This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 25 Agustus 2022

Bisakah kita hidup berdampingan dengan penyesalan?

Bisakah kita hidup berdampingan dengan penyesalan?

Bisakah kita hidup berdampingan dengan penyesalan?. Kisah ini mungkin akan terdengar seperti adegan dari romansa yang hebat.  Pada tahun 1981, seorang pemuda asal Amerika Serikat bernama Bruce sedang dalam perjalanan kereta api melalui Prancis utara. Saat itu seorang perempuan berambut cokelat bernama Sandra naik dari stasiun Paris, lalu duduk di sebelahnya.

Percakapan di antara mereka muncul begitu saja. Mereka segera tertawa kemudian berpegangan tangan.

Ketika Sandra mencapai tujuannya, yaitu sebuah stasiun di Belgia, mereka berciuman. Mengikuti dorongan hatinya, Bruce sempat mempertimbangkan untuk mengikuti tujuan Sandra dan membiarkan kehidupan membawanya.

Segera setelah pintu kereta ditutup, Bruce menyesal karena tidak mengikuti kata hatinya. Setelah kembali ke AS, ia menerima surat dari Sandra.

"Mungkin ini gila, tapi ketika saya memikirkanmu, saya tersenyum," ujarnya dalam surat itu.

Namun secara misterius, surat itu tidak memuat alamat pengirim.

Berpuluh tahun sejak pertemuan itu, Bruce tidak pernah berhenti berpikir apa yang mungkin terjadi jika dia mengikuti Sandra turun di Belgia.

Dengan menganalisis data itu dan merujuk eksperimen ilmiah terbaru, Pink mengidentifikasi empat jenis penyesalan berbeda dan jenis peristiwa yang paling mungkin mengarah pada setiap penyesalan.

Penelitian ini, yang diuraikan dalam buku terbaru Pink, The Power of Regret, membantu kita memahami peran penting penyesalan dalam hidup kita, mulai dari memelihara persahabatan, mengambil keputusan yang bertanggung jawab hingga menimbang risiko.

Riset ini juga menyorot jenis penyesalan yang paling dalam. Pink menyarankan banyak cara untuk berdamai dengan kekecewaan dan kesalahan kita sendiri.

Seperti banyak emosi negatif lainnya, penyesalan sering dilihat sebagai perasaan yang tidak diinginkan atau yang harus dihilangkan jika itu memungkinkan.

Perhatikanlah lagu Edith Piaf yang paling terkenal, atau banyak lagu dari artis lainnya, dari Emmylou Harris hingga Robbie Williams, yang bertutur tentang filosofi hidup "tanpa penyesalan".

Bagaimanapun, para psikolog menunjukkan bahwa penyesalan bisa menjadi emosi yang sangat berguna.

"Ini akan menjadi ide yang sangat, sangat buruk bahwa Anda harus menghilangkan penyesalan dalam hidup," kata Aidan Feeney, seorang profesor psikologi di Queen's University Belfast.

"Ini adalah salah satu mekanisme untuk mempelajari cara meningkatkan pengambilan keputusan Anda. Ini merupakan sinyal bahwa mungkin Anda perlu memikirkan kembali strategi Anda," ujarnya.

Feeney berkata, penyesalan adalah emosi yang kompleks karena melibatkan pemikiran kontra-faktual. Perasaan itu membutuhkan kemampuan membayangkan situasi lain untuk peristiwa yang telah terjadi.

Penyesalan juga membutuhkan kemampuan membandingkan dan membedakan hasil yang berbeda untuk menentukan hal mana yang sebenarnya Anda inginkan.

Karena kerumitan ini, anak kecil sering kali tidak dapat merasakan penyesalan sehingga emosinya cenderung muncul sekitar usia enam atau tujuh tahun.

Dalam risetnya, Feeney menguji bagaimana emosi itu penting untuk mengembangkan pemahaman tentang kepuasan yang tertunda. Ini merupakan kemampuan untuk menunda 'hadiah' kecil sekarang untuk 'hadiah' yang lebih besar nanti.

