This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 25 Agustus 2022

Perasaan Wanita Setelah Bercerai

Perasaan Wanita Setelah Bercerai

Setiap pasangan suami istri tentu tidak pernah berharap adanya perceraian. Mereka pasti berharap pernikahannya hanya sekali untuk seumur hidup. Namun sayang kenyataan seringkali tak sesuai harapan.

Dampak perceraian dirasakan berbeda oleh masing-masing personal. Kepribadian mereka turut mempengaruhi bagaimana merespon perceraian ini. Ada yang merasa biasa-biasa saja, ada yang merasa senang karena bebas, namun ada juga yang justru kehilangan jati dirinya.

Namun ketika berbicara tentang wanita yang langsung menyandang predikat janda setelah proses cerai berakhir, dampak perceraian ini bisa menjadi negatif bahkan menyakitkan. Menjadi seorang janda karena perceraian tentu lebih berat dibandingkan janda karena ditinggal mati suami.

Nah, jika Anda dan pasangan saat ini berpikir untuk bercerai, berikut 14 perasaan wanita setelah bercerai yang mungkin bisa membuat Anda berpikir ulang tentang sebuah perceraian.

1. Berpura-pura bahagia

Entah karena malu atau tidak bisa menerima status barunya, wanita akan cenderung berpura-pura bahagia. Dia pun akan bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa.

Jika ada yang mempertanyakan perceraian, biasanya wanita akan menghindar. Namun jika terpaksa harus dihadapi, dia akan berpura-pura bahwa dia baik-baik saja dan tidak ada yang harus diratapi karena sekarang dia sudah bebas.

Berpura-pura bahagia adalah salah satu cara bagi wanita untuk mengalihkan perasaan sedih dan kecewanya, dengan harapan bahwa lambat atau cepat dirinya akan pulih seperti semula.

2. Marah kepada diri sendiri dan sekitar

Pada tahap ini perasaan wanita setelah bercerai biasanya mudah emosi terhadap lingkungan sekitar. Dia akan mudah menjadi sensitif dan tersinggung dengan keadaan.

Ini sebenarnya terjadi karena perasaan tidak terima yang dialaminya. Kemarahan kepada diri sendiri karena tidak mampu menjaga sebuah pernikahan membawa dampak tidak baik kepada lingkungan.

Bahkan jika memiliki anak, perasaan marah ini juga bisa mempengaruhi perkembangan anak-anak karena emosi labil yang dimiliki seorang ibu.

3. Dendam kepada mantan suami

Pada sebagian wanita, perceraian yang tidak diinginkannya apalagi akibat perselingkuhan suami, membuat wanita dendam kepada mantan suaminya sendiri.

Pernikahan yang suci dan diharapkan bisa berlangsung abadi ternyata dirusak dengan adanya orang ketiga. Rasa sakit hati dan tidak terima karena dikhianati membuat wanita dendam dan ingin melampiaskannya.

Jika tidak bisa diatasi dengan baik, sebagian wanita bahkan bisa melakukan hal-hal yang buruk dan mencelakai mantan suami. Seperti mengancam, membayang-bayangi bahkan membuat malu mantan suami.

4. Menyesal

Siapa sih yang ingin bercerai? Rasanya jika ada pilihan lain, tak seorang pun ingin bercerai dari pasangannya.

Pada tahap ini, wanita akan menyesali apa yang telah terjadi. Karena didominasi dengan perasaan, wanita akan merasa bersalah dan tidak bisa menerima kenyataan. Rasa menyesal bisa juga terjadi karena telah menuntut cerai atau membiarkan terjadinya perceraian itu sendiri.

5. Ingin kembali kepada mantan suami

Perceraian memiliki dampak yang bermacam-macam tergantung pada kemampuan mental masing-masing personal. Bahkan pada sebagian wanita, ada juga yang merasakan keinginan kuat untuk kembali kepada mantan suami.

Hal ini biasanya dipicu karena ketakutan harus menjalani semuanya sendiri, tidak ada yang mendukung faktor finansial lagi dan ketakutan-ketakutan lain karena merasa tidak mampu hidup dengan mandiri.

Karenanya, sebelum semuanya terlambat untuk diperbaiki, usahakan untuk mencari jalan lain sebelum memutuskan bercerai.

6. Stres

Tak bisa dipungkiri bahwa wanita selalu berimajinasi indah untuk masa-masa pernikahan. Kenyataan yang tidak sama dengan impian tentu sangat memukul perasaan seorang wanita.

Menurut sebuah penelitian, perceraian membuat wanita mengalami dampak psikologis yang jauh lebih tinggi dan signifikan daripada pria. Tekanan yang tak mampu diterima, membuat wanita stres serta mengalami depresi berkepanjangan.

Bahkan disebutkan bahwa depresi ini dapat mempengaruhi kehidupannya minimal 3 tahun pasca bercerai. Dalam waktu tersebut, wanita dapat kehilangan kehidupan normalnya dan cenderung menarik diri dalam pergaulan.

Jika tidak ditangani dengan serius, dampak psikologis akibat perceraian pada wanita bisa menimbulkan efek negatif untuk masa depannya. Dan pada tingkat depresi tertentu, disarankan wanita berkonsultasi dengan psikiater dalam menangani gangguan ini.

7. Hilang kepercayaan diri

Kegagalan dalam sebuah pernikahan membuat wanita merasa dirinya tak berharga lagi. Kepercayaan dirinya pun hilang seiring dengan hilangnya harapan akan masa depan.

Akibatnya wanita akan menjadi rendah diri di hadapan teman-teman, keluarga dan masyarakat. Mereka akan menarik diri dari lingkungan pergaulan, mengurung diri di dalam rumah dan enggan beraktivitas.

Bahkan pada beberapa kasus, wanita akan mencari pelarian dari masalahnya, sehingga terjerumus pada hal-hal yang tidak baik dan merugikan diri sendiri. Misalnya, terjerumus dalam narkoba atau terjerumus dalam kemaksiatan.

8. Tertekan oleh lingkungan

Lingkungan yang kurang bisa menerima membawa dampak psikologis yang cukup berat bagi wanita. Tekanan terbesar biasanya berasal dari lingkungan keluarga baru kemudian lingkungan pergaulan.

