This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 25 Agustus 2022

Sebelum Bercerai, Pria Berharap Tahu Hal Ini

Perceraian memang bukan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah dalam pernikahan. Dan tentu saja tak ada orang yang mengharapkan perceraikan setelah menikah dan menemukan orang yang tepat dalam hidupnya. Namun sayangnya, cukup banyak orang yang terjebak dalam situasi tidak menyenangkan ini.   Ada banyak alasan yang bisa menyebabkan kenapa perceraian bisa terjadi. Dilansir dari Prevention, meski berpisah dengan pasangannya, pria sebenarnya memiliki beberapa hal yang ingin diketahui. Yuk, coba cari tahu berikut ini:  Proses Perceraian Lebih Melelahkan Dari penelitian yang dilakukan pada pria yang bercerai, mereka mengaku bahwa mereka berharap bahwa mereka tahu seperti apa rumitnya berpisah. Ini karena ketika akhirnya bercerai dan pikiran tentang bagimana leganya ia dan mantan istri ternyata masih membawa beban berat. Meski lega, untuk mendapatkan perasaan lega itu sendiri sulit, ada banyak hal yang perlu diurus. Misalnya hak asuh, pemisahan asset, dan jika perceraian itu secara baik-baik maka tak ada masalah. Jika perceraian ternyata melibatkan emosi antara dua belah pihak, prosesnya bahkan lebih rumit dan melelahkan dibanding merencanakan pernikahan.  Tentang Perasaan yang Masih Tertinggal Pasangan yang bercerai tentu pernah mengalami manisnya cinta. Ketika akhirnya memutuskan bercerai, para pria menyadari bahwa mereka tidak yakin tentang perasaan yang mereka rasakan. Apakah rasa cinta terhadap mantan istri sudah benar-benar pudar atau masih ada meski tak sebesar dulu. Sebelum mengalami hal ini usai resmi bercerai, mereka berharap bisa mengetahui tentang kemunculan perasaan semacam ini. Mitchell W. seperti dilansir dari Prevention mengaku bahwa ia mengetahui bahwa ia dan mantan istri memang bukan pasangan yang tepat untuk satu sama lain dan kalau pun bersama, mereka tidak akan mudah merasa bahagia. Namun mengetahui bahwa mantan istrinya menemui pria lain tetap terasa seperti pukulan kecil di hatinya. “Saya juga menemui wanita lain, namun tetap saja rasanya ada yang aneh memikirkan tentang mantan istri,” ujarnya.  Tidak Yakin Apakah Bercerai Adalah Jalan Keluar Seperti layaknya menikah, ada cukup banyak pertimbangan yang dibutuhkan ketika bercerai. Terkadang ada keraguan apakah bercerai itu adalah jalan keluar terbaik atau tidak. Karena ada keraguan sehingga mengambil keputusan ini pun butuh waktu. Pria yang bercerai, dilansir dari Prevention menyatakan bahwa keraguan atas hal ini terjawab ketika akhirnya ia merasa lebih bahagia ketika bercerai. Begitu juga dengan mantan istrinya dan kini hubungan mereka justru lebih baik.  Beban Finansial Jangka Panjang Dilansir dari Prevention, seorang pria menyatakan bahwa ia ragu bisa menikah lagi karena setelah bercerai, ia memiliki cukup banyak beban keuangan. Misalnya, saja tagihan kartu kredit atas nama pribadi yang digunakan pasangan, dan ternyata pasangan itu selingkuh. Tentu saja, rasanya tidak adil utnuk membayar tagihan itu sendiri. Lalu ketika, secara hukum mantan suami harus memberikan tunjangan atau membagi harta gono gini yang entah bagaimana akan terasa tidak adil. Belum lagi biaya sewa pengacara yang jumlahnya tidak sedikit. Mungkin jika mengetahui konsekuensi tentang bercerai, akan cukup banyak orang yang berpikir dua kali untuk melakukannya.  Anak-Anak Ternyata Baik-Baik Saja Terkadang pasangan “menunda” untuk bercerai atau memilih tetap bersama demi anak-anak. Kekhawatiran untuk membuat anak-anak kecewa menjadikan pasangan enggan bercerai. Padahal, anak-anak sebenarnya meski butuh perhatian namun juga mereka juga memiliki rasa pengertian yang besar. Tumbuh sambil melihat orang tuanya hidup tidak bahagia dan selalu bertengkar justru dapat membuat anak tidak bahagia. Tidak selalu anak dari broken home itu tumbuh menjadi anak yang pasif. Meski orang tua bercerai, sebenarnya keduanya tetap bisa memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya.  Tidak Yakin Bisa Berkencan Lagi Seorang yang mengalami pengalaman buruk dalam membangun hubungan asmara, khususnya pernikahan, bisa jadi memiliki trauma. Setelah memutuskan untuk bercerai dari pasangan dan menjadi lajang kembali, keinginan untuk menjalin hubungan dengan orang lain bisa jadi butuh pertimbangan yang cukup sulit. Ini karena kebanyakan pria sebenarnya juga tidak tahu apakah ia bisa memiliki “keistimewaan” itu lagi.  Menjadi Duda Bahkan label ini akan terus terbawa hingga kapan pun. Seorang pria mengaku bahwa ia perceraian bukanlah hal yang ingin ia ceritakan kepada siapa pun. Namun teman dan bahkan orang yang dikencani terkadang memiliki ketertarikan dan keinginan untuk tahu mengenai hal ini. Tadinya, sebelum memutuskan untuk bercerai, pria tidak menganggap bahwa label tersebut “sulit” dibawa. Namun setelah menjalaninya, ternyata ada beban tak terlihat mengenai status “duda”.

Perceraian memang bukan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah dalam pernikahan. Dan tentu saja tak ada orang yang mengharapkan perceraikan setelah menikah dan menemukan orang yang tepat dalam hidupnya. Namun sayangnya, cukup banyak orang yang terjebak dalam situasi tidak menyenangkan ini.


Ada banyak alasan yang bisa menyebabkan kenapa perceraian bisa terjadi. Dilansir dari Prevention, meski berpisah dengan pasangannya, pria sebenarnya memiliki beberapa hal yang ingin diketahui. Yuk, coba cari tahu berikut ini:

Proses Perceraian Lebih Melelahkan
Dari penelitian yang dilakukan pada pria yang bercerai, mereka mengaku bahwa mereka berharap bahwa mereka tahu seperti apa rumitnya berpisah. Ini karena ketika akhirnya bercerai dan pikiran tentang bagimana leganya ia dan mantan istri ternyata masih membawa beban berat. Meski lega, untuk mendapatkan perasaan lega itu sendiri sulit, ada banyak hal yang perlu diurus. Misalnya hak asuh, pemisahan asset, dan jika perceraian itu secara baik-baik maka tak ada masalah. Jika perceraian ternyata melibatkan emosi antara dua belah pihak, prosesnya bahkan lebih rumit dan melelahkan dibanding merencanakan pernikahan.

Tentang Perasaan yang Masih Tertinggal
Pasangan yang bercerai tentu pernah mengalami manisnya cinta. Ketika akhirnya memutuskan bercerai, para pria menyadari bahwa mereka tidak yakin tentang perasaan yang mereka rasakan. Apakah rasa cinta terhadap mantan istri sudah benar-benar pudar atau masih ada meski tak sebesar dulu. Sebelum mengalami hal ini usai resmi bercerai, mereka berharap bisa mengetahui tentang kemunculan perasaan semacam ini. Mitchell W. seperti dilansir dari Prevention mengaku bahwa ia mengetahui bahwa ia dan mantan istri memang bukan pasangan yang tepat untuk satu sama lain dan kalau pun bersama, mereka tidak akan mudah merasa bahagia. Namun mengetahui bahwa mantan istrinya menemui pria lain tetap terasa seperti pukulan kecil di hatinya. “Saya juga menemui wanita lain, namun tetap saja rasanya ada yang aneh memikirkan tentang mantan istri,” ujarnya.

