This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 25 Agustus 2022

11 Dampak Perceraian terhadap Anak yang Penting Diwaspadai

11 Dampak Perceraian terhadap Anak yang Penting Diwaspadai. Dampak perceraian terhadap anak di antaranya mengganggu kesehatan mental, mengundang perilaku buruk, hingga penurunan nilai akademis di sekolah.  Perceraian tidak hanya berdampak buruk pada pasangan suami dan istri saja, tapi juga anak-anak. Perpisahan kedua orangtua dinilai dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan mental dan fisik anak. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai dampak perceraian terhadap anak, berikut adalah penjelasan yang bisa Anda simak.  Saat hubungan pernikahan berada di ujung tanduk, perceraian kerap dipertimbangkan sebagai jalan keluarnya.   Namun, tidak jarang ada pasangan yang ingin bercerai tapi kasihan anak. Kehadiran anak dapat membuat perceraian terasa semakin berat bagi kedua belah pihak.  Perceraian kemungkinan meninggalkan sejumlah dampak bagi kehidupan anak. Berikut adalah berbagai potensi efek perceraian bagi anak yang perlu diperhatikan.  1. Risiko gangguan mental 2. Perilaku eksternalisasi Conduct disorder, yaitu gangguan perilaku yang ditandai dengan penyimpangan norma sosial dan perampasan hak orang lain Delinquency, yaitu kenakalan yang dilakukan oleh remaja di bawah umur Perilaku impulsif, yaitu melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang. 3. Perilaku berisiko Melakukan penyalahgunaan obat terlarang Melakukan seks di usia dini Merokok Mengonsumsi alkohol sebelum waktunya. 4. Penurunan prestasi di sekolah 5. Merasa bersalah 6. Masalah kesehatan 7. Merasa tidak nyaman terjebak di tengah 8. Menarik diri dari lingkungan sosial 9. Berisiko mengalami perceraian di masa depan 10. Amarah yang tidak terkontrol 11. Sulit beradaptasi x   Terlepas dari usia dan jenis kelamin, anak korban perceraian orangtua memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami gangguan mental.  Sebagian anak korban perceraian memang mampu melakukan penyesuaian dan bisa pulih beberapa bulan kemudian. Namun, tak sedikit pula yang mengalami depresi dan gangguan kecemasan.  Dampak perceraian terhadap anak dapat menyebabkan perilaku eksternalisasi.  Dibandingkan dengan anak-anak dengan keluarga utuh, anak korban perceraian sangat rentan terhadap perilaku eksternalisasi atau masalah perilaku yang ditujukan pada lingkungan luar.  Beberapa contoh perilaku eksternalisasi adalah:  Selain itu, perceraian orangtua menempatkan anak pada risiko terhadap konflik dengan anak-anak lain seusianya.  Selain rentan berperilaku tidak baik terhadap lingkungan luarnya, anak korban perceraian juga berisiko terhadap tindakan berbahaya yang mengancam kesehatannya. Beberapa kemungkinan perilaku berisiko tersebut adalah:  Menurut ahli, anak yang orangtuanya memutuskan bercerai saat ia berusia 5 tahun atau kurang, berisiko untuk menjadi aktif secara seksual sebelum menginjak usia 16 tahun.  Selain itu, anak-anak yang berpisah dari ayah mereka, juga berpotensi melakukan seks berganti-ganti pasangan selama masa remaja.  Penurunan prestasi di sekolah dianggap bisa terjadi akibat perceraian bagi anak. Menurut ahli, anak yang menghadapi perceraian orangtuanya yang dikabarkan dengan tiba-tiba, memiliki masalah pada prestasi belajar di sekolah.  Apabila anak sudah memperkirakan bahwa orangtuanya akan bercerai, kemungkinan dampaknya mungkin tidak separah kasus pertama.  Dampak perceraian terhadap pendidikan anak ini tentu perlu diperhatikan guna menjaga nilai akademisnya di sekolah.  Dampak perceraian terhadap anak selanjutnya adalah perasaan bersalah. Perasaan anak yang orangtuanya bercerai memang bisa terganggu. Dilansir dari Family Means, anak dapat merasa bersalah saat kedua orangtuanya berpisah.  Sebab, anak-anak dapat berpikiran bahwa mereka yang biang keladi di balik perceraian orangtuanya. Tekanan dari perasaan bersalah ini dapat mengundang depresi, stres, dan masalah kesehatan lainnya.  Tidak hanya kesehatan mental anak saja yang terdampak dari perceraian, tapi juga kesehatan fisiknya. Anak korban perceraian dianggap lebih berisiko mengidap penyakit karena beberapa faktor, salah satunya kesulitan tidur di malam hari.  Kurang tidur dapat mengundang sejumlah masalah kesehatan, mulai dari kenaikan berat badan berlebih hingga melemahnya sistem imun.  Ketika orangtua bertengkar, anak-anak dapat mengalami disonansi kognitif dan konflik loyalitas. Hal ini membuat mereka merasa terjebak di tengah dan tidak tahu apakah harus berpihak pada Anda atau pasangan.  Anak-anak dapat menunjukkan ketidaknyamanan dengan lebih sering mengalami sakit perut atau sakit kepala. Kondisi tersebut juga dapat mempengaruhi perkembangannya.  Konflik loyalitas menjadi lebih menonjol seiring bertambahnya usia. Pada akhirnya, hal ini dapat mengarah pada pemutusan hubungan total dengan salah satu orangtua.  Anak-anak dapat menarik dirinya dari lingkungan sosial akibat perceraian orangtua. Si kecil kemungkinan tidak lagi semangat untuk bertemu teman-teman atau menghadiri acara sekolahnya.  Dampak perceraian terhadap anak ini terjadi karena ada banyak perasaan yang mereka rasakan di dalam dirinya sehingga menyebabkan rasa cemas dan malu untuk bersosialisasi.  Menurut berbagai studi yang diulas dalam jurnal Population and Development Review, dampak orangtua bercerai bagi anak dianggap bisa membuatnya mengalami hal yang sama di masa depan.  Pasalnya, perpisahan kedua orangtuanya dapat mengubah sikap anak terhadap hubungan. Mereka mungkin kurang tertarik untuk memiliki hubungan jangka panjang yang berkomitmen saat mereka beranjak dewasa.  Terdapat beberapa dampak perceraian bagi psikologis anak, salah satunya bisa membuat anak mudah marah.  Dalam beberapa kasus, emosi anak menjadi tak terkontrol saat kedua orangtuanya bercerai. Hal ini berpotensi membuat amarah di dalam diri anak membara.  Amarah ini dapat diluapkan kepada kedua orangtuanya, diri mereka sendiri, teman-teman, atau orang lain. Tidak hanya itu, dampak perceraian bagi anak juga dinilai bisa membuat si kecil menjadi mudah murah.  Dampak orangtua bercerai bagi anak juga dapat membuat anak kesulitan beradaptasi.  Saat kedua orangtua bercerai, kemungkinan anak dapat dihadapkan dengan situasi, keluarga, lingkungan atau orangtua baru. Situasi ini dapat menuntut anak untuk beradaptasi dengan cepat.  Belum lagi kalau anak harus pindah ke sekolah baru karena ikut dengan orangtua tirinya. Kondisi ini bisa menuntut anak untuk beradaptasi dengan teman-teman dan lingkungan baru yang masih asing untuknya.  Hal inilah yang terkadang membuat orangtua ingin bercerai tapi kasihan anak.

