di Perguruan Tinggi Negeri terkemuka di Indonesia. Selebihnya mereka bisa lulus, namun tidak bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri.  "Yang menyebabkan prestasi belajar mereka menurun, antara lain karena faktor psikologi merka setelah perceraian kedua orang tuanya," terang Harsono saat mempertahankan desertasinya tersebut.  Disertasi yang berjudul “Pola Kehidupan Keluarga Cerai dan Dampak Psikologis terhadap Siswa” mengupas sebuah keluarga yang pada kenyataannya, tidak terlepas dari adanya permasalahan rumit yang disebabkan oleh perilaku-perilaku yang didominasi oleh nafsu. Jika persoalan tersebut tidak dapat dicarikan solusinya, akan menyebabkan terjadinya perceraian, dan hal ini akan berdampak pada psikologis anak.  Diakuinya, keluarga yang bercerai memang menunjukkan sering terjadinya perseteruan dan pertengkaran. Kehidupan keluarga cerai juga menunjukkan pola asuh yang cenderung bersifat otoriter.  “Adapun dampak perceraian adalah tidak terpenuhinya kebutuhan makan, pakaian, tempat tinggal, dan kesehatan serta kebersihan bagi anak-anaknya. Selain itu, anak-anak juga kehilangan rasa aman dan kasih sayang, sehingga mempengaruhi psikologi mereka, dan pada akhirnya berdampak pada prestasi belajarnya,” terangnya.  Untuk menghindari perceraian, Sumarso yang telah menjadi lulusan ke-5 dari angkatan pertama Program Doktor UMY ini, merekomendasikan beberapa hal, antara lain setiap keluarga harus dapat menciptakan rasa saling mencintai, menghargai, menghormati, dan mempercayai. Orang tua juga harus menjalin kedekatan dengan putra-putrinya, dengan menerapkan pola asuh yang tepat dan sesuai dengan perkembangannya.  “Semuanya juga harus berupaya untuk saling menghindari sikap-sikap tidak simpatik, tidak bertanggungjawab, perseteruan, sering marah, dan melakukan selingkuh,” terangnya. Sumarso sendiri dinyatakan lulus secara memuaskan.  Referensi : Perceraian Pengaruhi Prestasi Anak

Sumarso melakukan penelitian terhadap 20 siswa dari SMAN I  Asembagus, Situbondo, jawa Timur. Para siswa ini berasal dari keluarga yang bercerai. Dari hasil penelitian tersebut terlihat hanya tiga siswa yang lulus sekolah tersebut dan diterima di Perguruan Tinggi Negeri terkemuka di Indonesia. Selebihnya mereka bisa lulus, namun tidak bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri.

"Yang menyebabkan prestasi belajar mereka menurun, antara lain karena faktor psikologi merka setelah perceraian kedua orang tuanya," terang Harsono saat mempertahankan desertasinya tersebut.

Disertasi yang berjudul “Pola Kehidupan Keluarga Cerai dan Dampak Psikologis terhadap Siswa” mengupas sebuah keluarga yang pada kenyataannya, tidak terlepas dari adanya permasalahan rumit yang disebabkan oleh perilaku-perilaku yang didominasi oleh nafsu. Jika persoalan tersebut tidak dapat dicarikan solusinya, akan menyebabkan terjadinya perceraian, dan hal ini akan berdampak pada psikologis anak.

Diakuinya, keluarga yang bercerai memang menunjukkan sering terjadinya perseteruan dan pertengkaran. Kehidupan keluarga cerai juga menunjukkan pola asuh yang cenderung bersifat otoriter.

“Adapun dampak perceraian adalah tidak terpenuhinya kebutuhan makan, pakaian, tempat tinggal, dan kesehatan serta kebersihan bagi anak-anaknya. Selain itu, anak-anak juga kehilangan rasa aman dan kasih sayang, sehingga mempengaruhi psikologi mereka, dan pada akhirnya berdampak pada prestasi belajarnya,” terangnya.

Untuk menghindari perceraian, Sumarso yang telah menjadi lulusan ke-5 dari angkatan pertama Program Doktor UMY ini, merekomendasikan beberapa hal, antara lain setiap keluarga harus dapat menciptakan rasa saling mencintai, menghargai, menghormati, dan mempercayai. Orang tua juga harus menjalin kedekatan dengan putra-putrinya, dengan menerapkan pola asuh yang tepat dan sesuai dengan perkembangannya.

