This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 25 Agustus 2022

Hal yang Harus Dilakukan Orang Tua Ketika Anak Depresi

Bikin Kesehatan Mental Anak Jadi Lebih Baik

Setelah mengetahui tanda depresi pada anak, berikut beberapa tips yang bisa Moms lakukan untuk menangani anak yang sedang depresi, antara lain:

1. Berbicara dengan Anak

Bicarakan dengan anak rasa sedih dan depresi yang dirasakan. Anak-anak mungkin tidak tahu mengapa mereka begitu sedih dan mengapa segalanya tampak begitu sulit.

Beritahu mereka bahwa sebagai orang tua, Moms dan Dads hadir untuk membantu dan memberi kenyamanan.

Dengarkan, hibur, dan tawarkan dukungan kepada anak, serta tunjukkan rasa cinta kepada mereka.

2. Mengunjungi Dokter Ahli

Setelah mendapati beberapa gejala depresi pada anak, Moms bisa segera membawa Si Kecil ke dokter ahli untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Pada awal pertemuan, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik.

Melakukan pemeriksaan kesehatan secara lengkap dapat memberi dokter hasil diagnosis yang bisa jadi menunjukkan adanya gangguan kesehatan dari gejala yang dialami anak.

Bila tidak ditemukan adanya gangguan pada fisik tubuh, maka biasanya dokter akan merujuk pasien ke terapis anak.

3. Mengunjungi Terapis Anak

Terapis anak (psikiater atau psikolog) biasanya akan melakukan pemeriksaan dengan berbicara pada anak dan orang tua.

Mereka akan melakukan pemeriksaan mendalam terkait depresi dengan mengajukan bebeapa pertanyaan.

Psikolog dapat menjelaskan terapi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan anak.

4. Tetap Bersabar

Ketika Si Kecil tiba-tiba kelihatan murung atau menunjukkan gejala lainnya, cobalah untuk tetap bersabar.

Bicarakan dengan psikolog anak tentang cara terbaik atau tindakan tepat yang harus dilakukan ketika berada dalam kondisi tersebut.

Selain itu, Anda bisa mencoba mengajak anak menghabiskan waktu dengan melakukan kegiatan seru bersama, seperti jalan-jalan, main game, menonton film lucu, dan lain-lain.

Itulah beberapa hal yang membuat anak depresi karena orang tua, serta cara menghadapinya.

Bagi para orang tua di luar sana, semoga tidak melakukan hal-hal di atas ya! Atau jika sudah telanjur melakukannya, segera hentikan kebiasaan tersebut.

Namun, jika Moms dan Dads merasa kebingungan dalam menangani anak-anak, cobalah lakukan konsultasi pada seseorang yang profesional atau psikolog.

Di situ, Moms dan Dads bisa mengetahui secara rinci segala hal tentang ilmu parenting dan membantu menangani masalah yang sering kali para orang tua alami saat mendidik anak.

Yang terpenting adalah belajar dari kesalahan. Setelah menyadarinya, orang tua dapat mencegah anak-anak dari penderitaan psikologis.

Jangan sampai mental anak hancur karena orang tuanya, ya Moms dan Dads!

Semoga Moms dan Dads dapat memberi Si Kecil masa kanak-kanak terbaik yang berpengaruh hingga dewasa nanti.

Ciri-Ciri Anak Depresi Karena Orang Tua

Jika anak memang mengalami depresi, Moms bisa memperhatikan gejala atau tandanya terlebih dahulu.  Dilansir dari Kidshealth.org, berikut beberapa tanda anak yang depresi, yaitu:  1. Suasana hati Sedih atau Buruk Salah satu tanda depresi anak dapat dilihat secara langsung, apakah anak tampak sedih, kesepian, mudah menangis, kesal, hingga mengamuk.  Keadaan tersebut bisa berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.  "Gejalanya dapat mengganggu kinerja di tempat kerja atau sekolah, di rumah, dan hubungan (termasuk hubungan keluarga).  Ketika gejalanya mengganggu selama dua minggu atau lebih, hal tersebut sudah termasuk masalah medis serius yang perlu diberi pertolongan," jelas dr. Christine Crawford, MD, MPH, Associate Medical Director di NAMI (National Alliance on Mental Illness), Amerika Serikat, dilansir dari Good Housekeeping.  2. Tidak Berenergi Depresi bisa menguras energi anak. Anak-anak mungkin akan menjadi tampak lelah, mudah menyerah, dan tidak ingin berusaha.  Anak dapat menjadi malas ke sekolah atau bahkan untuk melakukan tugas-tugas kecil sangat sulit mereka lakukan.  3. Perubahan Nafsu Makan dan Jam Tidur Pada beberapa kasus, anak-anak dapat kehilangan nafsu makan atau sebaliknya.  Depresi juga dapat membuat anak mengalami tidur yang tidak nyenyak hingga kesulitan untuk tidur.  4. Sakit Depresi yang dialami anak bisa memberi dampak pada tubuh Si Kecil. Mereka dapat tiba-tiba merasakan nyeri pada perut, atau merasa tidak enak badan.

Jika anak memang mengalami depresi, Moms bisa memperhatikan gejala atau tandanya terlebih dahulu.

Dilansir dari Kidshealth.org, berikut beberapa tanda anak yang depresi, yaitu:

1. Suasana hati Sedih atau Buruk

Salah satu tanda depresi anak dapat dilihat secara langsung, apakah anak tampak sedih, kesepian, mudah menangis, kesal, hingga mengamuk.

Keadaan tersebut bisa berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

"Gejalanya dapat mengganggu kinerja di tempat kerja atau sekolah, di rumah, dan hubungan (termasuk hubungan keluarga).

Ketika gejalanya mengganggu selama dua minggu atau lebih, hal tersebut sudah termasuk masalah medis serius yang perlu diberi pertolongan," jelas dr. Christine Crawford, MD, MPH, Associate Medical Director di NAMI (National Alliance on Mental Illness), Amerika Serikat, dilansir dari Good Housekeeping.

