This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 25 Agustus 2022

Kunci Rumah Tangga Bahagia dan Dijamin Rezekinya

Kunci Rumah Tangga Bahagia dan Dijamin Rezekinya

Kunci Rumah Tangga Bahagia dan Dijamin Rezekinya. Kunci rumah tangga bahagia dan dijamin rezekinya ini ditulis oleh pasangan motivator Randy Ariyanto W. dan Dyah Lestyarini dari Komunitas Rumah Pintar Aisha.

Rumah tangga akan rapuh dan mudah hancur berantakan tanpa visi akhirat.

Dulu ada seseorang bertanya, lalu Sufyan bin Uyainah balik bertanya padanya: Apakah dahulu kau menikahinya karena ingin mencari kemuliaan diri di samping kemuliaannya?

Ia menjawab: ya, maka Sufyan menasihatinya dengan petuah yang layak ditulis dengan tinta emas.

“Barang siapa yang menikah karena ingin menumpang kemuliaan dari pasangannya bersiaplah untuk mereguk pahitnya piala kehinaan, barang siapa yang menikah karena harta bersiaplah meraih kemiskinan, barang siapa yang menikah karena baiknya agama seseorang niscaya Allah akan kumpulkan baginya kemuliaan, harta dan agama”.

Saat menikah, niatkanlah untuk ibadah, jangan diniatkan hanya sekadar untuk menyatukan dua insan, untuk bisa berkasih sayang.

Apalagi diniatkan untuk mendapatkan kecantikannya, mendapatkan kekayaannya, menikah karena kedudukannya, menikah karena kehormatan keluarganya tapi niatkan dengan menikah agar dapat meraih ridho Allah, bisa saling menjaga ibadah, sholat malam bersama, membaca Al Quran bersama sehingga surga lebih mudah diraih bersama.

Menikah itu harus mampu mewujudkan sebuah keluarga yang sakinah.

Keluarga yang sakinah adalah keluarga yang tunduk dan patuh pada tali agama Allah, jika keluarga tidak terikat tali agama Allah maka itu bukan keluarga yang sakinah, jikapun keluarga itu bahagia maka kebahagiaannya akan sesaat saja yakni hanya bahagia di dunia saja.

Namun keluarga yang sakinah adalah keluarga yang bahagia di dunia dan juga bahagia di akhirat. Hati-hati, jika suami dan istri semakin jauh dari Allah maka semakin tidak berkah keluarga itu, sebaliknya semakin suami dan istri dekat dengan Allah maka semakin berkahlah keluarga itu. 

Jadi syarat turunnya rezeki dari Allah itu adalah yang pertama ketaatan kepada Allah. Saat keluarga itu taat maka Allah menjamin rezekinya.

Satu lagi yang ingin saya sampaikan bahwa rezeki itu tidak hanya sekadar harta benda. Rezeki jika diasumsikan hanya sebagai harta, itu terlalu sempit.

Rezeki bukan hanya tentang gaji, bukan hanya tentang harta benda tetapi kesehatan itu rezeki, anak-anak yang sholeh itu rezeki, mendapatkan hadiah itu rezeki, barang-barang yang awet tidak mudah rusak juga rezeki,

barang-barang yang jarang hilang itu rezeki lagi, diberi kemampuan Allah untuk memberi makan/barang kepada orang lain adalah rezeki yang luar biasa dari Allah, diberi kemudahan bersedekah itu rezeki,

diberi kemudahan dan waktu luang untuk beribadah adalah rezeki yang tak ternilai dari Allah, diberi kelebihan Allah ilmu yang memberi manfaat bagi banyak orang adalah rezeki amal jariah yang tidak akan pernah putus walaupun orang itu telah meninggal dunia,

memiliki banyak sahabat yang sholeh itu juga rezeki yang sangat berharga sebab sahabat-sahabat yang sholeh itu akan mencari-cari temannya saat disurga nantinya dan akan bersyafaat saat mengetahui temannya berada di neraka, dimudahkan untuk memahami agamaNya itu rezeki. Itu semua adalah rezeki.

Sekali lagi bahwa rezeki itu sifatnya luas, dari mulai harta benda, gaji, pengetahuan agama, ketenangan, kesehatan, ilmu dan keterampilan, keturunan yang sholeh, istri yang sholehah, mudah beribadah, memiliki teman yang sholeh, kekayaan yang bermanfaat bagi orang lain.

Semua adalah rezeki. Intinya adalah rezeki itu adalah segala hal yang kita nikmati dan segala hal yang bermanfaat bagi diri kita baik di dunia dan di akhirat.

Insya Allah saat kita taat kepada Allah maka Allah akan turunkan rahmat-Nya, kasih sayang-Nya. Allah juga akan turunkan rezeki dalam arti luas termasuk juga menjamin rezeki ekonomi kita.

Kedua, adalah masing-masing pasangan saling memberi kebahagiaan, saling memberi ketenangan batin dan saling memberi kenyamanan.

Coba sekarang rasakan, jika dalam sebuah keluarga saling menuntut kekurangan masing-masing, sering terjadi pertengkaran, tidak ada ketenangan dalam keluarga, bagaimana seorang suami bisa tenang mencari rezeki.

Misalnya lagi, untuk para istri nih, suami bekerja hasilnya pas-pasan, lalu sang istri tidak terima, kemudian istri marah-marah.

Suami terus diomelin, diteror, bahkan maaf kebutuhan biologisnya tidak terpenuhi, ya akhirnya suami juga ikutan pusing, ikutan stress dan tertekan.

Bagaimana mungkin suami bisa fokus bekerja jika kondisinya jadi tertekan dan stress. Bagaimana suami bisa optimal dalam mencari rezeki jika kondisinya sedang tidak stabil.

Besar kemungkinan suami akan mencari kesenangannya di luar yang tidak didapatkan di rumah. Nanti ujung-ujungnya cerai.

Berbeda jika istri mensyukuri dulu apapun yang suami dapatkan. Kelola dulu uang yang didapat suami sebaik mungkin.

Tetap memberi kenyamanan dan ketenangan kepada suaminya. Tidak banyak mengeluh maka suami akan lebih semangat dalam bekerja, mencari rezeki yang lebih banyak lagi.

Hal tersebut karena suami merasa nyaman, tenang dan bahagia di rumah sehingga muncul semangat untuk mencari penghasilan yang lebih banyak lagi.

