This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 25 Agustus 2022

Perceraian Berakibat Buruk bagi Kesehatan Pria

Perceraian Berakibat Buruk bagi Kesehatan Pria

Perceraian ternyata tak hanya berefek buruk bagi kesehatan mental dan emosi, tapi juga fisik seseorang. Kondisi ini tidak cuma rentan dialami wanita, tapi juga pria. Sebuah riset di Amerika mengatakan, pria yang hidup single atau mengalami perceraian, berpeluang 39 persen lebih tinggi mengalami kematian dini. Angka ini dibandingkan dengan pria yang ada dalam ikatan pernikahan. Kondisi ini mungkin disebabkan pria yang hidup single lebih berpeluang menjalankan gaya hidup atau perilaku seks berisiko. Perilaku ini lambat laun mengancam kesehatan fisik dan mentalnya.

Sebuah studi kasus oleh Dr. Daniel Felix dari University of Nebraska dan dimuat dalam Journal of Men's Health mengungkapkan pentingnya para dokter untuk mengenali problem kesehatan kaum pria yang dipicu oleh perceraian. Riset ini merupakan kajian terhadap kasus yang dialami seorang responden pria berkulit putih usia 45 tahun yang bertahan dari perceraian. Setelah perceraian, pria ini mengunjungi dokter keluarga setelah 10 tahun tidak memeriksakan diri. Ia datang dengan keluhan pola tidur buruk, dan masalah perut yang tidak kunjung tuntas. Pria ini juga melaporkan keranjingan minum bir dan mulai membenci pekerjaannya. Sebagai karyawan level menengah di sebuah bank lokal, pria ini mulai terganggu dengan atasan dan teman-temannya.

Sehubungan dengan perceraian yang dialami, pria ini juga melaporkan keterbatasan akses yang dialami dalam menemui anak-anaknya. Padahal, ia  sangat membutuhkan dukungan anak-anaknya. Pria ini juga mengeluhkan mantan istrinya yang seolah menjauhkan ia dari semua teman-teman yang dimiliki saat masih menjadi pasangan. Peneliti melaporkan, kondisi fisik pria ini tampak biasa saja meski pun ia mengalami sedikit pembengkakan pada liver dan tubuhnya yang kegemukan.  Namun sebaliknya, peneliti mengaitkan kondisi penyakit yang dialami pria ini dengan gejala depresi yang berlanjut dengan kecemasan dan stres akibat perceraian. Peneliti menyarankan para dokter untuk melakukan pengobatan pada gejala-gejala psikologis akibat perceraian, dan bukannya merekomendasikan perbaikan nutrisi, olahraga, dan pola tidur. Para pria korban perceraian juga wajib mengikuti program terapi kecanduan alkohol dan zat terlarang. Selain itu, mereka juga harus mendapat rujukan dari tenaga medis untuk berobat para konselor, profesional kesehatan jiwa, atau kelompok dukungan perceraian.

Peneliti menyarankan perlunya penelitian lebih lanjut guna melihat dampak perceraian bagi kesehatan pria. Professor Ridwan Shabsigh dari Cornell University, Amerika Serikat mengatakan, temuan ini menjadi dasar penyusunan diagnosa dan panduan terapi kesehatan bagi para pria korban perceraian. Riset ini sekaligus membuka sisi lain pria, yang sering dikesankan sebagai sosok kuat, tabah, dan lebih kebal pada trauma dibanding wanita. "Faktanya, pria sangat terpengaruh dengan trauma psikologis dan peristiwa buruk dalam kehidupan seperti perceraian, kebangkrutan, perang, dan kematian. Penelitian segera sangat dibutuhkan untuk menyelidiki prevelensi dan dampak perceraian bagi kesehatan pria," kata Shabsigh.

