This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Jumat, 26 Agustus 2022

Perkara halal yang dibenci Allah Swt adalah talak

Perkara halal yang dibenci Allah adalah talak

Perkara halal yang dibenci Allah adalah talak. Hadits:

أبغض الحلال إلى الله الطلاق

Perkara halal yang dibenci Allah adalah talak”

Ini adalah hadits dhaif, sebagaimana dijelaskan Syaikh Al Albani rahimahullaah dalam Irwaul Ghalil (2040). Sebagian ulama menshahihkan hadits ini, namun mereka memaknai bahwa cerai itu tetap halal namun sebaiknya dihindari.

Maka cerai itu boleh dan tidak terlarang. Justru pembolehan cerai adalah salah satu bentuk keadilan dalam Islam. Sebagian agama lain menetapkan haramnya cerai. Hasilnya, kasihan para istri yang suami bejat dan zalim. Sang istri tidak bisa lepas dari suaminya yang bejat tersebut seumur hidup. Demikian juga para suami yang istrinya bejat, ia tidak bisa lepas darinya.
Maka dibolehkannya cerai itu adil. Namun tentunya tidak boleh bermudah-mudahan cerai dan tidak boleh seseorang membuat orang lain cerai.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:

نعم، من المصائب لا شك إنه من المصائب، كون المرأة تطلق من زوج صالح مصيبة، لكن تسأل ربها أن يعوضها غيره، يقول الله سبحانه: وَإِنْ يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ [النساء:130]، أما طلاقها من زوج فاسق أو زوج يضرها فهي نعمة من الله ما هي بمصيبة نعمة من الله، لكن طلاقها من زوج طيب، من زوج يعينها على الخير، لا شك أنها مصيبة. نعم

“Ya benar, cerai itu merupakan bentuk musibah. Tidak diragukan lagi itu adalah musibah. Maka seorang wanita dicerai oleh lelaki yang shalih, ini adalah musibah. Namun hendaknya ia berdoa kepada Allah dan meminta pengganti yang lebih baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana” (QS. An Nisa: 130). Adapun jika ia diceraikan oleh suami yang fasiq (suka bermaksiat), atau suami yang berbahaya baginya, maka itu adalah nikmat dari Allah. Maka ketika itu ia mendapatkan nikmat di balik musibah. Namun jika yang menceraikannya adalah lelaki baik, lelaki yang memberikan manfaat kebaikan padanya, maka tidak ragu lagi ini adalah musibah”.

Referensi : Perkara halal yang dibenci Allah Swt adalah talak


4 Rahasia Tentang Perceraian yang Nggak Banyak Orang Tahu

Mungkin perceraian ini adalah hal yang sudah diperkirakan sebelumnya, dan ada banyak hal baik yang dapat terjadi dengan berakhirnya pernikahan ini. Namun, bukan berarti pengalaman bercerai dengan pasangan nggak menyakitkan. Itu sangat, sangat menyakitkan. Jadi jika mengalami rasa penyesalan yang amat sangat menyakitkan, ingat kamu nggak sendirian, Bela.  Orang-orang membicarakan cara move on, namun mereka nggak membicarakan cara mengatasi rasa sakit yang dialami ketika bercerai. Orang-orang mengatakan kalau bercerai adalah jalan keluar terbaik ketika pernikahan nggak menghasilkan kebahagiaan dalam diri, namun nggak ada yang menceritakan kalau melalui jalan itu harus merasakan penyesalan.   Nggak banyak yang membicarakan perceraian karena itu adalah topik sensitif. Namun kini kamu tahu, dan semoga ini dapat membantumu ketika berpikir untuk berpisah atau sedang menenangkan teman yang mengalami perceraian.

4 Rahasia Tentang Perceraian yang Nggak Banyak Orang Tahu. Ada banyak topik yang masih terkesan tabu untuk dibahas secara terbuka, salah satunya adalah perceraian. Karena itu, nggak banyak yang tahu hal-hal yang terjadi dalam suatu proses perceraian dan hal yang dirasakan ketika perpisahan dalam pernikahan itu terjadi. Dampaknya, orang yang mengalaminya akan merasa terkejut dan kemungkinan sulit untuk melaluinya, terlebih membicarakannya dengan orang-orang di sekitarnya.

Melansir dari Best Life, dampak perceraian nggak hanya terasa pada pasangan yang berpisah, tetapi juga pada keluarga dan teman-teman. Perceraian turut memisahkan orang-orang terdekat dari kedua orang tersebut. Hal ini dapat menimbulkan rasa terabaikan ketika keluarga dan teman harus memilih keberpihakan dalam perceraian. Kedua belah pihak (mantan pasangan) akan merasa dikhianati ketika melihat keluarga atau teman memilih sisi yang berbeda dengan dirinya. Kejadian ini menimbulkan rasa trauma dalam dirinya.

Selain kejadian tersebut, ada banyak aspek dalam perceraian yang nggak pernah orang ceritakan secara terbuka. Berikut ini adalah rahasia mengenai hal-hal yang akan terjadi ketika bercerai dengan pasangan.

1. Mengisolasi diri

Dalam film, patah hati dapat sembuh dalam beberapa minggu saja, sembari makan es krim di atas kasur dan mengabaikan pesan atau telepon. Meski kenyataannnya terasa nyaman untuk menyendiri di rumah, terlalu sering sendiri dapat memicu gangguan kesehataan mental. Namun, hal ini dapat dicegah dengan menjaga interaksi personal.

Penting bagi pasangan yang baru saja bercerai untuk selalu terhubung dengan teman atau keluarga yang berada di pihaknya. Seiring berjalannya waktu, ia akan menginginkan pertemanan dan pengalaman baru. Mencoba hobi baru, datang ke pesta, mengadopsi hewan peliharaan. Mengapa? Sebab ketika bercerai, kamu harus membuat pertahanan melawan isolasi sosial.

2. Penyesalan itu nyata adanya

Dalam skenario yang ideal, nggak ada yang ingin mengalami penyesalan yang begitu menyakitkan. Namun, perasaan itu terkesan nggak realistis dalam perceraian. Walau sebenarnya, banyak rasa sesal yang dialami seseorang, yang membuat ia berharap dapat mengubah keputusannya. Sebenarnya, tak apa-apa untuk merasakan penyesalan tersebut dan jangan mendorongnya pergi. Ini dapat membantumu melalui semua pikiran dan perasaan tersebut.

3. Butuh waktu lama untuk move on

Ketika perceraian terdengar seperti keputusan yang diikuti dengan urusan legal atau hukum, sebenarnya itu jauh dari kata sederhana. Faktanya, prosesnya dapat berjalan dalam waktu lama. Baik secara hukum, fisik, maupun emosional.

Karena itu, berikan waktu untuk dirimu sendiri. Kamu mungkin sangat cepat move on. Namun, terkadang butuh waktu hitungan tahun untuk membangun kembali hidupmu dan nggak apa-apa untuk meluangkan lebih banyak waktu, bahkan sampai kamu siap membuka hatimu kembali.

4. Sangat, sangat menyakitkan

Mungkin perceraian ini adalah hal yang sudah diperkirakan sebelumnya, dan ada banyak hal baik yang dapat terjadi dengan berakhirnya pernikahan ini. Namun, bukan berarti pengalaman bercerai dengan pasangan nggak menyakitkan. Itu sangat, sangat menyakitkan. Jadi jika mengalami rasa penyesalan yang amat sangat menyakitkan, ingat kamu nggak sendirian, Bela.