Pikirannya akan lebih kreatif untuk mencari rezeki tambahan yang lain. Jadi syarat yang kedua jika ingin pintu rezeki terbuka lebar adalah masing-masing pasangan saling memberi kebahagiaan, ketenangan dan kenyamanan.

Saya pernah mendengar sebuah cerita dalam sebuah seminar. Diceritakan sepasang suami istri memiliki utang yang cukup banyak bermilyar rupiah.

Ketika ditanya oleh sang narasumber ternyata suami istri ini sudah lama sekali tidak tidur bersama. Lalu disarankan untuk tidur bersama dan mohon maaf, sering-sering kelonan.

Setelah dilakukan rutin, beberapa bulan kemudian bisnisnya melesat dan utang sekian milyar bisa lunas. Kenapa demikian, karena ternyata tidur bersama dan kelonan itu mengeluarkan hormon ketenangan dan kebahagiaan bagi masing-masing suami istri.

Karena setiap hari hati tenang dan bahagia maka mereka lebih bersemangat, lebih kreatif, lebih maksimal dalam mencari rezeki.

Sobat, rezeki itu turun pada saat masing-masing pasangan saling memberi kebahagiaan, ketenangan, ketentraman, kenyamanan.

Kebahagiaan dan ketenangan dalam rumah tangga itu adalah pembuka rezeki sedangkan pertengkaran itu yang sebenarnya menutup rezeki.





Jika Menikah Pintu Rezeki, Kenapa Terjadi Perceraian karena Ekonomi

Jika Menikah Pintu Rezeki, Kenapa Terjadi Perceraian karena Ekonomi

Jika Menikah Pintu Rezeki, Kenapa Terjadi Perceraian karena Ekonomi. Saya sering mendengar di pengajian bahwa menikah itu membuka pintu rezeki. Namun kenyataannya banyak sekali keluarga yang malah kekurangan ekonomi bahkan banyak juga perceraian karena masalah ekonomi.

Pasangan Motivator dari Rumah Pintar Aisha Randy Ariyanto W. dan Dyah Lestyarini menjawab permasalahan ini sebagai berikut.Ibaratkan menikah itu seperti kunci. Saat menikah, Allah memberikan sebuah kunci pembuka rezeki. Nah, masalahnya adalah bagaimana caranya agar pintu bisa dibuka.

Kalau kita sudah punya kuncinya tetapi tidak tahu cara membukanya maka rezeki juga tidak akan turun. Cara membuka pintu rezeki dalam pernikahan itu ada 2, yakni pertama keluarga tersebut taat kepada Allah, kedua, masing-masing suami istri saling memberi kebahagiaan dan ketenangan kepada pasangannya.ntuk membahas lebih lanjut, coba saya tanya, dulu saat kita menikah, sebenarnya tujuan kita menikah itu apa sih. Ayo jawab dengan jujur. Coba kita renungkan sejenak, dulu apa yang menjadi landasanmu menikah.

Apakah karena seks, jika iya, maka bersiaplah rumah tanggamu berantakan saat layanan istrimu sudah tidak lagi memuaskanmu.Apakah karena harta, maka bersiaplah untuk hancur rumah tanggamu tatkala sedang dalam kesulitan ekonomi.

Apakah karena fisik yang cantik dan gagah maka bersiaplah untuk kecewa saat wajah mulai keriput, fisik mulai melemah.

Apakah karena ingin punya anak, maka bersiaplah untuk saling menyalahkan tatkala anak yang ditunggu tak kunjung hadir.

Apakah karena kepribadiannya yang menawan, maka bersiaplah engkau lari saat apa yang menjadi ekspektasimu tidak sesuai dengan harapanmu.

Jadi kita harus meluruskan kembali tujuan kita menikah.

Bahwa tujuan kita menikah itu adalah mencari ridho Allah, dan masuk surga bersama. Sobat, kita harus memiliki visi akhirat.

Bahwa pernikahan kita ini bukan semata-mata untuk meraih kebahagiaan di dunia namun jauh lebih daripada itu meraih kebahagiaan bersama di akhirat. Bukan sehidup semati tetapi sehidup sesurga.

Pertanyaannya, apakah sobat sudah memiliki visi akhirat, kalau belum, segera dirumuskan.

Suami istri harus ngobrol untuk menentukan apa visi dari rumah tangganya. Jangan sampai rumah tangga kita tanpa ada visi akhirat.

Cara Menjalani Hidup Menjanda

Ilustrasi : Cara Menjalani Hidup Menjanda

Pertanyaan.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bagaimana cara menjalani hidup menjanda menurut Islam bersama dengan dua anak yang tak diberi nafkah oleh bapaknya yang masih hidup?.

Jawaban.

Kami berdoa semoga Anda selalu mendapatkan kekuatan dan kemudahan dari Allah Azza wa Jalla untuk mengarungi kehidupan bersama anak-anak sebagai single parent hingga berhasil membina mereka menjadi anak-anak yang shaleh shalehah. Amin.

Pertama-tama, kami ingin menekankan bahwa perceraian bagaimanapun tidak lepas dari takdir dan ketentuan Allah Azza wa Jalla. Sedih pasti ada. Mengingat rumah tangga yang didamba keutuhan dan kekokohan sendinya ternyata harus luluh-lantak di tengah jalan. Apa boleh buat. Ketabahan, ketegaran dan ridha itulah jawaban untuk menghadapi apa yang sedang Anda alami. Wallahul musta’ân (Hanya Allah Azza wa Jalla lah tempat memohon pertolongan).

Setelah kejadian tidak mengenakkan ini, cobalah lakukan introspeksi diri. Jangan melulu menyalahkan mantan suami atau pihak ketiga. Mungkin saja, Anda telah berbuat sesuatu yang menyumbang terjadinya keretakan rumah tangga, disamping apa yang dilakukan suami – dan pihak ketiga – menurut pengamatan Anda. Misalnya, tidak menjalankan salah satu hak suami Anda dengan sebaik-baiknya.

Introspeksi ini bisa menjadi salah satu faktor penenang hati, lantaran telah terbentuk kesadaran kalau kita juga kadang mau menangnya sendiri, berbuat salah tapi tidak menyadari, atau terlalu mengedepankan ego pribadi. Dengan begitu, kesalahan yang sama insya Allah Azza wa Jalla tidak terulang lagi di masa depan, apalagi bila Anda dimudahkan oleh Allah Azza wa Jalla mendapatkan pasangan hidup baru.