“Semuanya juga harus berupaya untuk saling menghindari sikap-sikap tidak simpatik, tidak bertanggungjawab, perseteruan, sering marah, dan melakukan selingkuh,” terangnya. Sumarso sendiri dinyatakan lulus secara memuaskan.

Referensi : Perceraian Pengaruhi Prestasi Anak



ANALISIS DAMPAK PERCERAIAN ORANG TUA TERHADAP ANAK REMAJA

ANALISIS DAMPAK PERCERAIAN ORANG TUA TERHADAP ANAK REMAJA

Anak cenderung melamun dan tidak aktif seperti biasanya. Dampak orang tua bercerai pada anak salah satunya adalah anak menjadi tidak percaya diri ketika berada di lingkungannya. Perceraian menjadi beban mental tersendiri buat anak, ketika anak-anak yang lain memiliki orang tua yang lengkap, sedangkan dirinya tidak.

Perceraian tidak hanya berdampak bagi yang bersangkutan (suami-isteri), namun juga melibatkan anak khususnya yang memasuki usia remaja, perceraian merupakan beban tersendiri bagi anak sehingga berdampak pada psikis. Reaksi anak terhadap perceraian orangtuanya, sangat dipengaruhi oleh cara orang tua berperilaku sebelum, selama dan sesudah perceraian. Metode dalam penulisan artikel ini menggunakan studi literatur. 

Studi literatur yaitu data sekunder yang dilakukan dengan diawali mencari kajian kepustakaan dari berbagai literatur seperti buku, jurnal ilmiah,  artikel, ataupun hasil penelitian sejenis yang telah dipublikasikan mengenai dampak perceraian orang tua terhadap anak remaja. Hingga saat ini dampak perceraian orang tua memang dapat memberikan dampak buruk bagi anak, baik fisik maupun psikologis anak. Sehingga perceraian memang perlu dipertimbangkan matang-matang, dan orang tua harus bisa memberikan pengertian yang baik kepada anak sehingga dapat mengurangi dan mengatasi dampak buruk pada anak pada saat perceraian terjadi. 

Tetapi fungsi keluarga untuk memberikan pengertian dan perhatian pada anak/remaja ternyata tidak berfungsi dalam kaitannya dengan kasus perceraian. Untuk mengatasi perlakuan salah tersebut, maka dalam praktik pekerjaan sosial, seorang pekerja sosial harus berupaya mewujudkan ketercapaian akan kesejahteraan bagi anak. Pekerja sosial dapat melakukan proses pertolongan sesuai dengan tahapan pertolongan pekerjaan sosial, pekerja sosial memberikan layanan konseling, serta  pekerja sosial memberikan layanan konseling keluarga.

Perceraian tidak hanya berdampak bagi yang bersangkutan (suami-isteri), namun juga melibatkan anak khususnya yang memasuki usia remaja, perceraian merupakan beban tersendiri bagi anak sehingga berdampak pada psikis. Reaksi anak terhadap perceraian orangtuanya, sangat dipengaruhi oleh cara orang tua berperilaku sebelum, selama dan sesudah perceraian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dampak psikologis pada anak akibat perceraian orangtua. 

Metode penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif, dengan pendekatan  survey fenomenologis. Populasi dalam penelitian ini seluruh remaja yang orang tuanya telah bercerai dengan rentang waktu minimal 1 tahun setelah perceraian dengan  purposive sampling sebanyak 30. Instrumen menggunakan kuesioner dan analisa univariat.  Dampak yang terjadi meliputi anak ingin menang sendiri28 (93%), sering tidak peka terhadap lingkungan 22 (73%), mudah marah jika orang lain tidak sesuai dengan keinginan saya 19 (63%), malu dengan perceraian orang tua 18 (60%), sulit fokus terhadap sesuatu 15 (50%), kehilangan rasa hormat dan mudah menyalahkan orang tua 15 (50%), tidak aman dengan lingkungan sekitar karena tidak ada orang tua yang melindungi secara utuh 15 (50%), melakukan sesuatu yang salah 13 (43%), tidak memiliki tujuan hidup 12 (40%), tidak memiliki etika dalam bermasyarakat 11 (36%, lebih mandiri 24 (80%), terlatih dalam kegiatan keseharian 20 (66%), cepat bangkit jika mengalami keterpurukan 12 (40%), Dengan demikian anak remaja dengan perceraian orang tua menimbulkan dampak psikologis negative maupun positif. Dampak negatif lebih banyak timbul dibandingkan dengan dampak positif.

