This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 25 Agustus 2022

Perceraian Orangtua Berdampak Lebih Buruk kepada Anak Laki-Laki

Perceraian Orangtua Berdampak Lebih Buruk kepada Anak Laki-Laki. Anak laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki dampak buruk dari perceraian orangtuanya.Beberapa ahli percaya bahwa perceraian dan kehidupan di rumah orangtua tunggal, secara permanen dapat merusak anak. Sementara yang lain mengklaim bahwa anak-anak dengan orangtua yang bercerai atau berpisah tidak menderita efek jangka panjang yang negatif.  Tetapi hal tersebut sama-sama memberikan dampak buruk bagi anak. Namun, benarkah anak laki-laki merasakan dampak yang lebih nyata dibandingkan anak perempuan  ketika orang tua tidak lagi hidup bersama, kehidupan anak laki-laki menjadi lebih rumit, tetapi itu tidak berarti dia tidak bisa bahagia.Banyak orang percaya bahwa anak-anak dari orang tua yang bercerai tidak akan pernah memiliki pernikahan dan hubungan yang sehat. Tetapi itu belum tentu benar.   Penelitian baru menunjukkan konflik dalam pernikahan sebagai faktor pendorong di balik tingkat perceraian yang lebih tinggi.  Dengan kata lain, seorang anak yang orangtuanya bertengkar tetapi tidak bercerai lebih mungkin bercerai daripada anak-anak dalam keluarga berkonflik rendah atau dalam keluarga berkonflik tinggi yang berakhir dengan perceraian.  Risiko yang dialami oleh anak laki-laki saat orangtuanya bercerai atau berpisah, yakni:  Anak laki-laki lebih mungkin menderita depresi, ketika satu orangtua meninggalkan rumah, terutama ketika anak laki-laki tidak dapat menghabiskan waktu bersama mereka secara konsisten.  Anak laki-laki lebih cenderung bereaksi terhadap perceraian orang tua dengan kemarahan, masalah akademik, pembolosan atau perilaku agresif daripada anak perempuan, yang mungkin mencoba untuk menyenangkan orang dewasa dengan menekan perasaan   Anak laki-laki dapat disalahkan atas perpisahan sebuah keluarga.  Sehingga saat orangtua berpisah, kenapa anak laki-laki lebih merasakan dampaknya? alasannya karena anak laki-laki sering menutupi emosi mereka agar tampak jantan, dan mungkin ingin melindungi orangtua mereka.  Serta mungkin menolak untuk berbicara tentang rasa sakit mereka sendiri, kesedihan dan kekhawatiran, atau mereka dapat bertindak keluar dari perasaan mereka dengan bertingkah buruk, karena orang bijak pernah berkata bahwa keluarga adalah lingkaran orang yang saling mencintai.

Perceraian Orangtua Berdampak Lebih Buruk kepada Anak Laki-Laki. Anak laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki dampak buruk dari perceraian orangtuanya.Beberapa ahli percaya bahwa perceraian dan kehidupan di rumah orangtua tunggal, secara permanen dapat merusak anak. Sementara yang lain mengklaim bahwa anak-anak dengan orangtua yang bercerai atau berpisah tidak menderita efek jangka panjang yang negatif.

Tetapi hal tersebut sama-sama memberikan dampak buruk bagi anak. Namun, benarkah anak laki-laki merasakan dampak yang lebih nyata dibandingkan anak perempuan

ketika orang tua tidak lagi hidup bersama, kehidupan anak laki-laki menjadi lebih rumit, tetapi itu tidak berarti dia tidak bisa bahagia.Banyak orang percaya bahwa anak-anak dari orang tua yang bercerai tidak akan pernah memiliki pernikahan dan hubungan yang sehat. Tetapi itu belum tentu benar. 

Penelitian baru menunjukkan konflik dalam pernikahan sebagai faktor pendorong di balik tingkat perceraian yang lebih tinggi.

Dengan kata lain, seorang anak yang orangtuanya bertengkar tetapi tidak bercerai lebih mungkin bercerai daripada anak-anak dalam keluarga berkonflik rendah atau dalam keluarga berkonflik tinggi yang berakhir dengan perceraian.

Risiko yang dialami oleh anak laki-laki saat orangtuanya bercerai atau berpisah, yakni:

Anak laki-laki lebih mungkin menderita depresi, ketika satu orangtua meninggalkan rumah, terutama ketika anak laki-laki tidak dapat menghabiskan waktu bersama mereka secara konsisten.

Anak laki-laki lebih cenderung bereaksi terhadap perceraian orang tua dengan kemarahan, masalah akademik, pembolosan atau perilaku agresif daripada anak perempuan, yang mungkin mencoba untuk menyenangkan orang dewasa dengan menekan perasaan

 Anak laki-laki dapat disalahkan atas perpisahan sebuah keluarga.

Sehingga saat orangtua berpisah, kenapa anak laki-laki lebih merasakan dampaknya? alasannya karena anak laki-laki sering menutupi emosi mereka agar tampak jantan, dan mungkin ingin melindungi orangtua mereka.

Serta mungkin menolak untuk berbicara tentang rasa sakit mereka sendiri, kesedihan dan kekhawatiran, atau mereka dapat bertindak keluar dari perasaan mereka dengan bertingkah buruk, karena orang bijak pernah berkata bahwa keluarga adalah lingkaran orang yang saling mencintai.

Dampak Jangka Panjang Perceraian Bagi Anak

Dampak Jangka Panjang Perceraian Bagi Anak

Dampak Jangka Panjang Perceraian Bagi Anak. Tak ada yang mengharapkan perceraian terjadi dalam hubungan rumah tangga. Namun, jika memang perceraikan jadi jalan satu-satunya bagi pasangan, sulit untuk pihak lain melarang. Walau demikian, pastinya perceraian ini memiliki dampak bagi keluarga, terutama anak. Menurut psikolog Alzena Masykouri, orang tua tidak sepenuhnya bersalah ketika perceraian terjadi. Sebab tidak semua orang bisa berkompromi dengan ketidakcocokan pasangan. Akan tetapi, rasa bersalah terhadap anak pasti dirasakan orang tua yang bercerai.

Di dalam perceraian, yang berakhir adalah hubungan suami istri, bukan hubungan orang tua dan anak. Misalnya dalam satu kasus, perceraian terjadi karena adanya kekerasan di dalam rumah tangga, dan kekerasan ini berlangsung setiap hari. Secara otomatis, dengan bercerai maka kekerasan akan berhenti," kata Zena

Menurut American Psychological Association, dibesarkan oleh orang tua dengan pernikahan yang bahagia, dapat melindungi anak-anak dari masalah mental, fisik, pendidikan, dan sosial. Walau demikian, bukan berarti anak dari orang tua bercerai akan tumbuh ke arah negatif. Berikut empat dampak jangka panjang perceraian orang tua bagi anak, dilansir livestrong.com.