Tidak Yakin Apakah Bercerai Adalah Jalan Keluar
Seperti layaknya menikah, ada cukup banyak pertimbangan yang dibutuhkan ketika bercerai. Terkadang ada keraguan apakah bercerai itu adalah jalan keluar terbaik atau tidak. Karena ada keraguan sehingga mengambil keputusan ini pun butuh waktu. Pria yang bercerai, dilansir dari Prevention menyatakan bahwa keraguan atas hal ini terjawab ketika akhirnya ia merasa lebih bahagia ketika bercerai. Begitu juga dengan mantan istrinya dan kini hubungan mereka justru lebih baik.

Beban Finansial Jangka Panjang
Dilansir dari Prevention, seorang pria menyatakan bahwa ia ragu bisa menikah lagi karena setelah bercerai, ia memiliki cukup banyak beban keuangan. Misalnya, saja tagihan kartu kredit atas nama pribadi yang digunakan pasangan, dan ternyata pasangan itu selingkuh. Tentu saja, rasanya tidak adil utnuk membayar tagihan itu sendiri. Lalu ketika, secara hukum mantan suami harus memberikan tunjangan atau membagi harta gono gini yang entah bagaimana akan terasa tidak adil. Belum lagi biaya sewa pengacara yang jumlahnya tidak sedikit. Mungkin jika mengetahui konsekuensi tentang bercerai, akan cukup banyak orang yang berpikir dua kali untuk melakukannya.

Anak-Anak Ternyata Baik-Baik Saja
Terkadang pasangan “menunda” untuk bercerai atau memilih tetap bersama demi anak-anak. Kekhawatiran untuk membuat anak-anak kecewa menjadikan pasangan enggan bercerai. Padahal, anak-anak sebenarnya meski butuh perhatian namun juga mereka juga memiliki rasa pengertian yang besar. Tumbuh sambil melihat orang tuanya hidup tidak bahagia dan selalu bertengkar justru dapat membuat anak tidak bahagia. Tidak selalu anak dari broken home itu tumbuh menjadi anak yang pasif. Meski orang tua bercerai, sebenarnya keduanya tetap bisa memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya.

Tidak Yakin Bisa Berkencan Lagi
Seorang yang mengalami pengalaman buruk dalam membangun hubungan asmara, khususnya pernikahan, bisa jadi memiliki trauma. Setelah memutuskan untuk bercerai dari pasangan dan menjadi lajang kembali, keinginan untuk menjalin hubungan dengan orang lain bisa jadi butuh pertimbangan yang cukup sulit. Ini karena kebanyakan pria sebenarnya juga tidak tahu apakah ia bisa memiliki “keistimewaan” itu lagi.

Menjadi Duda
Bahkan label ini akan terus terbawa hingga kapan pun. Seorang pria mengaku bahwa ia perceraian bukanlah hal yang ingin ia ceritakan kepada siapa pun. Namun teman dan bahkan orang yang dikencani terkadang memiliki ketertarikan dan keinginan untuk tahu mengenai hal ini. Tadinya, sebelum memutuskan untuk bercerai, pria tidak menganggap bahwa label tersebut “sulit” dibawa. Namun setelah menjalaninya, ternyata ada beban tak terlihat mengenai status “duda”.

Pria Lebih Rapuh Hadapi Perceraian Dibanding Wanita

Perceraian memang bukan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah dalam pernikahan. Dan tentu saja tak ada orang yang mengharapkan perceraikan setelah menikah dan menemukan orang yang tepat dalam hidupnya. Namun sayangnya, cukup banyak orang yang terjebak dalam situasi tidak menyenangkan ini.  Ada banyak alasan yang bisa menyebabkan kenapa perceraian bisa terjadi. Dilansir dari Prevention, meski berpisah dengan pasangannya, pria sebenarnya memiliki beberapa hal yang ingin diketahui. Yuk, coba cari tahu berikut ini:  Proses Perceraian Lebih Melelahkan Dari penelitian yang dilakukan pada pria yang bercerai, mereka mengaku bahwa mereka berharap bahwa mereka tahu seperti apa rumitnya berpisah. Ini karena ketika akhirnya bercerai dan pikiran tentang bagimana leganya ia dan mantan istri ternyata masih membawa beban berat. Meski lega, untuk mendapatkan perasaan lega itu sendiri sulit, ada banyak hal yang perlu diurus. Misalnya hak asuh, pemisahan asset, dan jika perceraian itu secara baik-baik maka tak ada masalah. Jika perceraian ternyata melibatkan emosi antara dua belah pihak, prosesnya bahkan lebih rumit dan melelahkan dibanding merencanakan pernikahan.  Tentang Perasaan yang Masih Tertinggal Pasangan yang bercerai tentu pernah mengalami manisnya cinta. Ketika akhirnya memutuskan bercerai, para pria menyadari bahwa mereka tidak yakin tentang perasaan yang mereka rasakan. Apakah rasa cinta terhadap mantan istri sudah benar-benar pudar atau masih ada meski tak sebesar dulu. Sebelum mengalami hal ini usai resmi bercerai, mereka berharap bisa mengetahui tentang kemunculan perasaan semacam ini. Mitchell W. seperti dilansir dari Prevention mengaku bahwa ia mengetahui bahwa ia dan mantan istri memang bukan pasangan yang tepat untuk satu sama lain dan kalau pun bersama, mereka tidak akan mudah merasa bahagia. Namun mengetahui bahwa mantan istrinya menemui pria lain tetap terasa seperti pukulan kecil di hatinya. “Saya juga menemui wanita lain, namun tetap saja rasanya ada yang aneh memikirkan tentang mantan istri,” ujarnya.  Tidak Yakin Apakah Bercerai Adalah Jalan Keluar Seperti layaknya menikah, ada cukup banyak pertimbangan yang dibutuhkan ketika bercerai. Terkadang ada keraguan apakah bercerai itu adalah jalan keluar terbaik atau tidak. Karena ada keraguan sehingga mengambil keputusan ini pun butuh waktu. Pria yang bercerai, dilansir dari Prevention menyatakan bahwa keraguan atas hal ini terjawab ketika akhirnya ia merasa lebih bahagia ketika bercerai. Begitu juga dengan mantan istrinya dan kini hubungan mereka justru lebih baik.  Beban Finansial Jangka Panjang Dilansir dari Prevention, seorang pria menyatakan bahwa ia ragu bisa menikah lagi karena setelah bercerai, ia memiliki cukup banyak beban keuangan. Misalnya, saja tagihan kartu kredit atas nama pribadi yang digunakan pasangan, dan ternyata pasangan itu selingkuh. Tentu saja, rasanya tidak adil utnuk membayar tagihan itu sendiri. Lalu ketika, secara hukum mantan suami harus memberikan tunjangan atau membagi harta gono gini yang entah bagaimana akan terasa tidak adil. Belum lagi biaya sewa pengacara yang jumlahnya tidak sedikit. Mungkin jika mengetahui konsekuensi tentang bercerai, akan cukup banyak orang yang berpikir dua kali untuk melakukannya.  Anak-Anak Ternyata Baik-Baik Saja Terkadang pasangan “menunda” untuk bercerai atau memilih tetap bersama demi anak-anak. Kekhawatiran untuk membuat anak-anak kecewa menjadikan pasangan enggan bercerai. Padahal, anak-anak sebenarnya meski butuh perhatian namun juga mereka juga memiliki rasa pengertian yang besar. Tumbuh sambil melihat orang tuanya hidup tidak bahagia dan selalu bertengkar justru dapat membuat anak tidak bahagia. Tidak selalu anak dari broken home itu tumbuh menjadi anak yang pasif. Meski orang tua bercerai, sebenarnya keduanya tetap bisa memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya.  Tidak Yakin Bisa Berkencan Lagi Seorang yang mengalami pengalaman buruk dalam membangun hubungan asmara, khususnya pernikahan, bisa jadi memiliki trauma. Setelah memutuskan untuk bercerai dari pasangan dan menjadi lajang kembali, keinginan untuk menjalin hubungan dengan orang lain bisa jadi butuh pertimbangan yang cukup sulit. Ini karena kebanyakan pria sebenarnya juga tidak tahu apakah ia bisa memiliki “keistimewaan” itu lagi.  Menjadi Duda Bahkan label ini akan terus terbawa hingga kapan pun. Seorang pria mengaku bahwa ia perceraian bukanlah hal yang ingin ia ceritakan kepada siapa pun. Namun teman dan bahkan orang yang dikencani terkadang memiliki ketertarikan dan keinginan untuk tahu mengenai hal ini. Tadinya, sebelum memutuskan untuk bercerai, pria tidak menganggap bahwa label tersebut “sulit” dibawa. Namun setelah menjalaninya, ternyata ada beban tak terlihat mengenai status “duda”.

