This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Jumat, 26 Agustus 2022

Alasan Kuat Perceraian dalam Islam

Alasan Kuat Perceraian dalam Islam

Alasan Kuat Perceraian dalam Islam. Perkawinan merupakan ikatan suci yang menyatukan seorang pria dan seorang wanita, yang telah ditentukan dalam Alquran dan Sunnah. Dengan demikian, masing-masing pasangan suami istri harus membuat ikatan sakral ini dengan indah dan benar.

Namun saat ini, kasus perceraian semakin meningkat mulai yang dilakukan publik figur hingga warga biasa. Ada beberapa alasan yang diperbolehkan di mana seorang suami bisa menceraikan istrinya, atau seorang istri menggugat untuk berpisah dengan suaminya.

Meskipun tidak boleh menceraikan istrinya karena ingin mencelakakannya, termasuk memsisahkan ibu dan anak-anaknya. Bahkan perceraian tanpa alasan yang adil, dianggap sebagai salah satu dosa besar dan berat, dan salah satu tindakan yang paling dicintai setan. 

Secara umum, perceraian sama sekali tidak dipandang baik dalam Islam. Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan, agar tidak melakukan perceraian yang tidak masuk akal,  "Di antara hal-hal yang halal, perceraian paling dibenci oleh Allah." (Abu Daud)

Jadi, tidak seorang pun boleh bercerai kecuali dalam kasus-kasus ekstrem dan tidak dapat dihindari. Di mana hal itu dianggap sah dalam Islam. Alasan untuk ini jelas, karena perceraian membawa konsekuensi yang mengerikan, yang mempengaruhi keluarga dan individu. Bahkan psikologis anak-anak bisa terganggu.

Maka dari itu, baik suami maupun istri harus berusaha untuk menjaga pernikahan tetap utuh dan memberikan yang terbaik. Namun jika ada masalah yang tidak bisa diselesaikan berdua, maka harus meminta nasihat dari orang tua atau seorang ahli agama.


1. Penganiayaan atau penyiksaan fisik, mental dan emosional
2. Tidak melakukan hak dan kewajiban
3. Perselingkuhan
4. Kegagalan suami menyediakan nafkah

Tujuannya untuk memecahkan masalah yang belum terselesaikan di antara suami istri, agar perceraian bisa dihindari. Namun ada kasus di mana perceraian adalah satu-satunya pilihan yang tersedia. Berikut adalah beberapa alasan yang dibenarkan, dikutip Sahijab dari About Islam:

Ketika salah satu pasangan menjadi kasar dan melakukan kekerasan dalam rumah tangga baik secara fisik, mental atau emosional. Bahkan tidak mau berubah, setelah dilakukan  terapi atau konseling. Maka itu adalah alasan yang sah untuk bercerai.

Baik suami maupun istri memiliki kewajiban dalam berumah tangga. Tetapi jika suami atau istri ada ketidakcocokan dan selalu menjadi bahan pertengkaran, dan tidak bisa didamaikan maka perceraian bisa jadi jalan terakhir.

Ini adalah salah satu penyebab utama bubarnya pernikahan, karena pernikahan dibangun di atas kepercayaan dan keyakinan. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga kesucian, baik dari pihak suami maupun istri. Begitu fondasi ini terkikis dan dirusak, akan sulit untuk memulihkannya, maka perceraian adalah jalan yang harus ditempuh.

Ketika laki-laki, yang dianggap sebagai pemberi nafkah dan pemelihara keluarga, gagal untuk memikul tanggung jawabnya dan istri memutuskan bahwa dia tidak dapat terus menoleransi kelalaiannya dari tanggung jawab, ini adalah alasan yang diperbolehkan untuk bercerai. Meskipun tidak sedikit saat ini di mana istri juga ikut bekerja membantu suaminya.

Referensi : Alasan Kuat Perceraian dalam Islam


Suami Sejati “Kesabaran Karena Allah Swt Mendatangkan Banyak Kebaikan”

Suami Sejati  “Kesabaran Karena Allah Swt Mendatangkan Banyak Kebaikan”

Suami Sejati  “Kesabaran Karena Allah Swt Mendatangkan Banyak Kebaikan” Sesungguhnya perceraian merupakan hal yang menyakitkan, apalagi jika ternyata sang wanita dicerai dengan tanpa hak yang benar, hal ini benar-benar merupakan perkara yang menyakitkan hatinya. Seakan-akan ia telah gagal dalam hidupnya.

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

وَكَسْرُهَا طَلاَقُهَا

“Dan pecahnya tulang rusuk (wanita) adalah menceraikannya.” [HR Muslim II/1091 no 1468]

Berkata Syaikh Abdullah Ali Bassaam, “Perumpamaan cerai dengan pecahnya tulang rusuk merupakan perumpaan yang sangat mengena. Pada keduanya (perceraian dan pecahnya tulang) ada banyak kesamaan jika ditinjau dari sisi keduanya sangat menyakitkan dan sulitnya untuk menyambung kembali dan penyembuhannya, serta terkadang bisa kembali menyambung namun tulang tersebut tidak kembali sebagaimana sedia kala” [Taudhihul Ahkaam min Bulughil Maram IV/445]

Perceraian merupakan perkara yang sangat disukai oleh Iblis.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut)[1] kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (orang yang ia goda -pent) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat engkau” [HR Muslim IV/2167 no 2813]

Iblis sangat bangga dengan keberhasilan anak buahnya yang telah menyebabkan terjadinya perceraian. Syaikh As-Sa’di berkata, “Padahal kecintaan yang terjalin diantara pasangan suami istri (sangatlah kuat) tidak bisa disamakan dengan rasa cinta yang ada pada selain keduanya karena Allah telah berfirman tentang pasangan suami istri وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ((Dan Allah menjadikan diantara kalian rasa cinta dan kasih sayang))” [Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan I/61]

Oleh karena itu tatkala Allah berfirman

وَاتَّبَعُواْ مَا تَتْلُواْ الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَـكِنَّ الشَّيْاطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُواْ لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْاْ بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu). Sebab itu, janganlah kamu kafir.” Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (QS. 2:102)

Allah menyebutkan dalam ayat ini bahwasanya yang dipelajari oleh mereka dari Harut dan Marut hanyalah ((apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya)) dan tidak menyebutkan perkara yang lain. Padahal sihir berpengaruh pada hubungan-hubungan yang lain diantara manusia. Hal ini disebabkan jika cinta yang sangat kuat yang terjalin antara suami istri bisa dirusak dengan sihir maka bentuk-bentuk kecintaan yang lain lebih mudah lagi untuk dirusak dengan sihir. Oleh karena itu Allah berfirman setelahnya ((Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun)). [At-Tafsiir Al-Kabiir III/200]

Berkata Al-Munaawi, “Hadits ini menunjukan akan susuatu yang sangat menakutkan tentang pencelaan terhadap perceraian. Hal ini merupakan tujuan terbesar Iblis yang terlaknat karena perceraian mengakibatkan terputusnya keturunan. Dan bersendiriannya anak keturunan Nabi Adam (tanpa istri atau tanpa suami) akan menjerumuskan mereka ke perbuatan zina yang termasuk dosa-dosa besar yang paling besar menimbulkan kerusakan dan yang paling menyulitkan” [Faidhul Qodiir II/408]

Oleh karena itu jika memang sang istri telah dinasehati dengan melalui tahapan-tahapan yang dianjurkan dan tetap tidak bisa berubah maka hendaknya seorang suami bersabar sebelum dia menempuh jalan yang terakhir yaitu cerai

Allah berfirman

فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَيَجْعَلَ اللّهُ فِيهِ خَيْراً كَثِيراً

Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. An Nisaa: 19)

