This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 25 Agustus 2022

Dampak Perceraian terhadap Anak Berdasarkan Usianya

Dampak Perceraian terhadap Anak Berdasarkan Usianya. Setiap pernikahan pasti selalu menginginkan hubungan yang langgeng hingga ajal menjemput. Namun, terkadang ada berbagai kondisi yang menyebabkan sepasang suami istri harus bercerai. Perceraian bagaimana pun bukanlah sesuatu hal yang mudah diterima oleh kedua belah pihak. Biasanya, keputusan ini diambil ketika sudah tidak ada lagi jalan keluar yang bisa menyelesaikan permasalahan kedua.  Meski demikian, ternyata perceraian dapat berdampak pada kesehatan mental anak. Melansir dari Healthline dan Parent, dampak perceraian terhadap kesehatan mental anak pun berbeda-beda, tergantung usia anak ketika menghadapi perceraian orang tuanya.  Di bawah usia 3 tahun Ada kesalahpahaman populer bahwa memori dimulai pada usia 3 tahun. Namun, para peneliti telah menemukan bahwa memori kemungkinan dimulai lebih awal dari itu. Dalam sebuah studi tahun 2011 berjudul "Infantile Amnesia Across the Years: A 2-Year Follow-up of Children’s Earliest Memories", anak-anak berusia 4 tahun diminta untuk mengingat tiga ingatan paling awal mereka. Mereka kemudian diminta 2 tahun kemudian untuk melakukan hal yang sama dan juga ditanya tentang kenangan awal yang mereka kemukakan dalam wawancara pertama. Para peneliti menemukan bahwa anak-anak dapat mengingat banyak hal sejak awal kehidupan mereka, tetapi ingatan ini tidak disimpan pada yang termuda. Sebaliknya, dalam wawancara kedua, mereka akan mengingat kenangan dari beberapa bulan kemudian dan bahkan mungkin menyangkal mengalami apa yang mereka kemukakan dalam wawancara awal. Dengan kata lain, anak yang berusia 3 tahun mungkin ingat pertengkaran Ibu dan Ayah saat mereka berusia 2 tahun. Mungkin akan membuat mereka kesal mengingat kejadian seperti itu  Namun, pada saat mereka sedikit lebih tua, mereka mungkin tidak ingat pertengkaran ini. Meski demikian, sang anak tetap saja mengalami dampaknya. Trauma yang terjadi sebelum kita mencapai usia prasekolah pasti bisa meninggalkan bekas. Bayi atau balita yang telah hidup selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun dengan dua orang tua yang penuh kasih dan perhatian dapat bereaksi terhadap perceraian dengan beberapa cara berikut: menjadi lebih rewel atau tidak dapat dihibur ketika salah satu orang tua tiba-tiba tidak ada lagi menjadi lebih melekat atau tidak aman di sekitar orang tua yang mereka tinggali atau di sekitar orang baru tonggak perkembangan yang hilang atau mundur ke yang sebelumnya Selain ingatan, karena tahun-tahun awal ini sangat formatif, trauma ini dapat menyebabkan masalah di kemudian hari. Prasekolah (3–5) Antara usia 3 dan 5 tahun, anak-anak mengembangkan lebih banyak pemahaman tentang hal-hal yang abstrak. Mereka mengajukan banyak pertanyaan dan mencari tahu bagaimana mereka cocok dengan dunia di sekitar mereka. Itu tidak berarti mereka memahami konsep perceraian. Faktanya, mereka cenderung sangat bergantung pada keamanan dan stabilitas kehadiran orang tua mereka saat mereka berkembang mencar pengalaman dan perasaan baru. Namun, jika orang tua bertengkar, anak-anak seusia ini mungkin merasa sangat kuat bahwa dunia mereka sedang diguncang dengan cara yang menakutkan. Perasaan bahwa semua tidak baik-baik saja dengan orang tua mereka dapat membuat anak bereaksi dengan tangisan, ketakutan, dan desakan polos untuk berhenti berkelahi. Anak-anak prasekolah mungkin juga merasa bahwa segala sesuatunya adalah kesalahan mereka.    Mereka cenderung berurusan dengan begitu banyak emosi sehingga mereka benar-benar tidak tahu bagaimana menyortirnya. Hal ini sebenarnya dapat membaik setelah perceraian, ketika stabilitas kembali dirasakannya. Trauma peristiwa sebelum perceraian dapat meninggalkan kenangan abadi dan emosi yang membingungkan. Namun, begitu rutinitas terbentuk, si kecil dapat mulai merasa memegang kendali lagi. Usia sekolah dasar (6-12) Ini bisa dibilang usia terberat bagi anak-anak untuk menghadapi perpisahan atau perceraian orang tuanya. Hal ini karena mereka cukup paham untuk mengingat saat-saat indah (atau perasaan baik) sejak Anda menjadi keluarga yang bersatu. Mereka juga cukup paham untuk memahami perasaan yang lebih kompleks seputar konflik dan kesalahan, meskipun tidak sepenuhnya. Mereka biasanya akan bertanya-tanya tentang peran mereka dalam perceraian dan cenderung menyalahkan diri mereka. Perasaan ini dapat menyebabkan depresi pada anak dan dapat memengaruhi kesejahteraan emosional di masa depan.  Anak mungkin menjadi menarik diri, tidak komunikatif, dan cemas. Mereka mungkin juga marah pada salah satu dari orang tuanya. Pada usia ini pun anak akan cenderung mulai memihak. Remaja Pada saat anak-anak remaja, mereka lebih mungkin untuk memahami perasaan mendasar yang mengarah pada perceraian atau perpisahan. Jika kehidupan rumah tangga sedang kacau, mereka bahkan mungkin melihat perpisahan terakhir sebagai kelegaan dan melihatnya sebagai resolusi. Mereka juga cenderung tidak merasa bersalah atas perceraian atau bahwa kebersamaan dengan cara apa pun adalah yang terbaik. Remaja sering egois, tetapi tidak seperti anak-anak usia sekolah dasar, dunia mereka lebih sering berputar di sekitar kehidupan mereka di luar rumah. Jadi mereka tidak mempertanyakan cinta orang tua mereka untuk mereka. Mereka akan lebih mudah dalam melanjutkan hidup. Mereka mungkin khawatir tentang bagaimana perceraian akan mempengaruhi situasi sosial mereka dan mungkin mengidealkan masa lalu. Namun, mereka dapat mengenali perceraian sebagai potensi untuk membuat segalanya lebih baik. Secara umum, penerimaan datang lebih mudah, tetapi ingatlah bahwa anak remaja masihlah seorang anak yang belum sepenuhnya matang dalam berpikir.