Menjadi janda itu sendiri bukanlah serta-merta sebuah aib. Mengingat, syariat memberi jalan suami istri yang mengalami kebuntuan dalam menjembatani konflik rumah tangga untuk bercerai yang nantinya mengakibatkan pihak wanita berstatus janda. Berbeda misalnya, bila perceraian dilakukan tanpa alasan-alasan jelas, ‘pokoknya pengen cerai’.., atau dalam rangka mempermainkan hukum talak dalam syariat Islam yang mulia. Maka, dalam konteks ini, Islam melarang. Sebab, perkawinan ditujukan untuk merealisasikan tujuan-tujuan luhur, seperti menjaga kelangsungan keturunan, membentuk suasana rumah tangga yang penuh dengan kasih dan sayang dll.

Pembicaraan tentang perceraian juga diketengahkan dalam dalam al-Qur`ân di beberapa ayat dalam surat al-Baqarah. Bahkan terdapat surat yang bernama ath-Thalâq (perceraian).

Sementara di tengah masyarakat memang berkembang tashawwur (pandangan) buruk pada seorang janda. Sebenarnya kemunculan imej buruk ini bukan murni karena status janda yang disandang, tapi lebih kerap disebabkan oleh sepak-terjang si wanita janda itu. Ia tidak menjaga diri dan memelihara kehormatannya, atau tampil kurang sopan saat bergaul dengan lawan jenis.

Menjanda akan menimbulkan dampak buruk ketika si wanita tidak menjaga diri, atau tidak memenuhi hukum-hukum yang termuat dalam ayat-ayat al-Qur`an tentang perceraian.

Allah Azza wa Jalla berfirman.

وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ

“Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri“. [ath-Thalâq/65: 1]

Dalam ayat lain, Allah Azza wa Jalla berfirman:

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا ۚ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zhalim“.[al-Baqarah/2:229]

Jadi, hendaknya menjaga sikap selaku muslimah. Berpakaianlah sesuai dengan petunjuk syariat. Hindari hal-hal yang dapat mencoreng kehormatan, seperti sering keluar apalagi di waktu malam, umpamanya. Rumah adalah tempat terbaik bagi Anda. Kalau terpaksa bekerja di luar rumah, maka tidak boleh melanggar syari’at dan pilihlah jenis pekerjaan yang jauh dari campur-baur dengan lawan jenis.

Sehubungan dengan keengganan mantan suami untuk menafkahi anak-anaknya, itu merupakan problematika yang memang kerap dialami seorang ibu. Mantan suami sudah tidak mau lagi membiayai hidup anak-anak kandungnya yang ikut bersama ibu kandungnya. Atau menghilang entah kemana. Karena itu, kami mengingatkan Anda dengan perkataan Syaikh as-Sa’di rahimahullah dalam tafsir surat ath-Thalaaq : “Karena perceraian kadang mengakibatkan terjadinya kesulitan, kesempitan hidup dan masalah, maka Allah Ta’ala memerintahkan agar bertakwa kepada-Nya. Dan Dia menjanjikan adanya jalan keluar bagi orang yang bertakwa”.(Hal. 953).

Keterangan ini berlandaskan firman Allah Azza wa Jalla berikut ini yang tertera di sela-sela aturan-aturan talak (perceraian):

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا﴿٢﴾وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya“. [ath-Thalâq/65:2-3]

Perlu diingat bahwa Islam sendiri menetapkan bahwa kewajiban menafkahi anak pasca perceraian tetap berada di pundak ayahnya. Demikian juga nafkah istri yang masih dalam masa ‘iddah (masa menunggu selama tiga bulan) menjadi tanggungannya (suami). Masing-masing pihak, si lelaki dan mantan istrinya diminta untuk berbuat ma’ruf (baik). Sehingga tidak ada pihak yang dirugikan dan dibebani oleh tugas-tugas yang bukan merupakan kewajibannya.

Manakala kewajiban menafkahi anak tak diberi perhatian, artinya si ayah telah berbuat zhalim kepada si anak, dan ibunya selaku pihak yang merawatnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan :

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْماً أَنْ يَحْبِسَ عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوْتَهُ

“Adalah sudah menjadi dosa bagi seorang lelaki, menahan hak orang yang penghidupan orang tersebut ada di tangannya“. [HR. Muslim no. 996]

Kezhaliman sangat berbahaya bagi pelakunya baik di dunia maupun di akhirat, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan siapapun berbuat aniaya.

Kami sadar, kemungkinan rasa khawatir akan nafkah dan pendidikan menggelayuti perasaan dan hati Anda. Karena itu, yakinlah, Allah Azza wa Jalla tidak akan menyia-nyiakan hamba-hamba-Nya yang taat kepada-Nya.

Allah Azza wa Jalla berfirman tentang suami-istri yang terpaksa bercerai setelah setelah mengalami kebuntuan :

وَإِنْ يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ وَاسِعًا حَكِيمًا

“Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana“. [an-Nisâ/4:130]

Yakinlah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala amat dekat dengan orang yang bertakwa dan senantiasa berserah diri kepada-Nya.

Sebenarnya Islam telah menggariskan aturan lengkap tentang pihak-pihak yang harus menanggung nafkah seorang wanita. Nafkah wanita yang tidak memiliki suami, baik belum atau pernah menikah adalah tanggung jawab orang tuanya (dan) atau kerabat ahli waris wanita tersebut. Dan mestinya, mereka juga tidak akan sampai hati menelantarkan anak-anak si wanita itu.

Sebagai penutup, kami berwasiat kepada seluruh suami bahwa tanggung jawab menafkahi anak-anaknya adalah kewajiban yang tidak gugur meski tali pernikahan putus dengan ibu mereka.. Jangan jadikan perceraian sebagai sarana permusuhan, kezhaliman dan pelanggaran syariat. Semoga dengan jawaban ini dapat memberikan pencerahan kepada kaum muslimin dan memberikan solusi kepada saudari penanya. Wabillahi taufiq. (Tim Ilmiah Majalah as-Sunnah)

Referensi : Cara Menjalani Hidup Menjanda 

7 Penyebab Rezeki Suami Susah yang Harus Diwaspadai

7 Penyebab Rezeki Suami Susah yang Harus Diwaspadai

Penyebab Rezeki Suami Susah yang Harus Diwaspadai. Ada banyak faktor penyebab rezeki suami susah. Padahal suami memiliki tanggung jawab yang besar, untuk memberikan nafkah kepada keluarga. Rezeki suami susah bisa menyebabkan masalah ekonomi pada keluarga, dan hilangnya keharmonisan dalam keluarga.