11 Dampak Perceraian terhadap Anak yang Penting Diwaspadai. Dampak perceraian terhadap anak di antaranya mengganggu kesehatan mental, mengundang perilaku buruk, hingga penurunan nilai akademis di sekolah.

Perceraian tidak hanya berdampak buruk pada pasangan suami dan istri saja, tapi juga anak-anak. Perpisahan kedua orangtua dinilai dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan mental dan fisik anak. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai dampak perceraian terhadap anak, berikut adalah penjelasan yang bisa Anda simak.

Saat hubungan pernikahan berada di ujung tanduk, perceraian kerap dipertimbangkan sebagai jalan keluarnya. 

Namun, tidak jarang ada pasangan yang ingin bercerai tapi kasihan anak. Kehadiran anak dapat membuat perceraian terasa semakin berat bagi kedua belah pihak.

Perceraian kemungkinan meninggalkan sejumlah dampak bagi kehidupan anak. Berikut adalah berbagai potensi efek perceraian bagi anak yang perlu diperhatikan.

1. Risiko gangguan mental

2. Perilaku eksternalisasi
  • Conduct disorder, yaitu gangguan perilaku yang ditandai dengan penyimpangan norma sosial dan perampasan hak orang lain
  • Delinquency, yaitu kenakalan yang dilakukan oleh remaja di bawah umur
  • Perilaku impulsif, yaitu melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang.
3. Perilaku berisiko
  • Melakukan penyalahgunaan obat terlarang
  • Merokok
  • Mengonsumsi alkohol sebelum waktunya.
4. Penurunan prestasi di sekolah
5. Merasa bersalah
6. Masalah kesehatan
7. Merasa tidak nyaman terjebak di tengah
8. Menarik diri dari lingkungan sosial
9. Berisiko mengalami perceraian di masa depan
10. Amarah yang tidak terkontrol
11. Sulit beradaptasi
x

Terlepas dari usia dan jenis kelamin, anak korban perceraian orangtua memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami gangguan mental.

Sebagian anak korban perceraian memang mampu melakukan penyesuaian dan bisa pulih beberapa bulan kemudian. Namun, tak sedikit pula yang mengalami depresi dan gangguan kecemasan.

Dampak perceraian terhadap anak dapat menyebabkan perilaku eksternalisasi.

Dibandingkan dengan anak-anak dengan keluarga utuh, anak korban perceraian sangat rentan terhadap perilaku eksternalisasi atau masalah perilaku yang ditujukan pada lingkungan luar.

Beberapa contoh perilaku eksternalisasi adalah:

Selain itu, perceraian orangtua menempatkan anak pada risiko terhadap konflik dengan anak-anak lain seusianya.

Selain rentan berperilaku tidak baik terhadap lingkungan luarnya, anak korban perceraian juga berisiko terhadap tindakan berbahaya yang mengancam kesehatannya. Beberapa kemungkinan perilaku berisiko tersebut adalah:

Menurut ahli, anak yang orangtuanya memutuskan bercerai saat ia berusia 5 tahun atau kurang, berisiko untuk menjadi aktif secara seksual sebelum menginjak usia 16 tahun.

Selain itu, anak-anak yang berpisah dari ayah mereka, juga berpotensi melakukan seks berganti-ganti pasangan selama masa remaja.

Penurunan prestasi di sekolah dianggap bisa terjadi akibat perceraian bagi anak. Menurut ahli, anak yang menghadapi perceraian orangtuanya yang dikabarkan dengan tiba-tiba, memiliki masalah pada prestasi belajar di sekolah.

Apabila anak sudah memperkirakan bahwa orangtuanya akan bercerai, kemungkinan dampaknya mungkin tidak separah kasus pertama.

Dampak perceraian terhadap pendidikan anak ini tentu perlu diperhatikan guna menjaga nilai akademisnya di sekolah.

Dampak perceraian terhadap anak selanjutnya adalah perasaan bersalah. Perasaan anak yang orangtuanya bercerai memang bisa terganggu. Dilansir dari Family Means, anak dapat merasa bersalah saat kedua orangtuanya berpisah.

Sebab, anak-anak dapat berpikiran bahwa mereka yang biang keladi di balik perceraian orangtuanya. Tekanan dari perasaan bersalah ini dapat mengundang depresi, stres, dan masalah kesehatan lainnya.

Tidak hanya kesehatan mental anak saja yang terdampak dari perceraian, tapi juga kesehatan fisiknya. Anak korban perceraian dianggap lebih berisiko mengidap penyakit karena beberapa faktor, salah satunya kesulitan tidur di malam hari.

Kurang tidur dapat mengundang sejumlah masalah kesehatan, mulai dari kenaikan berat badan berlebih hingga melemahnya sistem imun.

Ketika orangtua bertengkar, anak-anak dapat mengalami disonansi kognitif dan konflik loyalitas. Hal ini membuat mereka merasa terjebak di tengah dan tidak tahu apakah harus berpihak pada Anda atau pasangan.

Anak-anak dapat menunjukkan ketidaknyamanan dengan lebih sering mengalami sakit perut atau sakit kepala. Kondisi tersebut juga dapat mempengaruhi perkembangannya.

Konflik loyalitas menjadi lebih menonjol seiring bertambahnya usia. Pada akhirnya, hal ini dapat mengarah pada pemutusan hubungan total dengan salah satu orangtua.

Anak-anak dapat menarik dirinya dari lingkungan sosial akibat perceraian orangtua. Si kecil kemungkinan tidak lagi semangat untuk bertemu teman-teman atau menghadiri acara sekolahnya.

Dampak perceraian terhadap anak ini terjadi karena ada banyak perasaan yang mereka rasakan di dalam dirinya sehingga menyebabkan rasa cemas dan malu untuk bersosialisasi.

Menurut berbagai studi yang diulas dalam jurnal Population and Development Review, dampak orangtua bercerai bagi anak dianggap bisa membuatnya mengalami hal yang sama di masa depan.

Pasalnya, perpisahan kedua orangtuanya dapat mengubah sikap anak terhadap hubungan. Mereka mungkin kurang tertarik untuk memiliki hubungan jangka panjang yang berkomitmen saat mereka beranjak dewasa.

Terdapat beberapa dampak perceraian bagi psikologis anak, salah satunya bisa membuat anak mudah marah.

Dalam beberapa kasus, emosi anak menjadi tak terkontrol saat kedua orangtuanya bercerai. Hal ini berpotensi membuat amarah di dalam diri anak membara.

Amarah ini dapat diluapkan kepada kedua orangtuanya, diri mereka sendiri, teman-teman, atau orang lain. Tidak hanya itu, dampak perceraian bagi anak juga dinilai bisa membuat si kecil menjadi mudah murah.

Dampak orangtua bercerai bagi anak juga dapat membuat anak kesulitan beradaptasi.

Saat kedua orangtua bercerai, kemungkinan anak dapat dihadapkan dengan situasi, keluarga, lingkungan atau orangtua baru. Situasi ini dapat menuntut anak untuk beradaptasi dengan cepat.