Orang-orang membicarakan cara move on, namun mereka nggak membicarakan cara mengatasi rasa sakit yang dialami ketika bercerai. Orang-orang mengatakan kalau bercerai adalah jalan keluar terbaik ketika pernikahan nggak menghasilkan kebahagiaan dalam diri, namun nggak ada yang menceritakan kalau melalui jalan itu harus merasakan penyesalan. 

Nggak banyak yang membicarakan perceraian karena itu adalah topik sensitif. Namun kini kamu tahu, dan semoga ini dapat membantumu ketika berpikir untuk berpisah atau sedang menenangkan teman yang mengalami perceraian.

Apa yang Pria Bercerai Ingin Lakukan Jika Bisa "Mengulanginya" Lagi

Apa yang Pria Bercerai Ingin Lakukan Jika Bisa "Mengulanginya" Lagi

Apa yang Pria Bercerai Ingin Lakukan Jika Bisa "Mengulanginya" Lagi. Melihat ke belakang, pria-pria ini menceritakan kembali beberapa kesalahan yang sudah mereka buat dan rasa penyesalan yang mereka miliki. Apa yang para mantan suami ini akan ubah jika mereka dapat 'mengulanginya' (pernikahan) lagi.

Setelah sebuah pernikahan berakhir dan kita memperoleh waktu dan jarak dari hubungan itu, kita perlahan mulai melihat di mana yang salah darinya. Seperti idiom ini, 'pandangan ke belakang adalah 20/20' (Melihat kembali situasi atau peristiwa yang telah terjadi dan memiliki pemahaman yang lebih jelas tentang hal itu dan bagaimana hal itu sebenarnya bisa dilakukan dengan lebih baik.).

Kesalahan dan kekurangan kita sendiri hal-hal yang harusnya kita lakukan atau tidak, kita katakan atau yang tidak muncul dalam gambaran yang jelas, semoga ia mengandung pelajaran penting untuk bisa dibawa dalam kehidupan kita di masa depan. Disini beberapa pria yang telah bercerai diminta untuk berbagi hal-hal yang mereka ingin lakukan secara berbeda disaat mereka masih menikah dulu. Dan inilah beberapa yang mereka katakan:

Saya berharap saya pergi tidur pada waktu yang sama dengan istri saya.'Bahkan sebelum kami mulai tidur di kamar yang berbeda, kami sudah tidak tidur bersama lagi.Saya bukan bermaksud untuk menghindari hubungan dengannya, maksud saya kami hanya tidak memiliki waktu tidur yang sama. Saya suka begadang dan menonton acara tv favorit saya sementara dia suka pergi tidur di waktu yang saya pikir adalah waktu yang masih terlalu sore untuk tidur, saya pikir itu gila.

Kemudian saya menyadari bahwa ada jenis kedekatan khusus yang harus dipupuk dengan cara mengakhiri harimu bersama pasangan. Saling berpelukan, berbagi semua yang terjadi di hari itu dan bercerita tentang impian-impian adalah ikatan yang seharusnya kita semua pelihara.' - Adam Petzold. Saya berharap saya berusaha lebih keras di saat saya masih sempat. 'Penyesalan terbesar saya sejak perceraian saya tiga tahun lalu adalah saya tidak pernah mencoba sedikit lebih berusaha sebelum semuanya sampai pada titik perceraian.

Saya suka berpuas diri, menghindar, dan tidak peduli. Sementara perceraian dulunya terlihat tepat untuk kami, sekarang saya sangat menyesal karena telah membiarkannya semuanya sampai ke titik itu. Ya, kami memang tidak bahagia dalam pernikahan kami, tetapi anak-anak saya dan impian akan sebuah kehidupan keluarga yang 'normal' tidak akan pernah sama lagi, dan mungkin saja saya seharusnya bisa mencegahnya terjadi dulu.' - Derick Turner.

Saya berharap saya dulu berbicara lebih banyak daripada memendam perasaan saya.  'Ada begitu banyak hal yang saya sadari seharusnya bisa saya lakukan dengan lebih baik, tetapi di waktu saya memiliki pilihan untuk itu, saya malah memilih untuk tetap diam tentang ketidaknyamanan yang saya alami. Entah itu tentang sesuatu yang serius, seperti pindah rumah di saat saya belum merasa siap untuk itu, atau sesuatu yang tidak begitu intens, seperti memakan masakannya yang tidak enak meskipun itu membuat saya mual, entah bagaimana rasanya seperti menghianatinya jika saya mengatakan perasaan saya yang sebenarnya.Melihat ke belakang, kalau dipikir-pikir, jika saya mengungkapkan perasaan saya yang sebenarnya itu akan dinilai sebagai sebuah kejujuran dalam pernikahan.

Dan pernikahan itu bukanlah apa-apa tanpa kejujuran. Dengan menunjukkan perasaanmu yang sebenarnya akan menunjukkan jika kamu mencoba untuk transparan, dan memungkinkan bagi pasanganmu untuk mengerti hal yang kamu lakukan untuk semakin memperkuat ikatan pernikahan itu. Sementara, jika hanya berdiam diri tentang perasaanmu, maka kamu secara tidak langsung menunjukkan kurangnya kepercayaanmu terhadap pasanganmu yang akhirnya pelan-pelan akan menghancurkan pernikahan itu.' - Craig Tomashoff.  Saya berharap saya menunggu sedikit lebih lama untuk menikah.

'Saya seharusnya tidak menikah di usia yang terlalu muda. Sederhananya, saat itu saya sendiri tidak tahu siapa saya dan menganggap diri saya selalu 'benar' juga aneh.  Saya menikah di usia yang sangat muda dan saat itu saya masih berusaha untuk menemukan jati diri saya.

Karena saya memilki kenangan masa kecil yang buruk, konstruksi emosional saya sudah berantakan lebih parah dari yang saya sadari. Dalam banyak hal, memasuki usia 20-an, jiwa saya terus berkecamuk seperti perang saudara alih-alih menjadi kompas yang seharusnya menunjukkan jalan hidup saya. Di lingkungan tempat saya dibesarkan saya belajar sejak dini bagaimana berpura-pura kalau semuanya baik-baik saja. Hal itu sama sekali tidak sehat bagi saya secara emosional dan benar-benar tidak adil bagi istri saya yang juga masih terlalu muda pada waktu itu.

Tahun demi tahun berlalu, saya mulai memahami siapa saya dan bagian mana dari diri saya yang tidak akan pernah berubah.  Sejujurnya, kami berdua akhirnya tumbuh menjadi siapa kami ditakdirkan. Dan kebanyakan orang memiliki 'teman' yang jauh lebih baik daripada pasangan mereka sendiri. - Michael Cheshire. Saya berharap saya telah jujur tentang ketakutan dan kesulitan yang saya alami. 

'Saya berharap dulu saya lebih transparan tentang tantangan yang saya hadapi sebagai laki-laki, sebagai ayah dan sebagai suami. Saya menyimpan dan mengubur dalam-dalam pikiran-pikiran negatif dan ketakutan yang saya miliki, yang sebenarnya sama sekali tidak positif bagi kami. Saya menginginkan segalanya yang terbaik untuknya dan bagi kami, tetapi selalu berusaha melindunginya juga bukan hal yang benar.

Dia pikir semuanya baik-baik saja, sementara saya telah mengisolasi diri saya sendiri secara emosional. Hubungan yang benar-benar solid itu bergantung pada komunikasi yang terbuka tanpa menjadi terlalu paranoid akan apa efeknya sebelumnya. Seseorang harus mencintai dan menghormati diri mereka sendiri dan juga pasangan mereka, yang termasuk secara terbuka mengungkapkan segala ketakutan dan tantangan pribadi yang sedang dihadapi.' - Bill Douglas. 