Dampak Perceraian terhadap Anak Berdasarkan Usianya. Setiap pernikahan pasti selalu menginginkan hubungan yang langgeng hingga ajal menjemput. Namun, terkadang ada berbagai kondisi yang menyebabkan sepasang suami istri harus bercerai. Perceraian bagaimana pun bukanlah sesuatu hal yang mudah diterima oleh kedua belah pihak. Biasanya, keputusan ini diambil ketika sudah tidak ada lagi jalan keluar yang bisa menyelesaikan permasalahan kedua.

Meski demikian, ternyata perceraian dapat berdampak pada kesehatan mental anak. Melansir dari Healthline dan Parent, dampak perceraian terhadap kesehatan mental anak pun berbeda-beda, tergantung usia anak ketika menghadapi perceraian orang tuanya.

Di bawah usia 3 tahun Ada kesalahpahaman populer bahwa memori dimulai pada usia 3 tahun. Namun, para peneliti telah menemukan bahwa memori kemungkinan dimulai lebih awal dari itu. Dalam sebuah studi tahun 2011 berjudul "Infantile Amnesia Across the Years: A 2-Year Follow-up of Children’s Earliest Memories", anak-anak berusia 4 tahun diminta untuk mengingat tiga ingatan paling awal mereka. Mereka kemudian diminta 2 tahun kemudian untuk melakukan hal yang sama dan juga ditanya tentang kenangan awal yang mereka kemukakan dalam wawancara pertama. Para peneliti menemukan bahwa anak-anak dapat mengingat banyak hal sejak awal kehidupan mereka, tetapi ingatan ini tidak disimpan pada yang termuda. Sebaliknya, dalam wawancara kedua, mereka akan mengingat kenangan dari beberapa bulan kemudian dan bahkan mungkin menyangkal mengalami apa yang mereka kemukakan dalam wawancara awal. Dengan kata lain, anak yang berusia 3 tahun mungkin ingat pertengkaran Ibu dan Ayah saat mereka berusia 2 tahun. Mungkin akan membuat mereka kesal mengingat kejadian seperti itu

Namun, pada saat mereka sedikit lebih tua, mereka mungkin tidak ingat pertengkaran ini. Meski demikian, sang anak tetap saja mengalami dampaknya. Trauma yang terjadi sebelum kita mencapai usia prasekolah pasti bisa meninggalkan bekas. Bayi atau balita yang telah hidup selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun dengan dua orang tua yang penuh kasih dan perhatian dapat bereaksi terhadap perceraian dengan beberapa cara berikut: menjadi lebih rewel atau tidak dapat dihibur ketika salah satu orang tua tiba-tiba tidak ada lagi menjadi lebih melekat atau tidak aman di sekitar orang tua yang mereka tinggali atau di sekitar orang baru tonggak perkembangan yang hilang atau mundur ke yang sebelumnya Selain ingatan, karena tahun-tahun awal ini sangat formatif, trauma ini dapat menyebabkan masalah di kemudian hari. Prasekolah (3–5) Antara usia 3 dan 5 tahun, anak-anak mengembangkan lebih banyak pemahaman tentang hal-hal yang abstrak. Mereka mengajukan banyak pertanyaan dan mencari tahu bagaimana mereka cocok dengan dunia di sekitar mereka. Itu tidak berarti mereka memahami konsep perceraian. Faktanya, mereka cenderung sangat bergantung pada keamanan dan stabilitas kehadiran orang tua mereka saat mereka berkembang mencar pengalaman dan perasaan baru. Namun, jika orang tua bertengkar, anak-anak seusia ini mungkin merasa sangat kuat bahwa dunia mereka sedang diguncang dengan cara yang menakutkan. Perasaan bahwa semua tidak baik-baik saja dengan orang tua mereka dapat membuat anak bereaksi dengan tangisan, ketakutan, dan desakan polos untuk berhenti berkelahi. Anak-anak prasekolah mungkin juga merasa bahwa segala sesuatunya adalah kesalahan mereka. 

Mereka cenderung berurusan dengan begitu banyak emosi sehingga mereka benar-benar tidak tahu bagaimana menyortirnya. Hal ini sebenarnya dapat membaik setelah perceraian, ketika stabilitas kembali dirasakannya. Trauma peristiwa sebelum perceraian dapat meninggalkan kenangan abadi dan emosi yang membingungkan. Namun, begitu rutinitas terbentuk, si kecil dapat mulai merasa memegang kendali lagi. Usia sekolah dasar (6-12) Ini bisa dibilang usia terberat bagi anak-anak untuk menghadapi perpisahan atau perceraian orang tuanya. Hal ini karena mereka cukup paham untuk mengingat saat-saat indah (atau perasaan baik) sejak Anda menjadi keluarga yang bersatu. Mereka juga cukup paham untuk memahami perasaan yang lebih kompleks seputar konflik dan kesalahan, meskipun tidak sepenuhnya. Mereka biasanya akan bertanya-tanya tentang peran mereka dalam perceraian dan cenderung menyalahkan diri mereka. Perasaan ini dapat menyebabkan depresi pada anak dan dapat memengaruhi kesejahteraan emosional di masa depan.