Penyebab rezeki suami susah tidak hanya disebabkan karena perilaku suami. Penyebabnya juga bisa diakibatkan karena perbuatan istri yang kurang berkenan dihadapan Allah SWT. Sebagai sepasang suami istri, ada baiknya saling mengingatkan agar mendekatkan diri pada Allah SWT dan melakukan perbuatan yang berkenan dihadapan Allah SWT.

Perbuatan baik tidak hanya berfungsi untuk melancarkan rezeki saja. Perbuatan baik juga bisa menyebabkan perasaan senang dan penuh kedamaian. Berikut penyebab rezeki suami susah yang harus diwaspadai:

Penyebab Rezeki Suami Susah

1. Tidak Pernah Ibadah

Penyebab rezeki suami susah yang pertama adalah karena tidak pernah melakukan ibadah dan kewajiban sebagai umat Islam. Allah akan mengabulkan segala keinginan umat-Nya, jika umat melakukan ibadah dengan benar. Allah pernah bersabda bahwa:

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا

“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”

2. Mencari Uang dengan Haram

Rezeki suami susah bisa disebabkan karena mencari uang secara haram. Entah itu mencuri, korupsi, berjualan barang haram dan lain sebagainya. Perbuatan dosa ini bisa menyebabkan Allah murka dan rezeki menjadi seret.

3. Jarang Bersedekah

Jika memiliki rezeki berlebih, sebaiknya membagikan rezeki kepada orang yang membutuhkan. Karena jarang bersedekah bisa menyebabkan rezeki suami menjadi susah. Rajin bersedekah bisa menyenangkan hati Allah dan bisa mendapatkan rezeki berlipat ganda, seperti sabda Allah:

“Sesungguhnya, orang yang bersedekah baik laki-laki mau pun perempuan, dan meminjamkan pada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (ganjarannya) pada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS. Al-Hadid: 18).


4. Suami Menyakiti Hati Istri
Penyebab rezeki suami susah yang selanjutnya adalah karena suami sering menyakiti hati istri. Bahkan suami yang berani membuat istri menangis, akan mendapatkan siksa kubur dan sangat tidak disukai Allah. Ada tertulis dalam Al-Qur'an Surah Al Ahzab 84, bahwa ketika suami berbuat zalim terhadap istri, dia telah berdosa besar dan tubuhnya tidak lagi diharamkan dari neraka.

5. Malas Bekerja
Rezeki lancar hanya dapat didapatkan untuk orang yang rajin bekerja. Sehingga suami yang malas bekerja dan malas mencari nafkah untuk keluarga, akan susah mendapatkan rezeki. Rasulullah SAW bersabda: “Bekerja mencari yang halal itu suatu kewajiban sesudah kewajiban beribadah”. (HR. Thabrani dan Baihaqi)

6. Sering Berbuat Dosa

Melakukan perbuatan dosa tentu saja akan membuat murka. Apalagi jika suami sering melakukan perbuatan zina. Tentu saja hal ini bisa membuat suami mendapatkan hukuman dari Allah, dan menyebabkan rezeki menjadi susah. Tak hanya suami, jika istri melakukan perbuatan dosa seperti melakukan riba atau ghibah, bisa membuat rezeki suami susah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ : إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ , وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ , وَإِذَا ائْتُمِنَخَانَ

“Tiga tanda munafik adalah jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan ketika diberi amanat, maka ia ingkar.” (HR. Bukhari, no. 33 dan Muslim, no. 59).

7. Tidak Pernah Bersyukur

Sering kali disepelekan. Bersyukur adalah hal yang wajib dilakukan setelah mendaptkan nikmat dan rezeki dari Allah. Orang yang tidak pernah bersyukur tidak akan pernah merasa cukup. Sehingga dirinya akan selalu kekurangan rezeki. Allah pernah berjanji:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).




Suami Istri Jangan Sampai Melakukan, Ini Penyebab Rezeki Keluarga Seret Kata Gus Baha

Satu menit yang dikatakan disebut sang ustaz kondang itu dengan 'satu menit emas'.  Satu menit yang dimaksud adalah istighfar.  "Dalam 1 menit, anda bisa beristighfar kepada Allah 100 kali. Satu menit," kata Ustaz Khalid Basalamah.  "Apakah anda sadar bahwasanya istighfar 1 kali saja, sudah bisa mengampuni dosa anda 70 tahun. Bisa dosa anda 100 tahun diampuni dengan 1 istighfar," terangnya.  Ustaz Khalid menjelaskan bahwa dengan 1 menit, manusia dapat memberatkan timbangan amalnya di hari kiamat kelak.

Suami Istri Jangan Sampai Melakukan (Ini Penyebab Rezeki Keluarga Seret Kata Gus Baha). Pernikahan yang dikaruniai rezeki yang banyak merupakan impian setiap pasangan. Apalagi ada sebutan bahwa menikah bisa menambah rezeki seseorang.

Dalam berumah tangga, kondisi keuangan yang naik-turun sebenarnya waja ternyata. Perlu usaha keras dan kekompakan antara suami dan istri untuk dapat mewujudkan kestabilan ekonomi.

Namun adakalanya setelah berusaha, rezeki masih juga seret. Hal ini ternyata ada sebabnya.

Menurut KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha, ada penyebab yang terkait dengan hubungan suami istri sehingga rezeki dalam rumah tangga menjadi seret.

Di Al-Quran dijelaskan bahwa Allah SWT sudah menciptakan setiap apa yang diciptakannya berpasang-pasangan. Termasuk laki-laki dan perempuan.

Dalam Islam, menikah menjadi penyempurna gama seseorang. Selain karena apa saja yang dikerjakan akan dinilai pahala oleh Allah SWT, menikah juga mampu menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela.

Gus Baha menjelaskan penyebab susahnya rezeki dalam pernikahan terletak pada hubungan antara suami dan istri. Jika status perniakhan mereka tidaklah jelas, maka rezeki akan susah.

"Maka jika ada orang status pernikahannya tidak jelas, maka susah rezekinya," ujar Kiai asal Rembang ini.

Gus Baha berpesan bahwa para suami jangan sampai menggantung status pernikahannya dengan sang istri. Apalagi jika dalam pernikahan itu, tidak diberi nafkah sebagaimana kewajiban sang suami.

