This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 25 Agustus 2022

Mengapa Perceraian Perkara yang Dibenci Allah SWT

Perceraian mengakibatkan dampak yang luar biasa menurut Islam. Interaksi dalam status suami-istri dilaksanakan dengan menciptakan suasana damai sebagaimana diidamkan banyak orang dalam membentuk rumah tangga yang sakinah dengan hiasan mawaddah wa rahmah. Tidak boleh ada pihak suami atau istri yang menyengaja untuk merusak rumah tangga.  Sebaliknya, bila akhirnya mereka harus bercerai atau talak, maka suasana permusuhan harus dijauhi. Untuk mewujudkan suasana damai setelah talak, al-Quran menyatakan dalam surat At Thalaq ayat 6:   أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ  “Tempatkanlah  mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.”  Setelah terjadinya talak hubungan antara suami istri harus tetap terjalin baik, pada masa idah  maupun  setelah  masa  idah.  Para  suami dilarang untuk menyuruh istrinya pergi dari rumah ketika masih dalam masa idah.  Meski perceraian itu dibolehkan dalam syariat Islam, akan tetapi perceraian itu sangat dibenci Allah ﷻ dan rasul-Nya. Sebab perceraian bukan saja memutus hubungan pernikahan suami istri melainkan berisiko besar menyebabkan konflik dan renggangnya hubungan antardua keluarga yakni dari pihak suami dan pihak perempuan.   Bahkan perceraian berdampak besar bagi anak-anak. Sebab mereka tidak akan bisa lagi mendapati kehangatan keluarga yang utuh dalam satu atap.   وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : أَبْغَضُ الْحَلَالِ اِلَى اللَّهِ عَزَّوَجَلَّ الطَّلَاقُ  Rasulullah ﷺ bersabda: “Perkara halal yang sangat dibenci ﷻ ialah talak (cerai).” (Kasyful Ghummah, halaman. 78, jilid 2)  Maka ketika lelaki dan perempuan menikah berkomitmenlah untuk menyelesaikan setiap persoalan yang terjadi tanpa berujung talaq (pihak suami yang mencerai istri) atau pun khulu' (pihak istri yang meminta gugat cerai pada suami).   وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  تَزَوَّ جُوْاوَلَا تُطَلِّقُوْافَاِنَّ الطَّلَاقَ يَهْتَزُّمِنْهُ الْعَرْشُ  Rasulullah ﷺ bersabda: “Kawinlah kalian dan janganlah kalian bercerai, karena sesungguhnya perceraian itu menggetarkan Arasy.” (Kasyful Ghummah, halaman. 79, jilid 2).

Perceraian mengakibatkan dampak yang luar biasa menurut Islam. Interaksi dalam status suami-istri dilaksanakan dengan menciptakan suasana damai sebagaimana diidamkan banyak orang dalam membentuk rumah tangga yang sakinah dengan hiasan mawaddah wa rahmah. Tidak boleh ada pihak suami atau istri yang menyengaja untuk merusak rumah tangga.

Sebaliknya, bila akhirnya mereka harus bercerai atau talak, maka suasana permusuhan harus dijauhi. Untuk mewujudkan suasana damai setelah talak, al-Quran menyatakan dalam surat At Thalaq ayat 6: 

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ

“Tempatkanlah  mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.”

Setelah terjadinya talak hubungan antara suami istri harus tetap terjalin baik, pada masa idah  maupun  setelah  masa  idah.  Para  suami dilarang untuk menyuruh istrinya pergi dari rumah ketika masih dalam masa idah.

Meski perceraian itu dibolehkan dalam syariat Islam, akan tetapi perceraian itu sangat dibenci Allah ﷻ dan rasul-Nya. Sebab perceraian bukan saja memutus hubungan pernikahan suami istri melainkan berisiko besar menyebabkan konflik dan renggangnya hubungan antardua keluarga yakni dari pihak suami dan pihak perempuan. 

Bahkan perceraian berdampak besar bagi anak-anak. Sebab mereka tidak akan bisa lagi mendapati kehangatan keluarga yang utuh dalam satu atap. 

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : أَبْغَضُ الْحَلَالِ اِلَى اللَّهِ عَزَّوَجَلَّ الطَّلَاقُ

Rasulullah ﷺ bersabda: “Perkara halal yang sangat dibenci ﷻ ialah talak (cerai).” (Kasyful Ghummah, halaman. 78, jilid 2)

Maka ketika lelaki dan perempuan menikah berkomitmenlah untuk menyelesaikan setiap persoalan yang terjadi tanpa berujung talaq (pihak suami yang mencerai istri) atau pun khulu' (pihak istri yang meminta gugat cerai pada suami). 

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  تَزَوَّ جُوْاوَلَا تُطَلِّقُوْافَاِنَّ الطَّلَاقَ يَهْتَزُّمِنْهُ الْعَرْشُ

Rasulullah ﷺ bersabda: “Kawinlah kalian dan janganlah kalian bercerai, karena sesungguhnya perceraian itu menggetarkan Arasy.” (Kasyful Ghummah, halaman. 79, jilid 2). 