Belum lagi kalau anak harus pindah ke sekolah baru karena ikut dengan orangtua tirinya. Kondisi ini bisa menuntut anak untuk beradaptasi dengan teman-teman dan lingkungan baru yang masih asing untuknya.  Hal inilah yang terkadang membuat orangtua ingin bercerai tapi kasihan anak.

Pertimbangkan Baik-Baik, Begini 7 Efek Perceraian Orangtua bagi Anak

Pertimbangkan Baik-Baik, Begini 7 Efek Perceraian Orangtua bagi Anak.  Setiap keluarga tentu berharap bersama hingga maut memisahkan. Namun, tidak selamanya harapan menjadi kenyataan. Terkadang, di tengah perjalanan menjadi sebuah keluarga, badai datang dan menyebabkan perceraian.  1. Menimbulkan stres, cemas, trauma  Perceraian dipastikan menimbulkan trauma yang mendalam bagi anak, terutama jika usianya sudah cukup matang untuk mengamati situasi yang terjadi pada orangtuanya. Anak akan mengalami stres, merasa terabaikan, merasa tidak dicintai, kecemasan yang berlebih, dan efek psikologis lain yang mungkin akan terjadi dalam waktu yang lama.  2. Menurunnya prestasi belajar  Sejumlah penelitian membuktikan bahwa anak-anak korban perceraian cenderung bermasalah dalam perilaku yang berpengaruh pada menurunnya fokus belajar dan nilai-nilai akademik di sekolah. Jika sebelumnya seorang anak bisa meraih prestasi di sekolah, bisa saja ketika orangtuanya berpisah, situasi berubah dan ia menjadi kehilangan motivasi belajar dan membuat prestasinya menurun.   3. Mudah terpengaruh hal negatif  Perceraian juga menyebabkan anak yang beranjak remaja mudah terpengaruh oleh hal-hal buruk yang ditemuinya dalam pergaulan. Seperti merokok, minum alkohol, dan narkoba.  Hal ini disebabkan anak merasa tidak lagi diperhatikan oleh orangtuanya yang sibuk dengan masalah rumah tangga mereka. Apalagi, jika perceraian melalui proses yang tidak mudah sehingga masing-masing orangtua membutuhkan waktu untuk memulihkan dirinya sendiri sehingga mereka mengabaikan anak-anaknya.   4. Merasa rendah diri  Tidak dapat dihindari, efek perceraian membuat anak sulit bersosialisasi. Anak akan merasa malu, rendah diri dan iri pada teman-temannya yang masih memiliki keluarga yang utuh.  5. Apatis dalam berhubungan  Tidak hanya orangtua yang bersedih, perceraian menimbulkan luka dan trauma pada mental anak  Setiap keluarga tentu berharap bersama hingga maut memisahkan. Namun, tidak selamanya harapan menjadi kenyataan. Terkadang, di tengah perjalanan menjadi sebuah keluarga, badai datang dan menyebabkan perceraian.  Memang, perceraian adalah jalan terakhir yang bisa diambil jika segala upaya perdamaian dan perbaikan tidak bisa lagi dilakukan.  Tidak hanya orangtua yang tersakiti, perceraian juga menyisakan luka dan trauma pada anak yang mungkin akan terus dibawanya hingga dewasa.  Dampak perceraian yang mungkin terjadi pada anak mungkin bisa berbeda-beda, tergantung dari usia anak pada saat perceraian terjadi serta kepribadian anak itu sendiri. Pada anak usia balita, efek perceraian orangtua mungkin tidak terlalu berpengaruh terhadap perkembangan mentalnya.  Namun, lain halnya jika perceraian terjadi saat anak sudah memasuki usia sekolah, dimana ia sudah bisa mengamati situasi di sekitarnya dan menyadari bahwa orangtuanya tidak lagi bersama.  Sebelum memutuskan, pikirkan baik-baik efek perceraian yang mungkin terjadi pada anak berikut ini. Simak rangkuman Popmama.com berikut Ma.  1. Menimbulkan stres, cemas, dan trauma  Perceraian dipastikan menimbulkan trauma yang mendalam bagi anak, terutama jika usianya sudah cukup matang untuk mengamati situasi yang terjadi pada orangtuanya.  Anak akan mengalami stres, merasa terabaikan, merasa tidak dicintai, kecemasan yang berlebih, dan efek psikologis lain yang mungkin akan terjadi dalam waktu yang lama.  2. Menurunnya prestasi belajar  Sejumlah penelitian membuktikan bahwa anak-anak korban perceraian cenderung bermasalah dalam perilaku yang berpengaruh pada menurunnya fokus belajar dan nilai-nilai akademik di sekolah.  Jika sebelumnya seorang anak bisa meraih prestasi di sekolah, bisa saja ketika orangtuanya berpisah, situasi berubah dan ia menjadi kehilangan motivasi belajar dan membuat prestasinya menurun.   8 Doa Sebelum Tidur Kristen untuk Anak-Anak  Memahami Tipe Karakter dan Kepribadian ESTP pada Remaja  3. Mudah terpengaruh hal negatif  Perceraian juga menyebabkan anak yang beranjak remaja mudah terpengaruh oleh hal-hal buruk yang ditemuinya dalam pergaulan. Seperti merokok, minum alkohol, dan narkoba.  Hal ini disebabkan anak merasa tidak lagi diperhatikan oleh orangtuanya yang sibuk dengan masalah rumah tangga mereka. Apalagi, jika perceraian melalui proses yang tidak mudah sehingga masing-masing orangtua membutuhkan waktu untuk memulihkan dirinya sendiri sehingga mereka mengabaikan anak-anaknya.   4. Merasa rendah diri  Tidak dapat dihindari, efek perceraian membuat anak sulit bersosialisasi. Anak akan merasa malu, rendah diri dan iri pada teman-temannya yang masih memiliki keluarga yang utuh.  5. Apatis dalam berhubungan  Dalam jangka panjang, perceraian dapat menyebabkan anak menjadi apatis saat memulai hubungan dengan lawan jenisnya. Anak cenderung merasa takut untuk berkomitmen dan menganggap bahwa hubungan dengan lawan jenis itu tidak penting dan hanya berujung pada perpisahan.  6. Melakukan seks bebas  Hilangnya kasih sayang yang utuh dari kedua orangtua membuat anak berpotensi melakukan seks bebas saat ia mulai berpacaran dengan lawan jenisnya.  Karena merasa tidak ada yang memperhatikan sekaligus sebagai bentuk protes dan kekecewaan terhadap perceraian orangtuanya, mungkin saja anak melakukan hubungan seks terlalu dini yang tentu saja membawa efek mengerikan di kemudian hari.  Dalam perjalanan berumahtangga, terkadang kita akan menemui ‘badai’ yang siap memporakporandakan kehidupan rumah tangga. Namun, saat sebuah pernikahan sudah dikaruniai buah hati, maka hendaknya Mama dan Papa lebih bijak lagi mempertimbangkan segala keputusan yang akan diambil.  Tidak hanya menyangkut diri Mama atau Papa saja, tetapi juga demi perkembangan mental dan masa depan si Anak tersayang.   7. Sering menyalahkan diri sendiri  Anak-anak kerap merasa perpisahan orangtuanya adalah bagian dari kesalahan mereka sehingga mereka mulai menyalahkan diri mereka sendiri. Jika dibiarkan, mereka akan berkutat dengan pikiran bahwa mereka buruk, nakal, tidak bisa membuat bangga, membuat pertengkaran orangtua, membuat kekecewaan, dan menyebabkan orangtua berpisah.  Orangtua yang tidak menjelaskan penyebab perceraian kepada anak yang beranjak dewasa, menyebabkan anak bertanya-tanya dan terus berpikir bahwa merekalah penyebab orangtuanya tidak bahagia.

