This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Jumat, 26 Agustus 2022

Efek Perceraian Terhadap Pria, dari Kematian Dini Hingga Risiko Bunuh Diri

Efek Perceraian Terhadap Pria (dari Kematian Dini Hingga Risiko Bunuh Diri)

Efek Perceraian Terhadap Pria, dari Kematian Dini Hingga Risiko Bunuh Diri. Meskipun pria yang bercerai kebanyakan menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja, nyatanya beberapa dari mereka juga ada yang terpuruk dan merasa depresi. Sebuah studi terbaru dari Amerika Serikat bahkan mengungkapkan bahwa perceraian juga memicu masalah bagi kesehatan pria.

Studi ini mengungkapkan bahwa pria yang bercerai lebih mungkin untuk mengalami kematian dini, melakukan penyalahgunaan zat, dan bahkan depresi hingga ingin bunuh diri. Tak hanya itu, pria yang mengalami perceraian juga cenderung lebih mudah 'menyerah' terhadap penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan stroke di usia yang lebih dini, 

Sebuah studi kasus yang dilakukan oleh Dr Daniel Felix, dari University of Nebraska, AS, mengatakan bahwa profesional kesehatan harus memahami apa saja masalah kesehatan pria, sebab seringkali pria enggan untuk mengakuinya karena malu.

Studi ini ia lakukan pada seorang pria kulit putih berusia 45 tahun yang diketahui mengalami proses perceraian yang sulit. Pria ini mengunjungi seorang dokter untuk pertama kalinya dalam 10 tahun dan mengeluh sulit tidur, serta sakit perut terus-menerus.

Pria tersebut kemudian mengungkapkan bahwa ia kini memiliki kebiasaan minum 6 kaleng bir sehari. Ia juga menceritakan bahwa akhir-akhir ini mulai membenci pekerjaannya di sebuah bank lokal dan cepat jengkel dengan rekan-rekannya. Tak hanya itu, ia mengeluhkan aksesnya untuk bertemu anak-anaknya semakin sulit.

Para peneliti melaporkan kondisi fisik pria tersebut stabil. Menurut para peneliti, pria ini mengalami depresi yang berhubungan dengan perceraiannya. Mereka pun memperingkatkan dokternya tentang pengobatan dengan dasar psikologis. Namun dokter justru merekomendasikan asupan nutrisi yang baik, rajin olahraga dan tidur cukup.

"Persepsi pria di masyarakat sebagai makhluk yang tangguh, ulet, dan kurang rentan terhadap trauma psikologis jika dibandingkan dengan wanita membuat mereka dianggap tidak bermasalah dengan perceraian," ungkap Prof Ridwan Shabsigh, dari Cornell University di AS dan presiden dari International Society of Men's Health.

Menurut Prof Shabsigh, faktanya pria juga terpengaruh secara substansial oleh trauma psikologis dan aktivitas kehidupan negatif seperti perceraian, kebangkrutan, perang dan kematian. Oleh sebab itu, penelitian lebih lanjut akan sangat dibutuhkan untuk menemukan prevalensi dan dampak dari efek tersebut, sehingga diagnosis baru bisa dikembangkan, lengkap dengan pedoman pengobatannya bagi para praktisi," ujar Prof Shabsigh.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Men's Health ini menyarankan para pria untuk berkonsultasi dengan terapis jika mengalami perceraian dan membutuhkan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan agar bisa diatasi dengan segera.

Referensi : Efek Perceraian Terhadap Pria (dari Kematian Dini Hingga Risiko Bunuh Diri)


Dampak perceraian pada pria

Dampak perceraian pada pria

Dampak perceraian bisa jadi lebih besar pada pria karena pria cenderung tidak tertarik mencari dukungan secara emosional dari orang-orang sekitarnya. Selain itu, seusai perceraian, pria lebih berisiko mengalami depresi, kekurangan dukungan sosial, dan menyalahgunakan zat-zat tertentu.

Dampak perceraian baik untuk pria dan wanita akan sangat besar dalam psikologis, salah satunya membuka potensi untuk mengalami depresi. 

Pernikahan menjadi hubungan yang sangat sakral untuk pria dan wanita. Namun, tidak semua pasangan bisa mempertahankan hubungan pernikahan hingga akhirnya menggugat cerai. Dampak perceraian bisa sangat berbahaya bagi psikologis dan mental seseorang.

Karena bukan masalah yang sepele, Anda harus bijaksana dalam memandang sebuah perceraian. Pasalnya, dampak perceraian akan terbawa sampai kapan pun dan bisa menimbulkan trauma pada seseorang.

Dampak perceraian secara psikologis
Rasa marah
Rasa cemas
Depresi
Rasa cemburu
Cara pria dan wanita menyikapi dampak perceraian
Dampak perceraian pada pria
Dampak perceraian pada wanita
x

Perceraian mengakibatkan banyak perubahan dalam hidup seseorang. Dampak perceraian yang dirasakan oleh pria dan wanita sebenarnya sama aja. Keduanya dapat merasa marah, cemas, depresi, dan cemburu.

Rasa marah bisa saja muncul setelah proses perceraian ketika masalah-masalah yang sebelumnya diabaikan muncul dan dibahas kembali.

Rasa cemas karena perubahan-perubahan yang dialami seusai perceraian adalah hal yang wajar terjadi. Setelah mengambil keputusan yang besar, seperti perceraian, wanita maupun pria akan merasa takut dengan ketidakpastian setelah perceraian. Bahkan pergantian rutinitas bisa menjadi salah satu pemicu dari rasa cemas setelah proses perceraian.

Depresi dapat timbul karena rasa bersalah ataupun hilangnya ambisi setelah perceraian. Dampak perceraian yang satu ini mampu menghilangkan kesenangan atau ketertarikan kedua belah pihak terhadap hal-hal yang senang dilakukan.