Referensi : Perceraian Berakibat Buruk bagi Kesehatan Pria


Dampak Buruk Perceraian

Akhir dari suatu pernikahan. Ketika suatu perkawinan sering diwarnai pertengkaran, merasa tidak bahagia, ketidaksetiaan pasangan, atau masalah lainnya, seringkali terpikir untuk segera mengakhiri pernikahan tersebut. Bercerai dengan pasangan hidup dianggap sebagai solusi terbaik bagi banyak pasangan yang menikah. Alasan lain bercerai adalah memberi pasangan hidup pelajaran sebagai jalan keluar yang baik untuk mengakhiri rasa sakit hati. Tetapi, dengan bercerai tidak berarti Anda bebas dari masalah. Ada masalah-masalah lain yang harus dihadapi. Apa saja yang harus dipertimbangkan matang-matang sebelum mengambil keputusan bercerai?  Penyebab PerceraianStatistik menunjukkan bahwa sekitar 60 persen dari semua kasus perceraian terjadi dalam sepuluh tahun pertama perkawinan. Bahkan dengan maraknya perceraian yang dilakukan oleh kaum selebriti, membuat bercerai menjadi masalah pilihan gaya hidup semata. Angka perceraian terus melonjak. Sebelum melihat akibat buruk dari perceraian, apa saja yang menjadi penyebab perceraian? Berikut ini beberapa di antara penyebab utama perceraian.  Gagal berkomunikasi Ketidakcocokan akibat kegagalan berkomunikasi antara suami dan istri sering menjadi pemicu perceraian. Kurangnya komunikasi membuat kurangnya rasa saling mengerti dan membuat sering terjadinya pertengkaran. Hal ini akan berujung pada perceraian jika kedua pihak tidak mau atau gagal berkomunikasi.  Ketidaksetiaan Penyebab perceraian lainnya adalah salah satu pasangan berselingkuh. Pasangan yang disakiti tidak dapat memaafkan dan memilih bercerai. Atau sebaliknya, pasangan yang berselingkuh memilih bercerai demi pacar barunya.  Kekerasan dalam rumah tangga Perceraian karena kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) juga menjadi salah satu penyebab utama perceraian. Banyak pasangan memilih menyelamatkan kehidupannya dengan bercerai karena sering mendapat aniaya baik secara fisik maupun verbal.  Masalah ekonomi Ada juga perceraian karena masalah ekonomi. Menganggap pasangan tidak mampu memenuhi kebutuhan materi keluarga, sehingga meninggalkan pasangannya dengan bercerai.  Pernikahan dini Menikah belum cukup umur membuat pasangan muda tersebut belum siap menghadapi berbagai kesulitan dalam kehidupan perkawinan. Sehingga seringkali keputusan yang dibuat adalah bercerai saat menghadapi banyak tekanan hidup.  Perubahan budaya Dulu perceraian adalah sesuatu yang tabu. Sekarang telah menjadi tren dan gaya hidup banyak pasangan.  Akibat Perceraian Namun, apakah perceraian jalan keluar yang terbaik? Coba pertimbangkan apa saja kerugian yang harus ditanggung setiap anggota keluarga ketika keputusannya adalah bercerai.  Anak menjadi korban Anak merupakan korban yang paling terluka ketika orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Anak dapat merasa ketakutan karena kehilangan sosok ayah atau ibu mereka, takut kehilangan kasih sayang orang tua yang kini tidak tinggal serumah. Mungkin juga mereka merasa bersalah dan menganggap diri mereka sebagai penyebabnya. Prestasi anak di sekolah akan menurun atau mereka jadi lebih sering untuk menyendiri.  Anak-anak yang sedikit lebih besar bisa pula merasa terjepit di antara ayah dan ibu mereka. Salah satu atau kedua orang tua yang telah berpisah mungkin menaruh curiga bahwa mantan pasangan hidupnya tersebut mempengaruhi sang anak agar membencinya. Ini dapat mebuat anak menjadi serba salah, sehingga mereka tidak terbuka termasuk dalam masalah-masalah besar yang dihadapi ketika mereka remaja. Sebagai pelarian yang buruk, anak-anak bisa terlibat dalam pergaulan yang buruk, narkoba, atau hal negatif lain yang bisa merugikan.  Dampak untuk orang tua Selain anak-anak, orang tua dari pasangan yang bercerai juga mungkin terkena imbas dari keputusan untuk bercerai. Sebagai orang tua, mereka dapat saja merasa takut anak mereka yang bercerai akan menderita karena perceraian ini atau merasa risih dengan pergunjingan orang-orang.  Beberapa orang tua dari pasangan yang bercerai akhirnya harus membantu membesarkan cucu mereka karena ketidaksanggupan dari pasangan yang bercerai untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.  Bencana keuangan Jika sebelum bercerai, suami sebagai pencari nafkah maka setelah bercerai Anda tidak akan memiliki pendapatan sama sekali apalagi jika mantan pasangan Anda tidak memberikan tunjangan. Atau jika pemasukan berasal dari Anda dan pasangan, sekarang setelah bercerai, pemasukan uang Anda berkurang. Jika Anda mendapat hak asuh atas anak, berarti Anda juga bertanggung jawab untuk menanggung biaya hidup dari anak Anda. Yang perlu diingat, setelah bercerai, umumnya banyak keluarga mengalami penurunan standar kehidupan hingga lebih dari 50 persen.  Masalah pengasuhan anak Setelah bercerai, berarti kini Anda harus menjalankan peranan ganda sebagai ayah dan juga sebagai ibu. Ini bukanlah hal yang mudah karena ada banyak hal lain yang harus Anda pikirkan seorang diri. Terlebih, jika anak sudah memasuki masa remaja yang penuh tantangan, Anda harus dengan masuk akal menjaga atau memberikan disiplin kepada anak agar dapat tumbuh menjadi anak yang baik.  Masalah lain dalam hal pengasuhan anak adalah ketika harus berbagi hak asuh anak dengan pasangan karena bisa jadi Anda masih merasa sakit hati dengan perlakuan mantan Anda sehingga sulit untuk bersikap adil. Hal-hal yang harus dibicarakan seperti pendidikan atau disiplin anak mungkin dapat menyebabkan pertengkaran karena tidak sepaham dan rasa sakit hati dapat membuat hal ini semakin buruk.  Gangguan emosi Adalah hal yang wajar jika setelah bercerai Anda masih menyimpan perasan cinta terhadap mantan pasangan Anda. Harapan Anda untuk hidup sampai tua bersama pasangan menjadi kandas, ini dapat menyebabkan perasaan kecewa yang sangat besar yang menyakitkan. Mungkin juga Anda ketakutan jika tidak ada orang yang akan mencintai Anda lagi atau perasaan takut ditinggalkan lagi di kemudian hari.  Perasaan lain yang mungkin dialami adalah perasaan terhina atau perasaan marah dan kesal akibat sikap buruk pasangan. Anda juga mungkin merasa kesepian karena sudah tidak ada lagi tempat Anda berbagi cerita, tempat Anda mencurahkan dan mendapatkan bentuk kasih saying. Serangkaian problem kesehatan juga bisa disebabkan akibat depresi karena bercerai.  Bahaya masa remaja kedua Pasangan yang baru bercerai sering mengalami masa remaja kedua. Mereka mencicipi kemerdekaan baru dengan memburu serangkaian hubungan asmara dengan tujuan untuk menaikkan harga diri yang jatuh atau untuk mengusir kesepian. Hal ini bisa menimbulkan problem baru yang lebih buruk dan tragis karena tidak mempertimbangkan baik-baik langkah yang dilakukan.  Perceraian bukanlah hal yang terbaik karena ada dampak-dampak buruk yang harus Anda hadapi. Walaupun perkawinan Anda tampak hampir hancur, tidaklah baik untuk menghancurkannya dengan bercerai. Berpikirlah untuk mempertahankan perkawinan Anda demi anak dan keluarga Anda. Jika pasangan Anda tampaknya tidak baik atau tidak menyayangi Anda, cobalah komunikasikan hal ini dengan pasangan Anda dengan cara yang baik karena kebanyakan faktor perceraian karena kegagalan berkomunikasi. Hindari berpikir untuk berselingkuh karena hal itu akan memperburuk keadaan.  Perceraian bukanlah jalan keluar terbaik. Sebelum bercerai pertimbangkan secara matang akibatnya hingga jauh ke depan. Banyak pengalaman menunjukkan bahwa perkawinan yang bermasalah masih bisa diselamatkan tanpa perlu bercerai.

Akhir dari suatu pernikahan. Ketika suatu perkawinan sering diwarnai pertengkaran, merasa tidak bahagia, ketidaksetiaan pasangan, atau masalah lainnya, seringkali terpikir untuk segera mengakhiri pernikahan tersebut. Bercerai dengan pasangan hidup dianggap sebagai solusi terbaik bagi banyak pasangan yang menikah. Alasan lain bercerai adalah memberi pasangan hidup pelajaran sebagai jalan keluar yang baik untuk mengakhiri rasa sakit hati. Tetapi, dengan bercerai tidak berarti Anda bebas dari masalah. Ada masalah-masalah lain yang harus dihadapi. Apa saja yang harus dipertimbangkan matang-matang sebelum mengambil keputusan bercerai?

Penyebab PerceraianStatistik menunjukkan bahwa sekitar 60 persen dari semua kasus perceraian terjadi dalam sepuluh tahun pertama perkawinan. Bahkan dengan maraknya perceraian yang dilakukan oleh kaum selebriti, membuat bercerai menjadi masalah pilihan gaya hidup semata. Angka perceraian terus melonjak.

Sebelum melihat akibat buruk dari perceraian, apa saja yang menjadi penyebab perceraian? Berikut ini beberapa di antara penyebab utama perceraian.

  • Gagal berkomunikasi

    Ketidakcocokan akibat kegagalan berkomunikasi antara suami dan istri sering menjadi pemicu perceraian. Kurangnya komunikasi membuat kurangnya rasa saling mengerti dan membuat sering terjadinya pertengkaran. Hal ini akan berujung pada perceraian jika kedua pihak tidak mau atau gagal berkomunikasi.

  • Ketidaksetiaan

    Penyebab perceraian lainnya adalah salah satu pasangan berselingkuh. Pasangan yang disakiti tidak dapat memaafkan dan memilih bercerai. Atau sebaliknya, pasangan yang berselingkuh memilih bercerai demi pacar barunya.

  • Kekerasan dalam rumah tangga

    Perceraian karena kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) juga menjadi salah satu penyebab utama perceraian. Banyak pasangan memilih menyelamatkan kehidupannya dengan bercerai karena sering mendapat aniaya baik secara fisik maupun verbal.