Berbagai Masalah yang Dialami Anak Broken Home

Berbagai Masalah yang Dialami Anak Broken Home

Berbagai Masalah yang Dialami Anak Broken Home. roken home identik dengan perceraian orangtua karena pertengkaran atau KDRT. Namun, secara psikologi, anak bisa merasakan broken home pada keluarga utuh. Kondisi ini bisa berdampak pada perkembangan anak remaja. Berikut penjelasan seputar pengertian broken home sampai dampak pada anggota keluarga.

Apa itu broken home?

International Journal of Applied Research menerbitkan sebuah penelitian yang menjelaskan bahwa broken home adalah kondisi ketika keluarga tidak lagi utuh.

Ketidakutuhan keluarga bisa karena perceraian, salah satu orangtua meninggal atau masalah yang tidak terselesaikan dengan baik.

Bahkan bisa juga karena orang ketiga dalam urusan rumah tangga, misalnya orangtua, mertua, atau keberadaan wanita maupun pria idaman lain.

Mengutip dari situs resmi Brown University, idealnya keluarga adalah tempat anak tumbuh dan berkembang dengan sehat secara mental dan fisik.

Namun, ada kondisi yang membuat kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi.

Sebagai contoh, pertengkaran orangtua, kekerasan, dan pola komunikasi keluarga broken home yang membuat anak tidak bisa mengekspresikan perasaannya.

Selain karena perpisahan orangtua, ada lima tipe keluarga bisa membentuk broken home, yaitu sebagai berikut.

  1. Salah satu atau kedua orangtua kecanduan sesuatu (bekerja, narkoba, alkohol, judi).
  2. Orangtua melakukan kekerasan fisik pada anak atau anggota keluarga lain.
  3. Salah satu atau kedua orangtua melakukan eksploitasi terhadap anak.
  4. Terbiasa mengancam anak saat keinginan orangtua tidak terpenuhi.
  5. Orangtua otoriter dan tidak memberikan pilihan pada anak.

Meski tidak berpisah, mendengar pertengkaran orangtua setiap hari dapat melukai hati anak. Hal itu sering tidak orangtua sadari karena sibuk dengan urusannya sendiri.

Jika kondisi tersebut berlangsung lama, anak akan memunculkan berbagai reaksi sebagai bentuk ungkapan isi hati dan pikirannya.

Hal ini tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tapi juga memengaruhi hubungan anak dengan orang-orang di sekitarnya.

Dampak broken home pada anak

Perpecahan dan struktur keluarga broken home yang tidak sehat, bisa berdampak buruk pada perkembangan kesehatan mental anak.

Dampak broken home pada anak adalah sebagai berikut.

1. Masalah emosional

Perpisahan orangtua tentu menyisakan luka yang mendalam pada anak. Apalagi jika anak sudah memasuki usia sekolah atau bahkan remaja.

Berdasarkan penelitian World Psychiatry, perpisahan orangtua berisiko mengganggu kesehatan mental anak dan remaja.

Masa awal perceraian bisa memicu depresi dan rasa cemas pada anak-anak dan remaja.

Tak hanya itu, anak-anak juga lebih rentan mengalami stres dan depresi, yang merupakan keadaan emosional jangka panjang.

Di sisi lain, beberapa anak yang sudah beranjak dewasa mungkin menunjukkan reaksi emosional yang jauh lebih sedikit ketika menghadapi perpisahan orangtua.

2. Masalah pendidikan

Masalah lain yang mungkin dialami anak yang broken home adalah menurunnya prestasi akademik.

Sebenarnya, anak dengan orangtua yang berpisah tidak selalu memiliki masalah pada prestasi akademik.

Namun, studi dari Proceeding of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa perceraian yang tidak anak duga bisa berpengaruh pada konsentrasi belajar.

Meski begitu, tidak semua anak broken home mengalami hal yang sama. Ini karena berbagai masalah akademik dapat berasal dari sejumlah faktor.

Termasuk lingkungan rumah yang tidak kondusif, sumber daya keuangan yang tidak memadai, dan rutinitas yang tidak konsisten.

Alhasil, anak jadi malas belajar, sering bolos, atau membuat keributan di sekolah.

3. Masalah sosial

Kondisi keluarga yang tidak utuh juga dapat memengaruhi hubungan sosial anak dengan lingkungan sekitarnya.

Akibat perceraian atau peran orangtua yang hilang, sebagian anak akan melepaskan rasa kegelisahan mereka dengan bertindak agresif.