Meskipun sudah tidak tinggal seatap dan tidak lagi terikat sebagai suami istri, tetapi mengetahui mantan suami atau istri sedang berpacaran atau dekat dengan orang lain tentunya mampu memicu perasaan cemburu terhadap kehidupan pihak lainnya.

Seperti yang telah disebutkan, baik pria maupun wanita sebenarnya merasakan dampak perceraian secara psikologis. Namun, penelitian menunjukkan bahwa dampak perceraian di tahun-tahun pertama lebih parah pada pria ketimbang pada wanita.

Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa pada tahun pertama perceraian, pria lebih merasakan dampak perceraian terhadap kepuasaan hidup dan keluarga, sementara wanita lebih merasakan dampak perceraian terhadap ekonomi rumah tangga.

Meskipun demikian, pada tahun-tahun berikutnya, pria dan wanita tidak memiliki perbedaan dampak perceraian yang menonjol. 

Dampak perceraian bisa jadi lebih besar pada pria karena pria cenderung tidak tertarik mencari dukungan secara emosional dari orang-orang sekitarnya. 

Selain itu, seusai perceraian, pria lebih berisiko mengalami depresi, kekurangan dukungan sosial, dan menyalahgunakan zat-zat tertentu. 

Pria yang lebih senang mengungkapkan perasaannya melalui tindakan akan lebih condong untuk mengungkapkan perasaannya terhadap perceraian yang dialami dalam bentuk menghindari tempat tinggal mereka, bekerja jauh lebih keras di kantor, dan sebagainya.

Penelitian lain mendapati bahwa pria lebih berisiko untuk melakukan tindakan bunuh diri daripada wanita selama proses perceraian berlangsung.

Sebuah riset menelusuri dampak perceraian secara psikologis pada wanita dan menemukan bahwa wanita yang bercerai memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibanding wanita yang menikah. Hal ini berpotensi menimbulkan depresi.

Perceraian mampu membuat seorang wanita merasa tidak bahagia dan kesepian. Para wanita yang sudah bercerai mungkin memiliki kekhawatiran dalam segi mencari pasangan yang tepat untuknya di masa depan.

Emosi lain yang dapat dirasakan oleh wanita yang bercerai adalah rasa bersalah. Perasaan bersalah tersebut bisa terlahir dari pemikiran bahwa sang wanita belum berusaha maksimal dalam mempertahankan pernikahannya.

Namun, dibalik dampak perceraian yang negatif secara psikologis pada wanita, terdapat juga dampak perceraian yang positif untuk para wanita. 

Beberapa wanita yang bercerai menganggap perceraian sebagai periode untuk mengembangkan diri dan menjadi mandiri, serta mampu mengambil keputusan sendiri.


Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mencari bantuan atau dukungan sosial dan emosional dari orang-orang sekitar. Menjadi lebih terbuka dengan menceritakan apa yang dirasakan dan dipikirkan dapat membantu Anda untuk tidak merasa kesepian.

Anda juga bisa berkonsultasi dengan psikolog, konselor, ataupun psikiater jika Anda merasa perceraian yang dilalui mengganggu kehidupan sehari-hari. Bila Anda atau kerabat mengalami depresi atau memiliki keinginan untuk bunuh diri selama proses perceraian, segeralah kunjungi psikolog, konselor, atau psikiater.


Tetap menjaga komunikasi yang baik dengan pasangan akan menjaga keharmonisan rumah tangga. Untuk mencegah niat cerai, Anda juga perlu tahu dampak perceraian untuk psikologis pasangan dan anak nantinya. Mintalah pertolongan jika memang tetap harus menjalani proses perceraian.


Referensi : Dampak perceraian pada pria



Efek Buruk Perceraian Bagi Anak

Efek Buruk Perceraian Bagi Anak

Efek Buruk Perceraian Bagi Anak. Sebetulnya perceraian ialah hal yang paling dihindari oleh pasangan suami istri. Namun, hal ini harus dilakukan saat perdebatan di antara suami dan istri sudah tidak lagi menemukan titik temu. Masalah yang hadir buka hanya sekadar pertengkaran, biasanya perbedaan, ketidakcocokan intelektual, kurangnya komunikasi, dan lunturnya komitmen menjadi alasan pasangan suami istri ingin mengakhiri hubungan rumah tangga.

Permasalahan pascaperceraian pun pasti akan datang, apalagi jika kamu dan pasangan sudah memiliki anak. Kamu harus memikirkan baik-baik efek perceraian bagi anak yang kebanyakan buruk bagi sisi psikologisnya. Anak akan merasa keluarganya sudah tidak lagi sempurna, sehingga akan muncul rasa iri terhadap teman-teman sepermainannya yang sering kali menghabiskan waktu bersama kedua orangtuanya. Anak akan merasakan sedih dan kecewa yang cukup dalam ketika mengetahui kedua orangtua mereka akan bercerai.

Berikut ini terdapat beberapa efek perceraian bagi anak:

  1. Anak akan Merasa Bersalah

Pikiran anak-anak memang kerap kali belum matang, sehingga saat orangtua memutuskan untuk bercerai mereka akan merasa bahwa hal ini terjadi karenanya. Mereka akan merasa sangat bersalah, apalagi jika anak masih berusia di bawah 12 tahun. Mereka tergolong sangat rapuh dalam menghadapi hal ini. Anak akan merasa jika dunia mereka menjadi berantakan setelah kedua orangtua bercerai.

  1. Anak Jadi Paranoid

Saat orangtua memutuskan untuk bercerai, maka anak akan berisiko kehilangan rasa percaya diri, ketenangan batin, dan kehilangan cita-cita. Mereka tidak lagi memiliki semangat dalam menjalani kehidupan. Hasilnya, mereka akan berkembang menjadi pribadi yang paranoid. Sifat ini akan membuatnya menarik diri dari pergaulan di masyarakat dan ia akan memilih untuk bersembunyi dalam kesendirian atau malah menjadi seorang pribadi yang kasar.