Berkata Ibnul Jauzi, “Ayat ini menganjurkan untuk menahan istri (tidak menceraikannya) meskipun sang suami membencinya. Dan ayat ini mengingatkan dua perkara, yang pertama bahwasanya seorang manusia tidak mengetahui mana-mana saja tempat kebaikan. Betapa banyak perkara yang dibenci kemudian membawa kebaikan dan betapa banyak perkara yang dipuji kemudian menjadi perkara yang dicela. Perkara yang kedua bahwasanya seseorang hampir-hampir tidak bisa menemukan sesuatu yang disukainya tanpa disertai dengan sesuatu yang dibencinya, oleh karena itu hendaknya ia bersabar atas apa yang dibencinya karena perkara yang dicintainya. [Zaadul Masiir II/42]

Berkata Az-Zamakhsyari Al-Mu’tazili, “Janganlah kalian menceraikannya karena hanya sekedar jiwa kalian tidak menyukainya, karena terkadang jiwa itu membenci sesuatu yang lebih baik bagi agamanya dan lebih terpuji serta lebih dekat kepada kebaikan, dan terkadang jiwa itu menyukai sebaliknya. Oleh karena itu hendaknya yang diperhatikan adalah sebab-sebab kebaikan” [Al-Kassyaaf I/522]

Berkata Al-Qodhi Abu Muhammad, “Dan diantara kefasihan Al-Qur’an yaitu adanya faedah keumuman pada kalimat شَيْئاً (sesuatu), karena hal ini (Allah menjadikan kebaikan) berlaku pada setiap apa yang dibenci oleh seseorang yang menjadikannya bersabar atas kebencian tersebut, lalu iapun bersabar dengan baik karena akhirnya (akibatnya) adalah kebaikan, jika ia bersabar karena menginginkan wajah Allah” [Al-Muharror Al-Wajiiz II/28]

Berkata Mujahid, “Mungkin saja Allah menjadikan kebaikan yang banyak di balik kebencian tersebut” [Ad-Dur Al-Mantsur II/465]

Dalam ayat ini Allah menjanjikan bahwa barang siapa yang bersabar menghadapi istrinya yang ia benci (selama istrinya tidak berzina) maka niscaya Allah akan menganugrahkan kepadanya banyak kebaikan dibalik kesabarannya dengan catatan kesabarannya tersebut karena mengharapkan wajah Allah.

Berkata Al-Qurthubi, “Jika kalian membencinya karena buruknya akhlaknya namun ia tidak melakukan perzinahan atau membangkang suami maka keadaan seperti ini dianjurkan agar sang suami bersabar, mungkin saja akhirnya Allah akan menganugrahinya dari istrinya tersebut anak-anak yang sholeh” [Tafsir Al-Qurthubi V/98, demikian juga perkataan Ibnul Arobi (Ahkamul Qur’an I/468)]

Ibnu Abbas berkata, “Yaitu sang suami bersikap lembut kepadanya lalu Allah memberikan rezki kepadanya seorang anak dari wanita tersebut, lalu Allah menjadikan banyak kebaikan pada anak tersebut” [Ad-Dur Al-Mantsur II/465]

Bisa jadi juga kebencian yang ia lihat dari istrinya adalah di awal-awal pernikahan, namun jika setelah beberapa tahun mereka berdua menjalani kehidupan rumah tangga maka akan nampaklah kasih sayang istrinya kepadanya dan ketaatannya kepadanya di kemudian hari.

Berkata Ad-Dhohhak, “Jika terjadi pertengkaran antara seseorang dan istrinya maka janganlah ia bersegera untuk mencerainya, hendaknya ia bersabar terhadapnya, mungkin Allah akan menampakkan dari istrinya apa yang disukainya” [Ad-Dur Al-Mantsur II/465]

Berkata Al-Alusi, “… atau kasih sayang yang nampak setelah kebencian” [Ruuhul Ma’ani IV/243]

Kemudian hendaknya sang suami merenungkan bahwa tidaklah musibah menimpanya kecuali karena kamaksiatan yang dilakukannya, kemudian musibah tersebut akan menjadi penghapus dosa-dosanya. Dan bisa jadi istri yang dibencinya itu merupakan musibah yang menimpanya karena maksiat yang dilakukannya. Jika ia tidak sabar dengan musibah tersebut bisa jadi Allah akan memberikan kepada dia musibah lain yang lebih berat baginya.

Berkata Ibnul Arobi, “…Syaikh Abu Muhammad bin Abi Zaid memiliki kedudukan yang tinggi dalam ilmu dan agama. Ia memiliki istri yang buruk akhlaknya dan tidak menunaikan kewajiban-kewajibannya dengan baik, bahkan ia menyakiti Syaikh dengan perkataan-perkataannya. Orang-orangpun menegur Syaikh tentang kelakuan istrinya namun ia meneruskan kesabarannya. Syaikh berkata, “Aku adalah seorang lelaki yang telah dikarunai nikmat yang sempurna oleh Allah berupa kesehatan tubuh, ilmu, dan budak-budakku, mungkin saja istriku itu diutus (untukku) sebagai hukuman bagiku karena (kurangnya) agamaku, dan aku takut jika aku mencerainya maka akan turun hukuman lain yang lebih parah” [Ahkamul Qur’an I/468-469]

Perkara halal yang dibenci Allah Swt adalah talak

Perkara halal yang dibenci Allah adalah talak

Perkara halal yang dibenci Allah adalah talak. Hadits:

أبغض الحلال إلى الله الطلاق

Perkara halal yang dibenci Allah adalah talak”

Ini adalah hadits dhaif, sebagaimana dijelaskan Syaikh Al Albani rahimahullaah dalam Irwaul Ghalil (2040). Sebagian ulama menshahihkan hadits ini, namun mereka memaknai bahwa cerai itu tetap halal namun sebaiknya dihindari.

Maka cerai itu boleh dan tidak terlarang. Justru pembolehan cerai adalah salah satu bentuk keadilan dalam Islam. Sebagian agama lain menetapkan haramnya cerai. Hasilnya, kasihan para istri yang suami bejat dan zalim. Sang istri tidak bisa lepas dari suaminya yang bejat tersebut seumur hidup. Demikian juga para suami yang istrinya bejat, ia tidak bisa lepas darinya.
Maka dibolehkannya cerai itu adil. Namun tentunya tidak boleh bermudah-mudahan cerai dan tidak boleh seseorang membuat orang lain cerai.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:

نعم، من المصائب لا شك إنه من المصائب، كون المرأة تطلق من زوج صالح مصيبة، لكن تسأل ربها أن يعوضها غيره، يقول الله سبحانه: وَإِنْ يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ [النساء:130]، أما طلاقها من زوج فاسق أو زوج يضرها فهي نعمة من الله ما هي بمصيبة نعمة من الله، لكن طلاقها من زوج طيب، من زوج يعينها على الخير، لا شك أنها مصيبة. نعم

“Ya benar, cerai itu merupakan bentuk musibah. Tidak diragukan lagi itu adalah musibah. Maka seorang wanita dicerai oleh lelaki yang shalih, ini adalah musibah. Namun hendaknya ia berdoa kepada Allah dan meminta pengganti yang lebih baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana” (QS. An Nisa: 130). Adapun jika ia diceraikan oleh suami yang fasiq (suka bermaksiat), atau suami yang berbahaya baginya, maka itu adalah nikmat dari Allah. Maka ketika itu ia mendapatkan nikmat di balik musibah. Namun jika yang menceraikannya adalah lelaki baik, lelaki yang memberikan manfaat kebaikan padanya, maka tidak ragu lagi ini adalah musibah”.

Referensi : Perkara halal yang dibenci Allah Swt adalah talak


4 Rahasia Tentang Perceraian yang Nggak Banyak Orang Tahu

Mungkin perceraian ini adalah hal yang sudah diperkirakan sebelumnya, dan ada banyak hal baik yang dapat terjadi dengan berakhirnya pernikahan ini. Namun, bukan berarti pengalaman bercerai dengan pasangan nggak menyakitkan. Itu sangat, sangat menyakitkan. Jadi jika mengalami rasa penyesalan yang amat sangat menyakitkan, ingat kamu nggak sendirian, Bela.  Orang-orang membicarakan cara move on, namun mereka nggak membicarakan cara mengatasi rasa sakit yang dialami ketika bercerai. Orang-orang mengatakan kalau bercerai adalah jalan keluar terbaik ketika pernikahan nggak menghasilkan kebahagiaan dalam diri, namun nggak ada yang menceritakan kalau melalui jalan itu harus merasakan penyesalan.   Nggak banyak yang membicarakan perceraian karena itu adalah topik sensitif. Namun kini kamu tahu, dan semoga ini dapat membantumu ketika berpikir untuk berpisah atau sedang menenangkan teman yang mengalami perceraian.