Pertimbangkan Baik-Baik, Begini 7 Efek Perceraian Orangtua bagi Anak.  Setiap keluarga tentu berharap bersama hingga maut memisahkan. Namun, tidak selamanya harapan menjadi kenyataan. Terkadang, di tengah perjalanan menjadi sebuah keluarga, badai datang dan menyebabkan perceraian.

1. Menimbulkan stres, cemas, trauma

Perceraian dipastikan menimbulkan trauma yang mendalam bagi anak, terutama jika usianya sudah cukup matang untuk mengamati situasi yang terjadi pada orangtuanya. Anak akan mengalami stres, merasa terabaikan, merasa tidak dicintai, kecemasan yang berlebih, dan efek psikologis lain yang mungkin akan terjadi dalam waktu yang lama.

2. Menurunnya prestasi belajar

Sejumlah penelitian membuktikan bahwa anak-anak korban perceraian cenderung bermasalah dalam perilaku yang berpengaruh pada menurunnya fokus belajar dan nilai-nilai akademik di sekolah. Jika sebelumnya seorang anak bisa meraih prestasi di sekolah, bisa saja ketika orangtuanya berpisah, situasi berubah dan ia menjadi kehilangan motivasi belajar dan membuat prestasinya menurun. 

3. Mudah terpengaruh hal negatif

Perceraian juga menyebabkan anak yang beranjak remaja mudah terpengaruh oleh hal-hal buruk yang ditemuinya dalam pergaulan. Seperti merokok, minum alkohol, dan narkoba.

Hal ini disebabkan anak merasa tidak lagi diperhatikan oleh orangtuanya yang sibuk dengan masalah rumah tangga mereka. Apalagi, jika perceraian melalui proses yang tidak mudah sehingga masing-masing orangtua membutuhkan waktu untuk memulihkan dirinya sendiri sehingga mereka mengabaikan anak-anaknya. 

4. Merasa rendah diri

Tidak dapat dihindari, efek perceraian membuat anak sulit bersosialisasi. Anak akan merasa malu, rendah diri dan iri pada teman-temannya yang masih memiliki keluarga yang utuh.

5. Apatis dalam berhubungan

Tidak hanya orangtua yang bersedih, perceraian menimbulkan luka dan trauma pada mental anak

Setiap keluarga tentu berharap bersama hingga maut memisahkan. Namun, tidak selamanya harapan menjadi kenyataan. Terkadang, di tengah perjalanan menjadi sebuah keluarga, badai datang dan menyebabkan perceraian.

Memang, perceraian adalah jalan terakhir yang bisa diambil jika segala upaya perdamaian dan perbaikan tidak bisa lagi dilakukan.

Tidak hanya orangtua yang tersakiti, perceraian juga menyisakan luka dan trauma pada anak yang mungkin akan terus dibawanya hingga dewasa.

Dampak perceraian yang mungkin terjadi pada anak mungkin bisa berbeda-beda, tergantung dari usia anak pada saat perceraian terjadi serta kepribadian anak itu sendiri. Pada anak usia balita, efek perceraian orangtua mungkin tidak terlalu berpengaruh terhadap perkembangan mentalnya.

Namun, lain halnya jika perceraian terjadi saat anak sudah memasuki usia sekolah, dimana ia sudah bisa mengamati situasi di sekitarnya dan menyadari bahwa orangtuanya tidak lagi bersama.

Sebelum memutuskan, pikirkan baik-baik efek perceraian yang mungkin terjadi pada anak berikut ini. Simak rangkuman Popmama.com berikut Ma.

1. Menimbulkan stres, cemas, dan trauma

Perceraian dipastikan menimbulkan trauma yang mendalam bagi anak, terutama jika usianya sudah cukup matang untuk mengamati situasi yang terjadi pada orangtuanya.

Anak akan mengalami stres, merasa terabaikan, merasa tidak dicintai, kecemasan yang berlebih, dan efek psikologis lain yang mungkin akan terjadi dalam waktu yang lama.

2. Menurunnya prestasi belajar

Sejumlah penelitian membuktikan bahwa anak-anak korban perceraian cenderung bermasalah dalam perilaku yang berpengaruh pada menurunnya fokus belajar dan nilai-nilai akademik di sekolah.

Jika sebelumnya seorang anak bisa meraih prestasi di sekolah, bisa saja ketika orangtuanya berpisah, situasi berubah dan ia menjadi kehilangan motivasi belajar dan membuat prestasinya menurun. 

8 Doa Sebelum Tidur Kristen untuk Anak-Anak

Memahami Tipe Karakter dan Kepribadian ESTP pada Remaja

3. Mudah terpengaruh hal negatif

Perceraian juga menyebabkan anak yang beranjak remaja mudah terpengaruh oleh hal-hal buruk yang ditemuinya dalam pergaulan. Seperti merokok, minum alkohol, dan narkoba.

Hal ini disebabkan anak merasa tidak lagi diperhatikan oleh orangtuanya yang sibuk dengan masalah rumah tangga mereka. Apalagi, jika perceraian melalui proses yang tidak mudah sehingga masing-masing orangtua membutuhkan waktu untuk memulihkan dirinya sendiri sehingga mereka mengabaikan anak-anaknya. 

4. Merasa rendah diri

Tidak dapat dihindari, efek perceraian membuat anak sulit bersosialisasi. Anak akan merasa malu, rendah diri dan iri pada teman-temannya yang masih memiliki keluarga yang utuh.

5. Apatis dalam berhubungan

Dalam jangka panjang, perceraian dapat menyebabkan anak menjadi apatis saat memulai hubungan dengan lawan jenisnya. Anak cenderung merasa takut untuk berkomitmen dan menganggap bahwa hubungan dengan lawan jenis itu tidak penting dan hanya berujung pada perpisahan.

6. Melakukan seks bebas

Hilangnya kasih sayang yang utuh dari kedua orangtua membuat anak berpotensi melakukan seks bebas saat ia mulai berpacaran dengan lawan jenisnya.

Karena merasa tidak ada yang memperhatikan sekaligus sebagai bentuk protes dan kekecewaan terhadap perceraian orangtuanya, mungkin saja anak melakukan hubungan seks terlalu dini yang tentu saja membawa efek mengerikan di kemudian hari.

Dalam perjalanan berumahtangga, terkadang kita akan menemui ‘badai’ yang siap memporakporandakan kehidupan rumah tangga. Namun, saat sebuah pernikahan sudah dikaruniai buah hati, maka hendaknya Mama dan Papa lebih bijak lagi mempertimbangkan segala keputusan yang akan diambil.

Tidak hanya menyangkut diri Mama atau Papa saja, tetapi juga demi perkembangan mental dan masa depan si Anak tersayang. 