1. Mengalami cemas yang berlebih dan depresi

Jika orang tua tidak memberikan kesejahteraan pada anak, terlebih selama dan setelah proses perceraian, kesehatan mental dan emosional jangka panjang anak mungkin akan terganggu, bahkan bisa mengakibatkan perasaan cemas berlebih dan depresi. Ketika orang tua berdebat di depan anak mereka, melampiaskan rasa sakit, atau kemarahan mereka terhadap pasangannya kepada anak, anak mungkin akan menyalahkan dirinya sendiri atas perceraian tersebut. Bahkan, dia merasa di bawah tekanan untuk mengambil keputusan siapa yang sebenarnya bersalah di antara kedua orang tuanya.

Tanda-tanda umum kecemasan atau depresi pada anak, di antaranya masalah tidur, kesulitan di sekolah, penyalahgunaan narkoba atau alkohol, menyakiti diri sendiri, gangguan makan, dan kurangnya minat dalam kegiatan sosial.

2. Sulit menjalani hubungan yang sehat

Seorang anak dari orang tua yang bercerai akan berjuang untuk menemukan atau mempertahankan hubungannya yang sehat ketika dewasa nanti. Namun, perasaan seperti ketakutan akan ditinggalkan, kegagalan, dan kehilangan dapat memengaruhi hubungan romantis anak dewasa dan mengakibatkan keengganan untuk berkomitmen, atau ketidakmampuan untuk mengatasi masalah. Menurut psikolog Jan Gumbiner, perceraian menyakiti anak-anak, bahkan orang dewasa. Dan berdasarkan penelitian National Opinion Research Council selama 20 tahun terhadap anak yang beranjak dewasa dari orang tua yang bercerai, cenderung lebih mudah melakukan perceraian juga ketika membina hubungan rumah tangga.

3. Memberi contoh positif

Tidak semua efek perceraian jangka panjang pada anak itu negatif, Bun. Mengakhiri pernikahan yang tidak bahagia dapat memberi anak sikap yang lebih positif terhadap pernikahan. Mempertahankan pernikahan yang kurang dilandasi cinta, rasa hormat, dan kebahagiaan hanya membuat anak merasa bahwa pernikahan adalah sesuatu yang harus dihindari atau tidak dapat dipercaya. Perceraian dapat mengajari seorang anak akan arti pernikahan seharusnya dan apa yang layak dalam hubungan saat dewasa.

4. Menumbuhkan hubungan yang sehat antara orang tua dan anak

Dalam beberapa kasus, perceraian adalah pilihan terbaik untuk seorang anak. Orang tua yang sudah tanpa cinta, tinggal bersama hanya demi seorang anak sangat berisiko.

Menurut pelatih persoalan cerai dan rumah tangga, Rosalind Sedacca, perceraian orang tua mungkin lebih diinginkan anak daripada dia dibesarkan di rumah yang tidak bahagia. Tinggal bersama dengan orang tua yang sering marah dan terlihat sengsara, yang selalu bertengkar dan tidak saling menghormati hanya akan membuatnya stres.

"Seorang anak lebih mungkin memiliki hubungan yang bahagia dan sehat dengan kedua orang tuanya, jika dia melihat orang tuanya bahagia, puas, dan tanpa tekanan dari pernikahan yang tidak bahagia," kata Rosalind. 

Referensi : Dampak Jangka Panjang Perceraian Bagi Anak



Dampak Perceraian Terhadap Anak Perempuan

Dampak Perceraian Terhadap Anak Perempuan.  nak perempuan cenderung mengalami hal negatif setelah perceraian orangtuanya, seperti depresi, marah dan gangguan psikologis. Untungnya, gejala ini biasanya akan berkurang perlahan. Anak perempuan yang diasuh oleh ibu dan memiliki hubungan baik, bisa membantu meredakan stress pada anak lebih cepat ketimbang anak tinggal bersama ayahnya.  Hubungan antara ibu dan anak perempuan cenderung bertahan terhadap dampak perceraian. Sebagian anak perempuan, terutama yang kehilangan support dari orangtuanya, cenderung mengalami penurun akademis dan enggan untuk berusaha maksimal. Dampak perceraian bisa mengubah perkembangan fisik pada remaja putri. Contoh, banyak anak perempuan dari orangtua yang bercerai dan menikah lagi, mengalami perubahan (perkembangan) fisik lebih awal. Banyak anak perempuan merasa ‘dipaksa’ untuk bersikap dewasa lebih awal. Penyebabnya, karena orangtua sedang mengalami efek perceraian dan juga membutuhkan pengertian serta dukungan anak. Banyak ibu yang merasa anak perempuannya sebagai teman atau tempat berkeluh kesah. Hal ini membuat anak berusaha bersikap seperti orang dewasa. Sayangnya, hal ini seringkali tidak disadari oleh orangtua, dan bisa membuat anak kesulitan. Anak perempuan yang ditinggal ayahnya sejak usia dini, cenderung hamil pada usia yang lebih muda. Anak perempuan dari orangtua yang berpisah bisa mengalami kurangnya tingkat kepercayaan dan kepuasan terhadap pasangannya.  Dampak Perceraian Terhadap Anak Laki-Laki Proses perceraian meningkatkan risiko bagi anak laki-laki untuk berkelakuan buruk, misalnya bertengkar atau agresi.  Perceraian meningkatkan risiko anak laki-laki terlibat perilaku nakal. Efek ini semakin meningkat jika banyak konflik pada pernikahan orangtuanya sebelum perceraian terjadi. Percerian secara signifikan memengaruhi psikologis anak laki-laki. Banyak anak yang merasa kehilangan harga dirinya. Anak laki-laki cenderung lebih menerima kehadiran ayah tirinya atau bisa menjadi amat dekat, ketimbang dengan anak perempuan. Anak laki-laki dari orangtua yang berpisah, cenderung melakukan seks dini, bahkan sebagian di antara mereka menderita penyakit seks menular. Tentu saja, setiap keluarga dan setiap anak berbeda, ya. Masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan, perbedaan kepribadian, temperamen, berbeda status sosial, sumber daya ekonomi serta keadaan keluarga sebelum terjadinya perceraian.   Namun, terlepas dari beberapa perbedaan di atas, perceraian nyatanya mampu mengurangi kompetensi masa depan anak di berbagai aspek kehidupan, termasuk di antaranya hubungan berkeluarga, pendidikan, kesejahteraan emosional serta kekuatan keuangan di masa depan.   Intinya, pada sebagian anak, perceraian meningkatkan risiko anak mengalami dampak negatif, bahkan ada yang bertahan hingga anak tumbuh dewasa, tapi bagi sebagian anak lainnya, perceraian tidak memengaruhi kehidupan dan diri mereka.  Kapan Dampak Perceraian Terhadap Anak Mulai Terlihat  Lalu, pada umur berapa, perceraian paling memiliki dampak pada anak? Menurut seorang psikolog anak, Dr. Scott Carrol, jika perceraian  terjadi ketika anak masih bayi sampai dengan usia anak dua tahun, maka dampak yang dialaminya bisa dikatakan kecil.   Potensi anak mengalami trauma, menjadi besar, ketika anak berada di sekitar usia sebelas tahun. Pada usia ini, anak telah memahami hubungan antara kedua orangtuanya dan anak sudah merasa memiliki hubungan yang mendalam terhadap kedua orangtuanya, serta merasakan bahwa mereka adalah sebuah kesatuan.  Di sisi lain, pada anak di usia ini, belum bisa mandiri dengan baik dan egosentris, sehingga dampak perceraian dan runtuhnya keluarga, ‘menyerap’ pada ingatan anak. konflik yang terjadi lebih berat bagi anak dibandingkan dengan perceraian itu sendiri.   Konflik akan semakin merusak jika terjadi di hadapan anak, jika orangtua menjadikan anak sebagai sarana komunikasi atau orangtua saling menjatuhkan satu sama lain.  Salah satu dampak paling berat bagi anak adalah ketika perceraian terjadi, orangtua berhenti ‘terlibat’. Maksudnya, orangtua seakan-akan melepas tanggung jawabnya, komunikasi yang memburuk dan jarang mengunjungi (bertemu) anak. Hal ini bisa membuat anak merasa kehilangan sebagian dirinya.  Nah, bagi sebagian pasangan, perceraian mungkin tidak dapat dihindari. Hubungan suami dan istri boleh berakhir, namun tidak dengan anak. Anak selayaknya tetap mendapatkan kasih sayang seperti biasanya. Kurangi dampak perceraian pada anak dengan beberapa cara berikut:  Sebisa mungkin tidak bertengkar atau membicarakan urusan orangtua di hadapan anak. Termasuk di antaranya, jangan menjelek-jelekkan mantan pasangan Anda di depan mereka. Tetap terlibat dalam keseharian anak. Misalnya, mengunjungi anak di akhir pekan, menelepon untuk sekadar bertanya tentang kegiatannya di sekolah, hadir di acara ulang tahunnya, dst. Pastikan anak memahami, bahwa perceraian Ibu bukanlah salahnya dan Ibu akan tetap mencintai mereka. Biarkan anak mengekspresikan perasaannya pada Ibu. Memberikan penjelasan pada anak, dengan bahasa yang sesuai dengan usianya, atau mudah dipahami anak. Ingat, sebaiknya tidak menumpahkan segala keluh kesah kepada anak. Anak tidak seharusnya menanggung beban emosional dari Ibu. Bantu agar hubungan anak dengan ayahnya tetap baik dan dekat. Semoga informasi di atas bisa memberi manfaat bagi Ibu, Ayah dan anak tercinta.  Referensi : Dampak Perceraian Terhadap Anak Perempuan