4 Rahasia Tentang Perceraian yang Nggak Banyak Orang Tahu. Ada banyak topik yang masih terkesan tabu untuk dibahas secara terbuka, salah satunya adalah perceraian. Karena itu, nggak banyak yang tahu hal-hal yang terjadi dalam suatu proses perceraian dan hal yang dirasakan ketika perpisahan dalam pernikahan itu terjadi. Dampaknya, orang yang mengalaminya akan merasa terkejut dan kemungkinan sulit untuk melaluinya, terlebih membicarakannya dengan orang-orang di sekitarnya.

Melansir dari Best Life, dampak perceraian nggak hanya terasa pada pasangan yang berpisah, tetapi juga pada keluarga dan teman-teman. Perceraian turut memisahkan orang-orang terdekat dari kedua orang tersebut. Hal ini dapat menimbulkan rasa terabaikan ketika keluarga dan teman harus memilih keberpihakan dalam perceraian. Kedua belah pihak (mantan pasangan) akan merasa dikhianati ketika melihat keluarga atau teman memilih sisi yang berbeda dengan dirinya. Kejadian ini menimbulkan rasa trauma dalam dirinya.

Selain kejadian tersebut, ada banyak aspek dalam perceraian yang nggak pernah orang ceritakan secara terbuka. Berikut ini adalah rahasia mengenai hal-hal yang akan terjadi ketika bercerai dengan pasangan.

1. Mengisolasi diri

Dalam film, patah hati dapat sembuh dalam beberapa minggu saja, sembari makan es krim di atas kasur dan mengabaikan pesan atau telepon. Meski kenyataannnya terasa nyaman untuk menyendiri di rumah, terlalu sering sendiri dapat memicu gangguan kesehataan mental. Namun, hal ini dapat dicegah dengan menjaga interaksi personal.

Penting bagi pasangan yang baru saja bercerai untuk selalu terhubung dengan teman atau keluarga yang berada di pihaknya. Seiring berjalannya waktu, ia akan menginginkan pertemanan dan pengalaman baru. Mencoba hobi baru, datang ke pesta, mengadopsi hewan peliharaan. Mengapa? Sebab ketika bercerai, kamu harus membuat pertahanan melawan isolasi sosial.

2. Penyesalan itu nyata adanya

Dalam skenario yang ideal, nggak ada yang ingin mengalami penyesalan yang begitu menyakitkan. Namun, perasaan itu terkesan nggak realistis dalam perceraian. Walau sebenarnya, banyak rasa sesal yang dialami seseorang, yang membuat ia berharap dapat mengubah keputusannya. Sebenarnya, tak apa-apa untuk merasakan penyesalan tersebut dan jangan mendorongnya pergi. Ini dapat membantumu melalui semua pikiran dan perasaan tersebut.

3. Butuh waktu lama untuk move on

Ketika perceraian terdengar seperti keputusan yang diikuti dengan urusan legal atau hukum, sebenarnya itu jauh dari kata sederhana. Faktanya, prosesnya dapat berjalan dalam waktu lama. Baik secara hukum, fisik, maupun emosional.

Karena itu, berikan waktu untuk dirimu sendiri. Kamu mungkin sangat cepat move on. Namun, terkadang butuh waktu hitungan tahun untuk membangun kembali hidupmu dan nggak apa-apa untuk meluangkan lebih banyak waktu, bahkan sampai kamu siap membuka hatimu kembali.

4. Sangat, sangat menyakitkan

Mungkin perceraian ini adalah hal yang sudah diperkirakan sebelumnya, dan ada banyak hal baik yang dapat terjadi dengan berakhirnya pernikahan ini. Namun, bukan berarti pengalaman bercerai dengan pasangan nggak menyakitkan. Itu sangat, sangat menyakitkan. Jadi jika mengalami rasa penyesalan yang amat sangat menyakitkan, ingat kamu nggak sendirian, Bela.

Orang-orang membicarakan cara move on, namun mereka nggak membicarakan cara mengatasi rasa sakit yang dialami ketika bercerai. Orang-orang mengatakan kalau bercerai adalah jalan keluar terbaik ketika pernikahan nggak menghasilkan kebahagiaan dalam diri, namun nggak ada yang menceritakan kalau melalui jalan itu harus merasakan penyesalan. 

Nggak banyak yang membicarakan perceraian karena itu adalah topik sensitif. Namun kini kamu tahu, dan semoga ini dapat membantumu ketika berpikir untuk berpisah atau sedang menenangkan teman yang mengalami perceraian.

Apa yang Pria Bercerai Ingin Lakukan Jika Bisa "Mengulanginya" Lagi

Apa yang Pria Bercerai Ingin Lakukan Jika Bisa "Mengulanginya" Lagi

Apa yang Pria Bercerai Ingin Lakukan Jika Bisa "Mengulanginya" Lagi. Melihat ke belakang, pria-pria ini menceritakan kembali beberapa kesalahan yang sudah mereka buat dan rasa penyesalan yang mereka miliki. Apa yang para mantan suami ini akan ubah jika mereka dapat 'mengulanginya' (pernikahan) lagi.

Setelah sebuah pernikahan berakhir dan kita memperoleh waktu dan jarak dari hubungan itu, kita perlahan mulai melihat di mana yang salah darinya. Seperti idiom ini, 'pandangan ke belakang adalah 20/20' (Melihat kembali situasi atau peristiwa yang telah terjadi dan memiliki pemahaman yang lebih jelas tentang hal itu dan bagaimana hal itu sebenarnya bisa dilakukan dengan lebih baik.).

Kesalahan dan kekurangan kita sendiri hal-hal yang harusnya kita lakukan atau tidak, kita katakan atau yang tidak muncul dalam gambaran yang jelas, semoga ia mengandung pelajaran penting untuk bisa dibawa dalam kehidupan kita di masa depan. Disini beberapa pria yang telah bercerai diminta untuk berbagi hal-hal yang mereka ingin lakukan secara berbeda disaat mereka masih menikah dulu. Dan inilah beberapa yang mereka katakan:

Saya berharap saya pergi tidur pada waktu yang sama dengan istri saya.'Bahkan sebelum kami mulai tidur di kamar yang berbeda, kami sudah tidak tidur bersama lagi.Saya bukan bermaksud untuk menghindari hubungan dengannya, maksud saya kami hanya tidak memiliki waktu tidur yang sama. Saya suka begadang dan menonton acara tv favorit saya sementara dia suka pergi tidur di waktu yang saya pikir adalah waktu yang masih terlalu sore untuk tidur, saya pikir itu gila.

Kemudian saya menyadari bahwa ada jenis kedekatan khusus yang harus dipupuk dengan cara mengakhiri harimu bersama pasangan. Saling berpelukan, berbagi semua yang terjadi di hari itu dan bercerita tentang impian-impian adalah ikatan yang seharusnya kita semua pelihara.' - Adam Petzold. Saya berharap saya berusaha lebih keras di saat saya masih sempat. 'Penyesalan terbesar saya sejak perceraian saya tiga tahun lalu adalah saya tidak pernah mencoba sedikit lebih berusaha sebelum semuanya sampai pada titik perceraian.

Saya suka berpuas diri, menghindar, dan tidak peduli. Sementara perceraian dulunya terlihat tepat untuk kami, sekarang saya sangat menyesal karena telah membiarkannya semuanya sampai ke titik itu. Ya, kami memang tidak bahagia dalam pernikahan kami, tetapi anak-anak saya dan impian akan sebuah kehidupan keluarga yang 'normal' tidak akan pernah sama lagi, dan mungkin saja saya seharusnya bisa mencegahnya terjadi dulu.' - Derick Turner.