Berkolaborasi dengan Teresa McCormack, Feeney memberikan dua kotak kepada sekelompok anak berusia enam hingga tujuh tahun. Kotak-kotak itu dilengkapi kunci waktu, dengan satu set untuk dibuka setelah 30 detik dan yang lainnya setelah 10 menit.

Pengatur waktu pasir yang ditempatkan di samping setiap kotak menunjukkan kepada anak-anak berapa lama mereka harus menunggu sampai kotak itu terbuka

Anak-anak juga diberitahu bahwa mereka dapat memilih satu kotak untuk mendapatkan hadiah mereka.

Tugas ini agak tidak adil karena anak-anak tidak tahu apa isi setiap kotak. Artinya sebagian besar memilih yang pertama dibuka, yang berisi dua permen.

Hanya setelah mereka membuat keputusan, mereka diberitahu bahwa jika mereka menunggu kotak lain terbuka, mereka bisa mendapatkan empat permen sebagai gantinya.

Setelah mereka mengetahui fakta ini, Feeney dan rekannya menguji apakah anak anak menyesal karena telah membuat keputusan yang salah.

Keesokan harinya, psikolog kembali memberikan tugas yang sama kepada anak-anak. Mereka menemukan bahwa anak-anak yang telah mengembangkan rasa penyesalan jauh lebih mungkin untuk menunggu hadiah yang lebih besar, dibandingkan dengan anak-anak yang belum menghibur emosi tersebut.

Penyesalan, tampaknya, membantu anak-anak menjadi lebih sabar sehingga bisa mengatasi godaan untuk mengambil kesenangan sesaat. Pemuasan yang tertunda semacam ini merupakan bentuk penting dari pengendalian diri dan dianggap sangat penting bagi keberhasilan orang dalam hidup.

Misalnya, jika Anda dapat menunda kesenangan bermain gim komputer untuk belajar menghadapi ujian, kemungkinan besar Anda akan mendapatkan tempat di universitas yang bagus, yang pada gilirannya akan menghasilkan keuangan yang lebih stabil untuk masa depan.

Literatur psikologis berisi banyak contoh manfaat penyesalan lainnya. Contohnya penyesalan atas negosiasi bisnis yang buruk membantu orang untuk mendapatkan kesepakatan yang lebih baik di masa depan.

Dan jika kita membuat satu keputusan dengan tergesa-gesa, perasaan menyesal memastikan bahwa kita mempertimbangkan informasi yang lebih luas di masa depan.

Menurut Pink, temuan seperti itu akan membantu kita untuk membingkai ulang emosi secara lebih positif. "Kita harus melihat penyesalan sebagai guru yang mencoba memberi tahu kita perihal yang penting," tuturnya.

Empat rasa penyesalan
Penyesalan dasar berkisar pada kegagalan untuk bertanggung jawab, yang mengkhianati kebutuhan kita akan stabilitas. Ini mencakup penyesalan bolos sekolah, pengeluaran yang berlebihan atau mengabaikan kesehatan Anda. Ini merupakan kebiasaan buruk yang memiliki konsekuensi negatif jangka panjang bagi kehidupan.
Penyesalan keberanian datang karena terlalu sikap berhati-hati. Seperti yang ditemukan Bruce di kereta dari Prancis menuju Belgia, terkadang kita dihadapkan pada peluang yang berpotensi mengubah hidup.
Penyesalan moral berpusat pada orang lain, yang telah kita sakiti karena kegagalan kita sendiri. Selingkuh pada pasangan adalah salah satu contoh yang paling jelas dan umum.
Penyesalan koneksi menyangkut hubungan yang hilang dengan anggota keluarga, teman atau kolega, seringkali karena pengabaian sederhana.
Bagaimana menghindari penyesalan di masa depan
Lalu, bagaimana mengatasi penyesalan yang kita miliki?
Peran mendasar penyesalan dalam kognisi kita dapat menjelaskan mengapa begitu banyak orang mengalaminya begitu sering.

Pink menunjuk ke satu penelitian tahun 1984 yang meneliti percakapan pasangan sarjana dan menikah. Dalam rekaman ini, penyesalan adalah emosi kedua yang paling banyak dibicarakan setelah cinta.

Temuan ini sesuai dengan salah satu kuesioner Pink, yang menanyakan seberapa sering orang mengalami penyesalan. Sekitar 20% respondennya mengaku merasakan emosi tersebut sepanjang waktu.