Pria Lebih Rapuh Hadapi Perceraian Dibanding Wanita. Kasus-kasus perceraian memang masih menjadi topik yang menarik untuk dicermati. Perceraian jelas membawa dampak yang tidak ringan pada masing-masing pasangan, maupun bagi si buah hati. Bahkan perceraian pun bisa membawa efek pada pria. Benarkah pria menjadi lebih rapuh ketika menghadapi perceraian, dibandingkan wanita?

Kabar tentang perceraian yang mengejutkan datang dari pasangan artis Gading Marten (Gading) dan Gisella Anastasia (Gisel). Pasangan yang telah menikah selama 5 tahun ini dikabarkan akan bercerai setelah Gisel melayangkan gugatan cerai kepada Gading. Masyarakat pun dibuat sedih memikirkan nasib putri cantik semata wayang Gading dan Gisel, yakni Gempita Nora Marten atau akrab disapa Gempi.

Berbagai simpati pun berdatangan keluarga kecil ini terutama bagi si kecil Gempi. Tak hanya simpati untuk Gempi, beberapa artis seperti Tompi dan Astrid Tiar turut mengunggah foto ayah Gading, Roy Marten yang tengah memeluk putranya. Foto ini dianggap turut mewakili perasaan Gading yang tengah rapuh.

Menghadapi perceraian, siapa lebih kuat?

Bagi sebagian orang, terutama wanita, pria identik dengan stereotip tidak setia, tidak bisa menjalani hubungan monogami dan tidak berperasaan saat meninggalkan istri atau pasangannya. Nyatanya menurut penelitian yang dipublikasikan di Journal of Marriage and Family, wanita cenderung lebih “kuat” setelah menghadapai perceraian dibandingkan pria.

Wanita pun lebih banyak yang mengajukan cerai dibandingkan pria, seperti yang tengah dilakukan oleh Gisel pada Gading. Selain itu menurut jurnal tersebut, pria juga cenderung lebih bahagia saat menikah dibandingkan saat melajang.

Setelah bercerai, banyak dampak yang dialami bagi pria maupun wanita. Termasuk dampaknya bagi kesehatan. Namun dari berbagai penelitian disebutkan bahwa dampak kesehatan ini lebih besar dialami oleh pria dibanding wanita. Salah satu efek negatifnya adalah terjadi perubahan gaya hidup seperti merokok atau konsumsi alkohol.

Menurut studi yang dilansir di jurnal Social Science and Medicine pada tahun 2012, saat menikah istri cenderung mengajak dan menyemangati suami untuk hidup lebih sehat, seperti berhenti merokok, berhenti mengonsumsi alkohol atau berolahraga teratur. Namun setelah bercerai, pengaruh positif dari istri tak lagi didapatkan sehingga pria cenderung akan kembali pada kebiasaan hidup yang tidak sehat.

Pria ternyata lebih emosional

Sementara itu pada penelitian lain juga disebutkan bahwa pria cenderung bergantung secara emosional dengan istrinya. Pada penelitian tersebut dilakukan survei mengenai siapa yang akan diajak berdiskusi pertama kali saat sedang sedih, kecewa, marah atau depresi. Hasilnya 71% pria memilih istrinya, sementara hanya 39% wanita memilih suaminya.

Wanita yang sudah menikah cenderung memiliki dukungan emosional lebih baik dibanding pria seperti dari keluarga atau teman terdekatnya. Namun bukan berarti pria tidak memiliki dukungan emosional dari keluarga atau teman terdekat, tetapi karena pria cenderung sulit untuk mengungkapkan perasaannya atau bercerita mengenai masalahnya dengan orang lain.

Selain itu pria yang sudah menikah juga cenderung bergantung pada istri dalam menjadi kurang mandiri dalam melakukan kegiatan tertentu seperti mengepak perlengkapan, disiapkan sarapan atau makan dan masih banyak lagi. Akibatnya saat bercerai, pria menjadi lebih rapuh karena kehilangan sosok istri tempatnya selama ini bergantung.

Oleh karena itu, menurut studi yang dilansir di British Journal of Sociologytak heran pria cenderung lebih cepat ingin menemukan partner baru atau menikah lagi dibandingkan wanita. Sementara wanita cenderung trauma untuk menikah lagi. Hal tersebut dikarenakan pria cenderung lebih bergantung secara emosional dengan pasangannya, sehingga dorongan untuk menikah lagi juga lebih besar. Bahkan disebutkan juga bahwa pria yang memiliki dukungan sosial yang rendah-baik dari teman atau keluarga – cenderung akan menikah lagi.

Berkaca dari kasus Gading dan Gisel, perceraian memang tak hanya berat untuk pria, namun juga untuk wanita. Keduanya sama-sama akan mengalami dampak kesehatan dan emosional. Namun pada beberapa sisi, efek ini lebih berat dirasakan oleh pria karena pria cenderung lebih sedikit menerima dukungan sosial dari teman atau keluarga.

Referensi : Pria Lebih Rapuh Hadapi Perceraian Dibanding Wanita



Tanda Pasangan Anda Mungkin Sedang Mempertimbangkan untuk Bercerai

Tanda Pasangan Anda Mungkin Sedang Mempertimbangkan untuk Bercerai.

Tanda Pasangan Anda Mungkin Sedang Mempertimbangkan untuk Bercerai. Prospek perceraian mungkin menakutkan tetapi prospek untuk bercerai tanpa persiapan bahkan lebih menakutkan. Inilah mengapa seorang ahli menyarankan untuk tidak mengabaikan tanda-tanda yang menunjukkan hal tersebut. Gillian Coote, Managing Partner di Coote Family Lawyers, selalu menghadapi situasi yang menantang ini. Dia telah membantu pria dan wanita menavigasi proses perceraian dan perpisahan yang menakutkan, penuh tekanan dan menyakitkan selama lebih dari 30 tahun.