Dampak Perceraian Terhadap Anak Perempuan. 
  1. nak perempuan cenderung mengalami hal negatif setelah perceraian orangtuanya, seperti depresi, marah dan gangguan psikologis. Untungnya, gejala ini biasanya akan berkurang perlahan.
  2. Anak perempuan yang diasuh oleh ibu dan memiliki hubungan baik, bisa membantu meredakan stress pada anak lebih cepat ketimbang anak tinggal bersama ayahnya. 
  3. Hubungan antara ibu dan anak perempuan cenderung bertahan terhadap dampak perceraian.
  4. Sebagian anak perempuan, terutama yang kehilangan support dari orangtuanya, cenderung mengalami penurun akademis dan enggan untuk berusaha maksimal.
  5. Dampak perceraian bisa mengubah perkembangan fisik pada remaja putri. Contoh, banyak anak perempuan dari orangtua yang bercerai dan menikah lagi, mengalami perubahan (perkembangan) fisik lebih awal.
  6. Banyak anak perempuan merasa ‘dipaksa’ untuk bersikap dewasa lebih awal. Penyebabnya, karena orangtua sedang mengalami efek perceraian dan juga membutuhkan pengertian serta dukungan anak. Banyak ibu yang merasa anak perempuannya sebagai teman atau tempat berkeluh kesah. Hal ini membuat anak berusaha bersikap seperti orang dewasa. Sayangnya, hal ini seringkali tidak disadari oleh orangtua, dan bisa membuat anak kesulitan.
  7. Anak perempuan yang ditinggal ayahnya sejak usia dini, cenderung hamil pada usia yang lebih muda.
  8. Anak perempuan dari orangtua yang berpisah bisa mengalami kurangnya tingkat kepercayaan dan kepuasan terhadap pasangannya. 

Dampak Perceraian Terhadap Anak Laki-Laki

  1. Proses perceraian meningkatkan risiko bagi anak laki-laki untuk berkelakuan buruk, misalnya bertengkar atau agresi. 
  2. Perceraian meningkatkan risiko anak laki-laki terlibat perilaku nakal. Efek ini semakin meningkat jika banyak konflik pada pernikahan orangtuanya sebelum perceraian terjadi.
  3. Percerian secara signifikan memengaruhi psikologis anak laki-laki. Banyak anak yang merasa kehilangan harga dirinya.
  4. Anak laki-laki cenderung lebih menerima kehadiran ayah tirinya atau bisa menjadi amat dekat, ketimbang dengan anak perempuan.
  5. Anak laki-laki dari orangtua yang berpisah, cenderung melakukan seks dini, bahkan sebagian di antara mereka menderita penyakit seks menular.

Tentu saja, setiap keluarga dan setiap anak berbeda, ya. Masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan, perbedaan kepribadian, temperamen, berbeda status sosial, sumber daya ekonomi serta keadaan keluarga sebelum terjadinya perceraian. 

Namun, terlepas dari beberapa perbedaan di atas, perceraian nyatanya mampu mengurangi kompetensi masa depan anak di berbagai aspek kehidupan, termasuk di antaranya hubungan berkeluarga, pendidikan, kesejahteraan emosional serta kekuatan keuangan di masa depan. 

Intinya, pada sebagian anak, perceraian meningkatkan risiko anak mengalami dampak negatif, bahkan ada yang bertahan hingga anak tumbuh dewasa, tapi bagi sebagian anak lainnya, perceraian tidak memengaruhi kehidupan dan diri mereka.

Kapan Dampak Perceraian Terhadap Anak Mulai Terlihat

Lalu, pada umur berapa, perceraian paling memiliki dampak pada anak? Menurut seorang psikolog anak, Dr. Scott Carrol, jika perceraian  terjadi ketika anak masih bayi sampai dengan usia anak dua tahun, maka dampak yang dialaminya bisa dikatakan kecil. 

Potensi anak mengalami trauma, menjadi besar, ketika anak berada di sekitar usia sebelas tahun. Pada usia ini, anak telah memahami hubungan antara kedua orangtuanya dan anak sudah merasa memiliki hubungan yang mendalam terhadap kedua orangtuanya, serta merasakan bahwa mereka adalah sebuah kesatuan.