2. Tidak Berenergi

Depresi bisa menguras energi anak. Anak-anak mungkin akan menjadi tampak lelah, mudah menyerah, dan tidak ingin berusaha.

Anak dapat menjadi malas ke sekolah atau bahkan untuk melakukan tugas-tugas kecil sangat sulit mereka lakukan.

3. Perubahan Nafsu Makan dan Jam Tidur

Pada beberapa kasus, anak-anak dapat kehilangan nafsu makan atau sebaliknya.

Depresi juga dapat membuat anak mengalami tidur yang tidak nyenyak hingga kesulitan untuk tidur.

4. Sakit

Depresi yang dialami anak bisa memberi dampak pada tubuh Si Kecil. Mereka dapat tiba-tiba merasakan nyeri pada perut, atau merasa tidak enak badan.

10 Penyebab Anak Depresi Karena Orang Tua serta Cara Menanganinya

10 Penyebab Anak Depresi Karena Orang Tua serta Cara Menanganinya

10 Penyebab Anak Depresi Karena Orang Tua serta Cara Menanganinya. Sangat mungkin anak depresi karena orang tua, jika kita sebagai orang tua melakukan hal yang membuatnya stres dan melukai batinnya.  Karena itu, setiap orang tua perlu berhati-hati dalam berucap dan bertindak kepada anak. Lingkungan utama yang membentuk karakter seseorang adalah keluarga. Oleh karena itu, pola asuh orang tua sangat berpengaruh pada perkembangan anak da n membentuk karakter sampai mereka tumbuh dewasa.

Kebanyakan orang tua tidak acuh terhadap dampak yang terjadi apabila perilaku atau perkataan mereka bisa saja menyakiti hati sang buah hati dan membuatnya merasa tertekan. Baik disadari atau tidak, ada saja perilaku orang tua yang mengganggu psikologi anak ternyata pernah kita lakukan. 

Anak depresi karena orang tua bisa terbentuk karena perilaku orang tua yang seringkali membanding-bandingkan.

Disadari atau tidak, masih banyak orang tua yang sering membandingkan anaknya dengan anak orang lain ataupun dengan saudara kandungnya sendiri, entah kakak atau adiknya.

Hal ini disebut favoritisme. Favoritisme merupakan sesuatu yang sering terjadi dalam keluarga.

Ini bisa terjadi dan dilakukan secara sengaja atau terkadang pada beberapa orang tua bahkan tidak menyadari bahwa mereka memperlakukan satu anak dengan lebih baik dibandingkan lainnya.

Bila Si Kecil dibandingkan terus-menerus dengan orang lain, hal tersebut dapat membuat mereka berpikir bahwa keberadaan mereka tidak terlalu penting.

Anak mungkin juga akan berpikir bahwa mereka tidak dapat memenuhi standar yang tinggi, dan merasa keluarganya dapat merasa lebih bahagia tanpa mereka.

Perasaan tidak berharga dan rendah diri tersebut tidak hanya berdampak pada masa kanak-kanak saja.

Sebab jika tidak diselesaikan sesegera mungkin, hal tersebut dapat berdampak hingga anak menjadi dewasa.

Ini dapat memengaruhi hubungan persahabatan, hubungan romantis, dan hubungan dengan anak-anak mereka sendiri di masa depan nantinya.

Maka dari itu, segera hentikan kebiasaan membanding-bandingkan tersebut ya, Moms. Karena ini termasuk dalam perilaku yang membuat anak depresi karena orang tua.

2. Sering Meremehkan

Pembagian rapor sekolah telah tiba dan anak Moms sudah berusaha belajar dengan maksimal, tetapi pencapaian hasilnya belum memuaskan Moms.

Lantas, sepanjang jalan Moms menggerutu dan menasihati anak untuk belajar lebih giat lagi tanpa memberikan pujian terhadap usahanya.

Jangan lakukan hal ini pada anak Moms karena dia akan merasa tidak dihargai.

Bagaimana pun juga, Moms harus menghargai usahanya dan mencarikan solusi bijak kepada anak Moms. 

Perilaku sering meremehkan anak juga bisa jadi salah satu penyebab anak depresi karena orang tua.

3. Sering Memarahi

Foto: timesofindia.indiatimes.com

Anak depresi karena orang tua bisa jadi karena tindakan yang sering memarahi. Tentunya, tidak ada orang yang senang dimarahi.

Sebaiknya Moms belajar untuk mengontrol emosi ketika anak melakukan kesalahan. Masa anak-anak adalah proses belajar untuk mengerti mana yang benar dan salah.

Jika anak melakukan kesalahan, jangan langsung memarahinya. Hal ini dapat menyakiti hati sang buah hati dan membuatnya menangis.

Ingat, mereka sangat sensitif! Sebaiknya, tegurlah si anak dengan lembut dan jangan malas untuk memberitahu kesalahannya sekaligus cara untuk memperbaiki kesalahannya tersebut. 

4. Berteriak atau Membentak

Anak depresi karena orang tua juga dipengaruhi oleh tindakan orang tua yang sering membentak dan meneriaki anak.

Jika Moms tidak menginginkan anak tumbuh menjadi anak yang kasar dan membangkang, jangan lakukan hal ini.

Anak sering menjadikan orang tua sebagai figur utama yang dia contoh.

Berhentilah melakukan hal ini karena selain dapat menyakiti hati anak yang lembut, hal ini juga dapat mengubah karakter anak menjadi kasar dan tidak sopan ketika berbicara kepada orang lain. 

5. Bertindak Kasar

Anak depresi karena orang tua yang sering bertindak kasar.

Selain verbal, tak jarang juga orang tua menghukum anak dengan menyakiti fisiknya. Misalnya, memukul, mencubit, menjewer, atau menoyor kepala si anak.

Saat Moms melakukan hal itu, sadarilah bahwa anak bukan hanya merasa sakit secara fisik, tapi juga secara psikologis.

Jangan biarkan anak tumbuh dalam ketakutan terhadap orang tuanya karena dia akan merasa tidak nyaman dan tertekan.

Sehingga, tak jarang pula kita mendengar berita tentang anak yang kabur dari rumah karena perilaku kejam orang tua. 