Keluarga akan menanyakan alasan dibalik keputusan bercerai, bahkan hal tersebut ditanyakan berulang-ulang antara kerabat yang satu dengan yang lain. Parahnya lagi, keluarga besar menyalahkan wanita atas apa yang terjadi dan ketidakmampuannya mempertahankan sebuah pernikahan.

Tekanan yang cukup berat dan bertubi-tubi ini bisa membuat perasaan wanita setelah bercerai mengalami keterpurukan. Bahkan tak jarang membutuhkan bantuan ahli untuk mampu bangkit setelah perceraian.

9. Sulit tidur

Sulit tidur adalah hal yang wajar dialami ketika seseorang depresi. Bahkan sebagian wanita juga kehilangan nafsu makan selama beberapa minggu usai bercerai.

Kesulitan tidur ini akan membawa dampak buruk bagi kesehatan seperti tekanan darah tinggi dan penyakit jantung. Tak heran jika pasca bercerai, wanita akan kehilangan berat badan dan terlihat kurang sehat.

10. Kesepian

Terbiasa bersama pasangan di rumah, melakukan sesuatu atau bepergian menciptakan perasaan ketergantungan. Hal ini juga berat dirasakan oleh wanita setelah perceraian.

Ketergantungan terhadap mantan suami, mau tak mau menciptakan kesepian tersendiri. Apalagi jika pasangan tersebut belum mempunyai anak. Hidup tanpa suami memaksa wanita untuk bertindak mandiri, memutuskan segalanya sendiri bahkan tinggal sendiri.

Merasa selalu sendirian dan tidak dipedulikan bisa membuat wanita depresi berkepanjangan. Di sinilah peran keluarga, teman dan kerabat diperlukan untuk membuat wanita sanggup bangkit kembali menghadapi kenyataan.

Kesepian karena hilangnya belahan jiwa adalah sangat wajar. Menjadi tidak wajar jika terus menerus mengasihani diri sendiri dan semakin terpuruk karena kesepiannya.

11. Takut memulai hubungan baru

Karena kegagalan dalam berumah tangga, wanita pun takut memulai atau mempunyai hubungan baru. Niatnya mungkin ada yaitu ingin membuka lembaran baru kehidupan, namun hati kecil tidak bisa menerimanya.

Hal ini tak lain disebabkan oleh trauma masa lalu yang dirasakan wanita. Apalagi jika perceraian terjadi karena sebuah pengkhianatan. Wanita pun merasa takut jika di kemudian hari dirinya tersingkirkan lagi.

12. Kecemasan

Sedamai apapun proses perceraian, seorang wanita pasti mengalami kecemasan yang akut. Kecemasan ini bersumber dari kekhawatiran akan masa depan.

Bisakah menjalani hidup sendiri? Siapakah yang akan menjaga di masa tuanya? Bagaimana keadaan finansial tanpa seorang suami? Dan sederet pertanyaan lain yang berkecamuk di benak wanita.

Kecemasan ini jika tidak terkontrol bisa berdampak pada kehidupan sosialnya. Dia akan dikenal sebagai pribadi yang rapuh dan emosional. Bahkan bisa juga dia akan dijauhi oleh lingkungan karena dianggap tidak menyenangkan.

13. Merasa bebas

Setelah melalui tahapan demi tahapan yang demikian sulit dan berdampak buruk bagi perkembangan psikologisnya, pada suatu titik tertentu, wanita pun mulai bangkit dan bisa menerima kenyataan.

Perasaan bebas akan bisa dirasakan setelah melalui perjalanan panjang pasca bercerai. Pada tahap ini wanita akan merasa bahwa memang perceraian adalah jalan terbaik yang harus diambil.

Apalagi jika wanita tersebut adalah korban kekerasan dalam rumah tangga. Perasaan bebas dan lega tentu dirasakan karena tidak akan lagi hidup dalam bayang-bayang suami yang menakutkan.

Begitu juga jika wanita adalah korban perselingkuhan. Wanita akan lebih bebas dan percaya diri untuk siap memulai hubungan baru yang menjanjikan.

14. Lebih bertanggung jawab

Hari-hari yang buruk, stres, dan terpuruk mungkin akan dirasakan wanita di awal-awal perceraiannya. Namun ternyata setelah 2 tahun pasca bercerai, wanita pun lebih bertanggung jawab dengan kehidupan barunya.

Tak ada lagi tangisan, tak ada lagi depresi, yang ada justru wanita akan sibuk memikirkan kebutuhan finansial demi membiayai diri sendiri dan anak-anak. Tak heran, pasca bercerai, wanita akan lebih sukses, lebih bahagia, dan terlihat jauh lebih cantik.

Keputusan bercerai melibatkan suami dan istri yang sudah tidak bisa dipersatukan lagi. Meskipun berat, terkadang keputusan cerai diambil agar keduanya lebih berbahagia dan menjalani kehidupan dengan lebih tenteram.

Demikian 14 perasaan wanita setelah bercerai yang bisa Anda cermati. Jika saat ini Anda sedang memikirkan perceraian sebagai solusi atas masalah-masalah yang dihadapi, mungkin Anda bisa berpikir ulang sebelum semuanya terlambat.

Perceraian mungkin terlihat seperti solusi terbaik bagi rumah tangga, namun sebenarnya perceraian membawa luka, sakit hati dan amarah. Bahkan keterpurukan bagi anak-anak mereka.

Keputusan bercerai harus menjadi keputusan yang benar-benar terakhir untuk dipilih. Jika mungkin, lakukan cara-cara lain untuk mempertahankan rumah tangga, tanpa harus menyakiti dan melukai hati banyak orang.

3 Resolusi Kebahagiaan Seutuhnya untuk Wanita Setelah Bercerai

3 Resolusi Kebahagiaan Seutuhnya untuk Wanita Setelah Bercerai

3 Resolusi Kebahagiaan Seutuhnya untuk Wanita Setelah Bercerai. Orang yang mengalami perceraian pada pernikahan pertama, kehidupan pernikahan setelahnya tidak akan pernah sama lagi. Dan itulah mengapa perceraian ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Anda harus mengubah cara hidup dan terbiasa tanpa pasangan Anda. 
Misalnya dengan membuat perencanaan seperti :

Tetap bugar dan sehat: Tetap bugar dan sehat merupakan ide yang bagus bahkan penting setelah Anda kehilangan berat badan karena "diet perceraian"

Nikmati hidup sepenuhnya: Tentu saja ini merupakan resolusi terbaik yang dapat Anda buat setelah perceraian.