Dampak Perceraian Orang Tua Terhadap Kondisi Mental Anak Dalam Pandangan Islam

Mengetahui dampak perceraian orang tua terhadap kondisi mental anak dalam pandangan islam. Setiap terjadinya perceraian orang tua sudah jelas berdampak negatif terhadap pendidikan dan perkembangan jiwa anak, karena anak masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian penuh dari kedua orang tua. Seorang anak ketika lahir tidak membawa potensi agama, tetapi dia akan menjadi religious karena proses belajar dari lingkungan. Dengan dasar kemampuan meniru (modeling) terhadap apa yang di dengar dan dilihat yang berkaitan dengan agama, maka anak akan menjadi religius.  Penelitian ini menggunakan pendekatakan deskriptif kualitatif, dengan teknik analisis deskriptif pula, yaitu berupa pemaparan dan penggambaran secara menyeluruh tentang keadaan yang sebenar-benarnya mengenai data yang terkait, baik tertulis maupun lisan dari objek penelitian yang ada di lembaga tersebut. dalam pengumpulan data, penulis menggunakan beberapa metode, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa: dampak perceraian orang tua terhadap kondisi mental anak di desa rejosari menunjukkan dampak yang buruk dan cepat atau lambat anak mengalami perubahan pola pikir. Selain itu dengan kejadian perceraian orang tuanya ini otomatis mental anak akan terganggu dan akan berpengaruh pada kehidupannya di masa depan.  faktor terjadinya perceraian, dampak perceraian terhadap anak, dan menganalisis hukum Islam dan UU Perlindungan Anak tentang dampak perceraian orang tua terhadap psikologi anak. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor apa saja penyebab terjadinya perceraian, dampak yang ditimbulkan khususnya pada anak, serta bagaimana analisis hukum Islam maupun UU Perlindungan Anak dalam menangani dampak pada anak agar tidak berdampak negatif pasca orangtuanya bercerai, sehingga nantinya peneliti mampu mensosialisasikan, baik melalui karya tulis ini maupun secara langsung kepada masyarakat.  Metode penelitian yang diguanakan adalah penelitian kepustakaan (library research). Dengan menggunakan pendekatan normatif dan yuridis. Sumber data yang digunakan adalah data primer, sekunder, dan tersier. Metode pengumpulan data yang dipakai adalah melalui kutipan langsung dan tidak langsung. Analisis data yang dipakai pada penelitian ini adalah secara induksi dan deduksi.  Hasil penelitian ini menunjukan bahwa faktor terjadinya perceraian diakibatkan oleh faktor ekonomi, faktor usia, perselingkuhan, perjodohan, tidak dikaruniai anak atau keturunan, pemabuk/pemadat dan penjudi, poligami, cemburu, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), kurang pengetahuan agama, serta perbedaan pendapat. Adapun dampak perceraian lebih difokuskan kepada psikologis anak, yakni kesedihan karena kehilangan anggota keluarga, ketakutan akan ditolak, dibuang dan dalam keadaan tidak berdaya, marah, sakit hati dan sangat kesepian, bersalah dan menyalahkan dirinya sendiri, serta kecemasan dan pengkhianatan. Analisis hukum Islam sangat mementingkan psikologis anak akibat perceraian sebagaimana akibat dari terjadinya perceraian oleh hukum Islam sudah diatur mengenai nasib anak kedepannya, mulai dari nafkah, biaya anak, dan hak pengasuhan anak (hadlanah).

Mengetahui dampak perceraian orang tua terhadap kondisi mental anak dalam pandangan islam. Setiap terjadinya perceraian orang tua sudah jelas berdampak negatif terhadap pendidikan dan perkembangan jiwa anak, karena anak masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian penuh dari kedua orang tua. Seorang anak ketika lahir tidak membawa potensi agama, tetapi dia akan menjadi religious karena proses belajar dari lingkungan. Dengan dasar kemampuan meniru (modeling) terhadap apa yang di dengar dan dilihat yang berkaitan dengan agama, maka anak akan menjadi religius. 

Penelitian ini menggunakan pendekatakan deskriptif kualitatif, dengan teknik analisis deskriptif pula, yaitu berupa pemaparan dan penggambaran secara menyeluruh tentang keadaan yang sebenar-benarnya mengenai data yang terkait, baik tertulis maupun lisan dari objek penelitian yang ada di lembaga tersebut. dalam pengumpulan data, penulis menggunakan beberapa metode, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa: dampak perceraian orang tua terhadap kondisi mental anak di desa rejosari menunjukkan dampak yang buruk dan cepat atau lambat anak mengalami perubahan pola pikir. Selain itu dengan kejadian perceraian orang tuanya ini otomatis mental anak akan terganggu dan akan berpengaruh pada kehidupannya di masa depan.

faktor terjadinya perceraian, dampak perceraian terhadap anak, dan menganalisis hukum Islam dan UU Perlindungan Anak tentang dampak perceraian orang tua terhadap psikologi anak. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor apa saja penyebab terjadinya perceraian, dampak yang ditimbulkan khususnya pada anak, serta bagaimana analisis hukum Islam maupun UU Perlindungan Anak dalam menangani dampak pada anak agar tidak berdampak negatif pasca orangtuanya bercerai, sehingga nantinya peneliti mampu mensosialisasikan, baik melalui karya tulis ini maupun secara langsung kepada masyarakat.

Metode penelitian yang diguanakan adalah penelitian kepustakaan (library research). Dengan menggunakan pendekatan normatif dan yuridis. Sumber data yang digunakan adalah data primer, sekunder, dan tersier. Metode pengumpulan data yang dipakai adalah melalui kutipan langsung dan tidak langsung. Analisis data yang dipakai pada penelitian ini adalah secara induksi dan deduksi.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa faktor terjadinya perceraian diakibatkan oleh faktor ekonomi, faktor usia, perselingkuhan, perjodohan, tidak dikaruniai anak atau keturunan, pemabuk/pemadat dan penjudi, poligami, cemburu, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), kurang pengetahuan agama, serta perbedaan pendapat. Adapun dampak perceraian lebih difokuskan kepada psikologis anak, yakni kesedihan karena kehilangan anggota keluarga, ketakutan akan ditolak, dibuang dan dalam keadaan tidak berdaya, marah, sakit hati dan sangat kesepian, bersalah dan menyalahkan dirinya sendiri, serta kecemasan dan pengkhianatan. Analisis hukum Islam sangat mementingkan psikologis anak akibat perceraian sebagaimana akibat dari terjadinya perceraian oleh hukum Islam sudah diatur mengenai nasib anak kedepannya, mulai dari nafkah, biaya anak, dan hak pengasuhan anak (hadlanah).

Dampak Mengerikan Perceraian Bagi Anak Sesuai Usia Sejak Bayi

Dampak Mengerikan Perceraian Bagi Anak Sesuai Usia Sejak Bayi

Jika Kedua Orang Tua Bercerai. Dalam ajaran islam, perceraian memanglah tidak dilarang dan itu dibolahkan. Namun, ini bukan menjadi alasan untuk menjadikannya sebagai salah satu opsi pilihan dalam berkeluarga. Dengan kata lain perselisihan tersebut bisa dibicarakan dan diselesaikan dengan baik. 

Dampak perceraian tidak hanya sebatas antara suami dan istri saja. Melainkan bisa juga berdampak terhadap anak-anak. Baik dari sisi psikologis, pendidikan, kasih sayang dan lainnya. Bahkan bisa saja berakibat buruk terhadap sang anak.