Anak mungkin menjadi menarik diri, tidak komunikatif, dan cemas. Mereka mungkin juga marah pada salah satu dari orang tuanya. Pada usia ini pun anak akan cenderung mulai memihak. Remaja Pada saat anak-anak remaja, mereka lebih mungkin untuk memahami perasaan mendasar yang mengarah pada perceraian atau perpisahan. Jika kehidupan rumah tangga sedang kacau, mereka bahkan mungkin melihat perpisahan terakhir sebagai kelegaan dan melihatnya sebagai resolusi. Mereka juga cenderung tidak merasa bersalah atas perceraian atau bahwa kebersamaan dengan cara apa pun adalah yang terbaik. Remaja sering egois, tetapi tidak seperti anak-anak usia sekolah dasar, dunia mereka lebih sering berputar di sekitar kehidupan mereka di luar rumah. Jadi mereka tidak mempertanyakan cinta orang tua mereka untuk mereka. Mereka akan lebih mudah dalam melanjutkan hidup. Mereka mungkin khawatir tentang bagaimana perceraian akan mempengaruhi situasi sosial mereka dan mungkin mengidealkan masa lalu. Namun, mereka dapat mengenali perceraian sebagai potensi untuk membuat segalanya lebih baik. Secara umum, penerimaan datang lebih mudah, tetapi ingatlah bahwa anak remaja masihlah seorang anak yang belum sepenuhnya matang dalam berpikir.

Dampak Negatif Perceraian Bagi Anak Menurut Islam

Dampak Negatif Perceraian Bagi Anak Menurut Islam. Dalam agama Islam, pernikahan adalah ikatan suci tidak hanya pada manusia tetapi juga dengan Allah dan merupakan bentuk ibadah.    Menikah juga merupakan ibadah penyempurna separuh agama, lho. Maka dari itu, ibadah yang satu ini memang sangat dianjurkan oleh Rasulullah.    Tetapi, tidak semua mahligai rumah tangga berjalan sesuai harapan dan rencana. Banyak pernikahan yang berakhir dengan perceraian karena berbagai alasan.    Selain menimbulkan berbagai dampak negatif perceraian, Allah sendiri memang sangat membenci perceraian dua orang muslim, seperti yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Umar.    Dikutip dari Azislam, Rasulullah bersabda, "Dari semua tindakan yang sah, yang paling dibenci oleh Allah adalah perceraian." Allah membenci perceraian karena berbagai alasan. Bukan hanya merugikan bagi suami dan istri yang bercerai, tetapi juga bagi anak-anak yang mengalaminya.    Dampak Negatif Perceraian Bagi Anak Menurut Islam    Perceraian memang menyedihkan dan merugikan, baik suami dan istri. Tapi, ada sosok lain yang merasakan kepedihan dan paling menderita karena perceraian, yakni anak-anak.    Perceraian orang tua bisa saja memengaruhi mereka sampai dewasa, dan bukan tidak mungkin anak memiliki rasa trauma.    Apa saja dampak negatif perceraian pada anak menurut Islam? Simak ulasannya!    1. Membuat Anak Stres    Tanpa disadari, beberapa anak akan merasa bahwa dia adalah penyebab orang tuanya bercerai dan mereka juga merasakan tanggung jawab untuk membuat orang tuanya kembali lagi.    Selain itu, sebagian anak akan merasa orang tuanya tidak lagi menyayanginya. Perasaan inilah yang akhirnya membuat anak menjadi stres dan akhirnya mengarah pada pikiran negatif.    2. Mengalami Kesedihan Akut    Tak hanya orangtua saja, jika anak sudah cukup dewasa untuk memahami apa arti perceraian, mereka pun juga akan merasakan kesedihan yang akut, setelah mengetahui bahwa orang tua mereka tidak lagi bersama.  3. Perubahan Suasana Hati yang Drastis    Dampak negatif selanjutnya perceraian bagi anak juga akan mengakibatkan anak tak lagi merasakan kehangatan dan kebahagiaan seperti sedia kala.    Oleh karenanya, perubahan suasana hati cenderung akan dialami oleh anak. Tak jarang anak akan menarik diri dari lingkungannya dan memilih untuk tidak berbicara dengan siapapun.    Meskipun ada pula anak yang overacting untuk mencari perhatian dari orang di sekitarnya.    4. Kehilangan Fokus dalam Beraktivitas    Anak-anak pada dasarnya masih bergantung pada orangtua. Bisa dipastikan, perceraian membuat mereka mudah kehilangan fokus untuk melakukan kegiatan apapun.    Anak akan mudah cemas, tegang, gugup, dan merasa sulit untuk berkonsentrasi pada hampir semua hal, terutama dalam proses belajar.    Tak jarang anak akan kehilangan minat pada kegiatan apa pun yang membuat hatinya senang.    5. Menimbulkan Masalah Perilaku    Perceraian juga akan menyebabkan anak menjadi pribadi yang emosional, antisosial, mudah kehilangan kesabaran, dan memiliki perilaku menyerang. Ini juga menjadi efek negatif dari perceraian orang tua, Moslem Fellas.    6. Mengalami Depresi    Depresi memang tidak mengenal usia. Bahkan anak-anak kecil pun bisa merasakan depresi saat mereka merasa sangat sedih atas perceraian orangtuanya.    Risiko depresi ini lebih tinggi pada anak yang menyaksikan perceraian dan mengerti apa dari hal tersebut.    Apalagi jika sang anak-anak pernah menyaksikan pertengkaran sang orangtua. Menurut banyak penelitian, perceraian orangtua adalah adalah satu faktor penyebab seseorang memiliki gangguan bipolar. negatif perceraian bagi anak. Sebagai seorang muslim yang baik, sebaiknya hindari perceraian, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi demi anak-anak, ya.    Jika memang pertikaian rumah tangga terjadi, sebaiknya diselesaikan dengan baik dan musyawarah.    Jika memang rumah tangga sudah tidak dapat diperbaiki lagi dan harus berpisah, maka sebaiknya diskusikan kebaikan untuk masa depan anak.    Referensi : Dampak Negatif Perceraian Bagi Anak Menurut Islam

Dampak Negatif Perceraian Bagi Anak Menurut Islam. Dalam agama Islam, pernikahan adalah ikatan suci tidak hanya pada manusia tetapi juga dengan Allah dan merupakan bentuk ibadah.


Menikah juga merupakan ibadah penyempurna separuh agama, lho. Maka dari itu, ibadah yang satu ini memang sangat dianjurkan oleh Rasulullah.


Tetapi, tidak semua mahligai rumah tangga berjalan sesuai harapan dan rencana. Banyak pernikahan yang berakhir dengan perceraian karena berbagai alasan.