Saya berharap saya dulu berbicara lebih banyak daripada memendam perasaan saya.  'Ada begitu banyak hal yang saya sadari seharusnya bisa saya lakukan dengan lebih baik, tetapi di waktu saya memiliki pilihan untuk itu, saya malah memilih untuk tetap diam tentang ketidaknyamanan yang saya alami. Entah itu tentang sesuatu yang serius, seperti pindah rumah di saat saya belum merasa siap untuk itu, atau sesuatu yang tidak begitu intens, seperti memakan masakannya yang tidak enak meskipun itu membuat saya mual, entah bagaimana rasanya seperti menghianatinya jika saya mengatakan perasaan saya yang sebenarnya.Melihat ke belakang, kalau dipikir-pikir, jika saya mengungkapkan perasaan saya yang sebenarnya itu akan dinilai sebagai sebuah kejujuran dalam pernikahan.

Dan pernikahan itu bukanlah apa-apa tanpa kejujuran. Dengan menunjukkan perasaanmu yang sebenarnya akan menunjukkan jika kamu mencoba untuk transparan, dan memungkinkan bagi pasanganmu untuk mengerti hal yang kamu lakukan untuk semakin memperkuat ikatan pernikahan itu. Sementara, jika hanya berdiam diri tentang perasaanmu, maka kamu secara tidak langsung menunjukkan kurangnya kepercayaanmu terhadap pasanganmu yang akhirnya pelan-pelan akan menghancurkan pernikahan itu.' - Craig Tomashoff.  Saya berharap saya menunggu sedikit lebih lama untuk menikah.

'Saya seharusnya tidak menikah di usia yang terlalu muda. Sederhananya, saat itu saya sendiri tidak tahu siapa saya dan menganggap diri saya selalu 'benar' juga aneh.  Saya menikah di usia yang sangat muda dan saat itu saya masih berusaha untuk menemukan jati diri saya.

Karena saya memilki kenangan masa kecil yang buruk, konstruksi emosional saya sudah berantakan lebih parah dari yang saya sadari. Dalam banyak hal, memasuki usia 20-an, jiwa saya terus berkecamuk seperti perang saudara alih-alih menjadi kompas yang seharusnya menunjukkan jalan hidup saya. Di lingkungan tempat saya dibesarkan saya belajar sejak dini bagaimana berpura-pura kalau semuanya baik-baik saja. Hal itu sama sekali tidak sehat bagi saya secara emosional dan benar-benar tidak adil bagi istri saya yang juga masih terlalu muda pada waktu itu.

Tahun demi tahun berlalu, saya mulai memahami siapa saya dan bagian mana dari diri saya yang tidak akan pernah berubah.  Sejujurnya, kami berdua akhirnya tumbuh menjadi siapa kami ditakdirkan. Dan kebanyakan orang memiliki 'teman' yang jauh lebih baik daripada pasangan mereka sendiri. - Michael Cheshire. Saya berharap saya telah jujur tentang ketakutan dan kesulitan yang saya alami. 

'Saya berharap dulu saya lebih transparan tentang tantangan yang saya hadapi sebagai laki-laki, sebagai ayah dan sebagai suami. Saya menyimpan dan mengubur dalam-dalam pikiran-pikiran negatif dan ketakutan yang saya miliki, yang sebenarnya sama sekali tidak positif bagi kami. Saya menginginkan segalanya yang terbaik untuknya dan bagi kami, tetapi selalu berusaha melindunginya juga bukan hal yang benar.

Dia pikir semuanya baik-baik saja, sementara saya telah mengisolasi diri saya sendiri secara emosional. Hubungan yang benar-benar solid itu bergantung pada komunikasi yang terbuka tanpa menjadi terlalu paranoid akan apa efeknya sebelumnya. Seseorang harus mencintai dan menghormati diri mereka sendiri dan juga pasangan mereka, yang termasuk secara terbuka mengungkapkan segala ketakutan dan tantangan pribadi yang sedang dihadapi.' - Bill Douglas. 

Saya berharap saya lebih mandiri. 'Ketika kami menikah, istri saya (sekarang mantan) menjadi tulang punggung keluarga ketika saya sedang berjuang mencari pekerjaan. Karena itu, saya merasa minder dan selalu menurutinya setiap kami memutuskan sesuatu. Kemudian ketika semuanya mulai berjalan dengan baik, saya mulai stabil, lalu saya berharap bisa memiliki peran lebih setara dengannya dalam keluarga. 

Tapi itu tidak pernah terjadi. Dia tetap dominan. Jika saya melihat lagi, itu memang benar-benar karena kesalahan saya, saya tidak memiliki kekuatan sejak awal untuk menegaskan nilai dan peran saya dalam hubungan kami, terlepas dari kontribusi yang saya berikan secara finansial.  Meskipun saya tidak yakin itu (kontribusi saya secara finansial) bisa mengubah hasil akhirnya, tetapi mungkin saja pernikahan kami akan lebih menyenangkan (setidaknya bagi saya) di saat kami bersama.' - Barry Gold, penulis Gray Divorce Stories. 

Saya berharap saya benar-benar mendengarkannya karena dia hanya ingin didengarkan.  'Perceraian adalah sebuah hal yang sangat menyakitkan bagi saya.  Seharusnya dulu saya lebih jujur tentang bagaimana saya bersikap di hadapan istri saya. Ketika saya melihat ke belakang, ada ribuan kesalahan yang telah saya buat selama lebih dari 16 tahun pernikahan kami.

Sebagian besar merupakan hal kecil. Dan ada beberapa yang besar, tetapi kesalahan yang saya sadari berkontribusi paling besar dalam membuat saya kehilangannya adalah ketidakmampuan saya untuk benar-benar mendengarkannya.  Saya tidak mengerti bahwa kebutuhan terbesar istri saya adalah untuk merasa didengar, diakui dan dipahami. Malah sebaliknya, setiap kali dia marah saya akan bersikap defensif, mencoba untuk memperbaikinya, atau pergi dan menghindarinya, berharap dia akan melupakannya. 

Apa yang tidak saya sadari saat itu adalah betapa harga diri dan ketidakmampuan saya dalam memahami sudut pandangnya membuat kami kehilangan keintiman dan kepercayaan antara satu sama lainnya.  Sekarang saya baru benar-benar percaya bahwa jika saya dulu bisa ada untuknya dan lebih menghormati perasaannya, kami pasti akan berhasil melewati semua pasang surut dalam pernikahan kami. Tetapi karena saya tidak menjadikannya prioritas utama bagi saya, saya akhirnya kehilangan dia selamanya.' - Gerald Rogers. 

Saya seharusnya lebih bertanggung jawab atas bagian saya dalam masalah kami. 'Penyesalan terbesar saya adalah kurangnya kesadaran diri dan kemampuan komunikasi saya yang buruk. Saya selalu bertanya-tanya kenapa saya merasakan apa yang saya rasakan, mengatakan apa yang saya katakan, atau melakukan apa yang saya lakukan.  Saya bertindak di pernikahan kami secara reaktif, dan kamu sebaiknya tidak melakukannya atau kamu akan menghadapi masalah yang sama berulang kali. 

Sampai akhirnya saya belajar bagaimana cara berkomunikasi secara efektif dan sadar bahwa saya menjadi penyebab runtuhnya pernikahan kami. Mungkin saja kalau kami memang ditakdirkan untuk bercerai, tapi mungkin saja kerusakannya tidak akan sebesar ini jika saya menyadari kesalahan saja lebih dulu. Ketika kamu tidak sadar diri dan tidak berkomunikasi dengan baik, semuanya hanya menjadi sebuah perebutan kekuasaan antara siapa yang lebih penting dan siapa yang tidak, dan sebenarnya kamu tidak juga bisa menyelesaikannya dengan baik.' - Billy Flynn. 