7. Sering menyalahkan diri sendiri

Anak-anak kerap merasa perpisahan orangtuanya adalah bagian dari kesalahan mereka sehingga mereka mulai menyalahkan diri mereka sendiri. Jika dibiarkan, mereka akan berkutat dengan pikiran bahwa mereka buruk, nakal, tidak bisa membuat bangga, membuat pertengkaran orangtua, membuat kekecewaan, dan menyebabkan orangtua berpisah.  Orangtua yang tidak menjelaskan penyebab perceraian kepada anak yang beranjak dewasa, menyebabkan anak bertanya-tanya dan terus berpikir bahwa merekalah penyebab orangtuanya tidak bahagia. 

Dampak Perceraian terhadap Anak Berdasarkan Usianya

Dampak Perceraian terhadap Anak Berdasarkan Usianya. Setiap pernikahan pasti selalu menginginkan hubungan yang langgeng hingga ajal menjemput. Namun, terkadang ada berbagai kondisi yang menyebabkan sepasang suami istri harus bercerai. Perceraian bagaimana pun bukanlah sesuatu hal yang mudah diterima oleh kedua belah pihak. Biasanya, keputusan ini diambil ketika sudah tidak ada lagi jalan keluar yang bisa menyelesaikan permasalahan kedua.  Meski demikian, ternyata perceraian dapat berdampak pada kesehatan mental anak. Melansir dari Healthline dan Parent, dampak perceraian terhadap kesehatan mental anak pun berbeda-beda, tergantung usia anak ketika menghadapi perceraian orang tuanya.  Di bawah usia 3 tahun Ada kesalahpahaman populer bahwa memori dimulai pada usia 3 tahun. Namun, para peneliti telah menemukan bahwa memori kemungkinan dimulai lebih awal dari itu. Dalam sebuah studi tahun 2011 berjudul "Infantile Amnesia Across the Years: A 2-Year Follow-up of Children’s Earliest Memories", anak-anak berusia 4 tahun diminta untuk mengingat tiga ingatan paling awal mereka. Mereka kemudian diminta 2 tahun kemudian untuk melakukan hal yang sama dan juga ditanya tentang kenangan awal yang mereka kemukakan dalam wawancara pertama. Para peneliti menemukan bahwa anak-anak dapat mengingat banyak hal sejak awal kehidupan mereka, tetapi ingatan ini tidak disimpan pada yang termuda. Sebaliknya, dalam wawancara kedua, mereka akan mengingat kenangan dari beberapa bulan kemudian dan bahkan mungkin menyangkal mengalami apa yang mereka kemukakan dalam wawancara awal. Dengan kata lain, anak yang berusia 3 tahun mungkin ingat pertengkaran Ibu dan Ayah saat mereka berusia 2 tahun. Mungkin akan membuat mereka kesal mengingat kejadian seperti itu  Namun, pada saat mereka sedikit lebih tua, mereka mungkin tidak ingat pertengkaran ini. Meski demikian, sang anak tetap saja mengalami dampaknya. Trauma yang terjadi sebelum kita mencapai usia prasekolah pasti bisa meninggalkan bekas. Bayi atau balita yang telah hidup selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun dengan dua orang tua yang penuh kasih dan perhatian dapat bereaksi terhadap perceraian dengan beberapa cara berikut: menjadi lebih rewel atau tidak dapat dihibur ketika salah satu orang tua tiba-tiba tidak ada lagi menjadi lebih melekat atau tidak aman di sekitar orang tua yang mereka tinggali atau di sekitar orang baru tonggak perkembangan yang hilang atau mundur ke yang sebelumnya Selain ingatan, karena tahun-tahun awal ini sangat formatif, trauma ini dapat menyebabkan masalah di kemudian hari. Prasekolah (3–5) Antara usia 3 dan 5 tahun, anak-anak mengembangkan lebih banyak pemahaman tentang hal-hal yang abstrak. Mereka mengajukan banyak pertanyaan dan mencari tahu bagaimana mereka cocok dengan dunia di sekitar mereka. Itu tidak berarti mereka memahami konsep perceraian. Faktanya, mereka cenderung sangat bergantung pada keamanan dan stabilitas kehadiran orang tua mereka saat mereka berkembang mencar pengalaman dan perasaan baru. Namun, jika orang tua bertengkar, anak-anak seusia ini mungkin merasa sangat kuat bahwa dunia mereka sedang diguncang dengan cara yang menakutkan. Perasaan bahwa semua tidak baik-baik saja dengan orang tua mereka dapat membuat anak bereaksi dengan tangisan, ketakutan, dan desakan polos untuk berhenti berkelahi. Anak-anak prasekolah mungkin juga merasa bahwa segala sesuatunya adalah kesalahan mereka.    Mereka cenderung berurusan dengan begitu banyak emosi sehingga mereka benar-benar tidak tahu bagaimana menyortirnya. Hal ini sebenarnya dapat membaik setelah perceraian, ketika stabilitas kembali dirasakannya. Trauma peristiwa sebelum perceraian dapat meninggalkan kenangan abadi dan emosi yang membingungkan. Namun, begitu rutinitas terbentuk, si kecil dapat mulai merasa memegang kendali lagi. Usia sekolah dasar (6-12) Ini bisa dibilang usia terberat bagi anak-anak untuk menghadapi perpisahan atau perceraian orang tuanya. Hal ini karena mereka cukup paham untuk mengingat saat-saat indah (atau perasaan baik) sejak Anda menjadi keluarga yang bersatu. Mereka juga cukup paham untuk memahami perasaan yang lebih kompleks seputar konflik dan kesalahan, meskipun tidak sepenuhnya. Mereka biasanya akan bertanya-tanya tentang peran mereka dalam perceraian dan cenderung menyalahkan diri mereka. Perasaan ini dapat menyebabkan depresi pada anak dan dapat memengaruhi kesejahteraan emosional di masa depan.  Anak mungkin menjadi menarik diri, tidak komunikatif, dan cemas. Mereka mungkin juga marah pada salah satu dari orang tuanya. Pada usia ini pun anak akan cenderung mulai memihak. Remaja Pada saat anak-anak remaja, mereka lebih mungkin untuk memahami perasaan mendasar yang mengarah pada perceraian atau perpisahan. Jika kehidupan rumah tangga sedang kacau, mereka bahkan mungkin melihat perpisahan terakhir sebagai kelegaan dan melihatnya sebagai resolusi. Mereka juga cenderung tidak merasa bersalah atas perceraian atau bahwa kebersamaan dengan cara apa pun adalah yang terbaik. Remaja sering egois, tetapi tidak seperti anak-anak usia sekolah dasar, dunia mereka lebih sering berputar di sekitar kehidupan mereka di luar rumah. Jadi mereka tidak mempertanyakan cinta orang tua mereka untuk mereka. Mereka akan lebih mudah dalam melanjutkan hidup. Mereka mungkin khawatir tentang bagaimana perceraian akan mempengaruhi situasi sosial mereka dan mungkin mengidealkan masa lalu. Namun, mereka dapat mengenali perceraian sebagai potensi untuk membuat segalanya lebih baik. Secara umum, penerimaan datang lebih mudah, tetapi ingatlah bahwa anak remaja masihlah seorang anak yang belum sepenuhnya matang dalam berpikir.