Sebagai orang tua, Moms tentu harus membedakan tindakan yang tegas dan kasar dalam menghadapi anak.

Tegas berarti lebih berorientasi terhadap hal-hal yang positif dan mendidik anak untuk belajar lebih baik.

Sedangkan tindakan kasar hanya akan membuat anak menjadi trauma dan takut untuk melangkah ke arah yang lebih baik.

6. Menganggap Remeh Perasaan Anak

Tidak menghargai perasaan anak juga menjadi salah satu penyebab anak depresi karena orang tua, ya Moms.

Sebagai orang tua, sebaiknya Moms dan Dads dapat menjadi tempat bersandar dan tempat bercerita oleh anak.

Dari situ, anak-anak akan belajar banyak hal, mulai dari mampu mengekspresikan diri dan mengatasi emosi yang dialami.

Jika orang tua mendapati anak sedang berkeluh kesah akibat hal-hal yang buruk menimpa harinya, jangan katakan sesuatu yang membuat Si Kecil harus menekan perasaan, contohnya seperti mengatakan "tidak usah terlalu bersedih".

Sebaliknya, yang Moms dan Dads perlu lakukan adalah memahami perasaan anak dan menanyakan apa yang harus dilakukan agar perasaan tidak nyaman anak tersebut dapat teratasi.

Hal tersebut tentunya akan secara perlahan membuat Si Kecil belajar bagaimana cara mengelola emosi yang benar, dan tidak hanya memendamnya yang dapat memicu masalah psikologis di masa mendatang.

7. Berekspektasi Tinggi pada Anak

Setiap orang tua pastinya ingin anak mereka menjadi yang terbaik dalam segala hal.

Namun, bila terlalu berekspektasi tinggi dan menetapkan standar yang tinggi, hal tersebut dapat memicu anak mengalami masalah dalam kepercayaan diri.

"Jika orang tua memiliki ekspektasi yang realistis, hal tersebut dapat mendorong peningkatan kepercayaan diri anak dan mendorong perkembangan yang sehat.

Sebaliknya, memberi terlalu banyak tekanan pada anak dapat menyebabkan peningkatan perasaan cemas dan dapat berdampak negatif pada rasa kepercayaan diri mereka.

Terutama ketika mereka tidak dapat memenuhi harapan orang tuanya," ungkap Stefania Romanini, seorang Psikolog asal Afrika Selatan, seperti dilansir dari Alberton Record.

8. Bertengkar di Depan Anak

Bukan hanya tindakan langsung kepada anak yang bisa jadi penyebab anak depresi karena orang tua. Tapi juga pertengkaran antar orang tua meski tak melibatkan anak.

Sering kali, pertengkaran pasangan bisa melibatkan teriakan, memukul, hingga melempar-lempar barang.

Jika Si Kecil menyaksikan atau mendengar hal buruk seperti itu, tentunya akan berpengaruh negatif pada anak.

Dilansir dari laman University of Oregon, menjelaskan bahwa bayi dengan orang tua yang sering berkonflik, memiliki reaktivitas yang lebih besar terhadap nada suara marah di area otak yang terkait dengan stres dan regulasi emosi.

Selain itu, anak yang menyaksikan perdebatan orang tuanya dapat menyebabkan rasa tidak aman, yang berdampak negatif pada hubungan orang tua dan anak.

Selain itu dapat menciptakan lingkungan yang penuh tekanan di mana seorang anak memiliki sedikit kesempatan untuk dapat tumbuh dengan bahagia.

Lalu, ketika anak tersebut tumbuh dewasa, mereka masih harus menghadapi efek jangka panjang dari trauma yang mereka alami.

Anak-anak dengan kondisi keluarga seperti itu akan lebih rentan mengalami depresi dan kecemasan, serta kesulitan mengatur perhatian dan emosi.

Mereka juga akan berpotensi memiliki hubungan yang tidak sehat, serta mengalami masalah fisik seperti sulit tidur atau makan.

9. Berperan Telalu Banyak

Sering kali hal ini terjadi pada orang tua yang terlalu menyayangi anaknya, sehingga segala masalah atau kesusahan yang dialami anaknya akan membuatnya turun tangan secara langsung dan membantunya.

Dilansir dari Psychology Today, jika hal tersebut terus terjadi, maka akan membuat anak-anak menjadi memiliki ketergantungan yang tinggi pada orang tua mereka.

Selain itu, anak-anak yang berada dalam situasi tersebut juga sulit untuk mandiri, kekurangan motivasi dan semangat.

Jika nantinya mereka telah dewasa, mereka akan kurang matang secara emosional.

Untuk menghindari hal tersebut, Moms dan Dads sebaiknya melatih Si Kecil sejak dini untuk mengatasi masalah yang ia hadapi seorang diri.

Hal ini akan melatih mereka menjadi mandiri, di mana jika berhasil, anak akan semakin terampil dalam mengatasi suatu masalah yang mereka hadapi.

10. Tidak Konsisten

Mendidik anak secara tidak konsisten juga masuk dalam deretan penyebab anak depresi karena orang tua.

Karena kelabilan orang tua dapat menyebabkan kebingungan pada anak.

Dilansir dari Psychology Today, orang tua yang sering berubah pikiran, tidak mengambil sikap, dan mengalami kesulitan membuat keputusan atau memberikan kepemimpinan yang kuat, berisiko menghasilkan anak-anak yang secara emosional yang juga tidak konsisten atau berubah-ubah.

Anak-anak seperti itu memiliki emosional yang tidak stabil dan identitas yang lemah.

Mereka mengalami kesulitan mendefinisikan diri mereka sendiri, dan sering mengembangkan perilaku oposisi dan menantang untuk menyamarkan rasa tidak aman mereka.

Menyediakan rumah dan kebutuhan yang stabil dan konsisten mungkin tidak dapat dilakukan semua orang.

Namun, menyediakan pendidikan dari orang tua yang stabil dan konsisten selalu dapat dilakukan oleh para orang tua.