Tindakan agresif yang bisa anak lakukan adalah perilaku bullying (perundungan). Jika orangtua membiarkannya, hal ini dapat memengaruhi hubungan anak dengan teman sebayanya.

4. Rasa cemas berlebih

Masalah lainnya yang juga sering dialami anak broken home adalah munculnya rasa cemas berlebih.

Psikolog bernama Carl Pickhardt menjelaskan bahwa anak broken home akan memiliki sikap sinis dan rasa tidak percaya terhadap sebuah hubungan.

Rasa tidak percaya diri tersebut bisa timbul pada orangtua atau pasangannya kelak.

Kecemasan ini dapat membuat mereka sulit untuk melakukan interaksi sosial yang positif dan terlibat dalam kegiatan apa pun yang sifatnya berkelomp0k.

5. Perubahan peran anak

Perpisahan atau peran orangtua yang tidak optimal, membuat anak-anak mengalami perubahan peran saat usia muda.

Mereka perlu melakukan beberapa tugas rumah tangga dan mengambil peran tambahan dalam fungsi dasar rumah tangga yang baru.

Selain itu, pada beberapa keluarga yang bercerai, anak sulung sering mengambil peran orangtua bagi adik-adiknya.

Entah karena kesibukan orangtua untuk bekerja atau karena orangtua memang tidak bisa selalu hadir di sisi mereka seperti sebelum terjadinya perceraian.

American Sociological Association menerbitkan penelitian bahwa efek perceraian tidak hanya anak rasakan saat itu.

Efek dari perceraian orangtua juga bisa bertahan lama dalam jangka waktu yang panjang, sekitar 12-22 tahun setelah perpisahan.

Kebanyakan dari mereka akan menampilkan tekanan emosional yang tinggi dan masalah perilaku.

Tak jarang, banyak dari mereka yang sampai membutuhkan bantuan psikologis untuk membantu mengontrol emosinya sendiri.

Referensi : Berbagai Masalah yang Dialami Anak Broken Home



Hak Asuh (Hadhanah) Anak Angkat Akibat Perceraian Orang Tua Angkat dalam Perspektif Hukum Islam

Hak Asuh (Hadhanah) Anak Angkat Akibat Perceraian Orang Tua Angkat dalam Perspektif Hukum Islam

Hak Asuh (Hadhanah) Anak Angkat Akibat Perceraian Orang Tua Angkat dalam Perspektif Hukum Islam. Setiap perkawinan tentulah di harapkan akan bertahan seumur hidup. adakalanya harapan itu tidak tercapai karena rumah tangga yang di idam-idamkan berubah menjadi neraka. Dengan demikian terbukalah pintu percaraian. Perceraian dipilih karena ini adalah salah satunya jalan dalam mengurangi pertikaian bahtera rumah tangga. Sayangnya perceraian tidak selalu membawa dalam ketenangan, justru perceraian membuat berkorbanya seorang anak. Ini adalah yang memicu persoalan hak asuh anak, apalagi anak tersebut adalah anak angkat, anak yang bukan dari darah daging sendiri. Kemudian bagaimana anak angkat mendapatkan hak asuh dari orang tua angkatnya?.

Kedudukan anak angkat setelah orang tua angkatnya bercerai sama halnya dengan anak kandung dalam hal pemeliharan anak kecuali dalam hubungan nasab sehingga tidak mendapatkan waris, namun KHI mengisyaratkan wasiat wajibah terhadap anak angkat yang besarannya 1/3 saja, dengan demikian anak angkat dan anak kandung sama dalam hal pemeliharan, meskipun dalam perceraian anak angkat tidak berakibat tetapi dalam perceraian mengakibatkan hadhanah dan pemeliharaan anak, yang diperebutkan suami istri.

Selama anak angkat masih dibawah umur maka ia ikut dengan ibunya karena ibu lebih lemah lembut dan penuh kasih sayang, tetapi setelah ia dewasa dan cukup umur maka ia berhak memilih untuk ikut dengan siapa meskipun biaya pemeliharan dan kehidupannya di bebankan kepada ayah. Apabila anak angkatnya perempuan dan ingin menikah maka yang menjadi wali nikahnya tetap ayah kandungnya bukan ayah angkatnya.