Saya berharap saya lebih mandiri. 'Ketika kami menikah, istri saya (sekarang mantan) menjadi tulang punggung keluarga ketika saya sedang berjuang mencari pekerjaan. Karena itu, saya merasa minder dan selalu menurutinya setiap kami memutuskan sesuatu. Kemudian ketika semuanya mulai berjalan dengan baik, saya mulai stabil, lalu saya berharap bisa memiliki peran lebih setara dengannya dalam keluarga. 

Tapi itu tidak pernah terjadi. Dia tetap dominan. Jika saya melihat lagi, itu memang benar-benar karena kesalahan saya, saya tidak memiliki kekuatan sejak awal untuk menegaskan nilai dan peran saya dalam hubungan kami, terlepas dari kontribusi yang saya berikan secara finansial.  Meskipun saya tidak yakin itu (kontribusi saya secara finansial) bisa mengubah hasil akhirnya, tetapi mungkin saja pernikahan kami akan lebih menyenangkan (setidaknya bagi saya) di saat kami bersama.' - Barry Gold, penulis Gray Divorce Stories. 

Saya berharap saya benar-benar mendengarkannya karena dia hanya ingin didengarkan.  'Perceraian adalah sebuah hal yang sangat menyakitkan bagi saya.  Seharusnya dulu saya lebih jujur tentang bagaimana saya bersikap di hadapan istri saya. Ketika saya melihat ke belakang, ada ribuan kesalahan yang telah saya buat selama lebih dari 16 tahun pernikahan kami.

Sebagian besar merupakan hal kecil. Dan ada beberapa yang besar, tetapi kesalahan yang saya sadari berkontribusi paling besar dalam membuat saya kehilangannya adalah ketidakmampuan saya untuk benar-benar mendengarkannya.  Saya tidak mengerti bahwa kebutuhan terbesar istri saya adalah untuk merasa didengar, diakui dan dipahami. Malah sebaliknya, setiap kali dia marah saya akan bersikap defensif, mencoba untuk memperbaikinya, atau pergi dan menghindarinya, berharap dia akan melupakannya. 

Apa yang tidak saya sadari saat itu adalah betapa harga diri dan ketidakmampuan saya dalam memahami sudut pandangnya membuat kami kehilangan keintiman dan kepercayaan antara satu sama lainnya.  Sekarang saya baru benar-benar percaya bahwa jika saya dulu bisa ada untuknya dan lebih menghormati perasaannya, kami pasti akan berhasil melewati semua pasang surut dalam pernikahan kami. Tetapi karena saya tidak menjadikannya prioritas utama bagi saya, saya akhirnya kehilangan dia selamanya.' - Gerald Rogers. 

Saya seharusnya lebih bertanggung jawab atas bagian saya dalam masalah kami. 'Penyesalan terbesar saya adalah kurangnya kesadaran diri dan kemampuan komunikasi saya yang buruk. Saya selalu bertanya-tanya kenapa saya merasakan apa yang saya rasakan, mengatakan apa yang saya katakan, atau melakukan apa yang saya lakukan.  Saya bertindak di pernikahan kami secara reaktif, dan kamu sebaiknya tidak melakukannya atau kamu akan menghadapi masalah yang sama berulang kali. 

Sampai akhirnya saya belajar bagaimana cara berkomunikasi secara efektif dan sadar bahwa saya menjadi penyebab runtuhnya pernikahan kami. Mungkin saja kalau kami memang ditakdirkan untuk bercerai, tapi mungkin saja kerusakannya tidak akan sebesar ini jika saya menyadari kesalahan saja lebih dulu. Ketika kamu tidak sadar diri dan tidak berkomunikasi dengan baik, semuanya hanya menjadi sebuah perebutan kekuasaan antara siapa yang lebih penting dan siapa yang tidak, dan sebenarnya kamu tidak juga bisa menyelesaikannya dengan baik.' - Billy Flynn. 

Penyesalan Sang Suami Setelah Bercerai

Penyesalan Sang Suami Setelah Bercerai

Nina dan Herman adalah sepasang suami istri yang telah menjalani hubungan pacaran 10 tahun lamanya. Akhirnya mereka menikah dan menjalani bahtera rumah tangga sebagaimana orang lainnya. Di tahun pertama, kedua dan ketiga, kisah cinta ini begitu manis. Apalagi keduanya dikaruniai seorang putra bernama Lilo.

Tahun keempat rumah tangga Nina dan Herman mulai terasa agak berat. Mengasuh anak menjadi hal yang harus mereka pelajari bersama. Namun berbekal dukungan orang tua dan rasa cinta mereka, apapun selalu ada solusinya dan mereka bisa melewati masa sulit tersebut.

Beberapa tahun berlalu hingga Lilo sudah menginjak kelas empat SD. Mengasuh satu anak hingga sebesar ini rupanya membuat Herman ingin memiliki anak lagi. Namun Nina agak menolak, dengan alasan masih ingin mengecek ke dokter perihal kondisinya.

Namun kondisi ini beberapa kali terjadi hingga setengah tahun lamanya. Membuat Herman sedikit berpaling dari Nina. Apalagi di kantor, ada seorang sekretaris baru yang membuat Herman merasa nyaman bernama Jenny. Sedikit demi sedikit Jenny mulai menguasai pikiran dan hidup Herman. Membuatnya jarang pulang tepat waktu dan membuat Nina heran.

"Kok sering pulang telat, Mas?" tanya Nina.

"Lembur.." Herman menjawab pendek sambil mengganti pakaiannya. Ia sebenarnya masih mencintai Nina, namun di sisi lain ia makin dekat dengan Jenny. Ia merasa hubungannya dengan Nina hambar serta membosankan akhir-akhir ini. Kali ini bukan karena Nina menolak punya anak lagi, namun kesibukan Nina dan Herman membuat pria ini merasa jarak mereka makin jauh dan Nina seolah tak melihat hal itu sama sekali.

Kehidupan pernikahan Nina dan Herman makin menjemukan. Nina makin bekerja keras dalam karirnya sehingga fokusnya seringkali hanya pada anak dan karir. Nina memang lebih pendiam setelah Lilo masuk sekolah, tapi Herman pikir mungkin hal ini disebabkan oleh keperluan anak mereka yang makin banyak. Sesekali hubungan Nina dan Herman menegang oleh pertengkaran-pertengkaran kecil. Herman sering pulang malam dan Nina mulai curiga dengan apa yang dilakukan Herman di luar rumah.

"Aku kerja. Aku kan juga nggak pernah protes ketika kamu pulang malam, Nina," kata Herman dengan nada tinggi.

"Kamu berubah, Mas. Kerja juga nggak mungkin pulang malam terus kan?" Nina membalas.

Herman mendengus sebal dan menyahut, "Kamu tanya saja sendiri pada dirimu, kenapa aku jadi nggak betah. Kamu terlalu sibuk dengan karirmu, aku juga bisa kalau begini caranya." Ia sebenarnya sakit mengucapkan hal ini pada Nina. Namun emosinya sudah lama tertahan dan kali ini ia merasa muak pada omelan istrinya.

Jenny juga mulai berani mempengaruhi Herman untuk menceraikan istrinya. Awalnya Herman ragu, namun makin sering ia dan Nina bertengkar di belakang anaknya. Hal ini mulai membuat Herman merasa tidak nyaman. Ia pun mulai menyampaikan keinginannya untuk bercerai. Tentu saja hal ini membuat Nina hancur setengah mati. Ia menolak perceraian itu karena tidak ingin Lilo merasakan keluarga yang retak.