Sepanjang karirnya, Coote telah menjadi ahli dalam memperhatikan tanda-tanda kecil namun bermakna bahwa satu pihak sedang mempertimbangkan perceraian.

“Sulit untuk menghadapi pikiran bahwa pasangan Anda menginginkan perpisahan,” katanya kepada Body+Soul. “Rasanya lebih mudah untuk menghindari diskusi sepenuhnya, dan berpura-pura itu tidak terjadi. Tetapi terlepas dari kesulitannya, menghadapi pasangan Anda mungkin merupakan pilihan terbaik. ”

Komunikasi adalah kuncinya. Jika Anda benar-benar ingin menyelamatkan hubungan, beri tahu pasangan Anda segera.

“Jika Anda ingin menyelamatkan hubungan Anda, semakin cepat Anda meningkatkannya, semakin baik. Ini mungkin membangun kembali koneksi dan mengarah pada diskusi tentang langkah-langkah positif berikutnya, seperti konseling hubungan.”

Tidak yakin di mana Anda berdiri dalam hubungan Anda? Berikut adalah lima tanda pasangan Anda mungkin mempertimbangkan untuk bercerai:

Prospek perceraian mungkin menakutkan tetapi prospek untuk bercerai tanpa persiapan bahkan lebih menakutkan. Inilah mengapa seorang ahli menyarankan untuk tidak mengabaikan tanda-tanda yang menunjukkan hal tersebut.

Selalu menghadapi situasi yang menantang ini. Dia telah membantu pria dan wanita menavigasi proses perceraian dan perpisahan yang menakutkan, penuh tekanan dan menyakitkan selama lebih dari 30 tahun.

Sepanjang karirnya, Coote telah menjadi ahli dalam memperhatikan tanda-tanda kecil namun bermakna bahwa satu pihak sedang mempertimbangkan perceraian.

“Sulit untuk menghadapi pikiran bahwa pasangan Anda menginginkan perpisahan,” katanya kepada Body+Soul. “Rasanya lebih mudah untuk menghindari diskusi sepenuhnya, dan berpura-pura itu tidak terjadi. Tetapi terlepas dari kesulitannya, menghadapi pasangan Anda mungkin merupakan pilihan terbaik. ”

Komunikasi adalah kuncinya. Jika Anda benar-benar ingin menyelamatkan hubungan, beri tahu pasangan Anda segera.

“Jika Anda ingin menyelamatkan hubungan Anda, semakin cepat Anda meningkatkannya, semakin baik. Ini mungkin membangun kembali koneksi dan mengarah pada diskusi tentang langkah-langkah positif berikutnya, seperti konseling hubungan.”

Tidak yakin di mana Anda berdiri dalam hubungan Anda? Berikut adalah lima tanda pasangan Anda mungkin mempertimbangkan untuk bercerai:

1. Mereka tidak berkomunikasi secara terbuka seperti dulu

Komunikasi adalah segalanya dalam sebuah hubungan. “Ketika pasangan tidak lagi mencari dukungan dari Anda, mereka menghindari komunikasi dan interaksi.”

Ini bisa berarti tidak meminta nasihat Anda, berbagi perasaan mereka atau bertanya tentang perasaan Anda.

2. Mereka sulit untuk terhubung secara emosional

Coote berkata, “Ketika seorang pasangan menjadi terlepas, mereka kehilangan minat untuk terhubung secara emosional dan tidak mau menginvestasikan waktu dan energi untuk menjaga hubungan tetap hidup. Mereka bisa terasa sangat jauh.

"Ketika ada jarak fisik dan emosional, suatu hubungan dapat memburuk dengan sangat cepat," kata Coote.

3. Anda perhatikan mereka memiliki rekening bank baru

Perceraian juga akan menandakan pemisahan keuangan. Coote mengatakan untuk melihat pengaturan bank yang diperbarui, akun baru, dan kata sandi yang diubah.

Anda bahkan mungkin memperhatikan bahwa uang telah hilang: “Banyak yang berpikir membuka rekening bank rahasia atau mentransfer sejumlah besar uang ke investasi baru adalah cara yang baik untuk mengamankan aset sebelum pemisahan.”

4. Mereka tidak ingin membicarakan keuangan atau investasi

“Biasanya merahasiakan tentang keuangan” adalah tanda peringatan besar, Coote menjelaskan, terutama jika pasangan Anda tiba-tiba tidak tertarik untuk merencanakan masa depan.

Mungkin mereka tidak ingin membahas investasi baru itu atau sudah lama tidak tertarik menabung untuk perjalanan keliling dunia itu.

5. Anda tidak tahu siapa yang selalu mereka telepon atau kirimi email

Apakah pasangan Anda menghabiskan waktu yang tidak biasa jauh dari rumah? Apakah Anda tidak tahu siapa yang selalu mereka panggil? Atau mungkin karena ponsel mereka tidak pernah lepas dari pandangan mereka? Ini bisa menjadi tanda sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dalam hubungan Anda.

Apakah tanda-tanda ini terdengar familiar? Tetap tenang dan ikuti saran Coote:

1. Jangan panik

"Jika Anda berpikir pasangan Anda sedang mempertimbangkan untuk berpisah, tetapi Anda belum berbicara, Anda mungkin tergoda untuk menyembunyikan pendapatan dan aset." Sebagai catatan, ini bukan ide yang baik, karena "meskipun penyelesaian properti dirancang untuk menjadi final, jika salah satu pihak gagal mengungkapkan aset pada saat penyelesaian disepakati, semuanya dapat dibatalkan di jalurnya."

2. Carilah nasihat hukum sejak dini

“Ada hak dan tanggung jawab hukum yang terkait dengan pemisahan dan ini penting untuk dipahami. Banyak orang merasa bersalah berbicara dengan pengacara, padahal seharusnya tidak.”

3. Jangan libatkan anak-anak Anda

“Ketika keadaan goyah, biasanya orang tua tergoda untuk menyuarakan hal-hal negatif tentang satu sama lain di hadapan anak-anak mereka dalam upaya untuk membuat mereka berpihak. Semua ini dilakukan dengan melibatkan anak dalam situasi yang bukan tanggung jawab mereka, dan menciptakan lingkungan rumah yang negatif yang dapat memiliki efek jangka panjang pada kesejahteraan dan kesehatan mental mereka.”

4. Jangan posting ke media sosial

“Jika Anda mencurigai pasangan Anda ingin berpisah, wajar saja jika Anda mengalami berbagai emosi tetapi tetap menjaga emosi Anda tetap offline. Banyak orang beralih ke media sosial untuk melampiaskan dan mencari dukungan [tetapi ini] membuka pintu air untuk komentar negatif tentang mantan Anda dan dapat berdampak pada proses perpisahan. “Apa yang Anda posting secara online dapat digunakan sebagai bukti di pengadilan.”

Referensi : Tanda Pasangan Anda Mungkin Sedang Mempertimbangkan untuk Bercerai

Tanda Pasangan Anda Mungkin Sedang Mempertimbangkan untuk Bercerai

Tanda Pasangan Anda Mungkin Sedang Mempertimbangkan untuk Bercerai. Prospek perceraian mungkin menakutkan tetapi prospek untuk bercerai tanpa persiapan bahkan lebih menakutkan. Inilah mengapa seorang ahli menyarankan untuk tidak mengabaikan tanda-tanda yang menunjukkan hal tersebut. Gillian Coote, Managing Partner di Coote Family Lawyers, selalu menghadapi situasi yang menantang ini. Dia telah membantu pria dan wanita menavigasi proses perceraian dan perpisahan yang menakutkan, penuh tekanan dan menyakitkan selama lebih dari 30 tahun.