  • Masalah ekonomi

    Ada juga perceraian karena masalah ekonomi. Menganggap pasangan tidak mampu memenuhi kebutuhan materi keluarga, sehingga meninggalkan pasangannya dengan bercerai.

  • Pernikahan dini

    Menikah belum cukup umur membuat pasangan muda tersebut belum siap menghadapi berbagai kesulitan dalam kehidupan perkawinan. Sehingga seringkali keputusan yang dibuat adalah bercerai saat menghadapi banyak tekanan hidup.

  • Perubahan budaya

    Dulu perceraian adalah sesuatu yang tabu. Sekarang telah menjadi tren dan gaya hidup banyak pasangan.

Akibat Perceraian

Namun, apakah perceraian jalan keluar yang terbaik? Coba pertimbangkan apa saja kerugian yang harus ditanggung setiap anggota keluarga ketika keputusannya adalah bercerai.

  • Anak menjadi korban

    Anak merupakan korban yang paling terluka ketika orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Anak dapat merasa ketakutan karena kehilangan sosok ayah atau ibu mereka, takut kehilangan kasih sayang orang tua yang kini tidak tinggal serumah. Mungkin juga mereka merasa bersalah dan menganggap diri mereka sebagai penyebabnya. Prestasi anak di sekolah akan menurun atau mereka jadi lebih sering untuk menyendiri.

    Anak-anak yang sedikit lebih besar bisa pula merasa terjepit di antara ayah dan ibu mereka. Salah satu atau kedua orang tua yang telah berpisah mungkin menaruh curiga bahwa mantan pasangan hidupnya tersebut mempengaruhi sang anak agar membencinya. Ini dapat mebuat anak menjadi serba salah, sehingga mereka tidak terbuka termasuk dalam masalah-masalah besar yang dihadapi ketika mereka remaja. Sebagai pelarian yang buruk, anak-anak bisa terlibat dalam pergaulan yang buruk, narkoba, atau hal negatif lain yang bisa merugikan.

  • Dampak untuk orang tua

    Selain anak-anak, orang tua dari pasangan yang bercerai juga mungkin terkena imbas dari keputusan untuk bercerai. Sebagai orang tua, mereka dapat saja merasa takut anak mereka yang bercerai akan menderita karena perceraian ini atau merasa risih dengan pergunjingan orang-orang.

    Beberapa orang tua dari pasangan yang bercerai akhirnya harus membantu membesarkan cucu mereka karena ketidaksanggupan dari pasangan yang bercerai untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

  • Bencana keuangan

    Jika sebelum bercerai, suami sebagai pencari nafkah maka setelah bercerai Anda tidak akan memiliki pendapatan sama sekali apalagi jika mantan pasangan Anda tidak memberikan tunjangan. Atau jika pemasukan berasal dari Anda dan pasangan, sekarang setelah bercerai, pemasukan uang Anda berkurang. Jika Anda mendapat hak asuh atas anak, berarti Anda juga bertanggung jawab untuk menanggung biaya hidup dari anak Anda. Yang perlu diingat, setelah bercerai, umumnya banyak keluarga mengalami penurunan standar kehidupan hingga lebih dari 50 persen.

  • Masalah pengasuhan anak

    Setelah bercerai, berarti kini Anda harus menjalankan peranan ganda sebagai ayah dan juga sebagai ibu. Ini bukanlah hal yang mudah karena ada banyak hal lain yang harus Anda pikirkan seorang diri. Terlebih, jika anak sudah memasuki masa remaja yang penuh tantangan, Anda harus dengan masuk akal menjaga atau memberikan disiplin kepada anak agar dapat tumbuh menjadi anak yang baik.

    Masalah lain dalam hal pengasuhan anak adalah ketika harus berbagi hak asuh anak dengan pasangan karena bisa jadi Anda masih merasa sakit hati dengan perlakuan mantan Anda sehingga sulit untuk bersikap adil. Hal-hal yang harus dibicarakan seperti pendidikan atau disiplin anak mungkin dapat menyebabkan pertengkaran karena tidak sepaham dan rasa sakit hati dapat membuat hal ini semakin buruk.

  • Gangguan emosi

    Adalah hal yang wajar jika setelah bercerai Anda masih menyimpan perasan cinta terhadap mantan pasangan Anda. Harapan Anda untuk hidup sampai tua bersama pasangan menjadi kandas, ini dapat menyebabkan perasaan kecewa yang sangat besar yang menyakitkan. Mungkin juga Anda ketakutan jika tidak ada orang yang akan mencintai Anda lagi atau perasaan takut ditinggalkan lagi di kemudian hari.

    Perasaan lain yang mungkin dialami adalah perasaan terhina atau perasaan marah dan kesal akibat sikap buruk pasangan. Anda juga mungkin merasa kesepian karena sudah tidak ada lagi tempat Anda berbagi cerita, tempat Anda mencurahkan dan mendapatkan bentuk kasih saying. Serangkaian problem kesehatan juga bisa disebabkan akibat depresi karena bercerai.

  • Bahaya masa remaja kedua

    Pasangan yang baru bercerai sering mengalami masa remaja kedua. Mereka mencicipi kemerdekaan baru dengan memburu serangkaian hubungan asmara dengan tujuan untuk menaikkan harga diri yang jatuh atau untuk mengusir kesepian. Hal ini bisa menimbulkan problem baru yang lebih buruk dan tragis karena tidak mempertimbangkan baik-baik langkah yang dilakukan.

Perceraian bukanlah hal yang terbaik karena ada dampak-dampak buruk yang harus Anda hadapi. Walaupun perkawinan Anda tampak hampir hancur, tidaklah baik untuk menghancurkannya dengan bercerai. Berpikirlah untuk mempertahankan perkawinan Anda demi anak dan keluarga Anda. Jika pasangan Anda tampaknya tidak baik atau tidak menyayangi Anda, cobalah komunikasikan hal ini dengan pasangan Anda dengan cara yang baik karena kebanyakan faktor perceraian karena kegagalan berkomunikasi. Hindari berpikir untuk berselingkuh karena hal itu akan memperburuk keadaan.

Perceraian bukanlah jalan keluar terbaik. Sebelum bercerai pertimbangkan secara matang akibatnya hingga jauh ke depan. Banyak pengalaman menunjukkan bahwa perkawinan yang bermasalah masih bisa diselamatkan tanpa perlu bercerai.