Lalu bagaimana jika sahabat atau anak didik kita merasa sedih dan down (kurangnya semangat hidup) akibat kedua orang tuanya bercerai? Langkah apa yang harus kita lakukan? Nah, untuk lebih jelasnya mengenai hal ini. Mari kita simak ulasan artikal berikut. Sesungguhnya pernikahan diselenggarakan dalam rangka membentuk keluarga dan sekaligus mewujudkan ketenangan di dalamnya. Jika di dalam kehidupan pernikahan muncul persoalan yang dapat mengganggu keluarga hingga batas yang tidak memungkinkan dipertahankan keutuhannya, maka harus ada jalan keluar bagi kedua belah pihak untuk berpisah.

Dalam kondisi seperti ini, masing-masing pihak tidak boleh memaksakan diri untuk mempertahankan ikatan pernikahan yang sudah diliputi dengan perselisihan terus menerus atau bahkan mungkin juga kebencian. Sebagaimana Allah SWT telah mensyariatkan pernikahan, Dia juga telah mensyariatkan adanya perceraian (talak).

Perceraian seringkali memang berdampak buruk buat anak-anak. Dampak terbesar yang dirasakan anak biasanya adalah ketakutan. Anak-anak merasa takut bahwa perceraian akan menyebabkan mereka ditinggalkan oleh orang tuanya. Selain itu, anak juga merasakan kebingungan atau bisa juga merasa cemas.

Hal ini dapat dimaklumi karena perceraian dapat menjadikan anak-anak bingung dengan kondisi rumah tangga yang berantakan, bahkan terkadang mereka juga merasakan hubungan dengan orang tua yang memburuk. Keadaan ini biasanya akan berpengaruh pada konsentrasi belajar anak, kondisi psikologisnya menjadi rapuh, terkadang anak menjadi stres dan frustasi.

Tidak ada ukuran berapa lama duka anak itu berlangsung. Ada sebagian anak yang segera bisa bangkit kembali seperti biasa berkat dukungan lingkungannya, tapi ada pula yang perlu waktu cukup lama.

Ibu SI yang baik,

Bukanlah hal yang mudah membantu anak melewati masa sulit setelah perceraian orang tua, jadilah Anda pendengar yang baik. Dengarkan keluhan murid Anda dengan sabar dan penuh perhatian. Biar Anda tahu bagaimana dia menanggapi perceraian orang tuanya, dan bagaimana cara melewatinya.

Pahami perasaannya, dan yakinkan padanya untuk tidak perlu takut mengungkapkan perasaannya kepada Anda. Beri dia dukungan, anak korban perceraian, karena akan kehilangan salah satu orang tua, terkadang mereka suka menyalahkan salah satu dari kedua orang tuanya (atau kedua-duanya).

Hal lain yang juga dapat Anda lakukan adalah, meminta padanya untuk bertemu dengan anak lain yang punya masalah sama, dan telah berhasil melewati masa-masa perceraian orang tuanya dengan baik. Yakinkan padanya, bahwa  masih memiliki orang tua yang menyayangi. Walaupun di antara mereka tidak lagi tinggal serumah.

Ibu SI yang baik,

Perceraian adalah salah satu solusi yang dibolehkan dalam Islam ketika terjadi persoalan di dalam rumah tangga, dan sudah tidak mungkin dipersatukan kembali. Bagi anak, tidak ada pilihan, mesti dihadapi dengan ikhlas.
Berhasil atau tidaknya seorang anak dalam beradaptasi terhadap perubahan hidupnya akan ditentukan oleh daya tahan dalam dirinya sendiri, pandangannya terhadap perceraian, cara orang tua menghadapi perceraian, pola asuh dari orang tua dalam kehidupan yang baru, dan terjalinnya hubungan baik dengan kedua orangtuanya.

Bantu murid Anda agar dia  memiliki pandangan yang tidak buruk tentang perceraian yang terjadi dan tetap punya hubungan baik dengan kedua orang tuanya. Semoga dimudahkan langkahnya, dan murid Anda kembali bersemangat.

Referensi : Dampak Mengerikan Perceraian Bagi Anak Sesuai Usia Sejak Bayi


Membantu anak untuk pulih dalam menghadapi perceraian orangtua

Membantu anak untuk pulih dalam menghadapi perceraian orangtua. Komitmen kedua orangtua terhadap anak tetap dibutuhkan meski Anda berdua memutuskan untuk bercerai. Dampingi anak dalam melalui momen pahit ini supaya mereka bisa terhindar dari berbagai dampak negatifnya.

Membantu anak untuk pulih dalam menghadapi perceraian orangtua. Komitmen kedua orangtua terhadap anak tetap dibutuhkan meski Anda berdua memutuskan untuk bercerai. Dampingi anak dalam melalui momen pahit ini supaya mereka bisa terhindar dari berbagai dampak negatifnya. 

1. Meminta anak untuk jujur
2. Menerima perasaan anak
3. Menanyakan bantuan yang bisa Anda berikan
4. Meminta bantuan ahli
5. Menjadi pendengar yang baik
6. Tetap menjadi sosok orangtua bagi anak
7. Membangun hubungan yang sehat
8. Buat anak merasa aman

Berikut adalah cara yang bisa Anda lakukan untuk membantu anak menghadapi perceraian dan mengantisipasi dampak yang lebih parah.
Dampak perceraian terhadap anak tidak boleh diabaikan begitu saja. Doronglah mereka untuk menyampaikan setiap perasaannya mengenai perceraian Anda dan pasangan. 
Meminta anak untuk jujur dapat membuatnya merasa lebih lega. Anda juga dapat mencoba memahami perasaan anak.

Sampaikan pada anak bahwa perasaan sedih dan marah yang mereka rasakan merupakan hal yang wajar. Misalnya, Anda dapat menyampaikan bahwa Anda dan pasangan sangat memahami perasaan yang muncul dalam hatinya.
Anda dapat menawarkan bantuan agar anak merasa lebih baik. Ada kemungkinan bahwa mereka tidak tahu bantuan yang bisa Anda berikan sehingga memberikan ide juga dianjurkan.

Pastikan untuk selalu memberikan perhatian kepadanya. Jangan sampai anak merasa kesepian sehingga mereka mencari perhatian dari orang lain. Luangkan waktu untuk anak ketika mereka membutuhkan Anda.

Walau kesedihan dan kemarahan si kecil dapat menjadi wajar, dampak perceraian terhadap anak bisa saja tidak kunjung hilang.


Pada titik ini, Anda disarankan untuk mencari bantuan ahli, seperti psikolog maupun psikiater. Terapi dan layanan pendukung lainnya juga mungkin direkomendasikan.