  1. Bertabiat Buruk

Anak-anak korban perceraian biasanya cenderung merasa tidak memiliki arah tujuan hidup dan tidak memiliki pendukung dalam hidupnya. Mereka akan menjadi anak yang di luar kendali dan lebih agresif. Mereka juga cenderung lebih mudah terlibat dalam penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang.

  1. Tidak Mau Menikah

Rasa trauma yang terjadi akibat perceraian akan membuat anak menghindari pernikahan saat ia dewasa. Ia akan merasa enggan melangsungkan pernikahan karena takut mengalami hal yang sama seperti orangtua mereka. Parahnya lagi, mereka bahkan enggan menjalin hubungan akibat rasa trauma mendalam.

  1. Kualitas Kehidupan yang Rendah

Anak-anak yang kedua orangtuanya bercerai biasanya mengalami penurunan kualitas kehidupan. Hal ini disebabkan uang saku mereka berkurang, karena orangtua mereka sudah enggan berkomunikasi untuk tetap memenuhi kebutuhan hidup sang anak.

  1. Penurunan Akademik

Menurut beberapa penelitian, anak-anak korban perceraian akan mengalami masalah perilaku. Kegiatan belajar mereka cenderung tidak lagi ada yang mengontrol, sehingga berdampak pada kemampuan akademik mereka.

  1. Kesepian

Ini adalah salah satu dampak psikis yang pasti terjadi pada anak korban perceraian. Rasa kesepian inilah yang akan sangat mencolok, sebab mereka akan merasakan kehilangan salah satu orangtuanya.

Referensi : Efek Buruk Perceraian Bagi Anak




Upaya Memberi Perlindungan Bagi Anak Korban Perceraian Orang Tuanya di Pengadilan Agama

Upaya Memberi Perlindungan Bagi Anak Korban Perceraian Orang Tuanya di Pengadilan Agama

Perkawinan merupakan perpaduan dua insan dalam suatu ikatan untuk menjalani hidup besama. Perkawinan sebagai perbuatan hukum menimbulkan tanggung jawab antara suami istri, oleh karena itu perlu adanya peraturan hukum yang mengatur tentang hak dan kewajiban dalam suatu perkawinan. Perkawinan ini sudah merupakan kodratnya manusia mempunyai naluri untuk tetap mempertahankan generasi atau keturunannya. Ketika rumah tangga sudah mempunyai keturunan, sering kali tujuan berumah tangga untuk membangun rumah tangga bahagia tidak lagi tercapai, dan pada akhirnya berujung pada perceraian, pada hal, akhir dari perjalanan berumah tangga seperti itu tidak pernah dicita-citakan.

Angka perceraian di Indonesia pada setiap tahunnya mengalami tren kenaikan yang cukup signifikan. Dr. Kamarudin Amin, Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kementrian Agama RI, mengakui akan hal itu. Beliau tidak menafikan data yang dilaporkan Setjen Badilag Mahkamah Agung Republik Indonesia pada tahun ini per Agustus 2020 angka perceraian yang dilaporkan oleh Dirjen Badilag MA sudah mencapai angka 306.688 kasus. Dimana angka perceraian di Indonesia pada tahun 2019 berjumlah 480.618 kasus, mengalami kenaikan sebesar 12 % bila dibandingkan tahun sebelumnya, dimana pada tahun 2018 sebanyak 444.358 kasus.

Referensi : Upaya Memberi Perlindungan Bagi Anak Korban Perceraian Orang Tuanya di Pengadilan Agama



Dampak Perceraian Terhadap Anak Usia Dini

Dampak Perceraian Terhadap Anak Usia Dini

Dampak Perceraian Terhadap Anak Usia Dini. Perceraian adalah terputusnya ikatan hubungan suami istri karena kegagalan mereka dalam menjalankan peran sebagai suami maupun istri. Banyak faktor yang menyebabkan perceraian salah satunya yaitu: moral, meninggalkan kewajiban sebagai seorang suami atau istri, penganiayaan, dan masih banyak lagi. Kasus perceraian di Indonesia sendiri makin meningkat dari tahun ke tahun, ditambah dengan adanya pandemi COVID-19 kasus perceraian tambah melonjak tinggi. Kemenag mencatat kasus perceraian saat pandemi di Indonesia sudah mencapai 306.688 kasus per Agustus nya (2020). Perceraian juga berpengaruh pada perkembangan anak. Pada beberapa anak korban perceraian, ada beberapa dari mereka akan merasa kehilangan cinta dan kasih sayang dari orang tua mereka dan juga merasa berbeda dari teman-teman lainnya yang menyebabkan beberapa aspek perkembangan anak terhambat.

Arti keluarga bagi anak ialah tempat untuk memperoleh kasih sayang, tempat berlindung, tempat untuk menyampaikan keluh kesah masalah mereka, dan sumber kebahagiaan mereka. Keluarga juga sangat penting untuk perkembangan anak, baik secara psikologi maupun fisik. Masa saat perceraian terjadi adalah masa yang sulit bagi anak-anak, terlebih untuk anak di bawah umur. Keadaan ini mengembangkan emosi anak yang bermacam-macam pada anak, dan perceraian ini cenderung mengembangkan emosi anak ke sisi negatif. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam batin dan perasaan anak, dan pada masa ini juga mau tidak mau anak harus beradaptasi dengan perubahan dalam hidupnya. Yang awalnya sang anak tinggal bersama ayah dan ibunya, tetapi harus menerima jika setelah kedua orang tuanya bercerai ia harus tinggal bersama salah satu dari orang tuanya.