Menelisik isi spesifik dari Survei Penyesalan Dunia, Pink menemukan bahwa penyesalan terbesar kebanyakan orang jatuh ke satu dari empat hal yang berbeda:

"Keempat jenis penyesalan ini diungkapkan berulang kali di seluruh dunia," kata Pink.

Menariknya, penyesalan koneksi ternyata menjadi pengalaman paling umum dalam survei Pink.

Menurutnya, kita harus selalu terhubung kembali ketika kita merasakan jarak sedang dibangun.

"Jika Anda bertanya-tanya apakah akan menjangkau seseorang atau tidak, hanya dengan berada pada saat itulah telah menjawab pertanyaan itu," kata Pink.

"Itu, bagi saya pribadi, telah menjadi pelajaran terbesar dari ini," ucapnya.

Demikian pula, prevalensi penyesalan keberanian menunjukkan kepada kita bahaya terlalu menghindari risiko, bahwa terkadang menjadi impulsif itu benar.

Itu tidak berarti bahwa kita harus secara aktif merangkul bahaya secara tiba-tiba. Namun dalam banyak kejadian, kata Pink, seseorang melihat lebih banyak bahaya daripada yang sebenarnya ada.

Situasi tersebut mungkin benar, terutama untuk kasus di mana rasa malu atau takut menghentikan kita dari mencari peluang kerja sekali seumur hidup atau sebuah hubungan percintaan.

Kita mungkin berharap untuk menghindari kekecewaan atau rasa malu, tapi sebagai gantinya, kita akan selamanya bertanya-tanya 'bagaimana jika saya mengambil keputusan yang lain?'.

Salah satu strategi umum untuk menghindari penyesalan di masa depan adalah menggunakan pre-mortem. Pink berkata, dalam strategi ini, Anda perlu dengan sengaja membayangkan hasil potensial terburuk sebelum membuat keputusan.

Teknik ini bisa sangat berguna untuk menghindari penyesalan moral dan dasar, ketika Anda gagal bertindak dengan cara yang menghormati nilai-nilai, menjaga kesehatan, dan kebahagiaan Anda di masa depan.

Penelitian Pink menawarkan cara mengatasi penyesalan yang terlanjur kita miliki. Mengingat manfaatnya, kita tentu tidak ingin menekan perasaan sepenuhnya. Meski begitu, sebuah strategi bisa membantu kita mengatur emosi sehingga kita mendapat pelajaran moral tanpa perlu berkubang dalam kesedihan masa lalu.

Pink berkata, langkah pertama adalah pengungkapan. Ketika kita memendam perasaan menyakitkan, perasaan itu bisa memburuk. Membicarakannya membantu kita untuk melihatnya secara lebih analitis.

Jika Anda tidak ingin berbagi penyesalan dengan orang lain, penelitian menunjukkan bahwa menulis esai pribadi memiliki efek positif yang sama. Cara ini menempatkan emosi ke dalam kata-kata yang tampaknya membantu kita memproses perasaan kita secara lebih konstruktif.

Cara kedua, Anda dapat melatih self-compassion dan bukan melakukan kritik diri yang justru berdampak negatif.

Untuk melakukannya, Anda harus berhenti menyalahkan diri sendiri dengan pernyataan seperti "saya pecundang". Ini justru membingkai kesalahan Anda sebagai sesuatu yang tidak dapat diperbaiki.

Sebagai gantinya, Anda dapat mencoba mengidentifikasi faktor kontekstual yang mungkin mendorong Anda untuk membuat keputusan yang salah. Perlu juga mengingat bahwa Anda tidak sendirian dalam kesakitan Anda.

"Terkadang kita percaya bahwa pengalaman kita sangat berbeda daripada yang sebenarnya. Anda mungkin berpikir Anda adalah satu-satunya orang yang pernah memiliki penyesalan itu," kata Pink.

"Tapi percayalah, Anda tidak sespesial itu," tuturnya.

Penelitian oleh Kristin Neff, seorang profesor di University of Texas, Austin, menunjukkan orang yang mengembangkan self-compassion cenderung pulih dari stres dan kesedihan lebih cepat.