Di sisi lain, pada anak di usia ini, belum bisa mandiri dengan baik dan egosentris, sehingga dampak perceraian dan runtuhnya keluarga, ‘menyerap’ pada ingatan anak. konflik yang terjadi lebih berat bagi anak dibandingkan dengan perceraian itu sendiri. 

Konflik akan semakin merusak jika terjadi di hadapan anak, jika orangtua menjadikan anak sebagai sarana komunikasi atau orangtua saling menjatuhkan satu sama lain.

Salah satu dampak paling berat bagi anak adalah ketika perceraian terjadi, orangtua berhenti ‘terlibat’. Maksudnya, orangtua seakan-akan melepas tanggung jawabnya, komunikasi yang memburuk dan jarang mengunjungi (bertemu) anak. Hal ini bisa membuat anak merasa kehilangan sebagian dirinya.

Nah, bagi sebagian pasangan, perceraian mungkin tidak dapat dihindari. Hubungan suami dan istri boleh berakhir, namun tidak dengan anak. Anak selayaknya tetap mendapatkan kasih sayang seperti biasanya. Kurangi dampak perceraian pada anak dengan beberapa cara berikut:

  • Sebisa mungkin tidak bertengkar atau membicarakan urusan orangtua di hadapan anak. Termasuk di antaranya, jangan menjelek-jelekkan mantan pasangan Anda di depan mereka.
  • Tetap terlibat dalam keseharian anak. Misalnya, mengunjungi anak di akhir pekan, menelepon untuk sekadar bertanya tentang kegiatannya di sekolah, hadir di acara ulang tahunnya, dst.
  • Pastikan anak memahami, bahwa perceraian Ibu bukanlah salahnya dan Ibu akan tetap mencintai mereka.
  • Biarkan anak mengekspresikan perasaannya pada Ibu.
  • Memberikan penjelasan pada anak, dengan bahasa yang sesuai dengan usianya, atau mudah dipahami anak.
  • Ingat, sebaiknya tidak menumpahkan segala keluh kesah kepada anak. Anak tidak seharusnya menanggung beban emosional dari Ibu.
  • Bantu agar hubungan anak dengan ayahnya tetap baik dan dekat.

Semoga informasi di atas bisa memberi manfaat bagi Ibu, Ayah dan anak tercinta.

Referensi : Dampak Perceraian Terhadap Anak Perempuan



Beda Dampak Perceraian Terhadap Anak Laki-Laki dan Perempuan

Beda Dampak Perceraian Terhadap Anak Laki-Laki dan Perempuan.  erceraian adalah langkah terakhir yang Ibu dan Ayah pilih untuk menyelesaikan masalah di dalam rumah tangga? Yuk, pikirkan kembali hal ini, mungkin Ibu bisa mendapatkan solusi yang jauh lebih baik daripada berpisah.    Penyebab Umum Perceraian Ada beberapa hal yang disebut-sebut sebagai penyebab dari perceraian, misalnya, kurangnya komitmen, terlalu sering beradu pendapat, ketidaksetiaan (perselingkuhan), harapan yang tidak realistis dan.hubungan yang tidak berkualitas.   Penyebab lainnya yaitu mengalami kekerasan, pasangan kecanduan pada suatu hal negatif (misalnya narkoba, alkohol, berjudi, dst), kurangnya persiapan dan ketidakcocokan atau perbedaan pandangan.  Selain penyebab di atas, menurut informasi yang kami kutip dari yourdivorcequestions.org, juga ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko perceraian. Beberapa di antaranya seperti menikah pada usia yang amat muda, tingkat pendidikan rendah, tingkat pendapatan rendah sehingga memicu stress dan pertengkaran, kohabitasi pranikah (tinggal serumah tanpa ikatan perkawinan), hamil (dan melahirkan) sebelum menikah, kurangnya kesadaran mengenai agama serta perceraian orangtua.  Sedangkan di Indonesia sendiri, pertengkaran dan perselisihan terus menerus menjadi pemicu perceraian teratas. Penyebab tertinggi lainnya adalah masalah keuangan, ditinggalkan oleh pasangan dan kekerasan dalam rumah tangga.  Tidak selamanya negatif, bagi seseorang yang berpisah, juga mungkin menerima hal positif setelahnya, misalnya berhenti mengalami kekerasan dalam rumah tangga, bebas dari perselingkuhan atau pertengkaran terus-menerus.   Begitu pula dengan anak, setelah orangtuanya bercerai, anak juga mungkin mendapat hikmahnya, yaitu anak menjadi lebih mandiri dan memiliki kemampuan bertahan hidup lebih tinggi (karena terbiasa berjuang untuk mendapatkan sesuatu).   Anak yang seringkali terkena imbas dari pertengkaran keluarganya juga akan terlepas dari masalah, serta, anak lega melihat orangtuanya tidak lagi terlibat dalam masalah.  Dampak Emosional Perceraian Terhadap Anak Terhadap anak usia dini Anak kesulitan memahami hal yang sedang terjadi, misalnya, mengapa mereka harus berpindah-pindah antara dua rumah. Lainnya, anak mungkin berpikir, jika orangtua mereka bisa berhenti mencintai satu sama lain, maka ada kemungkinan suatu hari nanti, orangtua mereka juga bisa berhenti mencintai mereka. Pada anak usia sekolah Anak bisa berpikir bahwa mereka adalah penyebab perceraian kedua orangtuanya.  Pada remaja Anak bisa merasa marah akibat perceraian dan dampak yang dihasilkannya. Anak mungkin menyalahkan salah satu orangtuanya sebagai pembuat masalah dan pemicu perceraian.  etika perceraian terjadi, artinya anak akan terpisah dengan salah satu orangtuanya, umumnya dengan ayah, karena rata-rata hak asuh anak jatuh pada ibu, terutama jika anak masih kecil.   Tidak jarang, anak yang diasuh oleh ibu (sebagai orangtua tunggal) pun merasa tertekan dan stress. Sebuah studi pada tahun 2013 menyimpulkan, sebagian ibu menjadi kurang mengasihi dan tidak suportif setelah mengalami perceraian.  Perpisahan orangtua bukanlah hal yang paling sulit bagi sebagian anak, namun ada dampak lain yang bisa memicu stress pada anak, misalnya, anak harus pindah sekolah dan pindah rumah, artinya, anak juga akan kehilangan teman-teman mereka. Anak juga mungkin turut mengalami masalah keuangan.   Contoh, kebutuhan sehari-hari anak menjadi tidak terpenuhi, atau terpaksa pindah ke linkungan yang lebih ‘rendah’ dikarenakan harus menyesuaikan hidup dengan kondisi finansial orangtua.  Anak-anak yang tumbuh dengan orangtua tunggal berisiko mengalami gangguan kejiwaan serius, melakukan percobaan bunuh diri dan kecanduan terhadap narkoba. Salah satu dampak dari perceraian pada anak ialah berkurangnya prestasi secara akademis. Anak-anak korban perceraian cenderung dilecehkan atau diabaikan secara fisik. Anak-anak yang hidup dengan orangtua tunggal cenderung kurang sehat secara fisik. Anak korban perceraian cenderung lebih mengabaikan ajaran agamanya, termasuk di antaranya melakukan seks diluar pernikahan, atau hidup bersama tanpa ikatan pernikahan. Anak yang diasuh oleh keluarga kandung, biasanya lebih relijius dibandingkan anak yang hidup dengan keluarga tirinya. Anak cenderung tidak memandang pernikahan sebagai suatu hal yang sifatnya tetap (permanen) dan tidak menganggapnya sebagai komitmen seumur hidup. Melakukan kegiatan seks diluar pernikahan atau hidup bersama tanpa pernikahan juga merupakan salah satu wujud perubahan pandangan anak terhadap perilaku seksual. Anak mungkin turut menjadikan perceraian sebagai jalan keluar dari permasalahannya ketika ia menikah nanti. Anak kehilangan rutinitas harian keluarga, termasuk pula tradisi.  Anak cenderung memiliki konsep diri (cara pandang terhadap diri sendiri) dan hubungan sosial yang lebih rendah. Anak mungkin kehilangan support system-nya. Support system adalah sekumpulan orang yang berada di sekitar kita, misalnya keluarga atau teman, yang senantiasa memberikan beragam dukungan di setiap waktu kita membutuhkan. Ayah tunggal dinilai kurang peduli terhadap anak remajanya. Hubungan anak dengan kakek-neneknya melemah. Hubungan antara anak dan salah satu orangtuanya bisa melemah, dan hal ini akan berdampak pada hal lainnya.  Anak mungkin kehilangan kemapanan atau merasa khawatir akan ekonominya. Anak yang tinggal dengan ibu tunggal cenderung lebih sulit perekonomiannya. Hubungan antara anak dan orangtua yang merawatnya pun bisa melemah. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya, orangtua memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan keadaan dan peran barunya, atau orangtua diharuskan bekerja ekstra untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dikatakan, ibu tunggal cenderung kurang bisa men-support anak secara emosional.