Dampak Perceraian terhadap Anak Berdasarkan Usianya. Setiap pernikahan pasti selalu menginginkan hubungan yang langgeng hingga ajal menjemput. Namun, terkadang ada berbagai kondisi yang menyebabkan sepasang suami istri harus bercerai. Perceraian bagaimana pun bukanlah sesuatu hal yang mudah diterima oleh kedua belah pihak. Biasanya, keputusan ini diambil ketika sudah tidak ada lagi jalan keluar yang bisa menyelesaikan permasalahan kedua.

Meski demikian, ternyata perceraian dapat berdampak pada kesehatan mental anak. Melansir dari Healthline dan Parent, dampak perceraian terhadap kesehatan mental anak pun berbeda-beda, tergantung usia anak ketika menghadapi perceraian orang tuanya.

Di bawah usia 3 tahun Ada kesalahpahaman populer bahwa memori dimulai pada usia 3 tahun. Namun, para peneliti telah menemukan bahwa memori kemungkinan dimulai lebih awal dari itu. Dalam sebuah studi tahun 2011 berjudul "Infantile Amnesia Across the Years: A 2-Year Follow-up of Children’s Earliest Memories", anak-anak berusia 4 tahun diminta untuk mengingat tiga ingatan paling awal mereka. Mereka kemudian diminta 2 tahun kemudian untuk melakukan hal yang sama dan juga ditanya tentang kenangan awal yang mereka kemukakan dalam wawancara pertama. Para peneliti menemukan bahwa anak-anak dapat mengingat banyak hal sejak awal kehidupan mereka, tetapi ingatan ini tidak disimpan pada yang termuda. Sebaliknya, dalam wawancara kedua, mereka akan mengingat kenangan dari beberapa bulan kemudian dan bahkan mungkin menyangkal mengalami apa yang mereka kemukakan dalam wawancara awal. Dengan kata lain, anak yang berusia 3 tahun mungkin ingat pertengkaran Ibu dan Ayah saat mereka berusia 2 tahun. Mungkin akan membuat mereka kesal mengingat kejadian seperti itu

Namun, pada saat mereka sedikit lebih tua, mereka mungkin tidak ingat pertengkaran ini. Meski demikian, sang anak tetap saja mengalami dampaknya. Trauma yang terjadi sebelum kita mencapai usia prasekolah pasti bisa meninggalkan bekas. Bayi atau balita yang telah hidup selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun dengan dua orang tua yang penuh kasih dan perhatian dapat bereaksi terhadap perceraian dengan beberapa cara berikut: menjadi lebih rewel atau tidak dapat dihibur ketika salah satu orang tua tiba-tiba tidak ada lagi menjadi lebih melekat atau tidak aman di sekitar orang tua yang mereka tinggali atau di sekitar orang baru tonggak perkembangan yang hilang atau mundur ke yang sebelumnya Selain ingatan, karena tahun-tahun awal ini sangat formatif, trauma ini dapat menyebabkan masalah di kemudian hari. Prasekolah (3–5) Antara usia 3 dan 5 tahun, anak-anak mengembangkan lebih banyak pemahaman tentang hal-hal yang abstrak. Mereka mengajukan banyak pertanyaan dan mencari tahu bagaimana mereka cocok dengan dunia di sekitar mereka. Itu tidak berarti mereka memahami konsep perceraian. Faktanya, mereka cenderung sangat bergantung pada keamanan dan stabilitas kehadiran orang tua mereka saat mereka berkembang mencar pengalaman dan perasaan baru. Namun, jika orang tua bertengkar, anak-anak seusia ini mungkin merasa sangat kuat bahwa dunia mereka sedang diguncang dengan cara yang menakutkan. Perasaan bahwa semua tidak baik-baik saja dengan orang tua mereka dapat membuat anak bereaksi dengan tangisan, ketakutan, dan desakan polos untuk berhenti berkelahi. Anak-anak prasekolah mungkin juga merasa bahwa segala sesuatunya adalah kesalahan mereka. 

Mereka cenderung berurusan dengan begitu banyak emosi sehingga mereka benar-benar tidak tahu bagaimana menyortirnya. Hal ini sebenarnya dapat membaik setelah perceraian, ketika stabilitas kembali dirasakannya. Trauma peristiwa sebelum perceraian dapat meninggalkan kenangan abadi dan emosi yang membingungkan. Namun, begitu rutinitas terbentuk, si kecil dapat mulai merasa memegang kendali lagi. Usia sekolah dasar (6-12) Ini bisa dibilang usia terberat bagi anak-anak untuk menghadapi perpisahan atau perceraian orang tuanya. Hal ini karena mereka cukup paham untuk mengingat saat-saat indah (atau perasaan baik) sejak Anda menjadi keluarga yang bersatu. Mereka juga cukup paham untuk memahami perasaan yang lebih kompleks seputar konflik dan kesalahan, meskipun tidak sepenuhnya. Mereka biasanya akan bertanya-tanya tentang peran mereka dalam perceraian dan cenderung menyalahkan diri mereka. Perasaan ini dapat menyebabkan depresi pada anak dan dapat memengaruhi kesejahteraan emosional di masa depan.

Anak mungkin menjadi menarik diri, tidak komunikatif, dan cemas. Mereka mungkin juga marah pada salah satu dari orang tuanya. Pada usia ini pun anak akan cenderung mulai memihak. Remaja Pada saat anak-anak remaja, mereka lebih mungkin untuk memahami perasaan mendasar yang mengarah pada perceraian atau perpisahan. Jika kehidupan rumah tangga sedang kacau, mereka bahkan mungkin melihat perpisahan terakhir sebagai kelegaan dan melihatnya sebagai resolusi. Mereka juga cenderung tidak merasa bersalah atas perceraian atau bahwa kebersamaan dengan cara apa pun adalah yang terbaik. Remaja sering egois, tetapi tidak seperti anak-anak usia sekolah dasar, dunia mereka lebih sering berputar di sekitar kehidupan mereka di luar rumah. Jadi mereka tidak mempertanyakan cinta orang tua mereka untuk mereka. Mereka akan lebih mudah dalam melanjutkan hidup. Mereka mungkin khawatir tentang bagaimana perceraian akan mempengaruhi situasi sosial mereka dan mungkin mengidealkan masa lalu. Namun, mereka dapat mengenali perceraian sebagai potensi untuk membuat segalanya lebih baik. Secara umum, penerimaan datang lebih mudah, tetapi ingatlah bahwa anak remaja masihlah seorang anak yang belum sepenuhnya matang dalam berpikir.