Sebelum Bercerai, Pria Berharap Tahu Hal Ini

Perceraian memang bukan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah dalam pernikahan. Dan tentu saja tak ada orang yang mengharapkan perceraikan setelah menikah dan menemukan orang yang tepat dalam hidupnya. Namun sayangnya, cukup banyak orang yang terjebak dalam situasi tidak menyenangkan ini.   Ada banyak alasan yang bisa menyebabkan kenapa perceraian bisa terjadi. Dilansir dari Prevention, meski berpisah dengan pasangannya, pria sebenarnya memiliki beberapa hal yang ingin diketahui. Yuk, coba cari tahu berikut ini:  Proses Perceraian Lebih Melelahkan Dari penelitian yang dilakukan pada pria yang bercerai, mereka mengaku bahwa mereka berharap bahwa mereka tahu seperti apa rumitnya berpisah. Ini karena ketika akhirnya bercerai dan pikiran tentang bagimana leganya ia dan mantan istri ternyata masih membawa beban berat. Meski lega, untuk mendapatkan perasaan lega itu sendiri sulit, ada banyak hal yang perlu diurus. Misalnya hak asuh, pemisahan asset, dan jika perceraian itu secara baik-baik maka tak ada masalah. Jika perceraian ternyata melibatkan emosi antara dua belah pihak, prosesnya bahkan lebih rumit dan melelahkan dibanding merencanakan pernikahan.  Tentang Perasaan yang Masih Tertinggal Pasangan yang bercerai tentu pernah mengalami manisnya cinta. Ketika akhirnya memutuskan bercerai, para pria menyadari bahwa mereka tidak yakin tentang perasaan yang mereka rasakan. Apakah rasa cinta terhadap mantan istri sudah benar-benar pudar atau masih ada meski tak sebesar dulu. Sebelum mengalami hal ini usai resmi bercerai, mereka berharap bisa mengetahui tentang kemunculan perasaan semacam ini. Mitchell W. seperti dilansir dari Prevention mengaku bahwa ia mengetahui bahwa ia dan mantan istri memang bukan pasangan yang tepat untuk satu sama lain dan kalau pun bersama, mereka tidak akan mudah merasa bahagia. Namun mengetahui bahwa mantan istrinya menemui pria lain tetap terasa seperti pukulan kecil di hatinya. “Saya juga menemui wanita lain, namun tetap saja rasanya ada yang aneh memikirkan tentang mantan istri,” ujarnya.  Tidak Yakin Apakah Bercerai Adalah Jalan Keluar Seperti layaknya menikah, ada cukup banyak pertimbangan yang dibutuhkan ketika bercerai. Terkadang ada keraguan apakah bercerai itu adalah jalan keluar terbaik atau tidak. Karena ada keraguan sehingga mengambil keputusan ini pun butuh waktu. Pria yang bercerai, dilansir dari Prevention menyatakan bahwa keraguan atas hal ini terjawab ketika akhirnya ia merasa lebih bahagia ketika bercerai. Begitu juga dengan mantan istrinya dan kini hubungan mereka justru lebih baik.  Beban Finansial Jangka Panjang Dilansir dari Prevention, seorang pria menyatakan bahwa ia ragu bisa menikah lagi karena setelah bercerai, ia memiliki cukup banyak beban keuangan. Misalnya, saja tagihan kartu kredit atas nama pribadi yang digunakan pasangan, dan ternyata pasangan itu selingkuh. Tentu saja, rasanya tidak adil utnuk membayar tagihan itu sendiri. Lalu ketika, secara hukum mantan suami harus memberikan tunjangan atau membagi harta gono gini yang entah bagaimana akan terasa tidak adil. Belum lagi biaya sewa pengacara yang jumlahnya tidak sedikit. Mungkin jika mengetahui konsekuensi tentang bercerai, akan cukup banyak orang yang berpikir dua kali untuk melakukannya.  Anak-Anak Ternyata Baik-Baik Saja Terkadang pasangan “menunda” untuk bercerai atau memilih tetap bersama demi anak-anak. Kekhawatiran untuk membuat anak-anak kecewa menjadikan pasangan enggan bercerai. Padahal, anak-anak sebenarnya meski butuh perhatian namun juga mereka juga memiliki rasa pengertian yang besar. Tumbuh sambil melihat orang tuanya hidup tidak bahagia dan selalu bertengkar justru dapat membuat anak tidak bahagia. Tidak selalu anak dari broken home itu tumbuh menjadi anak yang pasif. Meski orang tua bercerai, sebenarnya keduanya tetap bisa memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya.  Tidak Yakin Bisa Berkencan Lagi Seorang yang mengalami pengalaman buruk dalam membangun hubungan asmara, khususnya pernikahan, bisa jadi memiliki trauma. Setelah memutuskan untuk bercerai dari pasangan dan menjadi lajang kembali, keinginan untuk menjalin hubungan dengan orang lain bisa jadi butuh pertimbangan yang cukup sulit. Ini karena kebanyakan pria sebenarnya juga tidak tahu apakah ia bisa memiliki “keistimewaan” itu lagi.  Menjadi Duda Bahkan label ini akan terus terbawa hingga kapan pun. Seorang pria mengaku bahwa ia perceraian bukanlah hal yang ingin ia ceritakan kepada siapa pun. Namun teman dan bahkan orang yang dikencani terkadang memiliki ketertarikan dan keinginan untuk tahu mengenai hal ini. Tadinya, sebelum memutuskan untuk bercerai, pria tidak menganggap bahwa label tersebut “sulit” dibawa. Namun setelah menjalaninya, ternyata ada beban tak terlihat mengenai status “duda”.

Perceraian memang bukan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah dalam pernikahan. Dan tentu saja tak ada orang yang mengharapkan perceraikan setelah menikah dan menemukan orang yang tepat dalam hidupnya. Namun sayangnya, cukup banyak orang yang terjebak dalam situasi tidak menyenangkan ini.


Ada banyak alasan yang bisa menyebabkan kenapa perceraian bisa terjadi. Dilansir dari Prevention, meski berpisah dengan pasangannya, pria sebenarnya memiliki beberapa hal yang ingin diketahui. Yuk, coba cari tahu berikut ini:

Proses Perceraian Lebih Melelahkan
Dari penelitian yang dilakukan pada pria yang bercerai, mereka mengaku bahwa mereka berharap bahwa mereka tahu seperti apa rumitnya berpisah. Ini karena ketika akhirnya bercerai dan pikiran tentang bagimana leganya ia dan mantan istri ternyata masih membawa beban berat. Meski lega, untuk mendapatkan perasaan lega itu sendiri sulit, ada banyak hal yang perlu diurus. Misalnya hak asuh, pemisahan asset, dan jika perceraian itu secara baik-baik maka tak ada masalah. Jika perceraian ternyata melibatkan emosi antara dua belah pihak, prosesnya bahkan lebih rumit dan melelahkan dibanding merencanakan pernikahan.

Tentang Perasaan yang Masih Tertinggal
Pasangan yang bercerai tentu pernah mengalami manisnya cinta. Ketika akhirnya memutuskan bercerai, para pria menyadari bahwa mereka tidak yakin tentang perasaan yang mereka rasakan. Apakah rasa cinta terhadap mantan istri sudah benar-benar pudar atau masih ada meski tak sebesar dulu. Sebelum mengalami hal ini usai resmi bercerai, mereka berharap bisa mengetahui tentang kemunculan perasaan semacam ini. Mitchell W. seperti dilansir dari Prevention mengaku bahwa ia mengetahui bahwa ia dan mantan istri memang bukan pasangan yang tepat untuk satu sama lain dan kalau pun bersama, mereka tidak akan mudah merasa bahagia. Namun mengetahui bahwa mantan istrinya menemui pria lain tetap terasa seperti pukulan kecil di hatinya. “Saya juga menemui wanita lain, namun tetap saja rasanya ada yang aneh memikirkan tentang mantan istri,” ujarnya.