Dampak negatif pada anak bersumber dari keluarga yang bermasalah seperti kurang memperhatikan perkembangan anak, komunikasi tidak terjalin dengan baik, dan tidak ada penjelasan tentang apa yang terjadi di keluarganya. Dan hal-hal inilah yang membuat anak pasca perceraian merasa tidak aman (insecure), merasa tidak diterima oleh keluarganya, sedih, kesepian, kehilangan, menyalahkan diri sendiri, dan merasa tidak ada yang menyayanginya. Sehingga anak merasa tertekan dengan keadaan dan lingkungannya, dalam hal ini kondisi emosi yang sering ditunjukkan oleh anak broken home (anak korban perceraian) biasanya kurang bisa mengontrol emosinya saat marah, membangkang, sering menangis, cepat marah, kasar, malu, dan akan melampiaskan kemarahannya kepada siapa saja ketika keinginannya tidak terpenuhi.

Ketika dewasa anak menjadi takut gagal serta takut menjalin hubungan dengan beberapa orang, karena anak yang memiliki masalah keluarga akan mengenang apa saja yang ia lihat, meskipun anak mencoba melupakan tetapi tetap saja apa yang ia lihat akan terus tersimpan di dalam memori otak dan ingatannya sampai ia dewasa. Saat dewasa mungkin anak telah memaafkan apa yang terjadi pada masa lalunya, tetapi rasa trauma masih ada di dalam diri sang anak walau sudah tidak sebesar dulu. Dampak perceraian terhadap anak usia dini bisa berbeda-berbeda, serta dampak negatif dan rasa trauma ini bisa ditangani dengan berbagai macam cara, salah satunya bisa dengan terapi dan konsultasi ke psikologi anak.

Terlepas dari metode terapi dan konsultasi, dukungan orang tua dan lingkungan sangatlah penting untuk menyembuhkan rasa trauma pada anak. Orang tua bisa meyakinkan sang anak bahwa meskipun kedua orang tuanya bercerai, tetapi rasa kasih sayang yang mereka beri tak berkurang sedikitpun. Juga membantu anak untuk beradaptasi dengan lingkungan dan kehidupan barunya serta tidak memaksa untuk memilih antara ayah dan ibu, tetapi tetap mengajarkan untuk menyayangi keduanya. Lingkungan pun sangat berpengaruh untuk menangani hal ini, di lingkungan sekolah orang tua bisa bekerja sama dengan guru sang anak. Karena guru membantu dalam mengembangkan emosional anak menjadi lebih baik pasca perceraian orang tua sang anak. Upaya yang bisa dilakukan oleh guru di sekolah yaitu dengan melakukan pendekatan, dukungan, dan mengajak anak untuk melakukan berbagai kegiatan yang menarik untuk mengembangkan sikap dan perilaku sosial sang anak.

Jika dampak ini ditangani dengan baik, maka akan menjadi dampak positif bagi anak. Dan malah bisa jadi perkembangan anak korban perceraian bisa lebih baik daripada perkembangan anak yang keluarganya utuh. Seperti meningkatnya rasa empati dan simpati, lebih percaya diri, lebih berani, cepat dan tanggap dalam mengambil keputusan, menyayangi sesama, dan lain-lain.

7 Kesalahan Fatal Dampak Perceraian Orang Tua pada Anak

7 Kesalahan Fatal Dampak Perceraian Orang Tua pada Anak

7 Kesalahan Fatal Dampak Perceraian Orang Tua pada Anak. Perceraian diibaratkan sebagai tindakan amputasi dalam dunia medis. Mungkin secara pribadi, Anda bisa bertahan, tetapi selalu ada yang kurang dan tidak seimbang.

Hal tersebut merupakan ungkapan yang cukup populer untuk menggambarkan terjadinya kerusakan mental akibat perceraian. Sebuah perceraian tak hanya melibatkan Anda dan pasangan saja, tetapi juga merugikan anak-anak.

Perceraian dengan melibatkan anak-anak akan memberikan efek yang jauh lebih dahsyat karena meninggalkan trauma psikologis. Seringkali sebagai orang tua yang hendak akan bercerai tak memerhatikan konsekuensi negatif yang dialami oleh anak-anak.

1. Menanyakan pada anak ingin tinggal dengan siapa

Kesalahan pertama oleh orang tua yang akan bercerai adalah menanyakan pada anak mereka ingin tinggal dengan siapa. Hal ini akan menjadi hal paling sulit yang dihadapi oleh anak-anak karena membuat mereka merasa bersalah danbersedih.

2. Menjadikan penyampai pesan

Ketika orang tua sedang bertengkar, tak jarang anak jadi objek yang paling menderita karena harus menjadi penyampai pesan. Bahkan hal tersebut berlanjut sampai pada perceraian orang tua. Sebuah kesalahan besar jika menjadikan anak sebagai penyampai pesan antar orang tua yang sudah bercerai.

3. Perceraian bukan masalah

Sudah tentu jadi asumsi yang keliru jika Anda berusaha menyampaikan atau memberikan pandangan positif pada anak tentang perceraian. Seringkali anak-anak takut bahwa perceraian akan menyebabkan orang tua mengabaikan mereka.

4. Jangan tunjukan rasa sakit Anda

Menunjukkan atau mengekspresikan rasa sakit atau kondisi lemah Anda pada anak-anak untuk mendapat simpati merupakan suatu kesalahan. Anak-anak Anda sudah menderita lebih banyak dari keputusan orang tua mereka untuk berpisah. Oleh karena itu jangan tunjukkan kelemahan emosional Anda di depan mereka karena dapat memperburuk kondisi mental.

5. Memberikan pandangan negatif pada mantan pasangan Anda

Kesalahan yang cukup fatal Anda lakukan pada anak-anak jika melibatkan perasaan pribadi tentang mantan pasangan pada mereka. Mungkin Anda dan mantan pasangan memiliki kepahitann tersendiri. Namun, bukan berarti anak-anak Anda harus demikian pada kedua orang tuanya.

6. Mengesampingkan anak-anak dalam isu perceraian

Ketika Anda membangun sebuah rumah tangga, anak-anak merupakan bagian penting dalam sebuah keluarga. Beberapa pasangan tak berpikir bahwa anak-anak memiliki peranan penting dalam pengambilan keputusan, sekalipun perihal perceraian.