Penyesalan Sang Suami Setelah Bercerai

Penyesalan Sang Suami Setelah Bercerai

Nina dan Herman adalah sepasang suami istri yang telah menjalani hubungan pacaran 10 tahun lamanya. Akhirnya mereka menikah dan menjalani bahtera rumah tangga sebagaimana orang lainnya. Di tahun pertama, kedua dan ketiga, kisah cinta ini begitu manis. Apalagi keduanya dikaruniai seorang putra bernama Lilo.

Tahun keempat rumah tangga Nina dan Herman mulai terasa agak berat. Mengasuh anak menjadi hal yang harus mereka pelajari bersama. Namun berbekal dukungan orang tua dan rasa cinta mereka, apapun selalu ada solusinya dan mereka bisa melewati masa sulit tersebut.

Beberapa tahun berlalu hingga Lilo sudah menginjak kelas empat SD. Mengasuh satu anak hingga sebesar ini rupanya membuat Herman ingin memiliki anak lagi. Namun Nina agak menolak, dengan alasan masih ingin mengecek ke dokter perihal kondisinya.

Namun kondisi ini beberapa kali terjadi hingga setengah tahun lamanya. Membuat Herman sedikit berpaling dari Nina. Apalagi di kantor, ada seorang sekretaris baru yang membuat Herman merasa nyaman bernama Jenny. Sedikit demi sedikit Jenny mulai menguasai pikiran dan hidup Herman. Membuatnya jarang pulang tepat waktu dan membuat Nina heran.

"Kok sering pulang telat, Mas?" tanya Nina.

"Lembur.." Herman menjawab pendek sambil mengganti pakaiannya. Ia sebenarnya masih mencintai Nina, namun di sisi lain ia makin dekat dengan Jenny. Ia merasa hubungannya dengan Nina hambar serta membosankan akhir-akhir ini. Kali ini bukan karena Nina menolak punya anak lagi, namun kesibukan Nina dan Herman membuat pria ini merasa jarak mereka makin jauh dan Nina seolah tak melihat hal itu sama sekali.

Kehidupan pernikahan Nina dan Herman makin menjemukan. Nina makin bekerja keras dalam karirnya sehingga fokusnya seringkali hanya pada anak dan karir. Nina memang lebih pendiam setelah Lilo masuk sekolah, tapi Herman pikir mungkin hal ini disebabkan oleh keperluan anak mereka yang makin banyak. Sesekali hubungan Nina dan Herman menegang oleh pertengkaran-pertengkaran kecil. Herman sering pulang malam dan Nina mulai curiga dengan apa yang dilakukan Herman di luar rumah.

"Aku kerja. Aku kan juga nggak pernah protes ketika kamu pulang malam, Nina," kata Herman dengan nada tinggi.

"Kamu berubah, Mas. Kerja juga nggak mungkin pulang malam terus kan?" Nina membalas.

Herman mendengus sebal dan menyahut, "Kamu tanya saja sendiri pada dirimu, kenapa aku jadi nggak betah. Kamu terlalu sibuk dengan karirmu, aku juga bisa kalau begini caranya." Ia sebenarnya sakit mengucapkan hal ini pada Nina. Namun emosinya sudah lama tertahan dan kali ini ia merasa muak pada omelan istrinya.

Jenny juga mulai berani mempengaruhi Herman untuk menceraikan istrinya. Awalnya Herman ragu, namun makin sering ia dan Nina bertengkar di belakang anaknya. Hal ini mulai membuat Herman merasa tidak nyaman. Ia pun mulai menyampaikan keinginannya untuk bercerai. Tentu saja hal ini membuat Nina hancur setengah mati. Ia menolak perceraian itu karena tidak ingin Lilo merasakan keluarga yang retak.

Namun Herman makin menghancurkan hatinya karena menyodorkan surat pengajuan cerai beberapa hari setelah ia menyampaikan keinginannya itu. Semalaman Nina memandangi surat cerai terhampar di meja kerjanya, sementara Herman tidur dengan tidak nyenyak di ranjangnya. Keesokan paginya, Nina menyerahkan surat itu pada Herman dengan mata sembab karena sesekali menangis dan belum tidur semalaman.

"Aku akan menandatanganinya setelah 30 hari. Dalam 30 hari itu, aku ingin Mas selalu menggendong aku dari ranjang ke meja makan untuk sarapan setiap pagi. Juga dari ruang keluarga ke kamar tidur setiap malam," ujar Nina dengan suara setengah serak seperti orang yang semalaman belum tidur.

Herman agak aneh dengan permintaan istrinya, namun ia tetap menyanggupi permintaan itu. Ia pikir istrinya hanya ingin mengulur waktu cerai dan membuat Herman kembali. Mendengar cerita itu, Jenny sedikit menertawai ulah Nina. "Ada-ada saja. Setelah kondisi seperti ini, baru istrimu merajuk untuk bisa kembali."

Begitulah, sesuai janjinya, Herman selalu menggendong Nina setiap pagi dan malam. Ia bisa merasakan Nina lebih bersandar padanya, namun di sisi lain Herman berpikir bahwa Nina mungkin juga sedang menikmati momen-momen akhir bersamanya. Sebentar lagi Herman tetap akan menceraikannya dan membawa Jenny dalam kehidupan barunya.

Pemandangan romantis antara Nina dan Herman membuat Lilo kadang bersorak pada kedua orang tuanya itu. "Wah, papa mama romantis banget," ujarnya girang. Hal ini membuat Herman sedikit berbesar hati., namun ia meneguhkan dirinya agar tak mudah ternakan suasana Sementara Nina hanya tersenyum penuh makna sambil bergelayut di leher suaminya ketika digendong.

Diam-diam, Herman merasa istrinya makin kurus dari hari ke hari. Setiap gendongannya terasa makin ringan. Herman memandangi wajah istrinya sesekali ketika menggendongnya sembari mengecup keningnya. Nina nampak lelah belakangan ini, kantung matanya sering kelihatan membesar dan ia sering menyandarkan kepalanya ke dada Herman. Hal ini membuat Herman mulai ragu dengan keputusannya bercerai, ada kehangatan merasuk di dadanya setiap kali menggendong Nina.

Tanpa terasa, Herman mulai merasakan cinta kembali bersemi pada hubungannya dengan Nina. Ia merasa istrinya makin cantik dari hari ke hari, hingga hari-hari penandatanganan surat ceri itu makin dekat. Saat Herman hendak menggendong Nina di pagi hari ke 31, Nina menahan tangan Herman.

"Kan hari ini sudah lewat. Kamu nggak perlu gendong aku lagi, Mas." Herman tersenyum saja dan membawa Nina ke meja makan. Ia menyajikan sarapan lalu mengecup kening Nina, "Sarapan aja, Nina. Selamat pagi." Begitulah Nina dan Herman menghabiskan sarapan mereka dengan lebih hangat dan mesra. Namun di akhir sesi sarapan, Nina memberikan surat cerai yang sudah ditandatangani dan dibungkus amplop.

"Ini, Mas. Terima kasih selama ini sudah mencintaiku," ujarnya sambil menitikkan air mata. Herman terpana, namun surat itu diterimanya lalu sebelum berangkat ke kantor, Herman memeluk Nina.

Di kantor, Herman mengatakan pada Jenny bahwa ia mengurungkan niatnya bercerai. Tentu saja wanita itu begitu kesal dan menampar herman keras-keras. Herman tahu dengan konsekwensi ini, ia siap menerimanya karena sejauh ini ia dan Jenny belum sampai berhubungan badan. Ia bersyukur masih bisa mengendalikan dirinya selama ini dari berzina.

Sekarang yang ada di benaknya adalah Nina. Ia masih ingat dengan bulir air mata Nina yang hangat jatuh di tangannya tadi pagi. Herman merasakan cinta itu dan tak sabar ingin segera pulang. Ia bahkan menyempatkan diri membeli buket bunga paling indah kesukaan Nina dan bergegas pulang sore itu.

Sesampainya di rumah, Herman memanggil-manggil nama istrinya. Namun ia tak juga mendengar jawaban. Hingga ia melihat Nina di kamarnya, tidur dengan piyama yang masih melekat di tubuhnya tadi pagi. Namun saat Herman mendekatinya, Nina sudah tidak bernyawa lagi. Herman tidak percaya, bagaimana mungkin Nina bisa meninggal? Ia menggoncang-goncang tubuh dan wajah Nina sambil memanggil namanya.