Sepanjang karirnya, Coote telah menjadi ahli dalam memperhatikan tanda-tanda kecil namun bermakna bahwa satu pihak sedang mempertimbangkan perceraian.

“Sulit untuk menghadapi pikiran bahwa pasangan Anda menginginkan perpisahan,” katanya kepada Body+Soul. “Rasanya lebih mudah untuk menghindari diskusi sepenuhnya, dan berpura-pura itu tidak terjadi. Tetapi terlepas dari kesulitannya, menghadapi pasangan Anda mungkin merupakan pilihan terbaik. ”

Komunikasi adalah kuncinya. Jika Anda benar-benar ingin menyelamatkan hubungan, beri tahu pasangan Anda segera.

“Jika Anda ingin menyelamatkan hubungan Anda, semakin cepat Anda meningkatkannya, semakin baik. Ini mungkin membangun kembali koneksi dan mengarah pada diskusi tentang langkah-langkah positif berikutnya, seperti konseling hubungan.”

Tidak yakin di mana Anda berdiri dalam hubungan Anda? Berikut adalah lima tanda pasangan Anda mungkin mempertimbangkan untuk bercerai:

Prospek perceraian mungkin menakutkan tetapi prospek untuk bercerai tanpa persiapan bahkan lebih menakutkan. Inilah mengapa seorang ahli menyarankan untuk tidak mengabaikan tanda-tanda yang menunjukkan hal tersebut.

Gillian Coote, Managing Partner di Coote Family Lawyers, selalu menghadapi situasi yang menantang ini. Dia telah membantu pria dan wanita menavigasi proses perceraian dan perpisahan yang menakutkan, penuh tekanan dan menyakitkan selama lebih dari 30 tahun.

Sepanjang karirnya, Coote telah menjadi ahli dalam memperhatikan tanda-tanda kecil namun bermakna bahwa satu pihak sedang mempertimbangkan perceraian.

“Sulit untuk menghadapi pikiran bahwa pasangan Anda menginginkan perpisahan,” katanya kepada Body+Soul. “Rasanya lebih mudah untuk menghindari diskusi sepenuhnya, dan berpura-pura itu tidak terjadi. Tetapi terlepas dari kesulitannya, menghadapi pasangan Anda mungkin merupakan pilihan terbaik. ”

Komunikasi adalah kuncinya. Jika Anda benar-benar ingin menyelamatkan hubungan, beri tahu pasangan Anda segera.

“Jika Anda ingin menyelamatkan hubungan Anda, semakin cepat Anda meningkatkannya, semakin baik. Ini mungkin membangun kembali koneksi dan mengarah pada diskusi tentang langkah-langkah positif berikutnya, seperti konseling hubungan.”

Tidak yakin di mana Anda berdiri dalam hubungan Anda? Berikut adalah lima tanda pasangan Anda mungkin mempertimbangkan untuk bercerai:

1. Mereka tidak berkomunikasi secara terbuka seperti dulu

Komunikasi adalah segalanya dalam sebuah hubungan. “Ketika pasangan tidak lagi mencari dukungan dari Anda, mereka menghindari komunikasi dan interaksi.”

Ini bisa berarti tidak meminta nasihat Anda, berbagi perasaan mereka atau bertanya tentang perasaan Anda.

2. Mereka sulit untuk terhubung secara emosional

Coote berkata, “Ketika seorang pasangan menjadi terlepas, mereka kehilangan minat untuk terhubung secara emosional dan tidak mau menginvestasikan waktu dan energi untuk menjaga hubungan tetap hidup. Mereka bisa terasa sangat jauh.

"Ketika ada jarak fisik dan emosional, suatu hubungan dapat memburuk dengan sangat cepat," kata Coote.

3. Anda perhatikan mereka memiliki rekening bank baru

Perceraian juga akan menandakan pemisahan keuangan. Coote mengatakan untuk melihat pengaturan bank yang diperbarui, akun baru, dan kata sandi yang diubah.

Anda bahkan mungkin memperhatikan bahwa uang telah hilang: “Banyak yang berpikir membuka rekening bank rahasia atau mentransfer sejumlah besar uang ke investasi baru adalah cara yang baik untuk mengamankan aset sebelum pemisahan.”

4. Mereka tidak ingin membicarakan keuangan atau investasi

“Biasanya merahasiakan tentang keuangan” adalah tanda peringatan besar, Coote menjelaskan, terutama jika pasangan Anda tiba-tiba tidak tertarik untuk merencanakan masa depan.

Mungkin mereka tidak ingin membahas investasi baru itu atau sudah lama tidak tertarik menabung untuk perjalanan keliling dunia itu.

5. Anda tidak tahu siapa yang selalu mereka telepon atau kirimi email

Apakah pasangan Anda menghabiskan waktu yang tidak biasa jauh dari rumah? Apakah Anda tidak tahu siapa yang selalu mereka panggil? Atau mungkin karena ponsel mereka tidak pernah lepas dari pandangan mereka? Ini bisa menjadi tanda sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dalam hubungan Anda.

Apakah tanda-tanda ini terdengar familiar? Tetap tenang dan ikuti saran Coote:

1. Jangan panik

"Jika Anda berpikir pasangan Anda sedang mempertimbangkan untuk berpisah, tetapi Anda belum berbicara, Anda mungkin tergoda untuk menyembunyikan pendapatan dan aset." Sebagai catatan, ini bukan ide yang baik, karena "meskipun penyelesaian properti dirancang untuk menjadi final, jika salah satu pihak gagal mengungkapkan aset pada saat penyelesaian disepakati, semuanya dapat dibatalkan di jalurnya."

2. Carilah nasihat hukum sejak dini

“Ada hak dan tanggung jawab hukum yang terkait dengan pemisahan dan ini penting untuk dipahami. Banyak orang merasa bersalah berbicara dengan pengacara, padahal seharusnya tidak.”

3. Jangan libatkan anak-anak Anda

“Ketika keadaan goyah, biasanya orang tua tergoda untuk menyuarakan hal-hal negatif tentang satu sama lain di hadapan anak-anak mereka dalam upaya untuk membuat mereka berpihak. Semua ini dilakukan dengan melibatkan anak dalam situasi yang bukan tanggung jawab mereka, dan menciptakan lingkungan rumah yang negatif yang dapat memiliki efek jangka panjang pada kesejahteraan dan kesehatan mental mereka.”

4. Jangan posting ke media sosial

“Jika Anda mencurigai pasangan Anda ingin berpisah, wajar saja jika Anda mengalami berbagai emosi tetapi tetap menjaga emosi Anda tetap offline. Banyak orang beralih ke media sosial untuk melampiaskan dan mencari dukungan [tetapi ini] membuka pintu air untuk komentar negatif tentang mantan Anda dan dapat berdampak pada proses perpisahan. “Apa yang Anda posting secara online dapat digunakan sebagai bukti di pengadilan.”