Terapi tersebut bisa berupa terapi individual bagi anak maupun terapi keluarga untuk menyampaikan perubahan dalam dinamika keluarga Anda.

Meski Anda dan pasangan sudah berpisah, pastikan pada anak bahwa Anda tetap bisa menjadi pendengar yang baik baginya.

Jelaskan pada anak bahwa mereka bisa meluapkan keluh kesahnya kepada diri Anda. Jangan lupa untuk mendengarkan unek-uneknya tanpa menghakimi.

Walaupun gagal dalam mempertahankan pernikahan, Anda tetap harus menjadi orangtua yang baik untuk anak. Perceraian tidak boleh dijadikan sebagai alasan untuk memutuskan hubungan Anda dengan anak-anak. Tetaplah menjadi sosok ayah dan ibu bagi mereka.

Hadirlah di setiap acara-acara penting anak, seperti ulang tahun, hari kelulusan, hingga pernikahan mereka. Bagaimana pun juga, Anda adalah orangtuanya meski secara hukum hubungan Anda dan pasangan sudah bercerai.

Jangan lupa juga untuk terus membimbing dan membantu anak jika mereka memiliki kesulitan di dalam hidupnya.
Sebaiknya, Anda tidak terjebak dalam perasaan ingin cerai tapi kasihan anak. Sebab, hal tersebut tetap dapat mempengaruhi keutuhan rumah tangga Anda. Apalagi jika Anda sering bertengkar di depan anak, hal itu bisa menyakitinya.

Tentu bukan hal yang mudah menjadi anak korban perceraian orangtua. Namun, komunikasi positif, kehangatan orangtua, dan tingkat konflik yang rendah dapat membantu anak menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut. 

Hubungan yang sehat ini akan membantunya mengembangkan harga diri yang lebih tinggi dan kinerja akademik yang lebih baik setelah perceraian.
Ketakutan akan pengabaian, dan kekhawatiran tentang masa depan bisa menyebabkan anak mengalami kecemasan. 

Namun, membantu anak merasa dicintai, aman, dan terlindungi tidak hanya dapat mengurangi kecemasan, tetapi juga dapat mengurangi risiko masalah kesehatan mental yang mungkin terjadi padanya.

Jangan lupa juga untuk terus membimbing dan membantu mereka jika anak memiliki kesulitan di dalam hidupnya.

11 Dampak Perceraian terhadap Anak yang Penting Diwaspadai

11 Dampak Perceraian terhadap Anak yang Penting Diwaspadai. Dampak perceraian terhadap anak di antaranya mengganggu kesehatan mental, mengundang perilaku buruk, hingga penurunan nilai akademis di sekolah.  Perceraian tidak hanya berdampak buruk pada pasangan suami dan istri saja, tapi juga anak-anak. Perpisahan kedua orangtua dinilai dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan mental dan fisik anak. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai dampak perceraian terhadap anak, berikut adalah penjelasan yang bisa Anda simak.  Saat hubungan pernikahan berada di ujung tanduk, perceraian kerap dipertimbangkan sebagai jalan keluarnya.   Namun, tidak jarang ada pasangan yang ingin bercerai tapi kasihan anak. Kehadiran anak dapat membuat perceraian terasa semakin berat bagi kedua belah pihak.  Perceraian kemungkinan meninggalkan sejumlah dampak bagi kehidupan anak. Berikut adalah berbagai potensi efek perceraian bagi anak yang perlu diperhatikan.  1. Risiko gangguan mental 2. Perilaku eksternalisasi Conduct disorder, yaitu gangguan perilaku yang ditandai dengan penyimpangan norma sosial dan perampasan hak orang lain Delinquency, yaitu kenakalan yang dilakukan oleh remaja di bawah umur Perilaku impulsif, yaitu melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang. 3. Perilaku berisiko Melakukan penyalahgunaan obat terlarang Melakukan seks di usia dini Merokok Mengonsumsi alkohol sebelum waktunya. 4. Penurunan prestasi di sekolah 5. Merasa bersalah 6. Masalah kesehatan 7. Merasa tidak nyaman terjebak di tengah 8. Menarik diri dari lingkungan sosial 9. Berisiko mengalami perceraian di masa depan 10. Amarah yang tidak terkontrol 11. Sulit beradaptasi x   Terlepas dari usia dan jenis kelamin, anak korban perceraian orangtua memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami gangguan mental.  Sebagian anak korban perceraian memang mampu melakukan penyesuaian dan bisa pulih beberapa bulan kemudian. Namun, tak sedikit pula yang mengalami depresi dan gangguan kecemasan.  Dampak perceraian terhadap anak dapat menyebabkan perilaku eksternalisasi.  Dibandingkan dengan anak-anak dengan keluarga utuh, anak korban perceraian sangat rentan terhadap perilaku eksternalisasi atau masalah perilaku yang ditujukan pada lingkungan luar.  Beberapa contoh perilaku eksternalisasi adalah:  Selain itu, perceraian orangtua menempatkan anak pada risiko terhadap konflik dengan anak-anak lain seusianya.  Selain rentan berperilaku tidak baik terhadap lingkungan luarnya, anak korban perceraian juga berisiko terhadap tindakan berbahaya yang mengancam kesehatannya. Beberapa kemungkinan perilaku berisiko tersebut adalah:  Menurut ahli, anak yang orangtuanya memutuskan bercerai saat ia berusia 5 tahun atau kurang, berisiko untuk menjadi aktif secara seksual sebelum menginjak usia 16 tahun.  Selain itu, anak-anak yang berpisah dari ayah mereka, juga berpotensi melakukan seks berganti-ganti pasangan selama masa remaja.  Penurunan prestasi di sekolah dianggap bisa terjadi akibat perceraian bagi anak. Menurut ahli, anak yang menghadapi perceraian orangtuanya yang dikabarkan dengan tiba-tiba, memiliki masalah pada prestasi belajar di sekolah.  Apabila anak sudah memperkirakan bahwa orangtuanya akan bercerai, kemungkinan dampaknya mungkin tidak separah kasus pertama.  Dampak perceraian terhadap pendidikan anak ini tentu perlu diperhatikan guna menjaga nilai akademisnya di sekolah.  Dampak perceraian terhadap anak selanjutnya adalah perasaan bersalah. Perasaan anak yang orangtuanya bercerai memang bisa terganggu. Dilansir dari Family Means, anak dapat merasa bersalah saat kedua orangtuanya berpisah.  Sebab, anak-anak dapat berpikiran bahwa mereka yang biang keladi di balik perceraian orangtuanya. Tekanan dari perasaan bersalah ini dapat mengundang depresi, stres, dan masalah kesehatan lainnya.  Tidak hanya kesehatan mental anak saja yang terdampak dari perceraian, tapi juga kesehatan fisiknya. Anak korban perceraian dianggap lebih berisiko mengidap penyakit karena beberapa faktor, salah satunya kesulitan tidur di malam hari.  Kurang tidur dapat mengundang sejumlah masalah kesehatan, mulai dari kenaikan berat badan berlebih hingga melemahnya sistem imun.  Ketika orangtua bertengkar, anak-anak dapat mengalami disonansi kognitif dan konflik loyalitas. Hal ini membuat mereka merasa terjebak di tengah dan tidak tahu apakah harus berpihak pada Anda atau pasangan.  Anak-anak dapat menunjukkan ketidaknyamanan dengan lebih sering mengalami sakit perut atau sakit kepala. Kondisi tersebut juga dapat mempengaruhi perkembangannya.  Konflik loyalitas menjadi lebih menonjol seiring bertambahnya usia. Pada akhirnya, hal ini dapat mengarah pada pemutusan hubungan total dengan salah satu orangtua.  Anak-anak dapat menarik dirinya dari lingkungan sosial akibat perceraian orangtua. Si kecil kemungkinan tidak lagi semangat untuk bertemu teman-teman atau menghadiri acara sekolahnya.  Dampak perceraian terhadap anak ini terjadi karena ada banyak perasaan yang mereka rasakan di dalam dirinya sehingga menyebabkan rasa cemas dan malu untuk bersosialisasi.  Menurut berbagai studi yang diulas dalam jurnal Population and Development Review, dampak orangtua bercerai bagi anak dianggap bisa membuatnya mengalami hal yang sama di masa depan.  Pasalnya, perpisahan kedua orangtuanya dapat mengubah sikap anak terhadap hubungan. Mereka mungkin kurang tertarik untuk memiliki hubungan jangka panjang yang berkomitmen saat mereka beranjak dewasa.  Terdapat beberapa dampak perceraian bagi psikologis anak, salah satunya bisa membuat anak mudah marah.  Dalam beberapa kasus, emosi anak menjadi tak terkontrol saat kedua orangtuanya bercerai. Hal ini berpotensi membuat amarah di dalam diri anak membara.  Amarah ini dapat diluapkan kepada kedua orangtuanya, diri mereka sendiri, teman-teman, atau orang lain. Tidak hanya itu, dampak perceraian bagi anak juga dinilai bisa membuat si kecil menjadi mudah murah.  Dampak orangtua bercerai bagi anak juga dapat membuat anak kesulitan beradaptasi.  Saat kedua orangtua bercerai, kemungkinan anak dapat dihadapkan dengan situasi, keluarga, lingkungan atau orangtua baru. Situasi ini dapat menuntut anak untuk beradaptasi dengan cepat.  Belum lagi kalau anak harus pindah ke sekolah baru karena ikut dengan orangtua tirinya. Kondisi ini bisa menuntut anak untuk beradaptasi dengan teman-teman dan lingkungan baru yang masih asing untuknya.  Hal inilah yang terkadang membuat orangtua ingin bercerai tapi kasihan anak.