Dalam hukum Islam, pengangkatan anak tidak berakibat hukum dalam hal habungan darah, hubungan wali-mewali, dan hubungan waris-mewaris dengan orang tua angkatnya. Hanya mendapatkan hak sama dengan anak kandung yaitu hak asuh (hadhanah), karena pemeliharaan anak bertujuan hanya untuk kesejahtraan dan perlindungan seorang anak, dan pemeliharan anak tidak memandang anak itu anak kandung atau anak angkat yang terpenting untuk kemaslahatan bersama. Sebagaimana di atur dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) sebagai pedoman hukum materiil peradilan agama dalam pasal 171 huruf h bahwa anak angkat anak yang dalam pemeliharaan untuk kehidupannya sehari-hari, biaya pendidikan dan sebagainya beralih tanggungjawabnya dari orang tua asal kepada orang tua angkatnya berdasarkan putusan putusan pengadilan.

Sejumlah Dampak Perceraian kepada Anak

ejumlah Dampak Perceraian kepada Anak. Hampir setengah dari pasangan menikah di Amerika Serikat akhirnya bercerai, menurut beberapa perkiraan. Karena itu sering terjadi, betapa sulit dan traumatisnya perceraian untuk anak-anak.   Penelitian yang diterbitkan oleh sosiolog Lisa Strohschein menunjukkan bahwa, bahkan sebelum pernikahan putus, anak-anak yang orangtuanya kemudian bercerai menunjukkan tingkat kecemasan, depresi, dan kecemasan yang lebih tinggi, dan perilaku antisosial daripada teman sebaya yang orangtuanya tetap menikah. Ada peningkatan lebih lanjut kecemasan dan depresi pada anak ketika orangtua melakukan perceraian.     Psikolog yang berbasis di AS Sharlene Wolchik dan rekan menemukan bahwa perceraian orangtua dikaitkan dengan risiko yang signifikan bagi anak-anak dan remaja, termasuk penyalahgunaan zat dan kecanduan, gangguan mental, masalah kesehatan fisik, dan hasil pendidikan yang buruk. Kehilangan traumatis perceraian Tidak selalu ada dukungan yang cukup atau bahkan pengakuan tentang yang bisa terjadi akibat perceraian traumatis bagi pasangan dan anak-anak mereka. Apa pun alasan perpisahan itu, biasanya ada perasaan sedih, kemarahan, pengkhianatan, rasa bersalah, dan rasa malu.    Kehancuran perkawinan dapat membuat kedua orangtua merasa tertekan dan stres. Ini dapat membangkitkan perasaan ditinggalkan, terisolasi, dan ketakutan yang primitif dan kuat.  Hal ini dapat menyebabkan kecemasan atau depresi. Tidak mudah memberi anak Anda yang mereka butuhkan saat Anda sangat rentan dan rapuh secara emosional. Secara praktis dan logistik, hal-hal bisa menjadi lebih sulit bagi Anda dan anak-anak Anda ketika pernikahan hancur. Perceraian sering membawa tekanan keuangan dan kesulitan sosial.  Anak-anak dapat percaya mereka sebagai penyebab perceraian orangtua mereka.   Rasa bersalah dan malu dapat membuat mereka merasa tidak berharga, cemas, dan depresi. Setiap bagian dari kehidupan mereka--pengaturan hidup, keputusan tentang sekolah, dan liburan--dapat penuh dengan konflik jika orangtua tidak dapat bekerja sama satu sama lain. Anda mungkin tidak menyukai atau mempercayai mantan, terutama di awal proses perpisahan dan perceraian. Bisa terasa sangat menyakitkan dan mengecewakan juga untuk berpisah dari anak-anak sementara mereka berada dalam pengasuhan orangtua mereka yang lain sangat mungkin orang yang paling tidak Anda sukai dalam situasi tersebut. Mungkin ada kekhawatiran yang realistis--terkadang terkait dengan penggunaan obat-obatan atau alkoho tentang keselamatan anak-anak dalam perawatan mantan Anda.  Beberapa orangtua bahkan khawatir tentang berbagai jenis pelecehan ketika anak-anak mereka bersama orangtua lain.   Namun, sebagian besar anak-anak harus mencari tempat yang aman untuk diri mereka sendiri di dua rumah yang terpisah. Adalah penting bahwa mereka dibantu untuk merasa betah di kedua tempat tersebut. Kadang-kadang bahkan bisa melegakan, setelah perceraian, bagi anak-anak untuk berada di lingkungan yang menyediakan kedamaian dan tidak ada ketegangan. Orangtua berperang Ketika ibu dan ayah mereka berada di kamp musuh, seorang anak harus mencoba mencari tahu siapa yang benar dan siapa yang salah, siapa yang baik dan siapa yang jahat. Jika seorang ibu percaya, misalnya, bahwa mantan suaminya berbahaya atau jahat, seorang anak mungkin merasa tidak aman dan tidak percaya kepada ayahnya. Anak mungkin menolak ayahnya untuk menjaga dirinya dan ibunya aman secara psikologis.   Mungkin sulit bagi seorang anak untuk mencintai dan mempercayai orangtua yang dibenci oleh orang lain. Kate Scharff, penulis Divorce and Parenting Wars, menulis bahwa sistem hukum sering kali membawa nada permusuhan yang tinggi pada perceraian. Kecuali keadaan Anda sedemikian rupa sehingga Anda tidak dapat menghindarinya, cobalah untuk tidak terlibat dalam pertempuran menang/kalah dengan seorang mantan.    Anak-anak hampir selalu menjadi korban dalam konflik ini. Mereka dapat merasa terkoyak ketika orangtua mereka tidak dapat mengatur pembubaran perkawinan mereka secara sipil, damai, dan penuh hormat.  Psikolog Kanada Arthur Leonoff menjelaskan dalam bukunya The Good Divorce alasan perceraian begitu sulit bagi anak-anak dan yang dapat dilakukan orangtua dan terapis untuk membantu mereka. Menjaga citra mental berharga anak tentang dirinya dengan kedua orangtua kandungnya sangat penting, menurut Leonoff, karena citra mental ini membentuk dasar dari citra identitas anak.