Namun Herman makin menghancurkan hatinya karena menyodorkan surat pengajuan cerai beberapa hari setelah ia menyampaikan keinginannya itu. Semalaman Nina memandangi surat cerai terhampar di meja kerjanya, sementara Herman tidur dengan tidak nyenyak di ranjangnya. Keesokan paginya, Nina menyerahkan surat itu pada Herman dengan mata sembab karena sesekali menangis dan belum tidur semalaman.

"Aku akan menandatanganinya setelah 30 hari. Dalam 30 hari itu, aku ingin Mas selalu menggendong aku dari ranjang ke meja makan untuk sarapan setiap pagi. Juga dari ruang keluarga ke kamar tidur setiap malam," ujar Nina dengan suara setengah serak seperti orang yang semalaman belum tidur.

Herman agak aneh dengan permintaan istrinya, namun ia tetap menyanggupi permintaan itu. Ia pikir istrinya hanya ingin mengulur waktu cerai dan membuat Herman kembali. Mendengar cerita itu, Jenny sedikit menertawai ulah Nina. "Ada-ada saja. Setelah kondisi seperti ini, baru istrimu merajuk untuk bisa kembali."

Begitulah, sesuai janjinya, Herman selalu menggendong Nina setiap pagi dan malam. Ia bisa merasakan Nina lebih bersandar padanya, namun di sisi lain Herman berpikir bahwa Nina mungkin juga sedang menikmati momen-momen akhir bersamanya. Sebentar lagi Herman tetap akan menceraikannya dan membawa Jenny dalam kehidupan barunya.

Pemandangan romantis antara Nina dan Herman membuat Lilo kadang bersorak pada kedua orang tuanya itu. "Wah, papa mama romantis banget," ujarnya girang. Hal ini membuat Herman sedikit berbesar hati., namun ia meneguhkan dirinya agar tak mudah ternakan suasana Sementara Nina hanya tersenyum penuh makna sambil bergelayut di leher suaminya ketika digendong.

Diam-diam, Herman merasa istrinya makin kurus dari hari ke hari. Setiap gendongannya terasa makin ringan. Herman memandangi wajah istrinya sesekali ketika menggendongnya sembari mengecup keningnya. Nina nampak lelah belakangan ini, kantung matanya sering kelihatan membesar dan ia sering menyandarkan kepalanya ke dada Herman. Hal ini membuat Herman mulai ragu dengan keputusannya bercerai, ada kehangatan merasuk di dadanya setiap kali menggendong Nina.

Tanpa terasa, Herman mulai merasakan cinta kembali bersemi pada hubungannya dengan Nina. Ia merasa istrinya makin cantik dari hari ke hari, hingga hari-hari penandatanganan surat ceri itu makin dekat. Saat Herman hendak menggendong Nina di pagi hari ke 31, Nina menahan tangan Herman.

"Kan hari ini sudah lewat. Kamu nggak perlu gendong aku lagi, Mas." Herman tersenyum saja dan membawa Nina ke meja makan. Ia menyajikan sarapan lalu mengecup kening Nina, "Sarapan aja, Nina. Selamat pagi." Begitulah Nina dan Herman menghabiskan sarapan mereka dengan lebih hangat dan mesra. Namun di akhir sesi sarapan, Nina memberikan surat cerai yang sudah ditandatangani dan dibungkus amplop.

"Ini, Mas. Terima kasih selama ini sudah mencintaiku," ujarnya sambil menitikkan air mata. Herman terpana, namun surat itu diterimanya lalu sebelum berangkat ke kantor, Herman memeluk Nina.

Di kantor, Herman mengatakan pada Jenny bahwa ia mengurungkan niatnya bercerai. Tentu saja wanita itu begitu kesal dan menampar herman keras-keras. Herman tahu dengan konsekwensi ini, ia siap menerimanya karena sejauh ini ia dan Jenny belum sampai berhubungan badan. Ia bersyukur masih bisa mengendalikan dirinya selama ini dari berzina.

Sekarang yang ada di benaknya adalah Nina. Ia masih ingat dengan bulir air mata Nina yang hangat jatuh di tangannya tadi pagi. Herman merasakan cinta itu dan tak sabar ingin segera pulang. Ia bahkan menyempatkan diri membeli buket bunga paling indah kesukaan Nina dan bergegas pulang sore itu.

Sesampainya di rumah, Herman memanggil-manggil nama istrinya. Namun ia tak juga mendengar jawaban. Hingga ia melihat Nina di kamarnya, tidur dengan piyama yang masih melekat di tubuhnya tadi pagi. Namun saat Herman mendekatinya, Nina sudah tidak bernyawa lagi. Herman tidak percaya, bagaimana mungkin Nina bisa meninggal? Ia menggoncang-goncang tubuh dan wajah Nina sambil memanggil namanya.

Kepergian Nina menjadi penyesalan yang tak terperi bagi Herman. Rupanya selama ini Nina mengidap penyakit parah yang tak sempat disampaikannya pada Herman. Di kala istrinya itu tengah memikirkan sendirian dan berjuang melawan penyakitnya, Herman malah sibuk dengan rencana perceraian mereka. Nina dimakamkan keesokan harinya, diiringi rasa sedih dan duka dari Herman dan putra mereka, 

Terkutuklah Perempuan Minta Cerai karena Merasa Lebih Pintar dan Mandiri daripada Suami

Terkutuklah Perempuan Minta Cerai karena Merasa Lebih Pintar dan Mandiri daripada Suami

Terkutuklah Perempuan Minta Cerai karena Merasa Lebih Pintar dan Mandiri daripada Suami. Kemandirian jadi semacam dementor bagi para perempuan, apalagi kalau sampai perempuan minta cerai.

“Hanya perempuan terkutuklah yang memilih bercerai karena merasa lebih pintar dan lebih mandiri daripada suami.” Kalimat semacam itu mampir ke telinga saya ketika mengikuti sebuah pengajian. Mungkin, itu jugalah sebab belakangan saya jarang lagi ikut acara sejenis: saya tidak mau dikutuk. Cukuplah Malin Kundang saja yang dikutuk ibunya karena perkara yang menurut saya tidak begitu krusial. Lagi pula, saya sedang berusaha menjauhkan stigma institusi pernikahan sebagai legitimasi kekuasaan dan objektivikasi laki-laki terhadap perempuan dari kepala saya.

“Hanya perempuan terkutuklah yang memilih bercerai karena merasa lebih pintar dan lebih mandiri daripada suami.”

Saya tidak yakin, ketika melontarkan kalimat itu, sang pengkhotbah tahu bahwa salah satu atau salah dua jemaahnya adalah perempuan yang bercerai. Saya juga tidak yakin bahwa sang pengkhotbah tahu bahwa salah satu alasan perempuan minta cerai adalah pemikiran semacam: “Jika saya akhirnya memutuskan dan melakukan segala hal sendiri, untuk apa saya harus diikat oleh pernikahan?”

Tapi perempuan itu mungkin juga lupa, dalam tataran sosial budaya masyarakat yang begitu mengagung-agungkan moral, perceraian menjadi semacam aib. Aib besar, bahkan, apalagi kalau kasusnya adalah perempuan minta cerai. Ditambah lagi, jika alasannya memberi kesan egois. Tapi sayangnya, kutukan-kutukan itu tidak akan berlaku sama dan dilontarkan oleh pengkhotbah jika yang memilih dan menggugat cerai adalah pihak suami (laki-laki).