11 Dampak Perceraian terhadap Anak yang Penting Diwaspadai. Dampak perceraian terhadap anak di antaranya mengganggu kesehatan mental, mengundang perilaku buruk, hingga penurunan nilai akademis di sekolah.

Perceraian tidak hanya berdampak buruk pada pasangan suami dan istri saja, tapi juga anak-anak. Perpisahan kedua orangtua dinilai dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan mental dan fisik anak. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai dampak perceraian terhadap anak, berikut adalah penjelasan yang bisa Anda simak.

Saat hubungan pernikahan berada di ujung tanduk, perceraian kerap dipertimbangkan sebagai jalan keluarnya. 

Namun, tidak jarang ada pasangan yang ingin bercerai tapi kasihan anak. Kehadiran anak dapat membuat perceraian terasa semakin berat bagi kedua belah pihak.

Perceraian kemungkinan meninggalkan sejumlah dampak bagi kehidupan anak. Berikut adalah berbagai potensi efek perceraian bagi anak yang perlu diperhatikan.

1. Risiko gangguan mental

2. Perilaku eksternalisasi
  • Conduct disorder, yaitu gangguan perilaku yang ditandai dengan penyimpangan norma sosial dan perampasan hak orang lain
  • Delinquency, yaitu kenakalan yang dilakukan oleh remaja di bawah umur
  • Perilaku impulsif, yaitu melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang.
3. Perilaku berisiko
  • Melakukan penyalahgunaan obat terlarang
  • Merokok
  • Mengonsumsi alkohol sebelum waktunya.
4. Penurunan prestasi di sekolah
5. Merasa bersalah
6. Masalah kesehatan
7. Merasa tidak nyaman terjebak di tengah
8. Menarik diri dari lingkungan sosial
9. Berisiko mengalami perceraian di masa depan
10. Amarah yang tidak terkontrol
11. Sulit beradaptasi
x

Terlepas dari usia dan jenis kelamin, anak korban perceraian orangtua memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami gangguan mental.

Sebagian anak korban perceraian memang mampu melakukan penyesuaian dan bisa pulih beberapa bulan kemudian. Namun, tak sedikit pula yang mengalami depresi dan gangguan kecemasan.

Dampak perceraian terhadap anak dapat menyebabkan perilaku eksternalisasi.

Dibandingkan dengan anak-anak dengan keluarga utuh, anak korban perceraian sangat rentan terhadap perilaku eksternalisasi atau masalah perilaku yang ditujukan pada lingkungan luar.

Beberapa contoh perilaku eksternalisasi adalah:

Selain itu, perceraian orangtua menempatkan anak pada risiko terhadap konflik dengan anak-anak lain seusianya.

Selain rentan berperilaku tidak baik terhadap lingkungan luarnya, anak korban perceraian juga berisiko terhadap tindakan berbahaya yang mengancam kesehatannya. Beberapa kemungkinan perilaku berisiko tersebut adalah:

Menurut ahli, anak yang orangtuanya memutuskan bercerai saat ia berusia 5 tahun atau kurang, berisiko untuk menjadi aktif secara seksual sebelum menginjak usia 16 tahun.