Kepergian Nina menjadi penyesalan yang tak terperi bagi Herman. Rupanya selama ini Nina mengidap penyakit parah yang tak sempat disampaikannya pada Herman. Di kala istrinya itu tengah memikirkan sendirian dan berjuang melawan penyakitnya, Herman malah sibuk dengan rencana perceraian mereka. Nina dimakamkan keesokan harinya, diiringi rasa sedih dan duka dari Herman dan putra mereka, 

Terkutuklah Perempuan Minta Cerai karena Merasa Lebih Pintar dan Mandiri daripada Suami

Terkutuklah Perempuan Minta Cerai karena Merasa Lebih Pintar dan Mandiri daripada Suami

Terkutuklah Perempuan Minta Cerai karena Merasa Lebih Pintar dan Mandiri daripada Suami. Kemandirian jadi semacam dementor bagi para perempuan, apalagi kalau sampai perempuan minta cerai.

“Hanya perempuan terkutuklah yang memilih bercerai karena merasa lebih pintar dan lebih mandiri daripada suami.” Kalimat semacam itu mampir ke telinga saya ketika mengikuti sebuah pengajian. Mungkin, itu jugalah sebab belakangan saya jarang lagi ikut acara sejenis: saya tidak mau dikutuk. Cukuplah Malin Kundang saja yang dikutuk ibunya karena perkara yang menurut saya tidak begitu krusial. Lagi pula, saya sedang berusaha menjauhkan stigma institusi pernikahan sebagai legitimasi kekuasaan dan objektivikasi laki-laki terhadap perempuan dari kepala saya.

“Hanya perempuan terkutuklah yang memilih bercerai karena merasa lebih pintar dan lebih mandiri daripada suami.”

Saya tidak yakin, ketika melontarkan kalimat itu, sang pengkhotbah tahu bahwa salah satu atau salah dua jemaahnya adalah perempuan yang bercerai. Saya juga tidak yakin bahwa sang pengkhotbah tahu bahwa salah satu alasan perempuan minta cerai adalah pemikiran semacam: “Jika saya akhirnya memutuskan dan melakukan segala hal sendiri, untuk apa saya harus diikat oleh pernikahan?”

Tapi perempuan itu mungkin juga lupa, dalam tataran sosial budaya masyarakat yang begitu mengagung-agungkan moral, perceraian menjadi semacam aib. Aib besar, bahkan, apalagi kalau kasusnya adalah perempuan minta cerai. Ditambah lagi, jika alasannya memberi kesan egois. Tapi sayangnya, kutukan-kutukan itu tidak akan berlaku sama dan dilontarkan oleh pengkhotbah jika yang memilih dan menggugat cerai adalah pihak suami (laki-laki).

“Terkutuklah laki-laki yang menceraikan istrinya hanya karena istrinya bisa cari uang sendiri, bisa urus anak, ditambah bisa ngurus mertua!” Percaya saja, kalimat itu tidak akan pernah muncul. Ujungnya, bisa jadi suami semacam mendapat visa sosial dan diberi keleluasaan untuk memilih perempuan lain sebagai istri muda. Lalu, banyak orang akan ambil suara, “Wow keren!!” untuk sang suami. Sementara itu, sang istri hadir sebagai sosok antagonis yang kemudian digunjing secara berjemaah, “Ya wajar saja suaminya minta cerai, istrinya nggak bisa ngurusin suami!”

Saat perempuan A memilih untuk melanjutkan pendidikan ke tingkatan yang lebih tinggi (dari suaminya), masyarakat akan mencibir dengan semana-mena, “Kok dia nggak menghargai suaminya banget, ya?”

 logika macam apa itu, sih, hingga penghargaan terhadap suami ditentukan oleh derajat pendidikan istri??? Apakah perempuan yang tingkat pendidikannya lebih rendah ketimbang suami sudah pasti lebih tahu cara menghargai suami??? Kalau iya, bisa dong jika ada yang menarik simpulan sederhana bahwa kebodohan adalah bentuk penghargaan terhadap laki-laki (suami)???

Tapi, Mbak, perempuan kan kalau sudah pintar suka nyeleneh. Suka ngangkangi suami!

Yaaa, tentu tidak menutup kemungkinan juga hal itu terjadi. Tapi, ketika sampai pada titik ini, mengapa masih perempuan saja yang selalu disalahkan? Lalu, laki-lakinya ke mana? Ngumpet di kamar mandi???

Saat perempuan B ngotot ingin melanjutkan pendidikan dengan konsekuensi membawa semua anak-anak mereka (entah dua, tiga, atau empat) ke kota yang berbeda dengan suami, desas-desus akan muncul. “Kok dia tega ninggalin suami sendirian? Kok anak-anaknya dibawa semua? Kasihan, kan, kalau suaminya kangen sama anak-anaknya?”

apakah ada yang ingat bahwa dia pergi untuk bersekolah (yang ujung-ujungnya bermanfaat secara ekonomi dan sosial bagi rumah tangga mereka) sekaligus mengasuh anak-anaknya? Perempuan itu mungkin saja tidak mempersoalkan betapa sibuk dan kacau-balau dunianya. Justru, yang ada dalam pikirannya, betapa repotnya sang suami jika anak-anak musti ditinggal. Tapi, nggak ngaruh tho semua pertimbangan itu? Tetap, yang dilakukan perempuan itu dianggap tidak sesuai dengan norma!

Lantas, ketika suami ketahuan berselingkuh dengan perempuan lain, tuduhan akan panjang seperti kereta api, semacam: “Iya, kasihan suaminya kesepian ditinggal anak dan istri. Pantas saja dia jadi selingkuh.”

Duh Gusti! Kok bisa-bisanya seseorang punya argumen yang korslet begitu? Kira-kira, jika istrinya yang selingkuh, bakal keluar komentar, “Mungkin dia lelah mengurusi anak dan tugas kuliah. Suaminya juga jarang berkunjung. Barangkali itu sekadar teman untuk berdiskusi dan bercerita,” gitu nggak?

O, ya jelas tidak! Buang jauh-jauh pemakluman semacam itu. Perempuan bukan berada dalam posisi yang bisa mengeluh, bisa mencari sandaran lain ketika sandaran kursi di rumah patah. Alih-alih, yang muncul adalah anggapan perempuan tersebut ganjen.

Perempuan masih saja berada dalam posisi yang mengenaskan ketika berurusan dengan institusi pernikahan. Jangankan perkara poligami, yang memiliki kecenderungan menempatkan perempuan sebagai bahan objektivikasi laki-laki saja masih banyak, kok. Lah wong urusan monogami saja sudah tidak adil sejak dalam pikiran. Sistem sosial budaya kita nyatanya sangat tidak berpihak pada perempuan.

Perempuan tidak pernah memiliki peran tunggal, terutama ketika sudah menikah. Ia harus bisa menjadi istri, menjadi ibu, sekaligus menjadi pekerja dalam satu waktu yang hanya berdurasi 24 jam sehari. Karenanya, perempuan harus bekerja cerdas dan berpikir keras. Perempuan dituntut untuk mandiri: ganti tabung gas, angkat galon, nyetir dan antar anak sekolah, menemani anak belajar, termasuk menangis sendiri ketika merasa lelah dengan semua tuntutan.

Tapi di satu sisi, kemandirian jadi semacam dementor bagi para perempuan. Dementor-dementor tersebut akan menelan mereka dari ‘kepatuhan’ mereka terhadap kehadiran sosok laki-laki (suami). Dan lagi-lagi, semata-mata itu dianggap sebagai kesalahan perempuan—bukan salah laki-laki, bukan salah sistem sosial dan budaya, terutama bukan kesalahan Tuhan. Mirisnya, kondisi ini justru dilanggengkan dan diagungkan oleh perempuan itu sendiri, disadari atau tidak. Salah satunya, ketika berghibah dengan sesama.