Tidak Yakin Apakah Bercerai Adalah Jalan Keluar
Seperti layaknya menikah, ada cukup banyak pertimbangan yang dibutuhkan ketika bercerai. Terkadang ada keraguan apakah bercerai itu adalah jalan keluar terbaik atau tidak. Karena ada keraguan sehingga mengambil keputusan ini pun butuh waktu. Pria yang bercerai, dilansir dari Prevention menyatakan bahwa keraguan atas hal ini terjawab ketika akhirnya ia merasa lebih bahagia ketika bercerai. Begitu juga dengan mantan istrinya dan kini hubungan mereka justru lebih baik.

Beban Finansial Jangka Panjang
Dilansir dari Prevention, seorang pria menyatakan bahwa ia ragu bisa menikah lagi karena setelah bercerai, ia memiliki cukup banyak beban keuangan. Misalnya, saja tagihan kartu kredit atas nama pribadi yang digunakan pasangan, dan ternyata pasangan itu selingkuh. Tentu saja, rasanya tidak adil utnuk membayar tagihan itu sendiri. Lalu ketika, secara hukum mantan suami harus memberikan tunjangan atau membagi harta gono gini yang entah bagaimana akan terasa tidak adil. Belum lagi biaya sewa pengacara yang jumlahnya tidak sedikit. Mungkin jika mengetahui konsekuensi tentang bercerai, akan cukup banyak orang yang berpikir dua kali untuk melakukannya.

Anak-Anak Ternyata Baik-Baik Saja
Terkadang pasangan “menunda” untuk bercerai atau memilih tetap bersama demi anak-anak. Kekhawatiran untuk membuat anak-anak kecewa menjadikan pasangan enggan bercerai. Padahal, anak-anak sebenarnya meski butuh perhatian namun juga mereka juga memiliki rasa pengertian yang besar. Tumbuh sambil melihat orang tuanya hidup tidak bahagia dan selalu bertengkar justru dapat membuat anak tidak bahagia. Tidak selalu anak dari broken home itu tumbuh menjadi anak yang pasif. Meski orang tua bercerai, sebenarnya keduanya tetap bisa memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya.

Tidak Yakin Bisa Berkencan Lagi
Seorang yang mengalami pengalaman buruk dalam membangun hubungan asmara, khususnya pernikahan, bisa jadi memiliki trauma. Setelah memutuskan untuk bercerai dari pasangan dan menjadi lajang kembali, keinginan untuk menjalin hubungan dengan orang lain bisa jadi butuh pertimbangan yang cukup sulit. Ini karena kebanyakan pria sebenarnya juga tidak tahu apakah ia bisa memiliki “keistimewaan” itu lagi.

Menjadi Duda
Bahkan label ini akan terus terbawa hingga kapan pun. Seorang pria mengaku bahwa ia perceraian bukanlah hal yang ingin ia ceritakan kepada siapa pun. Namun teman dan bahkan orang yang dikencani terkadang memiliki ketertarikan dan keinginan untuk tahu mengenai hal ini. Tadinya, sebelum memutuskan untuk bercerai, pria tidak menganggap bahwa label tersebut “sulit” dibawa. Namun setelah menjalaninya, ternyata ada beban tak terlihat mengenai status “duda”.

Pria Lebih Rapuh Hadapi Perceraian Dibanding Wanita

Perceraian memang bukan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah dalam pernikahan. Dan tentu saja tak ada orang yang mengharapkan perceraikan setelah menikah dan menemukan orang yang tepat dalam hidupnya. Namun sayangnya, cukup banyak orang yang terjebak dalam situasi tidak menyenangkan ini.  Ada banyak alasan yang bisa menyebabkan kenapa perceraian bisa terjadi. Dilansir dari Prevention, meski berpisah dengan pasangannya, pria sebenarnya memiliki beberapa hal yang ingin diketahui. Yuk, coba cari tahu berikut ini:  Proses Perceraian Lebih Melelahkan Dari penelitian yang dilakukan pada pria yang bercerai, mereka mengaku bahwa mereka berharap bahwa mereka tahu seperti apa rumitnya berpisah. Ini karena ketika akhirnya bercerai dan pikiran tentang bagimana leganya ia dan mantan istri ternyata masih membawa beban berat. Meski lega, untuk mendapatkan perasaan lega itu sendiri sulit, ada banyak hal yang perlu diurus. Misalnya hak asuh, pemisahan asset, dan jika perceraian itu secara baik-baik maka tak ada masalah. Jika perceraian ternyata melibatkan emosi antara dua belah pihak, prosesnya bahkan lebih rumit dan melelahkan dibanding merencanakan pernikahan.  Tentang Perasaan yang Masih Tertinggal Pasangan yang bercerai tentu pernah mengalami manisnya cinta. Ketika akhirnya memutuskan bercerai, para pria menyadari bahwa mereka tidak yakin tentang perasaan yang mereka rasakan. Apakah rasa cinta terhadap mantan istri sudah benar-benar pudar atau masih ada meski tak sebesar dulu. Sebelum mengalami hal ini usai resmi bercerai, mereka berharap bisa mengetahui tentang kemunculan perasaan semacam ini. Mitchell W. seperti dilansir dari Prevention mengaku bahwa ia mengetahui bahwa ia dan mantan istri memang bukan pasangan yang tepat untuk satu sama lain dan kalau pun bersama, mereka tidak akan mudah merasa bahagia. Namun mengetahui bahwa mantan istrinya menemui pria lain tetap terasa seperti pukulan kecil di hatinya. “Saya juga menemui wanita lain, namun tetap saja rasanya ada yang aneh memikirkan tentang mantan istri,” ujarnya.  Tidak Yakin Apakah Bercerai Adalah Jalan Keluar Seperti layaknya menikah, ada cukup banyak pertimbangan yang dibutuhkan ketika bercerai. Terkadang ada keraguan apakah bercerai itu adalah jalan keluar terbaik atau tidak. Karena ada keraguan sehingga mengambil keputusan ini pun butuh waktu. Pria yang bercerai, dilansir dari Prevention menyatakan bahwa keraguan atas hal ini terjawab ketika akhirnya ia merasa lebih bahagia ketika bercerai. Begitu juga dengan mantan istrinya dan kini hubungan mereka justru lebih baik.  Beban Finansial Jangka Panjang Dilansir dari Prevention, seorang pria menyatakan bahwa ia ragu bisa menikah lagi karena setelah bercerai, ia memiliki cukup banyak beban keuangan. Misalnya, saja tagihan kartu kredit atas nama pribadi yang digunakan pasangan, dan ternyata pasangan itu selingkuh. Tentu saja, rasanya tidak adil utnuk membayar tagihan itu sendiri. Lalu ketika, secara hukum mantan suami harus memberikan tunjangan atau membagi harta gono gini yang entah bagaimana akan terasa tidak adil. Belum lagi biaya sewa pengacara yang jumlahnya tidak sedikit. Mungkin jika mengetahui konsekuensi tentang bercerai, akan cukup banyak orang yang berpikir dua kali untuk melakukannya.  Anak-Anak Ternyata Baik-Baik Saja Terkadang pasangan “menunda” untuk bercerai atau memilih tetap bersama demi anak-anak. Kekhawatiran untuk membuat anak-anak kecewa menjadikan pasangan enggan bercerai. Padahal, anak-anak sebenarnya meski butuh perhatian namun juga mereka juga memiliki rasa pengertian yang besar. Tumbuh sambil melihat orang tuanya hidup tidak bahagia dan selalu bertengkar justru dapat membuat anak tidak bahagia. Tidak selalu anak dari broken home itu tumbuh menjadi anak yang pasif. Meski orang tua bercerai, sebenarnya keduanya tetap bisa memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya.  Tidak Yakin Bisa Berkencan Lagi Seorang yang mengalami pengalaman buruk dalam membangun hubungan asmara, khususnya pernikahan, bisa jadi memiliki trauma. Setelah memutuskan untuk bercerai dari pasangan dan menjadi lajang kembali, keinginan untuk menjalin hubungan dengan orang lain bisa jadi butuh pertimbangan yang cukup sulit. Ini karena kebanyakan pria sebenarnya juga tidak tahu apakah ia bisa memiliki “keistimewaan” itu lagi.  Menjadi Duda Bahkan label ini akan terus terbawa hingga kapan pun. Seorang pria mengaku bahwa ia perceraian bukanlah hal yang ingin ia ceritakan kepada siapa pun. Namun teman dan bahkan orang yang dikencani terkadang memiliki ketertarikan dan keinginan untuk tahu mengenai hal ini. Tadinya, sebelum memutuskan untuk bercerai, pria tidak menganggap bahwa label tersebut “sulit” dibawa. Namun setelah menjalaninya, ternyata ada beban tak terlihat mengenai status “duda”.