Allah SWT akan murka terhadap suami yang menggantungkan hubungannya atas istrinya.

"Karena memang Allah murka, tidak boleh seorang perempuan itu nasibnya seperti sesuatu yang tergantung," kata Gus Baha.

Satu menit yang dikatakan disebut sang ustaz kondang itu dengan 'satu menit emas'.

Satu menit yang dimaksud adalah istighfar.

"Dalam 1 menit, anda bisa beristighfar kepada Allah 100 kali. Satu menit," kata Ustaz Khalid Basalamah.

"Apakah anda sadar bahwasanya istighfar 1 kali saja, sudah bisa mengampuni dosa anda 70 tahun. Bisa dosa anda 100 tahun diampuni dengan 1 istighfar," terangnya.

Ustaz Khalid menjelaskan bahwa dengan 1 menit, manusia dapat memberatkan timbangan amalnya di hari kiamat kelak.


Ini yang dirasakan pria setelah bercerai

Setelah melalui masa berduka, pria akan merasa lebih baik dan mulai memiliki pandangan baru untuk kehidupannya di masa depan. Dengan begitu, mereka tak akan terkekang oleh masa lalu karena ego yang dimiliki.

Yang Dirasakan pria setelah bercerai. agi beberapa orang perceraian bisa membebaskan. Namun bagi yang lainnya, perceraian bisa jadi masa-masa yang sangat sulit. Tak hanya bagi wanita, pria juga bisa mengalami hal buruk dan mengalami kesulitan ketika menghadapi perceraian.

Meski beberapa penelitian menunjukkan bahwa pria seringkali lebih sukses dan kaya setelah bercerai, namun tak sedikit penelitian yang menunjukkan bahwa pria yang bercerai lebih rentan melakukan bunuh diri, kecanduan alkohol, dan mengalami gangguan mental. Lantas, apa yang menyebabkan pria mengalami hal buruk ini, dan mengapa pria lainnya bisa bertahan?

ini berkaitan dengan ego, emosi, dan harga diri yang dimiliki oleh pria. Setelah bercerai, pria melalui krisis yang seringkali dianggap remeh oleh masyarakat, bahkan oleh dirinya sendiri. Setiap orang yang mengalami kehilangan pasti akan merasakan saat berduka. Ini berlaku untuk semua orang, baik pria maupun wanita.

Bagi pria, rasa duka dan kehilangan ini berimbas pada sisi egonya. Ego adalah bagaimana seseorang melihat dirinya sebagai bagian dari masyarakat dan orang lain. Ego memberikan pandangan terhadap diri kita mengenai peran dan tempat kita berdasarkan interaksi yang dibangun selama ini. Ego adalah hal penting yang membuat kita berfungsi dalam masyarakat, namun juga bisa menjadi masalah besar ketika kita kehilangan. Hal ini terutama ketika ego berkaitan dengan keluarga, cinta, dan pernikahan.

Pria yang mengalami perceraian 'dipaksa' untuk kehilangan perannya selama ini, baik sebagai suami, ayah, maupun kepala keluarga. Ketika menikah, pria telah mengabdikan dirinya dalam pernikahan. Mengambil peran sebagai suami, ayah, dan kepala keluarga. Melalui peran-peran ini, pria mendapatkan harga diri dan kepercayaan dirinya.

Untuk itu, ketika perceraian terjadi, pria kehilangan semua perannya bersamaan dengan semua kepercayaan diri yang selama ini dimilikinya. Pria seolah terbuang tanpa mengetahui tempatnya dan perannya dalam kehidupan selanjutnya. Hal inilah yang kemudian berubah menjadi kesedihan, kemarahan, kecemasan, serta depresi.

Beberapa pria mencoba untuk mendapatkan kembali kepercayaan dirinya dengan berkencan, meski mereka belum siap. Sementara itu, beberapa lainnya lari ke alkohol, obat-obatan, atau melampiaskan kesedihan yang mereka rasakan dengan bekerja keras. Semua ini berkaitan dengan satu hal, yaitu ego pria yang terluka. Semua hal tersebut dilakukan oleh pria untuk mendapatkan kembali kepercayaan diri, rasa penghargaan terhadap diri mereka sendiri, serta untuk membuat ego mereka lebih baik.

Morrison menyarankan para pria yang baru saat bercerai untuk tidak terlalu mengejar cara instan dalam menghilangkan rasa depresi atau untuk memperbaiki rasa percaya diri. Lebih baik para pria mulai fokus untuk membangun kembali harga diri dan rasa percaya diri mereka melalui aktivitas-aktivitas yang produktif dan memberi waktu pada diri mereka sendiri untuk bisa melepaskan rasa kecewa, amarah, rasa sakit atau depresi akibat perceraian.

Setelah melalui masa berduka, pria akan merasa lebih baik dan mulai memiliki pandangan baru untuk kehidupannya di masa depan. Dengan begitu, mereka tak akan terkekang oleh masa lalu karena ego yang dimiliki.


Kalau Terpaksa Bercerai Juga, Bercerailah Dengan Baik

Kalau Terpaksa Bercerai Juga, Bercerailah Dengan Baik

Kalau Terpaksa Bercerai Juga, Bercerailah Dengan Baik. 

وَإِن يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّـهُ كُلًّا مِّن سَعَتِهِ ۚ وَكَانَ اللَّـهُ وَاسِعًا حَكِيمًا

Dan jika mereka berdua bercerai, Allah akan mencukupkan untuk tiap-tiap seseorang dari kurnia-Nya.” (QS. An-Nisaa: 130)

Ayat ini menunjukkan bahwa cerai adalah langkah terakhir kalau jalan damai sudah buntu. Memang kadang-kadang ada rahasia suami istri yang orang lain tidak dapat mencampurinya. Bagaimana akan dipaksa meneruskan pergaulan di antara dua jiwa yang memang sudah tak dapat dipertemukan lagi? Memang ada kalanya jalan damai tak bisa ditempuh lagi. Sedang mereka adalah dua manusia. Yaitu manusia-manusia yang mempunyai pribadi dan nilai pandangan hidup masing-masing. Kalau pergaulan kedua orang itu diteruskan juga, kemunafikanlah yang akan timbul. Di saat demikian apa boleh buat, dioraklah buhul dan diungkailah kebat. Sama-sama bertawakallah kepada Allah dan mulailah membina hidup masing-masing.