Referensi : Tanda Pasangan Anda Mungkin Sedang Mempertimbangkan untuk Bercerai



Kisah Wanita Ajak Rujuk Mantan Suami Usai 10 Tahun Cerai

Kisah Wanita Ajak Rujuk Mantan Suami Usai 10 Tahun Cerai

Kisah Wanita Ajak Rujuk Mantan Suami Usai 10 Tahun Cerai. Kisah cinta
 setiap orang memiliki ceritanya masing-masing. Ada yang berjalan mulus hingga menikah, ada pula yang harus merasakan rintangan meski telah berstatus suami istri.

Ketika telah menikah pun tak sedikit pasangan yang dihadapi berbagai masalah hingga akhirnya memutuskan untuk bercerai. Meski telah berpisah, bukan berarti tak ada kemungkinan untuk rujuk kembali. Seperti yang dialami oleh mantan suami istri berikut ini.

Seorang wanita membagikan kisah rumah tangganya lewat akun TikTok miliknya. Dalam video yang ia unggah, dirinya curhat bagaimana bisa rujuk kembali dengan mantan suami usai bercerai selama 10 tahun.

Wanita asal Malaysia bernama Ieyya itu turut menyematkan isi chat mereka. Memperlihatkan bagaimana respons sang mantan suami yang justru tak terduga. Sontak video itu pun ramai disorot warganet hingga viral di media sosial.

wanita Malaysia bernama Ieyya, mengaku telah 10 tahun ini bercerai dari mantan suaminya. Meski begitu ia setia menunggu jika mantan suami ingin kembali kepadanya.

"Setelah 10 tahun cerai, dan akhirnya aku putuskan ajak dia kawin lagi.. Maaf dan terimakasih meski 10 kali aku buang kamu dalam hidupku tapi sampai sekarang kamu masih menungguku," tulis Ieyya.

Meski telah satu dekade berlalu, sang suami rupanya belum juga memperlihatkan tanda-tanda untuk kembali padanya. Akhirnya, Ieyya memberanikan diri untuk menghubungi sang mantan suaminya melalui WhatsApp.

Melalui via WhatsApp, Ieyya awalnya ingin membicarakan hal serius usai sang mantan suami pulang bekerja. Dengan gaya serius, wanita berhijab ini mengatakan bahwa ada sesuatu tentang hidup mati yang ingin dibicarakan.

Awalnya sang mantan suami menanggapi pesan Ieyya dengan nada bercanda. Namun setelah Ieyya mengatakan kalau dia serius, sang mantan suami pun siap mendengarkan.

Tanpa basa basi, Ieyya langsung mengutarakan niatnya untuk menikah lagi dengan mantan suaminya itu. Awalnya sang mantan suami tampak ragu. Lantaran masih teringat masa lalunya ketika berumah tangga dengan Ieyya.

Jawaban Tak Terduga Mantan Suami

Untuk membuktikan kesungguhannya, Ieyya bahkan siap mencetak formulir pernikahan dan mengisinya saat itu juga. Setelah membaca chat Ieyya yang berniat sungguh-sungguh untuk rujuk, tak terduga mantan suaminya menyetujuinya. Selain masih ada rasa cinta, ia juga memikirkan tentang anak-anak mereka.

"Aku tanya lagi jawab lah. Aku betul-betul ini, tidak main-main. Kalau tak mau bilang saja," tulis Ieyya dalam chat.

"Hmmm.. untuk anak-anak. Tapi kau masih cinta aku nggak, takut nanti buyar lagi. Nanti ada yang marah lagi," jawab mantan suami.

"Nggak lah, kalau ada orang lain nggak mungkin aku masih mencari-cari kamu," balas Ieyya.