Belanjakan lebih sedikit, menghemat lebih banyak: Hidup berdua dengan pasangan akan lebih banyak memenuhi kebutuhan, sementara setelah bercerai Anda hanya perlu memenuhi kebutuhan diri sendiri.

Habiskan waktu lebih banyak dengan keluarga dan teman-teman: Kesempatan besar ini membuat Anda menjadi semakin dekat dengan keluarga dan teman-teman Anda.

Pelajari sesuatu yang baru/hobi baru: Resolusi ini populer digunakan untuk kebanyakan orang setelah bercerai.

Berpergian lebih banyak: Anda tidak harus menghabiskan banyak biaya dalam bepergian, misalnya Anda bisa menghabiskan akhir pekan Anda dalam sehari di wisata atau suasana yang menarik bagi Anda.

Beberapa contoh resolusi di atas merupakan keputusan bagus untuk Anda yang mengalami pasca-perceraian. Tetapi tiga resolusi berikut ini adalah resolusi yang membuat Anda menjadi wanita dengan kebahagiaan seutuhnya setelah perceraian.

1. Mempelajari dan mengenal siapa diri Anda
Resolusi ini membuat Anda sadar kenapa gagal dalam pernikahan dan mempelajarinya, sehingga Anda bisa mempelajari dan menjamin diri sendiri bahwa tidak akan mengalami hal yang berakhir tidak bahagia lainnya.

2. Kurangi mengeluh

Setelah berpisah dengan pasangan Anda akan menyadari bahwa kini Anda sendirilah yang dapat mengubah hidup Anda, jadi mengeluh bukanlah satu hal yang membuat hidup Anda menjadi lebih baik.

3. Pelajari perbedaan antara berkencan dan menjalin hubungan

Setelah menikah kita menjadi lupa seperti apa jomblo dan pacaran. Berencana kencan setelah menikah merupakan hal yang perlu banyak pertimbangan. Sebelum melakukannya Anda harus mengetahui perbedaan antara berkomitmen dengan seseorang atau hanya bersenang-senang dengan orang baru.

Mempelajari kencan merupakan resolusi bagus untuk mempelajari lebih banyak tentang diri Anda. Jangan khawatir jika Anda merasakan bahwa resolusi ini tidak cocok untuk Anda, maka itu berarti Anda perlu fokus pada hal lain yang juga bisa membuat Anda menjadi bahagia.

Apa pun resolusi yang Anda pilih setelah bercerai, itu adalah keputusan yang paling baik untuk Anda ke depannya. Sekarang setelah perceraian Anda selesai, Anda dapat memilih resolusi paling positif untuk hidup Anda dan kebahagiaan dalam mendapatkannya butuh keyakinan dari diri Anda sendiri.

Cara untuk Bangkit dan Berdamai dengan Diri Sendiri Setelah Bercerai

Cara untuk Bangkit dan Berdamai dengan Diri Sendiri Setelah Bercerai

Menjalani kehidupan setelah perceraian jelas bukanlah hal yang mudah bagi banyak orang. Mereka biasanya akan mengalami tahap pergolakan emosi dan batin sebelum bangkit kembali. Hal itu adalah fase yang wajar karena hidup tanpa pasangan membutuhkan proses adaptasi dan pemulihan.

1. Biarkan diri merasakan kesedihan 

Beberapa pasutri lebih memilih memendam rasa pedih dan menutup dirinya usai bercerai. Padahal, membiarkan diri sendiri merasakan pil pahit dari perceraian justru membuat orang-orang pulih lebih baik dalam jangka panjang. Hal tersebut disarankan oleh spesialis pekerja sosial klinis Karen Tucker, LISW-S, ACSW. “Pengalaman emosional valid dan unik milik Anda sendiri. Tidak ada perasaan yang benar atau salah,” kata Tucker. "Orang-orang secara umum bersedih karena kehilangan impian mereka.” Ia menyarankan siapa pun yang bercerai supaya meluangkan waktu untuk mengeluarkan perasaan.

2. Berkonsultasi 

Berkonsultasi dengan terapis profesional membantu orang-orang yang bercerai agar mendapat dukungan. Dengan begitu, mereka mendapatkan banyak tips soal cara mengelola uang, rumah, merawat anak, dan hal-hal pribadi lainnya. "Sangat penting untuk memanfaatkan sistem pendukung selama masa sulit atau perubahan emosional," kata Tucker. Terapis profesional juga membantu mereka yang bercerai agar menciptakan waktu dan ruang untuk bersedih. “Terapis dapat berfungsi sebagai pendengar yang tidak menghakimi, memberikan bimbingan dan pelatihan keterampilan,” imbuhnya. “Dengan mengembangkan respons yang sehat terhadap stresor kehidupan, Anda belajar bagaimana menghindari memperburuk keadaan.”

3. Lakukan mekanisme koping 

Mengendalikan emosi adalah kemampuan yang dibutuhkan untuk membantu orang-orang fokus pada perawatan yang positif dan menenangkan diri. “Orang-orang yang mengalami perceraian pada awalnya berada dalam mode bertahan hidup dan seringkali tidak fokus pada kesejahteraan mereka sendiri,” ujar Tucker. Fokus pada diri sendiri bisa dilakukan dengan melakukan kegiatan yang menyenangkan dan berlatih menenangkan diri dan perhatian. “Harapannya Anda merasa segar kembali dan mampu mengelola stresor yang tak terhindarkan,” jelas Tucker. “Keterampilan itu mengurangi kerentanan Anda terhadap penderitaan emosional ketika emosi yang menyakitkan menguasai.” Kemampuan mengendalikan emosi juga harus dibarengi dengan tidur, olahraga teratur, diet sehat, obat untuk mengobati mood, dan minum obat sesuai resep.

4. Bekerja sama untuk merawat anak 

Tucker menyarankan agar orangtua yang bercerai untuk fokus memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. Alasannya, mereka masih menyandang status sebagai orangtua terlepas dari status pernikahan yang sudah kandas. Cara tersebut adalah pendekatan yang berpusat pada anak dan menghindarkan si kecil dalam posisi yang tidak dapat dipertahankan. “Anak sudah berjuang dengan perubahan besar dalam hidupnya dan mengkhawatirkan Anda, masa depan, dan apa artinya semua ini bagi keluarga,” kata Tucker.