Beda Dampak Perceraian Terhadap Anak Laki-Laki dan Perempuan.  erceraian adalah langkah terakhir yang Ibu dan Ayah pilih untuk menyelesaikan masalah di dalam rumah tangga? Yuk, pikirkan kembali hal ini, mungkin Ibu bisa mendapatkan solusi yang jauh lebih baik daripada berpisah.  

Penyebab Umum Perceraian

Ada beberapa hal yang disebut-sebut sebagai penyebab dari perceraian, misalnya, kurangnya komitmen, terlalu sering beradu pendapat, ketidaksetiaan (perselingkuhan), harapan yang tidak realistis dan.hubungan yang tidak berkualitas. 

Penyebab lainnya yaitu mengalami kekerasan, pasangan kecanduan pada suatu hal negatif (misalnya narkoba, alkohol, berjudi, dst), kurangnya persiapan dan ketidakcocokan atau perbedaan pandangan.

Selain penyebab di atas, menurut informasi yang kami kutip dari yourdivorcequestions.org, juga ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko perceraian. Beberapa di antaranya seperti menikah pada usia yang amat muda, tingkat pendidikan rendah, tingkat pendapatan rendah sehingga memicu stress dan pertengkaran, kohabitasi pranikah (tinggal serumah tanpa ikatan perkawinan), hamil (dan melahirkan) sebelum menikah, kurangnya kesadaran mengenai agama serta perceraian orangtua.

Sedangkan di Indonesia sendiri, pertengkaran dan perselisihan terus menerus menjadi pemicu perceraian teratas. Penyebab tertinggi lainnya adalah masalah keuangan, ditinggalkan oleh pasangan dan kekerasan dalam rumah tangga.

Tidak selamanya negatif, bagi seseorang yang berpisah, juga mungkin menerima hal positif setelahnya, misalnya berhenti mengalami kekerasan dalam rumah tangga, bebas dari perselingkuhan atau pertengkaran terus-menerus. 

Begitu pula dengan anak, setelah orangtuanya bercerai, anak juga mungkin mendapat hikmahnya, yaitu anak menjadi lebih mandiri dan memiliki kemampuan bertahan hidup lebih tinggi (karena terbiasa berjuang untuk mendapatkan sesuatu).

 Anak yang seringkali terkena imbas dari pertengkaran keluarganya juga akan terlepas dari masalah, serta, anak lega melihat orangtuanya tidak lagi terlibat dalam masalah.

Dampak Emosional Perceraian Terhadap Anak
  • Terhadap anak usia dini
    Anak kesulitan memahami hal yang sedang terjadi, misalnya, mengapa mereka harus berpindah-pindah antara dua rumah. Lainnya, anak mungkin berpikir, jika orangtua mereka bisa berhenti mencintai satu sama lain, maka ada kemungkinan suatu hari nanti, orangtua mereka juga bisa berhenti mencintai mereka.
  • Pada anak usia sekolah
    Anak bisa berpikir bahwa mereka adalah penyebab perceraian kedua orangtuanya. 
  • Pada remaja
    Anak bisa merasa marah akibat perceraian dan dampak yang dihasilkannya. Anak mungkin menyalahkan salah satu orangtuanya sebagai pembuat masalah dan pemicu perceraian. 

etika perceraian terjadi, artinya anak akan terpisah dengan salah satu orangtuanya, umumnya dengan ayah, karena rata-rata hak asuh anak jatuh pada ibu, terutama jika anak masih kecil. 

Tidak jarang, anak yang diasuh oleh ibu (sebagai orangtua tunggal) pun merasa tertekan dan stress. Sebuah studi pada tahun 2013 menyimpulkan, sebagian ibu menjadi kurang mengasihi dan tidak suportif setelah mengalami perceraian.

Perpisahan orangtua bukanlah hal yang paling sulit bagi sebagian anak, namun ada dampak lain yang bisa memicu stress pada anak, misalnya, anak harus pindah sekolah dan pindah rumah, artinya, anak juga akan kehilangan teman-teman mereka. Anak juga mungkin turut mengalami masalah keuangan. 

Contoh, kebutuhan sehari-hari anak menjadi tidak terpenuhi, atau terpaksa pindah ke linkungan yang lebih ‘rendah’ dikarenakan harus menyesuaikan hidup dengan kondisi finansial orangtua.