Oleh sebab itu, teranglah urutan ayat sejak ayat 128, 129, dan sampai ayat 130, kedua suami istri terlebih dahulu diperintahkan mencari jalan damai. Kalau hendak bercerai, bercerailah dengan baik, yang telah termaktub dalam surah al-Baqarah,

Dipegang dengan jalan yang ma’ruf, atau dilepaskan dengan jalan yang sebaik-baiknya.” (al-Baqarah: 229)

Sehingga diadakan Allah perintah mut’ah, yaitu si laki-laki memberikan uang belanja yang sepatut dan selayaknya bagi perempuan yang diceraikannya itu ketika menjatuhkan talak.

Kalau demikian halnya, tidaklah Allah memaksa supaya diteruskan juga pergaulan itu. Bila terpaksa bercerai juga, bercerailah dengan baik. Asalkan bercerai dengan baik, di dalam ayat ini Allah telah menyatakan bahwa Allah akan tetap mencukupkan kurnia-Nya bagi masing-masing mereka.

Ayat ini adalah untuk orang yang beriman, yang di dalam menegakkan rumah tangga tetap hendak bergantung kepada peraturan dan tuntunan Allah. Niscaya seorang Mukmin atau Mukminah, menghadapi hidup di zaman depan bukanlah dengan suram (pesimis) melainkan tetap gembira dan percaya (optimis). Itu sebabnya di penutup ayat, Allah berfirman,

Dan Allah adalah Mahaluas, lagi Mahabijaksana.”

Ketika membicarakan talak di surah yang bernama ath-Thalaq dijelaskan pula oleh Allah bahwasanya takwa kepada Allah akan membuka pintu yang tertutup dan rezeki akan datang di luar perkiraan. Siapa yang bertawakal kepada Allah, Allah-lah jaminannya.

Renungkanlah ayat-ayat ini baik-baik, sesudah itu bertanyalah kepada diri sendiri, di atas apa hendaknya rumah tangga didirikan? Apakah di atas semata-mata harta benda? Apakah seorang perempuan menyerahkan jiwa raganya menjadi istri dari seorang laki-laki karena mengharapkan uangnya? Atau seorang laki-laki mengawini seorang perempuan karena semata-mata kecantikannya? Ataukah harta benda menjadi jaminan Allah apabila rumah tangga itu terlebih dahulu diasaskan atas takwa sehingga rezeki datang kemudian karena hati telah sama-sama terbuka?

Apakah tidak ada padamu keinginan, hendaknya pergaulan ini berpanjang-panjang sampai diceraikan oleh maut?

Oleh sebab itu, kalau terdapat seorang laki-laki kawin semau-mau, beristri lebih dari satu semau-mau, dan kelak bercerai talak semau-mau, janganlah itu dibangsakan kepada Islam. Tetapi mereka telah memperkuda keindahan peraturan agama untuk kepentingan hawa nafsunya sendiri. Rumah tangga yang didirikan di atas kekacau-balauan masyarakat. Itu bukanlah dari kesalahan agama, melainkan dari kesalahan orang yang keluar dari garis yang ditentukan agama.

Sungguh terharulah penulis tafsir ini membaca ayat-ayat ini. Dia menunjukkan bahwa ada juga perceraian timbul bukan karena benci, melainkan karena memikirkan hari depan tidak dapat lagi diteruskan berdua. Teringat penulis fatwa setengah ulama, di antaranya Imam Ahmad bin Hambal, bahwa cerai yang dijatuhkan sedang sangat marah, gelap mata, tidaklah jatuh, dan cerai yang dijatuhkan sekaligus, atau sekali jatuh talak tiga, ketiganya hanya satu yang jatuh. Ayat 130 memberi tuntunan bahwa ada cerai jatuh karena hasil perdamaian. Penulis tafsir ini pernah menyaksikan dua suami istri telah bergaul 15 tahun, terpaksa bercerai, sama-sama menitikkan air mata. Berat, tetapi apa boleh buat. Sebabnya ialah karena keduanya ingin beranak, tetapi penyelidikan dokter menunjukkan bahwa pergaulan mereka berdua tidak memungkinkan dapat anak. Mereka bercerai. Yang laki-laki beristri lain, yang perempuan bersuami lain. Kira-kira lima tahun kemudian mereka bertemu lagi. Alhamdulillah keduanya sudah mendapat anak. Si lelaki dengan istrinya yang telah dapat anak tiga, si perempuan dengan suaminya yang baru sudah mendapat anak dua. Kurnia Allah diberikan bagi mereka keduanya. Kadang-kadang ziarah-menzirahi-lah kedua keluarga itu, tetap menghubungkan silaturahim. Sampai saya pernah mengatakan kepada mereka, “Moga-moga anak kedua belah pihak berkawin-kawinan, guna menyambung, cinta kasih ayah bunda masing-masing.”


Perceraian Menghalangi Rezeki

Perceraian Menghalangi Rezeki

Apakah Perceraian Menghalangi Rezeki? Setiap insan pasti menginginkan perkawinan yang bahagia. Perkawinan yang bahagia adalah rezeki yang tak ternilai dari Allah SWT. Tetapi kadangkala apa yang direncanakan manusia tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pasangan hidup yang kita niatkan untuk menjadi pasangan abadi dunia akhirat, tidak ada yang memisahkan, tapi kenyataan berkata lain. Semakin meruncingnya jurang perbedaan diantara kedua pasangan suami istri membuat pilihan terakhir yaitu perceraian akhirnya dipilih. Banyak alasan mengapa perceraian terjadi. Banyak juga orang mencari pembenaran untuk melegalkan keputusan bercerai. Tapi sebaiknya memikirkan baik-baik sebelum memutuskan bercerai. 

Tahukah anda perkara halal yang dibenci oleh Allah?

Ya, perceraian. "Rasulullah SAW bersabda sesuatu yang halal tapi paling dibenci Allah adalah perceraian. Allah SWT membenci perceraian tetapi Dia tidak mengharamkan perceraian bagi hambanya. Semua itu untuk mempermudah mereka. Bahkan ada yang berkata bahwa singgasana raja itu sangat kokoh, terlebih singgasana Allah. Jika terjadi perceraian maka singgasana Allah yang begitu hebatnya itu bergetar. Hal ini bisa menjadi ilustrasi betapa bencinya Allah terhadap perceraian sampai harus menahan amarahnya yang membuat singgasanaNya bergetar.