Dan yang terpenting, merujuk riset itu, orang-orang tersebut juga lebih mungkin untuk mengubah perilaku di masa depan daripada orang yang kritis terhadap diri sendiri. Tujuannya tentu saja agar tidak melakukan kesalahan yang sama dua kali.

Dengan kata lain, setelah Anda mengenali kesalahan Anda, lebih baik untuk mengurangi kelonggaran diri Anda sendiri.

Akhirnya, Pink menganjurkan strategi psikologis yang dikenal sebagai self-distancing. Ini merupakan cara di mana Anda mencoba mengambil perspektif luar tentang masalah Anda.

Anda mungkin membayangkan menasihati teman dengan masalah yang sama, misalnya. Studi berulang telah menunjukkan bahwa, praktik belas kasih diri dapat membantu kita melihat situasi kita secara lebih filosofis tanpa pemikiran kita menjadi kewalahan oleh emosi.

Mungkin tidak ada kata terlambat untuk memulai penyembuhan. Pink mewawancarai beberapa peserta Survei Penyesalan Dunia dalam proses penyusunan bukunya.

Melalui percakapan ini, dia mendengar bahwa beberapa orang sekarang mencoba menebus pengkhianatan masa lalu, sementara yang lainnya tiba-tiba memutuskan untuk melakukan kontak dengan teman yang hilang.

Tampaknya survei itu membantu mereka untuk berdamai dengan perasaan mereka dan mendorong mereka untuk bertindak.

Bruce, misalnya, mencoba berdamai dengan penyesalan terbesarnya. Lebih dari 40 tahun sejak dia dan Sandra kehilangan kontak, dia baru-baru ini mengunggah pesan di bagian "koneksi yang tidak terjawab" di Craigslist Paris.

Bruce berharap dapat bertemu lagi dengan Sandra. Dia tidak bisa mengubah masa lalu, tapi setelah berdamai dengan penyesalan, dia mencoba menebus semua waktu yang hilang itu.

Penyesalan Terbesar Manusia

Penyesalan Terbesar Manusia

Kehidupan di dunia ini tidaklah abadi, setelah manusia selesai dengan hidupnya di dunia, maka kemudian ia akan melalui alam kubur, dan alam-alam lain sampai nanti datang Hari Perhitungan. Hidup di dunia adalah ladang ujian untuk manusia menuju ke alam yang abadi, baik kemudahan ataupun kesukaran kesemuanya adalah cobaan. Ketika kita dapat melalui cobaan itu maka kita tergolong orang yang beruntung, namun ketika lalai dan terbuai karena dunia ini maka yang ada hanya penyesalan.

Dalam Alquran Allah berfirman: Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami. (QS. al-Anbiya - 35)

Salah satu penyesalan terbesar manusia adalah tidak melakukan amal-amal baik di dunia. Ketika hidup ia melakukan segala cara untuk memuaskan hasratnya tanpa peduli bahwa apa yang dicapainya tidak dibawa ke alam yang abadi, yakni akhirat.



Allah Swt berfirman: Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman. (QS. Maryam: 39)


Digambarkan oleh Allah Swt bahwa di akhirat kelak banyak sekali manusia yang menyesali perbuatan yang telah dilakukan di dunia: Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). (QS. az-Zumar: 56)


Dalam ayat lain Allah berfirman: Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata, “Aduhai kiranya (dahulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” (QS. al-Furqan: 27)


Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling besar penyesalannya pada Hari Kiamat adalah pribadi yang menjual akhiratnya dengan dunia orang lain.


Sayidina Ali ra berkata: “Sesungguhnya penyesalan terbesar pada Hari Kiamat adalah orang yang mencari harta bukan dalam ketaatan kepada Allah, kemudian hartanya diwarisi oleh pewarisnya yang membelanjakan hartanya dalam ketaatan kepada Allah Yang Mahasuci. Oleh karenanya, dia masuk surga lantaran kebaikannya itu. Adapun orang pertama (yang mencari harta bukan dalam ketaatan kepada Allah) bakal masuk neraka lantaran hartanya itu.”