Pernikahan itu menyangkut kesepahaman, Saudara-saudara. Pun, termasuk  kesepahaman bagaimana sebuah rumah tangga musti berjalan. Ia bukan hanya perkara siapa yang pendidikannya lebih tinggi, siapa yang penghasilannya lebih besar, siapa yang musti jaga anak ketika yang satu bekerja, siapa yang harus masak, nyuci, atau beres-beres rumah ketika yang satu istirahat.  Jadi, kalimat semacam “Kamu tidak becus menjadi suami!” memiliki peluang yang sama besar dengan “Kamu tidak becus menjadi istri!”.

Istri Minta Cerai Karena Tidak Bahagia, Memangnya Boleh

Istri Minta Cerai Karena Tidak Bahagia, Memangnya Boleh

Istri Minta Cerai Karena Tidak Bahagia, Memangnya Boleh. Perceraian tentu bukan hal yang diinginkan oleh tiap pasangan, baik suami maupun istri. Hal ini karena sebagian dari mereka berpikir “Kalau akhirnya akan bercerai, kenapa harus menikah (dengannya)?”

Namun, lain halnya ketika segala macam upaya sudah dilakukan tetapi tidak ada hasil yang didapatkan. Ketika seorang suami dirasa tidak dapat memberikan kebahagiaan atau setidaknya rasa nyaman terhadap istrinya, maka bolehkah istri minta cerai karena tidak bahagia?

Mengenal Aturan Tentang Perkawinan.  Alasan Perceraian

  1. Upaya perdamaian atau mediasi yang dilakukan oleh suami dan istri gagal, sehingga tidak mencapai suatu titik temu.
  2. Alasan permohonan perceraian sesuai dengan aturan yang berlaku, dalam hal ini salah satunya UUP itu tadi.
  3. Salah satu pihak (antara suami atau istri) berbuat zina, atau melakukan hal yang tidak seharusnya namun sulit untuk disembuhkan (misalnya mabuk dan judi);
  4. Salah satu pihak pergi tanpa izin atau menghilang tanpa alasan selama dua tahun berturut-turut;
  5. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara selama lima tahun atau lebih;
  6. Salah satu pihak melakukan perbuatan pidana, misalnya menganiaya atau perbuatan lain yang dapat membahayakan pihak lainnya;
  7. Salah satu pihak mengalami kekurangan fisik atau penyakit yang membuatnya tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/istri; dan
  8. Terjadinya pertengkaran atau selisih paham terus-menerus, sehingga dirasa kecil harapan untuk dapat rukun kembali.

Sebelum masuk pada bahasan yang lebih jauh lagi, mari kita cari tahu aturan yang berlaku terkait dengan seluk-beluk perkawinan.

Di Indonesia, ada beberapa Peraturan Perundang-undangan yang mengatur tentang perkawinan, salah satunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan atau bisa kita singkat dengan UU 1/1974 atau UUP. Selain itu, ada juga Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1975 (PP 9/1975) sebagai aturan pelaksana dari UUP.

Kita mungkin sudah tahu kalau perceraian itu salah satu penyebab putusnya suatu ikatan perkawinan. Dalam UUP sendiri disebutkan dua alasan lain (selain karena perceraian) yang menjadi pemutus ikatan perkawinan, yaitu karena peristiwa kematian dan Putusan dari Pengadilan.

Tapi tahukah bahwa UUP ternyata juga menyebutkan beberapa alasan suami atau istri dapat mengajukan permohonan untuk cerai?

Menurut UUP, perceraian hanya dapat dilakukan jika:

Dua alasan ini yang membuat suami atau istri tidak bisa langsung begitu saja bilang “Aku mau cerai sama kamu!”

Nah, apa saja sih alasan-alasan yang dimaksud?

Tepatnya dalam Pasal 39 UUP disebutkan bahwa ada enam hal yang dapat menjadi alasan untuk mengajukan permohonan perceraian:

Apabila salah satu alasan di atas dapat terpenuhi, maka suami atau istri boleh mengajukan permohonan perceraian ke pengadilan.


Bolehkah seorang istri minta cerai karena alasan tidak bahagia?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari kita lihat esensi dari pernikahan itu sendiri.

Dalam UUP tertulis jelas,

“Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Artinya, jika seorang laki-laki atau perempuan memutuskan untuk menikah, maka sudah seharusnya ia berharap agar ikatan pernikahan yang dilakukannya tersebut dapat berlangsung lama, langgeng, kekal. Rasanya hampir tidak ada orang yang menikah hanya untuk cerai.

Maka pada dasarnya, perceraian dapat dianggap sebagai opsi terakhir jikalau ikatan rumah-tangga yang dijalin benar-benar tidak lagi dapat diselamatkan.

Mungkin sebagian dari kita pernah mendengar kalimat “Bertahan demi anak”. Kalimat yang menunjukkan bahwa ada keinginan untuk pisah, namun karena ada anak (hasil dari perkawinan tersebut) maka ia memilih untuk mempertahankan rumah tangganya.

Berkaca dari kalimat tersebut, pada dasarnya kebahagiaan dalam suatu keluarga bukan hanya dilihat dari seberapa bahagianya anak. Hal ini dikarenakan, baik suami ataupun istri juga berhak untuk merasakan bahagia. Untuk itulah, ketika dalam pernikahan rasanya sudah tidak lagi mendatangkan rasa bahagia dalam diri salah satu atau kedua belah pihak, maka perceraianlah yang akhirnya menjadi solusi.

Dalam peraturan yang berlaku, apabila seorang istri minta cerai karena tidak bahagia sebenarnya diperbolehkan. Alasan ini berkaitan dengan poin keenam yang menyebutkan bahwa permohonan perceraian diajukan karena adanya pertengkaran atau selisih paham yang berkelanjutan hingga menyebabkan kecilnya harapan untuk dapat akur kembali.

Bagaimana jika permintaan tersebut diajukan saat tidak dalam keadaan bertengkar?

Diakui ataupun tidak, rasa tidak bahagia yang dialami seorang istri dapat menyebabkan dirinya merasa tak lagi nyaman, sekalipun berada di dekat suami bahkan anak. Ketidaknyamanan ini jika dibiarkan terus-menerus dapat menimbulkan cekcok, perselisihan, yang diawali dengan sikap tidak menjalankan dengan baik peran serta kewajibannya sebagai istri.

Namun penting untuk diingat, sekalipun ada seorang istri minta cerai dengan alasan tidak bahagia, ia harus mempertimbangkan secara matang mengenai dampak yang akan terjadi apabila perceraian benar-benar dikabulkan oleh Majelis Hakim. Salah satunya ialah tentang anak.

Istri yang minta cerai dengan alasan tidak bahagia bukan hanya memikirkan bagaimana kehidupan anak ke depannya atau dengan siapa ia akan tinggal. Akan tetapi, ia juga perlu memikirkan dari sisi anak itu sendiri.

Apakah ia rela jika kedua orang tuanya berpisah?

Apakah akan ada luka yang berbekas pada diri anak, yang mana luka ini tentu akan memberikan dampak pada masa depannya. Maka berpisahlah baik-baik, dengan catatan bahwa anak dapat menerimanya.

Sebagai contoh, bisa kita lihat pada perceraian antara Mawar Dhimas Febra Purwanti atau yang dikenal dengan sebutan Mawar AFI dengan suaminya beberapa bulan lalu.

Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa salah satu alasan yang membuat Mawar AFI dengan suaminya bercerai adalah karena ia merasa tidak bahagia, meskipun hingga perceraian diputus oleh hakim ia memiliki tiga orang anak dari perkawinanannya.

Akhirnya, Pengadilan Agama menyetujui permohonan perceraian tersebut. Namun belum genap dua bulan berlalu, tanpa sadar perceraian yang terjadi justru berdampak pada anak-anaknya. Hal ini sebagaimana dikutip dalam laman cnnindonesia(dot)com.