Sejumlah Dampak Perceraian kepada Anak. Hampir setengah dari pasangan menikah di Amerika Serikat akhirnya bercerai, menurut beberapa perkiraan. Karena itu sering terjadi, betapa sulit dan traumatisnya perceraian untuk anak-anak. 

Penelitian yang diterbitkan oleh sosiolog Lisa Strohschein menunjukkan bahwa, bahkan sebelum pernikahan putus, anak-anak yang orangtuanya kemudian bercerai menunjukkan tingkat kecemasan, depresi, dan kecemasan yang lebih tinggi, dan perilaku antisosial daripada teman sebaya yang orangtuanya tetap menikah. Ada peningkatan lebih lanjut kecemasan dan depresi pada anak ketika orangtua melakukan perceraian.   

Psikolog yang berbasis di AS Sharlene Wolchik dan rekan menemukan bahwa perceraian orangtua dikaitkan dengan risiko yang signifikan bagi anak-anak dan remaja, termasuk penyalahgunaan zat dan kecanduan, gangguan mental, masalah kesehatan fisik, dan hasil pendidikan yang buruk. Kehilangan traumatis perceraian Tidak selalu ada dukungan yang cukup atau bahkan pengakuan tentang yang bisa terjadi akibat perceraian traumatis bagi pasangan dan anak-anak mereka. Apa pun alasan perpisahan itu, biasanya ada perasaan sedih, kemarahan, pengkhianatan, rasa bersalah, dan rasa malu.  

Kehancuran perkawinan dapat membuat kedua orangtua merasa tertekan dan stres. Ini dapat membangkitkan perasaan ditinggalkan, terisolasi, dan ketakutan yang primitif dan kuat.  Hal ini dapat menyebabkan kecemasan atau depresi. Tidak mudah memberi anak Anda yang mereka butuhkan saat Anda sangat rentan dan rapuh secara emosional. Secara praktis dan logistik, hal-hal bisa menjadi lebih sulit bagi Anda dan anak-anak Anda ketika pernikahan hancur. Perceraian sering membawa tekanan keuangan dan kesulitan sosial.  Anak-anak dapat percaya mereka sebagai penyebab perceraian orangtua mereka. 

Rasa bersalah dan malu dapat membuat mereka merasa tidak berharga, cemas, dan depresi. Setiap bagian dari kehidupan mereka--pengaturan hidup, keputusan tentang sekolah, dan liburan--dapat penuh dengan konflik jika orangtua tidak dapat bekerja sama satu sama lain. Anda mungkin tidak menyukai atau mempercayai mantan, terutama di awal proses perpisahan dan perceraian. Bisa terasa sangat menyakitkan dan mengecewakan juga untuk berpisah dari anak-anak sementara mereka berada dalam pengasuhan orangtua mereka yang lain sangat mungkin orang yang paling tidak Anda sukai dalam situasi tersebut. Mungkin ada kekhawatiran yang realistis--terkadang terkait dengan penggunaan obat-obatan atau alkoho tentang keselamatan anak-anak dalam perawatan mantan Anda.  Beberapa orangtua bahkan khawatir tentang berbagai jenis pelecehan ketika anak-anak mereka bersama orangtua lain. 