7. Bertengkar di depan anak-anak

Salah satu sisi ego orang dewasa adalah seringkali tak peduli untuk bertengkar di depan anak-anak. Hal tersebut merupakan sebuah tindakan bodoh yang bisa mencederai mental anak-anak saat mendengarnya. Bahkan paling parah bisa menyebabkan anak-anak frustrasi sekaligus perubahan kepribadian.

Referensi : 7 Kesalahan Fatal Dampak Perceraian Orang Tua pada Anak



4 Dampak Negatif Perceraian Orang Tua Terhadap Anak (Segera Hindari)

4 Dampak Negatif Perceraian Orang Tua Terhadap Anak (Segera Hindari)

4 Dampak Negatif Perceraian Orang Tua Terhadap Anak (Segera Hindari). Perceraian kerap menjadi alternatif terakhir yang diambil oleh pasangan suami istri saat mereka tak lagi bisa menyatukan hubungan yang sudah dijalin. Alasan perceraian sendiri bisa disebabkan oleh banyak hal. Namun, saat bercerai, yang menerima dampak bukan hanya pasangan itu sendiri. Jika mereka sudah dikaruniai anak saat bercerai, maka anak tersebut juga akan terkena imbas dari perceraian orang tua mereka.

Terlebih jika anak tersebut masih terlalu muda untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan tak jarang terjadi perceraian yang berujung menelantarkan anak karena tak ada satu pun yang mau mengurusnya. 

1. Kesepian

Anak yang menjadi korban perceraian orang tua akan mengalami kesepian setelah orang tuanya berpisah. Entah si anak tinggal bersama ibunya ataupun ayahnya. Si anak akan merasa ada yang kurang karena sebelumnya ia berada dekat dengan dua orang yang selalu memberi perhatian penuh padanya. Terlebih jika setelah perceraian, anak tidak tinggal bersama salah satu orang tuanya.

2. Takut untuk menikah

Perceraian bisa menimbulkan efek trauma pada anak. Karena mereka akan menilai bahwa pernikahan itu tidak selamanya bahagia. Perceraian orang tuanya akan memberi bayangan negatif pada anak bahwa mungkin saja ia akan mengalami hal yang sama jika sudah menikah nanti.

3. Kualitas hidup yang kurang baik

Perceraian orang tua tentu akan berdampak pada pemenuhan kebutuhan anak secara materi. Yang biasanya anak mendapat kebutuhan dari kedua orang tuanya, setelah perceraian tentu kebutuhan anak akan berubah. Entah uang saku, atau bahkan pemenuhan kebutuhan primernya.

4. Kehilangan tujuan hidup

Anak tanpa keberadaan orang tua akan kehilangan arah. Layaknya kapal yang tidak punya nakhoda. Orang tua yang seharusnya membimbing dan mengarahkan anak pada kebaikan, akan bertumbuh menjadi anak yang mudah terombang-ambing arus kehidupan. Hal ini akan sangat berisiko jika anak terkontaminasi pada pergaulan buruk di sekitarnya.

Demikian 4 dampak negatif perceraian orang tua terhadap anak. Jika perceraian menjadi alternatif terakhir, sebaiknya kasih sayang orang tua pada anak tetap dipenuhi. 

Referensi : 4 Dampak Negatif Perceraian Orang Tua Terhadap Anak (Segera Hindari)



Hak Asuh Anak Menurut UU Perkawinan

Hak Asuh Anak Menurut UU Perkawinan

Mengenai kewajiban orang tua terhadap anak-anaknya, Anda dapat menilik bunyi Pasal 45 UU Perkawinan:

Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-baiknya.

Kewajiban orang tua yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berlaku sampai anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri, kewajiban mana berlaku terus meskipun perkawinan antara kedua orang tua putus.

Yang dimaksud anak menurut Pasal 1 angka 1 UU 35/2014 menegaskan:

Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Hak Asuh Anak dalam Perceraian

Selanjutnya dikenal pula istilah kuasa asuh, yakni kekuasaan orang tua untuk mengasuh, mendidik, memelihara, membina, melindungi, dan menumbuhkembangkan anak sesuai dengan agama yang dianutnya dan sesuai dengan kemampuan, bakat, serta minatnya.[1]

Adapun salah satu masalah yang sering muncul dari perceraian adalah mengenai hak asuh anak. Siapa yang paling berhak atas hak asuh anak jika perkawinan orang tua putus karena perceraian?

Mengacu bunyi Pasal 45 ayat (2) UU Perkawinan di atas mengindikasikan bahwa kasih sayang orang tua terhadap anak tidak boleh diputus ataupun dihalang-halangi. Adanya penguasaan anak secara formil oleh salah satu pihak pada hakikatnya untuk mengakhiri sengketa perebutan anak. Apabila sengketa itu tidak diputus di pengadilan, akan menjadi berlarut-larut, sehingga dampaknya anak menjadi korban, walaupun harus diakui juga bahwa banyak sekali yang tidak mempersoalkan hak asuh anak setelah proses perceraian karena keduanya sepakat mengasuh dan mendidik anak bersama-sama.

Hal ini sejalan dengan Pasal 41 UU Perkawinan yang mengatur akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah:

Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak; bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak, Pengadilan memberi keputusannya;

Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu; bilamana bapak dalam kenyataan tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut, Pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut;

Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas isteri.

Mengenai hak asuh anak, UU Perkawinan tidak mengatur secara khusus siapa yang berhak mendapatkan hak asuh atas anak yang belum berusia 12 tahun. Melainkan hanya mengatur hak asuh anak pasca bercerai, kedua belah pihak tetap wajib memelihara dan mendidik anak-anaknya dan jika ada perselisihan hak asuh anak, Pengadilan yang akan memberi keputusannya.