Prosedur Berperkara Tingkat Pertama

Prosedur Berperkara Tingkat Pertama


Prosedur Berperkara Cerai Gugat

  1. Penggugat mengajukan gugatan secara tertulis atau lisan ke Pengadilan Agama.
  2. Dalam surat gugatan berisi identitas Penggugat, meliputi nama, umur, pekerjaan dan tempat tinggal Penggugat, kemudian posita yaitu fakta kejadian dan fakta hukum, dan petitum yaitu hal-hal yang dituntut penggugat berdasarkan posita.
  3. Gugatan penguasaan anak, nafkah anak, hadhanah, nafkah isteri dan harta bersama dapat diajukan bersama-sama dengan gugatan perceraian.
  4. Membayar panjar biaya perkara melalui Bank dan bagi yang tidak mampu/miskin, dapat berperkara secara prodeo/Cuma-Cuma.
  5. Setelah perkaranya didaftarkan di Pengadilan Agama, kemudian Penggugat dan Tergugat dipanggil untuk menghadiri sidang, sekurang-kurangnya 3 hari kerja sebelum sidang dilaksanakan, panggilan disampaikan oleh juru sita dan disampaikan ke alamat penggugat dan tergugat, namun jika saat dipanggil penggugat/tergugat tidak berada ditempat/sedang keluar, panggilan disampaikan melalui Lurah/Kepala Desa. Khusus apabila tergugat ghaib, panggilan kepada tergugat dilakukan melalui pengumuman di radio, antara pengumuman pertama dengan pengumuman kedua berjarak 1 bulan, dan antara pengumuman kedua dengan hari sidang dengan jarak sekurang-kurangnya 3 bulan.
  6. Pada saat persidangan, diupayakan perdamaian dan dilanjutkan dengan mediasi jika penggugat dan tergugat hadir. Apabila terjadi damai, perkara dicabut.
  7. Putusan Pengadilan Agama adakalanya dikabulkan apabila gugatan terbukti, ditolak jika tidak terbukti dan  tidak dapat diterima kalau gugatan kabur, kemudian begitu putusan dijatuhkan, penggugat dapat lansung mengambil sisa panjar biaya perkara jika masih ada.
  8. Setelah putusan dijatuhkan dan berkekuatan hukum, Penggugat dan Tergugat dapat mengambil Akte Cerai secara langsung, atau melalui kuasa dengan sayarat ada surat kuasanya khusus untuk pengambilan Akta  Cerai tersebut.
prosedur Berperkara Cerai Talak
  1. Mengajukan surat permohonan pemohon yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Agama, boleh dilakukan dengan tertulis maupun dengan lisan.
  2. Surat permohonan pemohon berisi identitas pemohon dan termohon meliputi nama, umur, pekerjaan dan tempat tinggal, posita yaitu gambaran peristiwa hukum/fakta kejadian dan fakta hukum, kemudian petitum yaitu apa yang diminta pemohon,  berdasarkan posita.
  3. Permohonan penguasaan anak/hadhanah, nafkah anak, dan pembagian harta bersama dapat  diajukan bersama-sama dengan permohonan perceraian.
  4. Membayar panjar biaya perkara melalui Bank yang besarnya sesuai dengan taksiran Meja 1 seperti yang tersebut dalam SKUM, jika tidak mampu/miskin dapat mengajukannya secara Cuma-Cuma/prodeo dengan melampirkan surat keterangan tidak mampu dari Kepala Desa yang diketahui oleh Camat setempat.
  5. Setelah perkara didaftarkan di Pengadilan Agama, kemudian pemohon tinggal menunggu panggilan sidang. Panggilan dilakukan oleh juru sita kealamat pemohon dan termohon sekurang-kurangnya 3 hari kerja sebelum sidang. Jika pemohon/termohon tidak  berada ditempat, panggilan disampaikan melalui Lurah/Kepala Desa setempat,  Jika termohonnya beralamat  diluar wilayah yuridiksi Pengadilan Agama tempat pemohon mengajukan permohonan, maka panggilan dilakuan  dengan meminta bantuan melalui Pengadilan Agama dimana wilayah tempat tinggal termohon berada. Kemudian jika termohonnya ghaib, panggilan dilakukan melalui pengumuman diradio, dengan ketentuan antara pengumuman pertama dengan pengumunan kedua jaraknya 1 bulan, dan atara pengumuman kedua dengan hari sidangnya sekurang-kurangnya 3 bulan. Jika termohonnya berada diluar negeri, panggilan dilakukan melalui kedutaan RI di luar negeri, dengan ketentuan antara panggilan sidang dengan hari sidangnya sekurang-kurangnya 6 bulan.
  6. Dalam pemeriksaan perkara, dilakukan upaya perdamaian dan mediasi jika kedua belah pihak hadir.
  7. Setelah pemeriksaan perkara selesai, putusan dijatuhkan mungkin dalam putusan itu  bisa dikabulkan, ditolak atau tidak dapat diterima.
  8. Apabila putusan izin ikrar dijatuhkan dan sudah berkekuatan hukum tetap, Pengadilan Agama menetapkan Majelis Hakim yang akan melanjutkan sidang pengucapan ikrar talak, dan Ketua Majelis memerintahkan kepada juru sita untuk memanggil pemohon dan termohon agar hadir pada persidangan pengucapan ikrar talak tersebut. Panggilan dilakukan 3 hari kerja sebelum sidang dilaksanakan. Apabila pemohon tidak hadir pada persidangan ikrar talak tersebut, dan tidak melapor ke Pengadilan  Agama  sampai 6 bulan, maka menjadi gugur kekkuatan hukum putusan izin ikrar talak itu, dan pemohon dan termohon tetap suami isteri.
  9. Apabila pemohon hadir dan mengucapkan ikrar talak di sidang pengadilan itu, maka pada hari itu juga akta cerainya dapat diambil, dan  sisa panjar biaya perkara jika ada,  dapat pula  langsung mengambilnya dengan kasir.
  10. Prosedur Berperkara Harta Bersama
  11. Pihak berperkara datang ke Pengadilan Agama dengan membawa surat gugatan harta bersama yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan.
  12. Penggugat membayar biaya perkara ke Bank yang jumlahnya sesuai dengan taksiran Meja I seperti tersebut dalam SKUM, kemudian menyerahkan surat gugatan yang disertai  bukti  slip pembayaran tersebut kepada petugas meja 1 untuk didaftarkan dalam buku register perkara.  Bagi Penggugat yang tidak mampu/miskin dapat mengajukan gugatan secara Cuma-Cuma/prodeo, dengan syarat melengkapi surat keterangan tidak mampu dari Lurah/Kepala Desa  dan diketahui oleh Camat setempat.
  13. Dalam suarat gugatan harta bersama itu harus dijelaskan  objek yang menjadi sengketa , seperti ukuran dan batas-batasnya jika objek itu berupa tanah, merek, kode/tahun pembuatan jika barang digugat berupa mobil/sepeda motor atau barang elektronik, dan kalau perlu dilengkapi warna  dan lain-lain.
  14. Setelah gugatan didaftarkan, penggugat  dan tergugat tinggal menunggu panggilan sidang. Panggilan sidang nanti akan disampaikan oleh juru sita kealamat penggugat dan tergugat paling lama 3 hari kerja sebelum sidang dilaksanakan.
  15. Dalam  persidangan diupayakan perdamaian dan dilanjutkan dengan mediasi bagi kedua belah pihak yang hadir dimuka sidang. Penggugat dan tergugat bebas memilih hakim mediator atau pihak lain yang sudah punya sertifikasi sebagai mediator, dan biayanya menggunakan  mediator dari luar ditanggung sepenuhnya oleh penggugat.
  16. Pengajuan gugatan harta bersama ini atau dalam persidangan,  pihak penggugat atau tergugat dapat menggunakan jasa pengacara/advokat atau kuasa insidentil.
  17. Proses sidang, dimulai dari upaya perdamaian, pembacaaan gugatan, jawaban tergugat, replik penggugat, duplik tergugat, pembuktian yang dilanjutkan dengan pemeriksaan setempat, kesimpulan, musyawarah majelis dan putusan.
Prosedur Berperkara Gugatan Waris

  1. Gugatan waris diajukan ke Pengadilan Agama oleh penggugat selaku ahli waris dan dapat pula  mengguganakan jasa pengacara/advokat atau kuasa insidentil. Jika menggunakan kuasa insidentil, terlebih dahulu harus mengajukan permohonan  kepada Ketua Pengadilan Agama untuk menjadi kuasa insidentil, kemudian Ketua Pengadilan mengeluarkan surat izinnya.
  2. Pengajuan gugatan waris disertai dengan bukti  kematian pewaris dari Lurah/Kepala Desa dan silsilah ahli warisnya dan dipersiapkan pula dokumen bukti-bukti kepemilikan objek sengketa seperti sertifikat, akta jual beli, dan bukti kepemilikan lainnya.
  3. Dalam surat gugatan harus memuat secara lengkap objek-objek sengketa mengenai ukuran dan batas-batasnya tanah, merek dan tahun pembuatan dan kalau perlu dengan warnanya jika objeknya berupa mobil/Sepeda motor atau barang-barang elektronik.
  4. Pengujuan gugatan waris diajukan ke Pengadilan Agama  yang daerah hukumnya meliputi letak barang tetap  (objek sengketa) itu berada, kecuali barang-barang sengketa itu menyebar kepada beberapa wilayah Pengadilan Agama, maka penggugat dapat memilih salah satunya Pengadilan Agama dimana objek sengketa waris itu berada.
  5. Penggugat membayar panjar biaya perkara melalui Bank dan jumlahnya sesuai dengan taksiran meja 1 (SKUM) yang didasarkan pada PP 53 tahun 2008 dan Surat Keputusan Ketua Pengadilan Agama tentang panjar biaya perkara. Bagi yang tidak mampu/miskin dapat mengajukan gugatan waris secara cuma-Cuma/prodeo, dengan melampirkan surat keterangan tidak mampu dari Lurah atau Kepala Desa setempat yang diketahui oleh camat.
  6. Setelah gugatan didaftarkan di Pengadilan Agama, penggugat/kuasanya tinggal menuggu panggilan sidang yang disampaikan oleh juru sita. Panggilan disampaikan minimal 3 hari kerja sebelum sidang dilaksanakan.Proses sidang dimulai dari upaya perdamaian dan dilanjutkan dengan mediasi jika para pihak hadir dipersidangan. Dalam mediasi, para pihak bebas memilih mediator apakah berasal dari hakim atau pihak lain yang sudah memiliki sertifikat mediasi, dan segala biaya pengeluaran mediasi ditanggung oleh penggugat atau kedua belah pihak jika terdapat kesepakatan dengan tergugat.  Namun apabila  mengguganakan hakim mediator  tidak dipungut biaya.
  7. Proses sidang dimulai dari upaya perdamaian dan dilanjutkan dengan mediasi jika para pihak hadir dipersidangan. Dalam mediasi, para pihak bebas memilih mediator apakah berasal dari hakim atau pihak lain yang sudah memiliki sertifikat mediasi, dan segala biaya pengeluaran mediasi ditanggung oleh penggugat atau kedua belah pihak jika terdapat kesepakatan dengan tergugat.  Namun apabila  mengguganakan hakim mediator  tidak dipungut biaya.
  8. Setelah proses mediasi dilaksanakan, dan ternyata damai, maka dibuatkan akte perdamaian yang dikuatkan dalam putusan  majelis hakim yang bersangkutan. Namun jika tidak terjadi damai, pemeriksaan gugatan dilanjutkan dengan pembacaan gugatan, jawaban tergugat, replik penggugat, duplik tergugat, pembuktian yang dilanjutkan dengan pemeriksaan setempat, kesimpulan, musyawarah majelis dan putusan.