Namun, sebagian besar anak-anak harus mencari tempat yang aman untuk diri mereka sendiri di dua rumah yang terpisah. Adalah penting bahwa mereka dibantu untuk merasa betah di kedua tempat tersebut. Kadang-kadang bahkan bisa melegakan, setelah perceraian, bagi anak-anak untuk berada di lingkungan yang menyediakan kedamaian dan tidak ada ketegangan. Orangtua berperang Ketika ibu dan ayah mereka berada di kamp musuh, seorang anak harus mencoba mencari tahu siapa yang benar dan siapa yang salah, siapa yang baik dan siapa yang jahat. Jika seorang ibu percaya, misalnya, bahwa mantan suaminya berbahaya atau jahat, seorang anak mungkin merasa tidak aman dan tidak percaya kepada ayahnya. Anak mungkin menolak ayahnya untuk menjaga dirinya dan ibunya aman secara psikologis. 

Mungkin sulit bagi seorang anak untuk mencintai dan mempercayai orangtua yang dibenci oleh orang lain. Kate Scharff, penulis Divorce and Parenting Wars, menulis bahwa sistem hukum sering kali membawa nada permusuhan yang tinggi pada perceraian. Kecuali keadaan Anda sedemikian rupa sehingga Anda tidak dapat menghindarinya, cobalah untuk tidak terlibat dalam pertempuran menang/kalah dengan seorang mantan.  

Anak-anak hampir selalu menjadi korban dalam konflik ini. Mereka dapat merasa terkoyak ketika orangtua mereka tidak dapat mengatur pembubaran perkawinan mereka secara sipil, damai, dan penuh hormat.  Psikolog Kanada Arthur Leonoff menjelaskan dalam bukunya The Good Divorce alasan perceraian begitu sulit bagi anak-anak dan yang dapat dilakukan orangtua dan terapis untuk membantu mereka. Menjaga citra mental berharga anak tentang dirinya dengan kedua orangtua kandungnya sangat penting, menurut Leonoff, karena citra mental ini membentuk dasar dari citra identitas anak.

Psikolog Ungkap Dampak Perceraian Orangtua Sambung pada Anak (Bisa Timbulkan Trauma)

Psikolog Ungkap Dampak Perceraian Orangtua Sambung pada Anak (Bisa Timbulkan Trauma). Perceraian tidak pernah mudah bagi siapapun. Tidak hanya bagi dua orang dewasa yang memutuskan untuk berpisah, juga pada anak-anak mereka. Perceraian orangtua memang bisa menjadi sesuatu yang menyakitkan bagi anak. Tidak hanya perpisahan orangtua kandung, perceraian orangtua sambung pun juga dapat memberikan dampak yang buruk bagi psikologis anak. Terlebih, jika sang anak sambung sudah terlanjur dekat dengan orangtua sambungnya. Seperti kasus perceraian komedian Sule dan Nathalie Holscher yang belakangan ini menyorot perhatian publik. Banyak netizen yang menyayangkan perpisahan tersebut, karena Nathalie Holscher, sebagai ibu sambung, dinilai sudah dekat dengan anak-anak Sule. Terutama dengan Ferdi, putra bungsu Sule bersama mendiang Lina Jubaedah. Lantas, bagaimana sih dampak perceraian orangtua sambung bagi anak sambungnya? Akankah sakitnya sama seperti perpisahan orangtua kandung? “Perceraian orangtua, baik yang orangtua kandung atau orang tua sambung, sama-sama akan berdampak pada psikologis anak,” kata psikolog klinis Meity Arianty. Meity menjelaskan, bukan perceraian yang bisa membuat seorang anak terpuruk, trauma, menderita atau mengalami dampak psikologis lainnya. Tetapi, cara bagaimana perceraian atau perpisahan itulah yang memberikan dampak psikologis pada anak.  “Jika Anda berpisah atau bercerai, Anda seharusnya melakukannya dengan cara yang lebih dewasa. Ingatlah bahwa itu masalah Anda berdua dengan pasangan, sehingga jangan melibatkan anak-anak dalam pertarungan, pertengkaran, atau permasalahan Anda,” katanya. Lebih lanjut, Meity menjelaskan, bahwa biasanya anak sambung bisa lebih mudah move-on dibanding anak kandung. Hal ini terjadi karena keterikatan psikologis dengan orangtua sambung yang belum terlalu kuat atau karena masih menganggap orang tua sambung bukanlah orangtua kandung, sehingga lebih mudah bila tiba-tiba menjadi orang lain.  Meski begitu, sayangnya seringkali anak menjadi korban dalam perceraian atau perpisahan orangtua. Dalam hal ini, Meity juga memberikan saran untuk meminimalisir dampak psikologis yang bisa didapatkan anak dari perceraian.  “Untuk meminimalisir dampak psikologis yang terjadi pada anak sambung, maka berpisahlah dengan cara dewasa,” ujarnya.  “Jangan saling menyalahkan, menjelekkan, memojokkan, dan alasan-alasan lain yang membuat hubungan menjadi retak,” kata dia. Menurut Meity, apapun yang diawali dengan baik sebaiknya diakhiri dengan baik.  “Dan yang paling penting, jadilah cermin yang mengajarkan cara atau perilaku yang baik bagi anak-anak Anda, mau itu anak sambung atau anak  kandung,” kata Meity. Referensi : Psikolog Ungkap Dampak Perceraian Orangtua Sambung pada Anak (Bisa Timbulkan Trauma)