Pria Lebih Rapuh Hadapi Perceraian Dibanding Wanita. Kasus-kasus perceraian memang masih menjadi topik yang menarik untuk dicermati. Perceraian jelas membawa dampak yang tidak ringan pada masing-masing pasangan, maupun bagi si buah hati. Bahkan perceraian pun bisa membawa efek pada pria. Benarkah pria menjadi lebih rapuh ketika menghadapi perceraian, dibandingkan wanita?

Kabar tentang perceraian yang mengejutkan datang dari pasangan artis Gading Marten (Gading) dan Gisella Anastasia (Gisel). Pasangan yang telah menikah selama 5 tahun ini dikabarkan akan bercerai setelah Gisel melayangkan gugatan cerai kepada Gading. Masyarakat pun dibuat sedih memikirkan nasib putri cantik semata wayang Gading dan Gisel, yakni Gempita Nora Marten atau akrab disapa Gempi.

Berbagai simpati pun berdatangan keluarga kecil ini terutama bagi si kecil Gempi. Tak hanya simpati untuk Gempi, beberapa artis seperti Tompi dan Astrid Tiar turut mengunggah foto ayah Gading, Roy Marten yang tengah memeluk putranya. Foto ini dianggap turut mewakili perasaan Gading yang tengah rapuh.

Menghadapi perceraian, siapa lebih kuat?

Bagi sebagian orang, terutama wanita, pria identik dengan stereotip tidak setia, tidak bisa menjalani hubungan monogami dan tidak berperasaan saat meninggalkan istri atau pasangannya. Nyatanya menurut penelitian yang dipublikasikan di Journal of Marriage and Family, wanita cenderung lebih “kuat” setelah menghadapai perceraian dibandingkan pria.

Wanita pun lebih banyak yang mengajukan cerai dibandingkan pria, seperti yang tengah dilakukan oleh Gisel pada Gading. Selain itu menurut jurnal tersebut, pria juga cenderung lebih bahagia saat menikah dibandingkan saat melajang.

Setelah bercerai, banyak dampak yang dialami bagi pria maupun wanita. Termasuk dampaknya bagi kesehatan. Namun dari berbagai penelitian disebutkan bahwa dampak kesehatan ini lebih besar dialami oleh pria dibanding wanita. Salah satu efek negatifnya adalah terjadi perubahan gaya hidup seperti merokok atau konsumsi alkohol.

Menurut studi yang dilansir di jurnal Social Science and Medicine pada tahun 2012, saat menikah istri cenderung mengajak dan menyemangati suami untuk hidup lebih sehat, seperti berhenti merokok, berhenti mengonsumsi alkohol atau berolahraga teratur. Namun setelah bercerai, pengaruh positif dari istri tak lagi didapatkan sehingga pria cenderung akan kembali pada kebiasaan hidup yang tidak sehat.

Pria ternyata lebih emosional

Sementara itu pada penelitian lain juga disebutkan bahwa pria cenderung bergantung secara emosional dengan istrinya. Pada penelitian tersebut dilakukan survei mengenai siapa yang akan diajak berdiskusi pertama kali saat sedang sedih, kecewa, marah atau depresi. Hasilnya 71% pria memilih istrinya, sementara hanya 39% wanita memilih suaminya.

Wanita yang sudah menikah cenderung memiliki dukungan emosional lebih baik dibanding pria seperti dari keluarga atau teman terdekatnya. Namun bukan berarti pria tidak memiliki dukungan emosional dari keluarga atau teman terdekat, tetapi karena pria cenderung sulit untuk mengungkapkan perasaannya atau bercerita mengenai masalahnya dengan orang lain.

Selain itu pria yang sudah menikah juga cenderung bergantung pada istri dalam menjadi kurang mandiri dalam melakukan kegiatan tertentu seperti mengepak perlengkapan, disiapkan sarapan atau makan dan masih banyak lagi. Akibatnya saat bercerai, pria menjadi lebih rapuh karena kehilangan sosok istri tempatnya selama ini bergantung.

Oleh karena itu, menurut studi yang dilansir di British Journal of Sociologytak heran pria cenderung lebih cepat ingin menemukan partner baru atau menikah lagi dibandingkan wanita. Sementara wanita cenderung trauma untuk menikah lagi. Hal tersebut dikarenakan pria cenderung lebih bergantung secara emosional dengan pasangannya, sehingga dorongan untuk menikah lagi juga lebih besar. Bahkan disebutkan juga bahwa pria yang memiliki dukungan sosial yang rendah-baik dari teman atau keluarga – cenderung akan menikah lagi.

Berkaca dari kasus Gading dan Gisel, perceraian memang tak hanya berat untuk pria, namun juga untuk wanita. Keduanya sama-sama akan mengalami dampak kesehatan dan emosional. Namun pada beberapa sisi, efek ini lebih berat dirasakan oleh pria karena pria cenderung lebih sedikit menerima dukungan sosial dari teman atau keluarga.

Referensi : Pria Lebih Rapuh Hadapi Perceraian Dibanding Wanita



Tanda Pasangan Anda Mungkin Sedang Mempertimbangkan untuk Bercerai

Tanda Pasangan Anda Mungkin Sedang Mempertimbangkan untuk Bercerai.

Tanda Pasangan Anda Mungkin Sedang Mempertimbangkan untuk Bercerai. Prospek perceraian mungkin menakutkan tetapi prospek untuk bercerai tanpa persiapan bahkan lebih menakutkan. Inilah mengapa seorang ahli menyarankan untuk tidak mengabaikan tanda-tanda yang menunjukkan hal tersebut. Gillian Coote, Managing Partner di Coote Family Lawyers, selalu menghadapi situasi yang menantang ini. Dia telah membantu pria dan wanita menavigasi proses perceraian dan perpisahan yang menakutkan, penuh tekanan dan menyakitkan selama lebih dari 30 tahun.

Sepanjang karirnya, Coote telah menjadi ahli dalam memperhatikan tanda-tanda kecil namun bermakna bahwa satu pihak sedang mempertimbangkan perceraian.