Sayidina Ja'far Shadiq as berkata: “Sesungguhnya orang yang paling menyesal pada Hari Kiamat adalah orang yang menggambarkan keadilan dengan kata-katanya, kemudian dia menentangnya dengan tindakan yang berlawanan dengan keadilan.


Maka sebelum semuanya terlambat mari kita terus meningkatkan ibadah yang telah disyariatkan oleh-Nya dan melakukan segala amal baik, seperti bersedekah dan membimbing anak-anak kita menjadi saleh/salehah. Karena selain amal-amal baik, juga terdapat amalan yang pahalanya terus mengalir meski kita telah tiada.
Dalam sabdanya Rasulullah berkata: "Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak saleh yang mendoakan kepadanya."
Referensi : Penyesalan Terbesar Manusia



Penyesalan Orang yang Masuk Neraka, Sebuah Penyesalan yang Sia-Sia

Penyesalan Orang yang Masuk Neraka, Sebuah Penyesalan yang Sia-Sia

Penyesalan Orang yang Masuk Neraka, Sebuah Penyesalan yang Sia-Sia. Kelak, tidak akan ada calon penghuni neraka yang tidak menampakkan penyesalan saat mereka mengetahui akan dimasukkan dalam neraka. Memang, penyesalan pasti datang di akhir, bukan di awal. Namun, selama hidup di dunia, masih ada harapan untuk memperbaiki berbagai macam keadaan yang menimbulkan penyesalan.

Jangan sampai kita menjadi orang yang menyesal di akhirat, karena tidak akan ada harapan untuk memperbaiki kesalahan yang telah kita lakukan selama di dunia. Sebagaimana orang-orang yang kelak ditakdirkan masuk kedalam neraka. Mereka menyesal karena selama di dunia tidak belajar ilmu agama sehingga mereka bisa selamat dari azab Allah.

Sebagaimana firman Allah,

وَقَالُوا۟ لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِىٓ أَصْحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ

Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala". 

Referensi : Penyesalan Orang yang Masuk Neraka, Sebuah Penyesalan yang Sia-Sia



4 Penyesalan Orang yang Sudah Meninggal dalam Al-Quran

menyesal tentunya selalu berada di akhir, agar tidak menyesal di hari akhirat nanti yuk sama-sama kita perbaiki diri kita dan mengerjakan banyak kebaikan. Diantara kebaikan yang bisa sahabat tunaikan ialah berbagi dan bersedekah mengeluarkan sebagian kecil dari harta yang dimiliki.

Penyesalan Orang yang Sudah Meninggal dalam Al-Quran. meskipun setiap orang akan mengalaminya, kematian merupakan salah satu perkara yang dirahasiakan oleh Allah SWT. Saat ajal telah tiba, tidak ada satupun orang yang mampu untuk menolak ataupun minta untuk ditangguhkan walau hanya sesaat.

Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan menemui ajalnya, tidak ada satupun yang dapat mendahuluinya dan tidak pula mengundurkannya. Ajal dan kematian bagi manusia adalah pengingat agar kelak ia dapat menemuinya dalam keadaan khusnul khatimah atau dalam keadaan baik.

Hidup yang dijalani saat ini sifatnya sementara dan sangatlah singkat. Dengan demikian, setiap orang dianjurkan untuk mengisi waktu yang singkat ini dengan amal-amal baik agar tidak menyesal di hari kemudian.

Dalam beberapa ayat Al-Quran disebutkan beberapa penyesalan orang yang sudah meninggal. Apa saja yang disesali orang yang sudah meninggal? Yuk simak penjelasannya berikut ini.

1. Penyesalan karena tidak taat

Tujuan dari penciptaan manusia dan jin ialah hanya untuk beribadah kepada Allah. Dalam hal ini ibadah bisa dimaknai sebagai bentuk ketaatan seorang hamba kepada Rabb-nya. Taat juga dapat dimaknai dengan menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Perintal Allah sudah pasti adalah perintah untuk mengerjakan kebaikan dan larangannya ialah perintah untuk meninggalkan segala perbuatan buruk dan dosa.