Segala macam konflik dalam rumah tangga memiliki dampak negatif, apalagi jika sampai berujung pada perceraian. Besarnya dampak yang ditimbulkan perceraian membuatnya sangat dibenci Allah. Perceraian akan berakibat pada putusnya silaturrahim, berpengaruh pada kejiwaan pasangan dan anak-anaknya, perebutan harta dan hak asuh anak, menjadi contoh yang buruk bagi anak-anaknya. Perbuatan ini sangat disukai oleh setan, musuh besar manusia. Setan lah yang selalu membisikkan bisikan jahat dalam hati suami istri agar tidak rukun, dan akan terus berupaya sampai terjadi perceraian. Jika perceraian benar terjadi maka setan akan bertepuk tangan gembira,

Karena begitu besar dampaknya, dampak yang sifatnya merusak  itulah sebabnya Allah membenci perceraian. Allah tidak suka dengan orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi. 

Boleh menceraikan isteri asal...

Karena itu para suami yang akan menjatuhkan talak sebaiknya berpikir panjang sebelum menceraikan isterinya. Jika terdapat sebab yang syar'i atau alasan umum yang mengharuskan dia menceraikan isterinya seperti 
  • isteri kurang komitmen terhadap agama,
  • kurang akhlaknya dan susah untuk meluruskannya,
  • sengaja melakukan dosa dan membangkang perintah Allah dan suaminya.
Jika terdapat sebab-sebab di atas maka boleh diceraikan dengan cara yang ma'ruf. Itupun masih diberi kesempatan sampai 3 kali untuk kembali rujuk dengan mantan isterinya, talak 1, talak 2 dan talak 3 (dimana dia bisa kembali setelah mantan isterinya kawin dengan orang lain dan bercerai, baru bisa rujuk kembali). Demikian indahnya islam mengatur, karena Allah paham pada sifat manusia yang penuh kekurangan dan kekhilafan.

Lalu bagaimana dengan rezekinya? Jika Allah memerintahkan menikah untuk melancarkan rezeki, maka apakah perceraian otomatis mengurangi jatah rezeki? Sebelumnya di tangan suami ikut rezeki istri dan anak-anak yang jadi tanggung jawabnya. Selama keluarga berjalan harmonis, terjaga dan dalam koridor Allah maka rezekiNya akan mengucur deras. Begitu rumah tangga bermasalah, rezeki pun otomatis menjauh. Isteri yang tersakiti, suami yang tersakiti, anak-anak yang terkena imbasnya berpengaruh pada kondisi jiwa dan mentalnya. Jiwa yang bahagia akan memancarkan aura yang positif, ibadahnya jadi bagus, syukurnya lancar, semuanya akan menjadi magnet rezeki yang hebat.

Jiwa yang tertekan dan merana akan memancarkan aura negatif, mengurangi kualitas ibadah, mengurangi syukur (orang yang menderita pasti sangat susah untuk bersyukur), semuanya akan menjadi penghalau rezeki. Ditambah lagi ketidak sukaan Sang Maha Pemberi Rezeki terhadap perbuatan tangan kita, dengan lancang memisahkan apa yang telah dipersatukanNya, dengan seenaknya melupakan janji saat akad nikah untuk membimbing isteri dan anak-anak di jalan Allah, dengan begitu saja menyerah untuk menyelesaikan tanggung jawab membimbing isteri dan anak-anak di jalanNya. Lalu masih beranikah kita memohon limpahan rezeki padaNya, jika semua kekacauan adalah akibat perbuatan tangan kita sendiri?

Wahai para suami, sekali lagi perceraian adalah jalan terakhir. Ingatlah pernikahan bukan hanya pemenuhan kebutuhan jasmani melainkan ibadah. Jika pun harus terjadi perceraian, jagalah silaturahim dengan mantan isteri dan bertanggung jawablah terhadap masa depan anak-anakmu. Di hari akhirat kelak engkau akan ditanya tentang itu. 

Referensi ; Perceraian Menghalangi Rezeki



Rezeki Seret Setelah Menikah, Bisa Jadi Karena Ini Penyebabnya Menurut Praktisi Kejawen Dewi Sundari


Rezeki Seret Setelah Menikah, Bisa Jadi Karena Ini Penyebabnya Menurut Praktisi Kejawen Dewi Sundari. Menikah memang menjadi pembuka pintu rezeki, menikah sendiri dalam Islam adalah ibadah yang sangat dianjurkan bahkan disebut sebagai ibadah penyempurna ketakwaan kita.

Juga bagi banyak orang yang bilang bahwa menikah merupakan jalan pembuka pintu rezeki. Ada banyak orang yang setelah menikah rezekinya dilancarkan hidupnya lebih berkecukupan. Alasannya jika sebelumnya rezeki yang didapatkan hanya untuk satu orang saja, sedangkan ketika menikah akan membawa dua rezeki yakni rezeki dari suami dan rezeki dari istri.

Belum ditambah lagi jika dikaruniai momongan maka rezeki dalam keluarga tersebut akan semakin bertambah dan semakin berkah. Tetapi percaya atau tidak sebaliknya pun ada, ada pasangan suami istri yang ketika menikah rezekinya semakin tidak tidak terarah. Bukannya makin lancar tapi justru makin sulit dikejar. Seringkali situasi semacam ini penyebabnya bukanlah sekedar weton bukan juga karena pasangan pembawa sial.

Menurut Dewi Sundari, seorang praktisi kejawen, adanya keluarga yang mengalami kesusahan dalam hal rezeki setelah menikah disebabkan oleh beberapa hal yang tidak disadari.  Dewi Sundari menjelaskan rumah tangga yang sulit ekonomi. Salah satunya disebabkan karena tidak ada manajemen keuangan yang baik.

Ada juga beberapa hal yang mempengaruhi rumah tangga secara keseluruhan termasuk yang pertama karena tidak adanya perencanaan yang jelas, menikah sekadar hanya ingin menikah. Tetapi tidak pernah ada pembicaraan tentang akan bagaimana setelah menikah pengelolaan keuangan seperti apa.