Prosedur Berperkara Itsbat Nikah (Voluntair)

  1. Permohonan isbat nikah dapat di ajukan oleh suami isteri, atau salah satunya, anak, wali nikah, atau pihak lain yang berkepentingan yang ditujukan kepada Pengadilan Agama yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman pemohon.
  2. Pengajuan isbat nikah dapat diajukan bersama-sama dengan gugatan/permohonan perceraian.  Permohonan isbat nikah adalah termasuk perkara voluntair, tetapi jika salah seorang suami atau isteri meninggal dunia, maka permohonan perkara isbat nikah seperti ini termasuk kontentius, dan semua ahli warisnya harus dijadikan “pihak”.Permohonan penguasaan anak/hadhanah, nafkah anak, dan pembagian harta bersama dapat  diajukan bersama-sama dengan permohonan perceraian.
  3. Pihak Pemohon yang mengajukan isbat nikah, terlebih dahulu harus membayar panjar biaya perkara melaui Bank yang jumlahnya sesuai dengan taksiran meja 1 seperti tersebut dalam SKUM. Bagi yang tidak mampu membayar biaya perkara, dapat mengajukannya dengan Cuma-Cuma/prodeo.
  4. Setelah pembayaran panjar biaya perkara dilakukan, kemudian pemohon mendaftarkan perkaranya ke Pengadilan Agama dengan melampirkan bukti slip pembayarkan lewat  Bank tersebut, dan selanjutnya pemohon pulang dan menunggu panggilan sidang.
  5. Ketua Pengadilan Agama, membuatkan PMH dan majelis hakim yang ditetapkan harus segera membuatkan PHS/ penetapan hari sidang, yang sebelumnya diumumkan dalam waktu 14 hari melalui radio. Dan setelah 14 hari  diumumkan itu, baru sidang dapat dilakukan, dan pemohon dipanggil oleh juru sita untuk menghadiri sidang itu,  minimal 3 hari kerja sebelum  sidang  dilaksanakan.
  6. Jika permohonan dikabulkan, Pengadilan Agama akan mengeluarkan Penetapan,  salinan penetapan ini dapat diambil dalam jangka waktu setelah 14 hari dari sidang pembacaan penetapat tersebut/sidang berakhir.
  7. Salinan Penetapan dapat diambil sendiri atau mewakilkan kepada orang lain dengan surat kuasa, dan selanjutnya salinan penetapan ini dibawa dan diserahkan kepada Kantor KUA tempat tinggal pemohon, untuk dicatatkan dalam register dan menggantikannya dengan Buku Nikah.

Bikin Kesehatan Mental Anak Jadi Lebih Baik

Lakukan hal-hal ini setiap hari untuk membuat mental anak lebih sehat. Dengan menjaga kesehatan mentalnya, berarti Moms dan Dads juga menjaga masa depan Si Kecil.

Bikin Kesehatan Mental Anak Jadi Lebih Baik. Jika ditanya bagaimana cara menjaga kesehatan fisik anak, mungkin banyak sekali Moms dan dads yang dapat menjawabnya secara cepat. Namun, bagaimana cara membuat mental anak lebih sehat?

Dikutip dari Mental Health Foundation, nyatanya masalah kesehatan mental memengaruhi sekitar 1 dari 10 anak-anak dan remaja.

Hal ini termasuk masalah depresi, kegelisahan dan gangguan perilaku, dan sering kali merupakan respons langsung terhadap apa yang terjadi dalam hidup mereka.

Seberapa Umum Masalah Kesehatan Mental Anak Terjadi

Masalah kesehatan mental ini termasuk Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), kecemasan, depresi, gangguan makan, dan ketidakmampuan belajar. Masalah kesehatan mental memang dapat terjadi pada usia berapa pun, namun ini berisiko lebih tinggi jika terjadi pada usia anak.

Hal ini juga didukung dengan pendapat Mark D. Peterson, PhD, seorang profesor kedokteran di University of Michigan, Ann Arbor.

"Sekitar 7,7 juta anak di Amerika, atau sekitar 16,5%, memiliki setidaknya satu dari gangguan mental. Dari 16,5% tersebut, hampir 50% tidak mendapatkan perawatan," kata Peterson.

Kebiasaan Ini Membuat Mental Anak Lebih Sehat

Agar Si Kecil memiliki kesehatan mental yang baik, Moms dan Dads tak perlu bingung.

Terdapat beberapa hal sederhana yang bisa Moms dan Dads lakukan setiap hari bersama anak untuk membuat mental anak lebih sehat.

1. Bangun Hubungan yang Baik Dengannya

Hubungan yang kuat antara orang tua dan anak adalah pondasi yang paling kuat dalam membuat mental anak lebih sehat.

Mulailah dengan menghabiskan waktu bersama setiap hari. Mulai dari sarapan bersama, berkeliling rumah di sore hari, hingga menemaninya tidur.

Orang yang konsisten hadir dalam hidupnya, akan memberikan dampak yang besar. Tunjukkan kepada Si Kecil cara mengatasi masalah yang sedang ia hadapi.

2. Berikan Pelukan dan Ciuman

Mungkin ini adalah hal yang biasa Moms dan Dads berikan pada Si Kecil. Tapi, hal biasa ini memiliki efek yang luar biasa untuk membangun rasa percaya diri serta kesehatan mental yang kuat.

Tunjukkan banyak cinta dan penerimaan, puji saat mereka berhasil. Kenali upaya mereka dan juga apa yang mereka capai.

Ajukan pertanyaan tentang aktivitas dan minat mereka. Bantu mereka dalam mengambil keputusan.

3. Dengarkan dan Hormati Perasaan Mereka

Saat Si Kecil merasa sedih atau marah, ajak mereka untuk menceritakan apa yang sedang mereka rasakan.

Ajukan pertanyaan untuk menjaga percakapan dengan anak. Katakan pada mereka kalau Moms dan Dads mengerti apa yang mereka rasakan.

4. Ciptakan Rasa Aman

Saat membahas masalah yang cukup serius, ada baiknya tidak dilakukan di depan Si Kecil.

Sebab, tanpa Moms dan Dads sadari Si Kecil bisa merasakan kekhawatiran dan kecemasan yang orang tuanya rasakan. Ingatlah untuk menjaga kesehatan mental Moms dan Dads sendiri, ya.

5. Bangun Kebiasaan-kebiasaan Positif

Salah satu yang bisa Moms dan Dads lakukan adalah berolahraga.

Para ahli mengatakan aktivitas fisik memungkinkan anak-anak untuk memiliki pandangan yang lebih baik tentang kehidupan dengan membangun kepercayaan diri, mengelola kecemasan dan depresi, dan meningkatkan harga diri dan keterampilan kognitif.

"Dengan berolah raga, anak juga melepaskan endorfin yang memiliki korelasi dengan kebahagiaan anak," kata Len Saunders, pendidik kesehatan fisik, dan penulis "Keeping Kids Fit".

Lakukan hal-hal ini setiap hari untuk membuat mental anak lebih sehat. Dengan menjaga kesehatan mentalnya, berarti Moms dan Dads juga menjaga masa depan Si Kecil.