Dampak Buruk Psikologis Anak Akibat Pertengkaran Orangtua


Dalam hubungan pernikahan, berselisih paham atau berdebat dengan suami adalah hal yang sangat wajar terjadi. Masalah yang timbulpun sangat beragam dari yang sepele sampai yang besar. Tapi ada yang harus Mama ingat, jangan berseteru di depan anak-anak. Tanpa disadari, psikologis anak bisa terganggu, lho.

Mungkin Mama merasa berdebat dengan suami di depan anak-anak adalah hal biasa. Tapi, di mata anak-anak, itu adalah hal yang sangat asing dan aneh. Bagaimana bisa orang tua yang seharusnya saling menyayangi, justru berselisih di depannya?

Dilansir dari Kidshealth, sebenarnya ada rasa khawatir ketika anak melihat kedua orang tuanya berdebat. Suara yang kencang, dibalut dengan rasa amarah, belum lagi ucapan yang kurang baik didengar anak bisa membuatnya takut, sedih, atau marah.

Meskipun Mama menyembunyikan pertengkaran dengan saling diam, itu juga bisa membuat anak kesal, lho. Jangan mengira anak tidak bisa merasakan dinginnya suasana rumah saat hubungan Mama kurang baik dengan suami.

Apa sih yang dirasakan anak ketika melihat orang tuanya bertengkar?

Menurut Psikolog W. Douglas Tynan, PhD, ABPP, secara psikologis, anak langsung menarik kesimpulan kalau orang tuanya tidak menyayanginya lagi. Bahkan, ia bisa merasa menjadi penyebab dari pertengkaran orang tuanya.

Bukan hanya orang tua yang bisa marah, anak juga demikian. Mereka sangat risih dan kesal saat mendengar suara keras atau teriakan karena pertengkaran Mama. Mereka juga bisa merasa sedih dan sakit hati karena suara tersebut.

Kalau memang kekesalan sudah sangat tidak bisa ditahan lagi, ajak si kecil ke kamarnya untuk segera tidur. Meski suara akan terdengar, setidaknya biarkan Mama menyelesaikan masalah berdua.

Siapa yang Mendapatkan Hak Asuh Anak setelah Bercerai

Dampak Buruk Psikologis Anak Akibat Pertengkaran Orangtua

Siapa yang Mendapatkan Hak Asuh Anak setelah Bercerai. 
Hak asuh anak setelah bercerai adalah hal yang kerap menjadi masalah utama ketika perceraian terjadi. 
Perceraian bukan hanya berdampak pada pasangan suami istri, tetapi juga pada anak-anak mereka. 

Menurut pengacara Michael A. Robbins dari Law Offices of Michael A. Robbins, Michigan, Amerika Serikat, setiap orang tua yang bercerai punya kondisi yang berbeda sehingga tidak dapat disamakan juga aturan untuk pengasuhan anak-anaknya.

Namun, berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan di Journal of Epidemiology & Community Health, selain memikirkan hak asuh anak setelah bercerai, kondisi anak haruslah menjadi hal utama. 

Hasil dari penelitian tersebut menyebutkan bahwa anak yang menghabiskan waktu yang sama dengan kedua orang tua mereka akan memiliki kehidupan yang lebih baik ketimbang anak yang tinggal dengan salah satu orang tua.

Tapi, di sisi lain, banyak orang juga berpikir bahwa anak-anak butuh stabilitas sehingga tinggal hanya dengan salah satu orang tua menjadi hal penting. Hal ini bertolak belakang dengan hasil penelitian tersebut.

Argumen tersebut didasarkan anak-anak yang menghabiskan waktu di dua rumah yang berbeda dengan peraturan yang berbeda akan membuat mereka lebih stres.

Namun, penelitian menemukan bahwa berdasarkan data yang diambil dari 150 ribu anak antara usia 12-15 tahun, anak yang tinggal dengan keluarga lebih sedikit yang mengalami masalah psikosomatik.

Ketika orang tua berpisah, anak yang tinggal bergantian dengan kedua orang tua mereka lebih jarang mengalami stres dibandingkan dengan anak yang tinggal hanya dengan satu orang tua.

Hak asuh anak setelah bercerai diatur dalam UU Perkawinan pasal 41.

Berdasarkan pasal 41 UU Perkawinan, dalam kasus perceraian, pihak istri berhak menjadi wali bagi anak-anaknya yang belum dewasa (di bawah 12 tahun), mendapat nafkah dari mantan suami selama 3 bulan 10 hari, dan mendapat harta gono-gini sebanyak setengah dari seluruh harta yang dikumpulkan selama masa pernikahan.

Dalam pasal 41 di UU Perkawinan juga disebutkan, suami maupun istri tetap bertanggung jawab atas pendidikan anak.

aturan hak asuh anak yang perceraian orang tuanya diputus oleh Pengadilan Agama tercantum di Pasal 105 mengenai Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang menyatakan:

Pembahasan mengenai hak asuh anak setelah bercerai adalah:

  • Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz (di bawah 7 tahun) atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya;
  • Pemeliharaan anak yang di atas 7 tahun diserahkan kepada anak untuk memilih di antara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaannya;
  • Biaya pemeliharaan ditanggung oleh ayahnya.

Aturan itu pun disebutkan dalam Putusan Mahkamah Agung RI No. 102 K/Sip/1973.

Ini adalah alasan hak asuh anak dari pihak ibu bisa hilang:

1. Ibu Memiliki Perilaku Buruk

Hak asuh anak setelah bercerai biasanya akan diberikan pada ibunya.

Namun hak asuh tersebut bisa hilang ketika dalam persidangan ibu memiliki perilaku yang buruk, maka hak asuh bisa diberikan pada ayah.

Perilaku yang buruk yang bisa menghilangkan hak asuh anak adalah:

  • Judi
  • Mabuk-mabukan
  • Berbuat kasar pada anak

2. Ibu Dipenjara

Jika ibu masuk penjara karena terbukti melakukan pelanggaran hukum.

Jika ini terjadi, maka pihak ayah bisa mendapatkan hak asuh atas anak yang masih berusia 5 tahun.