“Sulit untuk menghadapi pikiran bahwa pasangan Anda menginginkan perpisahan,” katanya kepada Body+Soul. “Rasanya lebih mudah untuk menghindari diskusi sepenuhnya, dan berpura-pura itu tidak terjadi. Tetapi terlepas dari kesulitannya, menghadapi pasangan Anda mungkin merupakan pilihan terbaik. ”

Komunikasi adalah kuncinya. Jika Anda benar-benar ingin menyelamatkan hubungan, beri tahu pasangan Anda segera.

“Jika Anda ingin menyelamatkan hubungan Anda, semakin cepat Anda meningkatkannya, semakin baik. Ini mungkin membangun kembali koneksi dan mengarah pada diskusi tentang langkah-langkah positif berikutnya, seperti konseling hubungan.”

Tidak yakin di mana Anda berdiri dalam hubungan Anda? Berikut adalah lima tanda pasangan Anda mungkin mempertimbangkan untuk bercerai:

Prospek perceraian mungkin menakutkan tetapi prospek untuk bercerai tanpa persiapan bahkan lebih menakutkan. Inilah mengapa seorang ahli menyarankan untuk tidak mengabaikan tanda-tanda yang menunjukkan hal tersebut.

Selalu menghadapi situasi yang menantang ini. Dia telah membantu pria dan wanita menavigasi proses perceraian dan perpisahan yang menakutkan, penuh tekanan dan menyakitkan selama lebih dari 30 tahun.

Sepanjang karirnya, Coote telah menjadi ahli dalam memperhatikan tanda-tanda kecil namun bermakna bahwa satu pihak sedang mempertimbangkan perceraian.

“Sulit untuk menghadapi pikiran bahwa pasangan Anda menginginkan perpisahan,” katanya kepada Body+Soul. “Rasanya lebih mudah untuk menghindari diskusi sepenuhnya, dan berpura-pura itu tidak terjadi. Tetapi terlepas dari kesulitannya, menghadapi pasangan Anda mungkin merupakan pilihan terbaik. ”

Komunikasi adalah kuncinya. Jika Anda benar-benar ingin menyelamatkan hubungan, beri tahu pasangan Anda segera.

“Jika Anda ingin menyelamatkan hubungan Anda, semakin cepat Anda meningkatkannya, semakin baik. Ini mungkin membangun kembali koneksi dan mengarah pada diskusi tentang langkah-langkah positif berikutnya, seperti konseling hubungan.”

Tidak yakin di mana Anda berdiri dalam hubungan Anda? Berikut adalah lima tanda pasangan Anda mungkin mempertimbangkan untuk bercerai:

1. Mereka tidak berkomunikasi secara terbuka seperti dulu

Komunikasi adalah segalanya dalam sebuah hubungan. “Ketika pasangan tidak lagi mencari dukungan dari Anda, mereka menghindari komunikasi dan interaksi.”

Ini bisa berarti tidak meminta nasihat Anda, berbagi perasaan mereka atau bertanya tentang perasaan Anda.

2. Mereka sulit untuk terhubung secara emosional

Coote berkata, “Ketika seorang pasangan menjadi terlepas, mereka kehilangan minat untuk terhubung secara emosional dan tidak mau menginvestasikan waktu dan energi untuk menjaga hubungan tetap hidup. Mereka bisa terasa sangat jauh.

"Ketika ada jarak fisik dan emosional, suatu hubungan dapat memburuk dengan sangat cepat," kata Coote.

3. Anda perhatikan mereka memiliki rekening bank baru

Perceraian juga akan menandakan pemisahan keuangan. Coote mengatakan untuk melihat pengaturan bank yang diperbarui, akun baru, dan kata sandi yang diubah.

Anda bahkan mungkin memperhatikan bahwa uang telah hilang: “Banyak yang berpikir membuka rekening bank rahasia atau mentransfer sejumlah besar uang ke investasi baru adalah cara yang baik untuk mengamankan aset sebelum pemisahan.”

4. Mereka tidak ingin membicarakan keuangan atau investasi

“Biasanya merahasiakan tentang keuangan” adalah tanda peringatan besar, Coote menjelaskan, terutama jika pasangan Anda tiba-tiba tidak tertarik untuk merencanakan masa depan.

Mungkin mereka tidak ingin membahas investasi baru itu atau sudah lama tidak tertarik menabung untuk perjalanan keliling dunia itu.

5. Anda tidak tahu siapa yang selalu mereka telepon atau kirimi email

Apakah pasangan Anda menghabiskan waktu yang tidak biasa jauh dari rumah? Apakah Anda tidak tahu siapa yang selalu mereka panggil? Atau mungkin karena ponsel mereka tidak pernah lepas dari pandangan mereka? Ini bisa menjadi tanda sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dalam hubungan Anda.

Apakah tanda-tanda ini terdengar familiar? Tetap tenang dan ikuti saran Coote:

1. Jangan panik

"Jika Anda berpikir pasangan Anda sedang mempertimbangkan untuk berpisah, tetapi Anda belum berbicara, Anda mungkin tergoda untuk menyembunyikan pendapatan dan aset." Sebagai catatan, ini bukan ide yang baik, karena "meskipun penyelesaian properti dirancang untuk menjadi final, jika salah satu pihak gagal mengungkapkan aset pada saat penyelesaian disepakati, semuanya dapat dibatalkan di jalurnya."

2. Carilah nasihat hukum sejak dini

“Ada hak dan tanggung jawab hukum yang terkait dengan pemisahan dan ini penting untuk dipahami. Banyak orang merasa bersalah berbicara dengan pengacara, padahal seharusnya tidak.”

3. Jangan libatkan anak-anak Anda

“Ketika keadaan goyah, biasanya orang tua tergoda untuk menyuarakan hal-hal negatif tentang satu sama lain di hadapan anak-anak mereka dalam upaya untuk membuat mereka berpihak. Semua ini dilakukan dengan melibatkan anak dalam situasi yang bukan tanggung jawab mereka, dan menciptakan lingkungan rumah yang negatif yang dapat memiliki efek jangka panjang pada kesejahteraan dan kesehatan mental mereka.”

4. Jangan posting ke media sosial

“Jika Anda mencurigai pasangan Anda ingin berpisah, wajar saja jika Anda mengalami berbagai emosi tetapi tetap menjaga emosi Anda tetap offline. Banyak orang beralih ke media sosial untuk melampiaskan dan mencari dukungan [tetapi ini] membuka pintu air untuk komentar negatif tentang mantan Anda dan dapat berdampak pada proses perpisahan. “Apa yang Anda posting secara online dapat digunakan sebagai bukti di pengadilan.”

Referensi : Tanda Pasangan Anda Mungkin Sedang Mempertimbangkan untuk Bercerai

Tanda Pasangan Anda Mungkin Sedang Mempertimbangkan untuk Bercerai

Tanda Pasangan Anda Mungkin Sedang Mempertimbangkan untuk Bercerai. Prospek perceraian mungkin menakutkan tetapi prospek untuk bercerai tanpa persiapan bahkan lebih menakutkan. Inilah mengapa seorang ahli menyarankan untuk tidak mengabaikan tanda-tanda yang menunjukkan hal tersebut. Gillian Coote, Managing Partner di Coote Family Lawyers, selalu menghadapi situasi yang menantang ini. Dia telah membantu pria dan wanita menavigasi proses perceraian dan perpisahan yang menakutkan, penuh tekanan dan menyakitkan selama lebih dari 30 tahun.