Manusia dianjurkan untuk taat terhadap perintah dan larangan-Nya. Adapun bagi yang mengingkari setiap perintah dan melanggar larangan-Nya, maka di akhirat kelak mereka akan menyesali perbuatannya di muka bumi ini. Allah SWT berfirman :

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata, Alangkah baiknya andaikan kami taat kepada Allah dan tata (pula) kepada Rasul.” (QS Al Ahzab:66)

2. Penyesalan saat menerima catatan amal

Dari mulai usia baligh setiap insan akan memiliki catatan amal kebaikannya sendiri-sendiri. Catatan amal tentunya menjadi cerminan dari amal yang dikerjakan oleh seseorang. Jika seseorang mengisinya dengan amal baik, maka baik juga catatan amalnya dan juga sebaliknya.

Kurangnya amal baik atau banyaknya amal buruk tentunya akan berdampak pada catatan amal masing-masing. Hal itu menjadi alasan bagi kita untuk terus melakukan banyak amal kebaikan pada setiap detik kehidupan yang dilalui. Buruknya catatan amal akan menjadi salah satu penyesalan seseoorang setelah meninggal kelak. Allah SWT berfirman :

“Adapun bagi orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata ‘Duhai alangkah baiknya andaikan tidak diberikan kepadaku kitabku (ini).'” (QS Al-Haqqah : 25)

3. Penyesalan karena lalai membaca dan mengamalkan Al-Quran

Al-Quran merupakan pedoman hidup bagi seorang muslim, barang siapa yang mengamalkan dan mengaplikasikan seluruh isinya dalam kehidupan sehari-hari, maka ia akan selamat dan memperoleh kehidupan yang baik. Selanjutnya, banyak sekali keutamaan dari membaca Al-Quran yang dapat dirasakan seseorang ketika ia membacanya.

Diantara keutamaannya ialah memiliki pahala yang berlipat ganda ketika di baca. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa setiap huruf yang dibaca dalam Al-Quran akan dikalikan dengan sepuluh kebaikan.

Sebagai pedoman bagi kehidupan seorang muslim, tentunya setiap muslim dianjurkan untuk membaca dan mengamalkan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. Lalai dalam membaca dan mengamalkan Al-Quran akan mengantarkan seseorang pada penyesalan setelah ia meninggal. Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya dia telah menyesatkanku dari Al-Quran ketika Al-Quran itu telah datang kepadaku.” (QS Al-Furqan:29)

4. Penyesalan karena kurang bersedekah

Sedekah merupakan amal utama bagi seorang muslim, sedekah yang ditunaikan akan menjadi pemberat timbangan kebaikan di hari perhitungan kelak. Tak hanya itu, keutaman sedekah juga dapat dirasakan langsung di muka bumi ini oleh penunainya. Diantara keutamaan sedekah ialah menjadikan hidup lebih tenang dan bahagia serta menjadi pembuka pintu-pintu rezeki.

Setelah meninggal dunia, ada sebagian orang yang menyesal dan memohon kepada Allah agar ditunda kematiannya walau hanya sesaat saja sehingga ia mampu untuk menunaikan sedekah. Allah SWT berfirman:

“Ya Rabbku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS Al-Munafiqun: 10).

Menyesal tentunya selalu berada di akhir, agar tidak menyesal di hari akhirat nanti yuk sama-sama kita perbaiki diri kita dan mengerjakan banyak kebaikan. Diantara kebaikan yang bisa sahabat tunaikan ialah berbagi dan bersedekah mengeluarkan sebagian kecil dari harta yang dimiliki.

Referensi : 4 Penyesalan Orang yang Sudah Meninggal dalam Al-Quran


Cara Islami Mengubah Penyesalan Menjadi Energi Positif

Cara Islami Mengubah Penyesalan Menjadi Energi Positif

Cara Islami Mengubah Penyesalan Menjadi Energi Positif. Setiap orang pernah mengalami penyesalan pada tingkat tertentu akibat apa yang kita putuskan atau lakukan di dunia ini. Pekerjaan yang seharusnya kita ambil, lamaran atau pernikahan yang dapat dipertimbangkan, jalur karier yang akan kita lewatkan, atau kepurusan lainnya, seringkali meninggalkan penyesalan mendalam.