5. Perhatikan diri sendiri 

Orang-orang yang bercerai harus meminta bantuan apabila terjebak dalam kemarahan, kebencian, dan perasaan pedih lainnya. “Ini adalah waktu yang sulit. Banyak yang tidak siap untuk menghadapi semua komplikasi yang mungkin ditimbulkan oleh perceraian,” ujar Tucker. Hal tu penting untuk dilakukan karena mereka yang bercerai bisa saja menyalahkan diri sendiri. “Jika Anda rentan terhadap kecemasan dan depresi pada saat-saat ini, Anda dapat mengambil manfaat dari pengobatan dan terapi bicara,” kata Tucker. “Mulailah dengan dokter perawatan primer dan mereka dapat mengeksplorasi pilihan pengobatan Anda,” sarannya. Dokter perawatan primer adalah dokter medis yang terlatih untuk mencegah, mendiagnosis, dan mengobati beragam masalah kesehatan.


6. Jangan merasa takut 

Perceraian memang sulit untuk terelakkan apalagi jika situasi sudah menjadi sangat pelik. Orang-orang mungkin mengalami ketakutan saat bercerai karena selama ini meereka bergantung pada pasangan. Rasa takut karena perceraian bisa menyangkut masalah keuangan, rumah, dan sekolah anak. “Orang-orang takut akan hal yang tidak diketahui,” kata Tucker. “Di sini, pengacara dan terapis dapat menjadi sumber yang baik. Kita membutuhkan bantuan untuk menantang pikiran dan keyakinan negatif.” “Kita membutuhkan informasi yang baik karena perpisahan dan perceraian sering membuat kita merasa tidak enak."

7. Jangan terburu-buru menjalin hubungan baru 

Beberapa orang yang bercerai mencari pelarian dengan pasangan baru karena takut sendirian atau takut tidak pernah jatuh cinta lagi. Tapi, keputusan itu disebut Tucker tidak tepat karena mereka masih membutuhkan waktu untuk memulihkan diri. “Sembuhlah dari kesedihan, kehilangan, dan rasa sakit dari suatu hubungan yang telah berakhir,” tutur Tucker. Kalau terlalu ngebet mencari gebetan baru, pastikan untuk mempelajari hubungan sebelumnya. Pastikan juga kita sudah bisa menerima diri sendiri dan mempercayai kehadiran pasangan yang baru.

8. Lakukan hal positif 

Mendapatkan dukungan usai bercerai bisa didapat dengan membaca buku atau referensi di internet. Tucker mengatakan, ada banyak buku self-help yang bisa membantu orang-orang setelah berpisah dari pasangan. Ia menyarankan agar buku yang dibaca mengangkat topik ketergantungan, mengendalikan kemarahan, pengkhianatan, kesedihan, rasa kehilangan, atau harga diri. Cara lain untuk tetap bakoh adalah mencari komunitas yang membantu pemulihan usai perceraian. Jika tidak, ingatlah untuk merawat diri dengan mandi santai setiap minggu, melukis, atau mencoba hal baru lainnya.

9. Optimis 

Seperti yang sudah disebutkan, menjalani kehidupan setelah bercerai jelas bukan hal yang mudah. Walau hidup terasa tidak baik-baik saja, cobalah untuk bersikap positif agar dapat mengatasi tantangan dan melanjutkan hidup. Tidak ada salahnya untuk curhat dengan teman atau keluarga. Karena yang terpenting kita punya kesempatan untuk menyuarakan perasaan.

Kenali Perasaan Wanita Setelah Bercerai dan 8 Cara Menata Hati

Kenali Perasaan Wanita Setelah Bercerai dan 8 Cara Menata Hati

Kenali Perasaan Wanita Setelah Bercerai dan 8 Cara Menata Hati. Tidak lagi tabu, seseorang yang ingin bercerai karena tidak bahagia dalam pernikahannya adalah hal manusiawi. Pilihannya adalah bercerai atau bertahan. Satu yang pasti, jangan diputuskan berlandaskan emosi dan sebaiknya melewati proses pertimbangan sebelum bercerai.

Miris namun fakta, perempuan cenderung mendapat label negatif dari masyarakat ketika menjadi janda. Padahal, bisa saja keputusan untuk bercerai adalah yang terbaik demi kesehatan dan kewarasan diri sendiri. Mengingat kehidupan tidak akan lagi sama, penting memprioritaskan perasaan wanita setelah bercerai agar tetap stabil.

Kunci awal yang harus dilakukan adalah melakukan validasi terhadap emosi dan perasaan. Jangan menghindari atau denial tentang apa yang dirasakan. Di saat yang sama, jangan terlalu mendengarkan komentar orang lain karena mereka tidak tahu situasi sebenarnya.
Cara menata kehidupan setelah bercerai