  1. Anak-anak yang tumbuh dengan orangtua tunggal berisiko mengalami gangguan kejiwaan serius, melakukan percobaan bunuh diri dan kecanduan terhadap narkoba.
  2. Salah satu dampak dari perceraian pada anak ialah berkurangnya prestasi secara akademis.
  3. Anak-anak korban perceraian cenderung dilecehkan atau diabaikan secara fisik.
  4. Anak-anak yang hidup dengan orangtua tunggal cenderung kurang sehat secara fisik.
  5. Anak korban perceraian cenderung lebih mengabaikan ajaran agamanya, termasuk di antaranya melakukan seks diluar pernikahan, atau hidup bersama tanpa ikatan pernikahan.
  6. Anak yang diasuh oleh keluarga kandung, biasanya lebih relijius dibandingkan anak yang hidup dengan keluarga tirinya.
  7. Anak cenderung tidak memandang pernikahan sebagai suatu hal yang sifatnya tetap (permanen) dan tidak menganggapnya sebagai komitmen seumur hidup.
  8. Melakukan kegiatan seks diluar pernikahan atau hidup bersama tanpa pernikahan juga merupakan salah satu wujud perubahan pandangan anak terhadap perilaku seksual.
  9. Anak mungkin turut menjadikan perceraian sebagai jalan keluar dari permasalahannya ketika ia menikah nanti.
  10. Anak kehilangan rutinitas harian keluarga, termasuk pula tradisi. 
  11. Anak cenderung memiliki konsep diri (cara pandang terhadap diri sendiri) dan hubungan sosial yang lebih rendah.
  12. Anak mungkin kehilangan support system-nya. Support system adalah sekumpulan orang yang berada di sekitar kita, misalnya keluarga atau teman, yang senantiasa memberikan beragam dukungan di setiap waktu kita membutuhkan.
  13. Ayah tunggal dinilai kurang peduli terhadap anak remajanya.
  14. Hubungan anak dengan kakek-neneknya melemah.
  15. Hubungan antara anak dan salah satu orangtuanya bisa melemah, dan hal ini akan berdampak pada hal lainnya. 
  16. Anak mungkin kehilangan kemapanan atau merasa khawatir akan ekonominya. Anak yang tinggal dengan ibu tunggal cenderung lebih sulit perekonomiannya.
  17. Hubungan antara anak dan orangtua yang merawatnya pun bisa melemah. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya, orangtua memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan keadaan dan peran barunya, atau orangtua diharuskan bekerja ekstra untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
  18. Dikatakan, ibu tunggal cenderung kurang bisa men-support anak secara emosional.
  19. Dampak pada anak-anak usia dini, bisa bikin anak menjadi tidak mandiri, cengeng, agresif dan menantang pada masa-masa awal perceraian.

Cara Tepat dalam Mengasuh Anak Laki-Laki & Perempuan Setelah Perceraian

Cara Tepat dalam Mengasuh Anak Laki-Laki & Perempuan Setelah Perceraian. Penting untuk diingat bahwa anak-anak selalu membutuhkan orangtua mereka. Menyesuaikan diri dengan gaya hidup baru akan sulit bagi anak laki-laki dan perempuan.  Meskipun mereka mungkin terpengaruh secara berbeda, dukungan berkelanjutan selama masa transisi akan memastikan bahwa anak laki-laki dan perempuan tidak menderita efek emosional, psikologis, dan fisiologis.  Seperti rendah diri, depresi, marah, takut ditinggalkan, atau takut digantikan oleh saudara kandung atau saudara tiri jika salah satu orangtuanya menikah lagi atau memulai keluarga lain.  Mempertahankan rutinitas sehari-hari juga memberikan stabilitas, untuk menunjukkan pada anak bahwa perceraian tidak akan berdampak apapun pada keseharian anak.  Selain itu, semua konflik setelah harus dijauhkan dari anak, yang dapat menjadi sulit selama masa yang bergejolak.  Jika konflik tak dapat dihindari, cobalah untuk menunggu sampai anak tidur atau berada di luar jangkauan pendengaran. Aturan praktis yang baik adalah melakukan percakapan yang sulit di telepon atau di luar rumah.  Itulah beberapa dampak perceraian yang berbeda diantara anak laki-laki dan anak perempuan. Namun, ketahuilah bahwa ini hanya beberapa kemungkinan dampak perceraian pada anak-anak, itu sama sekali tidak mutlak, atau tertulis di atas batu.  Tetap waspadai perubahan yang terjadi pada anak, baik secara fisik ataupun secara psikologis, pertahankan komunikasi terbuka, dan bersiaplah untuk mencari dukungan profesional jika diperlukan. Dengan bantuan orangtua, anak akan melewati ini.

Cara Tepat dalam Mengasuh Anak Laki-Laki & Perempuan Setelah Perceraian. Penting untuk diingat bahwa anak-anak selalu membutuhkan orangtua mereka. Menyesuaikan diri dengan gaya hidup baru akan sulit bagi anak laki-laki dan perempuan.

Meskipun mereka mungkin terpengaruh secara berbeda, dukungan berkelanjutan selama masa transisi akan memastikan bahwa anak laki-laki dan perempuan tidak menderita efek emosional, psikologis, dan fisiologis.

Seperti rendah diri, depresi, marah, takut ditinggalkan, atau takut digantikan oleh saudara kandung atau saudara tiri jika salah satu orangtuanya menikah lagi atau memulai keluarga lain.

Mempertahankan rutinitas sehari-hari juga memberikan stabilitas, untuk menunjukkan pada anak bahwa perceraian tidak akan berdampak apapun pada keseharian anak.

Selain itu, semua konflik setelah harus dijauhkan dari anak, yang dapat menjadi sulit selama masa yang bergejolak.

Jika konflik tak dapat dihindari, cobalah untuk menunggu sampai anak tidur atau berada di luar jangkauan pendengaran. Aturan praktis yang baik adalah melakukan percakapan yang sulit di telepon atau di luar rumah.

Itulah beberapa dampak perceraian yang berbeda diantara anak laki-laki dan anak perempuan. Namun, ketahuilah bahwa ini hanya beberapa kemungkinan dampak perceraian pada anak-anak, itu sama sekali tidak mutlak, atau tertulis di atas batu.

Tetap waspadai perubahan yang terjadi pada anak, baik secara fisik ataupun secara psikologis, pertahankan komunikasi terbuka, dan bersiaplah untuk mencari dukungan profesional jika diperlukan. Dengan bantuan orangtua, anak akan melewati ini.