Selain itu, anak-anak yang berpisah dari ayah mereka, juga berpotensi melakukan seks berganti-ganti pasangan selama masa remaja.

Penurunan prestasi di sekolah dianggap bisa terjadi akibat perceraian bagi anak. Menurut ahli, anak yang menghadapi perceraian orangtuanya yang dikabarkan dengan tiba-tiba, memiliki masalah pada prestasi belajar di sekolah.

Apabila anak sudah memperkirakan bahwa orangtuanya akan bercerai, kemungkinan dampaknya mungkin tidak separah kasus pertama.

Dampak perceraian terhadap pendidikan anak ini tentu perlu diperhatikan guna menjaga nilai akademisnya di sekolah.

Dampak perceraian terhadap anak selanjutnya adalah perasaan bersalah. Perasaan anak yang orangtuanya bercerai memang bisa terganggu. Dilansir dari Family Means, anak dapat merasa bersalah saat kedua orangtuanya berpisah.

Sebab, anak-anak dapat berpikiran bahwa mereka yang biang keladi di balik perceraian orangtuanya. Tekanan dari perasaan bersalah ini dapat mengundang depresi, stres, dan masalah kesehatan lainnya.

Tidak hanya kesehatan mental anak saja yang terdampak dari perceraian, tapi juga kesehatan fisiknya. Anak korban perceraian dianggap lebih berisiko mengidap penyakit karena beberapa faktor, salah satunya kesulitan tidur di malam hari.

Kurang tidur dapat mengundang sejumlah masalah kesehatan, mulai dari kenaikan berat badan berlebih hingga melemahnya sistem imun.

Ketika orangtua bertengkar, anak-anak dapat mengalami disonansi kognitif dan konflik loyalitas. Hal ini membuat mereka merasa terjebak di tengah dan tidak tahu apakah harus berpihak pada Anda atau pasangan.

Anak-anak dapat menunjukkan ketidaknyamanan dengan lebih sering mengalami sakit perut atau sakit kepala. Kondisi tersebut juga dapat mempengaruhi perkembangannya.

Konflik loyalitas menjadi lebih menonjol seiring bertambahnya usia. Pada akhirnya, hal ini dapat mengarah pada pemutusan hubungan total dengan salah satu orangtua.

Anak-anak dapat menarik dirinya dari lingkungan sosial akibat perceraian orangtua. Si kecil kemungkinan tidak lagi semangat untuk bertemu teman-teman atau menghadiri acara sekolahnya.

Dampak perceraian terhadap anak ini terjadi karena ada banyak perasaan yang mereka rasakan di dalam dirinya sehingga menyebabkan rasa cemas dan malu untuk bersosialisasi.

Menurut berbagai studi yang diulas dalam jurnal Population and Development Review, dampak orangtua bercerai bagi anak dianggap bisa membuatnya mengalami hal yang sama di masa depan.

Pasalnya, perpisahan kedua orangtuanya dapat mengubah sikap anak terhadap hubungan. Mereka mungkin kurang tertarik untuk memiliki hubungan jangka panjang yang berkomitmen saat mereka beranjak dewasa.

Terdapat beberapa dampak perceraian bagi psikologis anak, salah satunya bisa membuat anak mudah marah.

Dalam beberapa kasus, emosi anak menjadi tak terkontrol saat kedua orangtuanya bercerai. Hal ini berpotensi membuat amarah di dalam diri anak membara.

Amarah ini dapat diluapkan kepada kedua orangtuanya, diri mereka sendiri, teman-teman, atau orang lain. Tidak hanya itu, dampak perceraian bagi anak juga dinilai bisa membuat si kecil menjadi mudah murah.

Dampak orangtua bercerai bagi anak juga dapat membuat anak kesulitan beradaptasi.

Saat kedua orangtua bercerai, kemungkinan anak dapat dihadapkan dengan situasi, keluarga, lingkungan atau orangtua baru. Situasi ini dapat menuntut anak untuk beradaptasi dengan cepat.

Belum lagi kalau anak harus pindah ke sekolah baru karena ikut dengan orangtua tirinya. Kondisi ini bisa menuntut anak untuk beradaptasi dengan teman-teman dan lingkungan baru yang masih asing untuknya.  Hal inilah yang terkadang membuat orangtua ingin bercerai tapi kasihan anak.