3. Ibu Tak Bisa Menjamin Keselamatan Jasmani dan Rohani Anak

Alasan terakhir yang bisa menghilangkan hak asuh anak dari ibu adalah ketika ibu dikhawatirkan tak bisa menjamin keselamatan jasmani dan rohani anaknya.

Jika ibu terbukti mengalami depresi dan bisa mengakibatkan kondisi mentalnya tak stabil, hal ini bisa menjadi risiko yang mengancam keselamatan anak.

4. Ibu Terbukti Selingkuh

Jika dalam hubungan pernikahan pihak istri terbukti selingkuh, maka hak asuh akan jatuh ke tangan suami.

Ketika istri melakukan perselingkuhan, maka dirinya sudah dinyatakan gagal menjadi seorang ibu.

Hal ini tertuang dalam Pasal 34 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 Mengenai Perkawinan.

Ternyata hak asuh anak setelah bercerai juga bisa jatuh ke tangan ayah. Namun tentu saja hal itu pun perlu memenuhi beberapa syarat yang ada.


Dikutip dari Hukum Online ini syarat hak asuh anak jatuh ke tangan ayah:

  • Anak yang belum berusia 7 tahun berhak mendapatkan hadhanah dan ibunya, kecuali bila ibunya telah meninggal dunia, maka kedudukannya digantikan oleh:
    1. wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ibu;
    2. ayah;
    3. wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ayah;
    4. saudara perempuan dari anak yang bersangkutan;
    5. wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari ayah.
  • Anak yang sudah berusia 7 tahun berhak memilih untuk mendapatkan hadhanah dari ayah atau ibunya;
  • Apabila pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak, meskipun biaya nafkah dan hadhanah telah dicukupi, maka atas permintaan kerabat yang bersangkutan Pengadilan Agama dapat memindahkan hak hadhanah kepada kerabat lain yang mempunyai hak hadhanah pula;
  • Semua biaya hadhanah dan nafkah anak menjadi tanggung jawab ayah menurut kemampuannya, sekurang-kurangnya sampai anak tersebut dewasa dapat mengurus diri sendiri (21 tahun);
  • Bilamana terjadi perselisihan mengenai hadhanah dan nafkah anak, Pengadilan Agama memberikan putusannya berdasarkan huruf (a), (b), dan (d);
  • Pengadilan dapat pula dengan mengingat kemampuan ayahnya menetapkan jumlah biaya untuk pemeliharaan dan pendidikan anak-anak yang tidak turut padanya.
Nah itu dia pembahasan mendalam mengenai hak asuh anak setelah bercerai. Meski biasanya hak asuh berada di tangan ibu setelah cerai, namun dalam kondisi tertentu bisa diberikan kepada ayah.

Cara untuk Bangkit Setelah Bercerai dari Pasangan

Menulis jurnal adalah praktik yang bagus bagi dirimu yang berjuang untuk menyesuaikan diri dengan situasi baru. Ini bisa menjadi waktu yang sulit, seseorang bahkan mungkin kehilangan individualitasnya di tengah kesedihan dan kehilangan. Namun, menulis setiap hari di jurnal tentang pengalaman pasti akan membuatmu lebih bijak dan memberimu wawasan tentang diri yang belum pernah dirimu miliki.  Terhubungan dengan Teman dan Keluarga  Orang-orang terdekatmu seperti keluarga dan teman akan selalu ada untukmu pada saat dibutuhkan, untuk memberimu bahu untuk menangis dan mendukung, terutama setelah perceraian. Dirimu dapat merencanakan untuk melakukan perjalanan bersama mereka karena hal itu akan menyegarkan pikiran dan memberimu waktu untuk dihabiskan bersama orang yang dirimu cintai. Di tengah perceraian, dirimu mungkin tidak dapat berkomunikasi dengan mereka, jadi, sekaranglah waktu terbaik untuk melakukannya.  Ide untuk Bertemu Seseorang  Akhirnya, pada satu titik ketika dirimu akan siap untuk memikirkan kembali hubungan, bukanlah ide yang buruk untuk mempertimbangkan prospek pernikahan sekali lagi. Meski bisa berkembang dengan menjadi single, mendapatkan dukungan emosional dan fisik dari pasangan yang cocok memang bisa dengan membuatmu bahagia.  Perceraian terkadang menjadi salah satu jalan untuk menyelesaikan permasalahan dalam rumah tangga. Lantas, setelah peceraian bukan berarti kehidupan tampak begitu buruk, tetapi dirimu masih bisa berkembang tanpa dengan kehadiran kekasih.

Cara untuk Bangkit Setelah Bercerai dari Pasangan. Kata perceraian membawa emosi keputusasaan dan kehancuran di antara orang yang sudah menikah dan keluarga mereka. Meskipun pembebasan dari ikatan yang menjatuhkan kita di setiap langkah, orang-orang merasa terguncang dalam ketidakbahagiaan dan keputusasaan setelah perceraian. Perceraian dapat membuat seseorang terkuras secara emosional dan fisik, tetapi yang benar-benar perlu mereka pahami adalah bahwa mereka akhirnya mendapat kesempatan untuk memperbaiki keadaan dengan diri mereka sendiri, setelah perceraian. Nah, berikut ini adalah kesempatan umum yang dapat dilakukan setelah perceraian dan membuatmu bangkit. 

Rangkulah Diri dan Peran Baru saat Ini

Setelah melalui perceraian, dirimu akan menemukan diri sendiri, tanpa dukungan mantan pasangan dan akhirnya bebas untuk melakukan apapun yang selalu dirimu inginkan. Dirimu akan mengalami kebahagiaan tertentu dari pembebasan dan penerimaan situasi baru di sekitarmu. Dirimu harus mengambil setiap peran dan tanggung jawab sendiri dan mengatasinya.

Berkarier

Mendapatkan pekerjaan baru yang dirimu impikan atau bekerja lebih keras untuk mendapatkan posisi yang lebih baik di perusahaan lama adalah pilihan yang bagus bagi mereka yang perlu memperkuat posisi ekonomi mereka. Pahami bahwa dirimu harus menjalankan rumah tangga sendiri dan bekerja dengan caramu sendiri. Meskipun dirimu memiliki kebebasan untuk melakukan apa pun yang diinginkan, dirimu juga harus ingat bahwa dirimu tidak akan mendapatkan dukungan finansial dari mantan pasangan.