Tagihan- tagihan akan dibayar dengan cara bagaimana berapa pemasukan dan pengeluaran tidak pernah diperhitungkan. Penyebab lain yang menyebabkan rezeki sulit setelah menikah adalah karena pengeluaran menjadi lebih besar seperti biaya hidup dan yang membengkak dan sering kali kita tidak memperkirakan hal ini. Jika demikian bukan pemasukan kita yang menyusut, akan tetapi berumah tangga ternyata membutuhkan modal. Ada juga beberapa kasus rezeki terasa seret ketika menikah karena tidak adanya pengelolaan keuangan yang disepakati bersama.

Terkadang kebutuhan rumah tangga harus ditanggung sendiri oleh seorang istri.


Bukan karena suami tidak bekerja tetapi karena suami lebih mengutamakan kebutuhan ibunya sehingga istri tidak kebagian apa- apa.

Hal seperti ini terjadi pada banyak orang- orang dan sudah sewajarnya sebagai sebuah pertanda bahwa kita membutuhkan perencanaan keuangan.

Dewi Sundari menyarankan untuk keluarga yang kesulitan dalam hal ekonomi ketika setelah menikah diharapkan selalu mendekatkan diri pada Allah SWT.

Selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperbaiki niat dalam berkeluarga hanya untuk mendapatkan rahmad serta ridhoNya selain itu dibarengi dengan ikhtiar dan membaca ayat seribu dinar.

Dengan Begitu Allah akan membukakan pintu rezeki bagi hambanya yang selalu berusaha dan bersungguh- sungguh dalam mengejar sesuatu

Referensi : Rezeki Seret Setelah Menikah, Bisa Jadi Karena Ini Penyebabnya Menurut Praktisi Kejawen Dewi Sundari



Rezekinya Langsung Seret Setelah Bercerai

Rezekinya Langsung Seret Setelah Bercerai

Rezekinya Langsung Seret Setelah Bercerai. Konflik rumah tangga yang sempat terjadi antara pengusaha tajir Faisal Harris dengan Sarita Abdul Mukti ini memanglah membuat gempar publik. Bagaimana tidak, padahal sudah menjalin rumah tangga selama 21 tahun ini kandas karena adanya orang ketiga. Digadang-gadang yang menjadi orang ketiga ini merupakan sosok artis yang tak lain adalah Jennifer Dunn. Putri ketiga Sarita dan Faisal yang bernama Shafa Harris bahkan sempat terang-terangan melabrak Jennifer Dunn yang kala itu sedang berada di  pusat perbelanjaan.

Konflik yang terjadi pun makin memuncak, Sarita dan Faisal Harris pun akhirnya memutuskan untuk bercerai. Namun usai bercerai, publik kembali dibuat tercengang. Pasalnya, Faisal Harris ini akhirnya malah benar-benar menikahi Jennifer Dunn. Meski begitu, Faisal Harris ini rupanya masih juga perhatian dengan Sarita Abdul Mukti. Ia bahkan masih memberi uang ke mantan istri ketika sedang tak memiliki uang sepeserpun.

Pada video ini, Sarita mulanya menceritakan mengenai kondisinya yang pernah tak memiliki uang sepeserpun usai bercerai dengan mantan suaminya. Tak sampai disitu, ia bahkan sampai merasa kalau rezeki seolah tak ada yang datang kepadanya. Namun, Sarita mengaku beruntung karena ketiga anaknya ini membantu hingga memberikan uang kepada dirinya.

Pada saat sebelum lebaran, bahwa yang di rumah tuh kayak ada apa gitu, kayak rezeki susah masuk di aku." "Itu anak-anak semua yang nanggung, cicilan-cicilan. 'Nak, bunda nggak ada uang nih buat ini', 'Dari aku, Bunda' mereka bertiga."  "Terus mereka gajian dari brand apa gitu transfer lagi, 'Aku baru dapat uang lagi, ini untuk bunda'," cerita Sarita.

Referensi : Rezekinya Langsung Seret Setelah Bercerai



Aku Menyesal, Bercerai Tidak Membuatku Bahagia

“Aku tersesat, aku hilang arah, aku menyesal, ternyata perceraian yang selama ini aku inginkan tidak benar-benar membuatku bahagia. Aku merasa hidupku menjadi tidak karuan, orang-orang bahkan tidak mendukungku dan justru menyalahkanku karena perceraian ini. Sebagian lainnya bahkan menyalahkanku karena dulu memilih mantan suami sebagai pendamping hidupku. Aku bingung, yang mana yang harus aku ikuti. Jalan mana yang sebenarnya bisa membuatku bahagia?”  Terjebak di dalam luka, kesedihan dan penyesalan memang bukan hal yang menyenangkan. Terlebih jika perasaan tersebut muncul akibat perceraian. Banyak pasangan yang memilih bercerai karena merasa tidak cocok satu sama lain, ada juga yang memilih karena munculnya orang ketiga, bahkan ada pula yang memilih bercerai hanya karena emosi sesaat. Apapun alasannya, perceraian mungkin menjadi satu-satunya solusi bagi pasangan yang sering mengalami konflik di dalam rumah tangga.  Tapi bagaimana jika Anda justru menyesal setelah bercerai? Atau merasa tidak bahagia setelah menandatangani surat cerai? Tentunya hal ini menjadi masalah baru lagi dalam kehidupan Anda.

Aku Menyesal, Bercerai Tidak Membuatku Bahagia. “Aku tersesat, aku hilang arah, aku menyesal, ternyata perceraian yang selama ini aku inginkan tidak benar-benar membuatku bahagia. Aku merasa hidupku menjadi tidak karuan, orang-orang bahkan tidak mendukungku dan justru menyalahkanku karena perceraian ini. Sebagian lainnya bahkan menyalahkanku karena dulu memilih mantan suami sebagai pendamping hidupku. Aku bingung, yang mana yang harus aku ikuti. Jalan mana yang sebenarnya bisa membuatku bahagia?”

Terjebak di dalam luka, kesedihan dan penyesalan memang bukan hal yang menyenangkan. Terlebih jika perasaan tersebut muncul akibat perceraian. Banyak pasangan yang memilih bercerai karena merasa tidak cocok satu sama lain, ada juga yang memilih karena munculnya orang ketiga, bahkan ada pula yang memilih bercerai hanya karena emosi sesaat. Apapun alasannya, perceraian mungkin menjadi satu-satunya solusi bagi pasangan yang sering mengalami konflik di dalam rumah tangga.

Tapi bagaimana jika Anda justru menyesal setelah bercerai? Atau merasa tidak bahagia setelah menandatangani surat cerai? Tentunya hal ini menjadi masalah baru lagi dalam kehidupan Anda.