erbedaan Dampak Perceraian pada Anak Laki-Laki dan Perempuan

Perceraian berdampak bagi siapa pun yang terlibat, termasuk pada anak-anak. Ketika dua orang memutuskan untuk bercerai, mungkin ada perasaan sulit dan kata-kata menyakitkan yang dibagikan. Dampak ini bisa terjadi secara signifikan jika tidak ditangani dengan benar.  Perceraian dapat memengaruhi anak-anak dengan cara yang berbeda tergantung pada beberapa faktor, seperti usia anak, keadaan perceraian, dan jenis kelamin anak.  Penelitian telah menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara dampak perceraian pada anak laki-laki dan anak perempuan.  Agar bisa ditangani dengan segera, penting bagi orangtua untuk mengetahui apa saja dampak perceraian pada anak perempuan dan anak laki-laki.   Dampak Perceraian Pada Anak Perempuan Menurut sebuah penelitian tahun 2004 yang terdapat dalam jurnal National Library of Medicine,  anak perempuan yang menghadapi perceraian, berisiko menekan perasaannya saat bersenang-senang bersama orangtua mereka dan orang dewasa lain yang mungkin berinteraksi dengannya.  Selain itu, ada beberapa efek lainnya yang perlu diketaui:  1. Motivasi untuk berhasil di bidang akademik yang menurun Dalam sebuah penelitian berjudul “Reconsidering the “Good Divorce”” di tahun 2011, Dr. Paul R. Amato, seorang ahli di bidang keluarga dan perceraian mengklaim bahwa hubungan Mama-anak cenderung bertahan dari tekanan perceraian.  Sayangnya, penelitian ini menunjukkan bahwa perceraian dapat berdampak negatif terhadap sikap anak-anak perempuan terhadap sekolah dan pendidikan.  10 persen anak perempuan yang telah mengalami perceraian, melaporkan bahwa mereka memiliki keinginan yang lebih rendah untuk berhasil di sekolah.  2. Pubertas yang lebih cepat  Salah satu temuan menarik adalah bahwa dampak perceraian orangtua dapat memiliki efek fisiologis pada anak perempuan.  Remaja perempuan antara usia 10-14 tahun dalam keluarga yang bercerai atau menikah lagi menunjukkan awal menstruasi dan pematangan fisik. Namun, banyak dari anak yang tidak siap untuk perubahan emosional yang terkait dengan pubertas.    3. Ingin lebih cepat dewasa  Selain itu, anak perempuan dalam keluarga yang bercerai mungkin merasa seolah-olah harus menjadi dewasa lebih cepat, terutama ketika orangtua yang bercerai menunjukkan kerentanan dan membutuhkan dukungan.  Seringkali seorang Mama akan berpaling ke anak perempuannya untuk mendapatkan kenyamanan, menggambarkannya sebagai seorang teman atau saudara perempuan dan menceritakan kepadanya tentang segala sesuatu, termasuk depresi, kesepian, dan tekanan lainnya.  Hal ini memberi tekanan pada anak perempuan ketika orangtua membebani perjuangannya, karena anak belum memiliki kedewasaan untuk menanggapi masalah orang dewasa dan ia mungkin merasa tidak siap untuk memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh orangtua yang bercerai.  Dampak Perceraian Pada Anak Laki-Laki  Masih dilansir dari penelitian sebelumnya di tahun 2004 yang berjudul “Divorce and Child Behavior Problems: Applying Latent Change Score Models to Life Event Data”, perceraian orangtua di usia muda meningkatkan agresi pada anak laki-laki, yang dapat menyebabkan pertengkaran dan perilaku nakal lainnya.  Risiko perilaku nakal meningkat ketika pernikahan dirusak oleh konflik sebelum perceraian. Selain itu, ada beberapa efek lainnya yang perlu diketaui:  1. Anak laki-laki terpengaruh secara psikologis Sementara efek perceraian memiliki dampak fisiologis pada anak perempuan, perceraian cenderung berdampak pada anak laki-laki secara psikologis.  Dilansir dari New York Times, ketika orangtua bercerai, kesejahteraan psikologis dan harga diri anak laki-laki menurun. Sedangkan pada anak laki-laki usia prasekolah, dapat menjadi lebih bergantung pada orangtua dan menantang untuk tahun pertama setelah perceraian.  2. Perkembangan anak laki-laki bisa tertunda tanpa kontak Papa  Anak laki-laki cenderung kehilangan kontak reguler dengan Papa-nya beberapa tahun setelah perceraian, yang dapat berdampak buruk pada anak laki-laki. Kehilangan Papa dapat mempersulit atau menunda penyesuaian dan perkembangannya.  Walaupun umumnya Mama cenderung mendapatkan hak asuh anak setelah perceraian, namun peran seorang Papa dengan anak laki-lakinya harus tetap terlibat selama menyesuaikan diri dengan kehidupan setelah perceraian.  3. Mampu menyesuaikan diri dengan pasangan baru dari Mama orangtua yang bercerai mengungkapkan kekhawatiran apakah berkencan atau menikah kembali dapat berdampak negatif terhadap perkembangan anak-anak atau sikapnya terhadap anggota keluarga.  Dalam beberapa kasus, hubungan baru, Mama tiri baru, atau Papa tiri dapat menambah stres pada anak-anak saat mereka belajar menyesuaikan diri dengan orang dewasa lain yang mengambil alih peran orangtuanya sendiri.  Namun, sebuah penelitian yang dilansir dari Moms, menunjukkan bahwa anak laki-laki terkadang menganggap Papa tiri baru sebagai sekutu atau teman, dan lebih menerima perubahan daripada anak perempuan, terutama ketika Mama memiliki hak asuh dan anak tidak melihat Papanya secara teratur.  Orangtua dapat membantu anak-anak menghadapi perceraian jika memahami bagaimana cara mengasuh anak-anaknya setelah terpengaruh oleh perceraian.

Perceraian berdampak bagi siapa pun yang terlibat, termasuk pada anak-anak. Ketika dua orang memutuskan untuk bercerai, mungkin ada perasaan sulit dan kata-kata menyakitkan yang dibagikan. Dampak ini bisa terjadi secara signifikan jika tidak ditangani dengan benar.

Perceraian dapat memengaruhi anak-anak dengan cara yang berbeda tergantung pada beberapa faktor, seperti usia anak, keadaan perceraian, dan jenis kelamin anak.

Penelitian telah menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara dampak perceraian pada anak laki-laki dan anak perempuan.

Agar bisa ditangani dengan segera, penting bagi orangtua untuk mengetahui apa saja dampak perceraian pada anak perempuan dan anak laki-laki. 

Dampak Perceraian Pada Anak Perempuan

Menurut sebuah penelitian tahun 2004 yang terdapat dalam jurnal National Library of Medicine,  anak perempuan yang menghadapi perceraian, berisiko menekan perasaannya saat bersenang-senang bersama orangtua mereka dan orang dewasa lain yang mungkin berinteraksi dengannya.

Selain itu, ada beberapa efek lainnya yang perlu diketaui:

1. Motivasi untuk berhasil di bidang akademik yang menurun

Dalam sebuah penelitian berjudul “Reconsidering the “Good Divorce”” di tahun 2011, Dr. Paul R. Amato, seorang ahli di bidang keluarga dan perceraian mengklaim bahwa hubungan Mama-anak cenderung bertahan dari tekanan perceraian.

Sayangnya, penelitian ini menunjukkan bahwa perceraian dapat berdampak negatif terhadap sikap anak-anak perempuan terhadap sekolah dan pendidikan.

10 persen anak perempuan yang telah mengalami perceraian, melaporkan bahwa mereka memiliki keinginan yang lebih rendah untuk berhasil di sekolah.