Menulis jurnal adalah praktik yang bagus bagi dirimu yang berjuang untuk menyesuaikan diri dengan situasi baru. Ini bisa menjadi waktu yang sulit, seseorang bahkan mungkin kehilangan individualitasnya di tengah kesedihan dan kehilangan. Namun, menulis setiap hari di jurnal tentang pengalaman pasti akan membuatmu lebih bijak dan memberimu wawasan tentang diri yang belum pernah dirimu miliki.

Terhubungan dengan Teman dan Keluarga

Orang-orang terdekatmu seperti keluarga dan teman akan selalu ada untukmu pada saat dibutuhkan, untuk memberimu bahu untuk menangis dan mendukung, terutama setelah perceraian. Dirimu dapat merencanakan untuk melakukan perjalanan bersama mereka karena hal itu akan menyegarkan pikiran dan memberimu waktu untuk dihabiskan bersama orang yang dirimu cintai. Di tengah perceraian, dirimu mungkin tidak dapat berkomunikasi dengan mereka, jadi, sekaranglah waktu terbaik untuk melakukannya.

Ide untuk Bertemu Seseorang

Akhirnya, pada satu titik ketika dirimu akan siap untuk memikirkan kembali hubungan, bukanlah ide yang buruk untuk mempertimbangkan prospek pernikahan sekali lagi. Meski bisa berkembang dengan menjadi single, mendapatkan dukungan emosional dan fisik dari pasangan yang cocok memang bisa dengan membuatmu bahagia.

Perceraian terkadang menjadi salah satu jalan untuk menyelesaikan permasalahan dalam rumah tangga. Lantas, setelah peceraian bukan berarti kehidupan tampak begitu buruk, tetapi dirimu masih bisa berkembang tanpa dengan kehadiran kekasih.

Tetap Bahagia dan Percaya Diri Setelah Perceraian

etap Bahagia dan Percaya Diri Setelah Perceraian. Tak ada pasangan yang benar-benar menginginkan perceraian. Tapi ketika konflik rumah tangga tak menemui titik damai, jalan perceraian terpaksa Anda tempuh. Kandasnya hubungan pernikahan bukan akhir kehidupan. Meski sempat terpuruk dengan emosi tak menentu, Anda harus bangkit dan melanjutkan hidup.  Lantas bagaimana memulai kehidupan baru pasca perceraian? Berikut 6 hal untuk memulai langkah Anda menyongsong masa depan yang lebih cerah.     1. Biarkan diri Anda berduka Kegagalan menyelamatkan pernikahan kerap melahirkan duka mendalam. Anda tak perlu menolaknya. Sebaliknya peluk pengalaman pahit itu sebagai bagian dari perjalanan hidup Anda. Psikoterapis Florence Falk, Ph.D., MSW, penulis buku On My Own: The Art of Being a Woman Alone mengatakan, "Kegagalan adalah kegagalan. Ada ruang kosong yang sesuatu akan mengisinya, bahkan jika sesuatu itu mungkin tidak diinginkan.”   2. Selesaikan masalah di masa lalu Sama halnya dengan menikah, bercerai juga membuat Anda menjalani kehidupan baru. Selesaikan segala urusan dan masalah pada masa lalu Anda, terutama dengan mantan suami, agar tidak menjadi ganjalan ketika Anda memulai kehidupan sebagai wanita ‘single’ kembali atau single mom.   3. Belajar menyukai diri sendiri Banyak orang merasa frustasi dan benci dengan diri sendiri pasca perceraian. Mereka berpikir ada sesuatu yang salah dengan dirinya sehingga hubungan perkawinan Anda gagal. Perasaan demikian justru membuat hidup Anda semakin mendung.  Berusahalah untuk mendapatkan kepercayaan diri Anda kembali dan meyakini bahwa diri Anda berharga. Lakukan hal-hal menyenangkan, menghibur diri, melakukan kerja sosial, agar energi positif bangkit dari dalam diri Anda. Jika terasa sulit, jangan segan mendatangi ahli terapi.      4. Temukan kembali siapa Anda dulu Saat masih sebagai pasangan suami istri, Anda mungkin banyak mengalah. Misalnya Anda suka nonton bioskop, suami lebih gemar jalan-jalan ke festival. Anda pun memendam keinginan pribadi demi menyenangkan hatinya.  Kini saatnya melakukan hal-hal yang tak dapat Anda lakukan saat menjadi istri. Dengan begitu, Anda kembali menemukan gairah hidup dengan menjadi diri Anda sendiri.   5. Berani hidup sendiri Menjalani hidup sendiri tidak berarti terisolasi. Masih banyak kesempatan untuk menjalin koneksi sosial dan menemukan teman baru. Mulailah melangkahkan kaki Anda menjemput hubungan dengan berbagai kelompok dan komunitas yang berhubungan dengan minat Anda.   6. Cintai peran baru Anda Sebelum bercerai, pasangan Anda mungkin banyak menangani banyak aspek kehidupan pada diri Anda. Kini semuanya terserah Anda. Untuk urusan finansial yang dulu selalu mendapat nafkah dari suami, sekarang Anda harus memikirkannya sendiri.  Sedikit tertatih-tatih pada awalnya, tapi tidak masalah. Jika Anda berbuat kesalahan pun, itu akan menjadi ajang pembelajaran bagi Anda. Kesalahan memberi Anda kecakapan hidup dan mengajari Anda bahwa Anda bisa menangani kesendirian.

Tetap Bahagia dan Percaya Diri Setelah Perceraian. Tak ada pasangan yang benar-benar menginginkan perceraian. Tapi ketika konflik rumah tangga tak menemui titik damai, jalan perceraian terpaksa Anda tempuh. Kandasnya hubungan pernikahan bukan akhir kehidupan. Meski sempat terpuruk dengan emosi tak menentu, Anda harus bangkit dan melanjutkan hidup.