Sepanjang karirnya, Coote telah menjadi ahli dalam memperhatikan tanda-tanda kecil namun bermakna bahwa satu pihak sedang mempertimbangkan perceraian.

“Sulit untuk menghadapi pikiran bahwa pasangan Anda menginginkan perpisahan,” katanya kepada Body+Soul. “Rasanya lebih mudah untuk menghindari diskusi sepenuhnya, dan berpura-pura itu tidak terjadi. Tetapi terlepas dari kesulitannya, menghadapi pasangan Anda mungkin merupakan pilihan terbaik. ”

Komunikasi adalah kuncinya. Jika Anda benar-benar ingin menyelamatkan hubungan, beri tahu pasangan Anda segera.

“Jika Anda ingin menyelamatkan hubungan Anda, semakin cepat Anda meningkatkannya, semakin baik. Ini mungkin membangun kembali koneksi dan mengarah pada diskusi tentang langkah-langkah positif berikutnya, seperti konseling hubungan.”

Tidak yakin di mana Anda berdiri dalam hubungan Anda? Berikut adalah lima tanda pasangan Anda mungkin mempertimbangkan untuk bercerai:

Prospek perceraian mungkin menakutkan tetapi prospek untuk bercerai tanpa persiapan bahkan lebih menakutkan. Inilah mengapa seorang ahli menyarankan untuk tidak mengabaikan tanda-tanda yang menunjukkan hal tersebut.

Gillian Coote, Managing Partner di Coote Family Lawyers, selalu menghadapi situasi yang menantang ini. Dia telah membantu pria dan wanita menavigasi proses perceraian dan perpisahan yang menakutkan, penuh tekanan dan menyakitkan selama lebih dari 30 tahun.

Sepanjang karirnya, Coote telah menjadi ahli dalam memperhatikan tanda-tanda kecil namun bermakna bahwa satu pihak sedang mempertimbangkan perceraian.

“Sulit untuk menghadapi pikiran bahwa pasangan Anda menginginkan perpisahan,” katanya kepada Body+Soul. “Rasanya lebih mudah untuk menghindari diskusi sepenuhnya, dan berpura-pura itu tidak terjadi. Tetapi terlepas dari kesulitannya, menghadapi pasangan Anda mungkin merupakan pilihan terbaik. ”

Komunikasi adalah kuncinya. Jika Anda benar-benar ingin menyelamatkan hubungan, beri tahu pasangan Anda segera.

“Jika Anda ingin menyelamatkan hubungan Anda, semakin cepat Anda meningkatkannya, semakin baik. Ini mungkin membangun kembali koneksi dan mengarah pada diskusi tentang langkah-langkah positif berikutnya, seperti konseling hubungan.”

Tidak yakin di mana Anda berdiri dalam hubungan Anda? Berikut adalah lima tanda pasangan Anda mungkin mempertimbangkan untuk bercerai:

1. Mereka tidak berkomunikasi secara terbuka seperti dulu

Komunikasi adalah segalanya dalam sebuah hubungan. “Ketika pasangan tidak lagi mencari dukungan dari Anda, mereka menghindari komunikasi dan interaksi.”

Ini bisa berarti tidak meminta nasihat Anda, berbagi perasaan mereka atau bertanya tentang perasaan Anda.

2. Mereka sulit untuk terhubung secara emosional

Coote berkata, “Ketika seorang pasangan menjadi terlepas, mereka kehilangan minat untuk terhubung secara emosional dan tidak mau menginvestasikan waktu dan energi untuk menjaga hubungan tetap hidup. Mereka bisa terasa sangat jauh.

"Ketika ada jarak fisik dan emosional, suatu hubungan dapat memburuk dengan sangat cepat," kata Coote.

3. Anda perhatikan mereka memiliki rekening bank baru

Perceraian juga akan menandakan pemisahan keuangan. Coote mengatakan untuk melihat pengaturan bank yang diperbarui, akun baru, dan kata sandi yang diubah.

Anda bahkan mungkin memperhatikan bahwa uang telah hilang: “Banyak yang berpikir membuka rekening bank rahasia atau mentransfer sejumlah besar uang ke investasi baru adalah cara yang baik untuk mengamankan aset sebelum pemisahan.”

4. Mereka tidak ingin membicarakan keuangan atau investasi

“Biasanya merahasiakan tentang keuangan” adalah tanda peringatan besar, Coote menjelaskan, terutama jika pasangan Anda tiba-tiba tidak tertarik untuk merencanakan masa depan.

Mungkin mereka tidak ingin membahas investasi baru itu atau sudah lama tidak tertarik menabung untuk perjalanan keliling dunia itu.

5. Anda tidak tahu siapa yang selalu mereka telepon atau kirimi email

Apakah pasangan Anda menghabiskan waktu yang tidak biasa jauh dari rumah? Apakah Anda tidak tahu siapa yang selalu mereka panggil? Atau mungkin karena ponsel mereka tidak pernah lepas dari pandangan mereka? Ini bisa menjadi tanda sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dalam hubungan Anda.

Apakah tanda-tanda ini terdengar familiar? Tetap tenang dan ikuti saran Coote:

1. Jangan panik

"Jika Anda berpikir pasangan Anda sedang mempertimbangkan untuk berpisah, tetapi Anda belum berbicara, Anda mungkin tergoda untuk menyembunyikan pendapatan dan aset." Sebagai catatan, ini bukan ide yang baik, karena "meskipun penyelesaian properti dirancang untuk menjadi final, jika salah satu pihak gagal mengungkapkan aset pada saat penyelesaian disepakati, semuanya dapat dibatalkan di jalurnya."

2. Carilah nasihat hukum sejak dini

“Ada hak dan tanggung jawab hukum yang terkait dengan pemisahan dan ini penting untuk dipahami. Banyak orang merasa bersalah berbicara dengan pengacara, padahal seharusnya tidak.”

3. Jangan libatkan anak-anak Anda

“Ketika keadaan goyah, biasanya orang tua tergoda untuk menyuarakan hal-hal negatif tentang satu sama lain di hadapan anak-anak mereka dalam upaya untuk membuat mereka berpihak. Semua ini dilakukan dengan melibatkan anak dalam situasi yang bukan tanggung jawab mereka, dan menciptakan lingkungan rumah yang negatif yang dapat memiliki efek jangka panjang pada kesejahteraan dan kesehatan mental mereka.”

4. Jangan posting ke media sosial

“Jika Anda mencurigai pasangan Anda ingin berpisah, wajar saja jika Anda mengalami berbagai emosi tetapi tetap menjaga emosi Anda tetap offline. Banyak orang beralih ke media sosial untuk melampiaskan dan mencari dukungan [tetapi ini] membuka pintu air untuk komentar negatif tentang mantan Anda dan dapat berdampak pada proses perpisahan. “Apa yang Anda posting secara online dapat digunakan sebagai bukti di pengadilan.”

Referensi : Tanda Pasangan Anda Mungkin Sedang Mempertimbangkan untuk Bercerai