Dengan demikian, perceraian antara Mawar AFI dengan sang suami menjadi salah satu kejadian yang dapat kita ambil pelajaran, yakni ketika seorang istri memang sudah merasa tidak bahagia dalam rumah tangga yang telah dibina, maka boleh baginya untuk mengajukan permohonan cerai. Namun pastikan beberapa hal, di antaranya:

Pertama, sebelumnya telah diskusi sebagai upaya mediasi namun tak kunjung mendapat titik terang.

Kedua, telah memikirkan dampak yang akan terjadi.

Ketiga, apabila ada anak di tengah-tengah keduanya maka pastikan ia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Hal ini sebagai antisipasi akan hal buruk di kemudian hari.

Hukum istri meminta cerai adalah haram jika tanpa alasan syar'i. Sebab, dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja perempuan yang meminta (menuntut) cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan maka diharamkan bau surga atas perempuan tersebut,” (HR. Abu Dawud, Al-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Penyesalan Wanita yang Dulu Ngotot Minta Cerai Gegara Cemburu Lihat Suami Lebih Peduli pada Ibunya

Penyesalan Wanita yang Dulu Ngotot Minta Cerai Gegara Cemburu Lihat Suami Lebih Peduli pada Ibunya

Penyesalan Wanita yang Dulu Ngotot Minta Cerai Gegara Cemburu Lihat Suami Lebih Peduli pada Ibunya. Kisah seorang istri yang meminta cerai gara-gara suaminya disebut lebih perhatian pada ibunya viral di media sosial. Wanita tersebut akhirbya menyesal sudah ngotot minta cerai. Kehidupan dalam pernikahan memang sangat penting untuk menentukan skala prioritas. Apalagi bagi seorang anak laki-laki, beberapa di antaranya masih beranggapan jika mengabdi pada ibu adalah sebuah kewajiban.

Tetapi sikap itu tak selamanya berbuah manis. Belakangan viral di media sosial kisah seorang istri merasa cemburu lantaran sang suami dianggap lebih peduli pada sang ibu yang telah uzur ketimbang pada pasangannya. Beruntung kisah ini tidak terjadi di Indonesia. Melainkan di Kuala Lumpur, Malaysia. Seorang istri menggugat cerai suaminya lantaran terlalu peduli pada ibunya. Pihak istri gugat cerai karena cemburu suami merawat ibu dan anggap mertua sebagai pengganggu rumah tangga.

Seorang pengacara berasal dari Kuala Lumpur, Nur Fatihah Azzahra membagikan momen ketika ia menghadiri pengadilan yang melibatkan suami dan ibu dengan istrinya. Pengalaman yang melibatkan keluarga yang memilih cerai, karena istri merasa cemburu dan menganggap ibu mertua sebagai pengganggu rumah tangga, telah dibagikan lebih dari seribu kali.

Pengacara ini menerangkan, dalam tempo setahun, seorang istri merasa sakit hati dan diabaikan suami, karena mengurus ibunya yang uzur. Padahal, ia tinggal serumah dengan ibu dan suaminya, namun karena seusai pulang bekerja, suaminya selalu mengurus ibu, ia merasa diabaikan. Ada satu di mahkamah, seorang istri minta cerai karena suaminya menjaga ibu yang sudah uzur.

Suami sebenarnya sudah menyediakan pembantu di rumah, agar istri tidak merasa terbebani dalam mengurus ibu sewaktu-waktu jika pergi bekerja. Selesai bekerja, suaminya yang mengurus ibu yang uzur tersebut dan dibantu oleh anak sulung mereka, yang berusia 20 tahunan, hal ini diakui oleh istrinya sendiri. Yang menganggu istrinya adalah ia menganggap suami lebih peduli pada ibunya daripada istri.

Ia kemudian terbakar rasa cemburu, sakit hati dan merasa terabaikan sampai menganggap ibu mertuanya sebagai pengganggu rumah tangga.

Si suami anak tunggal.  Pada saat sesi memberikan keterangan, di depan hakim pengadilan si istri menuntut suami. Ia bertanya 'tidakkah ingin memberikan ibu pada keluarga lain, atau minta pada panti jompo untuk merawat ibu, nanti setiap hari minggu kita kunjungi bersama. Si ibu hanya mampu memggerakkan tangan pada kursi rodanya, kalau tidak ada yang melihat, ibu hanya terbaring sepanjang waktu di tempat tidur.

Istrinya sudah hampir setahun menuntut cerai, pada masa itu pula sudah sangat banyak perundingan dilakukan, berbagai nasehat sampai pada melakukan konseling. Cuma kali ini, si istri nekad mendaftarkan berkas perceraian karena alasan cemburu. Suami akhirnya setuju dan menceraikan istrinya dengan talak 1. Tentang istrinya yang minta bercerai, bagaimana akhirnya ? Itu yang ia luapkan pada anak sulungnya. Apalagi anak-anaknya memilih tinggal bersama ayahnya dan juga menjaga nenek mereka. Beberapa warganet juga mengatakan turut sedih dengan kejadian berlaku demikian.

Menyebut seorang ibu yang sudah uzur mestinya mendapatkan perlakuan sangat baik dari anaknya, termasuk menantu.  Beberapa komentar warganet dari Malaysia. "Kepada Lelaki Muslim diluar sana ... Fahami ler ... Sekaya mana sekali pun ... Syurga tetap diatas restu IBU. IBU satu satunya insan yang melahirkan dan mendidik kita hingga berjaya tiada alang gantinya. Isteri pula adalah pilihan kita dan kita masih sentiasa boleh memilih atau menambah yang lain!!!," Suhaimi Nawir. 

"Setiap wanita bergelar Ibu layak dilayan baik dan dijaga sebaik mungkin. "Namum tidak semua ibu melayan anak mahupun menantu seadilnya. "Tapi wajar anak melayannya dengan baik. "Sebab gaji keperihatinan kepada wanita bergelar ibu dibayar gaji oleh Allah bukan manusia," Has Lynda. 

Rujuk Setelah Gugat Cerai, Apa yang Harus Dilakukan

Rujuk Setelah Gugat Cerai, Apa yang Harus Dilakukan

Keinginan bercerai biasanya muncul pada  pasangan suami istri yang kerap menghadapi konflik rumah tangga.  Merasa tidak tahan dengan beban yang dihadapi, hingga keinginan bercerai pun diungkapkan. Tidak sedikit yang kemudian berpikir ulang dan memutuskan rujuk. Akan tetapi, setelah rujuk pun tidak menutup kemungkinan akan berakhir dengan perceraian.

Psikolog Anna Surti Ariani mengatakan, ketika hubungan yang sudah rujuk ternyata tidak bisa dipertahankan, biasanya karena masalah-masalah penyebab konflik tidak terungkap dan terselesaikan. Rujuk hanya sekadar kembali bersama, tapi tidak bergerak maju. Maka diperlukan bantuan pihak ketiga, misalnya konselor pernikahan.

"Kalau dalam konseling-konseling perkawinan, sih biasanya psikolog akan membantu pasangan untuk menemukan tujuan bersama. Akan dibantu juga untuk menemukan masalah-masalah yang sesungguhnya, bukan hanya yang dirasakan sebagai masalah, dan dibantu untuk menyelesaikannya juga," kata Anna Surti Ariani.

Barulah setelah itu dibantu untuk menemukan hal-hal yang menjadi potential problem. Ini diperlukan agar tidak sampai terulang kembali konflik rumah tangga di masa mendatang yang tidak terselesaikan. Minimal, pasangan sudah lebih siap dengan segala kemungkinan tantangan yang akan dihadapi. Namun Anna Surti Ariani mengingatkan, proses ini tidak bisa dilakukan sekali jalan.

"Perlu cukup banyak pertemuan, tergantung sejauh mana pasangan ini bisa bekerja sama satu sama lain dan dengan psikolognya juga," ujar Anna Surti Ariani. "Bisa jadi sangat panjang, bisa juga cepat. Karena ada pasangan yang setelah melakukan konseling, mereka lekas menyadari penyebab pertengkaran aslinya. Lalu setelah diajari trik-trik bertengkar yang efektif, bisa jadi cepat menemukan solusi," pungkasnya.