Lantas bagaimana memulai kehidupan baru pasca perceraian? Berikut 6 hal untuk memulai langkah Anda menyongsong masa depan yang lebih cerah.  
 
1. Biarkan diri Anda berduka
Kegagalan menyelamatkan pernikahan kerap melahirkan duka mendalam. Anda tak perlu menolaknya. Sebaliknya peluk pengalaman pahit itu sebagai bagian dari perjalanan hidup Anda. Psikoterapis Florence Falk, Ph.D., MSW, penulis buku On My Own: The Art of Being a Woman Alone mengatakan, "Kegagalan adalah kegagalan. Ada ruang kosong yang sesuatu akan mengisinya, bahkan jika sesuatu itu mungkin tidak diinginkan.”
 
2. Selesaikan masalah di masa lalu
Sama halnya dengan menikah, bercerai juga membuat Anda menjalani kehidupan baru. Selesaikan segala urusan dan masalah pada masa lalu Anda, terutama dengan mantan suami, agar tidak menjadi ganjalan ketika Anda memulai kehidupan sebagai wanita ‘single’ kembali atau single mom.
 
3. Belajar menyukai diri sendiri
Banyak orang merasa frustasi dan benci dengan diri sendiri pasca perceraian. Mereka berpikir ada sesuatu yang salah dengan dirinya sehingga hubungan perkawinan Anda gagal. Perasaan demikian justru membuat hidup Anda semakin mendung.

Berusahalah untuk mendapatkan kepercayaan diri Anda kembali dan meyakini bahwa diri Anda berharga. Lakukan hal-hal menyenangkan, menghibur diri, melakukan kerja sosial, agar energi positif bangkit dari dalam diri Anda. Jika terasa sulit, jangan segan mendatangi ahli terapi.   

 
4. Temukan kembali siapa Anda dulu
Saat masih sebagai pasangan suami istri, Anda mungkin banyak mengalah. Misalnya Anda suka nonton bioskop, suami lebih gemar jalan-jalan ke festival. Anda pun memendam keinginan pribadi demi menyenangkan hatinya.

Kini saatnya melakukan hal-hal yang tak dapat Anda lakukan saat menjadi istri. Dengan begitu, Anda kembali menemukan gairah hidup dengan menjadi diri Anda sendiri.
 
5. Berani hidup sendiri
Menjalani hidup sendiri tidak berarti terisolasi. Masih banyak kesempatan untuk menjalin koneksi sosial dan menemukan teman baru. Mulailah melangkahkan kaki Anda menjemput hubungan dengan berbagai kelompok dan komunitas yang berhubungan dengan minat Anda.
 
6. Cintai peran baru Anda
Sebelum bercerai, pasangan Anda mungkin banyak menangani banyak aspek kehidupan pada diri Anda. Kini semuanya terserah Anda. Untuk urusan finansial yang dulu selalu mendapat nafkah dari suami, sekarang Anda harus memikirkannya sendiri.

Sedikit tertatih-tatih pada awalnya, tapi tidak masalah. Jika Anda berbuat kesalahan pun, itu akan menjadi ajang pembelajaran bagi Anda. Kesalahan memberi Anda kecakapan hidup dan mengajari Anda bahwa Anda bisa menangani kesendirian.

Setelah Bercerai, Wanita Lebih Bahagia Ketimbang Pria

Setelah Bercerai, Wanita Lebih Bahagia Ketimbang Pria

Setelah Bercerai, Wanita Lebih Bahagia Ketimbang Pria. Maraknya kasus perceraian, membuat beberapa pasangan berusaha untuk mempertahankan hubungan rumah tangganya.  Namun, tidak sedikit pula pasangan baru atau telah lama hubungan pernikahannya kandas di tengah jalan. Meski demikian, menurut beberapa pasangan yang bercerai kehidupannya lebih terasa lega hingga ada pula yang nyesek. Terlepas dari itu, tiap pasangan yang telah menikah tidak ada yang mengharapkan hubungannya berakhir sedih dan perpisahan. 

kadang keputusan bercerai sangat menyedihkan bagi wanita. Mengejutkannya, ternyata wanita-lah yang paling sering menuntut cerai dibanding pria berdasarkan survei AVVO pada tahun 2000 silam, yakni sebanyak 64 persen. Sebagian besar wanita yang telah bercerai mengakui jika mereka lebih menikmati waktu sendiri dan lepas dari stres. Mereka juga ungkapkan kehidupannya juga terasa memuaskan usai memutuskan untuk pisah dengan suaminya. Berdasarkan penelitian majalah Style, wanita yang sudah cerai justru lebih banyak membicarakan hal berbau positif, seperti kegembiraan, bahagia, dan perayaan. Ini justru berbanding terbalik pada pria yang sering mengatakan hal negatif setelah berpisah dengan pasangannya.

Hal ini juga makin diperkuat dengan adanya pernyataan yang mengatakan jika 56 persen pria merasa sedih dan frustrasi memutuskan cerai, ini terjadi setelah jangka panjang. Tidak jarang pria juga akan berpikir ia telah gagal dalam membina rumah tangga dibanding wanita.  Di lain pihak, para wanita sebelumnya sudah berpikir matang sebelum memilih pisah dengan suaminya. Itu terjadi karena berbagai faktor yang dialaminya selama berumah tangga, seperti perselingkuhan, ditelantarkan, pasangan yang bertindak kasar secara fisik dan perkataan, hingga masalah finansial yang juga mengakibatkan depresi dalam rumah tangga.

Jika semua hal itu telah dirasa memberatkan bagi wanita, mereka bisa saja langsung menggugat cerai pasangannya dan meneruskan kehidupan barunya. Selain itu, mereka juga bisa menghabiskan waktu lajangnya bersama keluarga, teman, hingga pekerjaan yang disukainya dengan perasaan jauh lebih bahagia dibanding sebelumnya. Tidak jarang wanita yang telah bercerai justru akan terlihat jauh lebih kuat dibanding pria.