Keputusan bercerai tentu membawa perubahan yang signifikan. Perasaan wanita setelah bercerai pun bagaikan rollercoaster, bisa naik turun secara drastis. Kebiasaan yang sudah berjalan bertahun-tahun tiba-tiba harus berubah.
Lalu, bagaimana cara menata kehidupan setelah bercerai?
1. Bangun kecerdasan emosional
Pertama-tama, terima emosi dan perasaan yang muncul. Sebab, inilah yang diperlukan untuk bisa move on secara positif. Jangan hanya menekan atau menyembunyikan perasaan karena justru menyulitkan diri sendiri.
Bahkan, dari berbagai emosi dan perasaan yang muncul itulah seseorang bisa berkembang. Ada pelajaran yang bisa diambil.
2. Bergabung dengan kelompok
Ada banyak support group untuk wanita setelah bercerai atau single parent. Dengan membuka koneksi terhadap orang-orang baru dan berada dalam kondisi serupa, ini dapat membantu memahami situasi lebih jernih.
Selain support group, bisa juga dengan bertemu kelompok yang secara berkala bertemu dengan terapis. Ini dapat membantu menjadi wadah bercerita sehingga tidak merasa cemas berlebih.
Ini penting karena salah satu perasaan wanita setelah bercerai bisa saja merasa terisolasi. Mereka merasa tidak lagi diterima di masyarakat juga mungkin terjadi, mengingat ada label negatif yang melekat pada seorang janda.
3. Fokus pada self-love
Setelah berhasil mengambil keputusan berani untuk bercerai, saatnya fokus untuk mencintai diri sendiri. Tidak ada waktu lebih baik ketimbang sekarang untuk kembali melihat diri sendiri dan memenuhi kebutuhan. Sebab, yang paling penting saat ini adalah fisik dan mental yang sehat.
Terlebih bagi perempuan yang selama ini terjebak dalam pernikahan toxic atau kerap mendapatkan kekerasan, inilah saat yang tepat untuk memulihkan diri. Bisa juga mencoba berdamai dengan diri sendiri lewat menulis jurnal.
4. Buat beberapa target
Setelah memasuki fase baru kehidupan setelah bercerai, Anda boleh saja membuat beberapa target. Tapi tentu saja, jangan berlebihan dan justru menjadi beban tersendiri. Tentukan apa yang menjadi tujuan hidup.
Mungkin dengan mempertimbangkan pekerjaan yang dijalani, menjajal hobi baru, atau menambah skill agar merasa semakin bermanfaat. Sesuaikan target dengan kondisi diri sendiri.
5. Komunikasikan dengan anak
Bagi yang bercerai dari pernikahan dengan anak, jangan lupa untuk komunikasikan kepada mereka apa yang terjadi. Semulus apapun proses perceraian, ini pasti berdampak besar bagi anak-anak secara signifikan.
Jangan pernah berbicara hal buruk atau menjelekkan mantan pasangan di depan anak-anak. Beri mereka pemahaman seputar proses yang terjadi. Tekankan bahwa kondisi ini tidak akan mengurangi rasa sayang dan cinta kepada mereka.
6. Siapkan ekspektasi
Hidup tidak selalu berjalan sesuai ekspektasi. Oleh sebab itu agar tidak merasa kecewa, persiapkan diri dengan perubahan dari sekitar. Salah satunya adalah kehilangan teman-teman.
Ini wajar dan tak perlu menjadi beban pikiran. Teman-teman yang ada saat Anda masih menikah dengan saat sudah bercerai bisa saja berbeda. Ada pula yang mungkin menjauh karena tidak mendukung keputusan Anda untuk berpisah.
Tak masalah asalkan tidak bermusuhan. Masih ada banyak cara lain untuk mendapatkan teman baru yang tidak mudah menghakimi.
7. Mencoba berkencan
Jika sudah siap dan merasa ingin kembali berkenalan dengan orang baru, tak ada salahnya mencoba berkencan. Bisa dengan dikenalkan teman atau lewat dating site online. Internet menjadi wadah yang tepat untuk bertemu orang lain dengan ketertarikan yang sama.
Namun tentu harus hati-hati. Ada banyak predator dan penjahat yang berkedok sebagai orang normal ketika berinteraksi di aplikasi dating online. Belum lagi risiko penipuan seperti catfishing yang rentan terjadi. Bekali diri dengan cukup ilmu dan tetap waspada untuk menghindarinya.
8. Berhenti menyalahkan situasi
Sekali dua kali, tentu ada pikiran menyalahkan situasi ketika telah berpisah. Ini adalah perasaan wanita setelah bercerai yang sangat manusiawi. Namun, sebaiknya jangan terjebak dalam situasi ini.
Tak perlu menyalahkan diri sendiri atau menekuri apa yang seharusnya dilakukan demi mengembalikan situasi seperti semula.
Justru sebaliknya, lihat apa hal baik yang terjadi setelah Anda berani mengambil keputusan untuk berpisah. Ini penting karena ketika memaksakan berada di pernikahan yang tidak sehat, baik Anda maupun anak-anak bisa terdampak.
Beberapa hal di atas bisa coba dilakukan saat menjalani kehidupan setelah bercerai. Namun ketika situasi semakin terasa tak terkendali dan membuat Anda merasa cemas berlebih bahkan depresi, sebaiknya cari orang untuk berbicara. Sosok yang bisa diajak berbicara haruslah netral dan bisa dipercaya. Bisa teman dekat, saudara, atau terapis profesional.


Kunci Rumah Tangga Bahagia dan Dijamin Rezekinya Oleh Allah Swt

Kunci Rumah Tangga Bahagia dan Dijamin Rezekinya Oleh Allah Swt

Kunci rumah tangga bahagia dan dijamin rezekinya ini ditulis oleh pasangan motivator Randy Ariyanto W. dan Dyah Lestyarini dari Komunitas Rumah Pintar Aisha. Rumah tangga akan rapuh dan mudah hancur berantakan tanpa visi akhirat. Dulu ada seseorang bertanya, lalu Sufyan bin Uyainah balik bertanya padanya: Apakah dahulu kau menikahinya karena ingin mencari kemuliaan diri di samping kemuliaannya. 

Ia menjawab: ya, maka Sufyan menasihatinya dengan petuah yang layak ditulis dengan tinta emas.

“Barang siapa yang menikah karena ingin menumpang kemuliaan dari pasangannya bersiaplah untuk mereguk pahitnya piala kehinaan, barang siapa yang menikah karena harta bersiaplah meraih kemiskinan, barang siapa yang menikah karena baiknya agama seseorang niscaya Allah akan kumpulkan baginya kemuliaan, harta dan agama”.

Saat menikah, niatkanlah untuk ibadah, jangan diniatkan hanya sekadar untuk menyatukan dua insan, untuk bisa berkasih sayang.

Apalagi diniatkan untuk mendapatkan kecantikannya, mendapatkan kekayaannya, menikah karena kedudukannya, menikah karena kehormatan keluarganya tapi niatkan dengan menikah agar dapat meraih ridho Allah, bisa saling menjaga ibadah, sholat malam bersama, membaca Al Quran bersama sehingga surga lebih mudah diraih bersama.

Menikah itu harus mampu mewujudkan sebuah keluarga yang sakinah.

Keluarga yang sakinah adalah keluarga yang tunduk dan patuh pada tali agama Allah, jika keluarga tidak terikat tali agama Allah maka itu bukan keluarga yang sakinah, jikapun keluarga itu bahagia maka kebahagiaannya akan sesaat saja yakni hanya bahagia di dunia saja.

Namun keluarga yang sakinah adalah keluarga yang bahagia di dunia dan juga bahagia di akhirat. Hati-hati, jika suami dan istri semakin jauh dari Allah maka semakin tidak berkah keluarga itu, sebaliknya semakin suami dan istri dekat dengan Allah maka semakin berkahlah keluarga itu.