Pertimbangkan Baik-Baik, Begini 7 Efek Perceraian Orangtua bagi Anak

Pertimbangkan Baik-Baik, Begini 7 Efek Perceraian Orangtua bagi Anak.  Setiap keluarga tentu berharap bersama hingga maut memisahkan. Namun, tidak selamanya harapan menjadi kenyataan. Terkadang, di tengah perjalanan menjadi sebuah keluarga, badai datang dan menyebabkan perceraian.  1. Menimbulkan stres, cemas, trauma  Perceraian dipastikan menimbulkan trauma yang mendalam bagi anak, terutama jika usianya sudah cukup matang untuk mengamati situasi yang terjadi pada orangtuanya. Anak akan mengalami stres, merasa terabaikan, merasa tidak dicintai, kecemasan yang berlebih, dan efek psikologis lain yang mungkin akan terjadi dalam waktu yang lama.  2. Menurunnya prestasi belajar  Sejumlah penelitian membuktikan bahwa anak-anak korban perceraian cenderung bermasalah dalam perilaku yang berpengaruh pada menurunnya fokus belajar dan nilai-nilai akademik di sekolah. Jika sebelumnya seorang anak bisa meraih prestasi di sekolah, bisa saja ketika orangtuanya berpisah, situasi berubah dan ia menjadi kehilangan motivasi belajar dan membuat prestasinya menurun.   3. Mudah terpengaruh hal negatif  Perceraian juga menyebabkan anak yang beranjak remaja mudah terpengaruh oleh hal-hal buruk yang ditemuinya dalam pergaulan. Seperti merokok, minum alkohol, dan narkoba.  Hal ini disebabkan anak merasa tidak lagi diperhatikan oleh orangtuanya yang sibuk dengan masalah rumah tangga mereka. Apalagi, jika perceraian melalui proses yang tidak mudah sehingga masing-masing orangtua membutuhkan waktu untuk memulihkan dirinya sendiri sehingga mereka mengabaikan anak-anaknya.   4. Merasa rendah diri  Tidak dapat dihindari, efek perceraian membuat anak sulit bersosialisasi. Anak akan merasa malu, rendah diri dan iri pada teman-temannya yang masih memiliki keluarga yang utuh.  5. Apatis dalam berhubungan  Tidak hanya orangtua yang bersedih, perceraian menimbulkan luka dan trauma pada mental anak  Setiap keluarga tentu berharap bersama hingga maut memisahkan. Namun, tidak selamanya harapan menjadi kenyataan. Terkadang, di tengah perjalanan menjadi sebuah keluarga, badai datang dan menyebabkan perceraian.  Memang, perceraian adalah jalan terakhir yang bisa diambil jika segala upaya perdamaian dan perbaikan tidak bisa lagi dilakukan.  Tidak hanya orangtua yang tersakiti, perceraian juga menyisakan luka dan trauma pada anak yang mungkin akan terus dibawanya hingga dewasa.  Dampak perceraian yang mungkin terjadi pada anak mungkin bisa berbeda-beda, tergantung dari usia anak pada saat perceraian terjadi serta kepribadian anak itu sendiri. Pada anak usia balita, efek perceraian orangtua mungkin tidak terlalu berpengaruh terhadap perkembangan mentalnya.  Namun, lain halnya jika perceraian terjadi saat anak sudah memasuki usia sekolah, dimana ia sudah bisa mengamati situasi di sekitarnya dan menyadari bahwa orangtuanya tidak lagi bersama.  Sebelum memutuskan, pikirkan baik-baik efek perceraian yang mungkin terjadi pada anak berikut ini. Simak rangkuman Popmama.com berikut Ma.  1. Menimbulkan stres, cemas, dan trauma  Perceraian dipastikan menimbulkan trauma yang mendalam bagi anak, terutama jika usianya sudah cukup matang untuk mengamati situasi yang terjadi pada orangtuanya.  Anak akan mengalami stres, merasa terabaikan, merasa tidak dicintai, kecemasan yang berlebih, dan efek psikologis lain yang mungkin akan terjadi dalam waktu yang lama.  2. Menurunnya prestasi belajar  Sejumlah penelitian membuktikan bahwa anak-anak korban perceraian cenderung bermasalah dalam perilaku yang berpengaruh pada menurunnya fokus belajar dan nilai-nilai akademik di sekolah.  Jika sebelumnya seorang anak bisa meraih prestasi di sekolah, bisa saja ketika orangtuanya berpisah, situasi berubah dan ia menjadi kehilangan motivasi belajar dan membuat prestasinya menurun.   8 Doa Sebelum Tidur Kristen untuk Anak-Anak  Memahami Tipe Karakter dan Kepribadian ESTP pada Remaja  3. Mudah terpengaruh hal negatif  Perceraian juga menyebabkan anak yang beranjak remaja mudah terpengaruh oleh hal-hal buruk yang ditemuinya dalam pergaulan. Seperti merokok, minum alkohol, dan narkoba.  Hal ini disebabkan anak merasa tidak lagi diperhatikan oleh orangtuanya yang sibuk dengan masalah rumah tangga mereka. Apalagi, jika perceraian melalui proses yang tidak mudah sehingga masing-masing orangtua membutuhkan waktu untuk memulihkan dirinya sendiri sehingga mereka mengabaikan anak-anaknya.   4. Merasa rendah diri  Tidak dapat dihindari, efek perceraian membuat anak sulit bersosialisasi. Anak akan merasa malu, rendah diri dan iri pada teman-temannya yang masih memiliki keluarga yang utuh.  5. Apatis dalam berhubungan  Dalam jangka panjang, perceraian dapat menyebabkan anak menjadi apatis saat memulai hubungan dengan lawan jenisnya. Anak cenderung merasa takut untuk berkomitmen dan menganggap bahwa hubungan dengan lawan jenis itu tidak penting dan hanya berujung pada perpisahan.  6. Melakukan seks bebas  Hilangnya kasih sayang yang utuh dari kedua orangtua membuat anak berpotensi melakukan seks bebas saat ia mulai berpacaran dengan lawan jenisnya.  Karena merasa tidak ada yang memperhatikan sekaligus sebagai bentuk protes dan kekecewaan terhadap perceraian orangtuanya, mungkin saja anak melakukan hubungan seks terlalu dini yang tentu saja membawa efek mengerikan di kemudian hari.  Dalam perjalanan berumahtangga, terkadang kita akan menemui ‘badai’ yang siap memporakporandakan kehidupan rumah tangga. Namun, saat sebuah pernikahan sudah dikaruniai buah hati, maka hendaknya Mama dan Papa lebih bijak lagi mempertimbangkan segala keputusan yang akan diambil.  Tidak hanya menyangkut diri Mama atau Papa saja, tetapi juga demi perkembangan mental dan masa depan si Anak tersayang.   7. Sering menyalahkan diri sendiri  Anak-anak kerap merasa perpisahan orangtuanya adalah bagian dari kesalahan mereka sehingga mereka mulai menyalahkan diri mereka sendiri. Jika dibiarkan, mereka akan berkutat dengan pikiran bahwa mereka buruk, nakal, tidak bisa membuat bangga, membuat pertengkaran orangtua, membuat kekecewaan, dan menyebabkan orangtua berpisah.  Orangtua yang tidak menjelaskan penyebab perceraian kepada anak yang beranjak dewasa, menyebabkan anak bertanya-tanya dan terus berpikir bahwa merekalah penyebab orangtuanya tidak bahagia.

Pertimbangkan Baik-Baik, Begini 7 Efek Perceraian Orangtua bagi Anak.  Setiap keluarga tentu berharap bersama hingga maut memisahkan. Namun, tidak selamanya harapan menjadi kenyataan. Terkadang, di tengah perjalanan menjadi sebuah keluarga, badai datang dan menyebabkan perceraian.

1. Menimbulkan stres, cemas, trauma

Perceraian dipastikan menimbulkan trauma yang mendalam bagi anak, terutama jika usianya sudah cukup matang untuk mengamati situasi yang terjadi pada orangtuanya. Anak akan mengalami stres, merasa terabaikan, merasa tidak dicintai, kecemasan yang berlebih, dan efek psikologis lain yang mungkin akan terjadi dalam waktu yang lama.