Perhatikan 5 Hal Ini Setelah Bercerai dari Pasangan

Perhatikan 5 Hal Ini Setelah Bercerai dari Pasangan

Perhatikan 5 Hal Ini Setelah Bercerai dari Pasangan. Banyak faktor yang menyebabkan seseorang memutuskan bercerai dari pasangan.  Anda akan memasuki dunia yang bahkan sama sekali tidak Anda rencanakan yang penuh dengan hal-hal yang tidak Anda ketahui.   Normal jika Anda merasa bingung, terluka, emosional, cemas dan takut ketika menghadapi perceraian. Mungkin saat ini tidak ada cara untuk menguatkan diri Anda akan seperti apa rasanya perpisahan itu, tetapi ada beberapa cara untuk memastikan Anda membuat pilihan yang akan menguntungkan Anda, anak-anak dan masa depan hubungan Anda saat Anda mulai melepaskan diri.   Orang-orang yang sedang bertransisi dari kehidupan pernikahan ke melepaskan ikatan sedang mencari tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

1. Didiklah diri Anda sendiri tentang proses hukum perceraian 

Mungkin Anda dan calon mantan Anda akan menenangkan diri sebelum mengajukan cerai, atau mungkin salah satu dari Anda siap untuk tampil di jalan. Bagaimanapun juga, pengetahuan adalah kekuatan dan jika Anda bukan seorang pengacara yang sudah akrab dengan legalitas yang terkait dengan proses perceraian, mulailah untuk mempelajarinya dari buku  atau mencarinya di internet. Atau lebih baik lagi, dapatkan rekomendasi untuk pengacara atau mediator yang baik dan konsultasikan dengan mereka tentang cara terbaik untuk menangani situasi pribadi Anda.   Tidak ada pendekatan satu ukuran yang cocok untuk semua perceraian, dan ada begitu banyak pilihan yang tersedia untuk Anda. Sementara beberapa pasangan memilih untuk melepaskan jalur hukum dan menangani hal-hal mereka sendiri, yang terbaik adalah meminta bantuan ketika menyangkut sesuatu yang tidak Anda ketahui—dan ketika anak-anak terlibat, Anda pasti ingin tahu sebanyak yang Anda bisa sehingga Anda dapat membuat keputusan yang tepat untuk kepentingan terbaik mereka.   

2. Bicaralah dengan anak-anak Anda dan ceritakan kepada mereka tentang perceraian 

Ada cara yang sangat sehat untuk berbicara dengan anak-anak Anda tentang perceraian. Ketika Anda dan mantan pasangan Anda merasa nyaman untuk melakukan percakapan dengan anak-anak, ingatlah untuk merencanakan apa yang akan Anda katakan sebelumnya sehingga Anda berdua berada di halaman yang sama, dan berbicaralah dengan mereka sebagai sebuah keluarga.

3. Tetapkan batasan untuk memisahkan diri Anda secara emosional 

Sementara perpisahan fisik yang terjadi di akhir pernikahan adalah langkah nyata berikutnya, perpisahan emosional seringkali lebih sulit untuk dipahami dan jauh lebih tidak jelas. Anda telah terhubung secara emosional dan saling bergantung pada pasangan Anda begitu lama sehingga melepaskan diri secara emosional dapat dimengerti membutuhkan lebih banyak pekerjaan daripada yang Anda perkirakan.   Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk belajar memisahkan diri dari mencari persetujuan, mencari validasi, atau tetap terhubung secara emosional dengan pasangan adalah dengan belajar menyatakan, bukan bertanya. Contohnya adalah menjaga calon mantan Anda tetap perlu tahu, dan mengatakan hal-hal seperti, "Saya akan mulai mencari apartemen baru," alih-alih bertanya, "Bisakah saya mulai mencari apartemen baru?"   Ini menetapkan batas yang mengatakan, "Saya mendapatkan kemerdekaan saya sekarang, dan Anda tidak memiliki akses ke semua bagian hidup saya lagi." Ini sulit untuk ditegakkan, tetapi semakin cepat Anda dapat memutuskan hubungan secara emosional, semakin bersih proses perceraian Anda.

4. Dapatkan kenyamanan dengan meminta bantuan 

Orang tua tunggal adalah seluruh olahraga itu sendiri yang dilupakan seseorang untuk ditambahkan ke Olimpiade. Anda tidak dapat berlatih sendiri untuk Olimpiade, dan lebih baik Anda meminta bantuan untuk "melatih" atau merasa nyaman dengan menjadi orang tua tunggal. Jangan malu—panggil teman terdekat dan anggota keluarga Anda untuk membantu Anda menghadapi kenyataan baru Anda, baik secara emosional maupun fisik, dan untuk membangun kembali hidup Anda. Ketika Anda mulai mencari bantuan dan mulai melihat siapa yang bersedia membiarkan Anda bersandar pada mereka, siapa yang memeriksa Anda, dan siapa yang menawarkan telinganya untuk mendengarkan Anda, jadikan mereka orang permanen dalam daftar baru hidup Anda.

5. Terhubung kembali dengan diri sendiri 

Tidak banyak orang yang menyadari hal ini, tetapi meskipun mengakhiri pernikahan mungkin merupakan kematian dari suatu hubungan, hal itu juga penuh dengan peluang. Kesempatan terbaik yang dapat Anda temukan dalam perceraian adalah mampu berhubungan kembali dengan diri Anda sendiri semuanya, baik dan buruk. Anda kembali melakukan apa yang paling Anda sukai yang merupakan hal-hal yang tidak pernah benar-benar Anda lakukan dalam pernikahan Anda karena satu dan lain alasan.   Anda dapat menggunakan waktu untuk sesuatu yang benar-benar menyembuhkan Anda. Anda menyembuhkan semua bagian  yang rusak, yang muncul ke permukaan dalam pernikahan Anda dengan bantuan terapis yang luar biasa misalnya. Anda menjadikan diri Anda prioritas untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dan Anda tidak menyesalinya sedikit pun.   Ketika semuanya gagal, ingatlah bahwa ini juga akan berlalu, dan Anda dapat melakukannya di mana saja hanya dengan meletakkan satu kaki di depan yang lain, mengambil setiap hari pada satu waktu, dan tidak membuat diri Anda gila dengan "bagaimana jika."