Selain menimbulkan berbagai dampak negatif perceraian, Allah sendiri memang sangat membenci perceraian dua orang muslim, seperti yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Umar.


Dikutip dari Azislam, Rasulullah bersabda, "Dari semua tindakan yang sah, yang paling dibenci oleh Allah adalah perceraian." Allah membenci perceraian karena berbagai alasan. Bukan hanya merugikan bagi suami dan istri yang bercerai, tetapi juga bagi anak-anak yang mengalaminya.


Dampak Negatif Perceraian Bagi Anak Menurut Islam


Perceraian memang menyedihkan dan merugikan, baik suami dan istri. Tapi, ada sosok lain yang merasakan kepedihan dan paling menderita karena perceraian, yakni anak-anak.


Perceraian orang tua bisa saja memengaruhi mereka sampai dewasa, dan bukan tidak mungkin anak memiliki rasa trauma.


Apa saja dampak negatif perceraian pada anak menurut Islam? Simak ulasannya!


1. Membuat Anak Stres


Tanpa disadari, beberapa anak akan merasa bahwa dia adalah penyebab orang tuanya bercerai dan mereka juga merasakan tanggung jawab untuk membuat orang tuanya kembali lagi.


Selain itu, sebagian anak akan merasa orang tuanya tidak lagi menyayanginya. Perasaan inilah yang akhirnya membuat anak menjadi stres dan akhirnya mengarah pada pikiran negatif.


2. Mengalami Kesedihan Akut


Tak hanya orangtua saja, jika anak sudah cukup dewasa untuk memahami apa arti perceraian, mereka pun juga akan merasakan kesedihan yang akut, setelah mengetahui bahwa orang tua mereka tidak lagi bersama.

3. Perubahan Suasana Hati yang Drastis


Dampak negatif selanjutnya perceraian bagi anak juga akan mengakibatkan anak tak lagi merasakan kehangatan dan kebahagiaan seperti sedia kala.


Oleh karenanya, perubahan suasana hati cenderung akan dialami oleh anak. Tak jarang anak akan menarik diri dari lingkungannya dan memilih untuk tidak berbicara dengan siapapun.


Meskipun ada pula anak yang overacting untuk mencari perhatian dari orang di sekitarnya.


4. Kehilangan Fokus dalam Beraktivitas


Anak-anak pada dasarnya masih bergantung pada orangtua. Bisa dipastikan, perceraian membuat mereka mudah kehilangan fokus untuk melakukan kegiatan apapun.


Anak akan mudah cemas, tegang, gugup, dan merasa sulit untuk berkonsentrasi pada hampir semua hal, terutama dalam proses belajar.


Tak jarang anak akan kehilangan minat pada kegiatan apa pun yang membuat hatinya senang.


5. Menimbulkan Masalah Perilaku


Perceraian juga akan menyebabkan anak menjadi pribadi yang emosional, antisosial, mudah kehilangan kesabaran, dan memiliki perilaku menyerang. Ini juga menjadi efek negatif dari perceraian orang tua, Moslem Fellas.


6. Mengalami Depresi


Depresi memang tidak mengenal usia. Bahkan anak-anak kecil pun bisa merasakan depresi saat mereka merasa sangat sedih atas perceraian orangtuanya.


Risiko depresi ini lebih tinggi pada anak yang menyaksikan perceraian dan mengerti apa dari hal tersebut.


Apalagi jika sang anak-anak pernah menyaksikan pertengkaran sang orangtua. Menurut banyak penelitian, perceraian orangtua adalah adalah satu faktor penyebab seseorang memiliki gangguan bipolar. negatif perceraian bagi anak. Sebagai seorang muslim yang baik, sebaiknya hindari perceraian, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi demi anak-anak, ya.


Jika memang pertikaian rumah tangga terjadi, sebaiknya diselesaikan dengan baik dan musyawarah.


Jika memang rumah tangga sudah tidak dapat diperbaiki lagi dan harus berpisah, maka sebaiknya diskusikan kebaikan untuk masa depan anak.


Referensi : Dampak Negatif Perceraian Bagi Anak Menurut Islam



Dampak Perceraian Terhadap Anak

Dampak Perceraian Terhadap Anak

Salah satu faktor penyebab perceraian ini, berawal dari situasi ketidaksiapan membangun rumah tangga. Tapi, mereka tetap memutuskan menikah. Kondisi ini yang berpotensi terjadinya cekcok dan berujung perceraian. 

Untuk menekan angka perceraian ke depannya, harus ada pendidikan karakter dalam membangun rumah tangga bagi pasangan yang akan menikah.  Tujuannya tentu, agar calon pasangan suami istri memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengimplementasikan fungsi-fungsi inti berumahtangga. 

Soalnya, dalam hubungan berumah tangga, pastilah kita mengharapkan hubungan yang langgeng, bahagia dan terus bersama hingga maut memisahkan. Masalah dalam kehidupan berumah tangga memang pasti ada. Namun, sebagai pasangan suami istri yang telah berkomitmen di hadapan Allah haruslah berusaha untuk menyelesaikan segala permasalahan rumah tangga bersama-sama. Sayangnya, dewasa ini makin banyak pasangan suami istri yang merasa bahwa permasalahan mereka tidak akan terselesaikan kecuali dengan bercerai.

Perceraian atau bisa juga disebut talak adalah pemutusan hubungan suami istri dari hubungan pernikahan yang sah menurut aturan agama Islam dan negara. Perceraian dianggap sebagai cara terakhir yang bisa diambil oleh pasangan suami istri untuk menyelesaikan masalah yang mungkin mereka miliki. Padahal tidak menutup kemungkinan jika keputusan bercerai yang mereka ambil akan membawa masalah berikutnya, terutama ang berkaitan dengan hak asuh anak. Oleh karena itu, sebaiknya kita sebisa mungkin berusaha untuk mencegah terjadinya perceraian ini.

Menurut syariat Islam, cerai adalah melepaskan ikatan perkawinan atau putusnya hubungan perkawinan antara suami dan istri. Kemudian, dengan adanya perceraian ini, maka gugurlah hak dan kewajiban mereka sebagai suami dan istri. Artinya, mereka tidak lagi boleh berhubungan sebagai suami istri, menyentuh atau berduaan, sama seperti ketika mereka belum menikah dulu.