Dampak Negatif Perceraian Bagi Anak Menurut Islam

Dampak Negatif Perceraian Bagi Anak Menurut Islam. Dalam agama Islam, pernikahan adalah ikatan suci tidak hanya pada manusia tetapi juga dengan Allah dan merupakan bentuk ibadah.    Menikah juga merupakan ibadah penyempurna separuh agama, lho. Maka dari itu, ibadah yang satu ini memang sangat dianjurkan oleh Rasulullah.    Tetapi, tidak semua mahligai rumah tangga berjalan sesuai harapan dan rencana. Banyak pernikahan yang berakhir dengan perceraian karena berbagai alasan.    Selain menimbulkan berbagai dampak negatif perceraian, Allah sendiri memang sangat membenci perceraian dua orang muslim, seperti yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Umar.    Dikutip dari Azislam, Rasulullah bersabda, "Dari semua tindakan yang sah, yang paling dibenci oleh Allah adalah perceraian." Allah membenci perceraian karena berbagai alasan. Bukan hanya merugikan bagi suami dan istri yang bercerai, tetapi juga bagi anak-anak yang mengalaminya.    Dampak Negatif Perceraian Bagi Anak Menurut Islam    Perceraian memang menyedihkan dan merugikan, baik suami dan istri. Tapi, ada sosok lain yang merasakan kepedihan dan paling menderita karena perceraian, yakni anak-anak.    Perceraian orang tua bisa saja memengaruhi mereka sampai dewasa, dan bukan tidak mungkin anak memiliki rasa trauma.    Apa saja dampak negatif perceraian pada anak menurut Islam? Simak ulasannya!    1. Membuat Anak Stres    Tanpa disadari, beberapa anak akan merasa bahwa dia adalah penyebab orang tuanya bercerai dan mereka juga merasakan tanggung jawab untuk membuat orang tuanya kembali lagi.    Selain itu, sebagian anak akan merasa orang tuanya tidak lagi menyayanginya. Perasaan inilah yang akhirnya membuat anak menjadi stres dan akhirnya mengarah pada pikiran negatif.    2. Mengalami Kesedihan Akut    Tak hanya orangtua saja, jika anak sudah cukup dewasa untuk memahami apa arti perceraian, mereka pun juga akan merasakan kesedihan yang akut, setelah mengetahui bahwa orang tua mereka tidak lagi bersama.  3. Perubahan Suasana Hati yang Drastis    Dampak negatif selanjutnya perceraian bagi anak juga akan mengakibatkan anak tak lagi merasakan kehangatan dan kebahagiaan seperti sedia kala.    Oleh karenanya, perubahan suasana hati cenderung akan dialami oleh anak. Tak jarang anak akan menarik diri dari lingkungannya dan memilih untuk tidak berbicara dengan siapapun.    Meskipun ada pula anak yang overacting untuk mencari perhatian dari orang di sekitarnya.    4. Kehilangan Fokus dalam Beraktivitas    Anak-anak pada dasarnya masih bergantung pada orangtua. Bisa dipastikan, perceraian membuat mereka mudah kehilangan fokus untuk melakukan kegiatan apapun.    Anak akan mudah cemas, tegang, gugup, dan merasa sulit untuk berkonsentrasi pada hampir semua hal, terutama dalam proses belajar.    Tak jarang anak akan kehilangan minat pada kegiatan apa pun yang membuat hatinya senang.    5. Menimbulkan Masalah Perilaku    Perceraian juga akan menyebabkan anak menjadi pribadi yang emosional, antisosial, mudah kehilangan kesabaran, dan memiliki perilaku menyerang. Ini juga menjadi efek negatif dari perceraian orang tua, Moslem Fellas.    6. Mengalami Depresi    Depresi memang tidak mengenal usia. Bahkan anak-anak kecil pun bisa merasakan depresi saat mereka merasa sangat sedih atas perceraian orangtuanya.    Risiko depresi ini lebih tinggi pada anak yang menyaksikan perceraian dan mengerti apa dari hal tersebut.    Apalagi jika sang anak-anak pernah menyaksikan pertengkaran sang orangtua. Menurut banyak penelitian, perceraian orangtua adalah adalah satu faktor penyebab seseorang memiliki gangguan bipolar. negatif perceraian bagi anak. Sebagai seorang muslim yang baik, sebaiknya hindari perceraian, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi demi anak-anak, ya.    Jika memang pertikaian rumah tangga terjadi, sebaiknya diselesaikan dengan baik dan musyawarah.    Jika memang rumah tangga sudah tidak dapat diperbaiki lagi dan harus berpisah, maka sebaiknya diskusikan kebaikan untuk masa depan anak.    Referensi : Dampak Negatif Perceraian Bagi Anak Menurut Islam

Dampak Negatif Perceraian Bagi Anak Menurut Islam. Dalam agama Islam, pernikahan adalah ikatan suci tidak hanya pada manusia tetapi juga dengan Allah dan merupakan bentuk ibadah.


Menikah juga merupakan ibadah penyempurna separuh agama, lho. Maka dari itu, ibadah yang satu ini memang sangat dianjurkan oleh Rasulullah.


Tetapi, tidak semua mahligai rumah tangga berjalan sesuai harapan dan rencana. Banyak pernikahan yang berakhir dengan perceraian karena berbagai alasan.


Selain menimbulkan berbagai dampak negatif perceraian, Allah sendiri memang sangat membenci perceraian dua orang muslim, seperti yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Umar.


Dikutip dari Azislam, Rasulullah bersabda, "Dari semua tindakan yang sah, yang paling dibenci oleh Allah adalah perceraian." Allah membenci perceraian karena berbagai alasan. Bukan hanya merugikan bagi suami dan istri yang bercerai, tetapi juga bagi anak-anak yang mengalaminya.


Dampak Negatif Perceraian Bagi Anak Menurut Islam


Perceraian memang menyedihkan dan merugikan, baik suami dan istri. Tapi, ada sosok lain yang merasakan kepedihan dan paling menderita karena perceraian, yakni anak-anak.


Perceraian orang tua bisa saja memengaruhi mereka sampai dewasa, dan bukan tidak mungkin anak memiliki rasa trauma.


Apa saja dampak negatif perceraian pada anak menurut Islam? Simak ulasannya!


1. Membuat Anak Stres


Tanpa disadari, beberapa anak akan merasa bahwa dia adalah penyebab orang tuanya bercerai dan mereka juga merasakan tanggung jawab untuk membuat orang tuanya kembali lagi.


Selain itu, sebagian anak akan merasa orang tuanya tidak lagi menyayanginya. Perasaan inilah yang akhirnya membuat anak menjadi stres dan akhirnya mengarah pada pikiran negatif.


2. Mengalami Kesedihan Akut


Tak hanya orangtua saja, jika anak sudah cukup dewasa untuk memahami apa arti perceraian, mereka pun juga akan merasakan kesedihan yang akut, setelah mengetahui bahwa orang tua mereka tidak lagi bersama.

3. Perubahan Suasana Hati yang Drastis


Dampak negatif selanjutnya perceraian bagi anak juga akan mengakibatkan anak tak lagi merasakan kehangatan dan kebahagiaan seperti sedia kala.


Oleh karenanya, perubahan suasana hati cenderung akan dialami oleh anak. Tak jarang anak akan menarik diri dari lingkungannya dan memilih untuk tidak berbicara dengan siapapun.


Meskipun ada pula anak yang overacting untuk mencari perhatian dari orang di sekitarnya.


4. Kehilangan Fokus dalam Beraktivitas


Anak-anak pada dasarnya masih bergantung pada orangtua. Bisa dipastikan, perceraian membuat mereka mudah kehilangan fokus untuk melakukan kegiatan apapun.


Anak akan mudah cemas, tegang, gugup, dan merasa sulit untuk berkonsentrasi pada hampir semua hal, terutama dalam proses belajar.