“Terkutuklah laki-laki yang menceraikan istrinya hanya karena istrinya bisa cari uang sendiri, bisa urus anak, ditambah bisa ngurus mertua!” Percaya saja, kalimat itu tidak akan pernah muncul. Ujungnya, bisa jadi suami semacam mendapat visa sosial dan diberi keleluasaan untuk memilih perempuan lain sebagai istri muda. Lalu, banyak orang akan ambil suara, “Wow keren!!” untuk sang suami. Sementara itu, sang istri hadir sebagai sosok antagonis yang kemudian digunjing secara berjemaah, “Ya wajar saja suaminya minta cerai, istrinya nggak bisa ngurusin suami!”

Saat perempuan A memilih untuk melanjutkan pendidikan ke tingkatan yang lebih tinggi (dari suaminya), masyarakat akan mencibir dengan semana-mena, “Kok dia nggak menghargai suaminya banget, ya?”

 logika macam apa itu, sih, hingga penghargaan terhadap suami ditentukan oleh derajat pendidikan istri??? Apakah perempuan yang tingkat pendidikannya lebih rendah ketimbang suami sudah pasti lebih tahu cara menghargai suami??? Kalau iya, bisa dong jika ada yang menarik simpulan sederhana bahwa kebodohan adalah bentuk penghargaan terhadap laki-laki (suami)???

Tapi, Mbak, perempuan kan kalau sudah pintar suka nyeleneh. Suka ngangkangi suami!

Yaaa, tentu tidak menutup kemungkinan juga hal itu terjadi. Tapi, ketika sampai pada titik ini, mengapa masih perempuan saja yang selalu disalahkan? Lalu, laki-lakinya ke mana? Ngumpet di kamar mandi???

Saat perempuan B ngotot ingin melanjutkan pendidikan dengan konsekuensi membawa semua anak-anak mereka (entah dua, tiga, atau empat) ke kota yang berbeda dengan suami, desas-desus akan muncul. “Kok dia tega ninggalin suami sendirian? Kok anak-anaknya dibawa semua? Kasihan, kan, kalau suaminya kangen sama anak-anaknya?”

apakah ada yang ingat bahwa dia pergi untuk bersekolah (yang ujung-ujungnya bermanfaat secara ekonomi dan sosial bagi rumah tangga mereka) sekaligus mengasuh anak-anaknya? Perempuan itu mungkin saja tidak mempersoalkan betapa sibuk dan kacau-balau dunianya. Justru, yang ada dalam pikirannya, betapa repotnya sang suami jika anak-anak musti ditinggal. Tapi, nggak ngaruh tho semua pertimbangan itu? Tetap, yang dilakukan perempuan itu dianggap tidak sesuai dengan norma!

Lantas, ketika suami ketahuan berselingkuh dengan perempuan lain, tuduhan akan panjang seperti kereta api, semacam: “Iya, kasihan suaminya kesepian ditinggal anak dan istri. Pantas saja dia jadi selingkuh.”

Duh Gusti! Kok bisa-bisanya seseorang punya argumen yang korslet begitu? Kira-kira, jika istrinya yang selingkuh, bakal keluar komentar, “Mungkin dia lelah mengurusi anak dan tugas kuliah. Suaminya juga jarang berkunjung. Barangkali itu sekadar teman untuk berdiskusi dan bercerita,” gitu nggak?

O, ya jelas tidak! Buang jauh-jauh pemakluman semacam itu. Perempuan bukan berada dalam posisi yang bisa mengeluh, bisa mencari sandaran lain ketika sandaran kursi di rumah patah. Alih-alih, yang muncul adalah anggapan perempuan tersebut ganjen.

Perempuan masih saja berada dalam posisi yang mengenaskan ketika berurusan dengan institusi pernikahan. Jangankan perkara poligami, yang memiliki kecenderungan menempatkan perempuan sebagai bahan objektivikasi laki-laki saja masih banyak, kok. Lah wong urusan monogami saja sudah tidak adil sejak dalam pikiran. Sistem sosial budaya kita nyatanya sangat tidak berpihak pada perempuan.

Perempuan tidak pernah memiliki peran tunggal, terutama ketika sudah menikah. Ia harus bisa menjadi istri, menjadi ibu, sekaligus menjadi pekerja dalam satu waktu yang hanya berdurasi 24 jam sehari. Karenanya, perempuan harus bekerja cerdas dan berpikir keras. Perempuan dituntut untuk mandiri: ganti tabung gas, angkat galon, nyetir dan antar anak sekolah, menemani anak belajar, termasuk menangis sendiri ketika merasa lelah dengan semua tuntutan.

Tapi di satu sisi, kemandirian jadi semacam dementor bagi para perempuan. Dementor-dementor tersebut akan menelan mereka dari ‘kepatuhan’ mereka terhadap kehadiran sosok laki-laki (suami). Dan lagi-lagi, semata-mata itu dianggap sebagai kesalahan perempuan—bukan salah laki-laki, bukan salah sistem sosial dan budaya, terutama bukan kesalahan Tuhan. Mirisnya, kondisi ini justru dilanggengkan dan diagungkan oleh perempuan itu sendiri, disadari atau tidak. Salah satunya, ketika berghibah dengan sesama.

Pernikahan itu menyangkut kesepahaman, Saudara-saudara. Pun, termasuk  kesepahaman bagaimana sebuah rumah tangga musti berjalan. Ia bukan hanya perkara siapa yang pendidikannya lebih tinggi, siapa yang penghasilannya lebih besar, siapa yang musti jaga anak ketika yang satu bekerja, siapa yang harus masak, nyuci, atau beres-beres rumah ketika yang satu istirahat.  Jadi, kalimat semacam “Kamu tidak becus menjadi suami!” memiliki peluang yang sama besar dengan “Kamu tidak becus menjadi istri!”.

Istri Minta Cerai Karena Tidak Bahagia, Memangnya Boleh

Istri Minta Cerai Karena Tidak Bahagia, Memangnya Boleh

Istri Minta Cerai Karena Tidak Bahagia, Memangnya Boleh. Perceraian tentu bukan hal yang diinginkan oleh tiap pasangan, baik suami maupun istri. Hal ini karena sebagian dari mereka berpikir “Kalau akhirnya akan bercerai, kenapa harus menikah (dengannya)?”

Namun, lain halnya ketika segala macam upaya sudah dilakukan tetapi tidak ada hasil yang didapatkan. Ketika seorang suami dirasa tidak dapat memberikan kebahagiaan atau setidaknya rasa nyaman terhadap istrinya, maka bolehkah istri minta cerai karena tidak bahagia?

Mengenal Aturan Tentang Perkawinan.  Alasan Perceraian

  1. Upaya perdamaian atau mediasi yang dilakukan oleh suami dan istri gagal, sehingga tidak mencapai suatu titik temu.
  2. Alasan permohonan perceraian sesuai dengan aturan yang berlaku, dalam hal ini salah satunya UUP itu tadi.
  3. Salah satu pihak (antara suami atau istri) berbuat zina, atau melakukan hal yang tidak seharusnya namun sulit untuk disembuhkan (misalnya mabuk dan judi);
  4. Salah satu pihak pergi tanpa izin atau menghilang tanpa alasan selama dua tahun berturut-turut;
  5. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara selama lima tahun atau lebih;
  6. Salah satu pihak melakukan perbuatan pidana, misalnya menganiaya atau perbuatan lain yang dapat membahayakan pihak lainnya;
  7. Salah satu pihak mengalami kekurangan fisik atau penyakit yang membuatnya tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/istri; dan
  8. Terjadinya pertengkaran atau selisih paham terus-menerus, sehingga dirasa kecil harapan untuk dapat rukun kembali.