Kunci Rumah Tangga Bahagia dan Dijamin Rezekinya

Jadi syarat turunnya rezeki dari Allah itu adalah yang pertama ketaatan kepada Allah. Saat keluarga itu taat maka Allah menjamin rezekinya.

Satu lagi yang ingin saya sampaikan bahwa rezeki itu tidak hanya sekadar harta benda. Rezeki jika diasumsikan hanya sebagai harta, itu terlalu sempit.

Rezeki bukan hanya tentang gaji, bukan hanya tentang harta benda tetapi kesehatan itu rezeki, anak-anak yang sholeh itu rezeki, mendapatkan hadiah itu rezeki, barang-barang yang awet tidak mudah rusak juga rezeki,

barang-barang yang jarang hilang itu rezeki lagi, diberi kemampuan Allah untuk memberi makan/barang kepada orang lain adalah rezeki yang luar biasa dari Allah, diberi kemudahan bersedekah itu rezeki,

diberi kemudahan dan waktu luang untuk beribadah adalah rezeki yang tak ternilai dari Allah, diberi kelebihan Allah ilmu yang memberi manfaat bagi banyak orang adalah rezeki amal jariah yang tidak akan pernah putus walaupun orang itu telah meninggal dunia,

memiliki banyak sahabat yang sholeh itu juga rezeki yang sangat berharga sebab sahabat-sahabat yang sholeh itu akan mencari-cari temannya saat disurga nantinya dan akan bersyafaat saat mengetahui temannya berada di neraka, dimudahkan untuk memahami agamaNya itu rezeki. Itu semua adalah rezeki.

Sekali lagi bahwa rezeki itu sifatnya luas, dari mulai harta benda, gaji, pengetahuan agama, ketenangan, kesehatan, ilmu dan keterampilan, keturunan yang sholeh, istri yang sholehah, mudah beribadah, memiliki teman yang sholeh, kekayaan yang bermanfaat bagi orang lain.

Semua adalah rezeki. Intinya adalah rezeki itu adalah segala hal yang kita nikmati dan segala hal yang bermanfaat bagi diri kita baik di dunia dan di akhirat.

Insya Allah saat kita taat kepada Allah maka Allah akan turunkan rahmat-Nya, kasih sayang-Nya. Allah juga akan turunkan rezeki dalam arti luas termasuk juga menjamin rezeki ekonomi kita.

Kedua, adalah masing-masing pasangan saling memberi kebahagiaan, saling memberi ketenangan batin dan saling memberi kenyamanan.

Coba sekarang rasakan, jika dalam sebuah keluarga saling menuntut kekurangan masing-masing, sering terjadi pertengkaran, tidak ada ketenangan dalam keluarga, bagaimana seorang suami bisa tenang mencari rezeki.

Misalnya lagi, untuk para istri nih, suami bekerja hasilnya pas-pasan, lalu sang istri tidak terima, kemudian istri marah-marah.

Suami terus diomelin, diteror, bahkan maaf kebutuhan biologisnya tidak terpenuhi, ya akhirnya suami juga ikutan pusing, ikutan stress dan tertekan.

Bagaimana mungkin suami bisa fokus bekerja jika kondisinya jadi tertekan dan stress. Bagaimana suami bisa optimal dalam mencari rezeki jika kondisinya sedang tidak stabil.

Besar kemungkinan suami akan mencari kesenangannya di luar yang tidak didapatkan di rumah. Nanti ujung-ujungnya cerai.

Berbeda jika istri mensyukuri dulu apapun yang suami dapatkan. Kelola dulu uang yang didapat suami sebaik mungkin.

Tetap memberi kenyamanan dan ketenangan kepada suaminya. Tidak banyak mengeluh maka suami akan lebih semangat dalam bekerja, mencari rezeki yang lebih banyak lagi.

Hal tersebut karena suami merasa nyaman, tenang dan bahagia di rumah sehingga muncul semangat untuk mencari penghasilan yang lebih banyak lagi.

Pikirannya akan lebih kreatif untuk mencari rezeki tambahan yang lain. Jadi syarat yang kedua jika ingin pintu rezeki terbuka lebar adalah masing-masing pasangan saling memberi kebahagiaan, ketenangan dan kenyamanan.

Saya pernah mendengar sebuah cerita dalam sebuah seminar. Diceritakan sepasang suami istri memiliki utang yang cukup banyak bermilyar rupiah.

Ketika ditanya oleh sang narasumber ternyata suami istri ini sudah lama sekali tidak tidur bersama. Lalu disarankan untuk tidur bersama dan mohon maaf, sering-sering kelonan.

Setelah dilakukan rutin, beberapa bulan kemudian bisnisnya melesat dan utang sekian milyar bisa lunas. Kenapa demikian, karena ternyata tidur bersama dan kelonan itu mengeluarkan hormon ketenangan dan kebahagiaan bagi masing-masing suami istri.

Karena setiap hari hati tenang dan bahagia maka mereka lebih bersemangat, lebih kreatif, lebih maksimal dalam mencari rezeki.

Sobat, rezeki itu turun pada saat masing-masing pasangan saling memberi kebahagiaan, ketenangan, ketentraman, kenyamanan.

Kebahagiaan dan ketenangan dalam rumah tangga itu adalah pembuka rezeki sedangkan pertengkaran itu yang sebenarnya menutup rezeki.