Kalau mengacu kepada Al-Quran, agama Islam telah mengatur segala sesuatunya. Bahkan, al Quran juga mengatur adab dan aturan dalam berumah tangga, termasuk bagaimana jik ada masalah yang tak terselesaikan dalam rumah tangga tersebut.

Islam memang mengizinkan perceraian, tapi Allah membenci perceraian itu. Itu artinya, bercerai adalah pilihan terakhir bagi pasangan suami istri ketika memang tidak ada lagi jalan keluar lainnya. Dalam surat al Baqarah ayat 227 disebutkan, “Dan jika mereka berketetapan hati hendak menceraikan, maka sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” Ayat tentang hukum perceraian ini berlanjut pada surat al Baqarah ayat 228 hingga ayat 232.

Dalam ayat-ayat surat al Baqarah di atas, diterangkan aturan-aturan mengenai hukum talak, masa iddah bagi istri, hingga aturan bagi wanita yang sedang dalam masa iddahnya. Dari sini kita bisa mengetahui bahwa agama Islam memberi aturan yang sangat lengkap tentang hukum perceraian. Tentu saja aturan-aturan ini sangat memperhatikan kemaslahatan pihak suami dan istri dan mencegah adanya kerugian di salah satu pihak.

Tidak hanya di surat al Baqarah, di surat ath-Thalaq ayat 1-7 juga dibahas aturan-aturan dalam berumah tangga. Di situ disebutkan tentang kewajiban suami terhadap istri hingga bagaimana aturan ketika seorang istri berada dalam masa iddah. Dari beberapa ayat yang telah dibahas, maka kita ketahui bahwa dalam Islam perceraian itu tidak dilarang, namun harus mengikuti aturan-aturan tertentu.

Sebagai sebuah renungan, dampak perceraian yang terjadi tak hanya akan dirasakan pada pasangan suami istri saja, namun juga dirasakan anak-anaknya. Bahkan, perceraian akan membuat mental anak terombang ambing.

Kebutuhan kasih sayang dan kehangatan keluarga, merupakan hal yang penting dalam perkembangan jiwa anak. Maksudnya, jika keharmonisan dalam keluarga ini tidak di dapatkannya,  maka saat bernajak dewasa nantinya secara tidak langsung mempengaruhi kepribadiannya. 

Yang jelas, saat terjadinya perceraian, ada beberapa hal yang dapat merusak mentalnya, seperti merasa tidak aman dan nyaman, karena perasaan sedih yang mendalam akibat dari kedua orang tu harus berpisah. Fakata tersebut jelas si anak akan merakan  kesepian dan  merasa kehilangan.

Kemudian perasaan-perasaan tersebutlah yang nantinya dapat menyebabkan perubahan pada kondisi kepribadiannya saat anak menginjak usia dewasa. Mereka akan terus merasa untuk takut gagal, takut menjalin kedekatan dengan orang lain.

Kemudian si anak sering membayangkan, jika orang tuanya dapat bersatu kembali, bahkan hingga lebih senang menyendiri di lingkungan sosialnya. Selain itu, dampak lainnya juga dapat terjadi perubahan prilaku anak, seperti anak akan menjadi lebih kasar, bertindak agresif, sering mengamuk, bahkan hingga membenci salah satu ataupun kedua orang tuanya.

Jadi, sebelum mengambil sikap untuk bercerai, jangan hanya berpikir tentang perasaan diri saja, tetapi juga dipikirkan masalah psikologis anak. Bagaimanapun jua, anak adalah buah dari cinta dan sebagai pelindung di hari tua. 

Perceraian Berakibat Buruk bagi Kesehatan Pria

Perceraian Berakibat Buruk bagi Kesehatan Pria

Perceraian ternyata tak hanya berefek buruk bagi kesehatan mental dan emosi, tapi juga fisik seseorang. Kondisi ini tidak cuma rentan dialami wanita, tapi juga pria. Sebuah riset di Amerika mengatakan, pria yang hidup single atau mengalami perceraian, berpeluang 39 persen lebih tinggi mengalami kematian dini. Angka ini dibandingkan dengan pria yang ada dalam ikatan pernikahan. Kondisi ini mungkin disebabkan pria yang hidup single lebih berpeluang menjalankan gaya hidup atau perilaku seks berisiko. Perilaku ini lambat laun mengancam kesehatan fisik dan mentalnya.

Sebuah studi kasus oleh Dr. Daniel Felix dari University of Nebraska dan dimuat dalam Journal of Men's Health mengungkapkan pentingnya para dokter untuk mengenali problem kesehatan kaum pria yang dipicu oleh perceraian. Riset ini merupakan kajian terhadap kasus yang dialami seorang responden pria berkulit putih usia 45 tahun yang bertahan dari perceraian. Setelah perceraian, pria ini mengunjungi dokter keluarga setelah 10 tahun tidak memeriksakan diri. Ia datang dengan keluhan pola tidur buruk, dan masalah perut yang tidak kunjung tuntas. Pria ini juga melaporkan keranjingan minum bir dan mulai membenci pekerjaannya. Sebagai karyawan level menengah di sebuah bank lokal, pria ini mulai terganggu dengan atasan dan teman-temannya.

Sehubungan dengan perceraian yang dialami, pria ini juga melaporkan keterbatasan akses yang dialami dalam menemui anak-anaknya. Padahal, ia  sangat membutuhkan dukungan anak-anaknya. Pria ini juga mengeluhkan mantan istrinya yang seolah menjauhkan ia dari semua teman-teman yang dimiliki saat masih menjadi pasangan. Peneliti melaporkan, kondisi fisik pria ini tampak biasa saja meski pun ia mengalami sedikit pembengkakan pada liver dan tubuhnya yang kegemukan.  Namun sebaliknya, peneliti mengaitkan kondisi penyakit yang dialami pria ini dengan gejala depresi yang berlanjut dengan kecemasan dan stres akibat perceraian. Peneliti menyarankan para dokter untuk melakukan pengobatan pada gejala-gejala psikologis akibat perceraian, dan bukannya merekomendasikan perbaikan nutrisi, olahraga, dan pola tidur. Para pria korban perceraian juga wajib mengikuti program terapi kecanduan alkohol dan zat terlarang. Selain itu, mereka juga harus mendapat rujukan dari tenaga medis untuk berobat para konselor, profesional kesehatan jiwa, atau kelompok dukungan perceraian.