Sebelum masuk pada bahasan yang lebih jauh lagi, mari kita cari tahu aturan yang berlaku terkait dengan seluk-beluk perkawinan.

Di Indonesia, ada beberapa Peraturan Perundang-undangan yang mengatur tentang perkawinan, salah satunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan atau bisa kita singkat dengan UU 1/1974 atau UUP. Selain itu, ada juga Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1975 (PP 9/1975) sebagai aturan pelaksana dari UUP.

Kita mungkin sudah tahu kalau perceraian itu salah satu penyebab putusnya suatu ikatan perkawinan. Dalam UUP sendiri disebutkan dua alasan lain (selain karena perceraian) yang menjadi pemutus ikatan perkawinan, yaitu karena peristiwa kematian dan Putusan dari Pengadilan.

Tapi tahukah bahwa UUP ternyata juga menyebutkan beberapa alasan suami atau istri dapat mengajukan permohonan untuk cerai?

Menurut UUP, perceraian hanya dapat dilakukan jika:

Dua alasan ini yang membuat suami atau istri tidak bisa langsung begitu saja bilang “Aku mau cerai sama kamu!”

Nah, apa saja sih alasan-alasan yang dimaksud?

Tepatnya dalam Pasal 39 UUP disebutkan bahwa ada enam hal yang dapat menjadi alasan untuk mengajukan permohonan perceraian:

Apabila salah satu alasan di atas dapat terpenuhi, maka suami atau istri boleh mengajukan permohonan perceraian ke pengadilan.


Bolehkah seorang istri minta cerai karena alasan tidak bahagia?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari kita lihat esensi dari pernikahan itu sendiri.

Dalam UUP tertulis jelas,

“Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Artinya, jika seorang laki-laki atau perempuan memutuskan untuk menikah, maka sudah seharusnya ia berharap agar ikatan pernikahan yang dilakukannya tersebut dapat berlangsung lama, langgeng, kekal. Rasanya hampir tidak ada orang yang menikah hanya untuk cerai.

Maka pada dasarnya, perceraian dapat dianggap sebagai opsi terakhir jikalau ikatan rumah-tangga yang dijalin benar-benar tidak lagi dapat diselamatkan.

Mungkin sebagian dari kita pernah mendengar kalimat “Bertahan demi anak”. Kalimat yang menunjukkan bahwa ada keinginan untuk pisah, namun karena ada anak (hasil dari perkawinan tersebut) maka ia memilih untuk mempertahankan rumah tangganya.

Berkaca dari kalimat tersebut, pada dasarnya kebahagiaan dalam suatu keluarga bukan hanya dilihat dari seberapa bahagianya anak. Hal ini dikarenakan, baik suami ataupun istri juga berhak untuk merasakan bahagia. Untuk itulah, ketika dalam pernikahan rasanya sudah tidak lagi mendatangkan rasa bahagia dalam diri salah satu atau kedua belah pihak, maka perceraianlah yang akhirnya menjadi solusi.

Dalam peraturan yang berlaku, apabila seorang istri minta cerai karena tidak bahagia sebenarnya diperbolehkan. Alasan ini berkaitan dengan poin keenam yang menyebutkan bahwa permohonan perceraian diajukan karena adanya pertengkaran atau selisih paham yang berkelanjutan hingga menyebabkan kecilnya harapan untuk dapat akur kembali.

Bagaimana jika permintaan tersebut diajukan saat tidak dalam keadaan bertengkar?

Diakui ataupun tidak, rasa tidak bahagia yang dialami seorang istri dapat menyebabkan dirinya merasa tak lagi nyaman, sekalipun berada di dekat suami bahkan anak. Ketidaknyamanan ini jika dibiarkan terus-menerus dapat menimbulkan cekcok, perselisihan, yang diawali dengan sikap tidak menjalankan dengan baik peran serta kewajibannya sebagai istri.

Namun penting untuk diingat, sekalipun ada seorang istri minta cerai dengan alasan tidak bahagia, ia harus mempertimbangkan secara matang mengenai dampak yang akan terjadi apabila perceraian benar-benar dikabulkan oleh Majelis Hakim. Salah satunya ialah tentang anak.

Istri yang minta cerai dengan alasan tidak bahagia bukan hanya memikirkan bagaimana kehidupan anak ke depannya atau dengan siapa ia akan tinggal. Akan tetapi, ia juga perlu memikirkan dari sisi anak itu sendiri.

Apakah ia rela jika kedua orang tuanya berpisah?

Apakah akan ada luka yang berbekas pada diri anak, yang mana luka ini tentu akan memberikan dampak pada masa depannya. Maka berpisahlah baik-baik, dengan catatan bahwa anak dapat menerimanya.

Sebagai contoh, bisa kita lihat pada perceraian antara Mawar Dhimas Febra Purwanti atau yang dikenal dengan sebutan Mawar AFI dengan suaminya beberapa bulan lalu.

Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa salah satu alasan yang membuat Mawar AFI dengan suaminya bercerai adalah karena ia merasa tidak bahagia, meskipun hingga perceraian diputus oleh hakim ia memiliki tiga orang anak dari perkawinanannya.

Akhirnya, Pengadilan Agama menyetujui permohonan perceraian tersebut. Namun belum genap dua bulan berlalu, tanpa sadar perceraian yang terjadi justru berdampak pada anak-anaknya. Hal ini sebagaimana dikutip dalam laman cnnindonesia(dot)com.

Dengan demikian, perceraian antara Mawar AFI dengan sang suami menjadi salah satu kejadian yang dapat kita ambil pelajaran, yakni ketika seorang istri memang sudah merasa tidak bahagia dalam rumah tangga yang telah dibina, maka boleh baginya untuk mengajukan permohonan cerai. Namun pastikan beberapa hal, di antaranya:

Pertama, sebelumnya telah diskusi sebagai upaya mediasi namun tak kunjung mendapat titik terang.

Kedua, telah memikirkan dampak yang akan terjadi.

Ketiga, apabila ada anak di tengah-tengah keduanya maka pastikan ia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Hal ini sebagai antisipasi akan hal buruk di kemudian hari.

Hukum istri meminta cerai adalah haram jika tanpa alasan syar'i. Sebab, dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja perempuan yang meminta (menuntut) cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan maka diharamkan bau surga atas perempuan tersebut,” (HR. Abu Dawud, Al-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Penyesalan Wanita yang Dulu Ngotot Minta Cerai Gegara Cemburu Lihat Suami Lebih Peduli pada Ibunya

Penyesalan Wanita yang Dulu Ngotot Minta Cerai Gegara Cemburu Lihat Suami Lebih Peduli pada Ibunya

Penyesalan Wanita yang Dulu Ngotot Minta Cerai Gegara Cemburu Lihat Suami Lebih Peduli pada Ibunya. Kisah seorang istri yang meminta cerai gara-gara suaminya disebut lebih perhatian pada ibunya viral di media sosial. Wanita tersebut akhirbya menyesal sudah ngotot minta cerai. Kehidupan dalam pernikahan memang sangat penting untuk menentukan skala prioritas. Apalagi bagi seorang anak laki-laki, beberapa di antaranya masih beranggapan jika mengabdi pada ibu adalah sebuah kewajiban.

Tetapi sikap itu tak selamanya berbuah manis. Belakangan viral di media sosial kisah seorang istri merasa cemburu lantaran sang suami dianggap lebih peduli pada sang ibu yang telah uzur ketimbang pada pasangannya. Beruntung kisah ini tidak terjadi di Indonesia. Melainkan di Kuala Lumpur, Malaysia. Seorang istri menggugat cerai suaminya lantaran terlalu peduli pada ibunya. Pihak istri gugat cerai karena cemburu suami merawat ibu dan anggap mertua sebagai pengganggu rumah tangga.