Penyesalan memang wajar terjadi, karena itu bisa menjadi refleksi diri di masa depan, alih-alih terperangkap berlarut-larut dalam kekecewaan yang mampu berujung gangguan psikologis. Oleh karena itu, penyesalan tentunya bisa menjadi energi positif dengan cara yang Islami? Lalu, bagaimana caranya? Berikut kiat mengubah penyesalan dilansir dari situs About Islam.

Berhenti mengutuk diri sendiri atau orang lain

Penyesalan bersifat obsesif yang sering mendidih di dalam pikiran seseorang. Seringkali, hal-hal yang kita biarkan berputar-putar di otak kita tetap ada di sana dalam waktu yang lama.
Hal itu menghalangi kita untuk melangkah lebih jauh. Jika kita terus membiarkan ini, maka lambat laun kita akan mengutuk diri sendiri maupun orang lain terhadap segala keputusan yang telah kita buat, alih-alih terus melangkah ke depan.

Ketahui batas kemampuanmu

Temukan cara untuk menebus apa yang telah terjadi di masa lalu dengan apa yang dapat kamu lakukan sekarang untuk mengimbanginya. Mungkin kamu berharap menempuh sekolah lebih tinggi atau menamatkan Al-Quran. Tentunya itu semua belum terlambat.
Kamu juga harus melibatkan langkah-langkah besar untuk menghindari kesalahan dan kegagalan di masa yang lampau. Pastikan kamu memiliki rencana yang telah dipikirkan matang-matang. Bangunlah kepercayaan diri dan memastikan kesuksesan dalam jangka panjang, Insya Allah.

Belajar dari apa yang diriwayatkan Nabi

Dalam menerima penyesalan yang dialami, kamu harus mencoba berdamai dengan apa yang telah terjadi. Pahamilah semuanya adalah kehendak Allah SWT yang nantinya akan berakhir bahagia. Sesungguhnya Allah SWT Maha Pengampun, jika kamu meminta pengampunan atas rasa tidak bersyukur selama ini.
Dalam Release Your Inner Queen of Sheba, terdapat hadits Nabi Muhammad SAW yang berkata:

"Mengenai orang beriman, baginya ada kebaikan dalam semua urusannya. Ketika sesuatu yang menyenangkan terjadi padanya, dia bersyukur dan itu baik untuknya. Dan ketika sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi padanya, dia sabar, dan itu baik untuknya."


manusia diciptakan sangat tangguh. Allah SWT juga tidak akan menguji umat-Nya di luar batas kemampuan. Salah satu dari banyak cara yang bisa kita lakukan adalah mengubah sesuatu yang negatif menjadi hal yang positif dalam jangka panjang. Tak lupa kita selalu meminta keridaan Allah SWT sebagai Sang Pencipta.


Referensi :

Cara Islami Mengubah Penyesalan Menjadi Energi Positif



Penyesalan Orang Zalim di Akhirat yang Berharap Kembali ke Dunia (Surat Al Baqarah Ayat 167)

Surat Al Baqarah Ayat 167, tentang Penyesalan Orang Zalim di Akhirat yang Berharap Kembali ke Dunia

Surat Al Baqarah Ayat 167, tentang Penyesalan Orang Zalim di Akhirat yang Berharap Kembali ke Dunia. Orang-orang zalim akan menyesal saat melihat azab neraka sudah berada didepan mata mereka. Orang-orang zalim tersebut ingin kembali ke dunia untuk memperbaiki amal perbuatan mereka. Namun mereka tidak akan pernah punya kesempatan keluar dari neraka untuk kembali ke dunia.

وَقَالَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا لَوْ اَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّاَ مِنْهُمْ ۗ كَمَا تَبَرَّءُوْا مِنَّا ۗ كَذٰلِكَ يُرِيْهِمُ اللّٰهُ اَعْمَالَهُمْ حَسَرٰتٍ عَلَيْهِمْ ۗ وَمَا هُمْ بِخَارِجِيْنَ مِنَ النَّارِ

wa qālallażīnattaba'ụ lau anna lanā karratan fa natabarra`a min-hum, kamā tabarra`ụ minnā, każālika yurīhimullāhu a'mālahum ḥasarātin 'alaihim, wa mā hum bikhārijīna minan-nār

"Dan orang-orang yang mengikuti berkata, “Sekiranya kami mendapat kesempatan (kembali ke dunia), tentu kami akan berlepas tangan dari mereka, sebagaimana mereka berlepas tangan dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal per-buatan mereka yang menjadi penyesalan mereka. Dan mereka tidak akan keluar dari api neraka." (Q.S. Al-Baqarah : 167)

Referensi : Surat Al Baqarah Ayat 167, tentang Penyesalan Orang Zalim di Akhirat yang Berharap Kembali ke Dunia



Hukum Menggunakan Kata "Seandainya.."