Peneliti menyarankan perlunya penelitian lebih lanjut guna melihat dampak perceraian bagi kesehatan pria. Professor Ridwan Shabsigh dari Cornell University, Amerika Serikat mengatakan, temuan ini menjadi dasar penyusunan diagnosa dan panduan terapi kesehatan bagi para pria korban perceraian. Riset ini sekaligus membuka sisi lain pria, yang sering dikesankan sebagai sosok kuat, tabah, dan lebih kebal pada trauma dibanding wanita. "Faktanya, pria sangat terpengaruh dengan trauma psikologis dan peristiwa buruk dalam kehidupan seperti perceraian, kebangkrutan, perang, dan kematian. Penelitian segera sangat dibutuhkan untuk menyelidiki prevelensi dan dampak perceraian bagi kesehatan pria," kata Shabsigh.

Referensi : Perceraian Berakibat Buruk bagi Kesehatan Pria


Dampak Buruk Perceraian

Akhir dari suatu pernikahan. Ketika suatu perkawinan sering diwarnai pertengkaran, merasa tidak bahagia, ketidaksetiaan pasangan, atau masalah lainnya, seringkali terpikir untuk segera mengakhiri pernikahan tersebut. Bercerai dengan pasangan hidup dianggap sebagai solusi terbaik bagi banyak pasangan yang menikah. Alasan lain bercerai adalah memberi pasangan hidup pelajaran sebagai jalan keluar yang baik untuk mengakhiri rasa sakit hati. Tetapi, dengan bercerai tidak berarti Anda bebas dari masalah. Ada masalah-masalah lain yang harus dihadapi. Apa saja yang harus dipertimbangkan matang-matang sebelum mengambil keputusan bercerai?  Penyebab PerceraianStatistik menunjukkan bahwa sekitar 60 persen dari semua kasus perceraian terjadi dalam sepuluh tahun pertama perkawinan. Bahkan dengan maraknya perceraian yang dilakukan oleh kaum selebriti, membuat bercerai menjadi masalah pilihan gaya hidup semata. Angka perceraian terus melonjak. Sebelum melihat akibat buruk dari perceraian, apa saja yang menjadi penyebab perceraian? Berikut ini beberapa di antara penyebab utama perceraian.  Gagal berkomunikasi Ketidakcocokan akibat kegagalan berkomunikasi antara suami dan istri sering menjadi pemicu perceraian. Kurangnya komunikasi membuat kurangnya rasa saling mengerti dan membuat sering terjadinya pertengkaran. Hal ini akan berujung pada perceraian jika kedua pihak tidak mau atau gagal berkomunikasi.  Ketidaksetiaan Penyebab perceraian lainnya adalah salah satu pasangan berselingkuh. Pasangan yang disakiti tidak dapat memaafkan dan memilih bercerai. Atau sebaliknya, pasangan yang berselingkuh memilih bercerai demi pacar barunya.  Kekerasan dalam rumah tangga Perceraian karena kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) juga menjadi salah satu penyebab utama perceraian. Banyak pasangan memilih menyelamatkan kehidupannya dengan bercerai karena sering mendapat aniaya baik secara fisik maupun verbal.  Masalah ekonomi Ada juga perceraian karena masalah ekonomi. Menganggap pasangan tidak mampu memenuhi kebutuhan materi keluarga, sehingga meninggalkan pasangannya dengan bercerai.  Pernikahan dini Menikah belum cukup umur membuat pasangan muda tersebut belum siap menghadapi berbagai kesulitan dalam kehidupan perkawinan. Sehingga seringkali keputusan yang dibuat adalah bercerai saat menghadapi banyak tekanan hidup.  Perubahan budaya Dulu perceraian adalah sesuatu yang tabu. Sekarang telah menjadi tren dan gaya hidup banyak pasangan.  Akibat Perceraian Namun, apakah perceraian jalan keluar yang terbaik? Coba pertimbangkan apa saja kerugian yang harus ditanggung setiap anggota keluarga ketika keputusannya adalah bercerai.  Anak menjadi korban Anak merupakan korban yang paling terluka ketika orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Anak dapat merasa ketakutan karena kehilangan sosok ayah atau ibu mereka, takut kehilangan kasih sayang orang tua yang kini tidak tinggal serumah. Mungkin juga mereka merasa bersalah dan menganggap diri mereka sebagai penyebabnya. Prestasi anak di sekolah akan menurun atau mereka jadi lebih sering untuk menyendiri.  Anak-anak yang sedikit lebih besar bisa pula merasa terjepit di antara ayah dan ibu mereka. Salah satu atau kedua orang tua yang telah berpisah mungkin menaruh curiga bahwa mantan pasangan hidupnya tersebut mempengaruhi sang anak agar membencinya. Ini dapat mebuat anak menjadi serba salah, sehingga mereka tidak terbuka termasuk dalam masalah-masalah besar yang dihadapi ketika mereka remaja. Sebagai pelarian yang buruk, anak-anak bisa terlibat dalam pergaulan yang buruk, narkoba, atau hal negatif lain yang bisa merugikan.  Dampak untuk orang tua Selain anak-anak, orang tua dari pasangan yang bercerai juga mungkin terkena imbas dari keputusan untuk bercerai. Sebagai orang tua, mereka dapat saja merasa takut anak mereka yang bercerai akan menderita karena perceraian ini atau merasa risih dengan pergunjingan orang-orang.  Beberapa orang tua dari pasangan yang bercerai akhirnya harus membantu membesarkan cucu mereka karena ketidaksanggupan dari pasangan yang bercerai untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.  Bencana keuangan Jika sebelum bercerai, suami sebagai pencari nafkah maka setelah bercerai Anda tidak akan memiliki pendapatan sama sekali apalagi jika mantan pasangan Anda tidak memberikan tunjangan. Atau jika pemasukan berasal dari Anda dan pasangan, sekarang setelah bercerai, pemasukan uang Anda berkurang. Jika Anda mendapat hak asuh atas anak, berarti Anda juga bertanggung jawab untuk menanggung biaya hidup dari anak Anda. Yang perlu diingat, setelah bercerai, umumnya banyak keluarga mengalami penurunan standar kehidupan hingga lebih dari 50 persen.  Masalah pengasuhan anak Setelah bercerai, berarti kini Anda harus menjalankan peranan ganda sebagai ayah dan juga sebagai ibu. Ini bukanlah hal yang mudah karena ada banyak hal lain yang harus Anda pikirkan seorang diri. Terlebih, jika anak sudah memasuki masa remaja yang penuh tantangan, Anda harus dengan masuk akal menjaga atau memberikan disiplin kepada anak agar dapat tumbuh menjadi anak yang baik.  Masalah lain dalam hal pengasuhan anak adalah ketika harus berbagi hak asuh anak dengan pasangan karena bisa jadi Anda masih merasa sakit hati dengan perlakuan mantan Anda sehingga sulit untuk bersikap adil. Hal-hal yang harus dibicarakan seperti pendidikan atau disiplin anak mungkin dapat menyebabkan pertengkaran karena tidak sepaham dan rasa sakit hati dapat membuat hal ini semakin buruk.  Gangguan emosi Adalah hal yang wajar jika setelah bercerai Anda masih menyimpan perasan cinta terhadap mantan pasangan Anda. Harapan Anda untuk hidup sampai tua bersama pasangan menjadi kandas, ini dapat menyebabkan perasaan kecewa yang sangat besar yang menyakitkan. Mungkin juga Anda ketakutan jika tidak ada orang yang akan mencintai Anda lagi atau perasaan takut ditinggalkan lagi di kemudian hari.  Perasaan lain yang mungkin dialami adalah perasaan terhina atau perasaan marah dan kesal akibat sikap buruk pasangan. Anda juga mungkin merasa kesepian karena sudah tidak ada lagi tempat Anda berbagi cerita, tempat Anda mencurahkan dan mendapatkan bentuk kasih saying. Serangkaian problem kesehatan juga bisa disebabkan akibat depresi karena bercerai.  Bahaya masa remaja kedua Pasangan yang baru bercerai sering mengalami masa remaja kedua. Mereka mencicipi kemerdekaan baru dengan memburu serangkaian hubungan asmara dengan tujuan untuk menaikkan harga diri yang jatuh atau untuk mengusir kesepian. Hal ini bisa menimbulkan problem baru yang lebih buruk dan tragis karena tidak mempertimbangkan baik-baik langkah yang dilakukan.  Perceraian bukanlah hal yang terbaik karena ada dampak-dampak buruk yang harus Anda hadapi. Walaupun perkawinan Anda tampak hampir hancur, tidaklah baik untuk menghancurkannya dengan bercerai. Berpikirlah untuk mempertahankan perkawinan Anda demi anak dan keluarga Anda. Jika pasangan Anda tampaknya tidak baik atau tidak menyayangi Anda, cobalah komunikasikan hal ini dengan pasangan Anda dengan cara yang baik karena kebanyakan faktor perceraian karena kegagalan berkomunikasi. Hindari berpikir untuk berselingkuh karena hal itu akan memperburuk keadaan.  Perceraian bukanlah jalan keluar terbaik. Sebelum bercerai pertimbangkan secara matang akibatnya hingga jauh ke depan. Banyak pengalaman menunjukkan bahwa perkawinan yang bermasalah masih bisa diselamatkan tanpa perlu bercerai.