Seorang pengacara berasal dari Kuala Lumpur, Nur Fatihah Azzahra membagikan momen ketika ia menghadiri pengadilan yang melibatkan suami dan ibu dengan istrinya. Pengalaman yang melibatkan keluarga yang memilih cerai, karena istri merasa cemburu dan menganggap ibu mertua sebagai pengganggu rumah tangga, telah dibagikan lebih dari seribu kali.

Pengacara ini menerangkan, dalam tempo setahun, seorang istri merasa sakit hati dan diabaikan suami, karena mengurus ibunya yang uzur. Padahal, ia tinggal serumah dengan ibu dan suaminya, namun karena seusai pulang bekerja, suaminya selalu mengurus ibu, ia merasa diabaikan. Ada satu di mahkamah, seorang istri minta cerai karena suaminya menjaga ibu yang sudah uzur.

Suami sebenarnya sudah menyediakan pembantu di rumah, agar istri tidak merasa terbebani dalam mengurus ibu sewaktu-waktu jika pergi bekerja. Selesai bekerja, suaminya yang mengurus ibu yang uzur tersebut dan dibantu oleh anak sulung mereka, yang berusia 20 tahunan, hal ini diakui oleh istrinya sendiri. Yang menganggu istrinya adalah ia menganggap suami lebih peduli pada ibunya daripada istri.

Ia kemudian terbakar rasa cemburu, sakit hati dan merasa terabaikan sampai menganggap ibu mertuanya sebagai pengganggu rumah tangga.

Si suami anak tunggal.  Pada saat sesi memberikan keterangan, di depan hakim pengadilan si istri menuntut suami. Ia bertanya 'tidakkah ingin memberikan ibu pada keluarga lain, atau minta pada panti jompo untuk merawat ibu, nanti setiap hari minggu kita kunjungi bersama. Si ibu hanya mampu memggerakkan tangan pada kursi rodanya, kalau tidak ada yang melihat, ibu hanya terbaring sepanjang waktu di tempat tidur.

Istrinya sudah hampir setahun menuntut cerai, pada masa itu pula sudah sangat banyak perundingan dilakukan, berbagai nasehat sampai pada melakukan konseling. Cuma kali ini, si istri nekad mendaftarkan berkas perceraian karena alasan cemburu. Suami akhirnya setuju dan menceraikan istrinya dengan talak 1. Tentang istrinya yang minta bercerai, bagaimana akhirnya ? Itu yang ia luapkan pada anak sulungnya. Apalagi anak-anaknya memilih tinggal bersama ayahnya dan juga menjaga nenek mereka. Beberapa warganet juga mengatakan turut sedih dengan kejadian berlaku demikian.

Menyebut seorang ibu yang sudah uzur mestinya mendapatkan perlakuan sangat baik dari anaknya, termasuk menantu.  Beberapa komentar warganet dari Malaysia. "Kepada Lelaki Muslim diluar sana ... Fahami ler ... Sekaya mana sekali pun ... Syurga tetap diatas restu IBU. IBU satu satunya insan yang melahirkan dan mendidik kita hingga berjaya tiada alang gantinya. Isteri pula adalah pilihan kita dan kita masih sentiasa boleh memilih atau menambah yang lain!!!," Suhaimi Nawir. 

"Setiap wanita bergelar Ibu layak dilayan baik dan dijaga sebaik mungkin. "Namum tidak semua ibu melayan anak mahupun menantu seadilnya. "Tapi wajar anak melayannya dengan baik. "Sebab gaji keperihatinan kepada wanita bergelar ibu dibayar gaji oleh Allah bukan manusia," Has Lynda. 

Rujuk Setelah Gugat Cerai, Apa yang Harus Dilakukan

Rujuk Setelah Gugat Cerai, Apa yang Harus Dilakukan

Keinginan bercerai biasanya muncul pada  pasangan suami istri yang kerap menghadapi konflik rumah tangga.  Merasa tidak tahan dengan beban yang dihadapi, hingga keinginan bercerai pun diungkapkan. Tidak sedikit yang kemudian berpikir ulang dan memutuskan rujuk. Akan tetapi, setelah rujuk pun tidak menutup kemungkinan akan berakhir dengan perceraian.

Psikolog Anna Surti Ariani mengatakan, ketika hubungan yang sudah rujuk ternyata tidak bisa dipertahankan, biasanya karena masalah-masalah penyebab konflik tidak terungkap dan terselesaikan. Rujuk hanya sekadar kembali bersama, tapi tidak bergerak maju. Maka diperlukan bantuan pihak ketiga, misalnya konselor pernikahan.

"Kalau dalam konseling-konseling perkawinan, sih biasanya psikolog akan membantu pasangan untuk menemukan tujuan bersama. Akan dibantu juga untuk menemukan masalah-masalah yang sesungguhnya, bukan hanya yang dirasakan sebagai masalah, dan dibantu untuk menyelesaikannya juga," kata Anna Surti Ariani.

Barulah setelah itu dibantu untuk menemukan hal-hal yang menjadi potential problem. Ini diperlukan agar tidak sampai terulang kembali konflik rumah tangga di masa mendatang yang tidak terselesaikan. Minimal, pasangan sudah lebih siap dengan segala kemungkinan tantangan yang akan dihadapi. Namun Anna Surti Ariani mengingatkan, proses ini tidak bisa dilakukan sekali jalan.

"Perlu cukup banyak pertemuan, tergantung sejauh mana pasangan ini bisa bekerja sama satu sama lain dan dengan psikolognya juga," ujar Anna Surti Ariani. "Bisa jadi sangat panjang, bisa juga cepat. Karena ada pasangan yang setelah melakukan konseling, mereka lekas menyadari penyebab pertengkaran aslinya. Lalu setelah diajari trik-trik bertengkar yang efektif, bisa jadi cepat menemukan solusi," pungkasnya.

Istri Menolak Bercerai, Cukup Dengan Talak Secara Agama

Istri Menolak Bercerai, Cukup Dengan Talak Secara Agama

Istri Menolak Bercerai, Cukup Dengan Talak Secara Agama. Meskipun semua pasangan suami-istri pasti ingin agar hubungan pernikahan berlangsung selamanya, sayangnya tidak semua pasangan bisa mewujudkannya. Artinya, ada juga pasangan suami-istri yang harus bercerai dan berpisah karena berbagai alasan. Meski demikian, ada juga kasus di mana pasangan menolak bercerai, di mana istri tidak mau atau menolak gugatan cerai yang dilayangkan oleh suami.

Cerai Talak Dan Cerai Gugat

Di dalam perceraian secara Islam di Indonesia, ada yang disebut sebagai cerai talak dan cerai gugat. Perbedaannya adalah cerai talak diajukan oleh suami, sedangkan cerai gugat diajukan oleh istri.

Dalam Pasal 117 Kompilasi Hukum Islam (KHI), talak didefinisikan sebagai ikrar suami yang dilakukan di hadapan Pengadilan Agama dan merupakan salah satu penyebab dari putusnya perkawinan.

Lebih jauh lagi, hal ini dijelaskan di dalam Pasal 129 KHI, yang mengatur bahwa suami yang hendak menjatuhkan talak kepada istri mengajukan permohonan, baik itu secara tertulis atau secara lisan, kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggal istri. Permohonan tersebut juga disertai alasan dan permintaan sidang untuk perceraian tersebut.