Hukum Menggunakan Kata "Seandainya.."

Hukum Menggunakan Kata "Seandainya.." Pertanyaan Tentang seorang yang mengatakan: Seandainya dahulu Anda dahulu melakukan begini, tentu tidak akan terjadi demikian."

Orang lain yang mendengarnya berujar: "Kata-kata semacam itu sudah dilarang oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Itu kata-kata yang dapat mengiring orang yang mengucapkannya kepada kekufuran."

Lalu ada lagi yang bilang: "Tetapi dalam kisah tentang Musa dan Khidir, Nabi pernah bersabda: "Semoga Allah memberi rahmat kepada Musa. Kalaulah beliau mau bersabar, tentu Allah akan menceritakan kepada kita lanjutan kisah mereka.."

Orang yang lain lagi berdalil dengan sabda Rasulullah: "Mukmin yang kuat itu lebih baik dari mukmin yang lemah," hingga ucapan: "…karena kata "seandainya" itu membuka amalan syetan." Apakah hukum dalam hadits ini menghapus hukum dalam kisah Musa di atas atau tidak? 

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Semua yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya itu benar. Kata 'seandainya' itu Apabila digunakan sebagai ungkapan kesedihan menyesali yang telah lampau dan kecewa terhadap takdir, itulah yang dilarang, sebagaimana dalam firman Allah:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang:"Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh". Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam di hati mereka.." (Ali Imraan : 156)

Itulah yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau bersabda:

"Kalau engkau tertimpa musibah, janganlah engkau mengatakan: "Kalau tadi aku lakukan begini, tentu jadinya akan begini dan begini..". Tapi katakanlah: "Sudah takdir Allah, Allah melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Karena kata "seandainya," itu membuka pintu amalan syetan (yakni akan membuka pintu kesedihan dan kekecewaan. Yang demikian itu hanya berbahaya dan tidak bermanfaat. Tapi ketahuilah, bahwa apa saja yang menimpamu tidak akan pernah meleset. Dan segala yang meleset tidak akan pernah menimpamu. Allah berfirman:

"Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.." (At-Taghaabun : 11)

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam ayat itu adalah seseorang yang tertimpa satu musibah lalu ia menyadari bahwa musibah itu berasal dari Allah, sehingga ridha dan berserahdiri.

Yang kedua, penggunaan kata "seandainya," untuk menjelaskan satu pengetahuan yang bermanfaat. Seperti firman Allah:

"Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa.." (Al-Anbiya : 22)

Atau untuk menunjukkan kecintaan terhadap perbuatan baik dan keinginan melakukannya. Seperti ucapan:"Kalau saja aku memiliki apa yang dimiliki oleh Fulan, tentu aku akan melakukan apa yang dia lakukan.." dan sejenisnya. Ungkapan semacam itu boleh-boleh saja. Adapun sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Kalaulah beliau mau bersabar, tentu Allah akan menceritakan kepada kita lanjutan kisah mereka.." Itu termasuk jenis yang kedua. Seperti juga firman Allah:

"Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu.." (Al-Qalam : 3)

Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam akan senang dapat mencerikan kisah kedua Nabi itu. Maka beliau mengutarakan dengan kata-kata itu untuk menjelaskan kesenangan beliau bila kesabaran yang seandainya dilakukan Musa kala itu. Beliau memberitahukan manfaat yang ada dalam kesabaran itu. Tak ada unsur kekecewaan dan kesedihan dalam unggkapan beliau, juga tidak meninggalkan kewajiban bersabar terhadap takdir. 

Referensi : Hukum Menggunakan Kata "Seandainya.."