Tak jarang anak akan kehilangan minat pada kegiatan apa pun yang membuat hatinya senang.


5. Menimbulkan Masalah Perilaku


Perceraian juga akan menyebabkan anak menjadi pribadi yang emosional, antisosial, mudah kehilangan kesabaran, dan memiliki perilaku menyerang. Ini juga menjadi efek negatif dari perceraian orang tua, Moslem Fellas.


6. Mengalami Depresi


Depresi memang tidak mengenal usia. Bahkan anak-anak kecil pun bisa merasakan depresi saat mereka merasa sangat sedih atas perceraian orangtuanya.


Risiko depresi ini lebih tinggi pada anak yang menyaksikan perceraian dan mengerti apa dari hal tersebut.


Apalagi jika sang anak-anak pernah menyaksikan pertengkaran sang orangtua. Menurut banyak penelitian, perceraian orangtua adalah adalah satu faktor penyebab seseorang memiliki gangguan bipolar. negatif perceraian bagi anak. Sebagai seorang muslim yang baik, sebaiknya hindari perceraian, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi demi anak-anak, ya.


Jika memang pertikaian rumah tangga terjadi, sebaiknya diselesaikan dengan baik dan musyawarah.


Jika memang rumah tangga sudah tidak dapat diperbaiki lagi dan harus berpisah, maka sebaiknya diskusikan kebaikan untuk masa depan anak.


Referensi : Dampak Negatif Perceraian Bagi Anak Menurut Islam



Dampak Perceraian Terhadap Anak

Dampak Perceraian Terhadap Anak

Salah satu faktor penyebab perceraian ini, berawal dari situasi ketidaksiapan membangun rumah tangga. Tapi, mereka tetap memutuskan menikah. Kondisi ini yang berpotensi terjadinya cekcok dan berujung perceraian. 

Untuk menekan angka perceraian ke depannya, harus ada pendidikan karakter dalam membangun rumah tangga bagi pasangan yang akan menikah.  Tujuannya tentu, agar calon pasangan suami istri memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengimplementasikan fungsi-fungsi inti berumahtangga. 

Soalnya, dalam hubungan berumah tangga, pastilah kita mengharapkan hubungan yang langgeng, bahagia dan terus bersama hingga maut memisahkan. Masalah dalam kehidupan berumah tangga memang pasti ada. Namun, sebagai pasangan suami istri yang telah berkomitmen di hadapan Allah haruslah berusaha untuk menyelesaikan segala permasalahan rumah tangga bersama-sama. Sayangnya, dewasa ini makin banyak pasangan suami istri yang merasa bahwa permasalahan mereka tidak akan terselesaikan kecuali dengan bercerai.

Perceraian atau bisa juga disebut talak adalah pemutusan hubungan suami istri dari hubungan pernikahan yang sah menurut aturan agama Islam dan negara. Perceraian dianggap sebagai cara terakhir yang bisa diambil oleh pasangan suami istri untuk menyelesaikan masalah yang mungkin mereka miliki. Padahal tidak menutup kemungkinan jika keputusan bercerai yang mereka ambil akan membawa masalah berikutnya, terutama ang berkaitan dengan hak asuh anak. Oleh karena itu, sebaiknya kita sebisa mungkin berusaha untuk mencegah terjadinya perceraian ini.

Menurut syariat Islam, cerai adalah melepaskan ikatan perkawinan atau putusnya hubungan perkawinan antara suami dan istri. Kemudian, dengan adanya perceraian ini, maka gugurlah hak dan kewajiban mereka sebagai suami dan istri. Artinya, mereka tidak lagi boleh berhubungan sebagai suami istri, menyentuh atau berduaan, sama seperti ketika mereka belum menikah dulu.

Kalau mengacu kepada Al-Quran, agama Islam telah mengatur segala sesuatunya. Bahkan, al Quran juga mengatur adab dan aturan dalam berumah tangga, termasuk bagaimana jik ada masalah yang tak terselesaikan dalam rumah tangga tersebut.

Islam memang mengizinkan perceraian, tapi Allah membenci perceraian itu. Itu artinya, bercerai adalah pilihan terakhir bagi pasangan suami istri ketika memang tidak ada lagi jalan keluar lainnya. Dalam surat al Baqarah ayat 227 disebutkan, “Dan jika mereka berketetapan hati hendak menceraikan, maka sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” Ayat tentang hukum perceraian ini berlanjut pada surat al Baqarah ayat 228 hingga ayat 232.

Dalam ayat-ayat surat al Baqarah di atas, diterangkan aturan-aturan mengenai hukum talak, masa iddah bagi istri, hingga aturan bagi wanita yang sedang dalam masa iddahnya. Dari sini kita bisa mengetahui bahwa agama Islam memberi aturan yang sangat lengkap tentang hukum perceraian. Tentu saja aturan-aturan ini sangat memperhatikan kemaslahatan pihak suami dan istri dan mencegah adanya kerugian di salah satu pihak.

Tidak hanya di surat al Baqarah, di surat ath-Thalaq ayat 1-7 juga dibahas aturan-aturan dalam berumah tangga. Di situ disebutkan tentang kewajiban suami terhadap istri hingga bagaimana aturan ketika seorang istri berada dalam masa iddah. Dari beberapa ayat yang telah dibahas, maka kita ketahui bahwa dalam Islam perceraian itu tidak dilarang, namun harus mengikuti aturan-aturan tertentu.

Sebagai sebuah renungan, dampak perceraian yang terjadi tak hanya akan dirasakan pada pasangan suami istri saja, namun juga dirasakan anak-anaknya. Bahkan, perceraian akan membuat mental anak terombang ambing.

Kebutuhan kasih sayang dan kehangatan keluarga, merupakan hal yang penting dalam perkembangan jiwa anak. Maksudnya, jika keharmonisan dalam keluarga ini tidak di dapatkannya,  maka saat bernajak dewasa nantinya secara tidak langsung mempengaruhi kepribadiannya. 

Yang jelas, saat terjadinya perceraian, ada beberapa hal yang dapat merusak mentalnya, seperti merasa tidak aman dan nyaman, karena perasaan sedih yang mendalam akibat dari kedua orang tu harus berpisah. Fakata tersebut jelas si anak akan merakan  kesepian dan  merasa kehilangan.

Kemudian perasaan-perasaan tersebutlah yang nantinya dapat menyebabkan perubahan pada kondisi kepribadiannya saat anak menginjak usia dewasa. Mereka akan terus merasa untuk takut gagal, takut menjalin kedekatan dengan orang lain.

Kemudian si anak sering membayangkan, jika orang tuanya dapat bersatu kembali, bahkan hingga lebih senang menyendiri di lingkungan sosialnya. Selain itu, dampak lainnya juga dapat terjadi perubahan prilaku anak, seperti anak akan menjadi lebih kasar, bertindak agresif, sering mengamuk, bahkan hingga membenci salah satu ataupun kedua orang tuanya.

Jadi, sebelum mengambil sikap untuk bercerai, jangan hanya berpikir tentang perasaan diri saja, tetapi juga dipikirkan masalah psikologis anak. Bagaimanapun jua, anak adalah buah dari cinta dan sebagai pelindung di hari tua.