Peraturan mengenai hak asuh anak dalam perceraian lainnya ada di dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 102 K/Sip/1973 tanggal 24 April 1975. Dalam putusan ini juga dikatakan bahwa dalam penentuan pemberian hak asuh anak dalam perceraian haruslah mengutamakan ibu kandung. Terlebih lagi untuk hak asuh anak yang masih di bawah umur atau 12 tahun kebawah. Hal ini ditetapkan dengan melihat kepentingan anak yang membutuhkan sosok ibu.

Meski begitu, pemberian hak asuh anak kepada sang ayah juga bisa saja terjadi dalam perceraian. Pasal 156 huruf (c) KHI menjelaskan bahwa seorang ibu bisa kehilangan hak asuh anak sekalipun masih berusia di bawah 12 tahun apabila ia tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak. Bila demikian, atas permintaan kerabat yang bersangkutan, Pengadilan Agama dapat memindahkan hak asuh pada kerabat lain.

Hak Asuh Anak Menurut KHI

Sedangkan dalam hukum Islam, aturan hak asuh anak yang perceraian orang tuanya diputus oleh Pengadilan Agama tercantum di Pasal 105 KHI yang menyatakan:

Dalam hal terjadinya perceraian:

Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya;

Pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih di antara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaannya;

Biaya pemeliharaan ditanggung oleh ayahnya.

Selanjutnya akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah:[2]


anak yang belum mumayyiz berhak mendapatkan hadhanah dan ibunya, kecuali bila ibunya telah meninggal dunia, maka kedudukannya digantikan oleh:

wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ibu;

ayah;

wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ayah;

saudara perempuan dari anak yang bersangkutan;

wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari ayah.

anak yang sudah mumayyiz berhak memilih untuk mendapatkan hadhanah dari ayah atau ibunya;

apabila pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak, meskipun biaya nafkah dan hadhanah telah dicukupi, maka atas permintaan kerabat yang bersangkutan Pengadilan Agama dapat memindahkan hak hadhanah kepada kerabat lain yang mempunyai hak hadhanah pula;

semua biaya hadhanah dan nafkah anak menjadi tanggung jawab ayah menurut kemampuannya, sekurang-kurangnya sampai anak tersebut dewasa dapat mengurus diri sendiri (21 tahun);

bilamana terjadi perselisihan mengenai hadhanah dan nafkah anak, Pengadilan Agama memberikan putusannya berdasarkan huruf (a), (b), dan (d);

pengadilan dapat pula dengan mengingat kemampuan ayahnya menetapkan jumlah biaya untuk pemeliharaan dan pendidikan anak-anak yang tidak turut padanya.

Macam-macam Pembagian Hak Asuh dalam Perceraian

Hak Asuh Anak di Bawah 5 Tahun Akibat Perceraian

Jika terjadi perselisihan antara ibu dan ayah terkait dengan hak asuh anak, dalam hal ini utamanya adalah anak yang berusia di bawah 5 tahun.

Pada dasarnya pembagian dan pemberian hak asuh yang diberikan oleh pengadilan akan mempertimbangkan untuk siapa dari kedua orang tua tersebut yang lebih layak dalam mendapatkan hak asuh anak yang sesuai dengan aturan yang berlaku.

Namun jika merujuk pada Pasal 105 KHI, menjelaskan mengenai hak asuh anak dalam perceraian dengan usia anak dibawah 12 tahun diberikan kepada sang ibu. Meskipun begitu ayah tetap menanggung seluruh biaya pemeliharaan anak tersebut.

Namun begitu, ibu juga masih bisa kehilangan hak asuhnya. Berikut beberapa sebab ibu kehilangan hak asuh anak:

  1. Seorang ibu berperilaku buruk.
  2. Seorang ibu yang masuk ke dalam penjara.
  3. Seorang ibu tidak bisa menjamin kesehatan jasmani dan rohani anaknya.
  4. Sebab-sebab tersebut juga bisa menjadi sebab-sebab hak asuh anak dari ibu beralih ke ayah.
  5. Hak Asuh Anak Perempuan

Bagaimana dengan hak asuh anak perempuan dalam perceraian? Dasar hukum yang digunakan dalam penentuan hak asuh anak perempuan masih sama halnya dengan hak asuh anak di bawah 5 tahun. Di mana jika anak perempuan tersebut masih berusia di bawah 12 tahun, maka sang ibu lah yang berhak mendapatkan hak asuh tersebut.

Namun jika anak perempuan tersebut telah berusia lebih dari 12 tahun, maka anak tersebut berhak untuk menentukan orang tua yang pantas dalam mengasuh dirinya.

Hak Asuh Anak Jika Istri Minta Cerai

Macam-macam hak asuh anak dalam perceraian lainnya adalah hak asuh anak jika istri menggugat cerai. Lantas bagaimana dengan hak asuh anak jika istri minta cerai? Berhakkah ibu yang mendapatkan hak asuh anak?

Jawaban singkatnya, masih berpaku dengan peraturan yang sama. Di mana, jika hak asuh anak di bawah 12 tahun tetap akan jatuh ke dalam hak sang ibu dengan tetap menjadi tanggung jawab ayah perihal biayanya.

Namun jika istri meminta cerai karena kesibukannya, hal ini bisa menyebabkan perubahan hak asuh yang bisa saja jatuh menjadi hak seorang ayah. Di mana terdapat kekhawatiran penelantaran anak tersebut akibat kesibukan sang ibu.

Hak Asuh Anak Jika Istri Terbukti Selingkuh

Hak asuh anak dalam perceraian yang disebabkan jika istri terbukti selingkuh akan menyebabkan hilangnya hak ibu dalam mengasuh anak tersebut. Pasalnya jika berselingkuh dan terbukti di pengadilan, si ibu dinilai gagal menjadi seorang ibu seperti yang tertuang dalam Pasal 34 ayat (2) UU Perkawinan.