2. Pubertas yang lebih cepat

Salah satu temuan menarik adalah bahwa dampak perceraian orangtua dapat memiliki efek fisiologis pada anak perempuan.

Remaja perempuan antara usia 10-14 tahun dalam keluarga yang bercerai atau menikah lagi menunjukkan awal menstruasi dan pematangan fisik. Namun, banyak dari anak yang tidak siap untuk perubahan emosional yang terkait dengan pubertas.


3. Ingin lebih cepat dewasa

Selain itu, anak perempuan dalam keluarga yang bercerai mungkin merasa seolah-olah harus menjadi dewasa lebih cepat, terutama ketika orangtua yang bercerai menunjukkan kerentanan dan membutuhkan dukungan.

Seringkali seorang Mama akan berpaling ke anak perempuannya untuk mendapatkan kenyamanan, menggambarkannya sebagai seorang teman atau saudara perempuan dan menceritakan kepadanya tentang segala sesuatu, termasuk depresi, kesepian, dan tekanan lainnya.

Hal ini memberi tekanan pada anak perempuan ketika orangtua membebani perjuangannya, karena anak belum memiliki kedewasaan untuk menanggapi masalah orang dewasa dan ia mungkin merasa tidak siap untuk memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh orangtua yang bercerai.

Dampak Perceraian Pada Anak Laki-Laki

Masih dilansir dari penelitian sebelumnya di tahun 2004 yang berjudul “Divorce and Child Behavior Problems: Applying Latent Change Score Models to Life Event Data”, perceraian orangtua di usia muda meningkatkan agresi pada anak laki-laki, yang dapat menyebabkan pertengkaran dan perilaku nakal lainnya.

Risiko perilaku nakal meningkat ketika pernikahan dirusak oleh konflik sebelum perceraian. Selain itu, ada beberapa efek lainnya yang perlu diketaui:

1. Anak laki-laki terpengaruh secara psikologis

Sementara efek perceraian memiliki dampak fisiologis pada anak perempuan, perceraian cenderung berdampak pada anak laki-laki secara psikologis.

Dilansir dari New York Times, ketika orangtua bercerai, kesejahteraan psikologis dan harga diri anak laki-laki menurun. Sedangkan pada anak laki-laki usia prasekolah, dapat menjadi lebih bergantung pada orangtua dan menantang untuk tahun pertama setelah perceraian.

2. Perkembangan anak laki-laki bisa tertunda tanpa kontak Papa

Anak laki-laki cenderung kehilangan kontak reguler dengan Papa-nya beberapa tahun setelah perceraian, yang dapat berdampak buruk pada anak laki-laki. Kehilangan Papa dapat mempersulit atau menunda penyesuaian dan perkembangannya.

Walaupun umumnya Mama cenderung mendapatkan hak asuh anak setelah perceraian, namun peran seorang Papa dengan anak laki-lakinya harus tetap terlibat selama menyesuaikan diri dengan kehidupan setelah perceraian.

3. Mampu menyesuaikan diri dengan pasangan baru dari Mama

orangtua yang bercerai mengungkapkan kekhawatiran apakah berkencan atau menikah kembali dapat berdampak negatif terhadap perkembangan anak-anak atau sikapnya terhadap anggota keluarga.

Dalam beberapa kasus, hubungan baru, Mama tiri baru, atau Papa tiri dapat menambah stres pada anak-anak saat mereka belajar menyesuaikan diri dengan orang dewasa lain yang mengambil alih peran orangtuanya sendiri.

Namun, sebuah penelitian yang dilansir dari Moms, menunjukkan bahwa anak laki-laki terkadang menganggap Papa tiri baru sebagai sekutu atau teman, dan lebih menerima perubahan daripada anak perempuan, terutama ketika Mama memiliki hak asuh dan anak tidak melihat Papanya secara teratur.

Orangtua dapat membantu anak-anak menghadapi perceraian jika memahami bagaimana cara mengasuh anak-anaknya setelah terpengaruh oleh perceraian.


Anak Laki Paling Tidak Siap Menghadapi Perceraian Orangtua

Anak Laki Paling Tidak Siap Menghadapi Perceraian Orangtua

Anak Laki Paling Tidak Siap Menghadapi Perceraian Orangtua. Perceraian yang dilakukan oleh orangtua pasti akan berdampak pada anak-anaknya. Tapi studi terbaru menunjukkan efek perceraian akan lebih mempengaruhi anak laki-laki dibanding perempuan.


Anak laki-laki yang belum berumur 18 tahun biasanya lebih terpukul menghadapi perceraian orangtua dan lebih besar berpikir untuk melakukan hal-hal negatif.

Studi yang dilaporkan dalam jurnal Psychiatric Research mencatat anak laki-laki yang kurang 18 tahun berpikiran ingin bunuh diri 3 kali lipat ketika orangtuanya bercerai. Sedangkan perempuan hanya 2 kali lipat yang berpikiran seperti itu.

Selama ini diketahui bahwa perceraian kemungkinan memiliki dampak yang lebih besar pada anak perempuan dibanding laki-laki karena perempuan cenderung lebih rentan terhadap pikiran depresi dan bunuh diri. Namun hasil studi justru menunjukkan hal sebaliknya.

Dr Esme Fuller-Thompson dari University of Toronto menuturkan dalam kebanyakan kasus perceraian, seorang ibu memperoleh hak asuh terhadap anak-anaknya dan kurang melakukan kontak teratur dengan ayahnya. Kondisi ini akan mempengaruhi emosional dan juga perkembangan anak terutama bagi anak laki-laki.

"Hilangnya peran laki-laki untuk anak akan mempengaruhi kesejahteraannya. Figur ayah yang positif sangat penting bagi anak laki-laki dalam hal mengembangkan identitas gender, belajar cara mengatur emosi dan meningkatkan kesehatan mentalnya," ungkapnya,

Dr Fuller-Thompson menambahkan umumnya anak laki-laki lebih banyak bungkam dan menyimpan sendiri kesedihannya, sedangkan anak perempuan lebih mungkin untuk mengungkapkannya.

Selain itu laki-laki cenderung enggan untuk meminta bantuan sehingga ia lebih rentan terhadap penyalahgunaan narkoba atau pikiran bunuh diri.

"Laki-laki selalu disosialisasikan untuk menjadi kuat dan bukan untuk menunjukkan kelemahan atau perasaannya, karenanya ia lebih banyak diam," ujar Dana Alonzo, asisten profesor dari Columbia University School of Social Work.

Efek dari perceraian yang dilakukan oleh orangtua bisa berpengaruh terhadap anak-anak, seperti menimbulkan stres, kesehatan fisik dan mental yang memburuk, kesulitan di sekolah dan berpengaruh pada penurunan potensi penghasilannya saat dewasa. Selain itu anak-anak dari perceraian cenderung memiliki tingkat kepercayaan yang rendah terhadap pernikahan.