Dengan demikian, jelas bahwa agar diakui secara hukum negara, talak oleh suami harus diucapkan atau dilakukan di hadapan Pengadilan Agama. Akan tetapi, bagaimana jika talak dilakukan oleh suami di luar Pengadilan Agama?

Menurut Nasrulloh Nasution, S.H., di dalam artikel Akibat Hukum Talak di Luar Pengadilan yang dikutip dari laman hukumonline

talak oleh suami di luar Pengadilan Agama sah hanya berdasarkan hukum agama. Dengan begitu, talak tersebut jadi tidak sah berdasarkan hukum negara Indonesia. Hal ini juga berarti bahwa ikatan perkawinan tersebut belum berakhir atau belum putus berdasarkan hukum.”

Lebih lanjut lagi, gugat cerai pada KHI, tepatnya di Pasal 132, merupakan gugatan perceraian yang dilakukan istri atau kuasanya kepada Pengadilan Agama yang wilayah hukumnya termasuk tempat tinggal penggugat (istri). Pengecualian terjadi apabila istri meninggalkan tempat tinggal tanpa izin dari suami.

Gugatan perceraian sendiri bisa diterima apabila istri sebagai tergugat menunjukkan atau menyatakan sikap bahwa ia tidak mau lagi kembali ke tempat tinggal bersama. Di dalam KHI, hal ini dituangkan di dalam Pasal 132.

Jatuhnya Talak Oleh Suami Secara Agama

Terkait dengan cerai talak, talak sendiri terjadi begitu suami melontarkan kata talak yang ditujukan kepada istri. Oleh karena itu, dalam hal pasangan menolak bercerai di mana istri menolak, talak tetap akan terjadi.

Hanya saja, perlu diperhatikan pula seperti apa lafadz atau ucapan (kalimat) talaknya, apakah secara samar-samar (khafiy atau majazi), atau secara tegas dan lugas (sharih).

Contoh lafadz talak yang samar-samar adalah sebagai berikut:

  • “Pulang saja kamu ke tempat orang tuamu.”
  • “Aku tak sanggup lagi tinggal denganmu. Jadi, kamu keluar saja dari rumahku.”

Apabila lafadz talak diucapkan secara samar-samar alias tidak tegas, lafadz yang seperti ini sebenarnya tidak dianggap sebagai talak yang sesungguhnya, terutama jika suami tidak memiliki niatan untuk menceraikan istrinya. Dengan begitu, tali pernikahan tidak terputus. Akan tetapi, kalau suami sudah punya maksud untuk menceraikan istrinya dan melemparkan talak samar-samar sekalipun, talak satu tetap jatuh atas istri.

Sementara itu, talak yang dilontarkan suami secara lugas atau tegas kepada istri secara hukum agama sudah dianggap sebagai talak sesungguhnya. Dengan begitu, pernikahan antara suami dan istri jadi terputus dengan keluarnya lafadz talak yang sharih atau tegas. Contohnya:

  • “Aku ceraikan kamu.”
  • “Aku menalakmu saat ini juga.”

Adanya kata ‘cerai’ dan ‘talak’ sudah menjadi lafadz talak yang sharih. Oleh karena itu, keluarnya salah satu dari kedua kata itu dari suami kepada istri, artinya talak satu sudah jatuh, bahkan jika suami sebenarnya tidak benar-benar berniat untuk menalak istrinya. Apapun alasannya, begitu keluar lafadz talak yang tegas, talak tetap terjadi dan tak ada lagi alasan yang sah bagi pasangan menolak bercerai dalam hal ini.

Pengecualiannya adalah bahwa kondisi suami terbukti sedang tidak sadarkan diri saat ia mengucapkan kata ‘cerai’ atau ‘talak’. Contohnya sedang mengigau atau sedang pingsan.

Talak Satu Sudah Jatuh, Bisakah Istri Menolak?

Dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa:

  • Dalam hal lafadz talak yang samar dan suami tidak benar-benar berniat menceraikan istri, talak belum jatuh.
  • Dalam hal lafadz talak yang samar tapi suami benar berniat menceraikan istri, talak satu sudah jatuh atas istri.
  • Dalam hal lafadz talak jelas, talak satu tetap jatuh apapun alasannya.
  • Dalam hal lafadz talak jelas, talak belum jatuh hanya jika suami mengucapkannya dalam kondisi tidak sadar.

Dengan demikian, pasangan menolak bercerai karena istri tidak mau atau menolak talak, kondisi di atas harus diperhatikan terlebih dahulu.

Sedangkan jika talak satu memang sudah jatuh atas istri, istri tidak bisa menolak. Hanya saja, bukan berarti bahwa perkawinan sudah benar-benar putus. Pasalnya, setelah jatuhnya talak satu, suami dan istri masih bisa rujuk.

Rujuk Setelah Talak

Ketika talak satu benar-benar sudah dijatuhkan atas istri, sang istri pun memasuki masa iddah. Nah, selama masa iddah ini, suami dan istri bisa rujuk kembali. Sedangkan lama masa iddah untuk istri yang ditalak oleh suami adalah 3 kali masa suci dari haid, sebagaimana di dalam firman Allah SWT di dalam Surat Al-Baqarah: 228 yang berarti: “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri tiga kali quru’.”

Jadi, misalnya suami menjatuhkan talak kepada istri dengan lafadz talak tegas atau jelas, seperti, “Mulai hari ini kamu aku ceraikan.” Meskipun talak sudah jatuh, sebenarnya istri masih memasuki masa iddah yang berlangsung selama 3 quru’ atau 3 kali masa suci dari haid. Dan selama masa iddah lewat, istri bisa kembali rujuk dengan suami, yang berarti perkawinan belum terputus. Apabila rujuk dilakukan selama masa iddah, perkawinan ulang tidak perlu dilakukan kembali.

Bagaimana Jika Tidak Ada Rujuk?

Akan tetapi, apabila istri dan suami tidak rujuk selama masa iddah setelah talak satu maupun talak dua, artinya perkawinan sudah putus. Apabila suami baru berniat rujuk setelah lewat masa iddah, lelaki harus kembali meminang wanita tersebut kepada wali, menikahi dengan mahar baru, serta melakukan ijab qabul baru sesuai dengan ketentuan Islam.

Meski begitu, rujuk tidak bisa dilakukan apabila wanita sudah mengakhiri masa iddah dan menikah dengan laki-laki lain. Dalam hal ini, mantan suami tidak bisa merujuk karena mantan istrinya sudah menjadi istri orang lain.

Sementara jika wanita telah mengakhiri masa iddah dalam kasus talak tiga, mantan suami tidak bisa rujuk dengan mantan istri, bahkan dengan meminangnya kembali, menikahi dengan mahar baru, maupun ijab qabul kembali sekalipun. Untuk kasus ini, mantan istri yang sudah ditalak tiga dan menyelesaikan iddah harus menikah dengan laki-laki lain, memenuhi kewajiban suami-istri secara halal, dan bercerai dulu.

Sebagai contoh, A telah menalak tiga B, dan B telah melewati masa iddah tanpa ada rujuk dari A. Dengan begitu, B bisa menikah dengan laki-laki lain, misalnya C. Apabila B dan C sudah menjalankan hak-kewajiban suami-istri secara halal, tapi B dan C bercerai, A bisa kembali menikahi B.

Meski demikian, pernikahan antara B dan C tidak boleh diniati sebagai pernikahan sementara dengan tujuan agar B bisa kembali lagi ke A. Hal ini disebut muhallil, yang dilaknat oleh Allah SWT sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW.


Referensi : Istri Menolak Bercerai, Cukup Dengan Talak Secara Agama