Farida Prihatini dalam artikel Hak Asuh Anak Harus Menjamin Kepentingan Terbaik Anak menjelaskan hak asuh anak setelah perceraian diberikan kepada ibunya bila anak belum dewasa dan belum baligh. Hal itu karena ibu secara fitrahnya lebih bisa mengatur anak dan lebih telaten mengasuh anak.

Namun demikian, menurut Farida hak asuh anak juga tidak tertutup kemungkinan diberikan kepada sang ayah kalau ibu tersebut memiliki kelakuan yang tidak baik, serta dianggap tidak cakap untuk menjadi seorang ibu terutama dalam mendidik anaknya. Yang diutamakan itu adalah untuk kebaikan si anak.

Kembali ke pertanyaan Anda, apakah hak asuh anak dari ibu bisa beralih ke ayah? Sebagaimana Anda ceritakan, saat ini si anak sudah berada dalam asuhan ibu, akan tetapi hak asuh dimungkinkan untuk dialihkan jika didapati fakta, si ibu tidak bisa menjamin pemenuhan hak-hak anak.

Kemungkinan ini dapat dilihat dalam Pasal 156 huruf c KHI bahwa seorang ibu bisa kehilangan hak asuh terhadap anaknya sekalipun si anak masih berusia di bawah 12 tahun:

apabila pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak, meskipun biaya nafkah dan hadhanah telah dicukupi, maka atas permintaan kerabat yang bersangkutan Pengadilan Agama dapat memindahkan hak hadhanah kepada kerabat lain yang mempunyai hak hadhanah pula.

Sehingga berdasarkan ketentuan itu, si ayah bisa mengajukan permohonan ke Pengadilan Agama terkait pemindahan hak asuh anak (hadhanah) yang tentunya disertai dengan alasan-alasan yang kuat untuk mendukung terkabulnya permohonan peralihan hak asuh anak tersebut.

Dasar Hukum:

  1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan;
  2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak  sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan diubah kedua kalinya dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;
  3. Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam.

Sebab Utama Psikologis Anak Terganggu Bukan Perceraian Orangtua

Banyak orang mengatakan, perceraian bisa membuat psikologis anak-anak terganggu dan dapat menghambat perkembangan mental mereka.  Ya, biasanya anak-anak menjadi alasan bagi pasangan suami istri yang tidak harmonis lagi untuk menimbang ulang keputusan bercerai.   Ada yang berpendapat anak korban perceraian akan tumbuh jadi pembangkang dan nakal.  Meski begitu, perceraian ternyata tak selalu berakibat buruk bagi anak. Ada juga tipe anak yang tetap baik-baik saja walau orangtuanya berpisah.  Menurut psikolog Meity Arianty STP.,M.Psi, perceraian orangtua bukan penyebab utama psikologis anak-anak terganggu.  Melainkan, hubungan tidak harmonis orangtua.  "Pertengkaran atau hubungan orangtua yang buruk dapat membuat dampak psikologis terhadap anak-anak," terangnya kepada Kompas.com, Rabu (3/2/2021). "Maka dari itu, mereka juga rentan mengalami permasalahan psikologis," sambung dia.  Meity mengatakan, pasangan yang bercerai dan tetap menjalin hubungan yang baik cenderung lebih banyak memberikan perhatian serta cintanya kepada anak-anak.  Hal itu merupakan fondasi bagi perkembangan emosi anak sehingga anak-anak tetap tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan matang menghadapi kenyataan.  Yang paling penting untuk anak-anak adalah bagaimana hubungan ayah ibunya tetap baik, berkomunikasi secara dewasa, dan tetap bertanggung jawab.  "Jadi, jangan salahkan perceraiannya karena hubungan orangtua setelah bercerai yang akan memberikan dampak psikologis terhadap anak-anak," jelasnya.  Sebab sejatinya, anak-anak broken home hanya membutuhkan perhatian yang cukup dan tidak kehilangan kasih sayang dari kedua orangtuanya.

Banyak orang mengatakan, perceraian bisa membuat psikologis anak-anak terganggu dan dapat menghambat perkembangan mental mereka.

Ya, biasanya anak-anak menjadi alasan bagi pasangan suami istri yang tidak harmonis lagi untuk menimbang ulang keputusan bercerai. 

Ada yang berpendapat anak korban perceraian akan tumbuh jadi pembangkang dan nakal.

Meski begitu, perceraian ternyata tak selalu berakibat buruk bagi anak. Ada juga tipe anak yang tetap baik-baik saja walau orangtuanya berpisah.

Menurut psikolog Meity Arianty STP.,M.Psi, perceraian orangtua bukan penyebab utama psikologis anak-anak terganggu.

Melainkan, hubungan tidak harmonis orangtua.

"Pertengkaran atau hubungan orangtua yang buruk dapat membuat dampak psikologis terhadap anak-anak," terangnya kepada Kompas.com, Rabu (3/2/2021). "Maka dari itu, mereka juga rentan mengalami permasalahan psikologis," sambung dia.

Meity mengatakan, pasangan yang bercerai dan tetap menjalin hubungan yang baik cenderung lebih banyak memberikan perhatian serta cintanya kepada anak-anak.

Hal itu merupakan fondasi bagi perkembangan emosi anak sehingga anak-anak tetap tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan matang menghadapi kenyataan.

Yang paling penting untuk anak-anak adalah bagaimana hubungan ayah ibunya tetap baik, berkomunikasi secara dewasa, dan tetap bertanggung jawab.

"Jadi, jangan salahkan perceraiannya karena hubungan orangtua setelah bercerai yang akan memberikan dampak psikologis terhadap anak-anak," jelasnya.

Sebab sejatinya, anak-anak broken home hanya membutuhkan perhatian yang cukup dan tidak kehilangan kasih sayang dari kedua orangtuanya.