Akhir dari suatu pernikahan. Ketika suatu perkawinan sering diwarnai pertengkaran, merasa tidak bahagia, ketidaksetiaan pasangan, atau masalah lainnya, seringkali terpikir untuk segera mengakhiri pernikahan tersebut. Bercerai dengan pasangan hidup dianggap sebagai solusi terbaik bagi banyak pasangan yang menikah. Alasan lain bercerai adalah memberi pasangan hidup pelajaran sebagai jalan keluar yang baik untuk mengakhiri rasa sakit hati. Tetapi, dengan bercerai tidak berarti Anda bebas dari masalah. Ada masalah-masalah lain yang harus dihadapi. Apa saja yang harus dipertimbangkan matang-matang sebelum mengambil keputusan bercerai?

Penyebab PerceraianStatistik menunjukkan bahwa sekitar 60 persen dari semua kasus perceraian terjadi dalam sepuluh tahun pertama perkawinan. Bahkan dengan maraknya perceraian yang dilakukan oleh kaum selebriti, membuat bercerai menjadi masalah pilihan gaya hidup semata. Angka perceraian terus melonjak.

Sebelum melihat akibat buruk dari perceraian, apa saja yang menjadi penyebab perceraian? Berikut ini beberapa di antara penyebab utama perceraian.

  • Gagal berkomunikasi

    Ketidakcocokan akibat kegagalan berkomunikasi antara suami dan istri sering menjadi pemicu perceraian. Kurangnya komunikasi membuat kurangnya rasa saling mengerti dan membuat sering terjadinya pertengkaran. Hal ini akan berujung pada perceraian jika kedua pihak tidak mau atau gagal berkomunikasi.

  • Ketidaksetiaan

    Penyebab perceraian lainnya adalah salah satu pasangan berselingkuh. Pasangan yang disakiti tidak dapat memaafkan dan memilih bercerai. Atau sebaliknya, pasangan yang berselingkuh memilih bercerai demi pacar barunya.

  • Kekerasan dalam rumah tangga

    Perceraian karena kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) juga menjadi salah satu penyebab utama perceraian. Banyak pasangan memilih menyelamatkan kehidupannya dengan bercerai karena sering mendapat aniaya baik secara fisik maupun verbal.

  • Masalah ekonomi

    Ada juga perceraian karena masalah ekonomi. Menganggap pasangan tidak mampu memenuhi kebutuhan materi keluarga, sehingga meninggalkan pasangannya dengan bercerai.