Psikolog Ungkap Dampak Perceraian Orangtua Sambung pada Anak (Bisa Timbulkan Trauma). Perceraian tidak pernah mudah bagi siapapun. Tidak hanya bagi dua orang dewasa yang memutuskan untuk berpisah, juga pada anak-anak mereka.
Perceraian orangtua memang bisa menjadi sesuatu yang menyakitkan bagi anak. Tidak hanya perpisahan orangtua kandung, perceraian orangtua sambung pun juga dapat memberikan dampak yang buruk bagi psikologis anak.
Terlebih, jika sang anak sambung sudah terlanjur dekat dengan orangtua sambungnya. Seperti kasus perceraian komedian Sule dan Nathalie Holscher yang belakangan ini menyorot perhatian publik.
Banyak netizen yang menyayangkan perpisahan tersebut, karena Nathalie Holscher, sebagai ibu sambung, dinilai sudah dekat dengan anak-anak Sule. Terutama dengan Ferdi, putra bungsu Sule bersama mendiang Lina Jubaedah.
Lantas, bagaimana sih dampak perceraian orangtua sambung bagi anak sambungnya? Akankah sakitnya sama seperti perpisahan orangtua kandung?
“Perceraian orangtua, baik yang orangtua kandung atau orang tua sambung, sama-sama akan berdampak pada psikologis anak,” kata psikolog klinis Meity Arianty.
Meity menjelaskan, bukan perceraian yang bisa membuat seorang anak terpuruk, trauma, menderita atau mengalami dampak psikologis lainnya. Tetapi, cara bagaimana perceraian atau perpisahan itulah yang memberikan dampak psikologis pada anak. 
“Jika Anda berpisah atau bercerai, Anda seharusnya melakukannya dengan cara yang lebih dewasa. Ingatlah bahwa itu masalah Anda berdua dengan pasangan, sehingga jangan melibatkan anak-anak dalam pertarungan, pertengkaran, atau permasalahan Anda,” katanya.
Lebih lanjut, Meity menjelaskan, bahwa biasanya anak sambung bisa lebih mudah move-on dibanding anak kandung. Hal ini terjadi karena keterikatan psikologis dengan orangtua sambung yang belum terlalu kuat atau karena masih menganggap orang tua sambung bukanlah orangtua kandung, sehingga lebih mudah bila tiba-tiba menjadi orang lain. 
Meski begitu, sayangnya seringkali anak menjadi korban dalam perceraian atau perpisahan orangtua. Dalam hal ini, Meity juga memberikan saran untuk meminimalisir dampak psikologis yang bisa didapatkan anak dari perceraian. 
“Untuk meminimalisir dampak psikologis yang terjadi pada anak sambung, maka berpisahlah dengan cara dewasa,” ujarnya. 
“Jangan saling menyalahkan, menjelekkan, memojokkan, dan alasan-alasan lain yang membuat hubungan menjadi retak,” kata dia.
Menurut Meity, apapun yang diawali dengan baik sebaiknya diakhiri dengan baik. 
“Dan yang paling penting, jadilah cermin yang mengajarkan cara atau perilaku yang baik bagi anak-anak Anda, mau itu anak sambung atau anak  kandung,” kata Meity.
Referensi : Psikolog Ungkap Dampak Perceraian Orangtua Sambung pada Anak (Bisa Timbulkan Trauma)