7 Dampak yang Terjadi Pada Anak-anak Karena Perceraian Orang Tua

7 Dampak yang Terjadi Pada Anak-anak Karena Perceraian Orang Tua

Perceraian bukanlah hal yang mudah bagi orang tua dan anak. Perceraian terjadi karena adanya masalah ruma tangga yang sudah tidak dapat dikendalikan. Namun, perceraian membawa dampak tersendiri bagi anak-anak. Tak jarang jika mereka sering manyalahkan diri sendiri, merasa marah, dan bahkan perceraian dapat membawa anak-anak ke lingkungan yang buruk.

Merasa marah

Anak-anak mungkin merasa marah karena perceraian. Mereka memiliki anggapan jika perceraian akan mengubah hidupnya.

Rasa marah merupakan emosi yang ditunjukan karena perceraian.

Tidak hanya anak-anak, rasa marah juga dapat menyerang segala usia namun ini lebih sering terjadi pada anak-anak dan remaja.

Emosi ini muncul dari perasaan kecewa karena ditinggalkan orang tuanya.

Mereka merasa jika mereka akan kehilangan kendali.

Menarik Diri dari Lingkungan Sosial

Kamu mungkin juga memperhatikan, anak-anak yang menjadi korban perceraian akan menarik diri dari lingkungan sosial.

Anak-anak menjadi sangat malu karena perceraian orang tuanya.

Mereka merasa bahwa kehidupan mereka tidak sama dengan anak-anak lain.

Tak jarang jika anak-anak merasa bahwa diri mereka rendah dan menyebabkan mereka tidak mau bergaul bersama teman-temannya.

Kamu perlu melakukan sesuatu jika ini terjadi, beri meraka dorongan untuk melakukan aktivitas sosial dan bantu mereka membangun kepercayaan diri.

Kemampuan Akademis yang Menurun

Secara akademis, anak-anak akan mengalami penurunan.

Ini biasa terjadi pada anak-anak yang memasuki usia 6 hingga 13 tahun.

Ada beberapa alasan mengapa ini bisa terjadi.

Mungkin anak-anak merasa jika dirinya diabaikan, tertekan, atau bahkan tergangung oleh konflik orang tuanya.

Hal ini dapat menyebabkan anak-anak kehilangan minat di bidang akademis.
Rasa cemas sering muncul pada anak-anak, terlebih karena perceraian.

Mereka akan menunjukan kecemasan dengan menangis secara histeris.

Tak jarang jika mereka sering memohon pada orang tua untuk tidak berpisah.

Pola Makan dan Tidur Berubah

Pasca perceraian anak-anak akan mengalami masalah tidur yang dapat memengaruhi penambahan berat badan.

Tak hanya itu, anak-anak juga kerap mengalami mimpi buruk dalam tidurnya.

Ini merupakan bentuk kecemasan yang sedang mereka rasakan.

Keadaan yang lebih parah dapat menyebabkan anak-anak berhalusinasi.

Mengalami Depresi

Anak-anak yang mengalami perceraian juga dapat memicu depresi.

Ini muncul karena rasa tertekan yang terjadi secara terus-menerus.

Tak hanya tertekan mereka akan merasa stres hingga depresi.

Keadaan ini sering muncul jika disertai kekerasan yang memicu perceraian.

Tak jarang saat merasa depresi anak laki-laki berisiko memiliki keinginan bunuh dari daripada perempuan, menurut American Academy of Pediatrics.
Terlibat Perilaku Berisiko

Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan merupakan hal buruk karena pengaruh perceraian.

Tak hanya itu mereka juga akan berperilaku kasar dan bahkan melakukan seks bebas.

Sebuah penelitian mengatakan bahwa anak perempuan akan cenderung melakukan seks bebas sejak usia dini. 

Referensi : 7 Dampak yang Terjadi Pada Anak-anak Karena Perceraian Orang Tua


Sketsa Keluarga Indonesia (Anak Korban Perceraian)

Sketsa Keluarga Indonesia  (Anak Korban Perceraian)

Setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Ada kalanya perpisahan itu akan membawa ke sebuah pertemuan dengan orang-orang baru lainnya. Hal itu juga terjadi di dalam suatu pernikahan. Dalam pernikahan ada kalanya menemui sebuah perpisahan, entah itu dipisahkan oleh maut, atau kehendak manusia sendiri yang memutuskan untuk berpisah. Perpisahan orang tua yang bukan dipisahkan oleh maut inilah yang disebut dengan perceraian.

Perceraian memang sebuah keputusan yang diambil oleh dua insan yang sudah disatukan Tuhan. Namun, dampak dari perceraian, tidak hanya menimpa mereka saja, tetapi juga menimpa orang-orang di sekitarnya. Anak adalah merupakan salah satu penerima dampak negatif yang paling besar.

Mungkin bagi orang tua yang bercerai sering kali beranggapan bahwa anak itu masih terlalu kecil. Bahkan mungkin berpikiran bahwa anak masih belum mengerti apapun tentang keputusan yang diambil. Tak jarang juga, di saat mereka sudah dewasa, orang tua yang berpisah selalu berharap anak bisa mengerti keputusan yang sudah diambil dan tidak akan menyalahkan orang tua karena memilih untuk bercerai. Namun, pada kenyataannya, keputusan yang dikira tidak akan membawa dampak ke anak-anak malah membuat trauma dalam kehidupannya, bahkan sampai hingga menginjak usia dewasa.

Sketsa Keluarga Indonesia mengundang Bapak Eddy, STh dan Ibu Sisi istri seorang pengusaha nasional sebagai narasumber, yang dulunya juga merasakan kesedihan saat orangtua mereka memutuskan untuk bercerai. Bagaimanakah kehidupan mereka setelah beranjak dewasa? Bagaimana cara mereka melewati hari-hari sulit tanpa keluarga yang utuh? Atau bagaimanakah cara mereka bertahan saat mereka harus beradaptasi dengan keluarga yang baru?

Referensi : Sketsa Keluarga Indonesia  (Anak Korban Perceraian)