Begitu Anda berhasil melakukannya, banyak pintu kebahagiaan terbuka. Anda berhak dan wajib mencintai diri sendiri. Namun sebelum menata 'hidup baru', ada yang harus Anda selesaikan.  Perasaan bersalah Setelah bercerai,  Anda sempat berpikir, “Apa yang salah? Apa yang  bisa saya lakukan untuk mencegah perceraian?” Bukan menyesali, tapi  Anda tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Untuk melangkah maju, singkirkan perasaan bersalah. Memahami kesalahan itu penting sebagai bekal untuk mengubah diri dan melepaskan diri Anda dari belenggu perasaan bersalah. Karena beberapa orang tidak hanya selesai pada rasa bersalah saja, tapi bisa mengalami trauma psikis (luka batin, perasaan sakit/tersakiti yang sangat mendalam) hingga berakibat depresi.    Trauma ini membawa dampak ketakutan untuk memulai kembali relasi dengan orang lain, rasa tidak percaya terhadap diri sendiri dan orang lain, bahkan menarik diri dari lingkungan. Mengkonsultasikan masalah dengan professional (psikolog perkawinan, misalnya) akan membantu Anda untuk melewati hal2 yang sulit.  Wajib berdamai dengan si mantan Berdamai dengan si mantan bukanlah hal yang mudah dan butuh waktu untuk bisa betul-betul mencapai perasaan ‘damai’ atau ‘sepakat’ untuk tetap fokus pada kebutuhan anak meski Anda sudah berpisah. Bila masih memungkinkan untuk terjadi, Anda bisa berdiskusi dengan mantan, hal-hal apa yang bisa mereka lakukan untuk kepentingan anak, seperti memikirkan masa depan atau sekolah si anak. Untuk bisa berdamai dengan si mantan, Anda pun harus ‘berdamai’ dengan diri anda sendiri dahulu; dengan tidak menyesali diri, menyalahkan diri atau mantan. Berdamai dengan diri sendiri akan membantu Anda untuk berdamai dengan ‘musuh’ Anda.  Menjaga perasaan anak Perceraian  meninggalkan luka batin pada anak. Terutama balita, dia akan menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab perceraian Anda. Setelah Anda berhasil membantu anak melewati masa sulit  perceraian, Anda kini punya tugas baru. Yakni membantu anak menerima calon teman hidup Anda. Bicara dengan anak, apa yang sedang Anda alami dan apa yang dapat dia lakukan untuk membantu Anda dalam masa ini. Hindari menjelek-jelekkan mantan pasangan Anda, fokuslah pada hal-hal positif yang akan terjadi. Hal ini akan membuat anak merasa dilibatkan dan memiliki ‘kekuasaan.’  Anda harus peka, dengan memerhatikan kata-kata dan gerak-gerik anak apakah dia siap  untuk menerima pasangan baru Anda. Jangan berharap anak akan menerimanya dalam sekejap. Secara bertahap, beri dia pengertian tentang kemungkinan Anda memiliki pasangan baru dan bagaimana hal itu  akan mendatangkan kebahagiaan baginya. Ketika Anda merasa kesulitan untuk memahami apa yang dirasakan anak anda, janganlah segan untuk bekerja sama dengan psikolog anak.

Begitu Anda berhasil melakukannya, banyak pintu kebahagiaan terbuka. Anda berhak dan wajib mencintai diri sendiri. Namun sebelum menata 'hidup baru', ada yang harus Anda selesaikan.

Perasaan bersalah
Setelah bercerai,  Anda sempat berpikir, “Apa yang salah? Apa yang  bisa saya lakukan untuk mencegah perceraian?” Bukan menyesali, tapi  Anda tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Untuk melangkah maju, singkirkan perasaan bersalah. Memahami kesalahan itu penting sebagai bekal untuk mengubah diri dan melepaskan diri Anda dari belenggu perasaan bersalah. Karena beberapa orang tidak hanya selesai pada rasa bersalah saja, tapi bisa mengalami trauma psikis (luka batin, perasaan sakit/tersakiti yang sangat mendalam) hingga berakibat depresi.

Trauma ini membawa dampak ketakutan untuk memulai kembali relasi dengan orang lain, rasa tidak percaya terhadap diri sendiri dan orang lain, bahkan menarik diri dari lingkungan. Mengkonsultasikan masalah dengan professional (psikolog perkawinan, misalnya) akan membantu Anda untuk melewati hal2 yang sulit.

Wajib berdamai dengan si mantan
Berdamai dengan si mantan bukanlah hal yang mudah dan butuh waktu untuk bisa betul-betul mencapai perasaan ‘damai’ atau ‘sepakat’ untuk tetap fokus pada kebutuhan anak meski Anda sudah berpisah. Bila masih memungkinkan untuk terjadi, Anda bisa
berdiskusi dengan mantan, hal-hal apa yang bisa mereka lakukan untuk kepentingan anak, seperti memikirkan masa depan atau sekolah si anak. Untuk bisa berdamai dengan si mantan, Anda pun harus ‘berdamai’ dengan diri anda sendiri dahulu; dengan tidak menyesali diri, menyalahkan diri atau mantan. Berdamai dengan diri sendiri akan membantu Anda untuk berdamai dengan ‘musuh’ Anda.

Menjaga perasaan anak
Perceraian  meninggalkan luka batin pada anak. Terutama balita, dia akan menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab perceraian Anda. Setelah Anda berhasil membantu anak melewati masa sulit  perceraian, Anda kini punya tugas baru. Yakni membantu anak menerima calon teman hidup Anda. Bicara dengan anak, apa yang sedang Anda alami dan apa yang dapat dia lakukan untuk membantu Anda dalam masa ini. Hindari menjelek-jelekkan mantan pasangan Anda, fokuslah pada hal-hal positif yang akan terjadi. Hal ini
akan membuat anak merasa dilibatkan dan memiliki ‘kekuasaan.’

Anda harus peka, dengan memerhatikan kata-kata dan gerak-gerik anak apakah dia siap  untuk menerima pasangan baru Anda. Jangan berharap anak akan menerimanya dalam sekejap. Secara bertahap, beri dia pengertian tentang kemungkinan Anda memiliki
pasangan baru dan bagaimana hal itu  akan mendatangkan kebahagiaan baginya. Ketika Anda merasa kesulitan untuk memahami apa yang dirasakan anak anda, janganlah segan untuk bekerja sama dengan psikolog anak.

Berikut Etika yang Harus Diperhatikan (Terpaksa Bercerai )

Berikut Etika yang Harus Diperhatikan (Terpaksa Bercerai )

Perceraian adalah sesuatu yang yang tidak diharapkan setiap pasangan dalam ikatan pernikahan. Akan tetapi terkadang perceraian tidak bisa dihindari karena alasan-alasan tertentu. Bahkan di Indonesia, angka perceraian cukup tinggi dan selalu naik setiap tahun. 

Dalam ajaran Islam, perceraian adalah sesuatu yang diperbolehkan tetapi tidak disukai oleh Allah SWT. Oleh karena itu menurut Imam al-Ghazali, hukum mubah pada perceraian itu jika tidak ada unsur menyakiti. Tetapi jika ada unsur menyakiti salah satu pasangan dengan jalan yang batil maka hukumnya tidak lagi mubah, karena dalam ajaran agama tidak diperbolehkan menyakiti orang lain.