2. Menurunnya prestasi belajar

Sejumlah penelitian membuktikan bahwa anak-anak korban perceraian cenderung bermasalah dalam perilaku yang berpengaruh pada menurunnya fokus belajar dan nilai-nilai akademik di sekolah. Jika sebelumnya seorang anak bisa meraih prestasi di sekolah, bisa saja ketika orangtuanya berpisah, situasi berubah dan ia menjadi kehilangan motivasi belajar dan membuat prestasinya menurun. 

3. Mudah terpengaruh hal negatif

Perceraian juga menyebabkan anak yang beranjak remaja mudah terpengaruh oleh hal-hal buruk yang ditemuinya dalam pergaulan. Seperti merokok, minum alkohol, dan narkoba.

Hal ini disebabkan anak merasa tidak lagi diperhatikan oleh orangtuanya yang sibuk dengan masalah rumah tangga mereka. Apalagi, jika perceraian melalui proses yang tidak mudah sehingga masing-masing orangtua membutuhkan waktu untuk memulihkan dirinya sendiri sehingga mereka mengabaikan anak-anaknya. 

4. Merasa rendah diri

Tidak dapat dihindari, efek perceraian membuat anak sulit bersosialisasi. Anak akan merasa malu, rendah diri dan iri pada teman-temannya yang masih memiliki keluarga yang utuh.

5. Apatis dalam berhubungan

Tidak hanya orangtua yang bersedih, perceraian menimbulkan luka dan trauma pada mental anak

Setiap keluarga tentu berharap bersama hingga maut memisahkan. Namun, tidak selamanya harapan menjadi kenyataan. Terkadang, di tengah perjalanan menjadi sebuah keluarga, badai datang dan menyebabkan perceraian.

Memang, perceraian adalah jalan terakhir yang bisa diambil jika segala upaya perdamaian dan perbaikan tidak bisa lagi dilakukan.

Tidak hanya orangtua yang tersakiti, perceraian juga menyisakan luka dan trauma pada anak yang mungkin akan terus dibawanya hingga dewasa.

Dampak perceraian yang mungkin terjadi pada anak mungkin bisa berbeda-beda, tergantung dari usia anak pada saat perceraian terjadi serta kepribadian anak itu sendiri. Pada anak usia balita, efek perceraian orangtua mungkin tidak terlalu berpengaruh terhadap perkembangan mentalnya.

Namun, lain halnya jika perceraian terjadi saat anak sudah memasuki usia sekolah, dimana ia sudah bisa mengamati situasi di sekitarnya dan menyadari bahwa orangtuanya tidak lagi bersama.

Sebelum memutuskan, pikirkan baik-baik efek perceraian yang mungkin terjadi pada anak berikut ini. Simak rangkuman Popmama.com berikut Ma.

1. Menimbulkan stres, cemas, dan trauma

Perceraian dipastikan menimbulkan trauma yang mendalam bagi anak, terutama jika usianya sudah cukup matang untuk mengamati situasi yang terjadi pada orangtuanya.

Anak akan mengalami stres, merasa terabaikan, merasa tidak dicintai, kecemasan yang berlebih, dan efek psikologis lain yang mungkin akan terjadi dalam waktu yang lama.

2. Menurunnya prestasi belajar

Sejumlah penelitian membuktikan bahwa anak-anak korban perceraian cenderung bermasalah dalam perilaku yang berpengaruh pada menurunnya fokus belajar dan nilai-nilai akademik di sekolah.

Jika sebelumnya seorang anak bisa meraih prestasi di sekolah, bisa saja ketika orangtuanya berpisah, situasi berubah dan ia menjadi kehilangan motivasi belajar dan membuat prestasinya menurun. 

8 Doa Sebelum Tidur Kristen untuk Anak-Anak

Memahami Tipe Karakter dan Kepribadian ESTP pada Remaja

3. Mudah terpengaruh hal negatif

Perceraian juga menyebabkan anak yang beranjak remaja mudah terpengaruh oleh hal-hal buruk yang ditemuinya dalam pergaulan. Seperti merokok, minum alkohol, dan narkoba.

Hal ini disebabkan anak merasa tidak lagi diperhatikan oleh orangtuanya yang sibuk dengan masalah rumah tangga mereka. Apalagi, jika perceraian melalui proses yang tidak mudah sehingga masing-masing orangtua membutuhkan waktu untuk memulihkan dirinya sendiri sehingga mereka mengabaikan anak-anaknya. 

4. Merasa rendah diri

Tidak dapat dihindari, efek perceraian membuat anak sulit bersosialisasi. Anak akan merasa malu, rendah diri dan iri pada teman-temannya yang masih memiliki keluarga yang utuh.

5. Apatis dalam berhubungan

Dalam jangka panjang, perceraian dapat menyebabkan anak menjadi apatis saat memulai hubungan dengan lawan jenisnya. Anak cenderung merasa takut untuk berkomitmen dan menganggap bahwa hubungan dengan lawan jenis itu tidak penting dan hanya berujung pada perpisahan.

6. Melakukan seks bebas

Hilangnya kasih sayang yang utuh dari kedua orangtua membuat anak berpotensi melakukan seks bebas saat ia mulai berpacaran dengan lawan jenisnya.

Karena merasa tidak ada yang memperhatikan sekaligus sebagai bentuk protes dan kekecewaan terhadap perceraian orangtuanya, mungkin saja anak melakukan hubungan seks terlalu dini yang tentu saja membawa efek mengerikan di kemudian hari.

Dalam perjalanan berumahtangga, terkadang kita akan menemui ‘badai’ yang siap memporakporandakan kehidupan rumah tangga. Namun, saat sebuah pernikahan sudah dikaruniai buah hati, maka hendaknya Mama dan Papa lebih bijak lagi mempertimbangkan segala keputusan yang akan diambil.

Tidak hanya menyangkut diri Mama atau Papa saja, tetapi juga demi perkembangan mental dan masa depan si Anak tersayang. 

7. Sering menyalahkan diri sendiri

Anak-anak kerap merasa perpisahan orangtuanya adalah bagian dari kesalahan mereka sehingga mereka mulai menyalahkan diri mereka sendiri. Jika dibiarkan, mereka akan berkutat dengan pikiran bahwa mereka buruk, nakal, tidak bisa membuat bangga, membuat pertengkaran orangtua, membuat kekecewaan, dan menyebabkan orangtua berpisah.  Orangtua yang tidak menjelaskan penyebab perceraian kepada anak yang beranjak dewasa, menyebabkan anak bertanya-tanya dan terus berpikir bahwa merekalah penyebab orangtuanya tidak bahagia.