  • Pernikahan dini

    Menikah belum cukup umur membuat pasangan muda tersebut belum siap menghadapi berbagai kesulitan dalam kehidupan perkawinan. Sehingga seringkali keputusan yang dibuat adalah bercerai saat menghadapi banyak tekanan hidup.

  • Perubahan budaya

    Dulu perceraian adalah sesuatu yang tabu. Sekarang telah menjadi tren dan gaya hidup banyak pasangan.

Akibat Perceraian

Namun, apakah perceraian jalan keluar yang terbaik? Coba pertimbangkan apa saja kerugian yang harus ditanggung setiap anggota keluarga ketika keputusannya adalah bercerai.

  • Anak menjadi korban

    Anak merupakan korban yang paling terluka ketika orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Anak dapat merasa ketakutan karena kehilangan sosok ayah atau ibu mereka, takut kehilangan kasih sayang orang tua yang kini tidak tinggal serumah. Mungkin juga mereka merasa bersalah dan menganggap diri mereka sebagai penyebabnya. Prestasi anak di sekolah akan menurun atau mereka jadi lebih sering untuk menyendiri.

    Anak-anak yang sedikit lebih besar bisa pula merasa terjepit di antara ayah dan ibu mereka. Salah satu atau kedua orang tua yang telah berpisah mungkin menaruh curiga bahwa mantan pasangan hidupnya tersebut mempengaruhi sang anak agar membencinya. Ini dapat mebuat anak menjadi serba salah, sehingga mereka tidak terbuka termasuk dalam masalah-masalah besar yang dihadapi ketika mereka remaja. Sebagai pelarian yang buruk, anak-anak bisa terlibat dalam pergaulan yang buruk, narkoba, atau hal negatif lain yang bisa merugikan.

  • Dampak untuk orang tua

    Selain anak-anak, orang tua dari pasangan yang bercerai juga mungkin terkena imbas dari keputusan untuk bercerai. Sebagai orang tua, mereka dapat saja merasa takut anak mereka yang bercerai akan menderita karena perceraian ini atau merasa risih dengan pergunjingan orang-orang.

    Beberapa orang tua dari pasangan yang bercerai akhirnya harus membantu membesarkan cucu mereka karena ketidaksanggupan dari pasangan yang bercerai untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

  • Bencana keuangan

    Jika sebelum bercerai, suami sebagai pencari nafkah maka setelah bercerai Anda tidak akan memiliki pendapatan sama sekali apalagi jika mantan pasangan Anda tidak memberikan tunjangan. Atau jika pemasukan berasal dari Anda dan pasangan, sekarang setelah bercerai, pemasukan uang Anda berkurang. Jika Anda mendapat hak asuh atas anak, berarti Anda juga bertanggung jawab untuk menanggung biaya hidup dari anak Anda. Yang perlu diingat, setelah bercerai, umumnya banyak keluarga mengalami penurunan standar kehidupan hingga lebih dari 50 persen.

  • Masalah pengasuhan anak

    Setelah bercerai, berarti kini Anda harus menjalankan peranan ganda sebagai ayah dan juga sebagai ibu. Ini bukanlah hal yang mudah karena ada banyak hal lain yang harus Anda pikirkan seorang diri. Terlebih, jika anak sudah memasuki masa remaja yang penuh tantangan, Anda harus dengan masuk akal menjaga atau memberikan disiplin kepada anak agar dapat tumbuh menjadi anak yang baik.

    Masalah lain dalam hal pengasuhan anak adalah ketika harus berbagi hak asuh anak dengan pasangan karena bisa jadi Anda masih merasa sakit hati dengan perlakuan mantan Anda sehingga sulit untuk bersikap adil. Hal-hal yang harus dibicarakan seperti pendidikan atau disiplin anak mungkin dapat menyebabkan pertengkaran karena tidak sepaham dan rasa sakit hati dapat membuat hal ini semakin buruk.

  • Gangguan emosi

    Adalah hal yang wajar jika setelah bercerai Anda masih menyimpan perasan cinta terhadap mantan pasangan Anda. Harapan Anda untuk hidup sampai tua bersama pasangan menjadi kandas, ini dapat menyebabkan perasaan kecewa yang sangat besar yang menyakitkan. Mungkin juga Anda ketakutan jika tidak ada orang yang akan mencintai Anda lagi atau perasaan takut ditinggalkan lagi di kemudian hari.

    Perasaan lain yang mungkin dialami adalah perasaan terhina atau perasaan marah dan kesal akibat sikap buruk pasangan. Anda juga mungkin merasa kesepian karena sudah tidak ada lagi tempat Anda berbagi cerita, tempat Anda mencurahkan dan mendapatkan bentuk kasih saying. Serangkaian problem kesehatan juga bisa disebabkan akibat depresi karena bercerai.

  • Bahaya masa remaja kedua

    Pasangan yang baru bercerai sering mengalami masa remaja kedua. Mereka mencicipi kemerdekaan baru dengan memburu serangkaian hubungan asmara dengan tujuan untuk menaikkan harga diri yang jatuh atau untuk mengusir kesepian. Hal ini bisa menimbulkan problem baru yang lebih buruk dan tragis karena tidak mempertimbangkan baik-baik langkah yang dilakukan.

Perceraian bukanlah hal yang terbaik karena ada dampak-dampak buruk yang harus Anda hadapi. Walaupun perkawinan Anda tampak hampir hancur, tidaklah baik untuk menghancurkannya dengan bercerai. Berpikirlah untuk mempertahankan perkawinan Anda demi anak dan keluarga Anda. Jika pasangan Anda tampaknya tidak baik atau tidak menyayangi Anda, cobalah komunikasikan hal ini dengan pasangan Anda dengan cara yang baik karena kebanyakan faktor perceraian karena kegagalan berkomunikasi. Hindari berpikir untuk berselingkuh karena hal itu akan memperburuk keadaan.

Perceraian bukanlah jalan keluar terbaik. Sebelum bercerai pertimbangkan secara matang akibatnya hingga jauh ke depan. Banyak pengalaman menunjukkan bahwa perkawinan yang bermasalah masih bisa diselamatkan tanpa perlu bercerai.