Untuk mengurangi risiko saling menyakiti dalam sebuah perceraian, ada etika yang sebaiknya dipatuhi oleh setiap pasangan yang hendak melakukan perceraian. Etika ini disampaikan oleh hujjatul Islam dalam Ihya Ulumuddin terbitan Dar Ibnu Hazam, halaman: 496-497.


ثم ليراع الزوج في الطلاق أربعة أمور: الأول أن يطلقها في طهر لم يجامعها فيه 


Artinya: Kemudian ada empat hal yang sebaiknya dijaga oleh laki-laki ketika menjatuhkan talak: Pertama, seorang suami menceraikan istri dalam keadaan suci dan tidak menggaulinya.

 

Secara hukum, tidak diperbolehkan menceraikan istri dalam keadaan haid, atau keadaan suci tetapi telah melakukan hubungan suami istri. Ada riwayat yang menceritakan bahwa ketika Ibnu Umar menceraikan istrinya dalam keadaan haid, kemudian Umar bi Khattab menayakan hal itu kepada Rasulullah SAW, kemudian berkata kepada Umar: Perintahkanlah dia untuk rujuk kepada istrinya, kemudian tunggulah sampai dia suci, lalu haid lagi, kemudian suci kembali. Setelah itu jika masih ingin bersamanya, ia boleh bersamanya atau jika berkehendak, boleh menceraikannya sebelum menggauli. Itulah yang dimaksud iddah yang diperintahkan Allah Azza wa Jalla dalam menceraikan perempuan. 


الثاني أن يقتصر علي طلقة واحدة فلا يجمع بين الثلاث


Artinya: Kedua, ketika menceraikan istri, suami sebaiknya menjatuhkan talak satu, tidak langsung menjatuhkan talak tiga. 
 

Hal ini dikarenakan ketika menjatuhkan talak satu masih ada kesempatan untuk rujuk kembali jika masih dalam masa iddah, atau melakukan akad ulang jika telah habis masa iddah. Berbeda jika menjatuhkan talak tiga, maka kesempatan untuk kembali menjadi sangat kecil karena harus ada muhallil terlebih dahulu. Artinya perempuan yang ditalak tiga, jika suaminya menghendaki untuk menikahinya kembali, maka perempuan tersebut harus terlebih dahulu menikah dengan laki-laki lain. Berikutnya sudah berhubungan layaknya suami istri, dan telah diceraikan suami kedua.

 

Etika kedua ini untuk menjalankan prinsip kehati-hatian. Setiap pasangan ketika bercerai seringkali dalam keadaan emosional sehingga tidak bisa berpikir secara jernih. Setelah perceraian itu terjadi ada kemungkinan timbul penyesalan di antara kedua belah pihak sehingga timbul keinginan untuk rujuk kembali. Oleh karena itu, jika talak yang dijatuhkan adalah talak satu, maka masih ada kesempatan untuk rujuk kembali.


الثالث أن يتلطف في التعلل بتطليقها من غير تعنيف واستخفاف, وتطيب قلبها بهدية علي سبيل الامتاع والجبر لما فجعها به من أذى الفرق

 

Artinya: Ketiga, memperhalus alasan perceraian tanpa mencela dan menganggap rendah istri, mengobati hati istri dengan memberikan hadiah sebagai ganti rasa sakit yang diakibatkan oleh perceraian.

 

Dalam proses perceraian, seringkali terjadi perselisihan atau bahkan permusuhan di antara suami dan istri. Akibat perselisihan tersebut, suami menjatuhkan telak dalam keadaan marah dan dengan kata-kata yang kasar sehingga menyakiti hati istri. Padahal menurut Imam al-Ghazali, dalam menjatuhkan talak, suami sebaiknya mencari alasan yang tidak sampai menyakiti hati istri, atau istri merasa direndahkan atau dilecehkan. 

 

Bahkan tidak cukup dengan memperhalus alasan perceraian, suami juga harus memberikan hadiah sebagai ganti rasa sakit akibat perceraian. Hadiah ini dalam fiqih disebut sebagai nafkah mut’ah yaitu sebuah pemberian materi mantan suami kepada mantan istri ketika terjadi perceraian.


الرابع أن لا يفشي سرها لا في الطلاق ولا عند النكاح 

 

Artinya: Keempat, tidak menyebarkan rahasia istri, baik ketika terjadi perceraian atau pada saat di dalam ikatan pernikahan. 

 

Yang dimaksud dengan rahasia dalam konteks ini adalah rahasia dalam urusan hubungan badan antara suami istri. Ada hadits yang mengancam bagi seseorang yang menceritakan hubungan badan dengan pasangannya. Di dalam kitab Shahih Muslim, Imam Muslim meriwayatkan hadits tentang larangan menyebarkan rahasia istri. 


عن أبي سعيد الخدري قال, قال رسول الله صلي الله عليه وسلم  إنَّ مِن أَشَرِّ النّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَومَ القِيامَةِ، الرَّجُلَ يُفْضِي إلى امْرَأَتِهِ، وَتُفْضِي إِلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّها.

 

Artinya: Diriwayatkan dari Abi Said al-Khudriy bahwa Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya manusia yang paling buruk tempatnya di hadapan Allah SWT adalah laki-laki yang menggauli istrinya, dan istrinya menggaulinya, kemudian ia meyebarkan rahasia tersebut. (Imam Abi Husain Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, halaman: 1060)


Dari hadits ini jelas bahwa suami tidak diperbolehkan menceritakan rahasia istri. Larangan itu berlaku pada saat masih dalam ikatan pernikahan, atau sudah bercerai. Larangan ini juga sebagai bentuk pencegahan agar ketika terjadi perceraian tidak menjadikan suami atau istri membuka rahasia pasangannya di depan umum khususnya masalah di atas ranjang. Hal ini bisa terjadi karena merasa sakit hati, atau ingin balas dendam terhadap pasangan yang menceraikannya. 

 

Dengan demikian, pada dasarnya ajaran agama memperbolehkan terjadi perceraian. Tetapi sebaiknya perceraian dilakukan dengan baik, tidak menyakiti satu sama lain dan mengikuti ketentuan yang ditetapkan agama.


Referansi : Berikut Etika yang Harus Diperhatikan (Terpaksa Bercerai )